• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN ALAM DAN BUDAYA DALAM KONSEP DESAIN DENPASAR CONVENTION CENTER DI BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDEKATAN ALAM DAN BUDAYA DALAM KONSEP DESAIN DENPASAR CONVENTION CENTER DI BALI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN ALAM DAN BUDAYA DALAM KONSEP DESAIN DENPASAR CONVENTION CENTER DI BALI

I Gusti Agung Landevaningrat1), I Gusti Ngurah Anom Rajendra2), dan Ni Made Swanendri3)

1)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

2)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

3)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]

ABSTRACT

Design process is inseparable from architectural concepts for creating design that are able to solve problems. Similarly, in designing wide-span buildings with convention center functions. Denpasar Convention Center is a monolith wide-span building that applies architectural concepts to create functional and suistainable designs with the environment, and also linkages with locations that concern a Balinese architectural concept. Doing review through approach is very important, it makes the concept is not out of the context. Denpasar Convention Center’s concepts are reviewed with a natural and cultural approaches, which is related with Balinese culture that is able to utilize nature and environment wisely. The natu- ral and cultural approaches which is applied to the concept, makes Denpasar Convention Center’s qualified, so there is a continuation between approach and concept that is used for designing Denpasar Convention Center.

Keywords: convention center, wide-span, architectural concept, natural and cultural approaches.

ABSTRAK

Proses perancangan tidak lepas dari konsep-konsep arsitektur untuk menciptakan desain yang mampu me- nyelesaikan masalah. Begitu pula halnya dalam merancang bangunan bentang lebar dengan fungsi conven- tion center. Denpasar Convention Center merupakan bangunan bentang lebar monolit yang menerapkan konsep-konsep arsitektur untuk menciptakan desain yang fungsional dan berkesinambungan dengan ling- kungan, serta keterkaitan dengan lokasi yang menyangkut konsep Arsitektur Bali. Penting adanya tinjauan melalui pendekatan-pendekatan, sehingga konsep tidak keluar dari konteks yang ada. Konsep-konsep Denpasar Convention Center ditinjau dengan pendekatan alam dan budaya, hal ini berkaitan dengan bu- daya Bali yang mampu memanfaatkan alam dan lingkungan secara bijaksana. Pendekatan alam dan bu- daya yang diterapkan di dalam konsep, memberi manfaat diperolehnya kelayakan pada Denpasar Conven- tion Center, sehingga muncul kesinambungan antara pendekatan dan konsep yang digunakan dalam merancang Denpasar Convention Center.

Kata Kunci: convention center, bentang lebar, konsep arsitektur, pendekatan alam dan budaya.

PENDAHULUAN

Kota Denpasar merupakan Ibu Kota Propinsi Bali dengan segudang event yang berkaitan dengan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition), sehingga memerlukan ruang publik yaitu sebuah convention center yang dapat menampung kegiatan MICE berskala lokal, nasional, maupun internasional, serta menjadi landmark Kota Denpasar. Menurut Kasi Analisa Data dan Pelayanan Infomasi Dinas Pari- wisata Kota Denpasar, wisatawan MICE mampu meningkatkan jumlah wisatawan menjadi 80 persen yang telah terbukti pada Tahun 2005, sehingga convention center dianggap mampu menjadi investasi pada Kota Denpasar. Selain memajukan pariwisata, keberadaan fasilitas MICE mampu meningkatkan pendidikan, in- dustri dan perekonomian Kota Denpasar. Bangunan convention center termasuk ke dalam bangunan ben- tang lebar dikarenakan kebutuhan ruang yang diperlukan. Setiap proses perancangan bangunan tentunya menggunakan konsep-konsep sebagai pedoman, seperti konsep entrance, zoning, bentuk masa, orientasi, utilitas yang di-terapkan di bangunan maupun tapak, yang merupakan hal yang sangat penting untuk memudahkan cara berpikir dan merancang. Denpasar Convention Center yang berlokasi di Bali harus dapat menciptakan harmoni dengan bangunan-bangunan lain disekitarnya, untuk itu diperlukan pendekatan-

