• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. PENDAHULUAN. dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. PENDAHULUAN. dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

I . PENDAHULUAN

I.1.Latar Belakang

Definisi Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit, di mana tubuh penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot-otot dan jaringan lain untuk memasok energi (Setiono, 2005). DM merupakan gangguan metabolisme (metabolic syndrome) dari distribusi gula oleh tubuh. Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadi kelebihan gula di dalam darah (hiperglikemia) yang akan menyebabkan racun bagi tubuh. Sebagian glukosa yang tertahan di darah akan melimpah ke sistem urin dan dibuang melalui urin sehingga air seni yang berkadar gula darah tinggi akan menarik semut. Gejala ini disebut kencing manis. Penderita diabetes juga dapat mengalami hipoglikemia ( kekurangan gula darah ), yang bisa membahayakan jiwa penderita jika tidak segera ditangani. Gejala hipoglikemia adalah kepala pusing, mata berkunang, berkeringat dingin, dan hasil pemeriksaan gula darah sangat rendah.

Bahan bakar atau energi pada manusia diperoleh dari pembakaran zat makanan (karbohidrat, protein, dan asam lemak) yang kemudian diserap usus lalu diteruskan ke pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh sel organ tubuh sebagai bahan bakar. Di dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar menjadi energi melalui proses metabolisme, di mana insulin memegang peran yang sangat penting, yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel. Jika insulin tidak aktif maka

(2)

glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan tetap di dalam darah, akibatnya kadar gula darah meningkat sehingga darah mengental dan aliran darah melambat sehingga pasokan oksigen terganggu. Akibat kekurangan oksigen, maka pembakaran gula menjadi energi terganggu sehingga tubuh menjadi lemah karena tidak ada sumber energi, kelelahan, sakit kepala , perubahan emosi, dan jantung bekerja lebih keras atau berdebar-debar (Setiono, 2005).

Berdasarkan klasifikasi WHO, ada beberapa kelompok penderita diabetes mellitus, yaitu : (1) diabetes tipe I yang tergantung sepenuhnya pada insulin (Insulin Dependent Diabetes Mellitus/ IDDM), (2)diabetes tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus/ NIDDM), (3) Malnutrition Related Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus Terkait Malnutrisi (DMTM, (4)

Impaired Glucose Tolerance (IGT) yaitu toleransi gula terganggu, (5) Gestational Diabetes Mellitus (GDM) yaitu diabetes yang timbul pada masa kehamilan.

Diabetes tipe I (IDDM) biasanya ditemukan pada penderita yang mulai mengalami diabetes sejak anak-anak atau remaja, para dokter menyebutnya diabetes anak muda atau disebut diabetes juvenilis, dan menurut Setiono (2005) faktor keturunan paling berperan dalam diabetes tipe I. Penderita IDDM harus mendapat suntikan insulin karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau dapat memproduksinya tapi sangat sedikit. Umumnya diabetes tipe I tidak dapat diobati dengan obat-obat diabetes yang biasa digunakan. IDDM dapat diderita oleh berbagai usia, hanya mayoritas penderitanya berusia 30 tahun ke bawah. Separuh penderita diabetes tipe I mengidap setelah usia dewasa, tetapi tidak berbadan gemuk seperti umumnya penderita diabetes tipe II, sehingga disebut diabetes tipe I yang tergantung pada insulin dan peneliti menyebutnya diabetes

(3)

tipe 1,5 atau LADA (Latent Autoimmune Diabetes in Adults) karena sistem imun menyerang sel-sel beta pankreas secara perlahan-lahan sehingga berhenti memproduksi insulin. Pada penderita IDDM, dokter tidak menemukan tanda-tanda dari faktor resiko yang biasa digunakan dokter untuk mendeteksi pasien diabetes. Penderita IDDM sangat peka terhadap komplikasi jangka pendek, seperti hipoglikemia , hiperglikemia, dan keracunan keton yang sangat berbahaya sebagai hasil metabolisme tubuh yang menumpuk (ketoasidosis) yang dapat menyebabkan koma diabetic.

