Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Peran

Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminology aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai pengacara, dokter, guru, orangtua, anak, wanita, pria, dan lain sebagainya, diharapkan agar seorang tersebut berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter.

Kamus bahasa Indonesia (2001:585) menegaskan bahwa peran adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan, jadi peran adalah suatu perilaku seseorang yang diharapkan dapat membuat suatu perubahan serta harapan yang mengarah pada kemajuan, meskipun tidak selamanya sesuai dengan yang di harapkan.

Pengertian peran menurut Margono Slamet (1995:15), merupakan tindakan atau prilaku yang dilakukanoleh seseorang yang menempati posisi di dalam status sosial Pendapat lain dari Miftah Toha (1985:13) memberikan pengertian peran juga dapat dirumuskan :

(2)

Menurut Gunawan (2003:369) mengatakan bahwa peran adalah sesuatu yang jadi bagian satu yang memegang pimpinan yang terutama dalam terjadinya hal atau peristiwa.

Konsep tentang Peran (role) menurut Komarudin (1994: 768) dalam buku “ensiklopedia manajemen” mengungkap sebagai berikut :

a. Bagian dari tugas utama yang harus dilakukan oleh manajemen. b. Pola prilaku yang diharapkan dapat menyertai suatu status. c. Bagian suatu fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata.

d. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakter istik yang ada padanya.

e. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.

Sedangkan pengertian peran menurut Soerjono Soekanto (2002: 243) merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status) yang dimiliki seseorang, sedangkan status merupakan sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang apabila orang tersebut melakukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.

Soerjono Soekanto (2002 : 244) menyatakan bahwa syarat-syarat peran mencakup tiga hal, yaitu :

a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

b. Peranan adalah suatu konsep prilaku yang dapat dilaksanakan oleh individu-individu dalam masyarakat sebagai organisasi.

c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai prilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

(3)

2.2 Badan Narkotika Nasional

Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah lembaga pemerintahan non kementerian yang berkedudukan di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden. Badan Narkotika Nasional sebagai lembaga independen diharapkan dapat bekerja lebih baik serta transparan dan akuntabel dalam menumpas kejahatan narkotika. Badan Narkotika Nasional juga diharapkan dapat optimal dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat dan meningkatkan kerja sama internasional agar jaringan narkotika transnasional dapat dihancurkan. Dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang BNN di daerah, BNN memiliki instansi vertikal di provinsi dan kabupaten/kota.

Tujuan pembentukan Badan Narkotika Nasional dapat dilihat dalam pasal 3 (tiga) Keppres nomor 17 Tahun 2002 yaitu melakukan8

a. pengkoordinasian instansi pemerintah terkait dalam penyiapan dan penyusunan kebijakan di bidang ketersediaan, pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotrapika, prekursor dan zat adiktif lainnya;

:

b. pengkoordinasian instansi pemerintah terkait dalam kebijakan di bidang ketersedian, pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotrapika, prekursor dan zat adiktif lainnya serta pemecahan permasalahan dalam pelaksanaan tugas;

c. pengkoordinasian instansi pemerintah terkait dalam kegiatan pengadaan, pengendalian, pengawasan di bidang narkotika, psikotrapika, perkursor dan zat adiktif lainnya;

d. pengoperasian satuan tugas-satuan tugas yang terdiri dari unsur-unsur pemerintah terkait dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotrapika, prekursor dan zat adiktif lainnya sesuai dengan bidang tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing;

e. pemutusan jaringan peredaran gelap narkotika, psikotrapika, prekursor dan zat adiktif lainnya melalui satuan tugas-satuan tugas;

f. pelaksanaan kerja sama nasional, regional dan internasional dalam rangka penanggulangan masalah narkotika, psikotrapika, perkursor dan zat adiktif lainnya;

g. pembangunan dan pengembangan sistem informasi dan laboratorium narkotika, psikotrapika, prekursor dan zat adiktif lainnya.

a. Isi Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2002

8

(4)

Badan narkotika nasional dibentuk oleh Keputusan Presiden nomor 17 tahun 2002, adapun isi pokok Keputusan Presiden itu adalah sebagai berikut:

Susunan Organisasi BNN diketuai oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang beranggotakan 25 (dua puluh lima) badan dan seketaris yang dijabat oleh Kepala Pelaksana Harian BNN yang juga merangkap sebagai anggota.

