• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anak Didik (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 17.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Anak Didik (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 17."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Khazanah: Jurnal Edukasi

Volume 1, Nomor 2, September 2019; p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247; 128-158

Muhammad Andy Rosyid

Madrasah Aliyah Negeri Lumajang, Indonesia Email: [email protected]

Abstrak: Sejak globalisasi masuk ke ruang-ruang terkecil kehidupan manusia, hampir seluruh kehidupan manusia menjadi tak terbatas. Keadaan ini menyebabkan value positif dan negatif dalam satu track yang sama. Positif karena jejaring makhluk bumi dapat terkoneksi dan tanpa hambatan jarak. Negatifnya, karena tidak semua orang memiliki critical thinking yang sama, bahkan sebagian larut dalam “kegelapan” arus informasi. Hal ini menjadi salah satu sebab jati diri manusia secara bertahap mengalami degradasi. Karakter bangsa suatu negara, sedikit demi sedikit larut dan kehilangan identitasnya. Pondok pesantren sebagai bagian dari institusi indegenious di Indonesia, merasakan persoalan yang sama. Di tengah keadaan yang semakin runyam itu, pesantren merasa perlu melakukan filter tapi sekaligus melakukan transformasi agar selalu fleksibel dengan perubahan zaman. Riset ini dilakukan di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang.

Riset ini ingin melihat bagaimana manajemen pendidikan karakter dilaksanakan di pesantren tersebut. Hasilnya, nilai-nilai karakter yang dihasilkan dari pelaksanaan manajemen pendidikan karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro yaitu:

religius, disiplin, tanggung jawab, mandiri, kerja keras, kreatif, toleransi, dan menghargai prestasi.

Kata kunci: Manajemen, pendidikan karakter, santri progresif

Pendahuluan

Bangsa kita saat ini tengah menghadapi krisis karakter atau jati diri yang menjadi landasan fundamental bagi karakter bangsa. Berbagai kejadian atau peristiwa yang sering berlangsung dalam kehidupan sehari-hari yang bisa disaksikan melalui televisi maupun media cetak, menunjukkan betapa masyarakat kita tengah mengalami degradasi jati diri dan menurunnya martabat bangsa yang berkeadaban. Seiring perjalanan waktu, moral bangsa terasa semakin amburadul, huru-hara, kesewenangan, ketimpangan, dan pergaulan bebas dikalangan remaja terjadi dimana-mana, tata krama pun hilang, nyawa seperti tak ada harganya, korupsi menjadi-jadi bahkan telah dilakukan terang-terangan dan berjamaah.1

1 Mohammad Takdir Ilahi, Gagalnya Pendidikan Karakter: Analisis & Solusi Pengendalian Karakter Emas Anak Didik (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), 17.

(2)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 129

Banyak faktor yang menjadi penyebab kondisi diatas, diantaranya: lemahnya kebijakan pemerintah mengenai sistem pendidikan, kurikulum pendidikan, anggaran, kepribadian guru, metode pengajaran yang tidak tepat, minimnya peran orang tua, lingkungan belajar dan model pembelajaran yang kurang tepat. Sebagai solusinya, pemerintah menganjurkan agar sekolah-sekolah menerapkan model pendidikan karakter, sebab model konvensional saat ini dipandang tidak lagi mampu menghalau derasnya arus globalisasi.2

Pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari- hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif bagi lingkungannya.

Berdasarkan pedoman pelaksanaan pendidikan karakter yang bersumber dari Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa, meliputi (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter pancasila; dan (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.3

Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan niali-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antar sesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah.4 Karakter tidak terbangun dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk dan ditumbuh kembangkan melalui pendidikan. Karena itu, pendidikan karakter bagi peserta didik perlu didesain, diformulasikan dan dioperasionalkan

2 Oci Melisa Depiyanti, “Model Pendidikan Karakter di Islamic Full Day a Scholl: Studi Deskriptif pada SD Cendekia Leadership Scholl Bandung”, Jurnal Tarbawi, Vol. 1 No. 3, September, 2012, 222-223.

3 Megawangi R, Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Peradaban Bangsa (Jakarta:

BBPMIIGAS dan Star Energi, 2011), 95.

4 Eni Purwati, Dkk, Pendidikan Karakter (Menjadi Berkarakter Muslim Muslimah Indonesia) (Surabaya:

Kopertais IV Press, 2014), 5.

(3)

130 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah, baik formal maupun non formal.5

Salah satu pendidikan non formal Islam yang bersifat subkultural dan nilai mampu menerjemahkan pendidikan karakter adalah pesantren. Pesantren adalah salah satu instuisi yang unik dengan ciri-ciri khas yang sangat kuat dan lekat. Peran yang diambil adalah upaya-upaya pencerdasan bangsa yang telah turun temurun tanpa henti. Pesantren sejak lama telah memberikan pendidikan pada masa-masa sulit, masa perjuangan melawan kolonial dan merupakan pusat studi yang tetap survive (hidup) hingga saat ini. Pesantren memiliki tingkat integritas yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya, sekaligus menjadi rujukan moral (reference of moralitty) bagi kehidupan masyarakat umum.6

Menurut Abdul Rahim, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan Indonesia sejak ratusan tahun yang silam, ia adalah lembaga pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai lembaga unik dan punya karakteristik tersendiri yang khas, sehingga saat ini menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan pluralitas polemik yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, pesantren tradisional telah banyak memberikan andil dan kontribusi yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat serta dapat menghasilkan komunitas intelektual yang setaraf dengan sekolah elit.7

Dalam hal ini pola pendidikan pesantren sangat relevan jika dikaitkan dengan pendidikan karakter. Karena pesantren erat kaitannya dalam setiap pembelajaran dengan pendidikan etika, akhlak, pesantren juga lembaga pendidikan yang 24 jam selalu mengajarkan suri tauladan dari para ulama’ yang ada sebagai bagian tak terpisahkan keberadaan pesantren. Selain lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah banyak melahirkan generasi-generasi yang intelek dan agamis (alim

5Abidinsyah, “Urgensi Pendidikan Karakter Dalam Membangun Peradaban Bangsa yang Bermartabat”, Jurnal Socioscentica, Vol. 3 No. 1, Februari, 2011, 2.

6Muhammad Sulthon & Moh. Khusnurridlo, Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global (Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2006), 14.

7 Abdul Harim, Peran Strategi Pesantren dalam Membangun Spiritual (Jakarta: Media Pustaka, 2001), 28.

(4)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 131

ulama’), tidak heran jika pesantren masih menjadi lembaga yang dikatakan unggul dan menjadi pilihan bagi orang tua dalam mendidik putra-putrinya.8

Hakikat Manajemen Pendidikan Karakter

Kata manajemen berasal dari bahasa prancis kuno, yaitu management yang memiliki arti seni melaksanakan, mengatur, mrngurus atau seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.9 Definisi ini berarti seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien.

