• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta pada pengimplementasiannya.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini merupakan bagian akhir dari penulisan hukum yang berisi tentang simpulan dari pembahasan yang telah dibahas sebelumnya serta saran atau rekomendasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Pengertian Perlindungan Hukum

Perlindungan Hukum merupakan sebuah perlindungan yang wajib didapatkan sesorang atau subjek hukum dari negara atau pemerintah. Dalam hal tersebut akan melahirkan suatu hak dan kewajiban satu sama lain antara negara dan warganya. Perlindungan hukum akan menjadi hak tiap warga negaranya. Namun disisi lain dapat dirasakan juga bahwa perlindungan hukum merupakan kewajiban bagi negara itu sendiri, oleh karenanya negara wajib memberikan perlindungan hukum kepada warga negaranya. Hal-hal tersebut

(2)

merupakan arti pentingnya perlindungan hukum bagi warga negara dan pemerintah yang saling mempunyai hubungan timbal balik. Jika dilihat dari sudut pandang yang lebih kecil dan terperinci, Perlindungan Hukum adalah menjamin berlangsungnya sistem hubungan kerja tanpa adanya tekanan dari pihak yang kuat (perusahaan) kepada pihak yang lemah (pekerja) (Fajar Alamsyah Akbar, 2006:4).

Banyak pengertian perlindungan hukum menurut para ahli. Menurut Philipus M. Hadjon pada bukunya menjelaskan Perlindungan Hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut (Philipus M.

Hadjon, 1987:25). Menurut Satjipto Raharjo mendefinisikan perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum (Satjipto Rahardjo, 2000:53). Muchsin berpendapat, bahwa perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia (Muchsin, 2003:14).

Selanjutnya, terdapat sarana perlindungan hukum, yakni suatu tempat atau wadah yang dibutuhkan dalam pelaksanaan perlindungan hukum tersebut.

Sarana perlindungan hukum ini dibagi kedalam dua jenis yang dapat dimengerti, sebagai berikut :

a. Sarana Perlindungan Preventif

Pada perlindungan hukum preventif ini, subyek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu

(3)

keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif. Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa.

Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindak pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi. Di indonesia belum ada pengaturan khusus mengenai perlindungan hukum preventif. (http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum- menurut-para-ahli/, diakses pada 17 Januari 2019 pukul 00:35).

b. Perlindungan Hukum Represif

Perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran (Muchsin 2003:20). Perlindungan ini bertujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan ataupun sengketa. Penanganan yang sudah ditangani oleh Pengadilan Umum dan atau Peradilan Administrasi termasuk dalam perlindungan represif.

Dari pengertian dan bentuk dari perlindungan hukum diatas dapat dimengerti bahwa bahwa perlindungan hukum adalah segala bentuk upaya pengayoman terhadap harkat dan martabat manusia serta pengakuan terhadahak asasi manusia di bidang hukum. Jika masuk kedalam hal yang lebih dalam yakni perlindungan Hak Cipta, Menurut Djumhana dijelaskan bahwa doktrin-doktrin yang berkembang dalam perlindungan Hak Cipta, yaitu:

a. Doktrin Publisitas (Right of Publicity);

b. Making Available Right dan Merchandising right;

c. Doktrin Penggunaan yang pantas (Fair use/ Fair dealing);

d. Doktrin Kerja Atas Dasar Sewa (the Work Made for Hire Doctrine);

e. Perlindungan (Hak) Karakter;

f. Pengetahuan Tradisional (traditional Knowledge); dalam lingkup keterkaitan Hak Cipta;

g. Cakupan-cakupan baru dalam perlindungan Hak Cipta; software free, copyleft, open source. (Hasbir Paserangi, 2011:24).