Diabetes tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus/ NIDDM) terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga pengiriman gula ke sel tubuh terganggu. Pada NIDDM, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak tetapi jumlah reseptor insulin pada permukaan sel kurang . Insulin diibaratkan sebagai anak kunci, jika jumlahnya kurang tetapi lubang kunci banyak, maka pintu tidak bisa dibuka. Demikian pula jika insulin kurang, maka glukosa tidak bisa masuk sel sehingga tubuh kekurangan bahan bakar. NIDDM adalah tipe diabetes yang paling umum dijumpai, hampir 90 persen dari tipe diabetes adalah NIDDM, yang umumnya dijumpai setelah masa dewasa. NIDDM dapat menurun dari orangtuanya, dan resiko terkena penyakit diabetes meningkat jika seseorang kelebihan berat badan, memiliki gaya hidup yang tidak sehat (seperti kurang olah raga dan pola makan yang tidak sehat), penuaan, malnutrisi, stress yang menyebabkan resistensi insulin (sel-sel tubuh tidak bisa merespon insulin dengan normal). Dahulu, penderita NIDDM berusia 40 tahun ke atas, tetapi akhir-akhir ini dari diagnosa dokter penderita NIDDM pada anak-anak sudah banyak sehinga

(4)

ditemukan diabetes tipe MODY ( Maturity of The Young). NIDDM dapat dikendalikan dengan diet yang seimbang untuk mengontrol berat badan dan olah raga yang cukup, jika cara ini sudah tidak efektif maka akan dibantu dengan minum obat atau suntikan insulin .

Malnutrition Related Diabetes Mellitus (MRDM) atau Diabetes Mellitus Terkait Malnutrisi (DMTM) yaitu diabetes karena kekurangan gizi (malnutrisi) sehingga pankreas rusak MRDM dapat terjadi selama kehamilan, selama masa anak-anak, dan pada masa dewasa. Menurut Setiono (2005), malnutrisi pada janin tidak hanya disebabkan ibunya kekurangan gizi selama kehamilan, tetapi bisa diakibatkan ibu yang merokok atau minum alkohol. Penyebab lainnya adalah faktor keturunan dari keluarga yang mengidap diabetes.

Diabetes tipe Impaired Glucose Tolerance (IGT) yaitu toleransi gula terganggu. Kadar gula darah di atas normal, tetapi tidak terlalu tinggi untuk dikatakan diabetes. Indikasinya adalah kadar gula darah antara 115-140 mg/dl dan gejala diabetes tidak muncul. Penderita bisa sembuh dan kadar gula darah bisa normal kembali, sebagian tidak mengalami perubahan kadar gula darah ( di antara ambang normal dan tinggi), dan 25% dari penderitanya mengalami diabetes. Resiko dari penderita IGT adalah mengalami hipertensi (tekanan darah tinggi) dan kadar kolesterol tinggi yang dapat berakibat jantung koroner jika tidak dijaga dengan baik.

Gestational Diabetes Mellitus (GDM) yaitu diabetes yang timbul pada masa kehamilan saja. Gejala GDM pada ibu hamil tidak membahayakan ibu, tetapi dapat menimbulkan sindrom pernafasan dan hipoglikemia pada bayi. Resiko lain dari GDM adalah ibu rentan mengalami toksemia yaitu menyebarnya racun di

(5)

dalam aliran darah yang dapat membahayakan ibu dan janin. Pengendalian GDM dengan diet yang baik dan olahraga, dan jika diperlukan dapat diberi suntikan insulin. Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan, berat bayi lahir lebih dari 4 kg.

Faktor –faktor yang berperan terhadap timbulnya diabetes antara lain pola makan yang salah (obesitas khususnya obesitas sentral atau bentuk apel dan kurang gizi yang dapat merusak pankreas), kurang olah raga, faktor keturunan (kelainan genetika), infeksi virus (DM tipe 1), minum obat yang dapat menaikkan kadar glukosa darah (glukokortikoid, furosemida, thiazide, beta blocker, produk yang mengandung estrogen), proses menua (‘aging’), stress, dan sebagainya. Bertambahnya usia menyebabkan penurunan drastis dari fungsi fisiologis tubuh, seperti terjadinya kegemukan setelah usia 40 tahun yang menyebabkan tubuh tidak peka terhadap insulin. Stress menahun (kronis) cenderung menyebabkan seseorang mengkonsumsi makanan yang manis dan berlemak untuk meningkatkan kadar serotonin otak yang berfungsi sebagai penenang sementara untuk mengatasi stress. Konsumsi gula dan lemak ini berbahaya bagi orang yang mempunyai resiko diabetes.

