V. ANALISIS DAN SINTESIS
5.1 Penilaian Objek dan Daya Tarik Wisata
Penilaian Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) memiliki lima aspek, yaitu daya tarik, aksesibilitas, lingkungan sosial ekonomi, akomodasi, serta sarana dan prasarana penunjang. Hasil dari penilaian dapat dilihat pada Tabel 24, 25, 26, 27, dan 28.
Tabel 24 Hasil Penilaian Aspek Daya Tarik
No Unsur/Sub unsur Skor
1 Keunikan sumber daya: ≥ 4 30
a. Air terjun b. Gua c. Flora d. Fauna e. Sungai
f. Kesenian tradisional g. Peninggalan sejarah h. Upacara adat
i. Kebudayaan masyarakat
v v v v v v v v
2 Banyaknya potensi sumberdaya alam yang menonjol: ≥ 4 30
a. Batuan b. Flora c. Fauna d. Air
e. Gejala alam
v v v v
3 Kegiatan wisata yang dapat dilakukan: ≥ 5 30
a. Menikamati keindahan alam b. Melihat flora dan fauna yang ada c. Memancing
d. Trecking e. Mandi/berenang f. Penelitian/pendidikan g. Berkemah
h. Berperahu
v v v v v v
4 Kebersihan objek wisata tidak ada pengaruh dari: Ada 3-4 20 a. Industri
b. Jalan ramai motor/mobil c. Pemukiman penduduk d. Sampah
e. Binatang
f. Corat-coret (vandalisme) g. Pencemaran lainnya
v v v v
5 Kenyamanan: Ada 4 25
a. Udara bersih dan sejuk
b. Bebas dari bau yang menganggu c. Bebas dari kebisingan
d. Pelayanan terhadap pengunjung yang baik
v v v v
6 Keamanan: Ada 4 25
a. Tidak ada arus yang berbahaya v
b. Tidak ada pencurian
c. Tidak ada perambahan dan penebangan liar d. Tidak ada kepercayaan yang menggangu
e. Tidak ada penyakit yang berbahaya seperti malaria
v v v
Total 160
x Bobot (=6) 960
Tabel 25 Hasil Penilaian Aspek Aksesibilitas
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Nilai
1 Kondisi jalan Baik 30
2 Jarak dari pusat kota < 5 km 30
3 Tipe jalan Jalan aspal lebar > 3 m 30
4 Waktu tempuh dari pusat 1-2 jam 30
Total 120
x Bobot (=5) 600
Tabel 26 Hasil Penilaian Kondisi Lingkungan Sosial Ekonomi
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Nilai
1 Tata ruang wilayah objek Ada tapi tidak sesuai 25
2 Status lahan Lahan negara 30
3 Mata pencaharian penduduk Petani dan berkebun 20
4 Pendidikan Lulus SD sebagian besar 20
Total 95
x Bobot (=5) 475
Tabel 27 Hasil Penilaian Aspek Akomodasi
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Nilai
1 Jumlah kamar (Buah) < 30 15
2 Jarak dari pusat kota Ada 1 15
Total 30
x Bobot (=3) 90
Tabel 28 Hasil Penilaian Aspek Sarana dan Prasarana Penunjang (Radius 10 km dari Objek)
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Skor
1 Prasarana: ≥ 4 30
a. Kantor pos b. Jaringan telepon c. Puskesmas/klinik d. Wartel/faksimili e. Warnet
f. Jaringan listrik g. Jaringan air minum h. Surat kabar
v v v v v v
2 Sarana penunjang: ≥ 4 30
a. Rumah makan/minum b. Pusat perbelanjaan/pasar c. Bank/money changer d. Toko cindera mata e. Tempat peribadatan f. Toilet umum g. Transportasi
Total 90
x Bobot (=2) 180
Tabel 29 Kategori Penilaian ODTW
Kategori Derajat Interval
Sangat baik Baik Sedang Buruk Sangat buruk
2328-2640 2016-2327 1704-2015 1392-1703 1080-1391
Berdasarkan rumus dalam penilitian Oktadiyani (2006), penilaian ODWT dibagi dalam lima kategori. Total dari kelima aspek di atas adalah 2305 (Tabel 29).
Dalam tabel kategori penilaian ODTW, skor ini termasuk dalam kategori baik.
Hasil ini menunjukkan bahwa dari segi penilaian ODWT, TWA Lembah Harau telah memiliki persyaratan yang cukup untuk dijadikan pengembangan wisata.
Aspek daya tarik merupakan aspek yang memiliki skor yang paling tinggi, sedangkan aspek kondisi lingkungan sosial ekonomi memiliki skor yang paling rendah. Simpulan dari penilaian ini adalah sebagai berikut.
a. TWA Lembah Harau memiliki daya tarik yang tinggi dari segi keunikan sumber daya, kegiatan yang dapat dilakukan, kebersihan, dan kenyamanan;
b. TWA Lembah Harau mudah di akses;
c. kondisi lingkungan sosial ekonomi masyarakat sekitar TWA Lembah Harau masih kurang karena tingkat pendidikan rendah dan masyarakat mayoritas adalah petani;
d. belum adanya pengadaan akomodasi yang baik;
e. memiliki sarana dan prasaran penunjang yang baik di sekitar kawasan TWA Lembah Harau.
5.2 Penilaian Kesiapan Pengembangan Community-Based Ecotourism
Penilaian kesiapan pengembangan Community-Based Ecotourism (CBE) memiliki empat aspek, yaitu sosial ekonomi, sosial budaya, lingkungan, dan pengelolaan. Hasil penilaian dapat dilihat pada Tabel 30, 31, 32, dan 33.
Berdasarkan rumus dalam penelitian Oktadiyani (2006), penilaian kesiapan masyarakat dalam pengembangan ekowisata dibagi dalam lima kategori.