Untuk mempelancar pelaksanakan tugas dan fungsi BNN dibentuk pelaksana harian BNN yang mempunyai tugas memberikan dukungan staf dan administrasi yang dipimpin oleh Kepala pelaksana harian. Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Pelaksana Harian BNN dibantu oleh:

a. Wakil Kepala Pelaksana Harian BNN b. Sekretariat

c. Pusat

d. Satuan Tugas.

Struktur organisasi merupakan kesatuan kerangka organisasi yang ditetapkan untuk proses manajerial, sistem, pola tingkah laku yang muncul dan terjadi dalam praktek penyelenggaraan organisasi dan manajemen. Struktur organisasi merupakan alat untuk membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Struktur organisasi dapat memiliki pengaruh yang besar pada anggotanya. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan. Hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian ataupun posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan tugas, wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi Kerangka kerja organisasi disebut sebagai desain organisasi (organizational design).

(5)

Pelaksana Harian BNN, yang mempunyai tugas memberikan telaahan baik diminta maupun tanpa diminta sesuai dengan keahliannya masing-masing. Di Propinsi dan Kabupaten/Kota dibentuk Badan Narkotika Nasional Propinsi dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota. Badan Narkotika Propinsi ditetapkan oleh Gubernur. Badan Narkotika Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Bupati/Walikota. Dalam melaksanakan tugasnya Badan Narkotika Propinsi dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan BNN.

BNN mengadakan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Kepala Pelaksana Harian BNN dan Wakil Kepala Pelaksana Harian BNN diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Ketua BNN. Pejabat-pejabat lain di lingkungan Pelaksana Harian BNN diangkat dan diberhentikan dengan Keputusan Kepala Pelaksana Harian BNN dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan dan penyelenggaraan tugas dan fungsi BNN dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sedangkan biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan dan penyelengaraan tugas dan fungsi Badan Narkotika Propinsi dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi dan biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan dan penyelenggaraan tugas dan fungsi Badan Narkotika Kabupaten/Kota dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.

(6)

Keputusan Presiden ini, maka Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999 tentang Badan Koordinasi Narkotika dinyatakan tidak berlaku.

b. Mekanisme Dalam Organisasi Badan Narkotika Nasional

Dalam melaksanakan tugasnya Badan Narkotika Nasional Propinsi dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional. Sedangkan Badan Narkotika Nasional melaporkan pelaksanaan dan penyelenggaraan tugas dan fungsi BNN kepada Presiden secara berkala atau sewaktu-waktu jika dipandang perlu.

2.3 Upaya Penanggulangan Kejahatan Narkoba

Masalah kejahatan dalam pendekatan reaksi sosial merupakan pendekatan yang dinamis, di mana kejahatan dimengerti melalui pemikiran sendiri dan merupakan refleksi dari proses interaksi yang rumit oleh manusia. Menurut Intruksi Presiden Republik Indonesia No.12 Tahun 2011 tentang pelaksanaan kebijakan strategi dalam menangani peredaram Narkotika yaitu:

1. Pencegahan 2. Pemberantasan 3. Penyalahgunaan

4. Peredaran gelap narkoba

Oleh karena itu, akan diuraikan tentang upaya-upaya penanggulangan kejahatan narkoba, dapat dilakukan dengan cara:

2.3.1 Penanggulangan Kejahatan Narkotika Menurut Undang-Undang

(7)

a. Undang-undang Dasar 1945.

b. Undang-undang No. 9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan. c. Instruksi Presiden No. 6 tahun 1971

d. Undang-undang No. 13 tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kepolisian. e. Undang-undang No. 15 tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan pokok Kesehatan. f. Undang-undang No. 7 tahun 1963 tentang Farmasi.

g. Undang-undang No. 3 tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa.

h. Undang-undang No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. i. Undang-undang No. 6 tahun 1976 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan

Sosial.

j. Undang-undang No. 8 tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961, beserta protokol yang mengubahnya.

k. Undang-undang No. 7 tahun 1997 tentang Pengesahan konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotrapika.

