DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN RI
EITI WEBINAR
Zoom Meeting RABU, 7 JULI 2021
TRANSPARANSI PEMANFAATAN
SUMBER DAYA ALAM KEPADA
PUBLIK SEBAGAI UPAYA GOOD
GOVERNANCE
OUTLINE
Prinsip umum DBH
Perkembangan DBH
Mekanisme Penetapan Alokasi DBH dan Formula Pembagian DBH Migas
Keterbukaan Informasi
Upaya Perbaikan Kebijakan
Kesimpulan
DANA BAGI HASIL
Pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
PENGERTIAN
Untuk memperbaiki keseimbangan vertikal (vertical imbalance) antara pusat dan daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil.
TUJUAN
PRINSIP PEMBAGIAN: BY ORIGIN
Penyaluran DBH berdasarkan realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan (Pasal 23 UU 33/2004).
PRINSIP PENYALURAN: BASED ON ACTUAL REVENUE
• Dibagi kepada daerah penghasil sesuai dengan porsi yang ditetapkan dalam UU No. 33/2004.
• Dibagi dengan imbangan Daerah penghasil mendapatkan porsi lebih besar, dan Daerah lain (dalam provinsi yang bersangkutan) mendapatkan bagian
pemerataan dengan porsi tertentu yang ditetapkan dalam UU.
• DBH Pajak → PPh, PBB P3, CHT
• DBH SDA → Kehutanan, Minerba, Panas Bumi, Minyak dan Gas Bumi, Perikanan
JENIS
MEKANISME PENETAPAN PERKIRAAN ALOKASI DBH BERDASARKAN PP 55/2005
UU APBN/
APBN-P
KESDM
DJPK
KEMENDAGRI
Penetapan Daerah Pengahasil PNPB SDA
KESDM
SK Daerah Penghasil dan Dasar Perhitungan
DJA
Konsultasi batas wilayah
Rencana
penerimaan per Prov, Kab./Kota dalam rupiah
Penghitungan DBH
PERPRES (UU APBN/
APBN-P) PMK
TRANSPARAN - Rekonsiliasi data
PNBP antara
Kementerian terkait dengan Pemda
- Informasi realisasi penyaluran DBH
- Dilaporkan dalam - Diperiksa BPKLKPP AKUNTABEL
4
ALUR BISNIS PERHITUNGAN DBH SDA MIGAS
SKK
MIGAS DJA DJPK PEMDA
PNBP SDA Migas per KKKS Distribusi
Revenue Bagian Pemerintah
DBH SDA Migas per Daerah
KESDM
Lifting Migas per Daerah penghasil Faktor
Pengurang dihitung
DISTRIBUSI
KEWENANGAN BAGI HASIL
DAERAH
PROPORSI PEMBAGIAN PNBP MIGAS
6 Pusat
84,5% Pemda 15,5%
MINYAK BUMI
Pusat
69,5% Pemda 30,5%
GAS BUMI
Pusat
30,0% Pemda 70,0%
MIGAS OTSUS*)
*) Berdasarkan UU No. 21 Tahun 2001 yang telah diubah dengan UU No. 35 Tahun 2008 tentang Otonomi Khusus Bagi Papua dan UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
Lifting Minyak Bumi
• Tiap Daerah
• Tiap KKKS
• Tiap Jenis Minyak
PNBP SDA Minyak Bumi
• Tiap KKKS
• Tiap Jenis Minyak Lifting Gas Bumi
• Tiap Daerah
• Tiap KKKS
PNBP SDA Gas Bumi
• Tiap KKKS
KEMENTERIAN ESDM KEMENTERIAN KEUANGAN PENYEDIA DATA PERHITUNGAN DBH MIGAS
DASAR HUKUM PENGALOKASIAN DBH MIGAS
1. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
2. PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan
3. PMK No. 139/PMK.07/2019 jo. PMK No. 233/PMK.07/2020 tentang Pengelolaan Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Otsus
REALISASI DBH 2018-2020 DAN ALOKASI DBH 2021
Pajak
48.617,37 M Pajak
42.295,10 M
Pajak 47.407,76 M
Pajak 46.326,19 M SDA
45.086,67 M
SDA
61.684,87 M SDA
46.498,60 M SDA
35.635,43 M
- 20.000,00 M 40.000,00 M 60.000,00 M 80.000,00 M 100.000,00 M 120.000,00 M
2018 2019 2020 2021
Realisasi Alokasi
SDA Lainnya 22.611,04 M
SDA Lainnya 29.726,16 M
SDA Lainnya 25.826,22 M
SDA Lainnya 21.450,65 M
Migas 22.475,63 M
Migas 31.958,71 M
Migas
20.672,39 M Migas 14.184,78 M
- 10.000,00 M 20.000,00 M 30.000,00 M 40.000,00 M 50.000,00 M 60.000,00 M 70.000,00 M
2018 2019 2020 2021
Realisasi Alokasi
DBH SDA TERHADAP TOTAL DBH
Proporsi DBH SDA terhadap Total DBH secara nasional setiap tahunnya mengalami fluktuasi antara 43,48%
(pada tahun 2021) dan yang tertinggi sebesar 59,32%
(pada tahun 2019).
Hal tersebut disebabkan karena fluktuasi dari harga
DBH MIGAS TERHADAP DBH SDA
Proporsi DBH Migas terhadap DBH SDA secara nasional setiap tahunnya mengalami fluktuasi antara 39,81% (pada tahun 2021) dan yang tertinggi sebesar 51,81% (pada tahun 2019). Hal tersebut selaras dengan share DBH SDA terhadap total DBH, bahwa share
(dalam miliar rupiah) (dalam miliar rupiah)
DBH Migas 1.997,09 M
DBH Migas
1.039,80 M DBH Migas
965,76 M DBH Migas
603,92 M DBH Migas 406,05 M DBH Lainnya
258,52 M
DBH Lainnya 801,41 M
DBH Lainnya
990,14 M DBH Lainnya 1.601,06 M
DBH Lainnya 165,33 M
- 500,00 M 1.000,00 M 1.500,00 M 2.000,00 M 2.500,00 M
Provinsi Papua Barat
Provinsi Riau Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Aceh
DBH MIGAS SEBAGAI PENDAPATAN DALAM APBD
8
DBH Migas 1.127,46 M
DBH Migas 1.099,10 M
DBH Migas 377,19 M
DBH Migas 412,88 M
DBH Migas 394,82 M DBH Lainnya
787,45 M DBH Lainnya
494,33 M DBH Lainnya
1.358,72 M DBH Lainnya 251,66 M
DBH Lainnya 2.352,28 M
- 500,00 M 1.000,00 M 1.500,00 M 2.000,00 M 2.500,00 M 3.000,00 M
Kab. Musi Banyuasin
Kab.
Bojonegoro
Kab. Bengkalis Kab. Rokan Hilir Kab. Kutai Kartanegara
5 PROVINSI TERBESAR
5 KAB/KOTA TERBESAR
➢Tingginya DBH Migas Prov.
Papua Barat dan Prov. Aceh disebabkan karena keduanya mendapatkan tambahan alokasi DBH Migas dalam rangka otsus sebagaimana diamanatkan dalam UU Otsus Papua dan UU Pemerintahan Aceh
➢Kontribusi DBH Migas di Kab.
Bojonegoro dan Kab. Rokan Hilir >60% dibandingkan dengan total DBH, sehingga tingkat ketergantungan keduanya terhadap PNBP Migas relative lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya
(dalam miliar rupiah)
(dalam miliar rupiah)
KETERBUKAAN INFORMASI DATA DBH KEPADA PUBLIK DAN PEMDA
• Pelaksanaan bedah kertas kerja perhitungan realisasi DBH Migas dan Minerba yang telah dilaksanakan sejak tahun 2018 dengan melibatkan stakeholder dibidang pertambangan migas dan minerba (KESDM, SKK Migas, Kemendagri, DJA, DJP, dan Pemda penghasil)
• Output kegiatan bedah kertas kerja menjadi informasi dan panduan bagi daerah dalam penganggaran DBH dalam APBD serta perbaikan pengelolaan DBH di pusat.
BEDAH KERTAS KERJA DBH MIGAS DAN MINERBA
• Sosialisasi Kebijakan umum DBH
• Sosialisasi kebijakan penggunaan DBH DR (earmarked)
• Sosialisasi kebijakan penggunaan DBH CHT (earmarked)
SOSIALISASI KEBIJAKAN DBH
PENYAMPAIAN INFORMASI TERKAIT HKPD LAINNYA TUNTUTAN
STAKEHOLDERS
Publik dan Pemerintah Daerah meminta
Pemerintah pusat selaku regulator, dan Perusahaan
Pertambangan selaku pelaku untuk terbuka dalam penyampaian informasi dan data terkait industri hulu migas
UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN KEMENKEU-DJPK
• SKK Migas
• KemenESDM
• Kemenkeu (DJA, DJPK, DJP, DJKN, Pusintek-Setjen)
UNIT YANG TERLIBAT
10
• Data Hulu Migas;
• Data NPWP, PPN Reimbursement, data vendor, FQR
• Laporan A0 (Nama per K3S, Lifting, Real Harga), Dist revenue, data tagihan kewajiban kontraktual;
• Data asset (kekayaan negara);
• Data prognosa dan realisasi per K3S
• Data realisasi lifting Migas per K3S dan per daerah;
• Data Alokasi dan Realiasi DBH Migas per daerah;
DATA YANG TERLIBAT
TUJUAN
Terbangunnya sistem Informasi terpadu dan terintegrasi menuju transparansi dan akuntabilitas
pengeloaan hulu migas
PELAKSANAAN DAN PROGRESS
PENGEMBANGAN BERSAMA SOT HULU MIGAS
LANDASAN
Nota Kesepahaman Dirjen Anggaran Kemenkeu
dengan SKK Migas tentang Pembangunan Sistem Informasi Terintegrasi Pengelolaan Penerimaan Negara Dan Barang Milik Negara Dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi
PROGRESS SAAT INI
Proses Komunikasi, Koordinasi, pertukaran data sudah berjalan, namun belum terhubung dengan sistem informasi yang online dan terintegrasi.
KESIMPULAN
✓ Sebagai bagian dari kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, Pemerintah telah mengalokasikan dan menyaluran Dana Bagi Hasil dari penerimaan negara yang bersumber dari Minyak dan Gas Bumi. PNBP Migas merupakan salah satu penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada pemerintah daerah;
✓ Pengelolaan DBH telah dilaksanakan seoptimal mungkin memenuhi prinsip tata kelola yang baik (good governance), diantaranya dengan peningkatan transparansi
penerimaan negara dan DBH bagi pemerintah daerah, berupa:
a. DJPK secara rutin telah melaksanakan bedah kertas kerja perhitungan realisasi DBH Migas dan Minerba dengan melibatkan stakeholder dibidang pertambangan migas dan minerba (KESDM, SKK Migas, Kemendagri, DJA, DJP, dan Pemda
penghasil);
b. Penyampaian informasi alokasi dan penyaluran DBH melalui website.
✓ Upaya perbaikan kebijakan pengelolaan DBH juga terus dilakukan, di antaranya
melalui penyempurnaan peraturan perundang-undangan.
DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN RI