BAB I PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Apotek merupakan salah satu jenis usaha dibidang kesehatan yang melakukan pekerjaan
kefarmasian. Apotek diberikan kewenangan dalam penyaluran obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat psikotropik dan obat narkotik. Persediaan produk merupakan salah satu aktifitas kerja yang sangat penting bagi perkembangan usaha, termasuk usaha Apotek (yulia nias titi,
2009). Dalam mengembangkan suatu usaha harus diperlukan suatu sistem yang melakukan manajemen persediaan dengan baik. Manajemen persediaan merupakan suatu cara
mengendalikan persediaan agar dapat melakukan pemesanan yang tepat yaitu dengan biaya yang optimal. Oleh karena itu konsep mengelola sangat penting diterapkan agar tujuan efektifitas dan efisiensi tercapai. Manajemen persediaan yang baik merupakan salah satu faktor keberhasilan
suatu perusahaan untuk melayani kebutuhan konsumen dalam menghasilkan suatu produk layanan yang berkualitas dan perencanan persediaan (Imam Budi Cahyonan, 2008).
Salah satu cara untuk menganalisis perencanaan persediaan adalah dengan metode analisis ABC. Analisis ABC disebut juga sebagai analisis Pareto atau hukum Pareto 80/20 adalah salah satu metode yang digunakan dalam manajemen logistik untuk membagi kelompok barang
menjadi tiga yaitu A, B dan C. Kelompok A merupakan barang dengan jumlah item sekitar 20% tapi mempunyai nilai investasi sekitar 80% dari nilai investasi total, kelompok B merupakan
maka cara pengelolaan masing-masing akan lebih mudah, sehingga perencanaan, pengendalian fisik, keandalan pemasok dan pengurangan besar stok pengaman dapat menjadi lebih baik.
Penggunan analisis ABC pada perencanaan dimaksudkan untuk memprioritaskan perencanaan obat yang sering digunakan dan biasanya jenisnya sedikit, akan tetapi mempunyai biaya investasi yang besar(Ali Maimun, 2008). Hal tersebut tidak menimbulkan masalah ketika data yang diolah
masih dalam jumlah sedikit. Jika data sediaan dalam jumlah banyak, tentu membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak (Ancelmatini, 2013).
Metode Analisis ABC dapat memecahkan masalah dalam persediaan obat dengan melakukan perencanaan sediaan untuk mengetahui prioritas item yang digunakan diapotek, yaitu dengan melihat persentase kumulatif dari jumlah pemakaian (nilai pakai), persentase kumulatif
dari jumlah investasi (nilai investasi), dan skor total nilai pakai dan nilai investasi (nilai indeks kritis). Dengan mengetahui kelas-kelas tersebut, dapat diketahui item persediaan tertentu yang
harus mendapat perhatian lebih intensif atau serius dibandingkan item lain.
Berdasarkan Uraian diatas maka diperlukan sebuah sistem yang bisa mengendalikan persediaan sehingga penulis melakukan penelitian dan menuangkannya dalam bentuk tugas akhir
dengan judul “SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
OBAT DENGAN METODE ANALISIS ABC PADA APOTEK MIRIN FARMA’’.
1. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana merancang dan membangun sistem pendukung keputusan yang dapat
2. Bagaimana menerapkan metode Analisa ABC dalam sistem pendukung keputusan Pengendalian Persediaan Obat.
3. Bagaiman merancang dan membangun sistem yang dapat digunakan untuk menghasilkan laporan yang berkaitan dengan pengadaan dan pemakaian obat secara lengkap.
1. 3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1. 3. 1. Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian adalah untuk membuat suatu program aplikasi pengambilan keputusan untuk pengendalian persediaan obat pada apotek mirin farma.
1. 3. 2. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada maka tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah :
1. Merancang dan membangun sistem pendukung keputusan yang dapat membantu Apotek dalam pengendalian pengadaan obat dan pemakaian obat sesuai
kebutuhan.
2. Menerapkan metode Analisis ABC dalam sistem pendukung keputusan
Pengendalian Pengadaan Obat.
3. Sistem dapat menghasilkan laporan yang berkaitan dengan pengadaan dan pemakaian obat secara lengkap
1. 4. Manfaat Penilitian
1. 3. 1. Bagi Apotek Mirin Farma
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perencanaan
dan pengendalian persediaan obat.
Dapat mengetahui persediaan obat yang perputarannya cepat, sedang dan
lambat.
Dapat mengetahui gambaran pengendalian persediaan obat dengan metode
Analisis ABC.
BAB II
LANDASAN TEORI
2. 1. Sistem Pendukung Keputusan
Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support Sistem) merupakan suatu istilah yang
mengacu pada suatu sistem yang memamfaatkan dukungan computer dalam proses pengambilan keputusan.Untuk memberikan pengertian tersebut, disini akan diuraikan definisi mengenai
Sistem Pendukung Keputusan Yaitu, SPK merupakan suatu sistem yang interaktif,yang membantu pengambil keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah yang sifatnya semi terstruktur maupun yang tidak terstruktur.
SPK atau Decission Support Sistem (DSS) merupakan suatu kumpulan sistem yang dapat
mendukung proses pengambilan keputusan, yang selanjutnya dapat menunjang pengambilan keputusan dalam memperoleh data dan menguji beberapa alternatif-alternatif solusi yang mengandung konsekuensi-konsekuensi selama proses pemecahan masalah berlangsung.Atau
boleh disebut merupakan aplikasi dari sebuah sistem informasi yang membantu proses pengambilan keputusan.
SPK tidak ditekankan untuk membuat keputusan, tetapi untuk melengkapi mereka yang terlibat dalam pengambilan keputusan dengan sekumpulan kemampuan untuk mengolah informasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan dan sistem ini bukan
2. 2. Konsep Dasar Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan (SPK) mulai dikembangkan pada tahun 1960-an, tetapi
istilah sistem pendukung keputusan itu sendiri baru muncul pada tahun 1971, yang diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Micheal S.Scott Morton, keduanya adalah profesor di MIT. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk menciptakan kerangka kerja guna mengarahkan aplikasi
komputer kepada pengambilan keputusan manajemen.
Sementara itu, perintis sistem pendukung keputusan yang lain dari MIT, yaitu Peter G.W.
Keen yang bekerja sama dengan Scott Morton telah mendefenisikan tiga tujuan yang harus dicapai oleh sistem pendukung keputusan, yaitu:
1 Sistem harus dapat membantu manajer dalam membuat keputusan guna memecahkan
masalah semi terstruktur.
2 Sistem harus dapat mendukung manajer, bukan mencoba menggantikannya.
3 Sistem harus dapat meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan manajer.
2. 2. 1. Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan dirancang secara khusus untuk mendukung seseorang yang
harus mengambil keputusan-keputusan tertentu. Berikut ini beberapa karakteristik sistem pendukung keputusan :
1 Interaktif
2 Fleksibel
Sistem pendukung keputusan memiliki sebanyak mungkin variabel masukkan, kemampuan
untuk mengolah dan memberikan keluaran yang menyajikan alternatif-alternatif keputusan kepada pemakai.
