• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN POLISI DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN POLISI DAERAH "

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

i

SKRIPSI

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN POLISI DAERAH

SULAWESI SELATAN

OLEH

ILMI AMALIAH B111 16 075

PEMINATAN HUKUM PIDANA DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2020

(2)

i

HALAMAN JUDUL

PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PERIKANAN OLEH DIREKTORAT KEPOLISIAN PERAIRAN POLISI DAERAH

SULAWESI SELATAN

OLEH

ILMI AMALIAH B111 16 075

SKRIPSI

Sebagai Tugas Akhir Dalam Rangka Penyelesaian Studi Sarjana pada Departemen Hukum Pidana

Program Studi Ilmu Hukum

PEMINATAN HUKUM PIDANA DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2020

(3)

ii

(4)

iii PERSETUJUANPEMBIMBING

Diterangkan bahwa Skripsi dengan penelitian dari:

Nama : ILMI AMALIAH

Nomor Pokok : B111 16 075 Bagian : Hukum Pidana

Judul : Penegakan Hukum Tindak Pidana Perikanan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan.

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan dalam ujian Skripsi Penelitian.

Makassar, Agustus 2020

Pembimbing I

Dr. Abd Asis, SH., MH.

Nip.196206181989031002

Pembimbimng II

Dr. Audyna Mayasari Muin, SH., MH, CLA Nip.198809272015042001

(5)

iv

(6)

v PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : ILMI AMALIAH

Nomor Induk Mahasiswa : B111 16 075 Jenjang Pendidikan : S1

Program Studi : HUKUM PIDANA

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “Penegakan Hukum Tindak Pidana Perikanan Oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan” adalah BENAR merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan Skripsi ini hasil karya orang lain atau dikutip tanpa menyebut sumbernya, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Oktober 2020

ILMI AMALIAH

(7)

vi ABSTRAK

ILMI AMALIAH (B111 16075), “Penegakan hukum tindak pidana perikanan oleh Kepolisian Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan” dibimbing oleh Abd Asis sebagai Pembimbing I, dan Audyna Mayasari Muin sebagai Pembimbing II.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2011 mencatat di Indonesia terdapat beberapa kasus tindak pidana di bidang perikanan antara lain 17 kasus tanpa izin, 39 kasus tanpa izin dan alat tangkap terlarang, 13 kasus dokumen tidak lengkap, 5 kasus fishing ground, 2 kasus alat tangkap tidak memiliki izin. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalammelakukan penangkapan adalah dengan alat tangkap terlarang atau pemboman menggunakan bahan peledak karena cara ini paling gampang dan mudah di buat oleh banyak orang

Tujuan penelitian Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan dalam menegakkan tindak pidana perikanan. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam penegakan hukum tindak pidana perikanan yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan

Penelitian ini dilakukan di instansi Kepolisian yaitu Direktorat Kepolisian Perairan Daerah Sulawesi Selatan dengan melakukan wawancara berkaitan dengan penegakan hukum tindak pidana perikanan yang merupakan objek dari penelitian.

Hasil dari penelitian untuk upaya penegakan hukum tindak pidana perikanan ditempuh melalui Upaya preventif yaitu yang dilakukan dengan mengadakan penyuluhan hukum, mengadakan patroli, secara rutin bekerjasama dengan instansi lain yang terkait dan juga melakukan upaya represif berupa melakukan penangkapan dan pemeriksaan serta menegakkan hukum secara tegas dalam penerapan sanksi terhadap pelaku tindak pidana perikanan.Menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penegakan hukum penyelidikan tindak pidana perikanan adalah faktor sarana berupa kapal untuk operasi penangkapan dan faktor cuaca yang terkadang kurang mendukung, serta hilangnya alat bukti yang dilakukan oleh tersangka ke laut dan biasanya alat bukti itu berupa bom ikan dan potasium sianida.

(8)

vii ABSTRACT

ILMI AMALIAH (B111 16075), “Law enforcement of fisheries crime by the Police Directorate of South Sulawesi Regional Police, guided by Abd. Asis as Advisor I, and Audyna Mayasari Muin as Advisor II.

According to data from the Ministry of Marine Affairs and Fisheries in 2011, there were several cases of criminal acts in the fisheries sector, including 17 cases without permits, 39 cases without permits and illegal fishing gear, 13 cases of incomplete documents, 5 cases of fishing ground, 2 the fishing gear case does not have a permit. Activities that are generally carried out by fishermen in making arrests are by means of prohibited fishing gear or bombing using explosives because this method is the easiest and easiest to do by many people.

Research objectives to find out the efforts made by the Directorate of Marine Police, South Sulawesi Regional Police in enforcing fisheries crime. To find out the inhibiting factors in law enforcement of fisheries crimes committed by the Directorate of Water Police, South Sulawesi Regional Police

This research was conducted in the police agency, namely the Directorate of Regional Water Police of South Sulawesi by conducting interviews related to law enforcement on fisheries crime which is the object of the research.

The results of research for law enforcement efforts on fisheries crime are taken through preventive measures, namely those carried out by holding legal counseling, conducting patrols, regularly collaborating with other related agencies and also making repressive measures in the form of making arrests and examinations as well as enforcing the law strictly in its application. sanctions against perpetrators of fisheries criminal acts. It shows that the factors that hamper law enforcement in investigating fisheries crimes are the factors in the form of vessels for fishing operations and weather factors which are sometimes unsupportive, as well as the loss of evidence carried out by the suspect to the sea and usually the evidence is in the form of fish bombs and potassium cyanide.

(9)

viii KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT tuhan yang memberikan kesehatan dan kesempatan, karena atas berkat-NYA lah sehungga skripsi ini bisa dapat diselesaikan. Skripsi berjudul "Penegakan Hukum Tindak Pidana Perikanan Oleh Kepolisian Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan" disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Berbagai pihak telah membantu dan mendukung penulis selama menempuh pendidikan sampai dalam penelitian dan penulisan skripsi ini, sehingga sepatutnya bila penulis mengucapkan terima kasih.

Secara khusus Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ayahanda tercinta H. Nurdin dan Ibunda Hj. Rukiah atas jerih payah, kesabaran, kasih sayang dan didikan dalam membesarkan Penulis dan yang banyak berkorban baik materil maupun non materil serta doa yang tanpa henti-hentinya mereka panjatkan mulai dari Penulis dilahirkan sampai mendapatkan keberhasilan ini.

Dengan segala hormat dan kerendahan hati, Penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Dr. Abd Asis., SH., MH., selaku dosen Pembimbing I, dan Dr. Audyna Mayasari Muin, SH., MH., selaku Pembimbing II, yang berkenan memberikan waktu luang serta demi membimbing Penulis ditengah kesibukan beliau. Atas bimbingan, saran, ilmu yang sangat berharga, serta kesabaran dalam proses bimbingan dari beliau sekalian. Semoga ilmu yang bermanfaat ini dapat Penulis amalkan kelak sebagai ibadah yang tidak akan pernah terputus.

