• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Efektivitas Iklan Youtube terhadap Brand Image

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengaruh Efektivitas Iklan Youtube terhadap Brand Image"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ORISINAL

Pengaruh Efektivitas Iklan Youtube terhadap Brand Image

Monique Helenaadan El Chris Nataliab

abUniversitas Katolik Indonesia Atma Jaya

DOI: https://doi.org/10.21776/ub.tuturlogi.2021.002.02.3

Advertising is used by companies as a way to market products and services. YouTube is currently the most popular social media in Indonesia and has become a platform of marketing the company's products and services. Head & Shoulders, which is under the auspices of the Procter & Gamble company uses YouTube in marketing and promoting its products. This research focuses on Joe Taslim's “Head & Shoulders” Bloopers YouTube ad. This study aims to determine the influence of the effectiveness of Joe Taslim's "Head & Shoulders" YouTube Bloopers ad on the formation of the company's brand image. The variable in this study is the effectiveness of advertising with dimensions, namely awareness, knowledge, likes, and choices.

The brand image variable uses the dimensions of brand identity, brand personality, brand association, brand behavior and attitudes, as well as brand competence and benefits. This research uses an explanative quantitative method. The data was collected through survey methods and online questionnaires to 100 respondents. The result of the analysis indicates that there is a positive influence between Joe Taslim's “Head & Shoulders” YouTube Bloopers ad on the formation of the company's brand image.

Keywords: marketing communication, effectiveness of ads, brand image.

Iklan digunakan perusahaan sebagai suatu cara untuk memasarkan produk dan jasa. YouTube saat ini merupakan media sosial paling populer di Indonesia dan telah menjadi sarana untuk memasarkan produk dan jasa dari perusahaan. Head & Shoulders, yang berada di bawah naungan perusahaan Procter & Gamble menggunakan YouTube dalam memasarkan dan mempromosikan produknya. Penelitian ini berfokus pada iklan YouTube Bloopers Joe Taslim

“Head & Shoulders”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan. Variabel pada penelitian ini adalah efektivitas iklan dengan dimensi, yaitu kesadaran, pengetahuan, menyukai, dan pilihan. Pada variabel brand image menggunakan dimensi identitas merek, kepribadian merek, asosiasi merek, perilaku dan sikap merek, serta kompetensi dan manfaat merek. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksplanatif.

Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dan penyebaran kuesioner secara daring kepada 100 responden. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh positif antara iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan.

Kata Kunci: komunikasi pemasaran, efektivitas iklan; citra merek.

(2)

Globalisasi memengaruhi pesatnya perkembangan teknologi. Keberadaan teknologi pada saat ini memberikan peran yang penting bagi kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan internet memudahkan masyarakat dalam mencari, menerima, dan menyebarkan berbagai informasi yang mampu menjangkau masyarakat secara luas.

Informasi tersebut menjadi kebutuhan bagi seseorang dan kebutuhan informasi ini terjadi karena adanya kesadaran akan pengetahuan dan pemahaman yang kurang akan sesuatu untuk mencapai tujuan, menjawab pertanyaan, dan lainnya (Batley dalam Amanda et al., 2017). Berdasarkan hasil survei Hootsuite dan We Are Social tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan internet tercepat di mana pada posisi pertama diduduki oleh negara India, dan posisi kedua diduduki oleh negara Cina (We Are Social, 2020)

Media sosial merupakan salah satu alat yang sering dipakai oleh masyarakat dalam bertukar informasi. Media sosial merupakan suatu alat komunikasi yang digunakan oleh para penggunanya dalam proses sosial (Mulawarman & Nurfitri, 2017). Dikutip dari We Are Social (2020), pada bulan Januari 2020, ada 175,4 juta jiwa pengguna internet di Indonesia, selain itu juga terdapat 160 juta jiwa pengguna aktif media sosial di Indonesia dengan durasi penggunaan, yaitu selama 7 jam 59 menit dalam sehari. Berdasarkan data tersebut maka bisa dikatakan bahwa pada saat ini masyarakat memiliki kebiasaan atau kecanduan untuk menggunakan media sosial.

Data mengenai durasi penggunaan media sosial dan media sosial paling populer di Indonesia dapat menjadi peluang untuk perusahaan dalam melakukan kegiatan komunikasi, khususnya komunikasi pemasaran. Menurut Indrawati et al. (2017), perusahaan melakukan berbagai cara untuk memenangkan pasar, mulai dari cara tradisional hingga menggunakan media digital. Cara-cara yang dilakukan penting untuk mengomunikasikan produk perusahaan dan menimbulkan keinginan konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan. Maka, perusahaan bisa menggunakan iklan sebagai salah satu cara dalam melakukan promosi.

Iklan menjadi suatu cara yang efektif untuk memberikan suatu informasi dari produk, walaupun informasi juga dapat diberikan melalui kemasan produk, brosur, pameran, kunjungan dari tenaga penjual atau metode lainnya. Iklan cenderung dapat mengajak konsumen untuk membeli suatu produk tertentu (Handoyo dalam Nurhayati, 2012). Iklan memiliki peran yang penting dalam persaingan perusahaan, di mana iklan dapat melakukan interaksi secara tidak langsung bagi perusahaan serta pelanggan setia maupun calon pengguna baru. Perusahaan menggunakan iklan di media sosial untuk memasarkan produk atau layanan yang akan ditargetkan kepada khalayak yang telah ditentukan. Selain lebih murah dibandingkan iklan pada billboard atau televisi, iklan di media sosial juga mampu menjangkau masyarakat secara luas. Komunikasi pemasaran ini dapat juga disebut sebagai online marketing yang merupakan salah satu strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan dengan menggunakan internet sebagai wadah untuk melakukan kegiatan marketing. Salah satu media yang sedang ramai digunakan dalam melakukan iklan saat ini adalah YouTube.

Menurut Jayani (2020), YouTube termasuk salah satu media sosial yang terkenal di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan YouTube menjadi sebuah media sosial yang paling

(3)

sering digunakan oleh masyarakat Indonesia. Media sosial YouTube ada pada peringkat pertama dengan nilai persentase sebesar 88% dibandingkan dengan media sosial lainnya.