3 Data kualitas
Sistem pendukung keputusan memiliki kemampuan menerima data kualitas yang dikuantitaskan yang sifatnya subyektif dari pemakainya, sebagai data masukkan untuk
pengolahan data. Misalnya: penilaian terhadap kecantikan yang bersifat kualitas, dapat dikuantitaskan dengan pemberian bobot nilai seperti 75 atau 90.
4 Prosedur Pakar
Sistem pendukung keputusan mengandung suatu prosedur yang dirancang berdasarkan rumusan formal atau juga beberapa prosedur kepakaran seseorang atau kelompok dalam
menyelesaikan suatu bidang masalah dengan fenomena tertentu.
2. 2. 2. Kemampuan Sistem Pendukung Keputusan
Menurut ada beberapa kemampuan sistem pendukung keputusan, diantaranya adalah
sebagai berikut :
1 Menunjang pembuatan keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur
2 Membantu manajer pada berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah.
3 Menunjang pembuatan keputusan secara kelompok dan perorangan.
4 Menunjang pembuatan keputusan yang saling bergantungan dan berurutan.
5 Menunjang tahap-tahap pembuatan keputusan antara lain intelligence, design, choice dan
implementation.
6 Menunjang berbagai bentuk proses pembuatan keputusan dan jenis keputusan.
7 Kemampuan untuk melakukan adaptasi setiap saat dan bersifat fleksibel. 8 Kemudahan melakukan interaksi sistem.
9 Meningkatkan efektivitas dalam pembuatan keputusan daripada efisiensi.
10 Mudah dikembangkan oleh pemakai akhir.
11 Kemampuan pemodelan dan analisis dalam pembuatan keputusan.
12 Kemudahan melakukan pengaksesan berbagai sumber dan format data.
Disamping berbagai kemampuan yang dikemukakan di atas, sistem pendukung keputusan memiliki juga keterbatasan, antara lain:
1 Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan yang
sebenarnya.
2 Kemampuan suatu sistem pendukung keputusan terbatas pada pengetahuan dasar serta model dasar yang dimilikinya.
4 Sistem pendukung keputusan tidak memiliki intuisi seperti yang dimiliki oleh manusia. Karena sistem pendukung keputusan hanya suatu kumpulan perangkat keras, perangkat
lunak dan sistem operasi yang tidak dilengkapi oleh kemampuan berpikir.
Secara implisit, sistem pendukung keputusan berlandaskan pada kemampuan dari sebuah sistem berbasis komputer dan dapat melayani penyelesaian masalah.
2. 2. 3. Keuntungan Sistem Pendukung Keputusan
Beberapa keuntungan penggunaan sistem pendukung keputusan antara lain adalah sebagai
berikut :
1 Mampu mendukung pencarian solusi dari berbagai permasalahan yang kompleks.
2 Dapat merespon dengan cepat pada situasi yang tidak diharapkan dalam konsisi yang
berubah-ubah.
3 Mampu untuk menerapkan berbagai strategi yang berbeda pada konfigurasi berbeda secara
cepat dan tepat.
4 Pandangan dan pembelajaran baru. 5 Sebagai fasilitator dalam komunikasi.
6 Meningkatkan kontrol manajemen dan kinerja. 7 Menghemat biaya dan sumber daya manusia (SDM).
8 Menghemat waktu karena keputusan dapat diambil dengan cepat.
9 Meningkatkan efektivitas manajerial, menjadikan manajer dapat bekerja lebih singkat dan dengan sedikit usaha.
2. 2. 4. Beberapa Keterbatasan Sistem Pendukung Keputusan
1. Ada beberapa kemapuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan,
sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan sebenarnya.
2. Kemampuan suatu Sistem Pendukung Keputusan terbatas pada perbendaharaan
pengetahuan yang dimilikinya ( pengetahuan dasar serta model dasar ).
3. Proses - proses yang dapat dilakukan Sistem Pendukung Keputusan biasanya juga
tergantung pada perangkat lunak yang digunakan.
4. Sistem Pendukung Keputusan tidak memiliki kemampuan intuisi seperti yang dimiliki manusia. Sistem ini dirancang hanyalah untuk membantu pengambilan keputusan dalam
melaksanakan tugas (Aan Hidayat, 2011).
2. 3. Komponen-Komponen Sistem Pendukung Keputusan
SPK dapat terdiri dari tiga subsistem utama yang menentukan kapabilitas teknik SPK yaitu sebagai berikut:
1 Subsistem Manajemen Database (Database Management Subsystem) 2 Subsistem Manajemen Basis Model (Model Base Management Subsystem)
3 Subsistem Perangkat Lunak Penyelenggara Dialog (Dialog Generation and Management Software).
2. 3. 1. Subsistem Manajemen Database
kaya dari pada non- sistem pendukung keputusan dimana data harus berasal dari luar dan dari dalam karena proses pengambilan keputusan.
Perbedaan lain adalah proses pengambilan dan ekstraksi data dari sumber data yang sangat besar. sistem pendukung keputusan membutuhkan proses ekstraksi dan DBMS yang dalam pengelolaannya harus cukup fleksibel untuk memungkinkan penambahan dan pengurangan
secara cepat.
Dalam hal ini, kemampuan yang dibutuhkan dari manajemen database dapat diringkas,
sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai variasi data melalui pengambilan dan ekstraksi data.
2. Kemampuan untuk menambahkan sumber data secara cepat dan mudah.
3. Kemampuan untuk menggambarkan struktur data logikal sesuai dengan pengertian
pemakai sehingga pemakai mengetahui apa yang tersedia dan dapat menentukan kebutuhan penambahan dan pengurangan.
4. Kemampuan untuk menangani data secara personel sehingga pemakai dapat mencoba
berbagai alternatif pertimbangan personel.
5. Kemampuan untuk mengelola berbagai variasi data.
2. 3. 2. Subsistem Manajemen Basis Model
Salah satu keunggulan sistem pendukung keputusan adalah kemampuan untuk mengintegrasikan akses data dan model-model keputusan. Hal ini dapat dilakukan dengan
sebagai mekanisme integrasi dan komunikasi diantara model-model. Karakteristik ini menyatukan kekuatan pencarian dan pelaporan data.
Salah satu persoalan yang berkaitan dengan model adalah bahwa penyusunan model seringkali terikat pada struktur model yang mengasumsikan adanya masukan yang benar dan cara keluaran yang tepat. Sementara itu, model cenderung tidak mencukupi karena adanya
kesulitan dalam mengembangkan model yang terintegrasi untuk menangani sekumpulan keputusan yang saling bergantungan. Cara untuk menangani persoalan ini dengan menggunakan
koleksi berbagai model yang terpisah, dimana setiap model digunakan untuk menangani bagian yang berbeda dari masalah yang dihadapi. Komunikasi antara berbagai model digunakan untuk menangani bagian yang berbeda dari masalah tersebut. Komunikasi antara berbagai model yang
saling berhubungan diserahkan kepada pengambil keputusan sebagai proses intelektual dan manual.