Total dari kelima aspek di atas adalah 1500 (Tabel 34). Dalam tabel kategori penilaian, nilai ini termasuk dalam kategori sedang. Aspek sosial ekonomi dan aspek pengelolaan menjadi aspek yang memiliki skor paling rendah. Simpulan dari penilaian ini adalah sebagai berikut.
a. TWA Lembah Harau memiliki potensi pasar tetapi kurang dalam pengelolaan karena kurangnya partisipasi masyarakat;
b. Masyarakat sekitar TWA Lembah Harau memiliki tingkat sosial budaya yang baik, yaitu masih terjaganya norma, nilai, dan kebudayaan setempat;
c. kelestarian lingkungan mulai terganggu karena kurangnya pengelolaan, konservasi, dan kesadaran lingkungan masyarakat maupun Pemda (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata);
d. pengelolaan yang buruk akibat tidak adanya partisipasi masyarakat.
Tabel 30 Hasil Penilaian Aspek Sosial Ekonomi
No Prinsip Kriteria Indikator Ada 1-2 Tidak Ada Skor
1 Pasar 1 Adanya potensi/peluang pasar 2 Tumbuhnya pelaku usaha
1 Peningkatan jumlah kunjungan
2 Pertumbuhan jumlah pelaku usaha v 20
2 Ekonomi kerakyatan
Terbukanya peluang usaha dan kesempatan kerja
1 Peningkatan jumlah kunjungan
2 Tumbuhnya pelaku usaha ekonomi mikro v 20
3 Penggunaan sumber daya setempat
Tumbuhnya kreativitas masyarakat 1 Peningkatan sarana/prasarana
2 Meningkatnya permintaan sumberdaya lokal
v 10
4 Unit selling point (USP)
1 Branding Image
2 Produk layak jual dan kualitas
Kunjungan berkesinambungan
v 10
5 Partisispasi masyarakat dalam investasi
Keberadaan sumber daya lokal sebagai aset
1 Setiap sumber daya lokal dapat menjadi nilai pokok
2 Meningkatnya alur distribusi lokal
v 10
6 Pembagian keuntungan
Adanya pengaturan/kesepakatan antar- pihak bersama pemerintah
Kontribusi keuntungan semua pihak
v 10
Total 90
x Bobot (=6) 540
Tabel 31 Hasil Penilaian Aspek Sosial Budaya
No Prinsip Kriteria Indikator Ada 3 Ada 1-2 Tidak Ada Skor
1 Pelestarian Adanya norma dan nilai 1 Adanya norma dan nilai-nilai budaya setempat yang masih berlaku dan dipegang teguh serta mengikat di dalam masyarakat 2 Adanya upacara-upacara adat yang masih
diselenggarakan
v 20
2 .
Apresiasi Adanya upacara adat Adanya kelempok kesenian
1 Jumlah/jenis upacara adat
2 Jumlah grup kesenian tradisional/modern 3 Interaksi seni budaya
v 20
3 Pengaturan Adanya pengaturan adat Masih adanya kelembagaan masyarakat v 20
Total 60
x Bobot (=6) 360 48
Tabel 32 Hasil Penilaian Aspek Lingkungan
No Prinsip Kriteria Indikator Ada 3 Ada 1-2 Tidak Ada Skor
1 Pengelolaan 1 Aturan tertulis/tidak tertulis di desa 2 Sadar lingkungan
1 Adanya sanksi lingkungan 2 Masih adanya kegiatan kerja
bakti/gotong royong
3 Tertata, bersih, nyaman, dan asri
v 15
2 Konservasi Pemanfaatan lingkungan alam dan budaya yang
berkelanjutan
1 Lingkungan lestari 2 Seni budaya masih eksis
3 Masyarakat masih mendapatkan nilai ekonomi dari lingkungan
v 20
3 Sadar lingkungan Pemahaman tentang arti dan manfaat linkungan meningkat
1 Meningkatnya perhatian dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan 2 Adanya pendidikan tentang lingkungan
pada sektor formal dan informal
v 10
Total 45
x Bobot (=6) 270
Tabel 33 Hasil Penilaian Aspek Pengelolaan
No Prinsip Kriteria Indikator ≥ 3 Ada 1-2 Tidak Ada Skor
1 Adanya institusi di masyarakat lokal
Partisipasi masyarakat 1 Adanya peran aktif dari institusi atau kelompok masyarakat
2 Keterlibatan pemangku kepentingan/stakeholders
v 10
2 Melibatkan semua pemangku kepentingan
Transparansi 1 Meningkat jumlah masyarakat yang memperoleh manfaat
2 Tersedianya mekanisme pendistribusian keuntungan
3 Tidak ada masyarakat yang menyampaikan keluhan
v 10
3. Peningkatan kapasitas 1 Pengetahuan dan keterampilan kelompok masyarakat meningkat
2 Semua guide terlatih dan memperoleh lisensi (terdapat pelatihan setidaknya sekali setahun)
v
10
49
3 Kesadaran kelompok masyarakat tentang konservasi sumber daya alam meningkat 4 Terbentuknya monitoring unit di tingkat
masyarakat
5 Jumlah pelatihan (konservasi, skill, dan pengetahuan sebagai pemamdu) 6 Kepuasan pengunjung meningkat
4. Regulasi 1 Kesepakatan pengelolaan yang legalitas
hukumnya diakui masyarakat dan pemerintah desa
2 Adanya nota kerjasama atau management agreement dengan pemilik kawasan 3 Adanya code of conduct
v 15
5. Isu keberlanjutan 1 Tersedianya produk-produk yang ramah
lingkungan 2 Mandiri
v 10
Total 55
x Bobot (=6) 330
Tabel 34 Kategori Penilaian Kesiapan Pengembangan CBE
Kategori Derajat Interval
Sangat baik Baik Sedang Buruk Sangat buruk
1836-2040 1632-1835 1428-1631 1224-1427 1020-1223
50
5.3 Penilaian Kesiapan Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata
Penilaian kesiapan masyarakat dalam pengembangan ekowisata memiliki tiga aspek, yaitu karakterisitk masyarakat, persepsi masyarakat mengenai pengembangan ekowisata, serta partisipasi dan keinginan masyarakat. Penilaian ini dilakukan melalui hasil kuesioner dari Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau Provinsi Sumatera Barat tahun 2000 yang dilakukan KSDA. Hasil penilaian dapat dilihat pada Tabel 35, 36, dan 37.
