email: [email protected]
http://jurnal.ikipmumaumere.ac.id/index.php/carwaji
Analisis Ketidakadilan Gender Tokoh Utama dalam Novel Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia (kajian feminisme)
Maria E.D. Lering 1, Gabriel Frans Renu Tiang 2, Muhamad Lautama 3 Informasi artikel ABSTRAK
Sejarah Artikel : Diterima Revisi Dipublikasikan
Tujuan penelitian ini adalah mendekskripsikan penokohan dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia Penelitian ini merupakan penelitian karya sastra melalui analisis dokumen berupa studi pustaka. Penelitian ini tidak terikat tempat dan waktu sehingga penelitian ini dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia yang terdiri dari 300 halaman dan diterbitkan oleh Asma Nadia Publisihing House pada cetakan pertamanya di tahun 2014.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik membaca dan mencatat. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan penokohan, mencatat hal-hal pokok pada novel, dan membuat simpulan tentang hasil analisis terhadap pengkajian.
Hasil penelitian adalah 1) Tokoh utama di bagi menjadi dua yaitu tokoh utama wanita dan laki-laki. Dalam novel ini tokoh utama wanita yaitu Arini dan Mei Rose. Sedangkan tokoh utama laki-laki yaitu Prasetyo. Penokohan difokuskan pada tiga tokoh utama tersebut, karena mempunyai keterkaitan dan timbalik balik satu sama lain; 2) Dengan gambaran yang ditonjolkan kepada kedua wanita tokoh utama tersebut, dari berbagai ketidakadilan yang didapatkan dari bentuk ketidakadilan berupa marginalisasi (merendahkan perempuan), Streotype (poligami, pandangan status, pernikahan hanya untuk status anak yang di kandung), kekerasan (fisik, verbal), dan beban kerja
Keywords :
Ketidakadilan Gender Tokoh Utama Novel
How to Cite : ABSTRACT
Lering, M. E. D., Tiang, G. F. R., & Lautama, M.
(2017). Judul artikel.
Jurnal CARWAJI, 2(1), pp. 01-07.
Analysis of Gender Injustice of the Main Character in the Novel Heaven that is Not Missed by Asma Nadia (study of feminism). The purpose of this research is to describe the characterization in the novel Heaven that is not missed by Asma Nadia. This research is a research of literary works through document analysis in the form of literature study. This research is not bound by time and place, so this research can be carried out anytime and anywhere. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data source used in the study was Asma Nadia's novel Heaven That Wasn't Missed, which consists of 300 pages and was published by Asma Nadia Publisihing House in its first print in 2014.
Data collection techniques used in this study were reading and note-taking techniques. The data analysis technique in this research is to describe characterizations, note the main points of the novel, and make conclusions about the results of the analysis on the assessment.
The results of the study are 1) The main character is divided into two, namely the main character of a woman and a man. In this novel, the main female characters are Arini and Mei Rose. Meanwhile, the main male character is Prasetyo.
Characterizations are focused on the three main characters, because they are related and reciprocal to one another; 2) With the image highlighted by the two main female characters, from the various injustices obtained from the form of injustice in the form of marginalization (degrading women), stereotypes (polygamy, status views, marriage only for the status of children who are in the realm), violence (physical, verbal) ), and workload
Alamat korespondensi:
IKIP Muhammadiyah Maumere, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Maumere Indonesia
E-mail:
Copyright © 2017 IKIP Muhammadiyah Maumere
2| Jurnal CARWAJI PENDAHULUAN
Pada zaman globalisasi, kita melihat perubahan zaman yang begitu pesat menuntut masyarakat untuk lebih aktif dalam pembangunan. Tidak hanya dalam laki-laki saja berperan aktif, wanita juga dituntut berperan aktif dalam pembangunan. Wanita harus lebih mandiri, disamping kebebasan untuk mengembangkan dirinya sebagai manusia sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Novel yang berjudul Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia mengisahkan tentang dua sosok wanita yaitu Arini dan Mei Rose yang merupakan tokoh utama wanita dalam novel tersebut yang menuntut keadilan sebagai wanita dan hak sebagai istri. Novel yang berjudul Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia mengisahkan tentang dua sosok wanita yaitu Arini dan Mei Rose yang merupakan tokoh utama wanita dalam novel tersebut yang menuntut keadilan sebagai wanita dan hak sebagai istri. Dalam cerita tersebut Arini yang merasa dikhianati oleh suaminya yang bernama Pras, menikah lagi atau dalam Islam disebut poligami.
