• Tidak ada hasil yang ditemukan

AL-IMAM AL-GHAZALI Dilengkapi Teks Kitab Arab Bersyakal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AL-IMAM AL-GHAZALI Dilengkapi Teks Kitab Arab Bersyakal"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

- i -

AL-IMAM AL-GHAZALI

Dilengkapi Teks Kitab Arab Bersyakal

Penerjemah : BAHRUDIN ACHMAD

(3)

ISLAM, KAFIR, & ATEIS

Judul Asli : Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah Karya Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Penerjemah:

Bahrudin Achmad Editor : Siti Dahwiyah

Layout : Manarul Hidayat

Penerbit : Pustaka Al-Muqsith Kota Bekasi Jawa Barat Cetakan Pertama, Januari 2022 Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang memperbanyak dalam bentuk dan dengan cara apa apapun tanpa izin dari penerbit.

All right reserved

(4)

iii

PENGANTAR PENERJEMAH

Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, kalimat itulah yang paling tepat untuk penulis ucapkan, sebab dengan hidayah iman, Islam, dan petunjuk-Nya penulis dapat menyelesaikan penerjemahan buku ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wa ba’du.

Secara garis besar, Imam al-Ghazali dalam kitab faishal al-tafriqah merekomendasikan agar seorang muslim tidak gegabah dalam jastifikasi stigmatik terhadap muslim lainnya yang berbeda pendapat dengannya. Dalam hal ini beliau tampaknya ingin menyarankan menampung keragaman pendapat itu terlebih dahulu, kemudian dikaji secara ilmiah. Hal ini barangkali bertujuan agar seseorang terhindar dari penilaian yg berdasar pada prasangka- prasangka yg sama sekali tidak dibenarkan dalam agama.

Imam al-Ghazali mengemukakan pendapat, seorang muslim hendaknya tidak gegabah mengkafirkan orang yang masih menggunakan semisal ka’bah sebagai kiblat shalatnya. Kalaupun ada perbedaan, maka sedapat mungkin dicari penyelesaian. Paling jauh yang bisa dilakukan jika perbedaan pandangan benar-benar tidak bisa didamaikan adalah menyatakannya sesat atau bid’ah. Itupun dalam pengertian hanya ungkapan untuk menyatakan

(5)

Semoga buku terjemah ini senantiasa membawa manfaat bagi siapa pun yang membacanya. Semoga Allah SWT menjadikan amal ini sebagai berkah bagi kita semua.

Aamiin.

Bekasi, Januari 2022 Bahrudin Achmad

(6)

v

DAFTAR ISI

Pengantar Penerjemah ... iii Biografi Singkat Imam Al-Ghazali ... 1 Latar Belakang Penulisan Kitab Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah ... 9 MUKADIMAH ... 13 PASAL 1 : Kebenaran Itu Merupakan Syariat Untuk Semua ... 25 PASAL 2 : Batasan (Definisi) antara Kufur dan Iman ... 37 PASAL 3 : Mengenai Tahrir Definisi (batasan) Iman dan Kufur ... 41 PASAL 4 : Mengenai Tamsil Perwujudan Berdasarkan Syariat dan Pentakwilan ... 52 PASAL 5 : Mengenai Luasnya Metode Iqrar dan Tashdiq, serta Penetapan Aturan-Aturan Takwil ... 65 PASAL 6 : Mengenai Membebaskan Aturan dalam Takwil ... 75 PASAL 7 : Mengenai Hukum Tak’wil Tanpa Didasari Burhan ... 85

(7)

PASAL 9 : Mengenai Landasan Pengkafiran dan Syarat-Syaratnya ... 113 PASAL 10 : Mengenai Keabsahan Iman Al-Muqallid dan Argumentasinya ... 125 PASAL 11 : Mengenai Luasnya Rahmat Allah Swt ... 139 PASAL 12 : Penjelasan Landasan Dasar Takfir

(Pengkapiran) ... 157 PASAL 13 : Mengenai Kesalahan Orang Yang Berkata

“Aku Mengkafirkan Orang Yang Mengkafirkanku, Dan Orang Yang Tidak Mengkafirkanku, Maka Tidak

Kukafirkan” ... 163 Biografi Penerjemah ... 167

(8)

1

BIOGRAFI SINGKAT IMAM AL-GHAZALI

Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, nasab, dan kelahiran Al-Ghazali

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As- Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al-Ghazali.

Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau.

Ini dikuatkan oleh Al-Fayumi dalam Al-Mishbah Al-Munir.

Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al-Ghazali, yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anak dari Situ Al-Mana bintu

(9)

Abu Hamid Al-Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al-Ghazzali).

Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al-Ghazzali adalah yang benar.”

Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al-Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al- Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al-Akhbar, ini pendapat Al-Khafaji.

Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid.

Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya, 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:326 dan As-Subki, Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193 dan 194)

Perjalanan menuntut ilmu

Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau

(10)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

3 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta.

Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut.

Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”

(Dinukil dari Thabaqat Asy-Syafi’iyah, 6:193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy- Syafi’iyah, 6:194)

(11)

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz-Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’, 19:323 dan As-Subki, Thabaqat Asy- Syafi’iyah, 6:191)

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik.

Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana.

Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Masa akhir kehidupannya

Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Pada akhir kehidupannya, beliau

(12)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

5 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim).

Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats-Tsabat ‘indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya), “Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, ‘Bawa ke mari kain kafan saya.’ Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkan-nya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.’ Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari).” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 6:34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah, 6:201)

Karya-karyanya

Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:

Pertama, dalam masalah ushuluddin dan akidah:

1. Arba’in fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.

2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’

Ulumuddin pada jilid pertama.

3. Al Iqtishad fil I’tiqad.

(13)

4. Tahafut Al-Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.

5. Faishal At-Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.

Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:

1. Al-Mustashfa min ‘Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya.

2. Mahakun Nadzar.

3. Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.

4. Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.

5. Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.

6. Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna.

Telah dicetak.

7. Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.

8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al-Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al- Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al-Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy

(14)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

7 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al-Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19:329) Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.

9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.

10. Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.

11. Qanun At-Ta’wil.

12. Fadhaih Al-Bathiniyah dan Al-Qisthas Al-Mustaqim.

Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.

13. Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al-Mu’tashim Billah Al-Baghdadi.

14. Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.

15. Ar-Risalah Alladuniyah.

16. Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini

17. Al-Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.

(15)

LATAR BELAKANG PENULISAN KITAB FAISHAL AT-TAFRIQAH BAINA AL-ISLAM

WA AL-ZANDAQAH

Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah (Garis pemisah antara Islam dan Ateis/zindiq) ini hadir sebagai pembelaan atas inovasi dan kebebasan intelektual serta kritik keras terhadap kebekuan dalam tradisi mazhab.

Ada beberapa hal menarik, dari kebanyakan pandangan terkait doktrin ahlussunnah wal jamaah. Dalam konteks ini khususnya berkenaan hadis iftiraq, yang memuat keterangan tentang umat Islam terpecah menjadi 73 golongan.

Kitab Faishal al-Tafriqah ditulis Al-Ghazali sekitar tahun 1106 M. Sehingga hampir bersamaan dengan al- Munqidz min al-Dhalal yang memuat risalah pembelaan diri Al-Ghazali untuk berbeda pandangan dari rekan sejawat ulama Asy’ariyah pada zamannya.

