PERAN STANDAR, PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN DAN SISTEM PENYIMPANAN ENERGI SEBAGAI EARLY RESPONSE SYSTEM PENANGANAN
PASCA BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI
Role of Standard, Renewable Energi Utilization and Energi Storage Systems as an Early Response System for Earthquake And Tsunami Disaster Recovery
Widia Citra Anggundari1 dan Hermawan Febriansyah2
1,2 Badan Standardisasi Nasional, Puspiptek 420, Tangerang Selatan
E-mail: [email protected]
Abstrak
Indonesia berada diantara empat lempeng utama yang aktif yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng laut Filipina. Kondisi geologis tersebut mengakibatkan sering terjadinya gempa dan tsunami yang dapat merusak infrastruktur, khususnya yang menggunakan listrik. Salah satu upaya menghadapinya adalah pemanfaatan Energi Terbarukan (ET). Studi ini membahas peran ET yang bersumber dari matahari dengan sistem penyimpanan energinya sebagai respon awal dalam penanggulangan bencana gempa dan tsunami melalui pendekatan kualitatif deskriptif. Diantara energi terbarukan lainnya, energi matahari memiliki potensi paling besar yaitu 207.8 GWp. Energi matahari disimpan dalam sistem penyimpanan yang portable yaitu baterai. Baterai tersebut dapat digunakan sebagai early response system untuk memenuhi kebutuhan listrik akibat bencana.
Sebagai upaya menghadapi bencana, telah diterbitkan 10 Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait kebencanaan gempa, enam standar masih berlaku dan empat standar sudah diabolisi. Standar mengenai kebencanaan tsunami sebanyak lima standar dan semuanya masih berlaku hingga saat ini. Standar terkait dengan energi terbarukan yang berasal dari tenaga surya sebanyak 35 standar termasuk mengenai baterai untuk penyimpanan energi terbarukan.
Kata kunci: energi terbarukan, sistem penyimpanan, gempa, tsunami, standar.
Abstract
Indonesia is located between four main active plates, namely the Indo-Australian plate, the Eurasian plate, the Pacific Plate, and the Philippine sea plate. These geological conditions result in frequent earthquakes and tsunamis that can damage infrastructure, especially those that use electricity. One of the efforts to deal with it is the use of Renewable Energi (RE). This study discusses the role of RE sourced from the sun with its energi storage system as an initial response in earthquake and tsunami disaster management through a descriptive qualitative approach.
Among other renewable energies, solar energi has the greatest potential, which is 207.8 GWp. Solar energi is stored in a portable storage system, namely batteries. The battery can be used as an early response system to meet electricity needs due to disasters. As an effort to deal with disasters, 10 Indonesian National Standards (SNI) related to earthquake disasters have been issued, six standards are still in effect and four standards have been abolished. There are five standards regarding tsunami disasters and all of them are still valid today. There are 35 standards related to renewable energi originating from solar power, including those regarding batteries for renewable energi storage.
Keywords: renewable energi, storage system, earthquake, tsunami, standard 1. PENDAHULUAN
Indonesia mendapatkan julukan sebagai negara lingkaran api pasifik atau ring of fire yang terbentang sejauh 40.000 Km (Utomo & Purba, 2019). Kepulauan Indonesia juga berada pada jalur penunjaman lempeng bumi yang terdiri atas empat lempeng utama yaitu lempeng Indo- Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng laut Filipina (Tim Pusat Studi Gempa Nasional, 2017).Kedua hal tersebut yang menjadi
salah satu faktor Indonesia sering mengalami bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami.
Adanya jalur penunjaman lempeng bumi di wilayah Indonesia ini menyebabkan gempa tektonik yang umumnya menimbulkan kerusakan yang sangat parah (Nur, 2010). Proses penunjaman lempeng Indo-Australia kedalam lempeng Eurasia di barat Sumatera mengakibatkan gempa dengan nilai yang sangat tinggi seperti terjadi pada tahun 2004 lalu di Aceh yaitu dengan nilai magnitudo 9,2, juga terjadi di
Bengkulu tahun 2007 dengan nilai magnitudo 8,5, di Nias pada tahun 2005 dengan nilai magnitudo 8,7 dan di Mentawai pada tahun 2010 dengan nilai magnitudo 7,8 (Tim Pusat Studi Gempa Naional, 2017). Pada bagian Selatan Jawa, tahun 2006 gempa besar pun terjadi dengan skala magnitudo 7,8 bahkan telah mengakibatkan gelombang tsunami dengan tinggi mencapai sekitar 20 meter dan di Pacitan pada tahun 1994 dengan skala magnitudo7,8. Menurut Utomo &
Purba, (2019), dalam setahun rata-rata terjadi gempa sebanyak 6000 kali dengan segala bentuk dampak akibatnya.
Sebagian jalur gempa bumi yang berada di wilayah laut berpotensi menimbulkan bencana tsunami. Gempa bumi yang mnyebabkan tsunami tersebut biasanya berada di dasar laut dengan pergerakan vertikal yang cukup besar. Selain itu, tsunami juga dapat terjadi akibat adanya longsoran di laut dan letusan gunung api di laut (Nur, 2010). Tsunami yang dipicu akibat letusan gunung api terjadi pada tahun 1883 akibat meletusnya gunung Krakatau, dengan tinggi gelombang tsunami mencapai 30 meter dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Tetapi dari beberapa penyebab terjadinya tsunami, gempa bumi merupakan penyebab yang peling dominan.
Jalur subduksi yang memanjang di Barat Pulau Sumatera, selatan Jawa hingga laut Banda menyebabkan banyak kejadian gempa gempa tektonik yang mengakibatkan tsunami (Marwanta, 2005). Gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Indonesia, telah berdampak sangat besar dan merugikan, sehingga perlu perhatian dan penanganan khusus terhadap dampak yang ditimbulkan.
