IMPLIKASI LANDASAN AGAMA DAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN
DOSEN : Dr. I Ketut Sudarsana,S.Ag.M.Pd.H.
MATA KULIAH : Landasan Pendidikan
NAMA : I KETUT SUKRATA NO. URUT : 15
NIM : 15.1.2.5.0814
PROD 1 : MAGISTER (S2) DHARMA ACARYA IHDN DENPASAR
FAKULTAS DHARMA ACARYA
PROGRAM PASCA SARJANA INTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR
2015
PENDAHULUAN
Tujuan pendidikan nasional terdapat dalam UU Sistem pendidikan nasional yaitu UU No.20 Tahun 2003 : “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri,dan menjadi warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab”
Dalam usaha mencapai tujuan tersebut pendidikan dilakasanakan berdasarkan beberapa landasan. sedangkan pengertian landasan pendidikan adalah asumsi-asumsi yang menjadi dasar pijakan atau titik tolak dalam rangka praktek pendidikan dan studi pendidikan.Landasan agama yang paling mendasari dari landasan-landasan pendidikan. karena landasan agama diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pendidikan di Indonesia dilaksanakan Landasan Agama sesuai dengan agama yang dianut masing-masing warga Negara Indonesia untuk pendidikan yang bernuansakan Hindu maka yang menjadi landasan agama dalam pendidikan bersumber kepada Weda, sebagai Kitab Suci Agama Hindu.Kitab Suci diyakini sebagai suatu kebenaran brupa wahyu dan keyakinan yang ajarannya merupakan tuntunan, pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan.
Tujuan tertinggi Umat Hindu adalah untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan akhirat yang diungkapkan dengamn sloka “Mokshartham Jagadhita ya ca iti dharma” Tujuan hidup ini dirancang melalui empat tempat kehidupan yang disebut Catur Asrama yang terdiri dari (1) Brahmacari, yaitu tempat hidup atau masa hidup untuk menuntut ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai bekal masa kehidupan selanjutnya, (2) Grhasta, yaitumasa hidup berumah tangga. Tujuan hidup pada masa ini adalah untuk melanjutkan keturunan, disamping juga untuk mencari artha dan kama (3) Wanaprasta yaitu masa hidup mengasingkan diri ke hutan dalam arti mengurangi keterikatan dengan aktifitas kehidupan dunia dan menekuni kehidupan spiritual. (4) Sanyasin yaitu kehidupan sebagai pengemis dalam arti hidup dari pemberian anak cucu saja dan berkonsentrasi penuh pada pengabdian diri kepada Tuhan. pada masa ini hanya sebagai penasehat kerohanian diharapakan dengan melaksanakan keempat lapangan kehidupan ini Umat Hindu dapat mencapai tujuan hidupnya dengan sistematis.
PEMBAHASAN
Agama dijadikan pendidikan karena ajaran agama merupakan ajaran kebenaran/kejujuran yang absolute yang diwahyukan tuhan.
Satyam brhad rtam ugara diksa Tapo brahma yajna prthivin Dharayanti
Sa no bhutasya bhavyasya patina
Urum lokam prthivi nah krnotu (Atharvavea XII.1.1) Artinya :
Kebenaran/kejujuran yang agung,hokum-hukum alam yang tidak bisa diubah,pengabdian diri
tapa (pengekangan diri) pengetahuan dan persembahanb (yajna) yang menompang bumi . Bumi senantiasa melindungi kita semoga dibumi menyediakan ruangan yang luas untuk kita
Sloka diatas mengandung pengertian bahwa kejujuran atau kebenaran adalah merupakan hukum alam yang tidak bisa diingkari. Sloka ini menuntut kita agar menjunjung tinggi kejujuran (satyam) dalam menjalankan kehidupan.Kejujuran dikatakan sebagai penyangga bumi. Hal ini kita jumpai pula dalam ungkapan lain “Satyam eva jayate na nrtam” pada akhirnya kejujuranlah yang menang,bukan kebohongan,terkait dengan pendidikan karakter, kejujuran merupakan nilai karakteryang dikembangkan.
