PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE
NOMOR 03 TAHUN 2002 TENTANG
TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) DALAM DAERAH KOTA TERNATE
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TERNATE
Menimbang a. bahwa dalam rangka pelaksanaan pemerintahan daerah dan untuk meningkatkan kelancaran pemberian izin serta menjamin kepastian berusaha dibidang perdagangan, perlu menetapkan tata cara pemberian izin usaha perdagangan.
b. bahwa sesuai maksud sebagaimana tersebut pada huruf a diatas, perlu ditetapkan Peraturan Daerah ini.
Mengingat 1. Undang Undang Gangguan {1lintfer Ordonantie) Stlb.Tahun 1926 Nomor 226 yang telah diubah dan ditambah terakhir Stb!. Tahun 1940Nomor 14 dan 450 ;
2. Undang-Undang Nomor 07 Tahun 1955 tentang Pengusutan, Penindakan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi {Lembaran 9{fgara 'Iahun.19559{pmor2,'Iambahan.Lembaran 9{fgara 9{pmor 801} sebagaimana telah diubah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1964 tentang Pengusutan, Penindakan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi {Lembaran 9{fgara'Tanun 1964 9{pmor101, 'Iambahan. Lembaran.9{fgara 9{pmor2692};
3. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan {Lem6aran9{fgara Tahun.19829{pmor 7;'Iambahan. Lembaran. 9{fgara 9{pmor3214};
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Ternate {LemGaran 9{fgara Tahun.19999{pmor45;'Iambahan. Lembaran. 9{fgara 9{pmor3824};
5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah {Lem6aran 9{fgara 'Iahun. 19999{omor60, Tambahan. LemGaran 9{fgara 9{pmor3838}i
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup [Lembaran.
9{fgara 'Iahu« 19979{pmor68,'Iambahan. Lembaran 9{fgara 9{pmor3699} ;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Dampak Lingkungan {LemGaran 9{fgara'Tanun 19869{pmor3338};
8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan, Sentuk Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden {LemGaran9{egara 'Iahun.19999{pmor 70} ;
9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 7 Tahun 1997 tentang Tata Cara Izin Mendirikan Bangunan (1MB) dan Izin Undang-Undang Gangguan (UUG) 1HO bagi perusahaan-perusahaan yang berlokasi diluar kawasan industri.
10. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor :254/MPP/Kep/7/1997 tentang Kriteria Industri Kecil dan Perdagangan Kecil dilingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan ;
11. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor :444/MPP/Kep/9/1998 jo Nomor : 24/MPP/Kep/1/1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja dilingkungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan ;
12. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor :289/MPP/Kep/10/2001 tentang Ketentuan Standar Pemberian Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) ; 13. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 21Tahun 2001 tentang
Teknik Penyusunan dan Materi Muatan Produk-Produk Hukum Daerah ;
14. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah ;
15. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ;
16. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 24 Tahun 2001 tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah ;
17. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 08Tahun 2000 tentang Retribusi Izin Gangguan (Lem6aran Daerah.Xpta 'Iernate 'Iahun.2000 'J{pmor 08);
18. Peraturan Daerah Kota Temate Nomor 22Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dilingkungan Pemerintah Daerah Kota Ternate (Lem6aran 'Daerafi Xpta'Iernate 'Iahun.2000 'lI[p11Wr22);
19. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 30Tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Kota Ternate [Lembaran Daerah Xpta Ternate 'Iahun.2000 'lI[p11Wr 33);
Dengan Persetujuan
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TERNATE MEMUTUSKAN
Menetapkan PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE TENTANG TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) DALAM DAERAH KOTA TERNATE
BABI
KETENTUAN UMUM
Pasal1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kota Ternate.
b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah.
c. Kepala Daerah adalah Walikota Ternate
2
'a Izin ) bagi
'/1997 emen
398jo mgan
/2001 UP) ; ntang
ntang
ltang
ltang
guan
egeri
~rnate
isasi
2000
A P)
an
d. Badan adalah suatu bentuk Badan Usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun,bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.