(4)

2. Pengaturan Hak Cipta dan Sistem Perlindungannya

Hak cipta didefinisikan bermacam – macam menurut pendapat antara para ahli. Menurut Mc Keoug dan Stewart, Hak Cipta adalah suatu konsep dimana pencipta (Artis, Musisi, Pembuat Film) yang memiliki hak untuk memanfaatkan hasil karyanya tanpa memperbolehkan pihak lain untuk meniru hasil karyanya tersebut (Afrillyana Purba, 2005:3). Apabila menyangkut mengenai subjek Hukum, Hak Cipta Menurut Imam Trijono berpendapat bahwa hak cipta mempunyai arti tidak saja si pencipta dan hasil ciptaannya yang mendapat perlindungan hukum, akan tetapi juga perluasan ini memberikan perlindungan kepada yang diberi kepada yang diberi kuasa pun kepada pihak yang menerbitkan terjemah daripada karya yang dilindungi oleh perjanjian ini. Pengertian Hak Cipta jika ditinjau dari pengertian Bahasa, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hak adalah kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dan sebagainya), sedangkan Hak Cipta adalah hak seseorang atas hasil penemuannya yang dilindungi oleh undang-undang (seperti hak cipta dalam mengarang, menggubah musik). Sistem perlindungan dalam hukum KI, khususnya hak cipta meliputi: subyek perlindungan, obyek perlindungan dan yang pengecualian atau pembatasan, stelsel pendaftaran, jangka waktu perlindungan, dan perbuatan pihak lain serta tindakan oleh pencipta atau pemegang hak cipta apabila terjadi pelanggaran oleh pihak lain. (Sudjana, 2015:259)

Menurut hukum perundang-undangan yang terdapat pada Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam isi dan substansinya, semua menjelaskan bahwa Hak Cipta memiliki pengertian yang sama yakni Hak Istimewa atau Hal Eksklusif, hak untuk melakukan sesuatu yang dimiliki oleh

(5)

Pemegang hak cipta atau pencipta karya cipta dalam dan atau untuk memanfaatkan hasil karya ciptanya.

Mengenai ruang lingkup hak cipta, Hak cipta atau hak ekslusif memiliki dua pembagian lingkup Hak Cipta yakni, Hak Moral dan Hak Ekonomi. Hak Moral merupakan integritas dari si pencipta atau pemegang Hak Cipta. Hak moral suatu hak cipta dapat meliputi hak untuk mencantumkan nama pencipta dari hasil karyanya dan hak untuk mengubah judul atau isi dari ciptaan. Hak moral merupakan hak yang tidak dapat dialihkan ke orang lain sehingga hak moral selalu terintegrasi dengan penciptanya, sedangkan Hak ekonomi adalah hak untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan, atau hak untuk mengumumkan dan memperbanyak suatu hak cipta. Hak Cipta memiliki ruang lingkup yang sebagaimana diatur dalam Pasal 40 Undang-Undang Hak Cipta, yakni mengenai hasil ciptaan apa saja yang dapat dilindungi atau mendapat perlindungan dari Undang-Undang Hak Cipta :

a. Buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;

b. Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan sejenis lainnya;

c. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. Lagu dan atau music dengan atau tanpa teks;

e. Drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomime;

f. Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung atau kolase;

g. Karya seni terapan;

h. Karya arsitektur;

i. Peta;

j. Karya seni batik atau seni motif lain;

k. Karya fotografi;

l. Potret;

m. Karya sinematografi;

n. Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;

o. Terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, arau modifikasi, ekspresi budaya tradisional;

(6)

p. Kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program computer maupun media lainnya;

q. Kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;

r. Permainan video; dan s. Program Komputer;

System perlindungan hukum terhadap karya yang sudah disebutkan diatas dapat berjalan atau berlaku berdasarkan undang-undang yang mengatur apabila karya ciptaan tersebut sudah didaftarkan untuk memperoleh hak cipta tersebut.

Setelah pencipta mendapatkan Hak Cipta, maka siapapun yang ingin menggunakan hasil ciptaan tersebut harus mendapatkan izin dari pencipta.

3. Fotografi di Era Digital

Perkembangan fotografi dinilai sangat pesat dibanding dengan beberapa dekade belakangan jika dilihat dari proses, media hingga penjualan. Fotografi adalah revolusi dalam cara pandang manusia (the way of seeing/vision).

Fotografi bukan hanya menciptakan citraan yang begitu akurat, rinci dan obyektif dalam mengapropriasi realitas. Lewat aparatnya: kamera dan proses cetak kimiawi film negatif, yang begitu cepat. Fotografi juga memberikan dampak yang lebih melebar. Tiap citraan fotografi bisa digandakan tanpa batasan jumlah salinan (copy), terlebih meriapnya pengembangan reproduksi mekanik, penyebarluasan citraan fotografi semakin luas. Fotografi menjadi model ''seni'' yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara massal, lewat berbagai lembaga, seperti media massa, penerbitan buku.

