• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI Oleh : PUTRI MURDIANTI HAMA PENYAKIT TANAMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI Oleh : PUTRI MURDIANTI HAMA PENYAKIT TANAMAN"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

DI KECAMATAN KUTALIMBARU KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI Oleh :

PUTRI MURDIANTI 130301103

HAMA PENYAKIT TANAMAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019

(2)

DI KECAMATAN KUTALIMBARU KABUPATEN DELI SERDANG

SKRIPSI Oleh :

PUTRI MURDIANTI 130301103

HAMA PENYAKIT TANAMAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

(Dr. Ir. Sarifuddin, MP.) NIP. 1965090319930310014

(4)

Stenocranus pacificus Kirkaldy (Hemiptera: Delphacidae) in Kutalimbaru

District, Deli Serdang Regency, guided by Dr. Ir. Marheni, MP and Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS.

Observation of maize varieties resistance is the beginning to determine the level of resistance of each maize variety against of corn planthopper S. pacificus attacks and also to determine the most effective color trap used. This research was carried out in a corn farm in Suka Rende Village, Kutalimbaru District, Deli Serdang Regency (500 meters above sea level) from July to November 2018. The research used a Separate Plot Design with the main plot being varieties (Bioseed 54, Bisi 18, Pioneer 32 , and Local) and subplots are color traps (white, yellow, blue, green). The results showed that the Bioseed 54 variety had a low level of resistance to corn planthopper S. pacificus attacks. The yellow color is the color preferred by S. pacificus planthoppers.

Key words: corn, S. pacificus, varieties, color

(5)

Terhadap Wereng Stenocranus pacificus Kirkaldy (Hemiptera: Delphacidae)

di Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang, di bimbing oleh Dr. Ir. Marheni, MP dan Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS.

Pengamatan ketahanan varietas jagung merupakan awal pengujian untuk mengetahui tingkat ketahanan masing-masing varietas jagung terhadap serangan wereng S. pacificus dan juga untuk mengetahui perangkap warna yang paling efektif digunakan. Penelitian ini dilaksanakan di kebun jagung milik petani di Desa Suka Rende, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang (500 mdpl) pada bulan Juli sampai dengan November 2018, penelititian menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan petak utama adalah varietas (Bioseed 54, Bisi 18, Pioneer 32, dan Lokal) dan anak petak adalah perangkap warna (putih, kuning, biru, hijau). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Bioseed 54 memiliki tingkat ketahanan yang rendah terhadap serangan wereng S. pacificus . Warna kuning menjadi warna yang disukai oleh wereng S. pacificus.

Kata kunci : jagung, S. pacificus, varietas, warna

(6)

Putri Murdianti lahir di Pematangsiantar pada tanggal 15 Juni 1995, putri dari Bapak Mursalim, BSW dan Ibu Arjiantini. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan SMA tahun 2013 dari SMA Negeri 4 Pematangsiantar dan tahun 2013 terdaftar masuk ke Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis memilih minat Hama Penyakit Tanaman (HPT), Program Studi Agroteknologi.

Selama perkuliahan penulis aktif mengikuti organisasi di kampus Universitas Sumatera Utara, yaitu Himadita Nursery FP USU.

Penulis melaksanakan Praktek Keraja Lapangan (PKL) di Unit Usaha Bunut, PTPN VI, Jambi.

(7)

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikansSkripsi yang berjudul

” Uji Ketahanan Empat Varietas Tanaman Jagung Terhadap Wereng Stenocranus pacificus Kirkaldy (Hemiptera: Delphacidae) di Kecamatan

Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sembah sujud penulis hantarkan kepada kedua orang tua yaitu ayahanda Mursalim, BSW dan ibunda Arjiantini tersayang yang telah dengan sabar memberikan doa, nasehat, semangat, serta dukungan moril dan materil dari mulai perkuliahan hingga selesai penelitian, serta terima kasih kepada para adik-adik saya yang tersayang Fadli Ilmi Makkasau dan Bulan Aulia yang telah memberikan doa dan semangat kepada penulis.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Komisi

pembimbing Dr. Ir. Marheni, MP selaku Ketua dan Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS selaku Anggota yang telah memberi

saran dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih kepada teman- teman yang telah membantu selama penelitian. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Oktober 2019

Penulis

(8)

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan Penulisan ... 3

Hipotesis penulisan ... 4

Kegunaan Penulisan ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Biologi wereng Stenocranus pacificus Kirkaldy... 5

Gejala Serangan ... 7

Faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi wereng perut putih ... 8

Pengendalian ... 10

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 12

Bahan dan Alat ... 12

Metode penelitian ... 13

Rancangan percobaan... 13

Pelaksanaan Penelitian ... 15

Persiapan lahan... 15

Penanaman ... 15

Pemupukan ... 15

Pemeliharan ... 16

Pembuatan perangkap warna berperekat ... 16

Pemasangan perangkap warna berperekat ... 16

Panen ... 16

Peubah pengamatan ... 17

Intensitas serangan ... 17

Populasi Stenocranus pacificus pada perangkap warna berperekat ... 18

Bobot biji pipilan kering ... 19

(9)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 30 Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

1. Nilai skor kerusakan tanaman ... 18 2. Populasi S. pacificus pada perangkap warna berperekat pada 5-11 MST ... 19 3. Intensitas Serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung pada 5-11 MST ... 23 4. Bobot biji pipilan kering empat varietas tanaman jagung yang terserang

wereng S. pacificus ... 26

(11)

1. Nimfa dan imago betina ... 5

2. Siklus hidup S. pacificus ... 6

3. Titik oviposisi Telur S. pacificus ... 6

4. Imago S. pacificus jantan dan betina ... 6

5. Penampilan umum serangan wereng pada tanaman jagung ... 8

6. Perkembangan jumlah populasi wereng S. pacificus pada empat varietas jagung yang berbeda ... 20

7. Kecenderungan wereng S. pacificus dalam memilih warna perangkap berperekat ... 21

8. Perubahan intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung 5-11 MST ... 25

9. Perbedaan hasil panen ke empat varietas tanaman jagung yang diserang wereng S. pacificus... 26

(12)

1. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung minggu ke-5 ... 33 2. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung minggu ke-5... 33 3. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-6 ... 34 4. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-6... 34 5. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-7 ... 35 6. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-7... 35 7. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-8 ... 36 8. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-8... 36 9. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-9 ... 37 10. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-9... 37 11. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-10 ... 38 12. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-10... 38 13. Data pengamatan intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-11 ... 39 14. Sidik ragam intensitas serangan S. pacificus pada empat varietas tanaman

(13)

16. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung minggu ke-5... 40 17. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-6 ... 41 18. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-6... 41 19. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-7 ... 42 20. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-7... 42 21. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-8 ... 43 22. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-8... 43 23. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-9 ... 44 24. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-9... 44 25. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-10 ... 45 26. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-10... 45 27. Data pengamatan populasi wereng S. pacificus pada empat varietas

tanaman jagung minggu ke-11 ... 46 28. Sidik ragam populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman

jagung minggu ke-11... 46 29. Data panen jagung ... 47 30. Sidik ragam panen jagung ... 47

(14)

32. Lahan penelitian ... 49

33. Deskripsi Varietas Jagung Bioseed 54 ... 50

34. Deskripsi Varietas Jagung Pioneer 32... 51

35. Deskripsi Varietas Jagung Bisi 18 ... 52

36. Foto penelitian ... 53

(15)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman semusim yang banyak diusahakan di Indonesia dan merupakan komoditas pangan penting setelah padi.

