• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KEBIDANAN Vol 3, No 2, April 2017 :94-98

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL KEBIDANAN Vol 3, No 2, April 2017 :94-98"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN PENGETAHUAN KEPALA KELUARGA TENTANGBADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS)DENGAN KEIKUTSERTAAN

DALAM PENGGUNAANBADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL DI KELURAHAN BELIAN KOTA BATAM

Arum Dwi Anjani(1), Devy Lestari NurulAulia(1) ABSTRAK

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak Tahun 2000, dengan pertambahan banyaknya penduduk setiap tahunnya di Indonesia, banyak menimbulkan suatu masalah kesehatan. Kurangnya sosialisasi menyebabkan masyarakat tidak memahami cara mendaftarkan anggota didalam kepala keluarga menjadi peserta BPJS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang BPJS Dengan Keikutsertaan Di Kelurahan Belian.Penelitian dilakukan dengan pendekatan cross sectional menggunakan data primer dari data kuesioner.Hasil penelitian yaitu kepala keluarga yang mempunyai pengetahuan baik tentang BPJS dan ikutserta dalam penggunaan BPJS sebanyak 46 kepala keluarga (46%) sedangkan kepala keluarga yang memiliki pengetahuan kurang dan tidak ikutserta dalam penggunaan BPJS sebanyak 20 kepala keluarga (20%). Adanya hubungan antara pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS dengan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS yaitu p - value < 0,05 (p-value 0,000) dan dengan nilai OR 9,892. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ada hubungan antara pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS dengan keikusertaan dalam penggunaan BPJS di Kelurahan Belian.

Kata kunci : Pengetahuan, BPJS

PENDAHULUAN

Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami pertambahan. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak tahun 2000, Artinya setiap tahun selama periode 2000 - 2010, jumlah penduduk bertambah 3,25 juta jiwa. Jika di alokasikan ke setiap bulan maka setiap bulannya penduduk indonesia bertambah sebanyak 270.833 juta jiwa atau sebesar 0,27 juta jiwa (1).

Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi kesehatan perorangan. Usaha ke arah itu sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek

(Persero) yang melayani antara lain pegawai negeri sipil, penerima pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Untuk masyarakat miskin dan tidak mampu, pemerintah memberikan jaminan melalui skema Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Namun demikian, skema - skema tersebut masih terfragmentasi, terbagi - bagi.

Biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit terkendali. Untuk mengatasi hal itu, pada 2004, dikeluarkan UU No.40 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). UU 40/2004 ini mengamanatkan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk JKN melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (2).

Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, yang terdiri atas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang meliputi : program Jaminan Hari Tua (JHT), program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan program Jaminan

1) Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Batam

(2)

Kematian (JKM) menurut UU No. 24 Tahun 2011. Manfaat jaminan kesehatan mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis, selain itu juga manfaat dari BPJS ini membantu masyarakat yang tidak mampu dalam segi ekonomi dalam pengobatan atas penyakit yang dideritanya, memudahkan masyarakat dalam penggunaan kartu BPJS yang berlaku secara nasional, sehingga masyarakat dengan mudah menggunakan BPJS ini diwilayah Indonesia, begitu juga sebaliknya jika tidak mempunyai kartu BPJS ini akan mempersulit diri sendiri, terutama untuk masyarakat yang tidak mampu, jika tidak mempunyai kartu BPJS ini mereka akan kesulitan untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit yang memadai yang dimana rumah sakit tersebut yang telah berkerja sama dengan BPJS(3).

BPJS merencanakan pada, 70%

masyarakat Indonesia ikut dalam program ini.

Target lebih tinggi dicanangkan oleh BPJS, tahun 2017, 90% lebih rakyat Indonesia sudah mengikuti program ini. Dengan demikian di harapkan kepala keluarga yang telah mengetahui dan mengerti tentang BPJS dapat mendaftarkan dengan segera, Namun disisi lain banyak dari kepala keluarga yang telah mengetahui tentang seputar BPJS terkadang tidak mendaftar dan ikut pengurusan BPJS (4).

Sebanyak 604.701 orang atau jiwa teregister mengikuti program BPJS Kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau. Data sementara dari laporan PT Jamsostek sampai dengan saat ini ada sekitar 100 Badan Usaha yang sudah register di Kepri, yakni terdapat sekitar 165.859 orang atau jiwa. Sedangkan untuk peserta dari TNI, Polri, PNS, serta peserta Jamkesmas ada sekitar 438.842 jiwa, dengan jumlah total seluruhnya sekitar 604.701 jiwa dari jumlah penduduk kepri sebanyak 1.895.590 jiwa (32%) di Provinsi Kepri (5).