Berbagai upaya dilakukan untuk melakukan penanggulangan akibat gempa dan tsunami. Berbagai sarana dan prasarana infrastruktur tentunya mengalami kerusakan pasca bencana. Dalam kondisi tanggap darurat, para pengungsi terbatas terhadap akses energi dalam hal ini kelistrikan serta ketersediaan air minum sebagai bagian vital kehidupan, seperti contohnya pada bencana tsunami di Banten pada Desember 2018 dan tsunami di Palu pada September 2018. Pada kasus bencana tsunami di Banten, terjadi kerusakan infrastruktur kelistrikan, dan baru kembali pulih pada hari kelima setelah kejadian (Praditya, 2018). Sedangkan, pada kasus gempa dan tsunami Sulawesi Tengah memerlukan 10 hari untuk melakukan pemulihan infrastruktur kelistrikan (Arvirianty, 2018). Selain itu, jaringan pipa bersih banyak yang putus dan menyebabkan kebocoran. Air pipa berubah menjadi keruh dan kemudian kering. Upaya pemulihan sistem air minum selesai pada Desember 2018, atau 3 bulan setelah bencana (Azhar, 2018). Padahal terdapat 214.925 orang
pengungsi yang menjadi korban bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Rika, 2018).
Penyediaan energi ini sangat dibutuhkan sebagai respon awal penanganan bencana.
Menurut Arifin (2005), pemerintah harus mengambil langkah kebijakan dalam mengatasi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami dengan melakukan pendataan, sosialisasi, relokalisasi pengungsi, rehabilitasi, rekonstruksi dan pengawasan. Pada tahapan pendataan, dilakukan pencatatan terhadap data korban jiwa, sarana dan prasarana umum yang terdampak, kemudian pada tahap sosialisasi disampaikan rencana ke depannya dalam hal relokalisasi, rehabilitasi dan rekonstruksi. Kemudian dilanjutkan relokalisasi pengungsi dengan menyiapkan sarana dan pra sarana serta penempatan pengungsian ke penampungan sementara.
Pada tahap rehabilitasi mulai dirancang tata ruang daerah, mulai dilakukan perbaikan fisik fasilitas umum, serta sarana dan prasarana lainnya termasuk penerangan PLN, air bersih, komunikasi, PAM dan lain-lain. Adapun pada tahap rekonstruksi mulai dilakukan program jangka panjang dan jangka menengah untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pada tahap rehabilitasi ketersediaan sumber energi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari para pengungsi. Energi dibutuhkan untuk penerangan, komunikasi juga penyediaan air bersih.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Laksono (2020), telah dirancang sebuah tas siaga berbasis sel surya untuk penerangan dan pompa air pada keadaan gawat darurat bencana. Sistem alat ini memanfaatkan sumber energi matahari sebagai sumber energinya dan menggunakan teknologi fotovoltaik untuk mengkonversi energi matahari menjadi energi listrik, kemudian setelah alat dirancang dilakukan pengujian untuk mengetahui nilai efisiensi dari alat tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa alat tersebut mempunyai nilai efisiensi rata-rata sebesar 94.83% artinya yaitu total energi keluaran sebesar 94.83% dari total energi masukan.
Sumber energi matahari merupakan salah satu dari sumber energi terbarukan. Menurut PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan apabila dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.
Pemanfaatan energi matahari sebagai energi
terbarukan menjadi alternatif yang dapat digunakan dalam penanganan pasca bencana gempa dan tsunami khususnya dalam memenuhi kebutuhan listrik. Hal tersebut perlu dikaitkan dengan standar kebencanaan yang ada untuk melihat bagaimana peranannya dalam penanganan bencana. Studi ini membahas bagaimana peran standar, pemanfaatan energi terbarukan khususnya yang bersumber dari matahari dengan sistem penyimpanan energinya sebagai respon awal dalam penanggulangan pasca bencana gempa dan tsunami.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gempa dan Tsunami
Gempa bumi adalah getaran asli dari dalam bumi yang kemudian merambat ke permukaan bumi akibat rekahan bumi pecah dan bergeser dengan keras. Penyebab gempa yaitu bermacam-macam dapat berupa dinamika bumi (tektonik), aktivitas gunung api, longsoran (di bawah muka air laut), ledakan bom nuklir di baha permukaan, ataupun adanya meteor jatuh. Tetapi gempa bumi yang paling umum terjadi adalah gempa bumi tektonik yang disebabkan oleh pematahan batuan akibat benturan dua lempeng secara perlahan-lahan yang akumulasi energi benturan tersebut melampaui kekuatan batuan (Nur, 2010).
Bencana tsunami yang didasari oleh kejadian gempa bumi akan terjadi apabila tejadi ledakan dahsyat gunung api, pusat gempa dibawah dasar laut, kedalaman <60 Km (dangkal), terjadi longsor besar di dasar laut, kekuatan gempa lebih besar dari 6 skala richter, dasar laut mengalami penyesaran vertikal (sesarnaik atau sesar turun), dan kolom air laut di atas episentrum tebal (Nur, 2010). Tsunami yang merupakan salah satu bencana ikutan akibat gempa bumi tersebut akan menyebabkan kerusakan yang serius terutama bagi yang berada dekat dengan pusat gempa.
2.2 Peta Risiko dan Manajemen Bencana di Indonesia
Risiko bencana merupakan pendekatan untuk melihat potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu bencana. Potensi dampak negatif tersebut meliputi potensi jumlah jiwa, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh bencana.
Penentuan indeks risiko bahaya dilakukan dengan menggabungkan indeks bahaya, kerentanan dan kapasitas yang selanjutnya dikalkulasi secara spasial sehingga akan menghasilkan peta risiko dan nilai grid yang dapat digunakan dalam menyusun peta risiko.
Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang disusun oleh BNPB pada tahun 2015, jumlah jiwa yang terpapar risiko bencana gempa bumi terbesar berada di Pulau Jawa dengan nilai asset terpapar di Pulau Jawa melebihi Rp. 140 Triliun dan yang terpapar risiko bencana tsunami tersebar di beberapa pulau dengan jumlah melebihi 4 juta jiwa dan nilai asset terpapar melebihi Rp. 71 Triliun. Terkait upaya untuk menanggulangi risiko bencana gempa bumi ini, hal penting yang perlu dilakukan adalah pemetaan risiko bencana gempa bumi di seluruh wilayah Indonesia, dengan diketahuinya wilayah risiko tinggi terjadi gempa maka antisipasi untuk mengurangi dampaknya dapat dilakukan sedini mungkin. Menyadari tingginya ancaman terjadi tsunami di Indonesia juga, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketangguhan bangsa dalam menanggulanginya.
