• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKAPUR SIRIH. Assamua alaikum Wr. Wb

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEKAPUR SIRIH. Assamua alaikum Wr. Wb"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

2020

(2)

2

SEKAPUR SIRIH

Assamua’alaikum Wr. Wb

Puji dan syukur kita sampaikan ke hadirat Allah S

ubhanahu Wata’ala semoga kita dalam

menjalankan amanah masing-masing senantiasa mendapat rahmat dan ridhonya, sholawat dan salam

kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Solallahualaihi wassalam.

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur memiliki Fakultas Ilmu Kesehatan dan Farmasi,

Fakultas Sains Tekhnologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora serta Fakultas Pendidikan. Dalam

memenuhi kebutuhan pembelajaran UMKT mempunyai Laboratorium Terpadu untuk menunjang

pelaksanaan tridama perguruan tinggi, yang khususnya memfasilitasi pembelajaran keahlian

mahasiswa melalui praktikum, penelitian dan pengabdian masyarakat. Laboratorium terpadu

Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur senantiasa mengikuti perkembangan issue terkini/up

date

tentang ilmu pengetahuan yang dipelajari dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran praktikum

sebaik mungkin melalui upaya menyiapkan laboran, alat-alat dan bahan serta panduan praktikum

sesuai dengan kebutuhan pada setiap kelompok keilmuan.

Pembelajaran praktikum membutuhkan Panduan Praktikum / modul agar praktikum dapat

dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien. Modul ini secara prinsip berisi tentang acuan baku bagi

Dosen dan Mahasiswa dalam melaksanakan praktikum di laboratorium Univeristas Muhammadiyah

Kalimantan Timur. Dengan adanya Panduan Praktikum di Laboratorium Univeristas Muhammadiyah

Kalimantan Timur ini diharapkan mahasiswa dapat melakukan kegiatan praktikum dengan baik dan

benar.

Akhir kata saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian Panduan Praktikum / modul di Laboratorium Univeristas Muhammadiyah Kalimantan

Timur.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Kepala Laboratorium UMKT

Rini Ernawati .,S.Pd M.Kes

NIDN. 1102096902

(3)

3 A. KEWAJIBAN

1. Mahasiswa wajib mengontrak laboratorium dan mengisi silarium untuk peminjaman alat yang akan digunakan ketika praktikum

2. Mengisi Silarium dilakukan maksimal 3 hari sebelum kegiatan praktikum dimulai 3. Setiap mahasiswa yang akan praktik harus memasuki laboratorium 15 menit

sebelum praktik.

4. Mahasiswa selama praktik harus menggunakan APD sesuai dengan per-Laboratorium yang berlaku.

5. Mahasiswa wajib mengisi absensi ( daftar hadir )

6. Mahasiswa memperhatikan materi simulasi / praktek yang diberikan oleh dosen pembimbing

7. Mahasiswa wajib mengisi log book pada saat sebelum dan sesudah menggunakan alat ketika praktikum

8. Menjaga keamanan, kebersihan dan ketenangan selama dan sesudah praktik di laboratorium

9. Wajib membersihkan dan merapikan alat kembali saat selesai praktikum. B. HAK

1. Mahasiswa melakukan praktik laboratorium sesuai jadwal yang ditentukan

2. Jika diluar jadwal mahasiswa harus melapor kepada petugas laboratorium 1 hari sebelum praktik dan mengisi peminjaman lab serta alat.

3. Mahasiswa berhak mendapatkan materi dari dosen pembimbing

4. Mahasiswa berhak meminjam dan memakai alat laboratorium untuk kepentingan praktek belajar lapangan / magang sesuai ketentuan yang ada.

C. LARANGAN

1. Menggunakan sepatu didalam ruangan laboratorium

2. Makan, minum dan merokok selama kegiatan praktikum berlangsung 3. Duduk / berbaring di laboratorium

4. Membuat keributan dan membuang sampah sembarangan 5. Melanggar tata tertib laboratorium yang ada

6. Menggunakan Handphone saat praktik berlangsung D. SANKSI

1. Mahasiswa/i yang melanggar kewajiban dan larangan diatas berhak dikeluarkan dari laboratorium oleh dosen pembimbing

2. Apabila alat yang digunakan /dipinjam rusak, pecah, hilang maka mahasiswa/i yang bersangkutan harus mengganti dengan jenis alat dan jumlah yang sama sesuai batas waktu yang ditentukan

3. Keterlambatan dalam pengembalian alat yang dipinjam akan kena denda SBB: Instrument alat Rp.10.000/ alat/hari

Baju/tenun Rp.5000/baju/tenun/hari

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

Jl. Ir. H. Juanda No.15 Samarinda, Kampus 1 UMKT

Telp. (0541) 748511, Kode Wilayah 75124 Website : www.umkt.ac.id

(4)

4 BAGAN ALUR PENGGUNAAN

LABORATORIUM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

Jl. Ir. H. Juanda No.15 Samarinda, Kampus 1 UMKT

Telp. (0541) 748511, Kode Wilayah 75124 Website : www.umkt.ac.id

Kode :

LU/PM/LAB.01

PROSEDUR

PENCAPAIAN STANDAR PENGGUNAAN

LABORATORIUM

Revisi : 00 Tgl Berlaku: 26 Desember 2017 Halaman : Ka Prodi

Ketua prodi menyampaikan jadwal pembelajaran praktikum Lab kepada masing-masing dosen dan mahasiswa

Laboran, Dosen dan Mahasiswa

1. Laboran menyusun jadwal praktik disetiap ruang labortorium sesuai dengan jenis praktikum

2. Laboran memberikan pelayanan untuk pembelajaran praktikum sesuai jadwal

3. Mahasiswa dan Dosen Melakukan Praktikum Di Laboratorium Sesuai dengan jadwal praktik

PROSES

PELAKSANAAN PROSES

Ka. UPT Laboratorium

1. UPT Laboratorium menerima jadwal laboratorium yang telah diajukan serta berkoordinasi dengan Laboran untuk penggunaan Laboratorium.

2. UPT Laboratorium menyusun jadwal praktik sesuai jenis laboratorium yang dibutuhkan, dan jadwal yang telah disusun diserahkan kepada ka prodi/ Koord lab/ koord mata kuliah KONTRAK DOSEN MATA KULIAH

Ketua Prodi / Koordinator mata kuliah/ koord Lab membuat perencanaan penggunaan jadwal praktikum Laboratorium persemester dan mengajukan kepada UPT Laboratorium

MULAI

SELESAI Laboran

Laboran mengecek kondisi alat dan ruangan setelah praktikum selesai

(5)

5 BAGAN ALUR PEMINJAMAN DAN

PENGGUNAAN ALAT DI LABORATORIUM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR

Jl. Ir. H. Juanda No.15 Samarinda, Kampus 1 UMKT

Telp. (0541) 748511, Kode Wilayah 75124 Website : www.umkt.ac.id

Kode :

LU/PM/LAB.02

PROSEDUR

PENCAPAIAN STANDAR KINERJA

PEMINJAMAN DAN PENGGUNAAN ALAT

LABORATORIUM

Revisi : 00 Tgl Berlaku: 26 Desember 2017 Halaman : LABORAN

1. Menyetujui pengajuan peminjaman alat yang diajukan oleh mahasiswa

2. laboran mengecek kesiapan kelayakan alat kemudian Laboran menyerahkan alat kepada ketua /kelompok mahasiswa Dosen penanggung jawab mengisi berita acara praktikum