e. Dinas adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate.
f. Perdagangan adalah kegiatan usaha jual beli barang atau jasa yang dilakukan secara terus menerus dengan tujuan pengalihan hak atas barang atau jasa dengan disertai imbalan atau kompensasi.
g. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Kota Ternate, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
h. Surat Izin Usaha Perdagangan yang disingkat SIUP adalah Surat Izin untuk dapat melaksanakan kegiatan Usaha Perdagangan.
i. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Kecil adalah surat izin bagi perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan modal dan kekayaan bersih seluruhnya sampai dengan Rp. 200.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
j. SuratIzin Usaha Perdagangan (SIUP) Menengah adalah surat izin bagi perusahaan yang melakukan
kegiatan usaha perdagangan dengan modal dan kekayaan bersih seluruhnya Rp. 200.000.000,- sampai
dengan Rp.500.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
k. Suratlzin Usaha Perdagangan (SIUP) Besar adalah surat izin bagi perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan modal dan kekayaan bersih seluruhnya diatas Rp. 500.000.000,- tidak termasuktanah dan bangunan tempat usaha.
I. Surat Permintaan Surat Izin Usaha Perdagangan yang disingkat SP-SIUP adalah Formulir yang harus diisi oleh perusahaan yang memuat data perusahaan untuk memperoleh SIUP.
m. PerubahanPerusahaan adalah meliputi perubahan dalam perusahaan yang meliputi Perubahan Nama Perusahaan, bentuk perusahaan, alamat kantor perusahaan Nama PemiliklPenanggung Jawab, alamat PemiliklPenanggung Jawab NPWP, Modal dan Kekayaan Bersih (netto), Bidang Usaha, Jenis Barang/Jasa Dagangan Utama.
n. Cabang Perusahaan adalah Perusahaan yang merupakan unit atau bagian dari perusahaan induknya yang dapat berkedudukan di tempat yang berlainan dan dapat bersifat berdiri sendiri atau bertugas untuk melaksanakan sebagian tugas dari perusahaan induknya.
O. Perwakilan Perusahaan adalah Perusahaan yang bertindak mewakili Kantor Pusat perusahaan untuk melakukan suatu kegiatan dan atau pengurusannya ditentukan sesuai dengan wewenang yang diberikan.
BAB II
SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP)
Pasal2
(1) Setiap perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib memperoleh Surat Izin Usaha Perdagangan.
(2) Surat Izin Usaha Perdagangan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1), terdiri dari : a.SIUP Kecil
b.SIUP Menengah
c.
SIUP BesarPasal3
(1) Kepala Daerah dapat menunjuk unit kerja 1pejabat untuk menerbitkan SIUP dalam rangka pelaksanaan pemberian Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
(2) Unit Kerja sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, adalah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate.
Pasal4
(1) Khusus untuk kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Kepala Daerah melimpahkan kewenangan yang diperolehnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 diatas, kepada Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di wilayah Kota Ternate.
(2) Kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan be bas sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, akan diatur kemudian dengan Keputusan Kepala Daerah.
Pasal5
SIUP diterbitkan di daerah dan berlaku di seluruh Wilayah Republik Indonesia.
Pasal6
(1) SIUP berlaku untuk jangka waktu 3 (Tiga) tahun sejak diterbitkan dan wajib diperpanjang 3 (tiga) bulan sebelum masa berlakunya berakhir.
(2) Perpanjangan SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut Tata Cara dan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini.
(3) Terhadap perpanjangan SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan menerbitkan SIUP baru dan menarik kembali SIUP yang lama.
Pasal7
(1) Perusahaan yang melakukan kegiatan Usaha Perdagangan dengan Modal dan Kekayaan bersih (netto) perusahaan seluruhnya sampai dengan Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, wajib memperolah SIUP Kecil.