Salah satu pandangan yang lebih optimistis, berharap untuk bisa menambahkan model-model ke dalam sistem informasi dengan database sebagai mekanisme integrasi dan komunikasi di antara mereka.
Kemampuan yang dimiliki subsistem basis model meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk menciptakan model-model baru secara cepat dan mudah.
2. Kemampuan untuk mengakses dan mengintegrasikan model-model keputusan.
3. Kemampuan untuk mengelola basis model dengan fungsi manajemen yang analog dan manajemen database (seperti mekanisme untuk menyimpan, membuat dialog,
2. 3. 3. Subsistem Perangkat Lunak Penyelenggara Dialog
Fleksibilitas dan kekuatan karakteristik sistem pendukung keputusan timbul dari kemampuan interaksi antara sistem dan pemakai, yang dinamakan subsistem dialog. Bennet mendefinisikan pemakai, terminal, dan sistem perangkat lunak sebagai komponen-komponen
dari sistem dialog sehingga subsistem dialog terbagi menjadi tiga bagian sebagai berikut:
1. Bahasa aksi, meliputi apa yang dapat digunakan oleh pemakai dalam berkomunikasi
dengan sistem. Hal ini meliputi pemilihan-pemilihan seperti papan ketik (keyboard), panel-panel sentuh, joystick, perintah suara dan sebagainya.
2. Bahasa tampilan dan presentasi, meliputi apa yang harus diketahui oleh pemakai. Bahasa
tampilan meliputi pilihan-pilihan seperti printer, tampilan layar, grafik, warna, plotter, keluaran suara, dan sebagainya.
3. Basis pengetahuan, meliputi apa yang harus diketahui oleh pemakai agar pemakaian sistem bisa efektif. Basis pengetahuan bisa berada dalam pikiran pemakai, pada kartu referensi atau petunjuk, dalam buku manual, dan sebagainya.
Kombinasi dari kemampuan-kemampuan di atas terdiri dari apa yang disebut gaya dialog misalnya pendekatan tanya jawab, bahasa perintah, menu-menu, dan mengisi tempat kosong.
Kemampuan yang harus dimiliki oleh sistem pendukung keputusan untuk mendukung dialog pemakai atau sistem meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Kemampuan untuk menangani berbagai variasi dialog, bahkan jika mungkin untuk
2. Kemampuan untuk mengakomodasikan tindakan pemakai dengan berbagai peralatan masukan.
3. Kemampuan untuk menampilkan data dengan berbagai variasi format dan peralatan keluaran.
4. Kemampuan untuk memberikan dukungan yang fleksibel untuk mengetahui basis pengetahuan pemakai (
http://skripsitehnikinformasi.blogspot.com/2013/08/skripsi-sistem-pendukung-keputusan.html).
2. 4. Manajemen Persediaan
Persediaan adalah barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan
tertentu, misalnya untuk digunakan produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, Meskipun sebenarnya persediaan hanyalah suatu sumber dana yang menganggur, karena sebelum
persediaan digunakan berarti dana yang terikat didalamnya tidak dapat digunakan untuk keperluan yang lain. Begitu pentingnya persediaan ini sehinggan para akuntan memasukannya dalam neraca sebagai salah satu pos aktiva lancer. Sebagai salah satu aset penting dalam
perusahaan karena biasanya mempunyai nilai yang cukup besar serta mempunyai nilai yang cukup besar serta mempunyai pengaruh terhadap besar kecilnya biaya operasi perencanaan dan
pengendalian persediaan merupakan suatu kegiatan penting yang mendapat perhatian khusus dari manajemen perusahaan. Sistem pengendalian persediaan dapat didefinisikan sebagai serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan
untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan yang harus diadakan. Sistem ini menentukan dan menjamin tersediaannya persediaan yang tepat dalam kualitas dan
dalam persediaan), meningkatkan biaya penyimpanan, dan risiko kerusakan barang yang lebih besar. Namun, jika persediaan lebih sedikit mengakibatkan risiko terjadinya kekurangan
persediaan (stockout) karena seringkali barang tidak dapat didatangkan secara mendadak dan sebesar yang dibutuhkan, yang menyebabkan terhentinya proses produksi, tertundanya penjualan, bahkan hilangnya pelanggan.
2. 4. 1. Persediaan
Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha yang masih dalam proses produksi. Adapun jenis-jenis persediaan adalah:
a). Batch Stock
Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
Keuntungan yang diperoleh dari adanya batch stock ialah : Memperoleh potongan harga pada harga pembelian Memperoleh efisiensi produksi
Adanya penghematan di dalam biaya angkutan b). Fluctuation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Bila terdapat fluktuasi permintaan yang sangat besar maka persediaan ini
dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya permintaan tersebut.
c). Anticipation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan yang meningkat.
a). Biaya Pemesanan (Ordering Costs)
Adalah biaya yang dikeluarkan berkenaan dengan pemesanan barang-barang dari penjual,
sejak dari pesanan dibuat dan dikirim ke penjual sampai barang tersebut. Dikirim dan diserahkan serta diinspeksi digudang. Jadi biaya ini berhubungan dengan pesanan tetapi
sifatnya agak konstan, dimana besarnya biaya yang dikeluarkan tidak tergantung pada besarnya atau banyaknya barang yang dipesan. Yang termasuk dalam biaya pemesanan ialah semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengadakan pemesanan bahan tersebut, di
antaranya:
Biaya administrasi pembelian dan penempatan order Biaya pengangkutan dan bongkar muat
Biaya penerimaan dan biaya pemeriksaan. b). Biaya Penyimpanan (Holding Cost)
Adalah biaya-biaya yang diperlukan berkenaan dengan adanya persediaan yang meliputi seluruh pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan sebagai akibat adanya jumlah persediaan. Yang termasuk dalam biaya ini ialah semua biaya yang timbul karena barang disimpan yaitu
biaya pergudangan yang terdiri dari: Biaya sewa gudang
Upah dan gaji tenaga pengawas dan pelaksana pergudangan Biaya peralatan material dan yang lainnya
c). Biaya Kekurangan Persediaan (Out of Stock Costs)
Adalah biaya yang timbul sebagai akibat terjadinya persediaan yang lebih kecil daripada
jumlah yang diperlukan seperti kerugian atau biaya-biaya tambahan yang diperlukan karena seorang pelanggan meminta atau memesan suatu barang sedangkan barang atau bahan yang
dibutuhkan tidak tersedia. Selain itu juga dapat merupakan biaya-biaya yang timbul akibat pengiriman kembali pesanan tersebut.
d). Biaya-biaya yang berhubungan dengan kapasitas (Capacity Associated Costs)
Adalah biaya-biaya terdiri atas biaya kerja lembur, biaya latihan, dan biaya pengangguran
(idle time stock). Biaya-biaya ini terjadi karena adanya penambahan atau pengurangan kapasitas atau bila terlalu banyak atau terlalu sedikitnya kapasitas yang digunakan pada suatu
2. 5. Analisis ABC
Pada umumnya persediaan terdiri dari berbagai jenis barang yang sangat banyak
jumlahnya, begitu juga dengan persediaan obat. Berbagai macam item obat memiliki tingkat prioritas yang berbeda. Sehingga, untuk mengetahui obat mana yang perlu mendapatkan prioritas dapat menggunakan analisis ABC.