Gejala umum diabetes antara lain adalah haus berlebihan, sering kencing di malam hari, berat badan turun dengan cepat, keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat lapar, penglihatan kabur, gairah seks menurun, dan luka sukar sembuh (Syahril dalam Waspadji S., 2002). Komplikasi pada diabetes, misalnya kebutaan, kaki busuk, komplikasi ginjal, jantung dan lain-lain , timbul karena kadar glukosa darah yang tinggi dalam jangka panjang . Pengendalian diabetes memerlukan pengelolaan antara lain dengan penyuluhan, perencanaan

(6)

makan, olah raga, dan obat hipoglikemik atau insulin. Pemantauan kadar glukosa dengan teratur diperlukan untuk mengatur takaran makanan, latihan jasmani, dan obat hipoglikemik. Kriteria pengendalian diabetes adalah : kadar glukosa darah puasa: 80-110 mg/ dL, kadar glukosa darah 2 jam setelah makan : 110-160 mg/dL dan HbA 1 C : 4-6.5, sedangkan kadar kolesterol total di bawah 200 mg/dL, kolesterol HDL di atas 45 mg/dL, dan trigliserida di bawah 200 mg/dL.

Menurut American Diabetes Association atau ADA (2002), biaya pengobatan diabetesi di Amerika diperkirakan $132 milyar, dan total biaya yang ditanggung pemerintah adalah $92 milyar, meliputi $23.2 milyar untuk perawatan diabetes tanpa komplikasi , $24.6 milyar untuk diabetes dengan komplikasi kronis, dan $44.1 milyar untuk kondisi pemeriksaan umum. Biaya tidak langsung untuk hilangnya hari kerja, kurangnya produktivitas, kematian akibat diabetes adalah $40.8 milyar . Biaya tahunan perawatan diabetesi meningkat dari $10,071 pada tahun 1997 menjadi $13,243 pada tahun 2002, dengan peningkatan lebih dari 30%. Sebagai pembanding perawatan kesehatan untuk orang bukan diabetesi sekitar $2,560 pada tahun 2002. Biaya langsung untuk diabetesi diperkirakan $92 milyar pada tahun 2002 meningkat dari $44 milyar pada tahun 1997, atau sekitar 19% dari perawatan kesehatan di U.S untuk diabetesi. Meski yang terdiagnosis diabetes hanya 4.2% dari total populasi di US, memerlukan $40.3milyar biaya perawatan di rumah sakit, dan $13.8 milyar biaya perawatan di rumah untuk diabetesi. Perawatan diabetesi di rumah sakit sekitar 16.9 juta hari pada tahun 2002, dan rata-rata 62.6 juta pasien yang datang adalah diabetesi. Komplikasi penyakit jantung karena diabetes menghabiskan biaya perawatan sekitar lebih dari $17.6 milyar dari total biaya perawatan kesehatan

(7)

tahunan $91.8 milyar. Biaya tidak langsung diperkirakan $40 milyar pada tahun 2002, yaitu diabetesi kehilangan hampir 88 juta hari kerja. Sekitar 176,000 kasus tidak mampu bekerja lagi akibat diabetes bernilai $7.5 milyar.