YouTube adalah salah satu bentuk dari media sosial yang diakses melalui situs daring dalam bentuk berbagi video. YouTube yang merupakan bagian dari Google memberikan sarana bagi audiensnya untuk mengunggah video yang dapat ditonton oleh audiens lain dari seluruh dunia tanpa harus membayar atau gratis. YouTube merupakan database video yang paling populer dalam internet karena lengkap dan konten yang ditawarkan beragam.

Pada dasarnya video yang ada pada platform ini menampilkan klip musik, film, TV, serta video buatan pengguna dari YouTube itu sendiri (Nanuru, 2017).

YouTube sangat mendukung pertumbuhan pencipta konten dan juga penonton (viewers) untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan minat publik akan penggunaan YouTube. Frekuensi penggunaan YouTube yang tinggi memberikan dampak pada tingginya minat perusahaan atau organisasi untuk memakai YouTube sebagai media pemasarannya. Komunitas kreator semakin ditingkatkan oleh YouTube dikarenakan banyaknya investasi yang ditanamkan perusahaan kepada platform ini (Labas & Yasmine, 2017). Maka dari itu, perusahaan mulai menggunakan platform media sosial YouTube sebagai salah satu sarana dalam melakukan iklan terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Iklan yang muncul pada media sosial dapat mengenalkan brand atau merek dari produk yang ditawarkan ke masyarakat.

Berdasarkan Zhang (2015), “citra merek adalah pendorong utama dari ekuitas merek, yang mengacu pada persepsi dan perasaan konsumen tentang suatu merek dan memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumen.” Park, et al. (dalam Zhang, 2015) menyatakan bahwa pembangunan dan pemeliharaan citra merek merupakan prasyarat untuk manajemen merek. Menurut Henslowe (dalam Mamahit et al., 2015) menjelaskan citra merek adalah persepsi dan pengetahuan konsumen mengenai sebuah merek di mana merek tersebut mempunyai pengaruh atau efek bagi perilaku konsumen. Saat ini banyak perusahaan menggunakan media sosial untuk membawa merek produk ke benak konsumen.

Salah satu perusahaan yang menggunakan media sosial untuk mempromosikan produknya adalah Procter & Gamble (P&G) yang berasal dari Amerika Serikat. Head &

Shoulders, sebagai salah satu produk dari P&G menawarkan berbagai produk rambut anti ketombe. Pertama kali diluncurkan ke pasar Amerika Serikat pada tahun 1961 (www.headandshoulders.com). Perusahaan ini menciptakan botol sampo daur ulang pertama di dunia yang terbuat dari plastik pantai pada tahun 2017. Head & Shoulders pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 2011. Perusahaan ini menggandeng banyak artis yang memiliki latar belakang dan pencapaian yang sesuai dengan karakter brand Head & Shoulders yaitu seorang yang aktif dalam kesehariannya (Rahayu, 2011).

Joe Taslim merupakan brand ambassador yang dipilih oleh Head & Shoulders. Dikutip dari Karlita (2019), Joe Taslim dipilih menjadi brand ambassador dari perusahaan Head &

Shoulders karena kepribadiannya dan pencapaiannya dalam berkarier. Semangat dalam pekerjaan Joe Taslim ini dianggap sejalan dengan kampanye #MoveOnBro yang diharapkan dapat memberikan inspirasi baru dan edukasi untuk laki-laki Indonesia dalam melakukan perubahan hidup untuk menjadi lebih baik. Joe Taslim dikenal sebagai aktor laga yang tidak hanya sukses di Indonesia, tetapi juga internasional. Hal ini dapat dilihat

(4)

dari pencapaiannya pada film-film screening produksi Hollywood, yaitu Fast & Farious 6, Warrior (TV Series), Mortal Kombat, The Sword Man (imdb.com). Head & Shoulders berharap produk kemasan khusus terbatas ini dapat dijadikan salah satu must have item bagi para pria di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan beberapa referensi terhadap penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian Hairani (2016) menggunakan metode kuantitatif eksplanasi dan mengumpulkan data melalui survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan berpengaruh positif terhadap brand image Grab Indonesia. Penelitian lainnya, yaitu penelitian Pramanda & Nurfebiaraning (2018) juga menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner dengan hasil penelitian adalah terdapat pengaruh pada iklan web series “Sore: Istri dari Masa Depan” terhadap brand image dari Tropicana Slim.

Penelitian ketiga yang dilakukan oleh Adrian & Nurhayati (2018) menggunakan kuantitatif kausal dan eksplanatif yang dilakukan kepada 100 responden. Hasil analisis menunjukkan terdapat pengaruh antara iklan YouTube “Ramayana Ramadan 2017 versi Bahagianya adalah Bahagiaku” terhadap citra merek perusahaan.

Dari apa yang sudah dijelaskan pada penelitian terdahulu tersebut, maka terdapat persamaan dan perbedaan pada penelitian ini. Persamaan dari ketiga penelitian terdahulu adalah sama-sama mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi atau mengetahui pengaruh iklan pada media sosial terhadap pembentukan brand image perusahaan. Perbedaan dari ketiga penelitian dengan penelitian ini berada pada objek yang diteliti. Pada penelitian yang dilakukan oleh Hairani (2016) meneliti tentang pengaruh penggunaan platform media sosial Instagram Grab Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Pramanda &

Nurfebiaraning (2018) berfokus pada iklan web series pada platform media sosial YouTube “Istri dari Masa Depan”, sedangkan penelitian yang terakhir berfokus pada iklan YouTube yang berjudul “Ramayana Ramadhan 2017 versi Bahagianya adalah Bahagiaku”.

