p-ISSN 2615-6768, e-ISSN 2615-5664
202
KAJIAN TERHADAP INDIKATOR-INDIKATOR YANG MENCIRIKAN STANDAR PAUD JALUR PENDIDIKAN FORMAL BERCIRIKAN ISLAM
Ari Wibowo
Fakultas Ilmu Tarbiyah, IAIN Surakarta, Jl. Pandawa Pucangan Kartasura Sukoharjo 57168, Indonesia.
E-mail: [email protected]
Abstrak
Pada penelitian ini dikaji pemenuhan indikator-indikator yang mencirikan standar PAUD jalur pendidikan formal bercirikan Islam. Penelitian ini menggunakan studi kasus terhadap guru BA (Bustanul Athfal) dan RA (Raudhatul Athfal) di Provinsi Jawa Tengah yang menjadi peserta PLPG LPTK rayon 232 IAIN Surakarta. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Temuan penelitian menunjukkan 11 dari 59 tingkat pencapaian perkembangan dinilai masih kurang memuaskan. Pemenuhan standar pendidik terkait kualifikasi akademik responden belum merata, karena pada kelompok A dan kelompok B masing-masing hanya 34% dan 27% saja yang berasal dari bidang PAUD. Secara umum, pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu untuk kelompok A dan kelompok B telah merata dan telah sesuai dengan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009. Terkait pemenuhan standar sarana dan prasarana, untuk kelompok A dan kelompok B belum sepenuhnya merata dan belum sepenuhnya sesuai dengan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009.
Kata kunci: guru BA (Bustanul Athfal), guru RA (Raudhatul Athfal), pendidikan formal bercirikan Islam, standar PAUD
A STUDY OF INDICATORS CHARACTERIZING PAUD STANDARD OF ISLAMIC FORMAL EDUCATION
Abstract
This research discusses indicators marking out PAUD standard in Islamic formal education in Central Java Province. It uses case study toward RA (Raudhatul Athfal) and BA (Bustanul Athfal) teachers in Central Java Province becoming participants of PLPG LPTK rayon 232 of IAIN Surakarta. The source of the data is primary data that is collected by using questionnaire. The result of the research shows that eleven of fifty nine degree of development is less satisfying. The fulfillment of educator standard relating the qualification of respondent academic is not spread evenly yet, because only 34% teachers of group A and 27% teachers of group B are the graduates of PG PAUD.
Generally, the fulfillment of content standard relating to time allotment of group A and group spreads evenly and appropriates to Permendiknas Number 58 Year 2009. Relating to fulfilling standard of tool and infrastructure, group A and group B are not spread yet, and not entirely suitable with Permendiknas number 58 year 2009.
Keywords: Bustanul Athfal (BA) teacher, Raudhatul Athfal (RA) teacher, Islamic formal education, PAUD standard.
PENDAHULUAN
Sistem pendidikan Finlandia dianggap sebagai salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Pendidikan di negeri ini secara rutin mengungguli Amerika Serikat dalam literasi membaca, sains, dan matematika (Harususilo
2019). Anak-anak Finlandia tidak diharuskan pergi ke sekolah sampai usia 6 tahun ketika pendidikan pra-sekolah dasar atau PAUD dimulai. Jika orangtua ingin memulai pendidikan anak lebih awal, sistem Finlandia menawarkan program pendidikan dan perawatan
203 anak usia dini (Early Childhood Education and Care/ ECEC). ECEC di Finlandia meliputi penetapan day care yang ditawarkan untuk keluarga dengan pendidikan anak usia dini berorientasi pada tujuan (pengajaran dan pendidikan awal) yang disediakan untuk anak- anak sebelum peralihan ke sekolah dasar. ECEC membangun sebuah fase awal yang koheren dalam rangkaian belajar sepanjang masa. ECEC mengikuti prinsip “educare” yang menekankan perhatian bersama pada pendidikan anak, pengajaran, dan pengasuhan sebagai fondasi aktivitas pedagogis, yang mana secara bersamaan berakar kuat pada ide pengembangan dan pembelajaran sebagai pengalaman yang menyeluruh (Salminen, 2017).
Ketika orangtua tertarik untuk mengikuti program ECEC maka akan dikenakan biaya, namun orangtua akan mendapatkan subsidi untuk biaya pendidikan tersebut. Orangtua kira- kira hanya membayar 14 persen dari total biaya pendidikan. Jumlahnya akan disesuaikan berdasarkan pendapatan dan jumlah anak.
Program ini sangat populer di Finlandia karena angka partisipasi sekolah Finlandia untuk anak- anak usia 3 hingga 5 tahun mencapai hampir 80 persen (Harususilo, 2019). Meskipun demikian terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tinggal di rumah sebelum sekolah mulai berhubungan dengan prestasi sekolah yang lebih buruk tapi tidak dengan penyelesaian pendidikan selanjutnya (Hiilamo, Merikukka, & Haataja, 2018). Selain itu hasil penelitian lain tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok day care dan home care (Hiilamo, Haataja, & Merikukka, 2015).