Nurgiyantoro (2010: 10) mengemukakan bahwa novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun, yakni unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Selain itu, Budianta (2002:201) menyebutkan bahwa dalam novel, pengarang menceritakan bagaimana relasi antara tokoh dengan tokoh yang lain, tokoh-tokoh dalam cerita dengan masyarakat dan konflik ketidaksetaraan gender.
Feminisme berbeda dengan emansipasi, Sofia dan Suguhastuti (2007: 95) menjelaskan bahwa emansipasi lebih menekankan pada partisipasi perempuan dalam pembangunan tanpa mempersoalkan hak serta kepentingan mereka yang dinilai tidak adil, sedangkan feminisme memandang perempuan memiliki aktivitas dan inisiatif sendiri untuk mempergukan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan. Feminisme melihat karya sastra sebagai hasil refleksi wanita ketika harus mendobrak realitas sosail patriaki.
Feminisme meyakini pemikiran bahwa terjadi ketidakadailan yang dialami oleh perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki.
Para kritikus feminisme beranggapan bahwa feminisme tidak ada tanpa ikatan sosial maupun politik, bahkan feminisme selalu dibentuk dalam kerangka-kerangka ideologis.
Menurut Djajanegara (2000:17-18) kritik sastra feminisme berawal dari kenyataan bahwa baik
kanon tradisonal maupun pandangan tentang manusia dalam karya sastra pada umumnya mencerminkan ketimpangan.
Para kritikus feminis adalah adanya suatu revisi atau perbaikan, suatu perubahan lengkap dengan sebuah ide tentang dunia sastra (Sugihastuti, 2010: 6-10). Sehingga disimpulkan bahwa kritik sastra feminisme merupakan satu tolak ukur untuk mengkritik sastra yang ditujukan kepada kaum wanita sebagai mana yang dapat dijelaskan dari para ahli diaats kritik sastra feminisme merupakan angaapan perbedaan terhadap suatu jenis kelamin dalam kehidupan sosial, namun pada dasarnya kritik sastra feminisme menyadarkan pembaca sastra sebagai wanita dengan sendirinya.
Gender menurut Fakih (2013: 8-9) adalah suatu sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional, dan sebagainya. Selanjutnya, Nasarudin (2001:35) gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk member identifikasi perbedaan dalam hal peran, perilaku dan lain- lain antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat yang didasarkan pada rekayasa sosial.
Teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu istilah yang dipakai untuk membedakan jenis kelamin dari perilaku sebagai seorang wanita dan laki-laki yang terdapat dalam kehidupan social.
Ketidakadilan gender merupakan bentuk perbedaan perlakuan berdasarkan alasan gender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengakibatkan pelanggaran atas pengakuan hak asasai, persamaan hak antara hak laiki-laki dan perempuan maupun hak dasar dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.
Hal ini disebabkan karena terdapat kesalahan atau kerancuan makna gender, dimana yang sesungguhnya gender, pada dasarnya kontruksi sosial, dianggap sebagai kodrat. Kaum perempuan diposisikan sebagai warga nomor dua pada hubungan suami istri dianggap sebagai pelayan laki-laki (Wahyuni dalam Suguhastuti, 2010:269).
