TINJAUAN YURIDIS TENTANG KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (UNIT LINK) BAGI TERTANGGUNG
(Studi Pada PT. AXA Life Indonesia Cabang Medan) SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi persyaratan Untuk mencapai gelar Sarjana Hukum
Oleh :
KRISTY ADITYA KEMALASARI 050200368
Bagian Hukum Keperdataan Program Kekhususan Hukum Dagang
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2009
KATA PENGANTAR
Bismillah....
Segala Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan junjungan kita Nabi Muhammad SAW atas segala kemurahan kasih dan rahmatNya yang diberikan kepada Penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini untuk dapat menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Skripsi ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas serta syarat untuk meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara yang merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang menyelesaikan perkuliahannya.
Adapun judul skripsi yang Penulis kemukakan adalah “ TINJAUAN YURIDIS TENTANG KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (Unit-Link) BAGI TERTANGGUNG “ ( Studi Pada PT.AXA Life Financial Indonesia Cabang Medan ). Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dan bekerja keras dalam menyusun skripsi ini. Namun Penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari isi maupun penulisannya.
Melalui kesmpatan ini, Penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, yaitu :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ;
2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, M.H., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum USU ;
3. Ibu Suryaningsih, SH, M.Hum, selaku Dosen Wali yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini ;
4. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, SH, MS., selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Dagang di Fakultas Hukum USU dan selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan – arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini ;
5. Bapak Mulhadi, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan arahan – arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini ; 6. Ibu Puspa Melati, SH, M.Hum (Ibu terbaik yang selalu membantuku di
Fakultas Hukum USU; terima kasih yah bu` atas perhatian dan bantuannya.. Ibu baek banget !!, dan seluruh Dosen dan Staff Pengajar di Fakultas Hukum USU yang telah mendidik dan membimbing Penulis selama memperoleh pendidikan di Fakultas Hukum USU ;
7. Teristimewa buat kedua orangtua penulis (H. Krisno Harianto,SE dan Almh. Hj. Sri Rahayu Pratitis) atas segala perhatian, dukungan, kasih sayang, dan doa yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dan khusus buat almh mama.., tya sayang mama! Ini semua buat mama. Padahal sedikit lagi tapi mama gak sempat ngeliat tya di wisuda.. Love u ma... Doain tya selalu yah ma...
8. Buat almh kakak penulis (mba’poppy) dan adik penulis (dhani), terima kasih buat doa, dukungan, dan perhatiannya selama ini, serta untuk seluruh keluarga besar penulis, khususnya buat Eyang, Bu’Ita, Bu’Atik, makasi atas omelannya.. Ternyata omelan kalian berguna, jadi buat tya enggak malas nyelesaiin skripsi ini dan sekarang skripsi ini insya allah selesai ;
9. Terkhusus buat orang yang selama ini menjadi temen spesial penulis Dede, makasih yah buat semangat nya, buat kebaikannya, dan hari-hari indah yang selalu menemani tya dan makasih banyak juga buat keluarga besar di Binjai yah..
10. Buat sahabat-sahabat terbaik penulis.., kak siska, kak elly, tiwiq.., serta enggak ketinggalan sahabat lamaku oland, makasih yah buat hari-hari yang penuh keceriaan yang tak terbatas, buat kegilaan di kampuz yang pernah kita jalani dan buat seluruh stambuk 2005 PRM di Fakultas Hukum USU..;
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan menyempurnakan skripsi ini. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Februari 2009
Penulis,
Kristy Aditya Kemalasari
TINJAUAN YURIDIS TENTANG KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (Unit Link) BAGI TERTANGGUNG
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
ABSTRAKSI ... iv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Perumusan Masalah... 6
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 6
D. Keaslian Penulisan... 7
E. Tinjauan Kepustakaan ... 8
F. Metode Penelitian ... 9
G. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG ASURANSI A. Istilah dan Definisi Asuransi ... 13
B. Sejarah dan Tujuan Asuransi... 18
C. Syarat –Syarat Terjadinya Asuransi ... 26
D. Jenis Asuransi dan Pihak – Pihak Dalam Perjanjian Asuransi... 32
BAB III TINJAUAN YURIDIS ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (Unit-Link) A. Pengertian Asuransi Jiwa Plus Investasi ... 39
B. Asuransi Jiwa Plus Investasi Sebagai Penunjang Pembangunan Jangka Panjang ... 43
C. Perbandingan Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit-Link) Dengan Reksadana ... 47
D. Tanggapan Masyarakat Terhadap Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit Link)... 50
BAB IV KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI BAGI TERTANGGUNG
A. Perbedaan Antara Asuransi Jiwa Biasa Dengan Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit Link) pada PT. Axa Life dan pada Unit Link Pada Perusahaan Asuransi Lainnya... 54 B. Keutamaan Asuransi Jiwa Plus Investasi Bagi Tertanggung
Pada Asuransi PT. Axa Life Indonesia... 59 C. Tata Cara Pengelolaan Premi Asuransi Jiwa Plus Investasi
Tertanggung Oleh Manager Investasi ... 64
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN ... 70 B. SARAN... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 73 Lampiran - Lampiran
TINJAUAN YURIDIS TENTANG KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (Unit-Link) BAGI TERTANGGUNG ( Studi Pada PT. AXA
Life Indonesia Cabang Medan )
ABSTRAKSI
Betapa penting dan besar manfaatnya asuransi dalam masa pembangunan dewasa ini, terutama dalam usaha menyerap modal swasta melalui premi asuransi yang didapat dari pemegang polis ( tertanggung ). Dengan mulai tampak adanya perubahan dalam cara berpikir sebagian besar bangsa Indonesia, dari alam tradisional ke alam modern yang penuh dengan liku – liku hidup, maka sudah tiba saatnya dunia perasuransian di Indonesia untuk mengembangkan usahanya.
Keluarga anda adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada anda.
Kesehatan adalah yang terpenting, dan tidak ada yang pasti didunia ini kecuali perubahan dan perubahan itu terus terjadi dan itulah kehidupan. Dalam alam modern sekarang ini, orang memerlukan gerak yang cepat, dimana apabila mungkin segala gerak manusia dijalankan dengan alat – alat yang modern.
Sebagai akibat kemajuan ini, kemungkinan kecelakaan yang memakan jiwa manusia semakin besar. Tetapi selain itu, pada zaman modern seperti ini dimana perekonomian Indonesia yang sedang dalam keadaan krisis, membuat perusahaan asuransi berpikir bagaimana seorang tertanggung bukan saja dapat mengasuransikan jiwa nya, tetapi juga sekaligus dapat menginvestasikan uang nya pada perusahaan asuransi tersebut, sehingga seorang tertanggung atau pun ahli waris nya tidak perlu menunggu waktu jatuh tempo setelah seorang tertanggung / pemegang polis meninggal dunia.
Belakangan ini, unit link menjadi primadona penjualan produk asuransi.
Pesonanya mampu mengalahkan produk asuransi tradisional, karena unit link bernilai ganda, yaitu investasi sekaligus proteksi. Produk ini lebih diminati pada zaman sekarang karena lebih fleksibel dan memberikan kebebasan nasabah untuk menentukan sendiri kebutuhan investasi nya plus proteksi yang dituju. Tak heran, produk ini diserbu investor dengan nilai kapitalisasi pasar Rp. 6 Triliun lebih.
Program Unit link ini atau asuransi jiwa plus investasi ini, memberikan manfaat proteksi yang maksimum dan lengkap dengan perlakuan yang sangat fleksibel plus manfaat alternative investasi dan juga bersifat pasti selama saldo investasi masih cukup untuk membayar biaya yang terjadi setiap bulannya. Dalam penulisan skripsi ini, digunakan metode penelitian hukum normatif yang didasarkan pada bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier yaitu melalui penelitian pada PT AXA LIFE INDONESIA cabang Medan, inventarisasi peraturan – peraturan, dan buku – buku yang berkaitan dengan asuransi jiwa dan investasi.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman sekarang, asuransi memegang peranan penting dalam memberikan kepastian proteksi bagi manusia yang bersifat komersial maupun bukan komersial. Asuransi dapat mengalihkan resiko baik untuk proteksi terhadap kesehatan, pendidikan, hari tua, harta benda maupun kematian. Hal inilah yang mendorong berkembang pesatnya perusahaan asuransi.
Perilaku pasar asuransi di Indonesia, khususnya pasar asuransi jiwa, saat ini sedang dipengaruhi oleh pergeseran nilai dan manfaat uang, pada waktu dulu, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar. Namun, saat ini uang juga menjadi salah satu komoditi yang diperjualbelikan dipasar uang atau pasar modal. Hal ini mendorong masyarakat yang memiliki dana untuk menginvestasikannya di pasar modal, baik dengan cara terlibat langsung maupun dengan memanfaatkan jasa perusahaan sekuritas. Oleh karena itu, industri asuransi jiwa sebagai lembaga keuangan non-bank harus mampu menangkap peluang ini.
Caranya adalah dengan menjual produk – produk unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk berinvestasi. Hampir seluruh negara maju telah memasarkan produk asuransi jiwa unit-link. Beberapa negara maju itu antara lain Inggris, Amerika, Jepang, Malaysia, dan negara – negara lainnya.1 ___________________
1 Ketut Sendra, Konsep dan Penerapan Asuransi Jiwa Unit-Link , PPM, Jakarta, 2004 hal. 1
Popularitas produk unit-link, yang mana resiko investasinya secara langsung ditanggung oleh pemegang polis (tertanggung), telah tumbuh dengan cepat di kawasan Asia beberapa tahun belakangan ini. Di Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia telah melakukan beberapa perubahan pada peraturan dan perundang-undangannya guna mengizinkan dan mengakomodasi penggunaan produk tersebut. Pelaku industri asuransi jiwa pun menyambut dengan antusias dalam menyediakan dan memasarkan produk – produk unit-link ini.
Produk asuransi unit-link ini mulai diperkenalkan di Inggris pada tahun 1960-an, sedangkan di Amerika Serikat mulai dipasarkan pada tahun 1970-an.
Produk ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk asuransi tradisional atau produk konvensional. Proteksi dalam asuransi jiwa diberikan pada polis individu, dimana setiap saat nilai polis bervariasi sesuai dengan nilai aset investasinya, sehingga memungkinkan pemegang polis mendapat dua manfaat sekaligus, yaitu proteksi dan hasil investasi.2
Sebenarnya, produk asuransi jiwa dwiguna (endowment) juga telah mengkombinasikan antara proteksi dengan tabungan. Tetapi produk ini dianggap menghasilkan tingkat return (pendapatan) yang relatif rendah. Disamping itu, pemegang polis tidak mengetahui uang yang “ ditabungnya “ itu ditempatkan dalam instrumen apa oleh perusahaan asuransi.3
______________________
2 Ketut Sendra, Ibid, hal. 9.
3 Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Bisnis Asuransi Jiwa di Indonesia tahun 2001, Jakarta, Agustus 2002
Pemegang polis tidak dapat memilih instrumen investasi, berbeda dengan asuransi unit-link yang memberikan kebebasan kepada pemegang polis untuk memilih instrumen investasi yang diinginkan.
Produk unit-link ini memberikan keleluasaan bagi pemegang polis untuk memilih investasi yang memungkinkan optimalisasi tingkat return (pendapatan) investasinya. Karena itu, resiko investasinya juga ditanggung pihak pemegang polis. Misalnya, jika harga-harga instrumen investasi yang menjadi target penempatan dana pemegang polis turun, maka nilai investasinya juga turun.
Sebaliknya, jika nilai instrumen itu meningkat, maka otomatis nilai penyertaan pemegang polis juga meningkat. Meski demikian, perusahaan asuransi tetap bertanggung jawab atas resiko kematian pemegang polis sebagaimana yang diperjanjikan. Berdasarkan sejarah lahirnya produk unit-link diatas, kelahiran produk ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya produk-produk asuransi jiwa pada dekade 70-an dengan pembayaran premi tunggal (single premium), sehingga produk unit-link sangat mendominasi pada era itu.
Terbentuknya produk unit-link sendiri saat itu dipicu oleh terjadinya booming pada pasar modal dan mengarah pada ide pembentukan produk asuransi jiwa yang dapat dikaitkan (linked) dengan instrumen investasi. Produk yang sudah popular saat itu adalah unit trust atau yang kita kenal dengan reksadana.
Namun bersamaan dengan itu, produk-produk konvensional dengan pembagian laba tidak secara langsung membagikan hasil keuntungannya kepada pemegang polis (tertanggung) seiring dengan naiknya harga saham. Hal ini juga yang memacu para pelaku industri asuransi jiwa saat itu menawarkan produk alternatif
yang memberikan keleluasaan bagi para pemegang polisnya untuk mengakses secara langsung keuntungan investasinya.
Agar istrumen investasi ini dapat dijangkau secara individu, maka total investasi tersebut dibagi dalam bentuk unit-link yang dapat dibeli dan dijual dengan sangat mudah dan harganya pun dipublikasikan. Kebutuhan perusahaan asuransi jiwa untuk menginvestasikan dana dari pemegang polis ke dalam paket – paket instrumen investasi yang tersedia dan mudah dinilai telah menciptakan peluang bagi perkembangan bisnis unit trust. Pengaitan (linking) dengan produk asuransi jiwa memungkinkan penetapan biaya yang lebih tinggi, sehingga para pemasar akan memperoleh komisi yang lebih dibandingkan hanya menjual produk unit trust saja.
Pada awalnya perusahaan – perusahaan asuransi jiwa mengaitkan produk asuransi jiwanya secara tidak langsung dengan produk unit trust4, tapi lambat laun produk – produk tersebut menjadi satu kesatuan dalam kontrak polis. Produk ini kemudian dikenal dengan produk unit-linked dan berkembang sangat pesat.
Instrumen – instrumen investasi yang diperkenalkan saat itu seperti lebih menekankan tingkat keamanan dan pengembalian investasi yang tetap. Ada juga instrumen investasi yang sifatnya lebih spekulatif seperti saham dan properti, dimana resikonya tinggi namun tingkat pengembalian investasinya lebih tinggi.
______________________
4 Unit Trust dikenal juga dengan istilah Reksadana, adalah tempat atau wadah investasi bagi masyarakat yang ingin berinvestasi seperti saham, obligasi, maupun deposito.
Dapat dilihat dalam Eko Priyo Pratomo, Reksa Dana Solusi Perencanaan Investasi di Era Modern, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Anggota IKAPI, Jakarta, 2001, hal. 1.
Selain itu dikenal juga jenis investasi managed fund5 dimana manajer investasi menempatkan investasinya pada berbagai jenis (mix) instrumen investasi dan pemegang polis memberikan kepercayaan kepada manajer investasi guna memperoleh hasil investasi yang optimum.
Jadi, produk unit-link ini memiliki karakteristik unbundled.6 Komponen proteksi asuransi jiwa, biaya dan investasi diidentifikasikan terpisah, sehingga membuat polis lebih transparan dibandingkan dengan produk asuransi jiwa tradisional atau konvensional dan dapat memberikan pilihan investasi kepada pemegang polis (tertanggung).
Walaupun terjadi pro dan kontra terhadap produk asuransi unit-linked, sebagaimana sempat dilontarkan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Asuransi Indonesia (YLKAI) bahwa produk ini dikatakan telah melanggar UU Nomor 2 Tahun 1992 tentang usaha perasuransian. Prospek asuransi unit-link di Indonesia menunjukkan reaksi yang cukup baik. Produk asuransi unit-link dapat menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat pemilik modal yang tersebar di setiap propinsi dan kota-kota besar lainnya, sehingga membuka peluang perluasan pasar dalam rangka meningkatkan penerimaan premi. Hal ini dibuktikan dengan makin maraknya perusahaan asuransi di Indonesia meluncurkan produk – produk unit- link, salah satunya adalah PT. Axa Life Indonesia.
________________________
5 Ketut Sendra, Op. Cit, hal. 12, Managed Fund adalah dana campuran.
6 Ibid., Unbundled adalah proteksi asuransi jiwa dan investasi yang dijadikan satu.
B. Perumusan Masalah
Yang menjadi pokok permasalahan pada skripsi ini adalah :
1. Apakah perbedaan antara asuransi jiwa biasa dengan asuransi jiwa plus investasi (Unit-Link) pada PT. Axa Life Indonesia dan pada Unit-Link pada perusahaan asuransi lainnya ?
2. Apakah keutamaan asuransi jiwa plus investasi (Unit-Link) bagi tertanggung pada asuransi PT. Axa Life Indonesia ?
3. Bagaimanakah prosedur tata cara pengelolaan premi asuransi jiwa plus investasi (Unit-Link) tertanggung oleh Manager Investasi ?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan utama dari penulisan ini adalah untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Namun berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan antara Asuransi Jiwa biasa dengan Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit-Link) pada PT. Axa Life Indonesia dan pada Unit-Link pada perusahaan – perusahaan asuransi lainnya.
2. Untuk mengetahui keutamaan Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit-Link) bagi tertanggung pada asuransi PT. Axa Life Indonesia.
3. Untuk mengetahui prosedur tata cara pengelolaan premi Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit-Link) tertanggung oleh Manager Investasi.
Sedangkan manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Secara teoritis, penulisan ini dapat dijadikan bahan kajian terhadap perkembangan Asuransi Jiwa plus Investasi atau Unit-Link kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat masukan dan tertarik untuk bergabung dalam asuransi yang menyediakan Unit-Link tersebut.
2. Secara praktis adalah memberikan sumbangan yuridis tentang perbedaan Asuransi Jiwa plus Investasi (Unit-Link) dengan Asuransi Jiwa tradisional atau asuransi jiwa biasa, sehingga masyarakat dapat mengetahui keutamaan / kelebihan program Unit-Link tersebut.
D. Keaslian Penulisan
Dari penelitian yang dilakukan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara belum ada tulisan yang mengangkat mengenai “ Tinjauan Yuridis Tentang Asuransi Jiwa Plus Investasi Bagi Tertanggung “ (Studi Pada : PT. Axa Life Indonesia). Penulisan ini diangkat untuk mengetahui lebih lanjut keutamaan Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit-Link) dan bagaimana tata cara pengelolaan premi Asuransi Jiwa Plus Investasi tertanggung oleh Manajer Investasi.
Penulisan ini disusun berdasarkan literatur – literatur yang berkaitan dengan program – program yang ada di perusahaan asuransi PT. Axa Life Indonesia, yaitu yang paling spesifik adalah Asuransi Jiwa Plus Investasi (Unit- Link) dimana tertanggung mendapat 2 (dua) keuntungan, yaitu proteksi jiwa dan investasi. Oleh karena itu, penulisan ini adalah asli karya tulis sendiri.
E. Tinjauan Kepustakaan
Istilah asuransi berasal dari Bahasa Belanda, yaitu verzekering atau assurantie yang artinya pertanggungan.7 Kamus Bahasa Inggris-Indonesia memberi arti insurance sebagai jaminan atau asuransi.8 Soekardono dan Wirjono Prodjodikoro (Mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia) menggunakan istilah asuransi sebagai serapan dari assurantie (Belanda), menjamin untuk menanggung dan terjamin untuk tertanggung.9 Asuransi Jiwa adalah termasuk dalam bidang asuransi sejumlah uang (sommen verzekering).
Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Investasi dapat juga disebut sebagai penanaman modal.10
Dulu, orang beranggapan asuransi hanyalah urusan proteksi. Dengan mengambil asuransi, tertanggung atau masyarakat mendapatkan rasa aman, misalnya rasa aman kalau kita meninggal, anak dan keluarganya pasti ada yang menanggung biaya hidupnya. Itulah intinya masyarakat ikut asuransi.
______________________
7 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, cet. IV, Citra Aditya, Bandung, 2002, hal 16 8 Wojowasito, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia-Inggris, Inggris-Indonesia, Penerbit Hasta, Jakarta, hal 123.
9
Abdul Kadir Muhammad, Op. cit, hal 7.
10 “Teori Investasi” dalam www.wikipedia.com
Investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Terdapat dalam Kamus Ekonomi/Pasar Modal terdapat dalam Kamus Ekonomi/Pasar Modal.
Sebaliknya, dengan investasi atau menabung, tertanggung menyimpan uang untuk mendapat keuntungan dan uangnya bisa ditarik kapan saja bila tertanggung membutuhkan.
Sekarang, masyarakat dapat memiliki kedua hal tersebut, yaitu asuransi atau proteksi jiwa dan investasi. Program itu disebut Unit-Link dimana apabila seorang tertanggung meninggal dunia, maka ahli waris nya akan mendapatkan pembayaran sejumlah uang atas meninggalnya tertanggung ditambah investasi.
Sehingga si ahli waris mendapat keuntungan ganda atau berlipat.11
F. Metode Penelitian
Untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi sehubungan dengan judul di atas, maka dilakukan penelitian dengan hubungan metode sebagai berikut:
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Metode penulisan yang menggunakan studi kepustakaan yaitu dengan meneliti bahan – bahan pustaka atau data sekunder disertai dengan mengumpulkan dan membaca referensi melalui peraturan, Koran, internet, majalah, dan setelah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menyeleksi data-data yang layak digunakan untuk mendukung dan menyelesaikan penulisan skripsi ini.
________________
11 Ketut Sendra, Op.Cit, hal. 10
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Adapun cara yang dilakukan dalam penelitian lapangan adalah dengan metode wawancara, yaitu langsung dengan office manager di PT. Axa Life Indonesia Cabang Medan.
G. Sistematika Penulisan
Sebagai karya ilmiah, skripsi ini memiliki sistematika yang teratur, terperinci di dalam penulisannya agar dimengerti dan dipahami maksud dan tujuannya. Tulisan ini terdiri dari lima bab yang akan diperinci lagi dalam sub bab. Adapun kelima bab itu terdiri dari :
BAB I : PENDAHULUAN
Yaitu merupakan pendahuluan. Pada bab ini dipaparkan hal – hal yang bersifat umum, latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan diakhiri dengan sistematika penulisan.
BAB II : GAMBARAN UMUM TENTANG ASURANSI
Pada bab ini, dicoba untuk mengemukakan tentang pengertian asuransi di Indonesia secara umum yang mulai dari istilah dan definisi asuransi, sejarah dan tujuan asuransi, syarat – syarat terjadi nya asuransi, serta objek, subjek dan kepentingan dalam asuransi.
BAB III: TINJAUAN YURIDIS ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (UNIT-LINK )
Pada bab ini, pembahasan yang paling mendasar adalah terdapat pada bab yang berisi tentang pengertian asuransi jiwa plus investasi, asuransi jiwa plus investasi sebagai penunjang pembangunan jangka panjang, perbandingan reksadana dengan unit-link serta tanggapan asuransi jiwa plus investasi oleh tertanggung atau masyarakat.
BAB IV : KEUTAMAAN ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI (UNIT- LINK) KEPADA TERTANGGUNG
Bab ini merupakan pembahasan dari permasalahan yang ada dalam penulisan skripsi ini, yaitu seluruh rangkaian teoritis dari bab – bab sebelumnya yang akan dirangkul dengan prakteknya di lapangan, yaitu pada PT. Axa Life Indonesia Cabang Medan. Di dalamnya dibahas mengenai perbedaan antara asuransi jiwa biasa dengan Asuransi Jiwa Plus Investasi ( Unit-Link ) dan unit-link pada PT. Axa Life Indonesia dengan perusahaan asuransi lainnya, keutamaan Asuransi Jiwa Plus Investasi bagi tertanggung serta tata cara pengelolaan Premi Asuransi Jiwa Plus Iinvestasi Tertanggung Oleh Manager Investasi.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab terakhir ini merupakan suatu kesimpulan dari pembahasan permasalahan dimana penulis akan memberikan kesimpulan dan saran berdasarkan uraian – uraian yang telah dibahas pada bab – bab sebelumnya dalam skripsi ini, dan saran tersebut diharapkan akan berguna di dalam praktek.
BAB II
GAMBARAN UMUM TENTANG ASURANSI
A. Istilah dan Definisi Asuransi
Asuransi berasal dari kata verzekering (Belanda) yang berarti pertanggungan atau asuransi. Istilah pertanggungan, umum dipakai dalam literatur hukum dan kurikulum perguruan tinggi hukum di Indonesia. Sedangkan istilah asuransi yang berasal dari istilah assurantie (Belanda) atau assurance (Inggris) banyak dipakai dalam praktek dunia bisnis.
Dari istilah – istilah tersebut, lahirlah istilah hukum pertanggungan atau hukum asuransi. Dalam bahasa Belanda disebut Verzekering Recht dan dalam bahasa Inggris disebut Insurance Law.
Bagi yang memakai istilah verzekering, maka perusahaan asuransi sebagai pihak penanggung disebut verzekeraar, sedangkan orang yang ditanggung disebut verzekerde. Dalam hukum asuransi di Inggris, penanggung disebut the insurer dan tertanggung disebut the insured. Walaupun istilah asuransi dan
pertanggungan dipakai sebagai sinonim, istilah pengasuransi dan terasuransi tidak pernah dipakai, yang dipakai adalah istilah penanggung dan tertanggung, baik dalam undang-undang maupun dalam kontrak.
Ada sebagian sarjana seperti Wirjono Prodjodikoro, Mantan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia yang sekaligus sebagai Guru Besar ini, menggunakan istilah asuransi sebagai serapan dari assurantie (Belanda), penjamin untuk penanggung dan terjamin untuk tertanggung. Walaupun istilah
yang dimaksud itu mempunyai kesamaan pengertian, istilah penjamin dan terjamin lebih tepat dipakai pada hukum perdata mengenai perjanjian penjaminan (garantie, borgtocht). Oleh karena itu, perlu dibedakan antara istilah hukum yang dipakai pada perjanjian khusus dalam lingkup hukum dagang dan istilah hukum yang dipakai pada perjanjian khusus dalam lingkup hukum perdata.12
Ada 2 ( dua ) pihak yang terlibat dalam asuransi , yaitu pihak penanggung yang sanggup menjamin serta menanggung pihak lain yang akan mendapat suatu akibat dari suatu peristiwa yang belum tentu terjadi dan pihak tertanggung yang akan menerima ganti kerugian. Sebagai kontra prestasi, pihak tertanggung diwajibkan membayar sejumlah uang kepada pihak penanggung.
Santoso Poedjosoebroto, mengatakan :
Asuransi pada umumnya adalah suatu perjanjian timbal balik, dalam masa pihak penanggung dengan menerima premi mengikatkan diri untuk memberikan pembayaran pada pengambil asuransi atau orang yang ditunjuk karena terjadinya suatu peristiwa yang belum pasti, yang disebut di dalam perjanjian, baik karena pengambilan asuransi atau tertunjuk menderita kerugian yang disebabkan oleh peristiwa tadi, maupun karena peristiwa tadi mengenai hidup kesehatan atau validituit seorang tertanggung.13
Kemudian, H. M. N. Purwosutjipto, memberikan definisi asuransi itu sebagai berikut :
Pertanggungan adalah perjanjian timbal balik antara penanggung dengan penutup asuransi, dimana penanggung mengikatkan diri untuk mengganti kerugian dan/atau membayar sejumlah uang (santunan) yang ditetapkan pada waktu terjadinya evenement (peristiwa yang tidak pasti), sedangkan penutup asuransi mengikatkan diri untuk membayar uang premi.14
______________________
12 Abdul kadir Muhammad, Loc. Cit, hal. 7
13 Santoso Poedjosoebroto, Beberapa Aspek Hukum Pertanggungan Jiwa di Indonesia, cet. Alumni, Bandung, 1976, hal. 82
14 H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia & Hukum Pertanggungan, cet III, Djambatan, Jakarta, 1990, hal. 10
Dalam Pasal 246 KUHDagang, telah dijelaskan pengertian asuransi, yaitu: Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa tertentu.
Dari pengertian asuransi yang terdapat dalam Pasal 246 KUHD diatas, dapat disimpulkan adanya 3 (tiga) unsur penting dalam asuransi, yaitu :
1. Pihak tergugat atau dalam bahasa Belanda disebut verzekerde yang mempunyai kewajiban membayar utang premi kepada pihak penanggung ( verzekerar ), sekaligus atau berangsur – angsur.
2. Pihak penanggung mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang kepada pihak tertanggung, sekaligus atau berangsur-angsur apabila maksud unsur ketiga berhasil.
3. Suatu kejadian yang semula belum jelas akan terjadi.
Menurut Wirjono Projodikoro, pengertian asuransi diatas, ada disebutkan suatu perkataan mengenai persetujuan. Persetujuan asuransi ini menurut beliau termasuk persetujuan untung-untungan (Kansovereenkoms) seperti yang terdapat dalam Pasal 1774 Burgelijk Wetboek (BW).”15
__________________
15 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Asuransi di Indonesia, PT. Intermasa, Jakarta, 1987, hal. 2.
Adapun bunyi Pasal 1774 KUHPerdata, antara lain : 1. arti kata dari persetujuan untung – untungan.
2. tiga contoh dari persetujuan tersebut, yaitu : a. asuransi,
b. bunga untuk selama hidup seseorang (lijfrente), juga dinamakan bunga cagak hidup,
c. perjudian dan pertaruhan.
Penyebutan tiga contoh ini adalah tepat, tetapi mengenai penyebutan arti kata adalah kurang tepat, karena disitu dikatakan, bahwa hasil dari pelaksanaan persetujuan berupa untung atau rugi bergantung pada peristiwa yang belum tentu akan terjadi.
Sebetulnya yang bergantung secara langsung ini ialah pelaksanaan kewajiban dari pihak penjamin. Dan pelaksanaan ini berarti rugi bagi si penjamin, sedangkan kalau kewajiban pihak penjamin tidak perlu dilaksanakan, berarti untung bagi si penjamin.
Selain dari pengertian – pengertian asuransi yang diuraikan di atas, dijumpai pula rumusan asuransi dalam Undang – undang No. 2 Tahun1992 tentang Usaha Perasuransian, yang memberikan gambaran secara lengkap tentang pengertian dari asuransi itu.
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang – Undang No. 2 Tahun 1992, berbunyi : Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Pertanggungan adalah suatu perjanjian, karena itu syarat – syarat untuk sahnya suatu perjanjian juga berlaku terhadap pertanggungan, seperti diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. Karena pertanggungan adalah perjanjian khusus, maka disamping syarat – syarat umum dalam Pasal 1320, masih diberlakukan bagi syarat – syarat khusus yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, yaitu :
1. Adanya persetujuan,
2. Wewenang melakukan perbuatan hukum, 3. Ada benda yang dipertanggungkan, 4. Ada causa yang diperbolehkan, 5. Pembayaran premi,
6. Kewajiban pemberitahuan.
Untuk memahami lebih jauh bahwa rumusan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 2 Tahun 1992 lebih luas dan lengkap, maka berikut ini dibuat perbandingan dengan rumusan Pasal 246 KUHD berikut ini :
1. Definisi UU Nomor 2 Tahun 1992 meliputi asuransi kerugian dan asuransi jiwa. Asuransi kerugian dibuktikan oleh bagian kalimat “ penggantian karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan “. Asuransi jiwa dibuktikan oleh bagian kalimat “ memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan “. Bagian ini tidak dijumpai dalam pasal 246 KUHD.
2. Definisi dalam UU Nomor 2 Tahun 1992 secara eksplisit meliputi juga asuransi untuk kepentingan pihak ketiga. Hal ini terdapat dalam bagian kalimat “ tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga “. Bagian ini tidak terdapat dalam rumusan Pasal 246 KUHD.
3. Definisi dalam UU Nomor 2 Tahun 1992 meliputi objek asuransi berupa benda, kepentingan yang melekat atas benda, sejumlah uang dan jiwa manusia. Objek asuransi berupa jiwa manusia tidak terdapat dalam definisi Pasal 246 KUHD.
4. Definisi dalam UU Nomor 2 Tahun 1992 meliputi Evenement berupa peristiwa yang menimbulkan kerugian pada benda objek asuransi dan peristiwa meninggalnya seseorang. Peristiwa meninggalnya seseorang tidak terdapat dalam definisi Pasal 246 KUHD.16
B. Sejarah dan Tujuan Asuransi
Pada masa pemerintahan Alexander the Great (Raja Iskandar Agung) + 356-323 sebelum Masehi terdapat seorang menterinya yang bernama Antimenes.
Pada masa itu terjadi krisis keuangan yang lumayan parah di negara tersebut.
Dalam rangka menyelesaikan krisis keuangan itu, Antimenes mengusulkan sebuah ide agar orang-orang kaya di negeri itu mendaftarkan budak-budak yang dimilikinya.
____________________
16 Catatan Mata Kuliah Hukum Asuransi oleh Bapak Mulhadi
Dalam perjanjian yang dibuat antara Menteri Antimenes dan orang – orang kaya Yunani tersebut disepakati bahwa orang – orang kaya pemilik budak harus membayar sejumlah uang setiap tahun dan sebagai imbalannya pemerintah menjanjikan kepada mereka jika ada budak yang melarikan diri, maka budak – budak itu akan ditangkap atau jika tidak bisa ditangkap, sebagai penggantinya kepada pemilik budak akan diberikan sejumlah uang.
Perjanjian pada masa Yunani ini mirip sekali dengan asuransi kerugian.
Bila ditelaah, maka uang yang diterima Antimenes setiap tahun adalah semacam premi yang menjadi kewajiban tertanggung. Sedangkan resiko yang ditanggung oleh penanggung adalah berupa usaha untuk menangkapi budak – budak itu dan pembayaran ganti kerugian bila mereka melarikan diri atau hilang.
Masih pada zaman Yunani, ada kebiasaan para warganya untuk meminjamkan uang kepada Pemerintah Kota Praja dengan janji bahwa pemiilik uang akan diberi manfaat berupa bunga setiap bulan hingga sang pemilik uang tersebut meninggal dunia. Bahkan kepada ahli waris juga diberikan santunan berupa bantuan biaya penguburan. Perjanjian seperti ini memiliki kesamaan dengan asuransi jiwa.
Pada zaman Romawi (abad ke – 10 sesudah Masehi), juga terdapat tradisi membentuk semacam perkumpulan yang disebut collegium.17 Setiap anggota perkumpulan memiliki kewajiban membayar uang pangkal dan uang iuran tiap bulan. Apabila ada anggota yang meninggal dunia, perkumpulan akan memberikan bantuan biaya penguburan. Apabila ada anggota perkumpulan yang pindah domisili, perkumpulan memberikan bantuan berupa biaya perjalanan.
Demikian juga bila ada anggota perkumpulan yang mengadakan upacara tertentu, maka perkumpulan memberikan bantuan biaya upacara. Kebiasaan ini mirip dengan asuransi saling menanggung diantara anggota perkumpulan.
Pada abad pertengahan di Inggris, sekelompok orang yang memiliki profesi yang sama membentuk perkumpulan yang disebut gilde.18 Perkumpulan ini bertujuan mengurus kepentingan para anggotanya. Apabila ada gilde yang kebakaran rumah, maka gilde akan memberikan bantuan dana yang diambil dari kas gilde yang terkumpul dari para anggotanya. Perjanjian ini banyak terjadi pada abad ke – 9 sesudah Masehi dan mirip sekali dengan asuransi kebakaran.
Pada abad ke – 13 sesudah Masehi, di negara – negara Eropa seperti Denmark, Jerman, dan Inggris, berkembang sebuah perjanjian yang mirip dengan perjanjian asuransi pengangkutan laut yang disebut bodemerij.19
Perjanjian ini melibatkan pemilik kapal dan pemilik uang. Pada saat akan melakukan perjalanan laut, pemilik kapal akan meminjam sejumlah uang kepada pemilik uang yang dibebani bunga, dengan jaminan kapal dan barang muatannya.
Bila kapal dan barang muatannya rusak atau tenggelam, uang dan bunganya tidak perlu dibayar, akan tetapi sebaliknya bila kapal dan barang muatan tiba dengan selamat, maka pemilik kapal harus membayar uang pinjaman berikut dengan bunganya kepada pemilik uang.
_____________________
17 Djoko Prakoso, Hukum Asuransi Indonesia, cet. V, PT. Asdi Mahasatya, Jakarta, 2004, hal. 51.
Collegium adalah perkumpulan.
18 Ibid., Gilde adalah perkumpulan orang – orang yang sama pekerjaannya, seperti tukang kayu, tukang batu, dan lain – lain.
19 Ibid., hal. 53. Bodemerij adalah suatu pinjaman uang dengan kapal laut sebagai jaminan, dalam arti apabila kapal itu musnah, uang pinjaman tidak usah dibayar.
Karena ada larangan menarik bunga dalam agama Nasrani, maka pola perjanjian dirubah seperti pola perjanjian asuransi saat ini. Demikian sekelumit sejarah awal yang menjadi cikal bakal lahirnya perjanjian asuransi pada masa dahulu di beberapa bagian negara tertentu. Bila diungkapkan secara panjang lebar yang sebenarnya masih banyak ragamnya sesuai dengan tradisi hukum dan budaya negara masing – masing.
Pada prinsipnya, asuransi bertujuan untuk mengalihkan atau membagi resiko. Dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari, setiap orang mengahadapi suatu resiko, yakni suatu kerugan mengenai diri dan harta bendanya. Yang disebut resiko itu adalah kewajiban menanggung atau memikul kerugian sebagai akibat suatu peristiwa diluar kesalahannya, yang menimpa benda yang menjadi miliknya.
Resiko itu ada yang sudah pasti adanya, misalnya : kebakaran, kecurian, perampokan, karamnya kapal, dan lain – lain. Resiko tersebut terakhir ini disebabkan oleh peristiwa yang tidak dapat dipastikan lebih dulu tentang kapan terjadinya atau disebut “ peristiwa yang tidak pasti “(onzeker voorval).
Resiko ini biasanya merupakan suatu kegiatan yang besar. Kalau benda, resiko yang besar ini ditanggung sendiri oleh si pemilik benda, alangkah beratnya dan mungkin si pemilik barang akan jatuh pailit. Untuk menghindari hal yang pahit ini, maka diusahakan agar resiko itu diperalihkan kepada orang atau perusahaan yang bersedia mengambil alih resiko yang demikian itu. Perusahaan yang pokok usahanya mengambil alih resiko ini disebut ; perusahaan
pertanggungan. Perusahaan pertanggungan itu dalam hal ini menjadi
“penanggung“ sedangkan si pemilik benda itu disebut “tertanggung“.
Jadi, tujuan perjanjian pertanggungan adalah untuk mengalihkan resiko si tertanggung kepada si penanggung yang berarti bahwa penanggung berkewajiban untuk mengganti kerugian tertanggung bila terjad evenement. Sebagai kontra prestasinya, tertanggung harus membayar uang premi kepada penanggung.
Berapa jumlah uang premi yang harus dibayar oleh tertanggung, penanggung harus memperhitungkan berdasarkan statistik dan pengalaman yang cermat.
Dengan perhitungan jumlah uang premi yang tepat, maka perusahaan pertanggungan tidak akan merugikan dan dapat memelihara perusahaannya dengan baik.
Tiap tertanggung itu pada prinsipnya mempunyai sifat “saling menanggung“. Dengan tidak disadari, para tertanggung dalam suatu pertanggungan itu merupakan suatu paguyupan (gemeinschap), yang saling menanggung resiko dari teman tertanggung. Diantara banyak orang tertanggung itu, pada umumnya hanya satu dua orang saja yang benar – benat mendapat kerugian karena terjadinya evenement. Kerugian itu cukup dibayar dengan sebagian dari uang premi yang telah diterima oleh penanggung dari pada tertanggung yang jumlah nya banyak itu.
Berkembangnya kehidupan manusia dan semakin majunya teknologi sekarang mengakibatkan pertanggungan memegang peranan penting dalam lalu lintas dagang dan kehidupan sosial yang serba modern. Bahkan pertanggungan sudah merupakan keharusan. Keharusan disini berarti setiap orang baik kecil
maupun besar, lelaki maupun wanita sejak lahir hingga meninggal tidak terlepas dari resiko.20
Resiko itu bisa berupa kematian, kehilangan harta, cacat tetap dan lain – lain yang mengakibatkan kerugian bagi dirinya sendiri maupun orang / keluarga yang ditinggalkannya. Karena itu orang sudah pasti berusaha sedapat mungkin mengurangi atau menghindari kerugian.
Kegunaan dari pertanggungan atau asuransi ini dapat diuraikan sebagai berikut :21
a. Pertanggungan memberikan keamanan, perlindungan atau jaminan bagi masyarakat, baik dalam perbuataan atau kegiatannya sehari – hari maupun dalam menjalankan usaha.
Pelayanan pertanggungan akan terasa sekali pada suatu ketika, apabila seseorang menerima penggantian kerugian yang besar jumlahnya karena ditimpa kerugian yang muncul tiba – tiba, sedangkan premi dibayar oleh tertanggung secara bertahap yang jumlahnya relatif kecil, hal ini sangat besar artinya.
b. Pertanggungan merupakan dasar pertimbangan dan pemberian suatu kredit.
c. Pertanggungan itu kemungkinan penabungan atau merupakan alat membentuk modal pendapatan ( nafkah ) untuk masa depan.
____________________
20 Abdul Muis, Bunga Rampai Hukum Dagang, Fakultas Hukum USU, Medan, 1993, hal. 24.
21 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Peranan Pertanggungan Dalam Usaha Memberikan Jaminan Sosial, Penerbit Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1979, hal. 13
Banyak orang memutuskan untuk memperoleh perlindungan dengan jalan menabung, tanpa memperhitungkan fakta bahwa kematian mungkin tidak memberinya waktu untuk mencapai tujuannya itu. Contoh pertanggungan jiwa atau pertanggungan sosial yang mengandung unsur menabung, seperti : Taspen, Astek, dan termasuk Axa Life Indonesia.
d. Pertanggungan cenderung ke arah perkiraan atau penilaian biaya yang layak.
e. Pertanggungan atau asuransi itu mengurangi timbulnya kerugian – kerugian kalau dilihat dari segi pihak yang mempertanggungkan barangnya, maka orang akan dapat mengatakan bahwa dengan mempertanggungkan barang atau usahanya seseorang sudah dapat berbuat apa saja tanpa berbuat apa – apa untuk mencegah kerugian / kerusakan bahkan mungkin dengan sengaja akan menimbulkan kerugian. Tetapi ini ti dak demikian halnya, sebab dari segi pihak penanggung (perusahaan pertanggungan), dengan menerima penutupan pertanggungan atas suatu benda atau usaha ia akan semakin menggiatkan usahanya supaya bahaya yang dihadapi tidak akan terjadi. Usaha mencegah timbulnya kerusakan, kehilangan dan lain – lain akan menjadi salah satu tugas utama dari perusahaan pertanggungan disamping tugas dari tertanggung.
f. Pertanggungan menaikkan efisiensi dari kegiatan perusahaan. Dengan memperalihkan resiko kepada perusahaan pertanggungan, akan meningkatkan atau merangsang orang untuk menanamkan modal pada suatu usaha.
g. Pertanggungan itu akan menguntungkan bagi masyarakat umum. Apabila melalui pertanggungan, resiko-resiko berat atau ringan dapat diperalihkan kepada penanggung, sehingga usaha-usaha seseorang atau perusahaan- perusahaan didalam masyarakat memperoleh ganti rugi pada saat – saat dibutuhkan, maka faedah-faedah yang dinikmati individu itu dengan sendirinya menunjang ke arah perbaikan yang meluas dalam masyarakat umum.
Seperti telah diketahui asuransi akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Manfaat tersebut bagi masyarakat umum dan dunia usaha secara khusus dapat disebutkan sebagai berikut :22
1. Mendorong masyarakat untuk lebih memikirkan masa depannya.
Berbagai jenis asuransi yang tersedia sebenarnya dimaksudkan agar masyarakat dapat berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak diinginkan di masa datang.
2. Dana yang dikumpulkan oleh perusahaan asuransi dapat dugunakan untuk investasi yang sangat diperlukan di masa pembangunan.
3. Mendorong masyarakat untuk tidak bergantung pada pihak lain. Semakin modern kehidupannya masyarakat akan mengakibatkan semakin berkurangnya rasa kebersamaan. Dengan polis asuransi, seseorang dapat mengatasi sendiri musibah yang dideritanya karena menerima pembayaran ganti rugi dari perusahaan asuransi.
_____________________
22 Salusra Satria, Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan Asuransi Kerugian di Indonesia, Kerjasama Lembaga Penerbit Fak. Ekonomi UI dengan Pusat Antar Universitas Fak. Ekonomi UI, hal. 23.
4. Setiap perusahaan hanya perlu menyisihkan sebagian kecil dana untuk premi tanpa perlu membuat cadangan dana yang besar untuk menghadapi segala kemungkinan kerugian, sehingga modal perusahaan dapat digunakn sebaik – baiknya.
Kesimpulan dari point-point di atas adalah bahwa industri asuransi mendorong iklim investasi dan berusaha. Selain itu, asuransi sangat diperlukan dalam kondisi seperti sekarang ini, dimana persaingan usaha berlangsung dengan ketat. Dengan adanya asuransi yang dapat memberikan perlindungan terhadap resiko dan memberikan rasa aman, tanpa memerlukan penyisihan dana yang besar, maka pengusaha dapat lebih mencurahkan modal dan perhatiannya untuk kemajuan perusahaan.
C. Syarat – Syarat Terjadinya Asuransi
Asuransi merupakan salah satu jenis perjanjian khusus yang diatur dalam KUHD. Sebagai perjanjian, maka ketentuan syarat – syarat sah suatu perjanjian dalam KUHPerdata berlaku juga bagi perjanjian asuransi. Karena perjanjian asuransi merupakan perjanjian khusus, maka disamping syarat – syarat sah suatu perjanjian, berlaku juga syarat – syarat khusus yang diatur dalam KUHDagang.
Syarat – syarat sah suatu perjanjian diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata.23
________________
23 Pasal 1320 KUHPerdata
Menurut ketentuan pasal tersebut, ada empat syarat sah suatu perjanjian, yaitu kesepakatan para pihak, kewenangan berbuat, objek tertentu dan kausa yang halal. Sedangkan syarat yang diatur dalam KUHDagang adalah kewajiban pemberitahuan yang diatur dalam Pasal 251 KUHDagang.24
a. Kesepakatan
Tertanggung dan penanggung sepakat mengadakan perjanjian asuransi.
Kesepakatan tersebut pada pokoknya meliputi :25 1) Benda yang menjadi objek asuransi,
2) Pengalihan resiko dan pembayaran premi, 3) Evenement dan ganti kerugian,
4) Syarat – syarat khusus asuransi,
5) Dibuat secara tertulis yang disebut polis.
Pengadaan perjanjian antara tertanggung dan penanggung dapat dilakukan secara langsung atau secara tidak langsung. Dilakukan secara langsung artinya kedua belah pihak mengadakan perjanjian asuransi tanpa melalui perantara.
Dilakukan secara tidak langsung artinya kedua belah pihak mengadakan perjanjian asuransi melalui jasa perantara. Penggunaan jasa perantara memang dibolehkan menurut undang – undang
Dalam Pasal 260 KUHDagang, ditentukan apabila asuransi diadakan dengan perantaraan seorang makelar, maka polis yang sudah ditandatangani harus diserahkan pada waktu 8 (delapan) hari setelah perjanjian dibuat.
______________________
24 Pasal 251 KUHDagang
25 Wirjono Prodjodikoro, Op. Cit., hal 33.
Dalam Undang – Undang No. 2 Tahun 1992 ditentukan bahwa Perusahaan Pialang Asuransi dapat menyelenggarakan usaha dengan bertindak mewakili tertanggung dalam rangka transaksi yang berkaitan dengan kontrak asuransi.26 Kesepakatan antara tertanggung dan penanggung itu dibuat secara bebas, artinya tidak berada dibawah pengaruh, tekanan atau paksaan pihak tertentu.
Kedua belah pihak sepakat menentukan syarat-syarat perjanjian asuransi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yang menentukan bahwa penutupan asuransi atas objek asuransi harus didasarkan pada kebebasan memilih penanggung kecuali bagi Program Asuransi Sosial.27
Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi hak tertanggung agar dapat secara bebas memilih perusahaan asuransi sebagai pnanggungnya. Hal ini dipandang perlu mengingat tertanggung adalah pihak yang paling berkepentingan atas objek yang diasuransikan, jadi sudah sewajarnya apabila mereka secara bebas tanpa pengaruh dan tekanan dari pihak-pihak manapun dalam menentukan penanggungnya.
b. Kewenangan ( authorithy )
Kedua pihak tertanggung dan penanggung mempunyai wewenang melakukan perbuatan hukum yang diakui undang – undang. Kewenangan berbua tersebut ada yang bersifat subjektif dan ada yang bersifat objektif.
________________________
26 Pasal 5 huruf ( a ) Undang – Undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.
27 Pasal 6 ayat ( 1 ) Undang – Undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
Kewenangan subjektif artinya kedua pihak sudah dewasa, sehat ingatan, tidak dibawah perwalian ( trusteeship ), dan pemegang kuasa yang sah.
Kewenangan objektif artinya tertanggung mempunyai hubungan sah dengan benda objek asuransi karena benda tersebut adalah kekayaan miliknya sendiri.
Sedangkan penanggung adalah pihak yang sah mewakili Perusahaan Asuransi berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan.
Apabila asuransi yang diadakan itu untuk kepentingan pihak ketiga, maka tertanggung yang mengadakan asuransi itu mendapat kuasa atau pembenaran dari pihak ketiga yang bersangkutan.28
Kewenangan pihak tertanggung dan penanggung tersebut tidak hanya dalam rangka mengadakan perjanjian asuransi, melainkan juga dalam hubungan internal di lingkungan Perusahaan Asuransi bagi penanggung, dan hubungan dengan pihak ketiga bagi tertanggung, misalnya jual beli objek asuransi, asuransi untuk kepentingan pihak ketiga.
c. Objek Tertentu ( fixed object )
Objek tertentu dalam perjanjian asuransi adalah objek yang diasuransikan, dapat berupa harta kekayaan dan kepentingan yang melekat pada harta kekayaan, dapat pula berupa jiwa atau raga manusia.
Objek tertentu berupa harta kekayaan dan kepentingan yang melekat pada harta kekayaan terdapat pada Perjanjian Asuransi Kerugian. Sedangkan objek tertentu berupa jiwa atau raga manusia terdapat pada Perjanjian Asuransi Jiwa.
____________________
28 Abdul Kadir Muhammad, Op. Cit., hal 53.
Pengertian objek tertentu adalah bahwa identitas objek asuransi tersebut harus jelas. Apabila berupa jiwa atau raga, atas nama siapa, berapa umurnya, apa hubungan keluarganya, dimana alamatnya dan sebagainya.
Karena yang mengasuransikan objek itu adalah tertanggung, maka dia harus mempunyai hubungan langsung atau tidak langsung dengan objek asuransi itu. Dikatakan ada hubungan langsung apabila tertanggung memiliki sendiri harta kekayaan, jiwa atau raga yang menjadi objek asuransi. Dikatakan ada hubungan tidak langsung apabila tertanggung hanya mempunyai kepentingan atas objek asuransi. Tertanggung harus dapat membuktikan bahwa dia adalah benar sebagai pemilik atau mempunyai kepentingan atas objek asuransi.29
Apabila tertanggung tidak dapat membuktikannya, maka akan timbul anggapan bahwa tertanggung tidak mempunyai kepentingan apa – apa, hal mana mengakibatkan asuransi batal (null and void).
Undang-Undang tidak akan membenarkan, tidak akan mengakui orang yang mengadakan asuransi itu, tidak mempunyai hubungan langsung dengan objek asuransi itu, dia harus menyebutkan untuk kepentingan siapa asuransi itu diadakan. Jika tidak demikian, maka asuransi itu dianggap tidak ada.
d. Kausa yang Halal ( legal cause )
Kausa yang halal maksudnya adalah isi perjanjian itu tidak dilarang undang – undang, tidak bertentangan dengan kepentingan umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan.
_______________
29 Op. Cit., hal. 54
Berdasarkan kausa yang halal itu, tujuan yang hendak dicapai oleh tertanggung dan penanggung adalah beralihnya resiko atas objek asuransi yang diimbangi dengan pembayaran premi.
Jadi kedua belah pihak berprestasi, tertanggung membayar premi, penanggung menerima peralihan resiko atas objek asuransi. Jika premi dibayar, maka resiko beralih. Jika premi tidak dibayar, resiko tidak beralih.
e. Pemberitahuan ( notification )
Tertanggung wajib memberitahukan kepada penanggung mengenai keadaan objek asuransi. Kewajiban ini dilakukan pada saat mengadakan asuransi.
Apabila tertanggung lalai, maka akibat hukumnya asurans batal. Semua pemberitahuan yang salah, atau tidak benar, atau penyembunyian keadaan yang diketahui oleh tertanggung tentang objek asuransi, mengakibatkan asuransi itu baral. 30
Kewajiban pemberitahuan itu berlaku juga apabila setelah diadakan asuransi terjadi pemberatan resiko atas objek asuransi. Kewajiban pemberitahuan Pasal 251 KUHDagang tidak bergantung pada ada itikad baik atau tidak dari tertanggung. Apabila tertanggung keliru memberitahukan, tanpa kesengajaan, juga mengakibatkan batalnya asuransi, kecuali jika tertanggung dan penanggung telah memperjanjikan lain. Biasanya perjanjian seperti ini dinyatakan dengan tegas dalam polis dengan klausula “ sudah diketahui “.
____________________
30 Pasal 251 Kitab Undang – Undang Hukum Perdata
D. Jenis – Jenis Asuransi dan Pihak – Pihak dalam Perjanjian Asuransi Jenis – jenis asuransi yang dikenal saat ini banyak sekali, maka untuk kepentingan tulisan ini, perlu ditinjau tentang penggolongan atau penjenisan asuransi yang didapat dari berbagai sumber.
Menurut Abdul Muis, bahwa dalam garis besarnya menurut pembahagian klasik ada dua jenis asuransi, yaitu asuransi sejumlah uang ( sommen verzekering ) dan asuransi ganti kerugian ( schade verzekering ). Tetapi dengan perkembangan usaha perasuransian, muncul satu jenis asuransi lagi yaitu asuransi varia ( varia verzekering ).
Menurut beliau, dalam asuransi sejumlah uang (sommen verzekering), besarnya uang asuransi sudah ditentukan sebelumnya tanpa perlu ada suatu hubungan antara kerugian yang diderita dengan besarnya jumlah uang yang diberikan penanggung. Lain halnya dengan asuransi kerugian ( schade verzekering ), ganti rugi yang diberikan penanggung kepada tertanggung harus seimbang dengan kerugian yang diderita dan kerugian itu adalah akibat dari peristiwa untuk mana asuransi itu diadakan. Sedangkan asuransi varia atau disebut juga dengan asuransi campuran (kombinasi) unsur – unsur yang ada dalam asuransi sejumlah uang dan asuransi ganti kerugian. Timbulnya ganti rugi yang akan dibayar oleh penanggung tidak lagi digantungkan pada besar kecilnya kerugian tetapi sudah ditentukan besarnya sejumlah uang.31
Di dalam hukum asuransi, adakalanya premi yang dibayar tertanggung pada suatu masa tertentu akan dikembalikan kepada tertanggung.
Menurut Abdul Muis, maka asuransi dapat dibedakan :
1. Asuransi murni, jenis asuransi seperti ini dimana uang premi yang dibayar tertanggung tidak mungkin dikembalikan kepada tertanggung kecuali kalau terjadi premi restorno.
_____________________
31 Abdul Muis, Hukum Asuransi dan Bentuk – Bentuk Perasuransian, Fakultas Hukum USU, Medan, 1996, hal. 11- 12.
2. Asuransi tidak murni, dalam jenis asuransi ini terkandung unsur menabung.
Jadi walaupun terjadi onzekker voorval ( peristiwa yang tidak pasti yang menjadi objek asuransi ), penanggung dalam jangka waktu tertentu akan membayar sejumlah uang yang sudah diperjanjikan kepada tertanggung.
3. Asuransi jenis ini biasanya kita jumpai dalam asuransi sejumlah uang seperti misalnya asuransi jiwa dwiguna, triguna dan sebagainya. Mungkin sekarang dikenal dengan asuransi jiwa unit – link, proteksi sekaligus investasi.32
Berdasarkan jenis – jenis asuransi diatas, maka proteksi jiwa plus investasi termasuk jenis asuransi tidak murni.
Menurut Pasal 247 KUHDagang, ada 5 ( lima ) jenis asuransi, yaitu : 1. Asuransi terhadap kebakaran,
2. Asuransi terhadap bahaya yang mengancam hasil pertanian yang belum dipanen,
3. Asuransi Jiwa,
4. Asuransi terhadap bahaya laut dan perbudakan,
5. Asuransi terhadap bahaya yang mengancam pengangkutan di darat dan perairan di darat.
Pasal di atas kalau dibandingkan dengan perkembangan asuransi itu sendiri pada saat ini kurang tepat, karena sekarang sudah banyak dikenal jenis – jenis asuransi yang tidak disebutkan di atas.
____________________
32 Ibid., hal. 19.
Di samping jenis asuransi yang diatur dalam KUHDagang, masih ada lagi jenis – jenis asuransi lain yang tidak diatur dalam KUHDagang, seperti :
1. Asuransi terhadap pencurian dan pembongkaran, 2. Asuransi terhadap kerugian perusahaan,
3. Asuransi kecelakaan,
4. Asuransi tanggung jawab terhadap pihak ketiga karena perbuatan melawan hukum sendiri atau bawahannya,
5. Asuransi Kredit, 6. Asuransi Perusahaan, 7. Asuransi Hujan,
8. Asuransi Wajib Kecelakaan Penumpang ( Undang – Undang No. 33 Tahun 1964 ),
9. Asuransi Atas Kecelakaan Lalu Lintas Jalan ( Undang – Undang No. 34 Tahun 1964 & UU No. 14 Tahun 1992 )
Menurut Mr. H. J. Scheltema, pembagian asuransi terdiri dari : a. Pertanggungan premi,
b. Pertanggungan saling menanggung.
Di dalam pertanggungan premi, terdapat bentuk pertanggungan yang biasa. Dalam pengertian, seorang penanggung yang berdiri sendiri mengadakan perjanjian pertanggungan dengan tertanggung secara tersendiri. Jadi, antara satu tertanggung dengan yang lain mengadakan pertanggungan dengan pihak penanggung tidak ada hubungan hukum sama sekali.
Sedangkan dalam pertanggungan, saling menanggung ada suatu persetujuan perkumpulan yang terdiri dari semua pihak tertanggung selaku anggota. Mereka tidak membayar premi, melainkan membayar semacam iuran kepada pengurus dari perkumpulan.
Ny. Emmy Pangaribuan Simanjuntak, mengatakan bahwa :
Tidak tepat peristilahan pertanggungan premi itu dilawankan dengan pertanggungan saling menanggung seperti yang dikemukakan oleh Mr. H. J.
Schelteme dengan mengetahui arti dari pertanggungan premi tersebut.
Alasannya ialah bahwa karena dalam pertanggungan saling menanggung pun dijumpai premi yang kadang – kadang dapat disifatkan sebagai iuran dari pada para anggota suatu perkumpulan antara tertanggung-tertanggung.33
Pihak – pihak dalam perjanjian asuransi, yaitu :
1. Penanggung, yang dalam hal ini adalah perusahaan asuransi.
Penanggung (vezkeraar, asurador, penjamin) ialah mereka yang mendapat premi, dan berjanji akan mengganti kerugian ataupun membayar sejumlah uang yang telah disetujui, jika terjadi peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya, yang mengakibatkan kerugian bagi tertanggung.34Penanggung dengan sadar menyediakan diri untuk menerima dan mengambil alih resiko pihak lain. Penerimaan resiko ini diikuti dengan janji, bahwa ia akan memberikan penggantian kepada pihak lain itu apabila yang bersangkutan menderita kerugian karena kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tertentu. 35
____________________
33 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Hukum Pertanggungan (Pokok – Pokok Pertanggungan Kerugian, Kebakaran, dan Jiwa), cet. V, Seksi Hukum Dagang Fakutas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1982, hal. 10.
34 Mashudi, NIH dan Moch, Chaidir Ali, Hak Asuransi, Mandar Maju, 1995, hal 3 35 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Op.,Cit, hal 87
Dengan demikian penanggung memberikan suatu proteksi, terhadap kemungkinan kerugian ekonomi yang diderita oleh tertanggung. Peralihan resiko kepada penanggung dari tertanggung harus diikuti dengan suatu pembayaran sejumlah uang tertentu yang disebut premi. Proteksi yang diberikan oleh penanggung kepada tertanggung pada dasarnya sangat bervariasi tergantung pada jenis resiko yang dapat terjadi dan sesuai dengan kemampuan penanggung untuk menerimanya. Dengan demikian, proteksi yang sama dapat ditawarkan sebagai jenis janji khusus yang diberikan kepada calon – calon tertanggung atau masyarakat luas. Apabila tawaran diterima oleh para calon tertanggung terjadilah perjanjian asuransi atau pertanggungan. Mengingat luasnya resiko ditawarkan oleh penanggung kepada masyarakat luas dengan penawaran umum.36
Jadi, penawaran asuransi sebagai penanggung selalu memberikan kesempatan kepada setiap pihak yang bermaksud mengalihkan resiko masing – masing kepadanya.
Perusahaan Asuransi sebagai perusahaan menawarkan jasanya berupa pemberian proteksi atau jaminan dalam bentuk kesanggupan untuk memberikan ganti rugi kepada calon – calon tertanggung apabila pada suatu waktu tertanggung menderita kerugian karena kerusakan, kehilangan keuntungan yang diharapkan terjadi. Janji dalam bentuk kesanggupan ini sangat penting artinya bagi seseorang atau pihak dalam menghadapi masa depannya. Karena pada dasarnya tidak semua resiko yang dihadapi sendiri atau ditiadakan sama sekali.
_______________________
36 Sonni Dwi Harsono, Prinsip – Prinsip dan Praktik – Praktik Asuransi, (Jakarta : Insurance Institute, 1993), hal. 41.
Dengan adanya janji atau kesanggupan yang diberikan oleh penanggung tersebut memberi arti yang sangat besar bagi calon – calon tertanggung karena ia jadi mempunyai harapan adanya suatu kepastian akan stabilitas keadaan ekonominya, jika pada suatu waktu terjadi peristiwa yang menyebabkan kerugian. Kerugian – kerugian yang mungkin diderita oleh tertanggung berdasar perjanjian asuransi atau pertanggungan dialihkan kepada penanggung.37
Jadi, suatu posisi yang pasti bahwa meskipun ia menderita kerugian, tetap pada pihak lain yang akan memberikan ganti rugi, artinya yang mengembalikan posisinya dalam kerugian tersebut sehingga tertanggung kembali pada posisi ekonomi semula.
2. Tertanggung
Tertanggung atau terjamin (verzekerde, insured) adalah manusia dan badan hukum, sebagai pihak yang berhak dan berkewajiban, dalam perjanjian asuransi dengan membayar premi.38 Jadi dalam hal ini, siapapun yang mempunyai peluang atau kemungkinan menderita kerugian dapat mengalihkannya kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung.
Peralihan resiko hanya mungkin terjadi dengan mengadakan perjanjian asuransi atau pertanggungan. Dengan adanya peralihan berdasarkan perjanjian tersebut, mengakibatkan adanya pergeseran beban resiko yang semula ada pada pihak calon tertanggung kepada penanggung.
___________________
37 Ibid., hlm. 42.
38 Mashudi, NIH dan Moch Chaidir Ali, Op.,Cit, hal 4
Keadaan tersebut memberikan dampak positif, yaitu adanya kepastian stabilitas posisi ekonomi bagi pihak tertanggung, memberikan pengaruh yang positif pula dalam tata kehidupan baik secara ekonomis maupun sosial.39
Asuransi juga merupakan suatu mekanisme kerja diantara para pihak yang mengadakan perjanjian, karena perusahaan asuransi sebagai penanggung berjanji dan menawarkan suatu pembayaran kepada pihak tertanggung suatu jumlah tertentu. Pembayaran tersebut baru dilakukan apabila tertanggung menderita kerugian karena suatu peristiwa yang belum pasti. Sebagai imbalannya karena perusahaan asuransi sebagai penanggung harus menerima beban untuk membayar kerugian, maka penanggung mengajukan suatu harga yang disebut “ premi “.
___________________
39 C. S. T. Kansil dan Cristine, Pokok – Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hal. 107.
BAB III
TINJAUAN YURIDIS ASURANSI JIWA PLUS INVESTASI
A. Pengertian Asuransi Jiwa Plus Investasi ( Unit-Link )
Sejak beberapa tahun yang lalu, di Indonesia mulai marak dipasarkan produk – produk asuransi unit-link. Unit Link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus.40 Dengan menjadi nasabah produk unit link, seseorang bisa mendapatkan manfaat ganda yaitu perlindungan asuransi dan investasi. Produk asuransi yang ditawarkan bisa berbentuk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, tetapi biasanya dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik bagi masyarakat, misalnya tabungan masa depan atau asuransi pendidikan.
Seperti halnya asuransi biasa, nasabah asuransi unit-link membayar premi setiap jangka waktu tertentu, biasanya bulanan. Perbedaannya, nasabah unit-link membayar premi dalam dua porsi, yaitu porsi premi perlindungan dan porsi investasi. Unit Link didefinisikan juga sebagai program kombinasi antara asuransi jiwa plus investasi yang perlakuannya bersifat fleksibel. Asuransi jiwa yang seumur hidup namun tidak memberikan uang pertanggungan di akhir masa kontrak, kecuali resiko terjadi didalam masa kontrak, maka manfaat yang diterima adalah Uang pertanggungan plus saldo investasi.41
_______________
40 Ketut Sendra, Op.Cit., hal 19
41 Pencetak Return Unitlink Tertinggi, Kompas, ( Jakarta : 29 Mei 2008 )
Pertama-tama, tertanggung perlu mengetahui bahwa yang disebut Asuransi Unit-Link adalah produk keuangan yang mempunyai dasar hukum yang tetap. Pengaturan dilakukan oleh Pemerintah melalui Departemen Keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Untuk itu, Ketua Bappepam-LK, Bapak A. Fuad Rahmany, pada tanggal 31 Oktober 2006 mengeluarkan keputusan No.KEP-104/BL/2006 tentang Unit-Link.42
Dalam definisinya, dikatakan bahwa produk unit-link adalah produk Asuransi Jiwa yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. nilai manfaat yang dijanjikan oleh kinerja subdana investasi yang dibentuk untuk unit-link tersebut;
2. nilai manfaat yang diperoleh dari subdana investasi dinyatakan dalam unit;
3. mengandung pertanggungan resiko kematian alami.
Dari hal ini tertanggung menemukan hal yang menarik, yaitu dimana manfaat yang dijanjikan akan tergantung pada kinerja subdana investasi. Artinya, produk unit-link akan mengikuti pergerakan dari investasi yang tidak tetap, dan pasti tidak bisa diketahui sebelumnya. Dengan kata lain, investasi pasti akan naik turun. Polis asuransi jiwa unit-link diperkenalkan sebagai salah satu cara berinvestasi yang efektif, dimana nilai investasinya langsung dikaitkan dengan kinerja investasi.
_________________
42
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal No.KEP-104/BL/2006 tentang kedudukan Unit- Link tanggal 31 Oktober 2006