Dalam penulisan ini, Penulis sadar bahwa banyak hambatan dan kesulitan, namum berkat bantuan dan dorongan banyak pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikannya. Untuk itu, perkenankanlah penulis

(10)

ix menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya juga kepada:

1. Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. selaku Rektor Universitas Hasanuddin

2. Prof. Dr. Farida Patitingi, SH., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin beserta jajarannya.

3. Prof. Dr. Judhariksawan, SH., MH. selaku Penasehat Akademik penulis yang memberikan saran dalam setiap konsultasi KRS.

4. Prof. Dr. Andi Muhammad Sofyan, SH,. MH. dan Prof. Dr.

Muhadar, SH., MS. selaku Penguji yang telah memberikan masukan dan saran-sarannya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

5. Staf Akademik Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin yang telah membantu Penulis dalam pengurusan berkas ujian skripsi.

6. Seluruh pihak yang membantu Penulis dalam penelitian di Direktorat Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

7. Saudara-saudaraku Ismail, SE., Irfan, S.Sos,. Iskandar, S.Kom,.

dan Briptu Iswar Fajar, SH.

8. Para Sahabatku Nurjaya Burhan, Munirahayu, Musfira Yuniar, dan Nurlyla Fitria Ningtyas, Rahma Sry Reski Jamaluddin.

9. Seluruhteman-teman Angkata 2016 (Ditkum) yang senantiasa mengisi hari-hari penulis menjadi sangat menyenangkan.

10. Terima kasihjuga kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

11. Seseorang yang spesial terima kasih sudah menjadi penyemangat, waktu dan tenagamu selama saya kuliah dan mendukung dalam proses pengerjaan skripsi ini banyak memberikan dorongan dan semangat baik moral maupun material.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk itu, Penulis sangat berterima kasih jika ada saran, kritik

(11)

x yang sifatnya membangun dan koreksi demi kesempurnaan skripsi ini di masa yang akan datang.

Semoga karya ini bermanfaat baik bagi Penulis maupun bagi semua pihak yang haus akan ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum.

Makassar, Maret 2020

Penulis

(12)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PENGESAHAN SKRIPSI ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PERSETUJUAN MENEMPUH UJIAN SKRIPSI ... iv

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 5

E. Orisinalitas Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Tinjauan Tentang Penegakan Hukum ... 9

1. Pengertian Penegakan Hukum ... 9

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum ... 17

B. Pengertian dan Unsur-unsur Tindak Pidana ... 22

C. Pengertian Hukum Terkait Tindak Pidana Perikanan ... 25

D. Tinjauan Tentang Tugas dan Wewenang Direktorat Kepolisian Perairan ... 30

(13)

xii E. Dasar Hukum Pengaturan Tentang Tindak Pidana Perikanan . 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 37

A. Tipe Penelitian Yuridis Empiris ... 37

B. Lokasi Penelitian ... 37

C. Jenis Sumber Data ... 38

D. Pengumpulan Data ... 38

E. Analisis Data ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS ... 40

A. Upaya Penegakan Hukum yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan Dalam Menegakkan Tindak Pidana Perikanan ... 40

B. Faktor Penghambat dalam Penegakan Hukum Penyidikan Tindak Pidana Perikanan yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi daerah Sulawesi Selatan... 46

C. Analisis Penulis ... 56

BAB V PENUTUP ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran ... 73

DAFTAR PUSTAKA ... 74

LAMPIRAN ... 77

(14)

xiii DAFTAR TABEL

Tabel 1... ... 43

Tabel 2... ... 44

Tabel 3... ... 54

Tabel 4... ... 55

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara yang memiliki bentangan garis pantai dengan panjang 81.000 Km, sehingga menjadikan laut Indonesia dan wilayah pesisir Indonesia memiliki kandungan kekayaan dan sumber daya alam hayati laut yang sangat berlimpah, seperti ikan, terumbuh karang, hutan mangrove dan sebagainya1.Perairan laut yang luas dan kaya akan jenis-jenis maupun potensi perikanannya dimana di bidang penangkapan 6,4 juta ton/tahun serta potensi perikanan umum sebesar 305.650 ton/tahun serta potensi kelautan kurang lebih 4 milyar USD/tahun2. Sektor perikanan yang memiliki potensi yang cukup kaya tersebut mengundang banyak nelayan asing maupun lokal melakukan kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan di laut Indonesia3.

Kekayaan Indonesia dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat Indonesia yang bermukim di kawasan pantai yang dimana pada umumnya menggantungkan sumber kehidupan dari sektor kelautan dan perikanan atau yang disebut juga dengan nelayan. Wilayah perairan yang sangat luas selain memberikan harapan dan manfaat yang besar, tapi juga membawa konsekuensi dan beberapa permasalahan, antara lain banyak tidak dipatuhinya hukum nasional

1 Supriadi dan Alimuddin, 2001, Hukum Perikanan di Indonesia,Sinar Grafika, Jakarta, hlm 2

2 Ibid

3 Marlina dan Faisal, 2013, Aspek Hukum Peran Masyarakat dalam Mencegah Tindak Pidana Perikanan, Sofmedia, Jakarta, hlm 2

(16)

2 maupun internasional yang berlaku di perairan seperti tindak pidana perikanan. Penyimpangan usaha pemanfaatan sumber daya laut akan menimbulkan masalah-masalah bagi kelestarian sumber daya alam yang ada. Maraknya penyimpangan dalam usaha pemanfaatan sumber daya perikanan di Indonesia berdampak terhadap keterpurukan ekonomi nasional maupun regional dan meningkatnya permasalahan sosial di masyarakat perikanan di Indonesia4.

Penangkapan ikan secara tidak resmi atau melawan hukumdi wilayah perairan Indonesia semakin marak terjadi, para pelaku menggunakan kapal besar dan peralatan kapal yang merusak lingkungan. Rata-rata setiap tahun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menangkap sebanyak 135 kapal5.

Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya adalah mengancam kelestarian stok ikan nasional maupun regional serta kerusakan ekosistem laut dan juga mendorong hilangnya rantai sumberdaya perikanan6. Beberapa penyimpangan yang sering terjadi antara lain:

1. Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan bahan beracun.

2. Penggunaan alat tangkap yang tidak sesuai misalnya pukat harimau dengan ukuran mata jarring yang terlalu kecil dan terlebih dengan dilakukannya pada daerah-daerah tangkap yang telah

4 Suhana, 2006, IUU Fishing dan Kerentanan Sosial Nelayan. Suara Karya Online, 6 Jul 2006.

5 Doddy Risky, 2014. KKP ungkap 135 Kasus Ilegal Fishing per tahun.

WartaMalang.com 18 September 2014.

