• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III LANDASAN TEORI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB III LANDASAN TEORI

A. Benkelman Beam (BB)

Menurut Pedoman Perencanaan Tebal Lapis Tambah Perkerasan Lentur dengan Metode Lendutan Pd. T-05-2005-B,tebal lapis tambah (overlay) merupakan lapis perkerasan tambahan yang dipasang di atas konstruksi perkerasan yang ada dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan struktur perkerasan yang ada agar dapat melayani lalu lintas yang direncanakan selama kurun waktu yang akan datang.Benkelman Beam merupakan alat untuk mengukur lendutan balik dan lendutan langsung perkerasan yang menggambarkan kekuatan struktur perkerasan jalan.

Menurut Metode Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur dengan Alat Benkelman Beam SNI 03-2416-1991, metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian perkerasan jalan dengan alat

Benkelman Beam (BB) yaitu mengukur gerakan vertikal pada permukaan

lapis jalan dengan cara mengatur pemberian beban roda yang diakibatkan oleh beban tertentu dengan tujuan untuk memperoleh data dilapangan yang akan bermanfaat bagi penilaian struktur peramalan performance perkerasan dan perencanaan overlay. Untuk alat Benkelman Beam dalam dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Alat Benkelman Beam (BB) Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2005

(2)

B. Perencanaan Tebal Lapis Tambah Berdasarkan Metode Pd T-05-2005-B

1. Analisa Lalu Lintas

a. Jumlah Lajur dan Koefisien Distribusi Kendaraan (C)

Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu ruas jalan, yang menampung lalu-lintas terbesar.

Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur, maka jumlah lajur ditentukan dari lebar perkerasan sesuai Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan Lebar Perkerasan (L) Jumlah Lajur

L < 4,50 m 4,50 m ≤ L < 8,00 m 8,00 m ≤ L < 11,25 m 11,25 m ≤ L < 15,00 m 15,00 m ≤ L < 18,75 m 18,75 m ≤ L < 22,50 m 1 2 3 4 5 6 Sumber : Bina Marga, 2005 (Pd T-05-2005-B)

Koefisien distribusi kendaraan (C) untuk kendaraan ringan dan berat yang lewat pada lajur rencana ditentukan Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Koefisien distribusi kendaraan (C)

Jumlah Lajur Kendaraan ringan* Kendaraan berat** 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 1 2 3 4 5 6 1,00 0,60 0,40 - - - 1,00 0,50 0,40 0,30 0,25 0,20 1,00 0,70 0,50 - - - 1,00 0,50 0,475 0,45 0,425 0,40 Sumber : Bina Marga, 2005 (Pd T-05-2005-B)

Keterangan: *) Mobil Penumpang **) Truk dan Bus

b. Ekivalen beban sumbu kendaraan (E)

Angka ekivalen (E) masing-masing golongan beban sumbu (setiap kendaraan) ditentukan menurut persamaan3.1, 3.2, 3.3 dan 3.4 atau Tabel 3.3

(3)

Angka ekivalen STRT = beban sumbu (ton )5,40

4

... (3.1)

Angka ekivalen STRG = beban sumbu (ton )8,16

4

... (3.2)

Angka ekivalen SDRG = beban sumbu (ton )13,76

4

... (3.3)

Angka ekivalen STrRG= beban sumbu (ton )18,45

4

... (3.4) Tabel 3.3 Ekivalen beban sumbu kendaraan (E)

Beban sumbu (ton)

Ekivalen beban sumbu kendaraan (E)