Fotografi menjadi simbol dari semangat budaya modern: demokratisasi dunia citraan (sebelum diciptakan fotografi, seni lukis hanya bisa dimiliki kelas

tertentu dalam hirarki masyarakat).

(http://faculty.petra.ac.id/ido/artikel/fotografi/tantangan_fotografi.htm, diakses pada 18 Januari 2019, pukul 01:47).

Pengertian Fotografer tidak dilihat dari definisinya saja. Jika dilihat dari kegiatannya, Fotografer pada era sekarang dibagi menjadi dua, yaitu profesi

(7)

dan hobi. Pengertian Fotografer jika dilihat dari hobi yaitu seseorang yang melakukan aktivitas fotografi dengan maksud untuk melakukan kegiatan rekreasi disaat waktu luang untuk menenangkan pikiran atau untuk memenuhi keinginan untuk mendapatkan kesenangan. Pengertian Fotografer jika dilihat dari profesi adalah seseorang yang melakukan kegiatan fotografi secara profesional yang merupakan tanggung jawabnya yang sebagai kegiatan pokok untuk memperoleh penghasilan. Jadi Profesi Fotografi adalah seseorang yang hidup dari fotografi. Seperti halnya profesi-profesi lain nya, profesi sebagai guru, profesi sebagai dokter, dan lain-lainnya, mereka memerankan keahlihan

nya masing-masing untuk mendapatkan penghasilan.

(https://gilangajip.com/pengertian-fotografer-fotografi/, diakses pada 03 Juli 2019, pukul 11:47).

Fotografi memasuki zaman yang baru, dimana telah terjadi evolusi dalam perkembangan teknologi media, yaitu digital. Dalam dunia digital, semua data, tak terkecuali citraan foto, ditransformasi dan terurai dalam bentuk kode-kode numerik, menjadi zat yang fleksibel, hampa, virtual. Perkembangan foto digital (dan pengembangan kamera digital dan komputer grafik) membuat proses produksi dan reproduksi citraan begitu pesat. Dalam proses foto digital, kita bisa menggubah, memindahkan, memotong, menimpa, mengobrak-abrik citraan tanpa harus mengganggu salinan asli hanya dengan hitungan detik.

Hebatnya lagi tiap citraan bisa keluar (output) di atas permukaan apa pun dan ukuran yang gigantik sekalipun. Dalam bentuk: negatif film, video, piringan (disc), transparansi, di atas: kertas foto, plastik, kanvas bertekstur bahkan ditampilkan secara virtual lewat jaringan di Internet. Dengan biaya relatif murah dan mudah.

Pergantian teknologi fotografi dari analog ke digital amat terasa. Kini semakin jarang terjadi transaksi peralatan kamera analog dan film negativ maupun dia-positiv. Bahkan pesawat mobile phone atau telefon seluler generasi baru, hampir semuanya dilengkapi fitur kamera digital dengan resolusi antara satu hingga tiga megapixel. Kamera digital kompak, kini memiliki lebih

(8)

banyak fitur dan fungsi. Kerapatan gambar dan warnanya, kini kisarannya mencapai lima sampai tujuh mega-pixel, yang berarti ketajaman dan kecemerlangannya telah melewati ketajaman film warna konvensional.

Sekarang, ibaratnya hambatan dalam dunia fotografi, nyaris sudah disingkirkan seluruhnya. Zaman dimana penggemar foto, memotret dengan hati-hati, karena harga film dan ongkos pengembangannya di studio yang cukup mahal, telah lewat. Para pengguna kamera digital, boleh dikatakan dapat memotret sebanyak mungkin obyek, menghapus gambar yang tidak disukai, dan menyimpan gambar yang disenangi dengan mudah dalam komputer atau media penyimpan memory lainnya. Trend ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Hasselblad, Christian Poulsen. Setelah gelombang kamera digital kompak di tahun-tahun sebelumnya, di arena Photokina tahun 2006 ini, yang digelar dari tanggal 26 September sampai 1 Oktober lalu, trend berikutnya adalah teknologi kamera reflex tunggal SLR digital. Teknologi terbaru, mampu menampilkan kamera SLR Digital yang lebih sempurna. Lensa-lensa baru yang dilengkapi koreksi distorsi gambar, perangkat sensor yang lebih peka cahaya hingga 30 megapixel, serta kartu penyimpan data yang kapasitasnya mencapai 8 gigabyte, merupakan trend yang nampak tahun ini (https://www.dw.com/id/trend-baru- fotografi-digital/a-2957912, diakses pada 18 Januari 2019 Pukul 02:03).

