5 BAB II. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA
2.1 Kondisi Umum Lingkungan
Pada dasarnya yoghurt dan ubi ungu adalah bahan pangan yang sudah lumrah dikalangan masyarakat maupun anak muda, namun dalam tingkat konsumsinya masih kurang dikarenakan kalah pasar dengan minuman-minuman kekinian yang banyak beredar dimasyarakat. Untuk itu perlu adanya inovasi baru dalam berwirausaha untuk meningkatkan daya jual minuman fermentasi di kalangan masyarakat dengan cara yang kekinian yaitu dengan penambahan boba ubi ungu sebagai toping pada minuman fermentasi yang dapat dinikmati semua kalangan dan dapat dipasarkan di berbagai daerah. Deskripsi Produk Yogubiu dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Deskripsi Produk Yogubiu
2.2 Peluang Pasar
Peluang pasar atau peluang bisnis adalah kesempatan atau waktu yang tepat yang seharusnya dimanfaatkan oleh seorang pengusaha untuk mendapatkan laba atau
Spesifikasi Keterangan
Nama Produk Yogubiu (Yoghurt Boba Ubi Ungu)
Bahan Baku Susu sapi, Ubi ungu, Tepung Tapioka, Air.
Pengolahan Fermentasi dan Perebusan
Jenis Kemasan
Karakteristik Produk Fisik: Cair Kimia: -
Biologis: Bakteri Asam Laktat
Umur Simpan 3 hari di suhu ruang
Satu minggu pada suhu chiller (4-8℃)
Distribusi Menggunakan kendaraan bermotor.
Pengunaan Produk Konsumsi langsung
Konsumen Segala kalangan
6 keuntungan. Keberhasilan dalam membaca peluang usaha akan membuka jalannya keberhasilan yang ditentukan oleh factor teknologi, komunikasi dan informasi.
Seorang pengusaha harus cekatan dan cerdik dalam menangkap dan memanfaatkan peluang kemudian mengambil keputusan yang tepat dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dilingkungan eksternal secara kreatif. Membaca peluang pasar merupakan komponen kunci agar analisis peluang bisnis bisa dikembangkan seakurat mungkin. Dengan membaca peluang pasar secara cermat, maka dapat diketahui apakah produk yang diciptakan mempunyai peluang untuk diterima pasar atau tidak.
Seandainya produk diterima pasar maka harus teridentifikasi apa yang menjadi penyebabnya dan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen (Pramudiana dkk,2016:hal.11-12).
Peluang pasar sangat berpengaruh dalam menjalankan bisnis agar produk yang diluncurkan sesuai dan dapat diterima oleh pangsa pasar. Dalam mengamati peluang dibutuhkan perencanaan agar produk dapar bersaing dalam pemasaran maka dari itu perlu direncanakan dengan menggunakan analisis SWOT. Menurut Eddy Yunus (2016), Analisis SWOT merupakan kajian sistematik terhadap factor-faktor kekuatan (strengts) dan kelemahan (weakness) internal perusahaan dengan peluang (opportunities) dan ancaman (threats) lingkungan yang dihadapi perusahaan. Analisis SWOT juga merupakan sarana bantu bagi perencanaan strategi guna memformulasikan dan mengimplementasi strategi-strategi untuk mencapai tujuan.
Adapun menurut H. Abdul Manap (2016), Analisis SWOT adalah suatu model analisis untuk mengidentifikasi seberapa besar dan kecilnya kekuatan dan kelemahan perusahaan serta seberapa besar dan kecilnya peluang dan ancaman yang mungkin
7 terjadi. Adapun perencanaan tersebut berguna sebagai landasar atau dasar untuk mengokohkan usaha dan dapat digunakan sebagai acuan dalam memperluas pemasaran dan meningkatkan laba. Selain itu juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi usaha untuk memaksimalkan keberlanjutan usaha untuk kedepannya.
Analisis SWOT dari produk YOGUBIU dapat di lihat pada narasi dibawah.