Analisis ABC merupakan salah satu cara pengendalian persediaan dengan mengelompokkan persediaan menjadi 3 klasifikasi berdasarkan nilai investasi barang untuk
memberikan prioritas perhatian pada barang-barang dengan nilai investasi tinggi dan jumlah pemakaian besar. (Supriadi, 2004)
Sedangkan Assauri (2004) menyatakan bahwa dalam penentuan kebijaksanaan
pengawasan persediaan yang ketat dan agak longgar terhadap jenis-jenis bahan yang ada dalam persediaan, maka dapat digunakan metode analisis ABC. Metode ini menggunakan Pareto
Analysis , yang menekankan bahwa sebagian kecil dari jenis-jenis bahan yang terdapat dalam persediaan mempunyai nilai penggunaan yang cukup besar yang mencakup lebih daripada 60% dari seluruh nilai penggunaan bahan yang terdapat dalam persediaan. Adalah tidak efisien dan
efektif, apabila kita melakukan pengawasan dan pengendalian yang ketat terhadap jenis-jenis bahan yang mempunyai nilai penggunaan yang rendah. Oleh karena itu cukup menekankan
pengawasan persediaan yang ketat terhadap jenis persediaan yang mempunyai nilai penggunaan yang terbesar.
Sedangkan menurut Heizer dan Render, analisis ABC adalah sebuah aplikasi persediaan
banyak hal yang sepele. Tujuannya adalah membuat kebijakan persediaan yang memusatkan sumber daya pada komponen persediaan penting yang sedikit dan bukan pada yang banyak tetapi
sepele. Untuk menentukan volume analisis ABC, permintaan tahunan dari setiap barang persediaan dihitung dan dikalikan dengan harga per unit. Barang kelas A adalah barang-barang dengan volume investasi tahunan tinggi. Walaupun barang seperti ini mungkin hanya mewakili
sekitar 15% daritotal persediaan barang, mereka merepresentasikan 70% hingga 80% dari total pemakaian investasi. Kelas B adalah untuk barang-barang persediaan yang memiliki volume
invesasi tahunan menengah. Barang ini merepresentasikan sekitar 30% barang persediaan dan 15% hingga 25% dari nilai total. Barang-barang yang memiliki volume investasi tahunan rendah adalah kelas C, yang mungkin hanya merepresentasikan 5% dari volume investasi tahunan tetapi
sekitar 55% dari total barang persediaan.
2. 6. Siklus Pengembangan Sistem
2. 6. 1. Analisis Sistem
Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai penguraian dari suatu sistem informasi dengan
maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasikan permasalahan-permasalahan, hambatan-hambatan yang terjadi dalam kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat
diusulkan perbaikan-perbaikannya. Didalam tahap analisis sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus dilakukan oleh analis sistem sebagai berikut :
1. Identify, yaitu mengidentifikasi masalah.
2. Understand, yaitu memahami kerja dari sistem yang ada. 3. Analyze, yaitu menganalisa sistem.
Model analisis merupakan representasi teknis yang pertama dari sistem, saat ini ada dua yang mendominasi pemodelan analisis, yaitu :
1. Analisis Terstruktur. Dengan menggunakan notasi yang sesuai dengan prinsip analisis operasional, kita menciptakan model yang menggambarkan muatan dan aliran inforasi, kita membagi sistem secara fungsional dan secara behavior, dan menggambarkan esensi
dari apa yang harus dibangun.
2. Analisis Berorientasi Objek, mendefinisikan semua kelas yang relevan terhadap masalah
berserta operasi-operasi dan atribut-atribut yang diasosiasikan dengan kelas itu, keterhubungan dikelas-kelas dan perilaku yang dimilikinya.
Alat-alat yang digunakan dalam analisis terstruktur adalah :
1. Diagram E-R (Entity Relationship Diagram) 2. Diagram Konteks (Context Diagram)
3. Diagram arus data (Data Flow Diagram)
1. Diagram Konteks
Diagram konteks adalah arus data yang berfungsi untuk menggambarkan keterkaitan
aliran-aliran data antara sistem dengan bagian-bagian luar. Kesatuan luar ini merupakan sumber arus data atau tujuan data yang berhubungan dengan sistem informasi tersebut. Diagram konteks memberikan batasan yang jelas mengenai besaran-besaran entitas yang berada diluar sistem yang
sedang dibuat, artinya diagram ini menggambarkan secara jelas batasan-batasan dari sebuah sistem yang sedang dibuat.
Merupakan representasi grafik dari suatu sistem yang menunjukkan proses atau fungsi, aliran data, tempat penyimpanan data dan entitas eksternal. Data Flow Diagram (DFD) juga
digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan. Beberapa simbol yang digunakan di DFD adalah :
a. External Entity, merupakan kesatuan dilingkungan luar sistem yang dapat berupa orang,
organisasi atau sistem lainnya yang berada dilingkungan luarnya yang akan memberikan input atau memeriksa output dari sistem. Disimbolkan dengan suatu notasi kotak.
Gambar 2.1 Kesatuan Luar (ExternalEntity)
b. Data Flow (arus data), di DFD diberi simbol suatu panah. Arus data ini mengalir diantara proses (process), simpanan data (data store) dan kesatuan luar (external entity). Arus data ini menunjukkan arus dari data yang dapat berupa masukan untuk sistem atau hasil dari
proses sistem.
Identifikasi
Nama Proses
c. Process (proses). Suatu proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh orang, mesin atau komputer dari hasil suatu arus dara yang masuk kedalam proses untuk
dihasilkan arus data yang masuk ke dalam proses untuk dihasilkan arus data yang akan keluar dari proses.
Gambar 2.3 Proses (Process)
d. Data Store (simpanan data), merupakan simpanan dari data yang dapat berupa suatu file atau database, suatu arsip atau catatan manual.
Media Data Store
Gambar 2.4 Penyimpanan Data (DataStorage)
3. Kamus Data
Salah satu komponen kunci dalam sistem manajemen database adalah file khusus yang disebut kamus data (data dictionary). Kamus data merupakan katalog fakta tentang data dan kebutuhan-kebutuhan informasi dari suatu sistem informasi. Dengan menggunakan kamus data,
Untuk setiap elemen data yang disimpan dalam database seperti nomor pokok pegawai, diuraikan secara lengkap mulai dari nama, tempat penyimpanan, program komputer yang
berhubungan dan lain-lain. Kamus data biasanya dipelihara secara otomatis oleh sistem manajemen database. Cara mendefinisikan kamus data yaitu :
a. Menggambarkan arti aliran data atau penyimpanan yang ditunjuk dalam DFD.
b. Menggabungkan komponen dari kumpulan data yang mengalir yaitu kumpulan komponen yang mungkin bisa dipecah lagi menjadi data elementer.
c. Menggambarkan data yang tersimpan.
d. Menentukan nilai dibagian elementer dari informasi yang relevan di DFD dan data storenya.
