• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Rekayasa Kimia

Journal of Chemical Engineering and Environment

&

Lingkungan

Jurnal

ISSN 1412-5064

Vol. 7 No. 4 Desember 2010

Jurnal Rekayasa

Kimia & Lingkungan Vol. 7 No.4 Hal. 149-203 Des. 2010

ISSN 1412-5064

(2)

Jurnal

Rekayasa Kimia & Lingkungan

( Journal of Chemical Engineering and Environment )

Ketua Editor : Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng.

Editor

: Dr. Ir. Marwan

Dr. Ir. Suhendrayatna, M.Eng.

Dr. Farid Mulana, ST, M.Eng.

Dr. Muhammad Dani Supardan, S.T., M.T.

Dr. Ir. Asri Gani, M.Eng.

Staf Editor

: Mirna Rahmah Lubis S.T., M.S. (Administrasi)

Umi Fathanah, S.T., M.T. (Sirkulasi dan Keuangan)

Wahyu Rinaldi, S.T., M.Sc. (Percetakan)

Jurnal ini terbit setiap enam bulan sekali

Harga Langganan dua kali terbit:

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Rp 60.000,-

Luar

NAD

Rp

80.000,-

(termasuk ongkos kirim)

Untuk surat menyurat dan berlangganan, harap menghubungi Sdri.

Nurhilal dengan alamat seperti tercantum di bawah. Petunjuk

penulisan artikel dapat dilihat pada bagian dalam kulit belakang

jurnal.

©

2010 Jurusan Teknik Kimia

Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

Jl. Syech Abdurrauf No. 7, Darussalam, Banda Aceh 23111, Indonesia

Tel. +62-651-7412301 Fax. (0651) 52222

http://che.unsyiah.ac.id/rekayasa-kimia-lingkungan

E-mail: [email protected]

(3)

Vol. 7 No. 4 Desember 2010

ISSN 1412-5064

Jurnal

Rekayasa Kimia & Lingkungan

(Journal of Chemical Engineering and Environment)

Daftar Isi

Muhammad, Thomas S. Y. Choong, Chuah T. G., Robiah Yunus,

Suaraya A. R.

149 Sorption Kinetics for the Removal of Cadmium and Zinc onto Palm Kernel Shell Based

Activated Carbon

Abrar Muslim 158 Gold Loading on Ion Exchange Resins in Non-Ammoniacal Resin-Solution Systems

Hiroyuki Daimon, M. Faisal 163 Preliminary Investigation on the Useful Chemicals obtained from High-Temperature and High-Pressure Water Treatment of Hinoki (Chamaecyparis Obutus) Bark

Darmadi, Anwar Thaib 168 Adsorption of Anion Dye from Aqueous Solution by Activated Carbon Coated Monolith in a Batch System

Regina A. A., Mohd. Halim Shah, I. 173 Air Pollution Modelling to Predict Maximum Ground Level Concentration for Dust from a Palm Oil Mill Stack

Mahidin, Khairil, Carmen Martin, Miguel A. Villamanan, Jose J. Segovia, Cesar R. Chamorro

182 A Comparison of Energy Profile between Castilla León, Spain and Aceh, Indonesia

Nasrul Arahman, Teuku Maimun 188 Pengaruh Penambahan Jamur Pelapuk Putih

(White Rot Fungi) pada Proses Pengomposan

Tandan Kosong Kelapa Sawit Chong, W. H., Leong, J. W.,

(4)

Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan

Vol. 7, No. 4, hal. 188-192, 2010 ISSN 1412-5064

188

Pengaruh Penambahan Jamur Pelapuk Putih (White Rot Fungi)

pada Proses Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit

Nasrul Arahman, Teuku Maimun

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, Jl. Syech Abdurrauf no.7,

Darussalam, Banda Aceh E-mail: [email protected]

Abstract

Composting is nowadays a general treatment method for agriculture waste such as empty fruit bunch. This research article reported the composting process of the empty fruit bunches. The effect of addition of white rot fungi (Phanerochaete Chrysosporium) as an activator on composting product was studied. Experiment results indicated that white rot fungi is a good activator to improve degradation process of the empty fruit bunch become an organic fertilizer. White rot fungi has capable to increase composting period become shorter in compare with original composting without addition of white rot fungi. The organic fertilizer product as regulation issued by the Standar Nasional Indonesia (NSI) can be achieved in duration of 3 months, while for original process without addition of white rot fungi longer degradation time is necessary.