Menurut ADA ( 2002), prevalensi total diabetesi di US (semua usia) tahun 2002 adalah 6.3% dari populasi penduduk (sekitar 18.2 juta orang) , di mana 13 juta orang (terdiagnosa) dan 5.2 juta orang (tidak terdiagnosa). Prevalensi diabetesi di bawah 20 tahun sekitar 210,000 orang (0.26% dari total diabetesi). Maka hampir ada satu dari 400-500 anak dan remaja menderita DM tipe 1. Berdasar studi regional mengindikasikan DM tipe 2 banyak diderita anak-anak dan remaja warga negara Amerika keturunan Indian, Afrika, Hispanic, dan Latin. Prevalensi diabetesi untuk usia 20 tahun ke atas di US (2002) adalah 18 juta (8,7% orang dari total penduduk usia 20 tahun ke atas), di mana 8.7 juta orang dengan jenis kelamin laki-laki (8.7% dari penduduk laki-laki; usia 20 tahun ke atas) dan diabetesi wanita 9.3 juta (8.7 % dari wanita usia 20 tahun ke atas). Prevalensi diabetesi pada usia 60 tahun ke atas adalah 8.6 juta (18.3% dari total penduduk usia 60 tahun ke atas) .

Studi populasi yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang prevalensi diabetes menunjukkan Indonesia berada di posisi keempat di dunia (tabel 1) . Di tahun-tahun mendatang diperkirakan prevalensi diabetes akan terus meningkat karena perubahan gaya hidup dan pola konsumsi makanan ( trend konsumsi fast food yang miskin serat), dan umumnya diderita penduduk urban dibanding penduduk desa (ADA, 2002).

(8)

Tabel 1. Survei WHO mengenai prevelansi diabetes (ADA, 2002) Negara Tahun 2000 (juta) Tahun 2030 (juta) India 3.17 79.4 China 20.8 42.3 US 17.7 30.3 Indonesia 8.4 21.3

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) menyebutkan bahwa pada tahun 1980 prevalensi diabetes di Indonesia sekitar 1,5-2,3 persen pada penduduk usia produktif (15 tahun ke atas). Di daerah urban Makasar pada 1981 prevalensi DM sekitar 1,5 persen lalu melonjak menjadi 2,9 persen pada 1998 atau mengalami lonjakan hampir dua kali lipat. Di kota Metropolitan Jakarta yang pada tahun 1982 tercatat 1,7 persen, melonjak tiga kali lipat menjadi 5,7 persen pada tahun 1993. Jumlah penderita diabetes Melitus yang terdaftar di Poli Endokrinologi RS Dr Sutomo Surabaya, pada tahun 1964 hanya 133 orang, tahun 1991 meningkat menjadi 125 kali yaitu 16.567 orang. Menurut Ketua Pengurus Besar Perkeni dr. Sidartawan Soegondo Sp.PD,KE,DTMH (www.Kompas.com) menunjukkan, sekitar tahun 1980-an prevalensi diabetes pada penduduk di atas usia 15 tahun adalah 1,5-2,3 persen. Penelitian tahun 1991 di kota Surabaya mendapatkan prevalensi 1,43 persen pada penduduk di atas 20 tahun. Di pedesaan Jawa Timur tahun 1989, prevalensinya 1,47 persen. Sementara di Depok, suburban Jakarta, tahun 2001 angkanya 12,8 persen. Dalam Diabetes Atlas 2000 dari IDF diperkirakan tahun 2000 penderita diabetes di Indonesia mencapai 5,6 juta dengan asumsi prevalensi 4,6 persen dari 125 juta penduduk di atas 20 tahun. Berdasarkan pola pertambahan penduduk seperti saat ini dan prevalensi diabetes 4,6 persen, tahun 2020 diperkirakan 8,2 juta dari 178 juta penduduk di atas 20 tahun menderita diabetes.

(9)

Umumnya prevalensi penderita DM meningkat seiring meningkatnya status sosial yang diikuti perubahan pola hidup yang kurang sehat, antara lain kurang kegiatan fisik, makan berlebihan, dengan akibat terjadinya kegemukan (obesitas) yang menyebabkan resistensi insulin dan berlanjut menjadi DM. Prevalensi DM yang paling banyak dijumpai adalah DM tipe-2 yang seringkali tidak dapat dirasakan gejalanya pada stadium awal dan tetap tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun sampai terjadi macam-macam komplikasi dari penyakit ini. Banyak penelitian tentang DM membuktikan bahwa kasus-kasus DM yang tidak terdiagnosis beresiko lebih tinggi untuk mengalami stroke, jantung koroner, dan penyempitan pembuluh darah perifer, dibandingkan dengan orang non-DM.