6 Riza Danmanik, dkk,2008, Menjala ikan terakhir (Sebuah Fakta Krisis di Laut Indonesia), Walhi, Jakarta, hlm 67.

(17)

3 rawan kualitasnya banyak menimbulkan masalah kelestarian sumber daya hayati7.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2011 mencatat di Indonesia terdapat beberapa kasus tindak pidana di bidang perikanan antara lain 17 kasus tanpa izin, 39 kasus tanpa izin dan alat tangkap terlarang, 13 kasus dokumen tidak lengkap, 5 kasus fishing ground, 2 kasus alat tangkap tidak memiliki izin8. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalammelakukan penangkapan adalah dengan alat tangkap terlarang atau pemboman menggunakan bahan peledak karena cara ini paling gampang dan mudah di buat oleh banyak orang9.

Dalam konteks hukum Indonesia tindak pidana perikanan saat ini di atur oleh Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan yang menyebutkan beberapa ketentuan hukum yaitu bahwa perairan yang berada di bawah kedaulatan dan yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia serta berdasarkan ketentuan internasional yang mengandung sumber daya ikan dan lahan pembudidayaan ikan potensial, merupakan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa yang diamanahkan pada bangsa Indonesia

7 Dian Saptarini, dkk,1996,Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Wilayah Pesisir, Kerjasama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat) dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (Pusat Studi Lingkungan), Jakarta,hlm 3

8 Kelompok Kerja Penyelarasan Data Kelautan dan Perikanan 2011, Kelautan dan Perikanan dalam angka 2011, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta hlm 67

9 Marlina dan Faisal,2013,Aspek Hukum Peran Masyarakat Dalam Mencegah Tindak Pidana Perikanan,Sofmedia, Jakarta,hlm 28

(18)

4 berdasarkan Undang-undang Dasar 1945, untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahtraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Hukum Indonesia mempunyai semangat yang besar dalam memberantas tindak pidana perikanan dengan usaha parlemen membuat UU perikanan tersebut, namun dalam pelaksanaan undang- undang tersebut belum dapat berjalan sesuai dengan kehendak masyarakat.

Di masa mendatang, hendaklah pemerintah mampu memikirkan suatu cara yang efektif untuk meningkatkan keamanan di wilayah perairan. Hal ini di dasarkan pada pengamatan bahwa jika masyarakat dibiarkan mengelola sumber daya alam secara eksploitatif dan destruktif, maka dalam jangka panjang akan sangat merugikan diri sendiri, baik secara ekonomi maupun secara ekologis. Oleh sebab itu, dari sekarang perlu diupayakan langkah-langkah untuk mencegah dampak yang lebih parah dari perilaku yang hanya mengutamakan kepentingan-kepentingan sesaat. Bertolak dari hasil pengamatan penulis terhadap tindak pidana perikanan di wilayah perairan Sulawesi Selatan, penulis tertarik penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul “Penegakan hukum tindak pidana perikanan oleh Kepolisian Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan”.

(19)

5 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan diatas, maka untuk menelaah dan meneliti pokok masalah tersebut, dirumuskan sub masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penegakan hukum dalam tindak pidana perikanan yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi daerah Sulawesi Selatan?

2. Apakah yang menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum tindak pidana perikanan yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan dalam menegakkan tindak pidana perikanan

2. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam penegakan hukum tindak pidana perikanan yang dilakukan oleh Direktorat Kepolisian Perairan Polisi Daerah Sulawesi Selatan

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini yang dapat berguna antara lain sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini dapat membuka wawasan dan paradigm berfikir dalam memahami dan mendalami permasalahan hukum

(20)

6 khususnya pemahaman tentang sejauh mana penegakan hukum dalam memberantas tindak pidana illegal fishing yang pada khususnya berkaitan dengan tindak pidana penangkapan ikan dengan pembiusan dengan bahan potasium sianida

2. Secara Praktis

Penelitian ini memiliki kegunaan bagi kalangan aparat penegak hukum khususnya penegakan terhadap tindak pidana dengan pembiusan dengan bahan potasium sianida, agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang peranan aparat penegak hukum sebagai institusi yang diharapkan berada pada garda terdepan dalam penanggulangan dan pemberantasan tindak pidana illegal fishing.

E. Orisinalitas Penelitian

1. Nama Peneliti : Annisa Dian Humaera (2018), dengan judul penelitian "Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Penangkapan Ikan Menggunakan Bahan Peledak" dengan metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian empisris dengan cara wawancara langsung dengan pihak terkait serta malakukan observasi, dan hasil dari penelitiannya ialah Faktor-Faktor yang mempengaruhi terjadinya penangkapan ikan menggunakan bahan peledak di Kab. Sinjai adalah faktor ekonomi masyarakat nelayan yang kurang, faktor pengetahuan yang minim akan bahaya dan dampak dari illegal fishing, dan faktor pendidikan yang rendah

(21)

7 sehingga cenderung berpikir instan tanpa memperhitungkan akibat dari penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.

2. Nama Peneliti : Sulwafiani (2017), dengan judul penelitian

"Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana di Bidang Perikanan (Studi Kasus Putusan No. 28/Pid.Sus/2016/PN.

Wtp", dengan metode penelitian yang digunakan adalah Metode penelitian normatif-empiris ini pada dasarnya merupakan penggabungan anatara pendekatan hukum normatif dengan adanya penambahan berbagai unsur empiris, metode penelitian normatif-empiris mengenai implementasi ketentuan hukum normatif (UU) dalam aksinya pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam suatu masyarakat, dan hasil dari penelitiannya ialah Pertimbangan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan sanksi telah sesuai, baik dari aspek pertimbangan yuridis maupun dari aspek sosiologis.

3. Nama Peneliti : Zulkifli Koho (2015), dengan judul penelitian

"Penegakan Hukum Tindak Pidana Illegal Fishing di Indonesia (Studi Kasus Penyalagunaan Metode Tangkapan Dengan Bahan Peledak di Wilayah Perairan Kab. Alor)”, dengan metode penelitian yang digunakan adalah Metode penelitian normatif dimana penulis meletakan hukum sebagai sebuah bagunan sistem norma, dan hasil dari penelitiannya ialah

(22)

8 upaya yang dilakukan oleh dinas kelautan dan perikanan Kab.

Alor dan Kepolisian Resor Alor dalam menaggulangi serta memberatas tindak pidana illegal fishing di wilayah perairan Kab.

Alor adalah upaya preventif dan upaya represif.

(23)

9 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Penegakan Hukum 1. Pengertian Penegakan Hukum

Penegakan hukum pidana adalah upaya untuk menerjemahkan dan mewujudkan keinginan-keinginan hukum pidana menjadi kenyataan, yaitu hukum pidana menurut Van Hammel adalah keseluruhan dasar dan aturan yang dianut oleh Negara dalam kewajibannya untuk menegakkan hukum, yakni melarang apa yang bertentangan dengan hukum (On Recht) dan mengenakan nestapa (penderitaan) kepada yang melanggar larangan tersebut10.

Penegaakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide kepastian hukum,kemanfaatan sosial dan keadilan menjadi kenyataan11. Proses perwujudanketiga ide inilah yang merupakan hakekat dan penegakan hukum. Penegakan hukum dapat diartikan pula penyelenggaraan hukumoleh petugas penegakan hukum dan setiaporang yang mempunyai kepentingan dan sesuai kewenangannya masing-masing menurut aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian penegakan hukum merupakan suatu sistem yang menyangkut suatu penyerasian

10 Sudarto,1986,.Op., Cit, hlm 60

11 Satjipto Raharjo,1980,Hukum dan Masyarakat, Cetakan Terakhir, Angkasa, Bandung hlm 15

(24)

10 antara nilai dan kaidah serta perilaku nyata manusia. Kaidah- kaidah tersebut kemudian menjadi pedoman atau patokan bagi perilaku atau tindakan yang dianggap pantas atau seharusnya, perilaku atau sikap tindak itu bertujuan untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian. Gangguan terhadap penegakan hukum mungkin terjadi, apabila ada ketidakserasian antara nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola perilaku.

Gangguan tersebut timbulapabila terjadi ketidakserasian antara nilai-nilai yang berpasangan, yang menjelmah dalam kaidah- kaidah yang simpangsiur dan pola perilaku yang tidak terarah yang menggangu kedamaian pergaulan hidup.

Kenyataan di Indonesia kecendrungannya adalah demikian.

Sehingga pengertian Law Enforcement begitu populer. Bahkan ada kecenderungan untuk mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksana keputusan-keputusan pengadilan12. Pengertian yang sempit ini mengandung kelemahan, sebab pelaksanan perundang-undangan atau keputusan pengadilan, bisa terjadi malahan justru menggangu kedamaian dalam pergaulan hidup masyarakat13.

Membicarakan penegakan hukum sebenarnya tidak hanya bagaimana cara membuat hukum itu sendiri, melainkan juga mengenai apa yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum

12 Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum Cetakan Kelima. Raja Grafindo Persada,Jakarta,hlm 42

13 Ibid

(25)

11 dalam mengantisipasi dan mengatasi masalah-masalah dalam penegakan hukum. Oleh karena itu, dalam menangani masalah- masalah dalam penegakan hukum pidana yang terjadidalam masyarakat dapat dilakukan secara penal (hukum pidana) dan Non Penal (tanpa menggunakan hukum pidana)14.

a. Upaya Non Penal (Preventif)

Upaya penanggulangan secara Non penal ini lebih menitikberatkan pada pencegahan sebelum terjadinya kejahatan dan secara tidaklangsung dilakukan tanpa menggunakan sarana pidana atau hukum pidana, misalnya:

1) Penanganan objek kriminalitas dengan sarana fisik atau konkrit guna mencegah hubungan antara pelaku dengan objeknya dengan sarana pengamanan, pemberian pengawasan terhadap objek kriminalitas.

2) Mengurangi atau menghilangkan kesempatan berbuat kriminal dengan perbaikan lingkungan

3) Penyuluhan kesadaran mengenai tanggung jawab bersama dalam terjadinya kriminalitas yang akan mempunyai pengaruh baik dalam penanggulangan kejahatan

b. Upaya penal (Represif)

Upaya penal merupakan salah satu upaya penegakan hukum atau segala tindakan yang dilakukan oleh aparatur

14 Satjipto Raharjo, Op:Cit, hlm 15

(26)

12 penegak hukum yang lebih menitikberatkan pada pemberantasan setelah terjadinya kejahatan yang dilakukan dengan hukum pidana yaitu sanksi pidana yang merupakan ancaman bagi pelakunya. Penyidikan, penyidikan lanjutan, penuntutan dan seterusnya merupakan bagian-bagian dari politik kriminil15. Fungsionalisasi hukum pidana adalah suatu usaha untuk menanggulangi kejahatan melalui penegakan hukum pidana yang rasional untuk memenuhi rasa keadilan dan daya guna16.

Menurut Muladi dan Barda Nawawi Arif menegakkan hukum pidana harus melalui beberapa tahap yang dilihat sebagai usaha atau proses rasional yang sengaja di rencanakan untuk mencapai suatu tertentu yang merupakan suatu jalinan serta rantai aktitifitas yang tidak merusak bersumber dari nilai-nilai dan bermuara pada pidana dan pemidanaan. Tahap-tahap tersebut adalah:

a. Tahap Formulasi

Tahap penegakan hukum in abstracto oleh badan pembuat undang-undang yang melakukan kegiatan yang memilih sesuai dan situasi masa kini dan yang akan datang, kemudian merumuskannya dalam peraturan perundang- undangan yang baik dalam arti memenuhi syarat keadilan dan

15 Sudarto, Ibid, hlm 13

16 Muliadi&Bardan Nawawi Arief.2002,Teori-teori kebijakan pidana, Alumni, Bandung, hlm 20.

(27)

13 daya guna. Tahap ini disebut dengan tahap kebijakan legislatif.

b. Tahap Aplikasi

Tahap penegakan hukum pidana (tahap penerapan hukum pidana) oleh aparat penegak hukum, mulai dari kepolisian sampai ke pengadilan.. dengan demikian aparat penegak hukum, bertugas menerapkan serta menerapkan peraturan-peraturan perundan-undangan pidana yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang dalam melaksanakan tugas ini aparat hukum harus berpegang teguh pada nilai-nilai keadilan dan daya guna. Tahap ini disebut tahap yudikatif.

c. Tahap Eksekusi

Tahap penegakan pelaksanaan hukum serta secara konkrit oleh aparat-aparat pelaksana pidana. Pada tahap ini aparat-aparat pelaksana pidana. Pada tahap ini aparat-aparat pelaksana pidana bertugas menegakkan peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh pembuat undang- undang melalui penerapan pidana melalui penerapan pidana yang telah diterapkan dalam putusan pengadilan. Dengan demikian proses pelaksanaan pemidanaan yang telah ditetapkan dalam pengadilan, aparat-aparat pelaksana pidana itu dalam pelaksanaan tugasnya harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan pidana yang telah dibuat oleh pembuat undang-undang dan undang-undang daya guna.

(28)

14 Ketiga tahap penegakan hukum tersebut, dilihat sebagai usaha atau proses rasional yang sengaja direncanakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Jelas harus merupakan jalinan mata rantai aktivitas yang terputus dan bersumber dari nilai-nilai dan bermuara pada pidana dan pemidanaan17.

Setiap manusia adalah makhluk tuhan yang tak pernah luput dari kesalahan, kesalahan dapat berupa perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, hal tersebut tak jarang menggangu ketentraman hidup bermasyarakat. Seseorang yang melakukan kesalahan dan diatur dalam perundang-undangan hukum pidana dapat diberikan sanksi berupa pidana18. Pidana adalah penderitaan yang diberikan kepada seseorang yang telah melakukan kesalahan dan menjalani proses pembuktian sehingga hukuman yang ditentukan oleh majelis hakim dalam sebuah putusan pengadilan19.

