• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI HUKUM PERDATA ISLAM FAKULT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PROGRAM STUDI HUKUM PERDATA ISLAM FAKULT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

SYARAT dan MACAM-MACAM MAUQUF ‘ALAIH

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas

Mata Kuliah Hukum Wakaf

Dosen Pengampu: Bpk. Ahmad Furqon, Lc., MA.

Disusun oleh:

Suko Rianto (1502016008)

PROGRAM STUDI HUKUM PERDATA ISLAM

FAKULTAS SYARI’AH dan HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2016

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asal mula disyariatkannya wakaf, tidak lain, agar wakaf tersebut tetap menjadi sedekah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal itu dapat ditempuh dengan cara memberikan infak untuk misi-misi kebajikan dalam bentuk sedekah jariyah.

Selanjutnya, kemanakah pewakaf akan menyalurkan harta wakafnya agar benar-benar menjadikannya sebagai nilai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pertanyaan tersebut tentunya akan terjawab ketika telah mengetahui macam dan syarat peruntukan harta yang hendak diwakafkan secara mendalam.

Peruntukan wakaf atau dalam istilah fiqih dikenal sebagai Mauquf ‘alaih merupakan salah

(2)

Melalui makalah ini, penyusun berusaha memberikan penjelasan terkait apa saja persyaratan tujuan wakaf, peruntukan wakaf, pengelolaan harta wakaf serta bentuk-bentuknya. Makalah ini disusun dari hasil pengumpulan bahan materi dari beberapa sumber referensi pilihan. Dengan demikian, makalah ini dapat memberikan pemahaman terhadap pembaca dalam

memahami apa saja yang perlu diketahui tentang mauquf ‘alaih.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, guna memperoleh pemahaman secara total, pemakalah merumuskan beberapa rumusan masalah yang diharapkan menjadi target pemahaman dari materi ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Apa saja syarat-syarat mauquf ‘alaih.

mubazir (boros).

[1]

Namun secara gamblang, syarat sasaran wakaf dijelaskan sebagai berikut:

1. Sasaran wakaf berorientasi pada kebajikan.

Asal mula disyariatkannya wakaf, tidak lain, agar wakaf tersebut tetap menjadi sedekah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal itu dapat ditempuh dengan cara memberikan infak untuk misi-misi kebajikan dalam bentuk sedekah jariyah. Wakaf harus

diberikan kepada pihak yang dipercaya dapat mengemban amanat kebajikan.

[2]

2. Tidak terputus dalam pengelolaan barang wakaf.

Wakaf yang tidak diperdebatkan lagi keabsahannya adalah yang pada permulaan dan akhirnya tidak terputus. Misalnya, wakaf itu diberikan kepada kaum miskin atau pada sekelompok orang yang tidak mungkin, dalam adat kebiasaan mengalami keterputusan yaitu seperti kelompok orang yang membaca Al Quran

Adapun apabila wakaf jelas akan berakhir, yaitu seperti kalau wakaf diberikan kepada suatu kelompok orang yang menurut kebiasaan mengalami keterputusan pengelolaan, dan akhirnya nanti tidak berlanjut pada kelompok kaum miskin atau untuk kelompok yang tidak

putus pemakaiannya.

[3]

3. Harta wakaf tidak dapat dikembalikan kepada pewakaf.

(3)

Mayoritas ulama, termasuk Mazhaaibul Arba’ah sepkat bahwa wakaf harus diberikan kepada pihak yang berhak memilikinya. Kepemilikan atas fisik harta yang telah diwakafkan itu berpindah secara hukum menjadi milik Allah, atau tetap menjadi milik pewakaf, atau berpindah menjadi milik pihak penerima wakaf.

Dalam kaitan ini, ulama yang berpendapat tentang pindahnya kepemilikan harta wakaf secara hukum kepada Allah dan ulama yang berpendapat tetapnya kepemilikan harta wakaf secara hukum pada tangan pewakaf, keduanya menyandarkan pendapatnya pada tujuan akhir wakaf, yaitu pendistribusian manfaat yang dihasilkan oleh harta wakaf. Dalam hal ini, pemilik manfaat yang dihasilkan oleh harta wakaf adalah pihak penerima. Mengingat, manfaat yang dihasilkan merupakan barang milik, maka wakaf tidak sah kecuali berkenaan dengan barang yang

bisa dimiliki.