Berdasarkan rumus dalam penilitian Oktadiyani (2006), penilaian ODWT dibagi dalam lima kategori. Total dari kelima aspek di atas adalah 1460 (Tabel 38).
Dalam tabel kategori penilaian, nilai ini termasuk dalam kategori sedang. Skor pada penilaian ini hampir mencapai kategori baik (1676-1464). Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa aspek yang memiliki skor yang cukup rendah sehingga tidak cukup untuk mencapai kategori baik. Aspek persepsi masyarakat mengenai pengembangan ekowisata merupakan aspek yang memiliki skor paling rendah.
Simpulan dari penilaian ini adalah sebagai berikut.
a. masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah;
b. masyarakat mengetahui perlunya pelestarian tetapi belum adanya dukungan dalam bentuk tindakan;
c. partisipasi masyarakat masih kurang tetapi keinginan masyarakat untuk berpartisipasi sangat besar.
Tabel 35 Hasil Penilaian Karakteristik Masyarakat (berdasarkan kuesioner oleh KSDA tahun 2000)
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Skor
1 Pendidikan Lulus SD sebagian besar 20
2 Mata pencaharian penduduk Petani dan berkebun 20
3 Status kependudukan Mayoritas responden asli 30
Total 70
x Bobot (=5) 350
Tabel 36 Hasil Penilaian Persepsi Masyarakat Mengenai Pengembangan Ekowisata
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Skor
1 Objek yang perlu dilestarikan: ≥ 4 30
a. Keindahan alam
b. Keanekaragaman hayati (flora dan fauna) c. Peninggalan sejarah
d. Kebudayaan lokal e. Lainnya
v v v v
2 Pendapat pengembangan wisata ODWT dengan aspek kelesatarian Sangat sependapat 25
3 Kegiatan menjamin kelesatarian kawasan: Ada 1 15
a. Adanya pembatasan jumlah pengunjung
b. Kegiatan wisata yang bersifat merusak dihindarikan c. Melibatkan masyarakat dalam pengelolaan wisata d. Adanya dukungan pemerintah sebagai fasilitator e. Lainnya
v
4 Bentuk pelayanan dan fasilitas menjamin kelestarian kawasan/objek: Ada 1 15
a. Bangunan dengan bahan yang alami seperti kayu
b. Bangunan permanen dengan jumlah yang tidak terlalu banyak yang akan merusak keaslian kawasan objek wisata
c. Adanya interpreter (pemandu) yang dapat memberikan penjelasan mengenai kondisi kawasan objek wisata
d. Adanya homestay (penginapan) dan makanan tradisional yang dapat memberikan suasana alami pada
v
52
pengunjung e. Lainnya
Total 85
x Bobot (=6) 510
Tabel 37 Hasil Penilaian Partisipasi dan Keinginan Masyarakat
No Unsur/Sub Unsur Kriteria Skor
1 Partisipasi masyarakat Sedikit yang berpartisipasi 20
2 Persepsi masyarkat Mayoritas mendukung 25
3 Keinginan masyarakat ≥ 4 30
4 Dampak Perbandingan sama antara positif dan negatif 25
Total 100
x Bobot (=6) 600
Tabel 38 Hasil Kategori Penilaian Kesiapan Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata
Kategori Derajat Interval
Sangat baik Baik Sedang Buruk Sangat buruk
1677-1890 1464-1076 1251-1463 1038-1250 825-1037
53
5.4 Strategi Pengembangan Lanskap Berbasis Ekowisata
Strategi pengembangan dan pengelolaan ekowisata dilakukan dengan analisis SWOT. Pada kasus ini, analisis SWOT merupakan analisis lanjutan dari analisis penilaian. Analisis SWOT dilakukan untuk menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan dan menentukan prioritas strategi. Langkah pertama adalah menentukan faktor-faktor internal dan eksternal TWA Lembah Harau. Faktor- faktor ditentukan berdasarkan wawancara dengan pengelola dan masyarakat, analisis penilaian (ODTW, kesiapan pengembangan CBE, dan kesiapan masyarakat dalam pengembangan ekowisata), dan studi pustaka. Faktor internal terdiri dari kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses), sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Kekuatan yang dimiliki TWA Lembah Harau adalah sebagai berikut:
a. memiliki objek wisata yang alami dan khas (S1);
b. memiliki potensi pengembangan kegiatan wisata lainya (S2);
c. kawasan mudah di akses (S3);
d. tingkat sosial budaya masyarakat tinggi (S4);
e. adanya kesadaran masyarakat untuk melestarikan kawasan (S5);
f. tingkat keinginan masyarakat untuk berpartisipasi tinggi (S6).
Kelemahan yang dimiliki TWA Lembah Harau adalah sebagai berikut:
a. masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah (W1);
b. kurangnya partisipasi masyarakat (W2);
c. pelestarian kawasan belum optimal (W3).
Peluang yang dimiliki TWA Lembah Harau adalah sebagai berikut:
a. potensi pasar tinggi (O1);
b. adanya rencana pengembangan dan pengelolaan dari Pemda dan BKSDA (O2);
c. memiliki sarana dan prasaran penunjang yang cukup (O3).
