• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UNIVERSITAS INDONESIA"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT PENGAWASAN PRODUK DAN BAHAN

BERBAHAYA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

REPUBLIK INDONESIA

PERIODE 4– 29 JULI 2011

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

QURROTA A’YUN, S.Far.

1006835463

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK

JUNI 2012

(2)

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT PENGAWASAN PRODUK DAN BAHAN

BERBAHAYA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

REPUBLIK INDONESIA

PERIODE 4– 29 JULI 2011

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

QURROTA A’YUN, S.Far.

1006835463

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK

JUNI 2012

(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanyalah untuk Allah SWT atas limpahan nikmat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Badan POM RI. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya. Dalam ruang yang terbatas ini, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada

1. Ibu Dra. Kustantinah, Apt, M.App.Sc., selaku Kepala Badan POM RI.

2. Bapak dr. Danardi Sosrosumihardjo, Sp.KJ (K), selaku Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya Badan POM RI.

3. Ibu Dra. Asnelia, selaku Kasubdit Pengamanan Produk dan Bahan Berbahaya Badan POM RI dan sebagai pembimbing PKPA.

4. Ibu Dra. Ani Rohmaniyati, Msi.,Apt. selaku Kasubdit Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya Badan POM RI

5. Ibu Dra. Nuke Siti Nurhayati, Apt.,MM, selaku Kasubdit Penyuluhan Bahan Berbahaya Badan POM RI.

6. Ibu Galih Arumsari, S.Si, Apt, Selaku kepala seksi Desiminasi informasi, serta pembimbing tugas khusus

7. Ibu Kepala Seksi Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya Kimia dan Non Kimia, Kepala Seksi Penilaian Risiko Produk dan Bahan Berbahaya, Kepala Seksi Listing dan Penandaan Produk dan Bahan Berbahaya, Kepala Seksi Surveilan Produk dan Bahan Berbahaya, Kepala Seksi Tata Operasional dan Kepala Seksi Penyuluhan Institusi dan Masyarakat

8. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, Apt., MS., selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA UI.

9. Dr. Harmita, Apt., selaku Ketua Program Profesi Apoteker Departemen Farmasi FMIPA UI.

10. Prof. Dr. Atiek Soemiati, M.S., Apt Selaku pembimbing pemerintahan PKPA Profesi Apoteker di Departemen Farmasi FMIPA UI.

11. Seluruh staf dan karyawan Badan POM RI yang telah memberikan bantuan, pengalaman, bimbingan dan kerja sama selama pelaksanaan PKPA.

(6)

12. Bapak dan Ibu staf pengajar beserta segenap karyawan Departemen Farmasi FMIPA UI.

13. Rekan – rekan PKPA di Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya Badan POM RI yang berasal dari UHAMKA, ISTN, UNTAG dan teman– teman angkatan LXXIII Program Profesi Apoteker Universitas Indonesia.

14. Keluarga yang telah memberikan bantuan moril dan materil sehingga pelaksanaan PKPA dan penyelesaian laporan dapat berjalan lancar, serta pihak– pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini, masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Penulis berharap semoga pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani PKPA dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Depok, Juni 2012 Penulis

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan ... 1

2. TINJAUAN UMUM BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN ... 3

2.1 Sejarah ... 3

2.2 Visi dan Misi ... 4

2.3 Tujuan ... 4

2.4 Ruang Lingkup Badan POM ... 4

2.5 Budaya Organisasi ... 5

2.6 Konsep Sistem Pengawasan Obat dan Makanan ... 6

2.7 Landasan Hukum Sistem Pengawasan Obat dan Makanan ... 7

2.8 Peran Sistem Pengawasan Obat dan Makanan ... 7

2.9 Kebijakan Strategi Badan POM ... 8

2.10 Struktur Organisasi ... 10

2.11Tinjauan Umum Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya ... 19

3. TINJAUAN KHUSUS DIREKTORAT PENGAWASAN PRODUK DAN BAHAN BERBAHAYA ... 30

3.1 Tugas Pokok dan Fungsi ... 32

3.2 Struktur Organisasi ... 31

3.3 Kegiatan Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya pada Tahun 2011 ... 38

4. PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER ... 43

4.1 Subdirektorat standarisasi produk dan bahan berbahaya ... 43

4.2 Subdirektorat pengamanan produk dan bahan berbahaya ... 44

4.3 Subdirektorat penyuluhan bahan berbahaya ... 45

5. PEMBAHASAN ... 47

6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 60

5.1 Kesimpulan ... 60

5.2 Saran ... 61

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi Badan POM ... 64

Lampiran 2. Struktur Organisasi Deputi III ... 65

Lampiran 3. Skema daur hidup bahan kimia ... 66

Lampiran 4. Daftar jenis bahan berbahaya ... 67

Lampiran 5. Laporan relaisasi bahan berbahaya ... 69

Lampiran 6. Struktur organisasi direktorat pengawasan produk dan bahan berbahaya ... 70

Lampiran 7. Alur pengawasan bahan berbahaya ... 71

Lampiran 8. Daftar bahan tambahan yang dilarang untuk makanan ... 72

(9)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan kimia dan produknya merupakan suatu hal yang tidak terlepas dari kebutuhan hidup manusia, namun sekaligus memiliki risiko terhadap kesehatan masyarakat apabila tidak dikelola dengan benar. Khusus untuk bahan kimia yang sering disalahgunakan ataupun yang digunakan sebagai bahan dasar maupun bahan tambahan pada kemasan pangan perlu dilakukan pengawasaan lebih intensif agar presentase makanan yang mengandung cemaran bahan berbahaya atau dilarang dan kemasan pangan yang melepaskan migran berbahaya kedalam pangan dapat diturunkan, sehingga risiko dimaksud dapat diminimalkan, bahkan dicegah. Lingkup penggunaan bahan kimia ini sangat luas di berbagai sektor perekonomian di Indonesia terutama dalam rangka mendukung kegiatan di sektor perekonomian dan perdagangan, pertanian, kesehatan, sumber daya energi dan mineral dan sektor lainnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) melalui Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya bertugas melakukan pengawasan bahan berbahaya terutama yang sering disalahgunakan pada pangan serta mencegah terjadinya risiko bahan kimia terhadap kesehatan apabila penggunaannya disalahgunakan pada pangan.

Apoteker, sebagai salah satu profesi yang mengerti tentang bahan kimia serta dampaknya bagi kesehatan diharapkan mampu membantu Badan POM dengan cara memberikan sumbangan pikiran dalam pengawasan bahan berbahaya, terutama bahan berbahaya yang sering disalahgunakan pada pangan dan kemasan pangan.