[4]

B. Macam-macam Mauquf ‘alaih

Yang dimaksud dengan mauquf ‘alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf) orang atau

sekelompok orang yang menerima manfaat dari pengeloaan mauquf (barang yang diwakafkan), wakaf harus dimanfaatkan dalam batasan-batasan yang sesuai dan diperbolehkan oleh syariat Islam. Karena pada dasarnya, wakaf merupakan amal yang mendekatkan diri manusia kepada

Tuhannya. Karena itu mauquf ‘alaih (yang diberi wakaf) haruslah pihak kebajikan. Para fuqaha

sepakat bahwa infaq kepada pihak kebajikan itulah yang membuat wakaf sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhannya.

1. Mazhab Hanafi mensyaratkan agar mauquf ‘alaih (yang diberi wakaf) ditujukan untuk ibadah

menurut pandangan islam dan mernurut keyakinan wakif. Jadi;

- Sah wakaf seorang muslim untuk menunjang kegiatan syiar-syiar Islam.

- Tidak sah jika seorang musim berwakaf yang diperuntukan untuk selain kegiatan syiar-syiar Islam.

- Sah wakaf non muslim kepada muslim yang nantinya muslim tersebut akan menggunakan pemberian itu untuk tempat ibadahnya (membangun masjid, pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan lain sebagainya).

- Tidak sah, jika wakaf dari non muslim pemberiannya diperuntukkan menunjang kegiatan

(4)

2. Mazhab Maliki mensyaratkan agar mauquf ‘alaih (peruntukan wakaf) untuk ibadah menurut

pandangan keyakinan wakif sendiri. Jadi, berbeda dengan mazhab Hanafi, mazhab Maliki menganggap wakaf dari orang non msulim untuk kepentingan keyakinan / agamanya sendiri tetap sah sebagai wakaf. Namun, tetap tidak sah, apabila tujuan diberikannya wakaf bukan untuk keyakinan / agamanya sendiri. Seperti halnya wakaf seorang non muslim untuk pembangunan

masjid

[7]

.

3. Mazhab Syafi’i dan Hambali mensyaratkan agar mauquf ‘alaih adalah ibadat menurut

pandangan Islam saja, tanpa memandang keyakinan / agama si wakif. Jadi pendapat ini adalah lawan dari pendapat mazhab Maliki yang telah diuraikan sebelumnya. Maka, sah apabila wakaf dari muslim maupun non muslim untuk pembangunan masjid dan kegiatan badan-badan sosial lainnya. Dan sebaliknya, tidak sah apabila wakaf muslim maupun non muslim tersebut

diperuntukkan selain kegiatan badan-badan sosial Islam dan pembangunan masjid.

[8]

Menurut tempat penyalurannya, wakaf dibagi menjadi dua kelompok, yaitu wakaf untuk orang tertentu (satu orang atau kelompok dengan jumlah tertentu) dan untuk orang dengan jumlah tidak tertentu. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Kepada orang tertentu (satu orang atau kelompok dengan jumlah tertentu).

a. Wakaf kepada diri sendiri.

Diantara para ulama ada yang berpendapat sahnya waqaf kepada diri sendiri adalah Abu Yusuf, Ibnu Abi Laila, Ibnu Syubramah, mazhab Hanafi, sebagian ulama’ Syafi’I dan Hambali. Alasannya adalah penetapan hak terhadap sesuatu sebagai wakaf tidak sama dengan penetapannya sebagai milik. Contoh: wakif mewakafkan hartanya kepada para fakir miskin dengan syarat ia ikut mendapat hasil wakafnya. Selain berdasarkan alasan tersebut, pendapat ini juga dikuatkan dengan hadis berikut:

“Sesungguhnya aku mempunyai satu dinar. Maka kata Rasulullah SAW kepadanya: ‘Sedekahkanlah kepada dirimu sendiri’.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai)

[9]

Dan oleh sebab maksud dari wakaf itu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedang bertasharruf (menafkahi) kepada diri sendiri itu juga merupakan pendekatan kepada Allah SWT.