Lingkungan belajar yang menyenangkan (Playful learning environments/ PLEs) telah dibangun di halaman sekolah di Finlandia dengan tujuan meningkatkan pengetahuan melalui permainan dalam pendidikan berbasis kurikulum. Mengajar yang menyenangkan digolongkan dalam peranan guru dan murid dalam situasi bermain yang berbeda, model proses belajar yang menyenangkan, perhatian dalam mengembangkan dan menggunakan kreativitas siswa, dan pentingnya kesenangan dan kegembiraan. Pendidikan guru seharusnya mengembangkan pemikiran pedagogis guru, melalui pemahaman teroretis bermain dan belajar, melalui diskusi dan peragaan permainan dan pengajaran yang menyenangkan dalam program pendidikan guru (Hyvonen, 2011).
Pendidikan di Finlandia juga menganut sistem desentralisasi yang memberikan kebebasan kepada sekolah untuk berkreasi dan
berinovasi. Tiga prasyarat yang dibutuhkan untuk sistem pendidikan desentralisasi agar efektif adalah: (1) lazim, level nasional, tujuan strategis jangka panjang dan harus ditetapkan pada perencanaan level lokal, seperti kurikulum dan perencanaan keadilan, harus dikembangkan dan diimplementasikan, (2) mutu pekerjaan, penilaian siswa, perbaikan terus-menerus pada lingkungan belajar dan praktek diimplementasikan pada level lokal dan (3) guru yang profesional harus berkolaborasi dan mengikutsertakan dalam perencanaan yang luas dan menilai kecakapan mengajar mereka dan hasil belajar siswa mereka (Lavonen, 2017).
Peningkatan kualitas dan kuantitas PAUD di Indonesia telah masuk dalam Program Prioritas Pendidikan Nasional. Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (2017), pada tahun 2030 Indonesia menjamin semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses terhadap perkembangan dan pengasuhan anak usia dini, pengasuhan, pendidikan pra-sekolah dasar yang berkualitas, sehingga mereka siap untuk menempuh pendidikan dasar. Sebagai upaya untuk merealisasikan target tersebut, pada tahun 2018 pemerintah menaikkan dana alokasi khusus bantuan operasional (DAK BOP) PAUD sebesar Rp 4,1 triliun. Anggaran itu meningkat jika dibandingkan anggaran pada tahun sebelumnya (tahun 2017) yang hanya Rp3,58 triliun (Sindo, 2018). Selanjutnya pada tahun anggaran 2019 pemerintah juga mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4,47 triliun untuk bantuan operasional penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (BOP PAUD), naik 10% jika dibandingkan dengan tahun 2018 (Seftiawan 2018).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003), secara khusus, PAUD diatur dalam Bagian Ketujuh, Pasal 28, tentang Pendidikan Anak Usia Dini yang diuraikan dalam ayat (3) sebagai berikut: Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Selanjutnya pada penjelasan ayat (3) dijelaskan bahwa Taman kanak-kanak (TK) menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Sedangkan Raudhatul Athfal (RA) menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam yang menanamkan nilai-nilai keimanan dan
204 ketakwaan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri seperti pada taman kanak-kanak.
Standar PAUD merupakan bagian integral dari Standar Nasional Pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang selanjutnya disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (2015), dirumuskan dengan mempertimbangkan karakteristik penyelenggaraan PAUD. Standar PAUD menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 terdiri atas empat kelompok, yaitu: (1) standar tingkat pencapaian perkembangan; (2) standar pendidik dan tenaga kependidikan; (3) standar isi, proses, dan penilaian; dan (4) standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan (Mendiknas, 2009). Sedangkan standar PAUD menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 137 Tahun 2014 terdiri atas: (1) standar tingkat pencapaian perkembangan anak, (2) standar isi, (3) standar proses, (4) standar penilaian, (5) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (6) standar sarana dan prasarana, (7) standar pengelolaan, dan (8) standar pembiayaan (Mendikbud, 2014).
Keberadaan beberapa PAUD Formal bercirikan Islam di kota Surakarta yang tidak memenuhi standar PAUD yang sudah ditetapkan oleh pemerintah mengindikasikan bahwa standar PAUD masih belum dapat diterapkan sepenuhnya oleh seluruh PAUD Formal bercirikan Islam. Masalah ini bisa jadi dikarenakan oleh keadaan dan kesiapan dari masing-masing PAUD Formal bercirikan Islam yang berbeda-beda. Dengan demikian, diperlukan informasi terkait kondisi PAUD jalur pendidikan formal bercirikan Islam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemenuhan indikator-indikator yang mencirikan standar PAUD jalur pendidikan formal bercirikan Islam.
METODE
Penelitian ini menggunakan studi kasus terhadap guru BA (Bustanul Athfal) dan RA (Raudhatul Athfal) di Provinsi Jawa Tengah yang menjadi peserta PLPG LPTK rayon 232 IAIN Surakarta. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.
