PENGARUH FIRM SIZE, LEVERAGE DAN PROFITABILITY TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT (ERC) DENGAN VOLUNTARY DISCLOSURE
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
TESIS
Oleh
OKTAVIANNA SEMBIRING 137017020/ Akt
MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
PENGARUH FIRM SIZE, LEVERAGE DAN PROFITABILITY TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT (ERC) DENGAN VOLUNTARY DISCLOSURE
SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
TESIS
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara
Oleh
OKTAVIANNA SEMBIRING 137017020/ Akt
MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
JUDUL TESIS : PENGARUH FIRM SIZE, LEVERAGE DAN PROFITABILITY TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT (ERC) DENGAN VOLUNTARY DISCLOSURE SEBAGAI VARIABEL INTERVENING
Nama : OKTAVIANNA SEMBIRING
N I M : 137017020
Program Studi : Magister Akuntansi
Menyetujui Komisi Pembimbing,
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA) (Drs. Arifin Akhmad, M. Si, Ak, CA
Ketua Anggota
)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA, CA) (Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac,Ak, CA)
Tanggal Lulus : 29 Juni 2015
Telah diuji pada Tanggal : 29 Juni 2015
PANITIA PENGUJI TESIS :
Ketua : 1. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA, CA Anggota : 1. Drs. Arifin Akhmad, M. Si, Ak, CA
2. Prof. Dr. HB Tarmizi, SU
3. Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak, CA
4. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul :
“PENGARUH FIRM SIZE, LEVERAGE DAN PROFITABILITY TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT (ERC) DENGAN VOLUNTARY DISCLOSURE SEBAGAI VARIABEL INTERVENING”, yang dilakukan pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa efek Indonesia
Adalah benar hasil karya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dipublikasikan atau diteliti oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.
Medan, Juni 2015
Yang membuat pernyataan :
(Oktavianna Sembiring) NIM 137017020
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh Firm Size, Leverage dan Profitability terhadap Earnings Response Coefficient (ERC) dengan Voluntary Disclosure sebagai variabel intervening pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 hingga tahun 2013. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, diperoleh perusahaan sampel sebanyak 146 perusahaan dari populasi 429 perusahaan dengan total observasi 584 unit analisis. Metode pengumpulan data teknik dokumentasi data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan tahunan yang dipublikasikan melalui website www.idx.co.id serta harga pasar saham dan indeks harga saham gabungan. Metode analisis data melalui regresi linear berganda dan PATH analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa firm size, leverage, profitability, dan voluntary disclosure secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Earnings Response Coefficient pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013. Firm size, profitability dan voluntary disclosure secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap ERC, sedangkan variabel leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap ERC. Hasil pengujian secara parsial firm size dan leverage berpengaruh positif signifikan terhadap voluntary disclosure, namun variabel profitability berpengaruh tidak signifikan terhadap voluntary disclosure. Pengaruh langsung variabel firm size, leverage dan profitability terhadap ERC, lebih besar dari pengaruh tidak langsung dan nilai t hitung uji Sobel lebih kecil dari t tabel untuk masing-masing variabel independen.
Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa secara tidak langsung firm size, leverage dan profitability tidak berpengaruh signifikan terhadap Earnings Response Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening.
Kata kunci : firm size, leverage, profitability, voluntary disclosure, Earnings Response Coefficient (ERC).
ABSTRACT
The objective of to analyze the influence of Firm Size, Leverage, and Profitability on Earnings Response Coefficient (ERC) with Voluntary Disclosure ass the intervening variable in non-financial companies listed in the Indonesia Stock Exchange ion the period of 2010-2013. The population was 429 companies with the total observation of 584 analytical units, and 146 of them were used as the samples, taken by using purposive sampling technique. The data were gathered by conducting documentary study which consisted of financial statement and annual report publicized through www.idx.co.id, and stock market price and composite stock price index. The data were analyzed by using multiple logistic regression analysis and PATH analysis. The result of the research showed that firm size, leverage, profitability, and voluntary disclosure simultaneously had significant influence on Earnings Response Coefficient in the non-financial companies listed in the Indonesia Stock Exchange in the period of 2010-2013.
Partially, firm size, profitability, and voluntary disclosure had positive and significant influence on ERC, while the variables of firm size and leverage had negative but significant influence on ERC. The result of the research, partially, firm size and leverage had positive and significant influence on voluntary disclosure, but the variable of profitability had insignificant influence on voluntary disclosure. The variables of firm size, leverage, and profitability had direct influence on ERC, more than indirect influence and tcount of Sobel test was smaller than ttable for each independent variable. The result of the hypothesis test showed that indirectly firm size, leverage, and profitability had insignificant influence on Earnings Response Coefficient through voluntary disclosure as intervening variable.
Keywords: Firm Size, Leverage, Profitability, Voluntary Disclosure, Earnings Response Coefficient (ERC)
KATA PENGANTAR
Segala puji, hormat dan syukur kunaikkan padaMu Tuhan Yesus Kristus pemilik kehidupanku. Terima kasih Tuhan buat penyertaanMu selama pengerjaan tesis ini sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik.
Tesis ini berjudul “Pengaruh Firm Size, Leverage dan Profitability terhadap Earnings Response Coefficient (ERC) dengan Voluntary Disclosure sebagai Variabel Intervening”, yang diteliti pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tesis ini disusun guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar magister sains prodi S2 akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada pihak- pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan selama proses penyusunan tesis ini.
1. Bapak Prof. Subhilhar, MA., Ph.D selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak, CA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA, CA selaku Ketua Prodi S2 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA selaku Sekretaris Prodi S2 Akuntansi Fakultas Ekonomi dn Bisnis Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS. MBA, CPA, `CA dan Bapak Drs.
Arifin Akhmad, M. Si, Ak, CA selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada peneliti untuk menyelesaikan tesis ini.
5. Bapak Prof. Dr. HB Tarmizi, SU, Ibu Dra. Sri Mulyani, MBA, Ak, CA dan Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA selaku dosen pembanding yang telah memberikan saran dan masukan bagi peneliti untuk menyelesaikan tesis ini.
6. Seluruh staf pengajar Prodi S2 Akuntansi S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara atas segala ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan.
7. Seluruh staf administrasi Prodi S2 Akuntansi S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
8. Kedua orang tua peneliti, Ayahanda B. Sembiring dan Ibunda E.
Pandiangan, terimakasih buat kasih sayang dan dukungan sehingga peneliti tetap semangat mengerjakan tesis ini.
9. Suamiku tercinta Jonatan Alfarius Singarimbun, ST yang menjadi inspirasi bagi peneliti dan memberikan semangat dan doa kepada peneliti sehingga tesis ini dapat selesai dengan baik.
10. Seluruh keluarga besarku yang telah memberi dukungan dan motivasi.
11. Teman-teman di Program S2 Prodi Akuntansi yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan persahabatan dalam memberi sumbangan pikiran selama perkuliahan.