Dalam hal pendidikan Agama Hindu mengajarkan untuk mendidik anak dengan ketentuan sebagai berikut :
Kalinganya, dening, anibakna warah-warah ring anak, yan limang tahun tuwuhnya, kadi dening angering anak sang prabhu. Dening anibaken warah iriya, matuha, pwaya ikang swa Putra, kateka ring sadasa tahun tuwunya, irika ta yan warah hulun dening anibaken wara warah, kunang yang atuha ikang anak. Kateka ring nembelas tahun tuwuhnya ika tan yan kadi dening amarah-marah ing mitra dening anibaken warah-warah iriya, mangkana kramaning marah-marah putra, ling Sang Hyang Aji” (Sloka 48)
Artinya
Sampai umur lima tahun, orang tua harus memperlakukan anaknya sebagai raja. Dalam sepuluh tahun berikutnya, sebagai pelayan, dan setelah umur 16 tahun keatas, harus dipelakukan sebagai kawan.
“Kalinganya ikang putra yan lelana tuhun ika tan piniheran, tan wurung mamangguh dosa, kunang ikang putra yan pinadana luhung ika yan sinakitan ing warah-warah, tan wurung ika mamanggu guna matangnyan ikang putra muang sisya tadana nika ,
maran ageng gunanya haywa wineh lalana ling ning Aji” (Sloka; 49)
Artinya
Banyak ketidakbaikan dan banyak pula kebaikan-kebaikan memarahi anak jadi yang perlu dilakukan terhadap anak atau murid ialah hukuman dimana perlu dan bukan kemanjaan.
Kedua kutipan sloka diatas melandasi pendidikan di Indonesia terutama dalam
pendidikan budi pekerti /tata susila.Kutipan di atas mengisyaratkan perlakuan kepada peserta didik hendaknya disesuaikan dengan umur mereka. Hukuman hendaknya diberikan tepat waktu, disamping itu pujian untuk prestasi juga diberikan .
Kunci dari landasan agama adalah NILAI. Nilai terdiri dari : Nilai Agama, Nilai Etika, dan Nilai Estetika, yang ketiganya itu bersumber pada ajaran
Agama,keilmuan,adat,budaya,hokum-hukum positif.
Implikasinya dalam dunia pendidikan adalah dicantumkanya mata pelajaran pendidikan Agama (Hindu) dalam kurikulum satuan pendidikan. disamping itu diakuinya beberapa materi kurikurel Pendidikan Agama Hindu seperti Bimbingan Upakara, Dharmagita,dan Yoga Asanas,untuk diajarkan kepada peserta didik (khusunya ditingkat Sekolah Dasar).Pengembangan lainya adalah adanya kegiatan Pasraman Alit setiap akhir tahun pelajaran.
Dalam usaha meningkatkan kualitas pemahaman peserta didik tentang Pendidikan Agama Hindu, setahun sekali diadakan lomba Dharmagita, Dharma Widhya, Dharma Wacana, untuk tingkat Sekolah Menengah.
Mengenai tenaga pendidik Mata Pelajaran Agama Hindu diampu oleh guru yang telah memenuhi syarat kualifikasi akademik mendapatkan Pendidikan Agama Hindu. SDM tenaga pendidikan ditingkatkan melalui jalur Pendidikan.dan diklat maupun workshop. Lembaga pendidikan Guru Agama Hindu dibangun baik untuk jenjang S1 maupun Pascasarjana.Guru wajib memiliki pengetahuan yang luas dan keterampilan yang bermacam-macam untuk diberikan kepada anak didiknya seperti yang diungkapkan dalam Rgveda :
Yugaya vipra uparaya siksan (Rgveda.VII.87.4) Artinya :
Guru yang berpengetahuan tinggi menanamkan pengetahuan kepada para siswa yang mendekati dia
Ini berarti Guru Agama Hindu berkewajiban meningkatkan potensi dirinya guna tercapainya tujuan pendidikan membentuk peserta didik yang berkualitas.
Filsafat adalah pemikiran atau perenungan tentang hakekat sesuatu secara mendalam.
Dalam konteks pendidikan maka filsafat adalah perenungan yang mendalam tentang hakekat manusia dan pendidiknya.manusia dan pendidiknya meliputi siapa peserta didik,siapa pendidik,kearah mana tujuan pendidikan diarahkan, alat bantu apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan, lingkungan yang bagiamana cocok untuk mengembangkan peserta didik.