(2) Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan modal disetor dan kekayaan bersih (netto) seluruhnya sampai dengan Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, wajib memperoleh SIUP Menengah.
(3) Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan modal disetor dan kekayaan bersih (netto) seluruhnya diatas Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha wajib memperolah SIUP Besar.
Pasal8
Perusahaan yang melakukan perubahan modal dan kekayaan bersih (netto) baik karena peningkatan maupun penurunan yang dibuktikan dengan Akta Perubahan dan atau Neraca Perusahaan wajib menyesuaikan SIUP sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7.
Pasal9
(1) Perusahaan yang dibebaskan dari kewajiban memperoleh SIUP adalah :
a. Cabang/Perwakilan Perusahaan yang dalam menjalankan Kegiatan Usaha Perdagangan mempergunakan SIUP Perusahaan Pusat.
b. Perusahaan kecil perorangan yang memenuhi ketentuan, sebagai berikut :
1. Modal dan kekayaan bersih (netto) perusahaan seluruhnya sampai dengan Rp 5.000.000,- (lima juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang pingir jalan atau pedagang kaki lima.
(2) Perusahaan dibebaskan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dapat diberikan SIUP apabila dikehendaki yang bersangkutan.
(3) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan, perusahaan dibebaskan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) dapat dilakukan pendataan/pencatatan.
4
Ian
Ian
ian
~o) Ian
sih Ian
sih Ian
lun UP
an
a a.
ila
1)
Pasal10
Setiapperusahaan yang memperoleh SIUP dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung mulai tanggal diterbitkanSIUP wajib mendaftarkan perusahaannya.
BAB III
TATA CARA PERMINTAAN PENERBITAN SIUP
Pasal11
(1) Permintaan SIUP bagi perusahaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 diajukan langsung kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dengan mengisi Formulir SP-SIUP Model A.
(2) Permintaan SIUP sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) harus ditanda tangani oleh PemilikiDirektur Ulama/Penanggung Jawab Perusahaan.
Pasal12
(1) Permintaan SIUP sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 wajib di lengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut:
a.
Perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas : 1) Copy Akta Notaris Pendirian Perusahaan2) Copy Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman
3) Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) PemilikiDirektur Utama/Penanggung Jawab Perusahaan 4) Copy NPWP dan NPWPD
5) Copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah.
6) Neraca Perusahaan 7) Denah Lokasi Perusahaan b. Perusahaan bentuk Koperasi
1) Copy Akta Pendirian Koperasi yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi berwenang 2) Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pimpinan penanggung Jawab Koperasi
3) Copy NPWP dan NPWPD ;
4) Copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah.
5) Neraca Perusahaan 6) Denah Lokasi Perusahaan
c.
Perusahaan yang berbentuk Persekutuan dan Perorangan : 1) Perusahaan Persekutuana. Copy Surat Akta Pendirian Perusahaan/Akta Notaris yang telah didaftarkan pada Pengadilan - Negeri.
b. Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) PemilikiPenanggung Jawab Perusahaan c. Copy NPWP dan NPWPD.
d. Copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah. Neraca Perusahaan e. Denah Lokasi Perusahaan
2) Perusahaan Perorangan
a. Copy Kartu Tanda Penduduk PemilikiPenanggung Jawab Perusahaan b. Copy NPWP dan NPWPD.
c. Copy Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah.
d. Neraca Perusahaan.
e. Denah Lokasi Perusahaan
5
(2) Apabila dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari kerja sejak tanggal Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum kepada Menteri Kehakiman, Pemohon SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a belum mendapat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman, maka Pemohon SIUP cukup melampirkan copy Data Akta Pendirian Perseroan dan copy Bukti Setor Biaya Administrasi Pembayaran Proses Pengesahan Badan Hukum dari Departemen Kehakiman sebagai kelengkapan persyaratan guna mendapatkan SIUP.
(3) Terhadap Pemohon SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila telah memperoleh Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman, wajib menyampaikan copy Surat Keputusan Pengesahan Badan Hukum dari Menteri Kehakiman kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja, terhitung sejak tanggal diterbitkannya Surat Pengesahan tersebut.
(4) Terhadap Pemohon SIUP sebagaimana dimaksud pad a ayat (2) yang permohonannya untuk mendapatkan Pengesahan Badan Hukum ditolak, maka Permohonan SIUP adalah gugur dan dianggap tidak ada.
(5) Bagi perusahaan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) yang tidak di persyaratkan memperoleh Surat Izin Tempat Usaha (SITU) berdasarkan ketentuan Undang-undang Gangguan (HO) wajib melampirkan Surat Keterangan tidak perlu Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah.
(6) Copy dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilampirkan aslinya guna penelitian dan akan dikembalikan kepada perusahaan yang bersangkutan setelah penelitian dokumen selesai.
Pasal13
(1) Perusahaan yang dibebaskan dari kewajiban memperoleh SIUP sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a dan b dapat diberikan SIUP apabila dikehendaki oleh perusahaan dengan menyampaikan SP- SIUP kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dengan melampirkan :
1. Copy KTP PemiliklDirektur Utama/Penanggung Jawab 2. Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dari Pemerintah Daerah 3. Copy Surat Keterangan Domisili dari Lurah setempat
(2) Pedagang keliling, pedagang asongan, pedagang pinggir jalan atau pedagang kaki lima sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf e dapat diberikan SIUP apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan dengan melampirkan copy KTP dan Surat Keterangan dari Lurah setempat.
(3) Copy dokumen sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) dan ayat (2) disertai aslinya guna penelitian dan akan dikembalikan kepada yang bersangkutan setelah penelitian selesai.
Pasal14
(1) Selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya SP-SIUP Model A sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 yang dilampiri dokumen sebagaimana dimaksud dalam pasal12 secara lengkap dan benar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan wajib menerbitkan SIUP dengan menggunakan Formulir Model B dengan ketentuan
a. Warna Putih untuk SIUP Kecil b. Warna Biru untuk SIUP Menengah c. Warna Kuning untuk SIUP Besar
(2) Apabila Pengisian SP-SIUP dan kelengkapannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11,Pasal12 dan Pasal 13 belum lengkap dan benar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya SP-SIUP Model A wajib melakukan penundaan pemberian SIUP dengan memberitahukan secara tertulis kepada Pemohon SIUP yang bersangkutan disertai alasan- alasannya.
(3) Pemohon SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan perbaikan dan atau melengkapi persyaratan selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya Surat Penundaan Pemberian SIUP.
(4) Apabila setelah jangka waktu yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud pad a ayat (3) Pemohon SIUP yang bersangkutan tidak dapat memenuhi persyaratan yang lengkap dan benar, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan menolak Permintaan SIUP yang bersangkutan.
(5) Pemohon SIUP yang ditolak permintaan SIUP nya dapat mengajukan kembali permintaan SIUP baru.
6
In
a
p si In
at at In at
in at
In
la Ip In
In 5 In
n-
pi In
IP In
BABIV
PEMBUKAAN CABANG IPERWAKILAN PERUSAHAAN
Pasal15
(1) Perusahaan Pemegang SIUP yang akan membuka Kantor Cabang/Perwakiian Perusahaan, wajib melapor secara tertulis kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
(2) Dalam menyampaikan laporan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilampiri dokumen sebagai berikut ;
a. Copy SIUP Perusahaan Pusat
b. Copy Akta Notaris atau bukti lainnya tentang Pembukaan Kantor Cabang Perusahaan
c.
Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) penanggung jawab Kantor Cabang Perusahaan di tempat kedudukan Kantor Cabang.d. Copy Tanda Daftar Perusahaan Kantor Pusat
e. Copy SITU dari Pemerintah Daerah bagi kegiatan Usaha Perdagangan yang dipersyaratkan SITU berdasarkan ketentuan Undang-undang Gangguan (HO)
f. Denah Lokasi Kantor Cabang
(3) Seiambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya laporan dan dokumen sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) dan ayat (2) secara lengkap dan benar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan mencatatlmendaftarkan dalam Buku Laporan Pembukaan Kantor Cabang/Perwakilan Perusahaan membubuhkan tanda tangan, cap setempel pada copy SIUP Perusahaan Pusat sebagai bukti bahwa SIUP tersebut berlaku juga bagi Kantor Cabang/Perwakilan Perusahaan.
BABV
PENUNJUKAN PEJABAT PENERBIT SIUP
Pasal16
(1) Apabila Pejabat yang berwenang menerbitkan SIUP berhalangan selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut, pejabat yang bersangkutan wajib menunjuk satu Pejabat setingkat lebih rendah yang bertindak untuk dan atas nama Pejabat yang bersangkutan untuk menerbitkan SIUP.
(2) Kepala Daerah dapat mengatur standar mekanisme pelayanan penerbitan SIUP dengan mengacu pada ketentuan Peraturan Daerah ini.
BABVI
PERUBAHANPERUSAHAAN
Pasal17
(1) Perusahaan yang telah memperoleh SIUP apabila melakukan perubahan perusahaan, wajib mengajukan permintaan Perubahan SIUP kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan selambat-Iambatnya 3 (tiga) bulan terhitung sejak dilakukan perubahan.
(2) Perusahaan yang telah memperoleh SIUP apabila melakukan perubahan sepanjang yang menyangkut modal dan kekayaan bersih (netto) ditetapkan sebagai berikut:
a. SIUP Kecil yang mengadakan perubahan modal dan kekayaan bersihnya (netto) sehingga menjadi lebih besar dari semula, tetapi tidak melebihi Rp. 200.000.000. (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, tidak wajib mengajukan Perubahan SIUP.
b. SIUP Menengah yang mengadakan perubahan modal dan kekayaan bersih (netto) sehingga menjadi lebih besar dari semula tetapi tidak melebihi Rp. 500.000.000. (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, tidak,wajib mengajukan Perubahan SIUP.
(3) Perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib mengisi Formulir SP-SIUP Model A
(4)
Kepala DinasPerindustrian dan Perdagangan selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya Permintaan Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib mengeluarkan SIUP dengan menggunakan formulir Model B sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah ini.
(5) Perubahan perusahaan yang tidak termasuk dalam Pasal 1 huruf k wajib dilaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan tanpa mengganti atau mengubah SIUP yang telah diperoleh.
(6) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya laporan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (5), wajib mengeluarkan Surat Persetujuan Perubahan SIUP dengan menggunakan Formulir Model C yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan SIUP yang telah diperoleh.
BAB VII
PELAPORAN Pasal18
(1)
Apabila SIUP yang telah diperoleh perusahaan hilang atau rusak tidak terbaca, perusahaan yang bersangkutan harus mengajukan permintaan Penggantian SIUP secara tertulis kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memperoleh SIUP baru.
(2) Permintaan Penggantian SIUP yang hilang atau rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan ketentuan sebagai berikut
:a. Dilakukan sesuai ketentuan Pasal 11 dan Pasal 12
b. Melampirkan Surat Keteranqari Hilanq dari Kepolisian setempat bagi SIUP yang hilang.
c. Melampirkan SIUP asli bagi yang rusak.
(3) Selambat-Iambatnya 5 (lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya Surat Permintaan Penggantian SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan wajib mengeluarkan SIUP dengan menggunakan Formulir Model B.