2. 6. 2. Desain Sistem
Setelah tahap analisis sistem selesai dilakukan, maka analis sistem telah mendapatkan
gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tiba waktunya sekarang bagi analis sistem untuk memikirkan bagaimana membentuk sistem tersebut. Tahap ini disebut dengan desain sistem (systems design).
Menurut Verzello dan Reuter, dalam Jogiyanto (2005:196) desain sistem adalah tahap setelah analisis dari siklus pengembangan sistem; pendefinisian dari kebutuhan-kebutuhan
Menurut Burch dan Grudnitski, dalam Jogiyanto ( 2005:196 ) desain sistem dapat didefinisikan sebagai penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan dari
beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu kesatuan yang utuh dan berfungsi.
Tahap desain sistem mempunyai dua tujuan utama, yaitu:
1. Untuk memenuhi kebutuhan kepada pemakai sistem
2. Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik lainnya.
Desain sistem dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu desain sistem secara umum (general systems design) dan desain sistem terinci (detailed system design).
a. Desain Sistem Secara Umum
Tujuan dari desain sistem secara umum adalah untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru, yang mana merupakan persiapan dari desain sistem secara
rinci. Desain secara umum dilakukan oleh analis sistem untuk mengidentifipkasikan komponen-komponen sistem informasi yang akan didesain secara rinci oleh pemrogram komputer dan ahli teknik lainnya.
Pada tahap ini, komponen-komponen sistem informasi dirancang dengan tujuan untuk dikomunikasikan kepada user. Komponen sistem informasi yang didesain adalah model, output,
input, database, teknologi dan kontrol.
b. Desain Sistem secara Rinci (Detailed System Design)
Desain output terinci dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana dan seperti apa bentuk output-output dari sistem yang baru. Desain Output Terinci terbagi atas dua, yaitu desain
output berbentuk laporan di media kertas dan desain output dalam bentuk dialog di layar terminal.
a. Desain output dalam bentuk laporan
Desain ini dimaksudkan untuk menghasilkan output dalam bentuk laporan di media kertas. Bentuk laporan yang paling banyak digunakan adalah dalam bentuk tabel dan
berbentuk grafik atau bagan.
b. Desain output dalam bentuk dialog layar terminal
Desain ini merupakan rancang bangun dari percakapan antara pemakai sistem (user)
dengan komputer. Percakapan ini dapat terdiri dari proses memasukkan data ke sistem, menampilkan output informasi kepada user, atau keduanya
Beberapa stategi dalam membuat layar dialog terminal :
1. Dialog pertanyaan / jawaban 2. Menu
Menu banyak digunakan karena merupakan jalur pemakai yang mudah dipahami dan mudah digunakan. Menu berisi beberapa alternatif atau option atau pilihan yang disajikan kepada user. Pilihan menu akan lebih baik bila dikelompokkan sesuai fungsinya.
Masukan merupakan awal dimulainya proses informasi. Bahan mentah dari informasi adalah data yang terjadi dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh organisasi. Data hasil dari
transaksi merupakan masukan untuk sistem informasi. Hasil dari sistem informasi tidak lepas dari data yang dimasukkan. Desain input terinci dimulai dari desain dokumen dasar sebagai penangkap input yang pertama kali. Jika dokumen dasar tidak didesain dengan baik,
kemungkinan input yang tercatat dapat salah bahkan kurang.
Fungsi dokumen dasar dalam penanganan arus data :
1. Dapat menunjukkan macam dari data yang harus dikumpulkan dan ditangkap 2. Data dapat dicatat dengan jelas, konsisten dan akurat
3. Dapat mendorong lengkapnya data, disebabkan data yang dibutuhkan disebutkan satu persatu
di dalam dokumen dasarnya
Desain Database Terinci
Basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di simpanan luar komputer dan digunakan perangkat lunak
tertentu untuk memanipulasinya. Database merupakan salah satu komponen yang penting di sistem informasi, karena berfungsi sebagai basis penyedia informasi bagi para pemakainya.
Penerapan database dalam sistem informasi disebut database system.
Pada tahap ini, desain database dimaksudkan untuk mendefinisikan isi atau struktur dari tiap-tiap file yang telah diidentifikasikan di desain secara umum.
Tahap desain teknologi terbagi atas dua, yaitu desain teknologi secara umum dan terinci. Pada tahap ini kita menentukan teknologi yang akan dipergunakan dalam menerima input,
menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan. Teknologi yang dimaksud meliputi:
1. Perangkat keras (hardware), yang terdiri dari alat masukan, alat pemroses, alat output dan simpanan luar
2. Perangkat lunak (software), yang terdiri dari perangkat lunak sistem operasi (Operating system), perangkat lunak bahasa (language software) dan perangkat lunak (application software)
3. Sumber daya manusia (brainware), misalnya operator komputer, pemrogram, spesialis telekomunikasi, sistem analis dan lain sebagainya
Desain teknologi sangat diperlukan pada tahap implementasi dan pengujian untuk
membuktikan bahwa sistem dapat berjalan secara semestinya.
2. 6. 3. Implementasi Sistem
Whitten, et al (2004: 34) mengungkapkan ” Sistem Implementasi adalah konstruksi,
instalasi, pengujian, dan pengiriman sistem kedalam produksi (artinya operasi sehari-hari)”.
Sistem telah dianalisa dan didesain secara rinci dan teknologi telah diseleksi dan dipilih.
1. Menerapkan Rencana Implementasi
Rencana implementasi merupakan kegiatan awal dari tahap implementasi sistem. Rencana
implementasi dimaksudkan terutama untuk mengatur biaya dan waktu yang dibutuhkan selama tahap implementasi.
2. Melakukan Kegiatan Implementasi
Kegiatan implementasi dilakukan dengan dasar kegiatan yang telah direncanakan dalam rencana implementasi. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam tahap implementasi ini
adalah sebagai berikut :
Telah diketahui bahwa manusia merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam sistem informasi. Jika sistem informasi ingin sukses, maka personil-personil yang terlibat harus
diberi pengertian dan pengetahuan yang cukup tentang sistem informasi dan posisi serta tugas mereka.
a. Persiapan Tempat dan Instalasi Perangkat Keras dan Perangkat Lunak
Jika peralatan baru akan dimiliki, maka tempat atau ruangan untuk peralatan ini perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Keamanan fisik dari tempat ini perlu juga dipertimbangkan.
Sistem komputer yang besar membutuhkan tempat dengan lingkungan yang lebih harus diperhitungkan. Langkah selanjutnya setelah persiapan fisik tempat adalah menginstalasi
perangkat keras yang sudah dikirim dan menginstalasi perangkat lunak yang sudah ada.
