6 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Hakikat Pembelajaran PJOK 1. Kendala Pembelajaran
Pengertian Kendala Pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 667) mendefinisikan pengertian kendala adalah halangan rintangan dengan keadaan yang membatasi, menghalangi atau mencegah pencapaian sasaran. Dalam hal ini kendala yang akan dikaji adalah kendala yang terjadi dalam pembelajaran.
Kendala dalam pembelajaran adalah beberapa hambatan yang menghambat jalannya pembelajaran yang dilihat dari faktor manusiawi (guru), faktor intitusional (ruang kelas), dan intruksional (kurangnya alat peraga) (Hamalik, 2011: 16). Menurut Rohani (2004: 157) menjelaskan bahwa kendala dalam pembelajaran adalah beberapa faktor yang menghambat pembelajaran baik dari faktor guru, peserta didik, keluarga, dan fasilitas.
Pembelajaran menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat dari perlakuan guru Sanjaya (2008: 81). Hamalik (2011: 57) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusiawi (guru, dan tenaga lainnya), material (meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape), fasiltas dan perlengkapan (ruang kelas, perlengkapan, audiovisual, komputer), Prosedur (jadwal dan penyampaian informasi praktik, belajar, ujian). Dimyati dan Mudjiono (2002: 157), menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru dalam belajar bagaimana memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kendala dalam pembelajaran adalah keadaan yang membatasi, menghalangi, atau 9 mencegah tercapainya sasaran dalam pembelajaran baik yang bersumber dari manusiawi, material, fasilitas perlengkapan dan prosedur yang menghalangi guru dalam memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap dalam pelaksanaan pembelajaran
7
2. Pembelajaran
a) Pengertian Pembelajaran
Berbicara mengenai pembelajaran adalah bicara tentang sesuatu yang tidak pernah berakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi sampai akhir jaman nanti. Menurut Hamalik (2011: 57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Mulyasa (2010: 24) pembelajaran adalah proses interaksi antar siswa dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan prilaku ke arah yang lebih baik.
Menurut Pambudi (2014: 50) suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila dalam diri sebagian besar hingga seluruh peserta didik mengalami perubahan perilaku yang positif. Sagala (2010: 61) mengatakan bahwa pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari guru membuat siswa belajar, yaitu terjadinya tingkah laku pada siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didepaannya kemampuan baru dan karena ada adanya usaha.
b) Unsur-unsur Pembelajaran
Menurut Suryosubroto (2002: 19) “proses belajar mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam suasana edukatif”. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal, yang di dalamya terjadi interaksi dari berbagai komponen (unsur pengajaran) yang disebut dengan interaksi edukatif.
Jadi pada dasarnya dalam proses pembelajaran terdapat beberapa unsur yang harus dilaksanakan oleh guru yaitu Perencanaan, Kegiatan Pelaksanaan
8
Pembelajaran, dan Evaluasi atau Penilaian Pembelajaran. Unsur - unsur tersebut dapat dijelaskan secara terperinci sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan merupakan beberapa komponen yang harus disiapkan guru sebelum pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Menurut Hamzah (2006: 2) perencanaaan adalah cara untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik yang dilaksanakan dengan beberapa langkah yang harus dususun agar kegiatan dapat berjalan. Mulyasa (2010: 25) menjelsakan bahwa perencanaan pembelajaran terdiri dari penyusunan silabus dan pengembangan RPP.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran merupakan cara untuk menjalankan suatu kegiatan sebelum pembelajaran dilaksanakan yang terdiri dari penyusunan silabus dan pengembangan RPP. Unsur-unsur tersebut dapat diperinci sebagai berikut:
(a) Silabus merupakan perangkat pembelajaran yang harus disusun oleh guru sebelum membuat RPP. Menurut Mulyasa (2010: 132- 133) silabus merupakan rencana pembelajaran yang mencakup identitas sekolah, standar kompetensi, komptensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapain kompetensi, penilain, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan berdasarkan standar nasional pendidikan. Pengembangan silabus ini dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Mengisi kolom identitas yang berisi tentang nama sekolah, mata pelajaran, kelas semester, dam alokasi waktu.