Kurangnya sosialisasi tentang BPJS menyebabkan masyarakat sekitar tidak memahami bagaimana cara mendaftarkan anggota didalam kepala keluarga menjadi peserta BPJS tersebut. Ini dibuktikan dari Kepala Unit Kepesertaan dan Pelayanan BPJS Cabang Batam. BPJS di Kota Batam yang sudah terdaftar resmi tercatat sebanyak 710 ribu jiwa dari jumlah penduduk batam sebanyak 1.060.309jiwa(63%). Jumlah itu terdiri dari peserta mandiri dan peserta

otomatis yang dilimpahkan dari Askes mapun Jamsostek, Sedangkan peserta dari golongan miskin, sama sekali belum ada yang masuk dan terdaftar.Sementara untuk peserta pekerja bukan penerima upah atau peserta mandiri, jumlahnya baru sebanyak 7347 jiwa (1%) dari jumlah penduduk kota batam sebanyak 1.060.309 jiwa di batam, ini dikarenakan masih banyak yang belum memahami dan mengerti tentang BPJS, dan ketidaklengkapan persyaratan dalam pengurusan BPJS ini membuat masyarakat tidak mengerti dan belum mengurus untuk menjadi peserta BPJS(5).

Menurut Dinas Kependudukan Kota Batam jumlah kepala keluarga terbanyak adalah di Kelurahan Belian yaitu dengan jumlah 21.203 kepala keluarga jika dibandingkan dengan kelurahan yang lain dimana Kelurahan Baloi Permai (13.202), Taman Baloi (10.522), Sungai Panas (8.498) dan Batu Besar (9.572), Tanjung Uncang (10.597) dan Tanjung Sengkuang (9.014).

sehingga menunjukan bahwa Kelurahan Belian adalah kelurahan yang memiliki kepala keluarga terbanyak dibandingkan dengan Kelurahan lainnya, Cakupan dari Kelurahan Belian yaitu terdapat 52 RW dan 180 RT dengan batasan wilayah dari kampung belian sampai bounavista, ini menunjukan bahwa Kelurahan Belian memiliki batasan wilayah yang luas. Selain itu dengan jumlah kepala keluarga terbanyak, batas wilayah yang luas dan letak yang strategis yang berada disekitar kampus, sehingga memudahkan peneliti untuk mengetahui sejauh mana padangan dan pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS dan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS tersebut, walaupun data yang didapat dari Kelurahan Belian dimana kepala keluarga di Kelurahan Belian memiliki pekerjaan yang rata - rata kepala keluarga menjadi karyawan swasta yang dimana sebagian dari kepala keluarga tersebut telah menjadi peserta BPJS dengan pelimpahan dari Jamsostek ke BPJS Ketenagakerjaan tanpa pengurusan secara mandiri. Dengan demikian apakah masih banyak kepala keluarga yang belum mendaftarkan anggota keluarganya untuk menjadi peserta BPJS dan bagaimana pengetahuan masing - masing kepala keluarga tentang BPJS tersebut. Apakah dengan tahunya atau tidak tahunya mereka tentang BPJS mereka mengurus untuk menjadi peserta BPJS yang telah diprogramkan oleh pemerintah(6).

(3)

Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Hubungan Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Dengan Keikutsertaan Dalam Penggunaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Kelurahan Belian Kota Batam".

METODE PENELITIAN

Desianpenelitian yang

akandilakukanmdenganrancangancross

sectional, penelitian di laksanakan di Wilayah KelurahanBelianKecamatanBatam Kota.

Populasipenelitianiniadalahseluruhkepalakelua rgadikelurahanbeliandenganjumlah 21.203 orang.Penghitungansampeldaripenelitianinime nggunakanrumusSlovinsehinggadidaptkanjuml

ahsampelsebanyak 99 - 100

orang.Teknikanalisis yang

digunakanadalahujichi square, selanjutnyaditarikkesimpulanbila p lebihkecildarinilai 0,05 (p < 0.05) makaadahubunganbermaknaantaravariabelinde pendendenganvariabeldependen.

HASIL PENELITIAN

Pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS yang berpengetahuan baik sebanyak 77% dari

100 respoden, dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 23% dari 100 responden.

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang BPJS.

No Pengetahuan Jumlah

Frekuensi Persentase

1 Kurang 23 23

2 Baik 77 77

Jumlah 100 100

Tabel 2.