Istilah hukuman yang berasal dari kata “straf” dan istilah dihukum yang berasal dari perkataan “wordt gestraf”, menurut Mulyatno merupakan istilah-istilah yang konvensional, yaitu pidana untuk menggantikan kata ”straf” dan diancam dengan pidana untuk menggantikan kata “wordt gestraf”. Jika “straf”

diartikan sebagai hukuman, maka “strafrecht” seharusnya

17 Barda Nawawi Arief. 2005,Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung, hlm.30

18 Sudarto, Hukum Pidana, Purwokerto: Fakultas Hukum Universitas Jendral Soedirman Purwokerto Tahun Akademik 1990-1991, hlm 23

19 Andi Hamzah,2001,Asas-asas HukumPidana, Rineka Cipta, Jakarta, hlm 15

(29)

15 diartikan hukuman-hukuman. Hukuman adalah hasil atau akibat dari penerapan hukum yang maknanya lebih luas daripada pidana, karena mencakup juga keputusan hakim dalam lapangan hukum perdata. Pidana adalah makna sempit dari hukuman, yang mana hukuman mencakup segala sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, namun pidana adalah hukuman yang diberikan pada seorang yang melakukan tindak pidana sesuai yang diatur dalam hukum pidana.

Pidana adalah penderitaan yang sengaja diberikan kepada seorang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu20. Saat ini banyak sekali pidana yang diberikan pada nelayan ataupun pengusaha yang menggunakan pukat hela atau trawl dalam penangkapan ikan yang berakibat merusak ekosistem

disebut sebagai nelayan ataupun pengusaha tersebut terjerak dalam permasalah hukum dan melalui proses peradilan, sehingga diberikan hukuman (pidana) terhadapnya. Seorang nelayan atau pengusaha yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum pidana juga mengalami proses pembuktian dipersidangan yang dikenal dengan pengadilan umum, untuk memberikan sanksi kepada nelayan atau pengusaha.

20 Tri Andrisman,2007, Hukum Pidana Asas-asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia. UNILA. Bandar Lampung,hlm8.

(30)

16 Indonesia mengenal dengan asas legalitas, dimana tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana jika tidak diatur dalam undang- undang. Hukuman atau pidana yang dijatuhkan dan perbuatan- perbuatan apa yang diancam pidana, harus lebih dahulu tercantum dalam undang-undang pidana. Suatu asas yang disebut dalam nullum crimen sine lege, yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP. Letak perbedaan antara istilah hukuman dan pidana, bahwa suatu pidana harus berdasarkan kepada ketentuan undang-undang (pidana).

Pidana agak sedikit berbeda dengan hukuman, karena pidana diberikan kepada seseorang melalui proses peradilan sesuai perundang-undangan yang berlaku, sedangkan hukuman berlaku kapan saja dan dengan siapa saja melakukan perbuatan tercela, meskipun hal tersebut tidak diatur dalam ketentuan perundang-undangan.

Secara konsepsional, maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk meniptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian perdamaian pergaulan hidup21.

21 Barda Nawawi Arif,Op. cit, hlm22

(31)

17 2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

Pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor- faktor yang mungkin mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut.

Faktor-faktor tersebut adalah, sebagai berikut:

a. Faktor hukumannya sendiri,dalam hal ini dibatasi pada undang-undang saja

b. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum

d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

e. Faktor kebudayaan, yakni dengan hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya, oleh karena merupakan esensi dan penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum.

Dengan demikian, maka lima faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan mengetengahkan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia22.

22 Soerjono Soekanto,2004,Op:Cit, hlm42

(32)

18 a. Undang-undang

Undang-undang dalam arti material adalah peraturan yang tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh Penguasa pusat maupun daerah yang sah. Mengenai berlakunya undang-undang tersebut, terdapat beberapa asas yang tujuannya adalah agar undang-undang tersebut mempunyai dampak yang positif. Asas-asas tersebut antara lain:

1) Undang-undang tidak berlaku surut

2) Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi, mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula

3) Undang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang bersifat umum, apabila pembuatnya sama

4) Undang-undang yang berlaku belakangan, membatalkan undang-undang yang berlaku terdahulu

5) Undang-undang tidak dapat diganggu gugat

6) Undang-undang merupakan suatu sarana untuk mencapai kesejahtraan spiritual dan materil bagi masyarakat maupun pribadi, melaui pelestarian ataupun pembaharuan (inovasi).

b. Penegak Hukum

Penegak hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat, yang hendaknya mempunyai kemampuan-

(33)

19 kemampuan tertentu sesuai dengan aspirasi masyarakat.

Mereka harus dapat berkomunikasi dan mendapat pengertian dari golongan sasaran, disamping mampu menjalankan atau membawakan peranan yang dapat diterima oleh mereka23. Ada beberapa halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golongan sasaran atau penegak hukum, hambatan tersebut adalah:

1) Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi

2) Tingkat aspirasi yang belum relatif tinggi

3) Kaegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan, sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi

4) Belum ada kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan material

5) Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan konservatisme

Halangan-halangan tersebut dapat diatasi dengan mebiasakan diri dengan sikap-sikap,sebagai berikut:

1) Sikap yang terbuka terhadappengalam maupun temuan baru

2) Senantiasa siap untuk menerima perubahan setelah menilai kekurangan yang ada pada saat itu

23 Soerjono Soekanto, 1983,Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers,Jakarta,hlm 4

(34)

20 3) Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi disekitarnya 4) Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap

mungkin mengenai pendiriannya

5) Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan

6) Menyadari akan potensi yang ada dalam dirinya

7) Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasarah pada nasib

8) Percaya pada kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam meningkatkan kesejahtraan umat manusia

9) Menyadari dan menghormati hak, kewajiban, maupun kehormatan diri sendiri dan hak lain

10) Berpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitungan yang mantap.

c. Faktor Sarana atau Fasilitas

Tanpa adanya sarana atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegak hukum akan berjalan dengan lancar.