Manajemen berasal dari kata “manus” yang berarti “tangan”, berarti menangani sesuatu, mengatur, membuat sesuatu menjadi seperti yang diinginkan dengan mendayagunakan seluruh sumber daya yang ada.10 Secara teoritis, setiap ahli memberikan pandangan yang berbeda tentang batasan manajemen, karena itu tidak mudah memberi arti universal yang dapat diterima semua orang.

Senada yang diungkapkan oleh George Terry dalam Saefullah, yakni

“management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed todetermine and accomplish stated objetctives by the use of human beings and other resources”. Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengontrolan melalui orang atau sumber daya lain untuk mewujudkan tujuan. Proses yang dikemukakan Terry inilah yang secara populer dikenal dengan singkatan POAC (planning, organizing, actuating, controlling).11

Menurut Andrew F. Sikula sebagaimana dikutip oleh Fatah Syukur Manajemen pada umumnya dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, penempatan, pengarahan, (motivating) pemotivasian, komunikasi dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi dengan tujuan untuk mengorganisasikan berbagai sumber daya yang

8 Sulistiya Prabawati, “Pesantren Sebagai Basis Implementasi Pendidikan Karakter (Studi Kasus di Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan -Madura)”, Skrispi, Universitas Negeri Sunan Ampel, Surabaya, 2016, 5.

9 Daryanto & Abdillah, Pengantar Ilmu Manajemen dan Komunikasi (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2013), 6.

10 M. Rohman, Sofan Amri, Manajemen Pendidikan ( Jakarta: PT. Prestasi Pustakaraya, 2012), 2.

11 Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2012), 2.

(5)

132 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

dimiliki oleh perusahaan sehinggga akan dihasilkan suatu produk atau jasa secara efisien.12

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Efisiensi mengacu pada memperoleh output terbesar dengan input yang terkecil. Dari sudut pandang ini, efisien diacukan sebagai melakukan pekerjaan dengan benar sehingga tidak memboroskan sumber daya. Sedangkan efektivitas adalah menyelesaikan kegiatan- kegiatan sehingga sasaran organisasi dapat tercapai. Manajemen difokuskan tidak hanya dengan mencapai kegiatan dan memenuhi sasaran organisasi (efektivitas), tetapi juga melakukannya dengan seefisien mungkin.

Fungsi Manajemen

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka pencapaian tujuan ada lima kombinasi fungsi fundamental yang paling umum. Kombinasi tersebut dibaca dari atas ke bawah akan terlihat:

1. Terdiri dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), memberi dorongan (actuating), dan pengawasan (controlling).

2. Terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, memberi motivasi (motivating), dan pengawasan.

3. Terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, staffing, memberi pengarahan (directing) dan pengawasan.

4. Terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, staffing, memberi pengarahan, pengawasan, inovasi dan memberi peranan.

5. Terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, memberi motivasi, pengawasan dan koordinasi.13

Secara umum, manajemen dapat dibagi menjadi 10 bagian, yaitu: Planning, organizing, staffing, directing, leading, coordinating, motivating, controlling, reporting, dan

12 Fatah Syukur, Manajemen Pendidikan (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2011), 7-8.

13 George R. Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Terj. J. Smith D.E.M (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 16.

(6)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 133

farecasting. Planning adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mancakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk pemilihan alternatif-alternatif keputusan.

Organizing adalah pengelompokan kegiatan yang diperlukan yaitu penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi.

Actuating mencakup penetapan dan pemuasan kebutuhan manusiawi dari pegawai- pegawainya, memberi penghargaan, memimpin, mengembangkan memberi kompensasi kepada mereka. Motivating merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan.agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh atasan tersebut. Actuating bersifat motivasional dan mencakup lebih banyak formulasi formal dan rasional. Staffing mencakup mendapatkan, menempatkan dan mempertahankan anggota pada posisi yang dibutuhkan oleh pekerjaan organisasi yang bersangkutan.

Directing mencakup pengarahan yang diberikan kepada bawahan sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan. Controlling mencakup kelanjutan tugas untuk melihat apakah kegiatan-kegiatan dilaksanakan sesuai rencana. Pelaksanan kegiatan dievaluasi dan penyimpangan-penyimpangan yang tidak diinginkan diperbaiki supaya tujuan-tujuan dapat tercapai dengan baik. Innovating mencakup pengembangan gagasan-gagasan baru, mengkombinasikan pemikiran baru dengan yang lama, mencari gagasan- gagasan dari kegiatan lain dan melaksanakannya. Representing mencakup pelaksanaan tugas pegawai sebagai anggota resmi dari sebuah perusahaan dalam urusannya dengan pihak pemerintah, kalangan swasta, bank, penjual, langganan dan kalangan luar lainnya. Coordinating merupakan sinkronisasi yang teratur dari usahausaha individu yang berhubungan dengan jumlah, waktu dan tujuan mereka, sehingga dapat diambil tindakan yang serempak menuju sasaran yang telah ditetapkan.14

Manajemen Pendidikan

Secara sederhana manajemen pendidikan adalah proses manajemen dalam pelaksaan tugas pendidikan dengan mendayagunakan segala sumber secara efektif.

Sedangkan menurut Usman Husaini, manajemen pendidikan adalah seni atau ilmu

14 Muhammad Mustari, Manajemen Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), 7-9.

(7)

134 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.15

Menurut Sutisna dalam Agus Wibowo manajemen pendidikan secara umum memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada administrasi sekolah. Manajemen pendidikan tidak saja menyangkut penataan pendidikan formal melainkan juga pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah seperti kursus-kursus, latihan keterampilan, dan sebagainya.16

Menurut Made Pidarta yang dikutip oleh Sulistyorini dan Muhammad Fathurrohman manajemen pendidikan adalah aktifitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam suatu usaha untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.17

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah diuraikan, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara bersama-sama oleh anggota organisasi dalam hal pendidikan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada baik personil, materil, maupun spiritual yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan evaluasi untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Tujuan Manajemen Pendidikan

Tujuan manajemen pendidikan antara lain :

1. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan dan bermakna (pakemb)

2. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara

15 Usman Husaini, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Edisi Kedua (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 9.

16 Agus Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 29.

17 Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan (Jakarta: Pustaka Educa, 2010), 5-6.

(8)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 135

3. Terpenuhinya salah satu dari 5 kompetensi tenaga kependidikan (tertunjangnya kompetensi manajerial tenaga kependidikan sebagai manajer)

4. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien

5. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer atau konsultan manajemen pendidikan)

6. Teratasinya masalah mutu pendidikan, karena 80 % masalah mutu disebabkan oleh manajemennya

7. Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu, relevan, dan akuntabel

8. Meningkatkan citra positif pendidikan.18

Pendidikan Karakter

Kata pendidikan dalam bahasa Arab disebut tarbiyah ( ةيبرت diambil dari kata ( ابر

- ري

وب yang berarti tumbuh, berkembang atau bertambah. Kata tarbiyah (pendidikan) antara lain dimaknai sebagai sampainya sesuatu ke tahap sempurna secara berangsur-angsur. Penggunaan kata tarbiyah (pendidikan) antara lain dimaknai sebagai sampainya sesuatu ke tahap sempurna secara berangsur-angsur. Penggunan kata tarbiyah baru dikenal pada zaman modern. Sebab orang-orang Arab dahulu menggunakan kata ta’dib dan menyebut guru dengan mu’addib.

Adapun secara istilah, para ahli pendidikan memberikan definisi yang bervariasi, Redja Mudyaharjo, misalnya. Ia mendifinisikan pendidikan dalam makna luas yaitu segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.19

Syaikh Ahmad Farid Mengemukakan, konsep pendidikan dalam perspektif Islam salafi ialah upaya membangun individu-individu dengan akidah-akidah salaf yang shahih, konsep konsep Islam yang jernih, akhlak-akhlak yang bersih, dan aktifitas-aktifitas yang baik, dan menyiapkan mereka menjadi pilar-pilar yang kokoh untuk membangun kembali masyarakat muslim.

18 Mohamad, Manjemen, 7.

19 Rulam Ahmadi, Pengantar Pendidikan (Yogtakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), 36.

(9)

136 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

Dari beberapa definisi tersebut, baik definisi pendidikan secara umum maupun definisi pendidikan Islam secara khusus, Nampak sekali bahwa pendidikan pada dasarnya sudah inklud ke dalam pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan itu sebuah proses yang tujuanya membangun intelektual, moral, keterampilan, bahkan fisik anak didik. Jadi sasaran pendidikan itu lazimnya membangun pribadi manusia secara komprehensif, yaitu: olah fikir, olah hati, olah raga, olah karsa, dan olah keterampilan. Dengan kata lain, pendidikan itu membangun kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial.20

Karakter

Secara etimologis, kata karakter (character) berasal dari bahasa Yunani (Greek), yaitu charassein yang berarti “to engrave”. Kata “to engrave” bisa diartikan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan.21 Dalam kamus bahasa Indonesia kata

“karakter” diartikan dengan tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbol khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik.22 Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak.

Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusanya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan, perasaan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari- hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak.

20 Mujib Ansor, Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi saw (Malang: Pustaka Al-Umm, 2013), 27-29.

21 John. M. Echols & Shadily, Kamus Inggris Indonesia: An English-Indonesian Dictionary (Jakarta: PT Gramedia, 2005), 214.

22 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), 682.

(10)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 137

Mengacu pada berbagai pengertian dan definisi karakter tersebut di atas, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter, makna karakter dapat diartikan sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakanya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.23

Pendidikan karakter adalah sebagai upaya mendorong perserta didik tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berfikir dan berpegang teguh pada prinsip- prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan dengan berbagai tantangan.24 Menurut pendapat ahli, pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian melalui pendidikan budi pakerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertangung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan lain sebagainya.25

Menurut Ratna Megawangi pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap lingkungannya. Sementara Fakri Gaffar menjelaskan pendidikan karakter sebagai sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian orang itu. 26

Menurut pendapat ahli lain mengemukakan bahwa, pendidikan karakter memiliki maknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pakerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan perserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.27

23 Rosidatun, Model Implementasi Pendidikan Karakter, (Gresik: Gramedia Communication, 2018), 18-21.

24 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan (Jakarta:

Kencana Prenada Media Grup, 2011), 16.

25 Heri gunawan, Pendidikan Karakter (Konsep dan Implementasi) (Bandung: Alfabeta, 2012), 23.

26 Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktek di Sekolah (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011). 5.

27 Muclas Samani, Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2013), 45-46.

(11)

138 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

Pendapat ahli lain juga menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam prilaku kehidupan orang itu.28

Tujuan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang mempunyai kedudukan sebagai mahluk individu dan sekaligus juga mahluk sosial tidak begitu saja terlepas dari lingkungannya.

Pendidikan merupakan upaya memperlakukan manusia untuk mencapai tujuan.

Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha selesai dilaksanakan. Sebagai sesuatu yang akan dicapai, tujuan mengharapkan adanya perubahan tingkah laku, sikap dan kepribadian yang telah baik sebagaimana yang diharapkan setelah anak didik mengalami pendidikan.

Sebagaimana dalam Pasal 3 UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Adapun tujuanya adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.29

Selain itu, pendidikan karakter juga bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa, yaitu Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila, (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Secara operasional tujuan pendidikan karakter dalam setting sekolah adalah sebagai berikut: 30

28 Abdul Majid, Pendidikan Karakter Persepektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 11.

29 Novan Ardy Wiyani, Manajemen Pendidikan Karakter (Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani, 2012), 57.

30 Darma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter, Kajian Teori dan Praktik di Sekolah (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2011), 9.

(12)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 139

1. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

2. Mengoreksi peserta didik yang tidak berkesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dab masyarakat dalam memerankan tanggungjawab karakter bersama.

Tujuan-tujuan pendidikan karakter yang telah dijabarkan di atas akan tercapai dan terwujud apabila komponen-komponen sekolah dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan tersebut secara konsisten. Pencapaian tujuan pendidikan karakter peserta didik di sekolah merupakan pokok dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Nilai adalah hal yang terkandung dalam diri manusia yang lebih memberi dasar pada prinsip ahlak yang merupakan standar dari keindahaan dan efisiensi atau keutuhan kata hati. Nilai yang benar dapat di terima secara universal adalah nilai yang menghasilkan suatu prilaku yang prilaku tersebut menghasilkan dampak positif baik bagi yang menjalankan maupun orang lain.31

Berdasarkan pendapat diatas nilai adalah suatu hal yang ada di dalam diri manusia yang dapat menjadi standar untuk melakukan sesuatu sesuai dengan hati nurani, nilai yang benar dan dapat diterima yaitu nilai yang menghasilkan perilaku yang berdampak baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Kaitan ini sikap dan prilaku budi pakerti mengandung lima jangkauan sebagai berikut:

1. sikap dan prilaku dengan hubungan dengan tuhan, seperti: iman, taqwa, syukur, tawaqal, ikhlas, sabar, disiplin, jujur, mawas diri, amanah.

2. Sikap dan prilaku dalam hubungan dengan diri sendiri, seperti: bekerja keras, berani mengambil resiko, berhati lembut, berfikir matang, jujur, hemat, tekun, setia, adil, hormat, mandiri.

31 Majid, Pendidikan Karakter, 42.

(13)

140 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

3. Sikap dan prilaku dalam hubungan dengan keluarga, seperti: menghormati, pemaaf, sabar, rela berkorban, jujur.

4. Sikap dan prilaku dalam hubungan dengan masyarakat dan bangsa, seperti: bekerja keras, adil cermat, hormat, tertib, tegas, amanah.