Peneliti juga menyadari bahwa dalam tesis ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan kemampuan peneliti, sehingga peneliti mengharapkan saran untuk perbaikan penulisan karya ilmiah ke depan. Akhir kata, peneliti berharap agar tesis ini bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Juni 2015 Peneliti,
(Oktavianna Sembiring) NIM 137017020
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERNYATAAN... i
ABSTRAK... ii
ABSTRACT... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... vii
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR... xii
DAFTAR LAMPIRAN... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penelitian... 1
1.2.Rumusan Masalah... 14
1.3.Tujuan Penelitian... 14
1.4.Manfaat Penelitian... 14
1.5.Originalitas Penelitian... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori... 17
2.1.1. Earnings Response Coefficient (ERC)... 17
2.1.2. Teori Struktur Modal... 20
2.1.3. Voluntary Disclosure... 24
2.1.4. Firm Size... 27
2.1.5. Leverage... 30
2.1.6. Profitability... 32
2.2. Review Penelitian Terdahulu... 33
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1. Kerangka Konsep... 41
3.2. Hipotesis Penelitian... 46
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian... 47
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian... 47
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian... 47
4.4. Metode Pengumpulan Data... 49
4.5. Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel... 49
4.5.1.Variabel Dependen... 49
4.5.2. Variabel Independen... 52
4.5.3. Variabel Intervening... 53
4.6. Metode Analisis Data... 55
4.6.1. Analisis Statistik Deskriptif... 56
4.6.2. Uji Asumsi Klasik... 57
4.6.2.1. Uji Normalitas... 57
4.6.2.2. Uji Multikolonieritas... 58
4.6.2.3. Uji Heteroskedastisitas... 58
4.6.3. Pengujian Hipotesis Penelitian... 59
4.6.3.1.Uji Hipotesis Pertama (H1) dengan Regresi Linier Berganda... 59
4.6.3.2.Uji Hipotesis Kedua (H2) dengan PATH Analysis... 60
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian ... 62
5.1.1. Statistik Deskriptif... 62
5.1.2. Hasil Pengujian Asumsi Klasik... 64
5.1.2.1. Uji Normalitas... 64
5.1.2.2. Uji Multikolonieritas... 66
5.1.2.3. Uji Heteroskedastisitas... 67
5.1.3. Hasil Pengujian Hipotesis... 69
5.1.3.1. Hasil Uji Hipotesis Pertama (H1) dengan Regresi Linear Berganda... 69
5.1.3.1.1. Hasil Koefisien Determinasi... 69
5.1.3.1.2 . Hasil Uji Hipotesis secara Simultan (Uji Statistik F)... 70
5.1.3.1.3. Hasil Uji Hipotesis secara Parsial (Uji Statistik t)... 71
5.1.3.2. Hasil Uji Hipotesis Kedua (H2) dengan PATH Analysis... 73
5.1.3.3. Hasil Analisis Jalur (PATH Analysis).... 76
5.2. Pembahasan Hasil Penelitian... 80
5.2.1. Pengaruh Firm Size terhadap ERC... 80
5.2.2. Pengaruh Leverage terhadap EC ... 80
5.2.3. Pengaruh Profitability terhadap ERC... 81
5.2.4. Pengaruh Voluntary Disclosure terhadap ERC... 82
5.2.5. Pengaruh Firm Size, Leverage, Profitability dan
Voluntary Disclosure terhadap ERC... 82
5.2.6. Pengaruh Firm Size terhadap voluntary disclosure... 83
5.2.7. Pengaruh Leverage terhadap voluntary disclosure... 83
5.2.8. Pengaruh Profitability terhadap voluntary disclosure... 84
5.2.9. Pengaruh Firm Size terhadap ERC melalui Voluntary Disclosure sebagai Intervening... 85
5.2.10. Pengaruh Leverage terhadap ERC melalui Voluntary Disclosure sebagai Intervening... 85
5.2.11. Pengaruh Profitability terhadap ERC melalui Voluntary Disclosure sebagai Intervening... 86
5.2.12. Perbedaan pengaruh leverage terhadap ERC p5= -0,140 dengan pengaruh profitability terhadap voluntary disclosure p3= -0,234... 86
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan... 88
6.2. Keterbatasan Penelitian... 89
6.3. Saran... 90
DAFTAR PUSTAKA... 91
LAMPIRAN... 95
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
Tabel 1.1 Laba Bersih dan Harga Saham Periode tahun
2010-2013... 4
Tabel 2.1 Review Penelitian Terdahulu... 37
Tabel 4.1 Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria... 48
Tabel 4.2 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel... 55
Tabel 5.1 Statistik deskriptif... 62
Tabel 5.2 Uji Normalitas Firm Size terhadap ERC... 65
Tabel 5.3 Uji Normalitas Leverage terhadap ERC... 65
Tabel 5.4 Uji Normalitas Profitability terhadap ERC... 66
Tabel 5.5 Uji Normalitas Voluntary Disclosure terhadap ERC... 66
Tabel 5.6 Uji Multikolonieritas... 67
Tabel 5.7 Uji Heteroskedastisitas... 68
Tabel 5.8 Hasil Koefisien Determinasi... 69
Tabel 5.9 Hasil Uji Statistik F... 70
Tabel 5.10 Hasil Uji Statistik t... 71
Tabel 5.11 Hasil Uji PATH Analysis... 73
Tabel 5.12 Uji ANOVA PATH Analysis... 73
Tabel 5.13 Hasil Uji Determinasi PATH Analysis... 74
Tabel 5.14 Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, Total... 76
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
Gambar 3.1 Kerangka konseptual ... 42 Gambar 5.1 Hasil PATH Analysis... 76
DAFTAR LAMPIRAN
Nama Judul Halaman
Lampiran 1 Daftar Populasi dan Sampel……… 95
Lampiran 2 Disclosure Index ... 107
Lampiran 3 Tanggal Publikasi Laporan Keuangan... 110
Lampiran 4 Variabel tahun 2010,2011,2012 dan 2013... 114
Lampiran 5 Deskriptif Statistik... 122
Lampiran 6 Uji Normalitas... 123
Lampiran 7 Uji Multikolonieritas... 125
Lampiran 8 Uji Heteroskedastisitas... 126
Lampiran 9 Analisis Linear Berganda... 127
Lampiran 10 Hasil Uji PATH Analysis... 128
Lampiran 11 Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, Total... 129
Lampiran 12 Daftar Riwayat Hidup... 130
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh Firm Size, Leverage dan Profitability terhadap Earnings Response Coefficient (ERC) dengan Voluntary Disclosure sebagai variabel intervening pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 hingga tahun 2013. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, diperoleh perusahaan sampel sebanyak 146 perusahaan dari populasi 429 perusahaan dengan total observasi 584 unit analisis. Metode pengumpulan data teknik dokumentasi data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan tahunan yang dipublikasikan melalui website www.idx.co.id serta harga pasar saham dan indeks harga saham gabungan. Metode analisis data melalui regresi linear berganda dan PATH analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa firm size, leverage, profitability, dan voluntary disclosure secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Earnings Response Coefficient pada perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013. Firm size, profitability dan voluntary disclosure secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap ERC, sedangkan variabel leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap ERC. Hasil pengujian secara parsial firm size dan leverage berpengaruh positif signifikan terhadap voluntary disclosure, namun variabel profitability berpengaruh tidak signifikan terhadap voluntary disclosure. Pengaruh langsung variabel firm size, leverage dan profitability terhadap ERC, lebih besar dari pengaruh tidak langsung dan nilai t hitung uji Sobel lebih kecil dari t tabel untuk masing-masing variabel independen.
Hasil uji hipotesis menyatakan bahwa secara tidak langsung firm size, leverage dan profitability tidak berpengaruh signifikan terhadap Earnings Response Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening.