1.2 Tujuan

Meningkatkan kompetensi apoteker di bidang pemerintahan di perlukan pengenalan terhadap lembaga pemerintahan dalam hal ini Badan POM.

Oleh karena itu, tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Badan POM adalah :

(10)

1. Memahami struktur organisasi Badan POM RI.

2. Memahami dan mampu menjelaskan peran dan fungsi Badan POM RI. 3. Memahami dan mampu menjelaskan kegiatan di Direktorat Pengawasan

(11)

BAB 2

TINJAUAN UMUM

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

2.1 Sejarah

Pengaturan di bidang farmasi dimulai sejak didirikannnya Dv.G

(De Dients Van De Valks Gezonheid) yang dalam organisasi tersebut ditangani oleh Inspektorat farmasi hingga tahun 1964. Dari tahun 1964 hingga 1967, dilanjutkan oleh Inspektorat Urusan Farmasi dan oleh Direktorat Jenderal Farmasi hingga tahun 1976, dengan tugas pokok mencukupi kebutuhan rakyat akan perbekalan farmasi.

Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Direktorat Jenderal farmasi dibantu oleh:

a. Lembaga Farmasi Nasional dengan tugas melaksanakan tugas pengujian dan penelitian di bidang kefarmasian.

b. Pabrik Farmasi Departemen Kesehatan. c. Depot Farmasi Pusat.

d. Sekolah Menengah Farmasi Departemen Kesehatan.

Pada tahun 1975 pemerintah mengubah Direktorat Jendral Farmasi menjadi Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, dengan tugas pokok melaksanakan pengaturan dan pengawasan obat, makanan, kosmetik, dan alat kesehatan, obat tradisional, narkotik serta bahan berbahaya. Untuk melaksanakan tugas tersebut pada Direktorat Jenderal ini dibentuk unit pelaksana teknis yaitu Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan di Pusat dan Balai Pengawas Obat dan Makanan di seluruh Provinsi.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 166 tahun 2000 yang telah diubah menjadi Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintahan Non Departemen (LPND), Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan diubah menjadi Badan Pengawas Obat dan Makanan. Berdasarkan Keppres tersebut , Badan POM bertanggung jawab kepada Presiden dan berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan. Pembentukan Badan POM ini

(12)

ditindaklanjuti dengan keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 02001/SK/KBPOM, tanggal 26 februari 2001, tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan setelah mendapatkan persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 34/M.PAN/2/2001 tanggal 1 februari 2001.

2.2 Visi dan Misi 2.2.1 Visi

Dalam menghadapi dinamika lingkungan dengan segala bentuk perubahannya, maka segenap jajaran Badan POM bercita-cita untuk mewujudkan suatu keadaan ideal bagi masyarakat Indonesia yaitu: Menjadi Institusi Pengawas Obat dan Makanan yang Inovatif, Kredibel dan Diakui secara Internasional untuk Melindungi Masyarakat.

2.2.2 Misi

Misi Badan POM didefinisikan sebagai tujuan mulia organisasi untuk: a. Melakukan pengawasan pre market dan post market berstandar

internasional.

b. Menetapkan Sistem Manajemen Mutu secara konsisten.

c. Mengoptimalkan kemitraan dengan pemangku kepentingan di berbagai lini.

d. Memberdayakan masyarakat agar mampu melindungi diri dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan.

e. Membangun organisasi pembelajaran (Learning Organization).

2.3 Tujuan

Sesuai dengan visi misi Badan POM, tujuan utama pembangunan pengawasan obat dan makanan yaitu meningkatnya perlindungan masyarakat dari produk obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan.

(13)

2.4 Ruang Lingkup Tugas Badan POM

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang

Kedudukan, Tugas, Kewenangan, dan Susunan Organisasi, Lembaga Pemerintan Non Departemen (LPND), ruang lingkup Badan Pengawas

Obat dan Makanan yaitu:

a. Standardisasi dan regulasi persyaratan teknis obat dan makanan b. Sertifikasi sarana sesuai Good Regulatory Practices (GRP) c. Pemberian izin edar obat dan makanan (Pre Market Control) d. Pengawasan sarana produksi dan distribusi (GMP dan GDP)

e. Pengawasan mutu dan keamanan produk yang beredar (postmarket vigilance)

f. Pengawasan ekspor-impor bahan baku produk obat dan makanan (National Single Window)

g. Penyidikan dan penegakan hukum bidang obat dan makanan

h. Penetapan pedoman penggunaan, konservasi pengembangan dan pengawasan tanaman obat.

i. Risk Analysis, termasuk komunikasi risiko bidang pengawasan obat dan makanan, dan pemberdayaan masyarakat.

2.5 Budaya Organisasi

Budaya organisasi merupakan nilai-nilai luhur yang diyakini dan harus dihayati dan diamalkan oleh seluruh anggota organisasi dalam melaksanakan tugas. Nilai-nilai luhur dalam organisasi menjadi semangat bagi seluruh anggota organisasi dalam berkarsa dan berkarya. Budaya organisasi Badan POM dikembangkan dengan nilai-nilai dasar sebagai berikut:

a. Profesional

b. Nilai profesional maksudnya adalah menegakkan profesionalisme dengan integritas, objektivitas, ketekunan dan komitmen yang tinggi.

c. Kredibel

d. Kredibel maksudnya adalah dapat dipercaya dan diakui olah masyarakat luas, nasional dan internasional.

(14)

e. Cepat Tanggap

f. Cepat tanggap berarti antisipatif dan responsif dalam mengatasi masalah. g. Kerjasama Tim

h. Dalam kerjasama tim harus mengutamakan keterbukaan, saling percaya dan komunikasi yang baik.

i. Inovatif

j. Inovatif maksudnya adalah mampu melakukan pembaruan sesuai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.

2.6 Konsep Sistem Pengawasan Obat dan Makanan

Pengawasan obat dan makanan memiliki aspek permasalahan yang berdimensi luas dan kompleks. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengawasan yang komprehensif, sejak awal proses suatu produk tersebut beredar di tengah masyarakat. Untuk menekan sekecil mungkin risiko yang bisa terjadi, dilakukan SISPOM tiga lapis, yaitu:

2.6.1 Sub-sistem pengawasan produsen

Sistem pengawasan internal oleh produsen melalui pelaksanaan cara-cara produksi yang baik atau Good Manufacturing Practices (GMP) agar

setiap bentuk penyimpangan dan standar mutu dapat dideteksi sejak awal. Secara hukum, produsen bertanggung jawab atas mutu dan keamanan produk yang dihasilkannya. Apabila terjadi penyimpangan dan pelanggaran terhadap standar yang ditetapkan maka produsen dikenakan sanksi, baik administratif maupun pro-justicia.

2.6.2 Sub-sistem pengawasan konsumen

Sistem pengawasan oleh masyarakat konsumen sendiri melalui peningkatan kesadaran dan peningkatan pengetahuan mengenai kualitas produk yang rasional. Pengawasan oleh masyarakat sendiri sangat penting dilakukan karena pada akhirnya masyarakatlah yang mengambil keputusan untuk membeli dan menggunakan suatu produk. Konsumen dengan kesadaran dan tingkat pengetahuan yang tinggi terhadap mutu dan kegunaan suatu produk, disatu sisi dapat membentengi dirinya sendiri terhadap penggunaan produk-produk yang

(15)

tidak memenuhi syarat dan tidak dibutuhkan, sedangkan pada sisi lain akan mendorong produsen untuk lebih hati-hati dalam menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

2.6.3 Sub-sistem pengawasan pemerintah/Badan POM

Sistem pengawasan oleh pemerintah melalui pengaturan dan standardisasi, penilaian (keamanan, khasiat dan mutu) produk sebelum diizinkan beredar di Indonesia, inspeksi, pengambilan sampel dan pengujian laboratorium produk yang beredar serta peringatan kepada publik yang didukung penegakan hukum. Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat konsumen terhadap mutu, khasiat dan keamanan produk maka pemerintah juga melaksanakan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi.

2.7 Landasan Hukum Sistem Pengawasan Obat dan Makanan

Sesuai dengan visi, misi serta tujuan Badan POM, sistem pengawasan obat

dan makanan memiliki landasan hukum yaitu: a. UU No.7 Tahun 1996 tentang Pangan b. UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika c. UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika

d. UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen e. UU No.36 Tahun 2010 tentang Kesehatan

2.8 Peran Sistem Pengawasan Obat dan Makanan

Sistem pengawasan obat dan makanan memiliki peranan dalam

menghadapi tantangan, mencakup antara lain: a. Harmonisasi dan globalisasi

1. Pengawasan semakin kompleks

2. Peningkatan daya saing produk dalam negeri

3. Potensi gangguan pasar obat dan makanan dalam negeri 4. Potensi penolakan produk ekspor meningkat

b. Peningkatan Unit Kerja Masyarakat dalam krisis ekonomi 1. Potensi penggunaan bahan berbahaya meningkat

(16)

2. Pengawasan hygiene produksi

c. Tingkat kejahatan nasional narkotika, psikotropika, prekursor d. Peredaran Produk illegal dan atau palsu

e. Pengharapan publik akan perlindungan meningkat

2.9 Kebijakan Strategi Badan POM

Badan POM mewujudkan visi misinya melalui empat kebijakan strategi,

yaitu:

2.9.1 Memperkuat Sistem Regulatori Pengawasan Obat dan Makanan

SISPOM diperkuat dengan mekanisme operasional dan infrastruktur yang handal dengan kapabilitas berkelas dunia (world class) dan menggunakan teknologi informasi yang modern, dilakukan revitalisasi yang diterapkan secara terintegrasi dan menyeluruh (comprehensive), mencakup antara lain:

a. Kebijakan pengawasan obat dan makanan mampu menjamin obat dan makanan aman, bermanfaat, dan bermutu.

b. Standar obat dan makanan mampu menjamin obat dan makanan aman, bermanfaat dan bermutu.

c. Seluruh sarana produksi obat dan makanan memenuhi GMP. d. Seluruh sarana distribusi obat dan makanan memenuhi GDP.

e. Seluruh obat dan makanan yang beredar telah terdaftar sesuai ketentuan. f. Seluruh obat dan makanan aman dan memenuhi standar mutu yang telah

ditetapkan.

g. Seluruh label dan iklan/promosi oobat dan makanan memenuhi persyaratan. h. Setiap pelanggaran ditindaklanjuti sesuai peraturan/perundangan yang

berlaku.

2.9.2 Mewujudkan Laboratorium Badan POM yang handal

Kapabilitas laboratorium Badan POM ditingkatkan agar terunggul di ASEAN dengan jaringan kerja (networking) nasioal dan internasional. Cakupan

dan parameter pengujian laboratorium, serta kompetensi personil laboratorium pengawasan obat dan makanan ditingkatkan dengan menerapkan Good

(17)

Laboratory Practices secara konsisten serta mengembangkan sistem rujukan laboratorium nasional, mencakup antara lain:

a. Seluruh laboratorium Badan POM menerapkan secara konsisten standar internasional laboratorium.

b. Seluruh obat dan makanan dapat diuji oleh laboratorium Badan POM sesuai dengan standard an persyaratan yang ditetapkan.

c. Terbentuknya laboratorium unggulan untuk menunjang kepentingan nasional. d. Laboratorium Badan POM terintegrasi dalam jaringan nasional dan

internasional untuk pengawasan obat dan makanan.

2.9.3 Meningkatkan Kapasitas Manajemen Badan POM

Institusi Badan POM dikembangan sebagai knowledge dan learning organization yang kredibel, inovatif dan unggul. Pengembangan institusi berfokus terutama pada penguatan kompetensi, profesionalitas dan kapabilitas modal insani. Untuk itu dilakukan pendidikan dan pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan (continous training and education) yang dilasanaan di dalam dan di luar negeri serta membangun Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan POM, mencakup antara lain:

a. Seluruh kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi dilaksanaan secara terintegrasi sesuai dengan standar quality management system.

b. Seluruh pegawai memilki kompetensi sesuai bidangnya dan mencapai sasaran kinerjanya.

c. Berfungsinya sistem informasi yang terintegrasi secara online dan up-to-date dalam pengawasan obat dan makanan.

Implementasi SISPOM serta layanan publik oleh Badan POM dimantapkan dengan meningkatkan kapasitas manajemen dengan mutu penyelenggaraan kepemerintahan yang efektif dan efisien. Untuk itu, dilakukan penerapan standar reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan yang baik secara menyeluruh dan konsisten.

(18)

Reformasi Birokrasi adalah upaya untuk melakukan perbaikan kinerja birokrasi dengan meningkatkan kualitas regulasi, meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas seluruh aspek penyelenggaraan pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat serta citra Indonesia di mata Internasional.

2.9.4 Memantapkan Jejaring Lintas Sektor dan Memberdayakan Masyarakat untuk Berperan Aktif dalam Pengawasan Obat dan Makanan.