(2)

pendekatan guna mendapatkan konsep bangunan yang membentuk harmonisasi dengan lingkungan setempat. Pendekatan yang tepat diterapkan di Bali yaitu pendekatan alam dan budaya, dikarenakan masyarakat Bali yang sangat menghormati alam. Pendekatan alam dapat terkait dengan konteks lingkungan dan konteks kawasan, sedangkan pendekatan budaya dapat terkait dengan konteks sejarah dan local geni- us. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui apakah bangunan memiliki ikatan dengan fungsi dan ling- kungannya, sehingga benar-benar memiliki kelayakan terbangun di lokasi tersebut.

PENDEKATAN ALAM DAN BUDAYA

Pendekatan alam dan budaya ditunjukan dalam konteks yang lebih luas dari konsep arsitektur, yang berkai- tan dengan kehidupan dan lingkungan, sehingga menjadikan bangunan Denpasar Convention Center mem- iliki kelayakan dan tidak meninggalkan prinsip-prinsip yang ada. Pendekatan alam ditinjau dari konteks ling- kungan dan kawasan, sedangkan pendekatan budaya ditinjau dari konteks sejarah dan local genius masyarakat Bali.

PENDEKATAN ALAM Konteks Lingkungan

Denpasar Convention Center terletak di Pantai Padang Galak, Kesiman, Denpasar Timur, sehingga untuk menyelaraskannya menggunakan konsep metafora bentuk gelombang lautan yang diterapkan pada layout dan bentuk bangunan. Denpasar Convention Center menggunakan bentuk-bentuk dinamis yang men- cerminkan konsep arsitektur organik (alam). Berkaitan dengan bentuk gelombang tersebut, digunakan pula bentuk “jukung” (perahu tradisional Bali) yang diterapkan pada entrance tapak. Maksud dari bentuk konsep ini adalah “jukung” akan mengantarkan orang-orang mengarungi lautan luas, dalam dan bebas, yang diper- lihatkan pada Gambar 1.

(a)

(b) (c)

Gambar 1. (a) Metafora bentuk ombak, (b) Penerapan bentuk “jukung” pada entrance tapak, (c) Penerapan bentuk ge- lombang pada tapak dan bangunan.

Sumber: Landevaningrat, 2018

Berkenaan dengan site yang berhubungan langsung dengan pantai, Denpasar Convention Center dalam perencanaannya juga menggunakan prinsip-prinsip perancangan pada area waterfront khususnya dengan memanfaatkan pantai guna memaksimalkan view untuk kepentingan hiburan seperti yang terdapat pada multifunction hall. Denpasar Convention Center juga menggunakan prinsip ekologi yang bertujuan untuk menghemat energi, contohnya menggunakan bukaan-bukaan guna memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami pada ruang-ruang yang bersifat publik, seperti yang terdapat pada exhibition area, yang diperlihatkan pada Gambar 2. Prinsip-prinsip ini merupakan suatu bentuk respon bangunan terhadap ling- kungan.

(3)

(a) (b)

Gambar 2. (a) Keadaan exhibition hall yang terbuka, (b) Keadaan multifunction hall dengan view pantai Sumber: Landevaningrat, 2018

Konteks Kawasan

Bangunan convention center diklasifikasi- kan sebagi pendukung pariwisata, maka diperlukan penataan kawasan semaksi- mal mungkin guna menarik perhatian masyarakat sekitar. Denpasar Conven- tion Center yang terletak di tepi pantai ju- ga harus mengindahkan pedoman kawa- san wilayah pesisir, seperti penataan tata ruang dan lautan harus direncankan secara terpadu. Penataan sumbu-sumbu kawasan Denpasar Convention Center dapat dilihat pada Gambar 3, yang mem- perlihatkan peletakan objek-objek pada sumbu-sumbu yang dianggap memiliki potensi dan sesuai dengan peraturan daerah setempat. Contohnya penataan ruang publik berupa taman yang merupa- kan RTH berada dekat dengan pantai, selain untuk keamanan dan view, hal ini agar ci-vitas merasakan bahwa area ter- sebut memang difokuskan untuk masyarakat umum, sebagaimana Denpasar Convention Center merupakan wadah aktifitas masyarakat Kota Denpasar.