Dengan mengingat dasar-dasar ketentuan undang-undang tersebut di atas, maka pemerintah memutuskan untuk :

a. Mencabut V.M.O (Verdoovende Middelen Ordonantie) 1972 No. 278 jo. No. 536 sebagaimana telah diubah dan ditambah.

b. Memperbaharui Undang-undang No. 9 tahun 1976 tentang narkotika (Lembaran Negara tahun 1976 No. 36 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3086).

c. Menetapkan Undang-undang RepublikIndonesia No. 22 Tahun 1997 Tanggal 1 September 1997 tentang Narkotika. (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3698)9

9

Moh. Taufik Makarao, Suhasril, H. Moh. Zakky, A.S., Tindak pidana narkotika, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2003, hal 9-16

(8)

Akibat adanya Bakolak Inpres No. 6/1971 (Sub Team Narkotika), ini maka kegiatan penangggulangan bahaya narkotika yang dilakukan oleh Polri, Kejaksaan, Pengadilan dalam rangka pemberantasan kejahatan, dapat ditingkatkan dengan adanya Suatu Badan Koordinasi yang di dalamnya terdapat unsur-unsur dari Lembaga/Dinas/Jawatan yang kegiatannya langsung atau tidak lansung ada hubungannya dengan masalah narkotika seperti bea cukai, pelabuhan laut-udara, Departemen Pendidikan, pariwisata, agama dan lain-lain; sehingga penanggulangan narkotika bisa didekatkan dari berbagai aspek, yang diikuti dengan tindakan-tindakan baik represif maupun preventif.

Secara umum kegiatan-kegiatan dalam penanggulangan penyalahgunaan narkotika yang telah dilakukan oleh aparatur Pemerintah di antaranya:

a. Mengurangi volume narkotika, yang menjadi tugas alat-alat penegak hukum, dengan usaha mengurangi volume narkotika, seperti pembasmian sumber-sumber pengejaran dan penuntutan di Pengadilan terhadap pegedar-pegedar gelap dan lain-lain.

b. Menghindarkan remaja dari bujukan Narkotika dengan pengawasan dan disiplin yang ketat dengan kasih sayang baik di rumah maupun di sekolah, memberikan wadah kegiatan olah raga, rekreasi dan lain-lain. c. Penerangan dan edukasi oleh para ahli dan para petugas kepada

masyarakat umumnya dan remaja khususnya.

d. Usaha-usaha pengobatan para korban dan rehabilitasi sosialnya. e. Penyusunan RUU Narkotika yang favourable & up to date.10

Untuk menghadapi bahaya narkotika Pemerintah beserta aparaturnya (Bakolak Inpres No. 6/1971 Sub Team Narkotika) berkeyakinan bahwa dalam penanggulangan bahaya narkotika penyembuhan terhadap korban-korban yang telah kecanduan, adalah tidak/kurang artinya dan akan besar resiko serta biaya yang harus dikeluarkan oleh individu, masyarakat dan negara, oleh karenanya “pencegahan adalah yang paling baik untuk memerangipenyalahgunaan narkotika”. Beberapa upaya pencegahan yang effektif di antaranya:

10

(9)

1. Pembinaan kesadaran mental.

2. Membangkitkan kesadaraan untuk menanggulangi penyalahgunaan narkotika secara preventif dalam lingkungan keluarga masing-masing. 3. Mengajak masyarakat membantu pemberantasan penyalahgunaan narkotika

secara represif (membantu penegak hukum dengan melaporkan apalagi ada sumber- sumber atau pengedar narkotika gelap)

Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, maka dibentuklah Badan Narkotika Nasional (BNN). Dimana salah satu tugasnya adalah member-dayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Memberdayakan masyarakat bisa berupa ikut berperannya masyarakat dalam usaha pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika. Peran serta masyarakat dapat dibentuk dalam suatu wadah yang dikoordinasi oleh BNN Kota Medan

(10)

a. menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

b. mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

c. berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam

pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

d. meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi

sosial pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat;

e. memberdayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan

peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

f. memantau, mengarahkan, dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam

pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

g. melakukan kerja sama bilateral dan multilateral, baik regional maupun

internasional, guna mencegah dan memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

h. mengembangkan laboratorium Narkotika dan Prekursor Narkotika;

i. melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara

penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan

j. membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang. Selain tugas diatas, dalam Peraturan Presiden Nomor 23 tahun 2010 pada Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa:

“BNN juga bertugas menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap psikotropika, prekursor, dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol.”

