BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teks penuh

(1)

8

A. Kajian Pustaka 1. Teori Behavioral

Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Kelompok kerja dalam perusahaan merupakan pengelompokan kerja dalam bentuk unit kerja dan masing-masing unit kerja itu dipimpin oleh seorang manajer, gaya manajer untuk mengelola sumber daya manusia dalam suatu unit kerja akan berpengaruh pada peningkatan kinerja unit yang akhirnya akan mempengarui kinerja perusahaan secara keseluruhan. Selanjutnya, teori kepemimpinan perilaku behavioral berasumsi bahwa gaya kepemimpinan oleh seorang manajer dapat dikembangkan dan diperbaiki secara sistematik.

Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

(2)

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon Slavin (2000;143) dalam Mu’tafi Baihaqi (2012). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

2. Teori Sikap dan Perilaku

Sikap adalah keadaan dalam diri manusia yang menggerakan untuk bertindak, menyertai manusia dengan perasaan-perasaan tertentu dalam menanggapi objek yang terbentuk atas dasar pegalaman-pengalaman. Krech dan Krutchfield (1983) dalam Deni Samsudin (2010). Seseorang membentuk sikap dari pengalaman pribadi, orang tua, panutan masyarakat, dan kelompok sosial. Ketika pertama sekali seseorang mempelajarinya sikap menjadi suatu bentuk bagian dari pribadi individu yang membantu konsistensi perilaku. Para akuntan harus memahami sikap dalam rangka memahami dan memprediksikan perilaku. Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan norma- norma sosial yang diterima secara umum, berhubungan dengan tindakan- tindakan yang bermanfaat dan membahayakan.

Perilaku kepribadian merupakan karakteristik individu dalam

(3)

ketrampilan, sikap, dan intelegensi yang muncul dalam pola perilaku seseorang. Dapat disimpulkan bahwa perilaku merupakan perwujudan atau manifestasi karakteristik – karakteristik seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan menurut Maryani dan Ludigdo (2000) dalam Deni Samsudin (2010).

Sehubungan dengan penjelasan diatas, teori ini berusaha menjelaskan mengenai aspek perilaku manusia dalam suatu organisasi, khususnya akuntan publik atau auditor yaitu meneliti bagaimana perilaku auditor dengan adanya faktor–faktor yang mempengaruhi independensi auditor. Sikap yang dimaksud disini adalah sikap auditor dalam penampilan, berperilaku independen dalam penampilan ketika auditor tersebut memiliki sikap independensi yang tinggi saat melaksanakan audit. Auditor diwajibkan bersikap independensi yaitu sikap tidak memihak kepentingan siapapun.

B. Pengertian Audit

Mulyadi (2002) dalam Andi Pratama (2013) menyatakan audit adalah pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Menurut Committee of Auditing Concepts (2005) dalam Ashari (2011) auditing adalah suatu proses sistemik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai suatu pernyataan tentang kegiatan ekonomis untuk menentukan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan, serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(4)

Menurut Arens (2011;1), Auditing adalah pengumpulan dan evaluasi bukti tentang informasi untuk menentukan dan melaporkan derajat kesesuaian informasi dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bukti memiliki banyak bentuk yang berbeda, termasuk kesaksian lisan pihak yang diaudit (klien), komunikasi tertulis dengan pihak luar, observasi oleh auditor, data elektronik dan data lain tentang transaksi. Auditing harus dilaksanakan oleh seorang yang kompeten dan independen.

Sedangkan menurut Sukrisno (2012;4),yang menyatakan bahwa pengertian auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang Independen, terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

Secara umum, pengertian Audit adalah proses secara sistematis yang dilakukan oleh orang berkompeten dan independen dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keungan tersebut, pada dasarnya audit merupakan kegiatan membandingkan kondisi yang ada dengan kriteria yang telah ditetapkan. Kondisi yang dimaksud adalah keadaan yang seharusnya dapat digunakan oleh auditor sebagai pedoman untuk mengevaluasi informasi.