Kata kunci : firm size, leverage, profitability, voluntary disclosure, Earnings Response Coefficient (ERC).
ABSTRACT
The objective of to analyze the influence of Firm Size, Leverage, and Profitability on Earnings Response Coefficient (ERC) with Voluntary Disclosure ass the intervening variable in non-financial companies listed in the Indonesia Stock Exchange ion the period of 2010-2013. The population was 429 companies with the total observation of 584 analytical units, and 146 of them were used as the samples, taken by using purposive sampling technique. The data were gathered by conducting documentary study which consisted of financial statement and annual report publicized through www.idx.co.id, and stock market price and composite stock price index. The data were analyzed by using multiple logistic regression analysis and PATH analysis. The result of the research showed that firm size, leverage, profitability, and voluntary disclosure simultaneously had significant influence on Earnings Response Coefficient in the non-financial companies listed in the Indonesia Stock Exchange in the period of 2010-2013.
Partially, firm size, profitability, and voluntary disclosure had positive and significant influence on ERC, while the variables of firm size and leverage had negative but significant influence on ERC. The result of the research, partially, firm size and leverage had positive and significant influence on voluntary disclosure, but the variable of profitability had insignificant influence on voluntary disclosure. The variables of firm size, leverage, and profitability had direct influence on ERC, more than indirect influence and tcount of Sobel test was smaller than ttable for each independent variable. The result of the hypothesis test showed that indirectly firm size, leverage, and profitability had insignificant influence on Earnings Response Coefficient through voluntary disclosure as intervening variable.
Keywords: Firm Size, Leverage, Profitability, Voluntary Disclosure, Earnings Response Coefficient (ERC)
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Informasi sangat penting bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Perusahaan-perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) diwajibkan melaporkan laporan keuangan secara berkala sebagai salah satu sumber informasi bagi investor dan kreditor. Bagi investor informasi itu digunakan untuk pengambilan keputusan investasi para pelaku pasar. Kegagalan dalam memahami laporan keuangan mengakibatkan beberapa perusahaan mengalami kesalahan penilaian (misvalued), baik undervalued maupun overvalued, seperti kasus Enron, Worldcom, dan Kimia Farma. Akibatnya muncul pertanyaan mengenai transparansi, pengungkapan informasi, dan peran akuntansi dalam menghasilkan informasi keuangan yang relevan dan dapat dipercaya, sehingga pemakai informasi akuntansi menerima sinyal tentang kondisi perusahaan yang sebenarnya.
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan berupa kinerja perusahaan dan aktivitas perusahaan. Laporan keuangan yang disajikan harus mengungkapkan informasi yang sebenarnya sehingga bermanfaat bagi para pemakainya. Informasi yang bermanfaat adalah informasi yang mempunyai relevansi. Salah satu indikator suatu informasi akuntansi yang relevan adalah adanya reaksi pemodal pada saat diumumkannya suatu informasi yang dapat diamati dari adanya pergerakan saham (Naimah dan Utama, 2006). Informasi laba
merupakan salah satu bagian dari laporan keuangan yang banyak mendapat perhatian.
Pentingnya informasi laba bahwa selain untuk menilai kinerja manajemen, laba juga membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif, serta untuk menaksir risiko dalam investasi atau kredit. Laba merupakan ukuran keberhasilan atau kinerja bagi suatu perusahaan, digunakan oleh investor dan kreditur. Kreditur dan investor menggunakan laba untuk pertimbangan pengambilan keputusan melakukan investasi atau memberikan tambahan kredit.
Laba menjadi perhatian pihak-pihak tertentu terutama dalam menaksir kinerja atas pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka, serta dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospeknya di masa depan (Paramita, 2012). Laporan mengenai informasi laba yang tidak menunjukkan informasi sebenarnya mengenai kinerja manajemen dapat menyesatkan para pemakai laporan keuangan.
Perubahan harga saham yang terjadi akibat pengumuman laba perusahaan dapat dijelaskan dengan contoh perusahaan berikut dengan periode tahun 2010- 2013. Perubahan harga saham yang terjadi pada periode pengamatan 2010 maka menggunakan perbandingan laba tahun 2010 dan 2011. Tahun 2010 PT. Aneka Tambang Tbk (ANTM) memperoleh laba sebesar Rp1.683.399.992.000 dan meningkat pada tahun 2011 menjadi 1.927.889.549.000 diikuti dengan kenaikan harga saham dari harga Rp2.400 menjadi 2,475. Tahun 2012 laba diperoleh sebesar Rp2.989.024.589.000 dan mengalami peningkatan dari tahun 2011 dan harga saham juga mengalami kenaikan dari harga Rp1.610 menjadi Rp1.620.
Laba yang diperoleh tahun 2013 mengalami penurunan dari tahun 2012 menjadi Rp410.135.469.000, sedangkan harga saham mengalami kenaikan dari harga Rp1.260 menjadi Rp1.280.
PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) pada tahun 2010 memperoleh laba sebesar Rp3.224.941.885.000 dan mengalami peningkatan tahun 2011 menjadi Rp3.601.526.000.000, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan harga saham pada saat publikasi. Harga saham malah mengalami penurunan dari harga Rp16.200 menjadi Rp16.050. Laba tahun 2012 mengalami peningkatan dari tahun 2011 menjadi Rp4.763.388.000.000, tetapi harga saham mengalami penurunan dari harga Rp17.200 menjadi Rp17.150. Tahun 2013 laba perusahaan mengalami peningkatan dari tahun 2012 menjadi Rp5.012.294.000.000, tetapi harga saham mengalami penurunan dari Rp22.850 menjadi Rp22.650.
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) pada tahun 2010 memperoleh laba sebesar Rp138.716.459.000, mengalami peningkatan pada tahun 2011 menjadi Rp171.763.176.000 dan diikuti dengan peningkatan harga saham dari harga Rp158 menjadi Rp163. Pada tahun 2013 laba perusahaan Rp215.642.330.000 mengalami peningkatan dari tahun 2012 yaitu Rp205.763.997.000, sedangkan untuk harga saham tetap sampai pada saat publikasi yaitu Rp720. Laba tahun 2010 PT Mayora Indah Tbk (MYOR) Rp501.980.669.000 mengalami penurunan tahun 2011 menjadi Rp483.826.230.000 dan mengalami penurunan juga untuk harga saham dari Rp10.850 menjadi Rp10.800. Tahun 2013 laba Rp1.053.624.812.000 mengalami peningkatan dari tahun 2012 yaitu
Rp742.836.955.000, namun tidak demikian dengan harga saham mengalami penurunan dari Rp19.700 menjadi Rp19.600.
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memperoleh laba tahun 2010 Rp141.855.147.000 mengalami peningkatan tahun 2011 menjadi Rp161.939.226.000, dan untuk harga saham tetap yaitu Rp840. Laba tahun 2012 mengalami peningkatan menjadi Rp177.849.242.000, tetapi untuk harga saham mengalami penurunan dari Rp990 menjadi Rp950. PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) memperoleh laba tahun 2010 sebesar Rp5.352.205.000 mengalami peningkatan tahun 2011 menjadi Rp10.379.454.000, namun untuk harga saham mengalami penurunan dari Rp86 menjadi Rp84. Laba tahun 2013 mengalami penurunan dari tahun 2012 yaitu Rp29.642.693.000 menjadi Rp7.356.264.000, namun untuk harga saham mengalami peningkatan dari Rp145 menjadi Rp150.