Distribusi Frekuensi Keikutsertaan Kepala Keluarga Dalam PenggunaanBPJS.

No Keikutsertaan Jumlah

Frekuensi Persentase

1 Tidak 51 51

2 Ya 49 49

Jumlah 100 100

Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa banyak kepala keluarga yang tidak ikutserta dalam penggunaan BPJS sebanyak 51% dari 100 responden. Sedangkan responden yang ikut serta penggunaan BPJS sebanyak 49%

dari 100 responden.

Tabel 3

Hubungan Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang BPJS Dengan Keikutsertaan dalam Penggunaan BPJS.

No Pengetahuan

Keikutsertaan

Jumlah p -

Value O.R

Ya Tidak

N % N % N %

1 Baik 46 46 31 31 77 77

0,000 9,892

2 Kurang 3 3 20 20 23 23

Jumlah 49 49 51 51 100 100

Dari Tabel 3 hasil analisis hubungan pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS dengan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS di Kelurahan Belian, diketahui pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS yang baik dan ikutsertaan penggunaan BPJS sebanyak 46%, bila dilihat dari uji Chi - Square didapatkan p - value 0,000 lebih kecil dari 0,05 artinya ada hubungan antara pengetahuan kepala keluarga tentang bpjs dengan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS Di Kelurahan Belian, dan diketahui nilai OR (Odd Ratio) yaitu 9,892 artinya kepala keluarga yang memiliki

pengetahuan baik mempunyai peluang 9,892 kali untuk ikutserta dalam penggunaan BPJS.

PEMBAHASAN

Menurut hasil dapat diketahui bahwa kepala keluarga yang memiliki pengetahuan yang baik dan mengikutsertakan menjadi peserta BPJS sebanyak 46 kepala keluarga (46%) dari 100 responden, kepala keluarga yang memiliki pengetahuan kurang dan tidak mengikutsertakan menjadi peserta BPJS sebanyak 20 kepala keluarga (20%) dari 100 responden. Hasil uji statistik dengan uji chi -

(4)

square diketahui bahwa nilai p value = 0.000 (p < 0,05) maka Ho ditolak, maka dari hasil uji statistik ini dapat ketahui adanya hubungan antara pengetahuan kepala keluarga tentang BPJS dan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS. Dengan OR (Odd Ratio) didapat 9,892 artinya kepala keluarga yang memiliki pengetahuan baik mempunyai peluang 9,892 kali untuk ikutserta dalam penggunaan BPJS.

Dari hasil data dapat diketahui bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dan mengikutsertakan menjadi anggota BPJS sebanyak 46% dari 100 responden, dimana kepala keluarga yang memiliki pengetahuan baik cenderung mengikutsertakan menjadi peserta BPJS dari pada responden yang berpengetahuan kurang, Hal Ini disebabkan kepala keluarga di Kelurahan Belian yang mempunyai pengetahuan baik telah mengetahui dan mengerti mengenai BPJS, sehingga responden mengikutsertakan dirinya dan anggota keluarganya untuk menjadi peserta BPJS. Keikutsertaan BPJS selain dari pengetahuan yang baik, dapat diketahui dari pekerjaan responden dimana mayoritas pekerjaan responden adalah karyawan swasta, sehingga secara otomatis telah menjadi peserta BPJS, karena adanya pelimpahan dari jamsostek ke BPJS ketenagakerjaan. Tetapi, tidak semua karyawan swasta secara otomatis menjadi peserta BPJS, hanya karyawan swasta yang bekerja di perusahan besar yang secara otomatis menjadi peserta BPJS(7).

Di dalam keikutsertaan anggota BPJS ini di perlukan pemahaman dan pengetahuan tentang pentingnya keikutsertaan dalam program BPJS ini, salah satu aspeknya adalah pemahaman terhadap pentingnya ke ikutsertaan dalam program BPJS, sehingga diharapkan bagi responden yang telah mememiliki pengetahuan baik tetapi belum mengikutsertakan menjadi peserta BPJS untuk segera mengikutsertakan dirinya dan anggota keluarganya menjadi peserta BPJS dengan cara mendaftarkan di tempat BPJS terdekat(4).

Dari teori pengetahuan yaitu menurut YB Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan. Dimana kepala keluarga yang memiliki pengetahuan yang baik dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang tinggi. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan mempunyai pengetahuan yang baik

seseorang tersebut akan mengetahui bagaimana seseorang memotivasi dirinya sendiri untuk berperan serta, sehingga dengan kesadaran dirinya sendiri maka responden akan ikut berperan serta(8).