STRT STRG SDRG STrRG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 0,00118 0,01882 0,09526 0,30107 0,73503 1,52416 2,82369 4,81709 7,71605 11,76048 17,21852 24,38653 33,58910 45,17905 59,53742 77,07347 98,22469 123,45679 153,26372 188,16764 0,00023 0,00361 0,01827 0,05774 0,14097 0,29231 0,54154 0,92385 1,47982 2,25548 3,30225 4,67697 6,44188 8,66466 11,41838 14,78153 18,83801 23,67715 29,39367 36,08771 0,00003 0,00045 0,00226 0,00714 0,01743 0,03615 0,06698 0,11426 0,18302 0,27895 0,40841 0,57843 0,79671 1,07161 1,41218 1,82813 2,32982 2,92830 3,63530 4,46320 0,00001 0,00014 0,00070 0,00221 0,00539 0,01118 0,02072 0,03535 0,05662 0,08630 0,12635 0,17895 0,24648 0,33153 0,43690 0,56558 0,72079 0,90595 1,12468 1,38081 Sumber : Bina Marga, 2005 (Pd T-05-2005-B)

c. Faktor umur rencana dan perkembangan lalu lintas

Faktor hubungan umur rencana dan perkembangan lalu lintas ditentukan menurut persamaan 3.5 atau Tabel 3.4

N = 12 1 + (1 + 𝑟)𝑛 + 2(1 + 𝑟)(1+𝑟)

𝑛 −1−1

(4)

Tabel 3.4 Faktor hubungan antara umur rencana dengan perkembangan lalu lintas (N)

r(%) n (tahun) 2 4 5 6 8 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 20 25 30 1,01 2,04 3,09 4,16 5,26 6,37 7,51 8,67 9,85 11,06 12,29 13,55 14,83 16,13 17,47 24,54 32,35 40,97 1,02 2,08 3,18 4,33 5,52 6,77 8,06 9,40 10,79 12,25 13,76 15,33 16,96 18,66 20,42 30,37 42,48 57,21 1,03 2,10 3,23 4,42 5,66 6,97 8,35 9,79 11,30 12,89 14,56 16,32 18,16 20,09 22,12 33,89 48,92 68,10 1,03 2,12 3,28 4,51 5,81 7,18 8,65 10,19 11,84 13,58 15,42 17,38 19,45 21,65 23,97 37,89 56,51 81,43 1,04 2,16 3,38 4,69 6,10 7,63 9,28 11,06 12,99 15,07 17,31 19,74 22,36 25,18 28,24 47,59 76,03 117,81 1,05 2,21 3,48 4,87 6,41 8,10 9,96 12,01 14,26 16,73 19,46 22,45 25,75 29,37 33,36 60,14 103,26 172,72 Sumber : Bina Marga, 2005 (Pd T-05-2005-B)

d. Akumulasi ekivalen beban sumbu standar (CESA)

Dalam menentukan akumulasi beban sumbu lalu lintas (CESA) selama umur rencana ditenrukan dengan persamaan 3.6.

CESA = MPTraktor −Trailer m × 365 × E × C × N ... (3.6) dengan pengertian :

CESA = akumulasi ekivalen beban sumbu standar m = jumlah masing-masing jenis kendaraan 365 = jumlah hari dalam satu tahun

E = ekivalen beban sumbu (Tabel 3.3)

C = koefisien distribusi kendaraan (Tabel 3.2)

N = Faktor hubungan umur rencana yang sudah disesuaikan dengan perkembangan lalu lintas (Tabel 3.4)

(5)

2. Analisa Lendutan

a. Lendutan dengan Benkelman Beam

Perencanaan tebal lapis tambah berdasarkan kekuatan struktur perkerasan struktur yang ada dengan nilai lendutan. Lendutan yang didapatkan pada pengujian Benkelman Beam adalah lendutan balik. Nilai lendutan tersebut harus dikoreksi dengan faktor muka air tanah (faktor musim) dan koreksi temperatur serta faktor koreksi beban uji (bila beaban uji tidak tepat sebesar 8,16 ton). Besarnya lendutan balik adalah:

dB = 2× (d3 – d1) × Ft × Ca × FKB-BB... (3.7)

dengan pengertian:

dB = lendutan balik (mm)

d1 = lendutan pada saat beban tepat pada titik pengukuran

d3 = lendutan pada saat beban berada pada jarak 6 meter dari

pengukuran

Ft = faktor penyesuaian lendutan terhadap temperatur standar 35°C, persaman 3.2 untuk tebal lapis beraspal (HL) lebih

kecil 10 cm dan persamaan 3.3 untuk tebal lapis beraspal (HL) lebih besar atau sama dengan 10 cm atau dapat juga

menggunakan Gambar 3.2.