Strengths (Kekuatan)
1. Produk Yogubiu memiliki kandungan bakteri baik yang baik utuk pencernaan.
2. Bahan baku pembuatan Yogubiu mudah diperoleh.
3. Harga produk terjangkau oleh mahasiswa 4. Konsep produk menarik dan inovatif 5. Mengandung antioksidan
Weaknesses (Kelemahan)
1. Usaha masih dijalankan dengan manajemen yang sederhana.
2. Produk tergolong baru dan belum dikenal oleh masyarakat luas.
Opportunities (Peluang )
1. Produk minuman yoghurt dengan inovasi boba masih belum pernah ditemukan dipasaran.
2. Tinggi nya angka konsumsi minuman boba dimasyarakat.
3. Tren perilaku konsumen yang bagus bagi pasar usaha 4. Peluang pasar menjanjikan
Threats (Ancaman)
1. Keinginanan konsumen yang berubah-ubah menjadi kendala dalam pemasaran dan penjualan
2. Adanya minuman serupa yang sudah mempunyai nama yang besar.
8 2.3 Analisa Ekonomi
Analisa kelayakan usaha pada produk Yogubiu menggunakan analisis ekonomi meliputi analisa BEP ( Break Event Point), R/C (Revenue Cost), ROI (Ratio, Return of Investment), dan Payback Periode (PP). Adapun biaya yang digunakan dalam
analisis ini yaitu biaya investasi, biaya tetap, dan biaya operasional. Asumsi rincian anggaran biaya yang dikeluarkan setiap bulan oleh produsen YOGUBIU meliputi biaya investasi, biaya bahan habis pakai, biaya operasional, dan biaya penyusutan.
Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tetap yang akan digunakan perusahaan untuk menjalankan aktivitas usahanya. Biaya produksi merupakan biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional terhadap perubahan volume produksi. Biaya operasional/pendapatan operasional merupakan perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efesiensi dan kemampuan perusahaan dalam melakukan kegiatan operasinya (Jumirin, 2018). Biaya penyusutan adalah alokasi harga perolehan dan biaya secara sistematik dan rasional sepanjang umur manfaat aktiva tetap yang bersangkutan. (Asnidar, 2013). Tabel 2. merupakan asumsi rincian anggaran biaya yang dikeluarkan setiap bulan oleh produsen YOGUBIU meliputi biaya investasi, biaya bahan habis pakai, biaya operasional, dan biaya penyusutan.
Tabel 2. Asumsi Biaya yang Dikeluarkan Setiap Tahun Produsen YOGUBIU
No. Rincihan Jumlah Ready to Eat
1. Biaya investasi (Peralatan) Rp 586.000
2. Biaya bahan habis pakai Rp 19.200.000
9
3. Biaya operasional Rp 4.164.000
4. Biaya penyusutan Rp 585.500
Total Rp 24.535.500
Pengujian nutrisi YOGUBIU memiliki 2 formulasi meliputi formulasi boba dan formulasi minuman YOGUBIU. Formulasi tersebut menggunakan 1 kontrol dan 3 perlakuan dengan persentase perlakuan yang berbeda sehingga pada analisis kelayakan usaha menggunakan keempat formulasi. Formulasi boba dan minuman YOGUBIU dapat dilihat pada Tabel 2 dan tabel 3.
Tabel 3. Formulasi Boba YOGUBIU
Bahan
Formulasi (g)
A0 A1 A1 A2 A3
Tepung Ubi Ungu (g) Kontrol pasar Kontrol 50 60 70 Tepung Tapioka (g) Kontrol pasar Kontrol 100 100 100
Gula (g) Kontrol pasar Kontrol 75 75 75
Air (ml) Kontrol pasar Kontrol 60 60 60
Total (g) Kontrol pasar Kontrol 285 295 305
Tabel 4. Formulasi Minuman YOGUBIU
Perlakuan Keterangan Perlakuan:
A0 Kontrol Yoghurt Tanpa Penambahan Boba
A1 Yoghurt Boba Penambahan Tepung Ubi Ungu 50%
A2 Yoghurt Boba Penambahan Tepung Ubi Ungu 60%
A3 Yoghurt Boba Penambahan Tepung Ubi Ungu 70%
Berdasarkan keempat formulasi tersebut diperoleh perlakuan terbaik yaitu perlakuan (A3). Perlakuan terbaik digunakan sebagai formulasi tetap dalam produksi dan penjualan YOGUBIU. Sedangkan dalam penentuan harga jual, harga pokok
10 penjualan (HPP), dan laba dapat dilihat pada Tabel 5. dengan perincian perhitungan pada Lampiran 3.