Ancaman yang dimiliki TWA Lembah Harau adalah sebagai berikut:
a. kelestarian lingkungan mulai terganggu (T1);
b. belum adanya kerja sama antara Pemda dan BKSDA (T2).
Langkah kedua adalah penilaian faktor internal dan eksternal. Penilaian dilakukan dengan menentukan tingkat kepentingan dari masing-masing faktor.
Dalam kasus Lembah Harau, penilaian dilakukan oleh penulis berdasarkan keadaan kawasan. Hal ini dikarenakan kurangnya kesubjektifan pihak pengelola dalam membandingka setiap faktor. Setiap faktor internal dan eksternal diberi nilai berdasarkan tingkat kepentingannya (Tabel 39 dan 40). Selanjutnya dilakukan pembobotan dari hasil perbandingan tingkat kepentingan.
Tabel 39 Tingkat Kepentingan Faktor Internal TWA Lembah Harau
S1 S2 S3 S4 S5 S6 W1 W2 W3 Total Bobot
S1 2 3 2 2 2 2 2 2 17 0,11
S2 2 3 2 2 2 2 2 2 17 0,11
S3 1 1 1 1 1 2 1 1 9 0,06
S4 2 2 3 2 2 2 2 2 17 0,11
S5 2 2 3 2 2 3 2 2 18 0,12
S6 2 3 4 3 2 3 2 2 21 0,14
W1 2 2 3 2 1 1 1 1 13 0,09
W2 2 3 4 3 2 2 3 2 21 0,14
W3 2 2 3 3 2 2 3 2 19 0,12
Total 152 1,00
Tabel 40 Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal TWA Lembah Harau
O1 O2 O3 T1 T2 Total Bobot
O1 2 3 2 2 9 0,21
O2 2 3 3 2 10 0,24
O3 1 1 1 1 4 0,10
T1 2 2 3 2 9 0,21
T2 2 2 3 3 10 0,24
Total 42 1,00
Langkah ketiga adalah pembuatan Matriks IFE dan Matriks EFE. Setelah diperoleh bobot dari masing-masing faktor strategis internal dan eksternal, dilakukan penentuan peringkat (rating) antara 1-4. Berdasarkan rumus menurut Departemen Kehutanan (2007), rating setiap faktor dikalikan dengan bobot untuk memperoleh skor. Matriks IFE dan EFE dapat dilihat pada tabel 41 dan Tabel 42.
Tabel 41 Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) TWA Lembah Harau
Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor Kode Kekuatan
1 Memiliki objek wisata yang alami dank has 2 Memiliki potensi pengembangan kegiatan wisata 3 Kawasan mudah di akses
4 Tingkat sosial budaya masyarakat tinggi
0,11 0,11 0,06 0,11
4 2 3 3
0,44 0,22 0,18 0,33
S1 S2 S3 S4
5 Adanya kesadaran masyarakat untuk melestarikan kawasan 6 Tingkat keinginan masyarakat untuk berpartisipasi tinggi
0,12 0,14
4 4
0,48 0,56
S5 S6 Kelemahan
1 Masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang cukup rendah
2 Kurangnya partisipasi masyarakat 3 Pelestarian kawasan belum optimal
0.09 0,14 0,12
1 1 1
0,09 0,14 0,12
W1 W2 W3
Total 1,00 2,56
Tabel 42 Matriks External Factor Evaluation (EFE) TWA Lembah Harau
Faktor-faktor Strategi Ekternal Bobot Rating Skor Kode Peluang
1 Potensi pasar tinggi
2 Adanya rencana pengembangan dan pengelolaan dari Pemda dan BKSDA
3 Memiliki sarana dan prasaran penunjang yang cukup
0,21 0,24 0,10
3 3 2
0,63 0,72 0,20
O1 O2 O3 Ancaman
1 Kelestarian lingkungan mulai terganggu
2 Belum adanya kerja sama antara Pemda dan BKSDA
0,21 0,24
1 2
0,21 0,48
T1 T2
Total 1,00 2,24
Berdasarkan Matriks IE, Taman Budaya berada pada kuadran V. Kuadran V menunjukkan TWA Lembah Harau berada pada posisi hold and maintain (Gambar 18). Strategi yang sesuai adalah strategi seperti pengembangan pasar dan produk.
I II III
IV V VI
VII VIII IX
Gambar 18 Matriks Internal-Eksternal (IE) TWA Lembah Harau
Langkah keempat adalah pembuatan tabel alternatif strategi. Penentuan alternatif strategi dilakukan dengan mempertimbangkan kombinasi faktor-faktor internal dan eksternal yang saling terkait. Prioritas dari strategi ditentukan dari total skor dari kode pembobotan. Strategi yang memiliki total skor paling tinggi menjadi prioritas paling utama. Perhitungan prioritas strategi dapat dilihat pada
4 3 2 1
tinggi sedang rendah
rendah sedang tinggi
3 2 1
Total Skor EFE
Total Skor IFE
Tabel 43, yang menghasilkan lima peringkat strategi. Kelima strategi menjadi konsep pengembangan lanskap berbasis ekowisata di kawasan Taman Wisata Alam Lembah Harau yang akan dibahas dalam bab selanjutnya (Tabel 44).