Lebih dari beberapa tahun belakangan kita memasuki zaman yang sudah dimudahkan dengan kedatangan peralatan digital seperti komputer, handphone, compact discs (CDs) dan DVD yang bisa terintegrasi dengan penggunaan Fotografi digital. The basic concept is exteremly attractive-a digital camera replaces the conventional silver halide camera and a memory card replaces the silver film. Depending upon price, a memory card can store from ~15 up to over 500 images. Advantages of digital photography include:

a. Instant view of the pictures taken on an LCD (Liquid crystal display) on the camera. The Picture can be edited immediately, so that a good picture can be stored on the memory card and a bad picture can be erased instantly.

Fotografi di era digital lebih memudahkan karena hasil foto bisa langsung

(9)

terlihat di layar kecil kamera digital. Hasil ambilan gambarpun bisa langsung dipilih fotografer untuk disimpan atau dibuang.

b. The pictures can be input, viewed and stored on a computer, and also downloaded on to a CD if required. Berbeda dengan beberapa dekade yang lalu jika ingin melihat gambar harus melalui proses pencucian foto, sedangkan pada fotografi diera digital, gambar yang diambil bisa dimasukan dan dilihat melalui komputer.

c. The pictures can be manipulated on the computer: the colours may be altered (useful for giving people a suntan by adjusting the contrast), objects added or removed and the picture enlarged or reduced. Foto yang diambil juga bisa langsung memasuki tahap penyempurnaan atau editing. Mengatur tingkat kecerahan, kontras, dan berbagai efek warna dalam komputer atau handphone, sedangkan sebelum memasuki era digital, hasil foto tidak dapat disempurnakan melalui tahap editing, hasil foto sangat bergantung kepada kualitas film yang digunakan.

d. Lower cost. The memory card can be used repeatedly, like a video.

Therefore, an unlimited number of pictures can be taken and viewed without incurring any cost (except for camera batteries!). Cost is only incurred when the pictures are printed, either at home, using an inexpensive ink jet printer, or at a hight street photoshop. (Peter Gregory, 2006:1). Biaya yang hemat juga menjadi sebuah keuntungan yang bisa dinikmati pada fotografi era digital. Media penyimpanan atau memory card bisa digunakan berulang kali, bahkan dalam satu media penyimpanan dapat menyimpan hingga 20 kali lebih banyak dibanding dengan penggunaan film pada fotografi sebelum di era digital.

4. Media Sosial dan Kaitannya Dengan Fotografi

Media sosial/ social media atau yang dikenal juga dengan jejaring sosial merupakan bagian dari media baru. Jelas kiranya bahwa muatan interaktif dalam media baru sangatlah tinggi. Media sosial, dikutip dari Wikipedia, didefinisikan sebagai sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog,

(10)

jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Pada dasarnya media sosial merupakan perkembangan mutakhir dari teknologi-teknologi perkembangan web baru berbasis internet, yang memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi, berpartisipasi, saling berbagi dan membentuk sebuah jaringan secara online, sehingga dapat menyebar luaskan konten mereka sendiri. Media jejaring sosial adalah situs yang menjadi tempat orang-orang berkomunikasi dengan teman-teman mereka, yang mereka kenal di dunia nyata dan dunia maya (Rangga Aditya, 2015:3).

Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. (http://www.unpas.ac.id/apa-itu-sosial-media/, diakses pada tanggal 19 Januari 2019 Pukul 01:11). Media sosial/ social media atau yang dikenal juga dengan jejaring sosial merupakan bagian dari media baru. (Errika Dwi Setya Watie, 2011:71). Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2016 telah mencapai 132,7juta. Tiga konten paling sering di akses adalah media sosial, hiburan, dan berita. Dari 132,7 juta pengguna internet Indonesia,97,4% di antaranya merupakan pengakses media sosial. Data ini menjelaskan bahwa media sosial sangat mempunyai peranan besar dalam kegiatan berinternet di Indonesia.