Tabel 5. Penentuan Harga Jual, HPP, dan Laba YOGUBIU
Penentuan Minuman YOGUBIU
(Rp)
Harga Jual 18.000
HPP 12.474
Laba 6.237
Sebagai pemilik usaha menginginkan usaha tersebut berjalan dengan lancar, menguntungkan dan berlanjut. Sehingga, perlu melakukan analisis kelayaan usaha yang dijalankan sebagai tahapan perencanaan usaha yang matang. Analisa kelayakan usaha pada produk Yogubiu menggunakan Analisa BEP (Break Event Point), R/C (Revenue Cost), ROI (Ratio, Return of Investment), dan Payback Periode (PP).
2.3.1 Break Event Point (BEP)
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan
mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan/profit. Berikut rumus untuk menghitung BEP. Kriteria BEP Produksi yaitu jika BEP Produksi lebih kecil dari Jumlah Produksi, maka usaha berada pada posisi menguntungkan. Jika BEP Produksi sama dengan Jumlah Produksi, maka usaha berada pada posisi titik impas atau tidak laba/tidak rugi. Jika BEP Produksi lebih besar dibanding Jumlah Produksi maka usaha berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Sementara untuk BEP Harga kriterianya adalah jika BEP Harga lebih kecil dibanding Harga Jual, maka usaha berada pada posisi yang
11 menguntungkan. Jika BEP Harga sama dengan Harga Jual, maka usaha berada pada posisi titik impas atau tidak laba/tidak rugi. Jika BEP Harga lebih besar dibanding Harga Jual, maka usaha berada pada posisi yang tidak menguntungkan (Soekartawi, 2006). Menurut Rusdiana (2014) BEP adalah suatu keadaan impas, yaitu apabila telah disusun perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tidak mendapat keuntungan dan tidak menderita rugi.
BEP (unit)
=
biaya tetapharga jual per unit − biaya variabel per unit
Tabel 6. Break Even point (BEP) Unit YOGUBIU BEP
Unit
Periode Minuman YOGUBIU
(Unit)
Bulan 51,41
Tahuan 617
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5. BEP Unit (Lampiran 3) diketahui jumlah unit yang perlu terjual untuk mencapai titik impas penjualan atau laba sama dengan nol dalam periode bulan dan maupun tahun minuman YOGUBIU. Titik impas pada suatu produk yang dihasilkan dapat dilihat dari jumlah produksi yang telah memenuhi BEP (unit) (Asnidar, 2017). Selain itu, untuk dapat mengetaui titik BEP dalam bentuk rupiah dilakukan analisis perhitungan sebagai berikut.
BEP (rupiah) = 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 1−𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙
𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
Tabel 7. Break Even point (BEP) rupiah YOGUBIU BEP
rupiah
Periode Minuman YOGUBIU
(rupiah)
12
Bulan 925.822,201
Tahuan 11.109.866,4
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6. BEP rupiah (Lampiran 3) diketahui jumlah unit yang perlu terjual untuk mencapai titik impas penjualan atau laba sama dengan nol dalam periode bulan dan maupun tahun minuman YOGUBIU. Hasil analisis diperhitungan BEP di atas diketahui bahwa usaha ini akan berada atau medapat titik impas ketika dapat menjual 617 botol produk minuman atau menghasilkan omset sebesar Rp 11.109.866,4/Tahun dan Rp 925.822,201/Bulan. Jika BEP rupiah lebih besar dibandinkan dari jumlah pendapatan maka usaha mengalami keuntungan dan berlaku sebaliknya (Asnidar, 2017).
2.3.2 Revenue Cost Ratio (R/C ratio)
Revenue/ Cost Ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan
total biaya dengan rumusan sebagai berikut (Soekartawi, 2006). Rumus Revenue/
Cost Ratio dapat dilihat sebagai berikut.