Tabel 43 Pemeringkatan Alternatif Strategi Pengembangan TWA Lembah Harau
Strategi Kode Pembobotan Total Prioritas
S-O
1 Pengembangan produk wisata sesuai dengan potensi objek dan kegiatan wisata
2 Pelibatan masyarakat ke dalam rencana pengembangan dan pengelolaan Pemda dan BKSDA
S1+S2+S3+O1+O3 S4+S5+S6+O2
1,67 2,09
3 1
S-T
1 Adanya kerja sama antara Pemda, BKSDA, dan masyarakat
S4+S5+S6+T2 1,85 2
W-O
1 Peningkatan SDM masyarakat terutama mengenai ekowisata melalui berbagai pelatihan dan pendampingan
W1+W2+O2 0,95 5
W-T
1 Pensosialisasian kegiatan konservasi kepada masyarakat
W1+W2+W3+T1+T2 1,04 4
Tabel 44 Konsep Pengembangan Lanskap Berbasis Ekowisata di Kawasan Taman Wisata Alam Lembah Harau
Strategi Prioritas
1 Pelibatan masyarakat ke dalam rencana pengembangan dan pengelolaan Pemda dan BKSDA
2 Adanya kerja sama antara Pemda, BKSDA, dan masyarakat
3 Pengembangan produk wisata sesuai dengan potensi objek dan kegiatan wisata 4 Pensosialisasian kegiatan konservasi kepada masyarakat
5 Peningkatan SDM masyarakat terutama mengenai ekowisata melalui berbagai pelatihan dan pendampingan
1 2 3 4 5
V. KONSEP PENGEMBANGAN LANSKAP BERBASIS EKOWISATA di KAWASAN TAMAN WISATA ALAM LEMBAH HARAU
6.1 Pelibatan Masyarakat ke dalam Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Pemda dan BKSDA
Pelibatan masyarakat akan berdampak positif terhadap pengembangan dan pengelolaan suatu kawasan. Pelibatan tersebut yaitu adanya partisipasi masyarakat.
Menurut Mitchell (1997), partisipasi akan meningkatkan harapan masyarakat luas dan kebutuhan untuk berperan serta, serta keengganan untuk menerima bahwa seorang ahli tentulah mengetahui apa yang terbaik. Melalui partisipasi masyarakat, berbagai bentuk ketidakpastian, terutama masalah sosial budaya, situasi akan mudah terpecahkan secara efektif untuk jangka panjang. Dalam Rencana Pengelolaan tahun 2000 oleh BKSDA dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) tahun 2000 oleh Bappeda (Pemda), dijelaskan bahwa diperlukan partisipasi masyarakat untuk mendukung berjalannya kedua rencana tersebut. Melalui kedua rencana tersebut, peluang masyarakat untuk berpartisipasi menjadi lebih besar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam partisipasi masyarakat.
Langkah awal adalah menentukan tingkat partisipasi dari masyarakat. Menurut Arnstein dalam Mitchell (1997), tingkat partisipasi masyarakat yang baik adalah kemitraan. Dalam partisipasi pada tingkat kemitraan, masyarakat akan terlibat dari awal kegiatan pengembangan hingga evaluasi. Rancangan dalam membentuk kemitraan adalah menentukan alasan pembentukan kemitraan, tingkat kesertaan, tipe peserta, jenis kemitraan, elemen yang mensukseskan, waktu, komponen program, mekanisme, dan pemantauan dan evaluasi (Mitchell, 1997). Kementrian Sumber Daya Alam Ontario dalam Mitchell (1997), mengidentifikasi bentuk- bentuk kerjasama dalam kemitraan, terdapat empat bentuk. Bentuk yang cocok dalam kasus kawasan TWA Lembah Harau adalah kemitraan operasional (operasional partnership). Kemitraan operasional merupakan jenis kemitraan dengan peserta atau mitra melakukan pembagian kerja, tidak hanya pengambilan keputusan. Di sini penekanannya untuk mencapai kesepakatan atas tujuan yang diinginkan bersama, kemudian bekerja sama untuk mencapainya. Kerja sama ini
dapat begitu tinggi, pesertanya saling berbagi sumberdaya bukan uang dalam jumlah besar. Kekuasaan masih dipegang secara utama oleh peserta yang mempunyai sumber dana, dan ini biasanya lembaga-lembaga pemerintah. Namun, jika masyarakat telah siap (setelah pembelajaran berjalan efektif), bentuk kerja sama berubah menjadi tingkat yang lebih tinggi, yaitu kemitraan kolaboratif (collaborative partnership). Kemitraan ini hampir sama dengan kemitraan operasional, tetapi dalam kerja sama ini semua peserta termasuk masyarakat memiliki otonomi yang sama kuat. Terdapat bentuk lain dari partisipasi masyarakat dalam ekowisata berbasis masyarakat. Jain (2000) dalam Qomariah (2009) menyatakan bentuk-bentuk sebagai berikut.
a. Partisipasi dalam pengembangan
Partisipasi merupakan langkah awal bagi Pemda dan BKSDA untuk mengikutsertakan masyarakat pada awal pengembangan TWA Lembah Harau.
Walaupun masyarakat tidak memiliki bidang keilmuan, informasi penting lainnya dapat menjadi faktor penting dalam pengembangan. Perlu ditekankan bahwa tahap ini merupakan tahap penting karena masyarakat dapat ikut terlibat dalam sistem. Masyarakat harus dihargai agar masyarakat termotivasi untuk melaksanakan hal ke tingkat yang lebih tinggi.
b. Partisipasi dalam pembuatan keputusan
Pembuatan keputusan harus benar-benar berdasarkan pemikiran yang matang.