Dari beberapa teori di atas disimpulkan bahwa ketidakadilan gender merupakan gambaran dari pemikiran yang beranggapan perbedaan kepada perempuan Jika dilihat, maka gender merupakan kebutuhan sosial sehingga
Jurnal CARWAJI|3 siapa saja dapat melakukannya. Ketikadilan
gender merupakan pengaruh dari masyarakat mengakibatkan laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.
Menurut Nurgiyantoro (2002: 176-177) tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan.
Tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama menurut Nurgiyantoro digolongkan dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita disamping itu dalam kategori ini juga terdapat tokoh tambahan. Selanjutnya dijelaskan oleh Aminudin (2002: 79) menyatakan bahwa tokoh utama akan selalu hadir disetiap kejadian yang terjadi dalam cerita serta bisa ditemui disetiap halam novel ataupun buku cerita bersangkutan.
Dari teori di atas dapat dikatakan bahwa pengertian tokoh utama yaitu tokoh dalam cerita yang sering muncul dan sering dibicarakan oleh pengarang atau paling banyak diceritakan oleh pengarang
METODE
Tujuan penelitian ini adalah mendekskripsikan penokohan dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia Penelitian ini merupakan penelitian karya sastra melalui analisis dokumen berupa studi pustaka.
Penelitian ini tidak terikat tempat dan waktu sehingga penelitian ini dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Penelitian ini bukan penelitian lapangan yang analisisnya bersifat statis melainkan sebuah analisis yang dinamis yang dapat terus dikembangkan. Adapun waktu penelitian ini ditentukan pada bulan Februari sampai April 2018.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sebagai instrumen penelitian, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan megkonstruksi situasi soasial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna (Sugiono, :2008 ).
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah novel Surga Yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia yang terdiri dari 300 halaman dan diterbitkan oleh Asma Nadia Publisihing House pada cetakan pertamanya di tahun 2014.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
membaca dan mencatat. Pertama membaca dengan keseluruhan Novel Surga Yang Tak Di Rindukan karya Asma Nadia, Kedua membaca buku yang berkaitan dengan topik penelitian sebagai data pendukung, Ketiga mengidentifikasi dengan memusatkan penelitian ini pada gender feminisme tokoh utama dalam cerita Surga Yang Tak Di Rindukan, Keempat mencatat hal-hal yang ada pada novel Surga Yang Tak Di Rindukan untuk medukung penelitian secara komplit.
Pencatatan dilakukan pada korpus data.
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah secarah rinci dikelompokan atau disklasifikasi yaitu: Pertama, mendeskripsikan penokohan, penyebab ketidakadilan gender, perjuangan tokoh utama dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia.
Kedua, mencatat hal-hal pada novel yang memusatkan pada kajian yang akan di analisis.
Ketiga, membuat simpulan tentang hasil analisis terhadap pengkajian. Keempat, menyusun laporan tentang hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Penokohan
Gambaran perwatakan tokoh utama dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan.
Penokohan Teknik Analitik dan Dramatik Tokoh Utama Arini
Sebagai tokoh utama dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan Arini mempunyai peran penting dalam penelitian ini, untuk itu dapat digambarkan atau deskripsikan tokoh Arini tersebut.
1) Arini merupakan sosok yang tidak pemarah Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokohan analitik dari uraian pengarang dan dramatik melalui pemikiran tokoh lain.
”Arini berusaha sekuat tenaga meredam gelegak di hatinya. Tapi dia bukan perempuan yang terbiasa mengespresikan kemarahan. Apalagi mengumbarnya dengan cara tidak terpelajar” (Hal 10, Asma Nadia SYTD. MA).
“Arini yang kukenal lewat cerita-cerita Pras memang bukan seorang pemarah. Tetapi aku telah merampas sesuatu yang paling berharga dari hidupnya”. (Hal 276, Asma Nadia. SYTD. MD).
2) Arini merupakan sosok yang keibuan.