DOSEN dan MAHASISWA

1. Dosen dan Mahasiswa menggunakan alat untuk kegiatan praktikum

2. Mahasiswa membersihkan alat yang sudah digunakan dan mengembalikan kepada laboran

PROSES

PELAKSANAAN

SELESAI LABORAN

Laboran mengecek kelengkapan dan kondisi alat yang sudah selesai digunakan

MULAI MAHASISWA

Mengajukan peminjaman peralatan yang akan digunakan menggunakan silarium

(6)

6 DAFTAR ISI

BAB I: PRAKTIKUM SISTEM PERNAPASAN (RESPIRASI)

Prosedur Tindakan Nebulizer ... 9

Prosedur Tindakan Suction ... 12

Prosedur Tindakan Fisio Terapi dada dan Batuk Efektif... 16

Prosedur Tindakan Perawatan WSD (Water Seal Drainage)... 20

Prosedur Tindakan Perawatan Trakeostomy... 24

BAB II: KEGIATAN PRAKTIKUM SISTEM KARDIOVASKULER Prosedur Tindakan Pemasangan Elektrokardiografi (EKG)... 30

BAB III: KEGIATAN PRAKTIKUM SISTEM PENCERNAAN (GASTROINTESTINAL) Prosedur Tindakan Perawatan Kolostomi... 37

BAB IV : KEGIATAN PRAKTIKUM SISTEM PERSEPSI SENSORI Prosedur Tindakan Pemberian obat Tetes Mata... 42

Prosedur Tindakan Pemberian obat Tetes Mata... 46

BAB V : KEGIATAN PRAKTIKUM SISTEM HEMATOLOGI Prosedur Tindakan Rumple Leed Test... 53

(7)

7 BAB I

PRAKTIKUM SISTEM PERNAPASAN (RESPIRASI)

sistem respirasi secara garis besar terdiri dari bagian konduksi yang terdiri dari cavum nasi, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus terminal; dan bagian respirasi (tempat terjadi pertukaran gas) yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolar, dan alveoli. Menurut klasifikasi berdasarkan saluran napas atas dan bawah, saluran napas atas terbatas hingga faring sedangkan saluran napas bawah dimulai dari laring, trakea, bronkus dan berakhir di paru.

Bernapas berarti melakukan inspirasi dan ekspirasi secara bergantian, teratur, berirama dan terus menerus. Bernapas merupakan gerak reflek yang terjadi pada otot-otot pernapasan. Reflek bernapas ini diatur oleh pusat pernapasan yang terletak di dalam sumsum penyambung (medulla oblongata). Oleh karena itu seseorang dapat menahan, memperlambat atau mempercepat napasnya, ini berarti bahwa reflek napas juga di bawah pengaruh korteks serebri. Pusat pernapasan sangat peka terhadap kelebihan kadar karbondioksida dalam darah dan kekurangan oksigen dalam darah.

Mekanisme terjadinya pernapasan terbagi dua yaitu:

1. Inspirasi

Sebelum menarik napas / inspirasi kedudukan diafragma melengkung ke arah rongga dada, dan otot-otot dalam keadaan mengendur. Bila otot diafragma berkontraksi, maka diafragma akan mendatar. Pada waktu inspirasi maksimum, otot antar tulang rusuk berkontraksi sehingga tulang rusuk terangkat. Keadaan ini menambah besarnya rongga dada. Mendatarnya diafragma dan terangkatnya tulang rusuk, menyebabkan rongga dada bertambah besar, diikuti mengembangnya paru-paru, sehingga udara luar melalui hidung, melalui batang tenggorok (bronkus), kemudian masuk ke paru-paru.

2. Ekspirasi

Ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan intratorakal. Proses ekspirasi terjadi apabila otot antar tulang rusuk dan otot diafragma mengendur, maka diafragma akan melengkung ke arah rongga dada lagi, dan tulang rusuk akan kembali ke posisi semula. Kedua hal tersebut menyebabkan rongga dada mengecil, sehingga udara dalam paru-paru terdorong ke luar. Inilah yang disebut mekanisme ekspirasi.

Proses pertukaran gas adalah proses masuknya oksigen keluarnya karbon dioksida dalam alveolus. Pertukaran gas dalam alveolus adalah sebagai berikut :

(8)

8

Pada waktu kita bernapas, udara masuk masuk melalui saluran pernapasan dan akhirnya masuk ke dalam alveolus dalam paru-paru. Oksigen yang terdapat dalam alveolus berdifusi menembus dinding alveolus, kemudian menembus dinding kapiler darah yang mengelilingi alveolus. Dan terakhir masuk ke dalam pembuluh darah menjadi oksihemoglobin, selanjutnya diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.

Oksigen dilepaskan ke dalam sel-sel tubuh sehingga oksihemoglobin kembali menjadi hemoglobin. Oksigen digunakan untuk oksidasi (pernapasan sel). Karbon dioksida yang dihasilkan dari pernapasan sel diangkut oleh darah melalui pembuluh darah yang akhirnya sampai pada alviolus. Setelah menembus dinding pembuluh darah dan dinding alveolus, karbon dioksida masuk ke dalam alveolus. Dari alveolus, karbon dioksida dikeluarkan melalui saluran pernapasan pada waktu kita mengeluarkan bapas yang akhirnya karbon dioksida keluar dari tubuh melalui hidung.

Besarnya volume udara pernapasan bermacam-macam bergantung dari :

1. besar kecilnya paru-paru.

2. kekuatan bernapas. 3. cara bernapas.

Udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu melakukan pernapasan biasa disebut udara pernapasan atau udara tidal. Volume udara pernapasan pada orang dewasa lebih kurang 500 ml. Setelah melakukan inspirasi biasa, kita masih bisa menarik napas sedalam-dalamnya. Udara yang masuk ke paru-paru setelah mengadakan inspirasi biasa disebut udara komplementer. Udara komplementer pada orang dewasa volumenya lebih kurang 1.500 ml. Demikian juga setelah melakukan ekspirasi biasa, kita masih dapat mengeluarkan udara dari dalam paru-paru dengan menghembuskan napas sekuat-kuatnya. Udara yang dapat dikeluarkan dari dalam paru-paru setelah ekspirasi disebut udara suplementer. Volume udara suplementer pada orang dewasa lebih kurang 1.500 ml. Meskipun kita mengeluarkan napas dari paru-paru dengan sekuat-kuatnya ternyata dalam paru-paru masih ada udara, yang disebut udara residu. Volume udara residu lebih kurang 1.500 ml. Jumlah volume udara pernapasan, udara komplementer, dan udara suplementer disebut kapasitas vital paru-paru.