(2) Mengkaji dan menganalisis Standar Kompetensi berdasarkan hirarki konsep displin ilmu dalam tingkat kesulitan bahan, keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran, dan keterkaitan standar kompetensi dengan kompetensi dasar antar mata pealajaran.
(3) Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar dengan konsep
9
tingkat kesulitan materi, keterkaitan antara kompetensi dasar dalam mata pelajaran dan dengan standar kompetensi
(4) Materi pokok yang dikembangkan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: pertama tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik, kedua kebermanfaatan bagi peserta didik, ketiga struktur keilmuan, keempat kedalaman dan keluasan materi, kelima relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan,dan yang terakhir adalah alokasi waktu.
(5) Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan oleh guru dalam proses pembentukan komptensi dengan rumusan pengalaman belajar mencerminkan menejemen pengalaman belajar guru
(6) Indikator pencapaian kompetensi merupakan tanda-tanda, perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. Indikator ini dikembangkan sesuai dengan karakteristik pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik yang dirumuskan dalam kata kerja operasional yang dapat diukur dan dapat diobservasi sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun alat penilaian.
(7) Penilaian dilaksanakan berdasarkan indikator dengan menggunakan tes maupun non tes dengan memperhatikan hal- hal sebagai berikut pertama penilain dilakukan untuk mengukur pencapain kompetensi, kedua menggunakan acuan kriteria, ketiga menggunakan sistem penilaian berkelanjutan, keempat hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut, yang terakhir adalah kesusaian dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran.
(8) Alokasi waktu merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh rata-rata peserta didik untuk menguasai kompetensi dasar. Pengalokasian waktu ini harus memperhatikan jumlah
10
minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan dan tingkat kepentingannya.
(9) Sumber belajar merupakan rujukan, objek, dan bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang dapat berupa media cetak dan media elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial dan budaya. Sumber belajar dipilih dan ditetapkan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, indikator kompetensi, materi pokok, dan kegiatan pembelajaran.
(b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah tahapan selanjutnya yang harus dikembangkan oleh guru setelah menyusun silabus. RPP merupakan sauatu perkiraan atau proyeksi guru mengenai seluruh kegiatan yang dilakukan oleh guru mauapun peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembelajaran (Mulyasa, 2010: 155).
Menurut Majid (2008: 103) bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan pemikiran-pemikaran sistematis untuk memproyeksikan atau memperkirakan menganai apa yang akan dilakukan dalam waktu melaksanakan pengajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa RPP adalah perkiraan kegiatan pembelajaran yang dibuat oleh guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar untuk mencapi tujuan pembelajaran.
Mulyasa (2010: 164-165) menjelaskan beberapa komponen RPP sebagai berikut:
(1) Identitas mata pelajaran (mata pelajaran, satuan pendidikan, kelas atau semester, peretemuan ke, alokasi waktu) yang diisi sesauai yang tertera dalam silabus.
(2) Kompetensi Dasar dan indikator yang ditulis lengkap sesuai
11
dengan silabus.
(3) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan lengkap yang mengacu pada indikator.
(4) Materi standar dituliskan dengan secara garis besar atau pokok- pokok yang langsung berkiaitan dengan indikator dan tujuan pembelajaran.
(5) Metode pembelajaran merupakan cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran, dapat diisi misalnya dengan ceramah, tanya jawab, karyawisata,dan cara- cara lainnya,
(6) Kegiatan pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal(pembukaan), kegiatan inti (pembentukan kompetensi), kegiatan akhir (penutup). Ketiga unsur tersebut ditulis kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan dari awal hingga akhir untuk mencapai tujuan dan membentuk kompetensi).
(7) Sumber belajar diisi dengan menuliskan sumber belajar yang akan digunakan termasuk alat, media, dan bahan pembelajaran atau buku sumber.
(8) Penilian yang terdiri dari beberapa sistem penilaian yaitu tes
tulis, kinerja (perfomansi),produk,
penugasan/proyek,portofilio. Dari beberapa macam penilaian tersebut dituis dengan memilih jenis penilian yang paling sesuai.
2) Kegiatan Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implemenatasi dari RPP yang meliputi kegiatan kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup (Majid, 2008: 104-105). Menurut Mulyasa (2010: 181) adalah cara untuk menyampaiakan isi dari SK dan KD agar dapat dicerna oleh guru seperti yang telah dijabarkan dalam RPP yang secara umum terdiri dari tiga kegiatan yaitu pembukaan, pembentukan kompetensi, dan penutup.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pelaksaanaan pembelajaran
12
merupakan cara untuk menyampaikan materi pada guru dengan mencakup tiga kegiatan yaitu pembukaan, pembentukan kompetensi, dan penutup. Kegiatan tersebut dapat diperinci sebagai berikut:
(a) Kegiatan awal merupakan cara awal untuk memotivasi siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahu apa yang siswa telah kuasai berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari dengan melaksanakan apresepsi. Mulyasa (2010: 181) menjelaskan bahwa dalam kegiatan awal pembelajaran meliputi kegiatan sebagi berikut:
(1) Menghubungkan kompetensi yang telah dimiliki oleh peserta didik dengan materi yang akan disajikan.
(2) Menyampaikan tujuan yang akan dicapai dan garis besar materi yang akan disajikan.
(3) Menyampaikan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan tugas-tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
(4) Menggunakan media dan sumber belajar yang bervariasi sesuai dengan materi yang disajikan.
(5) Mengajukan pertanyaaan, untuk mengetahui pemahaman guru terhadap peserta didik pembelajaran yang telah lalu maupun untuk menjajagi kemampuan awal berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari (Pretest).
(6) Kegiatan inti pembelajaran, merupakan kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan, antara lain: penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi dengan menggunakan metode, alat, media, yang sesuai, memberikan bimbingan bagi pemahaman siswa, dan melakukan penngecekan tentang pemahaman siswa.
(7) Kegiatan Penutup, merupakan kegiatan yang memberikan
13
penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penugasan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Menurut Mulyasa (2010: 185-186) dalam kegiatan penutup terdapat beberapa langkah yang harus dilaksanakan oleh guru diantaranya menarik kesimpulan materi yang telah dipelajari, mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengukur tingkat pencapain tujuan dan keefektifan pembelajaran yang dicapai, menyampaiakan bahan pendalaman yang harus dipelajari dan memberikan pekerjaan rumah, memberikan postes baik secara lisan maupun tulisan.
3) Evaluasi atau Penilaian Pembelajaran
Menurut Hamalik (2011: 210) “evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai dan merancang suatu sistem pengajaran”. Ralp Tyler (dalam Arikunto, 2012: 3) mengatakan bahwa “Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya”. Jadi dapat disimpulkan bahwa evaluasi atau penilaian pembelajaran merupakan kegiatan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi yang terencana dengan menggunakan instrumen sebagai tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Teknik penilaian dapat menggunakan teknik penilaian tes dan non tes yang dapat dijelasakan sebagai berikut.
a) Penilaian tes merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan maupun jawaban. Penilaian tes dapat berbentuk tes objektif maupun non objektif. Menurut Majid (2013: 346-347) tes objektif terdiri dari bentuk plilihan ganda, benar salah, menjodohkan, sedangkan tes non objektif terdiri dari isian singkat dan soal uraian baik urain objektif mauapun uraian bebas.
b) Penilian non tes adalah penilaian yang diarahkan untuk mengetahui kompetensi siswa. Majid (2013: 350-353) menjelaskan bahwa
14
penilaian non tes terdiri dari penilaian kerja, penilaian sikap, penilaian proyek, penilaian produk, dan penilaian portofolio.
3. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan a) Pengertian
Pendidikan jasmani mengandung makna bahwa mata pelajaran ini menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk mencapai tujuan aktivitas pembelajaran yang direncanakan, yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani individu. Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah merupakan dasar yang baik bagi perkembangan olagraga di luar sekolah. Menurut Saryono & Rithaudin (2011: 146) pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang di rencanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif dan emosional.
Rahayu (2013: 3) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap siswa. Pendidikan jasmani didefinisikan sebagai pendidikan dan melalui gerak dan harus dilaksanakan dengan cara cara yang tepat agar memiliki makna bagi siswa. Pendidikan jasmani merupakan program pembelajaran yang memberikan perhatian yang proporsional dan memadai pada domain- domain pembelajaran, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif.
Menurut Utama (2011: 2) pendidikan jasmani merupakan bagian yang tidak biasa terpisahkan dari pendidikan pada umumnya. Pendidikan jasmani mempengaruhi peserta didik dalam hal kognitif, afektif, dan psikomotor melalui aktivitas jasmani. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan bagian dari sistem pendidikan secara menyeluruh yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu mencakup semua aspek baik organik, motorik,
15
kognitif maupun afektif.
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan sistem pendidikan yang mengutamakan aktifitas jasmani, fisik, permainan dan olahraga yang dijadikan media untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh terhadap individu (Darminto, 2017: 2). Istilah serupa juga dikemukakan oleh Andriyanto (2016: 4) bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan mengandung makna pembelajaran yang mengedepankan aktifitas jasmani sebagai media dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan dalam arti serupa juga diartikan sebagai sebuah media untuk mendorong pertumbuhan fisik, psikis, motorik, pengetahuan dan penalaran, serta pembiasaan pola hidup sehat yang seimbang Darminto (2017: 1). Istilah lain juga dikemukakan oleh Rizky,dkk (2013: 460) bahwa penjasorkes sebagai media pembinaan anak dalam menjalani hidup sehat serta upaya pembuatan keputusan terbaik khususnya pada bidang jasmaninya. Pernyataan ini lebih menekankan bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah sebagai media yang efektif dalam pembelajaran supaya tercapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Tujuan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan juga mendukung tujuan pendidikan nasional.
b) Hakikat Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar. Pendidikan melalui pembelajaran gerak disajikan sejak kelas rendah sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Pembelajaran jasmani olahraga dan kesehatan amat berbeda dengan pembelajaran pada mata pelajaran lain. Penekanan aspek fisik membuat siswa menguasai keterampilan dan pengetahuan, mengembangkan apresiasi estetis, mengembangkan keterampilan generik serta nilai dan sikap positif, dan memperbaiki kondisi fisik untuk mencapai tujuan Penjasorkes.
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan memiliki kepentingan
16
yang relatif sama dengan program pendidikan mata pelajaran lain dalam ranah pembelajaran. Ranah pembelajaran yang dikembangkan meliputi tiga ranah utama yakni psikomotor, kognitif, dan afektif (Samsudin, 2008:21). Seperti dijelaskan dibawah ini.
1) Pengembangan Aspek Psikomotor
Peserta didik memiliki tugas menguasai keterampilan gerak dalam berbagai cabang olahraga yang merupakan tanggung jawab utama guru. Banyak guru mata pelajaran penjasorkes yang memiliki pemahaman bahwa peserta didik harus menguasai cabang olahraga.
Padahal dalam mengajarkan keterampilan gerak tersebut adalah pengembangan keterampilan untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, serta membantu dirinya bertindak efisien dalam melaksanakan tugas sehari-harinya, bukan untuk mempersiapkan mereka untuk menjadi atlet yang berprestasi. Hal ini relevan dengan tujuan penjasorkes yang berhubungan dengan kebugaran jasmani yaitu individu, sebagai anggota keluarga, serta sebagai anggota masyarakat.
2) Pengembangan Aspek Kognitif
Penjasorkes secara umum identik dengan pembelajaran psikomotorik atau peningkatan keterampilan gerak. Padahal salah satu tugas penjasorkes adalah meningkatkan pengertian anak tentang tubuh dan kemungkinan geraknya, serta berbagai faktor yang memengaruhinya ditinjau dari segi konsep gerak. Ditinjau dari konsep kebugaran yakni diharapkan peserta didik mengetahui pengertian tentang pengaruh latihan atau kegiatan fisik terhadap kesehatan tubuh yang berguna bagi mereka untuk menjalani gaya hidup secara aktif.
Konsep gerak adalah istilah yang merujuk pada gagasan-gagasan kognitif yang memiliki nilai transfer. Konsep gerak dalam pendidikan jasmani dapat berupa respon gerak seperti menangkap, melempar, atau perpindahan gerak (lokomotor), yang benar-benar hanya sebuah nama dari keterampilan gerak yang bisa digunakan dalam berbagai situasi.
17
3) Pengembangan Aspek Afektif
Aspek afektif berbeda dengan psikomotor dan kognitif. Aspek ini lebih dikenal bawaan lahir maupun kebiasaan lingkungan, ketika peserta didik memiliki lingkungan yang buruk aspek ini akan berjalan buruk, namun sama halnya lingkungan yang baik maka peserta didik akan otomatis mengikutilingkungannya. Strategi afektif yang digunakan dalam penjasorkes selama ini baru terbatas pada upaya membangkitkan sikap dan minat siswa terhadap penjasorkes walaupun tanpa pegangan yang jelas.
c) Tujuan Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan memiliki tujuan yang beragam dalam dunia pendidikan. Menurut Samsudin (2008: 3) Tujuan pembelajaran jasmani olahraga dan kesehatan antara lain:
1) Membentuk landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai- nilai dalam pendidikan jasmani
2) Mencetak landasan kepribadian yang kuat, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya
3) Menggali kemampuan berfikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran penjasorkes
4) Mengembangkan sifat jujur, sportif, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
5) Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik disertai strategi pada permainan dan olahraga
6) Mengembangkan kemampuan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani disertai pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas jasmani
7) Mengembangkan kemampuan menjaga keselamatan diri dan orang lain
8) Mengetahui konsep aktifitas jasmani untuk mencapai kebugaran dan pola hidup sehat
9) Mampu mengisi waktu luang dengan memanfaatkan aktifitas jasmani yang menyenangkan
18
d) Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Menurut Samsudin (2008: 142) Ruang lingkup pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan mencakup beberapa aspek-aspek, antara lain sebagai berikut:
1) Permainan dan Olahraga, meliputi: olahraga sederhana, permainan gerak, keterampilan gerak tetap, berpindah dan campuran, atletik, rounders, kasti, kippers, bola basket, bola voli, sepak bola, tenis meja, tenis lapangan, badminton, beladiri dan aktifitas lainnya.
2) Aktifitas pengembangan, meliputi: mekanika sikap tubuh, kebugaran jasmani, dan bentuk tubuh serta aktifitas lainnya.
3) Aktifitas senam, meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan dengan alat atau tanpa alat, senam lantai, dan aktifitas lainnya.
4) Aktifitas ritmis, meliputi: senam pagi, gerak tak beraturan, senam aerobic, SKJ serta aktifitas lainnya.
5) Aktifitas air, meliputi: renang, permainan dalam air, keselamatan air, keterampilan gerak di air, serta aktifitas lainnya.
6) Pendidikan luar kelas, meliputi: karyawisata atau piknik, pengenalan lingkungan, berkemah, penjelajahan, pendakian gunung, dan petualang alam bebas.
7) Kesehatan rohani, meliputi: penanaman hidup sehat dalam kehidupan sehari- hari, perawatan tubuh, merawat lingkungan, pemilihan makanan dan minuman sehat, mencegah dan merawat cedera, mengatur waktu beristirahat, berperan aktif dalam P3K dan UKS.
e) Bidang-Bidang Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Bidang-bidang dalam pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan menurut Sukintaka (2004: 36) yakni sebagai berikut :
1) Pendidikan
Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan mempunyai istilah lain pendidikan manusia melalui gerak. Hal itu berdampak bahwa penjasorkes harus mampu mengembangkan seluruh aspek pribadi
19
manusia, dan harus berpegang pada norma-norma pendidikan.
Pegangan pelaksanaan tugas berpacu pada dasar - dasar pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan.
2) Belajar Motorik
Pengembangan kemampuan motorik dan pengertian didaktik harus ada dalam belajar gerak. Belajar gerak merupakan kemampuan gerak dengan tahapan gerak dari gerak refleks, gerak kasar, gerak halus, gerak sempurna, serta gerak dasar berolahraga atau gerak dasar keterampilan motorik.
3) Kesehatan dan Kebugaran
Kesehatan dan kebugaran dikhususkan kearah pembiasaan hidup sehat dan bugar terhadap peserta didik. Tentunya dengan tujuan tubuh selalu sehat dan bugar.
4) Penelitian
Bidang-bidang pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan yang dapat diteliti, yang akan diteliti, dan yang harus diteliti sebaiknya ditentukan. Hal ini bertujuan dapat menentukan teori-teori baru, mengkaji teori yang telah ada, atau menguatkan teori yang sudah ada sebelumnya.
5) Rekreasi Pendidikan
Rekreasi pendidikan bertujuan untuk pembiasaan anak supaya mampu mengadakan rekreasi fikiran.
4. Pembelajaran Daring a. Pengertian
Pembelajaran daring adalah pembelajaran merupakan pembelajaran yang dilakukan secara online, menggunakan aplikasi pembelajaran maupun jejaring social. Pembelajaran daring merupakan program penyelenggaraan kelas pembelajaran dalam jaringan untuk menjangkau kelompok target yang masif dan luas. Melalui jaringan, pembelajaran dapat diselenggarakan secara masif dengan peserta yang tidak terbatas
20
(Bilfaqih dan Qomarudin, 2015: 1).
Pembelajaran daring dapat menggunakan teknologi digital seperti google classroom, rumah belajar, video converence, telepon atau live chat, zoom, whatsapp group dan lainnya (Dewi, 2020: 58). Definisi umum dari e-learning atau pembelajaran daring menurut Gilbert & Jones (2001) yaitu: pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik seperti internet, intranet/extranet, satellite broadcast, audio/video tape, interactive TV, CD-ROM, dan computer-based training (CBT). The ILRT of Bristol University (2005) mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan teknologi elektronik untuk mengirim, mendukung, dan meningkatkan pengajaran, pembelajaran dan penilaian.
Menurut Khan (2005), e-learning menunjuk pada pengiriman materi pembelajaran kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun. E-Learning dilakukan menggunakan berbagai teknologi dalam lingkungan pembelajaran yang terbuka, fleksibel, dan terdistribusi. Lebih jauh, istilah pembelajaran terbuka dan fleksibel merujuk pada kebebasan peserta didik dalam hal waktu, tempat, kecepatan, isi materi, gaya belajar, jenis evaluasi, belajar kolaborasi atau mandiri.
b. Tujuan Pembelajaran Daring
Secara umum, pembelajaran daring bertujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu secara dalam jaringan (daring) yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau audiens yang lebih banyak dan lebih luas (Bilfaqih dan Qomarudin, 2015: 4).
c. Manfaat Pembelajaran Daring
Menurut Bilfaqih dan Qomarudin (2015: 4), manfaat pembelajaran daring antara lain:
1) Meningkatkan mutu pendidikan dan pelatihan dengan memanfaatkan multimedia secara efektif dalam pembelajaran.
2) Meningkatkan keterjangkauan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui penyelenggaraan pembelajaran dalam jaringan.
3) Menekan biaya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan yang bermutu melalui pemanfaatan sumber daya bersama.
21
Menurut Rohmah (2016: 12) manfaat e-learning yaitu:
1) Dengan adanya e-learning maka dapat mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis
2) E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan materi,
3) Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan- bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran
4) Dengan e-learning proses pengembangan pengetahuan tidak hanya terjadi di dalam ruangan kelas saja, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar- mengajar.
Menurut Riyadi (2014) manfaat e-learning adalah:
1) E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
2) E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
3) E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan prasarana untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.
5. COVID-19
Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Coronavirus Diseases 2019 (COVID- 19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Tanda dan gelaja umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 56 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. (Yurianto, Ahmad, 2020). Menurut WHO (2020) COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Virus baru dan
22
penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.
Penyebaran virus corona ini berdampak pada berbagai aspek termasuk ekonomi dan pendidikan. Untuk menekan jumlah pasien yang terpapar COVID-19 pemerintah membatasi aktivitas yang menimbulkan perkumpulan massa dalam jumlah banyak termasuk bersekolah dan bekerja. Keadaan ini mengakibatkan pemerintah mengambil kebijakan untuk meliburkan seluruh aktivitas pendidikan dan menghadirkan alternatif proses pembelajaran lainnya. Melalui Surat Edaran nomor 3 tahun 2020 pada Satuan Pendidikan dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat COVID-19 maka pemerintah memberlakukan kegiatan belajar secara daring dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 (Menteri Pendidikan, 2020).
B. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan dalam penelitian ini sangat diperlukan untuk mendukung kajian teoritis yang telah dikemukakan sehingga dapat digunakan sebagai landasan pada kerangka berfikir. Adapun hasil penelitian yang relevan adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Aji Fatma Dewi (2020) dengan judul
“Dampak COVID-19 terhadap Implementasi Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar”. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan. Pengumpulan data diperoleh dari berita dan artikel-artikel pada jurnal online. Peneliti melakukan penelusuran artikel dengan menggunakan kata kunci “Dampak COVID-19” dan “Pembelajaran Daring”. Dari 10 sumber yang didapatkan, kemudian dipilih yang paling relevan dan diperoleh 3 artikel dan 6 berita yang dipilih. Teknik penelitian dilakukan dengan dokumentasi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dampak COVID-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di sekolah dasar dapat terlaksanakan dengan cukup baik.
Hal ini dapat dilihat dari hasil data 3 artikel dan 6 berita yang menunjukan
23
bahwa dampak COVID-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di SD dapat terlaksana dengan cukup baik apabila adanya kerjasama antara guru, siswa dan orang tua dalam belajar di rumah.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Agus Purwanto, Rudy Pramono, Masduki Asbari, Priyono Budi Santoso, Laksmi Mayesti Wijayanti, Choi Chi Hyun, dan Ratna Setyowati Putri (2020) dengn judul “Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar”. Penelitian ini adalah studi kasus eksplorasi dan sampel dipilih menggunakan metode purposive sampling. Responden untuk penelitian ini adalah para guru dan orang tua murid di sebuah sekolah dasar di Tangerang.
Metode pengumpulan data primer dengan wawancara semi-terstruktur sedangkan data sekunder dikumpulkan dari data yang dipublikasikan seperti artikel jurnal- jurnal dan buku. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat beberapa kendala yang dialami oleh murid, guru dan orang tua dalam kegiatan belajar mengajar online yaitu penguasaan teknologi masih kurang, penambahan biaya kuota internet, adanya pekerjan tambahan bagi orang tua dalam mendampingi anak belajar, komunikasi dan sosialisasi antar siswa, guru dan orang tua menjadi berkurang dan Jam kerja yang menjadi tidak terbatas bagi guru karena harus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan orang tua, guru lain, dan kepala sekolah.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Herlina, Maman Suherman (2020) dengan judul “Potensi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di tengah Pandemi Corona Virus Disease (COVID)-19 di Sekolah Dasar”. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan eksplanasi.. Unit analisis dalam penelitian ini adalah SDN Sumari, dalam hal ini segala komponen yang terlibat pembelajaran Pendidikan Jasmani ditetapkan sebagai unit analisis melalui purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, melalui teknik pengumpulan data yakni wawancara, pengamatan dan penelusuran pustaka daring dengan analisis data kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PJOK memiliki potensi untuk
24
dikembangkan di tengah masa pandemi COVID-19 melalui model pembelajaran jarak jauh dengan pendekatan kolaboratif.
C. Kerangka Berfikir
Berdasarkan kajian teori di atas, maka dapat dijadikan suatu kerangka berfikir. Kendala dalam pembelajaran adalah beberapa hambatan yang menghambat jalannya pembelajaran yang dilihat dari faktor manusiawi (guru dan peserta didik), faktor intitusional (ruang kelas), dan intruksional (kurangnya alat peraga). Terkait dengan kendala pembelajaran PJOK SD pada masa COVID-19 di SD NEGERI Soropadan Kecamatan Laweyan Kota Surakarta, hal tersebut bermakna meneliti kendala dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh PJOK SD selama pandemi COVID-19.
Pembelajaran PJOK merupakan proses interaksi antara siswa dengan lingkungan dengan memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif dan emosional. Pembelajaran PJOK yang didominasi dengan gerakan fisik dilaksanakan di ruang terbuka atau di lapangan, namun hal tersebut tidak dapat dilaksanakan karena adanya pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Berbagai keterbatasan pada akses internet dan kemampuan operasional pada fitur-fitur online menyebabkan pembelajaran PJOK selama pandemi COVID-19 menemui berbagai hambatan dan kendala diantaranya yaitu pembelajaran PJOK yang tidak dapat terlaksana sesuai dengan RPP, banyaknya peserta didik yang mengeluh karena terlalu banyak tugas, dan orangtua mengalami kesulitan dalam mendampingi kegiatan belajar anak
Dalam hal ini maka peneliti sangat tertarik untuk mengetahui kendala pembelajaran PJOK SD pada masa pandemi Covid-19 di SD NEGERI Soropadan Kecamatan Laweyan Kota Surakarta.