Kuesioner disebarkan kepada responden yang merupakan guru RA dan BA di Provinsi Jawa Tengah yang menjadi peserta PLPG LPTK rayon 232 IAIN Surakarta yang berjumlah 74 orang. Namun tidak semua kuesioner yang disebarkan kepada responden dapat dianalisis, karena terdapat 7 kuesioner yang tidak kembali dan 5 kuesioner yang rusak. Dengan demikian banyaknya responden yang digunakan pada penelitian ini pada akhirnya berjumlah 62 responden dengan perincian 29 responden merupakan guru RA dan BA kelompok A (anak usia 4 - ≤ 5 tahun) dan 33 guru RA dan BA kelompok B (anak usia 5 - ≤ 6 tahun). Secara lengkap persentase guru PAUD bercirikan Islam untuk masing-masing kabupaten atau kota dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persentase Asal Responden Berdasarkan Kabupaten/ Kota
No Kabupaten/
Kota Jumlah Persentase (%)
1 Batang 1 1,61
2 Boyolali 3 4,84
3 Cilacap 1 1,61
4 Grobogan 4 6,45
5 Jepara 13 20,97
6 Karanganyar 1 1,61
7 Kebumen 2 3,23
8 Kudus 8 12,90
9 Pati 5 8,06
10 Pekalongan 1 1,61
11 Pemalang 1 1,61
12 Purbalingga 2 3,23
13 Rembang 4 6,45
14 Sukoharjo 13 20,97
15 Surakarta 1 1,61
16 Wonogiri 2 3,23
Total 62 100
Selanjutnya responden memberikan penilaian terhadap pemenuhan standar PAUD di sekolah tempat mereka mengajar berdasarkan pengalaman mereka selama mengajar. Standar PAUD yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada Permendiknas Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 yang terdiri dari: (1) standar tingkat pencapaian
205 perkembangan, (2) standar pendidik, (3) standar isi, dan (4) standar sarana dan prasarana.
Indikator pada standar tingkat pencapaian perkembangan meliputi: (1) nilai-nilai agama dan moral, (2) fisik (motorik kasar), (3) fisik (motorik halus), (4) fisik (kesehatan fisik), (5) kognitif (pengetahuan umum dan sains), (6) kognitif (konsep bentuk, warna, ukuran dan pola), (7) kognitif (konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf), (8) bahasa (menerima bahasa), (9) bahasa (mengungkapkan bahasa), (10) keaksaraan, dan (11) sosial emosional.
Indikator pada standar pendidik meliputi:
persentase guru minimal D-IV atau S1 dalam bidang PAUD atau psikologi.
Indikator pada standar isi meliputi: (1) persentase sekolah dengan alokasi waktu satu kali pertemuan selama 150 – 180 menit, (2) persentase sekolah dengan alokasi waktu enam atau lima hari per minggu, dengan jumlah pertemuan sebanyak 900 menit (30 jam @ 30 menit), (3) persentase sekolah dengan alokasi waktu tujuh belas minggu efektif per semester, dan (4) persentase sekolah dengan alokasi waktu dua semester pertahun.
Indikator pada standar sarana dan prasarana meliputi: (1) persentase luas lahan minimal 300 m2, (2) persentase sekolah yang memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak, (3) persentase sekolah yang memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik, (4) persentase sekolah yang memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep, dan (5) persentase sekolah yang memiliki peralatan pendukung keaksaraan.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Deskripsi Responden
Jenis sekolah tempat responden mengajar sebagian besar adalah RA (Raudatul Athfal), sedangkan sisanya adalah BA (Bustanul Athfal).
Persentase untuk masing-masing jenis sekolah dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Diagram Lingkaran Jenis Madrasah Tempat Responden Mengajar
Sedangkan masa kerja responden dapat dilihat pada Gambar 2. Tampak masa kerja responden hanya terbagi menjadi 4 kelompok saja dengan masa kerja minimal 7 tahun dan maksimal lebih dari 10 tahun.
Gambar 2. Diagram Lingkaran Masa Kerja Responden
Berdasarkan Gambar 2 tampak bahwa sekitar separuh responden mempunyai masa kerja di atas 10 tahun, yaitu sebesar 53.2%
responden. Selanjutnya sekitar seperempat responden yaitu sebesar 25.8% responden mempunyai masa kerja
9 tahun dan < 10 tahun. Sedangkan hanya 17.7% yang mempunyai masa kerja
8 tahun dan < 9 tahun.B. Analisis Deskripsi Terhadap Tingkat Pencapaian Perkembangan yang Dinilai Kurang Memuaskan untuk Masing-Masing Indikator
Pada penelitian ini suatu tingkat pencapaian perkembangan untuk indikator tertentu dikatakan kurang memuaskan jika minimal 30% responden memilihnya. Karena responden pada kelompok A terdiri dari 29 orang, maka suatu tingkat pencapaian
206 perkembangan untuk indikator tertentu pada kelompok A dikatakan tidak memuaskan jika minimal dipilih oleh (30% x 29) = 8,7 = 9 responden. Sedangkan karena responden pada kelompok B terdiri dari 33 orang, maka suatu tingkat pencapaian perkembangan untuk indikator tertentu pada kelompok B dikatakan tidak memuaskan jika minimal dipilih oleh (30% x 33) = 9,9 =10 responden.