Sarana atau fasilitas tersebut antara lain, mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, peralatan yang menandai, keuangan yang cukup, dan seterusnya. Sarana atau fasilitas mempunyai peran yang sangat penting dalam penegakan hukum24. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, tidak akan mungkin penegak

24 Ibid

(35)

21 hukum menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peranan yang aktual. Khususnya untuk sarana atau fasilitas tersebut, sebaiknya dianut jalan pikiran, sebagai berikut:

1) Yang tidak ada-diadakan yang baru betul

2) Yang rusak atau salah-diperbaiki atau dibetulkan 3) Yang kurang-ditambah

4) Yang macet-dilancarkan

5) Yang mundur atau merosot-dimajukan atau ditingkatkan d. Faktor Masyarakat

Penegak hukum berasal dari masyarakat, dan bertujuan untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat. Oleh karena itu, dipandang dari sudut tertentu, maka masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum tersebut. Masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan yang besar untuk mengartikan hukum dan bahkan mengindentifikasikannya dengan petugas (dalam hal ini penegak hukum sebagai pribadi). Salah satu akibatnya adalah, bahwa baik buruknya hukum senantiasa dengan pola perilaku penegak hukum tersebut25.

e. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan (sistem) hukum pada dasarnya mencakup nilai-niai yang mendasari hukum yang berlaku, nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik ( sehingga dianuti ) dan apa yang dianggap buruk (

25 ibid

(36)

22 sehingga dihindari). Pasangan nilai yang berperan dalam hukum, adalah sebagai berikut :

1) Nilai ketertiban dan nilai ketentraman.

2) Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohani/keakhlakan.

3) Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/iNovatisme.

4) Di Indonesia masih berlaku hukum adat, hukum adat adalah merupakan hukum kebiasaan yang berlaku dalam masyarkat.

B. Pengertian dan Unsur-unsur Tindak Pidana

Tindak pidana adalah pengertian dasar dalam hukum pidana.

Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain istilahnya dengan perbuatan jahat atau kejahatan. Secara yuridis formal, tindak kejahatan merupakan bentuk tingkah laku yang melanggar undang- undang pidana. Oleh sebab itu setiap perbuatan yang dilarang oleh undang-undang harus dihindari dan barang siapa melanggarnya maka akan dikenakan pidana. Jadi larangan-larangan atau kewajiban- kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap warga Negara wajib dicantumkan dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah26.

Tindak pidana adalah kelakuan manusia yang dirumuskan dalam undang-undang, melawan hukum, yang patut dipidana dan

26 Lamintang P.A.F,1996,Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung . hlm 7

(37)

23 dilakukan dengan kesalahan. Orang yang melakukan perbuatan pidana akan mempertanggungjawabkan perbuatan dengan pidana apabila ia mempunyai kesalahan, seorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukkan pandangan normative mengenai kesalahan yang dilakukan27.

Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang memiliki unsur kesalahan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, di mana penjatuhan pidana terhadap pelaku adalah demi terpeliharanya tertib hokum dan terjaminnya kepentingan umum28.

Jenis-jenis tindak pidana dibedakan atas dasar-dasar tertentu, sebagai berikut:

1. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dibedakan antara lain kejahatan yang dimuat dalam Buku IIdan Pelanggaran yang dimuat dalam buku III. Pembagian tindak pidana menjadi

“kejahatan” dan “pelanggaran” itu bukan hanya merupakan dasar bagi pembagian KUHP kita menjadi buku ke II dan buku ke III melainkan juga merupakan dasar bagi seluruh sistem hukum pidana didalam perundang-undangan secara keseluruhan.

2. Menurut cara merumuskannya, dibedakan dalam tindak pidana formil (formeel Delicten) dan tindak pidana materil (Materiil

27 Andi Hamzah. 2001,Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana. Ghalia Indonesia Jakarta. hlm 22

28 LamintangP.A.F.1996, Op:Cit. hlm 16

(38)

24 Delicten). Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang

dirumuskan bahwa larangan yang dirumuskan itu adalah yang melakukan perbuatan tertentu. Misalnya Pasal 362 KUHP yaitu tentang pencurian. Tindak pidana materil inti larangannya adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang, karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan atau dipidana.

3. Menurut bentuk kesalahan, tindak pidana dibedakan menjadi tindak pidana sengaja (dolus delicten) dan tindak pidana tidak sengaja (culpose delicten). Contoh tindak pidana kesengajaan (dolus) yang diatur dalam KUHP antara lain sebagai berikut: Pasal 338 KUHP (pembunuhan) yaitu dengan sengaja menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, Pasal 354 KUHP yang dengan sengaja melukai orang lain. Pada delik kelalaian (culpa) orang juga dapat dipidana jika ada kesalahan, misalnya Pasal 359 KUHP yang menyebabkan matinya seseorang, contoh lainnya seperti diatur dalam Pasal 188 dan Pasal 160 KUHP.

4. Menurut macam perbuatannya, tindak pidana aktif (positif), perbuatan aktif juga disebut perbuatan materil adalah perbuatan untuk mewujudkannya diisyaratkan dengan adanya gerakan tubuh orang yang berbuat, misalnya pencurian (Pasal 362 KUHP) dan penipuan (Pasal 378 KUHP). Tindak pidana pasif dibedakan menjadi tindak pidana murni dan tidak murni, tindak pidana murni

(39)

25 yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara formil atau tindak pidana yang pada dasarnya unsur perbuatannya berupa perbuatan pasif, misalnya diatur dalam Pasal 224, 304, dan 552 KUHP. Tindak pidana tidak murni adalah tindak pidana yang pada dasarnya berupa tindak pidana positif, tetapi dapat dilakukan secara tidak aktif atau tindak pidana yang mengandung unsur terlarang tapi dilakukan dengan tidak berbuat,misalnya diatur dalam Pasal 338 KUHP, ibu tidak menyusui bayinya sehingga anak tersebut meninggal29.

Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa jenis-jenis tindak pidana terdiri dari tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran, tindak pidana formil dan tindak pidana materil, tindak pidana sengaja dan tindak pidana tidak sengaja serta tindak pidana tidak sengaja serta tindak pidana aktif dan pasif.

C. Pengertian Hukum Terkait Tindak Pidana Perikanan

Laut adalah bagian muka bumi yang tertutup air dan mempunyai salinitas yang cukup tinggi30. Laut yang sangat luas terletak di antara benua disebut samudra. Contoh laut samudra misalnya, Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan lain-lain. Laut adalah perairan yang terletak diantara pulau-pulau

29 Andi Hamzah. Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana. Ghalia Indonesia Jakarta. hlm 25-27

30 http//www.pengertianahli.com/2014/05/pengertian-laut-apa-itu-laut.html#diakses pada Tanggal 1 Desember 2019, pada pukul 19.00 Wita

(40)

26 (bagian muka bumi yang tertutup air dan punya kadar garam tinggi), misalnya Laut Tengah, Laut Kaspia, Laut Jawa, dan lain-lain.

Sedangkan, laut yang relatif yang melewati dua pulau yang sangat dekat disebut selat, contohnya, Selat Makassar. Ada juga bagian laut yang menjorok ke daratan disebut teluk, misalnya Teluk Benggala dan Teluk Jakarta. Terdapat juga lait sengaja digali atau dikeruk untuk menghubungkan dan lautan untuk pelayaran disebut terusan.