Pasal19
(1) Perusahaan pemegang SIUP Kecil yang modal dan kekayaan bersih (netto) dibawah Rp 50.000.000,- (lima puluh
juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha dibebaskan dari kewajibanmenyampaikan laporan.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) yang telah memperoleh SIUP Kecil dengan modal disetor dan kekayaan bersih diatas Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp
200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha,wajib menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan mengenai kegiatan usahanya setiap tahun sekali selambat-Iambatnya tanggal 31 Januari tahun berikutnya.
(3) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dan ayat (3) yang telah memperoleh SIUP Menengah atau SIUP Besar wajib menyampaikan laporan kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan mengenai kegiatan usahanya sebanyak 2 (dua) kali dalam setahun.
(4) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan jadwal sebagai berikut : a. Semester pertama selambat·-Iambatnya setiap tanggal31 Juli
b. Semester kedua selambat-Iambatnya setiap tanggal 31 Januari tahun berikutnya.
(5) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) disampaikan dengan menggunakan Formulir Model C.
Pasal20
Perusahaan
yang telah memperoleh SIUP wajib memberikan data/informasi mangenai kegiatan usahanyaapabila sewaktu-waktu diminta oleh Kepala Daerah cq. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Temate dan
atau Pejabat
yang berwenang menerbitkan SIUP.9 sejak n SIUP rah ini.
kepada peroleh.
9 sejak n Surat ang tak
n yang Dinas
iajukan
nSIUP luarkan
,-(lima ajiban
SIUP n dan ahun.
rikut :
rmulir
hanya tedan
Pasal21
Setiapperusahaan yang sudah tidak lagi melakukan kegiatan usaha perdagangan selama 6 (enam ) bulan berturut-turut atau menutup kegiatan perusahaannya, wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate disertai alasan penutupan perusahaan dengan menggunakan Formulir Model H.
BAB VIII KETENTUAN LAIN
Pasal22
Perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan yang mempunyai kekhususan atau profesi perdagangan jasa, penjualan berjenjang (Multi Level Marketing (MLM)) penjualan minuman beralkohol dan pasar moderen perijinannya diatur tersendiri dengan Keputusan Kepala Daerah.
Pasal23
Perusahaan yang telah memperoleh SIUP dilarang melakukan kegiatan perdagangan berjangka komoditi kecuali apabila telah memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan untuk dapat melakukan kegiatan perdagangan berjangka komoditi sesuai dengan ketentuan penetapan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal24
(1) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate wajib menyampaikan laporan mengenai Rekapitulasi Data Penerbitan, Pembekuan, Pencabutan SIUP Penutupan Perusahaan dan informasi kegiatan usaha perdagangan di Wilayah Kota Ternate kepada Kepala Daerah.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) diatas, dilakukan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun dengan jadwalsebagai berikut :
a. Semester pertama selambat-Iambatnya setiap tanggal 31 Agustus b.Semester kedua selambat-Iambatnya setiap tanggal 28 Februari
BABIX SANKSI
Pasal25
(1) Perusahaandi beri peringatan tertulis apabila :
a.TIdakmelakukan kewajiban sesuai ketentuan dalam Pasal 8, Pasal 15 ayat (1), pasal 17 ayat (1), Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) serta pasal 20 Peraturan Daerah ini.
b. Melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan bidang usaha, kegiatan usaha dan jenis barang/jasa dagangan utama yang tercantum dalam SIUP yang telah diperoleh.
c. Belum mendaftarkan perusahaan dalam Daftar Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.
d. Adanya laporan/pengaduan dari Pejabat yang berwenang ataupun pemilik dan atau pemegang atas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bahwa perusahaan yang bersangkutan melakukan pelanggaran HKI e. Ada laporan/pengaduan dari Pejabat yang berwenang bahwa perusahaan tersebut tidak memenuhi
kewajibanperpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.
(2) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) diberikan sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali berturut-turut denqan tenggang waktu 1 (satu) bulan oleh Pejabat yang berwenang mengeluarkan SIUP dengan menggunakan Formulir Model D.
Pasal26
(1) SIUP perusahaan yang bersangkutan dibekukan apabila :
a. Tidak mengindahkan peringatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2).
b. Melakukan kegiatan usaha yang patut diduga merugikan konsumen dan tidak sesuai dengan bidang usaha, kegiatan usaha dan jenis barang/jasa dagangan utama yang tercantum dalam SIUP yang telah diperoleh.
c. Sedang diperiksa disidang Pengadilan karena didakwa melakukan pelanggaran HKI dan atau melakukan tindak pidana lainnya.
(2) Selama SIUP perusahaan yang bersangkutan dibekukan, perusahaan terse but dilarang untuk melakukan kegiatan usaha perdagangan.
(3) Jangka waktu pembekuan SIUP bagi perusahaan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) huruf a dan b berlaku 6 (enam) bulan terhitung sejak dikeluarkannya Penetapan Pembekuan SIUP.
(4) Jangka waktu Pembekuan SIUP bagi perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c berlaku sampai dengan adanya Keputusan Badan Peradilan yang telah berkekuatan tetap.
(5) Pembekuan SIUP dilakukan oleh Pejabat yang berwenang menerbitkan SIUP yang bersangkutan dengan menggunakan Formulir Model E.
(6) SIUP yang telah dibekukan dapat diberlakukan kembali apabila perusahaan yang bersangkutan : a. Telah mengindahkan peringatan dengan melakukan perbaikan dan melaksanakan kewajiban sesuai
dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.
b. Dinyatakan tidak terbukti melakukan pelanggaran HKI dan atau tidak melakukan tindak pidana sesuai Keputusan Badan Peradilan yang telah berkekuatan tetap.
Pasal27
(1) SIUP dapat dicabut apabila :
a. SIUP yang diperoleh berdasarkan keterangan/data yang tidak benar atau palsu dari perusahaan yang bersangkutan atau tidak sesuai ketentuan Pasal 7, Pasal 8, Pasal 12 dan Pasal 17 ayat (1 ).
b. Perusahaan yang bersangkutan tidak melakukan perbaikan setelah melampaui batas waktu pembekuan sebagaimana dimaksud pad a Pasal 26 ayat (3).
c. Perusahaan yang bersangkutan telah dijatuhi hukuman pelanggaran HKI dan atau Pidana Badan Peradilan yang telah berkekuatan hukum yang tetap.
d. Perusahaan yang bersangkutan melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang memuat sanksi pencabutan SIUP.
(2) Pencabutan SIUP dilakukan oleh Pejabat yang berwenang menerbitkan SIUP yang bersangkutan dengan menggunakan Formulir Model F.
Pasal28
(1) Perusahaan yang telah dicabut SIUPnya, dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan selambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal percabutan SIUP.
(2) Pejabat sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) seiambat-Iambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak diterimanya permohonan keberatan dapat menerima atau menolak permohonan keberatan secara tertulis disertai dengan alasan-alasan.
(3) Dalam hal permohonan keberatan diterima, SIUP yang telah di cabut diterbitkan kembali
10
Ing lah au an Ib ku
I :
ai ai
Ig ).
U
n It n
10
Pasal29
Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Pasal 10, Pasal 23 dan Pasal 26 ayat (1) huruf b dikenakansanksi pidana sesuai ketentuan per Undang-undangan yang berlaku.
BABX
BIAYA PENERBITAN SIUP
Pasal30
(1) Pemberian SIUP kepada Perusahaan dikenakan biaya Penerbitan Izin.
(2) Biaya Penerbitan Izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini, adalah ditetapkan sebagai berikut:
a. Klasifikasi Sesar Rp. 500.000,-
b.KlasifikasiMenengah .. Rp. 200.000,-
c.
Klasifikasi Kecil Rp. 100.000,-BABXI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal31
(1) SIUP bagi perusahaan yang berlokasi di daerah yang diperoleh perusahaaan melalui Pejabat selain yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini, dinyatakan tidak berlaku lagi dan wajib diganti/diperbaharui selambat-Iambatnya 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkan Peraturan Daerah ini.