Dengan bantuan beberapa negara, saat ini Indonesia telah membangun sistem peringatan dini tsunami (SPDT) atau Indonesia Tsunami Early Warning System (BNPB, 2016).
2.3 Energi Terbarukan
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat melimpah (Hakim, 2020).
Berbagai sumber energi terbarukan dikembangkan, yaitu energi air, panas bumi, bioenergi, energi surya, energi angin dan laut.
Pemanfaatan energi air di Indonesia sudah mulai dilakukan dan hingga tahun 2019 ditargetkan sudah mencapai 50 Megawatt untuk pembangkit tenaga mini dan mikro hidro. Walaupun penggunaan pembangkit berbasis air merupakan teknologi yang ramah lingkungan (green energi), tetapi dampaknya terhadap lingkungan masih perlu diperhatikan seperti ketersediaan lahan, kualitas air, dan emisi gas rumah kaca (CO2) (Sihombing & Susila, 2016). Penggunaan panas bumi sebagai energi listrik sudah dimulai sejak tahun 1983 saat pertama kalinya mulai beroperasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) dan sesuai dengan Rencana Umum Energi Nasional ditargetkan sebesar 7.2 Gigawatt penggunaan secara nasional pada tahun 2025.
Pemanfaatan energi alternatif lainnya yaitu menggunakan bionergi dan bahkan pemerintah Indonesia melalui Kementrian ESDM meningkatkan target mandataris pemanfaatan biodiesel di seluruh sektor (Kholiq, 2015). Pada tahun 2025, telah ditargetkan pemanfaatan biodiesel sebesar 30% dan bioetanol sebesar 20%. Sedangkan pemanfaatan energi angin di Indonesia belum mendapatkan perhatian yang serius (Cendrawati et al., 2015). Padahal beberapa daerah di Indonesia dinilai berpotensi untuk dibangun pembangkit listrik tenaga angin
seperti di Desa Tamanjaya, Sukabumi yang berpotensi dibangun pembangkit dengan kapasitas 100 Kilowatt (Zulkarnain, 2016). Selain itu, energi laut juga menjadi salah satu energi terbarukan dan potensinya di Indonesia sebesar 17.9 Gigawatt. Kondisi Kepulauan Indonesia yang didominasi oleh kepulauan menjadikan tuntutan untuk lebih memanfaatkan energi yang berasal dari laut (Hakim, 2020). Dan sumber energi terbarukan yang paling besar dan potensial adalah berasal dari tenaga surya.
2.4 Sistem Penyimpanan Energi
Diantara teknologi penyimpanan energi yang umum digunakan adalah baterai. Pada pemanfaatan energi terbarukan, baterai memiliki fungsi untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh panel surya dalam bentuk energi arus searah (DC). Energi yang disimpan pada baterai berfungsi sebagai cadangan (back up), pada saat panel surya tidak menghasilkan energi listrik seperti pada kondisi cuaca mendung atau malam hari. Satuan kapasitas energi yang disimpan dalam baterai adalah ampere hour (Ah) yang dapat diartikan sebagai arus maksimum yang dapat dikeluarkan oleh baterai selama satu jam. Sistem penyimpanan ini juga dikenal sebagai Battery Energi Storage System (BESS) karena memanfaatkan baterai isi ulang untuk penyimpanan energi.
3. METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif deskriptif berdasarkan data sekunder.
Data sekunder berasal dari jurnal, buku, prosiding, dan kepustakaan lainnya yang terpercaya berkaitan dengan topik penelitian.
Data yang digunakan berasal dari sumber yang jelas seperti dari Kementrian terkait. Data diolah sehingga lebih informatif. Sebagai ulasan akan dibahas secara spesifik mengenai peran standar, energi terbarukan dan penyimpanannya sebagai early response system dalam penanggulangan bencana dan akan difokuskan pada penanganan bencana akibat gempa bumi dan tsunami.
Adapun fokus pemanfaat energi terbarukan pada makalah ini adalah penggunaan energi surya yang didukung dengan sistem penyimpanan energi.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Kebijakannya
Sumber energi terbarukan yang paling besar adalah berasal dari tenaga surya. Potensi energi surya di Indonesia mencapai 207.8 Gigawatt (Tim Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional, 2019). Potensi berbagai energi terbarukan lebih jelas disampaikan pada Tabel 1. Pemanfaatan energi terbarukan juga dilakukan di pedesaan Jepang karena jaringan listrik di pedesaan harganya relatif lebih mahal sehingga cara yang efisien adalah dengan mengintegrasikan sistem energi terbarukan yaitu energi angin, energi surya dan biomassa. Sistem terbarukan terintegrasi mengurangi biaya tahunan seluruh sistem sebesar 31% dan mengurangi emisi karbon sebesar 50% (Nakata, Kubo, & Lamont, 2005).
Hal serupa terjadi di daerah pedesaan di Malaysia, cakupan listriknya 79% dibandingkan di Semenanjung Malaysia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Borhanazad et al., (2013) di Malaysia, radiasi matahari maksimum sekitar 6,027 kWh/m2 per hari di Sabah dan 5.303 kWh/m2 per hari di Sarawak, potensi penerapan energi surya untuk elektrifikasi adalah tinggi.
Namun, potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro di Sabah dan Sarawak ditemukan sebesar 3182 kW dan 6317 kW.
Besarnya distribusi penyinaran untuk kawasan barat Indonesia adalah 4.5kWh/m2 per hari, variasi bulanan sekitar 10%, kawasan timur Indonesia sebesar 5.1kWh/m2 .hari, variasi bulanan sekitar 9%, sehingga rata-rata di Indonesia sebesar 4.8 kWh/m2.hari, variasi bulanan sekitar 9% dan kawasan timur dinilai memiliki potensi penyinaran kawasan yang lebih baik dibandingkan kawasan barat (Kholiq, 2015).