(11)

adiktif untuk tembakau dan alkohol yang selanjutnya disingkat dengan P4GN di bidang Pemberdayaan Masyarakat.

2.3.2 Penanggulangan Kejahatan Secara Represif

Penanggulangan kejahatan dengan menggunakan hukum pidana merupakan cara yang paling tua, setua peradapan manusia itu sendiri. Fungsi primer dari hukum pidana adalah menanggulangi kejahatan dengan sanksi berupa pidana, yang sifatnya pada umumnya lebih tajam dari pada sanksi dari cabang hukum lainnya11. Sanksi pidana sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 10 KUHP yaitu: 12

1) Pidana pokok yaitu: a. Pidana mati; b. Pidana penjara; c. Pidana kurungan; d. Pidana denda;

2) Pidana tambahan, yaitu:

a. Pencabutan hak yang tertentu; b. Perampasan barang-barang tertentu; c. Pengumuman putusan hakim.

Dilihat sebagai suatu masalah kebijakan, ada yang mempersalahkan apakah kejahatan perlu ditanggulangi, dicegah atau dikendalikan, dengan menggunakan sanksi pidana. Ada pendapat bahwa pelaku kejahatan atau para pelanggar hukum pada umumnya tidak perlu dikenakan pidana. Menurut pendapat ini pidana merupakan peninggalan masa lalu yang seharusnya dihindari. Pendapat ini nampaknya didasarkan pada pandangan bahwa pidana merupakan tindakan perlakuan atau pengenaan penderitaan yang kejam.

Hal ini dapat dimaklumi karena memang sejarah hukum pidana penuh dengan gambaran-gambaran mengenai perlakuan yang oleh ukuran-ukuran sekarang kejam dan melampaui batas13

11

Soedarto, 1986, Kapita Selekta Hukum Pidana, Alumni, Bandung, hal 4

. Adanya pendapat pelaku kejahatan tidak perlu dijatuhkan pidana

12

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 10

13

(12)

menyebabkan lahirnya paham determinisme yang menyatakan orang tidak mempunyai kehendak bebas dalam melakukan suatu perbuatan karena dipengaruhi oleh watak pribadinya, faktor-faktor biologis maupun faktor lingkungan kemasyarakatannya.

Dengan demikian kejahatan merupakan manisfestasi dari keadaan seseorang yang abnormal. Sehingga si pelaku kejahatan tidak dapat dipersalahkan atas perbuatannya dan tidak dapat dikenakan pidana. Karena seorang penjahat merupakan jenis manusia khusus yang memiliki ketidaknormalan organik dan mental, maka bukan pidana yang seharusnya dikenakan kepadanya tetapi yang diperlukan adalah tindakan-tindakan perawatan yang bertujuan memperbaiki.14

Penanggulangan secara penal disebut juga dengan tindakan represif, yang dimaksud dengan tindakan represif ialah segala tindakan yang dilakukan oleh aparatur penegak hukum sesudah terjadi kejahatan atau tindak pidana15. Sehingga apabila ada orang yang melanggar hukum akan dikenakan pidana sesuai dengan sanksi pidana yang berlaku. Termasuk tindakan represif adalah penyidikan, penyidikan lanjutan, penuntutan dan seterusnya sampai dilaksanakannya pidana.16

Menurut H.L Packer di dalam bukunya “The limits of criminal sanction”, menyimpulkan antara lain sebagai berikut:

a. Sanksi pidana sangatlah diperlukan, kita tidak dapat hidup, sekarang maupun dimasa yang akan datang, tanpa pidana.

b. Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia, yang kita miliki untuk menghadapi kejahatan-kejahatan atau bahaya besar dan segera serta untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya.

c. Sanksi pidana suatu ketika merupakan “penjamin yang utama/terbaik” dan suatu ketika merupakan “pengancam yang utama” dari kebebasan manusia. Ia merupakan penjamin apabila digunakan secara hemat-cermat dan secara manusiawi; ia merupakan pengancam, apabila digunakan secara sembarangan dan secara paksa.17

14

, Ibid, hal. 150-151

15

Sudarto, 1973, Hukum Pidana, Jilid IA, Badan Penyedaan Kuliah, FH-UNDIP, Semarang, hal 118.