1. Jenis-jenis Audit

Menurut Arrens (2011;16-18) Akuntan Publik melakukan tiga jenis utama aktivitas audit, sebagai berikut:

(5)

a. Audit Operasional

Audit Operasional mengevaluasi efisiensi dan efektivitas setiap bagaian dari prosedur dan metode operasi organisasi. Pada akhir audit operasional, manajemen biasanya mengharapakan saran-saran untuk memperbaiki operasi. Dalam audit operasional, review atau penelaahan yang dilakukan tidak terbatas pada akuntansi, tetapi dapat mencakup evaluasi atas struktur organisasi, operasi computer, metode produksi, pemasaran, dan semua bidang lain dimana auditor menguasainya.

b. Audit Ketaatan

Audit Ketaatan compline audit dilaksanakan jntuk menentukan apakah pihak yang diaudit telah mengikuti prosedur, aturan,atau ketentuan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi.

c. Audit Laporan Keuangan

Audit Laporan Keuangan financial statement audit dilakukan untuk menentukan apakah laporan keuangan (informasi yang diverifikasi) telah dinyatakan sesuai dengan kriteria tertentu.

2. Jenis-jenis Auditor

Menurut Arens (2011;19-21) ada beberapa jenis auditor yang berpraktik. Jenis yang paling umum adalah:

a. Kantor Akuntan Publik

Kantor akuntan publik bertanggung jawab mengaudit laporan keungan historis yang dipublikasikan oleh semua perusahaan terbuka, kebanyakan perusahaan

(6)

lain yang cukup besar, dan banyak perusahaan serta organisasi non komersial yang lebih kecil.

b. Auditor Internal Pemerintah

Auditor internal pemerintah adalah auditor yang bekerja untuk Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), guna melayani kebutuhan pemerintah.

c. Auditor Badan Pemeriksa Keuangan

Auditor Badan Pemeriksa Keuangan adalah auditor yang bekerja untuk Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia, badan yang didirikan berdasarkan Konstitusi Indonesia. Tanggung jawab utama BPK adalah untuk melaksanakan fungsi audit DPR, dan juga mempunyai banyak tanggung jawab audit seperti KAP.

d. Auditor Pajak

Direktorat Jendral (Ditjen) Pajak bertanggung jawab untuk memberlakukan peraturan pajak. Salah satu tanggung jawab utama Ditjen Pajak adalah mengaudit SPT wajib pajak untuk menentukan apakah SPT itu sudah memenuhi peraturan pajak yang berlaku. Audit ini murni bersifat audit ketaatan. Auditor yang melakukan pemeriksaan ini disebut auditor pajak.

e. Auditor Internal

Auditor internal dipekerjakan oleh perusahaan untuk melakukan audit bagi manajemen, sama seperti BPK mengaudit untuk DPR.

(7)

C. Kinerja Auditor Internal

Menurut Sawyer (2009) Audit internal adalah sebuah aktivitas konsultasi dan keyakinan objektif yang dikelola secara independen di dalam organisasi dan diarahkan oleh filosofi penambahan nilai untuk meningkatkan oprasional perusahaan.

Menurut Kalbers dan Fogarty (1995) dalam penelitian Sugiarto Prajitno (2012), kinerja auditor adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan padanya dan menjadi salah satu tolak ukur yang digunakan untuk menentukan apakah suatu pekerjaan yang dilakukan akan baik hasilnya atau sebaliknya. Pengertian kinerja auditor juga diungkapkan oleh Ilyas dan Yudhi (2009) yaitu suatu hasil kerja yang dicapai seorang auditor dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Sedangkan menurut Fanani (2008) dalam Elizabeth dan Friska (2013) Kinerja auditor merupakan perwujudan kerja dalam mencapai hasil kerja yang lebih baik dalam mencapai tujuan organisasi. Menurut Larkin (1990) dalam Josina Lawalata dkk (2010) terdapat empat dimensi personalitas, yaitu :

1. Kemampuan ability, yaitu kecakapan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman kerja, bidang pekerjaan dan faktor usia.

2. Komitmen profesional, yaitu tingkat loyalitas individu pada profesinya.

3. Motivasi, yaitu keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

(8)

4. Kepuasan kerja, yaitu tingkat kepuasan individu dengan posisinya dalam organisasi.

Dengan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan kinerja auditor adalah kegiatan auditor dalam menjalankan tugas-tugasnya yang didasarkan pada kecakapan, pengalaman, tanggungjawab dan ketepatan waktu yang diukur dengan kefektifan, kuantitas dan kualitas.