Keyword: composting, empty fruit bunch, white rot fungi

1. Pendahuluan

Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO- crude palm oil) dan inti kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Pada tahun 1990, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 1.1 juta ha dan meningkat menjadi hampir 3 juta ha pada tahun 1999 (Manurung, 2001). Persoalan pencemaran lingkungan timbul dari proses pengolahan minyak kelapa sawit, karena sekitar 90 juta mt biomassa terdiri dari batang pohon, daun, kulit, ampas dan tandan kosong dihasilkan tiap tahunnya (Pamin dkk., 1993 ). Penganan serius terhadap limbah padat yang dihasilkan dari industri kelapa sawit ini mutlak diperlukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan limbah padat tersebut menjadi pupuk kompos (Said, 1996).

Pengomposan merupakan suatu proses penguraian mikrobiologis alami dari bahan buangan organik. Metode ini mempunyai prinsip dasar menurunkan atau mendegradasi bahan-bahan organik secara terkontrol menjadi bahan-bahan anorganik dengan menggunakan aktifitas mikroorganisme. Mikroorganisme yang berperan dalam pengolahan ini dapat berupa bakteri, jamur atau yang lainnya (Thomas, 1991; Murbandono, 1998).

Jamur pelapuk putih (Phanerochaete

Chrysosporium) dari divisi Basidiomycetes,

merupakan mikroorganisme yang diketahui mampu mendegradasi lignin secara ektensif

menjadi CO2 dan H2O. Mikroorganisme ini juga

mampu menguraikan semua polimer-polimer utama seperti selulosa dan hemiselulosa. Jamur pelapuk putih ini dapat menguraikan lignin, selulosa dan hemi selulosa yang terdapat dalam limbah padat seperti tandan kosong kelapa sawit. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba memanfaatkan jamur pelapuk putih sebagai aktivator utntuk mempercepat proses degradasi tandan kosong kelapa sawit menjadi pupuk kompos. (Moriya dkk., 2001; Tuomela, dkk., 2002)

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penambahan jamur pelapuk putih

Phanerochaete Chrysosporium) terhadap

proses degradasi tandan kosong kelapa sawit untuk mempercepat masa pengomposan, dan mencari kondisi operasi proses pengomposan yang optimal untuk menghasilkan pupuk kompos yang berkualitas.

2. Metodologi

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi, Fakultas Teknik Jurusan Kimia Universitas Syiah Kuala dan penganalisaan unsur hara makro di Laboratorium Kimia Tanah Fakultas Pertanian.

2.1 Persiapan Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan berupa: Rumah kayu ukuran 3 x 2,5 x 2 m, hammer, plastik penutup kompos, timbangan, cangkul/sekrup, media penumpuh spora jamur, kotak inokulasi, kolom inkubasi, shaker, clean bench, autoklaf,

(5)

Nasrul Arahman / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 7 No. 4

189

cawan petri, pH meter dan peralatan analisa unsur hara. Bahan yang digunakan adalah; tandan kosong kelapa sawit, agar, media basal III, glukosa, ammonium tartarat, Sodium 2,2-dimetilsuksinat, KH2PO4, magnesium sulfat

heptahidrat (MgSO47H2O), L-asparagin metil

ester hidrokhlorida (C5H10N2O3·HCl), dan

thiamin hidrokhlorida (C12H18N4OSCl2)

2.2 Pembiakan Jamur

Biakan jamur yang digunakan adalah

Phanerochaete chrysosporium strain CC-27

koleksi laboratorium bioteknologi lingkungan Pusat Antar Universitas (PPAU) ITB yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato

Dextrosa Agar) dalam cawan petri. Sejumlah

10-15 ml media PDA yang telah disterilisasi dituangkan ke dalam cawan petri setelah dingin dan menjadi padat barulah diinokulasi biakan induk jamur pelapuk putih dalam keadaan aseptik.

Setelah selesai sekeliling cawan petri dilapisi isolasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi baru, kemudian disimpan dalam inkubator dengan suhu 27 OC selama 4 hari. Setelah 4

hari maka biakan ini siap digunakan dan dapat disimpan/diawetkan dalam ruangan dingin dengan suhu 4 OC.

2.3 Pembuatan Pellet Miselium

Digunakan 100 ml media penumbuh spora

pellet untuk setiap biakan jamur. Komposisi

media penumbuh spora pellet jamur (10 gr maltosa, 10 gr glukosa, 2 gr yeast, 1 gr C5H10N2O3·HCl, 2 gr KH2PO4, 1 gr MgSO4 7H2O,

dan 0,001 gr C12H18N4OSCl2 per 200 ml

aquadest). Media penumbuh spora pellet yang telah disterilisasi dituangkan secukupnya ke dalam biakan jamur pada cawan petri, kemudian spora jamur yang tumbuh di permukaan media PDA dimasukkan kembali kedalam media penumbuh spora pellet yang selanjutnya akan diagitasi dengan shaker pada kecepatan putaran 120 rpm tertentu selama 4 hari.

2.4 Pengomposan

Proses pengomposan berlangsung dengan mencampur dan mengisi bahan-bahan tandan kosong kelapa sawit yang telah dihancurkan dengan ukuran 7,5/14 mesh yaitu sebanyak 150 gr. Bahan-bahan tersebut diaduk merata sambil ditaburi pellet jamur yang telah dibiakkan sebelumnya secara merata dan perlahan-lahan. Untuk melindungi curah hujan,

maka proses pengomposan dilakukan dalam ruang beratap. Selanjutnya ditaburi pellet jamur dan ditutup dengan goni atau plastik. Suhu dipertahankan 25-40oC. Jika suhu lebih

dari 40oC karung penutup dibuka dan adonan

dibolak-balik, kemudian ditutup kembali. Pengecekan suhu dilakukan setiap 8 jam. Proses pengomposan dilakukan selama empat bulan, dan selama itu dikontrol pH, temperatur, dan kelembaban.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Karakteristik Tandan Kosong Kelapa Sawit

Tandan kosong kelapa sawit yang diambil dari Pabrik Pengolahan Kelapa sawit PTPN I Tanjong Seumantoh Aceh Timur dengan kondisi segar berwarna kuning kecoklatan dengan usia pembuangan sekitar satu minggu. Hasil analisa kandungan unsur hara sebelum dikomposkan seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik tandan kosong kelapa sawit.

Unsur hara Tandan

kosong segar Standar kualitas pupuk kompos Karbon ( %) Nitrogen (%) Posfor (%) Kalium (%) C/N Ratio 66,30 0,70 0,13 7,0 73,28 9,80 – 32 > 2,30 > 1,60 >2,40 < 20 3.2 Produk Kompos

Hasil pengamatan pada bulan terakhir yaitu pada bulan ke 4 dapat dilihat dengan jelas bahwa tandan kosong kelapa sawit telah menjadi kompos. Hal ini dapat dilihat sifat fisik dan kimianya. Yaitu, warna agak gelap, bau seperti bau tanah, ukuran partikel seperti serbuk gergaji, bila dikepal tidak menggumpal keras dan suhu sama dengan suhu lingkungan. Sedangkan sifat kimianya telah mencapai nilai unsur hara yang ditetapkan dengan ratio C/Nnya < 15.

3.3 Kandungan Unsur Hara

Unsur hara makro yang dianalisa adalah Nitrogen (N), Karbon (C), Phosfor (P), dan Kalium (K). Hasil analisa unsur hara makro dijelaskan sebagai berikut:

Unsur Nitrogen (N-Total)

Gambar 1 menunjukkan kandungan unsur hara makro nitrogen pada berbagai waktu pengomposan, dimana konsentrasi kandungan tertinggi unsur hara makro nitrogen diperoleh pada pengomposan 4 bulan dengan variasi

(6)

Nasrul Arahman / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 7 No. 4

190

berat pellet jamur pelapuk putih 25 gr, yaitu sebesar 3,78 %. Bila dibandingkan dengan tanpa penambahan pellet jamur, kadar nitrogennya lebih kecil dari pada penambahan

pellet jamur pelapuk putih. Ini menunjukan

bahwa dengan semakin lamanya waktu pengomposan maka unsur hara nitrogen yang dihasilkan semakin tinggi yang disebabkan oleh proses dekomposisi dengan bantuan jamur pelapuk putih sebagai mikroorganisme pengurai (stimulator).

