PENGARUH KNOWLEDGE SHARING TERHADAP KINERJA
PUSTAKAWAN DI UNIVERSITAS RIAU
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komputer pada
Program Studi Sistem Informasi
Oleh:
UTARI ARMILA
11553201673
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL
Tugas Akhir yang tidak diterbitkan ini terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau adalah terbuka untuk umum, de- ngan ketentuan bahwa hak cipta ada pada penulis. Referensi kepustakaan diperke- nankan dicatat, tetapi pengutipan atau ringkasan hanya dapat dilakukan atas izin penulis dan harus dilakukan mengikuti kaedah dan kebiasaan ilmiah serta menye- butkan sumbernya.
Penggandaan atau penerbitan sebagian atau seluruh Tugas Akhir ini harus memperoleh izin tertulis dari Dekan fakultas universitas. Perpustakaan dapat me- minjamkan Tugas Akhir ini untuk anggotanya dengan mengisi nama, tanda pemin- jaman dan tanggal pinjam pada form peminjaman.
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguru- an Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.
Pekanbaru, 13 Desember 2019 Yang membuat pernyataan,
UTARI ARMILA NIM. 11553201673
LEMBAR PERSEMBAHAN
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”(QS. Ar- Rahman : 13) Allhamdulillahi Rabbil Alamin, kupanjatkan kepada ALLAH SWT atas segala rahmat dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas akhir dengan segala kekuranganku. Segala syukur aku ucapkan ke pada Mu karena telah menghadi- ahkan mereka yang selalu memberi semangat dan doa’ disaat kutertatih. karena -Mu lah mereka ada, dan karena izin dan ridho mulah tugas akhir ini terselesaikan.Hanya pada-Mu tempat kumengadu dan mengucapkan syukur.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia, kesehatan dan kesempatan dalam penyelesaian
Tugas Akhir ini. Kita doakan kepada Allah agar disampaikan pada baginda Muhammad SAW.
Dengan segala ketulusan hati dan kerendahan hati bersama keridhaan-Mu ya Al- lah, aku persembahkan sebuah hasil dari study panjang ku sebagai pengobat lelah, penghapus peluh, pengukir senyum diwajah dua orang yang amat berarti dalam hidupku..
Ama dan Apa yang sangat aku sayangi dan cintai... Sang Motivator dalam penyelesaian tugas akhir ini ,
Penyemangat jiwa ketika lelah berjuang, Penyejuk hati dikala gundah ,
kepada ama dan apa tersayyang, Tugas Akhir (skripsi) ini tari persembahkan . untuk jawaban dari doa’-doa yang telah dilantunkan selama ini, tiada kata yang bisa menggantikan segala sayyang, pengorbanan, usaha, semangat dan juga uang yang telah diberikan untuk penyelesaian tugas akhir ini. ya allah berikanlah balasan setimpal Syurga Firdaus untuk kedua orang tuaku dan jauhkanlah dari panasnya hawa api neraka,amiiin. semoga tugas akhir ini menjadi sebuah langkah awal ke- suksesan anak mu di masa depan, yang tentunya membawa kebahagiaan juga untuk keluarga kita..
vii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb. Allhamdulillah hirobbil’alamin, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah dan hidayah-Nya dan diser- tai dengan usaha yang maksimal serta motivasi yang diberikan oleh berbagai pi- hak, maka akhirnya Laporan Tugas Akhir ini dapat terselesaikan. Tidak lupa pula shalawat serta salam di hadiahkan kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan menuju alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti yang dirasakan saat ini, dengan melafadzkan Allahumma Sholliala Muhammad Waala ali Muhammad.
Laporan Tugas Akhir ini merupakan salah satu prasyarat untuk memenuhi persyaratan akademis dalam rangka meraih gelar kesarjanaan di Program Studi Sis- tem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN SUSKA RIAU). Selama menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan, bimbingan, dan petunjuk dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini ucapan terimakasih dan do’a kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Akhmad Mujahidin, S.Ag., M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
2. Bapak Dr. Drs.Ahmad Darmawi, M.Ag., Dekan Fakultas Sains dan Tekno- logi, Uin Suska Riau.
3. Ibu Idria Maita, S.Kom., M.Sc., Ketua Program Studi Sistem Informasi. 4. Bapak Eki Saputra, S.Kom., M.Kom, Sekretaris Program Studi Sistem
Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Uin Suska Riau.
5. Ibuk Siti Monalisa, ST., M.Kom Pembimbing Akademik yang telah mem- bimbing dan memberikan perhatian sedari semester awal perkuliahan. 6. Bapak Nesdi Evrilyan Rozanda, S.Kom., M.Sc., dosen pembimbing tu-
gas akhir yang telah banyak meluangkan waktu, memberikan masukan dan motivasi, semangat, arahan dan bimbingan yang sangat membantu dalam pengembangan diri dan menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.
7. Ibuk Zarnelly, S.Kom., M.Sc.dan Bapak Eki Saputra, S.Kom., M.Kom., se- bagai penguji tugas akhir yang telah membantu memberikan masukan kepa- da penulis dalam penyusunan laporan Tugas Akhir ini.
8. Pegawai dan Staff Program Studi Sistem Informasi yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga membantu dan mempermudah dalam peng- urusan administrasi tugas akhir.
9. Kepada Ibuk Ajir selaku kepala Administrasi Perpustakaan Universitas Ri-
au yang telah mengizikann penulis melakukan penelitian, beliau yang telah banyak membantu penulis dalam penilitian.
10. kepada kaka Lia selaku Staf yang ada di Perpustakaan yang membantu dalam pengumpulan data yang diperlukan dalam penyelesaian penelitian ini. 11. kepada seluruh dosen Sistem Informasi yang telah banyak memberikan ma- sukan dan semangat, serta membantu memberikan masukkan pengerjaan penelitian ini. dan teruntuk pak ipul yang sudah memberikan beberapa saran dan bimbingan.
12. Kepada kedua orang tua tercinta Bapak Armi dan Ibu Wedri Helmi yang telah memberikan segalanya, Ibu yang selalu memberikan perhatian beru- pa kasih sayang dan semangat, dan Ayah yang telah tiada menjadi motivasi tersendiri bagi penulis. Terima kasih atas semua pengorbanan dan kerja k- eras yang telah kalian lakukan dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih demi kesuksesan.Terimasih atas doa-doa yang setiap saat telah dilantunkan, Se- moga Allah selalu menjaga dan melindungi Ibu dan Ayah dimanapun kalian berada. Amiin Ya Rabbalamin.
13. Kepada sahabat penulis tercinta dan tersayyang sepesial terimakasih, Nadya (Nadcan) sebagai sahabat terbaik selama menempuh bangku perkuliahan yang sama -sama berjuang hingga akhir. yang rela meluangkan waktu un- tuk membantu setiap kesulitan dan penyemangat ketika down, Badra (sibad) yang memberikan keceriaan, Nada (bulek), Riski, Fadli, Ikhsan, Kusnanto, dan teman-teman SIF A 2015 yang telah membantu dan mendukung sela- ma melakukan penelitian Tugas Akhir dan menemani saya sampai terlak- sananya sidang, serta saling memberikan semangat dan doa yang terbaik. 14. kepada kaka tersayyang Kak Siti fadzhilah (Kakdeq) dan Kak Nik, nata-
sya dan suci yang sudah memberikan dukungan dan motivasi yang sudah banyak membantu untuk penyelesaian penelitian ini.
15. kepada setiap orang yang kutemui dalam hidupku betapa kalian sudah mem- berikan banyak jasa yang tidak pernah bisa kubayar, dari lubuk hatiku, ku- ucapkan terimakasih untuk semua orang yang telah disinggahkan oleh al- lah untukku hanya allah sebaik-baik pemberi balasan atas semua kebaikan, Uhibbikum Fillah.
16. kepada seluruh teman-teman dan kakak sepembimbingan yang sudah sama- sama berjuang untuk menyeleseiakan penelitian ini.
17. Keluarga Sistem Informasi serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu pada kesempatan ini yang telah banyak membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Semoga bantuan dan bimbingan mendap-
ix atkan pahala disisi ALLAH.
Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun dapat dikirim ke e-mail [email protected] suska.ac.id.Semoga dengan kritikan ini, bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Pekanbaru, 13 Desember 2019 Penulis,
UTARI ARMILA NIM. 11553201673
PENGARUH KNOWLEDGE SHARING TERHADAP KINERJA
PUSTAKAWAN DI UNIVERSITAS RIAU
UTARI ARMILA
NIM: 11553201673
Tanggal Sidang: 13 Desember 2019 Periode Wisuda:
Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. Soebrantas, No. 155, Pekanbaru
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses Knowledge Sharing yang paling mempengaruhi kinerja pustakawan berdasarkan model SECI dan untuk menghasilkan rekomendasi berupa kebi- jakan untuk meningkatkan kinerja pustakawan di Universitas Riau. Metode yang digunakan yaitu model konversi pengetahuan yang disebut sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi (SECI) model. penulis menggunakan jenis penelitian yaitu jenis kuantitatif dan menggunakan analisis linier berganda. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampling jenuh dengan menjadikan seluruh populasi sebagai sampel yaitu 50 orang. teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan kuesioner. Hasil analisis data membuktikan bahwasannya Sosialisasi, eksternalisasi, dan internalisasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pustakawan, dan kombinasi tidak memiliki signifikan dengan kinerja pustakawan. Dengan nilai R sebesar 0,881 atau 88,1% berarti terdapat keterhubungan antara Knowledge Sharing terhadap kinerja pustakawan di Universitas Riau. sementara nilai R Square sebesar 0,751 atau 75,1% knowledge sharing dapat mempengaruhi kinerja pustakawan di universitas Riau sisanya 24,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian ini.
KNOWLEDGE SHARING’S INFLUENCE ON LIBRARIAN
PERFORMANCE AT THE UNIVERSITY OF RIAU
UTARI ARMILA
NIM: 11553201673
Date of Final Exam: Desember 13 th 2019 Graduation Period:
Department of Information System Faculty of Science and Technology
State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau Soebrantas Street, No. 155, Pekanbaru
ABSTRACT
The aim of this study is to find out what process of Knoeledge Sharing who influence librarians’ performance the most based on SECI model and to produce recommendations in increasing the perfomance of librarian in State University of Riau. The method of this research used conversion model of knowledge namely: Socialization, Externalization, Combination, Internalization (SECI) model. The writer used qualitative research design with multiple linear analysis. In choosing sample in this research writer used purposive sampling technique, who took all of population as resarch sample as much 50 respondent. In collecting the data the writer used interview, observation, and questionnaire. After analyzing the data the writer found that socialization, externalization, and internalization give the significant effect towards librarians’ performance and combination have no significant effect towards librarian perforfamnce in State Univesity of Riau, with R > 0,881 or 88,1% which means there is a correlational effect between Knowledge Sharing towards librarians’ performance besides R square > 0.751 or 75,1% which means knowledge sharing affecting librarians’ performance in State University of Riau, where 24,9% influenced by other variable in this research.
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ii
LEMBAR PENGESAHAN iii
LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL iv
LEMBAR PERNYATAAN v
LEMBAR PERSEMBAHAN vi
KATA PENGANTAR vii
ABSTRAK x
ABSTRACT xi
DAFTAR ISI xii
DAFTAR GAMBAR xvi
DAFTAR TABEL xvii
DAFTAR SINGKATAN xviii
1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Batasan Masalah ... 3 1.4 Tujuan Penilitian ... 4 1.5 Manfaat Penilitian ... 4 1.6 Sistematika Penulisan ... 4 2 LANDASAN TEORI 6 2.1 Knowledge ... 6 2.2 Knowledge Management ... 8 2.3 Knowledge Sharing ... 9
2.3.1 Strategi Knowledge Sharing ... 10
2.3.2 Cara-Cara Knowledge Sharing ... 12
2.3.4 Manfaat Knowledge Sharing ... 16
2.3.5 Model Konversi Pengetahuan ... 17
2.4 Pustakawan ... 20
2.5 Kinerja Pustakawan... 22
2.6 Socialization, Eksternalization, Combination, Internalization (SECI) Model ... 31
2.7 Proses SECI Model di Perpustkaan UR ... 32
2.8 Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 33
2.9 Perpustakaan Universitas Riau (UR) ... 34
2.9.1 Visi Dan Misi... 35
2.9.2 Pelayanan dan Ketertiban ... 36
2.9.3 Keanggotaan Perpustakaan ... 37
2.10 Variabel Penelitian ... 38
2.11 Skala Likert ... 38
2.12 Populasi dan Sampel ... 38
2.13 Kuesioner ... 39
2.14 Statistical Package For Social Sciene (SPSS) ... 40
2.15 Validitas dan Reabilitas ... 40
2.15.1 Validitas ... 40
2.15.2 Reabilitas ... 40
2.16 Uji Asumsi Klasik ... 41
2.16.1 Uji Normalitas ... 41
2.16.2 Uji Multikolinieritas ... 42
2.16.3 Uji Heteroskedasitas ... 42
2.16.4 Uji Autokorelasi ... 42
2.17 Analisis Regresi Linear Berganda ... 43
2.18 Pengujian Hipotesis... 43
2.19 Penelitian Terdahulu ... 45
3 METODOLOGI PENELITIAN 46 3.1 Objek Penelitian ... 46
3.2 Lokasi Penelitian ... 46
3.3 Jenis Sumber Data ... 46
3.4 Proses dan Alur Penelitian ... 46
3.4.1 Tahap Perencanaan ... 47
3.4.2 Tahap Pengumpulan Data ... 50
3.4.4 Analisis Data ... 51
3.4.5 Dokumentasi Hasil Penelitian ... 52
4 ANALISIS DAN HASIL 53 4.1 Anlisis Statistik Deskriptif ... 53
4.2 Deskripsi Variabel ... 55
4.2.1 Analisis Deskriptif Variabel Sosialisasi... 55
4.2.2 Analisis Deskriptif Variabel Eksternalisasi ... 57
4.2.3 Analisis Deskriptif Variabel Kombinasi ... 59
4.2.4 Analisis Deskriptif Variabel Internalisasi ... 60
4.3 Uji Kualitas Instrumen Penelitian ... 62
4.3.1 Uji Validitas ... 62
4.3.2 Uji Reliabilitas ... 63
4.4 Uji Asumsi Klasik ... 64
4.4.1 Uji Normalitas Data... 64
4.4.2 Uji Mutikolinieritas ... 65
4.4.3 Uji Heteroskesdastisitas ... 66
4.4.4 Uji Autokrelasi ... 67
4.5 Analisis Data Penelitian ... 68
4.5.1 Regresi Linear Berganda ... 68
4.5.2 Uji Secara Parsial (Uji T) ... 69
4.5.3 Uji Secara Simultan (Uji F) ... 70
4.5.4 Koefisien Determinasi ... 71
4.6 Pengujian Hipotesis... 72
4.7 Rekomendasi Media Teknologi Dalam Meningkatkan Knowledge Sharing ... 73
4.8 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Knowledge Sharing... 75
4.9 Knowledge Sharing Yang Paling Mempengaruhi Kinerja Pustakawan75 4.10 Knowledge Sharing Berdasarkan Karekteristik Responden ... 76
4.11 Pembahasan ... 76
4.11.1 Pengaruh Sosialisais Terhadap Kinerja Pustakawan ... 76
4.11.2 Pengaruh Eksternalisasi Terhadap Kinerja Pustakawan ... 77
4.11.3 Pengaruh Kombinasi Terhadap Kinerja Pustakawan ... 78
4.11.4 Pengaruh Internalisasi Terhadap Kinerja Pustakawan ... 78
5 PENUTUP 80 5.1 Kesimpulan ... 80 5.2 Saran ... 81 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN A HASIL WAWANCARA A - 1
A.1 Wawancara I . . . . .A - 1 A.2 Wawancara II . . . .A - 3 A.3 Wawancara III . . . . .A - 5
LAMPIRAN B DOKUMENTASI OBSERVASI B - 1
DAFTAR GAMBAR
2.1 Level Operasional Defenisi Knowledge Sumber: Yuliazmi (2005) .8
2.2 Pemetaan Proses SECI ModelSumber: Aprilianti (2012) ... 19
2.3 Teknik Sampling (Sumber: Sugiyono, 2014)... 39
3.1 Metodologi Penelitian ... 47
3.2 Kontruksi Hipostesis(Sumber: Anderias, 2017) ... 49
4.1 Sampel Berdasarkan Jenis kelamin ... 54
4.2 Sampel Berdasarkan Usia ... 54
4.3 Sampel Berdasarkan Pendidikan ... 55
4.4 Uji Normalitas Histogram ... 64
4.5 Uji Normalitas Garis Plot ... 65
4.6 Uji Multikoliniearitas ... 66
4.7 Uji Heteroskesdastisitas ... 67
4.8 Uji Heteroskesdastisitas ... 68
4.9 Regresi Linear Berganda ... 68
4.10 Uji T Hitung ... 70
4.11 Uji secara Simultan (Uji F) ... 71
4.12 Uji secara Simultan (Uji F) ... 71
DAFTAR TABEL
2.1 Kepemimpinan Perpustakaan UR ... 35
2.2 Pengelola Perpustakaan ... 35
2.3 Skala Likiert ... 38
3.1 Skala Likiert ... 52
4.1 Ringkasan Karekteristik Responden ... 53
4.2 Rekapitulasi tanggapan responden sosialisasi ... 56
4.3 Rekapitulasi tanggapan responden eksternalisasi ... 57
4.4 Rekapitulasi tanggapan responden kombinasi ... 59
4.5 Rekapitulasi tanggapan responden inernalisasi ... 60
4.6 Uji Validitas ... 62
4.7 Uji Reliabilitas ... 63
4.8 Tabel Kebijakan ... 74
DAFTAR SINGKATAN
DW : Durbin-Watson
DDC : Dewey Decimal Clasification IPI : Ikatan Pustakawan Indonesia KMS : Knowledge Management System KS : Knowledge Sharing
KM : Knowledge Management
SECI : Sosialization, Eksternalization, Combination, Internalization SDM : Sumber Daya Manusia
SIM : Sistem Informasi Manajemen UR : Universitas Riau
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zaman globalisasi yang ditunjang oleh banyaknya inovasi yang ditandai dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang pesat akan memunculkan persaingan. Perubahan paradigma yang tadinya dari sumber daya menjadi sumber pengetahuan mendorong manusia untuk berfikir cepat dan tepat. Ini membuat ke- butuhan informasi di era global semakin meningkat begitu juga dengan kebutuhan informasi pada pengguna perpustakaan atau pemustaka yang membutuhkan keterse- diaan informasi yang kompleks dan informasi sudah menjadi kebutuhan manusia. Menurut Rusmana (2015) informasi kini sudah menjadi sumber kekuatan (informa-
tion is power) yang mendorong orang untuk berlomba mencari dan mengumpulkan
informasi, dan belajar untuk menjadi ahli informasi.
Semakin memadainya informasi yang diterima oleh pelaku persaingan maka akan meningkatkan sumber daya manusia yang berfikir cerdas dan kreatif. Menurut Nonaka (2017) keberhasilan perusahaan Jepang ditentukan oleh keterampilan dan kepakaran mereka dalam penciptaan pengetahuan organisasinya. Davidson (2003) berpendapat sebenarnya pengetahuan adalah cara organisasi mengelola karyawan mereka, berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk teknologi informasi, serta bagaimana orang-orang dari berbagai tempat yang berbeda mulai saling bicara.
Knowledge Sharing (KS) merupakan tahapan disseminasi dan penyediaan knowledge pada saat yang tepat untuk setiap individu yang membutuhkan ( A-
malia dan Endang, 2013). KS merupakan salah satu kegiatan dalam Knowledge
Management(KM) dan juga menjadi tolak ukur dari keberhasilan dan kesuksesan
dalam penerapan KM. Tanpa sharing, maka proses learning dan knowledge cre-
ation menjadi terhambat dan tanpa sharing maka skala utilitas salah satu knowl- edge hanya dimanfaatkan oleh orang atau unit secara terbatas (Tobing, 2007). KS
sebagai aktivitas mentransfer atau menyebarkan pengetahuan dari seseorang, group atau organisasi ke orang, grup atau organisasi yang lain (Lee, 2005). Di dalam KS terjalin hubungan antara pimpinan dan pegawai secara bersama-sama saling berhubungan, berkomunikasi, berbagi dan mentransfer pengetahuan yang mereka miliki satu sama lain. KS sebagai aktivitas mentransfer atau menyebarkan penge- tahuan dari seseorang, group atau organisasi ke orang, grup atau organisasi yang lain (Lee, 2005). Di dalam KS terjalin hubungan antara pimpinan dan pegawai se- cara bersama-sama saling berhubungan, berkomunikasi, berbagi dan mentransfer pengetahuan yang mereka miliki satu sama lain.
Hal tersebut mengisyaratkan bahwa KS merupakan sebuah kebutuhan ba- gi setiap organsasi untuk mempertahankan entitas bisnis sekaligus meningkatkan daya saingnya. Hal ini berlaku bagi setiap entitas instansi baik pemerintah maupun swasta, tidak terkecuali organisasi disebuah perpustakan. Termasuk di Perpustakaan Riau (UR), yang merupakan instansi yang berperan sebagai pusat informasi yang memiliki tugas pokok dalam penyediaan, pengelolaan, pelayanan dan disseminasi informasi bagi pemustaka khususnya dan civitas akademika pada umumnya (Buku Panduan Perpustakaan Universitas Riau, 2018). Saat ini perpustakaan UR memiliki jumlah pustakawan sebanyak 53 orang, yang telah PNS berjumlah 28 orang dan 25 orang yang masih honorer bedasarkan wawancara yang terdapat pada Lampiran A. Perpustakaan UR sudah mengimplementasikan KS sejak lama, adapun bentuk KS yang terjadi berupa diskusi pertemuan 1 kali dalam 2 minggu membicarakan pem- bagian kerja maupun evaluasi kerja, dan rapat pertemuan secara berkala bersama dengan seluruh pustakawan. Adapun pengetahuan yang dibagikan oleh karyawan berupa pengetahuan tentang pengalaman dalam mengelola perpustakaan. Sejak berdirinya Perpustakaan UR pada tahun 1980 hingga saat ini tidak terlepas dari permasalahan atau hambatan yang terjadi pada perpustakaan
Adapun permasalahan yang terjadi yaitu ketika pustakawan melakukan KS dengan pustakawan lainnya, seperti pada rapat, diskusi, dan penyampaian tugas k- erja tidak dapat berjalan dengan baik. 30% karyawan tidak aktif melakukan proses KS, karyawan hanya membaca pengetahuan yang sudah ada dan tidak berkomentar, dan terjadi kesalahan karyawan dalam penyelesaian tugas kerja sehingga berdampak pada kualitas kinerja yang dihasilkan karyawan seperti kinerja karyawan menjadi lamban dan tidak tepat waktu dalam penyelesaiannya, pekerjaan yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diinstruksikan dan proses KS tidak berlanjut dan menjadi terhambat. Faktor yang menyebabkanya adalah tidak meratanya pengetahuan yang dimiliki pustakawan, kemampuan menyerap pengetahuan yang berbeda-beda pada setiap pustakawan sehingga mempengaruhi hasil yang seharusnya diserap, perbe- daan usia, jabatan, keadaan emosional, latar belakang pendidikan yang berbeda- beda
Untuk meningkatkan kinerja pustakawan pada Perpustakaan UR maka per- lu ditingkatkan kinerja pustakawan melalui pengetahuan yang diperoleh dari hasil sharing pengetahuan, pengalaman, dan ilmu dari pustakawan lainnya. Oleh karena itu upaya yang dapat dilakukan pustakawan masa kini dengan mendorong muncul- nya suatu ide atau gagasan untuk menciptakan inovasi baru dan melakukan per- baikan pada kebijakan yang sebelumnya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada didalamnya. Pengembangan tersebut dilakukan gu-
na menambah kualitas pelayanan dan meningkatkan kinerja pustakwan diperpus- takaan. Supriayanto dan Machfudz (2010:141) menyebutkan bahwa standar kiner- ja seseorang dinyatakan baik apabila mencangkup beberapa faktor seperti kuanti- tas, kualitas, ketepatan waktu, kedisiplinan, kreativitas dan inovasi, kehadiran, ker- jasama tim, bertanggung jawab dan melakukan perencanaan pekerjaan. Tentunya kinerja yang baik itu terwujud karena adanya alur pengetahuan dan informasi yang tersampaikan dengan baik antara satu sama lain sehingga terbentuknya pengetahuan baru.
Nonaka menyatakan bahwa terbentuknya knowledge baru karena interak- si atau perubahan (konversi) antara dua jenis pengetahuan yakni tacit knowledge atau pengetahuan yang masih berada dalam pikiran atau otak manusia dan explicit
knowledge atau pengetahuan yang sudah direkam dan didokumentasikan. Melalui tacit dan explicit knowledge, dibagi model konversi knowledge menjadi empat cara
yaitu melalui sosialisasi, eksternalisasi, kombinansi dan internalisasi (SECI) (Setri- arso dkk, 2009).
Salah satu media yang menjadi objek penelitian adalah KS menggunakan model SECI seperti yang telah dijelaskan di atas. Dengan KS ini akan dilihat a- pakah para pustakawan telah memiliki kompetensi dan kemampuan untuk melak- sanakan KS kepada para pustakawan dan pemustaka di Perpustakaan UR, kare- na aliran informasi yang baik dapat menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan perpustakaan. Menurut Tobing (2007) menyatakan bahwa dengan KS maka per- masalahan yang berhubungan dengan penyebaran pengetahuan di dalam organisasi dapat diatasi sehingga diharapkan dapat mendukung misi dan tujuan Perpustakaan UR dalam meningkatkan daya saingnya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka penelitian ini mengangkat topik “Pe- ngaruh Knowledge Sharing Terhadap Kinerja Pustakwan (Studi Kasus: Perpus- takaan Universitas Riau)”.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian tugas akhir ini adalah bagaimana men- ganalisis Pengaruh Knowledge Sharing terhadap kinerja pustakawan di Perpus- takaan Universitas Riau.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah yang diteliti adalah:
1. Analisis pengaruh Knowledge Sharing terhadap kinerja pustakawan dilakukan pada Pustakawan Perpustakaan Universitas Riau.
gunakan emapat model konversi yaitu sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi dan internalisasi (SECI).