Pengawasan Obat dan makanan lebih diperkuat dengan memantapkan jejaring kinerja sama lintas sektor terkait di dalam negeri dan kerja sama bilateral maupun multilateral dengan berbagai institusi di luar negeri. Melalui komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan pemberdayaan kepada masyarakat luas agar mampu mencegah dan melindungi diri sendiri dari penggunaan obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan, mencakup antara lain:

a. Berfungsinya jaringan lintas sektor yang aktif dalam pengawasan obat dan makanan sampai ke tingkat Kabupaten/Kota.

b. Berfungsinya kerjasama nasional dan internasional dalam pengawasan obat dan makanan.

c. Berfungsinya jaringan lintas sektor dalam pembangunan, pengawasan dan konservasi tanaman obat.

2.10 Struktur Organisasi

Secara struktural komponen Badan POM terdiri atas kepala, sekretariat

utama, inspektorat, empat pusat, dan tiga deputi. Sekretariat utama terdiri dari Biro Perencanaan dan Keuangan, Biro Kerjasama Luar Negeri, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat, Biro Umum. Empat Pusat terdiri dari Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), Pusat Penyidikan Obat dan Makanan (PPOM), Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM), Pusat Informasi Obat dan makanan (PIOM). Tiga Deputi tersebut diantaranya, Deputi I yang bertanggung jawab dalam Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA, Deputi II yang

(19)

bertanggung jawab dalam bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen, dan Deputi III yang bertanggung jawab dalam Bidang Pengawasan Keamanan pangan dan Bahan Berbahaya. Struktur organisasi Badan POM dapat dilihat pada lampiran 1.

2.10.1 Kepala Badan POM

Kepala mempunyai tugas:

a. Memimpin BPOM sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan yang berlaku;

b. Menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas BPOM;

c. Menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas BPOM yang menjadi tanggung jawabnya;

d. Membina dan melaksanakan kerjasama dengan instansi dan organisasi lain.

2.10.2 Sekretariat Utama

Sekretariat Utama mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan, pembinaan, pengendalian terhadap program, administrasi, dan sumber daya di lingkungan BPOM. Dalam melaksanakan tugasnya, Sekertariat Utama menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkoordinasian, sinkronisasi dan integrasi perencanaan, penganggaran, penyusunan pelaporan, pengembangan pegawai termasuk pendidikan dan pelatihan serta perumusan kebijakan teknis di lingkungan Badan POM;

b. Pengkoordinasian, sinkronisasi dan integrasi penyusunan peraturan perundang-undangan, kerjasama luar negeri, hubungan antar lembaga kemasyarakatan dan bantuan hukum terkait dengan tugas Badan POM;

c. Pembinaan dan pelayanan administrasi ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, perlengkapan dan rumah tangga; d. Pembinaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan pusat-pusat dan

(20)

e. Pengkoordinasian administrasi pelaksanaan tugas Deputi di lingkungan BPOM;

f. Pelaksana tugas lain yang ditetapkan oleh kepala sesuai dengan bidang tugasnya.

Sekretariat Utama terdiri atas: 1. Biro Perencanaan dan Keuangan

Biro perencanaan dan keuangan mempunyai tugas melaksanakan koordinasi perumusan rencana strategis dan pengembangan organisasi, penyusunan program dan anggaran, keuangan serta evaluasi dan pelaporan.

2. Biro Kerjasama Luar Negeri

Biro Kerjasama Luar Negeri mempunyai tugas melaksanakan koordinasi kegiatan kerjasama internasional yang berkaitan dengan tugas BPOM.

3. Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat

Biro hukum dan hubungan masyarakat mempunyai tugas melaksanakan koordinasi kegiatan penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan, bantuan hukum, layanan pengaduan konsumen dan hubungan masyarakat.

4. Biro Umum

Biro umum mempunyai tugas melaksanakan koordiasi urusan ketatausahaan pimpinan, administrasi pegawai, pengembangan pegawai, keuangan serta perlengkapan kerumahtanggaan.

Sekertariat utama Badan POM secara administrasi membina pelaksanaan tugas sehari-hari dari Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional, Pusat Penyidikan Obat dan Makanan, Pusat Riset Obat dan Makanan dan Pusat Informasi Obat dan Makanan.

(21)

2.10.3 Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA)

Deputi Bidang Pengawasan Produk terapetik dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat aditif. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, deputi ini menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang pengawasan produk terapetik dan NAPZA.

b. Penyusunan rencana pengawasan produk terapetik dan NAPZA.

c. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang penilaian obat dan produk biologi.

d. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang penilaian alat kesehatan, produk diagnostik dan perbekalan kesehatan rumah tangga.

e. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang standardisasi produk terapetik.

f. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang inspeksi dan sertifikasi produk terapetik.

g. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang pengawasan NAPZA.

h. Pengawasan produk terapetik dan NAPZA.

i. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan produk terapetik dan NAPZA.

j. Evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan produk terapetik dan NAPZA.

(22)

k. Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan POM, sesuai dengan bidang tugasnya.

Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik dan NAPZA terdiri dari Direktorat Penilaian Obat dan Produk Biologi; Direktorat Standardisasi Produk Terapetik dan PKRT; Direktorat Pengawasan Produksi Produk Terapetik dan PKRT; Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT; Direktorat Pengawasan Narkotik, Psikotropika, dan Zat adiktif.

2.10.4 Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, deputi ini menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional dan umum di pengawasan obat tradisional, kosmetika dan produk komplemen.

b. Penyusunan rencana pengawasan obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

c. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang penilaian obat tradisional, suplemen makanan dan kosmetik.

d. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang pengaturan dan standardisasi obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

e. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang inspeksi dan sertifikasi obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

(23)

f. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan pemberian bimbingan di bidang Obat Asli Indonesia (OAI).

g. Pengawasan obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

h. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

i. Evaluasi pelaksanaan kebijakan teknis pengawasan obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen.

j. Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan oleh kepala sesuai dengan bidang tugasnya.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen terdiri dari Direktorat Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Kosmetik; Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen; Direktorat Obat Asli Indonesia; Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen.

2.10.5 Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya. Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, deputi ini menyelenggarakan fungsi:

a. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang pengawasan pangan dan bahan berbahaya.

b. Penyusunan rencana pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya. c. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan

prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemabtauan, pemberian bimbingan di bidang penilaian keamanan pangan.

d. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan, pemberian bimbingan di bidang standardisasi produk pangan.