16

Ibid, hal 118

17

(13)

2.3.3 Penanggulangan Kejahatan Secara Prevensi

Alasan mengapa mencurahkan perhatian pada pencegahan sebelum kejahatan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Tindakan pencegahan lebih baik daripada tindakan represif dan koreksi. Usaha pencegahan lebih ekonomis,tidak selalu memerlukan suatu organisasi yang rumit, dapat dilakukan secara perorangan dan tidak memerlukan keahlian seperti tindakan represif dan koreksi.

2. Pencegahan tidak menimbulkan akibat yang negatif seperti stigmatisasi, pengasingan, penderitaan dalam berbagai bentuk, pelanggaran hak asasi, permusuhan terhadap satu sama lain yang dapat menjurus ke arah residivisme.

3. Pencegahan dapat mempererat persatuan, kerukunan, dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap sesama anggota masyarakat.18

Jadi pidana bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau penggimbalan kepada orang yang telah melakukan tindak pidana, tetapi mempunyai

tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat. Adapun pembagian prevensi yaitu: 1. Prevensi umum

Tujuan pokok pidana yang hendak dicapai adalah pencegahan yang ditujukan kepada khalayak ramai/kepada semua orang agar tidak melakukan pelanggaran ketertiban masyarakat. Prevensi umum dilakukan dengan mempertontonkan pelaksanaan pidana di depan umum agar masyarakat tidak berani lagi melakukan kejahatan lagi. Jadi agar anggota masyarakat lain takut, perlu diadakan pelaksanaan pidana yang menjerakan dengan pelaksanaan di depan umum.

2. Prevensi khusus

18

(14)

Prevensi khusus mempunyai tujuan agar pidana itu mencegah si penjahat/ terpidana tidak mengulangi lagi kejahatan, yang berarti agar ia berubah menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat. Van Hammel menunjukan bahwa prevensi khusus suatu pidana adalah:

a. Pidana harus memuat suatu unsur menakutkan supaya mencegah penjahat yang mempunyai kesempatanuntuk tidak melaksanakan niat buruknya. b. Pidana harus mempunyai unsur memperbaiki terpidana.

c. Pidana mempunyai unsur membinasakan penjahat yang tidak mungkin diperbaiki.

d. Tujuan satu-satunya pidana adalah mempertahankan tata tertib hukum.19 Pada kasus narkotika prevensi khusus, dapat dilihat pada rehabilitasi terhadap korban narkotika. Dalam pasal 1 Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika, rehabilitasi di bedakan menjadi 2 (dua) yaitu: 20

1. Rehabilitasi medis, adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan narkotika.

2. Rehabilitasi sosial, adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu baik fisik, mental sosial agar bekas pecandu narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pasal 48 ayat (1) Undang-undang tentang narkotika yang berbunyi pengobatan dan/atau perawatan pecandu narkotika melalui fasilitas rehabilitasi. Dalam penjelasan pasal 48 Undang-undang tentang narkotika rehabilitasi pecandu narkotika dilakukan dengan maksud untuk memulihkan dan/atau mengembangkan kemampuan fisi, mental, dan sosial penderita yang bersangkutan. Rehabilitasi tersebut dilakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh Pemerintah baik rumah sakit yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun masyarakat.

2.4 Narkotika

2.4.1 Pengertian Narkotika

Kata narkotika berasal dari bahasa Yunani narke yang artinya terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Orang Amerika menyebutnya dengan nama narcotics, dan

19

Andi Hamzah, 1993, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, hal 31

20

(15)

di Malaysia dikenal dengan istilah dadah, sedangkan di Indonesia disebut narkotika21

a. Membiuskan (dapat menurunkan kesadaran).