0

0.5

1

1.5

2

2.5

3

3.5

4

3

4

Kontrol

jamur 5 gr

jamur 15 gr

jamur 25 gr

Nitr

ogen (%)

Waktu pengomposan (bulan)

Gambar 1. Unsur nitrogen produk kompos.

Unsur Karbon (C)

Kandungan unsur hara karbon yang dihasilkan setelah proses dekomposisi bahan organik diperlihatkan pada Gambar 2.

0

10

20

30

40

50

3

4

Kontrol

Jamur 5 gr

Jamur 15 gr

Jamur 25 gr

K

ar

bon

(

%

)

Waktu pengomposan (bulan)

Gambar 2. Unsur karbon produk kompos.

Dari gambar 2 terlihat bahwa kandungan C-organik yang terdekomposisi dari setiap per-lakuan menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengomposan. Berdasarkan standar

kualitas pupuk kompos menurut SNI 19-7030-2004 syarat unsur karbon yang boleh ada pada pupuk adalah harus lebih kecil dari 32 % dan lebih besar dari 9,8%. Berdasarkan ketentuan tersebut, kondisi ini tercapai pada usia pengomposan 3 bulan yaitu sebesar 33,15 % untuk penambahan jamur 25 gr.

Unsur Phosfor (P)

Phosfor (P) merupakan unsur hara makro yang sangat penting bagi tanaman dan menjadi perhatian kedua setelah nitrogen. Berbeda dengan nitrogen, phosfor ternyata bersifat sangat tidak berpindah didalam tanah, namun bermasalah besar dalam penyediaan bagi tanaman, karena banyak fraksi tanah yang mengikat phosfor menjadi bentuk yang tidak tersedia. Hubungan kandungan unsur hara makro phosfor (P) dengan waktu pengomposan diperlihatkan pada Gambar 3.

0

0.5

1

1.5

2

2.5

3

3.5

3

4

Kontrol

Jamur 5 gr

Jamur 15 gr

Jamur 25 gr

P

h

osf

o

r (%

)

Waktu pengomposan (bulan)

Gambar 3. Unsur phosphor produk kompos.

Hasil pengukuran konsentrasi kandungan terbesar unsur hara makro phosfor meningkat dengan pertambahan waktu pengomposan. Penambahan jamur pelapuk putih kedalam campuran bahan kompos menyebabkan unsur phosfor meningkat hampir dua kali lipat. Kenaikan kandungan unsur fosfor disebabkan proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit oleh jamur pelapuk putih yang bertindak sebagai inokulan sehingga proses pengomposan dapat berlangsung dengan cepat.

Berdasarkan standar kualitas pupuk kompos menurut PT. Pupuk Pusri, syarat kandungan fosfor adalah > 1,30%. Kondisi ini dapat tercapai pada kompos dengan usia pengomposan 2 bulan.

(7)

Nasrul Arahman / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 7 No. 4

191

Unsur Kalium

Kalium merupakan unsur hara makro yang sangat penting bagi tanaman dan menjadi perhatian ketiga setelah nitrogen dan phosfor. Kalium diserap dalam bentuk K+ (terutama

pada tanaman muda). Zat kalium mempunyai sifat mudah larut dan hanyut, selain itu mudah difiksasi (diserap) dalam tanah (Mulyani 1994). Pada proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit, kandungan unsur hara kalium yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan kandungan nitrogen dan phosfor pada awal bulan kedua. Hal ini diakibatkan oleh proses pelapukan hasil fermentasi bahan-bahan organik yang dibantu oleh bahan pengurai jamur pelapuk putih (Thambirajah dkk., 1995) Gambar 4 menunjukan hubungan organik hara makro kalium (K) dengan waktu pengomposan. Kandungan organik hara kalium tersebut berbeda–beda tergantung dari bahan induk dan derajat pelapukan tandan kosong kelapa sawit. Berdasarkan standar baku mutu kualitas pupuk organik, kandungan kalium yang diizinkan adalah < 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi tersebut dapat diperoleh dalam waktu pengomposan 2 bulan tanpa atau dengan penambahan jamur pelapuk putih.