Media sosial yang sangat berkaitan dengan fotografi dalam kegunaan untuk mempublikasikan hasil karya adalah Instagram. Nama Instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “foto instan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Kata “gram” berasal dari kata

“telegram”, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga

(11)

informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itulah Instagram berasal dari instan-telegram. Media sosial banyak memberi kemanfaatan untuk fotografer, hal ini yang membuat banyak fotografer berminat untuk mempublish hasil ciptaanya (https://infotografi.com/peran- sosial-media-bagi-bisnis-fotografi/ diakses pada 20 Januari 2019, pukul 23:19) yakni:

a. Membangun Citra. Berbagi konten yang relevan melalu sosial media (konten yang benar-benar bisa menghubungkan orang) bisa membantu fotografer agar dikenal sesuai dengan expertise dan keahlian, atau memungkinkan Anda untuk membangun kredibilitas pada topik spesifik pada bidang fotografi. Hal ini bisa memberikan esensi dasar bagi fotografer yang bertujuan untuk membangun minat serta keberadaan hasil foto mereka.

b. Mengelola Relasi. Banyak dari klien, mitra dan rekan fotografer saat ini yang sudah berada dalam sosial media, dimana fotografer juga ingin berada atau menjalin percakapan dan melakukan pendekatan. Sosial media merupakan cara mudah untuk berinteraksi dengan orang-orang tersebut dengan sudut pandang mereka. Jejarin sosial seperti Twitter bisa berperan sebagai client-support, dimana berhubungan secara online bisa mempermudah berhubungan dengan mereka serta membantu menyediakan kebutuhan klien yang berkomunikasi menggunakan sosial media. Lebih luas lagi, sosial media bisa menjadi channel atau media yang ideal untuk memberikan update pada klien tentang foto-foto terbaru, proyek kreatif serta berbagi detail informasi.

c. Penjualan Langsung. Secara logis, banyak penyedia produk dan jasa yang menggunakan sosial media dengan secara langsung berjualan, tetapi ini adalah taktik pemasaran yang harus dipertimbangkan dengan baik serta bijaksana. Keberadaan media sosial adalah untuk komunikasi Dua arah, dan sering berteriak “Gunakan jasa Saya!” atau “Beli Foto Saya!” pasti akan membuat orang atau calon klien fotografer akan menjauh. Tetapi bagaimanapun juga, ada pendekatan yang bisa dilakukan dengan pemikiran sosial media memang diperuntukkan untuk kebutuhan personal dan bisnis,

(12)

jadi beberapa tingkat promosi masih bisa diterima. Jika pertama kali fotografer menanamkan kepercayaan serta kredibilitas dengan cara mendengarkan, memberikan nilai tambah, terlibat dalam percakapan, dan secara tulus membantu orang lain, maka orang lain akan tidak mempermasalahkan beberapa promo yang fotografer lakukan, terutama jika mereka memiliki ketertarikan pada merek yang fotografer buat.

d. Peringkat Search Engine Optimizaion. Dikarenakan media sosial memang mengembangkan budaya untuk berbagi, maka pengikut atau followers akan cenderung mencari link yang relevan untuk dibagikan kembali ke pengikut mereka sendiri. Model berbagi sosial seperti ini tentunya menambah kemungkinan akan lebih banyak orang yang akan melihat, berbagi, serta membagikan link konten. Media sosial juga bisa menjadi cara sementara untuk muncul di halaman satu mesin pencarian, karena search engine atau mesin pencari sekarang ini telah mulai meng-indeks tweet dan memunculkan di halaman awal mesin pencari. Tweet Anda yang berisi kata kunci terpilih bisa berada di halaman awal mesin pencari, meskipun hanya dalam waktu singkat. Pada awal tahun ini, sebagian ahli SEO (Search Engine Optimization) sepakat bahwa dengan berpartisipasi dalam media sosial akan memberikan pengaruh yang besar pada SEO fotografer secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa mesin pencari semakin memperjelas pengaruh media sosial bagi penentuan peringkat dalam mesin pencari.

e. Mencari Inspirasi Serta Feedback. Ketika fotografer memulai membangun sebuah network atau jaringan dari rekan-rekan serta para pemikir, fotografer akan sangat terbantu dengan apa yang didapatkan, entah itu Fotografer memilih berinteraksi menggunakan Google+, Twitter, Facebook, LinkIn, atau kombinasi dari media sosial tersebut, fotografer akan terkejut secara tiba-tiba memiliki ide serta gagasan baru dalam kreatifitas fotografer.