Diceritakan, waktu itu Wazir atau menteri Dinasti Saljuq, Fakhr al-Mulk—penerus Nizham al-Mulk—

mendesak Al-Ghazali untuk kembali menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah di Nisyapur. Desakan Fakhr al- Mulk, yang tak mungkin ia tolak, menimbulkan dilema moral kepada al-Ghazali. Apalagi konsekuensinya, ia harus aktif dalam dunia politik dan kehidupan akademis yang ia

(16)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ___________________________

Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah | 10

bersumpah akan meninggalkannya. Al-Ghazali tak bisa mengelak desakan wazir. Maka begitulah, ia diangkat menjadi guru besar Madrasah Nizhamiyah. Tak lama kemudian menjadi sasaran serangan para ulama Nisyapur yang anti terhadapnya.

Berbagai tuduhan dialamatkan kepada Al-Ghazali.

Mulai dari penyimpangan paham Asy’ariyah dalam beberapa karyanya seperti Ihya’ Uluumuddin, Misykat al- Anwar, dan lain sebagainya. Bahkan, hingga tuduhan keji lain yang menganggap Al-Ghazali sering meminjam ajaran filsuf Muslim Al-Farabi dan Ibnu Sina. Waktu itu, Al- Farabi dan Ibnu Sina pemikirannya banyak disadur oleh Syi’ah Isma’iliyah. Keduanya juga merupakan musuh politis dan ideologis Dinasti Saljuq yang berkuasa. Walhasil muncul kemudian tuduhan Al-Ghazali seorang penganut Isma’iliyah yang sesat dan kafir. Sehingga dinilai tak pantas sebagai guru besar Madrasah Nizhamiyah.

Al-Ghazali menulis Faishal al-Tafriqah sebagai pem- belaan atas tuduhan itu. Dalam prolog yang dengan berapi- api, Al-Ghazali menyerang penuduhnya sebagai “orang- orang dengki” yang “mentah dan dungu.” Para penyerangnya ia tuduh dengan ungkapan berikut: “Sebagai orang-orang yang tuhannya adalah nafsu; sesembahannya adalah para raja. Arah kiblatnya dinar dan dirham. Syariatnya adalah kecerobohan dan pemujaan terhadap jabatan dan kekayaan.

Ibadahnya adalah pengabdian kepada mereka yang berpunya.

Zikirnya adalah bisikan-bisikan setan. Tafakurnya adalah pencarian muslihat-hukum demi menuruti hasrat ragawi mereka.”

Ia mencurahkan keseluruhan isi Faishal al- Tafriqah untuk membicarakan isu ‘takfir’. Ada argumentasi indah yang Al-Ghazali disampaikan dalam kitab ini : “Bila para ulama berbeda pendapat, mengapa salah satu di antaranya dicap kafir sementara yang lainnya tidak? Apa tolok ukurnya? Jika

(17)

Al-Baqillani merumuskan teori tentang sifat Tuhan yang berbeda dari pemikiran Al-Asy’ari, mengapa Al-Baqillani yang mesti dicap kafir bukan Al-Asy’ari? Lalu, bila misal alasannya karena senioritas Al-Asy’ari, bukankah para pemikir Mu’tazilah lebih senior daripada Al-Asy’ari? Lalu bila misal alasannya adalah keutamaan moral atau intelektualitas, dengan tolok ukur apa kita menimbang kelebihan dan kekurangan para ulama?

Berdasarkan polemik itu, pertanyaan muncul, bagaimana kita membedakan seorang muslim dan kafir? Al- Ghazali menjawab pertanyaan ini dengan rumusan sederhana. Seorang muslim adalah orang yang percaya kepada apapun yang Nabi Muhammad risalahkan.

Sementara itu, predikat kafir adalah yang menolak untuk percaya itu. Ini berarti bahwa seorang Muslim adalah seorang yang percaya serta membenarkan (tashdiq) ajaran- ajaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sedangkan seorang kafir adalah yang tidak mau mempercayainya.

(18)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ___________________________

Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah | 12

(19)

باتكلا ةمّدقم

MUKADIMAH

ِمَيِحّرلا ِن محَّْرلا ِللها بِسْمِ

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

ِا َلىاَعَت َللها ُدَ محْ َ ِتمس أ

متِتمساو ،ِهِتَّزِعِل ًامَلامس ،ِهِتَممعِ ِلِ ًاماَم

مغِتمساو َطَو ِهِتَنموُعَمَو ِهِقميِفموَ ِلِ ًاماَن َخ منِم ًاما َصمعِتمساَو ،ِهِتَعا

ِهِن َلامذ

َي ِصمعَمَو مساو ،ِهِت ِت مد َر ًارا ،ِهِتَ محَْر ِغِباَوَسِل

Aku memuji Allah yang Maha Luhur dengan kepasrahan pada keagungan-Nya, memohon kesempurnaan nikmat-Nya, mengharap taufiq, ma’unah-Nya, dan kekuatan untuk ketataan kepada-Nya, menjauhi kedurhakaan kepada-Nya, dan berharap limpahan karunia- Nya.

(20)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ___________________________

Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah | 14

ِا ،ِهِتَقميِلَخ ِ ميَْخَو ِ ِلِموُسَرَو ِهِدمبَع ٍدَّممح َ َعَل يلِّ َصُأَو ًاداَيِق من

مساو ،ِهِتَّوُبُ ِلِ

ِت مج َشِل ًاب َلا

،ِهِ َلِاَسِر يقَِلِ ًءاَضَقَو ،ِهِتَعاَف معاو

ًاما َصِت

ِهِتَ متِْعَو ِهِباَح مص َ

أَو ِ ِلِآ َ َعَلَو ،ِهِتَبميِقَن ِنممُيِب .

Aku bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, hamba Allah, rasul-Nya, dan sebagai sebaik-baiknya makhluk ciptaan Allah-Nya, dengan ketundukan atas nubuwahnya, berharap syafaatnya, seraya memenuhi kewajibanku atas hak risalahnya, dan berlindung dengan keagungan perangainya. Juga aku haturkan pula untuk keluarga, para sahabat , dan keturunan beliau nya yang alim.

َ ب ا َ م َ أ : ُد ْع

َ لا اَهُّي َ أ َكُتمي َ

أَر ينِِّإَف َّصلاَو ُقِف مشُملا ُخ

ُب يصَعَتُملا ُقميِد

موُم ِغ َّصلا َر َل ؛ِر مكِفلا َمَّسَقُم ،ِر مد َّمـ

َق ا َر َم َكَعممَس َع َط من

ٍةَفِئا َط ِن مع

َسَلِا َنِم لا اَنِبُت ُك ِضمعَب َ َعَل ِةَد

ِت َلاَماَعُم ِراَ مسَْأ يِـف ِةَفَّن َصُم

، ِنمييلدا

Amma Ba’du :

Sahabat, Aku melihatmu sedang dirundung gelisah, berduka, dan pikiranmu galau. Ketika engkau mendengar caci maki sebagian orang-orang yang hasud atas sebagian

(21)

buku-buku yang telah kutulis mengenai rahasia-rahasia bermuamalah1 dalam agama.