= 4,184 × TL-0,4025 , untuk HL < 10 cm ... (3.8)

= 14,785 × TL-0,7573 , untuk HL ≥ 10 cm ... (3.9)

TL = temperatur lapis beraspal, diperoleh dari hasil

pengukuran langsung dilapangan atau dapatdiprediksi dari temperatur udara yaitu:

TL = 1/3 (Tp + Tt + Tb) ... (3.10)

Tp = temperatur permukaan lapis beraspal

Tt = temperatur tengah lapis beraspal atau dari tabel 3.5

Tb = temperatur bawah lapis beraspal atau dari tabel 3.5

Ca = faktor pengaruh muka air tanah (faktor musim

(6)

ataumuka air tanah rendah

= 0,9 ; bila pemeriksaan dilakukan pada musim kemarau ataumuka air tanah tinggi

FKB-BB = faktor koreksi beban uji Benkelman Beam (BB)

= 77,343 × (Beban Uji dalam ton)(-2,0715)

... (3.11) Cara pengukuran lendutan balik mengacu pada SNI 03-2416-1991 (Metoda Pengujian Lendutan Perkerasan Lentur dengan Alat

Benkelman Beam).

Gambar 3.2 Faktor koreksi lendutan terhadap temperatur standar (Ft)

Catatan:

- Kurva A adalah faktor koreksi (Ft) untuk tebal lapis beraspal (HL) kurang dari 10 cm.

- Kurva B adalah faktor koreksi (Ft) untuk tebal lapis beraspal (HL) minimum 10 cm.

(7)

Tabel 3.5 Temperatur tengah (Tt) dan bawah ( Tb) lapis beraspal berdasarkan data temperatur udara (Tu) dan temperatur permukaan (Tp)

Tu +Tp (°C) Temperatur lapis beraspal (°C) pada kedalaman 2,5 cm 5,0 cm 10 cm 15 cm 20 cm 30 cm 45 26,8 25,6 22,8 21,9 20,8 20,1 46 27,4 26,2 23,3 22,4 21,3 20,6 47 28 26,7 23,8 22,9 21,7 21 48 28,6 27,3 24,3 23,4 22,2 21,5 49 29,2 27,8 24,7 23,8 22,7 21,9 50 29,8 28,4 25,2 24,3 23,1 22,4 51 30,4 28,9 25,7 24,8 23,6 22,8 52 30,9 29,5 26,2 25,3 24 23,3 53 31,5 30 26,7 25,7 24,5 23,7 54 32,1 30,6 27,1 26,2 25 24,2 55 32,7 31,2 27,6 26,7 25,4 24,6 56 33,3 31,7 28,1 27,2 25,9 25,1 57 33,9 32,3 28,6 27,6 26,3 25,5 58 34,5 32,8 29,1 28,1 26,8 26 59 35,1 33,4 29,6 28,6 27,2 26,4 60 35,7 33,9 30 29,1 27,7 26,9 61 36,3 34,5 30,5 29,5 28,2 27,3 62 36,9 35,1 31 30 28,6 27,8 63 37,5 35,6 31,5 30,5 29,1 28,2 64 38,1 36,2 32 31 29,5 28,7 65 38,7 36,7 32,5 31,4 30 29,1 66 39,3 37,3 32,9 31,9 30,5 29,6 67 39,9 37,8 33,4 32,4 30,9 30 68 40,5 38,4 33,9 32,9 31,4 30,5 69 41,1 39 34,4 33,3 31,8 30,9 70 41,7 39,5 34,9 33,8 32,2 31,4 71 42,2 40,1 35,4 34,3 32,7 31,8 72 42,8 40,6 35,8 34,8 33,2 32,3 73 43,4 41,2 36,3 35,2 33,7 32,8 74 44 41,7 36,8 35,7 34,1 33,2 75 44,6 42,3 37,3 36,2 34,6 33,7 76 45,2 42,9 37,8 36,7 35 34,1 77 45,8 43,4 38,3 37,1 35,5 34,6 78 46,4 44 38,7 37,6 36 35 79 47 44,5 39,2 38,1 36,4 35,5 80 47,6 45,1 39,7 38,6 36,9 35,9 81 48,2 45,6 40,2 39 37,3 36,4 82 48,8 46,2 40,7 39,5 37,8 36,8 83 49,4 46,8 41,2 40 38,3 37,3 84 50 47,3 41,6 40,5 38,7 37,7 85 50,6 47,9 42,1 40,9 39,2 38,2