Adapun golongan ulama yang berpendapat tidak diperbolehkannya wakaf kepada diri sendiri adalah mazhab Maliki, mayoritas mazhab Syafi’I dan Hambali. Menurut mereka, seseorang pemilik harta tidak dapat memilikkan apa yang telah dmilikinya kepada dirinya sendiri, karena ia telah memilikinya. Atau dengan kata lain, menurut pendapat yang shahih, karena orang

tidak akan bisa mengalihkan kepemiikannya pada benda untuk dirinya sendiri.

[10]

b. Wakaf kepada sesama muslim.

Wakaf yang dilaksanakan antar sesama umat muslimin dan muslimat.

(5)

Kepada kafir dzimmi dari muslim.

Kafir dzimmi diperbolehkan menjadi peneria wakaf dikarenakan mereka bukanlah pelaku maksiat, mereka adalah hamba-hamba Allah dan merupakan anak cucu Adam yang dihormati.

[11]

Menurut pendapat Imam Nawawi, seorang muslim yang berwakaf kepada kafir dzimmi tetap dihukumi sah, sebagaimana diperbolehkannya sedekah kepada mereka, begitu juga sebaliknya. Dalilnya adalah karena karena kafir dzimmi secara umum dapat memiliki harta yang

diwakafkan kepadanya pada saat pemberian wakaf

[12]

sekalipun bukan kalangan dari ahli kitab.

[13]

Keabsahan kafir dzimmi menerima wakaf dari kaum muslim telah disepakati oleh para

ulama’, dengan dasar firman Allah surah Al Mumtahana ayat 8, yang redaksinya sebagai berikut:

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."[14]

Selain atas dasar dalil dalam al Quran tersebut, terdapat pula hadits yang diriwayatkan bahwasannya Shafi’yyah binti Hayy, istri Rasulullah SAW mewakafkan untuk saudara laki-lakinya

yang Yahudi.

[15]

Namun terdapat dua batasan terkait pemberian wakaf kepada kafir dzimmi. Batasan yang dimaksud, yaitu:

- Hendaklah obyek wakafnya teridiri dari benda yang dapat dimiliki oleh non muslim. Maka dari itu terdapat larangan mewakafkan Kitab Suci al Quran (mushaf), buku-buku agama Islam yang mengandung ayat-ayat suci al Qur’an dan Sunnah, serta budak Islam kepada non muslim, termasuk kepada kafir dzimmi.

- Hendaklah tidak mengandung unsur maksiat atau melanggar ajaran syara’ seperti berwakaf untuk mendirikan sarana perjudian, mendirikan gereja, sarana hiburan malam, dan sebagainya.

Kepada kafir dzimmi dari kafir dzimmi.

Terkait hal ini, Imam Nawawi menjelaskan sah hukumnya, berwakaf kepada kafir dzimmi, baik dari muslim maupun dari kafir dzimmi juga. Hal ini sebagaimana sedekah sunnah.

Kepada kafir harbi & orang murtad dari muslim.

Berwakaf kepada kafir harbi dan orang Islam yang murtad hukumnya tidak sah. Karena harta-harta mereka, -kafir harbi- pada dasarnya mubah, boleh diambil dari mereka dengan paksaan atau penaklukan. Oleh karena itu harta yang baru bagi mereka lebih semestinya untuk

diambil.

[16]

Atau dengan kata lain, Muhammad Abid Abdullah beralasan mereka adalah pelaku

maksiat yang seharusnya dilarang, bukannya diberikan bantuan. Kaum kafir harbi dan murtad

(6)

d. Wakaf kepada pihak yang tidak memiliki harta wakaf.

Penerapan syarat wakaf tertentu di atas menimbulkan pembahasn-pembahasan tentang wakaf kepada orang yang tidak mempunyai kecakapan dalam memiliki, seperti:

- Wakaf kepada janin / anak yang masih berada dalam kandungan.

Berwakaf kepada janin / anak yang berada dalam kandungan menurut kalangan Syafi’i,

Imamiyah dan Hambali tidak sah.