(24)

e. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan, pemberian bimbingan di bidang inspeksi dan sertifikasi pangan.

f. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian, pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan, pemberian bimbingan di bidang surveilan dan penyuluhan keamanan pangan.

g. Perumusan kebijakan teknis, penetapan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, pengendalian pelaksanaan kebijakan teknis, pemantauan, pemberian bimbingan di bidang pengawasan produk dan bahan berbahaya. h. Pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya.

i. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya.

j. Evaluasi pelaksanaan kebijakan teknis pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya.

k. Pelaksanaan tugas lain yang ditetapkan oleh Kepala Badan, sesuai dengan bidang tugasnya.

Deputi bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya terdiri Direktorat Penilaian Keamanan Pangan; Direktorat Standardisasi Produk Pangan; Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan; Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan; Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya; dan Kelompok Jabatan Fungsional.

2.10.6 Inspektorat

Inspektorat dipimpin oleh inspektur yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan POM. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari Inspektorat dibina oleh Sekretariat Utama. Inspektorat bertugas melaksanakan pengawasan fungsional di lingkungan Badan POM. Inspektorat terdiri dari kelompok jabatan Fungsional dan Subbagian Tata Usaha.

(25)

2.10.7 Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN)

Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional adalah unsur pelaksana tugas Badan POM RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan POM RI. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, secara teknis dibina oleh Deputi dan secara administrasi dibina oleh Sekretariat Utama. Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional dipimpin oleh seorang Kepala dan bertugas melakukan pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, alat kesehatan, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta melaksanakan pembinaan mutu laboratorium pengawasan obat dan makanan.

Di samping itu, PPOMN juga merupakan rujukan dari laboratorium pengawasan obat dan makanan di seluruh Indonesia yang telah di akreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional. Selain ditunjang dengan laboratorium bioteknologi, laboratorium baku pembanding, laboratorium kalibrasi serta laboratorium hewan percobaan, juga didukung dengan peralatan laboratorium yang canggih untuk analisis fisikokimia seperti Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Kromatografi Gas, Spektrofotometer Absorpsi Atom, Spektrofotometer Infra Merah analisis fisik seperti Alat Uji Disolusi Otomatis dan Smoking Machine, serta analisis mikrobiologi dan biologi. Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional terdiri dari Bidang Produk Terapetik dan Bahan Berbahaya; Bidang Obat Tradisional, kosmetik dan Produk Komplemen; Bidang Pangan; Bidang Produk Biologi; Bidang Mikrobiologi; Kelompok Jabatan Fungsional; dan Subbagian Tata Usaha.

2.10.8 Pusat Penyidikan Obat dan Makanan

Pusat Penyidikan Obat dan Makanan adalah unsur pelaksana tugas Badan POM RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan POM RI. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, secara teknis dibina oleh Deputi dan secara administrasi dibina oleh Sekretariat Utama. Pusat Penyidikan Obat dan Makanan dipimpin oleh seorang kepala dan bertugas melaksanakan kegiatan penyidikan dan penyelidikan terhadap perbuatan melawan hukum di bidang

(26)

produk terapetik, narkotika, psikotropika dan zat adiktif, obat tradisional, kosmetik dan produk komplemen dan makanan serta produk sejenis lainnya.

Pusat penyidikan Obat dan Makanan terdiri dari Bidang Penyidikan Produk Terpetik dan Obat Tradisional; Bidang Penyidikan Makanan; Bidang Penyidikan Narkotika dan Psikotropika; Kelompok Jabatan Fungsional; dan Sub bagian Tata Usaha.

2.10.9 Pusat Riset Obat dan Makanan

Pusat Riset Obat dan Makanan adalah unsur pelaksana tugas Badan POM RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala

Badan POM RI. Dalam pelaksanaan tugas sehari - hari, secara teknis dibina oleh Deputi dan secara administrasi dibina oleh Sekretariat Utama. Pusat Riset Obat dan Makanan dipimpin oleh seorang Kepala dan bertugas melaksanakan kegiatan di bidang toksikologi, keamanan pangan dan produk terapetik.

Pusat Riset Obat dan Makanan terdiri dari 3 bidang yaitu: Bidang Toksikologi; Bidang Keamanan Pangan; Bidang Produk Terapetik; Kelompok Jabatan Fungsional; dan Subbagian Tata Usaha.

2.10.10 Pusat Informasi Obat dan Makanan

Pusat Informasi Obat dan Makanan adalah unsur pelaksana tugas Badan POM RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan POM RI. Dalam pelaksanaan tugas sehari - hari, secara teknis dibina oleh Deputi dan secara administrasi dibina oleh Sekretariat Utama. Pusat Informasi Obat dan Makanan dipimpin oleh seorang Kepala dan bertugas melaksanakan kegiatan di bidang pelayanan informasi obat dan makanan, informasi keracunan dan koordinasi kegiatan teknologi informasi.

Pusat Informasi Obat dan Makanan terdiri dari Bidang Informasi Obat; Bidang Informasi Keracunan; Bidang Teknologi Informasi; Kelompok Jabatan Fungsional; dan Subbagian Tata Usaha.

(27)

2.10.10 Unit Pelaksana Teknis

Unit Pelaksana Teknis bertugas melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan obat dan makanan di wilayah kerjanya, diatur dengan Keputusan Kepala Badan POM setelah mendapat persetujuan tertulis dari menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur Negara.

2.10.11 Kelompok Jabatan Fungsional

Kelompok Jabatan Fungsional bertugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing - masing berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku. Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari

berbagai jabatan fungsional Pengawas Farmasi dan Makanan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan jabatan fungsional lain sesuai dengan bidang keahliannya. Masing - masing Kelompok Jabatan Fungsional dikoordinasikan oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk oleh Sekretariat Utama. Jumlah tenaga fungsional sebagaimana dimaksud, ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja. Jenis dan jenjang jabatan fungsional, diatur berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku.

2.11 Tinjauan Umum Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan berbahaya

2.11.1 Direktorat Penilaian Keamanan Pangan

Direktorat Penilaian Keamanan Pangan mempunyai tugas penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penilaian keamanan pangan.

Direktorat Penilaian Keamanan Pangan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penilaian makanan dan bahan tambahan pangan.

(28)

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penilaian pangan khusus.

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penilaian pangan olahan pangan tertentu.

d. Penyusunan rencana dan program penilaian keamanan pangan.

e. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di bidang penilaian keamanan pangan.

f. Evaluasi dan penyusunan laporan penilaian keamanan pangan.

g. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.