(2) SIUP yang diperoleh perusahaan dari Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate sebelum ditetapkannya Peraturan Daerah ini dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan masa berlakunya 3(tiga) tahun terhitung sejak diterbitkannya SIUP dan wajib diperpanjang sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini.
(3) Penggantian SIUP sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) dilakukan menurut ketentuan dan Tata Cara sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini.
(4) Terhadap perusahaan yang mengajukan permintaan untuk memperoleh SIUP yang sedang dalam proses penyelesaiansebelum ditetapkannya Peraturan Daerah ini, wajib mengajukan kembali permintaan untuk memperoleh SIUP sesuai ketentuan dan Tata Cara dalam Peraturan Daerah ini.
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal32
Hal-halyang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur kemudiandengan Keputusan Kepala Daerah.
11
Pasal33
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pad a tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Ternate.
Ditetapkan di :Ternate Pada tanggal :27 Mei 2002
WALIKOTA TERNATE TTO
ORS. H. SYAMSIR ANOILI
Diundangkan di : Ternate Pada tanggal :27 Mei 2002
SEKRETARIS OAERAH KOTA TERNATE TTO
ORS. FACHRY AMMARI
(Lem6aran Daerak 'l(pta 'Iernate 'Tahun.2002 9{snnor 03 Seri 'E)
Kepala Bagian Hukum Setda
Tern ate
-
M. ARIF ABO. GANI, SH PENATA
NIP. 630 008 535
T
I.
II
ngan
TAM BAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA TERNATE
SERlE
Tanggal 27 Mei 2002 Tahun 2002
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE NOMOR 03 TAHUN 2002
TENT AN G
TATA CARA PEMBERIAN IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) DALAM DAERAH KOTA TERNATE
I. PENJELASAN UMUM
Dalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Pemerintahan Daerah dalam mendukung penyelenggaraan otonomi daerah yang nyata, luas dan bertanggung jawab, maka ditetapkan Peraturan Daerah untuk lebih memberikan kepastian hukum dan keadilan yang mengatur Tata Cara Pemberian Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
Disamping
itu dengan semakinmeningkatnya pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan dalam kegiatan penyediaan jasa pelayanan oleh Pemerintah Daerah Kota Ternate untuk tujuan dan pemanfaatan umum lebih diarahkan agar tidak menghambat bahkan sebaliknya dapat menunjangusaha peningkatan pertumbuhan perekonomian daerah.
Peraturan Daerah Kota Ternate
ini ditetapkanuntuk lebih meningkatkan pengaturan (Iegislasi) dan Pengawasan dalam penyelenggaraan bidang perindustrian dan perdagangan masyarakat KotaTemate.
II.
PENJELASAN PASAL OEMI PASAL
Pasal 1 sampai dengan 3
Cukup Je/as'Iambahan. Lembaran Daerah. 1(pta q'ernate q'anun 2002 9{pmor 03
Pasal 3 ayat (2)
Kawasan perdagangan bebas dan dan pelabuhan bebas akan diatur kemudian dengan Keputusan Kepala Daerah, dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan ekonomi Kota Ternate kedepan.
Pasal 4 sampai dengan 18
Cukup Jelas
Pasal 19 ayat (5)
Formulir Model C adalah formulir teknis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate yang digunakan dalam
penerbitanSIUP.
Pasal20 sampai dengan 21 Cukup Jelas
Pasal22 Perusahaan yang mempunyai
kekhususan perijinannya
diatur
dengan Keputusan Kepala Daerah, dengan pertimbangan yang sangat ketat sesuai dengan aturan perundangan-undangan yang berlaku.
Pasal 23 sampai dengan 33 Cukup Jelas
rramEafum Lembaran. 'lJaerah'l(pta Ternate Tahun 2002