(8)

b. Keseragaman Lendutan

Perhitungan tebal lapis tambah dapat dilakukan pada setiap titik pengujian atau berdasarkan panjang segmen (seksi). Untuk menentukan faktor keseragaman lendutan adalah dengan menggunakan persamaan 3.12 sebagai berikut:

FK = s

dR × 100% < FK ijin ... (3.12)

dengan pengertian:

FK = faktor keseragaman

FK ijin= faktor keseragaman yang diijinkan = 0% - 10% ; keseragaman sangat baik = 11% - 20% ; keseragaman baik = 21% - 30% ; keseragaman cukup baik dR = lendutan rata-rata pada suatu seksi jalan

= d

n s 1

ns ... (3.13)

s = deviasi standar = simpangan baku

= 𝑛𝑠 𝑑 2 𝑛𝑠 1 − 𝑛𝑠1 𝑑 2 𝑛𝑠 𝑛𝑠−1 ... (3.14)

d = nilai lendutan balik (dB) tiap titik pemeriksaan pada suatu seksi jalan

ns = jumlah titik pemeriksaan pada suatu seksi jalan

c. Lendutan Wakil (Dwakil)

Pada perencanaan tebal lapis tambahan perkerasan lentur ini memiliki tiga jenis jalan berdasarkan fungsinya menurut Sukirman (1999), yaitu:

1) Jalan Arteri/tol adalah jalan yang melayani angkutan umum dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.

2) Jalan Kolektor adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan/pembagian dengan ciri-ciri perjalanan jarak

(9)

sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi

3) Jalan Lokal adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Untuk menentukan besarnya lendutan yang mewakili suatu sub ruas jalan harus disesuaikan dengan fungsi/kelas jalan yaitu:

Dwakil = dR + 2 s ; untuk jalan arteri/tol ... (3.15)

Dwakil = dR + 1,64 s ; untuk jalan kolektor ... (3.16)

Dwakil = dR + 1,28 s ; untuk jalan lokal ... (3.17)

dengan pengertian:

Dwakil = lendutan yang mewakili suatu seksi jalan

dR = lendutan rata-rata pada suatu seksi jalan sesuai

persamaan 3.13

s = deviasi standar sesuai persamaan 3.14 d. Lendutan Rencana/Ijin (Drencana)

Untuk lendutan BB menggunakan rumus sebagai berikut:

Drencana = 22,208 × CESA(-0,2307)... (3.18)

dengan pengertian:

Drencana = lendutan rencana, dalam satuan milimeter

CESA = akumulasi ekivalen beban sumbu standar dalam satuan

ESA

3. Tebal Lapis Tambah (Overlay), (Ho)

Untuk menentukan tebal lapis tambah (Ho) dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Ho = Ln 1,0364 + Ln Dwakil − Ln (Drencana )

0,0597 ... (3.19)

dengan pengertian:

Ho = tebal lapis tambah sebelumdikoreksi temperatur rata-rata tahunan daerah tertentu dalam satuan centimeter (cm). Dwakil = lendutan sebelum lapis tambah/Dwakildalam satuan

(10)

milimeter (mm).

Drencana = lendutansetelahlapis tambah atau lendutan rencana

dalam satuan milimeter (mm).

a. Tebal Lapis Tambah (Overlay) terkoreksi, (Ht)

Untuk mentukan Ht dengan cara mengkalikan Ho dengan faktor koreksi overlay (Fo):

Ht = Ho × Fo ... (3.20) dengan pengertian:

Ht = teballapis tambah/overlayLaston setelah dikoreksi dengantemperatur rata-rata tahunan daerah tertentu, dalam satuan centimeter

Ho = teballapis Laston sebelum dikoreksi temperatur rata-ratatahunan daerah tertentu, dalam satuan centimeter

Fo = faktor koreksi tebal lapis tambah (overlay), (sesuai persamaan 3.15 atau Gambar 3.2)

b. Faktor Koreksi Tebal Lapis Tambah (Overlay)

Tebal lapis tambah/overlay yang diperoleh berdasarkan temperatur standar 35°C, maka untuk masing-masing daerah perlu dikoreksi karena memiliki temperatur perkerasan rata-rata tahunan (TPRT) yang berbeda.

Fo = 0,5032 × EXP(0,0194xTPRT) ... (3.21) dengan pengertian:

Fo = faktor koreksi tebal lapis tambah (overlay)

TPRT = temperatur perkerasan rata-rata tahunan untuk daerah/ kota tertentu (Tabel A1 pada Lampiran A)

(11)

Gambar 3.3 Faktor koreksi tebal lapis tambah (Fo) terhadap TPRT

c. Jenis Lapis Tambah

Pada perencanaan tebal lapis tambahan perkerasan lentur ini memiliki tiga jenis lapisan yang digunakan yaitu:

1) Laston Modifikasi merupakan lapisan aspal yang dimodifikasi haruslah jenis Asbuton, dan elastomerik latex atau sintetis memenuhi ketentuan-ketentuan Tabel 3.6

Proses pembuatan aspal modifikasi dilapangan tidak diperbolehkan kecuali ada lisensi dari pabrik pembuatan aspal modifikasi dan pabrik pembuatannya menyediakan instalasi pencampuran yang setara dengan yang digunakan di pabrik asalnya.

(12)

Tabel 3.6 Ketentuan-ketentuan untuk aspal keras

No. Jenis Pengujian Metode Pengujian

Tipe I Aspal Pen.60-70

Tipe II Aspal yang Dimodifikasi A B Aston yang diproses Elastometer Sintetis 1 Penetrasi pada 25° C (0,1 mm) SNI 06-2456-1991 60-70 min. 50 Min. 40 2 Viskositas Dinamis 60° C (Pa.s) SNI 06-6411-2000 160-240 240-360 320-480 3 Viskositas Kinematis 135° C

(cSt) SNI 06-6411-2000 ≥ 300 385-2000 ≤ 3000

4 Titik lembek (°C) SNI 2434-2011 ≥ 48 ≥ 53 ≥ 54

5 Daktilitas pada 25°C, (cm) SNI 2434-2011 ≥ 100 ≥ 100 ≥ 100

6 Titik Nyala (°C) SNI 2434-2011 ≥ 232 ≥ 232 ≥ 232

7 Kelarutan dalam

Trichloroethylene (%) AASHTO T 144-03 ≥ 99 ≥ 90

(1)

≥99

8 Berat Jenis SNI 2441 2011 ≥ 1,0 ≥ 1,0 ≥1,0

9 Stabilo\itas Penyimpanan: Perbedaan Titik Lembek (°C)

ASTM D 5976 part

6.1 - ≤ 2,2 ≤ 2,2

10 Partikel yang lebih halus dari

150 micron (µm) (%) Min. 95

(1)