Fotografer akan terinspirasi oleh hasil kerja orang lain dalam jaringan fotografer tentunya. Fotografer juga akan terlibat percakapan yang kaya akan peningkatan teknik, dan bahkan fotografer bisa meminta pendapat

(13)

serta dukungan dalam segala hal serta topik, seperti menentukan harga dalam dunia fotografi ketika bernegosiasi dengan klien, dan lain-lain.

Fotografer akan terhubung dengan hal-hal yang menarik bagi mereka, mengenal fotografer lain di beberapa media sosial serta memperhatikan posting-posting mereka dan melihat bagaimana bisnis dan teknik fotografi mereka berkembang, jika pada suatu saat fotografer merasa tertarik dengan pokok bahasan mereka tentu tidak ada salahnya berbagi opini dan bertanya.

5. Efektivitas Penegakan Hukum

Efektivitas hukum adalah landasan atau dasar untuk mengetahui bagaimana hukum beroperasi didalam masyarakat, yang dimana teori ini sangat relevan di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Teori ini mensyaratkan bahwa hukum dapat dilihat melalui ilmu social (social science research) (Zainuddin Ali 2017: 31). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hukum itu berfungsi didalam masyarakat, yaitu:

a. Kaidah hukum

Kaidah hukum merupakan segala peraturan yang ada yang telah dibuat secara resmi oleh pemegang kekuasaan , yang sifatnya mengikat setiap orang dan pemberlakuannya merupakan paksaan yang harus ditaati dan apabila telah terjadi pelanggaran akan dikenakan sanksi tertentu. Di dalam teori-teori ilmu hukum, dapat dibedakan antara tiga macam hal mengenai berlakunya hukum sebagai akidah. Hal ini, diungkapkan sebagai berikut:

1) Kaidah hukum berlaku secara yuridis, yakni apabila penentuannya didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya atau terbentuk atas dasar yang telah ditetapkan.

2) Kaidah hukum yang berlaku secara sociologis, apabila kaidah tersebut efektif. Artinya, kaidah tersebut dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa walaupun tidak diterima oleh warga masyarakatnya, atau kaidah itu berlaku karena adanya pengakuan dari masyarakat.

3) Kaidah hukum berlaku secara filosofis, yaitu sesuai dengan cita hukum sebagai nilai positif yang tinggi

Dikaji secara mendalam, supaya hukum itu berfungsi dengan baik maka setiap kaidah hukum harus memenuhi ketiga macam unsur kaidah diatas,

(14)

sebab apabila kaidah hukum hanya berlaku secara yuridis maka ada kemungkinan kaidah itu merupakan kaidah mati; apabila kaidah hukum hanya berlaku secara sociologis dalam arti teori kekuasaan, maka kaidah itu menjadi aturan pemaksa; apabila kaidah hukum hanhya berlaku secara filosofis, maka kemungkinan nya kaidah itu hanya merupakan hukum yang dicita-citakan.

Sehingga apabila ingin hukum berfungsi secara benar maka sangat crucial apabila kaidah hukum telah memenuhi ketiga unsur yang telah disebutkan diatas.

b. Penegak Hukum

Pengertian Penegak Hukum dalam Undang-Undang tidak dapat ditemui, namun banyak pengertian – pengertian hukum yang ada menurut para pendapat. Penegak hukum adalah aparat yang melaksanakan proses upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perolaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Di Indonesia secara tradisional institusi hukum yang melakukan penegakan hukum adalah kepolisian, kejaksaan, badan peradilan dan advokat. Diluar institusi tersebut masih ada diantaranya, direktorat jendral bea cukai, direktorat jendrak pajak, dan direktorat jendral imigrasi. Didalam penegakan hukum, kemungkinan penegak hukum menghadapi hal-hal sebagai berikut:

1)

Sampai sejauh mana petugas terikat dari peraturan-peraturan yang ada.