Implikasi Landasan Filsafat dalam pendidikan adalah digunakanya Aliran Filsafat dalam memahami dunia Pendidikan. dalam kaitanya dengan pengembangan kurikulum berikut ini diuraikan beberapa aliran Filsafat :
1. Filsafat Perenialisme, berpendapat :
Yang paling benar adalah wahyu Tuhan
Semua pendidikan harus berlandaskan Agama
Yang benar adalah dunia ide,sedangkan dunia nyata hanya semu
Lebih berorientasi kepada masa lalu (pengalaman pengetahuan yang telah dilalui 2. Filsafat Esensialisme
Yang esensial adalah kebenaran yang diperoleh melalui logika yang sehat (contoh : kamu harus pandai)
Karena itu tugas pendidik mengasah otak,logika dan melatih kebiasaan sehingga terbentuk kedisiplinan pada peserta didik
Matematika,sains,dll dianggap sebagai dasar substansi kurikulum
Lebih berorentasi pada masa lalu 3. Filsafat Eksistensialis, berpendapat bahwa :
Pendidikan bersifat individual
Makna hidup ditentukan oleh diri sendiri
Pendidikan adalah membangun kesadaran terhadap keberadaan diri sendiri dengan segala kekuatan dan kelemahan diri sendiri (memahami dirinya sendiri, mempertanyakan bagaimana saya hidup? Apa pengalaman itu?)
4. Filafat Progresivisme,mengatakan bahwa:
Tidak ada kebenaran yang pasti
Semua kebenaran adalah relatif dan malah subyektif
Sesuatu dikatakan benar bila berguna bagi kehidupan
Pendidikan tidak terbatas pada pengalaman akademi, tetapi juga pengalaman di masyarakat yang selalu berubah.Jadi mengajarlah sesuai perkembangan jaman
Mengutamakan pentingnya perbedaan individu
Pembelajaran berpusat pada siswa,variasi pengalaman dan proses pembelajaran sangat diperlukan. fisafat ini merupakan landasan pengembangan cara belajar siswa aktif
5. Filsafat Rekonstruktivisme
Membangun atau membentuk sendiri pengetahuan baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada
Strategi pembelajaran adalah menstruktur peristiwa pembelajran untuk membantu peserta didik mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengankebutuhan dalam situasi yang kongkrit
Peradaban manusia masa depan sangat ditekankan.
Menekankan pemecahan masalah,berfikir kritis,dll
Berorientasi pada hasil belajar 6. Filsafat Pancasila
Pendidikan di Indonesia berlandaskan nilai-nilai pancasila.
Semua kegiatan pendidikan diarahkan pada satu muara yaitu menjadikan manusia Indonesia yang Pancasilais sejati yaitu berketuhanan,Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia,Kerakyatan dan Keadilan Sosial.
KESIMPULAN
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :
Aliran filsafat Perenialisme dan Esensialisme,mendasari kurikulum pada bagian Subjek Akademik. Yang dimaksud Subjek Akademik adalah Mata Pelajaran/bidang studi pada setiap satuan pendidikan.
Aliran progresivisme, mendasari model pendidikan pribadi (lifeskill).pengembangan diri seperti keterampilan-keterampilan Misalnya Mata pelajaran pendidikan Agama Hindu mengembangkan praktek membuat klakat,sanggah caru,merangkai banten caru,dll
Aliran Rekonstrutivisme, mendasari pengembangan model kurikulum instuksional.
Aliran Filsafat Pancasila, mendasari seluruh kegiatan Pendidikan di Indonesia Sejarah yang melandasi Pendidikan di Indonesia:
A. Ki Hajar Dewantara,lahir 25 Pebruari 1889 adalah salah seorang putera terbak negeri ini.
Beliau mendirikan pendidikan kebangsaan yang terkenal dengan taman siswa. sebagai hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara, di bawah ini merupakan hal yang harus dihargai dalam penerapan pendidikan dengan memperhatikan asas pendidikan siswa,yaitu :
Kemerdekaan individu untuk mengatur diri sendiri tetapi tidak mengganggu kepentingan umum
Kemerdekaan berfikir mengembangkan perasaan dan kemauan melakukan sesuatu
Kerakyatan pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat.
Hidup mandiri,berusaha menghidupi diri sendiri serta tidak menerima bantuan yang mengikat
Hidup sederhana agar mampu membiaya diri sendiri.
Mengabdi pada anak semua kegiatan yang dilakukan untuk kepentingan anak.
Dasar Pendidikan “Panca Dharma”
Kemanusiaan, berupaya menghargai dan menghayati semua manusia sebagai ciptaan Tuhan. Meningkatkan kesucian jiwa dan cinta kasih.
Kebangsaan, bersatu dalam suka dan duka tetapi mengindari Chauvinistis (menghindari patriotic yang berlebihan) dan tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan.