1. Tingkat Pencapaian Perkembangan Kelompok A yang Dinilai Kurang Memuaskan untuk Masing-Masing Indikator
Diagram batang lingkup perkembangan pada kelompok A yang tingkat pencapainnya selama ini dinilai kurang memuaskan untuk masing-masing indikator sebagaimana tampak pada Gambar 3. Pada diagram batang tersebut juga tampak persentase responden yang memilih masing-masing tingkat pencapaian perkembangan yang mereka nilai kurang memuaskan.
Gambar 3. Diagram Batang Tingkat Pencapaian Perkembangan Untuk Masing-Masing Indikator
Pada Kelompok A
Berdasarkan Gambar 3 selanjutnya tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator fisik (motorik kasar) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (4) melempar sesuatu secara terarah. Anak kelompok A ketika melempar sesuatu sering tidak terarah atau tidak tepat sasaran. Begitu juga dalam hal cara anak melempar yang belum benar semakin menyebabkan anak kesulitan dalam melempar sesuatu secara terarah.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator fisik (motorik halus) adalah
tingkat pencapaian perkembangan nomor (2) menjiplak bentuk, nomor (3) mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit, dan nomor (4) melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media. Anak kelompok A kurang tertarik untuk menjiplak bentuk karena anak ingin menjiplaknya langsung pada gambarnya/ gambar yang asli. Terkadang gambar asli tidak jelas karena sering ditumpuk dengan kertas lain atau mereka selalu mengangkat-angkat kertasnya sehingga tergeser yang menyebabkan bentuknya tidak pas. Faktor- faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah karena anak belum mandiri, belum berani membuat sendiri, bahkan ada yang menangis minta bantuan guru. Anak pun masih belum bisa memegang pensil dengan benar dan mereka lebih suka kegiatan dengan gerakan. Selain itu, anak kelompok A belum mampu mengkoordinasikan secara baik antara mata dengan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit. Biasanya mereka hanya bisa melakukan gerakan tangan saja sehingga dibutuhkan banyak latihan. Selain itu, anak kelompok A cenderung suka meniru gerakan nyata. Mereka lebih senang menari, bersyair, menyanyi, dan mengekspresikan diri dengan gerakan variatif.
Selain itu anak masih banyak yang malu sehingga tidak mau meniru.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator kognitif (pengetahuan umum dan sains) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (2) mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya dan nomor (3) mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri. Anak kelompok A cenderung belum bisa memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka melakukan sesuatu, padaha yang dilakukan itu akan membahayakan diri mereka.
Selain itu, anak kelompok A merasa takut tidak dapat berkreasi sendiri sehingga mereka selalu bergantung pada atau minta bantuan guru.
Mereka belum bisa menuangkan idenya dan cenderung meniru. Dengan demikian, anak kelompok A masih butuh bimbingan, arahan, stimulan (rangsangan) dan motivasi dari guru.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator kognitif (konsep bentuk, warna, ukuran dan pola) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) mengenal pola AB- AB dan ABC-ABC. Anak kelompok A masih kesulitan untuk mengenal pola, terutama ABC- 31,0
37,9 37,9 34,5 31,0
48,3 31,0
31,0 44,8
48,3 37,9
0,0 20,0 40,0 60,0
F1-4 F2-2 F2-3 F2-4 K1-3 K1-5 K2-3 K3-5 B1-3 B2-7 SE-4
207 ABC. Kebanyakan mereka baru mengenal 1 pola saja. Sehingga jika pola tersebut dirangkai, mereka masih sering bingung. Anak kelompok A cenderung mengikuti pola yang berada di atasnya, khususnya pola tentang warna.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator kognitif (konsep bilangan, lambang bilangan dan huruf) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (5) mengenal lambang huruf. Ketika menghafal huruf, anak kelompok A bisa melafalkan tapi mereka masih kesulitan mengenal huruf satu per satu. Mereka masih sering terbolak-balik antara satu huruf dengan huruf lainnya. Misalnya terkadang masih tertukar antara huruf “b” dan “d”.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator bahasa (menerima bahasa) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) memahami cerita yang dibacakan. Anak kelompok A belum sempurna dalam memahami cerita, terkadang mereka cuma hafal tokoh- tokohnya. Hal tersebut disebabkan karena mereka kurang konsentrasi dalam menyimak cerita, misalnya mereka bergurau dengan temannya. Anak kelompok A akan lebih tertarik dan lebih paham jika cerita tidak hanya dibacakan namun diperjelas dengan alat peraga atau gambar.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator bahasa (mengungkapkan bahasa) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (7) menceritakan kembali cerita/ dongeng yang pernah didengar. Anak kelompok A belum bisa menceritakan kembali cerita/ dongeng yang pernah didengar secara keseluruhan, mereka masih memerlukan pancingan-pancingan atau stimulan (rangsangan) dari guru. Hal tersebut dikarenakan kosa kata anak belum banyak.