Direktorat Penilaian Keamanan Pangan terdiri dari:

2.11.1.1 Subdirektorat Penilaian Makanan dan Bahan Tambahan Pangan

Subdirektorat Penilaian Makanan dan Bahan Tambahan Pangan bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penilaian makanan dan bahan tambahan pangan.

Subdirektorat Penilaian Makanan dan Bahan Tambahan Pangan terdiri dari: Seksi Penilaian Makanan yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penilaian makanan; Seksi Penilaian Minuman dan Bahan Tambahan Pangan yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penghalalan minuman dan bahan tambahan pangan; dan Seksi Tata Operasional yang mempunyai tugas melakukan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat.

(29)

2.11.1.2 Subdirektorat Penilaian Pangan Khusus

Subdirektorat Penilaian Pangan Khusus bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penghalalan pangan khusus.

Subdirektorat Penilaian Pangan Khusus terdiri dari: Seksi Penilaian Pangan Hasil Rekayasa Genetika (PHRG) dan Iradiasi yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penilaian pangan hasil rekayasa genetika dan iradiasi; dan Seksi Penilaian Produk Pangan Fungsional yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penilaian produk pangan fungsional.

2.11.1.3 Subdirektorat Penilaian Pangan Olahan Tertentu

Subdirektorat Penilaian Pangan Olahan Tertentu bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengolahan pangan olahan tertentu.

Subdirektorat Pangan Olahan Tertentu terdiri dari: Seksi Penilaian Makanan Bayi dan Balita yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan serta melakukan penilaian makanan bayi dan balita; dan Seksi Penilaian Makanan Diet Khusus yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan serta melakukan penilaian makanan diet khusus.

2.11.2 Direktorat Standardisasi Produk Pangan

Direktorat Standardisasi Produk Pangan mempunyai tugas penyiapan perumusan kebijakan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta

(30)

pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi produk pangan. Direktorat Standardisasi Produk Pangan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan.

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi pangan khusus.

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengaturan dan standardisasi pangan olahan.

d. Penyusunan rencana dan program standardisasi produk pangan.

e. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis standardisasi produk pangan.

f. Evaluasi dan penyusunan laporan standardisasi produk pangan.

g. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.

Direktorat Standardisasi Produk Pangan terdiri dari:

2.11.2.1 Subdirektorat Standaarisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan

Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan, pengaturan dan standardisasi bahan baku dan bahan tambahan pangan.

Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan terdiri dari: Seksi Standardisasi Bahan Baku yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta

(31)

melakukan pengaturan dan standardisasi bahan baku; dan Seksi Standardisasi Bahan Tambahan Pangan yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi bahan tambahan pangan.

2.11.2.2 Subdirektorat Standardisasi Pangan Khusus

Subdirektorat Standardisasi Pangan khusus mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan pengaturan dan standardisasi pangan khusus.

Subdirektorat Standardisasi Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan terdiri dari: Seksi Standardisasi Pangan Hasil Rekayasa Genetika dan Iradiasi yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan standardisasi pangan hasil rekayasa genetika dan iradiasi; Seksi Standardisasi Produk Pangan Fungsional yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi produk pangan fungsional.

2.11.2.3 Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan

Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan mempunyai tugas dalam penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan pengaturan dan standardisasi pangan olahan.

Subdirektorat Standardisasi Pangan Olahan terdiri dari: Seksi Standardisasi Produk Pangan yang bertugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi produk pangan; dan Seksi Kodeks Pangan yang mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan

(32)

rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penyusunan kodeks pangan; serta Seksi Tata Operasional yang mempunyai tugas melakukan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat.

2.11.3 Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan

Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan mempunyai tugas penyiapan perumusan kebijakan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang inspeksi dan sertifikasi pangan. Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang inspeksi produksi dan peredaran produk pangan.

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang inspeksi produk berlabel halal.

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang sertifikasi produk pangan, sarana produksi dan produksi pangan.

d. Penyusunan rencana dan program inspeksi dan sertifikasi pangan.

e. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis dibidang inspeksi dan sertifikasi pangan.

f. Evaluasi dan penyusunan laporan inspeksi dan sertifikasi pangan.

g. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.

(33)

Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Pangan terdiri dari:

2.11.3.1 Subdirektorat Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan

Subdirektorat Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi dibidang inspeksi produksi dan peredaran produk pangan.

Subdirektorat Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan terdiri dari: Seksi Inspeksi Produksi Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan inspeksi produksi pangan; dan Seksi Inspeksi Peredaran Produk Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengawasan peredaran produk pangan, termasuk penandaan promosi produk pangan.

2.11.3.2 Subdirektorat Inspeksi Produk Berlabel Halal

Subdirektorat Inspeksi Produk Berlabel Halal Pangan bertugas penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan inspeksi produk berlabel halal.

Subdirektorat Inspeksi Produk Berlabel Halal terdiri dari: Seksi Inspeksi Makanan Berlabel Halal yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan inspeksi makanan berlabel halal; dan Seksi Inspeksi Minuman Berlabel Halal yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan inspeksi produk minuman berlabel halal.

(34)

2.11.3.3 Subdirektorat Sertifikasi Pangan

Subdirektorat Sertifikasi Pangan bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan sertfikasi pangan.

Subdirektorat Sertifikasi Pangan terdiri dari: Seksi Sertifikasi Sarana Produksi yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan sertifikasi sarana produksi dan proses produksi pangan; Seksi Sertifikasi produk Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan sertifikasi produk pangan; serta Seksi Tata Operasional yang bertugas untuk melakukan urusan tata operasional dilingkungan Direktorat.

2.11.4 Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan mempunyai tugas dalam penyiapan perumusan kebijakan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang surveilan dan penyuluhan keamanan pangan. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan dalam melaksanakan tugasnya menyelenggarakan fungsi:

a. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang surveilan dan penanggulangan keamanan pangan.

b. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang promosi keamanan pangan.

c. Penyiapan bahan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang penyuluhan makanan siap saji dan industri rumah tangga.

(35)

d. Penyusunan rencana dan program survey dan penyuluhan keamanan pangan. e. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

surveilan dan penyuluhan keamanan pangan.

f. Evaluasi dan penyusunan laporan surveilan dan penyuluhan keamanan pangan.

g. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan terdiri dari:

2.11.4.1 Subdirektorat Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan

Subdirektorat Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan surveilan dan penaggulangan keamanan pangan.

Subdirektorat Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan terdiri dari: Seksi Surveilan Keamanan Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan surveilan keamanan pangan; dan Seksi Penanggulangan Keamanan Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penanggulangan keamanan pangan; serta Seksi Tata Operasional yang bertugas untuk melakukan urusan tata operasional dilingkungan Direktorat.

2.11.4.2 Subdirektorat Promosi Keamanan Pangan

Subdirektorat Promosi Keamanan Pangan bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan pelaksanaan promosi keamanan pangan.

Subdirektorat Promosi Keamanan Pangan terdiri dari: Seksi Komunikasi Keamanan Pangan yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan

(36)

kegiatan komunikasi keamanan pangan; dan Seksi Informasi dan Edukasi Konsumen yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan kegiatan informasi dan edukasi konsumen.

2.11.4.3 Subdirektorat Penyuluhan Makanan Siap Saji dan Industri Rumah Tangga

Subdirektorat Penyuluhan Makanan Siap Saji dan Industri Rumah Tangga bertugas dalam penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan pelaksanaan surveilan dan penanggulangan keamanan pangan, penyuluhan makanan siap saji dan industri rumah tangga.

Subdirektorat Penyuluhan Makanan Siap Saji dan Industri Rumah Tangga terdiri dari: Seksi Penyuluhan Makanan Siap Saji yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penyuluhan makanan siap saji; Seksi Penyuluhan Industri Rumah Tangga yang bertugas dalam melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penyuluhan industri rumah tangga.

2.11.5 Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya

Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas dalam penyiapan perumusan kebijakan penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan, pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengawasan produk dan bahan berbahaya. Direktorat ini akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

(37)

BAB 3

TINJAUAN KHUSUS

DIREKTORAT PENGAWASAN PRODUK DAN BAHAN BERBAHAYA

Sesuai Keputusan kepala Badan Pengawas Obat dan makanan RI nomor 02001/SK/KBPOM tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan POM, Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya merupakan salah satu unit kerja di lingkungan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya mempunyai peran strategis dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dari risiko bahan kimia berbahaya.

Bahan kimia dan produknya merupakan suatu hal yang tidak terlepas dari kebutuhan hidup manusia, namun sekaligus memiliki risiko terhadap kesehatan masyarakat apabila tidak dikelola dengan benar.Khusus untuk bahan berbahaya yang sering disalahgunakan ataupun yang digunakan sebagai bahan dasar dan bahan kemasan pangan perlu dilakukan pengawasan lebih intensif agar persentase makanan yang mengandung cemaran bahan berbahaya dilarang dan kemasan makanan yang melepaskan migran berbahaya ke dalam pangan dapat diturunkan sehingga risiko dimaksud dapat diminimalkan bahkan dicegah.

3.1 Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan keputusan Kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 02001/SK/KBPOM tentang organisasi dan Tata Kerja Badan POM, Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

3.1.1 Tugas Pokok

Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya Mempunyai Tugas Penyiapan perumusan kebijakan, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengawasan produk dan bahan berbahaya.

(38)

3.1.2 Fungsi

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut diatas, direktur pengawasan produk dan bahan berbahaya menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

a. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang standardisasi produk dan bahan berbahaya.

b. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang pengamanan produk dan bahan berbahaya.

c. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengendalian, pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan di bidang penyuluhan produk dan bahan berbahaya.

d. Penyusunan rencana dan program pengawasan produk dan bahan berbahaya. e. Koordinasi kegiatan fungsional pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

pengawasan produk dan bahan berbahaya.

f. Evaluasi dan penyusunan laporan pengawasan produk dan bahan berbahaya. g. Pelaksanaan tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Deputi

Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya.

3.1.3 Kegiatan

Kegiatan yang dilakukan Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, antara lain:

a. Pemantauan dan penilaian sarana pengelolaan bahan kimia berbahaya. b. Forum komunikasi bahan berbahaya dan kemasan pangan.

c. Pelatihan penilaian risiko dan pengelolaan risiko bahan kimia berbahaya. d. Sosialisasi peraturan tentang kemasan pangan.

e. Sosialisasi pengendalian dan pengamanan peredaran bahan kimia berbahaya. f. Talkshow pengamanan bahan berbahaya di radio.

(39)

g. Review modul penyuluhan bahan berbahaya dan pencetakan. h. Penyusunan database produk dan leaflet bahan berbahaya.

i. Penyusunan produk informasi tentang bahan berbahaya dan kemasan pangan. j. Penyusunan panduan pengamanan bahan berbahaya.

k. Penyusunan rancangan standar uji migrasi bahan kimia dari kemasan pangan dalam bentuk SNI.

l. Penguatan mekanisme koordinasi lintas sektor pengelolaan dan pengamanan bahan kimia secara terpadu.

3.2 Struktur Organisasi

Direktorat pengawasan produk dan bahan berbahaya membawahi tiga Subdirektorat yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

3.2.1 Sub Direktorat Standardisasi Produk dan Bahan berbahaya

Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi serta pelaksanaan standardisasi produk dan bahan berbahaya.

Dalam rangka melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi:

a. Penyusunan rencana dan program kegiatan standardisasi produk dan bahan berbahaya.

b. Penyiapan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan pengaturan dan standardisasi produk dan bahan berbahaya.

c. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta penilaian risiko produk dan bahan berbahaya.

d. Evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan terkait standardisasi produk dan bahan berbahaya.

(40)

Subdirektorat Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya terdiri dari :

3.1.1.1 Seksi Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya Kimia dan Non Kimia

Seksi Standardisasi Produk dan Bahan Berbahaya Kimia dan Non Kimia mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan pengaturan dan standardisasi produk dan bahan berbahaya kimia dan non kimia. Kegiatan yang dilakukan antara lain :

a. Penyiapan rancangan telaahan dan konsep perumusan kebijaksanaan teknis dalam rangka penyusunan standardisasi produk dan bahan berbahaya.

b. Penyusunan kerangka acuan kegiatan yang berkaitan dengan standardisasi produk bahan berbahaya.

c. Inventarisasi dan kompilasi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan produk dan bahan berbahaya.

d. Penyusunan database kemasan pangan dengan berkoordinasi dengan Balai POM.

e. Penyiapan software aplikasi database kemasan pangan yang beredar di Indonesia.

f. Penyiapan materi penyusunan kriteria dan pedoman standardisasi produk dan bahan berbahaya.

g. Penyiapan materi penyusunan standar produk bahan berbahaya.

h. Penyusunan rencana kegiatan tahunan dan petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis berkaitan dengan penyusunan standar produk bahan berbahaya.

i. Penyusunan evaluasi, laporan dan rencana tindak lanjut standardisasi produk dan bahan berbahaya.