Pemrograman merupakan kegiatan menulis kode program yang akan dieksekusi oleh komputer. Kode program yang ditulis oleh pemrogram harus berdasarkan dokumentasi yang
disediakan oleh analis sistem hasil dari desain sistem secara rinci. Sebelum program diterapkan, maka program harus terlebih dahulu bebas dari kesalahan-kesalahan. Oleh sebab itu, program harus diuji untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang mungkin dapat terjadi.
Program dites untuk tiap-tiap modul dan dilanjutkan dengan pengetesan untuk semua modul yang telah dirangkai.
c. Pengetesan Sistem
Pengetesan sistem biasanya dilakukan setelah pengetesan program. Pengetesan sistem dilakukan untuk memeriksa kekompakan antar komponen sistem yang
diimplementasikan. Tujuan utama dari pengetesan sistem ini adalah untuk memastikan bahwa elemen-elemen atau komponen-komponen dari sistem telah berfungsi sesuai
dengan yang diharapkan.
2. 6. 4. Operasi dan Pemeliharaan
Setelah masa sistem berjalan sepenuhnya menggantikan sistem lama, sistem memasuki pada tahapan operasi dan pemeliharaan. Zwass (1999) membagi pemeliharaan perangkat lunak
menjadi tiga macam, yaitu :
Pemeliharaan Perfektif ditujukan untuk memperbarui sistem lama sebagai tanggapan atas perubahan kebutuhan pemakai dan kebutuhan organisasi, meningkatkan efesiensi sistem,
dan memperbaiki dokumentasi.
b. Pemeliharaan Adaptif
Pemeliharaan Adaptif berupa perubahan aplikasi untuk menyesuaikan diri terhadap
lingkungan perangkat keras dan perangkat lunakbaru. Sebagai contoh pemeliharaan ini dapat berupa perubahan aplikasi dari mainframe ke lingkungan client/ server atau mengkonversi
dari sistem berbasis berkas ke lingkungan basis data.
c. Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif berpa pembetulan atas kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada saat
sistem berjalan.
2. 7. Teknik Pengujian Sistem
2. 7. 1. White Box
Pengujian perangkat lunak adalah elemen kritis dari jaminan kualitas perangkat lunak dan merepresentasikan kajian pokok dari spesifikasi, desain dan pengkodean.
Pengujian sistem/ perangkat lunak memiliki sejumlah aturan yang berfungsi sebagai
sasaran pengujian, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pengujian adalah proses eksekusi suatu program dengan maksud menemukan kesalahan
6
7 8
1
2
3
5 4
3. Pengujian yang sukses adalah pengujian yang mengungkap semua kesalahan yang belum pernah ditemukan sebelumnya
Pengujian White Box, adalah metode pengujian yang menggunakan struktur kontrol desain prosedur untuk memperoleh test case. Dengan menggunakan metode white box, perekayasa sistem dapat melakukan test case yang memberikan jaminan bahwa semua jalur
independen pada suatu modul telah digunakan paling tidak satu kali, menggunakan semua keputusan logis pada sisi true dan false, mengeksekusi semua loop pada batasan mereka dan
pada batas operasional mereka, dan menggunakan stuktur data internal untuk menjamin validitasnya. Pengujian Basis Path adalah teknik pengujian white box yang diusulkan pertama kali oleh Tom McCabe. Metode basis path ini memungkinkan desainer test case mengukur
11
Gambar 2.6 Contoh Grafik Alir
Gambar 2.5 Contoh Bagan Alir
Bagan alir digunakan untuk menggambarkan struktur kontrol program. Dan untuk menggambarkan grafik alir, harus memperhatikan representasi desain prosedural pada bagan alir.
Pada gambar dibawah ini, grafik alir memetakan bagan alir tersebut ke dalam grafik alir yang sesuai (dengan mengasumsikan bahwa tidak ada kondisi senyawa yang diisikan di dalam diamond keputusan dari bagan alir tersebut). Masing-masing lingkaran, yang disebut simpul
grafik alir, merepresentasikan satu atau lebih statemen prosedural. Urutan kotak proses dan permata keputusan dapat memetakan simpul tunggal. Anak panah tersebut yang disebut edges
Kompleksitas siklomatis adalah metriks perangkat lunak yang memberikan pengukuran kuantitatif terhadap kompleksitas logis suatu program. Bila metriks ini digunakan dalam konteks metode pengujian basis path, maka nilai yang terhitung untuk kompleksitas siklomatis
menentukan jumlah jalur independen. Jalur independen adalah jalur yang melalui program yang mengintroduksi sedikitnya satu rangkaian statemen proses baru atau suatu kondisi baru. Bila
dinyatakan dengan terminologi grafik alir, jalur independen harus bergerak sepanjang paling tidak satu edge yang tidak dilewatkan sebelum jalur tersebut ditentukan. Sebagai contoh, serangkaian jalur independen untuk grafik alir yang ditunjukkan pada gambar 2.6 adalah :
Jalur 1 : 1 – 11
Jalur 2 : 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 10 – 1 – 11
Jalur 4 : 1 – 2 – 3 – 6 – 7 – 9 – 10 – 1 – 11
Jalur 1, 2, 3, dan 4 yang ditentukan di atas terdiri dari sebuah basis set untuk grafik alir pada
gambar 2.6. Bagaimana kita tahu banyaknya jalur yang dicari? Komputasi kompleksitas siklomatis memberikan jawaban. Fondasi kompleksitas siklomatis adalah teori grafik, dan memberi kita metriks perangkat lunak yang sangat berguna. Kompleksitas dihitung dalam salah
satu dari tiga cara berikut :
1. Jumlah region grafik alir sesuai dengan kompleksitas siklomatis.
2. Kompleksitas siklomatis, V(G), untuk grafik alir G ditentukan sebagai
V(G) = E – N + 2 di mana E adalah jumlah edge grafik alir dan N adalah jumlah simpul grafik alir.
3. Kompleksitas siklomatis, V(G), untuk grafik alir G juga ditentukan sebagai V(G) = P + 1, dimana P adalah jumlah simpul predikat yang diisikan dalam grafik alir G.
Pada gambar 2.6 grafik alir, kompleksitas siklomatis dapat dihitung dengan menggunakan masing-masing dari algoritma yang ditulis di atas :
1. Grafik alir mempunyai 4 region
2. V(G) = 11 edge – 9 simpul + 2 = 4
Dengan demikian, kompleksitas siklomatis dari grafik alir pada gambar 2.6 adalah 4. Yang lebih penting, nilai untuk V(G) memberi kita batas atas untuk jumlah jalur independen
yang membentuk basis set, dan implikasinya, batas atas jumlah pengujian yang harus didesain dan dieksekusi untuk menjamin semua statemen program.
2. 7. 2. Black Box
Black box aproach adalah suatu sistem dimana input dan outputnya dapat didefinisikan
tetapi prosesnya tidak diketahui atau tidak terdefinisi. Metode ini hanya dapat dimengerti oleh pihak dalam (yang menangani sedangkan pihak luar hanya mengetahui masukan dan hasilnya).
Sistem ini terdapat pada subsistem tingkat terendah.