Mereka masih malu bercerita dan kurang percaya diri.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk indikator sosial emosional adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) mengendalikan perasaan. Anak kelompok A belum bisa mengendalikan perasaan, mereka belum stabil. Mereka masih suka marah, ngambek, nangis, ingin menang sendiri (egois), dan terkadang tidak mau disuruh ke depan.
Misalnya ketika mereka sedang marah dengan temannya, maka akan sulit untuk didamaikan.
2. Tingkat Pencapaian Perkembangan Kelompok B yang Dinilai Kurang Memuaskan untuk Masing-Masing Indikator
Diagram batang lingkup perkembangan pada kelompok B yang tingkat pencapainnya selama ini dinilai kurang memuaskan untuk masing-masing indikator sebagaimana tampak pada Gambar 4. Pada diagram batang tersebut juga tampak persentase responden yang memilih masing-masing tingkat pencapaian perkembangan yang mereka nilai kurang memuaskan.
Gambar 4. Diagram Batang Tingkat Pencapaian Perkembangan Untuk Masing-Masing Indikator
Pada Kelompok B
Berdasarkan Gambar 4 selanjutnya tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator nilai-nilai agama dan moral adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (2) membiasakan diri beribadah dan nomor (3) memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb). Anak kelompok B belum khusyu' dalam beribadah, mereka belum paham betul arti beribadah sehingga mereka hanya ikut- ikutan. Selain itu lingkungan keluarga kurang mendukung karena lingkungan keluarga kurang membiasakan pada anak. Karena dalam beribadah perlu pembiasaan secara terus- menerus agar tertanam secara kuat pada diri anak). Selain itu, pada anak kelompok B, walaupun di sekolah sudah diajarkan/dibiasakan pada perilaku mulia, namun terkadang lingkungan keluarga kurang membiasakan.
Dengan demikian lingkungan keluarga masih dirasa kurang mendukung).
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator fisik (motorik kasar) adalah
39,4 33,3 30,3 30,3
54,5 30,3
39,4 30,3
33,3 30,3 30,3
0,0 20,0 40,0 60,0
NAM-2 NAM-3 F1-5 F2-1 F2-7 F3-1 K1-3 B1-3 B2-6 K-3 SE-1
8
208 tingkat pencapaian perkembangan nomor (5) melakukan kegiatan kebersihan diri. Anak kelompok B belum terbiasa dan belum mandiri melakukan kegiatan kebersihan diri. Misalnya sebagian anak belum menggosok gigi secara rutin dan kuku mereka panjang. Agar anak menjadi terlatih, mereka masih memerlukan bimbingan untuk buang air kecil, buang air besar, dan membersihkan diri setelah makan.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator fisik (motorik halus) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (1) menggambar sesuai gagasannya dan nomor (7) mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail. Anak kelompok B masih bersifat meniru (imitatif) sehingga mereka masih kesulitan menuangkan ide dalam menggambar. Selain itu, anak kelompok B belum bisa menggambar secara detail karena menggambar secara detail membutuhkan ketelitian. Mereka baru bisa menggambar gambar sederhana sebatas pada apa yang pernah mereka lihat. Selain itu imajinasi anak banyak dipengaruhi oleh alur cerita film di televisi.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator fisik (kesehatan fisik) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (1) memiliki kesesuaian antara usia dengan berat badan. Kebanyakan berat badan anak kelompok B tidak sesuai dengan usia. Ada anak yang kelebihan berat badan, sehingga mereka tidak bisa melakukan aktivitas seperti anak lainnya.
Sebaliknya ada anak yang kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Anak sulit makan, namun mereka lebih suka jajan. Terkadang anak terlalu asyik bermain sehingga mereka sering lupa makan.
Sebagai solusi, pihak madrasah mengadakan makan bersama dengan menu yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator kognitif (pengetahuan umum dan sains) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) menyusun perencanaan kegiatan yang akan dilakukan.
Anak kelompok B belum paham kegiatan apa yang akan dikerjakan. Mereka cenderung menunggu perintah dari guru.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator bahasa (menerima bahasa) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) memahami aturan dalam suatu permainan.
Anak kelompok B lebih suka menyukai
kebebasan sehingga mereka cenderung ingin bermain sesuai keinginan mereka sendiri.
Mereka mengasosiasikan "aturan" sebagai
"larangan". Karena tingkat pemahaman beberapa anak masih tergolong rendah, maka anak akan lebih mudah paham jika dipraktekkan secara langsung.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator bahasa (mengungkapkan bahasa) adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (5) melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan. Anak kelompok B kurang konsentrasi atau perhatian dalam mendengarkan cerita/dongeng. Anak belum bisa bercerita secara runtut atau belum mampu dalam mengucapkan kalimat dengan baik karena ide yang terbatas, kurang berani atau takut, malu, dan kurangnya kosa kata yang dimiliki.
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator keaksaraan adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (3) menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama. Anak kelompok B memiliki kosa kata yang kurang. Mereka lebih condong pada apa yang sedang dilihat dan belum bisa membedakan rangkaian kata.