[18]

Karena janin / anak yang berada dalam kandungan belum

memiliki kelayakan untuk memiliki, kecuali sesudah dilahirkan dalam keadaan hidup. Selain itu dikhawatirkan wakaf tersebut akan menjadi hal yang menyulitkan ketika pembagian waris. Kecuali jika memang sebelumnya terdapat wasiat atau pemisahan harta warisan hal itu memang

dibenarkan karena ada dalil khusus untuk itu.

[19]

- Wakaf kepada mayat (orang yang sudah mati) tidak sah, karena tidak berhak memiliki.

- Wakaf kepada hewan.

Para fuqaha Syafi’iyyah sepakat bahwa tidak sah apabila seseorang berwakaf kepada hewan yang tidak dimiliki orang tertentu, seperti burung yang masih hidup bebas di udara, karena hewan tidak dapat menjadi pemiliknya. Namun apabila hewan tersebut ada pemiliknya, maka wakafnya sah. Walaupun ada juga yang berpendapat tidak sah. Wakif dapat menyatakan dalam pernyataan wakafnya bahwa Ia memberikan wakaf kepada pemiliknya.

- Wakaf kepada hewan wakaf, dalam hal ini, Asy Syarbini berpendapat sah. Dicontohkannya adalah seperti seseorang berwakaf untuk makanan kuda wakaf.

2. Kepada orang dengan jumlah tidak tertentu.

a. Wakaf umum yang mengandung unsur maksiat.

Wakaf yang dimaksudkan disini adalah berwakaf dengan tujuan untuk mendukung kelangsungan kegiatan-kegiatan maksiat. Hal ini dapat dicontohkan seperti wakaf untuk gereja yang digunakan untuk tempat ibadah, berwakaf untuk melancarkan aksi kriminal.

b. Wakaf umum yang tidak mengandung unsur maksiat.

Wakaf ini terbagi kepada dua segi, yaitu:

1. Tampak padanya tujuan ibadah, dan hukumnya sah. Contohnya adalah wakaf kepada kaum

fakir miskin, fii sabilillah, ulama-ulama, pelajar-pelajar, mujahidin, masjid-masjid, dan lain sebagainya.

2. Tidak tampak padanya tujuan ibadah, seperti wakaf kepada orang kaya, kafir dzimmi, dan

orang yang melakukan maksiat.

(7)

kepemilikannya, kekuatannya, pekerjaannya, atau kemampuannya member nafkah kepada orang

3. Harta wakaf tidak dapat dikembalikan kepada pewakaf.

4. Harta wakaf diserahkan kepada pihak yang berhak memiliki.

Macam-macam Mauquf ‘alaih

Yang dimaksud dengan mauquf ‘alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf) orang atau

sekelompok orang yang menerima manfaat dari pengeloaan mauquf (barang yang diwakafkan), wakaf harus dimanfaatkan dalam batasan-batasan yang sesuai dan diperbolehkan oleh syariat Islam. Karena pada dasarnya, wakaf merupakan amal yang mendekatkan diri manusia kepada

Tuhannya. Karena itu mauquf ‘alaih (yang diberi wakaf) haruslah pihak kebajikan. Para fuqaha

sepakat bahwa infaq kepada pihak kebajikan itulah yang membuat wakaf sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhannya.

1. Kepada orang tertentu (satu orang atau kelompok dengan jumlah tertentu).

(8)

Dalam hal ini, pemakalah berusaha menyajikan materi dengan mencari relevansi dari beberapa sumber bacaan yang tentunya sangat terbatas. Terbatas dalam hal pemahaman kami, maupun terbatas dalam hal jumlah buku yang kami jadikan referensi penyusunan.

Dengan demikian, pemakalah menyadari tentunya terdapat kekurangan baik yang tersurat maupun yang tidak tersurat dalam penyajian materi ini. Banyak hal yang memungkinkan untuk perlu diperbaiki, dibetulkan atau bahkan dihilangkan.

Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif atas apresiasi makalah ini selalu kami nantikan dari para pembaca. Sehingga, dapat menjadi bahan evaluasi bagi penyusun khususnya dan bagi pemakalah lain pada umumnya. Terimakasih.