5. Sikap dan prilaku dalam hubungan dengan alam sekitar, seperti: adil, amanah, disiplin, kasih sayang, kerja keras bijaksana, rela berkorban.32

Dalam rangka memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia, telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, nilai-nilai tersebut yaitu:33 Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli lingkungan.

Progresif

Progresif adalah kata yang berasal dari bahasa asing (Inggris) yang asal katanya adalah progress yang artinya maju.34 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata progresif diartikan sebagai kearah kemajuan, berhaluan kearah perbaikan sekarang, dan bertingkat-tingkat naik. Dengan demikian secara singkat progresif dapat dimaknai sebagai suatu gerakan perubahan menuju perbaikan.35

Kata progresif juga sering disematkan dalam berbagai istilah. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Dalam bidang hukum, ada istilah hukum progresif, yaitu mengubah dengan cepat dan melakukan pembalikan yang berdasar pada teori dan juga praktis hukum.

Hukum yang diperkenalkan pertama kali oleh Satjipto Rahardjo itu juga berfungsi

32 Hariyanto, Konsep dan Model, 50.

33 Kemendiknas, Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter (Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendiknas, 2011), 3.

34 M. Fadhillah, “Aliran Progresivisme Dalam Pendidikan di Indonesia”, Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran, 1, Januari, 2017, 18.

35 Anwar, Kamus Lengkap, 264.

(14)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 141

melakukan terobosan. Sederhana, hukum progresif adalah serangkaian tindakan radikal yang dapat mengubah sistem hukum.

2. Dalam bidang politik, terdapat partai progresif, yaitu partai yang merasa tidak puas dengan keadaan sekarang lalu ingin mengubahnya, tetapi dengan cara berangsur- angsur (evolusi).

3. Dalam bidang perpajakan, ada istilah pajak progresif, yaitu tarif pemungutan pajak dengan persentase yang naik dengan semakin besarnya jumlah yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak, dan kenaikan persentase untuk setiap jumlah tertentu setiap kali naik.

4. Dalam bidang pendidikan, sering disebut dengan istilah pendidikan progresif.

Pendidikan progresif merupakan pendidikan yang memberikan kebebasan pada peserta didik dalam belajar. Hal ini dikarenakan anak-anak diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuan sendiri dengan melakukan, menemukan, dan menyimpulkan suatu pengetahuan dengan bimbingan guru.36

Dari berbagai definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa progresif merupakan kegiatan perpindahan yang memiliki makna positif dari berbagai segi kehidupan baik sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan.

Santri Progresif

Santri progresif adalah santri yang mempunyai keseimbangan dalam berfikir, logis dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang matang dalam melakukan suatu pekerjaan. Untuk bisa menjadi santri yang progresif, seseorang harus memahami fiqih prioritas, berikut ciri-ciri santri yang progresif :

1. Memperhatikan dengan seksama amal dan aktifitas hati sebelum memperhatikan amalan badan

2. Memprioritaskan mempelajari ilmu-ilmu dasar sebelum mempelajari ilmu yang lebih tinggi

3. Memprioritaskan sesuatu yang fardhu dan wajib dari sesuatu yang sunnah

4. Memprioritaskan meninggalkan larangan-larangan Allah dari mengerjakan perintah-perintah-Nya

36 Levardy, “Makna Kata Progresif Dalam Berbagai Bidang”, ANY.WEB.ID, Desember, 2015, 1-2.

(15)

142 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

5. Memprioritaskan amalan yang manfaatnya berdampak luas daripada amalan yang manfaatnya hanya kembali kepada diri sendiri

6. Cerdas dalam memilih amalan yang ringan namun besar pahalanya dari sisi Allah swt

7. Mendahulukan amalan-amalan dengan dasar yang kuat dengan bersandar kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.37

Pondok Pesantren

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua dan berakar cukup kuat di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, pesantren mempunyai keunikan tersebdiri yang berbeda dari lembaga pendidikan lain di tanah air. Salah satunya ialah sistem nilai yang dikembangkan sejak berpuluh-puluh tahun lamanya dan tetap eksis hingga sekarang.38

Istilah pondok berasal dari bahasa arab funduq yang berarti hotel, penginapan.

Istilah pondok juga diartikan dengan asrama. Dengan demikian pondok mengandung makna sebagai tempat tinggal. Perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan ahiran an yang berarti tempat tingal santri. Definisi lain menjelaskan pesantren asal katanya adalah santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul agama Islam.

Pesantren atau pondok adalah lembaga yang dikatakan merupakan wujud proses wajar perkembangan sistem pendidikan dan selanjutnya, ia dapat merupakan bapak dari pendidikan Islam.39

Pesantren kemudian lebih dikenal dengan sebutan yang lebih lengkap, yaitu

“pondok pesantren”. Pesantren disebut dengan pondok karena sebelum tahun 1960 pusat-pusat pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama

37 Aria Muhammad Ali, Menjadi Santri Progresif Urgensi Fiqih Prioritas, Surau Progresif, Juni 2015.

38 Abu Yasid, dkk, Paradigma Baru Pesantren (Yogyakarta: IrciSoD, 2018), 13.

39 Abuddin Natta, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: PT Granmedia, 2001), 89.

(16)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 143

pondok,40 dimana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.

Arifin menyatakan bahwa, penggunaan gabungan kedua istilah secara integral yakni pondok dan pesantren menjadi pondok pesantren lebih mengakomodasi karakter keduanya. Menurutnya, pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (komplek) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari leadership para ustadz dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independen dalam segala hal.41 Adapun menurut Mastuhu, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari

Sesuai dengan wataknya, pesantren memiliki ciri khas tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dalam konteks pesantren, tradisi adalah segala hal yang berkembang dan terwariskan secara terus menerus dalam kehidupan pesantren, sehingga pesantren dipandang sebagai sebuah subkultur yang mengembangkan pola tradisi yang unik pada masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pondok pesantren adalah tempat tinggal santri dengan sistem asrama, untuk mendapat pelajaran dari pemimpin pesantren (kiai) dan oleh para ustad/ustadzah. Pelajaran mencangkup berbagai bidang tentang pengetahuan Islam dan sebagai tempat training atau latihan bagi para santri agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.

Selanjutnya pondok pesantren yang modern atau sering disebut dengan pondok pesantren khalaf adalah pondok pesantren yang dalam hal pendidikannya sudah mengkolabirasikan antara pendidikan yang salaf dan pendidikan yang modern, seperti sudah diadakannya penjenjangan pendidikan dan kurikulum.42 Lebih lanjut

40 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai Edisi Revisi (Jakarta:

LP3ES, 2015), 18.