(9)

9

SOP TINDAKAN NEBULIZER

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan nebulizer dengan benar

Tujuan Khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu:

1. Menjelaskan tujuan nebulizer

2. Menjelaskan tahapan prosedur nebulizer

3. Menerapkan nebulizer secara benar

Pengertian

Pemberian obat secara langsung dengan menghisap uap yang mengandung obat (misalnya

bronkhodilator) melalui saluran pernafasan bagian atas ke paru-paru

Tujuan Nebulizer

1. Mengeluarkan dahak/sesak pada klien

2. Memberikan kenyamanan pada klien

Nama Mahasiswa:

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian 1 Baca status klien

2 Pantau frekuensi pernafasan klien 3 Auskultasi suara nafas klien

4 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mucus dalam jumlah berlebihan

Fase pre interaksi 5 Mencuci tangan 6 Mempersiapkan alat

(10)

10  Cairan steril

 Obat sesuai advis  Bengkok

Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien

14 Membaca basmalah 15 Memasang tirai/penutup

16 Mengatur posisi klien, berikan posisi fowler/semi fowler

17 Membuka skrup nebulizer kemudian memeriksa tempat penyulingan air di mangkok nebulizer

18 Mengisi cairan steril dan obat yang digunakan

19 Menyetel tombol percampuran udara kemudian tarik keluar hingga mencapai 100% oksigen dan dorong kembali hingga udara bercampur

20 Memasangkan mouth piece/sungkup pada pasien

21 Mengatur pengontrol tekanan (dibagian tengah depan mesin), putar kontrol penekan searah jarum jam sampai dibaca ukurannya untuk menekan

22 Periksa sampai puncak tekanan tombol hingga terbuka sempurna (posisi maksimal)

23 Atur tombol pengatur nebulizer hingga mencapai yang baik Fase Terminasi

24 Membaca hamdalah 25 Mengevaluasi respon klien 26 Memberi reinforcement positif

(11)

11 28 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca

doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

29 Merapikan alat 30 Mencuci tangan Evaluasi

31 Evaluasi adanya tanda-tanda sesak 32 Evaluasi respon klien

Dokumentasi

33 Catat waktu pelaksanaan

34 Catat obat yang digunakan pada klien

Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….) Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(12)

12

SOP TINDAKAN SUCTION

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan tindakan suction dengan benar Tujuan khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan tujuan suction

2. Menjelaskan tahapan prosedur suction 3. Menerapkan suction secara benar Pengertian

Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu mengeluarkan sekret pada jalan nafasnya secara mandiri.

Tujuan

1. Membersihkan jalan napas 2. Memenuhi kebutuhan oksigenasi Nama Mahasiswa :

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian 1 Baca status klien

2 Kaji suara nafas karena adanya penumpukkan sekret 3 Pantau frekuensi pernafasan klien

4 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mucus dalam jumlah berlebihan

Fase pre interaksi 5 Mencuci tangan 6 Mempersiapkan alat

 Alat pengisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan

(13)

13  Pinset steril

 Sarung tangan steril

 Dua kom berisi larutan aquadest atau NaCl 0,9% dan larutan desinfektan

 Kassa steril  Kertas tissue  Stetoskop Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien

14 Membaca “Basmallah” dan menjaga privasi klien

15 Tempatkan pasien pada posisi terlentang dengan kepala miring ke arah perawat

16 Gunakan sarung tangan

17 Hubungkan kateter pengisap (sesuai ukuran) dengan selang alat pengisap

18 Mesin pengisap dihidupkan

19 Lakukan pengisapan lendir dengan memasukkan kateter pengisap ke dalam kom berisi aquadest/NaCl 0,9% untuk mempertahankan tingkat kesterilan (asepsis)

20 Masukkan kateter pengisap dalam keadaan tidak menghisap 21 Gunakan alat pengisap dengan tekanan:

- Untuk dewasa 110-150 mmHg - Untuk anak-anak 95-110 mmHg - Untuk bayi 50-95 mmHg

22 Tarik dengan memutar kateter pengisap tidak lebih dari 15 detik

23 Bilas kateter dengan aquadest/NaCl 0,9%

24 Lakukan pengisapan antara pengisapan pertama dengan pengisapan berikutnya, minta pasien untuk bernafas dalam dan

(14)

14 batuk. Apabila pasien mengalami distress pernafasan biarkan

istirahat 20-30 detik sebelum melakukan pengisapan berikutnya 25 Kembalikan klien ke posisi semula

Fase Terminasi 26 Membaca hamdalah 27 Mengevaluasi respon klien 28 Memberi reinforcement positif

29 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

30 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

31 Merapikan alat 32 Mencuci tangan Evaluasi

33 Evaluasi jumlah, konsistensi, bau dan warna sekret 34 Evaluasi respon klien

Dokumentasi

35 Catat waktu pelaksanaan

36 Catat obat yang digunakan pada klien

Keterangan :

Tidak = 0 Ya = 1

Evaluasi Diri/Penguji

Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(15)

15 ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….)

(16)

16

SOP TINDAKAN FISIOTERAPI DADA DAN BATUK EFEKTIF

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan tindakan fisioterapi dada dengan benar Tujuan khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 4. Menjelaskan tujuan fisioterapi dada

5. Menjelaskan tahapan prosedur fisioterapi dada 6. Menerapkan fisioterapi dada secara benar Pengertian

Suatu tindakan keperawatan dengan melakukan drainase postural, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan (mis. PPOK, Bronkitis Kronis, Asma, Emfisema) yang dilakukan untuk mengeluarkan sekret pada organ pernafasan.

Tujuan

1. Mengeluarkan dahak pada klien 2. Memberikan kenyamanan pada klien

Nama Mahasiswa :

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Melakukan pengecekan program terapi 2 Tanyakan kapan terakhir klien makan 3 Kaji adanya kelainan pada thorak

4 Kaji adanya tanda-tanda kenaikan tekanan intrakranial 5 Kaji status klien

6 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mukus dalma jumlah berlebih

(17)

17 Fase pre interaksi

7 Mencuci tangan 8 Mempersiapkan alat

 Stetoskop  Bengkok  Tissue

 Perlak dan pengalas  Handscoon 1 pasang

 Pot sputum berisi desinfektan  Masker

 Bantal (2-3 buah)  Air minum hangat Fase Orientasi

9 Memberi salam dan menyapa nama klien 10 Memperkenalkan diri

11 Melakukan kontrak

12 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

13 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 14 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

15 Membaca basmalah dan menjaga privasi klien 16 Memasang APD

17 Melakukan pemeriksaan auskultasi untuk memastikan letak penumpukan sputum

18 Menganjurkan pasien untuk minum air hangat

19 Menganjurkan klien melakukan pernafasan diafragma 20 Mengatur posisi klien sesuai dengan lokasi penumpukan

sekret*

a. Posisi pengaliran segmen apikal lobus atas klien posisi fowler, penepukan pada area antara klavikula dan skapula b. Posisi pengaliran lobus paru atas belakang, klien duduk

membungkuk ditopang 2 bantal pada dada depan. Penepukan pada punggung atas kanan atau kiri

c. Posisi pengaliran segmen lateral dan median lobus tengah klien, posisi sims, tepuk pada dada samping

d. Posisi pengaliran lobus bawah depan , klien posisi trendenberg terlentang tepuk pada bagian bawah dada depan kanan dan atau kiri

(18)

18 trendenberg tengkurap, tepuk pada bagian punggung kanan

dan kiri dari bawah skapula sampai punggung tengah

f. Posisi pengaliran segmen anterior dari lobus atas, klien posisi supinasi dengan lutut fleksi, perkusi dan vibrasi antara klavikula dan nipples

