BAB I PENDAHUUAN
A. Latar Belakang
Studi peneitian ini akan mengkaji dan mendalami mengenai strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian pemuda di wilayah pedesaaan dalam rangka pengendalian siaga kebencana berbasis masyarakat di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Pemuda menjadi sebuah kata yang terikat dengan pandangan semangat juang tinggi, kerja keras, penuh harapan, dan energi. Selain itu, pemuda juga ditarik sebagai pionir dan garda depan terjadinya sebuah pergerakan dan perubahan (agent of change). Hal ini sesuai, karena pemuda termasuk dalam masa kehidupan manusia di kelompok produktif dengan rentang usia 18-65 tahun. Hal tersebut bedasarkan data terbaru dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip dalam portal resmi berita liputan6.com pada unggahannya 25 September 2021.1
Disamping itu pemuda sebagai kelompok produktif menjadi sumber daya manusia yang potensial bagi perkembangan dan kemajuan bangsa. Pelibatan pemuda dalam segala sektor kehidupan menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan, salah satunya dalam sektor pengembangan dan pembangunan kehidupan sosial masyarakat. Peran dan kontribusi seorang pemuda juga tergambar jelas dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dari sejarah tersebut kita tahu bahwa kemerdekaan Indonesia dapat disegerakan dan diproklamasikan atas dorongan para pemuda kepada kaum tua sebagaimana dalam peristiwa Rengasdengkok pada 16 Agustus 1945.
Kemudian, terkait pembahasan mengenai pemuda dalam Islam terdapat sebuah kisah yang sangat luar biasa akan suri tauladan kehidupan hingga terabadikan dalam Al-Qur’an. Kisah pemuda yang beriman dan pemberani tersebut ialah kisah sang Ashabul Kahfi. Berikut adalah ayat al-Qur’an yang menerangkan kisah pemuda Ashabul Kahfi.
1 Hanz Jimenez Salim, “Cek Fakta: Tidak Benar WHO Keluarkan Kriteria Baru Kelompok Usia,” Liputan 6, 25 September 2021, Diakses pada 19 Januari 2022, https://www.liputan6.com/cek-fakta/read4667121/cek-fakta- tidak-benar-who-keluarkan-kriteria-baru-keompok-usia.
Artinya : “(Ingatlah) ketika para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi- Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)” [Q.S. Al-Kahfi: 10].2
Berdasarkan kisah Ashabul Kahfi dapat dipahami dan dijadikan sebagai tauladan, khususnya para pemuda era global saat ini, mengingat realita yang ada di tengah seperti saat ini. Para pemuda pada saat ini cenderung disibukkan dengan berbagai aktivitas yang hanya terbatas pada lingkup dunianya sendiri.
Untuk itu, para pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus untuk memantik dan mendorong mereka lebih mengeksplor dan meyalurkan segala potensi diri dalam memebawa kebermanfaatan bagi dunia luar utamanya bagi masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu, kepekaan sosial perlu diasah lebih dalam diri pemuda.
Salah satunya, kepekaan sosial terhadap lingkungan di sekitar pada masa Pandemi COVID-19 seperti saat ini.
COVID-19 menjadi virus yang bersifat menular dari manusia ke manusia lainya. COVID-19 ini menyerang saluran pernafasan manusia, dan kasus terparah menyebabkan kematian.
Hal ini dimulai dari akhir tahun 2019 di sebuah kota di negara China, tepatnya di kota Wuhan yang menjadi awal munculnya sebuah virus baru yang menjadi wabah di negara tersebut. Virus tersebut bernama Corana Virus Disease 19 (COVID-19). Virus ini bersifat menular dari manusia ke manusia lainya. COVID-19 ini menyerang saluran pernafasan manusia, dan kasus terparah menyebabkan kematian. Saat ini COVID-19 telah menjadi pandemi bagi seluruh negara di dunia.
Di Indonesia kasus pertama COVID-19 dikonfirmasi oleh pemerintah secara langsung pada Senin, 2 Maret 2020.
Sebagaimana yang dipaparkan dalam portal berita online resmi CNN Indonesia (2020), yang menngungkapkan bahwa kasus
2 Al-Qur’an, Al-Alim Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Ilmu Pengetahuan, (Bandung: Mizan Pustaka, 2009), 294.
pertama berawal dari dua orang yang sebelumnya memiliki riwayat kontak interaksi dengan warga negara Jepang.3 Setelah itu kasus COVID-19 di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami peningkatan. Pemerintah Indonesia berupaya melalui pemberlakuan berbagai kebijakan guna menekan wilayah penyebaran, mulai dari pembatasan sosial sosial dengan kampanye belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah.