41 M.Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara,2007), 240.

42 Umiarso, Pesantren, 68.

(17)

144 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

pada pondok pesantren modern ini biasanya membuka pendidikan formal seperti Taman Kanak-Kanak (TK) sampai pada Perguruan Tinggi (PT).43

Pesantren khalaf (modern) memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. Gaya kepemimpinan pesantren cenderung kooperatif

2. Orientasi program kependidikannya berupa pendidikan agama dan pendidikan umum

3. Materi pendidikan agama bersumber dari kitab-kitab klasik dan nonklasik 4. Metode pembelajaran yang digunakan sudah modern dan inovatif

5. Pola hidup santri cenderung individualistik dan kompetitif.44

Pendapat lain mencirikan pesantren khalaf (modern) dengan pertama ciri kurikulumnya terdiri atas pelajaran agama dan pelajaran umum, kedua dilingkungan pesantren dikembangkan tipe sekolah umum, ketiga adakalanya di dalam pesantren tidak diajarkan kitab kuning.

Tujuan Pendidikan Pondok Pesantren

Sebagaimana kita ketahui bahwa pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh perseorangan (Kyai) sebagai figur sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan pondoknya adalah mempunyai tujuan tidak tertulis yang berbeda-beda. Tujuan tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut:

“Menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berahlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dengan jalan menjadi kaula atau abdi masyarakat, sebagai rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaiman kepribadian Nabi Muhammad (mengikuti sunah nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam keperibadian, menyebarkan agama atau menegakan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonisia”.45

Berdasarkan uraian diatas, dapat digambarkan bahwa tujuan pondok pesantren adalah pembinaan akhlak dan kepribadian serta semangat pengabdian menjadi target utama yang ingin dicapai pesantren. Karena itu pemimpin pesantren memandang bahwa kunci sukses dalam hidup bersama adalah moral agama.

43 Sufyan, Sarung dan Demokrasi Dari NU Untuk Peradaban Ke-Indonesia-an (Surabaya: Khalista, 2008), 151.

44 Yasid, Paradigma Baru, 74.

45 Natta, Sejarah Pertumbuhan, 116.

(18)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 145

Elemen-Elemen Pondok Pesantren

Pondok pesantren seperti yang telah dikemukakan merupakan budaya yang didalamnya terdapat unsur-unsur penting, yaitu:

1. Kiai

Kiai merupakan unsur yang paling esensial yang harus ada di dalam pondok pesantren. Kiai dalam kata lain biasanya disebut juga dengan ulama. Imam Al- Ghazali merupakan dokter spiritual. Kalau dokter medis bertugas mengobati penyakit-penyakit fisik, maka ulama bertugas mengobati penyakit-penyakit rohani.46 Dalam pengertian ini kiai diibaratkan sebagai suatu sosok manusia yang istimewa dimana tugasnya yang relatif kasat mata. Seorang kiai yang benar-benar kiai dalam hal ini berarti orang yang mampu membimbing umat, yang mampu mengobati penyakit masyarakat, serta menawarkan obat bagi masyarakat.

Menurut asal usulnya, perkataan kiai dipakai untuk ketiga jenis gelar yang saling berbeda :

a. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat;

umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebuatan Kereta Emas yang ada di Keraton Yogyakarta

b. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya

c. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kiai, ia juga sering disebut sebagai seorang alim (orang yang dalam ilmu pengetahuan Islam).47

Dilihat dari corak keilmuannya kiai terbagi atas beberapa jenis, diantaranya adalah kiai ahli fikih, ilmu alat, serta tasawuf. Umumnya kelompok pertama dan kedua beliau aktif dalam bidang pengajaran sedangkan kiai yang ketiga lebih cenderung mendekatkan diri pada Allah dibandingkan dengan ajar-mengajar.48 Istilah kyai bukan berasal dari bahasa Arab, perkataan Kiyai yaitu gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada orang ahli agama Islam yang memiliki atau

46 Ahmad Hamid, Percik-percik Keteladanan Kiai Hamid Pasuruan (Malang: Citra Mentari Group, 2003), 20.

47 Dhofier, Tradisi Pesantren, 93.

48 Ahmad, Percik-Percik, 22.

(19)

146 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.

Pengertian kiai lebih lanjut adalah suatu gelar kehormatan yang diberikan oleh masyarakat jawa kepada ahli ilmu agama Islam yang menjadi pimpinan mereka dalam bidang spiritual, atau dalam pengertian yang lebih sempit kiai adalah orang yang mempunyai kedalaman ilmu agama Islam, mempunyai pondok pesantren, mengasuh pondok pesantren, dan mempunyai pengaruh penting dalam.

Menurut peneliti yang dimaksud dengan kiai adalah seseorang yang telah diberi penghargaan oleh masyarakat untuk menjadi dokter spiritual karena alasan ahli dalam bidang agama Islam, mempunyai pengaruh besar di dalam masyarakat, dan mempunyai pondok pesantren.

2. Asrama (pondok)

Istilah pondok diambil dari bahasa arab al-funduq yang berarti ruang tidur, hotel, penginapan. Istilah pondok diartikan juga dengan asrama, sebuah pesantren harus memiliki asrama atau tempat tinggal santri atau kiai.49

Pesantren tradisional pada umumnya memiliki asrama atau pemondokan untuk para santrinya. Pondok atau pemondokan merupakan tempat penggemblengan, pendidikan, dan pembinaan serta pengajaran ilmu pengetahuan.

Alasan utama pendirian pemondokan adalah; Pertama, santri kebanyakan merupakan luar daerah dimana kiai tinggal, dan ada tuntutan untuk tinggal di pesantren dengan waktu yang cukup lama. Kedua, kebanyakan pesantren berdiri di daerah pedesaan, sehingga tidak adanya akomodasi (perumahan) yang cukup untuk menampung santri. Ketiga, menurut kiai santri merupakan titipan Tuhan dan wajib untuk diberikan tempat dan dilindungi.50

3. Masjid

Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dari pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri terutama dalam bidang praktek sholat 5 waktu.51

49 Ari Agung Pramono, Model Kepemimpinan Kiai Pesantren Ala Gus Mus (Yogyakarat: CV Pustaka Ilmu Grup, 2017), 87.

50 Dhofier, Tradisi Pesantren, 83.

51 Dhofier, Tradisi Pesantren, 85.

(20)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 147

Masjid memiliki dwifungsi, yakni sebagai tempat ibadah dan pembelajaran.

Masjid sebagai tempat ibadah merupakan fungsi utama, sesuai dengan namanya.

Masjid dalam pesantren merupakan sesuatu yang esensial, karena disanalah tempat para santri mengaji dan berjamaah sholat.52

Peneliti melihat peran masjid di Pondok Pesantren Ulul Albab merupakan sangat sentral. Setiap kegiatan pesantren yang sifatnya umum akan diadakan di dalam masjid tersebut.