21 Memasang perlak dan pot sputum di dekat klien

22 Melakukan clapping dengan cara menepuk daerah yang dituju (lakukan clapping selama 1-3 menit)*

23 Melanjutkan dengan vibrasi sesuai area penepukan (2-3 pernafasan) saat klien ekspirasi *

24 Memberikan kesempatan klien untuk istirahat sejenak

25 Meminta pasien untuk batuk efektif (meminta klien menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut seperti meniup lilin sebanyak 3 kali dan ke 4 kalinya klien membatukkan sekuatnya dan membuang dahak ke pot sputum) 26 Menawarkan oral hygiene

27 Melakukan pemeriksaan auskultasi perubahan pada suara nafas Fase Terminasi

28 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 29 Mengumpulkan dan membersihkan alat

30 Melepaskan sarung tangan & mencuci tangan 31 Membaca hamdalah

32 Mengevaluasi respon klien 33 Memberi reinforcement positif

34 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

35 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

(19)

19 Evaluasi

36 Evaluasi suara nafas untuk menentukan keberhasilan tindakan 37 Evaluasi respon klien

Dokumentasi

38 Karakteristik (warna, jumlah) sputum 39 Lokasi sputum

40 Bunyi dan frekuensi pernafasan

Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….) Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(20)

20

SOP TINDAKAN PERAWATAN WSD

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan tindakan perawatan WSD Tujuan khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan tujuan Perawatan WSD

2. Menjelaskan tahapan prosedur Perawatan WSD 3. Menerapkan Perawatan WSD secara benar Pengertian

Water Seal Drainage ( WSD ) merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan berupa darah atau pus dari rongga pleura , rongga thorax, dan mediastinum dengan menggunakan pipa penghubung untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut.

Tujuan

Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga thorak 1. Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura

2. Mengembangkan kembali paru yang kolaps

3. Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada 4. Mengembalikan fungsi paru yaitu “mechanis of breathing

Nama Mahasiswa :

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Memeriksa kembali instruksi dokter 2 Mengecek inform consent

3 Mengkaji status pasien; TTV dan status pernafasan 4 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mukus dalma jumlah berlebih

Fase pre interaksi 5 Mencuci tangan 6 Mempersiapkan alat

(21)

21 1. Trolly dressing

2. Botol WSD berisi larutan bethadin yang telah diencerkan dengan NaCl 0,9% dan ujung selang terendam sepanjang 2 cm. 3. Kasa steril dalam tromol.

4. Pinset 5. Korentang 6. Plester 7. Gunting 8. Alkohol 70% 9. Bethadin 10% 10. Handscoon steril 11. Bengkok Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Membaca basmalah dan menjaga privasi klien 14

Cuci tangan lalu gunakan handscoon

15

Buka set bedah minor steril.

16

Buka balutan dengan menggunakan pinset secara

hati-hati, balutan kotor dimasukkan ke dalam bengkok

17

Disinfeksi luka dan selang dengan bethadin 10%

kemudian dengan alkohol 70%

18

Tutup luka dengan kassa steril yang sudah dipotong

tengahnya kemudian diplester

19

Klem selang WSD

20 Lepaskan sambungan antara selang WSD dengan selang botol

21 Bersihkan ujung selang WSD dengan alkohol 70%, kemudian hubungkan dengan selang penyambung botol WSD yang baru

(22)

22 23 Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan bimbing

pasien cara batuk efektif

24 Latih dan ajurkan pasien untuk secara rutin 2-3 kali sehari melakukan latihan gerak pada persendian bahu daerah pemasangan WSD

25 Rapikan pakaian pasien dan lingkungannya.

26 Bantu pasien dalam mendapatkan posisi yang nyaman.

27 Bersihkan alat-alat dan botol WSD yang kotor, kemudian sterilisasi kembali.

28 Buka handscoon dan cuci tangan. Fase Terminasi

29 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 30 Mengumpulkan dan membersihkan alat

31 Melepaskan sarung tangan & mencuci tangan 32 Membaca hamdalah

33 Mengevaluasi respon klien 34 Memberi reinforcement positif

35 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

36 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

Evaluasi

37 Evaluasi suara nafas untuk menentukan keberhasilan tindakan 38 Evaluasi respon klien

Dokumentasi

(23)

23 40 Lokasi

41 Bunyi dan frekuensi pernafasan

Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….) Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(24)

24

SOP TINDAKAN PERAWATAN TRAKEOSTOMI

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan Perawatan Trakeostomi

Tujuan Khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu:

1. Menjelaskan tujuan Perawatan Trakeostomi

2. Menjelaskan tahapan Perawatan Trakeostomi

3. Menerapkan Perawatan Trakeostomi secara benar

Pengertian

Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas

Tujuan

1. Mencegah obstruksi jalan nafas 2. Sarana untuk mengangkat sekret 3. Meningkatkan kerja paru

4. Mencegah infeksi

5. Mencegah kerusakan integritas kulit sekitar trakeostom

Nama Mahasiswa:

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian 1 Baca status klien

2 Pantau frekuensi pernafasan klien 3 Auskultasi suara nafas klien

4 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mucus dalam jumlah berlebihan

Fase pre interaksi 5 Mencuci tangan

(25)

25 6 Mempersiapkan alat

1. Tali pengikat trakeostomi

2. Kom/mangkuk steril, cairan Nacl, Hydrogen Peroksida (H202), spuit 10cc.

3. Stetoskop 4. Suction set

5. Set ganti balut steril

6. 1 pasang handscoen bersih dan 2 pasang handscoen steril

7. Kapas apus (swab), alkohol 70%

8. Nierbeken/bengkok, plester, dan gunting 9. sikat pembersih

10. Handuk, perlak, dan kantung plastik

11. Tromol kasa, kaca mata pelindung, masker, gaun/ skort (kalau perlu)

6 Persiapan Pasien

Memberikan posisi semi fowler Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Membaca basmalah 14 Memasang tirai/penutup

15

Mencuci tangan dan memakai handscoen bersih

16 Membuka set peralatan dan bungkus alat-alat yang dibutuhkan untuk pembersihan trakeostomi.

a. Meletakkan perlak paling bawah

b. Mengatur mangkuk steril kedua dekat, jangan menyentuh bagian dalam mangkuk

c.Tuangkan 50 ml hidrogen peroksida ke mangkuk, jangan sampai menetes ke perlak d.Membuka sikat steril dan letakkan disebelah mangkuk yang berisi hidrgen peroksida

e.Membuka sikat steril dan letakkan disebelah mangkuk yang berisi hidrogen peroksida

f. Membuka bungkusan kasa, tuangkan hidrogen peroksida diatas kasa pertama, dan normal salin pada kasa kedua, sedangkan kasa ketiga

dibiarkan kering.

(26)

26 sekali pakai ( disposible), buka bungkusnya sehingga

dapat dengan mudah diambil. Pertahankan sterilisasi kanule dalam

h. Menentukan panjang tali pengikat trakeostomi yang diperlukan dengan menggandakan lingkar leher dan menambah 5 cm dan gntung tali pada panjang tersebut.

17 Melakukan prosedur penghisapan. Pastikan telah mengguanakan skort, kaca mata pelindung, dan handscoen steril

18 Melepaskan handscoen yang sudah basah dan kenakan handscoen steril yang baru. Pertahankan agar tangan dominan tetap steril sepanjang prosedur dilakukan.

19 Membersihkan kanule dalam

20 Mengganti kanule dalam sekali pakai ( disposible

inner-canule)

a. Buka dan lepaskan kanul dalam dengan

menggunakan tangan yang tidak dominan dengan hati-hati

b. Lakukan teknik penghisapan dengan teknik steril (jika diperlukan)

c. Mengeluarkan kanul dalam baru steril dari bungkusnya dan siramkan normal salin steril pada kanul baru tersebut. biarkan normla salin menetes dari kanul dalam.

d. Memasang kanul dalam dengan hati-hati dan cermat dan kunci kembali agar tetap pada tempatnya

e. Menghubungkan kembali klien dengan sumber oksigen

21 a. Lepaskan kanule dalam menggunakan tangan tidak dominan dan masukkan kanule tersebut ke dalam mangkuk berisi hidrogen peroksida

b. Membersihkan kanule dalam dengan menggunakan sikat (tangan dominan memegang sikat dan tangan yang tidak dominan memegang kanul).

c. Memegang kanula diatas mangkuk yang berisi hidrogen peroksida dan tuangkan normal saline pada kanula sampai semua bagian kanula terbilas dengan baik. Biarkan normal saline menetes dari kanule dalam.

d. Memasang kembali kanule dalam dan kunci e. Hubungkan kembali klien ke sumber oksigen

22 Membersihkan bagian luar/sekitar kanula dan kulit

(27)

27 bilas dengan Nacl dan keringkan dengan kasa

23 Mengganti tali pengikat trakeostomi:

a. Membiarkan tali yang lama tetap pada

tempatnya sementara memasang tali yang baru b. Menyisipkan tali yang baru pada salah satu

sisi faceplate. Melingkarkan kedua ujung bebasnya mengelilingi bagian belakang leher klien ke sisi lainnya faceplate dan ikat dengan kuat tetapi tidak ketat. Gunting tali trakeostomi yang lama.

24 Memasang kasa mengelilingi kanul luar dibawah tali pengikat dan faceplate. Periksa kembali untuk memastikan bahwa tali pengikat tidak terlalu ketat tetapi pipa

trakeostomi tertahan dengan aman pada tempatnya. 25 Mengempiskan dan mengembangkan balon (cuff) pipa

trakeostomi:

a. memakai hanscoen

b. jika terdapat klem pada pipa cuff lepaskan klemnya dan sambungkan dengan spuit

c. meminta klien menghirup nafas dalam (biasanya 5cc). Amati kesulitan bernafas

26 Mengatur kembali posisi klien, memasang pengaman tempat tidur dan atur kembali ketinggian tempat tidur. 27 Melepaskan handscoen dan mencuci tangan

Fase Terminasi 28 Membaca hamdalah 29 Mengevaluasi respon klien 30 Memberi reinforcement positif

31 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

32 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

(28)

28 33 Merapikan alat

34 Mencuci tangan Evaluasi

35 Evaluasi adanya tanda-tanda sesak dan tanda-tanda vital

36 Evaluasi respon klien Dokumentasi

37 Catat waktu pelaksanaan

38 Catat obat yang digunakan pada klien

Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….) Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(29)

29 BAB II

PRAKTIKUM SISTEM KARDIOVASKULER

Sistem kardiovaskuler yaitu suatu sistem yang secara umum berperan

mengedarkan darah keseluruh tubuh, sekaligus membawa oksigen dan zat gizi ke

semua jaringan tubuh serta mengangkut semua zat buangan. Sistem kardiovaskuler

terdiri dari jantung dan pembuluh darah. Jantung adalah pompa otot beruang empat

yang mendorong darah mengelilingi sirkulasi. Sistem vaskuler atau pembuluh darah

terdiri dari arteri yang membawa darah dari jantung ke jaringan, kapiler berdinding

tipis yang memungkinkan difusi gas dan zat metabolik, dan vena serta venula yang

mengembalikan darah ke jantung.

Fungsi Sistem Kardiovaskuler

Secara umum sistem kardiovaskuler memiliki fungsi:

1. Mengangkut nutrisi, oksigen dan hormon ke seluruh tubuh dan melepaskan

limbah metabolik (karbon dioksida, limbah nitrogen)

2. Perlindungan tubuh oleh sel darah putih, antibodi dan protein komplemen yang

beredar dalam darah dan mempertahankan tubuh terhadap mikroba asing dan

toksin. Mekanisme pembekuan juga turut serta melindungi tubuh dari kehilangan

darah setelah cedera

3. Pengaturan suhu tubuh, pH cairan dan kadar air sel

4. Bagaimanapun sistem kardiovaskuler, memerlukan fungsi kooperatif sistem lain

untuk mempertahankan komposisi darah dan sebagainya untuk melestarikan

homeostasis intraseluler. Misalnya, pencernaan dan organ ekskretori yang

berperan dalam menjaga konstitusi homeostasis darah, saraf otonom, sistem

endokrin, sistem koordinat kardiovaskuler, serta fungsi lainnya.

(30)

30

SOP TINDAKAN PEMASANGAN ELEKTRO KARDIOGRAFI

(EKG)

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan pemasangan EKG dengan benar Tujuan khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan tujuan pemasangan EKG

2. Menjelaskan tahapan prosedur pemasangan EKG 3. Menerapkan pemasangan EKG secara benar. Pengertian

Merupakan salah satu bentuk pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis penyakit jantung.

Tujuan Pemasangan EKG

1. Menentukan kelainan irama jantung (disritmia)

2. Menentukan kelainan miokard (iskemik, injuri, atau infark miokardium)

3. Menentukan hipertrofi otot jantung (hipertrofi otot atrium dan hipertrofi otot ventrikel) 4. Melihat efek obat-obatan terutama efek digitalis dan anti-aritmia

5. Melihat efek gangguan keseimbangan elektrolit khususnya kalium

6. Untuk menilai fungsi pacu jantung pada pasien-pasien yang terpasang pacu jantung Nama Mahasiswa :

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Kaji obat-obatan yang mempengaruhi kerja jantung atau pembuluh darah

2 Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kerja jantung: aktivitas berat, stress emosional, nyeri dan merokok sebelum pengukuran

3 Kaji lokasi pemeriksaan

4 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

 Penurunan Curah Jantung/ Cardiac Output Fase pre interaksi

(31)

31 5 Mencuci tangan 6 Mempersiapkan alat  Mesin EKG  Plat elektroda  Jelly elektroda

 Kertas EKG (siap pada alat EKG)  Kertas tissue

 Alat tulis

 Sarung tangan (jika perlu)

Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Memasang tirai / penutup 14 Membaca basmalah 15 Menyiapkan klien

 Buka pakaian atas klien

 Posisikan klien berbaring terlentang dengan tungkai lurus, tidak bersentuhan, kedua lengan lurus disamping tubuh (rileks)

 Lepaskan perhiasan/alat-alat yang terbuat dari logam pada tubuh klien dan berikan pada keluarga klien

16 Menempatkan diri disebelah kanan klien, jika memungkinkan 17 Penempatan elektroda ekstremitas

 Berikan jelly pada area yang akan dipasang elektroda  Elektroda ekstremitas dipasang pada pergelangan tangan

kanan dan kiri searah telapak tangan

 Pada ekstremitas bawah pada pergelangan kaki kanan/kiri sebelah dalam

Merah : lengan kanan Kuning : lengan kiri

(32)

32 Hijau : tungkai kiri

Hitam : tungkai kanan

 Kemudian kabel-kabel dihubungkan 18 Penempatan elektroda dada

 berikan jelly pada area yang akan dipasang elektroda  V1 pada ruang intercostae 4 sebelah kanan sternum  V2 pada ruang intercostae 4 sebelah kiri sternum  V3 ditengah antara V2 dan V4

 V4 pada ruang intercostae 5 pada garis mid klavikula sebelah kiri

 V5 pada garis axilla anterior kiri setinggi V4  V6 pada garis mid axillaris kiri setinggi V5

19 Hubungkan kabel power dengan listrik, dengan tombol power pada posisi off

20 Kabel bumi (ground) dipasang dan diletakkan dilantai

21 Hidupkan mesin (power on), biarkan sebentar mesin melakukan pemanasan

22 Setelah itu lakukan kalibrasi dengan menekan tombol run/start dan periksa apakah hasilnya 10 mm (1 mv) dengan speed 25 mm/detik

23 Dengan memindahkan lead selektor, kemudian dibuat pencatatan EKG secara berturut-turut yaitu: I-AVF & V1-V6 24 Setelah pencatatan selesai, lepaskan elektroda dan bersihkan

jelly yang ada Fase Terminasi

25 Membaca hamdalah

26 Membereskan/merapikan alat-alat

27 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 28 Catat di pinggir kiri atas kertas EKG :

Nama klien, umur, tanggal, jam, yang membuat rekaman (paraf) 29 Mengevaluasi respon klien

30 Memberi reinforcement positif

31 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

32 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

(33)

33 Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala

klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

33 Mencuci tangan Evaluasi

34 Bandingkan data hasil pemeriksaan dengan data yang seharusnya

35 Evaluasi respon klien terhadap tindakan Dokumentasi

36 Catat waktu dan tanggal prosedur pemeriksaan EKG 37 Toleransi klien terhadap prosedur yang dilakukan

Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….) Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(34)

34 BAB III

PRAKTIKUM SISTEM PENCERNAAN (GASTROINTESTINAL)

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan yaitu :

1. .Mulut

Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air. Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap dan jalan masuk untuk system pencernaan yang berakhir di anus. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan sederhana terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

2. Tenggorokan (Faring)

Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari bagian superior yaitu bagian yang sama tinggi dengan hidung, bagian media yaitu bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior yaitu bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah. Bagian inferior disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.

(35)

35 3. Kerongkongan (Esofagus)

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi, esofagus dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

4. Lambung

Merupakan organ otot berongga yang besar, yang terdiri dari tiga bagian yaitu kardia, fundus dan antrium. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting yaitu lendir, asam klorida (HCL), dan prekusor pepsin (enzim yang memecahkan protein). Lendir melindungi sel – sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.

5. Usus halus (usus kecil)

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus terdiri dari lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang dan lapisan serosa. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).

6. Usus Besar (Kolon)

Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K.

(36)

36 Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

7. Rektum dan Anus

Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar) yang merupakan fungsi utama anus.

(37)

37

SOP TINDAKAN PERAWATAN KOLOSTOMI

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan Perawatan Kolostomi dengan benar

Tujuan Khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu:

1. Menjelaskan tujuan Perawatan Kolostomi

2. Menjelaskan tahapan prosedur Perawatan Kolostomi

3. Menerapkan Perawatan Kolostomi secara benar

Pengertian

Merawat luka stoma kolon pada abdomen yang berfungsi sebagai alat eleminasi fekal akhir

pada klien.

Tujuan Perawatan Kolostomi

1. Mengurangi pertumbuhan mikroorganisme pada luka atau daerah insisi

2. Mencegah terjadinya infeksi

3. Menjaga fungsi kolostomi untuk tetap dalam kondisi yang baik

Nama Mahasiswa:

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Kaji jenis kolostomi yang digunakan klien

2 Kaji advis dokter yang berhubungan dengan tindakan perawatan kolostomi

3 Kaji jenis, penampilan, dan lokasi kolostomi 4 Kaji tingkat kebersihan kolostomi

5 Diagnosa keperawatan yang sesuai: 

(38)

38 6 Mencuci tangan

7 Mempersiapkan alat  Handscoon bersih  Handscond steril  Perlak dan pengalas  Pinset anatomis

 Kom berisi kapas + larutan NaCl 0,9%  Kom berisi kassa steril

 Kantong colostomi  Bengkok

Fase Orientasi

8 Memberi salam dan menyapa nama klien 9 Memperkenalkan diri

10 Melakukan kontrak

11 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

12 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 13 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

14 Membaca ’Basmalah’ dan memulai tindakan dengan baik 15 Jaga privasi: tutup pintu dan jendela / pasang sampiran 16 Memasang handscoon bersih

17 Memasang perlak pengalas pd pasien dibagian kanan/kiri sesuai letak lubang colon yang dikeluarkan atau kulit stoma

18 Meletakkan bengkok diatas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien

19 Membuka kantong kolostomi secara hati-hati dengan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien

20 Memasang handscoon steril

21 Membersihkan kulit stoma dengan kapas NacL 0,9%* 22 Membersihkan stoma dengan kapas Nacl 0,9% * 23 Mengeringkan kulit sekitar stoma dengan kapas steril 24 Membuka perekat kantong kolostomy

25 Menempelkan kantong kolostomy dengan posisi yang benar 26 Merapikan kembali alat-alat dan membuang sampah

(39)

39 27 Melepas sarung tangan

Fase Terminasi

28 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 29 Membaca hamdalah

30 Mengevaluasi respon klien 31 Memberi reinforcement positif

32 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

33 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

34 Mengumpulkan dan membersihkan alat-alat 35 Mencuci tangan

Evaluasi

36 Adanya tanda-tanda infeksi dan kondisi kolostomi 37 Toleransi klien terhadap prosedur yang dilakukan Dokumentasi

38 Lokasi dan jenis kolostomi 39 Status kolostomi sebelumnya 40 Toleransi klien terhadap prosedur Keterangan :

Tidak = 0 Ya = 1

Evaluasi Diri/Penguji

Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

(40)

40 ... ... ... ... ... Pembimbing/Penguji (……….)

(41)

41 BAB IV

PRAKTIKUM SISTEM PERSEPSI SENSORI

Persepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Seperti misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai retina pada mata, pencium yang memakai media molekul bau (aroma), dan pendengaran yang melibatkan gelombang suara. Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian Persepsi bergantung pada fungsi kompleks sistem saraf, tetapi tampak tidak ada karena terjadi di luar kesadaran.

Sensor adalah sesuatu yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan lingkungan fisik atau kimia.

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis :

a. Persepsi visual

Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.

b. Persepsi auditori

Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga. c. Persepsi perabaan

Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit. d. Persepsi penciuman

Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.

e. Persepsi pengecapan

Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah. f. Persepsi selektif

persepsi selektif adalah menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang yang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang.

(42)

42

SOP TINDAKAN PEMBERIAN OBAT TETES MATA

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan pemberian obat tetes mata dengan benar

Tujuan Khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu:

4. Menjelaskan tujuan pemberian obat tetes mata dengan benar

5. Menjelaskan tahapan prosedur pemberian obat tetes mata dengan benar 6. Menerapkan pemberian oabat tetes mata

Pengertian

Pemberian obat tetes mata adalah memberikan obat pada mata melalui kanal eksternal dalam bentuk cair

Tujuan Pemberian Obat Tetes Mata

1. Menghilangkan serumen atau benda asing

2. Untuk memberikan efek terapi local (mengurangi peradangan, membunuh organisme penyebab infeksi pad kanal mata eksternal).