Berikut ini pada tabel 1.1 adalah daftar laba bersih dan perubahan harga saham pada saat publikasi beberapa perusahaan yang terdaftar di BEI.
Tabel 1.1 Laba Bersih dan Harga Saham Periode Tahun 2010-2013
Kode Nama
Perusahaan
Laba Tahun 2010 (dalam Ribuan)
Laba Tahun 2011 (dalam Ribuan)
Saha m -5
hari
Saham Publik asi
Laba Tahun 2012 (dalam Ribuan)
Saha
m -5 hari
Saham Publik asi
Laba Tahun 2013 (dalam Ribuan)
Saham -5 hari
Saham Publika si
ANTM
Aneka Tambang
(Persero) Tbk 1,683,399,992 1,927,889,549 2,400 2,475 2,989,024,589 1,610 1,620 410,135,469 1,260 1,280
INTP
Indocement Tunggal
Prakasa Tbk 3,224,941,885 3,601,526,000 16,200 16,050 4,763,388,000 17,200 17,150 5,012,294,000 22,850 22,650 KAEF
Kimia Farma
Tbk 138,716,459 171,763,176 158 163 205,763,997 295 330 215,642,330 720 720
MYOR
Mayora Indah
Tbk 501,980,669 483,826,230 10,850 10,800 742,836,955 13,200 14,250 1,053,624,812 19,700 19,600 PJAA
Pembangunan
Jaya Ancol 141,855,147 161,939,226 840 840 177,849,242 990 950 190,104,930 830 820
TMPO
Tempo Inti
Media Tbk 5,352,205 10,379,454 86 84 29,642,693 105 104 7,356,264 145 150
Sumber : www.idx.co.id dan www.sahamok.com
Melalui penjelasan di atas menunjukkan bahwa kenaikan laba perusahaan tidak selalu diikuti dengan kenaikan harga saham, demikian sebaliknya penurunan laba perusahaan maka tidak selalu diikuti penurunan harga saham. Fenomena tersebut menjadi perhatian khusus investor karena ketidakstabilan harga saham.
Fenomena kenaikan dan penurunan harga saham di pasar modal membuat investor cenderung melakukan analisis harga saham untuk memilih saham yang bisa menghasilkan return yang terbaik dan risiko terkecil dalam berinvestasi.
Salah satu ukuran yang digunakan untuk mengukur hubungan antara laba dan return saham adalah Earnings Response Coefficient (ERC) atau Koefisien Respon Laba. Layak tidaknya suatu perusahaan diinvestasikan modalnya oleh investor dapat dinilai atau diukur dari tingkat laba akuntansi dan tingkat return saham perusahaan tersebut. Earnings Response Coefficient atau koefisien respon laba didefinisikan sebagai ukuran atas tingkat return abnormal saham dalam merespon komponen unexpected earnings (Scott, 2003). Secara umum Earnings Response Coefficient diukur dengan menunjukkan slope koefisien dalam regresi return abnormal saham dengan laba atau unexpected earnings. Hal ini menunjukkan bahwa Earnings Response Coefficient adalah reaksi terhadap laba yang diumumkan oleh perusahaan. Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan perusahaan.
Tahun 2007 diperkirakan bisnis properti mencapai puncaknya dan menuju titik balik sehingga developer sudah mengantisipasi kemungkinan risiko yang muncul pada periode yang akan datang. Prediksi ini tidak didukung oleh pertumbuhan properti pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2006 yang mengalami
penurunan. Padahal indikator ekonomi makro pada tahun 2006 lebih baik dibandingkan dengan indikator ekonomi makro pada tahun 2005. Oleh sebab itu, seharusnya bisnis properti pada tahun 2006 mengalami perkembangan yang lebih baik dari pada tahun 2005. Kondisi ekonomi makro yang semakin membaik, seharusnya membuat kinerja keuangan sektor properti semakin membaik, karena dengan turunnya tingkat bunga dan inflasi serta naiknya pendapatan bruto dapat menaikkan daya beli masyarakat terhadap properti yang ditawarkan oleh pengembang, sehingga menaikkan jumlah transaksi atas properti yang ditawarkan.
Naiknya jumlah transaksi akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan properti yang tercermin dalam laporan keuangan perusahaan. Membaiknya indikator ekonomi makro tahun 2006 belum menampakkan efeknya terhadap peningkatan volume penjualan properti di tanah air. Hal ini meragukan banyak investor bisnis properti, dan menimbulkan pertanyaan apakah prediksi tentang akan boomingnya bisnis properti pada tahun 2007 bisa dijadikan pedoman untuk berinvestasi dengan aman di saham properti.
Fenomena yang terjadi mengenai Earnings Response Coefficient bisa terlihat dari bisnis properti selama tahun 2006 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2005. Sebagian pengembang perusahaan properti mulai menurunkan ekspansi bisnisnya sambil melihat peluang pasar yang masih bisa digarap untuk tahun 2007. Sebagian besar pengembang masih menyelesaikan proyek yang sudah berjalan sejak tahun 2004. Pada tahun 2007, krisis finansial global dan kejatuhan nilai saham terjadi akibat subprime mortgage. Subprime mortgage merupakan istilah untuk kredit perumahan (mortgage) yang diberikan kepada debitor dengan sejarah kredit yang buruk atau belum memiliki sejarah
kredit sama sekali, sehingga digolongkan sebagai kredit yang berisiko tinggi.
Walaupun demikian masih ada beberapa pengembang besar yang optimis melihat peluang pasar tahun 2007 dan terus melanjutkan proyeknya seperti, Bakrieland Development dengan proyek Episentrum Rasuna, Agung Podomoro dengan Blok M Trade Centre, Latumenten City, Jakarta City Center, CBD Pluit, dan Permata Hijau Residence, Duta Pertiwi dengan BSD City Business Park. Secara Umum puncak nilai kapitalisasi bisnis properti terjadi pada tahun 2005, yang mencapai Rp 92,01 triliun. Sejak tahun itu nilai kapitalisasi menurun terus, tahun 2006 mencapai Rp 79,51 triliun dan diperkirakan akan mengalami penurunan lagi pada tahun 2007, yaitu sekitar 15,75% menjadi Rp 66,99 triliun (detikfinance, 17 Agustus 2007).
Fenomena tersebut mengakibatkan harga saham real estate dan properti menjadi perhatian khusus investor karena harga saham real estate dan properti mengalami ketidakstabilan pada tahun-tahun terakhir ini. Fenomena kenaikan dan penurunan harga saham di pasar modal real estate dan properti ini membuat investor cenderung melakukan analisis harga saham untuk memilih saham yang bisa menghasilkan return yang terbaik dan risiko terkecil dalam berinvestasi.
Laba yang dipublikasikan dapat memberikan respon yang bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba (Cho dan Jung, 1991).
Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan kata lain, laba yang dilaporkan memiliki kekuatan respon (power of response). Besaran yang menunjukkan hubungan antara laba dan return saham disebut dengan Earnings Response Coefficient (ERC). Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya Earnings Response
Coefficient, menunjukkan laba yang dilaporkan berkualitas, dan sebaliknya lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari rendahnya Earnings Response Coefficient menunjukkan laba yang dihasilkan kurang berkualitas. Hubungan return dan laba perusahaan saat ini sering menunjukkan ketidaksinkronan nilai, sehingga unexpected earning sebagai respon dari ERC tidak menunjukkan hasil yang maksimal, mengakibatkan investor enggan untuk melakukkan investasi. Earnings Response Coefficient yang tinggi dinilai mampu menghasilkan unexpected earnings yang maksimal serta harapan untuk return yang tinggi namun pada kenyataannya sering berbeda. Rendahnya Earnings Response Coefficient menunjukkan bahwa laba kurang informatif bagi investor untuk membuat suatu keputusan ekonomi. Ball dan Brown (1968) mengungkapkan tentang isi informasi dengan analisis apabila perubahan unexpected earning positif maka memiliki abnormal rate of return rata-rata positif dan jika tidak memiliki isi informasi yaitu negatif, maka memiliki abnormal rate of return rata-rata negatif.
Informasi mengenai perusahaan diperlukan untuk mengurangi asimetri informasi. Menurut teori keagenan, asimetri informasi dapat timbul antara manajer (agen) dan pemegang saham (prinsipal) (Jensen dan Meckling, 1976).
Asimetri informasi dapat berupa hidden action maupun hidden information.
Hidden action mendorong munculnya moral hazard, sementara hidden information mendorong munculnya adverse selection. Asimetri informasi dapat muncul ketika manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibanding dengan pemegang saham.
Untuk mengurangi asimetri informasi ini maka manajer berusaha memberikan sinyal kepada investor berupa pengungkapan informasi yang relevan dengan kebutuhan para investor. Pengungkapan informasi oleh perusahaan disampaikan dalam bentuk pengungkapan wajib (mandatory disclosure) maupun pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) sebagai tambahan pengungkapan minimun yang telah ditetapkan (Devina et al, 2004).
Pengungkapan sukarela yang termasuk dalam kategori ini adalah pengungkapan tambahan terkait informasi keuangan perusahaan dan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Kedua pengungkapan sukarela perusahaan ini sering kali diungkapkan dalam bentuk laporan tahunan (annual report) walaupun sekarang ini cukup banyak pula perusahaan yang menerbitkan laporan tanggung jawab sosial perusahaan yang terpisah dari laporan tahunan (annual report) dalam bentuk laporan keberlanjutan (sustainability reporting) (Kartadjumena, 2010).
Widiastuti (2002) melakukan pengujian empiris atas pengaruh luas pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) dalam laporan tahunan terhadap Earnings Response Coefficient. Penelitian tersebut tidak menunjukkan hasil yang konsisten dengan prediksi bahwa luas pengungkapan sukarela berpengaruh negatif terhadap Earnings Response Coefficient. Hal ini kemungkinan karena investor tidak cukup yakin dengan informasi pengungkapan sukarela yang diungkapkan manajemen sehingga investor tidak melakukan informasi tersebut sebagai dasar merevisi belief. Penjelasan lainnya bisa karena informasi sukarela yang
diungkapkan perusahaan tidak cukup memberikan informasi tentang expected return earnings.
Penelitian tentang hubungan luas pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) dengan Earnings Response Coefficient masih jarang dilakukan dengan hasil yang tidak konsisten. Murwaningsari (2008) menguji faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan menemukan bahwa perusahaan yang mempunyai korelasi return dan earnings rendah lebih banyak melakukan pengungkapan, dengan kata lain Earnings Response Coefficient berhubungan negatif dengan luas pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Berbeda dengan hasil penelitian Adhariani (2005) menunjukkan bahwa tingkat keluasan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan berhubungan positif dengan current Earnings Response Coefficient. Dengan kata lain makin tinggi tingkat pengungkapan sukarela maka makin tinggi tingkat kepercayaan investor atas laba yang dilaporkan perusahaan.
Banyak penelitian yang telah dilakukan yang mengamati beberapa faktor yang mempengaruhi besaran koefisien respon laba. Penelitian tentang ERC selalu dikaitkan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC. Beberapa faktor yang diidentifikasi mempengaruhi Earnings Response Coefficient yaitu risiko sistematik (Collins dan Kothari, 1989), profitability (Naimah dan Utama, 2006), pertumbuhan (Collins dan Kothari, 1989), persistensi laba (Kormendi dan Lipe 1987; Collins dan Kothari, 1989; Lipe, 1990), ukuran perusahaan (Collins dan Kothari, 1989), voluntary disclosure (Widastuti, 2002), leverage (Dhaliwal et.al, 1991). Cho dan Jung (1991) melakukan meta analisis mengenai teori dan bukti
empiris atas koefisien respon laba. Dari penelitian-penelitian tersebut adanya masalah antara firm size, leverage dan profitability terhadap Earnings Response Coefficient.
Selain pengungkapan sukarela yang terbukti mempengaruhi Earnings Response Coefficient, peneliti lain mencoba mengaitkan size dengan Earnings Response Coefficient (Easton dan Zmijewski,1989 dalam Murwaningsari 2008).
Firm Size secara langsung akan mencerminkan tinggi rendahnya aktivitas operasi maupun investasi perusahaan. Investor biasanya lebih memiliki kepercayaan pada perusahaan besar, karena perusahaan besar dianggap mampu untuk meningkatkan kinerja perusahaannya dengan berupaya meningkatkan kualitas labanya dengan memiliki total aktiva yang besar sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Penelitian Mulyani, et al.
(2006) menemukan bahwa firm size memberikan pengaruh positif signifikan terhadap Earnings Response Coefficient. Namun hasil yang berbeda ditemukan oleh Murwaningsari (2008) yang menyimpulkan bahwa firm size memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap Earnings Response Coefficient. Menurut Paramita (2012) bahwa firm size tidak memiliki pengaruh terhadap Earnings Response Coefficient.
Leverage merupakan pengukuran besarnya aktiva yang dibiayai dengan hutang. Hutang yang digunakan membiayai aktiva berasal dari kreditor, bukan berasal dari investor. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berarti memiliki utang yang lebih besar dibandingkan modal. Dengan demikian jika terjadi peningkatan laba maka yang diuntungkan adalah debtholders. Dhaliwal et
al. (1991) menunjukkan bahwa Earnings Response Coefficient berhubungan negatif dengan tingkat leverage. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Murwaningsih (2008). Hasanzade et al. (2013) menghasilkan bahwa variabel leverage berpengaruh positif signifikan terhadap Earnings Response Coefficient.
Sedangkan menurut Paramita (2012) bahwa leverage memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap Earnings Response Coefficient.
Profitability merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan. Menurut Riyanto (2001:35) profitabiltas perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba. Dengan kata lain profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Kemampuan menghasilkan laba yang dimaksud dalam penelitian ini tentunya adalah kemampuan menghasilkan laba dengan menggunakan modal sendiri. Menurut Naimah dan Utama (2006) serta Hasanzade (2013) bahwa Profitability memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap Earnings Response Coefficient. Berbeda dengan penelitian menurut Arfan dan Antasari (2008) bahwa Profitabilty tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Earnings Response Coefficient.
Lebih luas lagi, penelitian meliputi faktor yang mempengaruhi voluntary disclosure diantaranya size, status perusahaan, net profit margin, dan KAP dialakukan oleh Fitriani (2001). Hasil penelitiannya dimana diperoleh bahwa size dan net profit margin (profitabilitas) berpengaruh signifikan terhadap voluntary disclosure. Paramita (2012) menyimpulkan bahwa leverage tidak berpengaruh
signifikan terhadap voluntary disclosure. Sedangkan menurut Murwaningsari (2008) bahwa leverage berpengaruh positif terhadap voluntary disclosure.