Sedangkan rendahnya tingkat pengetahuan kepala keluarga dan rendahnya keikutsertaan dalam pengggunaan BPJS sebanyak 20% dari 100 responden ini di sebabkan responden kurang memiliki informasi tentang BPJS sehingga mereka tidak tahu bagaimana pengurusan dan persyaratan yang di perlukan untuk menjadi peserta BPJS.

Selain itu sebagian kepala keluarga yang belum mendaftarkan sebagai peserta BPJS dikarenakan responden sibuk dengan pekerjaannya sehingga belum bisa pergi untuk mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya menjadi peserta BPJS.

Berdasarkan hasil penelitian, kepala keluarga yang belum mendaftarkan menjadi peserta BPJS diharapkan untuk segera mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya menjadi peserta BPJS, dikarenakan program BPJS ini bersifat wajib bagi Warga Negara Indonesia, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang terdapat pada UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tentang prinsip BPJS yaitu Kepesertaan bersifat wajib dimana prinsip kepesertaan bersifat wajib adalah prinsip yang mengharuskan seluruh penduduk menjadi peserta jaminan sosial, yang dilaksanakan secara bertahap, dengan prinsip tersebut maka seluruh warga indonesia harus terdaftar sebagai peserta BPJS. Adapun pendaftaran mandiri dilakukan dikantor terdekat dengan membawa persyaratan seperti : KTP, KK, yang berdomisili di Kelurahan Belian(4)

Dengan demikian, responden yang memiliki pengetahuan baik atau kurang tentang BPJS harus mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya menjadi peserta BPJS, seperti yang telah ditetapkan oleh UU No. 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Guna mewujudkan program pemerintah ini dan sesuai dengan UU yang telah ditetapkan, dengan demikian diharapkan semua responden untuk mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya menjadi peserta BPJS.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan pengetahuan kepala keluarga

(5)

tentang BPJS dengan keikutsertaan dalam penggunaan BPJS di Kelurahan Belian

DAFTAR PUSTAKA

1. Adisasmito, Wiku. 2012. Sistem Kesehatan Jakarta : Raja Grafindo Persada.

2. Laporan Dinas Kependudukan Kota Batam. (2014). Data Rekap Kepala Keluarga Di Kota Batam. Tidak dipublikasikan

3. Mardianto. 2013. Jaminan Kesehatan.

Bandung : Nuansa Aulia.

4. Wawan, Dewi. 2010. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta : Nuha Medika

5. Rumengan, Jemmy. 2008. Metode PenelitianKesehatan. Bandung : Cipta Pustaka Media Perintis

6. Susanti, Dewi. 2012. "Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Jaminan Persalinan Di

UPT Puskesmas Kijang

KabupatenBintan". Batam : Universitas Batam

7. Yati, Mega. 2012. "Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil TM III Tentang Jaminan PersalinaDi Puskesmas". Batam : Universitas Batam

8. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : RinekaCipta.

Referensi

Dokumen terkait

Jenis kegiatan yang telah dilakukan, antara lain sosialisasi kegiatan kepada anggota kelompok mitra, melakukan pendampingan dan traumatic healing kepada anak-anak

- Golongan masyarakat berpenghasilan tinggi dengan jumlah penduduk sebanyak 104.149 jiwa (6,02%) Sesuai dengan pembahasan ini bahwa perencanaan penghuni rumah susun di Kotamadya

7 Perubahan pada jumlah populasi penduduk, yang berakibat pada perubahan struktur umur penduduk yang ditandai dengan meningkatnya usia (15-64 Th) dan menurunnya proposi

[r]

Sedangkan di Puskesmas Adimulyo, dari sasaran sejumlah 3.398 PUS, yang sudah dilakukan pemeriksaan IVA sebanyak 825 perempuan (24,27%) dengan IVA (+) 133 kasus dan curiga kanker

Heaven’s Café &amp; Boutique sebagai bisnis café di Kota Bandung sadar akan pentingnya konsep untuk dapat menarik perhatian, memenuhi permintaan dan harapan konsumen yang

Untuk menghitung derajat keanggotaan sudut topografi digunakan bentuk fungsi keanggotaan segitiga seperti terlihat pada Gambar 15 (dengan R melambangkan fungsi

Kekeliruan orang katir terhadap perubahan dan pertukaran hukum-hukum yang dilakukan oleh Allah dari satu masa ke satu masa untuk kebaikan manusia: An-Nahl, ruku' (14) — m.s.. dan