. Menurut vide Keputusan Menteri kesehatan RI No.2882/70, narkotika atau obat bius diartikan secara umum sebagai semua bahan obat yang umumnya mempunyai efek kerja bersifat:

b. Merangsang (meningkatkan prestasi kerja). c. Menagihkan (mengikat/ketergantungan). d. Menghayal (halunisinasi).

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, yang dimaksud dengan narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan. Narkotika dibagi kedalam golongan- golongan yaitu golongan I, II, dan III.

2.4.2 Penggolongan Narkotika

Menurut penjelasan pasal 2 ayat (2), narkotika digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan besar yaitu:

a. Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. b. Narkotika golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan

digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan.

c. Narkotika golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

21

(16)

Penggolongan di atas mempunyai konsekuensi/akibat yuridis yaitu, bahwa penyalahgunaan narkotika golongan I akan memperoleh pidana/ancaman pidana yang lebih berat daripada penyalahgunaan narkotika golongan II dan III. Di dalam kenyataan penyalahgunaan narkotika yang terjadi adalah yang menyangkut golongan narkotika golongan I. Apalagi yang sampai diperdagangkan secara internasional antar negara. Memang banyak juga yang ditemukan penyalahgunaan yang menyangkut narkotika golongan II yaitu yang diedarkan di daerah terpencil/oleh kalangan tertentu. 2.4.3 Manfaat dan Kegunaan Narkotika

Narkotika memang diakui merupakan obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit dan penderitaan pada penyakit tertentudan paling penting bagi keperluan ilmu pengetahuan.22

Uraian di atas menyatakan bahwa narkotika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan pengembangan ilmu pengetahuan. Penyalahgunaan sendiri adalah pemakaian di luar pegawasan dan Hal ini dengan jelas tertuang dalam konsiderans Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika yang mengatakan bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan, antara lain dengan mengusahakan ketersediaan narkotika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat, pengembangan ilmu pengetahuan. Namun dalam kenyataannya dalam banyak pengunaan narkotika menjadi masalah karena disalahgunakan.

22

(17)

pengendalian yang akibatnya sangat membahayakan kehidupan manusia baik perorangan maupun masyarakat dan negara.23

Menurut Kartika Kartono di dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Anak“mengatakan gejala-gejala umum dari remaja yang kecanduan ganja dan bahan narkotika, antara lain adalah:

1. Jasmaniah : Badan jadi tidak terurus dan semakin lemah, kurus kering, kumal dan berbau, tidak suka makan, matanya sayu dan menjadi merah. 2. Rohaniah : Pembohong, pemalas dan daya tangkap otaknya makin

melemah. Fungsi inteleknya lama-kelamaan menjadi rusak, tidak bisa bereaksi dengan cepat, tugas disia-siakan, mudah tersinggung, mudah marah, sangat eksplosif, hati nuraninya melemah, tingkah lakunya boleh dikatakan tidak terkendalikan.

Adapun efek bahaya dari penyalahgunaan narkotika adalah sebagai berikut:

1. Fisik : Badan jadi ketagihan sistem syaraf jadi lemah atau rusak secara total, lalu menimbulkan komplikasi kerusakan pada lever dan jantung. Kondisi tubuh jadi rusak, karena muncul macam-macam penyakit lainnya.

2. Psykhis : Ketergantungan psykis, kemauan melemah atau musnah sama sekali, daya pikir dan perasaan jadirusak, jiwanya jadi murung, depresif, aktivitas dan kreativitas intelektualnya hilang sama sekali.

3. Ekonomis : Ganja dan bahan-bahan narkotika harganya sangat mahal, sedangkan kebutuhan rutin, diperlukan supply yang kontinyu/terus menerus, dan harus dipenuhi.Oleh karena itu betapa pun besarnya harta kekayaan, lama kelamaan pasti menjadi jatuh miskin atau bangkrut, akibat dari kecanduan narkotika yang tidak tertolong lagi.

4. Sosiologis: Bila pecandu tidak mempunyai uang, tetapi terus menerus ketagihan narkotika, sedangkan minta uang kepada orang tua atau keluarga lainnya tidak diberi atau harta miliknya sudah habis, maka para pecandu lalu melakukan macam-macam tindak pidana dan tindakan amoral.