Hal tersebut dapat kita lihat kutipan di bawah ini melalui penokohan Analitik dari
4| Jurnal CARWAJI
uraian pengarang dan metode dramatik melalui pemikiran tokoh lain.
“Sementara sebagai ibu, Arini selalu penuh kasih dan menyenangkan bagi ketiga anak mereka” (Asma Nadia, 2014:37)
“Kerudung, wajah yang nyaris tanpa make up. Keibuan. Khas perempuan Indonesia”
(Asma Nadia, 2014: 276).
3) Arini merupakan sosok yang cerdas
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokohan metode analitik dari ungkapan pengarang dan metode dramatik melalui pemikiran tokoh lain.
“Arini telah menjelma sosok populer yang lebih membanggakan.Istrinya cantik berprestasi pula.” (Asma Nadia, 2014:37).
“Arini gadis cerdas pasti bisa mengira- ngira” (Asma Nadia, 2014: 175).
4) Arini merupakan sosok yang sopan
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokohan teknik analitik dari uraian pengarang dan metode dramatik melalui perbuatan tokoh.
“Bahkan jika hendak ingin ke pasar, atau mengajak anak-anak ke rumah saudara, perempuan itu selalu meminta izin” (Asma Nadia, 2014:269).
“Arini melangkah pelan. Ingatan bahwa dia memasuki surga Pras yang baru, membuat langkahnya serasa menepaki jalan berduri”
(Asma Nadia, 2014: 277).
5) Arini merupakan sosok yang solihah dan religius
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokohan teknik analitik dari uraian pengarang dan metode dramatik melalui perbuatan tokoh.
“Arininya Sholihah. Sholat malamnya rajin.
Puisi senin kamis pun rutin. Hari-hari nya hanya terisi kesibukan menulis di rumah dan sesekali mengisi seminar. Bahkan jika hendak pergi ke pasar, atau mengajak anak- anak kerumah saudaranya, perempuan itu selalu meminta izin” (Asma Nadia, 2014:
269).
“Arini menatap jam tangan. Benarkah ia telah seharian? Ia memang sedang tidak sholat, tetapi tidak berniat tidur seharian.
Pastilah ia teramat lelah setelah terlalu banyak menumpahkan air mata” (Asma Nadia, 2014: 12).
6) Arini merupakan sosok sabar dan tabah Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokoan teknik analitik dari uraian pengarang.
“Arini buru-buru menghapus titik air mata yang barusan kembali jatuh. Ia harus sabar dan tabah” (Asma Nadia, 2014: 11)
“Penghianatan Pras memang membuatnya sedih, hancur, ringsek. Tapi sekarang dia mengerti, semua tidak perlu dib alas dengan kemaraha” (Asma Nadia, 2014: 253).
Penokohan teknik analitik dan dramatik tokoh utama Mei Rose
Mei Rose merupakan tokoh utama wanita kedua yang berkaitan dengan ketidakadilan gender.
1) Mei Rose merupakan sosok yang berani Pembuktiannya dapat dilihat pada kutipan di bawah ini melalui penokohan teknik Analitik dari uraian pengarang dan metode dramatik melalui perilaku tokoh.
“Aku berkeras menolak perintah nya, sebaliknya berusaha tetap tegak, meski kamar yang pengap dan bau membuatku ingin muntah” (Asma Nadia, 2014: 101).
“Mei Rose menatap Arini dengan ketegasan yang tidak mungkin diruntuhkan. Ketegasan yang menyedot seluruh kekuatan yang tersisah di tubuh” (Asma Nadia, 2014: 282).
2) Mei Rose merupakan sosok yang mandiri Pembuktiannya dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini melalui penokohan teknik metode dramatik.
“Aku ingat, saat kedua kaki masih harus berjinggat agar bisa melihat periuk nasi, aku sudah bisa memasak” (Asma Nadia, 2014:
20).