Pengukuran WHO tentang struktur umum populasi diabetes (tahun 1995-2025)

Negara maju Negara berkembang

Umur pasien diabetes Umur pasien diabetes paling banyak :>65 th paling banyak :45-65 th

Umur non produktif Umur produktif Gambar 1. Skema proyeksi WHO (AC Nielsen, 2005)

Semakin tinggi kesadaran rumah sakit /dokter/ ahli gizi terhadap pentingnya pemberian nutrisi dan pengaturan pola makan diabetesi agar gula darah lebih terkontrol . Pada tahun 2003 di Indonesia, ada tiga diabetic centre, setahun kemudian menjadi tujuh diabetic centre. Pada tahun 2003, jumlah klub Persadia Indonesia adalah 6 wilayah dengan 30 cabang, setahun kemudian menjadi 46 cabang. Jumlah penderita DM di Indonesia pada tahun 2005

(10)

diprediksikan sebesar 8,9 juta atau mengalami pertumbuhan pertumbuhan 1,4 persen setiap tahun (A.C. Nielsen ,2005) .

Jumlah orang (000)

Gambar 2. Prevalensi jumlah penderita DM berdasar daerah tinggal (AC Nielsen, 2005)

Jumlah orang (000)

Gambar 3. Prevalensi jumlah penderita DM berdasar usia (AC.Nielsen, 2005)

Prevalensi kenaikan diabetesi di urban area pada tahun 2030 sebesar 78% disebabkan: pola/gaya hidup yang tidak sehat (mis: konsumsi fast food, kesibukan sehingga jarang olahraga ), obesitas. Treatment baru untuk diabetes tipe 2 dengan diet sebagai awal pengendalian diabetes melitus tipe 2. Treatment lain dengan oral monoteraphi, oral combination, oral ditambah insulin, atau insulin saja.

-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 2000 2005 2030

Usia 0 - 19 thn Usia 20 - 44 thn Usia 45 - 64 thn Usia 65+ thn

-5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 2000 2005 2030 Rural Urban tahun

(11)

Tabel 2. Prevalensi peluang pasar untuk produk khusus diabetes (AC Nielsen, 2005) Description Sumber 2005 2006 2007 Jumlah penduduk BPS 219,142 221,655 224,196 Penderita Diabetes RSCM 8,969 9,095 9,222 Prevalensi RSCM 4.09% 4.10% 4.11%

Diabetesi di Urban Area (58%) RSCM 5,202 5,275 5,349

Klas A-B (25%) AC Nielsen 1,301 1,319 1,337

Asumsi 20% aware thd nutrisi 260 264 267

Jumlah Konsumsi/bln 5 5 5 In tonnage /bln 0.24 0.24 0.25 In tonnage / thn 3 3 3 In unit/thn (doos) 15,606 15,825 16,046 Total value/year (HJP) 252,786,960 256,338,209 259,917,643 % Growth 1.40% 1.40% I.2.Perumusan Masalah

Menurut penelitian WHO dan beberapa universitas di Eropa (Jeniffer, 2004), jumlah penderita diabetes akan dua kali jumlahnya pada tahun 2030. Pada 30 tahun mendatang, di negara yang sedang berkembang diperkirakan kematian ibu dan anak karena penyakit infeksi menurun, tetapi kematian karena penyakit diabetes meningkat (misalnya komplikasi karena jantung koroner). Menurut penelitian AC Nielsen (2005), penderita diabetes di Indonesia diperkirakan meningkat dari 8.4 juta (tahun 2000) menjadi 21,7 juta (tahun 2030).