4. Santri

Santri adalah sekelompok masyarakat yang masih belajar tentang agama kepada kiai atau ulama dilingkungan pondok pesantren. Santri dalam pondok pesantren berdasarkan domisilinya dibagi menjadi dua yaitu santri muqim dan santri kalong. Arti santri muqim adalah santri yang setiap harinya berada di dalam pondok pesantren serta mengikuti segala kegiatan yang ada di pondok pesantren tersebut. Sedangkan santri kalong sebagaimana asal namanya “kalong-kelelawar”

adalah hewan yang biasa keluar pada malam hari, sedangkan siangnya pulang kerumah masing-masing. Santri kalong yang dimaksud dalam bagian adalah santri yang mengikuti pelajaran pondok pesantren hanya di malam hari, dan di siang hari mereka akan pulang kerumah masing-masing dan mengikuti pendidikan seperti biasa.53

Seorang santri pergi dan menetap di suatu pesantren karena berbagai alasan:

a. Ia ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam di bawah bimbingan kiai yang memimpin pesantren

b. Ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren, baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren-pesantren terkenal

c. Ia ingin memutuskan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari-hari dirumah keluarganya.54

52 Yasid, Paradigma Baru, 198.

53 Pramono, Model Kepemimpinan, 86.

54 Dhofier, Tradisi Pesantren, 90.

(21)

148 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

Menurut peneliti santri merupakan murid dalam sekolah yang salah satu haknya adalah mendapatkan pejaran dari guru ataupun kiai. Dalam pondok pesantren Ulul Albab juga terdapat santri kalong dan santri muqim, akan tetapi mayoritas santri merupakan santri muqim atau bertempat tinggal di pondok pesantren.

5. Kitab Kuning

Kitab kuning dalam pondok pesantren tradisional merupakan bahan ajar yang mendapat tempat yang istimewa, dan menjadi pembeda antara pendidikan lain. Kitab klasik atau yang sering disebut dengan kitab kuning ciri khas pesantren ini umumnya berbahasa arab dan tanpa adanya kharakat atau lebih sering disebut dengan kitab gundul. Adapun kitab-kitab klasik yang ada di pondok pesantren dapat digolongkan menjadi delapan kelompok yaitu; 1) Nahwu dan Saraf, 2) Fiqh, 3) Ushul fiqh, 4) Hadist, 5) Tafsir, 6) Tahuhid, 7) Tasawuf dan etika, 8) Tarikh dan balaghah.55

Letak Geografis Pondok Pesantern Ulul Albab

Letak geografis pesantren Ulul Albab berada di daerah pedesaan, yaitu terletak di Jl. Panggung Lombok No. 113 Candipuro 67373, Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur. Desa Candipuro merupakan salah satu desa dibagian selatan Lumajang. Sebelah barat pesantren, terdapat sawah-sawah warga, sebelah selatan pesantren padat dengan rumah-rumah masyarakat, dan sebelah utara pesantren pasar candipuro.

Pondok Pesantren Ulul Albab merupakan Lembaga Pendidikan Islam berbasis Salafiyah yang didirikan oleh Alm. KH. Abdul Aziz Marwi Hasba pada tahun 1989. Beliau mendirikan pesantren karena ingin mengembangkan semangat dakwah dengan jalan tafaqquh fiddin, memperdalam ilmu agama. Beliau terlahir dari keluarga pesantren di Jember pada 14 Mei 1952. Ketika baru berdiri, jumlah santri dan santriwatinya mencapai sekitar 600 orang. Lambat laun perkembangan Pondok Pesantren Ulul Albab semakin meningkat sehingga didirikan pendidikan formal SMP Ulul Albab dan SMA Ulul Albab pada tahun 2007. Maka lengkaplah pendidikan Pondok Pesantren Ulul Albab, sehingga dapat menciptakan santri yang

55 Dhofier, Tradisi Pesantren, 87.

(22)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 149

berkompetensi, mempunyai kecerdasan ganda (Multiple Intellegence) serta santri yang berakhlaqul karimah.

Setiap pesantren memiliki struktur organisasi sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan kebutuhan masing-masing pesantren.

Meskipun demikian, ada kesamaan-kesamaan yang menjadi ciri-ciri umum struktur pesantren, dan tampak ada adanya kecenderungan perubahan yang sama di dalam menata masa depannya. Sebagaimana layaknya sebuah lembaga pendidikan, maka Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang memiliki struktur organisasi untuk pembagian tugas dan demi kelancaran kegiatan pondok pesantren yang telah diprogamkan, dan juga untuk menyiapkan rencana-rencana secara matang sehingga hasil yang diinginkan sesuai dengan yang telah direncanakan.

Manajemen Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Menuju Santri Progresif

1. Perencanaan Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang

Gus Fahrur Rozi salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab dan M. Hasyim menyampaikan waktu perencanaan dilakukan sebelum tahun ajaran baru dalam agenda rapat tahunan. Selain itu pembahasan mengenai perencanaan juga dilaksanakan pada saat rapat bulanan sekali dalam setiap bulan. Kegiatan tersebut sekaligus untuk koordinasi dan evaluasi rutin. Kondisi ini jika disandingkan dengan dengan teori strategi pengelolaan nilai-nilai pendidikan karakter sesuai dengan fungsi manajemen pendidikan karakter. Secara teori disebutkan bahwa sebelum melangkah pada fungsi yang lain, hal yang pertama dilakukan adalah fungsi perencanaan.56

Berdasarkan Pernyataan Fahrur Rozi dan M. Hasyim dalam data yang telah peneliti sajikan, dapat diketahui bahwa dalam hal perencanaan, Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang mengadakan rapat tahunan dan rapat bulanan yang dihadiri semua pengurus dari berbagai seksi dengan tujuan untuk mengetahui proyeksi, potensi yang dimiliki dalam melaksanakan pendidikan karakter, sasaran,

56 Agus Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 142.

(23)

150 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

target waktu pencapaian, pihak yang melaksanakan, serta evaluasi atas program yang sudah dilakukan bulan sebelumnya.

Dari hasil riset didapati bahwa manajemen perencanaan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dalam upaya menerapkan pendidikan karakter, dilakukan dengan perencanaan yang terus disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta analisis masa datang.

2. Pengorganisasian Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang

Dari hasil analisis didapati bahwa kekuatan Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dari segi pengorganisasian muncul dari kualitas personil, sistem serta manajemen yang amanah dan profesional dengan kriteria dan dimensi yang dibutuhkan sesuai dengan kompetensinya.

Agus Wibowo menyebut bahwa kegiatan pengorganisasian diantaranya dengan adanya pembagian kerja (job description), pembagian aktifitas menurut level dan kekuasaan dan tanggung jawab, pembagian dan pengelompokan tugas menurut mekanisme koordinasi kegiatan individu dan kelompok lain dan pengaturan hubungan kerja antar anggota organisasi.57

Atas realita lapangan dan data teori didapati mekanisme seleksi dan pembagian aktifitas harus diperketat, bahkan bila diperlukan, tes pun memungkinkan. Kelemahan dalam pembagian tugas ini adalah dalam pengisian daftar personil yang seolah-olah hanya sekedar formalitas dan mengisi job yang kosong.