Penelitian ini dimotivasi dari penelitian terdahulu yang dilakukan baik di negara lain maupun di Indonesia, banyak faktor yang mempengaruhi Earnings Response Coefficient namun hasil yang diperoleh masih menunjukkan banyak perbedaan (inkonsistensi) misalnya, pada faktor leverage, firm size, profitability dan voluntary disclosure. Hal ini mendorong peneliti melakukan penelitian tentang pengaruh dari leverage, firm size, dan profitability baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap Earnings Response Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening.
Penelitian ini menggunakan pooled data yaitu penggabungan cross sectional dan time series, karena beberapa penelitian yang meneliti Earnings Response Coefficient yang banyak dilakukan menggunakan time series seperti penelitian Paramita (2012), Murwaningsari (2008), Pradipta dan Purwaningsih (2012). Perbedaan dari penelitian Paramita (2012) yaitu peneliti mencoba menambahkan variabel profitability sebagai variabel yang mempengaruhi Earnings Response Coefficient.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang
“Pengaruh Firm Size, Leverage dan Profitability terhadap Earnings Response Coefficient (ERC) dengan Voluntary Disclousure sebagai Variabel Intervening pada Perusahaan Non Keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penelitian ini akan difokuskan pada pembahasan rumusan masalah yaitu:
1. Apakah firm size, leverage, profitability dan voluntary disclosure berpengaruh langsung signifikan terhadap Earnings Reponse Coefficient secara simultan dan parsial ?
2. Apakah firm size, leverage dan profitability berpengaruh tidak langsung signifikan terhadap Earnings Reponse Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis pengaruh langsung signifikan firm size, leverage, profitability dan voluntary disclosure terhadap Earnings Response Coefficient secara simultan dan parsial.
2. Untuk menganalisis pengaruh tidak langsung signifikan firm size, leverage dan profitability terhadap Earnings Reponse Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Memberikan bahan masukan kepada BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menetapkan kebijakan dan peraturan dalam penyajian informasi penting dalam laporan tahunan perusahaan dan terkait dengan fungsi pengawasan dan dalam penyajian dan penyampaian laporan
tahunan perusahaan yang terdaftar di BEI untuk memberikan perlindungan kepada investor atau pemegang saham.
2. Bagi peneliti, diharapkan penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan tentang Earnings Response Coefficient.
3. Memberikan masukan kepada perusahaan/emiten mengenai informasi yang disajikan dalam laporan keuangan sehingga investor dapat menganalisis dan membuat keputusan yang tepat.
4. Memberikan kontribusi kepada pengembangan ilmu akuntansi dengan menambah literatur tentang pengaruh firm size, leverage dan profitability terhadap ERC dengan voluntary disclosure sebagai variabel intervening yang dapat digunakan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
1.5. Originalitas Penelitian
Penelitian ini sudah pernah dilakukan oleh Paramita pada tahun 2012 yang meneliti tentang pengaruh leverage, firm size dan voluntary disclosure terhadap Earnings Response Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage dan voluntary disclosure memiliki pengaruh terhadap ERC, sedangkan firm size tidak berpengaruh signifikan terhadap ERC. Variabel voluntary disclosure merupakan variabel intervening antara size terhadap ERC.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Paramita (2012) pada tahun 2005-2009, penelitian ini dilakukan pada periode 2010-2013. Selain itu penelitian terdahulu meneliti perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI, sedangkan penelitian ini meneliti perusahaan non keuangan yang terdaftar di BEI (cross sectional). Penelitian terdahulu menjadikan voluntary disclosure sebagai variabel
intervening antara size terhadap ERC, sedangkan penelitian ini menjadikan variabel voluntary disclosure sebagai variabel intervening untuk pengaruh leverage, firm size dan profitability terhadap ERC. Perbedaan lainnya adalah dengan menambahkan variabel profitability yang mempengaruhi Earnings Response Coefficient. Alasan pemilihan ini adalah untuk mengetahui pengaruh firm size, leverage dan profitability yang merupakan faktor-faktor dalam pengungkapan sukarela (voluntary disclosure), dan pengaruh firm size, leverage dan profitability terhadap Earnings Response Coefficient melalui voluntary disclosure sebagai variabel intervening.
Alasan melakukan penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah firm size, leverage dan profitability yang mempengaruhi ERC hasilnya masih konsisten ketika tahun pengamatan berbeda dan penambahan sampel perusahaan dengan metode pool data, karena penelitian sebelumnya hanya dengan time series.
Penelitian yang menjadikan voluntary disclosure sebagai variabel intervening dalam penelitian pengaruh firm size, leverage dan profitability terhadap ERC masih sangat jarang dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Earnings Response Coefficient (ERC)
Kualitas laba yang baik dapat diukur dengan menggunakan Earnings Response Coefficient yang merupakan bentuk pengukuran kandungan informasi laba. “Earnings Response Coefficient (ERC) adalah ukuran besaran abnormal return suatu saham sebagai respon terhadap komponen laba abnormal (unexpected earnings) yang dilaporkan oleh perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut” (Scott, 2003). Earnings Response Coefficient berguna dalam analisis investor dalam model penilaian untuk menentukan reaksi pasar atas informasi laba perusahaan. Earnings Response Coefficient merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Proksi harga saham yang digunakan adalah cummulative abnormal return (CAR), sedangkan proksi laba akuntansi adalah unexpected earning (UE) (Chaney dan Jeter, 1991). Regresi model tersebut akan menghasilkan ERC untuk masing- masing sampel yang akan digunakan untuk analisis berikutnya.
Earnings Response Coefficient merupakan pengaruh laba abnormal (unexpected earnings) terhadap CAR, yang ditunjukkan melalui slope coefficient dalam regresi abnormal return saham dengan unexpected earnings (Scott, 2003).
Hal ini menunjukkan bahwa ERC adalah reaksi CAR terhadap laba yang diumumkan oleh perusahaan. Ada beberapa hal yang menyebabkan respon pasar yang berbeda-beda terhadap laba yaitu persistensi laba, beta, struktur permodalan
perusahaan, kualitas laba, growth opportunities, dan ukuran perusahaan (Scott, 2003). Nilai Earnings Response Coefficient diprediksi lebih tinggi jika laba perusahaan lebih persistensi di masa depan. Demikian juga jika kualitas laba semakin baik, maka diprediksi nilai ERC akan semakin tinggi. Beta mencerminkan risiko sistematis. Investor akan menilai laba sekarang untuk memprediksi laba dan return dimasa yang akan datang. Jika future return tersebut semakin berisiko, maka reaksi investor terhadap unexpected earnings perusahaan juga semakin rendah (Scott, 2003).
Informasi laba ini digunakan oleh investor sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan dan untuk mengetahui kinerja perusahaan. Akan tetapi, informasi laba saja tidak cukup sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan karena masih ada beberapa informasi lain yang dibutuhkan investor.
Beaver (1968) dalam Murwaningsari (2008) mendefinisikan, Earnings Response Coefficient atau koefisien respon laba merupakan koefisien slope atas laba.
Koefisien respon laba mengukur besarnya kekuatan harga saham dalam merespon laba akuntansi. Koefisien laba akuntansi dapat menunjukkan kualitas laba perusahaan. Reaksi atas laba yang diumumkan perusahaan mencerminkan kualitas laba yang dilaporkan perusahaan. Tinggi rendahnya ERC sangat ditentukan oleh kekuatan responsif yang tercermin dari informasi baik buruknya yang terkandung dalam laba.