Permasalahan yang ada, penderita diabetes memerlukan: makanan/minuman khusus, yang aman dan mampu memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Sehingga dengan nutrisi dan gaya hidup yang baik, maka penderita diabetes diharapkan tetap mampu beraktivitas seperti orang ‘normal’ dan menjadikan diabetes sebagai sahabat mereka. Saat ini, industri makanan di Indonesia yang berkecimpung khusus di ‘healthy food’ relatif masih sedikit, misal PT Nutrifood Indonesia ( pemanis bukan gula ‘Tropicana Slim’) dan PT Sanghiang Perkasa

(12)

Health Food Division of Kalbe Farma (susu Diabetasol, Diabetasol Sweetener), selebihnya masih produk import. Variasi makanan dan minuman yang aman bagi penderita diabetes sangat diperlukan, sehingga mereka tetap nyaman dan aman dalam mengkonsumsi makanan/ minuman tersebut. Perumusan masalah sebagai berikut :

a. Bagaimana preferensi konsumen terhadap atribut dalam produk Susu Khusus Diabetes (SKD)?

b. Bagaimana atribut-atribut produk khusus diabetes mempengaruhi perilaku konsumen di dalam pengambilan keputusan pembelian produk SKD?

c. Bagaimana implikasi manajerial perusahaan health food dalam memenuhi kebutuhan konsumen terhadap produk SKD?

I.3.Tujuan Penelitian

Berdasar latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk :

a. Mengetahui preferensi konsumen terhadap atribut dalam produk SKD.

b. Mengetahui pengaruh atribut-atribut produk SKD terhadap perilaku konsumen di dalam pengambilan keputusan pembelian produk SKD. c. Implikasi manajerial perusahaan health food dalam memenuhi kebutuhan

konsumen terhadap produk SKD. I.4.Ruang lingkup Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada penderita diabetes, untuk mengetahui kebutuhan nutrisi penderita diabetes, dan cara memenuhi kebutuhan nutrisi penderita diabetes selama ini, sehingga dapat mengetahui peluang pasar yang

(13)

I.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dapat dipakai untuk:

a. Perusahaan health food di dalam memenuhi kebutuhan produk SKD.

b. Pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan masalah –masalah yang relevan dengan penelitian ini.

c. Peneliti dapat menambah wawasan mengenai preferensi konsumen terhadap produk SKD.

Gambar

Gambar 2. Prevalensi jumlah  penderita DM berdasar daerah tinggal                      (AC Nielsen, 2005)
Tabel 2. Prevalensi peluang pasar untuk produk khusus diabetes (AC Nielsen,     2005)  Description Sumber  2005 2006 2007 Jumlah penduduk  BPS 219,142 221,655 224,196 Penderita Diabetes RSCM 8,969 9,095 9,222 Prevalensi RSCM 4.09% 4.10% 4.11%

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian tahap pertama terlihat bahwa pemberian ekstrak jaloh yang difraksinasi dengan larutan etanol (EtOH) dan etil asetat (EtOAc) pada dosis 10 mg/kg BB ternyata tidak

Siswa Pelamar, menggunakan NISN dan password yang diberikan oleh Kepala Sekolah pada waktu verifikasi data di PDSS, login ke laman SNMPTN http://snmptn.ac.id untuk

Kebudayaan adalah salah satu di antara 3 (tiga) pilar utama ASEAN dalam proses mengarah ke tujuan membangun komunitas pada tahun 2015. Konferensi ke-6 Menteri Kebudayaan

Pada Diabetes Melitus Tipe 2, hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas untuk mengatur kadar gula dalam darah tidak dapat digunakan oleh tubuh secara

Iradiasi dosis 0,5 kGy menunjukkan adanya penurunah jumlah koloni bakteri aerob dibandingkan dengan sampel yang tidak diiradiasi, tetapi pada sayur bayam konvensional,

Program yang didukung secara ilmiah ini dirancang untuk membantu Anda menetapkan berat badan Anda yang paling sehat dengan program untuk keperluan pribadi dalam

Ο Γκιλ πάντα μας κρατούσε θέσεις σε γεύματα και πάρτι και, ενώ ο Πολ και ο Τσάρλι αποφάσισαν σχετικά γρήγορα ότι η άποψη του για την κοινωνική

Membayar uang pendaftaran khusus bagi calon siswa yang berdomisili di luar kota Blitar, sedangkan siswa yang berdomisili di kota Blitar bebas uang pendaftaran