Pengertian tindak pidana perikanan adalah kegiatan perikanan yang tidak sah, kegiatan perikanan yang tidak diatur oleh peraturan yang berlaku, aktifitasnya tidak dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga perikanan yang tersedia/berwenang. Dapat terjadi di semua kegiatan perikanan tangkap tanpa tergantung pada lokasi, target species, alat tangkap yang digunakan dan eksploitasi serta muncul di

semua tipe perikanan baik skla kecil dan industri, perikanan di zona yurisdiksi nasional maupun internasional.

Tindak Pidana Perikanan yaitu kegiatan penangkapan ikan

yang dilakukan oleh orang atau kapal asing pada suatu perairan yang menjadi yurisdiksi suatu Negara tanpa izin dari Negara tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan berlaku.

Meskipun bertentangan dengan peraturan nasional yang berlaku atau kewajiban internasional, yang dilakukan oleh kapal mengibarkan bendera suatu Negara yang menjadi anggota organisasi pengelolaan perikanan regional tetapi beroprasi tidak sesuai dengan ketentuan

(41)

27 pelestarian dan pengelolaan yang diterapkan oleh organisasi tersebut atau ketentuan hukum internasional yang berlaku31.

Kegiatan Tindak Pidana Perikanan yang sering terjadi di Indonesia adalah:

1. Penangkapan ikan tanpa izin

2. Penangkapan ikan dengan menggunakan izin palsu

3. Penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap terlarang 4. Penangkapan ikan dengan jenis (species) yang tidak sesuai

dengan izin/yang dilindungi.

Penyebab terjadinya Tindak Pidana Perikanan adalah meningkat dan tingginya permintaan ikan (DL/LN), lemahnya armada perikanan nasional, izin/dokumen pendukung dikeluarkan lebih dari sati instansi, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di laut, lemahnya delik tuntutan dan putusan pengadilan, belum adanya visi yang sama antar aparatur penegak hukum dan lemahnyan peraturan perundang-undangan dan ketentuan pidana.

Pukat hela atau lebih tepatnya Pukat Udang, karena memang penggunaan awalnya untuk menangkap udang di perairan dasar laut.

Pukat hela adalah jarring yang berbentuk kantong yang ditarik oleh satu atau dua kapal pukat, bisa melalui samping atau belakang.

Sebuah alat yang efektif tapi sayangnya tidak selektif, karena alat ini merusak semua yang dilewatinya.

31 http://mukhtar-api.blogspot.co.id/2011/05/ilegal-fishing-di-indonesia.html diakses pada Tanggal 2 Desember 2019. Pada pukul 17.00 Wita

(42)

28 Sepantasnya kita semua sadar bahwa setiap makhluk hidup butuh waktu untuk berkembang biak. Inilah masalah utama dari pukat hela. Semua ikan (dewasa maupun kecil) terjaring oleh pukat hela ukuran lubang jalanya sangat kecil jika dibandingkan dengan jarring yang di pakai nelayan tradisional. Pukat hela menjadi masalah karena dampaknya pada lingkungan. Karena pukat hela menggunakan alat tangkap berat yang diletakkan di dasar laut, hal itu menyebabkan kehancuran ekosistem laut yaitu kerusakan terumbu karang yang merupakan habitat ikan dan juga merusak rumput laut.

Sumber perusak utama dari pukat hela adalah lubang dan jaring yang memiliki bobot beberapa ton dan membuat lubang galian yang diseret sepanjang bagian bawah dasar laut hingga menyebabkan batu besar dan batu karang akan terseret secara bersamaan sehingga menggangu atau bahkan merusak area dasar laut, dan jelas ini berdampak pada perununan keanekaragaman spesies dan perubahan ekologi organisme lautan.

Pukat hela merupakan alat penangkap ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoprasiannya dengan cara dihela disisi atau di belakang kapal yang sedang melaju.

Tipe dan jenis pukat hela meliputi:

1. Pukat hela dasar (bottom trawl) 2. Pukat hela berpapan

3. Pukat hela dasar berpalang 4. Pukat hela dasar dua kapal

(43)

29 5. Pukat hela berpapan pertengahan (midwater trawl)

6. Pukat hela dua kapal pertengahan (midwater pair trawl)

7. Pukat hela ganda kembar berpapan (twin otter midwater trawl) 8. Pukat hela samping (side trawl)

9. Pukat hela buritan (stren trawl) 10. Pukat hela ganda (double rig trawl).

Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian- bagian:

1. Kantong (Cod End)

Kantong merupakan bagian dari jaring ang merupakan terpat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong di ikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas).

2. Badan (Body)

Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong. Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk dalam kantong. Badan terdiri atasa bagian- bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda.

3. Sayap (Wing)

Sayap atau kaki adalah bagian jarring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar.

Fungsi sayap untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk dalam kantong.

(44)

30 4. Mulut (Mouth)

Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat:

a. Pelampung (float): tujuan umum penggunaan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka

b. Pemberat (sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus

c. Tali Ris Atas (Head Rope): berfungsi sebagai fungsi untuk mengikatkan bagian sayap jaring (bagian bibir atas) dan pelampung

d. Tali Ris Bawah (Ground Rop): berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat.

5. Tali Penarik (Warp)

Berfungsi untuk menarik jaring selama di operasikan.

D. Tinjauan Tentang Tugas dan Wewenang Direktorat Kepolisian Perairan

Polisi adalah anggota badan pemerintahan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum. Namun, kata polisi

(45)

31 dapat merujuk kepada salah satu dari tiga hal yaitu orang, institusi (lembaga), atau fungsi. Polisi yang bermakna institusi biasa kita sebut dengan kepolisian. Contohnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri, dan Kepolisian Daerah atau Polda.

Berdasarkan peraturan Kepolisian Negara No. 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah Pasal 1 angka 1 ditentukan bahwa: Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) adalah alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban dalam masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Dalam melaksanakan tugasnya, organisasi Polri disusun secara berjenjang dari tingkat pusat sampai ke wilayahan. Organisasi Polri yang berada ditingkat Pusat disebut Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) yang dipimpin oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) sedang organisasi polri yang berada di tingkat ke wilayahan disebut Kepolisian Daerah (Polda) yang dipimpin oleh Kepala Polisi Daerah (Kapolda). Dalam aturan Kepala Kepolisian Negara No. 22 Tahun 2010 Pasal 1 angka 3 dijelaskan bahwa Polda adalah pelaksana tugas dan wewenang Polri di wilayah Provinsi yang berada di bawah Kapolri.

(46)

32 Polda dalam melaksanakan tugas pokoknya khususnya dalam hal pelaksanaan Kepolisian Perairan dibantu oleh subbagian pelaksana tugas pokok yaitu Direktorat Polisi Air (DitPolair). Direktorat Kepolisian Perairan adalah bagian integral Polri yang mengemban tugas di wilayah perairan dalam rangka memelihara Kamtibnas, menegakkan hukum, memberikan perlindungan, pengaoman dan pelayanan masyarakat sebagai upaya terciptanya keamanan dalam negeri.