2)

Sampai batas-batas mana petugas berkenaan memberikan kebijaksanaan.

3) Teladan macam apakah yang sebaiknya diberikan oleh petugas kepada masyarakat

4) Sampai sejauh manakah derajat sinkronisasi penugasan-penugasan yang diberikan kepada para petugas sehingga memberikan batas-batas yang tegas berkenaan dengan wewenangnya.

c. Sarana atau Fasilitas

Sarana atau fasilitas yang dimaksud adalah alat pembantu yang diperlukan penegak hukum untuk memperlancar proses penegakan hukum

(15)

dengan baik dan efektif kepada masyarakat. Sarana atau fasilitas sangat penting untuk mengefektifkan suatu aturan perundang-undangan tertentu.

d. Kesadaran Hukum Masyarakat

Kesadaran hukum merupakan perihal apakah hukum yang bersangkutan berfungsi atau tidak di dalam kehidupan masyarakat.

Kesadaran hukum adalah kesadaran warga masyarakat untuk mematuhi suatu perundang-undangan atau norma hukum yang telah dibuat oleh pemerintah.

B. Kerangka Pemikiran UU NOMOR 28 Tahun 2014 Tentang Hak

Cipta

Perlindungan terhadap karya seni salah satunya fotografi

Perlindungan terhadap Hak Ekonomi

Perlindungan terhadap Hak Moral

Hanya bersifat perlindungan terhadap bentuk nyata (Pasal 40 Ayat 3 UU HKI) Pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), termasuk pelindungan terhadap Ciptaan yang tidak atau belum dilakukan Pengumuman tetapi sudah diwujudkan

dalam bentuk nyata yang memungkinkan Penggandaan Ciptaan tersebut.

(16)

Gambar 2. Kerangka Pemikiran

Keterangan :

Kerangka pemikiran diatas mencoba memberikan gambaran mengenai alur pemikiran dalam menjabarkan, mengalisais, mengangkat dan menemukan jawab dalam melakukan penelitian ini, yakni menerangkan bahwa Undang – undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta, menjelaskan mengenai berbagai macam aspek mengenai hak cipta terutama aspek perlindungan terhadap suatu Hak Cipta salah satunya seni Fotografi.

Perlindungan terhadap Hak Cipta terbagi atas Perlindungan terhadap Hak Moral dan Hak Ekonomi, yang masing – masing mempunyai peranan penting dalam perlindungan suatu Hak Cipta. Perlindungan tersebut juga berlaku untuk hak cipta karya seni Fotografi. Namun sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 40 Ayat 3 bahwa perlindungan yang diberikan oleh Undang – Undang Hak Cipta hanya terhadap karya cipta yang bersifat nyata.

Perkembangan teknologi semakin pesat, sehingga menciptakan berbagi macam wadah untuk berkarya salah satunya mengunggah hasil karya Fotografi.

Media sosial

Perlindungan Hukum untuk ciptaan yang berbentuk nyata Fotografer(Pencipta) mengunggah

karyanya ke media sosial

Pelanggaran Hak Cipta

Terjadi kerugian dan pencipta hendak melakukan tuntutan

Referensi

Dokumen terkait

 Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer  Tujuan: mengetahui kepekatan urine.  Alat

• Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja3.

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan kelapa lima yang memiliki 6 kelurahan dengan luas wilayah 15,31 KM2 dan jumlah penduduk 61.411 orang. Dengan memiliki banyak kekhasan

Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup, sekitar 59,91% sampah dibuang ke TPA, sisa sebesar 40,09% dikelola dengan dtimbun (7,54%), dijadikan kompos dan dimanfaatkan

Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air, kadar karotenoid total, kadar karotenoid

Sosis adalah salah satu olahan daging yang dibuat dengan cara daging dihaluskan kemudian diberi bumbu dan dimasukan kedalam selongsong (casing) yang berbentuk

(2006), “Analisis faktor psikologis konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian roti merek Citarasa di Surabaya”, skripsi S1 di jurusan Manajemen Perhotelan, Universitas

Rincian anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Bencana Gempa di Provinsi Jawa Tengah sesuai dengan DIPA Tahun 2006 sebagaimana Tabel Petunjuk Pelaksanaan, apabila