Tanaman jagung juga dipergunakan sebagai pakan ternak, bahan baku industri, tepung kue dan juga minuman, sehingga kebutuhan jagung nasional semakin meningkat (Larasati, 2011).

Faktor yang berperan terhadap naik turunnya produksi jagung antara lain luas panen, produksi dan produktivitas. Produksi jagung pada tahun 2018 mencapai 1,76 juta ton, naik sebesar 15.868 ton dibanding produksi jagung di tahun 2017. Kenaikan produksi disebabkan oleh kenaikan luas panen sebesar 10.965 hektar atau 3,9 (Kementerian Pertanian, 2018).

Berbagai kendala ditemukan dalam meningkatkan produksi jagung, salah satunya adalah serangga hama. Beberapa serangga hama tersebut adalah lalat bibit (Atherigona sp.), ulat tanah (Agrothis sp.), lundi/uret (Phylophaga hellen), penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), ulat grayak (Spodoptera litura, Mythimna sp.), wereng jagung Peregrinus maydis, dan penggerek tongkol

(Helicoverpa armigera) (Surtikanti, 2011).

Berbagai jenis wereng ditemukan menyerang pertanaman jagung di Indonesia, diantaranya adalah Nilaparvata sp. dan Peregrinus maydis. Wereng jagung Peregrinus maidis merupakan spesies yang ditemukan pada sebagian besar

wilayah daerah tropis. Di Amerika, spesies ini merupakan vektor

dari beberapa penyakit virus terutama pada tanaman jagung (Susilo dan Swibawa, 2002; Diaz et al., 2016).

(16)

Pada tahun 2016, serangan wereng terjadi di beberapa pertanaman jagung petani di Kabupaten Lampung Selatan. Setelah dilakukan identifikasi, wereng yang menyerang tanaman jagung di daerah Natar, Lampung Selatan adalah Stenocranus pacificus Kirkaldy (Hemiptera: Delphacidae) dan telah diusulkan

nama umum wereng tersebut adalah wereng perut putih. Wereng ini menimbulkan

kerusakan pada tanaman jagung dan berakhir dengan penurunan hasil panen (Heong, 2009; Susilo et al., 2017).

S. pacificus merupakan hama baru yang menyerang tanaman jagung di

Lampung dan menyebabkan kerusakan pada pertanaman jagung di daerah Natar, Lampung Selatan. Di Filipina, wereng ini pertama kali dimasukkan ke dalam genus Sogatella, tetapi akhirnya dikonfirmasi sebagai S. pacificus (Cayabyab et al., 2009).

Hasil penelitian Nelly et al. (2017) dengan mengumpulkan S. pacificus diperoleh bahwa fase pertumbuhan jagung dan lokasi budidaya berperan penting pada jumlah populasi wereng perut putih namun tidak berpengaruh pada pola distribusi. Kelimpahan hama ini cenderung lebih tinggi pada fase vegetatif daripada generatif. Kelimpahan tertinggi S. pacificus pada fase vegetatif ditemukan di Tanah Datar (15 individu/rumpun), sedangkan terendah ditemukan di Limapuluh Kota (0,25 individu/rumpun). Kelimpahan tertinggi pada fase generatif ditemukan di Pasaman Barat (2,50 individu/rumpun), sedangkan terendah ditemukan di Tanah Datar (0,70 individu/rumpun).

Beberapa negara menjadikan pengelolaan dominan wereng saat ini bergantung pada insektisida, sehingga penelitian mereka lebih kepada evaluasi

(17)

wereng dapat dilakukan dengan cara waktu penanaman jagung dilaksanakan secara serempak, waktu tanam dilakukan pada akhir musim hujan, penggunaan herbisida untuk membersihkan areal pertanaman jagung dari gulma yang bisa menjadi inang dari wereng, dan penggunaan insektisida berbahan aktif carboufuran 3% dilakukan apabila serangan hama telah melebihi ambang ekonomi (Catindig et al., 2009; Surtikanti, 2011).

Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang, terjadi peningkatan jumlah populasi dari serangga hama S. pacificus di kecamatan kutalimbaru . Akibat dari serangan serangga hama ini adalah pengkerdilan tanaman dan menimbulkan “hopperburn” pada tanaman. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan menguji ketahanan beberapa varietas jagung terhadap hama wereng perut putih (S. pacificus).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui varietas jagung yang rentan terhadap serangan wereng S. pacificus, dan juga untuk mengetahui perangkap warna yang disukai oleh wereng S. pacificus, serta mengetahui interaksi antara penggunaan varietas yang berbeda dengan perangkap warna terhadap intensitas serangan wereng.

Hipotesis Penelitian

Varietas jagung berpengaruh terhadap intensitas serangan dan jumlah populasi wereng S. pacificus, perangkap warna berperekat berpengaruh terhadap jumlah wereng yang tertangkap, dan interaksi antara varietas dan perangkap warna berperekat berpengaruh terhadap intensitas serangan wereng pada tanaman jagung.

(18)

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang

ketahanan empat varietas jagung terhadap wereng S. pacificus (Hemiptera: Delphacidae) dan sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh

gelar sarjana di program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Biologi Wereng Stenacranus pacificus (Hemiptera: Delphacidae)

Serangga betina dari S. pacificus menusukkan telurnya di sela pelepah daun tanaman dengan menggunakan ovipositor. Setelah telur dikeluarkan dari tubuh, betina menutup telurnya dengan menggunakan zat lilin yang ada di abdomennya. Telur yang diletakkan berkisar antara 1-24 butir. Nimfa mulai muncul di lapangan kurang lebih seminggu sejak penampakan awal zat lilin pada permukaan daun (Dumayo et al., 2007).

Gambar 1. A. Titik oviposisi Telur S. pacificus

(Sumber: Susilo et al., 2017).

Nimfa berkisar 12-14 hari dengan empat stadia instar, stadia tiap instar rata-rata 3-4 hari, rentang hidup imago dewasa 7 sampai 10 hari. Warna nimfa bervariasi dari keputihan saat menetas hingga hijau kuning pada instar kedua dan berubah menjadi coklat pada instar selanjutnya dan imago dewasa berwarna

coklat oranye. Panjang tubuh imago 4-6,3 mm (Dumayo et al., 2007; Dupo dan Barrion, 2009).

Gambar 2. Siklus hidup Wereng S. pacificus

A

(20)

(Sumber: Simbolon, 2018)

Imago betina S. pacificus memiliki zat lilin putih di abdomen, sementara abdomen imago jantan berwarna oranye seperti jeruk. Ukuran tubuh imago betina lebih besar dari imago jantan (panjang diukur dari ujung vertex-frons belok ke ujung sayap = 4,93 + 0,03 mm untuk betina, dan 4,20 + 0,04 mm untuk jantan).

Karakteristik tubuh yang dimiliki oleh betinanya memiliki abdomen yang

berwarna putih, maka disebut juga dengan wereng perut putih (Susilo et al., 2017).

Gambar 3. Imago A. Betina , B. Jantan (Sumber: Susilo et al., 2017) Gejala serangan

Serangan wereng dimulai dengan adanya lilin putih seperti kapas atau massa di sisi abaxial (permukaan bawah) daun jagung. Kemudian koloni wereng yang terdiri dari nimfa dan imago yang berlimpah. Pada intensitas serangan tinggi, wereng dapat menyebabkan tanaman mati seperti terbakar (hopperburn). Wereng ini dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman jagung dan akhirnya menurunkan produksi yang sangat nyata. Lilin putih yang terdapat pada permukaan bawah daun dihasilkan oleh wereng betina untuk melindungi telurnya dalam jaringan daun (Dumayo et al., 2009; Susilo et al., 2017)

A B

(21)

Gambar 4. A. Lilin putih disepanjang vena daun pada permukaan bawah daun (Sumber: Susilo et al., 2017)

Kelimpahan S. pacificus di daerah Natar pada 30 HST, hanya sedikit individu yang muncul pada tanaman jagung. Sekitar setengah populasi tanaman jagung usia ini masih terbebas dari serangan wereng sedangkan separuh lainnya diserang oleh 1 atau 2 individu. Pada 40 HST lilin-lilin putih dan bercak mulai terlihat. Pada usia tanaman ini, kelimpahan wereng dari sebelumnya menjadi 4 kali lebih banyak. Kelimpahan total wereng pada 70 HST kira-kira dua kali lipat dari pada 40 HST dan kelimpahan di 88 HST juga dua kali lipat dibandingkan dengan 70 HST. Kondisi dan penampilan tanaman jagung pada 70 HST atau 88 HST, serupa dengan yang ada pada 40 HST. Gejala hopperburn mulai terdeteksi pada 88 HST. Kelimpahan wereng turun drastis ke tingkat yang sangat rendah pada 108 HST (Susilo et al., 2017).

Gambar 5. (A) munculnya koloni wereng yang menunjukkan lokasi oviposisi (B) munculnya gejala hopperburn pada tanaman jagung

(Sumber: Susilo et al., 2017).

A B

A

(22)

S. pacificus merupakan hama eksotis di Indonesia dan telah dilaporkan

menyerang tanaman lain di Indonesia seperti famili Poaceae.

Dupo dan Barrion (2009) menyebutkan bahwa selain menyerang tanaman padi, S. pacificus juga bisa menyerang tanaman tebu dan rumput.

Dumayo et al. (2007) menyatakan terdapat zat lilin di abdomen betina, dan tidak ada pada serangga jantan. Nimfa dan imago S. pacificus menyerang jagung dengan cara menghisap cairan tanaman dari daun muda dan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil. Pembentukan tetesan embun madu (honeydew) pada daun menyebabkan munculnya garis-garis di sepanjang tulang daun dan di bawah permukaan daun yang mengakibatkan hilangnya kekuatan tanaman dan mengerdil (Cayabyab et al., 2009; Fujita et al., 2009)

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Populasi Wereng Perut Putih Faktor biotik maupun abiotik sangat mempengaruhi padatnya populasi serangga. Faktor biotik seperti keberadaan predator, makanan dan tingkat keperidian serangga, sedangkan faktor abiotik adalah suhu, kelembaban, sinar matahari, curah hujan, dan angin (Pribadi dan Anggraeni, 2010).

Fase pertumbuhan jagung dan lokasi budidaya berperan penting pada jumlah populasi S. pacificus namun tidak berpengaruh pada pola distribusi.

Kelimpahan tertinggi S. pacificus pada fase vegetatif ditemukan di Tanah Datar (15 individu/rumpun), sedangkan terendah ditemukan di Limapuluh Kota (0,25 individu/rumpun). Kelimpahan tertinggi pada fase generatif ditemukan di Pasaman Barat (2,50 individu/rumpun), sedangkan terendah ditemukan di Tanah Datar (Nelly et al., 2017).

(23)

Kelimpahan S. pacificus tertinggi berada pada fase vegetatif tanaman jagung. Hal ini dikarenakan sumber makanan dari S. pacificus merupakan tanaman yang masih muda sehingga memudahkannya untuk menusukkan stilet pada tanaman. Keberadaan dari predator S. pacificus ditentukan oleh fase pertumbuhan tanaman jagung dan lokasi budidaya tanaman sehingga dapat mempengaruhi keberagaman musuh alaminya (Nelly et al., 2017).

Penggunaan varietas yang tahan terhadap serangan S. pacificus dapat menurunkan jumlah populasi. Hal ini dikarenakan varietas tahan memiliki antibiosis yang lebih tinggi terhadap serangga. Antibiosis merupakan zat kimia yang bersifat sebagai zat penolak racun, adanya nutrisi tertentu yang tidak tersedia bagi serangga serta adanya perbedaan nutrisi dalam kuantitasnya. Jika serangga memakan tanaman yang bersifat antibiosis dapat mengakibatkan pertumbuhan abnormal, matinya stadium larva dan nimfa, pertumbuhan yang lambat, penurunan jumlah telur dan imago yang dihasilkan, berkurangnya ukuran berat/tingkat keperidian. Diduga resistensi yang berdasarkan antibiosis bersifat lebih permanen dan sifat tersebut umumnya dapat diturunkan sebagai sifat-sifat dominan yang dibawakan oleh satu atau lebih faktor genetis (Sodiq, 2009).

Perubahan sistem tanam pada pertanaman jagung dan peningkatan penggunaan varietas hibrida, pupuk, pestisida, dan suhu dapat membuat ekosistem jagung menjadi rentan, yang mengakibatkan populasi dan frekuensi serangan wereng menjadi tinggi. Suhu dapat juga mempengaruhi kelimpahan populasi dari S. pacificus. Suhu tinggi pada musim panas sangat disukai oleh S. pacificus, dimana jumlah populasi mereka akan meningkat apabila suhu tinggi (Cheng, 2009; Heong, 2009; Watanabe et al., 2009).

(24)

Pengendalian

Pengendalian S. pacificus dapat dilakukan secara alami menggunakan predator dan parasitoid. Secara umum, ada 19 famili arthropoda yang berpotensi sebagai musuh alami S. pacificus. Sepuluh famili diklasifikasikan sebagai predator, sementara sembilan famili diklasifikasikan sebagai parasitoid. Dari 10 predator yang ditemukan, lima diantaranya termasuk dalam ordo Araneae (laba-laba), sedangkan yang lainnya termasuk dalam ordo Coleoptera, Dermaptera, Hymenoptera, dan Mantidae. Sementara itu, semua parasitoid berasal dari Ordo Hymenoptera, dua famili (Ichneumonidae dan Scelionidae) hanya ditemukan pada fase vegetatif, dan empat famili (Braconidae, Elasmidae,

Mymaridae, Pteromalidae) hanya ditemukan pada fase generatif (Nelly et al., 2017).

Pengendalian hama wereng dapat juga dilakukan dengan cara menanam jagung secara serentak. Untuk menghindari serangan wereng, tanaman jagung dapat ditanam pada akhir musim hujan. Penggunaan insektisida dilakukan apabila serangan hama telah melebihi ambang ekonomi, gunakan insektisida berbahan aktif glifosat (Surtikanti, 2011).

Pengendalian serangga dengan cara mekanik dapat juga dengan menggunakan perangkap warna. Warna yang mempengaruhi kepekaan penglihatan serangga antara 254 nm-600 nm. Jenis serangga (wereng punggung putih, mrutu atau agas, semut dan kepinding tanah) mempunyai kepekaan terhadap warna biru (Asyaroh, 2007).

Serangga dapat melihat warna-warna yang kontras. Cara serangga melihat

(25)

bagi serangga itu adalah warna kuning dan biru secara terpisah, mengingat hijau adalah gabungan warna biru dan kuning sehingga seperti memiliki pantulan yang sama (Braham, 2014). Amir dan Setyo-Budi (2014) mengatakan warna kuning mempunyai persentase refleksi cahaya (intensitas) yang lebih tinggi dibanding warna lainnya seperti biru dan putih, sehingga sangat jelas tertangkap oleh alat penglihatan suatu serangga.

Pembersihan gulma atau rerumputan di sekitar pertanaman jagung juga dapat menurunkan populasi S. pacificus dikarenakan ada beberapa spesies rumput yang merupakan inang alternatif bagi hama ini , yaitu Roettbella cochinchinensis, Echinochloa colona, Eleusine indica dan Sorghum bicolor. Pengendalian lain

dapat menggunakan jamur entomopatogen Metarhizium anisoplae (Dumayo et al., 2007).

(26)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan November 2018, di kebun jagung milik petani di Desa Suka Rende, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat 500 mdpl.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung hibrida varietas Pioner 32, Bisi 18 dan Bioseed 54 dan varietas lokal sebagai pembanding, herbisida berbahan aktif glifosat, pupuk NPK, lem serangga, stiker berwarna (kuning, biru, putih, hijau), papan triplek berukuran 15 x 20 cm, bilah bambu sepanjang 1,5 m, plastik bening.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, plang, meteran, timbangan, lup, buku catatan, kamera, dan kalkulator.

Metode Penelitian Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) factorial dengan 2 faktor, yaitu :

Faktor 1 : Varietas

V1 : Bioseed 54 V2 : Bisi 18 V3 : Pioneer 32 V4 : varietas lokal

(27)

Faktor 2 : Warna W1 : Putih W2 : Kuning W3 : Biru W4 : Hijau

Maka diperoleh 16 kombinasi, yaitu:

V1W1 V2W1 V3W1 V4W1

V1W2 V2W2 V3W2 V4W2 V1W3 V2W3 V3W3 V4W3 V1W4 V2W4 V3W4 V4W4

Jumlah ulangan (blok) : 3 ulangan

Jumlah petak utama : 12

Jumlah anak petak : 48

Jarak antar petak utama : 30 cm

Jarak antar blok : 50 cm

Jumlah tanaman seluruhnya : 960 tanaman jumlah tanaman/petak utama : 80 tanaman Jumlah tanaman sampel per sub petak : 3

Jumlah perangkap per petak utama : 4

Jarak tanam : 70 cm x 30 cm

Luas petak utama : 2,7 m x 1,7 m

Luas lahan : 12,3 m x 18,3 m

(28)

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linier sebagai berikut:

i = 1,2,3 j = 1,2,3,4 k = 1,2

Dimana:

Yijk : Nilai pengamatan karena pengaruh faktor varietas taraf ke-j dan faktor perangkap warna taraf ke-k pada ulangan ke-i

µ : Nilai tengah umum : efek blok ke-i

: pengaruh faktor varietas (petak utama) yang ke-j

: pengaruh sisa untuk petak utama atau pengaruh sisa karena pengaruh faktor taraf ke-j pada kelompok ke-i

: pengaruh faktor perangkap warna (anak petak) yang ke-k

: pengaruh interaksi faktor varietas yang ke-j dan warna perangkap yang ke-k

: pengaruh sisa untuk anak petak atau pengaruh sisa karena pengaruh faktor varietas taraf ke-j dan faktor perangkap warna ke-k pada kelompok ke-i.

Terhadap sidik ragam yang nyata, dilanjutkan dengan menggunakan uji duncan pada taraf 5%.

(29)

Pelaksanaan Penelitian Persiapan lahan

Lahan penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari rumput-rumputan dengan menggunakan cangkul. Tanah diolah hingga gembur. Kemudian dibuat petak- petak percobaan dengan ukuran 2,7 m x 1,7 m dan juga parit antar plot sepanjang 30 cm.

Penanaman

Sebelum penanaman, dilakukan penyemprotan herbisida dengan bahan aktif glifosat 7 hari sebelum tanam. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang tanam sedalam 3-4 cm, tiap lubang tanam ditanam 2 benih jagung dengan jarak tanam 75 x 30 cm.

Pemupukan

Pupuk anorganik yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 7.35 g/tanaman N, 2.10 g/tanaman P dan 2.10 g/tanaman K.

Pupuk dimasukkan dalam larikan sedalam 5 cm dengan jarak 7 cm dari lubang tanam, selanjutnya ditutup dengan tanah.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman tanaman dengan menggunakan gembor, penyisipan tanaman apabila ada tanaman yang tidak tumbuh ataupun rusak, penjarangan dilakukan setelah tanaman berumur satu minggu, penyiangan, pembumbunan, dan penyemprotan gulma menggunakan herbisida berbahan aktif glifosat.

(30)

Pembuatan Perangkap Warna Berperekat

Disediakan kayu atau pacak yang tingginya menyesuaikan tinggi tanaman jagung sebanyak 48 buah untuk meletakkan perangkap warna berperekat yang akan digunakan, triplek berukuran 15 cm x 20 cm sebanyak 48 buah yang akan dilapisi dengan stiker berwarna (kuning, biru, putih, hijau), kemudian dilapisi dengan plastik yang telah diolesi lem serangga.

Pemasangan Perangkap Warna Berperekat

Perangkap warna berperekat diletakkan di tengah-tengah plot. Pemasangan perangkap dilakukan sehari sebelum pengamatan, mulai 5 MST hingga 11 MST.

Perangkap diambil dan diamati sehari setelah dipasang di lapangan dengan interval 7 hari sekali.

Panen

Pemanenan dilakukan pada stadium masak fisiologis dengan ciri-ciri tongkol jagung sudah berwarna kuning, jika tongkol dikupas biji akan tampak keras, bernas dan mengkilap serta bila ditekan dengan kuku tangan tidak menunjukkan bekas tekanan. Untuk varietas Pioneer 23 umur masak fisiologisnya adalah 95 hari, varietas Bisi 18 umur masak fisiologisnya adalah 125 hari, varietas Bioseed 54 umur masak fisiologisnya adalah 97 hari, dan varietas Arjuna umur masak fisiologisnya adalah hari (Aqil et al., 2012).

Setelah dipanen, jagung dijemur selama 7 hari untuk mendapatkan pipilan jagung kering, lalu pipilan jagung yang telah kering ditimbang untuk mendapatkan bobot biji pipilan kering.

(31)

Peubah pengamatan

1. Populasi Stenocranus pacificus Pada Perangkap Warna Berperekat

Menghitung populasi dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi S. pacificus yang terperangkap pada beberapa warna perangkap pada masing

masing varietas tanaman jagung. Wereng dikumpulkan dari masing masing perangkap warna berperekat yang ada pada tiap plot. Jumlah populasi dibedakan antar varietas, lalu dibedakan lagi berdasarkan warna. Dari penggunaan perangkap

warna berperekat ini dapat diketahui juga warna yang lebih disukai oleh S. pacificus. Pengambilan data dimulai dari 5 MST sampai dengan 11 MST

berturut-turut, dengan interval 7 hari sekali. Pemasangan perangkap dilakukan hanya sehari sebelum pengambilan data. Keesokan harinya perangkap diambil dari lapangan dan dipasang 6 hari kemudian, S. pacificus yang diperoleh dihitung jumlah seluruhnya.

2. Intensitas Serangan

Jadwal untuk pengambilan data intensitas serangan dimulai dari 5 MST sampai dengan 11 MST berturut-turut, dengan interval 7 hari sekali. Untuk menyatakan intensitas serangan wereng perut putih di daun digunakan rumus:

Keterangan :

I : Intensitas serangan per tanaman ni : Jumlah daun dengan skor ke-i vi : Nilai skor serangan

N : Jumlah daun yang diamati Z : Skor tertinggi

(32)

Nilai skor kerusakan untuk daun ditentukan dengan menggunakan skoring sebagai berikut :

Skor Keterangan Gejala

0 Tidak ada kerusakan daun

Tidak ada luka

1 Kerusakan daun 1- 20%

Kerusakan sangat sedikit (terdapat bintik hitam bekas tusukan stilet dan zat lilin putih pada tulang daun) dengan kerusakan daun pertama dan kedua dari tanaman uji kurang dari 1%

3 Kerusakan daun 21- 40%

Daun pertama dan kedua tanaman uji menguning sebagian, tanpa ada gejala hopperburn.

5 Kerusakan daun 41- 60%

Tanaman menguning dan kerdil jelas atau sekitar 10-25% tanaman uji dari satu galur/varietas layu (terdapat gejala hopperburn).

7 Kerusakan daun 61- 80%

Lebih dari setengah tanaman uji dari satu galur/varietas layu atau mati dan tanaman sisa sangat kerdil atau mengering

9 Kerusakan daun 81- 100%

Semua tanaman uji dari satu galur/varietas mati Sumber : IRRI (2013); Effendi dan Munawar (2012).

3. Bobot Biji Pipilan Kering

Penghitungan bobot biji pipilan kering diambil dari 3 tanaman sampel pada masing-masing anak petak. Tongkol yang dipanen harus dikeringkan dibawah sinar matahari selama seminggu. Setelah dikeringkan lalu jagung dipipil dan ditimbang menggunakan timbangan dan dinyatakan dalam satuan gram .

(33)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan

Populasi S. pacificus Pada Perangkap Warna Berperekat

Hasil penelitian terhadap populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung dengan menggunakan perangkap warna berperekat dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Populasi wereng S. pacificus pada perangkap warna berperekat dari minggu ke 5 sampai dengan minggu ke 11.

Pengamatan

(MST) Varietas Perangkap Warna

Rataan W1(putih) W2 (kuning) W3(biru) W4(hijau)

5

---ekor/tanaman---

V1 (Bioseed 54) 1,00 0,67 1,00 0,67 0,84

V2 (Bisi 18) 1,33 1,67 1,67 1,33 1,5

V3 (Pioneer 32) 2,33 2,33 1,33 1,00 1,75

V4 (Lokal) 0,33 1,00 1,00 1,33 0,915

Rataan 1,25 1,42 1,25 1,08

6

V1 (Bioseed 54) 0,33 0,67 0,33 0,67 0,50

V2 (Bisi 18) 0,00 0,00 0,00 0,33 0,08

V3 (Pioneer 32) 0,33 0,33 0,00 0,33 0,25

V4 (Lokal) 0,00 0,00 0,33 0,67 0,25

Rataan 0,17 0,25 0,17 0,50

7

V1 (Bioseed 54) 0,67 1,00 1,00 0,67 0,84

V2 (Bisi 18) 0,67 1,00 0,33 0,00 0,50

V3 (Pioneer 32) 0,00 1,33 0,33 0,00 0,42

V4 (Lokal) 0,33 1,67 0,67 0,00 0,67

Rataan 0,42bc 1,25a 0,58b 0,17c

8

V1 (Bioseed 54) 0,33 1,00 0,00 0,00 0,33

V2 (Bisi 18) 0,00 1,00 0,67 0,67 0,59

V3 (Pioneer 32) 0,33 1,33 0,67 0,00 0,58

V4 (Lokal) 0,00 2,00 0,67 1,00 0,92

Rataan 0,17b 1,33a 0,50b 0,42b

9

V1 (Bioseed 54) 1,00 1,33 0,33 0,33 0,75

V2 (Bisi 18) 0,67 1,67 0,33 0,67 0,84

V3 (Pioneer 32) 1,00 1,00 0,67 0,33 0,75

V4 (Lokal) 0,00 1,33 0,67 0,33 0,58

Rataan 0,67b 1,33a 0,50b 0,42b

10

V1 (Bioseed 54) 0,67 0,67 0,33 0,00 0,42

V2 (Bisi 18) 0,33 1,00 0,33 1,00 0,67

V3 (Pioneer 32) 1,67 1,00 0,67 0,00 0,84

V4 (Lokal) 1,33 1,33 0,67 0,67 1,00

Rataan 1,00a 1,00a 0,50bc 0,42c

11

V1 (Bioseed 54) 0,33 0,33 0,00 0,00 0,17

V2 (Bisi 18) 0,67 0,67 0,33 0,67 0,59

V3 (Pioneer 32) 1,33 1,00 0,00 1,00 0,83

V4 (Lokal) 0,00 0,67 0,33 1,67 0,67

Rataan 0,58 0,67 0,17 0,84

Keterangan: angka-angka yang diikuti notasi yang berbeda pada kolom dan waktu pengamatan yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan taraf 5%.

(34)

Data hasil pengamatan dan daftar sidik ragam populasi S. pacificus pada perangkap warna berperekat pada umur 5-11 MST diketahui bahwa pada minggu ke 7, 8, 9, dan ke 10 menunjukkan adanya pengaruh penggunaan perangkap warna yang berbeda terhadap banyaknya jumlah wereng yang tertangkap, sementara pada minggu ke 5, 6, dan 11 tidak berpengaruh nyata. Sementara penggunaan varietas yang berbeda dan interaksi antara varietas dengan perangkap warna tidak menunjukkan pengaruh yang nyata.

Pola perkembangan jumlah populasi wereng S. pacificus yang hadir pada varietas jagung yang berbeda dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Perkembangan jumlah populasi wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung yang berbeda.

Gambar 1 menunjukkan bahwa jumlah populasi yang tertinggi (1,75) terdapat pada varietas Pioneer 32 pada minggu ke-5. Dan jumlah populasi terendah (0,08) terdapat pada varietas Bisi 18 pada minggu ke 6. Hal ini sesuai dengan Nelly et al. (2017) yang mengatakan bahwa kelimpahan S. pacificus tertinggi berada pada fase vegetatif tanaman jagung dikarenakan sumber makanan

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2

5 6 7 8 9 10 11

jumlah populasi

mst

V1 (Bioseed 54) V2 (Bisi 18) V3 (Pioneer 32) V4 (Lokal)

(35)

untuk menusukkan stilet pada tanaman dan juga keberadaan dari predator S. pacificus ditentukan oleh fase pertumbuhan tanaman jagung dan lokasi

budidaya tanaman sehingga dapat mempengaruhi keberagaman musuh alaminya.

Setiap varietas memiliki jumlah frekuensi serangan tertinggi yang sama dari minggu ke 5 hingga minggu ke 11, yaitu masing-masing sebanyak 2 kali.

Jumlah populasi wereng tertinggi dapat dilihat pada 5 MST. Ini menunjukkan bahwa verietas tidak mempengaruhi pola penyebaran dari wereng S. pacificus.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nelly et al. (2017) selama pengumpulan S. pacificus diperoleh bahwa fase pertumbuhan jagung dan lokasi budidaya

berpengaruh terhadap jumlah populasi S. pacificus namun tidak pada pola distribusi.

Sementara kecenderungan wereng S. pacificus memilih warna dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Jumlah wereng S. pacificus dalam memilih warna perangkap berperekat (putih, kuning, biru, hijau).

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6

5 6 7 8 9 10 11

Jumlah Populasi

MST

W1 (Putih) W2 (Kuning) W3 (Biru) W4 (Hijau)

(36)

Dari Gambar 2 dapat diketahui bahwa populasi tertinggi wereng S. pacificus (1,42 ekor) didapati pada perangkap warna kuning pada 5 MST.

Jumlah wereng S. pacificus paling sedikit (0,17) didapati pada perangkap warna putih pada 6 dan 8 MST, warna biru pada 6 dan 11 MST, dan warna hijau pada 7 MST. Hal ini sesuai dengan Braham (2014) yang menyatakan bahwa serangga menyukai warna-warna yang kontras. Cara serangga melihat suatu warna tidak seperti cara kita melihat. Seperti halnya warna hijau daun bagi serangga itu adalah warna kuning dan biru secara terpisah, mengingat hijau adalah gabungan warna biru dan kuning sehingga seperti memiliki pantulan yang sama. Menurut hasil penelitian Asyaroh (2007) menyatakan bahwa warna yang mempengaruhi kepekaan penglihatan serangga antara 254 nm-600 nm. Jenis serangga (wereng punggung putih, mrutu, semut dan kepinding tanah) mempunyai kepekaan terhadap warna biru.

Dari Gambar 2 di atas maka dapat diketahui bahwa warna kuning menjadi

warna yang paling disukai oleh wereng. Hal ini sesuai dengan Amir dan Setyo-Budi (2014) yang mengatakan warna kuning mempunyai

persentase refleksi cahaya (intensitas) yang lebih tinggi dibanding warna lainnya seperti biru dan putih, sehingga sangat jelas tertangkap oleh alat penglihatan suatu serangga.

(37)

Intensitas Serangan S. pacificus

Hasil penelitian terhadap intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung pada umur 5-11 MST

Pengamatan Varietas Perangkap Warna Rataan

(MST) W1(putih) W2(kuning) W3(biru) W4(hijau)

---%---

5

V1 (Bioseed 54) 0,40 0,50 0,22 0,22 0,34

V2 (Bisi 18) 0,22 0,22 0,42 0,22 0,27

V3 (Pioneer 32) 0,22 0,57 0,39 0,61 0,45

V4 (Lokal) 0,22 0,22 0,53 0,22 0,30

Rataan 0,27 0,38 0,39 0,32

6

V1 (Bioseed 54) 0,33 0,52 0,22 0,69 0,44

V2 (Bisi 18) 0,41 0,43 0,43 0,32 0,40

V3 (Pioneer 32) 0,22 0,64 0,32 0,53 0,43

V4 (Lokal) 0,22 0,43 0,55 0,22 0,36

Rataan 0,30 0,51 0,38 0,44

7

V1 (Bioseed 54) 0,36 0,96 0,12 2,33 0,94

V2 (Bisi 18) 1,00 0,46 0,95 0,35 0,69

V3 (Pioneer 32) 0,12 0,50 0,58 0,62 0,46

V4 (Lokal) 0,40 0,48 1,55 0,25 0,67

Rataan 0,47 0,60 0,80 0,89

8

V1 (Bioseed 54) 0,52e 1,20c 0,33e 3,81a 1,47

V2 (Bisi 18) 1,28b 0,62d 1,88a 0,43e 1,05

V3 (Pioneer 32) 0,09e 0,99cd 0,72d 0,77d 0,64

V4 (Lokal) 0,81d 0,51e 1,21c 0,55de 0,77

Rataan 0,68a 0,83a 1,04a 1,39a

9

V1 (Bioseed 54) 0,59g 1,30de 0,29h 3,48b 1,42b

V2 (Bisi 18) 1,62cd 1,99bc 3,49a 0,68g 1,95a

V3 (Pioneer 32) 0,18h 0,77f 0,77g 0,70g 0,61c

V4 (Lokal) 0,73g 0,73g 1,30e 0,50gh 0,82bc

Rataan 0,78 1,20 1,46 1,34

10

V1 (Bioseed 54) 0,76 1,38 0,66 1,12 0,98

V2 (Bisi 18) 2,05 1,67 1,96 0,82 1,63

V3 (Pioneer 32) 0,55 0,92 0,87 0,70 0,76

V4 (Lokal) 0,78 0,71 1,21 0,70 0,85

Rataan 1,04 1,17 1,18 0,84

11

V1 (Bioseed 54) 0,76 1,38 0,66 1,12 0,98

V2 (Bisi 18) 2,05 1,67 1,96 0,82 1,63

V3 (Pioneer 32) 0,55 0,92 0,87 0,70 0,76

V4 (Lokal) 0,78 0,71 1,21 0,70 0,85

Rataan 1,04 1,17 1,18 0,84

Keterangan: angka-angka yang diikuti notasi yang berbeda pada kolom dan waktu pengamatan yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan taraf 5%.

(38)

Data hasil pengamatan dan daftar sidik ragam intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung pada umur 5-11 MST diketahui

bahwa pada minggu ke 9 menunjukkan adanya pengaruh yang nyata penggunaan varietas terhadap besarnya intensitas serangan, sementara pada minggu ke 5, 6, 7, 8, 10, dan 11 tidak berpengaruh nyata.

Pada minggu ke 8 menunjukkan adanya pengaruh yang nyata terhadap penggunaan perangkap warna terhadap jumlah intensitas serangan yang muncul pada tanaman, sementara pada minggu ke 5, 6, 7, 9, 10, dan 11 tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Interaksi antara kedua perlakuan, penggunaan varietas yang berbeda dan perangkap warna yang berbeda juga berpengaruh nyata pada minggu ke 8 dan 9, sementara pada minggu ke 5, 6, 7, 10, dan 11 tidak berbeda nyata, hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Pola perubahan intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung pada umur 5-11 MST dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Perubahan intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung pada umur 5-11 MST.

0 0,5 1 1,5 2 2,5

5 6 7 8 9 10 11

Intensitas Serangan (%)

MST

V1 ( Bioseed 54) V2 (Bisi 18) V3 (Pioneer 32) V4 (lokal)

(39)

Hasil pada Gambar 3 menunjukkan bahwa intensitas serangan tertinggi (1,95%) terdapat di minggu ke 9 pada varietas Bisi 12, dan intensitas serangan terendah (0,27%) terdapat pada minggu ke 5 pada varietas Bisi 12.

Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa tingkat intensitas serangan wereng S. pacificus tertinggi pada 9 MST dengan persentase kerusakan sebesar 1,95% dan tidak sampai menimbulkan gejala kerusakan yang berat seperti hopperburn dan hanya muncul bercak-bercak lilin berwarna putih dimana hal ini

sesuai dengan literatur Susilo et al. (2017) bahwa pada 40 hst lilin-lilin putih dan bercak mulai terlihat. Kondisi dan penampilan tanaman jagung pada 70 hst atau 88 hst, serupa dengan yang ada pada 40 hst. Gejala hopperburn mulai terdeteksi pada 88 hst.

Varietas Bisi 18 dan Bioseed 54 adalah varietas yang paling rentan terhadap serangan wereng S. pacificus dikarenakan varietas-varietas tersebut yang paling dominan terserang oleh wereng S. pacificus. Hal ini diduga karena varietas Varietas Bisi 18 dan Bioseed 54 bukan merupakan varietas yang tahan terhadap serangan wereng dan tidak memiliki antibiosis yang bersifat meracuni serangga.

Hal ini sesuai dengan Sodiq (2009) bahwa penggunaan varietas yang tahan terhadap serangan S. pacificus dapat menurunkan jumlah populasi dikarenakan varietas tahan memiliki antibiosis yang lebih tinggi terhadap serangga, jika serangga memakan tanaman yang bersifat antibiosis dapat mengakibatkan pertumbuhan abnormal, matinya stadium larva dan nimfa, pertumbuhan yang lambat, penurunan jumlah telur dan imago yang dihasilkan, berkurangnya keperidian.

(40)

Bobot Biji Pipilan Kering

Tabel 3. Bobot biji pipilan kering empat varietas tanaman jagung yang terserang wereng S. pacificus (g/tanaman sampel)

Varietas

Perangkap Warna

Rataan W1(putih) W2(kuning) W3(biru) W4(hijau)

--- g---

V1 (Bioseed 54) 187,59 132 170,29 158,63 162,13a

V2 (Bisi 18) 134,89 141,95 130,16 148,46 138,87b

V3 (Pioneer 32) 134,13 135,88 113,25 144,2 131,87bc

V4 (lokal) 91,42 125,54 96,37 82,85 99,05c

Rataan 137,01 133,84 127,52 133,54

Keterangan: angka-angka yang diikuti notasi yang berbeda pada kolom dan waktu pengamatan yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada uji Duncan taraf 5%.

Data hasil pengamatan dan daftar sidik ragam hasil panen jagung keempat varietas yang ditimbang bobot biji pipilan kering (g/sampel) diketahui bahwa masing-masing varietas menunjukkan hasil yang berbeda nyata.

Pola perbedaan hasil panen keempat varietas jagung yang ditimbang dalam bentuk pipilan setelah dikeringkan 7 hari dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Perbedaan hasil panen keempat varietas jagung yang diserang wereng S. pacificus

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00

V1 V2 V3 V4

berat pipilan (g)

V1 : Bioseed 54 V2 : Bisi 18 V3 : Pioneer 32 V4 : Lokal

(41)

Dari Gambar 4 di atas dapat diketahui bahwa varietas Bioseed memiliki hasil panen yang lebih tinggi dengan nilai 162,13 g, dan varietas lokal memiliki

hasil panen yang lebih rendah dengan angka 99,05 g. Hal ini sesuai dengan SK Mentan (2015) yang menyatakan bahwa Bioseed 54 memiliki keunggulan

potensi dan rata-rata hasil tinggi.

(42)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Intensitas serangan tertinggi terdapat di minggu ke-9 pada varietas Bisi 18, yaitu sebesar 1,95% dan intensitas serangan terendah terdapat di minggu ke-5 pada varietas Bisi 12 sebesar 0,27%.

2. Jumlah populasi wereng tertinggi berdasarkan varietas jagung yaitu terdapat pada varietas Pioneer 32 minggu ke-5 sebesar 1,75 ekor dan jumlah populasi terendah terdapat pada varietas Bisi 18 minggu ke 6 sebesar 0,08 ekor.

3. Jumlah populasi wereng tertinggi terdapat pada warna kuning minggu ke-5 sebesar 1,42 ekor dan Jumlah wereng paling sedikit didapati pada perangkap warna putih pada 6 dan 8 MST, warna biru pada 6 dan 11 MST, dan warna hijau pada 7 MST sebesar 0,17 ekor.

4. Warna kuning adalah warna yang disukai wereng S. pacificus.

5. Adanya pengaruh antara varietas dan perangkap warna berperekat terhadap intensitas serangan wereng.

Saran

Tidak ditemukannya varietas yang tahan karena jumlah wereng yang tidak banyak, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan.

(43)

DAFTAR PUSTAKA

Asyaroh, H. I., 2007. Pengaruh panjang gelombang cahaya tampak terhadap serangga. Thesis. Universitas Airlangga.

Amir, A. M. dan U. Setyo-Budi. 2014. Preferensi perangkap berwarna terhadap

thrips dan serangga lainnya pada tanaman Rosela minuman (Hibiscus sabdariffa var. Sabdarifa). Balai Penelitian Tanaman Pemanis

dan Serat. Malang.

Aqil, M., C. Rapar, dan Zubachtirodin. 2012. Deskripsi varietas unggul jagung.

Kementerian Pertanian. 134 hal.

Braham, M. 2014. Role of trap colors and exposure time of pheromone on

trapping efficacy of males of the tomato leafminer, Tuta absoluta (Meyrick, 1917) (Lepidoptera: Gelechiidae).

Afr. J. Agric. Res. 9(29):2263-2271.

Catindig, J.L.A., G.S. Arida, S.E. Baehaki, J.S. Bentur, L.Q. Cuong, M. Norowi, W. Rattanakarn, W. Sriratanasak, J. Xia, and Z. Lu. 2009. Situation of planthoppers in Asia. Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia. Ed. K.L.

Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.191-220

Cayabyab, B.F., P.Leyza, R.W. Cuartero., and O. Calcetas. 2009. Spreading

menace of the new invasive corn planthopper pest, Stenocranus pacificus Kirkaldy (Delphacidae: Hemiptera). J. Philipp.

Entomol. 23:193-195.

Cheng, J. 2009. Rice planthopper problems and relevant causes in China. Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia. Ed. K.L. Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.157 – 177.

Diaz, C.N., E.L. Albarracin, and M. Alderete. 2016. Preferencia de Oviposición de Peregrinus maidis (Hemiptera: Delphacidae) en Distintas Plantas Hospederas. Revista de la Soc. Entomol. 75(3-4):139-146

Dumayo L.S., M.P. Ogdang, dan P.S. Leyza. 2007. Biology, host range and natural enemies of corn planthopper, Stenocranus pacificus Kirkaldy.

J. Philipp. Crop Sci. 32(1):47-48.

(44)

Dupo, A.L.B. and A.T. Barrion. 2009. Taxonomy and general biology of delphacid planthoppers in rice agroecosystems. Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia.

Ed. K.L. Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.3 – 155.

Effendi, B.S. dan D. Munawar. 2012. Uji Ketahanan Galur Padi Terhadap Wereng Coklat Biotipe 3 Melalui Population Build-up. J. Entomol. Indonesia.

10(1):7-17

Fujita, D., K.K.M. Myint, M. Matsumura, and H. Yasui. 2009. The genetics of host-plant resistance to rice planthopper and leafhopper. Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia. Ed. K.L. Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.389 – 399.

Gulo, S.A., D. Bakti, dan F. Zahra. 2014. Keanekaragaman jenis serangga pada

beberapa varietas jagung hibrida dan jagung transgenik.

J. Onl. Agroekotek. 2(4): 1347-1358

Heong, K.L. 2009. Are planthopper problems caused by a breakdown in ecosystem services?. Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia. Ed. K.L.

Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.221-231

IRRI. 2013. Standart Evaluation System for Rice 5th ed. Manila, Philippines.

Pp.52.

Kementerian Pertanian. 2015. Pelepasan galur jagung Hibrida B 54 sebagai varietas unggul dengan nama B 54. Diakses dari http://perundangan.pertanian.go.id/. (15 juni 2018)

Kementerian Pertanian. 2018. Data Lima Tahun Terakhir. Diakses dari https://www.pertanian.go.id/home/ (07 Juli 2018)

Larasati, G. K. 2011. Respon Populasi Hasil Persilangan Tanaman Jagung Terhadap Pemupukan Fosfor. Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember. Jember.

Murni, A.M. dan R.W.Arief. 2008. Teknologi Budidaya Jagung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Lampung.

(45)

Nelly, N., My Syahrawati, H. Hamid. 2016. Abundance of Corn Planthopper (Stenocranus pacificus) (Hemiptera: Delphacidae) and The Potential Natural Enemies in West Sumatra, Indonesia. Biodiversitas.

18(2):696-700.

Pribadi, A dan I. Anggraeni. 2010. Pengaruh Temperatur dan Kelembaban Terhadap Tingkat Kerusakan Daun Jabon (Anthocephalus cadamba) Oleh Arthrochista hilaralis . J. Penelitian Hutan Tanaman. 8(1):1-7.

Simbolon, D.U. 2018. Beberapa Aspek Biologi Wereng Perut Putih (Stenocranus pacificus Kirkaldy) (Hemiptera: Delphacidae) Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Rumah Kasa. Skripsi.

Universitas Sumatera Utara

Sodiq, M. 2009. Ketahanan Tanaman Terhadap Hama. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Surabaya, Jawa Timur.

Sudhir K., R. Srivastava, Biswas, D.K. Garg, B.K. Gyawali, N.M.M. Haque, P. Ijaj, S. Jaipal, N.Q. Kamal, P. Kumar, M. Pathak, P.K. Pathak, C.S. Prasad, M. Ramzan, A. Rehman, M. Rurmzan, M. Salim, A. Singh, U.S. Singh and S.N. Tiwari. 2004. Management of Stem Borers of Rice and Wheat in Rice-wheat System of Pakistan, Nepal, India and Bangladesh. Rice-Wheat Consortium Paper Series 17. New Delhi, India:

Rice-Wheat Consortium for the Indo-Gangetic Plains. pp 191.

Suharsono. 2006. Antixenosis Morfologis Salah Satu Faktor Ketahanan Kedelai Terhadap Hama Pemakan Polong. Buletin Palawija. 11: 29-34.

Susilo F.X dan I.G. Swibawa. 2002. Insect pests in agroecosystem where three corn varieties were grown under conservation versus full tillage system in Natar, South Lampung, in 2001 growing season. J. Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika. 2(1):8-14.

Susilo, F.X., I.G. Swibawa, Indriyati, A. M. Hariri, Purnomo, R. Hasibuan, L. Wibowo, R. Suharjo, Y. Fitriana, S. R. Dirmawati, Solikhin, Sumardiyono, R. A. Rwandini, D. R. Sembodo, dan Suputa. 2017. The White-Bellied Planthopper (Hemiptera: Delphacidae) Infesting Corn Plants In South Lampung, Indonesia. J. Hama Penyakit Tanaman Tropika.

17(96):103.

Surtikanti. 2011. Hama Dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya. Dalam Seminar Nasional Serelia. Maros 3-4 Oktober 2011. 497-508.

(46)

Sriyenti, N. 2008. Pengujian Ketahanan Beberapa Varietas Padi yang Telah Dilepas di Sumatera Barat Terhadap Serangan Wereng Batang Coklat, Nilaparvata lugens Stall (Homoptera: Delphacidae). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang. 69 hal.

Talanca, A.H. 2011. Reaksi Beberapa Varietas Jagung Hibrida Terhadap Penyakit Bulai. Dalam Seminar Nasional Serelia. Maros 3-4 Oktober 2011. 415-418 Watanabe, T., M. Matsumura, and A. Otuka. 2009. Recent occurrences of long distance migratory planthoppers and factors causing outbreaks in Japan.

Dalam Planthoppers: New Threats of the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia. Ed. K.L. Heong and B. Hardy. International Rice Research Institute (IRRI). Metro Manila, Philippines. pp.179-189 Zulaiha, S., Suprapto, dan Apriyanto, D. 2012. Infestasi Beberapa Hama Penting

Terhadap Jagung Hibrida Pengembangan Dari Jagung Lokal Bengkulu Pada Kondisi Input Rendah Di Dataran Tinggi Andisol. J. Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. 1(1):15-28

(47)

Lampiran 1. Data pengamatan intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung minggu ke-5

Perlakuan Ulangan

Total Rataan

1 2 3

V1

W1 0,22 0,76 0,22 1,21 0,40

W2 0,22 1,05 0,22 1,50 0,50

W3 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W4 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

V2

W1 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W2 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W3 0,22 0,22 0,82 1,26 0,42

W4 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

V3

W1 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W2 0,22 1,25 0,22 1,70 0,57

W3 0,22 0,72 0,22 1,16 0,39

W4 0,22 1,39 0,22 1,84 0,61

V4

W1 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W2 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

W3 0,22 1,13 0,22 1,58 0,53

W4 0,22 0,22 0,22 0,67 0,22

Total 3,58 8,54 4,17 16,29 5,43

Rataan 0,33 0,80 0,39 0,34

Lampiran 2. Daftar sidik ragam intensitas serangan wereng S. pacificus pada empat varietas tanaman jagung minggu ke-5

Sk Db Jk Kt Fhit Ftabel Ket

Ulangan 2 0,92 0,46 3,47 5,14 tn

petak utama (V) 3 0,21 0,07 0,54 4,76 tn

galat 6 0,79 0,13

anak petak (W) 3 0,11 0,04 0,61 3,01 tn

interaksi 9 0,64 0,07 1,13 2,30 tn

galat 24 1,50 0,06

total 47 4,17

FK 5,53

kk (a) 7%

kk (b) 5%

Gambar

Gambar 2. Siklus hidup Wereng S. pacificus
Gambar 4. A.  Lilin putih disepanjang vena daun pada permukaan bawah daun                             (Sumber: Susilo et al., 2017)
Gambar 1. Perkembangan jumlah populasi wereng S. pacificus pada empat       varietas tanaman jagung yang berbeda
Gambar 2. Jumlah wereng S. pacificus dalam memilih warna perangkap        berperekat (putih, kuning, biru, hijau)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Proses kreatif yang dilakukan peneliti yaitu dari memperoleh gagasan atau masalah yang ada pada kehidupan nyata sebagai sumber untuk menciptakan suatu karya seni

• Kemampuan dan keterampilan berpikir kreatif dan imajinatif (creative-thinking skills). Berpikir kreatif adalah bagaimana cara orang menangani masalah dan mencari

Berdasarkan hasil uji ahli materi, ahli media dan ahli bahasa, skor yang diperoleh berturut-turut (4,08), (4,53), dan (4,27) maka media pembelajaran (modul)

khususnya para petani. Dengan adanya agrowisata, pendapatan dari petani tidak saja dari hasil panen komoditas tapi juga hasil dari agrowisata. Bagaimana bisa? Karena

Salah satu manfaat dari metode network planning adalah dapat membantu perusahaan dalam membuat jadwal penyelesaian suatu proyek atau produksi.Untuk dapat membuat jadwal

pengawas atau tim soal atau dosen. Peserta yang mampu mendapatkan point tertinggi dalam ujian, akan di ranking dan langsung dinyatakan sebagai pemenang Olimpiade

Jika User ingin memilih menambah data barang, pilih tambah barang maka akan muncul halaman seperti gambar di bawah ini. User harus memasukkan kode plastik, Type plastik, Ukuran

Keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni sebagai sebuah kebijakan yang dijalan suatu organisasi pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial Tenaga Kerja dan