3) Mei Rose merupakan sosok yang kuat Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan novel Surga Yang Tak Dirindukan di bawah ini melalui penokohan teknik dramatik dari pemikiran tokoh.
“Letih membuatku kuat. Panas menjadikanku lebih kuat” (Asma Nadia, 2014: 21).
“Aku tak ingin mengeluh. Bagimanapun A- ie telah berbaik hati menyekolahkan ku hingga lulus SMA. Meski ku bayar dengan harus bekerja sebagai babu. Tak apa naluri matematisku mengatakan, apapun pengorbanannya, sejauh ada yang bisa ku ambil, maka biarkanlah. Selalu ada harga
Jurnal CARWAJI|5 yang harus dibayar untuk sesuatu yang ingin
kita capaI” (Hal. 20, Asma Nadia. SYTD.
MD)
4) Mei Rose merupakan sosok yang Pantang menyerah.
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan novel Surga Yang Tak Dirindukan di bawah ini melalui penokohan teknik dramatik dari pemikiran tokoh.
“Aku tak ingin mengeluh. Bagimanapun A- ie telah berbaik hati menyekolahkan ku hingga lulus SMA. Meski ku bayar dengan harus bekerja sebagai babu. Tak apa naluri matematisku mengatakan, apapun pengorbanannya, sejauh ada yang bisah ku ambil, maka biarkanlah. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang ingin kita capai” (Hal. 20, Asma Nadia. SYTD.
MD).
5) Mei Rose merupakan sosok yang egois Perwatakan tokoh Mei Rose yang egois dapat kita lihat dalam kutipan novel Surga Yang Tak Dirindukan di bawah ini melalui penokohan teknik anlitik dari uraian pengarang dan teknik dramatik melalui pemikiran tokoh.
“Aku tidak bisa”
Bagaimana dia bisa melepas lelaki yang sanggup mengubah pandangannya tentang andika? (Hal. 282, Asma Nadia, SYTD.
MA).
“Meski kebencian yang mendalam sebenarnya telah menguasai. Buktinya, tidak setetes pun air susu mampu kuberikan. Tapi apa peduliku?” (Hal. 257. Asma Nadia.
SYTD. MD).
6) Sosok Mei Rose yang cerdas
Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan novel Surga Yang Tak Dirindukan di bawah ini dengan menggunakan penokohan teknik analitik memalalui uraian pengarang dan metode dramatik melalui pemikiran tokoh lain.
“Mei Rose, perempuan cerdas dengan wajah sederhana yang semakin lama kian menarik.” (Hal. 283, Asma Nadia. SYTD.
MA.)
“Kamu gadis cerdas, Mei. Puji Rey yang melambungkanku ke angkasa.” (Hal. 48, Asma Nadia. SYTD. MD)
7) Sosok Mei Rose yang licik
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini dengan menggunakan penokohan teknik teknik dramatik melalui pemikiran tokoh.
“Malam-malam terakhirku aku terus memutar otak. Berpikir apa yang harus di lakukan untuk membuat lelaki itu tinggal”
(Asma Nadia, 2014: 256).
“Ya, demi rencanaku, terpaksa ku sembunyikan semua rasa benci pada sosok mungil yang tiap jengkal bagian tubuhnya mengingatkan ku pada Ray.” (Asma Nadia, 2014: 257).
8) Sosok Mei Rose yang pekerja keras
Pembuktiannya dilihat dalam kutipan di bawah ini dengan menggunakan penokohan teknik dramatik melalui pemikiran tokoh.
“Begitupun saat merintis karir di kantor, dari seseorang yang diremehkan dan tidak diperhitungkan hingga sampai di posisi yang cukup mapan. Semua murni dengan prestasi, sebab aku tidak memiliki kecantikan, lenggok dan senyum genit seperti Mamiek, Lolita, dan gadis-gadis lain” (Asma Nadia, 2014: 257).