Berkembanglah kemudian gejala-gejala sosial seperti: prostitusi, kenakalan remaja, kriminalitas, radikalisme ekstrim (pembunuhan, penculikan, penyanderaan dan lain-lain). Semua ini merupakan masalah sosial yang mengganggu ketentraman masyarakat dan tidak mudah memberantasnya24 2.5 Teori Kesejahteraan Sosial

Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial, baik kita suka atau tidak, hampir semua yang kita lakukan dalam kehidupan kita berkaitan dengan orang lain (Jones, 2009). Kondisi sejahtera (well-being) biasanya menunjuk pada istilah kesejahteraan

23

Soedjono Dirdjosisworo, 1990, Hukum Narkotika Indonesia, PT Citra Aditya, Bandung, hal 3.

24

(18)

sosial (social welfare) sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material dan non material.

Menurut Midgley (2000: xi) mendefinisiskan kesejahteraan sosial sebagai : “..a condition or state of human well-being.” Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat terpenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari resiko-resiko utama yang mengancam kehidupannya.

Agar dapat memahami lebih dalam apa yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial berikut definisi kesejahteraan sosial menurut para ahli .

Menurut definisinya kesejahteraan sosial dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan, kesejahteraan sosial sebagai suatu kegiatan atau pelayanan dan kesejahter aan sosial sebagai ilmu (Suud, 2006). Menurut Suharto ( 2006:3) :

kesejahteraan sosial juga termasuk sebagai suatu proses atau usaha terencana yang dilakukan oleh perorangan, lembaga-lembaga sosial, masyarakat maupun badan-badan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui pemberian pelayanan sosial dan tunjangan sosial. Kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan adalah sebagai berikut di bawah ini.

Menurut Suparlan dalam Suud (2006:5), kesejahteraan sosial, menandakan keadaan sejahterah pada umumnya, yang meliputi keadaan jasmaniah, rohaniah, dan sosial dan bukan hanya perbaikan dan pemberantasan keburukan sosial tertentu saja; jadi merupakan suatu keadaan dan kegiatan. Kesejahteraan sosial menurut Friedlander dalam Suud (2006:8):

(19)

Sementara itu, menurut Segal dan Brzuzy yang dikutip dalam Suud (2006:5) Kesejahteraan sosial adalah kondisi sejahtera dari suatu masyarakat. Kesejahteraan sosial meliputi kesehatan, keadaan ekonomi, kebahagiaan, dan kualitas hidup rakyat. Sedangkan menurut Midgley masih dalam Suud (2006:5) :

Kesejahteraan sosial adalah suatu keadaan sejahtera secara sosial tersusun dari tiga unsur sebagai berikut. Itu adalah, pertama, setinggi apa masalah-masalah sosial dikendalikan, kedua, seluas apa kebutuhan-kebutuhan dipenuhi dan terakhir, setinggi apa kesempatan-kesempatan untuk maju tersedia. Tiga unsur ini berlaku bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas dan bahkan seluruh masyarakat.

Definisi-definisi di atas menekankan pengertian kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan. Setiap kelompok mempunyai definisi yang berbeda dari berbagai ahli.

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejahatan Narkoba

Faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkoba Penyalahgunaan narkoba terjadi berbagai faktor. Menurut Burhan Arifin (2007:26–29) penyebab penyalahgunaan narkoba terjadi akibat faktor sebagai berikut :

1. Faktor Individual

Penyalahgunaan narkoba umumnya dimulai pada saat remaja, sebab pada saat remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial.

2. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.

a. Lingkungan Keluarga

(20)

3) Orang tua yang bercerai atau kawin lagi; 4) Orang tua terlampau sibuk dan acuh; 5) Orang tua otoriter;

6) Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya; 7) Kurangnya kehidupan beragama.

8) Lingkungan Sekolah

9) Sekolah yang kurang disiplin;

10) Sekolah terletak dengan tempat hiburan;

11) Sekolah kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif;

12) Adanya murid yang menggunakan narkoba. b. Lingkungan Teman Sebaya

1) Berteman dengan penyalahguna; 2) Tekanan atau ancaman dari teman. c. Lingkungan Masyarakat/Sosial

1) Lemahnya penegak hokum

2) Situasi politik, sosial, dan ekonomi yang kurang mendukung.