Potensi sumber energi surya ini diimbangi dengan lokasi geografis Indonesia yang selalu disinari matahari disepanjang tahun. Beberapa wilayah dinilai berpotensi untuk dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), seperti di Provinsi Riau dengan presentase penyinaran matahari 45.7% setiap tahunnya (Azirudin, 2019), Kabupaten Pulau Marotai, Maluku Utara (Setiadanu, Firmansyah, & Hadiyono, 2016), Kota Sabang, Aceh (Kurniawan, Supriyadi, &
Sasongko, 2018) dan wilayah lainnya. Bahkan, pada tahun 2025 Indonesia telah merencanakan kapasitas pembangkit yang bersumber dari energi surya mencapai 296 Gigawatt (Tim Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional, 2019).
Tabel 1. Potensi Energi Terbarukan
Jenis Energi Potensi
Tenaga Air 94.3 GW
Panas Bumi 28.5 GW
Bionergi PLT Bio: 32.6 GW
Surya 207.8 GWp
Angin 60.6 GW
Energi Laut 17.9 GW
Sumber: Ditjen EBTKE, 2018
Peningkatan peran energi terbarukan merupakan bagian dari menjaga ketahanan dan kemandirian energi. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 paling sedikit 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Efisiensi energi juga ditargetkan turun 1% setiap tahunnya, hal ini dalam upaya mendorong penghematan pemakaian energi.
Adanya kebijakan tersebut didukung juga oleh beberapa kebijakan diantaranya Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan, yang pada Pasal 14 dijelaskan bahwa percepatan infrastruktur ketenagalistrikan mengutamakan pemanfaatan energi baru dan terbarukan; Peraturan Menteri ESDM No. 50 Tahun 2017 yang merupakan revisi dari Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik; dan Peraturan Menteri ESDM No. 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN), serta beberapa kebijakan lainnya yang terkait.
4.2 Pemanfaatan Sistem Penyimpanan Energi dalam Mendukung Pengembangan Energi Terbarukan
Pemanfaatan energi matahari menjadi energi listrik membutuhkan suatu perangkat fotovoltaik atau sel surya. Pada dasarnya sel surya merupakan fotodioda yang besar dan mampu menghasilkan listrik. Proses fisik yang terlibat dalam konversi energi surya menjadi listrik dalam perangkat PV meliputi adsorpsi cahaya, transportasi elektron, dan mekanisme rekombinasi, yang ditentukan oleh sifat elektro- optik dari bahan semikonduktor yang digunakan untuk pembuatan PV (Li, Liu, Jiang, & Chen, 2020). Sel-sel surya yang sudah tersusun dinamakan modul surya. Alat yang digunakan untuk mengatur pengisian daya listrik yang dihasilkan modul surya ke baterai atau sebaliknya adalah regulator baterai. Regulator baterai juga berfungsi untuk mencegah kelebihan daya pada proses pengisian baterai dan mengatur apabila
terjadi tegangan yang terlalu tinggi dari modul surya. Kelebihan pengisian dan tegangan yang terlalu tinggi dapat memperpendek umur dari baterai.
Beberapa hal berpengaruh terhadap penyimpanan energi pada baterai yaitu kondisi cahaya dan lamanya penyinaran pada suatu daerah. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap nilai intensitas cahaya, tegangan (V), arus (I) dan daya yang dapat ditimbulkan oleh baterai. Daya yang dihasilkan oleh panel suryai yang dihasilkan pada pagi hari hingga siang cenderung mengalami kenaikan dibandingkan energi yang dihasilkan dari siang hingga sore yang semakin berkurang dengan besarnya intensitas penyinaran matahari. Penyimpanan energi pada baterai PLTS, pada panel surya yang terpasang dapat menghasilkan daya 1553,82 Watt selama 9 Jam penyinaran matahari selama satu hari dan dapat mensuplai listrik selama 4 jam 63 menit (Diantari et al., 2018).
Pada sistem solar sel, baterai lead acid lebih banyak digunakan karena ketersediaan ukuran (Ah) yang lebih banyak, lebih murah dan karakteristrik performanya yang lebih cocok Tetapi pada kondisi kritis tertentu seperti kondisi temperature rendah, baterai jenis nickel-cadmium digunakan namun dengan biaya yang lebih mahal (Diantari, Erlina, & Widyastuti, 2018).Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengisian dan pengosongan baterai pada sistem energi terbarukan karena ada hal-hal yang tidak dapat dikontrol oleh pengguna baterai. Hal tersebut menyebabkan pengurangan siklus hidup baterai.
Metode control seperti perlindungan baterai dengan metode arus konstan tegangan konstan (CC-CV) sebagian besar digunakan, juga metode fuzzy logic control (FLC) dan model predictive control atau (MPC). Manfaatnya adalah pengurangan waktu pengisian, peningkatan efisiensi pengisian, mitigasi kenaikan suhu dan menjaga SOC baterai dalam batas aman (Banguero et. al., 2018).Adapun beberapa karakterisitik teknologi baterai dalam penyimpanan energi terbarukan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik berbagai jenis baterai Technlology Pb-
acid
Li-Ion Ni-Cd Na-S
Siklus hidup (siklus)
500- 2000
1000- 10.000
1000- 3500
2000- 5000 Lifetime (thn) 3-15 5-20 5-20 5-20 Efisiensi (%) 70-90 75-95 60-70 71-90 Kapasitas
(MW)
0.001- 50
0.001- 50
0-50 0.05- 30 Biaya modal
($/kWh)
50- 400
600- 2500
400- 2400
200- 600 Sumber: Banguero et al. 2018
4.3 Energi Terbarukan dan Sistem
Penyimpanan Energi Sebagai Early Respon System dalam Penanganan Bencana
Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan BNPB menjelaskan bahwa kondisi rawan bencana didefinisikan sebagai kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Kondisi rawan bencana maka daerah tersebut memiliki risiko terhadap bencana. Dalam SNI 8357:2017, risiko bencana didefinisikan sebagai potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu (Badan Standardisasi Nasional, 2017). Oleh karena itu, perlu proses sistematis menggunakan arahan administrasi, organisasi, dan keterampilan dan kapasitas operasional untuk melaksanakan strategi, kebijakan dan ditingkatkan kapasitas penanganan untuk mengurangi dampak buruk dari bahaya dan kemungkinan bencana. Untuk itu, perlu adanya mitigasi bencana, yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdayaguna. Mitigasi bencana bertujuan dalam hal pengurangan dan menajemen risiko bencana. Hal ini dapat dilakukan mulai dari tindakan perencanaan hingga respon pasca bencana.
Selain diakibatkan oleh bencana alam, ketidakpastian pasokan listrik juga dapat terjadi karena adanya kegagalan peralatan dan lonjakan kebutuhan listrik, kecelakaan fatal atau bahkan kesalahan operasional oleh tenaga kerja.
Penyebab-penyebab tersebut mengakibatkan tidak adanya pasokan listrik. Terputusnya aliran listrik itu berkaitan juga dengan ketahanan dan konfigurasi sitem catu daya atau Power Supply System (PSS). Kumar, Ghosh, & Chopra (2020) telah mengusulkan konfigurasi PSS terdiri dari jaringan listrik (EG), pembangkit listrik tenaga gas alam (NGPG), penyimpanan energi baterai (BES), dan fotovoltaik (PV) sebagai aset.
Konfigurasi tersebut menjadi solusi yang dapat diandalkan dalam keadaan darurat.
Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2018, sudah terjadi 13 gempa/tsunami yang berdampak masif di Indonesia (Cahyadi, 2017;
Muhari, 2018; Nugraha, 2020; Pradono, 2018).
Bencana tsunami di Banda Aceh, menjadi catatan sejarah bencana bagi Indonesia yang paling
mematikan, hingga korban mencapai 167.800 jiwa (Reid, 2015). Dalam keadaan darurat akibat bencana seperti gempa dan tsunami, biasanya terjadi pemadaman listrik oleh PLN. Berbagai sarana dan prasarana rusak akibat gempa, yang akan mengganggu penyediaan listrik, air minum dan jaringan komunikasi. Fasilitas air bersih dan air minum sangat penting harus disediakan pada situasi tanggap darurat karena jika air minum dan air bersih tidak tersedia maka para korban akan menderita berbagai penyakit akibat langkanya air.
Peran energi terbarukan dan penyimpanan energi sebagai respon awal sangat dibutuhkan.
Seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, untuk memenuhi kebutuhan air bersih akibat gempa bumi, dilakukan perancangan unit pengolahan air siap minum yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu unit penggerak, unit pengolahan dan unit pembangkit tenaga. Unit penggeraknya adalah mobil dengan daya angkut 2500 kg untuk memindahkan air siap minum menuju lokasi sasaran. Unit pengolah air terdiri atas jaringan input, pompa sumur air baku, berbagai filter dan unit sterilisator yang terdiri atas pembangkit ozon dan sterilisator ultraviolet.
Komponen selanjutnya yaitu unit pembangkit tenaga listrik berupa generator dengan daya 3500 watt (Indriatmoko & Widayat, 2007). Dalam hal menangani kebutuhan listrik termasuk kebutuhan penerangan yang banyak dilakukan selama ini adalah menggunakan genset sebagai sumber energi listriknya. Sedangkan untuk mengatasi masalah komunikasi akibat bencana, manajemen teknologi informasi dan komunikasi dinilai penting. Penggunaan teknologi komunikasi yang digunakan yaitu mengandalkan radio komunikasi atau radio pancar, EWS (electronic warning system) serta internet dan pengaplikasiannya akan berbeda-beda tergantung dari profil wilayah bencana (Sosiawan, 2015).
4.4 Peran standar dalam kebencanaan dan pemanfaatan energi terbarukan
Berbagai upaya telah dilakukan dalam untuk mencegah dan penanggulangan bencana, termasuk menyediakan standar yang tepat.
Penerapan standar merupakan kegiatan penerapan suatu standar terhadap barang, jasa, sistem, proses atau personel (Saleh et al., 2018).
Manfaat penerapan standar secara ekonomi dapat dihitung menggunakan ISO methodology.
Tujuan dari ISO methodology ini adalah menyediakan seperangkat metode untuk mengukur dampak standar pada penciptaan nilai- nilai organisasi dengan penekanan pada bisnis organisasi, memberikan kriteria yang jelas dan terkelola dengan baik bagi pengambil keputusan untuk menilai hal-hal (value) yang berhubungan
dengan standar dan memberikan pedoman untuk menilai manfaat dari standar pada sektor tertentu (International Organization for Standardization, 2010) Penerapan standar telah memberikan suatu manfaat ekonomi pada pihak penerap standar di sektor makanan (Mulyono &
Pudjiastuti, 2013) dan beberapa UKM pada berbagai sektor (Susanto, Isharyadi, & Ritonga, 2017). Penerapan standar juga memberikan perlindungan terhadap keselamatan seperti pada produk kelistrikan (Waluyo & Tampubolon, 2008), sebagai upaya pencegahan kebakaran pada bangunan bertingkat (Rahardjo, Hafizh, &
Prihanton, 2019) dan manfaat meminimalkan risiko akibat bencana seperti gempa (Haris, 2020).
Terkait dengan kebencanaan, beberapa standar masih berlaku dan sebagian telah diabolisi. Saat ini terdapat 10 standar mengenai kebencanaan gempa, enam standar masih berlaku dan empat standar sudah tidak berlaku.
Standar-standar yang masih berlaku tersebut ialah SNI 8899:2020, SNI 1726:2019, SNI 2833:2016, SNI 1726:2012, SNI 04-3890.2.6- 2002 dan SNI 04-6186.21.1-2000. Adapun standar mengenai kebencanaan tsunami yaitu sebanyak lima SNI dan semuanya masih berlaku hingga saat ini. Standar-standar tersebut
ialah SNI 8040:2017, SNI 8040:2017, SNI 8358:2017, SNI 7766:2012 dan SNI 7743:2011.
Standar terkait dengan energi terbarukan yang berasal dari tenaga surya adalah sebanyak 35 SNI yang didalamnya sudah mencakup standar mengenai sel dan baterai untuk penyimpanan energi terbarukan seperti yang tercantum pada Tabel 3. Diharapkan dengan adanya standar-standar tersebut, baik mengenai standar kebencanaan maupun standar penyediaan energi terbarukan dapat menjadi solusi dalam menanggulangi bencana di Indonesia dan dapat meminimalisir kerugian yang ditimbulkan akibat dari bencana gempa dan tsunami. Berbagai standar yang ada berkontribusi untuk meniminimalkan kerugian yang ditimbulkan apabila terjadi bencana dan penanggulangan pasca bencana. Standar terkait energi surya dan penyimpanannya, dapat digunakan dan diterapkan pada pemanfaatan energi surya dalam hal energi terbarukan sebagai early response system dalam penanganan bencana gempa dan tsunami. Sehingga dapat memberikan pasokan energi listrik bagi daerah terdampak bencana dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Penyimpanan energi surya melalui BESS juga mudah dilakukan pada saat pasca bencana karena hanya mengandalkan energi surya yang dapat diperoleh sehari-hari apabila ada matahari.
Tabel 3. Daftar SNI bidang energi surya
No Tahun No Standar Judul Standar
1 1992 SNI 04-3021-1992 Pemanas air tenaga surya tipe domestik sistem termosifon langsung dengan pemanas tambahan 2 1995 SNI 04-3850.2-1995 Modul fotovoltaik. Bagian 2: Pengukuran
karakteristik arus tegangan sel/modul fotovoltaik 3 1995 SNI 04-3850.1-1995 Modul fotovoltaik. Bagian 1: Umum
4 2000 SNI 04-6302-2000 Pengenalan fotovoltaik yang dikopel langsung dengan sistem pompa
5 2000 SNI 04-6298-2000 Pengujian korosi akibat kabut garam air laut pada modul fotovoltaik
6 2000 SNI 04-6205.9-2000 Gawai fotovoltaik - Bagian 9: Persyaratan unjuk kerja simulator surya
7 2000 SNI 04-6205.8-2000 Gawai fotovoltaik - Bagian 8: Petunjuk pengukuran respons spektral gawai fotovoltaik
8 2000 SNI 04-6391-2000 Battery charge regulator (BCR) - Prosedur uji dan persyaratan elektris
9 2000 SNI 04-6392-2000 Sel dan baterai sekunder untuk penggunaan sistem pembangkit listrik fotovoltaik individual - Persyaratan umum dan metode pengujian
10 2000 SNI 04-6394-2000 Prosedur penentuan klasifikasi sistem pembangkit listrik fotovoltaik individual - Pedoman umum 11 2000 SNI 04-6205.7-2000 Gawai fotovoltaik - Bagian 7: Perhitungan
kesalahan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian respons spektral pada pengujian suatu gawai fotovoltaik
12 2000 SNI 04-6300-2000 Modul fotovoltaik terestrial film-lapisan tipis
No Tahun No Standar Judul Standar
13 2000 SNI 04-6206-2000 Sistem pembangkit daya fotovoltaik terestrial - Umum dan pedoman
14 2001 SNI 04-6533-2001 Pengujian ultraviolet modul fotovoltaik
15 2009 SNI IEC 62257-4:2009 Rekomendasi untuk sistem energi terbarukan dan dan hibrida skala kecil untuk listrik perdesaan - Bagian 4: Pemilihan dan rancangan system 16 2011 SNI IEC 60904-1:2011 Gawai fotovoltaik - Bagian 1: Pengukuran
karakteristik arus - tegangan fotovoltaik
17 2011 SNI IEC 60904-7:2011 Gawai fotovoltaik - Bagian 7: Perhitungan kesalahan ketidaksesuaian spektral pada pengujian gawai fotovoltaik
18 2013 SNI IEC 61215:2013 Modul fotovoltaik silikon kristal - Kualifikasi disain dan pengesahan jenis
19 2013 SNI IEC 61194:2013 Paramater karakteristik sistem fotovoltaik yang berdiri-sendiri
20 2016 SNI IEC 61727:2016 Sistem fotovoltaik (FV) - Karakteristik antarmuka utilitas (IEC 61727:2004, IDT)
21 2016 SNI IEC 61730-1:2016 Kualifikasi keselamatan modul fotovoltaik (FV) – Bagian 1: Persyaratan konstruksi (IEC 61730-1:
2013, IDT)
22 2016 SNI IEC 61730-2:2016 Kualifikasi keselamatan modul fotovoltaik (FV) – Bagian 2: Persyaratan pengujian (IEC 61730-2:
2012, IDT)
23 2016 SNI IEC 62124:2016 Sistem fotovoltaik yang berdiri sendiri - Verifikasi desain (IEC 62124:2004, IDT
24 2016 SNI IEC 62446:2016 Sistem fotovoltaik terhubung ke jaringan listrik - Persyaratan minimum untuk sistem dokumentasi, uji komisioning dan inspeksi (IEC 62446:2009, IDT) 25 2016 SNI IEC TS 62257-1:2016 Rekomendasi untuk sistem energi terbarukan dan hibrida untuk listrik perdesaan – Bagian 1:
Pengantar umum untuk seri IEC 62257 dan listrik perdesaan (IEC TS 62257-1:2015, IDT)
26 2016 SNI IEC 61215-1:2016 Modul fotovoltaik (FV) terrestrial – Kualifikasi desain dan pengesahan jenis – Bagian 1:
Persyaratan uji (IEC 61215-1:2016, IDT)
27 2016 SNI IEC 61215-1-1:2016 Modul fotovoltaik (FV) terestrial– Kualifikasi desain dan pengesahan jenis – Bagian 1-1: Persyaratan khusus untuk pengujian modul fotovoltaik (FV) silikon kristalin (IEC 61215-1-1:2016, IDT)
28 2016 SNI IEC 61215-2:2016 Modul fotovoltaik (FV) terestrial - Kualifikasi desain dan pengesahan jenis - Bagian 2: Prosedur uji (IEC 61215-2:2016, IDT)
29 2017 SNI 8395:2017 Panduan studi kelayakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) fotovoltaik
30 2018 SNI IEC/TS 62257-4:2018 Rekomendasi sistem untuk energi terbarukan dan hibrida untuk elektrifikasi perdesaan – Bagian 4 : Pemilihan dan rancangan system (IEC/TS 62257- 4:2015, IDT)
31 2018 SNI IEC/TS 61836:2018 Sistem energi fotovoltaik surya – Istilah, definisi dan simbol (IEC/TS 61836:2016, IDT)
32 2018 SNI IEC/TS 62257-7:2018 Rekomendasi sistem untuk energi terbarukan dan hibrida untuk elektrifikasi perdesaan - Bagian 7:
Generator (IEC/TS 62557-7:2008, IDT)
33 2018 SNI IEC 61427-1:2018 Sel dan baterai sekunder untuk penyimpanan energi terbarukan – Persyaratan umum dan metode uji – Bagian 1: Aplikasi pada fotovoltaik off- grid (IEC 61427-1: 2013, IDT)
No Tahun No Standar Judul Standar
34 2014 SNI IEC 62116:2014 Inverter fotovoltaik terhubung ke jaringan listrik – Prosedur uji tindakan pencegahan islanding (IEC 62116:2014, IDT)"
35 2016 SNI IEC 62446-1:2016 Sistem Fotovoltaik (FV) – Persyaratan untuk pengujian, dokumentasi dan pemeliharaan - – Bagian 1: Sistem terkoneksi jaringan listrik – Dokumentasi, uji komisioning dan inspeksi (IEC 62446-1:2016+AMD1:2018 CSV, IDT)"
5. KESIMPULAN
Pencegahan atau mitigasi dan upaya penanggulangan akibat bencana gempa dan tsunami telah banyak dilakukan dan seringnyamembutuhkan waktu yang lama. Akibat yang paling dirasakan setelah terjadinya bencana gempa dan tsunami adalah tidak tersedia aliran energi listrik yang merupakan kebutuhan sangat penting. Penggunaan energi terbarukan menjadi solusi yang dapat diandalkan, terlebih Indonesia memiliki banyak potensi untuk dikembangkan, seperti tenaga air, panas bumi, bioenergi, energi matahari, energi angin dan enrgi laut. Potensi energi matahari sebagai energi terbarukan paling besar dibandingkan potensi energi terbarukan lainnya. Potensi energi matahari yang dimiliki Indonesia sebesar 207.8 GWp. Energi matahari dapat disimpan melalui suatu sistem penyimpanan yang portable yaitu baterai.
Penggunaan baterai yang portable dinilai lebih mudah dan fleksibel sebagai early response system penanggulangan bencana akibat gempa dan tsunami. Tidak terlepas dari itu, berbagai Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait penanggulangan bencana gempa dan tsunami pun telah ada. Sebanyak 10 standar mengenai kebencanaan gempa telah diterbitkan, enam standar masih berlaku dan empat standar sudah tidak berlaku. Adapun standar mengenai kebencanaan tsunami yaitu sebanyak lima standar dan semuanya masih berlaku hingga saat ini. Sedangkan standar terkait dengan energi terbarukan yang berasal dari tenaga surya adalah sebanyak 35 SNI yang didalamnya sudah mencakup standar mengenai sel dan baterai untuk penyimpanan energi terbarukan. Adanya standar kebencanaan diharapkan dapat meminimalkan risiko yang ditimbulkan dari bencana gempa dan tsunami di Indonesia.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pusrisbang SDM BSN yang telah memfasilitasi kajian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada rekan-rekan peneliti Pusrisbang SDM yang telah memberikan masukan, saran, koreksi dan ilmu yang sangat bermanfaat sehingga artikel ini dapat tersusun dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, S. (2005). Strategi Untuk Mengurangi Kerusakan Lingkungan Yang Diakibatkan Oleh Gempa Dan Gelombang Tsunami.
Jurnal Arsitektur “ATRIUM,”2(1), 28–33.
Arvirianty, A. (2018). 10 Hari Pasca-Gempa, Listrik Palu-Donggala Pulih 100%.
Retrieved from
https://www.cnbcindonesia.com/news/201 81008131904-4-36442/10-hari-pasca- gempa-listrik-palu-donggala-pulih-100. [29 Agustus 2021]
Azhar, R. A. (2018). Korban Gempa Palu Kesulitan Dapat Air Bersih. Retrieved from https://regional.kompas.com/read/2018/09/
30/07462591/korban-gempa-palu-
kesulitan-dapat-air-bersih. [29 Agustus 2021]
Azirudin, T. (2019). Potensi Energi Angin Di Atas Bangunan Bertingkat Di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan, 18(1), 23–28.
Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 8357:2017 Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Banguero, E., Correcher, A., Navarro, A. P., Morant, F., & Aristizabal, A. (2018). A Review on Battery Charging and Discharging Control Strategies : Application to Renewable Energy Systems.
Energies, 11, 1–15.
https://doi.org/10.3390/en11041021 Borhanazad, H., Mekhilef, S., Saidur, R., &
Boroumandjazi, G. (2013). Potential application of renewable energy for rural electri fi cation in Malaysia. Renewable
Energi, 59, 210–219.
https://doi.org/10.1016/j.renene.2013.03.0 39
Cahyadi, M.N. (2017). Perbandingan perubahan total electron content (TEC) ionosfer akibat gempa bumi dan letusan gunung api (studi kasus : gempa bumi 2 Maret 2016 dan gunung merapi 2010). Geoid, 12(2), 195- 201.
http://iptek.its.ac.id/index.php/geoid/article/
viewFile/3623/2812
Diantari, R. A., Erlina, & Widyastuti, C. (2018).
Studi Penyimpanan Energi Pada Baterai PLTS. Energi & Kelistrikan, 9(2), 120–125.
Hakim, R. R. A. (2020). Model Energi Indonesia, Tinjauan Potensi Energi Terbarukan untuk Ketahanan Energi di Indonesia: Sebuah Ulasan. ANDASIH Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 11–21.
Retrieved from
http://www.jurnal.umitra.ac.id/index.php/A NDASIH/article/view/374
Haris, A. (2020). TANTANGAN DAN PELUANG RISET SRTRUKTUR ANTISIPASI GEMPA TEPAT GUNA di INDONESIA.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL DMI, 1, 1–8.
Indriatmoko, R. H., & Widayat, W. (2007).
Penyediaan Air Siap Minum Pada Situasi Tanggap Darurat Bencana Alam. JAI, 3(1), 29–37.
International Organization for Standardization.
(2010). Economic Benefit of Standards, Implementation Guide. Geneva
Kholiq, I. (2015). Pemanfaatan Energi Alternatif Sebagai Energi Terbarukan Untuk Mendukung Subtitusi BBM. Jurnal IPTEK, 19(2), 75–91.
Kumar, N. M., Ghosh, A., & Chopra, S. S. (2020).
Power Resilience Enhancement of a Residential Electricity User Using Photovoltaics and a Battery. Energies, 13, 1–27.
Kurniawan, E. R., Supriyadi, I., & Sasongko, N. A.
(2018). Analisis Biaya Manfaat Energi Surya Untuk Mendukung Pasokan Energi Integrated Cold Storage Di SKPT Kota Sabang. Ketahanan Energi, 4(1), 1–25.
Laksono, D. N. (2020). Perancangan Tas Siaga Berbasis Sel Surya untuk Pompa Air dan Penerangan pada Kondisi Gawat Darurat bencana. Universitas Islam Indonesia.
Li, K., Liu, C., Jiang, S., & Chen, Y. (2020).
Review on hybrid geothermal and solar power systems,” Journal of Cleaner Production. Journal of Cleaner Production, 250.
Marwanta, B. (2005). Tsunami Di Indonesia Dan Upaya Mitigasinya. Alami: Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana, Vol. 10.
Muhari, A., Imamura, F.,Arikawa, T., Hakim, A.R., Afriyanto, B. (2018). Solving the puzzle of
the september 2018 Palu, Indonesia, tsunami mystery: clues from the tsunami waveformand the Initial field survey data.
Journal of Disaster Research, 13.
http://earthjay.com/earthquakes/20180928 _indonesia/muhari_etal_2018_tsunami_m ystery_2018_palu.pdf
Mulyono, A. B., & Pudjiastuti, U. (2013).
MENGGUNAKAN METODOLOGI ISO The Economic Benefit for Standard Implementation in Food Sector Using ISO.
Jurnal Standardisasi, 15(1), 66–81.
Naional, T. P. S. G. (2017). Buku Peta Gempa 2017. Jakarta: Pusat Penelitian dan pengembangan Perumahan Pemukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat.
Nakata, T., Kubo, K., & Lamont, A. (2005). Design for renewable energi systems with application to rural areas in Japan. Energi
Policy, 33, 209–219.
https://doi.org/10.1016/S0301-
4215(03)00218-0Nur, A. M. (2010). Gempa Bumi, Tsunami Dan Mitigasinya. Jurnal
Geografi, 7(1), 66–73.
https://doi.org/10.15294/jg.v7i1.92
Praditya, I. I. (2018). Pemulihan Listrik Capai 100 Persen Pasca Tsunami Selat Sunda.
Retrieved from
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3859 313/pemulihan-listrik-capai-100-persen- pasca-tsunami-selat-sunda. [29 Agustus 2020]
Pradono, M.H. (2018). Kajian kerentanan bangunan pasca gempa lombok 5 Agustus 2018. Jurnal Alami, 2(2), 82-88. Doi:
https://doi.org/10.29122/alami.v2i2.3109 Rahardjo, H. A., Hafizh, N., & Prihanton, M.
(2019). Manajemen Risiko Kebakaran Untuk Keberlangsungan Fungsi Bangunan.
Seminar Nasional Sains Dan Teknologi 2019 Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta, 1–10.
Reid, A. (2015). History and seismology in the ring of fire, punctuating the indonesian past.
Doi: 10.1163/9789004288058_006Rika, H.
(2018). Status Penanganan Bencana Sulteng Masuk Masa Transisi Darurat.
Retrieved from
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20 181026195658-20-341812/status-
penanganan-bencana-sulteng-masuk- masa-transisi-darurat. [29 Agustus 2021]
Saleh, A. R., Sumarni, E., Nihayati, N., &
Bahrudin, M. (2018). Distribusi Standar Nasional Indonesia Kepada Masyarakat Melalui Layanan Perpustakaan. Jurnal Standardisasi, 18(2), 139.
https://doi.org/10.31153/js.v18i2.706 Setiadanu, G. T., Firmansyah, A. I., & Hadiyono,
A. (2016). Analisis Pembangkitan Listrik Untuk Ekonomi Produktif Di Pulau Terluar (Studi Kasus Sentra Pengolahan Ikan di Pulau Morotai). Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan, 15(2), 105–116.
Sihombing, A., & Susila, I. M. A. D. (2016).
Intensitas Energi Dan CO2 Serta Energi Payback Time Pada Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Dan Mikrohidro.
Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan, 15(2), 105–116.
Sosiawan, E. A. (2015). Model Ideal Manajemen Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Mendukung Operasional Penanganan Bencana Alam. JURNAL IPTEKKOM : Jurnal Ilmu Pengetahuan & Teknologi
Informasi, 17(2), 175.
https://doi.org/10.33164/iptekkom.17.2.201 5.175-188
Susanto, D. A., Isharyadi, F., & Ritonga, M.
(2017). Manfaat Ekonomi Penerapan
Standar Pada Usaha Kecil Menengah Menggunakan ISO Methodology. Jurnal Standardisasi, 19(1), 25–38.
Tim Seekretariat Jenderal Dewan Energi nasional. (2019). Indonesia Energi Out Look 2019. Dewan Energi nasional
Utomo, D. P., & Purba, B. (2019). Penerapan Datamining pada Data Gempa Bumi Terhadap Potensi Tsunami di Indonesia.
Prosiding Seminar Nasional Riset Information Science (SENARIS),
1(September), 846.
https://doi.org/10.30645/senaris.v1i0.91 Waluyo, P., & Tampubolon, B. D. (2008). Analisis
Produk Kelistrikan Terpilih Berdasar Tanda Sni Dan Tanda Keselamatan. Jurnal Standardisasi, 10(3), 113–128.
Zulkarnain, Z. (2016). Desain Dan Analisis Struktur Menara Lattice Pembangkit Listrik Tenaga Angin 100 Kw Di Desa Tamanjaya, Sukabumi, Jawa Barat. Ketenagalistrikan Dan Energi Terbarukan, 15(1), 21–32.