Peneliti melakukan penelitian ini dengan berfokus pada efektivitas iklan yang diproduksi oleh Head & Shoulders dengan menggunakan artis Joe Taslim sebagai model untuk promosi iklan pada platform media sosial YouTube terhadap brand image perusahaan. Berawal dari viralnya cuplikan iklan yang berdurasi selama 1 menit 43 detik yang diunggah oleh akun bernama @pribadi di Twitter yang berhasil meraih penonton sebanyak 1,7 juta penonton dengan 46.600 retweets dan 52.800 likes. Selain itu, banyaknya video ditonton di YouTube pada iklan yang berjudul “Bloopers Joe Taslim ‘Head &

Shoulders’” berhasil ditonton sebanyak 18.768.758 kali dan meraih likes sebanyak 33.000 dalam kurun waktu yang cukup singkat dari pertama kali iklan ini diluncurkan, yaitu mulai dari 30 Juli 2019.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti melakukan penelitian pada iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan. Peneliti melakukan penelitian kuantitatif dengan jenis eksplanatif melalui metode survei. Peneliti menyebarkan kuesioner kepada responden yang memiliki akun YouTube individu atau pribadi yang memberikan subscribe atau berlangganan pada akun YouTube Head & Shoulders. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan.

(5)

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis eksplanatif. Menurut Sudaryana (2017), penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berfokus pada analisis data dalam bentuk numerial (angka) dan kemudian diolah dengan metode perhitungan statistik.

Penelitian kuantitatif pada dasarnya dikatakan sebagai penelitian sampel besar yang memperoleh hasil penting atau signifikan dari perbedaan kelompok atau hubungan tiap variabel yang diteliti. Penelitian eksplanatif adalah penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan suatu pembentukan simpulan umum sampel terhadap populasi atau memberikan penjelasan mengenai hubungan, perbedaan atau pengaruh dari satu variabel terhadap variabel lainnya (Mulyadi, 2013). Penelitian eksplanatif bertujuan untuk menghubungkan pola yang berbeda yang memiliki kaitan, dan memberikan hasil yaitu pola yang signifikan terhadap sebab akibat (Prasetyo & Jannah, 2005).

Variabel yang ada pada penelitian ini adalah variabel efektivitas iklan (independen) yang diadaptasi dari model DAGMAR (dalam Rehman et al., 2014), yaitu awareness (kesadaran), knowledge (pengetahuan), liking (menyukai), dan preference (pilihan).

Pemilihan dimensi berhenti sampai tahap preference dikarenakan penelitian ini hanya ingin mengetahui pengaruh efektivitas iklan sampai pada tahap brand image perusahaan yang terbentuk, tidak sampai pada transaksi pembelian produk yang ditawarkan perusahaan.

Pada variabel dependen, yaitu brand image, peneliti menggunakan dimensi yang dikembangkan dan dielaborasi oleh Wijaya (2013) dari beberapa sumber, yaitu identitas merek, kepribadian merek, asosiasi merek, perilaku dan sikap merek, serta kompetensi dan manfaat merek.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner sebagai data primer dan studi dokumen sebagai data sekunder. Peneliti menyebarkan kuesioner secara daring dengan menggunakan Google Form. Pada data sekunder, kepustakaan yang diperoleh peneliti adalah buku-buku, jurnal ilmiah, dan website yang membahas mengenai Head &

Shoulders, iklan, dan brand image.

Pada penelitian ini, peneliti telah menentukan populasi untuk diteliti, yakni subscribers dari akun YouTube Head & Shoulders. Jumlah subscribers akun YouTube Head &

Shoulders adalah sebanyak 22.600 (update per 30 Januari 2020). Subscribers diperoleh suatu akun YouTube jika pengguna YouTube mengklik tombol subscribe terhadap akun lain. Untuk mengambil besaran sampel dari populasi pada penelitian ini, maka dilakukan penghitungan dengan menggunakan rumus Slovin, yaitu:

N = N

1 + Ne2

N = 22.600

1 + 22.600 0,1 2= 22.600

1 + 226 =22.600

227 = 99,99

Hasil yang sudah dihitung menggunakan rumus akan dibulatkan menjadi 100 dengan tingkat kepercayaan 90%. Dengan demikian untuk menambah keakuratan data, peneliti menarik responden sebanyak 100 orang sebagai sampel yang mewakili populasi penelitian.

Peneliti menggunakan penarikan sampel melalui non-probability sampling. Dalam mengambil sampel, peneliti menggunakan snowball sampling. Teknik ini adalah cara

(6)

untuk pengambilan sampel yang di awal berjumlah sedikit, namun semakin lama akan semakin banyak dan berakhir ketika informasi diperoleh dari sampel dianggap telah cukup (Siregar, 2017). Teknik ini digunakan ketika penentuan sampel yang awalnya memiliki jumlah kecil, kemudian membesar. Peneliti menyebarkan kuesioner pada beberapa responden dalam jumlah sedikit, lalu responden menyebarkannya lagi secara meluas.

Dalam melakukan uji validitas, peneliti mengambil 30 responden sebagai sampel pada penelitian ini. Uji validitas dilakukan untuk mengukur kesahihan alat ukur pada penelitian.

Berdasarkan hasil hitung uji validitas dari kedua variabel adalah valid. Pada variabel efektivitas iklan, pada setiap pernyataan memiliki korelasi positif dengan rentang 0,518- 0,814, menunjukkan nilai koefesien korelasi r lebih dari 0,361. Pada variabel brand image dapat dijelaskan bahwa seluruh pernyataan memiliki korelasi positif, yaitu dengan rentang 0,466-0,899, menunjukkan nilai koefesien r lebih dari 0,361.

Tabel 1. Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach’s Alpha Kesimpulan

Efektivitas Iklan 0,902 Reliable

Brand Image 0,943 Reliable

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Pada tabel 1 dapat dijelaskan bahwa seluruh indikator pernyataan yang valid mendapatkan nilai realibilitasnya sebesar 0,902. Nilai tersebut dapat dinyatakan bahwa skala efektivitas iklan masuk ke dalam golongan reliable karena sudah lebih dari batas r11,

yaitu 0,6 sehingga dapat digunakan pada penelitian ini. Pada variabel brand image seluruh indikator yang valid mendapatkan nilai realibilitas sebesar 0,943. Nilai tersebut dapat dinyatakan bahwa skala brand image masuk ke dalam golongan reliable karena sudah lebih dari batas r11,yaitu 0,6 sehingga dapat digunakan pada penelitian ini. Berdasarkan paparan, maka hipotesis penelitiannya, yaitu:

H0: Tidak terdapat pengaruh iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders”

terhadap pembentukan brand image perusahaan.

H1: Terdapat pengaruh iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders terhadap pembentukan brand image perusahaan.

Hasil dan diskusi

Berdasarkan hasil yang diperoleh oleh peneliti setelah menyebarkan kuesioner kepada 100 responden, peneliti membagi hasil profil responden menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut, yaitu jenis kelamin, durasi mengakses YouTube dalam sehari, usia, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal. Peneliti mendapatkan 100 responden dengan kategori yang sudah ditentukan.

(7)

Gambar 1. Profil Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Gambar 1 menunjukkan profil dari responden berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa jumlah responden didominasi oleh perempuan, yaitu sebanyak 65 orang (65%), sedangkan responden laki-laki sebanyak 34 orang (34%), dan satu orang (1%) memilih untuk tidak menjawab.

Gambar 2. Karakteristik Responden berdasarkan Durasi Mengakses YouTube per Hari

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Dari gambar 2 maka dapat dijelaskan bahwa jumlah responden menghabiskan waktu menggunakan aplikasi YouTube lebih banyak pada durasi selama satu sampai tiga jam dalam sehari, yaitu sebanyak 50 orang (50%). Responden yang menggunakan YouTube selama kurang dari satu jam dalam sehari sebanyak 20 orang (20%), dan responden yang menggunakan YouTube selama lebih dari tiga jam dalam sehari sebanyak 30 orang (30%).

Tabel 2. Profil Responden berdasarkan Usia

Usia Jumlah

17 1

18 5

19 13

20 12

(8)

21 40

22 22

23 5

24 1

26 1

Total 100

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Diketahui dari tabel 2, dapat dijelaskan dari jawaban responden, yaitu satu orang (1%) berusia 17 tahun, lima orang berusia 18 tahun (5%), 13 orang berusia 19 tahun (13%), 12 orang berusia 20 tahun (12%), 40 orang berusia 21 tahun (40%), 22 orang berusia 22 tahun (22%), lima orang berusia 23 tahun (5%), satu orang berusia 24 tahun (1%), dan satu orang berusia 26 tahun (1%). Paparan pada tabel 2 tersebut menjelaskan mayoritas usia responden adalah 21 tahun di mana persentasenya adalah sebesar 40% atau 40 orang. Hasil ini diperoleh dari 100 responden yang telah mengisi kuesioner.

Gambar 3. Profil Responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Dapat dilihat dari gambar 3 bahwa sebanyak 26 responden (26%) berada pada tingkat pendidikan SMA/Sederajat, tujuh responden (7%) ada pada tingkat pendidikan D3/Sederajat, 67 responden (67%) pada tingkat pendidikan S1. Oleh karena itu, dapat disimpulkan dari karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan tersebut, mayoritas responden berada di level pendidikan S1 dengan persentase sebesar 67% atau sebanyak 67 orang.

Tabel 3. Karakteristik Responden berdasarkan Tempat Tinggal

Tempat Tinggal Jumlah

Bali 1

Bekasi 15

Bogor 2

(9)

Depok 2

Jakarta 71

Malang 2

Manado 1

Purwokerto 1

Semarang 1

Surabaya 1

Tangerang 3

Total 100

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Dari tabel yang tertera di atas dapat dijelaskan, satu responden (1%) bertempat tinggal di Bali, 15 responden (15%) bertempat tinggal di Bekasi, dua responden (2%) bertempat tinggal di Bogor, dua responden (2%) bertempat tinggal di Depok, 71 responden (71%) bertempat tinggal di Jakarta, dua responden (2%) bertempat tinggal di Malang, satu responden (1%) bertempat tinggal di Manado, satu responden (1%) bertempat tinggal di Purwokerto, satu responden (1%) bertempat tinggal di Semarang, satu responden (1%) bertempat tinggal di Surabaya, dan tiga responden (3%) bertempat tinggal di Tangerang.

Maka dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa dari 100 responden yang telah dipaparkan oleh peneliti tersebut, mayoritas bertempat tinggal di kota Jakarta, yaitu sebanyak 71 responden dengan persentase 71% diikuti dengan kota Bekasi sebanyak 15 responden dengan persentase 15%.

Peneliti menggunakan pengujian grafik P- P Plot pada pengujian normalitas untuk melakukan uji residual model regresi. Dalam penelitian ini, grafik normal dari probability plot tersebut memperlihatkan bahwa data menyebar di sekeliling garis diagonal dan mengikuti arah diagonal. Oleh karena itu, pola atau model regresi pada penelitian ini memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4. Uji Normalitas

(10)

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Tabel 4. Statistik Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Efektivitas Iklan (X) 100 17 44 32.55 6.652

Brand Image (Y) 100 28 68 52.33 10.317

Valid N (listwise) 100

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa variabel independen atau X, yaitu pengaruh efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” dengan responden sebanyak 100 responden, memiliki nilai rata-rata 32,55 dan standar deviasi sebesar 6,652. Lalu pada variabel dependen atau Y, yaitu pembentukan brand image perusahaan memiliki 100 responden, memiliki nilai rata-rata 52,33 dengan standar deviasi sebesar 10,317.

Peneliti melakukan penelitian ini adalah dengan maksud untuk mengukur seberapa berpengaruh efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan. Dimensi variabel X (efektivitas iklan) diperoleh dari adaptasi model DAGMAR (dalam Rehman et al., 2014), yaitu awareness (kesadaran), knowledge (pengetahuan), liking (menyukai), dan preference (pilihan). Namun pada dimensi ini, peneliti membatasi penelitian ini hanya sampai butir dimensi preference (pilihan). Hal ini dilakukan karena peneliti hanya ingin melihat dengan iklan yang ditayangkan apakah akan memengaruhi audiens untuk menetapkan Head & Shoulders sebagai sampo yang digunakan oleh audiens yang telah terpapar iklan.

Tabel 5. Mean Score dan Overall Mean Score Variabel Efektivitas Iklan YouTube

Dimensi Indikator Score Keterangan Mean Score

Dimensi Kesimpulan

Awareness (Kesadaran)

A.1 3 Setuju

2,993

Dari 100 responden yang telah mengisi kuesioner maka dapat dinyatakan bahwa mayoritas responden setuju bahwa iklan Head &

Shoulders pada akun

YouTube Head & Shoulders memberikan kesadaran terhadap produk yang ditawarkan kepada audiens.

A.2 2,59 Setuju

A.3 3,39 Sangat Setuju

Knowledge (Pengetahuan)

K.1 2,37 Tidak

Setuju 3,01 Mayoritas responden yang mengisi kuesioner

(11)

menyatakan setuju bahwa iklan Head & Shoulders yang ada pada akun

YouTube Head & Shoulders memberikan pengetahuan berupa informasi terkait produk yang ditawarkan lewat iklan pada platform YouTube.

K.2 3,57 Sangat Setuju K.3 3,09 Setuju

Liking (Menyukai)

L.1 3,27 Sangat Setuju

3,09

Mayoritas responden yang mengisi kuesioner

menyatakan setuju bahwa konten iklan yang dibuat oleh Head & Shoulders yang ditayangkan pada platform YouTube disukai oleh responden karena menarik dan menggunakan artis papan atas Joe Taslim sebagai bintang iklan pada iklan YouTube Head &

Shoulders.

L.2 3,26 Sangat Setuju

L.3 2,75 Setuju

Preference (Pilihan)

P.1 2,71 Setuju

2,63

Mayoritas responden setuju bahwa responden akan menjadikan Head &

Shoulders sebagai produk sampo yang akan mereka pilih dari merek sampo lain.

P.2 2,55 Setuju

Overall mean score 2,595 Setuju

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Berdasarkan tabel 5 tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa dimensi awareness (kesadaran) mempunyai nilai mean score sebesar 2,993. Jika dilihat bahwa pada tabel skala yang tertera, nilai tersebut berada pada skala yang menyatakan setuju. Pada dimensi selanjutnya, yaitu knowledge (pengetahuan) memiliki nilai mean score sebesar 3,01. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut berada pada skala yang menyatakan setuju.

Pada dimensi liking (menyukai) memiliki nilai mean score sebesar 3,09. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut berada pada skala yang menyatakan setuju. Terakhir adalah dimensi preference (pilihan) memiliki nilai mean score sebesar 2,63. Jika dilihat dari tabel di atas, skor tersebut berada pada skala yang menyatakan setuju. Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa variabel X, yaitu pengaruh efektivitas iklan YouTube Head & Shoulders memiliki overall mean score sebesar 2,595. Dengan demikian dapat

(12)

ditarik kesimpulan bahwa mayoritas pernyataan yang diberikan oleh responden terhadap variabel X adalah setuju terhadap pernyataan yang peneliti berikan.

Pada pernyataan dimensi awareness (kesadaran), mayoritas responden menjawab pilihan pernyataan setuju dan sangat setuju. Maka dari itu, dapat diartikan bahwa responden sering melihat iklan Head & Shoulders ketika menggunakan YouTube, menonton iklan hingga iklan selesai tanpa melakukan skip ads. Pada pernyataan knowledge (pengetahuan), mayoritas responden memberikan jawaban yaitu setuju dan sangat setuju yang di mana dapat dijabarkan bahwa responden mengetahui bahwa iklan yang ditampilkan dengan menggunakan artis papan atas Joe Taslim menawarkan produk sampo.

Pada pernyataan liking (menyukai), mayoritas responden yang mengisi kuesioner yang disebarkan oleh peneliti menyatakan setuju dan sangat setuju, maka dari itu dapat diartikan bahwa konten iklan yang dibuat oleh Head & Shoulders disukai oleh audiens yang menonton iklan tersebut pada platform YouTube Head & Shoulders. Pada pernyataan preference (pilihan), mayoritas responden memberikan pernyataan setuju dan sangat setuju bahwa responden menjadikan sampo Head & Shoulders menjadi pilihan pertama mereka dalam memilih sampo yang akan digunakan.

Pada variabel Y (pembentukan brand image perusahaan) peneliti menggunakan model dimensi brand image yang dikutip dari Wijaya (2013). Dimensi ini terdiri dari brand image terdiri dari lima dimensi yaitu, brand identity (identitas merek), brand personality (kepribadian merek), brand association (asosiasi merek), brand behavior and attitude (perilaku dan sikap merek), brand competence and benefit (kompetensi dan manfaat merek).

Tabel 6. Mean Score dan Overall Mean Score Variabel Pembentukan Brand Image Perusahaan

Dimensi Indikator Score Keterangan Mean Score

Dimensi Kesimpulan

Brand Identity (Identitas Merek)

B.1 3,42 Sangat Setuju

3,295

Mayoritas responden yang mengisi kuesioner

menyatakan sangat setuju bahwa responden mengetahui identitas dari Head &

Shoulders yaitu logo dari produk ini, juga mengingat Head & Shoulders ketika melihat Joe Taslim yang menjadi bintang iklan dan brand ambassador dari Head

& Shoulders.

B.2 3,17 Setuju

Brand

Personality BP.1 3,66 Sangat

Setuju 3,23 Mayoritas responden menyatakan setuju bahwa

(13)

(Kepribadian

Merek) Head & Shoulders adalah

produk sampo yang memiliki ciri warna biru, ramah

lingkungan, digunakan untuk pengguna yang memiliki aktivitas diluar rumah, dan digunakan oleh pria yang melakukan banyak aktivitas.

BP.2 2,74 Setuju

BP.3 3,23 Setuju

BP.4 3,29 Sangat Setuju

Brand Association (Asosiasi Merek)

BA.1 2,79 Sangat Setuju

3,08

Mayoritas responden menyatakan setuju bahwa produk sampo dari Head &

Shoulders adalah satu- satunya sampo anti ketombe, dan diklaim sebagai sampo nomor satu anti ketombe, dan memiliki harga yang

terjangkau

BA.2 3,3 Sangat

Setuju BA.3 2,96 Setuju

BA.4 3,27 Sangat Setuju

Brand Behavior and Attitude (Perilaku dan Sikap Merek)

BBA.1 3,14 Setuju

3,08

Mayoritas responden yang mengisi kuesioner yang telah diberikan oleh peneliti menyatakan setuju bahwa iklan yang ditayangkan oleh Head & Shoulders

memberikan manfaat, informasi, dan memberikan feedback yang cepat kepada konsumennya.

BBA.2 3 Setuju

BBA.3 3,1 Setuju

Brand Competence and Benefit (Kompetensi dan Manfaat Merek)

BCB.1 2,87 Setuju

2,815

Mayoritas responden menyatakan setuju bahwa mereka yang telah mengisi kuesioner akan

merekomendasikan produk Head & Shoulders kepada orang lain dengan memberi tahu informasi kelebihan dari produk sampo Head &

Shoulders dibandingkan merek sampo lain dan akan mengajak orang lain untuk memberikan subscribe pada akun YouTube Head &

Shoulders.

BCB.2 2,74 Setuju

BCB.3 2,88 Setuju

BCB.4 2,77 Setuju

Overall mean score 3,087 Setuju

(14)

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Berdasarkan perhitungan mean score pada tabel 6 ini, dapat dijelaskan bahwa dalam dimensi brand identity atau identitas merek memiliki nilai mean score sebesar 3,295. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut mengarah pada skala sangat setuju. Pada dimensi brand personality atau kepribadian merek, memiliki nilai mean score sebesar 3,23.

Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai itu mengarah pada skala dengan pernyataan setuju.

Pada dimensi brand association atau asosiasi merek memiliki nilai mean score sebesar 3,08. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut mengarah pada skala dengan pernyataan setuju. Pada dimensi brand behavior and attitude atau perilaku dan sikap merek memiliki nilai mean score sebesar 3,08. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut mengarah pada skala dengan pernyataan setuju. Lalu terakhir pada dimensi brand competence and benefit (kompetensi dan manfaat merek) memiliki nilai mean score sebesar 2,815. Jika dilihat dari tabel skala di atas, nilai tersebut mengarah pada skala dengan pernyataan setuju. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada variabel pembentukan brand image (Y) perusahaan mempunyai overall mean score dengan nilai sebesar 3,078 di mana dapat dijelaskan bahwa mayoritas responden yang sudah mengisi kuesioner menyatakan setuju. Pernyataan setuju ini dapat diberikan berdasarkan rentang skala di mana dianggap setuju ketika nilai dari overall mean score berada pada rentang skala 2,51–3,25. Berdasarkan data hasil dari kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 responden terhadap kedua variabel, dapat ditarik kesumpulan bahwa responden berada pada skala yang baik terhadap variabel X, yaitu pengaruh efektivitas iklan YouTube Joe Taslim “Head & Shoulders” dan variabel Y, yaitu pembentukan brand image perusahaan.

Berdasarkan jawaban yang telah diterima oleh peneliti melalui kuesioner yang telah disebarkan kepada 100 responden, dapat diketahui bahwa pernyataan pada dimensi brand identity (identitas merek), mayoritas responden memberikan pernyataan pada pilihan setuju dan sangat setuju. Maka dari itu dapat diartikan bahwa responden mengenali produk dari Head & Shoulders dan ketika melihat Joe Taslim responden akan langsung teringat pada merek Head & Shoulders. Berikutnya pada pernyataan brand personality (kepribadian merek), mayoritas responden menyatakan setuju dan sangat setuju. Maka dari itu dapat diartikan bahwa responden mengetahui warna dari perusahaan Head & Shoulders, selain itu juga responden mengetahui bahwa Head & Shoulders adalah produk sampo yang cocok digunakan bagi orang yang memiliki kegiataan di luar rumah, dan mengetahui bahwa kemasan dari produk sampo ini ramah lingkungan. Selanjutnya pada dimensi brand association (asosiasi merek), responden mayoritas memberikan pernyataan setuju dan sangat setuju. Hal ini dapat diartikan bahwa responden setuju akan klaim bahwa Head &

Shoulders adalah satu-satunya produk sampo yang berfokus pada masalah ketombe. Pada pernyataan dimensi brand behavior and attitude (perilaku dan sikap merek), mayoritas responden yang telah mengisi kuesioner mayoritas menyatakan pilihan setuju dan sangat setuju. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pada dimensi ini responden merasa bahwa Head & Shoulders cepat dan tanggap dalam memberikan respon terhadap audiensnya dan memberikan informasi yang lengkap. Selanjutnya pada dimensi brand competence and benefit (kompetensi dan manfaat merek), mayoritas responden yang telah mengisi

(15)

kuesioner yang disebarkan memberikan pernyataan setuju dan sangat setuju. Maka dengan demikian dapat diartikan bahwa responden akan merekomendasikan Head & Shoulders kepada kerabat atau orang terdekat.

Tabel 7. Koefisien Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 .793a .629 .625 6.314

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Berdasarkan tabel 7 di atas, bisa ditarik kesimpulan berdasarkan analisis yang telah dihitung oleh peneliti, yaitu dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden, terdapat korelasi antara efektivitas iklan YouTube dan pembentukan brand image. Hasil koefisien korelasi diperoleh dengan nilai 0,793, oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara efektivitas iklan YouTube terhadap pembentukan brand image.

Berdasarkan kriteria korelasi pada Siregar (2017), kriteria korelasi 0,60-0,793 adalah nilai yang menyatakan tingkat hubungan ‘kuat’. Maka dari itu peneliti mendapatkan hasil, yaitu korelasi antara variabel X (efektivitas iklan YouTube) dan variabel Y (pembentukan brand image perusahaan) adalah tergolong pada kategori ‘kuat’.

Pada hasil uji koefisien determinasi tabel 7 tersebut juga diketahui bahwa R sebesar 0,793 dan R square (R2) adalah 0,629. Hasil uji koefisien determinasi ini digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh efektivitas iklan terhadap brand image perusahaan. Nilai ini menunjukkan koefisien determinasi sebesar 0,629 atau sebesar 62,9%. Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel X (efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders”) dapat menjelaskan bahwa nilai dari variabel Y (pembentukan brand image) dengan nilai sebesar 62,9%, dan sisanya sebesar 37,1% dijelaskan lewat faktor-faktor di luar dari variabel efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head &

Shoulders” yang tidak digunakan oleh peneliti di dalam penelitian ini.

Penelitian menggunakan dua variabel. Oleh karena itulah penelitian ini menggunakan teknik analisis data regresi linear sederhana dengan hasil penghitungan sebagai berikut:

Tabel 8. Regresi Linear Sederhana

Model Unstandardized

Coefficients Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant)

Efektivitas Iklan (X)

12. 282 1.230

3.169

.095 .793

3.876 12.898

.000 .000

Sumber: Hasil Hitung Peneliti

Hasil dari uji regresi linear yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 25.0 Version for Windows menunjukkan bahwa nilai t hitung dari variabel

(16)

X (efektivitas iklan) dengan nilai sebesar 12,282 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 dan dapat ditarik kesimpulan berdasarkan tingkat signifikansi demikian:

1. Jika tingkat signifikansi > 0.05, data tidak memiliki hubungan yang linier.

2. Jika tingkat signifikansi < 0.05, data memiliki hubungan yang linier.

Maka dari itu dapat dinyatakan signifikansi 0,000 < 0,05. Pernyataan ini menunjukkan bahwa efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan memiliki nilai yang positif atau berpengaruh secara parsial. Persamaan regresi linear sederhana diperoleh hasil sebagai berikut:

Y = a + bX Y = 12,282 + 1,230X Keterangan:

Y = Variabel dependen atau terikat (efektivitas iklan YouTube)

X = Variabel independent atau bebas (pembentukan brand image perusahaan) a = Konstanta (Nilai Y apabila X=0)

b = Koefesien regresi, adalah peningkatan atau penurunan variabel dependen (efektivitas iklan YouTube) yang berdasar kepada variabel independen (pembentukan brand image perusahaan).

Berdasarkan penjabaran yang sudah dijelaskan oleh peneliti, dapat ditarik kesimpulan bahwa dari hasil uji statistik t, yaitu jika nilai variabel X (efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders”) memiliki nilai sebesar 0, nilai dari variabel Y (pembentukan brand image perusahaan) sebesar 12,282. Jika penambahan nilai variabel X (efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders”) sebesar satuan unit, variabel Y (pembentukan brand image perusahaan) akan mengalami peningkatan sebesar 1,230, hal ini dikarenakan nilai koefesien regresi (b) adalah sebesar 1,230. Maka dari itu, nilai koefisien regresi adalah positif atau memiliki pengaruh efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” memberikan efek positif terhadap pembentukan brand image perusahaan.

Menurut Bandur (2013), uji t digunakan untuk mengetahui jika nilai rata-rata dari dua nilai sampel memiliki perbedaan yang signifikan atau tidak secara perhitungan statistik. Dalam penelitian ini dapat dilihat dari uji statistik t, diperoleh bahwa t hitung sebesar 12,898 dan t tabel sebesar 1,984. Maka dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa t hitung (12,898) > t tabel (1,984) maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya, efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” memiliki pengaruh terhadap pembentukan brand image perusahaan.

Penutup

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, peneliti mengambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan yang pertama, hasil penelitian menyatakan bahwa diketahui bahwa pernyataan yang paling banyak disetujui oleh responden pada variabel

(17)

efektivitas iklan adalah pernyataan mengenai pengetahuan terkait produk yang ditawarkan oleh Joe Taslim melalui iklan adalah produk sampo Head & Shoulders. Pada variabel pembentukan brand image, pernyataan yang menunjukkan nilai persentase paling dominan atau tinggi terdapat pada pernyataan mengetahui warna dari Head & Shoulders yaitu biru dan putih pada kemasan produk sampo.

Kedua, diketahui bahwa terdapat hubungan antara variabel efektivitas iklan terhadap variabel pembentukan brand image perusahaan. Hal ini didasari pada pengujian korelasi.

Hasil dari uji korelasi memiliki nilai sebesar 0,739, di mana nilai ini dapat dinyatakan memiliki nilai yang kuat. Selain itu, pada uji hipotesis yang sudah dilakukan oleh peneliti diketahui terdapat pengaruh iklan yang kuat terhadap pembentukan brand image perusahaan Head & Shoulders dengan nilai yang tinggi. Kesimpulan yang ketiga adalah berdasarkan perhitungan analisis, diperoleh hasil bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Maka, bisa disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang positif pada efektivitas iklan YouTube Bloopers Joe Taslim “Head & Shoulders” terhadap pembentukan brand image perusahaan.

Berdasarkan hasil analisis, peneliti menyarankan bagi peneliti selanjutnya dengan topik yang serupa untuk dapat melakukan penelitian dengan metode kuantitatif melalui perluasan populasi. Dalam hal ini, variabel dan dimensi penelitian yang digunakan juga disarankan berbeda sehingga dapat mendapatkan temuan baru dan hasil yang lebih kuat terkait penelitian ini. Selain menggunakan metode kuantitatif, peneliti selanjutnya juga dapat mengembangkan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan menambahkan faktor- faktor lain untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam.

Peneliti menyarankan bagi perusahaan yang menaungi Head & Shoulders, yaitu Procter

& Gamble untuk lebih meningkatkan brand image perusahaan, sehingga dapat meningkatkan penjualan serta menjalin komunikasi yang lebih baik dengan konsumen melalui media sosial YouTube. Perusahaan juga disarankan untuk dapat meningkatkan kualitas informasi pada konten yang hendak diiklankan, khususnya pada platform media sosial YouTube, sehingga dapat menambah jumlah pengikut atau subscribers pada akun YouTube Head & Shoulders, yang tentu juga akan dapat meningkatkan penjualan produk yang ditawarkan oleh Head & Shoulders.

Daftar pustaka

Adrian, S. W., & Nurhayati, I. K. (2018). Pengaruh Terpaan Iklan Youtube Ramayana Ramadan 2017 Versi Bahagianya Adalah Bahagiaku Terhadap Citra Merek. 5(1), 1474–1480.

Amanda, C., Prijana, P., & Yanto, A. (2017). Hubungan Perilaku Pencarian Informasi Perempuan dengan Kebutuhan Fashion. Baca: Jurnal Dokumentasi dan Informasi, 38(2), 99.

https://doi.org/10.14203/j.baca.v38i2.319

Bandur, A. (2013). Penelitian Kuantitatif Desain dan Analisis Data dengan SPSS. Yogyakarta:

DEEPUBLISH.

Hairani, N. (2016). Pengaruh Iklan terhadap Brand Image di Media Sosial Instagram Grab Indonesia. Karya Ilmiah Universitas Airlangga.

imdb.com. (n.d.). Retrieved April 25, 2019, from

https://m.imdb.com/name/nm3029144/filmotype/actor

Indrawati, K. A. P., Sudiarta, N. I., & Suardana, W. I. (2017). Efektivitas Iklan Melalui Media Sosial Facebook dan Instagram sebagai Salah Satu Strategi Pemasaran di Krisna Oleh-Oleh

(18)

Khas Bali. Analisis Pariwisata, 17(2), 78–83.

https://ojs.unud.ac.id/index.php/jap/article/view/36484

Jayani, D. H. (2020). 10 Media Sosial yang Paling Sering Digunakan di Indonesia | Databoks.

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/26/10-media-sosial-yang-paling-sering- digunakan-di-indonesia

Karlita, N. (2019). Head & Shoulders Kenalkan Joe Taslim.

https://www.industry.co.id/read/54444/head-shoulders-kenalkan-joe-taslim-sebagai-brand- ambasador

Labas, Y. N., & Yasmine, D. I. (2017). Komodifikasi di Era Masyarakat Jejaring: Studi Kasus YouTube Indonesia. Jurnal Pemikiran Sosiologi, 4(2), 104.

https://doi.org/10.22146/jps.v4i2.28584

Mamahit, P., Soegoto, A. S., & Tumbuan, W. A. (2015). Pengaruh Brand Image, Brand Trust, dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Mobil Toyota All New Yaris pada PT.

Hasjrat Abadi Manado. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 15(05), 777–787.

Mulawarman, M., & Nurfitri, A. D. (2017). Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan. Buletin Psikologi, 25(1), 36–44.

https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.22759

Mulyadi, M. (2013). Riset Desain dalam Metodologi Penelitian. Jurnal Studi Komunikasi Dan Media, 16(1), 71. https://doi.org/10.31445/jskm.2012.160106

Nanuru, R. F. (2017). YOUTUBE: Seni Berwawasan Teknologi Modern. Uniera.

https://doi.org/10.31219/osf.io/3vshc

Nurhayati, E. (2012). Pengaruh Kreativitas Iklan dan Kredibilitas Endorser terhadap Efektifitas Iklan (Studi Kasus pada Iklan Olay Natural White di Kota Semarang). Jurnal Sains

Pemasaran Indonesia, XI(2), 170–192.

https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jspi/article/view/16169/12879

Pramanda, A. K., & Nurfebiaraning, S. (2018). Pengaruh Iklan Web Series “ Sore: Istri Dari Masa Depan” terhadap Brand Image Tropicana Slim. 5(1), 1409–1416.

Prasetyo, B. &, & Jannah, L. M. (2005). Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada.

Rahayu, E. M. (2011). Head & Shoulders Di-Relaunch dengan Brand Ambassador Terbaru.

https://swa.co.id/swa/listed-articles/head-shoulders-di-relaunch-dengan-brand-ambassador- terbaru-2

Rehman, F. ur, Javed, F., Nawaz, T., Ahmed, I., & Hyder, S. (2014). Some Insights in the Historical Prospective of Hierarchy of Effects Model: A Short Review. Information Management and Business Review, 6(6), 301–308. https://doi.org/10.22610/imbr.v6i6.1128 Siregar, S. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi dengan Perbandingan Perhitungan

Manual & SPSS (4th ed.). Jakarta: KENCANA.

Sudaryana, B. (2017). Metode Penelitian. Yogyakarta: DEEPUBLISH.

Unaradjan, D. D. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Universitas Atma Jaya.

We Are Social. (2020). Digital 2020: Indonesia. Global Digital Insights.

https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia

Widodo. (2018). Metodologi Penelitian Populer & Praktis (2nd ed.). Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Wijaya, B. S. (2013). Dimensions of Brand Image: A Conceptual Review from the Perspective of Brand Communication. European Journal of Business and Management, 5(31), 55–65.

https://doi.org/10.13140/ejbm.2013.55.65

www.headandshoulders.com. (n.d.). Retrieved July 5, 2020, from https://www.headandshoulders.com/en-us/about/our-history

Zhang, Y. (2015). The Impact of Brand Image on Consumer Behavior: A Literature Review. Open

Journal of Business and Management, 03(01), 58–62.

https://doi.org/10.4236/ojbm.2015.31006

Referensi

Dokumen terkait

Ibid.. Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai Standar Kompetensi yang emiliki potensi untuk dipadukan. Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak

Karena data pada survei ini dikumpulkan pada level individu, maka metoda analisis yang digunakan terhadap data tingkat bangkitan pergerakan taksi saat ini dengan

Malaria merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria terdapat beberapa stadium antara

Tingkat efikasi diri siswa ditinjau dari program studi keahlian dan jenis kelamin pada siswa SMK Muhammadiyah 1 Sleman Yogyakarta dapat disimpulkan bahwa tingkat

kompetensi guru dalam pemanfaatan sumber belajar geografi, (4) upaya guru geografi dalam meningkatkan kompetensinya untuk memanfaatkan sumber belajar. Penelitian ini bersifat

Perubahan bisnis dan ekonomi yang begitu besar dan terjadi hampir di seluruh dunia berpengaruh terhadap dunia kerja maupun lingkungan pekerjaan. Perubahan tidak hanya

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai kelulushidupan (SR) larva lobster air tawar selama 42 hari masa pemeliharaan yaitu antara 86,67%-90%, berat rata-rata

Aku bisa membuat alat musik dan bernyanyi dari benda-benda di ruang tamu 6.. Yuk,