Cho dan Jung ( 1991) mengklasifikasi pendekatan teoritis ERC menjadi dua kelompok yaitu:
1. model penilaian yang didasarkan pada informasi ekonomi (information economics based valuation model) yang menunjukkan bahwa kekuatan
respon investor terhadap sinyal informasi laba merupakan fungsi dari ketidakpastian di masa mendatang. Semakin besar noise dalam sistem pelaporan perusahaan (semakin rendah kualitas laba), semakin kecil ERC dan,
2. model penilaian yang didasarkan pada time series laba (time series based valuation model).
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi Earnings Response Coefficients adalah leverage, firms size, profitabilitas, peluang pertumbuhan dan risiko sistematik (Mahboobe Hasanzade et al, 2013). Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat stock returns perusahaan tersebut. Semakin besar perusahaan maka tingkat stock returns akan semakin besar, demikian sebaliknya. Tidak ada hubungan yang signifikan antara leverage dengan Earnings Response Coefficient.
Investor akan bereaksi terhadap leverage ketika perusahaan sangat sulit memperoleh pinjaman dari dan tingkat suku bunga yang terlalu tinggi (Mahboobe Hasanzade et al, 2013).
Asumsi yang mendasari penelitian Earnings Reponse Coefficient adalah bahwa investor merespon secara berbeda terhadap informasi laba akuntansi sesuai dengan kredibilitas atau kualitas informasi laba akuntansi tersebut. Menurut Suwardjono (2005), reaksi pasar ditunjukkan dengan (returns saham) perusahaan tertentu yang cukup mencolok pada saat pengumuman laba adanya perubahan harga pasar. Maksud dari mencolok adalah perbedaan yang cukup besar antara return realisasi dengan returns ekspektasi yang disebut sebagai returns abnormal.
Beberapa penelitian menyatakan bahwa respon pasar terhadap laba di masing-masing perusahaan dapat bervariasi dan tidak konstan. Beberapa peneliti yang memiliki pendapat tersebut adalah Easton dan Zmijewski (1989); Collins dan Khotari (1989). Pihak lain mengatakan bahwa Earnings Response Coefficient relatif tidak berubah dan tetap, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Kormendi dan Lipe (1987).
2.1.2. Teori Struktur Modal
Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan struktur modal terhadap nilai perusahaan, jika keputusan investasi dan kebijakan dividen dipegang konstan. Struktur modal menunjukkan proporsi atas penggunaan hutang untuk membiayai investasinya, sehingga dengan mengetahui struktur modal investor dapat mengetahui risiko dan tingkat pengembalian atas investasinya.
Menurut trade-off theory yang diungkapkan oleh Myers (2001:81), Perusahaan akan berhutang sampai pada tingkat hutang tertentu, dimana penghematan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama dengan biaya kesulitan keuangan (financial distress). Biaya kesulitan keuangan (Financial distress) adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization, dan biaya keagenan yang meningkat akibat dari turunnya kredibilitas suatu perusahaan. Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency costs) dan biaya kesulitan keuangan tetapi tetap mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan
symmetric information sebagai imbangan dan manfaat penggunaan hutang.
Beberapa teori terkait struktur modal adalah sebagai berikut:
1. Teori Signaling
Signal atau isyarat adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan (Brigham dan Houston, 2001). Menurut Brigham dan Houston (2001), perusahaan dengan prospek yang menguntungkan akan mencoba menghindari penjualan saham dan mengusahakan setiap modal baru yang diperlukan dengan cara-cara lain, termasuk penggunaan hutang yang melebihi target struktur modal yang normal. Perusahaan dengan prospek yang kurang menguntungkan akan cenderung untuk menjual sahamnya. Pengumuman emisi saham oleh suatu perusahaan umumnya merupakan suatu isyarat (signal) bahwa manajemen memandang prospek perusahaan tersebut suram. Apabila suatu perusahaan menawarkan penjualan saham baru lebih sering dari biasanya, maka harga sahamnya akan menurun, karena menerbitkan saham baru berarti memberikan isyarat negatif yang kemudian dapat menekan harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.
Teori signaling menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak diluar perusahaan. Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya.
Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh
investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi.
Menurut Bandi dan Jogiyanto (2000: 392), informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar.
Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik (good news) atau signal buruk (bad news). Jika pengumuman informasi tersebut sebagai signal baik bagi investor, maka terjadi perubahan dalam volume perdagangan saham.
2. Teori Keagenan
Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manajemen harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya kepada pemegang saham.
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai
“Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal”. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama
untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal. Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas saham perusahaan kurang dari seratus persen. Dengan proporsi kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan perusahaan. Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency cost). Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan agency cost sebagai jumlah dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap agen. Hampir mustahil bagi perusahaan untuk memiliki zero agency cost dalam rangka menjamin manajer akan mengambil keputusan yang optimal dari pandangan shareholders karena adanya perbedaan kepentingan yang besar diantara mereka.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen salah satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow).
Kelebihan arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan
kepentingan karena pemegang saham lebih menyukai investasi yang berisiko tinggi yang juga menghasilkan returns tinggi, sementara manajemen lebih memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah.
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk mengurangi konflik kepentingan, yaitu :
a) meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih (earnings after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang,
d) kepemilikan saham oleh institusi (institutional holdings).
2.1.3. Voluntary Disclosure
Menurut Kamus Besar Akuntansi, pengungkapan (disclosure) adalah informasi yang diberikan sebagai lampiran/pelengkap bagi laporan keuangan, dalam bentuk catatan kaki atau tambahan. Informasi ini memberikan suatu penjelasan tentang posisi keuangan dan hasil operasi suatu perusahaan. Segala sesuatu yang bersifat material akan diungkapkan dalam laporan sehingga bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan dan akan berpengaruh terhadap keputusan investasi. Adapun pengelompokan jenis pengungkapan informasi antara lain adalah pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) (Devina et al., 2004). Kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi emiten atau perusahaan publik tertera dalam peraturan nomor X.K.6 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep- 431/BL/2012.
Dari segi luasnya, terdapat tiga tingkatan pengungkapan (Suwardjono, 2005: 581) yaitu:
a. Adequate disclosure (pengungkapan memadai), b. Fair disclosure (pengungkapan wajar),
c. Full disclosure (pengungkapan penuh).
Praktik pelaporan keuangan di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berbasis International Accounting Standards (IAS) dan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Pedoman penyajian dan pengungkapan laporan keuangan emiten atau perusahaan publik tertera dalam Peraturan BAPEPAM Nomor VIII.G.7 lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: Kep-347/BL/2012.
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi. Semakin lengkap pengungkapan yang dilakukan, maka laporan keuangan perusahaan akan semakin handal (reliable). Oleh karena itu, suatu perusahaan sangat penting untuk melakukan pengungkapan.
Pengertian pengungkapan sukarela menurut Meek dkk. (1995) dalam Gulo (2000) adalah sebagai berikut : ”Pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan untuk memberikan informasi akuntansi dan informasi lain yang relevan untuk pembuatan keputusan para pemakai laporan tahunan. Karena
perusahaan memiliki keleluasan dalam melakukan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan sehingga menimbulkan adanya keragaman atau variasi luas pengungkapan sukarela antar perusahaan”.