Tidak boleh terlalu memihak ke salah satu kelompok, termasuk masyarakat itu sendiri. Pada kasus kawasan TWA Lembah Harau, pengambilan keputusan harus dilaksanakan dengan hati-hati. Hal ini dikarenakan masyarakat belum terlalu mengerti dari proses formal yang ada. Pemda dan BKSDA harus dapat membimbing, tetapi bukan menjadi satu-satunya pihak yang memutuskan keputusan.
c. Partisipasi dalam pelaksanaan dan perjalanan prosesnya
Pelaksanaan merupakan tahapan penting. Jika keputusan telah disepakati bersama, proses pelaksanaan dapat berjalan lancar. Perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi agar pelaksanaan dapat berjalan efektif.
d. Partisipasi dalam pembagian keuntungan ekonomi
Pembagian keuntungan ekonomi menjadi tahap yang sensitif. Semua pihak harus benar-benar ikut terlibat dalam pembagian. Keuntungan harus dibagikan sesuai dengan keputusan yang telah disepakati. Hal ini juga dapat menjadi motivasi masyarakat untuk lebih giat dalam sistem pengembangan dan pengelolaan.
Hal penting yang harus ditekankan dalam sistem kemitraan adalah masyarakat harus dilibatkan dari awal pengembangan. Menurut Mitchell (1997), terdapat kunci agar kemitraan dapat dilakukan dengan baik. Kunci ini, antara lain informasi harus disebarkan ke semua peserta terutama masyarakat. Kemudian semua ide ditampung dari semua peserta. Kedua hal ini disebut sebagai information-out dan information-in. Terkumpulnya banyak ide memungkinkan
penyelesaian menjadi semakin efektif. Namun, proses ini dapat menjadi menjadi faktor penghambat jika waktu yang dihabiskan dalam kedua proses ini berjalan terlalu lama. Diperlukan kesadaran setiap peserta untuk mencari penyelesaikan dengan waktu singkat. Terdapat bentuk-bentuk mekanisme partisipasi publik (Tabel 45). Mekanisme ini dapat dipilih salah satu atau dikombinasikan, disesuaikan dengan kondisi.
Tabel 45 Bentuk-bentuk Mekanisme Partisipasi Publik
Perwakilan Informasi masuk
Informasi keluar
Pertukaran menerus
Kemampuan membuat keputusan Pertemuan
publik
Kurang baik Kurang baik Baik Kurang baik Kurang baik - cukup Tugas
khusus
Kurang baik Baik Baik Baik Cukup - baik
Kelompok- kelompok
Kurang baik - baik
Kurang baik - baik
Kurang baik - baik
Baik Cukup
Penasehat Baik Baik Cukup Kurang baik Kurang baik
Survey sosial Kurang baik Baik Kurang baik Kurang baik Baik Penyerahan
individu atau kelompok
Kurang baik Baik Baik Kurang baik Baik
Ligitation Kurang baik - cukup
Baik Baik Kurang baik Baik
Abritasi Cukup Baik Baik Cukup Baik
Mediasi lingkungan
Kurang baik - cukup
Baik Baik Baik Baik
Lobi Kurang baik - cukup
Baik Cukup Baik Cukup
Sumber: Mitchell, 1997
Langkah terakhir adalah pemantauan dan evaluasi. Tahapan ini penting untuk mengetahui seberapa besar penerapan dapat berjalan dengan lancar.
Pemantauan dan evaluasi harus memiliki prosedur yang jelas agar dapat dilaporkan dan didiskusikan dengan mudah. Dalam kasus kawasan TWA Lembah Harau, pemantauan harus dilakukan oleh tim khusus yang terdiri dari anggota BKSDA. Hal ini dikarenakan KSDA memiliki pemahaman yang lebih tinggi mengenai ekowisata. Menurut Smith dalam Mitchell (1997) terdapat tiga bagian yang perlu dievaluasi, yaitu konteks, proses, dan keluaran atau hasil. Contoh lembar pemantauan dan evalusi dapat dilihat pada Tabel 46.
Tabel 46 Contoh Lembar Pemantuan dan Evalusi
Konteks
1 Latar belakang
2 Persiapan/pengaturan kelembagaan a. Struktur dan proses politik b. Regulasi dan legislasi c. Struktur administrasi 3 Penampilan lembaga
a. Status b. Fungsi
c. Kerangka kerja
d. Persiapan/pengaturan pendanaan Proses
1 Tujuan dan sasaran partisipasi
a. Tugas yang diberikan pada partisipasi b. Tujuan peserta
2 Jumlah dan alasan kesertaan publik a. Siapakah mereka?
b. Sejauh manakah mereka mewakili?
c. Sejauh manakah mereka terorganisir?
3 Metodologi yang digunakan a. Teknik
b. Akses ke informasi c. Sumber daya Keluaran/hasil 1 Hasil partisipasi 2 Keefektifan
a. Menekankan pada isu-isu b. Kesesuaian proses
c. Tingkat kesadaran yang dihasilkan d. Dampak dan pengaruh pada peserta e. Waktu dan biaya
Sumber: Mitchell, 1997
Setelah menentukan tahap-tahap dalam pembentukan partisipasi, perlu dibentuk wadah masyarakat. Pembentukan wadah merupakan bentuk nyata dari partisipasi masyarakat. Wadah yang dibentuk berupa kelembagaan sebagai tempat
melakukan kegiatan-kegiatan pengembangan ekowisata. Melalui kelembagaan, partisipasi masyarakat dapat dilaksanakan secara terencana dan terorganisasi.
Kelembagaan yang dibentuk berfungsi sebagai tempat pelatihan, pembinaan, forum diskusi, forum pengambilan keputusan, pengamatan, dan evaluasi, dengan peran serta Pemda dan KSDA sebagai fasilitator dalam kelembagaan. Hal ini dikarenakan kelembagaan untuk jangka panjang menjadi wadah mandiri masyarakat dalam berpartisipasi. Masyarakat setempat merupakan komunitas yang paling mengetahui kondisi lingkungan setempat sehingga peran KSDA dan Pemda hanya bersifat memfasilitasi, masyarakat sendiri yang akan menentukan bentuk wadah yang dibangun. Peran pemerintah lebih bersifat mengawasi, memfasilitasi, dan mengawal proses. Pengawasan dilakukan agar tetap pada koridor hukum sehingga tidak menyimpang dari peraturan perundangan yang berlaku. Jika kelembagaan telah mantap, masyarakat dapat mengembangkan dan mengelola kawasan tanpa bantuan pihak luar. Pada tahap ini ekowisata berbasis masyarakat akan tercapai.