Metode ujicoba blackbox memfokuskan pada keperluan fungsional dari software. Karena itu ujicoba blackbox memungkinkan pengembang software untuk membuat himpunan kondisi
input yang akan melatih seluruh syarat-syarat fungsional suatu program. Ujicoba blackbox bukan merupakan alternatif dari ujicoba whitebox, tetapi merupakan pendekatan yang melengkapi
untuk menemukan kesalahan lainnya, selain menggunakan metode whitebox. Ujicoba blackbox berusaha untuk menemukan kesalahan dalam beberapa kategori, diantaranya :
1. Fungsi-fungsi yang salah atau hilang.
2. Kesalahan interface.
3. Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal.
Tidak seperti metode whitebox yang dilaksanakan diawal proses, ujicoba blackbox diaplikasikan dibeberapa tahapan berikutnya. Karena ujicoba blackbox dengan sengaja
mengabaikan struktur kontrol, sehingga perhatiannya difokuskan pada informasi domain. Ujicoba didesain untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
1. Bagaimana validitas fungsionalnya diuji?
2. Jenis input seperti apa yang akan menghasilkan kasus uji yang baik ?
3. Apakah sistem secara khusus sensitif terhadap nilai input tertentu ?
4. Bagaimana batasan-batasan kelas data diisolasi?
5. Berapa rasio data dan jumlah data yang dapat ditoleransi oleh sistem?
6. Apa akibat yang akan timbul dari kombinasi spesifik data pada operasi sistem?
Dengan mengaplikasikan ujicoba blackbox, diharapkan dapat menghasilkan sekumpulan kasus uji yang memenuhi kriteria berikut :
1. Kasus uji yang berkurang, jika jumlahnya lebih dari 1, maka jumlah dari uji kasus tambahan harus didesain untuk mencapai ujicoba yang cukup beralasan.
2. Kasus uji yang memberitahukan sesuatu tentang keberadaan atau tidaknya suatu jenis
kesalahan, dari pada kesalahan yang terhubung hanya dengan suatu ujicoba yang spesifik.
2. 8. Perangkat Lunak Pendukung
Microsoft Visual Basic 6.0 adalah merupakan sebuah bahasa pemrograman komputer yang menjadi sarana (Tools) untuk menghasilkan program-program aplikasi yang berbasis
windows. Sarana akses data yang lebih cepat dan handal untuk membuat aplikasi basis data yang berkemampuan tinggi.
1. Tambahan contol – control baru lebih canggih serta peningkatan kaidah struktur bahasa
visual basic.
2. Visual Basic memiliki beberapa versi atau edisi yang disesuaikan dengan kebutuhan
pemakainya.
Visual Basic mempunyai banyak kelebihan dibandingkan Software/bahasa pemograman yang lain. Dibawah ini adalah beberapa keuntungan tersebut:
1. Menghilangkan kompleksitas pemanggilan fungsi Windows API (Application Programming Interface), karena banyak fungsi-fungsi tersebut sudah di-"embedded"
(Sistem Embedded adalah sistem komputer yang dirancang khusus untuk tujuan tertentu demi meningkatkan fungsi suatu mesin.) ke dalam syntax Visual Basic.
2. Cocok digunakan untuk mengembangkan aplikasi/program yang bersifat Rapid
Application Development (adalah sebuah model proses perkembangan software sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan yang sangat pendek).
3. Juga sangat cocok digunakan untuk membuat program/aplikasi Bisnis.
4. Digunakan oleh hampir semua keluarga Microsoft Office sebagai bahasa Macro-nya, segera akan diikuti oleh yang lain.
Gambar 2.7. Interface (antarmuka) Visual Basic 6.0
2. 8. 2. MySQL
MySQL adalah suatu program aplikasi basis data komputer relasional yang digunakan untuk merancang, membuat dan mengolah berbagai jenis data dengan kapasitas yang besar.
Database adalah kumpulan tabel-tabel yang saling berelasi. Antar tabel yang satu dengan yang lain saling berelasi, sehingga sering disebut basis data relasional. Relasi antar tabel dihubungkan
Table adalah objek utama dalam database yang digunakan untuk menyimpan sekumpulan data sejenis dalam sebuah objek. tabel terdiri atas :
1. Field Name : atribut dari sebuah table yang menempati bagian kolom.
2. Record : Isi dari field atau atribut yang saling berhubungan yang menempati bagian baris.
Query (Structured Query Language) adalah bahasa untuk melakukan manipulasi terhadap
database. Digunakan untuk menampilkan, mengubah, dan menganalisa sekumpulan data. Query dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. DDL (Data Definition Language) digunakan untuk membuat atau mendefinisikan obyek-obyek database seperti membuat tabel, relasi antar tabel dan sebagainya.
b. DML (Data Manipulation Language) digunakan untuk manipulasi database, seperti :
menambah, mengubah atau menghapus data serta mengambil informasi yang diperlukan dari database.
MySQL adalah sebuah software yang Open Source. sehingga bebas dipakai dan
dimodifikasi oleh semua orang. Setiap orang dapat mendownload MySQL dari internet dan menggunakannya tanpa perlu membayar.
a. Didukung sepenuhnya oleh bahasa pemrograman C, C++, Eiffel, Java, Perl, PHP, Python
dan Tcl untuk mengakses database MySQL.
b. Dapat bekerja pada banyak platform yang berbeda, termasuk juga di dalamnya windows.
c. Banyak tipe kolom : signed/unsigned integer 1, 2, 3, 4, dan 8 bytes, FLOAT, DOUBLE, CHAR, VARCHAR, TEXT, BLOB, DATE, TIME, DATETIME, TIMESTAMP, YEAR, SET, dan tipe ENUM.
d. Mendukung sepenuhnya parameter SQL GROUP BY dan ORDER BY. Fungsi yang dapat dipakai dalam group query : (COUNT (), COUNT (DISTINCT), AVG (), STD (),
SUM (), MAX () and MIN ()).
e. Sistem privilege dan password dapat terjaga kerahasiaannya dapat di verifikasi berdasarkan nama host-nya. Password terjaga kerahasiaannya karena semua password
disimpan dalam keadaan terenkripsi.
2. 8. 3. Crystall Report 8.0
Crystal Report merupakan salah satu produk dari Seagate Software yang menangani perkembangan teknologi penyajian laporan. Crystal report merupakan program khusus untuk membuat laporan yang terpisah dengan program Microsoft Visual Basic 6.0 tetapi keduanya
mudah karena pada Crystal Report banyak tersedia objek-objek maupun komponen yang mudah digunakan. (http://kampoeng-it.blogspot.com/2010).
Menggunakan Crystal Report 8.5 padaVisual Basic 6.0 memang banyak cara, bisa gunakan data environment untuk Connection ke databasenya atau bisa juga menggunakan crviewer dan kita kirim parameternya dalam crviewer tersebut.
2. 9. Kerangka Pikir
PEMBANGU
NAN
SISTEM
Microsoft Visual Basic 6.0
Crystal Report
MYSQL
I
Tujuan PenilitianMerancang dan membangun sistem pendukung keputusan yang dapat membantu manajemen dalam pengendalian pengadaan obat dan pemakaian obat sesuai kebutuhan.