1.4 Tujuan Penilitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui proses knowledge Sharing yang paling mempengaruhi
kinerja pustakawan berdasarkan Model SECI..
2. Untuk menghasilkan rekomendasi berupa kebijakan untuk meningkatkan kinerja pustakwan berdasrkan Model SECI.
1.5 Manfaat Penilitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Dapat menjadi acuan bagi perpustakaan untuk menciptakan kebijakan dalam memaksimalkan knowledge Sharing.
2. Dapat menjadi acuan bagi perpustakaan untuk melakukan perubahan dan membuat kebijakan atau media untuk berbagi pengetahuan.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini disusun agar pembuatan la- poran dapat lebih terstruktur dan lebih mudah dalam mamahami tugas akhir yang dilakukan. Adapun sistematika penulisan tugas akhir ini terdiri dari 5 (lima) bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB 1. PENDAHULUAN
BAB 1 pada tugas akhir ini berisi tentang: (1) latar belakang masalah; (2) rumusan masalah; (3) batasan masalah; (4) tujuan; (5) manfaat; dan (6) sistematika penulisan.
BAB 2. LANDASAN TEORI
BAB 2 pada tugas akhir ini berisi tentang uraian mengenai teori-teori pe- nunjang yang berhubungan dengan tugas akhir ini yang berasal dari jurnal maupun buku yang digunakan sebagai landasan teori dalam pembuatan laporan tugas akhir ini, seperti: (1) knowledge management; (2) knowledge sharing; (3) Seci model; (4) Kinerja Pustakawan.
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 pada tugas akhir ini berisi tentang metodolgi atau alur penelitian yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir yang terdiri dari: (1) pengumpulan data; (2) praposes analisis data; (3) hasil dan pembahasan.
BAB 4. ANALISIS DAN HASIL
praproses data; (3) analisis Linear berganda; (4) pengujian Validasi dan Reliabilitas data; (5) Uji Normalitas data.
BAB 5. PENUTUP
BAB 5 pada tugas akhir ini berisi tentang: (1) kesimpulan dari laporan tugas akhir yang di buat; dan (2) saran-saran penulis kepada pembaca, agar penelitian ini dapat dikembangkan lagi untuk ke dapannya.
BAB 2
LANDASAN TEORI
Pada bab ini membahas mengenai hal-hal yang berkaitan langsung dengan penelitian yang dilakukan, meliputi defenisi dan proposisi yang disusun untuk men- jelaskan variable-variabel yang digunakan pada penelitian yang terdahulu, penje- lasan tentang Knowledge, Knowledge Management, konsep Knowledge Sharing, defenisi Potensi, Perpustakaan Universitas Riau dan definisi pemustaka, beserta teori-teori lainnya yang penulis liat perlu untuk dijelaskan dan cantumkan pada bab ini.
2.1 Knowledge
Knowledge merupakan campuran dari pengalaman, nilai, informasi kontek-
tual, pandangan pakar dan instusi mendasar yang memberikan suatu lingkungan untuk mengevaluasi dan menyatukan pengalaman baru dengan informasi. Pada perusahaan knowledge sering terkait tidak saja pada dokumen, tetapi juga rutini- tas, proses, praktek dan norma perusahaan (Yuliazmi,2005).
Knowledge menjadi sangat penting karena:
1. Knowledge adalah aset institusi, yang menentukan jenis tenaga kerja, infor- masi, keterampilan dan struktur organisasi yang diperlukan.
2. Pengetahuan dan pengalaman perusahaan merupakan sumber daya yang berkelanjutan (sustainable resources) dari keuntungan daya saing kompetitif (competitive advantages) dibandingkan dengan produk andalan dan teknlogi tercanggih yang dimiliki.
3. Pengetahuan dan pengalaman mampu menciptakan, mengkomunikasikan dan mengaplikasikan pengetahuan mengenai semua hal terkait untuk men- capai tujuan bisnis.
Knowledge dibagi menjadi dua jenis yaitu explicit knowledge dan tacit knowledge, yang dapat dijabarkan sebagi berikut:
1. Explicit Knowledge, adalah sesuatu yang dapat diekspresikan dengan kata- kata dan angka, serta dapat disampaikan dalam bentuk ilmiah, spesifikasi, manual dan sebagainya. Knowledge jenis ini dapat segera diteruskan dari suatu individu ke individu lainnya secara formal dan sistematis. Explicit
knowledge juga dapat dijelaskan sebagai suatu proses, metode, cara, pola
bisnis dan pengalaman desain suatu produksi.
2. Tacit Knowledge, dalah knowledge dari pakar, baik individu maupun masyarakat, serta pengalaman mereka. Tacit knowledge bersifat sangat per-
sonal dan sulit dirumuskan sehingga membuatnya sangat sulit untuk diko- munikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Perasaan pribadi, intuisi, bahasa tubuh, pengalaman fisik serta petunjuk praktis (rule-of-thumb) ter- masuk dalam jenis tacit knowledge.
Proses transformasi menjadi knowledge menurut (Davenport, Prusak, dkk., 1998) juga melalui empat tahapan yang dimulai dengan huruf C, yaitu :
1. Comparisons : membandingkan informasi pada situasi tertentu dengan situ- asi –situasi yang lain yang telah diketahui.
2. Consequences: menemukan implikasi-implikasi dari informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan dan tindakan.
3. Connection : menemukan hubungan-hubungan bagian-bagian kecil dari informasi dengan hal-hal lainnya.
4. Conversations :membicarakan pandangan, pendapat serta tindakan orang lain terkait informasi tersebut.
Pendekatan lainnya mendefenisikan pengetahuan dalam 4 operasional (Yu- liazmi 2005) sebaga iberikut:
1. Know what atau cognitive knowledge merupakan pengetahuan yang diper- oleh melalui pelatihan, pembelajaran dan kualifikasi formal. Level ini sa- ngat penting bagi perusahaan namun umumnya masih kurang mencukupi bagi keberhasilan komersial.
2. Know how disebut juga system understanding merupakan knowledge terdalam dari jaringan hubungan sebab akibat yang ada pada suatu disiplin ilmu. Level ini memungkin professional untuk berpindah dari pelaksanaan kerja ke pemecahan masalah yang lebih besar dan kompleks dan mencip- takan solusi baru bagi permasalahan yang baru.
3. Care why tahap lanjutan dari kreativitas diriv ( self-motivated creativity)
merupakan level dimana inovasi radikal dapat terjadi melalui lompatan ima- jinatif dan pemikiran lateral.
Gambar 2.1. Level Operasional Defenisi Knowledge Sumber: Yuliazmi (2005)
Menurut Nonaka (2017) keberhasilan perusahaan Jepang ditentukan oleh keterampilan dan kepakaran mereka dalam menciptakan knowledge organisas- inya. Penciptaan knowledge tercapai melalui pemahaman atau pengakuan ter- hadap hubungan synergistic dari tacit ke explicit knowledge dalam organisasi, serta melalui desain proses social yang menciptakan knowledge baru dengan mengal- ihkan tacit ke explicit atau sebaliknya berarti dilkaukannya berdasrkan elearning
process.
2.2 Knowledge Management
Knowledge Management adalah pendekatan-pendekatan sistematik yang
membantu muncul dan mengalirnya informasi dan pengetahuan kepada orang yang tepat pada saat yang tepat. Inti dari KM adalah sharing. KS sebagai salah sa- tu proses utama dalam KM, pada hakekatnya adalah penciptaan kesempatan yang luas untuk belajar (learning) kepada seluruh anggota organisasi sehingga dapat meningkatkan kompetensinya secara mandiri (Nurbaiti, 2013). Pada penelitian Sa- putra dkk (2016) yang berjudul “Penerapan Knowledge Management System (KM- S) Berbasis Web Studi Kasus Bagian Teknisi dan Jaringan Fakultas Ilmu Kom- puter Universitas Sriwijaya”, didalam penelitian ini Knowledge Management me- rupakan usaha untuk meningkatkan pengetahuan yang berguna dalam organisasi, diantaranya membiasakan budaya berkomunikasi antar personil, memberikan ke- sempatan untuk belajar, dan menggalakan saling berbagi knowledge. Dimana usaha ini akan menciptakan dan mempertahankan peningkatan nilai dari inti kompetensi bisnis dengan mamanfaatkan teknologi informasi yang ada.
Selanjutnya pada penelitian Hafiza 2018, penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor Knowledge Sharing Mahasiswa di Perguruan Tinggi (Studi Kasus : Prodi Sistem Informasi UIN SUSKA RIAU)” didalam penelitian ini Knowledge
Management (KM) dalam bahasa Jepang sering disebut dengan Naereji Mnajimento
kushusnya di Jepang KM, pengucapan KM memiliki dua makna yaitu chisiki kenri yang menekankan hanya pada pengelolaan pengetahuan yang ada (existing knowl-
edge) dan ichisiki keie yang menekankan pada pengelolaan pengetahuan dalam kon-
teks penciptaan pengetahuan baru secara berkesinambungan Fullah (2018).
KM memiliki fungsi penting yang terbagi dalam 4 bagian (Yuliazmi 2005) sebagai berikut:
1. Identifikasi aset kunci dari knowledge yang ada diperusahaan 2.Merefleksikan apa yang organisasi apa yang organisasi tahu.
3. Saling berbagi (sharing) segala knowledge kepada siapapun yang membu- tuhkannya.
4. Menerapkan penggunaan knowledge untuk meningkatkan kinerja organisas- i.
Riset Delphi Group menunjukkan bahwa pengetahuan atau knowledge dalam or- ganisasi tersimpan dalam struktur antara lain 42% dipikirkan atau otak karyawan, 26% dokumen kertas, 20% dokumen elektronik dan 12% knowledge base elektron- ik.
Data ini menceritakan bahwa porsi pengetahuna yang paling besar (42%) tersimpan dalam otak saja. Pengetahuan semacam ini disebut dengan tacit knowl- edge, yaitu pengetahuan yang tersembunyi. Sedangkan materialisasi pengetahuan berbentuk dokumen kertas (26%), dokumen elektronik (20%) dan benda berbasis pengetahuan (12%). Potensi tacit knowledge tersebut harus digali untuk kemudian dieksplisitkan untuk kemudian diorganisir bersama komponen pengetahuan yang lainnya supaya bisa di transfer kepada orang lain.
2.3 Knowledge Sharing
Knowledge sharing adalah tahapan disseminasi dan penyediaan knowledge
pada saat tepat untuk pegawai yang membutuhkan. Sebagai aktivitas mentrans- fer atau menyebarkan pengetahuan dari seseorang, group atau organisasi ke orang, group atau organisasi yang lain. Berbagi pengetahuan adalah salah satu metode dalam manajemen pengetahuan, yang digunakan untuk memberi setiap anggota dalam sebuah organisasi untuk berbagi pengetahuan, teknik, pengalaman dan ide kepada anggota lainnya (Setiarso, 2009).
Pada penelitian Amalia tahun 2013 yang berjudul “Implementasi Knowl-
edge Sharing Terhadap Kinerja Pustakawan di Perpustakaan, Arsip Dan Dokumen-
tasi Kabupaten Sukoharjo”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja pustakawan selama adanya penerapan knowledge sharing (KS) di KPAD.
Hasil dari penelitian ini menyatakan KS telah memberikan banyak manfaat ter- hadap perpustakaan dan pegawai, dalam hal peningkatan kinerja para pustakawan dan tenaga teknis perpustakaan.
Menurut Gurteen (1999) berbagi pengetahuan adalah konsep tentang kon- disi interaksi antar manusia menjadi dua atau lebih, sebagai proses komunikasi un- tuk memperbaiki dan pengembangan diri. Seseorang dapat memberikan ide dalam diskusi ilmiah, sementara yang lain mendengarkan gagasan dan menyimpan infor- masi mereka. Setiap anggota forum diskusi saling memberi informasi dan penge- tahuan dari orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwasannya KS merupakan interaksi timbal ba- lik antar individu untuk saling bertukar pengetahuan atau informasi berdasarkan skill yang dimiliki untuk dapat diterima didalam organisasi sehingga menghasilkan pengetahuan baru. Proses KS tergantung pada lingkungan terjadinya sharing terse- but. Adapun indikator dapat terlaksananya KS:
1. Terjadinya dan terbentuknya team work dalam sebuah permasalahan dan diskusi serta tercipta budaya kerja yang tepat.
2. Melakoni proses learning by doing, sharing akan terbentuk dengan yang
ada yang menuntut untuk saling berbagi pengetahuan.
3. Adanya rasa bersaing dan berkompetisi antar intansi untuk dapat mewu- judakan instansi yang menyediakan berbagai informasi dengan penerapan
knowledge sharing.
4. Kecepatan dan kelambatan penerimaan dan penyampaian knowledge dapat menjadi penghambat dan pendorong prosesknowledge sharing di perpus- takaan.
5. Rasa motivasi dari pustakawan sendiri untuk melayani pemustaka yang ada dan membutuhkan informasi.
2.3.1 Strategi Knowledge Sharing
Strategi adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelak- sanaan gagasan, perencanaan, dan eksekusi suatu aktivitas dalam kurun waktu ter- tentu. Didalam strategi yang baik terdapat koordinasi tim kerja, memiliki tema, mengidentifikasi faktor pendukung yang sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan gagasan secara rasional, efesien dalam pendanaan, dan memiliki taktik untuk men- capai tujuan secara efektif.
Peneletian Nove (2016) yang berjudul “Step By Step Implementation of
Knowledge Sharing For Library In Indonesia”. Pada penelitia ini memaparkan dan
logi yang mendukung dalam keberhasilan KS. Penelitian ini bertujuan untuk mem- berikan wacana bagi perpustakaan yang ingin mengimplementasikan KS di perpus- takaan dengan merekomendasi langkah-langkah untuk penerapan. Adapun hasil da- ri penelitian ini adalah berupa langkah-langkah yang bisa diimplementasikan dalam KS antara lain dengan menciptakan leader dan champion, menciptakan budaya
sharing dan trust antar pegawai, menciptakan office layout yang mendorong ter-
jadinya kolaborasi, dan memberikan motivasi bagi para pegawai agar mau berpar- tisipasi dalam KS.
Berikut adalah beberapa intensif yang bisa dijadikan sebagai strategi pen- dorong KS, yakni:
1. Dengan menyewa atau meminjam seseorang yang mau berbagi. 2.Membangun kepercayaan antar pegawai di lingkungan organisasi. 3.Menunjukkan penghargaan bagi mereka yang mau berbagi. 4.Memberikan motivasi untuk berbagi.
5.Menciptakan komunitas untuk berbagi pengetahuan.
6.Menunjuk seorang „leader‟ untuk memberi contoh berbagi pengetahuan. (Skyrme, 2002).
Membagi beberapa strategi pembentukan system untuk memperbaik- i kegiatan saling berbagi dan transfer knowledge (Yuliazmi 2005) sebagai berikut:
1. Knowledge map, memetakan dimana berada dalam perusahaan, rincian ten- tang siapa mengetahui apa dan berada dimana.
2. Talk spsce,menyediakan tempat yang bertujuan untuk memberikan kesem- patan bagi pegawai untuk berbicara dengan yang lain dalam suasana infor- mal.
3. Smart office layout, merancang ruang kerja yang dapat memberikan kon- tribusi bagi lingkungan yang efektif untuk kegiatan pembelajaran.
4. Dedicated Knowledge Sharing event,mengadakan kegiatan “Iknowledge
fair” atau forum untuk saling berbagi knowledge, memberikan kesempatan
bagi pegawai yang tidak pernah bertemu dalam kegiatan kerja sehari-hari untuk saling bertukar. Dalam hal ini struktur yang tidak terlalu ketat paling baik dalam konteks KS, sehingga peserta dapat menentukan cara masing- masing dalam memenuhi kebutuhannya.
5. Common language, faktor utama keberhasilan kegiatan transfer knowledge adalah memiliki “bahasa umum” dalam berkomunikasi dengan seluruh pe- gawai dalam suatu perusahaan. Kegiatan ini dimulai dengan membentuk daftar kata dan perbendaharaannya, kemudian diterjemahkan dalam bahasa yang di mengerti bersama.
6. Knowledge leader, menentukan pihak yang dapat menggunakan sumber daya, menguasai logika dari KS memonitor partisipasi pegawai dan men- jadi contoh dari sikap saling berbagi.
7. A change in culture,menciptakan budaya dimana pegawai sangat ingin membagi knowledge yang mereka miliki. Hal ini merupakan tantangan mengingat sifat dasar dari saling berbagi adalah suka rela. Cara termudah adalah dengan dengan menghilangkan penghalang dari kegiatan penyebaran
knowledge.
8. Room for tension, disebut juga fusion, creative abrasion atau creative ten-
sion. Menyatukan pegawai dari bagian yang berbeda untuk bersama-sama
menyelesaikan suatu permasalahan. Hal ini dibutuhkan karena pembela- jaran adalah solusi inovatif kerap terjadi saat seseorang dikondisikan untuk meluaskan pemikiran mereka dalam cara yang baru.