Penokohan teknik analitik tokoh utama Prestyo
1) Sosok Prasetyo yang tanggung jawab Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini dengan menggunakan penokohan teknik analitik melalui uraian pengarang
”Pras selalu pulang, kecuali beberapa kali dalam sebulan, ketika lelaki itu keluar kota.
Masih perhatian pada dia dan ketiga buah hati mereka. Dia tidak pernah lupa memberikan uang belanja”. (Hal. 154, Asma Nadia. SYTD. MA)
“Meski Pras masih lelaki yang sama bertanggung jawab pada dia dan anak-anak”.
(Asma Nadia, 2014: 229).
2) Sosok Prasetyo yang penyayang dan romantis
Bukti kutipan di bawah ini dengan menggunakan teknik dramatik melalui perbuatan pengarang.
“Dan keterkejutan di wajah Arini saat menerima catatan-catan cinta Pras” (Asma Nadia, 2014: 175).
“Mempunyai anak akan membuatmu mengetahui betapa besar cinta yang sebebtulnya kamu miliki” (Asma Nadia, 2014: 193).
3) Sosok Prasetyo yang pengkhianat
Kutipan di bawah ini menggunakan penokohan teknik analitik melalui uraian
6| Jurnal CARWAJI
pengarang dan metode dramatik melalui pemikiran tokoh lain. Membuktikan watak tokoh Prasetyo.
“Pengkhianat! Apa yang pantas diberikan pada seorang penghianat? Dan penghianat itu kini berdiri begitu dekat, menatap dengan mata terlukis cinta, dengan bibir terkulum senyum, merengkuhnya dalam pelukan penuh kasih”. (Asma Nadia, 2014: 65).
“Penghianatan Pras membuatnya sedih, hancur ringsek”. (Asma Nadia, 2014: 253) 4) Sosok Prasetyo yang penolong
Hal tersebut dapat dilihat dalam kutiapn novel Surga yang Tak Dirndukan yang dianalisis dalam penokohan analitik melalui uraian pengarang dan teknik dramatik melalui perbuatan pengarang.
“Nurani yang memintanya berhenti, ketika tak satu orang pun mau meminggirkan kendaran dan membantu. Pras pias. Dia tak suka melihat korban kecelakaan, tetapi terlambat untuk menhindar” (Asma Nadia, 2014: 38).
“Dalam kebingungan, Pras menandatangani, berkas yang di ajukan perawat kepada nya.setelah itu menunggu operasi selesai adalah tentang masa yang panjang” (Asma Nadia, 2014: 180).
5) Sosok Prasetyo yang pecundang
Tidak berani mengungkapkan kebenaran di istri pertamanya bahwa dia telah menikah lagi. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini yang menggunakan teknik dramatik melalui perbuatan tokoh.
“Sudah dua jam Pras belum juga bicara apa- apa. Sebaliknya, setelah melontarkan kalimat yang menghancurleburkan pertahanan yang susah payah dibangun Arini akhir-akhir ini, agar bisa menengakan wajah setiap kali berhadapan, Pras malah membalikan badan dan bergabung bersama anak-anak” (Asma Nadia, 2014: 185).
6) Sosok yang Salihah dan Religius.
Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini dengan menggunakan penokohan teknik dramatik melalui perbuatan tokoh.
“Pras tahu dia harus segera menemukan mesjid untuk menunaikan sholat. Tapi matanya belum menemukan satu mushola atau mesjid pun yang bisa di jadikan persinggahan” (Asma Nadia, 2014: 264).
Bentuk Ketidakadilan Gender Tokoh Utama wanita
1. Penyebab ketidakadilan gender tokoh utama Arini.
a. Budaya
Dalam masyarakat masih ada kaum lelaki menganggap diri dan dianggap sebagai makhluk yang kuat dan superior. Kencendurang ini bisa terjadi karena adanya pengaruh budaya/kepercayaan lokal (adat) ataupun pengaruh tafsiran agama.