Gambar 3. Kawasan Denpasar Convention Center Sumber: Landevaningrat, 2018

PENDEKATAN BUDAYA Konteks Local Genius

Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius merupakan cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai wa- tak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:40). Budaya masyarakat Bali atau yang dapat disebut se- bagai local genius yang paling menonjol adalah berkumpul antar kelompok masyarakat yang terus men- darah daging di kehidupan masyarakat Bali mengingat banyaknya upacara adat yang dilakukan bersama- sama. Begitu pula halnya dengan convention center memiliki fungsi sebagai wadah untuk berkumpul dan mendiskusikan sesuatu, hal ini memiliki kesamaan dengan “bencingah” dan “wantilan” yang merupakan sa- lah satu tipologi bangunan Arsitektur Tradisional Bali yang digunakan untuk acara kemasyarakatan. Konteks budaya ini di-terapkan pada Denpasar Convention Center yang memiliki ruang-ruang ternuka yang difokus- kan untuk area berkumpul dan bercengkrama. Persamaan dari segi bangunan antara “bencingah” dan

“wantilan” dengan convention center, terletak pada tipologi yang berupa hall kosong, dengan sistem fleksibil-

(4)

itas yang tinggi. Pembedanya, convention center memiliki ruang-ruang massif yang tidak boleh tembus ca- haya dari luar untuk kelancaran sebuah acara, berbeda dengan “bencingah” dan “wantilan” yang sifatnya semi terbuka dan tradisional, yang diperlihatkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Portable hall Denpasar Convention Center Sumber: Landevaningrat, 2018

Konteks local genius sangatlah luas termasuk di dalamnya perilaku civitas itu sendiri. Local genius merupa- kan etika atau kebiasaan yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas. Berdasar- kan hal ini, subjek utama adalah kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition). Kegiatan ini merupakan aktifitas khusus yang memiliki susunan untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan di dalam Denpasar Convention Center. Berdasarkan perspektif isometri dapat menunjukan fungsi-fungsi utama pada area depan dengan tujuan untuk mempermudah gerak civitas (pengunjung). Sedangakan area pengelolaan diletakkan pada area belakang agar tidak mengganggu aktifitas utama, yang diperlihatkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Perspektif isometri Denpasar Convention Center Sumber: Landevaningrat, 2018

Keadaan hall yang tertutup mengikuti kebutuhan event

Tribun (teater) untuk kepentingan event conference di dalam hall.

(5)

Local genius juga terkait dengan material yang digunakan, seperti yang terdapat pada exhibition area menggunakan material kayu yang memberikan kesan alam, yang diperlihatkan pada Gambar 6. Local genius juga mengarahkan pada penggunaan elemen-elemen dekorasi dengan style Bali untuk membangkitkan suasana Bali di dalamnya.

Gambar 6. Material alami pada exhibition hall Sumber: Landevaningrat, 2018

Konteks Sejarah

Konteks sejarah yang terkait dengan Denpasar Convention Center berkaitan dengan perkembangan tipologi convention itu sendiri. Pada mulanya bentuk tribun permanen yang tidak dapat diubah dan muncul dari bu- daya barat. Denpasar Convention Center menyesuaikan dengan keadaan dulu dan masa depan, serta penyesuaian dengan tata cara Indonesia. Di Indonesia, convention center dominan menggunakan hall, na- mun tidak menutup kemungkinan menggunakan tribun dalam skala besar. Maka untuk menyesuaikan hal tersebut digunakan spirallift system, yang diperlihatkan pada Gambar 7. Denpasar Convention Center juga menerapkan tipologi ataupun indikator berdasarkan PERMENPAR Nomor 2 Tahun 2007 tentang Venue MICE, seperti ketinggian ceiling dari lantai lebih dari 7 meter. Konteks sejarah memperlihatkan bagaimana akhirnya convention center berkembang dengan teknologi yang ada namun tetap memikirkan nilai sejarah.