Dari pemaparan diatas, strategi yang dapat ditempuh untuk dapat dicapai proses transfer pengetahuan yang efektif dan dapan dilakukan dengan cara yang terstruktur maupun tidak terstruktur atau spontanitas. Dengan menyediakan area khusus dan kegiatan tertentu yang dapat digunakan para karyawan untuk saling bertukar pikiran maka pengetahuan baru pun dapat tercipta dalam organisasi terse- but. Pengetahuan baru akan muncul dalam suatu organisasi karena adanya sumber daya manusia yang berkualitas, setiap pegawai dalam satu organisasi harus memilki kompetensi sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kinerjanya. Tapi, pada dasarnya tidak semua pegawai memiliki kompetensi dan pengetahuan yang sama untuk menunjang pekerjaan mereka, jadi itu akan menjadi transfer proses informasi dan pengetahuan antar pegawai dalam organisasi. Proses ini disebut KS. Dengan berbagi pengetahuan, setiap pegawai akan memilki kualitas pengetahuan yang lebih baik. Mereka juga dapat memperbaiki hubungan dengan sesame dan saling mem- bantu tentunya.
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa strategi merupakan fak- tor yang penting yang mempengaruhi keberhasilan suatu aktivitas/kegiatan. Dalam melaksanakan kegiatan knowledge sharing pun strategi sangat dibutuhkan, dimulai dari pemetaan pengetahuan, pengetahuan apa yang dibutuhkan organisasi sampai penyatuan ide yang berbeda.
2.3.2 Cara-Cara Knowledge Sharing
Pengetahuan bisa tercipta secara terprogram lewat interaksi antar orang, baik langsung ataupun tidak langsung. Pengetahuan bisa diperoleh melalui hasil interaksi antar orang seperti diskusi tanpa sengaja, dalam forum diskusi kelompok
terbatas dikalangan top management, akademisi, mahasiswa,kelompok diskusi il- miah terbatas, kongres, seminar dan sebagainya.
Menurut Tsui (2006, 30) penyebaran pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
1. Diskusi ilmiah
Berdiskusi dapat memperluas pengetahuan serta memperoleh banyak pengalaman-pengalaman. Diskusi merupakan pertukaran pikiran, gagasan, pendapat antara dua atau lebih secara lisan dengan tujuan mencari kesep- akatan dan kesepahaman gagasan atau pendapat. Ketika berdiskusi maka pengetahuan tacit seseorang akan terbagi kepada rekannya sehingga akan menciptakan pengetahuan baru.
2. Seminar
Penyebaran pengetahuan juga dapat dilakukan dengan seminar, biasanya seminar bersifat ilmiah dan fokus pada sebuah topik tertentu, dimana se- mua peserta yang hadir dapat berpartisipasi secara aktif. Dengan melakukan kegiatan seminar otomatis pengetahuan pun akan terbagi, tujuan seminar ini adalah mencari suatu pemecahan,oleh karena itu suatu seminar selalu di- akhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan yang merupakan hasil pendapat bersama, yang selalu diikuti dengan rekomendasi. Tacit knowl-
edge dapat berubah bentuk menjadi explicit knowledge dalam seminar kare-
na notulen yang membuat kesimpulan dalam seminar. 3. Pelatihan
Pelatihan di pandu oleh pelatih dan ada yang mempraktikkannya. Strategi ini sangat efektif dalam menyebarkan pengetahuan, karena secara langsung pengetahuan tersebut dibagikan dan dipraktekkan bukan secara teori saja. Contohnya yang tidak mengetahui bagaimana cara mengoperasikan kom- puter, maka metode knowledge sharing yang cocok untuk ini adalah de- ngan cara pelatihan. Selain itu training juga membantu peserta memperbaiki prestasi dalam kegiatannya terutama mengenai keterampilan.
4. Rapat Kerja
Rapat merupakan suatu bentuk media komunikasi kelompok resmi yang bersifat tatap muka, yang dapat dipakai untuk pengambilan keputusan se- cara musyawarah untuk mufakat. Biasanya rapat dipimpin oleh pimpinan organisasi untuk memecahkan permasalahan. Rapat biasanya dilakukan secara rutin didalam suatu organisasi karena organisasi perlu ide-ide baru dalam meningkatkan kinerja organisasi.
Workshop juga merupakan cara untuk membagi pengetahuan seseorang kepada orang lain. Workshop atau lokakarya yaitu suatu acara dimana bebe- rapa orang berkumpul untuk memecahkan masalah tertentu dan mencari so- lusinya. Lokakarya biasanya pertemuan para ahli untuk membahas masalah praktis atau yang bersangkutan dengan pelaksanaan di bidang keahliannya. 6. Penggunaan media interaktif
Penggunaan media interaktif merupakan kegiatan berbagi pengetahuan melalui sistem informasi yang ada di organisasi dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhan organisasi, seperti teleconference, email, intranet, web discussion-forum, web conference.
Sedangkan menurut Amriani (2014) bahwa kegiatan knowledge sharing dapat di- lakukan dengan cara :
1.Komunitas
2.Forum dan meeting
3.Workshop, training, dan seminar 4.Pekan raya pengetahuan
Yusup (2012) meyatakan bahwa kegiatan knowledge sharing dapat terjadi melalui kegiatan seperti dibawah ini:
1. Pada saat istirahat makan siang, banyak hal baru dapat diperoleh dari o- brolan ini. Tidak ada catatan atau perekaman dalam obrolan ini, namun banyak pengetahuan baru yang didapatkan. Jenis pengetahuan baru yang dimaksud umumnya dalam bentuk tacit knowledge. Knowledge sharing banyak terjadi dalam kegiatan-kegiatan informal seperti di rumah makan, di tempat olahraga dan tempat lainnya.
2. Komunikasi informal, sehabis rapat formal, atau sehabis memberikan sajian materi diskusi ilmiah pada forum-forum ilmiah, atau ketika sedang bera- da pada suatu situasi yang tidak resmi. Kita sering mendapat pengetahuan baru dari pertemuan dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya di tempat- tempat tersebut.
3. Observasi, banyak pengetahuan baru kita peroleh melalui kegiatan obser- vasi ke lapangan, dengan cara antara lain menyerap data dan informasi baru, mendapatkan kesimpulan baru, atau memperoleh keyakinan baru dari kegiatan observasi ini.
4. Konsultasi, seseorang atau siapapun bisa bertanya atau konsultasi dengan orang lain yang dianggap lebih mengetahui akan permasalahan menyangkut kepentingannya. Hasil dari konsultasi semacam ini bisa menghasilkan pemahaman baru atau pengetahuan baru bagi orang-orang yang melakukan
konsultasi tadi, bakan menurut sudut pandang komunikasi, pihak konsultan- nya pun bisa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dari proses komunikasi lisan dengan klien nya.
5. Presentasi ilmiah, ketika kita menghadiri kegiatan seminar ilmiah, banyak pengetahuan baru yang kita dapatkan darinya, apalagi jika sang pemater- i memiliki kemampuan penyajian yang memadai dan berpengalaman di bidangnya.
6. Rapat pleno, merupakan kegiatan rapat yang biasanya dihadari oleh seluruh atau sebagian besar anggota suatu organisasi. Dalam rapat ini biasanya dis- ampaikan visi, misi, atau hal-hal pokok yang dianggap sebagai keputussan kelompok, untuk diangkat menjadi suatu keputusan bersama.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa untuk membagikan pengetahuan, terdapat banyak cara yang digunakan, baik secara formal maupun in- formal. Kegiatan knowledge sharing seperti diskusi, seminar, pelatihan presentasi ilmiah, rapat pleno. Semua kegiatan ini untuk memperoleh pengetahuan baru.
2.3.3 Tujuan Knowledge Sharing
Pada dasarnya kegiatan knowledge sharing dilakukan untuk membantu seseorang akan kesulitan yang dihadapinya. Dengan keadaan sadar atau tidak, kegiatan knowledge sharing kebanyakan dilakukan secara informal. Bertukar piki- ran, berkonsultasi, berdiskusi, berdialog dengan orang lain, pada hakikatnya sedang melakukan pekerjaan knowledge sharing. Seseorang akan banyak menerima ma- sukan dari orang lain, ketika sedang melakukan knowledge sharing.
Menurut Gurteen yang disitir oleh (Yusup, 2012) menyatakan bahwa kegiatan knowledge sharing dilakukan dengan tujuan:
1. Produk-produk intangible (non material): contohnya ide, proses, informasi tumbuh dan berkembang secara luas dan sulit dideskripsikan, padahal sa- ngat dominan dalam organisasi.
2. Kegiatan knowledge sharing dilakukan dengan tujuan meningkatkan kreativitas anggota organisasi untuk mengembangkan diri secara terus- menerus.
3. Mengurangi kesenjangan pengetahuan diantara pegawai pada suatu organ- isasi/lembaga.
4. Untuk menularkan arah dan kebijakan organisasi kepada para penerusnya (generasi selanjutnya) karena tidak selamanya orang bekerja pada satu lem- baga seumur hidup.
i, karena terkadang seseorang tidak memahami apa yang diketahuinya, se- hingga dibutuhkan pihak lain untuk diajak kerja sama.
6. Membantu organisasi/lembaga menemukan sasaran-sasaran misinya. Orang bekerja secara kolektif, kerja dalam tim, tidak sendiri-sendiri. Dengan bek- erja secara tim, diharapkann hasilnya lebih baik. Artinya hasil pemikiran tim akan lebih baik dibandingkan dengan hasil pikiran sendiri-sendiri (satu orang).
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dinyatakan bahwa tujuan knowledge
sharing dapat meningkatkan kreativitas anggota, pengembangan diri secara terus-
menerus, mempermudah penyelesaian masalah, dan membantu organisasi dalam menjalankan misinya.
2.3.4 Manfaat Knowledge Sharing
Proses berbagi pengetahuan sebenarnya sudah jamak dilakukan dalam ke- hidupan sehari-hari. Ketika kita bertanya dan mendapatkan jawaban yang kita butuhkan, sebenarnya kegiatan itu adalah salah satu contoh berbagi pengetahuan. Disamping itu juga berbagi pengetahuan menolong para karyawan untuk menye- lesaikan masalah-masalah yang peelukan didalam pekerjaannya sehari-hari karena melalui knowledge sharing seseorang dapat menerima pengetahuan atau solusi yang sudah terbukti berdasaran pengalaman rekan kerjanya.
Kegiatan saling berbagi pengetahuan dapat membukakan kesempatan untuk mengeksplorasi pengetahuan untuk mendapatkan atau menciptakan pengetahuan baru. Lumbantobing (2011) manfaat dari knowledge sharing adalah:
1. Menciptakan kesempatan yang sama bagi anggota organisasi untuk Men- gakses pengetahuan dan mempelajarinya.
2. Meningatkan kepatan belajar atau mengurangi waktu yang dibutuhkan un- tuk memperoleh dan mempelajari pengetahuan baru.
3. Mempercepat penyelesaian tugas atau masalah, karena penyelesaian tidak lagi dimulai dari titik nol.
4. Menyelesaikan suatu masalah dengan memanfaatkan metode yang sudah terbukti efektif di unit atau di tempat lain.
5. Meyediakan bahan dasar bagi inovasi berupa pengetahuan yang bervariasi dan multiperspektif.
Dari penjelasan diatas, bahwa dapat dinyatakan bahwa manfaat dari kegiatan knowl-
edge sharing dapat menciptakan kesempatan yang sama bagi anggota organisasi,
mempercepat penyelesaian tugas, dan mengurangi waktu untuk mempelejari penge- tahuan baru.
2.3.5 Model Konversi Pengetahuan
Nonaka dan Takeuci menjelaskan bahwa proses penciptaan knowledge or- ganisasi terjadi karena adanya interaksi antara tacit knowledge dan explisist knowl-
edge melalui model konversi knowledge yaitu pertama, dari tacit knowledge ke tacit knowledge. Kedua, dari explicit knowledge ke explicit knowledge. Ketiga, dari tac- it knowledge ke explicit knowledge. Keempat, dari explicit knowledge ke tacit knowledge yang disebut Socialization, Eksternalization, combination, Internaliza- tion (SECI). Saat ini, organisasi biasanya menggunakan media-media berikut ini
sebagai sarana komunikasi antar sumber daya manusia yang ada diorganisasi dan pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu:
1. Rapat secara berkala/diskusi secara berkala. 2.Pertemuan bulanan
3. Internet
4. Surat edaran/keputusan 5.Papan pengunguman 6.Internet/media massa
Untuk mendukung proses disuatu organisasi yang merupakan perwujudan dari mod- el Socialization, eksternalization, Combination, Internalization (SECI), proses- proses tersebut sebagai berikut Yuniva (2016):
1. Socialization
Sosialisasi merupakan proses sharing dan penciptaan tacit knowledge melalui interaksi dan pengalaman langsung. Salah satu proses sosialisas- i adalah dengan pertemuan tatap muka (rapat, diskusi dan pertemuan bu- lanan). Melalui pertemuan tatap muka ini individu dapat saling berbag- i pengetahuan dan pengalaman yang dimilkinya sehingga tercipta penge- tahuan baru. Di dalam system manajemen pengetahuan, fitur-fitur kolab- orasi seperti email, diskusi elektronik, komunitas praktis (communities of
practice) memungkinkan pertukaran pengetahuan tacit (informasi, pengala-
man dan keahlian) yang dimiliki seseorang sehingga organisasi semakin mampu belajar dan melahirkan ide-ide baru yang creative dan inovatif. Hal ini baik untuk dilakukan karena bermanfaat untuk meningkatkan ko- ordinasi, mempercepat proses aktivitas dan menumbuhkan budaya bela- jar. Proses sosilisasi juga dapat dilakukan melalui pendidikan dan train- ing/diklat dengan mengubah pengetahuan tacit trainer menjadi pengetahuan
tacit karyawan. 2. Eksternalization
knowledge menjadi suatu konsep yang jelas atau eksplisit melalui proses di-
alog dan refleksi. Dukungan terhadap proses eksternalisasi dapat diberikan dengan mendokumentasikan notulen rapat (bentuk eksplisit dari knowledge yang tercipta saat diadakannya pertemuan) kedalam bentuk elektronik un- tuk kemudian disimpan dalam suatu repository dan dipublikasikan kepada pihak yang berkepentingan, sehingga bisa dikembangkan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan knowledge atau kompetensi karyawan.
3. Combination
Proses mengobinasikan berbagai explicit knowledge yang berbeda untuk disusun kedalam system knowledge management. Media untuk proses ini dapat melalui internet (forum diskusi), database organisasi dan internet un- tuk memperoleh sumber eksternal. Demikian pula content management yang memiliki fungsi mengelola informasi organisasi baik yang terstruk- tur (database) maupun yang tidak terstruktur (dokumen, laporan, notulen) juga mendukung proses kombinasi ini.
4. Internalization
Semua dokumen data, informasi dan pengetahuan yang sudah dodokumen- tasikan dapat dibaca oleh orang lain. Proses internalisasi inilah terjadi peningkatan knowledge sumber daya manusia. Sumber –sumber explic-
it knowledge dapat diperoleh melalui media internet (database organisasi),
surat edaran/surat keputusan, papan pengumuman dan internet serta media massa sebagai sumber eksternal. Untuk dapat mendukung proses ini sistem perlu memilki alat bantu pencarian dan pegambilan dokumen. Content man-
agement selain bisa mendukung proses kombinasi, juga dapat memfasili-
tasi proses internalisasi, dimana pemicu untuk proses ini adalah penerapan “learning by doing”. Selain itu pendidikan dan pelatihan juga dapat mengu- bah berbagi pelajaran tertulis (explicit knowledge) menjadi tacit knowledge para karyawan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.2
Gambar 2.2. Pemetaan Proses SECI ModelSumber: Aprilianti (2012)
Rosenberg yang dikutip oleh kosasih dan Budiani (2007) mengidenti- fikasikan luas lingkup aplikasi manajemen pengetahuan ke dalam 3 tiangkat (level), yaitu sebagai berikut:
1. Manajemen dokumen ( document management)
merupakan aplikasi manajemen pengetahuan yang paling sederhana, kare- na manajemen pengetahuan hanya digunakan untuk memfasilitasi distribusi informasi saja.
2. Penciptaan, berbagi dan manajemen informasi ( information creation, shar-
ing and magement)
Aplikasi manajemen pengetahuanpada level ini antara lain penciptaan infor- masi baru (new content of information creation), komunikasi dan kolaborasi (communication and collaboration), manajemen informasi (real time infor-
mation management) serta menangkap dan mendristibusikan pengalaman
pakar (capturing and distributing expert stories).
3. Organisasi yang terus belajar ( the truly know-how of the organization) Pelaksanaan aktivitas primer organisasi sepenuhnya tergantung pada keahlian berbasis pengetahuan yang melekat pada keseluruhan sistem yang terdapat dalam perusahaan. Beberapa aktivitas pada level ini antara lain membangun jaringan pakar (building expert network), interaksi dengan database operasional (interacting with operational databases), dukungan kinerja (performance support), organisasiyang terus belajar (leveraging or-
ganizational ”know-how”).
Setiarso, et.al (2009) menjelaskan bahwa diperlukannya strategi dalam penerapan manajemen pengetahuan pada organisasi, karena penerapannya tidak hanya didukung oleh SDM yang berkualitas (memiliki informasi, pengalaman dan
keahlian yang dibutuhkan), teknologi informasi yang tepat guan, tetapi juga budaya berbagi knowledge (knowledge sharing). Berbagi knowledge berarti setiap anggota organisasi menyadari pentingnya knowledge bagi organisasi. Maka strategi yang harus ditempuh meliputi:
1. merumuskan budaya knowledge sharing diorganisasi, yang menekankan pada kewajiban untuk menggali dan membagi knowledge kepada semua karyawan.
2. Membangun rasa saling percaya diantara SDM organisasi, terlepas dari ke- dudukan, kecerdasan dan kinerjanya.
3. Sistem penghargaan ( reward) karena adanya aktivitas berbagi dan meman- faatkan knowledge.
4. Rotasi kerja, dalam hal ini pertukaran karyawan yang dilakukan secara ter- atur sesuai perencanaan karir karyawan.
5. Menyediakan media atau sarana dalam berbagi knowledge sehingga
karyawan lebih mudah bertukar pengetahuan dan mengakses informasi. 6. Adanya kepemimpinan dari jajaran direksi dan managemn yang mendukung
penerapan knowledge management ini. 2.4 Pustakawan
Tanpa ada orang yang melakukan kegiatan pengadaan, pengelolaan, peny- impanan dan elayanan, tidak mungkin perpustakaan akan beroperasi dengan baik. Semua pekerjaan tersebut adalah tugas yang harus dilakukan oleh pustakawan. Pus- takawan merupakan petugas perpustakaan yang memegang peranan penting dalam penyelenggaraan perpustakaan.Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menyatakan bah- wa:
Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Sedangkan dalam Peraturan Menteri dan Aparatur Negara No. 9 tahun 2014 , dinyatakan bahwa:
Pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya.
Dalam undang-undang RI No.43 2007 tentang perpustakaan dinyatakan bahwa:
melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
hakikatnya pekerjaan pustakawan ini menyediakan informasi yang terdapat dalam berbagai media, jenis dan bentuk. Oleh karena itu pustakawan disebut pula sebagai pekerja informasi (information workers). Sebutan lain bagi pustakawan an- tara lain ahli dokumentasi (documentalist), ahli informasi information specialists), manajer informasi (information manager), pialang informasi (information broker) dan lain sebagainya.
Dilihat dari tugas dan tanggung jawab yang diemban, para pustakawan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: (a) pustakawan ahli, adalah mereka yang memiliki kualifikasi ahli dengan latarbelakang pendidikan ilmu perpustakaan minimal sarjana, atau berpengalaman lama mengelola perpustakaan secara pro- fessional. Mereka adalah para pembuat kebijakan dan berperan sebagai manajer. Dalam suatu lokalkarya yang diselenggarakan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) mendefenisikan pustakawan professional sebagai orang yang “berpendidikan formal ilmu perpustakaan.Selain itu dituntut gemar membaca, terampil, kreatif, tanggap, berwawasan luas, mempunyai kemampuan manajerial di bidang kepus- takawan dan mampu melaksanakan penelitian serta penyuluhan; (b) pustakawan terampil adalah yang menguasai teori-teori ilmu perpustakaan dan terampil meman- faatkannya dalam melaksanakan tugas-tugas rutin perpustakaan, seperti pengadaan, pengolahan dan pelayanan.
Keberhasilan pelayanan perpustakaan sangat tergantung pada tenaga para professional ini, karena merekalah yang secara langsung akan berhadapan dengan pengguna. Lazimnya yang termasuk kelompok ini adalah pustakawan yang berpen- didikan minimal diploma; dan (c) pustakawan penunjang adalah pustakawan yang banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan administrative atau pekerjaan yang sifatnya umum dan tidak terkait erat dengan ilmu perpustakaan dan informasi. Mereka bek- erja sesuai dengan tugas yang diberikan atasannya. Dengan kata lain pustakawan penunjang lebih banyak bekerja membantu pustakawan ahli dan terampil. Namun demikian keberadaan mereka sangat diperlukan untuk kelancaran pelayanan kepada pengguna.Sebagian diantaranya dibekali dengan pelatihan singkat perpustakaan.
Meskipun diperpustakaan terdapat tiga kelompok pustakawan, tetapi peng- guna pada umumnya tidak membedakan antara satu sama yang lainnya. Oleh karena itu penggolongan pustakawan tersebut diatas hanya untuk keperluan tugas semata, sedangkan semangat kepustakawan harus ada pada setiap orang. Oleh karena itu, apapun latar belakang pendidikan, jabatan, tugas dan kegiatan semua orang yang bekerja di perpustakaan pada hakikatnya adalah pustakawan. Pustakawan bukan
hanya mereka yang memiliki jabatan fungsional pustakawan, bukan hanya mereka yang berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan.Secara sistem kerja, semua orang yang bekerja di lembaga perpustakaan adalah pustakawan. Tapi kalau sis- tem administrasinya seseorang dikatakan Pustakawan jika sudah memiliki SK Pus- takawan dan untuk mendapatkan SK Pustakawan itu kita harus melalui pendidikan, diklat (Hermawan dkk, 2006).
2.5 Kinerja Pustakawan
Kinerja pustakawan didefinisikan sebagai kemampuan pustakawan dalam melakukan suatu keahlian tertentu (Sinambela, 2012). Kinerja pustakawan ju- ga merupakan hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan un- tuk dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan dengan derajat kesediaan dan ting- kat kemampuan tertentu dalam memahami hal yang dikerjakan dengan jelas serta tahu cara mengerjakannya yang dihitung dalam kurun waktu/priode kerja terten- tu(Nurcahyati, 2015). Kinerja pustakwan sangatlah perlu, sebab dengan kinerja ini akan diketahui seberapa jauh kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
Kinerja pustakawan pertama sekali diatur dalam Keputusan Menteri Pen- dayagunaan Aparatur Negara (KEP MENPAN) No.18 tahun 1988 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya yang menyatakan jabatan fungsional pustakawan terdiri dari pustakawan tingkat terampil dan pustakawan tingkat ahli. Dengan jabatan fungsional yang berbeda maka berbeda pula tugas yang diemban tiap-tiap pustakawan. Sejak KEP MENPAN No. 18 tahun 1988 diterbitkan, dalam pelaksanaanya dilapangan ada beberapa kendala yangdi jumpai oleh pustakawan antara lain bobot angka kredit persatuan kegiatan dari butir-butir kegiatan yang di- rasakan terlalu rendah, jenis dan jumlah butir kegiatan pustakawan yang tercakup dalan keputusan tersebut juga dianggap masih kurang.
Untuk mengatasi kendala tersebut kantor MENPAN bersama Perpustakaan Nasional berupaya menyempurnakan/ menata kembali keputusan tersebut dengan menerbitkan keputusan MENPAN Nomor 33 tahun 1998 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya. Jabatan fungsional pustakawan dibedakan dalam dua kelompok yaitu asisten pustakawan dan pustakawan. Seiring dengan keluarnya Keputusan Presiden No. 87 tahun 1999, nama jabatan fungsional pustakawan ju- ga perlu disesuaikan kembali berdasarkan ketentuan yang diatur dalam KEPPRES tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, terbit keputusan MENPAN No. 132 tahun 2002 tentang jabatan fungsional pustakawan dan dan angka kreditnya yang mengatur kembali tentang tim penilai, nama jabatan dan lain-lain yang berhubungan
seperti pembebasan sementara dan pemberhentian dari jabatan. Kemudian direvisi kembali sehingga terbitlah Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PERMENPAN) Nomor 9 tahun 2014 tentang Jabatan Fung- sional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Berdasarkan uraian tersebut dapat dis- impulkan bahwa jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya mengalalami perubahan, yaitu:
1. Kepmenpan Nomor 33 tahun 1988 tentang tentang jabatan fungsional pusakawan dan angka kreditnya.
2. Kepmenpan Nomor 132 tahun 2002 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya.
3. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Nomor 9 tahun 2014 tentang jabatan funsionaal pustakawan dan angka kreditnya.
Jabatan fungsional pustakawan mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawan. Dalam Perat- uran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 9 tahun 2014 dinyatakan bahwa Pustakawan mempunyai tugas pokok melak- sanakan kegiatan di bidang kepustakawan yang meliputi, pengelolaan perpustakaan, pelayanan perpustakaan, pengembangan sistem kepustakawan. Selain tugas pokok juga mempunyai tugas lain, yaitu pengembangan profesi dan tugas penunjang.
mempunyai tugas lain, yaitu pengembangan profesi dan tugas penunjang. Tugas pokok pustakawan yaitu melaksanakan kegiatan dibidang kepustakawanan diatur pada bab II, bagian ketiga, pasal 4 yaitu:
1. Pengelolaan Perpustakaan Kegiatan yang meliputi perencanaan, monitor- ing, dan evaluasi penyelenggaraan kegiatan perpustakaan.
2. Pelayanan Perpustakaan Kegiatan memberikan bimbingan dan jasa per- pustakaan dan informasi kepada pemustaka meliputi pelayanan teknis dan pelayanan pemustaka.
3. Pengembangan Sistem Kepustakawanan Pengembangan sistem kepus- takawanan tingkat ahli meliputi kegiatan menyempurnakan sistem kepus- takawan yang meliputi pengkajian kepustakawan, pengembangan kepus- takawanan, penganalisian/ pengkritisian karya pustakawan, dan penelaa- han pengembangan sistem kepustakawanaan. Pengembangan sistem kepus- takawanan pustakawan tingkat terampil meliputi kegiatan menyempurnakan sistem kepustakawanan yang meliputi sosialisasi dan promosi perpustakaan. Rincian kegiataan pustakawan menurut PER MENPAN No. 9 tahun 2014 adalah: