• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA PERKALIAN PECAHAN KELAS V SD LOCE TAHUN PELAJARAN 2014/2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA PERKALIAN PECAHAN KELAS V SD LOCE TAHUN PELAJARAN 2014/2015"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

81

PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA PERKALIAN PECAHAN KELAS V SD LOCE TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Welhelmus Denny

SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat

Abstrak: Membelajarkan matematika hanya prosedur masih banyak didapati saat pembelajaran berlangsung. Ini mengakibatkan pengetahuan siswa tidak terkonstruksi secara baik yang selanjutnya mempengaruhi pengetahuan siswa dalam belajar matematika, baik saat proses, akhir dan aplikasi dari pembelajaran matematika.

Sebab itu diperlukan upaya untuk mengatasinya, yaitu melalui pembelajaran bermakna seperti yang ditunjukkan pada perkalian dua pecahan biasa. Pembelajaran bermakna menghubungkan skema yang telah ada pada siswa dengan permasalahan yang akan dipelajari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 8 siswa, terdapat 6 siswa meraih predikat A pada penilaian sikap dan pengetahuan dan pada aspek keterampilan perolehan rata-rata peserta didik adalah A

-

atau berpredikat sangat baik.

Kata Kunci: pembelajaran bermakna, perkalian pecahan

Perubahan kurikulum yang diterapkan pemerintah Indonesia di tahun pelajaran 2014/2015 berlaku bagi siswa kelas V SD, sewajibnya menjadi sebuah perubahan pola pembelajaran oleh seorang guru dikelas mengingat pada kurikulum yang diterapkan terdapat pendekatan saintifik yang dapat menciptakan suasana belajar menjadi proses ilmiah. Namun pada kenyataannya pembelajaran dikelas masih menunjukkan pola pembelajaran konven- sional. Hal ini tampak pada masih adanya penerapan prosedur pembelajaran matema- tika dalam proses belajar mengajar. Guru masih membelajarkan proses menyele- saikan masalah matematika melalui penghafalan rumus tanpa menanamkan konsep. Proses demikian didasari pada permasalahan bahwa terdapat sekian banyak tujuan pembelajaran dalam satu hari yang wajib dipenuhi guru seperti tertuang dalam buku guru sehingga penerapan prosedur sangat baik dilakukan saat membelajarkan matematika sekalipun konsep tentang materi pembelajaran lemah dalam pemikiran siswa. Pandangan seperti inilah yang ditunjukkan guru disaat membelajarkan pembelajaran tiga, tema

benda-benda di lingkungan sekitar, sub- tema wujud benda dan cirinya, yang memuat materi perkalian pecahan hanyalah melalui prosedur pembilang dikalikan pembilang dan penyebut dikalikan penye- but tanpa menanamkan konsep pada peserta didik mengapa dalam mengalikan dua pecahan biasa harus memiliki prosedur seperti itu.

Kurangnya penanaman konsep

seperti ini mengakibatkan peserta didik

tidak dapat mengatasi permasalahan

kontekstual yang dihadapinya. Dalam

permasalahan siswa, ia dapat menentukan

banyaknya benda yang diterima temannya

jika benda yang dibagikan adalah bagian

yang masih utuh, sedangkan jika benda itu

sudah tak utuh lagi maka siswa akan

kesulitan. Akibat inilah yang harus

dihindari mengingat sikap, pengetahuan

dan keterampilan yang didapati peserta

didik diharapkan menjadi alat penyele-

saian permasalahan yang dijumpai peserta

didik dilingkungannya. Kelemahan lain-

nya, bahwa prosedur-prosedur tanpa dasar

konsep hanyalah akan merupakan aturan

tanpa alasan yang akan membawa pada

kesalahan dan ketidaksukaan terhadap

(2)

matematika. Ini terlihat pada antuasiasme siswa yang rendah pada saat belajar dan mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan oleh wali kelas V dan VI.

Dengan demikian seorang guru ketika melakukan pembelajara yang memuat kompetensi dasar matematika perlu meran- cang pembelajaran dengan baik agar pro- ses dan hasil pembelajaran dapat mening- kat. Meningkatnya pembelajaran di kelas, diperlukan penciptaan situasi yang mendu- kung, seperti Hiebert, dkk dalam Subanji, 2011 menjelaskan bahwa kelas matematika hendaknya membangun kepercayaan dengan pemahaman bahwa membuat kesalahan tidak menjadi masalah. Siswa harus menyadari bahwa kesalahan adalah kesempatan untuk berkembang. Harus dibangun keyakinan pada siswa bahwa ide yang salahpun akan bisa didiskusikan sehingga mengubah dan memperoleh kesimpulan yang benar. Ide-ide yang telah ada pada diri siswa selanjutnya digunakan untuk mempelajari masalah dalam pembelajaran. Inilah yang dikenal dengan pembelajaran bermakna (Subanji, 2011:

113)

Berdasarkan permasalahan-perma- salahan yang telah diuraikan diatas maka penulis tertarik untuk membelajarkan perkalian pecahan secara bermakna seperti yang terurai pada hasil dan pembahasan berikut ini.

Metode

Penelitian ini dilaksanakan pada minggu pertama bulan November 2014 yang diawali dengan mewawancara perma- salahan yang dijumpai oleh wali kelas V saat membelajarkan perkalian pecahan dan bagaimana membelajarkannya saat menya- jikan pembelajaran ini. Selanjutnya pene- liti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan instrumen pengumpulan data berupa Lembar Kegi- atan Siswa (LKS), dan soal tes serta rubrik penilaian.

Hasil dan Pembahasan

Pelaksanan penelitian ini dilaku- kan sesuai dengan langkah-langkah pem- belajaran yang tertuang di RPP. Dimana kegiatan diawali dengan mengenalkan

benda-benda disekitar seperti halnya cokelat batangan yang telah dipersiapkan guru. Cokelat batangan yang dimaksud adalah cokelat silverquen ukuran 33 gram yang oleh pabrik dibuat menjadi enam bagian sama besar. Dari cokelat itulah dilakukan pembelajaran bermakna dengan mengaitkan skema pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik melalui kegiatan tanya jawab yang berkaitan dengan pemberian bagian batangan cokelat kepada peserta didik.

Pertanyaan diawali dengan ba- nyaknya bagian cokelat yang diterima temannya jika guru memiliki bagian cokelat batangan dan hendak memberikan bagian dari cokelat yang dimiliki guru.

Dari pertanyaan ini siswa menjawab 2, yang selanjutnya dijelaskan oleh guru bahwa yang dimaksud bukan 2 tapi , Kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab lagi jika guru memberikan bagian, siswa akan mendapat berapa banyak bagian.

Siswa pun menjawab . Kemudian perta- nyaan masih dilanjutkan dengan menen- tukan banyak bagian yang akan diperoleh siswa bila bagian diberikan kepada seorang temannya. Namun pada bagian, seluruh siswa yang mengikuti proses pem- belajaran dihari itu tidak dapat menjawab dengan benar.

Mengacu dari permasalahan ini

guru membagi siswa secara berpasangan

dan tiap pasangan mendapat kertas

berpetak. Sebelum siswa mengerjakan cara

menyelesaikan permasalahan pada kertas

berpetak yang ada guru menjelaskan

permasalahan tersebut dengan peragaan

gambar tentang cara membuat cokelat

tersebut menjadi sepertigaan. Penjelasan

ini disertakan dengan peragaan di papan

tulis dan dari peragaan siswa dapat

menjawab bahwa dari adalah .

Jawaban siswa didasari pada bagian yang

diberi warna cokelat yang tampak di papan

tulis.

(3)

Gambar 1. Model cokelat yang telah dibagi an.

Berhubung jawaban siswa yang masih belum benar maka kembali guru menje- laskan bagaimana menentukan dan bagian dari pemberian cokelat diawal kegiatan pembelajaran. Guru kembali menjelaskan konsep pecahan bahwa pecahan merupakan bilangan yang dibuat dari dua bilangan, bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas merupakan banyak bagian yang dibicarakan dan bagian bawah merupakan banyak bagian yang sama secara keseluruhan (Rebecca Wingard dan Nelson, 2005:8). Dengan demikian siswa dapat menjelaskan bahwa dari gambar diperlukan banyak bagian yang sama dalam keseluruhan dan banyak bagian yang dibicarakan sehingga siswa dapat menentukan bahwa dari gambar diperoleh banyak bagian yang sama dalam keseluruhan adalah 18 dan banyak bagian yang dibicarakan adalah 4. Jadi hasilnya adalah

. Setelah kegiatan ini guru mengarahkan siswa melakukan tahap semi konkret melalui peragaan kertas berpetak.

Di kertas berpetak guru membim- bing siswa menuliskan tiap-tiap bagian antara dari penjelasan selanjutnya adalah menentukan banyak bagian yang sama secara keseluruhan seperti tampak pada gambar berikut.

Dari gambar dapat dijelaskan bahwa banyak bagian yang sama secara keseluruhan adalah 12, dan langkah selanjutnya menentukan banyak bagian

yang dibicarakan yang digambarkan dengan anak panah seperti di bawah ini

Berdasarkan gambar di atas, banyak bagian yang dibicarakan adalah bagian yang dibatasi oleh daerah anak panah sehingga bagian yang dibicarakan adalah 4. Dengan demikian hasil antara dari adalah

=

Proses pembelajaran berikutnya adalah guru membimbing siswa menu- liskan di kertas berpetak dan . Setelah seluruh kelompok dapat menuliskan di kertas berpetak maka langkah selanjutnya bagaimana siswa menuliskan bagian keseluruhan dari peragaan gambar dan yang dibicarakan. Peragaannya dapat terlihat dari hasil pekerjaan kelompok seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 2. Peragaan dari

Peragaan ini dilanjutkan dengan

pembuktian pemberian bagian yang telah

(4)

dijawab oleh siswa. Dari peragaan kertas berpetak ditemukan bahwa untuk dari adalah , seperti terlihat pada gambar berikut!

Gambar 3. Peragaan dari

Hasil ini berlainan dengan peraga- an secara konkret yang didemonstrasikan guru sehingga dibutuhkan peragaan peca- han senilai melalui papan pecahan. Dari peragaan ini peserta didik pun dapat mengetahui bahwa sama dengan dan senilai dengan

.

Tahapan selanjutnya tiap kelom- pok mengerjakan LKS. Pada LKS memuat 2 pertanyaan. Pertanyaan 1). Tunjukkan

dengan kertas berpetak untuk menentukan × . Pertanyaan 2). Berapakah hasil ×

? Tahapan ini memperlihatkan bahwa 2 kelompok masih perlu bimbingan oleh guru sedangkan 2 kelompok lainnya dapat dilakukan dengan mandiri serta dapat secara langsung menjawab pertanyaan di nomor 2. Kegiatan ini masih dilanjutkan dengan perwakilan kelompok mempre- sentasekan hasil pekerjaan di depan kelas, dan yang mempresentasekan diberikan penghargaan kepada kelompok yang sele- sai lebih dahulu yaitu kelompok 1. Setelah persentase kelompok guru bersama siswa menulis kesimpulan pembelajaran hari ini bahwa dalam mengalikan 2 pecahan biasa dilakukan dengan pembilang dikalikan dengan pembilang dan penyebut dikalikan dengan penyebut.

Setelah kegiatan menyimpulkan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang masih membingungkan dirinya disaat mengikuti proses pembelajaran. Karena tidak ada siswa yang bertanya maka guru pun memberikan evaluasi. Soal evaluasi yang diberikan hanya satu soal yaitu tentukan hasil dari × . Adapun hasil evaluasi seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 1: Pencapaian Siswa pada Aspek Pengetahuan

NO. NIS NAMA SISWA NILAI KKM KET.

1 49 DELFIAN KAYOA 2 2,66 Belum Tuntas

2 50 JEFRIYANTO FALILA 4 2,66 Tuntas

3 51 JETRI BOGA 4 2,66 Tuntas

4 52 JULYA BOGA 4 2,66 Tuntas

5 54 NADINE D. EBANG 4 2,66 Tuntas

6 56 TASYA BUNGA 2 2,66 Belum Tuntas

7 57 WILIAM L.B. TELUSA 4 2,66 Tuntas

8 91 DEOVOLENTIA A. BAWOLE 4 2,66 Tuntas

JUMLAH 28

RATA-RATA 3,5

(5)

Jika pencapaian siswa pada aspek pengetahuan seperti tampak pada tabel di

atas digambarkan dalam grafik maka akan tampak seperti Gambar 4 berikut.

Gambar 4: Grafik Ketuntasan Belajar Siswa pada Apek Pengetahuan

Sedangkan grafik persentase aspek pengetahuan terlihat seperti Gambar berikut.

Gambar 5: Grafik Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Aspek Pengetahuan

Untuk penilaian pada aspek sikap dan keterampilan dilaksanakan oleh guru disaat

proses pembelajaran berlangsung dengan hasil seperti di bawah ini!

Tabel 2: Pencapaian Siswa pada Aspek Sikap

No. NIS NAMA SISWA PREDIKAT KKM KET.

1 49 DELFIAN KAYOA C B

-

Belum Tuntas

2 50 JEFRIYANTO FALILA A B

-

Tuntas

3 51 JETRI BOGA A B

-

Tuntas

4 52 JULYA BOGA A B

-

Tuntas

5 54 NADINE D. EBANG A B

-

Tuntas

6 56 TASYA BUNGA C B

-

Belum Tuntas

7 57 WILIAM L.B. TELUSA A B

-

Tuntas

8 91 DEOVOLENTIA A. BAWOLE A B

-

Tuntas

JUMLAH RATA-RATA

75%

25%

Tuntas Tidak Tuntas 0

1 2 3 4

1 2 3 4 5 6 7 8

Tuntas

KKM

(6)

Tabel 3: Pencapaian Siswa pada Aspek Keterampilan

No. NIS NAMA SISWA Nama

Kelompok PREDIKAT KKM KET.

1 91 DEOVOLENTIA A. BAWOLE

1 A B

-

Tuntas

2 50 JEFRIYANTO FALILA 3 54 NADINE D. EBANG

2 A B

-

Tuntas

4 49 DELFIAN KAYOA 5 51 JETRI BOGA

3 B B

-

Tuntas

6 57 WILIAM L.B. TELUSA 7 56 TASYA BUNGA

4 B B

-

Tuntas

8 92 JULYA BOGA

JUMLAH 14

RATA-RATA A

-

Simpulan

1. Pembelajaran bermakna membudaya- kan siswa menyampaikan ide atau gagasannya dalam menyelesaikan masalah matematika,

2. Pembelajaran bermakna dapat mena- namkan konsep perkalian dua pecahan biasa pada peserta didik dengan baik.

3. Pembelajaran bermakna dapat meng- konstruksi pengetahuan siswa dengan baik.

DAFTAR RUJUKAN

Subanji, 2011. Pembelajaran Matematika Kreatif dan Inovatif. Malang. UM Press.

Subanji, 2011. Matematika Sekolah dan Pembelajarannya. J-TEQIP. Jurnal Peningkatan Kualitas Guru Tahun 2 Nomor 1: pp 9.

Wingard Rebecca dan Nelson, 2005.

Fractions and Decimals Made

Easy. USA. Enslow Publishers,

Inc.

Referensi

Dokumen terkait

ern issues by way of trying to establish a new Qur'ànic exegesis, void of the heary classical reliance on tadition in the classical commen- taries of the Qur'àn. In

Parameter yang akan diukur dan diamati meliputi tinggi air jatuh (head), tegangan dan arus listrik yang dihasilkan dari generator, jumlah keluarga yang dilayani oleh

[r]

a. bahwa pengangkatan, pemindahan dan pemberh<:ntian pegawai dalam dan dari jabatan pada Badan dan Dinas tertentu, serta Saluan Polisi Pamong Praja yang mempunyai perangkal

dari pihak luar. 4) kemiskinan struktural: situasi miskin yang disebabkan karena rendahnya akses terhadap sumber daya yang terjadi dalam suatu sistem sosial

Rendahnya nilai Indek Diversitas ini disebabkan karena di sepanjang aliran Sungai Batang Harau sangat banyak aktivitas kehidupan dan pembangunan yang memberikan

specifically chosen databases to span these categories including one relational database (Postgres), two key-value stores (Riak, Redis), a col- umn-oriented database (HBase),

Banyaknya Uang : Tujuh Belas Juta Enam Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah. Keterangan : Pelunasan Piutang eks faktur J.1215 Jumlah Rp 17.640.000 Bandung, 30