Data terakhir pada 31 Januari 2022 tercatat di laman website resmi pemerintah mengenai COVID-19 mencapai 4.353.370 kasus positif dengan 4.140.454 dinyatakan sembuh, serta 144.320 kasus meninggal dunia.4 Seiring berjalannya waktu, tercatat pada taggal 16 Desember 2022 ditemukan varian virus Corona baru yang dikenal sebagai varian Omicron. Kasus varian baru ini dengan segera dilakukan pelacakan asal usul, yang akhirnya mengarah pada WNI berinisial N yang sedang menjalani karantina di Wisma Atlet. WNI tersebut diketahui memiliki riwayat perjalanan dari Nigeria pada 27 November 2021.5
Pemberlakuan kebijakan tidak menjadi satu-satunya jalan yang dapat menghentikan laju COVID-19, meainkan dibutuhkan aksi dan tindakan nyata dari berbagai pihak dalam menekan dan meminimalisir dampak-dampak yang ditimbukan dari Pandemi COVID-19 ini. Mengacu pada kondisi darurat yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia tidak dapat ter-cover seluruhnya oleh pemerintah pusat. Untuk itu, pemerintah lokal sebagai pemegang wewenang memiliki peran besar dalam mengambil tindakan guna menekan dan meminimalisir dampak secara cepat di wilayah pedesaan. Di samping itu, peran lembaga ataupun organisasi kebencanaan sebagai tangan panjang pemerintah juga memiliki peran dan tugas khusus dalam membantu mengendalikan kondisi di berbagai daerah. Salah satunya organisasi Kemanusiaan yang
3 NN, “Jokowi Umumkan Dua WNI Positif Corona di Indonesia”, CNN Indonesia, 02 Maret 2020, Diakses pada 19 Januari 2022 pukul 21.53 WIB, https://www.cnnindonesia.com/nasiona/20200302111534-20-479660/jokowi- umumkan-dua-wni-positif-corona-di-indonesia.
4 Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Diakses dari https://COVID19.
go.id pada 01 Februari 2022.
5 Syahrizal Sidik, “Terungkap! Kasus Omicron Pertama di RI Berasal Dari Nigeria”, CNBC Indonesia, 19 Desember 2021, Diakses pada 01 Februari 2022 pukul 22.28 WIB, https://cnbcindonesia.com/news/20211219193512-4- 300428/terungkap-kasus-omicron-pertama-di-ri-berasal-dari-nigeria.
bergerak dan berperan dalam membantu penanganan bencana Pandemi COVID-19 yakni Palang Merah Indonesia (PMI).
Sebagai salah satu program utama yang tengah digerakkan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) adalah program “Siaga bencana berbasis masyarakat atau Sibat”. Program ini tertuju pada penguatan sistem pengendalian bencana yang ada di masyarakat dari lingkup paling dekat yakni di wilayah pedesaan. Desa Tigajuru menjadi salah satu desa yang mendapatkan pendampingan dalam pembentukkan relawan dari program Sibat tersebut. Pemilihan Desa Tigajuru sebagai lokasi pelaksanaan program dan pembentukan relawan siaga bencana berbasis masyarakat (Sibat) berdasarkan atas pertimbangan wilayah yang dekat dengan titik COVID-19 yang tinggi. Lokasi tersebut tepatnya di sebagian besar desa di wilayah Kecamatan Nalumsari yang berada di sebelah timur wilayah Kecamatan Mayong.
Pada pertengahan tahun 2021 tepat bulan Mei hingga Juli terjadi lonjakan angka COVID-19 di beberapa wilayah di Kabupaten Jepara, diantaranya di Kecamatan Nalumsari dan Kecamatan Mayong. Pada berita online disebutkan bahwa lonjakan di wilayah tersebut dimulai pada bulan Mei setelah libur lebaran, yang mana sebanyak 51 orang dinyatakan positif Covid- 19 di salah satu RT di Desa Nalumsari. Dari hal tersebut diberlakukan karantina wilayah dalam satu RT tersebut. 6
Kemudian data lain mengungkapakan terjadi lonjakan kasus COVID-19 sebanyak 2.567 kasus Covid-19 pada hari Minggu, 20 Juni 2021, dengan rincian di Kecamatan Nalumsari sebanyak 19 orang dirawat dan 42 orang isolasi. Selanjutnya di Kecamatan Mayong pada waktu yang sama tercatat ada 26 dirawat dan 151 orang isolasi.7 Dari sinilah yang menjadi dasar pemilihan desa Tigajuru dalam pembentukan Tim Siaga bencana berbasis masyarakat di masa Pandemi Covid-19. Di samping itu juga lokasi daerah Desa Tigajuru yang strategis yang dekat dengan beberapa desa yang memiliki potensi bencana banjir tahunan di musim penghujan termasuk di dalamnya Desa Tigajuru sendiri.