َزَو ِباَح مص َ مع

لا َبَهمذَم ُفِلاَ ُيُ اَم اَهميِف َّن َ

أ ممِهِم ُدُعلا َّن َ

أَو ، َ ميِْم ي َكََتُملا ِخِياَّشَملاَو ،َ ميِْميدَقَتُملا ِبمهَذَم منَع َل مو

َق ِفِ مو َلَو ييِرَعمشَلا ِش ِد يي

ٍمب ُ ...

مف ،ٌر َياَبُمَو ... ٍرمزَن ٍء َشَ ِفِ موَلَو ُهَت َن

...ٌ مسُْخَو ٌلَلا َض

Dan mereka menganggap bahwa isi buku tersebut menyimpang dari Mazhab para sahabat terdahulu, dan menyimang dari ajaran para ulama ahli Kalam. Dan mereka mengganggap bahwa berbeda dari mazhab Asy'ari, walau sejengkal saja, ….. sudah kufur,…. dan berbeda pendapat dengannya (asy’ari), walaupun hanya secuil… ini merupakan kesesatan dan kerugian.

اَهُّي َ أ منيوَهَف ) ُخ َ

َلاَو ، َك ِسمفَن َ َعَل ُب يصَعَتُملا ُقِف مشُملا لا(

ُفَو ،َكُرمد َص ِهِب ُقيضَي ،ًلاميِلَق َكِبمر َغ منِم َّل

Tenangkan dirimu….Wahai sahabatku yang besar empatinya dan besar girahnya untuk melindungiku. Engkau tidak perlu bersedih hati. Jangan berkecil hati. Bersabarlah atas ucapan cemooh mereka yang tidak menyakitkanmu

م ِب مصاَو ًلايِ َجَ اًرمجَه ممُهمرُجمهاَو َنوُلوُقَي اَم َ َعَل

1 hubungan manusia dalam interaksi sosial sesuai syariat, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup berdiri sendiri. Dalam hubungan dengan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban.

(22)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

25 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

:ٌلْصَف

ِعْيِمَجلل ٌةعرش ُّقَلحا

PASAL 1 : KEBENARAN ITU MERUPAKAN SYARIAT2 UNTUK SEMUA

َ َف أ َّم

َ أ ا من ِإ َت من

َ أ َر مد َت

َ أ من ِ من َت َع ِذ ِه َه َلِا ِس مي َك َة منَع

َص ِر مد َك َو ، َص ِر مد َم من ُه ِفِ َو ِلمثِم ِلا َح ِم ، َك َّم من َلا َ ُ ت ُكير ُه َغ َو َيا ُة

َلِا ِد َس َو ، َلا ُت َق ُديي ُه َع َم َيا ُة َلِا مق ِل ِد مي َب ، مل َت َع ُّط ُش ِإ َلى ُه ِلاا ِت مب مس ِرا َص

َِلِ

َز ِة َزا ِإ مش ٍل َك

َ ِرا أ َث ِف ا َه مك ٌر َو ، َه َجَّي َه َن ا ٌرظ َف ، ِطا َخ مب َن مف َس َك

َو ِحا َص َب َك َو ، مِلا َط َ ِب ُه ُكلا يد ِر ، مف

Adapun anda…. Jika ingin agar tercabut duri/belenggu dalam dadamu, dan dada orang lain yang sama keadaannya sepertimu, yaitu orang-orang yang tidak bergerak oleh dorongan dengki, serta tidak terbelenggu oleh taklid buta. Melainkan haus akan penjelasan akan berbagai kesulitan yang sangat mengganggu yang timbul dari proses berpikir dan berdasarkan kajian-kajian. Maka,

2 hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah swt., hubungan manusia dan alam sekitar berdasarkan Al-Qur’an dan hadits

(23)

bicaralah pada dirimu sendiri, pada sahabatmu, dan meminta padanya untuk mengkaji batasan kufur.

Batas Kekufuran Itu Bukan Karena Perbedaan Mazhab

َف ِإ من َز َع

َ َم أ َّن َح َّد ُكلا ِر مف َم َُيُ ا ِلا ُف َم مذ َه

َ َب لا مش ِر َع يي

، َ

أ مو َم مذ َه َب ُملا َِت مع ي ِل

َ أ ، مو َلِا من َب ِلِّ

َ أ مو ِميْ ََ

ِه مم ...

َف معا َل

َ مم أ َّن رِغ ُه ِل مي َب ٌد ،

َق مد َق َدَّي ُه َلِا مق ِل مي ُد َف ، ُه

َ َو أ مع ِم َم َن ُعلا مم َي ِنا َف ، َلا ُت َض يي مع ِب ِإ مص ِح َلا ِه

َزلا َم َنا ،

Jika ada yang menyangka bahwa batasan kekufuran (kesesatan) itu karena berbeda dari mazhab Asy’ari3, atau mazhab Mu’tazili4, atau mazhab Hanbali, dan mazhab yang lainnya. Maka ketahuilah bahwa sangkaan itu amat sangat bodoh. Sunguh tradisi taklid5 ini telah mengekangnya, orang seperti itu lebih buta dari pada orang buta. Maka,

3 Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abu Bisyr Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ari Abdullah bin Qais bin Hadhar.

adalah salah seorang keturunan dari sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Abu Musa Al-Asy'ari. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 260 H/873 M dan wafat di Baghdad pada tahun 324 H/935 M.[1] Sebagian besar hidupnya berada di Baghdad. atau lebih dikenal imam Asy'ari adalah seorang mutakalim yang berperan penting dalam perkembangan teologi Asy'ariyah.

4 sebuah sekte yang mulai berkembang di awal abad kedua Hijriah. Sekte ini diajarkan oleh Washil bin Atha’, seorang murid al-Hasan al-Bashri yang memilih untuk menyimpang dari ajaran guru-gurunya. Di kemudian hari, sekte yang ia dirikan dijuluki dengan sekte Mu’tazilah yang diambilkan dari lafadz i’tazal (menyendiri/menyimpang) karena telah menyimpang dari paham mayoritas umat Islam.

5 “menerima perkataan (pendapat) orang, padahal engkau tidak mengetahui darimana sumber atau dasar perkataan (pendapat) itu”. Orang yang melakukan taklid disebut mukalid

(24)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

27 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

jangan sibuk (buang-buang waktu) untuk memperbaikinya… (cuekin aja)

َو َن ِها مي َك ُح َّج ِفِ ًة ِإ مف ِما َح ِه ُم ، َق َبا َل ُة َد مع َو ِب ُها َد مع َو ى

ُخ ُص ِم مو ِإ ، ِه َلا ذ ِ َيَ

ُد َب َ ميْ

َن ِس مف ِه َو َب َ ميْ

ِئا َس ِر ُملا ِ ي َق لّ

مي َن

َ ُ لِ

ُملا ِلا َخ ِف َ ميْ

َ ُ لِ

َف مر َو ًاق َف مص ًلا ...

Dan cegah dirimu untuk memberikan hujah (argumentasi) untuk meluruskannya, dan membandingkan tuduhannya dengan tuduhan-tuduhan lawannya. Sebab tidak akan ditemukan (sia-sia) antara orang-orang yang taklid dan orang-orang yang berbeda pendapat (mukhalifin) perbedaan dan batas yang jelas.