Menurut Peraturan Kepala Kepolisian Negara No. 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Keja Pada Tingkat Kepolisian Daerah Pasal 1 angka 26 yang dimaksud dengan Direktorat Kepolisian Perairan yang selanjutnya disingkat Ditpolair adalah unsur pelaksana tugas pokok pada tingkat Kepolisian Daerah yang berada dibawah Kepala Kepolisian Daerah. Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara No. 22 Tahun 2010 Pasal 6 huruf f ditentukan bahwa Kepolisian Daerah (Polda) menyelenggarakan fungsi:

Pelaksanaan kepolisian perairan, yang meliputi kegiatan patrol termasuk penanganan pertama tindak pidana, pencairan dan penyelamatan kecelakaan/Search and Rescue (SAR) di wilayah perairan, pembinaan masyarakat pantai dan perairan dalam rangka pencegahan kejahtan dan pemeliharaan keamanan di wilayah perairan.

(47)

33 Ditpolair yang merupakan unsur pelaksana tugas pokok dari Kepala Polisi Daerah (Kapolda), memiliki tugas untuk menjalankan tugas di bidang perairan yang diselenggarakan oleh Polda, seperti yang diatur dalam peraturan Kepala Kepolisian Negara No.22 Tahun 2010 Pasal 6 huruf (f). Direktur Polisi Air (Dirpolair) yang dipimpin oleh Direktorat Polisi Air (Ditpolair) yang bertanggungjawab kepada Kapolda, dan pelaksanaan sehari-hari, Ditpolair berada dibawah kendali Wakil Kepala Polisi Daerah (Wakapolda). Dalam melaksanakan tugasnya, Dirpolair dibantu oleh Wakil Direktur Polisi Air (Wadirpolair) yang bertanggungjawab kepada Dirpolair.

Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara No.22 Tahun 2010 Pasal 204 ditentukan bahwa, Ditpolair terdiri dari:

1. Subbagian Perencanaan dan Administrasi (Subbagrenmin) 2. Bagian Pembinaan Operasional (BagbiNopsal)

3. Subdirektorat Penegakan Hukum (Subditgakkum) 4. Satuan Patroli Daerah (Satrolda)

5. Subdirektorat Fasilitas, Pemeliharaan dan Perbaikan (Subdistfasharkan)

6. Kapal

Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara No.22 Tahun 2010 Pasal 202 ayat (2) ditentukan bahwa tugas Ditpolair yaitu menyelenggarakan fungsi kepolisian perairan yang mencakup patrol, Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara (TPTKP) di perairan,

(48)

34 Search and Rescue (SAR) di wilayah perairan, dan Bimbingan Masyarakat (Binmas) pantai atau perairan serta pembinaan fungsi kepolisian perairan dalam lingkungan Polda. Ditpolair juga menjalankan fungsi sebagai berikut:

1. Pemeliharaan dan perbaikan fasilitas serta sarana kapal di lingkungan Polda

2. Pelaksanaan patrol, pengawalan penegakan hukum di wilayah perairan, dan Bimnas pantai di daerah hukum Polda

3. Pemberian bantuan SAR di laut/perairan

4. Pelaksanaan transportasi kepolisian di perairan

5. Pengumpulan dan pengelolaan data serta penyajian informasi dan dokumentasi program kegiatan Ditpolair. (Peraturan Kepala Kepolisian Negara No.22 Tahun 2010 Pasal 202 ayat (3)).

E. Dasar Pengaturan Tentang Perikanan

Bahwa Undang-undang No.45 Tahun 2009 Tentang Perikanan mencakup semua aspek pengelolaan sumber daya perikanan khususnya sumber daya ikan yang telah mampu mengantisipasi perkembangan kebutuhan hukum serta perkembangan teknologi dalam rangka pengelolaan sumber daya perikanan, baik yang berada di perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, maupun laut lepas telah dilakukan pengendalian melalui pembinaan perizinan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan internasional sesuai dengan kemampuan sumber daya ikan yang tersedia.

(49)

35 Ada beberapa ketentuan yang berhubungan dengan sesuatu larangan dalam hal penangkapan ikan sehingga pasal berikut mengatur apa larangannya, kewajiban menjaga kelestarian plasma nutfah, serta besarnya sanksi yang akan diberikan. Berikut adalah Pasal-pasal yang berhubungan dengan hal tersebut yaitu32:

Pasal 9

(1) Setiap orang dilarang memiliki, menguasai,membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang menganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia

(2) Ketentuan mengenai alat penangkapan dan/atau alat bantu penangkapanikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri

Pasal 14

(1) Pemerintah mengatur dan/atau mengembangkan pemanfaatan plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan dalam rangka pelestarian ekosistem dan pemulihan sumber daya ikan (2) Setiap orang wajib melestarikan plasma nutfah yang berkaitan

dengan sumber daya ikan

(3) Pemerintah mengendalikan pemasukan dan/atau pengeluaran ikan jenis baru dari dan ke luar negeri dan/atau lalu lintas antar

32 Undang-undang No.45 Tahun 2009 Tentang Perikanan

(50)

36 pulau untuk menjamin kelestarian plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan

(4) Setiap orang dilarang merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah sumber daya ikan sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 85

Setiap orang yang dengan sengaja memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkap ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima tahun dan denda paling banyak Rp.2.000.000.000.00 (dua milyar rupiah).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo Kendari terhadap perilaku konsumsi serat sesuai

Peran penting loyalitas pelanggan bagi perusahaan pada kondisi persaingan yang ketat juga didukung oleh pernyataan dari Yasin (2001) yang menyatakan bahwa

Untuk melaksanakan kegiatan pengabdian dan mencapai indikator-indikator kinerja pengabdian yang telah ditetapkan dalam Bab IV, Universitas Diponegoro akan

Koleksi darah untuk pemeriksaan estrogen dilakukan ketika sapi memperlihatkan gejala berahi (saat inseminasi) setelah pemberian PMSG dan FSH yang diikuti dengan pemberian

menempel di batang yang sudah lapuk. Jenis ini ditemukan di beberapa tempat namun hampir semuanya tumbuh di tempat yang tidak mendapat banyak sinar matahari. Jenis lain yang

Peserta diberikan edukasi tentang gejala pasca vaksin yang mungkin terjadi dan Peserta diberikan Obat Paracetamol untuk treatment post vaksin dan pulang kembali ke Kapal tanpa

Hal Yang Dinilai Menjadi Ancaman Masa Depan Kebangsaan Indonesia (%) 16,5 15,6 13,8 11,2 9,4 8,4 5,5 3,8 1,1 4,4 10,6 Korupsi Pudarnya nilai budaya Pancasila, Persatuan Pemimpin

Berdasarkan hasil penelitian dan manfaat yang diperoleh, maka beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut 1) Perlu dilakukan penelitian lanjutan