Berdasarkan wawancara dan observasi di lapangan setelah diadakan proses dan langkah-langkah pengorganisasian terpampang jelas bahwa Pondok-Pesantren Ulul Albab mempunyai struktur organisasi dan telah berhasil mengelompokan orang-orang ke dalam satuan kerja. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa mengorganisasikan adalah suatu proses menghubungkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi tertentu dan menyatu padukan tugas serta fungsinya dalam organisasi.

57 Wibowo, Manajemen Pendidikan Karakter, 149

(24)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 151

Penempatan orang-orang yang yang berkompeten di bidangnya akan membantu mengefektifkan program pembiayaan yang pantas dijalankan dan memberikan manfaat yang optimal bagi siswa sebagai subjek pendidikan.

Selain itu, yang membedakan manajemen pengorganisasian Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dengan lembaga pendidikan lainnya adalah adanya reformasi dalam pemilihan ketua umum yang dilakukan secara terbuka seperti pemilihan umum yang dilaksanakan oleh Negara, di mana sebagian santri sebagai perwakilan diikutsertakan dalam pemilihan ini. Setelah ketua umum yang baru sudah dipilih oleh santri, lalu ketua umum dan pengurus periode yang lama memilih seksi-seksi yang akan membantu peran ketua umum yang baru dalam melaksanakan manajemen pendidikan karakter berbasis pesantren.

Oleh karena itu dalam hal pengorganisasian, Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro melaksanakan fungsi ini dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari adanya susunan struktur organisasi yang terarah, susunan staf, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dan terstruktur yang terdiri dari Penasehat, Pengasuh, Dewan Pengurus, Pimpinan Staf Seksi dan seluruh anggotanya.

Didukung dengan pengamatan penulis melalui observasi partisipan, jika dilihat dari fungsi manajemen pengorganisasian yang dijalankan dan diterapkan di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dalam melaksanakan pendidikan karakter, maka bisa disimpulkan bahwa fungsi tersebut sudah sesuai dengan teori manajemen pendidikan karakter dan peraturan yang berlaku dalam manajemen pengorganisasian pendidikan karakter dimana pondok pesantren harus memiliki sistem, prosedur dan mekanisme kerja dalam pelaksanaan pendidikan karakter.

3. Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang

Berdasarkan data lapangan, bahwasanya pelaksanaan pendidikan karakter pada Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro telah memuat nilai-nilai yang mencerminkan pendidikan karakter, yaitu dengan cara mengimplementasikan semua aktifitas kehidupan santri secara menyeluruh (holistik) selama 24 jam melalui kegiatan-kegiatan harian santri. Pembentukan karakter yang dilaksanakan pada Pondok Pesantren Ulul Albab adalah melalui pelatihan dan pembiasaan

(25)

152 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

melakukan kegiatan yang memang sudah menjadi tradisi turun menurun sehingga menjadi ciri khas tersendiri pada Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro. Tradisi tersebut adalah tradisi pengajian yang dikenal dengan sistem bandongan, sorogan, wirid, tahlil, Tahfidzul qur’an, pembacaan asmaul husna. Dapat dianalisis bahwa pelatihan dan pembiasaan melakukan kegiatan tersebut merupakan cara yang dipakai dalam menanamkan karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang. Santri dilatih dan dibiasakan untuk selalu berbuat baik dalam segala hal, baik masalah yang berhubungan dengan sang kholiq ataupun masalah yang berhubungan dengan sesama manusia. Ahmad Ihwanul Muttaqin dalam jurnalnya juga menyebutkan bahwa pelatihan dan pembiasaan sejatinya juga dapat dilakukan dengan cara internalisasi terus menerus.58

Berdasarkan wawancara dengan Fahrur Rozi selaku ketua umum dan pengasuh Pondok Pesantren Ulul Albab yang mengatakan bahwa pembiasaan kegiatan-kegiatan yang ada di pondok pesantren Ulul Albab diharapkan santri dapat mengenali diri mereka sendiri akan lebih mengena, jadi secara otomatis dengan kesadaran terhadap mereka sendiri apa yang akan mereka dapatkan itu akan membekas pada diri mereka. Pernyataan tersebut, jelas bahwa santri yang belajar di Pondok Pesantren Ulul Albab memang di desain untuk terbiasa melakukan hal-hal yang di anggap baik dan mengenalkan pada hakikat diciptakanya manusia.

Pelatihan dan pembiasaan santri untuk dapat menyikapi sesuatu di dalam Pondok Pesantren Ulul Albab memang ada, tampak dengan jelas dalam perkataan Fahrur Rozi tersebut bahwa kejujuran sangat diperhatikan, pelatihan dan penanaman kejujuran tersebut terbentuk dalam kesanggupan santri untuk mengikuti semua peraturan yang ada. Peraturan yang mengatur kehidupan keseharian santri tidak lain bertujuan untuk melatih dan membiasakan santri melakukan hal-hal yang baik yang nantinya akan melahirkan generasi muslim yang mempunyai bibit unggul yang baik.

Berdasarkan observasi dalam pelaksanaan metode dalam mengembangkan karakter santri, Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro tidak terlepas dari

58 Ahmad Ihwanul Muttaqin, “Dinamika Islam Moderat”, Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 12, No. 1, Februari 2019, 36.

(26)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 153

hambatan-hambatan yang ada. Faktor penghambat yang ditemui peneliti antara lain sebagai berikut: Pertama, tidak seluruh santri mempunyai bekal atau dasar pendidikan karakter yang baik sebelum menjadi santri di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro. Dalam masalah ini pengurus atau ustadz harus berperan lebih aktif dan sabar untuk membentuk karakter masing-masing santri untuk lebih baik.

Kedua, para pengurus atau ustadz tidak seluruhnya mempunyai pendidikan karakter dan belum secara pendidik mendapat pendidikan karakter. Terkadang ustadz hanya mempunyai keahlian dalam pendidikan agama. Oleh sebab itu pengurus atau ustadz juga harus belajar masalah karakter, sehingga akan lebih mudah mengenali karakter santri dan memberikan wejangan atau nasehat yang tepat.

Ketiga, dukungan orang tua yang belum sepenuhnya cepat tanggap. Seharusnya orang tua akan lebih paham mengenai karakter anaknya dibandingkan para pengurus atau ustadz, sehingga diharapkan orang tua memberikan dukungan yang tepat terhadap Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dalam rangka mendidik anaknya agar lebih baik lagi dalam memperoleh ilmu maupun karakter yang mulia.

Menurut peneliti hendaknya harus ada upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro dalam mengatasi hambatan dalam melaksanakan pendidikan karakter, antara lain: Pertama, setiap penerimaan santri baru selalu mengadakan kegiatan masa ta’aruf santri baru serta seluruh kegiatan dan peraturan yang ada di Pondok Pesantren Ulul Albab untuk meningkatkan disiplin santri. Kegiatan tersebut akan memudahkan santri dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan yang baru. Kedua, setiap dua minggu sekali ada koordinasi dan evaluasi progam untuk pengurus pendamping kamar. Koordinasi dan evaluasi sangat perlu dilakukan untuk menilai dan meneliti pelaksanaan semua program, sehingga diharapkan pembentukan karakter santri yang dekendalikan oleh pengurus pendamping secara langsung menjadi lebih baik. Ketiga, setiap dua bulan sekali pengururs mengadakan pertemuan dengan wali santri untuk mensosialisasikan tentang karakter-karakter putra-putrinya, sehingga dengan hal ini orang tua bisa bisa mengetahui karakter dan bakat dari putra-putrinya.

4. Evaluasi Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro Lumajang

(27)

154 | Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247

Wawancara dengan pengasuh Pondok Pesantren dapat disimpulkan bahwa waktu evaluasi diadakan dalam 2 tahap. Pertama, Evaluasi bulanan yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Kedua, Evaluasi tahunan, yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ulul Albab dalam setahun sekali. Hasil dari evaluasi selanjutnya akan digunakan sebagai umpan balik (feed back) untuk perbaikan pada pelaksanaan selanjutnya, serta menjadi masukan untuk mengantisipasi penyimpangan pada implementasi program pendidikan karakter yang akan dilaksanakan pada tahap berikutnya.

Waktu pengevaluasian di Pondok Pesantren Ulul Albab cocok sesuai teori, karena menurut peneliti yang dimaksud evaluasi dalam pertengahan adalah ketika program telah berjalan maka perlu dievaluasi tanpa harus menunggu separuh tahun pelajaran maupun menunggu akhir tahun. Menurut peneliti evaluasi merupakan bagian bagaimana cara melihat keberhasilan program yang dijalankan.

Evaluasi yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Ulul Albab termasuk kategori cukup bahkan sering, sehingga Pondok Pesantren Ulul Albab bisa segera mengambil alih feed back atau tindak lanjut.

Berdasarkan data lapangan manajemen pendidikan karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab aspek pertama yang dievaluasi adalah perkembangan peserta didik, dalam hal ini adalah santri. Selanjutnya adalah kinerja pengurus, Kondisi tenaga pendidik dan sarana prasarana. Dalam hal memantau kondisi karakter peserta didik seluruh pengurus seksi ikut memperhatikan perkembangan karakter yang ada pada santri. Hal ini sesuai dengan teori tujuan monitoring dan evaluasi.

Monitoring dan evaluasi secara umum bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas program pembinaan pendidikan karakter sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.

Pendidikan Karakter Pondok Pesantren Ulul Albab

Implementasi pendidikan karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Karakter Religius

Seluruh kegiatan yang menjadi rutinitas santri, tidak lain adalah untuk menjadikan santri menjadi lebih dekat dan cinta kepada Allah SWT. Prinsip

(28)

Khazanah: Jurnal Edukasi; Volume 1, Nomor 2, September 2019 p-ISSN: 2657-2265, e-ISSN: 2685-6247 | 155

tersebut merupakan prinsip yang sama yang dirumuskan oleh Indonesia Heritage Foundation yang menjadi tujuan pendidikan karakter salah satunya yaitu cinta tuhan dan segenap ciptaan-Nya. Dengan adanya program-program yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, karakter yang kuat dan tangguh akan tumbuh pada diri santri.

2. Karakter Jujur, Disiplin dan Tanggung Jawab

Kejujuran merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia.

Kejujuran merupakan benih yang dapat menumbuhkan kepercayaan.

Perintah jujur tidak hanya tersirat dalam peraturan Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro saja, tetapi hal ini sangat sesuai sekali dengan perintah Allah yang tersirat dalam al-Qur’an surat at-Taubah: 119 :

اْيِقِداّصلا اعام اوُنْوُكاو االله اوُقَّ تا اْوُ ناماأ انْيِذَّلا ااهُّ ياأايَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah, dan jadilah kalian beserta orang-orang yang jujur”.

Berangkat dari hal tersebut, maka Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro sebagai lembaga pendidikan berusaha mengarahkan peserta didik untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar, pembentukan organisasi pengurus juga merupakan pembelajaran bagi pengurus untuk memikul amanah dan bertanggung jawab atas kewajibannya menjalankan kewajibannya sebagai pengurus. Dengan berorganisasi, dituntut untuk belajar bertanggung jawab secara praktis (learning by doing). Salah satu pembelajaran tanggung jawab tersebut seperti adanya Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), terkait dengan kinerja masing-masing dari tiap-tiap Seksi.

Melalui kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Ulul Albab maka santri akan terbentuk suatu sifat yang tegar, bertanggung jawab dan dapat dipercaya, sehingga akan tumbuh dari pribadi santri suatu karakter yang kuat, jujur, disiplin dan bertanggung jawab.

3. Karakter Empati dan Toleransi

Karakter empati dan toleransi dapat tercipta melalui tradisi kehidupan pesantren. Kepedulian memang tercantumkan dalam tujuan pendidikan karakter di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro.

Referensi

Dokumen terkait

Akar penyebab dari masalah TBS over-ripe grade dan waktu persiapan proses (pre-time) ini perlu dianalisis, mengingat potensi kerugian yang ditimbulkan cukup besar, di mana terjadi

Karisna yang berjuang bareng dari awal nulis skripsi sampe akhirnya dinyatakan lulus bareng yang meski beda dosbing tapi tetap always bersama kalau masalah skripsi, yang selalu

Filosofi ini diperkuat dengan keberadaan dua klenteng lain yaitu Klenteng Boen San Bio (dibangun Tahun 1689) di kawasan Pasar Baru yang melambangkan gunung dan Klenteng Boen Hay

lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kalender sesudah berakhirnya masa berlaku Jaminan ini.. BAB IV ; SYARAT-SYARAT UMUM KONTRAK IV. DEFINISI 1.1 Dalam Syarat-Syarat Umum

BAB IV : ANALISIS TERHADAP STATUS HUKUM KEWENANGAN PENGELOLA NAMA DOMAIN INDONESIA (PANDI) SEBAGAI PERWAKILAN INTERNET CORPORATION OF ASSIGNED NAMES AND

Penyaring (filter), yaitu untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budi pekerti luhur. Ada 3 pendekatan

No Nama Rumah Sakit Provinsi Kota Alamat Rumah Sakit No Telepon Fasilitas PPH, PPH Plus, PSS (Black Card).. HS,

ABSTRAK' Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Lokasi, Harga dan Label Halal Terhadap Keputusan Pembelian Produk Wardah Malang. Jenis penelitian ini adalah