0

1

2

3

4

5

2

4

Kontrol

Jamur 5 gr

Jamur 15 gr

Jamur 25 gr

Ka

li

u

m

(%

)

Waktu pengomposan (bulan)

Gambar 4. Unsur kalium pada produk kompos.

3.4 Ratio C/N

Pengukuran C/N dilakukan dengan membandingkan kandungan unsur karbon dengan nitrogen. Sesuai dengan proses fermentasi suatu pelapukan, dicirikan oleh hasil bagi C/N yang menurun. Bahan-bahan sampah organik pada awal proses fermentasi umumnya mempunyai hasil bagi C/N antara 15-30 (Mulyani, 1994).

0

5

10

15

20

25

30

35

40

3

4

Kontrol

Jamur 5 gr

Jamur 15 gr

Jamur 25 gr

C/N

Waktu pengomposan (bulan)

Gambar 5. Ratio C/N untuk berbagai variasi berat

pelet jamur pelapuk putih.

Pada proses pengomposan, diperlukan mikroba yang akan bekerja dalam proses pelapukan dan penghancuran bahan-bahan organik. Perkembangan mikroba memerlukan waktu agar tercapai suatu keadaan fermentasi yang optimal. Untuk mempercepat proses tersebut dipakai aktivator sebagai bahan pengurai yaitu jamur pelapuk putih.

Pengaruh penambahan jamur pelapuk putih terhadap terhadap waktu perolehan rasio C/Ndiperlihatkan pada Gambar 5. Angka rasio C/N menurun dengan bertambahnya waktu pengomposan. Penurunan rasio C/N terjadi lebih cepat untuk produk kompos dengan penambahan jamur pelapuk putih. Penurunan ratio C/N tersebut menandakan proses pembuatan kompos telah berjalan dengan baik yang ditandai dengan terurainya bahan-bahan organik menjadi kompos yang mempunyai perbandingan C/N rendah sebelum digunakan sebagi pupuk. Berdasarkan standar kualitas pupuk kompos menurut PT. PUSRI, persyaratan C/N rasio adalah harus lebih kecil dari 20. Hasil yang diperoleh dari penelitian kondisi tersebut dapat tercapai pada usia pengomposan 3 bulan untuk penambahan jamur pelapuk putih sebanyak 25gr. Bila tanpa penambahan jamur pelapuk putih, kondisi

(8)

Nasrul Arahman / Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 7 No. 4

192

tersebut baru tercapai pada usia pengomposan 4 bulan.

4. Kesimpulan

Penggunaan jamur pelapuk putih pada proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit telah terbukti mampu membantu mempercepat terjadinya proses pengomposan. Produk pupuk kompos yang diperoleh sudah memenuhi standar kulalitas pupuk yang dikeluarkan oleh SNI dan standar kulitas pupuk yang dikeluarkan oleh PT. PUSRI. Standar C/N dapat tercapai pada usia pengomposan 3 bulan untuk penambahan jamur pelapuk 25 gr, sedangkan bila tanpa penambahan jamur pelapuk, kondisi tersebut baru tercapai pada usia pengomposan 4 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang (1986) Perkebunan Kelapa Sawit,

sumber Pakan Ternak di Indonesia, Jurnal

Litbang Pertanian, Jakarta.

Moriya, O., Yoshimasa M., Toru, J., Toshiaki, K. (2001) Lignin degradation and roles of white rot fungi; study on an efficient symbiotic system in fungus growing termites and its application to bioremediation, RIKEN Review, 42, 39-42.

Mulyani, M. S. (1994) Pupuk dan Cara

Pemupukan, Penerbit PT. Rineka Cipta,

Jakarta.

Murbandono (1988) Membuat Kompos, Penebar Swadaya, Jakarta.

Thomas. B. (1991) Limbah Padat di Indonesia:

Masalah atau Sumber Daya, Yayasan obor

Indonesia, Jakarta.

Pamin (1993) Strategi Pengolahan Limbah

Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia,

WARTA PPKS, Jakarta.

Said, G. (1996) Penanganan dan Pemanfaatan

Limbah Kelapa Sawit, Trabus Agriwidya,

Jakarta.

Suriadikarta, D. A., Setyorini, D. (2005)

Laporan Hasil Penelitian Standar Mutu Pupuk Organik, Balai Penelitian Tanah,

Bogor.

Thambirajah, J. J, Zulkifli, M. D., Hasyim, M. A. (1995) Microbiological and biochemical changes during the composting of oil palm empty fruitbunches, Bioresource

Technology, 52, 133-144.

Manurung, T. E. G. (2001) Analisis Valuasi

ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia, Laporan Teknis, Natural

resources management program.

Environmental Policy and Institutional Strengthening IQC, Jakarta.

Tuomela, M., Oivanen, P., Hatakka, A. (2002) Degradation of synthetic 14C-lignin by various white-rot fungi in soil, Soil Biology

(9)

Petunjuk Penulisan Artikel

Naskah yang diterima merupakan hasil penelitian, review artikel, atau studi kasus dan belum pernah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah lain maupun sedang dipertimbangkan penerbitannya di jurnal lain. Bagi naskah yang telah pernah dipresentasikan pada seminar, harap mencantumkan nama seminar, lokasi dan waktunya pada catatan kaki.

Bahasa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Format. Naskah terdiri dari Judul, Nama Penulis, Abstrak, Kata Kunci, Pendahuluan, Metodologi, Hasil dan

Pembahasan, Kesimpulan, Ucapan Terima Kasih (bila diperlukan), Notasi (bila diperlukan), dan Daftar Pustaka. Naskah diketik dengan Microsoft Word versi 6.0 (atau versi lebih tinggi) pada kertas A4 (210mm x 297 mm) dalam bentuk ketikan 2 spasi dengan huruf Verdana 8 pitch. Margin kiri 3 cm, margin kanan 2,5 cm, margin atas 3,3 cm dan margin bawah 2,5 cm. Setiap halaman diberi nomor. Penggunaan satuan SI sangat diharapkan. Rumus-rumus Kimia dan matematika diberikan nomor (1), (2), dan seterusnya.

Judul. Tidak lebih 20 kata dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, serta harus jelas dan informatif.

Ditulis dengan huruf Verdana bold 12 pitch.

Nama Penulis. Ditulis lengkap tanpa gelar, disertai nama dan alamat instansi tempat penulis bekerja serta

alamat e-mail .

Abstrak. Ditulis dalam bahasa Inggris dan tidak melebihi dari 250 kata. Abstrak merupakan ringkasan

naskah dengan memuat uraian dan hasil penelitian secara ringkas, tanpa opini penulis.

Kata Kunci. Ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, sebanyak-banyaknya 5 buah dan

dicantumkan dibawah abstrak.

Gambar, Grafik, dan Tabel harus diberi nomor secara berurutan sesuai dengan urutan pemunculannya

dan diserahkan dalam bentuk siap cetak pada halaman terpisah dari tulisan. Setiap gambar dan tabel diberi keterangan singkat yang diletakkan di bawah untuk gambar dan di atas untuk tabel. Gambar berupa foto dikirim dalam bentuk asli. Jika gambar atau tabel dikutip, sumbernya disebutkan sesuai dengan Daftar Pustaka. Tabel diketik satu spasi dan garis pembatas vertical tidak digunakan. Ukuran maksimum gambar tidak melebihi 10 x 15 cm.