1) Tafsiran agama (poligami)
Apa yang dialami oleh Arini tokoh utama wanita dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan terlihat jelas dalam gambaran cerita tentang penyebab ketidakadilan gender yang dilakukan oleh suaminya dengan berpologami terhadap dirinya. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan di bawah ini.
“Perempuan yang merelakan suaminya menikah lagi dengan iklas akan melewati jembatan shiratal Mustqim dengan kecepatan luar biasa” (Asma Nadia, 2014:
111).
“Dia hanya tahu, ketika sudah terjadi, dia harus masuk dalam aturan main yang ditetapkan Tuhan padanya, agar tak ada maksiat, agar semua sah setidaknya di mata Allah.dan semua berawal dari simpati dan keinginan menolong seseorang” (Asma Nadia, 2014: 246).
a) Adat
Adat juga dapat mempengaruhi penyebabnya terjadi ketidakadilan gender.
Seperti yang dialami oleh tokoh utama Arini dalam novel Surga Yang Tak Dirindukan.
Pembuktiannya dilihat dari kutipan di bawah ini.
“Semula Arini ingin melabrak Pras. Mencaci maki, memukul dan menendangnya kalau perlu. Tapi dia seorang istri. Dan sejak kecil Arini melihat betapa hormat ibu kepada bapak” (Asma Nadia, 2014: 107).
“Ibu tidak pernah merengut, marah apalagi berkata kasar. Dan sikap itu di akui Arini sangat mempengaruhi dia dan abangnya terhadap tulang punggung keluarga” (Asma Nadia, 2014: 107).
Hasil penelitian tentang Analisis Gender Tokoh Utama Dalam Novel Surga yang Tak Dirindukan Karya Asma Nadia kajian Feminisme dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Tokoh utama dalam novel Surga
Jurnal CARWAJI|7 Yang Tak Dirindukan. Tokoh utama di bagi
menjadi dua yaitu tokoh utama wanita dan laki- laki. Dalam novel ini tokoh utama wanita yaitu Arini dan Mei Rose. Sedangkan tokoh utama laki-laki yaitu Prasetyo. Penokohan difokuskan pada tiga tokoh utama tersebut, karena mempunyai kertkaitan dan timbalik balik satu sama lain; 2) Ketidakadilan gender tokoh utama yang terjadi pada Arini dan Mei Rose telihat jelas. Dengan gambaran yang ditonjolkan kepada kedua wanita tokoh utama tersebut, dari berbagai ketidakadilan yang didapatkan dari bentuk ketidakadilan berupa marginalisasi (merendahkan perempuan), Streotype (poligami, pandangan status, pernikahan hanya untuk status anak yang di kandung), kekerasan (fisik, verbal), dan beban kerja.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Rektor IKIPMu, tim LP3M IKIPMu yang telah membantu dalam penelitian ini serta pihak- pihak yang terlibat dalam proses pengambilan data penelitian serta ucapan terima kasih juga buat teman-teman dosen yang terlibat dalam proses berlangsungnya penelitian dari awal hingga berakhirnya penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. (2002). Pengantar Apresiasi Karya Sastra Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Budianta. (2002). Pendekatan Feminis terhadap Wacana: Sebuah Pengantar.
Yogyakarta: Kanal.
Djajanegara, (2000). Kritik Sastra Feminis:
sebuah pengantar. Jakarta. Gramedia Pustaka Umum.
Mansour Faqih. 2013. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Nadia, A. (2014). Surga Yang Tak Dirindukan.
Jakarta: AsmaNadia Publishing House.
Nasarudin Umar. Argument Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta:
Paramadina.
Nurgiyantoro, Burhan. (2010). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja MadaUniversity Press
Suguhastuti, M.S. (2007). Gender Dan Inferioritas Perempuan, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
………….. (2010). Kritik Sastra Feminis, Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.