Dalam tahap awal harus didiskusikan prosedur utama dalam kelembagaan seperti struktur, tugas, dan peran masing-masing pihak terkait. Prosedur yang ada harus disepakati bersama. Ristiyanti (2008) menjelaskan bahwa dengan pembentukan wadah dalam pengembangan desa wisata diharapkan aspirasi masyarakat dari berbagai bentuk partisipasi dan aspirasi secara umum dapat terakomodasi.
6.2 Kerja Sama antara Pemda, BKSDA, dan Masyarakat
Sistem kerja sama masyarakat dengan Pemda dan BKSDA telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, yaitu adanya pelibatan masyarakat dalam bentuk partisipasi kemitraan. Dalam sub bab ini akan menjelaskan aspek-aspek yang dapat dikerjakan bersama sesuai dengan Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau Tahun 2000 oleh BKSDA dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Pariwisata Lembah Harau Tahun 2000 oleh Bappeda (Pemda).
Beberapa hal yang dapat menjadi acuan kerja sama dalam Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau Tahun 2000, yaitu Pemda, BKSDA, dan masyarakat bersama-sama
a. menentukan batas-batas antara cagar alam dengan hutan lindung (HT) dan areal penggunaan lain (APL);
b. melakukan pemasangan batas melalui pemasangan papan pengumuman dan penanaman jalur hijau;
c. menginventariasi dan menjaga ekosistem;
d. menginventarisasi dan mengidentifikasi potensi flora dan fauna;
e. mengemas wisata sesuai dengan potensi yang ada;
f. membangun sarana dan prasarana sesuai dengan dana pemerintah, yaitu
1) kantor pengelola, laboratoriun penelitian, dan pondok penelitian dibangun di Desa Tarantang Lubuak Limpato;
2) pos jaga ditempatkan di dalam dan di luar kawasan terutama pada daerah yang sering dilalui oleh masyarakat, rawan kebakaran, dan wilayah konsentrasi penduduk tinggi;
3) menara pengawas satwa dan kebakaran;
4) jalan patroli;
5) pembangunan demplot-demplot potensi jenis kupu-kupu dengan bantuan masyarakat.
Beberapa hal yang dapat menjadi acuan kerja sama dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Pariwisata Lembah Harau Tahun 2000, yaitu Pemda, BKSDA, dan masyarakat bersama-sama
a. membantu dalam proses inventarisasi, pembangunan, dan pengelolaan fasilitas baru seperti rumah makan, pos penjagaan, gazebo, tempat pemandian, taman bermain.
b. dapat menjadi tenaga kerja, khususnya masyarakat, dalam menjaga dan membersihkan fasilitas umum seperti toilet, mushola, gazebo, tempat pemandian, taman bermain, dan rumah makan.
c. mengatur sempadan bangunan untuk memperkecil resiko penjalaran bahaya kebakaran, memperlancar aliran udara, pencahayaan matahari dan sirkulasi pergerakan.
Kedua rencana tersebut tidak dilakukan secara terpisah tetapi dapat dilakukan bersama sehingga tujuan dapat tercapai. Hal utama yang dapat
dikoordinasikan adalah mengenai pendanaan sarana dan prasaran oleh Pemda dan penambahan jumlah tenaga ahli dari Pemda.
6.3 Pengembangan Produk Wisata Sesuai Dengan Potensi Objek dan Kegiatan Wisata
Daya tarik berupa keindahan alam telah dikembangkan di TWA Lembah Harau, tetapi belum ada pengemasan khusus dalam bentuk program-program.
Budaya masyarakat yang cukup tradisonal dapat menjadi daya tarik tambahan.
Dalam Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau tahun 2000 oleh BKSDA, kawasan Lembah Harau dibagi menjadi dua blok, yaitu blok inti dan blok rimba.
Blok inti adalah kawasan yang kondisinya masih utuh dan asli dan blok rimba adalah kawasaan yang dapat mengakomodasi kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan. Kedua blok ini belum teridentivikasi secara keseluruhan. Daerah yang telah diidenfikasi oleh BKSDA adalah sebagai berikut:
1 blok inti, yaitu bagian utara di sekitar Bukit Simalokama hingga bagian selatan di sekitar Batang Sarasah Aka Barayun dan bagian barat di daerah Bukit Jambu;
2 blok rimba, yaitu TWA Lembah Harau dan daerah jalan perlintasan masyarakat.
Berdasarkan konsep pembagian kegiatan wisata oleh Weaver (2001), potensi kegiatan wisata dapat dibagi beberapa kegiatan, yaitu ekowisata, wisata massal, dan wisata alternatif (Gambar 19).
Gambar 19 Konsep Pembagian Kegiatan Wisata oleh Weaver
Konsep ini menjelaskan bahwa kegiatan wisata massal memiliki proporsi lebih besar. Proporsi ini dipengaruhi oleh jumlah kegiatan dan jumlah pengunjung yang melakukannya. Ekowisata menjadi bagian dari wisata massal karena kegiatan dan jumlah pengunjung yang melakukan ekowisata jauh lebih sedikit. Hal ini dimaksudkan bahwa ekowisata dan wisata massal dapat dikerjakan dalam di tempat yang sama dan waktu yang bersamaan. Wisata alternatif merupakan wisata yang bukan termasuk jenis wisata massal atau ekowisata. Namun, wisata alternatif dapat dipadupadankan ke dalam wisata massal dan ekowisata. Bentuk kegiatan wisata oleh Weaver (2001) menandakan bahwa dalam satu kawasan dapat melakukan banyak kegiatan wisata.