Program Siaga bencana berbasis masyarakat ini menjadi sebuah implementasi yang nyata dari konsep pemberdayaan
6 Situs berita online Kabupaten Jepara, “Satu RT di Nalumsari Berlakukan Karantina Wilayah” diakses dari https://jepara.go.id/2021/05/27/
satu-rt-di-naumsari-berlakukan-karantina-wilayah/# pada tanggal 4-07-2022.
7 Situs Resmi Corona Kabupaten Jepara, Di akses dari https://corona.jepara.co.id/ pada 4-07-2022.
masyarakat. Hal tersebut atas dasar bahwa, melalui penguatan individu sebagai anggota masyarakat dapat memberikan kekuatan internal guna lebih cepat dan tepat dalam penanganan dan pengendalian kebencanaan dari tingkat desa. Dengan demikian program Sibat dapat dikatakan sebagai program yang berasal, oleh, dan untuk masyarakat sebagaimana konsep dasar pemberdayaan masyarakat.8
Sebelumnya penelitian terkait dengan pengendalian kebencanaan telah dikaji oleh Nuswatul Khaira, T. Iskandar Faisal, dan Nora Veri yang membahas mengenai proses edukasi pengedalian kebencanaan dapat meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir Sungai Krueng di Langsa Nanggroe Aceh Darussalam. Penelitian ini menjadi salah satu penelitian quasi experiment dengan menggunakan metode one group pre test-post test design.
Kemudian untuk pengambilan data dilakukan pada 66 kepala keuarga sebagai sempelnya.9
Pada penelitian lainnya mengulas mengenai kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat di Desa Diloato, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo. Bagian pembahasan dalam penelitian tersebut menggambarkan proses pembentukan relawan pada tingkat desa dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Jenis penelitian tersebut merupakan penelitian pengabdian. Metode yang digunakan oleh peneliti tersebut yakni Participatory Rural Apraisal (PRA) yang menjadi salah satu jenis metode pemberdayaan masyarakat. 10
Kemudian penelitian lain mengenai sistem pengendalian bencana berbasis masyarakat melalui identifikasi modal sosial inklusif Difagana (Difabel Siaga Bencana). Lokasi penelitian tersebut di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan untuk metode
8 Hasil Observasi Lapangan di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada 13 September 2021.
9 Nuswatul Khaira, T. Iskandar Faisal, dan Nora Veri, “Program Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat dalam Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Banjir Sungai Krueng, Langsa Nanggroe Aceh Darussalam-Indonesia” dalam Holistik Jurnal Kesehatan, Volume 14, No.4, 2020: 596-605.
10 Irwan dan Moh Rivai Nakoe, “Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat melalui Pendekatan Partisipatif” dalam Pengabdian Kesehataan Masyarakat (JPKM), Volume 1, Nomor 2, 2021: 73-83, diakses pada 4 Februari 2022, http://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jpkm/
yang digunakan peeneiti yakni metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan focus group discussion. Untuk bagian pembahasan penelitian dipaparkan kontribusi dari penyandang disabilitas dalam manajemen bencana di Yogyakarta. Kontribusi tersebut dilandasi oleh aksi pasrtisipasi para difabel, norma, sikap percaya satu sama lain, komunikasi, jejaring sosial dan lain sebagainya.11
Berdasarkan ketiga penelitan sebelumnya tersebut diketahui bahwa pengendalian kebencanaan berbasis masyarakat menjadi suatu hal yang perlu untuk diperhatikan. Di samping itu juga belum ada yang mengungkap dan mendalami keikutsertaan pemuda dalam program pengendalian kebencanaan. Sedangkan pada penelitian ini, akan diungkap dan dianalisa lebih dalam terkait optimaisasi peran para pemuda sebagai individu dalam masyarakat. Kemudian, penelitian ini juga akan memaparkan proses pengorganisasian pemuda desa guna membantu wilayah tempat tinggalnya dari dampak buruk bencana yang mungkin terjadi.
Oleh kareana itu penelitian ini akan mengulas secara mendalam mengenai proses pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian pemuda desa di masa Pandemi. Hal ini termuat dalam satu kesatuan penelitian dengan judul “Pengorganisasian Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat dalam Pengendalian Covid-19 di Desa Tigajuru Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara”
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini berfokus pada pengkajian tentang pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian pemuda di wilayah pedesaaan dalam rangka pengendalian kebencana berbasis masyarakat. Pengumpulan data-data dibatasi pada beberapa aspek, yaitu aspek pemberdayaan masyarakat, manajemen bencana serta pengorganisasian pemuda dalam pengendalian kebencanaan di wiayah pedesaan.
11 Aulia Widya Sakina, Yuli Setyowati, Oktarina Albizzia, “Akomodasi Modal Sosia Inklusif Difabel Siaga Bencana (Difagana) dalam Sistem Manajemen Bencana Berbasis Masyarakat di D.I.Yogyakarta” dalam The 6th Annual Scientific Meeting on Disaster Research 2019 International Conference on Disaster Management, Volume 4, UNHAN Press: 2019, 1-15.