Botosan (1997) dalam Adhariani (2005) untuk mengukur kelengkapan pengukuran dapat dinyatakan dalam bentuk indeks kelengkapan pengungkapan (Index Disclosure), dimana perhitungan indeks kelengkapan pengungkapan dilakukan sebagai berikut:
a) Memberikan skor untuk setiap pengungkapan, yaitu skor 1 bagi pengungkapan informasi sekilas, skor 2 untuk pemberian informasi yang lebih terinci dan maksimum 3 bagi perusahaan yang memberikan informasi dengan penjelaan data kuantitatif yang mendukung, untuk memperoleh skor pengungkapan maksimum.
b) Skor yang diperoleh setiap perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor total pengungkapan.
c) Menghitung indeks pengungkapan dengan cara membagi skor total pengungkapan dengan skor pengungkapan maksimum.
Semakin banyak butir yang diungkapkan oleh perusahaan, semakin banyak pula angka indeks yang diperoleh perusahaan tersebut. Perusahaan dengan angka indeks yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut melakukan praktek pengungkapan secara lebih komprehensif dibandingkan dengan perusahaan yang angka indeks lebih kecil.
Lang dan Lundholm (1993) melakukan penelitian mengenai pengungkapan sukarela yang menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan yang
lebih tinggi berasosiasi dengan kinerja pasar yang lebih baik (yang diukur dengan returns saham). Penelitian tersebut menggunakan asimetri informasi yang merupakan proksi sebagai korelasi laba dan returns saham. Korelasi laba dan returns saham yang rendah mengindikasikan bahwa informasi laba hanya memberikan sedikit informasi tentang nilai perusahaan yang menunjukkan bahwa masih terdapat asimetri informasi yang tinggi. Pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan bertujuan untuk mengurangi asimetri informasi terutama pada perusahaan yang memiliki korelasi earnings/returns yang rendah. Hasil dari penelitian tesebut menyatakan bahwa adanya hubungan negatif antara korelasi earnings/return (ERC) dengan tingkat pengungkapan.
2.1.4. Firm Size
Pada saat pengumuman laba, informasi laba akan direspon positif oleh pemodal, pada umumnya perusahaan besar cenderung mempunyai reporting responsibility yang lebih tinggi dan mengindikasikan bahwa pada perusahaan besar Earnings Response Coefficients akan meningkat pula (Scoot, 2003). Ukuran perusahaan menunjukkan jumlah pengalaman dan kemampuan tumbuhnya suatu perusahaan yang mengindikasikan kemampuan dan tingkat risiko dalam mengelola investasi yang diberikan para Stockholder untuk meningkatkan kemakmuran mereka.
Firm size ikut menentukan tingkat kepercayaan investor. Semakin besar perusahaan, semakin dikenal masyarakat yang berarti semakin mudah untuk mendapatkan informasi mengenai perusahaan, karena perusahaan yang berukuran
lebih besar cenderung mendapat pengawasan dari masyarakat dan memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil sehingga akan mengungkapkan lebih banyak informasi. Kemudahan dalam mendapatkan informasi akan meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi faktor ketidakpastian. Size perusahaan dinyatakan dalam total aktiva yang dimiliki perusahaan dapat mempengaruhi luas pengungkapan tanggung jawab sosial karena umumnya perusahaan memiliki competitive disadvantage lebih rendah dari perusahaan kecil, skill karyawan yang lebih baik sehingga memungkinkan melakukan pengungkapan terhadap laporan keuangan yang lebih luas.
Menurut Kartini dan Arianto (2008), “Ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan berapa besar kebijakan keputusan pendanaan (struktur modal) dalam memenuhi ukuran atau besarnya asset perusahaan”. Perusahaan pada pertumbuhan yang tinggi akan selalu membutuhkan modal yang semakin besar demikian juga sebaliknya perusahan pada pertumbuhan penjualan yang rendah, kebutuhan terhadap modal juga semakin kecil maka, konsep tingkat pertumbuhan penjualan tersebut memiliki hubungan yang positif tetapi implikasi tersebut akan memberikan efek yang berbeda terhadap struktur modal yaitu dalam penentuan jenis modal yang digunakan. Pada perusahan yang besar dimana saham akan tersebar luas, setiap perluasan modal saham akan mempunyai pengaruh yang kecil terhadap hilangnya atau tergesernya pengendalian dari pihak yang dominan terhadap pihak yang bersangkutan (Riyanto, 2001: 299-300). Sebaliknya perusahaan yang kecil dimana saham tersebut berada di lingkungan perusahan yang kecil, penambahan jumlah saham akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemungkinan kontrol
pihak dominan terhadap perusahaan yang bersangkutan. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki akses untuk mendapatkan sumber pendanaan dari berbagai sumber, sehingga untuk mendapat pinjaman dari kreditur akan lebih mudah karena perusahaan dengan ukuran besar memiliki probabilitas lebih besar untuk memenangkan persaingan dalam industri, sebaliknya perusahaan dengan skala kecil akan lebih menghadapi ketidakpastian, karena perusahaan kecil lebih cepat bereaksi terhadap perubahan yang mendadak. Oleh karena itu, memungkinkan perusahaan besar tingkat leverage akan lebih besar dari pada perusahaan kecil.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa besar kecilnya ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap struktur modal dengan didasarkan pada kenyataan bahwa semakin besar suatu perusahaan akan mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan para ahli yang menyatakan bahwa ukuran perusahan mempunyai pengaruh yang positif, yang berarti kenaikan ukuran perusahaan akan diikuti dengan kenaikan struktur modal adalah yang dilakukan penelitian. Logaritma dari total assets dijadikan indikator dari ukuran perusahaan karena jika semakin besar ukuran perusahaan maka asset tetap yang dibutuhkan juga akan semakin besar. Penelitian Fitriani (2001) ukuran perusahaan diukur dengan total aktiva, karena menurutnya total aktiva lebih menunjukan ukuran perusahaan dibandingkan dengan kapitalisasi pasar.
2.1.5. Leverage
“Rasio leverage adalah rasio yang mengukur seberapa jauh atau besar perusahaan telah didanai atau dibiayai oleh hutang” (Raharjaputra, 2009:199).
Kebijakan leverage merupakan keputusan penting dalam perusahaan. Dimana kebijakan leverage merupakan salah satu kebijakan pendanaan perusahaan.
Konsep leverage sangat penting terutama untuk menunjukkan kepada analisis keuangan dalam melihat trade off antara risiko dan keuntungan.
Sartono (2008) memaparkan konsep leverage sebagai berikut : 1. Operating leverage
Perusahaan yang memiliki biaya operasi tetap atau biaya modal tetap , maka dikatakan perusahaan menggunakan operating leverage. Perusahaan menggunakan operating leverage mengharapkan bahwa penjualan akan meningkatkan perubahan laba sebelum bunga dan pajak yang lebih besar.
Multiplier effect hasil penggu naan biaya tetap operasi terhadap laba sebelum bunga dan pajak disebut degree of operating leverage (DOL). Besar kecilnya DOL akan berdampak pada tinggi rendahnya risiko bisnis perusahaan. Semakin besar DOL, maka semakin besar pula risiko bisnis yang ditanggung perusahaan.
2. Financial Leverage
Financial Leverage adalah penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Multiplier effect yang dihasilkan karena penggunaan dana dengan biaya tetap disebut Degree of Financial Leverage (DFL). Penggunaan