Berdasarkan konsep pembagian kegiatan wisata oleh Weaver (2001), rencana blok oleh BKSDA, potensi objek wisata, dan pusat aktivitas, dapat direkomendasikan pembentukan ruang berikut: ruang penerimaan, ruang pelayanan, ruang wisata massal, serta ruang ekowisata dan wisata alternatif (Gambar 20).
Gambar 20 Peta Pengembangan Ruang 66
6.4 Pensosialisasian Kegiatan Konservasi kepada Masyarakat
Konservasi merupakan suatu tindakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Lembah Harau miliki keanekaragaman flora dan fauna yang perlu dijaga. Menurut hasil wawancara dengan BKSDA, telah terjadi gangguan lingkungan di Lembah Harau dan sekitarnya. Gangguan muncul karena aktivitas masyarakat sekitar, yaitu adanya perkebunan gambir, kulit manis, dan jeruk disekitar kawasan Lembah Harau dan pembukaan lahan untuk jalan akses antar desa. Hasil inventarisasi dan identifikasi daerah penyangga oleh BKSDA menyatakan bahwa kawasan hutan lindung dan hutan produksi yang saat ini kondisinya lebih memprihatikan dibandingkan dengan kawasan cagar alam yang disangganya. Gangguan ini belum memiliki dampak yang nyata, tetapi dapat berdampak besar untuk jangka panjang. Salah satu dampak yang telah terjadi adalah berkurangnya debit air di objek wisata air terjun terutama saat musim kemarau.
Salah satu cara untuk mengurangi dampak buruk, perlu dilakukan pensosialisasian mengenai kegiatan konservasi kepada masyarakat dan stakeholder lainnya. Dalam Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau tahun 2000
oleh BKSD, terdapat beberapa kegiatan pensosialisasian tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. inventarisasi dan identifikasi bersama masyarakat bagian-bagian kawasan yang saat ini telah dimanfaatkan atau dikhawatirkan ;
b. mensosialisasikan keberadaan dan manfaat Lembah Harau melalui pengenalan jalur dan tanda (pal) batas kawasan, baik kepada masyarakat maupun instansi pemerintah dan swasta;
c. mensosialisasikan keberadaan kawasan melalui program-program pemberdayaan masyarakat, yaitu
1) bersama masyarakat memasang papan pengumuman yang berisi pesan- pesan untuk tidak mengkreasi gangguan terhadap cagar alam;
2) bersama masyarakat melaksanakan kegiataan penanaman jalur hijau batas kawasan dengan jenis tanaman multi-fungsi.
Pensosialisasian ini dapat menjadi bentuk kerja sama yang baik antara Pemda, BKSDA, dan masyarakat.
6.5 Peningkatan SDM Masyarakat Melalui Berbagai Pelatihan dan Pendampingan
Pelatihan dan pendampingan masyarakat dilakukan akibat masih rendahnya latar belakang pendidikan masyarakat. Dalam Rencana Pengelolaan CA Lembah Harau tahun 2000 oleh BKSD, pelatihan dan pendampingan masyarakat dilakukan dengan konsep berikut:
a. mengembankan dan membina hubungan tradisional antara masyarakat dengan alamnya;
b. meningkatkan produktifitas lahan melalui pola intensifikasi lahan;
c. meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap pelestarian alam dan lingkungannya;
d. mengembangkan jenis-jenis kebutuhan pokok yang berasal dari kawasan konservasi;
e. mengembangkan sistem pengelolaan jasa-jasa lingkungan yang berada dalam kawasan konservasi.
Bentuk-bentuk kegiatan konservasi telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya.
Dalam penyelenggaraan pelatihan tersebut perlu adanya kerja sama dengan pihak- pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya, yaitu sebagai berikut:
a. kegiatan identifikasi flora dan fauna dan inventarisasi objek dan daya tarik wisata memerlukan kerja sama dengan BKSDA, perguruan tinggi bidang kehutanan, dan perguruan tinggi bidang pariwisata;
b. kegiatan pengolahan lahan yang ramah lingkungan dengan sistem agroforestri memerlukan kerja sama dengan Dinas Pertanian dan perguruan tinggi bidang pertanian;
c. kegiatan pengemasan produk wisata memerlukan kerja sama dengan perguruan tinggi bidang pariwisata dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata;
d. kegiatan peningkatan kemampuan bahasa Inggris, boga dan etika pelayanan memerlukan kerja sama dengan perguruan tinggi bidang pariwisata dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata;
e. kemampuan manajemen, akuntasi sederhana, dan pembuatan dan pemasaran souvenir memerlukan bekerja sama dengan praktisi bidang industri rumah tangga dan Dinas Perindustrian.
Sama halnya dengan adanya pelatihan, pendampingan diperlukan karena tingkat pengetahuan masyarakat cukup rendah dan tidak dimilikinya pengetahuan tentang ekowisata. Perbedaan pendampingan dengan pelatihan adalah, dalam pendampingan, masyarakat terjun langsung dalam praktik dan pendamping sebagai pengamat. Kesalahan di lapang akan diperbaiki dalam pelatihan.
Pendampingan merupakan suatu proses untuk mencapai kemandirian pengelolaan sehingga proses ini dapat dihentikan setelah masyarakat siap untuk melaksanakan pengembangan dan pengelolaan secara mandiri. Pendampingan pada masyarakat dapat dilakukan pada setiap kegiatan yang dapat mendukung pengembangan kawasan. Pendampingan dapat dilakukan oleh berbagai instansi yang berhubungan dengan pengembangan ekowisata. Pendampingan dilakukan untuk mendorong, memfasilitasi, dan membina pengembangan wisata oleh masyarakat secara mandiri.