D. Budaya Organisasi

Budaya organisasi menurut Arnold (2005) dalam penelitian Arywarti dan Martani (2010) merupakan norma-norma, keyakinan, prinsip-prinsip dan cara prilaku yang dikombinasikan untuk memberikan setiap organisasi dengan karakter yang berbeda yang mebedakannya dengan organisasi lain. Budaya organisasi merupakan pola pemikiran, perasaan, dan tindakan dari suatu kelompok sosial yang membedakan dengan kelompok sosial yang lain (Yuskar;2011).

Budaya organisasi adalah gabungan dari ideologi, nilai-nilai, dan kepercayaan, sikap dan juga norma. Selain itu budaya organisasi merupakan nilai-nilai dominan atau kebiasaan dalam suatu organisasi perusahaan yang disebarluaskan dan diakui sebagai filosofi kerja karyawan menurut Trisnaningsih (2007) dalam Elizabeth dan Friska (2013). Pada dasarnya budaya organisasi dalam perusahaan merupakan alat untuk mempersatukan setiap individu yang melakukan aktivitas secara bersama-sama (Hartidah;2010). Budaya organisasi yang kuat diperlukan oleh setiap organisasi agar kepuasan kerja dan kinerja karyawan meningkat, sehingga akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan menurut Murtanto dan Djasmin (2005) dalam penelitian Elizabeth

(9)

dan Friska (2013). Dari beberapa pengertian tersebut dapat diartikan bahwa budaya organisasi adalah nilai-nilai yang terdapat di dalam organisasi dimana di setiap organisasi terdapat nilai-nilai yang berbeda, hal ini serupa dengan yang diungkapkan Robbins dan Timothty (2008) dalam penelitian Agung Gummala dkk (2014) budaya organisasi mengacu pada sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggotanya dan yang membedakan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya.

E. Independensi Auditor

Menurut Arens (2012;134) mengatakan :

“Independence of mind reflects the auditor's state of mind that permits the audit to be performed with an unbiased attitude. Independence of mind reflects a long-standing requirement that members be independent in fact.”

Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa independensi mencerminkan suatu pemikiran seorang auditor yang melakukan audit dengan sikap yang professional dan sesuai dengan etika yang berlaku. Independensi merupakan modal utama bagi seorang akuntan publik di masyarakat karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap kinerjanya. E.B. Wilcox (1952) dalam Indah (2010) menyatakan bahwa independensi bertujuan untuk menambah kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Jika seorang auditor tidak independen maka opininya tidak akan meberikan manfaat apapun dan pandangan masyarakat akan menyatakan kinerja auditor tersebut buruk, pada profesi akuntan independen merupakan salah satu indikator kinerja jadi seorang auditor harus memiliki sikap independen karena sikap tersebut akan mencerminkan kinerja dan

(10)

tanggungjawabnya sebagai auditor kepada masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kejujuran seseorang dalam bekerja.

Menurut Agung Gummala dkk (2014) independensi merupakan ketenangan dalam diri auditor dalam melaksanakan kegiatan audit sehingga laporan audit benar-benar menunjukan kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Independensi merupakan standar umum ke dua dari tiga standar auditing yang diterapakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang menyatakan bahwa dalam semua hal berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.

F. Gaya Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikelurkan untuk mencapai tujuan menurut Gary Yukl (2001) dalam Josina Lawalata dkk (2010). Pada dasarnya gaya kepemimpinan akan mempengaruhi bawahnya, karena pemimpin dianggap sebagai contoh, dalam hal ini pemimpin dapat berpengaruh buruk ataupun baik. Gaya kepemimpinan menunjukan kepribadian dan pola pikir yang dijalankan oleh seorang manajer didalam perusahaan (Agung Gummala;2014).

Kreitner dan Kinichi (2005) dalam Dwi Martani (2010) menggunakan gaya kepemimpinan dalam dua dimensi yaitu gaya kepemimpinan konsiderasi dan struktur inisiatif. Seorang pemimpin yang memiliki gaya konsiderasi akan menciptakan hubungan dekat dengan bawahan, rasa saling percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahannya, dan membangun komunikasi yang baik dengan bawahannya. Sedangkan, seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan

(11)

struktur inisiatif akan mengorganisasikan hubungan dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas, dan menjelaskan cara mengerjakan tugas yang benar. Oleh karena itu, kombinasi kedua gaya tersebut akan mempengaruhi sikap dan prilaku individu.