Daftar Pustaka. Cara mengacu ke daftar acuan dilakukan dengan menuliskan nama penulis pertama dan

tahun penerbitan di dalam kurung, misalnya (Ahmad dkk., 1999) untuk penulis lebih dari dua orang, atau (Leder dan Bruno, 2000) untuk penulis dua orang. Penulisan daftar pustaka harus memuat semua nama penulis. Judul harus lengkap. Daftar pustaka disusun ke bawah menurut abjad nama akhir penulis pertama. Daftar pustaka dari suatu jurnal ilmiah ditulis:

Serbezov, A. S., Sotirchos, S. V. (1997) Mathematical modeling of the adsorptive separation of multicomponent gaseous mixtures, Chemical Engineering Science, 52, 79-91.

Daftar pustaka dari suatu buku ditulis:

Skelland, A. H. P. (1974) Diffusional Mass Transfer, John Wiley & Sons, New York.

Shinnar, R. (1987), Use of residence and contact time distributions in reactor design, dalam Carberry, J. J., Varma, A. (eds.), Chemical Reaction and Reactor Engineering, Marcel Dekker, New York. Daftar pustaka dari suatu prosiding ditulis:

Berbner, S., Loffler, F. (1994) Pulse jet cleaning of rigid ceramic barriers filters separating hard and

brown coal fly ashes at high temperature, Proceeding of the 11th International Pittsburgh Coal

Conference, Pittsburgh, 12-16 September, 1357-1363.

Daftar pustaka dari suatu tesis/disertasi ditulis:

Riley, R. J. (1987) The magnetically stabilized fluidized bed as a solid/liquid separator, M.S. Thesis, University of Michigan, U.S.A.

Daftar pustaka dari suatu paten ditulis:

Primack, H.S. (1983) Method of Stabilizing Polyvalent Metal Solutions, U.S. Patent No. 4,373,104

Pengiriman Naskah. Artikel dikirimkan sebanyak 3 (tiga) eksemplar tercetak asli dengan kualitas cetakan

yang baik dan dalam bentuk rekaman (soft copy) dalam bentuk CD atau dapat juga dikirimkan lewat e-mail. Pengiriman naskah ditujukan ke alamat berikut:

Redaksi Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UNSYIAH Jl. Syech Abdurrauf No. 7, Darussalam, Banda Aceh 23111

Tel. +62-651-7412301 Fax. (0651) 52222 http://che.unsyiah.ac.id/rekayasa-kimia-lingkungan

E-mail: [email protected]

Setiap naskah yang siap untuk dicetak, dikenakan biaya terbit sebesar Rp 150.000,- per naskah. Biaya tersebut dikirim ke rekening a.n. Umi Fathanah, No: 1580000689851 Bank Mandiri kk Unsyiah Cabang Darussalam.

Gambar

Tabel 1.  Karakteristik tandan kosong kelapa sawit.
Gambar 3.  Unsur phosphor produk kompos.
Gambar 5.  Ratio C/N untuk berbagai variasi berat  pelet jamur pelapuk putih.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengurangi kandungan kalium dan mineral lain pada tandan kosong kelapa sawit sehingga dapat digunakan 100% sebagai bahan bakar

Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi pemberian Trichokompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) terformulasi dan pupuk kalium, pengaruh utama keduanya

Tulisan ini merupakan Skripsi dengan judul “Kajian Kinetika Dekomposisi pada Proses Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menggunakan Pupuk Cair Organik

 Apakah dengan umur mulsa tandan kosong kelapa sawit dapat Meningkatkan kelembaban tanah dan suplai unsur hara untuk pertumbuhan dan hasil produksi kelapa

Biochar dari cangkang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit dan tongkol jagung yang dihasilkan pada suhu pembakaran 300-400°C memberikan hasil yang berbeda terhadap massa

Kandungan selulosa, hemiselulosa, serta lignin pada tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang sangat tinggi menyebabkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi untuk

Penggunaan bakteri Azotobacter dan hijauan M.bracteata sampai akhir pengomposan tandan kosong kelapa sawit mampu meningkatkan kandungan nitrogen kompos sebesar

Menurut Darmadji (2002), pada tandan kosong kelapa sawit kandungan Hemiselulosa sebagai unsur pembentuk asam karboksilat yaitu sebesar 22,84 % sehingga pada setiap