Menerapkan metode Analisis ABC dalam sistem pendukung keputusan Pengendalian Pengadaan Obat.. Sistem dapat menghasilkan laporan yang berkaitan dengan pengadaan dan pemakaian obat secara lengkap
PEN
ANALISIS SISTEMMenganalisis sistem yang berjalan
Membuat sistem yang diusulkan
LANDAS
AN
TEORI
Sistem Pendukung Keputusan
Analisis ABC
BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3. 1. Objek Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan kerangka pemikiran seperti yang telah diuraikan dalam
bab I dan bab II, maka yang menjadi objek penelitian adalah Sistem Pendukung Keputusan Pengendalian Persediaan Obat pada Apotek Mirin Farma.
3. 2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data,
menganalisis dan menginterprestasikan. Metode ini bertujuan untuk pemecahan masalah secara sistematis dan factual mengenai faktafakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diteliti.
Tahapan penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :
3. 2. 1. Tahap Analisis
Pada tahap ini dilakukan analisis sistem yang terdiri dari :
Pada tahap ini dilakukan analsis sistyem yang berjalan dilapangan yaitu mulai dari tahapan pemasukan berkas/permohonan, proses penyeleksian sampai dengan proses
pengambilan keputusan penentuan kelompok Tani yang berhak menerima bantuan.
b. Analisis Sistem yang Diusulkan
Pada tahap ini dilakukan analisa sistem mengenai kelayakan dan kebutuhan sistem yang akan dibangun. Studi kelayakan berguna untuk memastikan bahwa solusi yang
diusulkan tersebut benar-benar dapat dicapai dengan sumber daya dan dengan memperhatikan kendala ytang terdapat pada perusahaan serta dampak terhadap
lingkungan sekeliling. Dan analisis kebutuhan ini diperlukan untuk menentukan keluaran yang akan dihasilkan sistem, masukan yang diperlukan sistem, lingkup proses yang digunakan untuk mengolah masukan menjadi keluaran, volume data yang
akan ditangani sistem, jumlah pemakai dan kategori pemakai serta kontrol terhadap sistem.
3. 2. 2. Tahap Desain
Pada tahap ini dilakukan desain sistem yakni desain output, desain input, desain database, desain teknologi dan desain model :
a. Desain Output
Pada Tahap ini dilakukan desain output secara umum dan terinci dimaksudkan untuk
baik desain output berbentuk laporan dimedia kertas dan desain output dalam bentuk dialog pada layar terminal.
b. Desain Input
Pada Tahan ini dilakukan desaian input secara umum dan terincin. Desain input secara umum untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem
yang baru, yang mana merupakan persiapan dari desain sistem secara rinci. Sedangkan pada desain terinci dilakukan desain tampilan input yang akan digunakan untuk entry
data awal kedalam sistem.
c. Desain Database
Pada tahap ini dilakukan desain database yang dimaksudkan untuk mendefinisikan
isi atau struktur dari tiap-tiap file yang telah diidentifikasikan didesain secara umum.
d. Desain Teknologi
Pada tahap ini kita menentukan teknologi yang akan dipergunakan dalam menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
Teknolgi yang dimaksud meliputi perangkat keras, perangkat lunak yang akan digunakan serta sumber daya manusia yang akan menggunakan sistem ini nantinya. Desain
teknologi sangat diperlukan pada tahap implementasi dan pengujian untuk membuktikan bahwa sistem dapat berjalan secara semestinya.
Pada tahap ini dilakukan desain model secara umum berupa desain sistem secara fisik dan logika. Desain fisik dapat digambarkan dengan bagan alir sistem dan bagan alir
dokumen. Desain secara logika digambarkan dengan diagram arus data (DAD). Pada tahap desain model terinci, model akan mendefinisikan secara rinci urutan-urutan langkah dari masing-masing proses yang digambarkan di DAD. Berikut desain model
secara fisik sistem yang akan dibuat :
3. 2. 3. Tahap Pembuatan
Pada tahap ini dilakukan pembuatan sistem dengan menggunakan Bahasa Pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0 dengan memanfaatkan Database MySQL. Pada tahap ini kita melakukan tahap produksi sistem hasil analisa dan desain sistem sebelumnya. Termasuk
didalamnya menginstal paket tambahan untuk menjalankan program, menulis listing program dan membangunnya dalam bentuk sebuah formulir, antarmuka dan integrasi sistem-sistem
program yang terdiri dari input, proses dan output, yang tersusun dalam sebuah sistem menu sehingga dapat dijalankan oleh pengguna sistem.
3. 2. 4. Tahap Pengujian
Setelah dilakukan tahap analisa, desain dan produksi sistem, maka kita melakukan tahap pengujian, dimana seluruh perangkat lunak, program tambahan dan semua program yang
terlibat dalam pembangunan sistem diuji untuk memastikan sistem dapat berjalan dengan semestinya. Testing difokuskan pada logika internal, fungsi eksternal dan mencari segala kemungkinan kesalahan dari sistem yang dibuat. Pada tahap ini dilakukan review dan evaluasi
Jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, kemudian dilakukan revisi atau perbaikan supaya produk tersebut dapat dioperasikan dengan baik dan siap untuk
diimplementasikan. Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan teknik pengujian perangkat lunak yang telah ada yaitu :
a. Pengujian White Box terhadap sistem yang akan digunakan
b. Pengujian Black Box melalui program Visual Basic 6.0 dan Database MySQL.
Setelah dilakukan uji coba sistem secara internal, kemudian dilakukan pengujian
antarmuka sistem, apakah sebuah sistem setelah diberikan ke pengguna dapat dioperasikan atau tidak.
3. 2. 5. Tahap Implementasi
Tahap implementasi sistem (System Implementation) merupakan tahap meletakkan sistem supaya siap untuk dioperasikan. Pada tahap ini akan dilakukan pengetesan sistem secara
bersama antara analis sistem (system analist), pemrogram (programer) dan pemakai sistem (user). Adapun beberapa langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah :
a. Penerapan / Penggunaan Program
Penerapan instalasi dari program yang telah dibangun ini nantinya akan diterapkan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Gorontalo.
Setelah menetapkan bidang yang nantinya akan menggunakan program ini, langkah selanjutnya adalah menginstall program. Proses penginstallan tidak memakan waktu
yang lama.
c. Pelatihan pengguna
Langkah berikut tidak kalah pentingnya dengan langkah-langkah sebelumnya, yakni kita
harus melatih penggunaan program pada karyawan yang nantinya akan menggunakan program ini dengan hanya melatih beberapa orang saja yang khusus menangani data
pemberian bantuan sosial kepada kelompok tani.
d. Entry data
Setelah pelatihan pengguna dilakukan, maka hal selanjutnya yang kita lakukan
adalah memasukkan data. Ini dilakukan agar nantinya program yang telah dibangun apakah bisa digunakan atau tidak dan bisa dinilai oleh pengguna apakah program
yang telah dibangun ini dapat mengoptimalkan sistem pemberian bantuan sosial kepada petani (Rahmat, 2013).