3.1.1.2 Seksi Penilaian Risiko Produk dan Bahan Berbahaya

Seksi Penilaian Risiko Produk dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar,

(41)

kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan penilaian risiko produk dan bahan berbahaya. Kegiatan yang dilakukan antara lain :

a. Menyiapkan rancangan telaahan dan konsep perumusan kebijakan teknis terkait penilaian risiko produk dan bahan berbahaya.

b. Menyusun rencana kegiatan tahunan dan kerangka acuan berkaitan dengan penilaian risiko.

c. Menyiapkan petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis penilaian risiko produk dan bahan berbahaya.

d. Melakukan studi literatur tentang sifat kimia/fisika dan bahaya dari produk dan bahan berbahaya.

e. Menyiapkan daftar produk dan bahan berbahaya yang mempunyai risiko tinggi bagi kesehatan dan lingkungan.

f. Merencanakan dan melaksanakan kajian risiko terhadap kemasan pangan prioritas.

g. Menyiapkan materi pelatihan dan penyelenggaraan penilaian risiko produk dan bahan berbahaya.

h. Menyiapkan pertemuan koordinasi lintas sektor berkaitan dengan penilaian risiko.

i. Menyusun evaluasi, laporan dan rencana tindak lanjut penilaian risiko produk dan bahan berbahaya.

3.1.2 Sub Direktorat Pengamanan Produk dan Bahan Berbahaya

Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan pelaksanaan kegiatan pengamanan produk dan bahan berbahaya. Dalam rangka melaksanakan tugasnya, menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan rencana dan program pengamanan produk dan bahan berbahaya. b. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan

(42)

c. Pelaksanaan penyiapan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, serta pelaksanaan surveilan produk dan bahan berbahaya.

d. Evaluasi dan penyusunan laporan pengamanan produk dan bahan berbahaya. e. Pelaksanaan urusan tata operasional di lingkungan Direktorat.

Subdirektorat Pengamanan Produk dan Bahan Berbahaya terdiri dari:

3.1.2.1 Seksi Listing dan Penandaan Produk dan Bahan Berbahaya

Seksi Listing dan Penandaan Produk dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan program, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan kegiatan listing dan pengawasan penandaan produk dan bahan berbahaya. Kegiatan yang dilakukan, antara lain:

a. Penyiapan rancangan telaahan dan konsep perumusan kebijaksanaan teknis dalam rangka kegiatan listing dan penandaan produk dan bahan berbahaya. b. Penyusunan kerangka acuan kegiatan yang berkaitan dengan listing dan

penandaan produk dan bahan berbahaya.

c. Pelaksanaan penerbitan Surat Keterangan Impor (SKI) untuk bahan kemasan pangan dan bahan kimia lain yang diatur dalam peraturan di kedeputian III dengan peruntukkan bukan untuk pangan.

d. Pelaksanaan penerbitan Surat Keterangan Ekspor (SKE) kemasan pangan. e. Penyusunan tata cara penerbitan SKI/SKE.

f. Pelaksanaan kegiatan koordinasi lintas sektor terkait dengan pengawasan bahan kimia dan isu bahan kimia lainnya melalui Forum Koordinasi Nasional Pengelolaan dan Pengamanan Bahan Kimia Terpadu (Forkonas P2BKT). g. Evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penerbitan SKI dan SKE.

h. Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut hasil pelaksanaan koordinasi lintas sektor.

3.2.2.2 Seksi Surveilan Produk dan Bahan Berbahaya

Seksi Surveilan Produk dan Bahan Berbahaya mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, penyusunan rencana dan

(43)

program, penyusunan pedoman, standar, kriteria dan prosedur, evaluasi dan penyusunan laporan, serta melakukan surveilan produk dan bahan berbahaya. Kegiatan yang dilakukan antara lain:

a. Penyiapan rancangan telaahan dan konsep perumusan kebijaksanaan teknis dalam rangka kegiatan pengawasan produk dan bahan berbahaya.

b. Penyusunan kerangka acuan kegiatan yang berkaitan dengan pengawasan produk dan bahan berbahaya.

c. Penyiapan petunjuk teknis sampling produk dan bahan berbahaya.

d. Penyiapan petunjuk teknis penelusuran jaringan pasokan bahan berbahaya yang dilarang untuk pangan.

e. Penyiapan petunjuk teknis tindak lanjut temuan dari hasil pengawasan produk dan bahan berbahaya.

f. Pelaksanaan bimbingan teknis pengawasan produk dan bahan berbahaya untuk petugas Balai/Balai Besar POM.

g. Evaluasi hasil pengawasan Balai/Balai Besar POM, hasil pengujian produk pangan yang mengandung bahan berbahaya dan laporan realisasi impor dan distribusi bahan berbahaya.

h. Penyiapan konsep tindak lanjut atas hasil evaluasi.

i. Penyiapan konsep surat ke lintas sektor terkait untuk menindaklanjuti temuan hasil pengawasan.

j. Supervisi pengawasan produk dan bahan berbahaya ke Balai/Balai Besar POM dalam rangka pendampingan dari Badan POM pusat ke Balai untuk penelusuran jaringan.

3.2.2.3 Seksi Tata Operasional

Seksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan urusan tata operasional di lingkungan direktorat, meliputi:

a. Pengarsipan surat masuk dan surat keluar. b. Updating data kepegawaian.

Gambar

Gambar 2.1 Struktur Rodamin B
Gambar 5.1. Draft leaflet bagian depan
Gambar 5.2. Draft leaflet bagian belakang
Gambar 5.3. Draft Poster
+2

Referensi

Dokumen terkait

(a) Rainfall and irrigation; (b) soil water content; (c) hydraulic potential; (d) soil temperature, all soil measurements at 0.15, 0.25 and 0.5 m below the top of the bed in the

(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan

Manfaat yang diperoleh dengan adanya kegiatan wisata di Danau Linting: (bisa lebih dari satu)b. Kondisi jalan

Histogram Kadar Kadmium (Cd) Rata-rata pada Tanaman. Kangkung, Sedimen dan Air di

Adapun modus hacker dalam melakukan serangan pada webserver menggunakan pola yang beragam, teknik yang di gunakan oleh para hacker, misalnya teknik steganography, tunneling

Setiap pergerakan dari objek tersebut difoto (frame individual), di dalam teknik Stopmotion terdapat bentuk animasi boneka (puppet) animasi ini melibatkan tokoh

Handayani, S (2008).” Pelaksanaan wakaf uang dalam perspektif hukum islam setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf dikota Semarang”..

Dari 16 lokasi pengamatan, bongkahan batu merupakan site yang memiliki tingkat kepadatan dan biomassa ikan herbivora yang paling tinggi dikarenakan pada daerah