R/C = total pendapatan total biaya produksi
Tabel 8. Revenue/ Cost Ratio Produk YOGUBIU
R/C Minuman YOGUBIU
Tahunan 1,47
Berdasarkan analisis analisis perhitungan R/C, diperoleh pernyataan bahwa R/C>1 yaitu sebesar 1,47 maka artinya dari prospek ekonomi dan agribisnis berdasarkan perhitungan diatas. Setiap perusahaan tentunya menghendaki usaha yang dijalankan dapat memberikan keuntungan, layak untuk dijalankan dan dikembangkan.
Untuk menganalisis hal tersebut digunakan analisis Revenue Cost ratio melalui
13 perbandingan antara total penerimaan dan total biaya produksi. Jika R/C Ratio > 1, maka usaha yang dijalankan mengalami keuntungan atau layak untuk dikembangkan.
Jika R/C Ratio < 1, maka usaha tersebut mengalami kerugian atau tidak layak untuk dikembangkan. Selanjutnya jika R/C Ratio = 1, maka usaha berada pada titik impas (Break Event Point) (Soekartawi, 2006).
2.3.3 Return On Investment (ROI)
Analisis Return On Investment (ROI) dalam analisa keuangan mempunyai arti
yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh/ komprehensif. Return On Investment (ROI) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009). Rumus perhitungan Return On Investment (ROI) sebagai berikut.
ROI = laba usaha
𝑚𝑜𝑑𝑎𝑙 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎 x 100%
Tabel 9. Return On Investment (ROI) Produk YOGUBIU
ROI Minuman YOGUBIU
Tahunan 48%
Berdasarkan analisis ROI pada tabel 9. dapat diketahui bahwa nilai ROI yang diperoleh adalah sebesar 48 %. Persentase tersebut menunjukkan bahwa usaha produk YOGUBIU memperoleh 48 % keuntungan dari besarnya modal yang dikeluarkan selama 1 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa, usaha prouk YOGUBIU ini mendapat keuntungan Rp 48 dalam setiap Rp. 100 biaya yang diinvestasikan. Hal
14 tesebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Asnidar, 2017) bahwa perbandingan total pendapatan dengan total biaya yang lebih besar dari satu, yaitu memiliki angka > 1. Dengan kata lain nilai R/C bermakna, untuk setiap Rp. 100 biaya yang dikeluarkan, maka produsen memperoleh pendapatan.
2.3.4 Payback Period
Payback Period (PBP) ialah jangka waktu pengembalian biaya awal.
Semakin cepat pengembaliannya maka alternatif tersebut lebih menarik dibandingkan dengan alternatif lainnya. Kelebihan dari metode Payback Period adalah mudah dalam penggunaan dan perhitungan, berguna untuk memilih investasi yang mana yang mempunyai masa pemulihan tercepat, masa pemulihan modal dapat digunakan untuk alat prediksi resiko ketidakpastian pada masa mendatang, dan masa pemulihan tercepat memiliki resiko lebih kecil dibandingkan dengan masa pemulihan yang relatif lebih lama (Rachadian dkk, 2013). Sedangkan kelemahanya adalah mengabaikan adanya perubahan nilai uang dari waktu ke waktu, mengabaikan arus kas setelah periode pemulihan modal dicapai, mengabaikan nilai sisa proses dan sering menjebak analisator jika biaya modal atau bunga kredit tidak diperhitungkan dalam arus kas yang menyebabkan usaha tidak likuid (Rachadian dkk, 2013).
Payback periode = investasi
keuntungan x 1 tahun Tabel 10. Payback periode Produk YOGUBIU Payback Periode Minuman YOGUBIU
Tahunan 0,055
15 Berdasarkan perhitungan kelayakan investasi juga dilakukan perhitungkan payback periode. Nilai Payback Periode ini menunjukkan waktu pengembalian investasi yang sudah dikeluarkan (Rachadian dkk, 2013). Nilai Pay Back Periode yang diperoleh adalah sebesar 0,055. Sehingga, dapat dikatakan waktu pengembalian investasi produk YOGUBIU dengan jangkat waktu 1 sampai 3 bulan.