G. Komitmen Organisasi

Pengertian komitmen organisasi menurut Riggio (2000) dalam Agung Gummala (2014) :

“Organizational commitment is a worker’s feelings and attitudes about the entire work organization”.

Artinya komitmen organisasi adalah semua perasaan dan sikap karyawan terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan organisasi dimana mereka berkerja termasuk pada pekerjaan mereka. Komitmen organisasi adalah suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut (Sapariyah;2011), sedangkan Khikmah (2009) menyatakan bahwa komitmen organisasi merupakan keyakinan dan dukungan yang kuat terhadap nilai dan sasaran global yang ingin dicapai organisasi. Seorang auditor yang memiliki nilai komitmen tinggi akan mempengaruhi keinginannya untuk melakukan kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan organisasi yang akan bedampak baik bagi kinerja auditor.

Komitmen organisasi merupakan sikap yang menunjukan loyalitas karyawan dan merupakan proses berkelanjutan bagaimana seorang anggota organisasi

mengekspresikan perhatian mereka kepada kesuksesan dan kebaikan

(12)

dan Jackson (2004) dalam Dwi Martani (2010) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai tingkat sampai dimana pegawai yakin dan menerima tujuan organisasi, serta berkeinginan untuk tinggal bersama organisasi tersebut .

H. Penelitian Terdahulu

Ada beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian untuk melihat bagaimana pengaruh terhadap kinerja auditor. Hasil dari beberapa penelitian sebelumnya tersebut akan digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini. Tabel peneliti terdahulu dapat dilihat pada hal 20.

(13)

Tabel 2.1

Nama dan Judul Penelitian Varibel Penelitain Hasil Penelitian Andi Pratama, Dandes Rifa,

Arie Frinola Minovia (2013) Faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja auditor pada inspektorat kabupaten bungo

Dependen : Kinerja Auditor Independen:

Sumber daya manusia, komitmen organisasi, motivasi, independen, good governance

Sumber daya manusia, dan motivas,berpengaruh terhadap kinerja auditor. Sedangkan komitmen, independensi, dan good governance tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor.

Sugiarto Prajitno (2012) Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja akuntan publik di Jakarta

Dependen: Kinerja Auditor Independen:

Struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran, pemahaman good governance, kompleksitas tugas, budaya organisasi

Struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran,

pemahaman good governance, kompleksitas tugas tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Arywarti Marganingsih (2010)

Anteseden komitmen organisasi dan motivasi: konsekuensinya terhadap kinerja auditor intern pemerintah Dependen: Kinerja Auditor Independen: Komitmen organisasi, motivasi, gaya kepemimpinana, budaya organisasi, kompleksitas tugas

Budaya organisasi,

kompleksitas tugas dan gaya kepemimpinan memiliki pengaruh negatife terhadap kinerja auditor. Motivasi dan komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap kinerja auditor

Elizabeth Hanna dan Friska Firnanti (2013)

Faktor-faktor yang

mempengaruhi kinerja auditor

Dependen: Kinerja Auditor Independen:

Struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran, pemahaman good governance, gaya kepemimpinan, budaya organisasi, komitmen organisasi

Struktur audit, gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan ketidakjelasan peran berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan konflik peran, pemahaman good governance dan komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor

Josina Lawalata, Darwis Said dan Mediaty (2010)

Pengaruh idependensi auditor, komitmen organisasi, gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja auditor

Dependen: Kinerja Auditor Independen:

Independensi auditor, komitmen organisasi, gaya kepemimpinan,

budaya organisasi

Independensi auditor, komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, dan budaya organisasi

berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja auditor

Agung Gummala, Yunilma, Herawati (2014)

Pengaruh Independensi auditor, komitmen organisasi, gaya kepemimpinan, budaya organisasi terhadap kinerja auditor

Dependen: Kinerja Auditor Independen:

Independensi auditor, komitmen organisasi, gaya kepemimpinan,

budaya organisasi

Independensi auditor, dan komitmen organisasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Sedangkan gaya kepemimpinan, dan

budaya organisasi signifikan terhadap kinerja auditor Sumber : Data yang diolah

(14)

I. Rerangka Pemikiran

Berdasarkan telaah pustaka serta beberapa penelitian terdahulu, maka penulis mengindikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditor, dimana variabel independen terdiri dari budaya organisasi, independensi auditor, gaya kepemimpinan dan komitmen organsisasi. Untuk memudahkan analisis dan hipotesis, maka dapat digambarkan dalam suatu bagan model penelitian konseptual yang disajikan pada gambar, sebagai berikut:

Tabel 2.2

Model Penelitian Konseptual

Variabel Independen Variabel Dependen

Budaya Organisasi

Independensi Auditor

Gaya Kepemimpinan

Komitmen Organisasi

(15)

J. Hipotesis

1. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Auditor Internal

Dalam penelitian Marganingsih dan Martani (2010) budaya organisasi merupakan norma-norma, keyakinan, prinsip-prinsip, dan cara prilaku yang dikombinasikan untuk memberikan setiap organisasi dengan karakter yang berbeda yang membedakanya dengan organisasi lain. Hartidah dan Lugido (2010), mengidentifikasikan bahwa auditor dalam kinerjanya dipengaruhi oleh budaya tempat dia bekerja. Budaya organisasi yang kuat diperlukan oleh setiap organisasi agar kepuasan kerja dan kinerja karyawan meningkat, sehingga akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan menurut Murtanto dan Djasmin (2005) dalam Elizabeth dan Friska (2013). Hasil penelitian Elizabeth Hanna (2013) menunjukan adanya pengaruh positif antara budaya organisasi dengan kinerja auditor, hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto Prajitno (2012). Hipotesa yang diajukan adalah :

H1 : Budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor internal 2. Pengaruh Independensi auditor terhadap Kinerja auditor internal

Independensi merupakan aspek penting bagi profesionalisme akuntan

khususnya dalam membentuk integritas pribadi yang tinggi (Josina

Lawalata;2010). Dalam Standar Auditing Seksi 220.1 (SPAP: 2001) disebutkan bahwa independen bagi seorang akuntan publik artinya tidak mudah dipengaruhi karena auditor melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Oleh karena itu seorang auditor tidak dibenarkan memihak kepada siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian sikap tidak memihak justru sangat

(16)

diperlakukan untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya (Agung Gummala;2014). Hasil penelitian Josina Lawalata (2010) menyatakan independensi auditor memberikan pengaruh positif terhadap kinerja auditor. Hipotesa yang diajukan adalah :

H2 : Independensi auditor berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor internal 3. Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja auditor internal

Luthans (2002) dalam Elizabeth dan Friska (2013) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan cara pemimpin untuk mempengaruhi orang atau bawahannya sedemikian rupa sehingga orang tersebut mau melakukan kehendak pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi meskipun secara pribadi hal tersebut mungkin tidak disenangi. Pada dasarnya pemimpin dapat mempengaruhi dalam bekerja, dapat mempengaruhi anggotanya dalam memperbaiki kinerja serta dapat meningkatkan kinerjanya. Gaya kepemimpinan menunjukan kepribadian dan pola pikir yang dijalankan oleh seorang manajer didalam perusahaan serta gaya kepemimpinan yang dapat dijalankan seorang individu tentu beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan (Agung Gummala dkk;2014). Agung Gummala (2014) menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja auditor. Penelitian Elizabeth Hanna (2013) dan Josina Lawalata (2010) juga mendukung hasil tersebut. Hipotesa yang diajukan adalah :

H3: Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor internal 4. Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Kinerja auditor internal

Didalam sebuah komitmen organisasi terdapat suatu profesionalisme dan independensi yang baik untuk mencapai suatu kinerja yang meningkat didalam

(17)

organisasi. Komitmen merupakan suatu komitmen dapat menjadi suatu dorongan bagi seseorang untuk bekerja lebih baik atau malah sebaliknya menyebabkan seseorang justru meninggalkan pekerjaannya, akibat suatu tuntutan komitmen lainnya (Josina Lawalata dkk;2010). Menurut penelitian Wibobo (2006) dalam Agung Gummala dkk (2014) mengungkapkan komitmen adalah sebagai multidimensional pendekatan yang menyertakan kesediaan untuk menggunakan usaha atas nama organisasi dan keinginan untuk memelihara keanggotaan didalam organisasi. Komitmen organisasi juga banyak mengandung arti dari berbagai ahli sebagai peningkatan antara individu dengan suatu organisasi. Hasil penelitian Arywarti (2010) menyatakan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja auditor, hal tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Agung Gummala (2014). Hipotesa yang diajukan adalah :

H4 : Komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor internal

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :