• Tidak ada hasil yang ditemukan

BANDING ADMINISTRATIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BANDING ADMINISTRATIF"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

BANDING ADMINISTRATIF

PEGAWAI MASIH DAPAT MENJALANKAN TUGAS

Pembahasan Pemberhentian Aparatur Sipil Negara (Pegawai Negeri Sipil) Kota Denpasar, Rabu 20 September 2017, Kantor Walikota Denpasar.

Gede Marhaendra Wija Atmaja

I ORIENTASI AWAL: ISU HUKUM

Sejumlah peraturan perundang-undangan mengatur tentang upaya administratif, yang meliputi keberatan dan banding administratif. Upaya Administratif merupakan instrumen penyelesaiaian sengketa Pegawai ASN, yakni sengketa yang diajukan oleh Pegawai ASN terhadap keputusan yang dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian terhadap seorang pegawai. Keputusan dimaksud memuat hukuman disiplin.

Pertanyaan:

Apakah pegawai yang dijatuhi hukuman disiplin dan mengajukan banding administratif dapat tetap melaksanakan tugas?

Isu hukum tersebut perlu disertai penjelasan kontekstual dengan kasus yang timbul dalam praktik penyelenggaraan pemerintahan, sehingga diperoleh pemahaaman yang lebih baik tentang isu hukum tersebut.

II DESKRIPSI HUKUM; UU NO 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

Pasal 129

(1) Sengketa Pegawai ASN diselesaikan melalui upaya administratif.

(2) Upaya administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari keberatan dan banding administratif.

(3) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)diajukan secara tertulis kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum dengan memuat alasan keberatan dan tembusannya disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum.

(4) Banding administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diajukan kepada

(2)

2

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

badan pertimbangan ASN.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya administratif dan badan pertimbangan ASN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

*Penjelasan Pasal 129 ayat (1)

Yang dimaksud ”sengketa Pegawai ASN” adalah sengketa yang diajukan oleh Pegawai ASN terhadap keputusan yang dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian terhadap seorang pegawai.

PP yang dimaksud dalam Pasal 129 ayat (5) berdasarkan penelusuran di internet belum diterbitkan dan/atau tidak ditemukan.

Oleh karena itu berlaku ketentuan Pasal 139:

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3890) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undang Undang ini.

Dalam hal ini masih tetap berlaku Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, yang ditetapkan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian telah dicabut dan

(3)

3

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

dinyatakan tidak berlaku (Pasal 136 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014).

III DESKRIPSI HUKUM; UU NO 14 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

BAB X UPAYA ADMINISTRATIF, Pasal 75 sampai dengan Pasal 78, akan tetapi ditujukan kepada Warga Masyarakat yang dirugikan terhadap Keputusan dan/atau Tindakan dapat mengajukan Upaya Administratif kepada Pejabat Pemerintahan atau Atasan Pejabat yang menetapkan dan/atau melakukan Keputusan dan/atau Tindakan.

BAB XII SANKSI ADMINISTRATIF, Pasal 80 sampai dengan Pasal 84. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Kemudian diterbitkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pejabat Pemerintahan.

Sesuai judul PP, PP tersebut tidak mengatur sanksi administratif bagi pegawai, tapi bagi Pejabat Pemerintahan.

IV DESKRIPSI HUKUM; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

Pasal 1 angka:

6. Upaya administratif adalah prosedur yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan kepadanya berupa keberatan atau banding administratif.

7. Keberatan adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum.

(4)

4

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

8. Banding administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum, kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian.

BAB IV UPAYA ADMINISTRATIF

Pasal 32: Upaya administratif terdiri dari keberatan dan banding administratif.

Pasal 33 mengatur tentang hukuman disiplin yang dijatuhkan tidak dapat diajukan upaya administratif.

Pasal 34 ayat (1) mengatur tentang hukuman disiplin yang dapat diajukan keberatan.

Pasal 34 ayat (2) mengatur tentang hukuman disiplin yang dapat diajukan banding administratif.

Pasal 38

(1) PNS yang dijatuhi hukuman disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2), dapat mengajukan banding administratif kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian.

(2) Ketentuan mengenai banding administratif diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian.

Catatan: Peraturan Pemerintah dimaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian

Pasal 39

(1) Dalam hal PNS yang dijatuhi hukuman disiplin:

a. mengajukan banding administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 maka gajinya tetap dibayarkan sepanjang yang bersangkutan tetap melaksanakan tugas;

b. tidak mengajukan banding administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 maka pembayaran gajinya dihentikan terhitung mulai bulan

(5)

5

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

berikutnya sejak hari ke 15 (lima belas) keputusan hukuman disiplin diterima.

(2) Penentuan dapat atau tidaknya PNS melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a menjadi kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan kerja.

Pasal 41

(1) PNS yang mengajukan keberatan kepada atasan Pejabat yang berwenang menghukum atau banding administratif kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian, tidak diberikan kenaikan pangkat dan/atau kenaikan gaji berkala sampai dengan ditetapkannya keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

(2) Apabila keputusan pejabat yang berwenang menghukum dibatalkan maka PNS yang bersangkutan dapat dipertimbangkan kenaikan pangkat dan/atau kenaikan gaji berkala sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

V DESKRIPSI HUKUM; PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PERTIMBANGAN KEPEGAWAIAN Pasal 1 angka 6:

Banding administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum, kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian.

Pasal 7 ayat (1)

PNS yang dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau Gubernur selaku Wakil Pemerintah dapat mengajukan banding administratif kepada BAPEK.

Pasal 9 ayat (1)

(6)

6

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

BAPEK wajib memeriksa dan mengambil keputusan dalam waktu paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari sejak diterimanya banding administratif.

Catatan:

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (selanjutnya disebut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003), Pasal 1 angka:

(3) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi adalah Gubernur.

(4) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota adalah Bupati/Walikota.

VI ANALISIS HUKUM

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil membolehkan PNS yang dijatuhi hukuman disiplin mengajukan banding administratif, gajinya tetap dibayarkan sepanjang yang bersangkutan tetap melaksanakan tugas [Pasal 39 ayat (1) huruf a].

Penentuan dapat atau tidaknya PNS melaksanakan tugas tersebut menjadi kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian dengan mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan kerja [Pasal 39 ayat (2)].

Pejabat Pembina Kepegawaian di Kabupaten/Kota adalah Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota adalah Bupati/Walikota (Pasal 1 angka 5 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003).

Menggunakan interpretasi sistematis (B. Arief Sidharta 2017 dan Bagir Manan 2004), maka sepanjang Pejabat Pembina Kepegawaian menentukan PNS yang dijatuhi hukuman disiplin mengajukan banding administratif dapat melaksanakan tugas — maka gajinya tetap dibayar. Artinya, PNS bersangkutan tetap dapat menjalankan tugas sekalipun dijatuhi hukum disiplin dan mengajukan banding administratif.

Sebaliknya, dalam hal Pejabat Pembina Kepegawaian menentukan PNS yang

(7)

7

Gede Marhaendra Wija Atmaja | TPH Denpasar |Kertas Posisi | 20 September 2017

dijatuhi hukuman disiplin mengajukan banding administratif tidak dapat melaksanakan tugas, maka PNS bersangkutan tidak boleh melaksanakan tugas, dan dengan demikian gaji PNS bersangkutan tidak dibayar.

VII CATATAN PENUTUP

Deskripsi dan analisis hukum berkenaan dengan isu pegawai (PNS) yang dijatuhi hukuman disiplin dan mengajukan banding administratif dapat atau tidak melaksanakan tugas, sampai pada kesimpulan bahwa secara hukum perundang- undangan PNS bersangkutan dapat tetap melaksanakan tugas dan karenanya gajinya tetap dibayar sepanjang Pejabat Pembina Kepegawaian menentukan demikian (dapat melaksanakan tugas).

Perlu dicermati, apakah Pejabat Pembina Kepegawaian telah menentukan demikian, yakni mentukan PNS bersangkutan dapat melaksanakan tugas.

VIII RUJUKAN

B. Arief Sidharta, 2017, Ilmu Hukum Indonesia: Upaya pengembangan Ilmu Hukum Sistematik yang responsif terhadap perubahan masyarakat, Bandung:

Unpar Press.

Bagir Manan, 2004, Hukum Positif Indonesia (Satu Kajian Teoritik), Yogyakarta:

FH UII Press.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan metode problem solving dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memecahkan masalah bisa dengan menggunakan media dan alat peraga maupun fasilitas sarana dan

Ruang oven dibuat dari baja tahan karat AISI 304 dengan sudut melengkung sehingga lebih mudah dibersihkan.. Struktur baja tahan karat dan komponen yang kuat membuat Serie 8 Mini

ARDIAN HALOMOAN SIPAHUTAR: Kajian Sifat Kimia dan Fisika Tanah yang Mempengaruhi Sebaran Akar Kopi Arabika (Coffea arabica L.) pada Ketinggian Tempat yang Berbeda di

NASABAH melakukan pembayaran angsuran pada tanggal 1 (satu) dalam jangka waktu 180 (seratus delapan puluh) bulan terhitung dari tanggal pencairan pembiayaan, sampai dengan

Berpangkal tolak dari latar belakang masalah dan tujuan penelitian, untuk memperoleh jawaban atas pokok masalah digunakan pendekatan perundang- undangan (statute approach)

Data dalam penelitian ini adalah kalimat yang terdapat pada Rubrik Surat Pembaca Majalah Hadila.. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu studi

Data-data dalam poenelitian ini bertujuan memecahkan beberapa rumusan masalah yang perlu dicari jawabannya yakni bentuk register dan faktor- faktor penyebab munculnya

Jadi menurut Kompilasi Hukum Islam, ahli waris adalah seseorang yang dinyatakan mempunyai hubungan kekerabatan baik hubungan darah (nasab), hubungan sebab semenda atau perkawinan