- Pengujian Residu hasil TFOT (SNI-06-2440-1991) atau RTFOT (SNI-03-6835-2002) 11 Berat yang Hilang (%) SNI 06-2456-1991 ≤ 0,8 ≤ 0,8 ≤ 0,8 12 Viskositas Dinamis 60° (Pa.s) SNI 03-6441-2000 ≤ 800 ≤ 1200 ≤ 1600 13 Penetrasi pada 25° C (%) SNI 06-2456-1991 ≥ 54 ≥ 54 ≥ 54 14 Daktilitas pada 25° C (cm) SNI 2432 2011 ≥ 100 ≥ 50 ≥ 25 15 Keelastisan setelah

Pengembalian (%) AASHTO T 301-98 - - ≥ 60

Sumber : Spesifikasi Umum Bina marga, 2010 (Revisi 3) 2) Laston kepanjangan dari Lapis Aspal Beton yang selanjutnya

disebut AC. Terdiri dari tiga jenis canpuran yaitu AC Lapis Aus (AC-WC), AC Lapis antar (AC-Binder Course, AC-BC0 dan AC Lapis Pondasi (AC-Base) dan ukuran maksimum agregat masing-masing campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, 37,5 mm. Setiap jenis campuran AC yang menggunakan bahan Aspal Polimer atau Aspal dimosifikasi dengan alam disebut masing-masing sebagai AC-WC Modified, AC-BC Modified, dan AC-Base Modified.

(13)

3) Lataston merupakan kepanjang dari Lapis Tipis Aspal Beton yang selanjutnya disebut HRS. Terdiri dari dua jenis campuran HRS Pondasi (HRS-Base) dan HRS Lapis Aus (HRS Wearing Course, HRS-WC) dan ukuran maksimal agregat masing-masing campuran adalah 19 mm. HRS-Base mempunyai propersi fraksi agregat kasar lebih besar dari pada HRS-WC. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, maka campuran harus dirancang sampai memenuhi semua ketentuan yang diberikan dalam Spesifikasi. Dua kunci utama adalah:

a) Gradasi yang benar-benar senjang.

Agar diperoleh gradasi yang benar-benar senjang, maka selalu dilakukan pencampuran pasir halus dengan agregat pecah mesin.

b) Sisa rongga udara pada kepadatan membal (refusal density) harus memenuhi ketentuan yang ditunjukan dalam Spesifikasi ini.

Laston bergradasi semi senjang sebagai pengganti Lataston bergradasi senjang hanya boleh digunakan pada daerah dimana pasir halus yang diperlukan untuk membuat gradasi yang benar-benar senjang tidak dapat diperoleh dan disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.

Jika jenis atau sifat campuran (bahan perkerasan jalan) yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan, maka tebal lapis tambahan harus dikoreksi dengan faktor koreksi tebal lapis tambahan penyesuaian (FKTBL) sesuai persamaan 3.22 atau tabel

3.6.

(FKTBL) = 12,51 × MR(-0.333) ... (3.22)

dengan pengertian:

(FKTBL) = faktor koreksi tebal lapis tambah penyesuaian

(14)

Tabel 3.7 Faktor koreksi tebal lapis tambah penyesuaian (FKTBL) Jenis Lapisan Modulus Resilien, MR (MPa) Stabilitas Marshall (kg) FKTBL

Laston Modifikasi 3000 min. 1000 0,85

Laston 2000 min. 800 1,00

Lataston 1000 min. 800 1,23

Sumber : Bina Marga, 2005 (Pd T-05-2005-B)

C. Visual Basic for Application (VBA) pada Microsoft Excel

Menurut Kusrini (2007), Visual Basic adalah salah satu bahasa pemograman komputer. Bahasa pemograman adalah perintah-perintah yang dimengerti oleh komputer untuk melakukan tugas-tugas tertentu.