(21)

menemukan strategi yang tepat untuk mencegah dan memberantas peredaran narkoba.

2.7 Kerangka Pemikiran

Penyalahgunaan narkoba yang terjadi di tengah masyarakat dapat dikategorikan sebagai prilaku menyimpang karena secara sosial ada bentukan norma yang menganggap bahwa pemakaian narkoba yang dilakukan di luar kesepakatan masyarakat (seperti untuk alasan medis) dianggap sebagai pelanggaran norma yang membahayakan masyarakat luas. Seseorang melakukan perilaku menyimpang bisa disebabkan oleh pengendalian diri yang lemah serta kontrol masyarakat yang lemah. Di samping secara individu prilaku menyimpang dapat pula dilakukan secara berkelompok yang disebut dengan subkultur menyimpang.

Peranan merupakan penelitian sejauh mana peran Badan Narkotika Nasional Kota Medan dalam menunjang usaha pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan.

Peranan disini dikaitkan dimana peranan didalam merehabilitasi pasien penanggulangan penyalahgunaan narkoba dan kendala yang di hadapi dalam proses rehabilitasi. Peneliti menggunakan konsep peranan atau role.

(22)

1. Peranan dapat meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.

2. Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyakat sebagai suatu organisasi.

3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial.

Kerangka berpikir dan perumusan hipotesis merupakan hal penting dalam penelitian khususnya penelitian kuantitatif. Kerangka berpikir lahir dari teori. Perpaduan teori dan kerangka berpikir menghasilkan hipotesis. Kerangka pikir merupakan inti sari dari teori yang telah dikembangkan yang dapat mendasari perumusan hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variabel berdasarkan pembahasan teoritis.

Sedangkan kerangka pemikiran tentang peran Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan dilihat gambar di bawah ini :

Peranan Badan Narkotika Nasional Dalam Penanggulangan Kejahatan Narkoba di Kota Medan

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Sumber : Data Penelitian Diolah (2015) PERAN

Peran Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumatera Utara

1. Menurunnya Tersangka Kasus Narkoba di Kota Medan

(23)

2.8 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional 2.8.1 Definisi Konseptual

Di dalam penelitian ini, penulis merumuskan definisi konsepsional yaitu sebagai berikut: Secara umum bahwa peran BNN adalah lembaga yang dapat memberikan perubahan serta harapan agar bebas dari penyalahgunaan narkotika. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2010, tentang Pembentukan Badan Narkotika yang ada di daerah Kabupaten/Kota salah satunya Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Kota Medan yang ditujukan dalam rangka pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba d isetiap kecamatan di Kota Medan terutama di Kecamatan Medan Petisah.

2.8.2 Definisi Operasional

1. Peran adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan, jadi peran adalah suatu perilaku seseorang yang diharapkan dapat membuat suatu perubahan serta harapan yang mengarah pada kemajuan, meskipun tidak selamanya sesuai dengan yang di harapkan.

(24)

3. Penanggulangan Kejahatan

Upaya penanggulangan kejahatan yang dilakukan terhadap anak sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan kebijakan yang diterapkan terhadap orang dewasa. Di dalam upaya penanggulangan kejahatan perlu ditempuh dengan pendekatan kebijakan, dalam arti:

1. Ada keterpaduan antara politik kriminil dan politik sosial

2. Ada keterpaduan antara upaya penggulangan kejahatan dengan penal maupun non penal

Kebijakan penanggulangan kejahatan merupakan cara/upaya untuk menanggulangi kejahatan baik dengan penerapan sistem pemidanaan (kebijakan

pidana/penal) maupun tanpa sistem pidana (non penal).

4. Narkotika, menurut vide Keputusan Menteri kesehatan RI No.2882/70, narkotika atau obat bius diartikan secara umum sebagai semua bahan obat yang umumnya mempunyai efek kerja bersifat:

Figur

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Sumber : Data Penelitian Diolah (2015)

Gambar 2.1

Kerangka Berpikir Sumber : Data Penelitian Diolah (2015) p.22

Referensi

Memperbarui...