Kebudayaan, kebudayaan nasional harus dikembangkan dan dilestarikan dengan konsep Tri Kon (kontinu,konsentrasi,dan konvergensi).
Kodrat Alam, manusia bagian alam dan harus dikembangkan sesuai kodrat alam.
Kemerdekaan/kebebasan, setiap anak diberi kesempatan bebas mengembangkan diri sendiri.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara memiliki ingin memajukan bangsa tanpa membedakan RAS,budaya dan bangsa Melihat buah pemikiran tersebut betapa pemikiranya sampai saat ini masih relevan .bahkan kalau kita perhatikan saat ini bangsa kita masih rentan dengan
perpecahan. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang saat ini dipakai sebagai lambing Departement Pendidikan Nasional (Depdiknas), yaitu Ing Ngarso Sung Tulado, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung Tulado bermakna seorang guru hendaknya memberikan teladan yang baik kepada murid-muridnya. Ing Madya Mangun Karso , menyiratkan seorang guru harus terus membuat inovasi dalam pembelajaran. Dengan Tut Wuri Handayani maka seorang pendidik harus dapat membangkitkan motivasi, memberikan dorongan pada anak didiknya untuk terus maju.
B. Muhamad Syafei, adalah seorang berdarah minang yang dilahirkan di Kalimantan Barat tahun 1895 M.Syafei pernah menempuh pendidikan di negeri Belanda. Sekembalinya dari Belanda , Syafei menerapkan ilmunya dengan mengelola sebuah sekolah yang kemudian dikenal dengan Sekolah INS Kayutama. INS singkatan dari Indonesische Nederlandsche School.
Kayutama adalah nama sebutan desa kecil di Sumatra Barat Cikal Bakal sekolah ini adalah milik jawatan jawatan Kereta api yang dipimpin oleh ayahnya. Akibat kemampuan Syafei mengelolah sekolah ini kemudian sekokah ini tersohor dengan nama Ruang Pendidikan Indonesischen Nederlandsche School Kayutama ( RP INS).
Tujuan Pendidikan : mendidik siwa hidup mandiri dengan jiwa merdeka, percaya diri, mengembangkan sikap social, hidup harmoni (keserasian,perasaan, kecerdasan, dan keterampilan).Struktur Pembelajarannya: teori-praktek (bengkel, kebun, koperasi, asrama).Di samping bekerja anak-anak juga berupaya mencari uang sendiri dengan cara menjual barang- barang hasil karya sendiri, berkoperasi dan mengadakn pentas seni keliling.
C. KH. Ahmad Dahlan.
Tokoh Pendidikan Islam di Yogyakarta. Dasar Pendidikanya :
Perubahan cara berfikir, kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berfikir dan bertindak dari kebiasaan lama yang kurang tepat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kemasyarakatan, perkembangan individu dan masyarakat diperhatikan hingga menjadi imbang.
Aktivitas, anak harus aktif sendiri untuk memperoleh pengetahuan dan diamalkan pada msayarakat
Kreativitas, yaitu keterampilan dan kiat guna menghadapi situasi baru secara tepat dan cepat.
Optimisme, keyakinan bahwa melalui pendidikan cita-cita akan tercapainya asal dengan semangat berdedikasi bekerja sesuai yang digariskan tuhan.
Implikasi Landasan Sejarah dalam Pendidikan :
Memahami potensi peserta didik
Mengembangkan sesuai dengan potensi masing-masing
Tidak memaksakan kehendak
Memberi pengakuan/penguatan dan memberikan hukuman secara proporsional.
DAFTAR BACAAN
Sudarsana, I. K. (2014). PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN UPAKARA BERBASIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU KEWIRAUSAHAAN: Studi pada Remaja Putus Sekolah di Kelurahan Peguyangan Kota Denpasar.
Sudarsana, I. K. (2015). PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DALAM UPAYA PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA. Jurnal Penjaminan Mutu, (Volume 1 Nomor 1 Pebruari 2015), 1-14.
Sudarsana, I. K. (2016). DEVELOPMENT MODEL OF PASRAMAN KILAT LEARNING TO IMPROVE THE SPIRITUAL VALUES OF HINDU YOUTH. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 217-230.
Sudarsana, I. K. (2016). PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN DALAM BUKU LIFELONG LEARNING: POLICIES, PRACTICES, AND PROGRAMS (Perspektif Peningkatan Mutu Pendidikan di Indonesia). Jurnal Penjaminan Mutu, (2016), 44-53.