Kemudian fokus lokasi penelitian ini berlokasi di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2022 hingga selesai.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas kemudian timbul pertanyaan yang menjadi ruang lingkup masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Pertanyaan tersebut terangkum dalam rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana strategi pemberdayaan dalam pengendalian COVID-19 sebagai Tim Siaga bencana berbasis masyarakat di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara?
2. Bagaimana proses pengorganisasian dan peran serta pemuda sebagai Tim Siaga bencana berbasis masyarakat dalam pengendalian COVID-19 di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Memaparkan strategi pemberdayaan dalam pengendalian COVID-19 sebagai Tim Siaga bencana berbasis masyarakat di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara.
2. Mendeskripsikan proses pengorganisasian dan peran serta pemuda sebagai Tim Siaga bencana berbasis masyarakat dalam pengendalian COVID-19 di Desa Tigajuru, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara engendalian bencana berbasis masyarakat di wilayah pedesaan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara akademis maupun praktis.
1. Manfaat Akademis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan sumbangsih pemikiran mengenai strategi pemberdayaan masyarakat dalam rangaka pengendalian kebencanaan di wilayah pedesaan.
b. Sebagai bahan bacaan yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapakan dapat membawa kebermanfaatan bagi masyarakat, pemerintah, organisasi kemanusiaan, relawan
kebencanaan serta berbagai pihak-pihak yang bersangkutan lainnya dalam pengambilan kebijakan terkait manajemen bencana berbasis masyarakat.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam skripsi ini disusun menjadi lima bab utama yang saling terkait. Hal tersebut dilakukan guna menghindari penyimpangan tujuan dan pembahasan pokok penelitian sesuai dengan fokus penelitian. Adapun pembagian bab tersebut adalah sebagai berikut.
1. Bagian Awal
Pada bagian awal ini terdiri dari sampul luar, sampul dalam, Lembar Pengesahan Majelis Penguji Ujian Munaqosyah, Lembar Pernyataan Keaslian Skripsi, Abstrak, Motto, Lembar Persembahan, Pedoman Transliterasi Arab- Latin, Kata Pengantar, daftar isi, daftar tabel, serta daftar gambar.
2. Bagian Isi
Bagian isi terdiri dari lima bab, yang mana kelima bab tersebut saling berkaterkaitan satu sama lain dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Kelima bab tersebut adalah sebagai berikut.
BAB I : Pendahuluan
Pada bab pendahuluan menguraikan mengenai latar belakang dilaksanakannya penelitian, meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta sistematika penelitian.
BAB II : Kerangka Teori
Bab kerangka teori memaparkan deskripsi dari teori-teori yang sesuai dengan permasalahan yang sedang dikaji. Bab ini diawali dengan deskripsi teori yang berkaitan dengan manajemen kebencanaan hingga konsep pemberdayaan masyarakat pedesaan dalam lingkup pengendalian kebencanaan. Kemudian dilanjut dengan pemaparan hasil penelitian terdahulu berupa jurnal-jurnal penelitian yang berkaitan dengan pembahasan masalah yang akan dikaji oleh peneliti, serta didukung kerangka berpikir.
BAB III : Metode Penelitian
Dalam bab metode penelitian ini peneliti memaparkan mengenai jenis dan pendekatan penelitian yanng digunakan oleh peneliti. Setting penelitian berupa lokasi dan waktu penelitian dilaksanakan. Selain itu, diulas juga mengenai subyek penelitian yang berlaku sebagai sumber utama didapatkannya data yang diperluakan dalam penelitian ini. Kemudian, dalam bab ini dijelaskan mengenai sumber-sumber data, teknik pengumpulan data, pemnguji keabsahan data, serta teknik analisa data.
BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pada Bab ini peneliti memaparkan mengenai gambaran umum kondisi dan lokasi penelitian.
Kemudian mendeskripsikan data penelitian yang didapat, serta menjelaskan melalui analisa data terkait dengan pengorganisasian pemuda sebagai anggota Tim Siaga bencana berbasis masyarakat di Desa Tigajuru dalam pengendalian kebencanaan Pandemi COVID-19, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat di wilayah pedesaan.
BAB V : Penutup
Bab penutup berisi pemaparan kesimpulan dari keseluruhan penelitian yang dilakukan serta ditampilkan saran dari peneliti yang dapat dipertimbangkan terkait dengan permasalahan penelitian.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini berisi daftar pustaka yang menjadi daftar referensi atau rujuan peneliti dalam memecahkan masalah, serta lampiran-lampiran yang berisi berbagai dokumen yang terkait dengan permasalahan penelitian.