Nama Mahasiswa:

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Kaji kondisi struktur mata luar

2 Lihat apakah klien menggunakan lensa kontak/tidak

3 Tinjau kembali program obat dari dokter dan Check kembali obat mata dengan daftar obat dengan menggunakan prinsip 5 benar

4 Kaji kesiapan klien 5 Kaji kesiapan perawat

6 Diagnosa keperawatan yang sesuai:

(43)

43 dan peningkatan paparan lingkungan

Fase pre interaksi 7 Mencuci tangan 8 Mempersiapkan alat

 Handuk

 Bola kapas atau tissu

 Botol obat dengan tetes mata steril  Bengkok/nierbecken

 Pengalas/perlak  Handscoon  Kasa

 Kartu / format nama obat Fase Orientasi

9 Memberi salam dan menyapa nama klien 10 Memperkenalkan diri

11 Melakukan kontrak

12 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

13 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 14 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

14 Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien.

15 Gunakan sarung tangan (Handscoon)

16 Membaca ’Basmalah’ dan memulai tindakan dengan baik. 17 Jaga privasi: tutup pintu dan jendela / pasang sampiran.

18 Minta klien untuk berbaring terlentang atau duduk di kursi dengan kepala sedikit hiperekstensi

19 Jika ada krusta (keropeng) atau drainase disepanjang batas kelopak mata atau kantus dalam, buang perlahan. Basahi kerak yang kering dan sulit dipindahkan menggunakan kain atau bola kapas lembab pada mata selama beberapa menit. Selalu mengusap dari kantus dalam ke kantus luar

20 Dengan tangan yang tidak dominan, pegang bola kapas atau tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat dibawah kelopak mata bawah. Tekan ke bawah dengan lembut, dengan ibu jari atau jari telunjuk pada lingkaran tulang mata

(44)

44 22 Dengan tangan dominan pada dahi klien, pegang alat tetes

mata berisi obat kira-kira 1 sampai 2 cm di atas kantong konjungtiva

23 Teteskan sejumlah tetesan yang diresepkan kedalam kantong konjungtiva

24 Jika klien mengedip atau menutup mata atau jika tetes mata jatuh dibatas kelopak mata luar, ulangi prosedur

25 Saat memberikan obat yg dapat menimbulkan efek sistemik, lindungi jari anda dengan tisu bersih dan beri tekanan lembut pada duktus nasolakrimalis klien selama 30 – 60 detik

26 Setelah memasukkan obat, minta klien menutup matanya dengan lembut

27 Tutup mata klien dengan kasa jika perlu Fase Terminasi

28 Membaca hamdalah

29 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 30 Mengevaluasi respon klien

31 Memberi reinforcement positif

32 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

33 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

34 Mengumpulkan dan membersihkan alat 35 Melepaskan sarung tangan & mencuci tangan Evaluasi

(45)

45 37 Evaluasi respon klien

38 Evaluasi diri perawat Dokumentasi

39 Catat tanggal/waktu pengambilan, nama obat, konsentrasi obat, jumlah tetesan obat, mata (kanan/kiri) yang menerima obat serta respon pasien pada status/catatan perkembangan klien Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ...

Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

Pembimbing/Penguji

(46)

46

SOP TINDAKAN PEMBERIAN OBAT TETES TELINGA

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan pemberian obat tetes telinga dengan benar

Tujuan Khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 7. Menjelaskan tujuan pemberian obat tetes telinga

8. Menjelaskan tahapan prosedur pemberian obat tetes telinga 9. Menerapkan pemberian obat tetes telinga secara benar Pengertian

Pemberian obat yang dilakukan pada telinga dengan cara memberikan tetes pada telinga Tujuan Tetes Telinga

3. Mengurangi nyeri pada otitis media 4. Melunakkan serumen

Nama Mahasiswa:

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Kaji apakah ada sumbatan di telinga bagian tengah 2 Kaji kesiapan klien

3 Kaji kesiapan perawat

4 Diagnosa keperawatan yang sesuai: 

Fase pre interaksi 5 Mencuci tangan 6 Mempersiapkan alat

 Plester/hipafik  Spekulum telinga

(47)

47  Pinset anatomi  Bengkok/nierbecken  Pengalas/perlak  Penetes  Obat

 Tissue dan kasa  Handscoon Fase Orientasi

7 Memberi salam dan menyapa nama klien 8 Memperkenalkan diri

9 Melakukan kontrak

10 Menjelaskan Tujuan dan Prosedur pelaksanaan

11 Menanyakan kesediaan klien untuk dilakukan tindakan 12 Mendekatkan alat-alat

Fase Kerja

13 Menanyakan keluhan dan kaji gejala spesifik yang ada pada klien.

14 Gunakan sarung tangan (Handscoon)

15 Membaca ’Basmalah’ dan memulai tindakan dengan baik. 16 Jaga privasi: tutup pintu dan jendela / pasang sampiran.

17 Minta klien mengambil posisi miring dengan telinga yang akan diobati berada di atas

18 Jika serumen atau drainase menyumbat bagian paling luar saluran telinga, seka dengan lembut menggunakan lidi kapas. Jangan mendorong serumen ke dalam untuk menghambat atau menyumbat saluran

19 Luruskan saluran telinga dengan menarik daun telinga ke bawah dan kebelakang (pada anak-anak) atau ke atas keluar (dewasa) 20 Teteskan obat pada dinding saluran untuk mencegah terhalang

oleh gelembung udara dengan jumlah tetesan sesuai dosis 21 Pegang alat tetes 1 cm diatas saluran telinga

22 Minta klien mengambil posisi miring selama 2-3 menit. Beri pijatan atau tekanan lembut pada tragus telinga dengan menggunakan jari tangan

23 Kadang-kadang, dokter menginstruksikan penempatan kapas ke bagian terluar saluran telinga. Jangan menekan kapas kebagian terdalam saluran

(48)

48 24 Lepaskan kapas dalam 15 menit

25 Buang suplai dan sarung tangan yang kotor dan cuci tangan 26 Bantu klien mengambil posisi yang nyaman setelah tetesan

diabsorpsi

27 Evaluasi kondisi telinga luar diantara pemasukan obat Fase Terminasi

28 Membaca hamdalah

29 Merapikan klien dan memberikan posisi yang nyaman 30 Mengevaluasi respon klien

31 Memberi reinforcement positif

32 Membuat kontrak pertemuan selanjutnya

33 Mengakhiri pertemuan dengan baik: bersama klien membaca doa

Artinya (Ya Allah. Tuhan segala manusia, hilangkan segala klienannya, angkat penyakitnya, sembuhkan lah ia, engkau maha penyembuh, tiada yang menyembuhkan selain engkau, sembuhkanlah dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit lagi) dan berpamitan dengan mengucap salam pada pasien.

34 Mengumpulkan dan membersihkan alat 35 Melepaskan sarung tangan & mencuci tangan Evaluasi

36 Evaluasi respon klien 37 Evaluasi diri perawat Dokumentasi

38 Catat tanggal/waktu prosedur tindakan

39 Catat obat, konsentrasinya, jumlah tetesan serta telinga mana yang akan dimasukkan obat

40 Catat respon pasien

(49)

49 Keterangan : Tidak = 0 Ya = 1 Evaluasi Diri/Penguji ... ... ... ... ... Jumlah nilai yang didapat

Nilai Akhir = X 100 Jumlah keseluruhan poin yang dinilai

Pembimbing/Penguji

(50)

50 BAB V

PRAKTIKUM SISTEM HEMATOLOGI

Hematologi merupakan salah satu studi kesehatan yang khusus mempelajari mengenai darah beserta gangguannya. Beberapa penyakit yang diatasi oleh bidang kedokteran hematologi termasuk anemia, gangguan pembekuan darah, penyakit infeksi, hemofilia, dan leukemia.

Dalam dunia kesehatan, tes hematologi merupakan sebuah pemeriksaan darah lengkap yang meliputi sel darah putih, sel darah merah, dan platelet. Pemeriksaan ini biasanya termasuk dalam pemeriksaan kesehatan.

Selain sebagai pemeriksaan kesehatan rutin, tes hematologi juga akan dilaukan dokter untuk membantu mendiagnosis masalah tertentu, contohnya seperti infeksi atau perdarahan.

Pada dasarnya pemeriksaan hematologi ini memiliki beragam manfaat. Mulai dari menilai kondisi kesehatan secara umum, menelisik ada-tidaknya tanda infeksi, hingga membantu dokter untuk mendiagnosis berbagai penyakit. Di samping itu, pemeriksaan hematologi juga digunakan sebagai prosedur donor dan transfusi darah.

Secara garis besar, peran penting tes hematologi lengkap untuk kesehatan:

1. Mengevaluasi kesehatan secara menyeluruh. Kemungkinan adanya penyakit dapat dideteksi dari peningkatan atau pun penurunan kadar sel darah yang terlihat pada hasil tes.

2. Mendiagnosis penyebab gangguan kesehatan, terutama jika pengidap mengalami gejala tertentu seperti demam, kelelahan, lemas, bengkak, perdarahan.

3. Memantau perkembangan kesehatan pengidap yang sudah didiagnosis mengalami penyakit yang memengaruhi kadar sel darah.

4. Memantau penanganan penyakit yang memengaruhi sel darah.

Untu melihat hasil tes hematologi lengkap, bisa dilihat dari dua kolom. Salah satunya adalah rentang referensi, yaitu nilai pemeriksaan normal. Sedangkan kolom lainnya adalah hasil pemeriksaan hematologi lengkap. Jika hasil lebih rendah atau lebih tinggi dari rentang referensi, hasil tersebut dapat disebut tidak normal.

Walau begitu, angka rentang referensi dapat berbeda, karena setiap laboratorium memiliki alat dan cara berbeda untuk menganalisis sampel darah. Di samping itu, jenis kelamain dan usia juga bisa menjadi faktor pembedanya.

Ada banyak jenis pemeriksaan hematologi yang dapat dilakukan. Salah satunya yaitu pemeriksaan darah lengkap. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menilai kondisi darah

(51)

51 secara keseluruhan dan membantu diagnosis anemia, penyakit peradangan, memantau kehilangan darah, infeksi, bahkan mendeteksi kanker.

Pemeriksaan darah meliputi:

1. Jumlah sel darah merah berikut dengan volumenya. 2. Sel darah putih berikut dengan hitung jenisnya.

Di samping itu, bisa juga dilakukan pemeriksaan partial thromboplastin time (PTT), pemeriksaan prothrombin time (PT), international normalized ratio (INR). Ketiganya bertujuan untuk menilai pembekuan darah beserta gangguannya.

Tes hematologi juga bisa dimanfaatkan sebagai tolok ukur apakah seseorang dapat menjalani pengobatan atau tidak. Terutama untuk pengobatan yang mampu memengaruhi sel darah, seperti aspirin, serta tindakan medis, seperti pembedahan atau operasi.

Dalam hematologi, diketahui gangguan darah biasanya terjadi karena adanya penyakit, efek samping obat-obatan, dan kekurangan nutrisi tertentu dalam asupan makanan sehari-hari. Perawatan yang diperlukan untuk penyakit darah bervariasi, tergantung pada kondisi darah dan tingkat keparahannya. Begitu pun dengan perjalanan penyakitnya, karena kondisi tersebut dapat berbeda-beda.

Saat menangani pengidap, ahli hematologi dapat berkolaborasi dengan para ahli di berbagai bidang lain untuk memberikan perawatan yang efektif, seperti transplantasi, onkologi, dan patologi klinik. Dengan kata lain, peran hematologi amat penting dalam tiap proses diagnosis hingga penatalaksanaan.

Meski perannya sangat membantu dalam menegakkan diagnosis, tapi pemeriksaan hematologi lengkap tidak mutlak dilakukan. Setelah didapatkan hasil tes hematologi lengkap, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan tambahan lain untuk menentukan diagnosis penyakit.

(52)

52

SOP TINDAKAN PEMERIKSAAN RUMPLE LEED TEST

Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan rumple leed test dengan benar Tujuan khusus

Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa mampu: 4. Menjelaskan tujuan pemeriksaan rumple leed test

5. Menjelaskan tahapan prosedur pemeriksaan rumple leed test 6. Menerapkan pemeriksaan rumple leed test secara benar. Pengertian

Tindakan membendung vena untuk menentukan kerapuhan kapiler Tujuan Pemeriksaan rumple leed test

1. Mengetahui perdarahan tingkat kapiler untuk menegakkan diagnosis Nama Mahasiswa :

NO ASPEK YANG DINILAI Ya Tdk Ket.

Pengkajian

1 Kaji lama demam yang diderita/dialami klien

2 Kaji apakah sebelumnya klien pernah menderita gangguan pembekuan darah

3 Kaji apakah klien mempunyai kelainan pada kulit seperti bercak-bercak yang mirip dengan petekhie

4 Kaji kesiapan klien 5 Kaji kesiapan perawat

6 Diagnosa keperawatan yang sesuai: Contoh :

Resiko Syok Hipovolemik Resiko Infeksi

Fase pre interaksi 7 Mencuci tangan 8 Mempersiapkan alat

Referensi

Dokumen terkait

MENGURAI MAKNA SEPULUH ASMAUL HUSNA.. AS SALAM artinya Yang Maha Sejahtera. Salam juga berarti kedamaian. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha

adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan,

“Ya Allah, aku mohon kepadaMu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi

DI AWAL KESEMPATAN INI, KAMI KEMBALI MENGAJAK KITA SEMUA, MEMANJATKAN PUJI SYUKUR KEHADIRAT ALLAH SWT., TUHAN YANG MAHA ESA, KARENA BERKAT IZIN DAN PERKENAN-NYA,

Puji Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia-Nya kita dapat bertemu dalam kegiatan tahunan PERSI Daerah Sumatera Utara, yaitu

Artinya ; “ ya Allah, tuhan pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah, Engkaulah zat yang maha penyembuh, tidak ada kesembuhan

Puji Syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia-Nya kita dapat bertemu dalam kegiatan tahunan PERSI Daerah Sumatera Utara, yaitu

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang maha pengasih serta penyayang, tiada hal yang mulia selain Engkau ya Rabb, kasih dan sayang- Mu tidak akan pernah habis untuk