Visual Basic merupakan salah satu development tool yaitu alat bantu untuk

membuat berbagai macam program komputer khususnya yang menggunakan sistem operasi windows.

Sejak tahun 1993, Excel telah memiliki bahasa pemrograman Visual Basic for Applications (VBA), yang dapat menambahkan kemampuan Excel untuk melakukan automatisasi di dalam

Excel dan juga menambahkan fungsi-fungsi yang dapat didefinisikan oleh

pengguna (user-defined functions/UDF) untuk digunakan di dalam

worksheet. Selain itu, Excel juga dapat merekam semua yang dilakukan

oleh pengguna untuk menjadi (macro), sehingga mampu melakukan automatisasi beberapa tugas. VBA juga mengizinkan pembuatan form dan kontrol yang terdapat di dalam worksheet untuk dapat berkomunikasi dengan penggunanya.

Secara umum Visual Basic of Application (VBA) Microsoft Excel dapat diartikan sebagai program yang berisi rangkaian perintah untuk mengatur beberapa aspek pada Excel sehingga pekerjaan dapat menjadi lebih efektif dan efesien. Sesungguhnya VBA tidak hanya digunakan untuk Microsoft Excel, tetapi juga digunakan oleh beberapa produk Microsoft lainnya seperti Microsoft Word, Microsoft Acces dan Microsoft

(15)

Adapun komponen-komponen untuk membangun VBA pada Excel diantaranya sebagai berikut:

1. Visual Basic Editor atau Excel VBA Integrated Development

Environment (IDE) adalah lingkungan tempat program VBA Exceldibuat lingkungan kerja visual basic edditor.

2. ToolBox Control merupakan objek dalam useform atau worksheet yang dapat dimanipulasi, seperti command button, text box, check box,

combo box, list box, label dan option button.

3. Property merupakan karakteristik suatu objek seperti scrollarea, font, dan name.

4. UserForm merupakan lembar kerja yang berisi kontrol dan intruksi VBA untuk memanipulasi antar muka pengguna (user interface). 5. Function dan Macro. Untuk fuction adalah salah satu tipe VBA macro

yang memiliki return value. Sedangkan macro sekumpulan instruksi dalam VBA yang dijalankan secara otomat

Gambar

Gambar 3.1 Alat Benkelman Beam (BB)  Sumber : Departemen Pekerjaan Umum, 2005
Tabel 3.1 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan  Lebar Perkerasan (L)  Jumlah Lajur
Tabel 3.4 Faktor hubungan antara umur rencana dengan  perkembangan lalu lintas (N)
Gambar 3.2 Faktor koreksi lendutan terhadap temperatur standar (Ft)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil musyawarah ta’mir masjid “Al Qoyyimah” yang dihadiri oleh pemuka agama dan tokoh masyarakat Desa Karangjambe pada tanggal 13 April 2014.. Keputusan ketua ta’mir

Dari hasil penelitian tampak bahwa semakin tinggi dosis pemberian monolaurine, menunjukkan pengaruh peningkatan jumlah kandungan sel darah putih pada darah kambing

Dari permasalahan diatas, dirancanglah sebuah sistem informasi yang dapat memudahkan takmir masjid dalam menyampaikan informasi, mengganti atau mengubah pengaturan dengan

Negatives effects of increased sperm DNA damage in relation to seminal oxidative stress in men with idiopathic and male factor infertility.. Vine MF TC, Hu P,

Untuk mendapatkan pembagi bersama terbesar matriks polinomial, diperlukan matriks struktur kiri/kanan yang diperoleh dari bentuk Smith matriks polinomial1. Definisi

Sehingga konsep syari’ah card ketika menggunakan kaca mata asas utilitas maka manfaatnya ialah dapat dilihat dari manfaat yang diperoleh oleh pihak-pihak yang terkait

[r]