Misalnya anak masih bingung dalam membedakan da-di, ka-ki, ataupun huruf awal b, d, p).
Tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk indikator sosial emosional adalah tingkat pencapaian perkembangan nomor (1) Bersikap kooperatif dengan teman. Sebagian besar pergaulan pada anak kelompok B masih terbatas pada teman terdekat saja. Selain itu sikap egois atau individual masih tampak.
C. Analisis Deskripsi Terhadap Standar Pendidik
Standar PAUD mendasarkan kualifikasi dan kompetensi guru PAUD pada Permendiknas RI No.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru (Mendiknas, 2007). Selanjutnya untuk mengetahui apakah kualifikasi akademik responden telah sesuai dengan Permendiknas tersebut, maka dibuatlah diagram lingkaran untuk masing-masing kelompok.
209 1. Standar Pendidik pada Anak Usia 4 - <5
tahun (Kelompok A)
Diagram lingkaran kualifikasi responden pada kelompok A disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Diagram Lingkaran Kualifikasi Akademik Responden Pada Kelompok A
Berdasarkan Gambar 5 tampak bahwa mayoritas kualifikasi akademik guru PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah yang menjadi responden pada kelompok A tidak sesuai dengan standar PAUD. Sebesar 66% guru PAUD bercirikan Islam yang menjadi responden berasal dari selain bidang PAUD atau Psikologi.
Hanya 34% yang berasal dari bidang PAUD dengan perincian sebesar 6,9% berasal dari program studi PGTK (Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak) dan 27,6% berasal dari program studi PAUD. Sedangkan tidak seorang pun guru PAUD bercirikan Islam yang berasal dari bidang Psikologi.
2. Standar Pendidik pada Anak Usia 5 - <6 tahun (Kelompok B)
Diagram lingkaran kualifikasi responden pada kelompok A disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6. Diagram Lingkaran Kualifikasi Akademik Responden Pada Kelompok B
Berdasarkan Gambar 6 tampak bahwa mayoritas kualifikasi akademik guru PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah yang menjadi responden pada kelompok B juga tidak sesuai dengan standar PAUD. Sebesar 73% guru PAUD bercirikan Islam yang menjadi responden
berasal dari selain bidang PAUD atau Psikologi.
Hanya 27% yang berasal dari bidang PAUD dengan perincian sebesar 6,1% berasal dari program studi PGTK dan 21,2% berasal dari program studi PAUD. Sedangkan tidak seorang pun guru PAUD bercirikan Islam yang berasal dari bidang Psikologi.
D. Analisis Deskripsi Terhadap Terhadap Standar Isi
Pada Permendiknas RI No.58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD pada bagian standar isi disebutkan bahwa alokasi waktu PAUD Jalur Pendidikan Formal terdiri dari empat indikator (Mendiknas 2009).
1. Standar Isi pada Anak Usia 4 - <5 tahun (Kelompok A)
Pada kelompok A sebesar 100%
responden menyatakan bahwa dua indikator dari empat indikator tersebut telah sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. Dua indikator tersebut adalah indikator (3) bahwa sekolah mereka telah menggunakan alokasi waktu tujuh belas minggu efektif per semester dan indikator (4) bahwa sekolah telah menggunakan alokasi waktu dua semester pertahun.
Sedangkan pemenuhan dua indikator terkait alokasi waktu yang lainnya tidak mencapai 100%. Pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu tingkat pemenuhannya mencapai 90% untuk indikator (1) dan tidak kurang dari 86% untuk indikator (2). Sebanyak 4% responden tidak memberikan jawaban pada pertanyaan (2). Dengan demikian, pada kelompok A 90% sekolah telah menggunakan alokasi waktu satu kali pertemuan selama 150 – 180 menit dan tidak kurang dari 86% sekolah telah menggunakan alokasi waktu enam atau lima hari per minggu, dengan jumlah pertemuan sebanyak 900 menit (30 jam @ 30 menit).
Secara umum, pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun (kelompok A) telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah dan telah sesuai dengan Permendiknas RI No.58 Tahun 2009.
2. Standar Isi pada Anak Usia 5 - <6 tahun (Kelompok B)
Pada Permendiknas RI No.58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD pada bagian standar isi disebutkan bahwa alokasi waktu PAUD Jalur Pendidikan Formal terdiri dari empat indikator (Mendiknas, 2009). Pada kelompok B sebesar
210 100% responden menyatakan bahwa satu indikator dari empat indikator tersebut telah sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan.
Satu indikator yang telah sesuai tersebut adalah indikator (2) bahwa sekolah mereka telah menggunakan alokasi waktu enam atau lima hari per minggu, dengan jumlah pertemuan sebanyak 900 menit (30 jam @ 30 menit).