Gambar 7. Spirallift system pada tribun Denpasar Convention Center sebagai bentuk perpaduan jaman Sumber: Landevaningrat, 2018

SIMPULAN DAN SARAN

Perancangan bangunan publik Denpasar Convention Center dengan fungsi untuk mewadahi MICE beskala nasional maupun internasional serta menjadi landmark Kota Denpasar, dalam proses perancangan menggunakan pendekatan alam dan budaya melalui konteks-konteks yang selaras dengan civitasnya, se- hingga Denpasar Convention Center layak menjadi fasilitas publik Kota Denpasar yang benar-benar harmo- nis dengan lingkungannya. Pendekatan alam dan budaya dalam perancangan adalah strategi guna mendapatkan hasil rancangan yang selaras dengan lingkungan. Hendaknya senantiasa diutamakan dalam

Penggunaan material berupa kayu se- bagai penyelaras dengan konsep Arsi- tektur Tradisional Bali dan lingkungan.

Exhibition yang sifatnya umum, menggunakan filosofi “wantilan” yang semi outdoor.

(6)

setiap proses perancangan bangunan khususnya yang berlokasi di Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi, 1985, ‘Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Frick Heinz, FX, Bambang Suskiyatno, 2007, ‘Dasar-dasar Arsitektur Ekologi Seri 1’, Semarang: Kansius Yogyakarta.

Granoka, Oka, 1985, ‘Bangunan Arsitektur Tradisional Bali’, Bali.

Landevaningrat, I Gusti Agung, 2018, Denpasar Convention Center, Skripsi, Program Studi Arsitektur Universitas Udayana, Bali. (tidak diterbitkan)

Lawson, Fred, 2000, ‘Congress, Convention and Exhibition Facilities: Planning, Design and Management (Architectural Press Planning and Design Series)’, Great Britain: Architectural Press.

Pendit, Nyoman S, 1999, ‘Wisata Konvensi Potensi Gede Bisnis Besar’, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 2 Tahun 2007 tentang Venue MICE.

Wahyuningsih, Sri, 2014, ‘MICE Meeting, Incentive, Convention/Conference and Exhibition’, Madura: UTM Press.

Yoeti, Oka, 2000, ‘Manajemen Wisata Konvensi’, Jakarta: Pertja.

Gambar

Gambar 1. (a) Metafora bentuk ombak, (b) Penerapan bentuk “jukung” pada entrance tapak, (c) Penerapan bentuk ge- ge-lombang pada tapak dan bangunan
Gambar 2. (a) Keadaan exhibition hall yang terbuka, (b) Keadaan multifunction hall dengan view pantai  Sumber: Landevaningrat, 2018
Gambar 4. Portable hall Denpasar Convention Center             Sumber: Landevaningrat, 2018
Gambar 7. Spirallift system pada tribun Denpasar Convention Center sebagai bentuk perpaduan jaman  Sumber: Landevaningrat, 2018

Referensi

Dokumen terkait

Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPI2-JM) Bidang Cipta Karya merupakan dokumen perencanaan dan pemrograman pembangunan infrastruktur Bidang

Dari hasil data pengamatan yang dianalisis bahwa Perlakuan interval penyiraman air berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pengamatan antara lain :

Pada tahap ini penulis melakukan pengumpulan data dengan studi literatur yaitu dengan mempelajari dan mencari bahan-bahan atau data-data maupun informasi yang

While most of the older generation of Muslim intellectuals who identified as Islamic had struggled for Islamic political parties, as well as for the establishment of an Islamic

Implementasi manajemen sekolah berbasis pondok pesantren merupakan upaya lembaga dalam rangka peningkatan mutu/kualitas pembelajaran, tata kelola yang berlangsung di

Memiliki prestasi akademik dan memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh masing-masing PTN;. Memiliki NISN dan terdaftar

send to the electronic mail address or facsimile number of KUIS or the lAlN PURWOKERTO as the case may be, shown below or to such other address or electronic

Tolerance was assessed after two months of stress by measuring stem growth, number of leaves, fresh and dry weight organs and leaf water, chlorophyll and chloride contents..