[1] Adijani al Alabij, Perwakafan Tanah di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 1997, hlm. 31.

[2]Muhammad Abid Abdullah Al Kabisi, Hukum Wakaf: Kajian Kontemporer…,(Depok: Iiman

Press), 2004, hlm.284.

[3]Muhammad Abid Abdullah Al Kabisi, hlm.301.

[4]Muhammad Abid Abdullah Al Kabisi, Hukum Wakaf: Kajian Kontemporer…,(Depok: Iiman

Press), 2004, hlm 340

[5] Direktorat Jenderal Bimbingan Masyaratkat Islam, FIQIH WAKAF, (Jakarata: Kementrian

Agama Republik Indonesia), t.th., hlm. 46

[6] Direktorat Jenderal Bimbingan Masyaratkat Islam, hlm. 46-47.

[7] Muhammad Abid Abdullah Al Kabisi, Hukum Wakaf: Kajian Kontemporer…,(Depok: Iiman

Press), 2004, hlm.297.

[8] Direktorat Jenderal Bimbingan Masyaratkat Islam, hlm. 47-48.

[9] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 14, (Bandung: PT. Al-Ma’araif),1988,hlm.159.

[10] Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu jilid 10, (Depok: Gema Insani), 2011, hlm.302.

[11] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’I,

Hambali, (Jakarta: Lentera), 2003, hlm. 648.

[12] Direktorat Jenderal Bimbingan Masyaratkat Islam, hlm. 50.

[13] Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam jilid 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve), 2001,

hlm. 1907.

[14] Muhammad Jawad Mughniyah, hlm. 647.

[15] Wahbah az Zuhaili, hlm. 303.

[16] Wahbah az Zuhaili, hlm. 302-303.

[17] Muhammad Abid Abdullah Al Kabisi, hlm. 286.

[18] Adijani al Alabij, hlm. 31.

[19] Muhammad Jawad Mughniyah, hlm. 647.

[20] Wahbah az Zuhaili, hlm. 305.

[21] Adijani al Alabij, Perwakafan Tanah di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 1997, hlm. 31.

DAFTAR PUSTAKA

(9)

al Alabij , Adijani, Perwakafan Tanah di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo

Persada), 1997.

Aziz Dahlan , Abdul,

Ensiklopedi Hukum Islam jilid 3

, (Jakarta: Ichtiar Baru Van

Hoeve), 2001.

az-Zuhaili , Wahbah,

Fiqih Islam Wa Adillatuhu jilid 10

, (Depok: Gema Insani),

2011.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyaratkat Islam,

FIQIH WAKAF

, (Jakarata:

Kementrian Agama Republik Indonesia), t.th.

Jawad Mughniyah , Muhammad,

Fiqih Lima Mazhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki,

Syafi’I, Hambali,

(Jakarta: Lentera), 2003.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menggunakan beberapa faktor yang diindikasikan memiliki pengaruh terhadap kebijakan utang, yaitu kepemilikan manajerial, struktur aset, pertumbuhan penjualan,

Jika auditor selalu ditekan dengan adanya anggaran waktu yang cepat maka auditor akan bertindak terburu-buru dan tidak hati-hati atas pemeriksaan bukti-bukti yang

Hasil uji analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square karena kedua kelompok menggunakan skala nominal.Dari hasil analisis hubungan antara jenis pengobatan dengan derajat

lembar kerja dengan yang merupakan penerapan strategi complete sentence dengan desain menarik berupa paragraf yang rumpang tentang cerita peristiwa fathu makkah,

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang daya simpan benih bawang merah varietas lembah palu pada berbagai paket teknologi mutu benih

Dari semua ordo dalam kelas Polypodiophyta, ordo Polypodiales mempunyai bentuk dan susunan sori yang sangat beragam seperti berbentuk garis pada tepi daun,

Dapatan kajian menunjukkan bahawa faktor penyumbang kepada wujudnya masalah membaca dalam kalangan murid darjah enam sekolah rendah kerajaan di Brunei Darussalam disebabkan oleh

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa relevansi pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik merupakan implementasi dari teori