Sedangkan pemenuhan tiga indikator terkait alokasi waktu yang lainnya tidak mencapai 100%. Pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu tingkat pemenuhannya mencapai tidak kurang dari 97%
untuk indikator (1) dan (2) dan tidak kurang dari 94% untuk indikator (3). Sebanyak 3%
responden tidak memberikan jawaban pada pertanyaan (2) dan 6% tidak memberikan jawaban pada pertanyaan (3). Dengan demikian, pada kelompok B tidak kurang dari 97% sekolah telah menggunakan alokasi waktu satu kali pertemuan selama 150 – 180 menit dan telah menggunakan alokasi waktu tujuh belas minggu efektif per semester, serta tidak kurang dari 94%
sekolah telah menggunakan alokasi waktu dua semester pertahun.
Secara umum, pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu untuk kelompok usia 5 - ≤ 6 tahun (kelompok B) telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah dan telah sesuai dengan Permendiknas RI No.58 Tahun 2009.
E. Analisis Deskripsi Terhadap Terhadap Standar Sarana dan Prasarana
Pada Permendiknas RI No.58 Tahun 2009 tentang Standar PAUD pada bagian standar sarana dan prasarana disebutkan bahwa persyaratan PAUD Jalur Pendidikan Formal terdiri dari lima indikator (Mendiknas 2009).
1. Standar Sarana dan Prasarana pada Anak Usia 4 - <5 tahun (Kelompok A)
Pada kelompok A sebesar 100% sekolah mereka telah memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik. Sebesar 97%
sekolah telah memiliki luas lahan minimal 300 m2 dan sebesar 97% sekolah telah memiliki peralatan pendukung keaksaraan. Sebesar 93%
sekolah telah memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. Namun hanya 69% sekolah yang telah memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang
lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak.
Secara umum, pemenuhan standar sarana dan prasarana untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun (kelompok A) telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah, kecuali pada satu indikator, hanya 69% saja sekolah yang memenuhi indikator (2) pada standar sarana dan prasarana (Persentase sekolah yang memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak) menurut Permendiknas Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009.
2. Standar Sarana dan Prasarana pada Anak Usia 5 - <6 tahun (Kelompok B)
Pada kelompok B sebesar 100% sekolah telah memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik. Tidak kurang dari 94% sekolah telah memiliki peralatan pendukung keaksaraan. Tidak kurang dari 82%
sekolah telah memiliki memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. Tidak kurang dari 61% sekolah telah memiliki memiliki luas lahan minimal 300 m2. Namun tidak kurang dari 42% sekolah yang telah memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak.
Secara umum, pemenuhan standar sarana dan prasarana untuk kelompok usia 5 - ≤ 6 tahun (kelompok B) telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah, kecuali pada dua indikator, hanya sekitar 61%
saja sekolah yang memenuhi indikator (1) pada standar sarana dan prasarana (Persentase luas lahan minimal 300 m2) dan sekitar 42% saja sekolah yang memenuhi indikator (2) pada standar sarana dan prasarana (Persentase sekolah yang memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak) menurut Permendiknas RI No.58 Tahun 2009.
Permendikbud No. 137 Tahun 2014 merupakan manifestasi dari pemberlakuan Kurikulum 2013, sedangkan Permendiknas No.
58 Tahun 2009 adalah manifestasi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
211 Jika ditinjau dari segi teknis kedua peraturan ini berbeda, namun dari segi isi ataupun makna secara umum mempunyai persamaan (Fadlillah, 2016).
Supaya pendidikan berkelanjutan menjadi bagian dari pendidikan anak usia dini dan prasekolah harus dikembangkan sebuah bingkai teoritis baru yang serbaguna dari referensi (Härkönen, 2003). Partisipasi anak berproses dalam aktivitas harian yang bermacam-macam.
Pengembangan reflektif dari praktek participatory dianggap sebagai proses pemecahan masalah yang umum, dimana semua peserta dapat menggunakan keahlian profesional mereka untuk menciptakan pendidikan anak usia dini yang lebih baik untuk anak-anak dan dengan anak-anak (Tuulikki & Jonna, 2013).
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bagian sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada anak usia 4-<5 tahun (kelompok A) dan pada anak usia 5-<6 tahun (kelompok B) untuk masing-masing indikator adalah: (a) tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok A untuk masing- masing indikator adalah: (1) mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri, (2) menceritakan kembali cerita/ dongeng yang pernah didengar, (3) memahami
cerita yang dibacakan, (4) menjiplak bentuk, (5) mengkoordinasikan mata dan tangan untuk
melakukan gerakan yang rumit, (6) mengendalikan perasaan, (7) melakukan gerakan manipulatif untuk menghasilkan suatu bentuk dengan menggunakan berbagai media, (8) melempar sesuatu secara terarah, (9) mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya, (10) mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC, dan (11) mengenal lambang huruf; (b) tingkat pencapaian perkembangan yang dinilai kurang memuaskan pada kelompok B untuk masing- masing indikator adalah: (1) mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara detail, (2) membiasakan diri beribadah, (3) menyusun perencanaan kegiatan yang akan dilakukan, (4) memahami perilaku mulia (jujur, penolong, sopan, hormat, dsb), (5) melanjutkan sebagian cerita/ dongeng yang telah diperdengarkan, (6) melakukan kegiatan kebersihan diri, (7) menggambar sesuai gagasannya, (8) memiliki kesesuaian antara usia dengan berat badan, (9) memahami aturan dalam
suatu permainan, (10) menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi/huruf awal yang sama, dan (11) bersikap kooperatif dengan teman. Kedua, pemenuhan standar pendidik, standar isi, dan standar sarana dan prasarana menurut Permendiknas RI No.58 Tahun 2009 tentang standar PAUD adalah sebagai berikut.
(a) Pemenuhan standar pendidik terkait kualifikasi akademik responden belum merata di Provinsi Jawa Tengah, karena untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun hanya 34% yang berasal dari bidang PAUD, sedangkan untuk kelompok usia 5 - ≤ 6 tahun hanya 27% yang berasal dari bidang PAUD. Selain itu, ternyata tidak seorang pun guru RA yang berasal dari bidang psikologi;
(b) Secara umum, pemenuhan standar isi kaitannya dengan alokasi waktu untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun dan untuk kelompok usia 5 - ≤ 6 tahun telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah dan telah sesuai dengan Permendiknas RI No.58 Tahun 2009; (c) Secara umum, pemenuhan standar sarana dan prasarana untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun dan usia 5 - ≤ 6 tahun telah merata pada PAUD bercirikan Islam di Provinsi Jawa Tengah, kecuali sebagai berikut: (1) Untuk kelompok usia 4 - ≤ 5 tahun hanya 69% saja sekolah yang memenuhi indikator 2 pada standar sarana dan prasarana (Persentase sekolah yang memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak) menurut Permendiknas Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009; (2) Untuk kelompok usia 5 - ≤ 6 tahun hanya sekitar 61%
saja sekolah yang memenuhi indikator (a) pada standar sarana dan prasarana (Persentase luas lahan minimal 300 m2) dan sekitar 42% saja sekolah yang memenuhi indikator (b) pada standar sarana dan prasarana (Persentase sekolah yang memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak) menurut Permendiknas RI No.58 Tahun 2009.
DAFTAR PUSTAKA
Fadlillah, M. (2016). Komparasi Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 Dengan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 Dalam Pembelajaran PAUD.” INDRIA Jurnal Ilmiah Pendidikan PraSekolah Dan Sekolah Awal, 1(1), 42-53.
212 Härkönen, U. (2003). Current Theories Related
to Early Childhood Education and Preschool as Frames of Reference for Sustainable Education.” 1st International JTET Conference
"Sustainable Development. Culture.
Education, 38-51.
Hiilamo, H., Haataja, A., & Merikukka, M.
(2015). Children Who Do Not Attend Day Care: What Are the Implications for Educational Outcomes?.
FamiliesAndSocieties, 42.
Hiilamo, H,. Merikukka, M., & Haataja, A.
(2018). Long-Term Educational Outcomes of Child Care Arrangements in Finland. SAGE Open, 8(2), 1-15.
https://doi.org/10.1177/2158244018774 823
Hyvonen, P. T. (2011). Play in the School Context ? The Perspectives of Finnish Teachers. Australian Journal of Teacher Education, 36(8), 65-83.
Lavonen, J. (2017). Governance Decentralisation in Education : Gobernanza Descentralizada: Una Innovación Finlandesa En Educación.
RED. Revista de Educación a Distancia,
53(1), 1–22.
https://doi.org/10.6018/red/53/1.
Mendikbud. (2014). Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta.
Mendiknas. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru. Jakarta.
———. (2009). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar PAUD. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 tahun 2017 Tentang Pelaksanaan
Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Salminen, J. (2017). Early Childhood Education and Care System in Finland. Nauki O Wychowaniu. Studia Interdyscyplinarne,
2(5), 135-154.
https://doi.org/10.18778/2450- 4491.05.09.
Seftiawan, D. (2018). Bantuan Operasional Pendidikan PAUD Naik Jadi Rp 4,47 Triliun. PikiranRakyat.com, December 2, 2018 from https://www.pikiran- rakyat.com/pendidikan/pr-
01304051/bantuan-operasional- pendidikan-paud-naik-jadi-rp-447- triliun-433941.
Sindo, K. (2018). Bantuan Operasional PAUD Naik Jadi Rp 4,1 Triliun.
SINDONEWS.COM, February 8, 2018 from
https://nasional.sindonews.com/berita/1 280381/144/bantuan-operasional-paud- naik-jadi-rp41-triliun.
Tuulikki, V., & Jonna, L. (2013). Developing Children ´ S Participation through Research and Reflective Practices.”
Asia-Pacific Journal Of Research In Early Childhood Education, 7(1), 31-49.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Harususilo, Y. E. (2019). Ini Rahasia Pendidikan Finlandia Menjadi Yang Terbaik Di Dunia (1). Kompas.com, February 20, 2019 from https://edukasi.kompas.com/read/2019/0 2/20/07102141/ini-rahasia-pendidikan- finlandia-menjadi-yang-terbaik-di- dunia-1?page=all