َو َل َع َّل ِحا َص َب َك ِم مي َي ِم ُل من ِ ميْ َب ِئا َس ِر َملا ِها َذ ِب ِإ

َلى َ

لا مش ِر َع يي ُمعزيو ،

َ أ َّن ِلا َُم َف َت ِفِ ُه ي ُك َو ٍدمرِو َص ٍر َد َنِم لا ُك ِر مف

ي ِلِّ َلا َف ،

َ مسا أ ُ م لِ

:

Mungkin saja sahabatmu lebih condong kepada mazhab Asy’ari di antara mazhab-mazhab yang ada. Dan beranggapan bahwa menyalahkan mazhab Asy’ari dalam setiap pendapat dan pokok ajarannya adalah bentuk kekafiran yang nyata. Maka, tanyakanlah kepadanya (kepada sahabatmu) :

(25)

ِم من

َ أ مي َن َث َب َت

َ ُ لِ

َك مو ُن َلِا يق َو مق َع ًاف َل مي ِه َح َّتّ

َق َض

ِب ُك ِر مف ِقا َلا ي ِنِّ َلا ِإ مذ َخ َلا َف ِفِ ُه ِص ِة َف َلا َق ِلله ِءا َت َع َلىا َو ، َز َع

َ َم أ َّن ُه

َل مي َس َو مص ًاف ِئا َز َ َعَل ًاد َلَا ِتا

؟!

Dari mana (alasan) ia menetapkan bahwa kebenaran itu tergantung kepada pendapatnya itu?

Sehingga orang seperti al-Baqillani6 bisa dicap kafir hanya karena berbeda pendapat dengan al-Asy’ari mengenai sifat Baqa Allah SWT, yaitu ia (al-Baqillani) berpendapat bahwa Al-Baqa’ merupakan sifat tambahan bagi Allah SWT di luar Dzat-Nya.

َص َمِلو َرا

َلا َلاقا ِنِّ

َىوأ ِب ُكلا ِر مف

َ لا مش ِر َع ِم يي

َن َ

لا مش ِر َع ِب ُم يي ِتفلا َخ ِه َلاقالا ي ِنِّ

؟

Lalu, mengapa Al-Baqillani lebih pantas dicap kafir daripada al-Asy’ari, hanya karena berbeda pendapat dengan al-Asy’ari?

َص َمِلو َرا َلِا ُّق َو مق َ َعَل ًاف

َ أ ِد َح ِه َم ُد ا مو َن َّلا ِنِّا ؟

6 seorang ulama besar bernama Abu Bakar Al-Baqilani. Beliau adalah ulama besar madzhab Asy’ari. Bahkan beliau merupakan tokoh utama Asy’ariyah sepeninggal Abu Hasan Al-Asy’ari. Selain seorang mutakallim (ahli kalam), Al-Baqilani juga salah satu ulama Ushul Fiqh. Al-Baqilani lahir di kota Bashrah, kota terbesar kedua di Irak setelah Baghdad. Al-Baqilani dilahirkan dengan nama lengkap Abu Bakar Muhammad Ibnu Al- Thayyib Ibnu Muhammad Ibnu Ja’bar Ibnu Al-Qasim Al-Baqilani. Tidak ada keterangan yang begitu spesifik tentang tahun kelahiran Al-Baqilani, namun beliau hidup pada masa awal pemerintahan Dinasti Buwaihi, sekitar pertengahan abad ke empat sampe awal abad ke lima hijriah. Al-Baqilani mempunyai andil besar dalam menyebarluaskan paham Asy’ariyyah. Beliau termasuk tiga ulama besar Madzab Asy’ari bersama Imam Al-Juwaini dan Hujjatul Islam Imam Ghazali. Atas jasanya merumuskan kembali paham Asy’ariyah, menjadikan paham Asy’ariyyah yang notabenenya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tetap eksis sampe sekarang.

(26)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

29 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

Lalu, mengapa kebenaran itu tergantung kepada kedua orang tersebut (Al-Baqillani dan al-Asy’ari), bukan dengan pendapat yang lain?

َ أ َذ ِل

َ َك مج ِل ِل َّسلا ِق مب ِفِ

َّزلا ِنا َم َف ؟ َق مد َس َب

َ َق لا مش ِر َع ََ َّي ُميْ

ُه

ِم َن ُملا َِت مع

َل ِة َف ، مل َي ِن ُك َلِا ُّق َسلل ِق ِبا َع َل مي ِه...

Apakah alasannya karena al-Asy’ari hidup lebih dahulu? Jika alasannya karena hidup lebih dahulu, maka sungguh kaum Mu’tazilah lebih berhak diakui kebenarannya karena hidup lebih dahulu daripada Al- Asy’ari.

َ أ مم

َ ِل ِل مج ِتوافلِا ِفِ

َفلا ِل مض ِعلا َو ِم مل َف ؟

َ ِب أ ِم يي ٍنا َمي

ٍلايكمو َق

َّد َر َد َر ِتا َج َفلا ِل مض َح َّتّ

َحلا

َ ُ لِ

َ أ من َلا َلضفأ ِفِ

ُولا مو ِد ُج ِم من َم مت ُب ِع مو ِه َو ُم ِ َّ َق ِه؟ لّ

Atau karena perbedaan tingkat dalam keutamaan di bidang ilmu pengetahuan? Lalu dengan standar timbangan dan ukuran apa tingkat-tingkat keutamaan itu ditentukan?

Sehingga jelas baginya bahwa tidak ada lagi yang lebih utama dari pada mengikuti dan taklid kepadanya?

َف ِإ من َر َّخ ِل َص مل َب ِقا ِنِّ َلا َُم َتفلا َح َمِلف ُه َج َر َ َعَل ِميْ ِه ََ

َو ؟ َم ا

َفلا مر ُق َب َ ميْ

ِنِّلاقا َلا َو َكلا ِبا مي َر ي ِس َو َلاَقلا ِن ِس يئ َو ِميْ ََ

ِه َما َو ؟ َم ا

مدُم

َر

َلِا ُك

ِص مخ

ِص مي

ِل َه

ِذ ِه

ُّرلا

مخ

ِة َص

؟

(27)

wujud (Allah) dan perbedaan apakah sifat kelanggengan itu menyatu dengan zat Allah ataukah hanya sifat tambahan, itu hanya perbedaan kecil yang tidak perlu dibesar- besarkan. Akan tetapi mengapa pernyataan kaum Mu’tazilah dibesar-besarkan mengenai penolakan kaum Mu’tazilah atas adanya sifat-sifat bagi Allah, sedangkan kaum Mu’tazilah itu mengakui bahwa Allah SWT itu Maha mengetahui dan Maha Menguasai seluruh alam? Kaum Mu’tazilah hanyalah berbeda dengan kaum Al-Asy’ari mengenai pertanyaan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Kuasa dalam esensi-Nya, buka dalam sifat yang ditambahkan kepada-Nya.

َف َم َفلا ا مر ُق َب َ ميْ

ِلا ِيْف َلا ؟

Lalu, Apa perbedaan dari perselisihan itu?

َ َو أ ٍبلطم ُّي ِم ُرطخأو ُّلجأ

ِص من ِتا َف َلِا يق ُس مب َح َنا ُه

َو َت َع َلىا َو َّلِا ِر مظ ِفِ

مف ِي َن َه َو ا مث َب ِإ ِتا َه ؟ا

Dan permasalahan apa yang lebih utama dan penting daripada persoalan mengenai sifat-sifat Allah yang Maha Benar, Maha Suci, dan Maha Tinggi dalam pembahasan menafikannya (meniadakan) atau mengisbatkan (menetapkan)nya.

َف ِإ من َق ِإ : َلا َّن َم

ُ أ ا َك ُملا ُريف َِت مع َّل

ُ َو أ َش ُديد ِهميَلَع

َ , َّن ُه ِل َي مز َع

ُم َ

أ َّن َتالَا َولا ِحا َد َة ُردصت ِم من َه َف ا ِئا َد ِعلا ُة ِم مل َو ُقلا َر ِة مد َلِاو ِةا َي ،

َ ِه َو ِص َف مُم ٌتا َت ِل َف ِب ٌة َلِا يد َو َلِا ِق مي ِة َق َلِاو ، ِئا َق

ُملا ُق

َت ِل مخ

َف

ُة

(28)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

37 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

ٌلْصَف :

ِناَمْيِلإاَو ِرْفُكلا ُّدَح

PASAL 2 : DEFINISI KUFUR DAN IMAN

َل َع َّل َك َت مش ِه َت

َ أ من َت ِر مع َف َح َّد ُكلا ِر مف َب مع َد

َ أ من َت َن َقا َض

َع َل مي َك ُح ُد مو ُد

َ أ مص ِفا َن لا ـ ُم ِ ي َق لّ

مي َن ،

Mungkin anda berhasrat ingin mengetahui batasan (definisi) kufur, setelah terjadi kontradiksi terhadap definisi-definisi yang diberikan muqallidin (orang-orang awam yang belum atau tidak sampai pada tingkatan ijtihad).

َف معا َل مم

َ : أ َّن م َش َح ِل َذ َك ِو مي َط ٌل َو ، ُم مد َر َك ُه ِم َغ ٌض َو ، ِك َل

ينّ َ

أ مع َط مي َك َع َلا َم ًة ِح َص مي َح ًة ُم َّط ًةدر َو ُم من ِك َع َس َِلِ ًة ِخ َّت َذ َه َم ا مط َم َح

َن ِر َظ َك َو ، َت مر ِو َع ِب َي َب ِب َس َه َع ا من َت ِف مك ِميْ

ِقرفلا َو ، َت مط ِل ميو ِللا ِنا َس

ِفِ َ

ِل أ مه ِلا مس َلا ِم َو ، ِإ ِن مخا َت َل َف مت ُط ُر ُق ُه مم َم ، ا َد ُما ُم او َت َم ِك يس َ ميْ

ِب َق ِل مو :

ِإ َلا َ َ ِإ لِ

َّ لا ُللها , َُمح َّم ٌد َّر ُس مو ِللها ُل َص ، ِدا ِق َ ميْ

ِب َه ََ ا َميْ

ُم ِقا َن ِض َ ميْ

َل َه ،ا

َ َف

أ ُق

مو

ُل

:

(29)

Ketahuilah, bahwa penjelasan akan hal tersebut akan panjang, konsepnya terlalu samar. Namun, akan kutunjukkan padamu satu ciri-ciri yang tepat (sahih), yang dengan ciri-ciri ini engkau dapat mengukur dan menilai, dan agar menjadi acuan sudut pandanganmu, dan engkau akan segan mengkafirkan sesama pemeluk Islam, jika terdapat perbedaan sudut pandang, selama mereka masih berpegang pada ucapan Lâ ilâha illa Allah, Muhammad rasulullâh, mereka termasuk orang yang mushodiqin (membenarkan), bukan orang yang mempertentangkan (al- munaqidin). Maka aku akan jelaskan :

ُرفكلا ُه : َو َت ِذ مي مك ُب َّرلا ُس ِل مو َص ل ُتاو ِللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم

ِفِ

م َشَ

ِم ٍء َّم َج ا ِب ِه َءا .

Kufur itu adalah mengingkari Rasulullah SAW.

dalam segala hal yang dibawanya,

ِلا َو مي َم ُنا َت : ِد مص مي ُق ِفِ ُه َِجَ

مي ِع َم َج ا ِب ِه َءا ،

Sedangkan iman adalah membenarkan segala hal yang dibawan oleh Rasulullah SAW”.

َف َلا مو ِد ُه ُّي َو َلِا َ َص ُّ ِنِّا ِف َر َك ِنا َِلِ , ِذ مي مك ِهب ِل ا َم َّرل ُس ِل مو َص َلى

ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم ،

Yahudi dan Nasrani mereka dikatakan kafir karena mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW (tidak percaya terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya).

(30)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

39 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

َو ََبلا ُّ ِم ِه ِف ٌر َك ِب ِر مي َط

َ ِق لا مو

َ َى

ِل ، َّن ُه

َ أ من َك َر َم َع َر ُس َِلِ مو ا

ِئا َس َر ِلُسُّر لا َو ، َّلدا ِر مه ُّي َك

11

ِف ٌر ِب ِر مي َط

َ ِق لا مو

َ َى

ِل ، َّن ُه

َ أ من َك َر َم َع

مرُملا ِس َعَم َل ُّرلا ِل ُس ...

Al-Barahimi (Brahmana : Hindu) mereka kafir, karena mereka mengingkari Nabi Muhammad SAW, dan seluruh para Rasul. Begitu juga Ad-Dahriyun mereka kafir karena mengingkari terhadap kerasulan para rasul.

َو َه

َ َذ َّن ِل ا ُكلا مف َر ُح مك ٌم م َش ِع َك ، ِّرل يق َو ُلِا ِر َّي ِة َم َث ،ًلا

ِإ َذ َم مع َن ُها إ ٌممكُلِا ِب

َابِإ ِة َح َّلدا ِم َو ، ُلِا مك ِب ُم ُلا ُل مو ِفِ ِد َّلِا ِرا ،

َو ُم مد َر ُك ُه م َش ِع َف ، ُي مد َر ِإ َّم ُك ِب ا َن يص َو ِإ ، ِب ا َّم ِق َي ٍسا َ َعَل َم من ُص ٍص مو ،

َو َق مد َو َر َد ِت ُّلِا ُص مو ِفِ ُص َلا مو ِد ُه َو َّلِا َص َرا َو ،ى َقحلِا ِب ِه ِب َط مم ِر مي

ِق َ

لا مو َى ََبلا ِها َم ُة َو ، َّيونلا ُة َو ُةقدانزلا َو

َّلدا ِر َّي مه ُة َو ،

ُّ ُكَ ُه مم شي َنوكتْ

َ أ فِ

َّن ُه مم ُم َك ُبيذ مو ِل َن ُّرل ُس ِل مو َف ، ُّ ُك ُم َوُهَف ...ٍرِف َك َك

يذ ِل ٌب ُّرل ُس ِل مو ,

... ٍب يذَكُم ُّ ُكَُو َف

ُه َو ِف ٌر َك

،

Kesimpulan di atas berdasarkan pada status kufur yang merupakan hukum syara’, seperti halnya sifat budak (riq) dan merdeka (hurr). Karena kufur berarti kehalalan darah seseorang dan vonis keabadian di neraka. Dan tentu dasar kufur diketahui melalui syara’, terkadang ditemukan dari nash atau dalil tertulis, di saat yang lain dapat diketahui

11 Dahriyun adalah kaum yang menyandarkan segala sesuatu pada berjalannya masa, waktu. Mereka mengikari adanya kehidupan setelah kematian.

(31)

melalu qiyas pada dalil nash. Dan telah jelas adanya nash- nash mengenai kekafiran orang Yahudi dan Nasrani.

Apalagi kekafiran Al-Barahimi (Brahmana), para penyembah berhala, Ateis, dan Dahriyun.

َف َه ِذ ِه َ ِه َعلا َلا َم ُة ُملا ِر َّط َد ُة ُملا من َع ِك َس ُة.

Maka inilah tanda-tanda (ciri) al-Muthorid dan al- Mun’akis (penilaian yang menjadi tolak ukur).

(32)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

41 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

ٌلْصَف

ِرْفُكلاَو ِناَمْيِلإا ِّدَح ِرْيِرْحَت يِف :

PASAL 3 : MENGENAI TAHRIR12 DEFINISI IMAN DAN KUFUR

َّن َ أ ممَلمعِا اَذَه

َذ يِلَا َك مر َغ ُهَتم َ

ت ،ِهِرموُه ُظ َعَم ُهاَن مو

ملَب ٌر

ُّ ُك ُهَتم ت َ َغلا

َف , اَهَفِلاَ ُم ُريفَكُت ٍةَقمرِف َّ ُك َّنَ ِل ،ِر مو ُت من

ِس ِإ ُه ُب َلى

َّلى َص ِلموُسَّرلا ِبميِذمكَت : َمَّلَسَو ِهميَلَع ُللها

Ketahuilah, bahwa apa yang telah kami sebutkan beserta gambaran dzhirnya, ada rahasia yang terselubung sangat dalam dan rumit (inti permasalahan). Karena setiap golongan akan mengkafirkan golongan yang berbeda dengannya, bahkan sampai mendustakan (atas nama) Rasulullah SAW.

َف َ م لِا من َب ُّ ِلِّ

ُي َك يف

َ ُر لا مش ِر َع َّي ِعا َز

َ أ ًام َّن ُه َك َّذ َب َّرلا ُس مو ِفِ َل

مث َب ِإ ِةَهِج ِتا َفلا ِق مو ِلله َت َع َلىا َو ، ِف ِلاا ِت َو مس ِءا َ َعَل َعلا ِش مر ،

12 Merupakan istilah yang digunakan dalam kajian mazhab yaitu upaya menyeleksi ijtihad yang dilakukan oleh para ulama mazhab

(33)

Pengikut Hanbali mengkafirkan pengikut Asy’ari, karena menganggap pengikut Asy’ari telah mendustakan Nabi Muhammad SAW dalam hal َلىا َع َت ِلله ِق مو َفلا(Allah berada di atas) dan ِش مر َعلا َ َعَل ِءا ِت َو مس ِلاا (Allah bersemayam di Arsy)

َ َو لا مش ِر َع ُّي ُي َك يف ُر ُه ِعا َز

َ أ ًام َّن ُه َش َّب َه َو ، َك َّذ َب َّرلا ُس مو

ِفِ َل َ

أ َّن ُه َل مي َس ِم مث َك ِل ِه م َشَ

ٌء ،

Demikian juga pengikut Asy’ari mengkafirkan pengikut Hanbali dengan menuduhnya telah ingkar kepada ajaran Nabi Muhammad saw. dalam konteks ٌء م َشَ ِل ِه ِم مث َك َس َل مي telah melakukan antropomorfisme (tasybih/perumpamaan)

َ َو لا مش ِر َع ُّي ُي َك يف ُر ُملا َِت مع َّ ِل ِعا َز

َ أ ًام َّن ُه َك َّذ َب َّرلا ُس مو ِفِ َل

َج ِزا َو ُر مؤ َي ِللها ِة َت َع َلىا َو ...

ِف ِإ مث َب ِتا ِعلا ِم مل َو ُقلا َر ِة مد َو يصلا ِتا َف

َ ُ لِ

،

Pengikut Asy’ari juga mengkafirkan pengikut Mu’tazilah yang beranggapan mengenai kemungkinan melihat Allah Ta’ala, dan dalam menetapkan sifat al-‘ilmu, Al-Qudrah (berkuasa) dan sifat-sifat lainnya.

َو لا ـ ُم َِت مع ُّ ِل ُي َك يف

َ ُر لا مش ِر َع َّي ِعا َز

َ أ ًام ِإ َّن مث َب َتا يصلا ِتا َف

ٌيْثكت ِل مل ِءامدق َو ، َت ِذ مي مك ِل ٌب َّرل ُس ِل مو ِفِ

َّلِا ِح مو ِد مي ،

Dan pengikut Mu’tazilah mengkafirkan pengikut Al-Asy’ari karena menganggap bahwa menetapkan adanya sifat-sifat (bagi Allah) berarti mengkafirkan orang-orang

(34)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ___________________________

Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah | 44

َص َلى ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم َع من ُو مو ِد ُج ِه ِب َو ٍه مج ِم من ِذ ِه َه ُولا مو ِه ُج َلا مم ِة َس

...

َف َل مي ِب ُم َس ٍب يذ َك َ َعَل ِلا مط ِق، َلا

Namun demikian, wujud memiliki 5 tingkatan.

Mengabaikan/melupakan tingkatan wujud tersebut, akan menyebabkan masing-masing golongan menyebut lawannya sebagai pelaku takdzib (pendustaan) Rasulullah SAW. kelima wujud tersebut ada yang bersifat dzati (esensial), hissi (inderawi), khiyali (khayalan), aqli (rasional), dan sibhi (metaforis). Maka, barang siapa mengakui wajud sesuatu yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW dengan salah satu wujud yang lima tersebut, maka ia tidak sama sekali termasuk orang yang mendustakan Rasulullah SAW.

َف مل َن َ مشَ

مح ِذ ِه َه

َ لا مص َن َفا َلا مم َس َة َو ، َ م لِ

مذ ُك مر َلاثم ِفِ ا َه

َلِا م أ ِو مي ِت َلا .

Selanjutnya, kami akan menjelaskan pembagian yang lima macam wujud di atas, dan akan kami sebutkan pula contoh-contohnya yang berkaitan dengan pembahasan takwil.

َ أ َّم ُولا ا ُج مو ُد َّلَا ُّ ِتا َف : ُه َو ُولا ُج مو ُد َلِا ِق مي ُّ ِق َّلا ِبا ُت ِرا َخ َج

ِلِا يس َو َعلا ِل مق َو ، ِك َل من َي م أ ُخ ِلِا ُذ ُّس َو َعلا مق ُل َع من ُه ُص مو َر ًة ،

َف ُي َس َّم ُذخأ ِإ مد ُه َر َو ، ً كا َه َذ َك ا ُو مو ِد ُج َسلا َم ِءا

َ َو

لا

ِض مر

َو ،

َلِا

َي َو

ِنا

،

(35)

ٌلْصَف ِتاَّيِعِرَشلاِب ِتاَدْوُجُولل ِلْيِثْمَّتلا يِف :

اَهْنِم ُلَّوأَتُي اَمَو

PASAL 4 : MENGENAI TAMSIL PERWUJUDAN BERDASARKAN SYARIAT DAN

PENTAKWILAN

ِت َلاميِو م أَلِا ِفِ ِتاَجَرَّلدا ِهِذَه َةَلِثممَأ َنلآا ِعَممسِا :

Sekarang simaklah contoh-contoh beberapa tingkatan dalam pentakwilan :

َ أ َّم ُولا ا ُج مو ُد َلَا ُّ ِتا َف : َلا مَي َت ِإ ُجا َلى ِلاثم ـلا َو ، ُه ِ َّ َو لَا ي

مَيَ

ِر َ َعَل ي َظلا

ِر ِها َو َلا ُي َؤ ُلَّو َو ، ُه َو ُولا ُج مو ُد لا ـ ُقلطم َلِا ِق مي ُّ ِق ،

َو َذ ِل َك ِإ مخ َك ِرا َب َّرلا ُس ِل مو َص ُللها لى َع

َل مي ِه َو َس َّل َم ِن َع َعلا ِش مر

َو ُكلا مر ي ِس َو مسلا ِتاو ا ِعبسلا َف ، ِإ َّن ُه مُمَ

َ َعَل ير ِها َظ

ِر ِه ِإ ، َه ذ

ِذ ِه َ

أ مج َس ٌما َم مو ُج مو َد ِفِ ٌة

َ أ من ِس ُف ِرد ُ َه

أ،ا َك ِب مت ِلِا يس ِلايلا َو

َ

أ مو

َل

مم

ُت مد

َر

مك

.

(36)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

53 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

Adapun wujud dzati (esensial) : Tidak perlu lagi contoh. Sebab wujud dzati itu merupakan wujud yang kasat mata dan tidak perlu ditakwilkan. Ia merupakan wujud mutlak yang hakiki. Seperti halnya kabar dari Rasulullah SAW mengenai adanya Arsy (singgasana), kursi, dan tujuh;

semuanya itu jelas dapat dipahami menurut lahirnya, sebab semuanya itu adalah substansi-substansi yang dengan sendirinya bersifat wujud, baik bisa ditangkap oleh indera dan khayal maupun tidak.

َ َو أ َّم ُولا ا ُج مو ُد ِلِا ُّ يس َف : ُتلثمأ ِفِ ُه َلِا م أ ِو مي ِت َلا ِث َك َميْ

ٌة ، معنقاو

ِم من ِيْلاثمب ا َه :

Adapun wujud hissi (inderawi) : Contohnya banyak sekali dalam permasalahan takwil, dan cukuplah hanya 2 contoh dari permasalahan takwil.

َ

أ َح ُد ُه َم َق ا مو ُل َر ُس ِل مو ِللها َّلىص ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم مؤُي( : َتَ

ِبلا ـ َم َي ِت مو ِقلا َم مو َي ِفِ ِة َما ُص مو َر مذُيف َحَلمم َ

أ ٍشمب َك ِة َب

َب ُح َ ميْ

ِةَّنَلا

ِراَّلِا َو )

Contoh pertama : Sabda Rasulullah SAW : “Pada hari kiamat, maut ditampilkan dalam bentuk domba yang bagus, kemudian domba tersebut disembelih di antara Surga dan Neraka”

(37)

َف ِإ َّن َم من َق ِع َما من َد ُه مُبلا َه ُنا َ َعَل

َ أ َّن لا ـ َم مو َت َع َر ٌض

َ

13

أ ، مو

َع َد ٍضَرَع ُم َو ،

َ أ َّن َق مل َب َعلا ِض َر ِج مس ُم ًام مس ِح َت مي ََ ٌل ُميْ

ٍرودقم ...

َف َنُي ـ يز ُل َلا َمب َ َعَل

َ أ َّن

َ أ مه ِقلا َل َي ِة َما ُي ِها َش ُد مو َن ِل َذ َك َو ، َي مع َت ِق ُد مو

َن َ

أ َّن ُه لا ـ َم مو ُت َو ، َي ُك مو ُن ِل َذ َك َم مو ُج ِفِ ًاد مو ِح ِه مم يس ِفِ َلا

َلا ِرا ِج ،

َو َي ُك مو ُن َس ُِلِ ًاب َب ُص ِل مو ِق َلا ِ ميْ

ِب م َلا ِس أ ِن َع لا ـ َم ِت مو َب مع َذ ِل َد ِإ ، َك َذ

لا ـ َم

ُب مو مذ ُح م أ ُي ٌسو َع من ُه

Orang yang memahami dalil (burhan) bahwa kematian itu merupakan sifat atau ketidakwujudan sifat (hidup) dan mengerti bahwa mengubah sebuah sifat menjadi jisim merupakan hal yang mustahil untuk mengartikan kabar dari Nabi SAW tersebut di atas menjadi demikian: …Di hari Kiamat nanti seluruh orang akan menyaksikan kejadian penyembelihan tersebut dan meyakini bahwa kambing besar yang disembelih itu adalah maut. Kejadian tersebut wujud dalam hissy (perasaan) mereka, tapi tidak dalam alam nyata, dan dengan disembelihnya “maut” dimaksudkan mustahil adanya kematian setelah hari kiamat, karena sesuatu yang telah disembelih tidak mungkin lagi diharapkan keberadaannya.

َو َم من َل مم َي ُق ِع مم من َد ُه َه َذ م ُبلا ا َه ُنا َف َع َس ُها ُدقتعي

َ أ َّن َسفن

لا ـ َم ِت مو َي من َق ِل ِفِ ًاشبك ُب ِتا َذ

ِه َو ُي

َب ُح مذ .

13 Ardl bisa disetarakan dengan makna, setiap yang menjadi sifat, seperti warna, rasa, bau

(38)

___________________________ Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali

55 | Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah

Sementara orang yang belum mengetahui dalil tersebut di atas, boleh jadi ia meyakini bahwa sifat maut itu sendirilah yang berubah menjadi Kambing dan disembelih.

لا ـ ُلاثم َق :نِّالا مو

ُل َر ُس ِل مو ِللها َص َّلى ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم :

َع مت َضِرُع(

ََّلِّ

َلا ِفِ ُة َّن َه ِضمر ُع َذ َلِا ا ِئا ) ِط

Contoh kedua : Sabda Rasulullah SAW :

“Diperlihatkan kepadaku Surga di permukaan tembok itu”

َف َم من َق ِع َما من َد ُه مُبلا َه ُنا َ َعَل

َ أ

َ َّن لا مج َس َما َلا َدتت ُلخا ،

َ َو أ َّن َصلا ِغ َميْ

َلا ي َّت ملِل ُعس ِب َك ِميْ

ََحْ ، َل ِل َذ َك َ َعَل

َ أ َّن َسفن َّن ِة َلا َل مم

َت من َت ِق ِإ مل َلى َلِا ِئا ِط َل ، ِك من َت َم َّث ِل َل مل ِح يس ُتروص ِفِ ا َه َلِا ِئا ِط َح ، َّتّ

َ َك أ َّن ُه ُي ِها َش ُد َه ،ا

Orang yang mengerti bahwa jisim 14tidak mungkin masuk pada lainnya, serta benda kecil tidak akan mungkin muat benda yang besar, untuk mengartikan hadits di atas dengan pemahaman bahwa surga yang sebenarnya tidak berpindah pada tembok tetapi hanya sebuah gambarannya saja yang terilusterasikan di atas dinding. Sehingga seolah- olah Nabi SAW melihatnya.

14 Jisim adalah rangkaian tubuh bathin atau software bagi jasad, jisim senantiasa memberi sinyal gerak kepada jasad (hardware), getaran jisim tidak pernah putus menggetarkan jasad sehingga menjadikan gerakan jasad beraturan. Jisim bekerja memberi – mengirim sinyal kepada jasad melalui pusat syaraf pada otak ( syaraf motoric

(39)

ِحَتمسَي لاو مي

َ ُل أ ُي ن َش َها َد ُلاثم م َشَ

ٍيْبك ٍء ِفِ

ِج مر ٍم ِغ َص ٍميْ

،

َك َم ُت ا َش َها ُد َّسلا َم ِفِ ُءا ٍةآرم ِغ َص

َميْ

ٍة َو ، َي ُك مو ُن ِل َذ َك َصبإ ًارا

ُم ِرا َف ِل ًاق ـ ُم َّر ِد َج َ َ تخ ِل ُّي ُص َر ِة مو َّن ِة َلا ِإ ، ُت ذ ُكرد َةقرفلِا َب

َ ميْ

َ أ من

َت َر َّسلا ى َم ِفِ َءا ِةآرلما َو ، َب َ ميْ

َ أ من ُت ِم مغ َض َع مي َن َك َف ُت َق يد َر َةروص

َّسلا َم ِفِ ِءا ِةآرلما َ َعَل ِب مي َس ِل َّلِا َخ ِل. ُّي

Bukan suatu hal yang mustahil terlihatnya suatu benda besar di dalam benda yang kecil, sebagaimana kita dapat menyaksikan langit dari permukaan cermin kecil.

Melihat surga pada hadits di atas berbeda dengan hanya membayangkan wujudnya surga, seperti halnya perbedaan melihat langit dalam cermin dengan melihatnya dalam hayalan, saat kamu memejamkan mata dan membayangkannya.

َ َو أ َّم ُولا ا ُج مو ُد َي ِا َلا ُّل َف : ُ ُ لِاثم َق مو ُ ُ لِ

َص َلى ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل َم :

َع َّتَّم ِنب َس ُنموُي لىإ ُرظنأ ينِّأ َك(

َل مي ِه َّسلا َلا َع ُم َل مي ِه َبَع َءا ِنا َت

َت ُللهاو ، ُلاَبِلا ُهُبميِ ُ

تَُو ،م يبَلُي ، ِناَتَّيِناَو مطَق

َ َع لىا َي ُق مو ُ َ لِ ُل اَي َكميَّ َل :

) ُسُنموُي

Adapun wujud khayali : Seperti yang dicontohkan dalam sabda Rasulullah SAW : “Seolah-olah aku memandang kepada Yunus bin Matiu yang mengenakan dua jubah laksana sayap yang sedang memanggil-manggil dan gunung-gunung pun menyahut. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya : “Aku di sini, wahai Yunus!

(40)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali ___________________________

Faishal At-Tafriqah Baina Al-Islam Wa Al-Zandaqah | 58

َ َعَل َو ُ م لا

َل ِة مم َف : ُّ ُك َم َي ا َت َم َّث ِفِ ُل يلمح ِلا ِلا َي

َ ُي أ ُرَّوصت من

َي َت َم َّث ِفِ َل يلمح ِلا مب ِرا َص َف ، َي ُك مو ُن ِل َذ َك ُم َش َها َد ًة ، َو ُق َّل اَم َي َت َم ُ َّي

م لا ِب مُب ِنا َه ِت مسا َح َلا ُة ملا ُم َش َها ِة َد ِف مي َم ُي ا َّوصت ِف مي ُر ِه ّلِا ُّيخ ُل .

Kesimpulannya : Setiap sesuatu yang terbayang pada tingkat khayal adalah juga tergambar dan bisa dibayangkan pada tingkat persepsi. Sehingga ia menjadi penyaksian. Sedikit sekali terjadi kejelasan melalui burhan bahwa sesuatu yang tergambar dalam khayal mustahil tersaksikan.

َ َو أ َّم ملا ا ُو ُج مو ُد م لا َع ُّ ِلِّ مق َف :

َ أ ُتلثم ُه ِث َك َميْ

ٌة َف ، َنقأ ِم من مع ِب ا َه ِم َث ِ ميْ َلا :

Adapun wujud Aqli : Maka contoh-contohnya amat banyak. Kiranya cukup dua contoh saja.

َ أ َح ُد ُه َم َق : ا مو ُ ُ لِ

َص َّلى ُللها َع َل مي ِه َو َس َّل ِخآ " : َم ُر َم من مَيُ

ُر ُج

ِم َن َّلِا ِرا ُي مع ِم ى َط َن َ م َّن ِة لا َع َ َشَ

َة

َ أ مم ِلا َث ِذ ِه َه ُّلدا من َي ، "ا

Pertama : Sabda Rasulullah SAW : “Orang yang paling akhir keluar dari neraka akan diberikan surga senilai sepuluh kali dunia ini”

َف ِإ َّن ِها َظ َر َه َذ َي ا ِش ُميْ

َ ِإ

َ لى أ َّن ُه َع َ َشَ

َ ُة أ مم

ِلا َث ِب ا َه ُّطلا ِل مو

م َو

لا

َع

ِض مر

َو

ِم ملا

َس

ِة َحا

َو

ُه

َو

ّلِا

َف

ُتوا

ِ م

لِا

ُّ يس

،

Referensi

Dokumen terkait

8 Nama Surga dan 8 Nama Surga dan 7 Nama Neraka 7 Nama Neraka Beserta Beserta Penjelasanya Penjelasanya DOWNLOAD DOWNLOAD KITA KITAB B HADITS 9 IMAM HADITS 9 IMAM Download

“Ketahuilah kiranya ilmu itu tidaklah tercela karena ilmu itu sendiri, tetapi tercelanya adalah pada hak manusia, karena salah satu dari tiga sebab. Pertama ilmu itu membawa

Skripsi yang berjudul “RELEVANSI KONSEP IMAM AL-GAZÂLÎ TENTANG SABAR DALAM KITAB IHYA ULUMUDDIN DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM”, ini disusun untuk memenuhi salah

Secara terminologis, ‘ilm- ad-dalalah sebagai salah satu cabang linguistik ‘ilm-al-lughoh yang telah berdiri sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang makna

Bukan mendapatkan ilmu dari lembaran-lembaran kertas buku dan tidak pernah belajar langsung pada guru-guru ahli (masyayikh). Hal itu dikarenakan apabila belajar suatu

Pertama, Seorang murid harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat tercela dalam hal ini Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu adalah ibadahnya

Salah satu definisi yang bermunculan tersebut yang penulis temukan adalah ungkapan dari Dogde Fernald dan Peter S Fernald, mereka mengatakan bahwa Psikologi adalah ilmu pengetahuan

Tujuan menjadi Pendidik/Guru Guru adalah seseorang yang mengabadikan hidupnya untuk membagikan ilmu yang telah dipelajarinya untuk dibagikan kepada seseorang tidak hanya dalam