• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

A. Pengertian Perjanjian Kredit

Fungsi perbankan selain menghimpun dana masyarakat juga menyalurkan

dana masyarakat dalam bentuk pemberian kredit. Undang-undang perbankan

yang diubah tidak mengkonstruksikan hubungan hukum pemberian kredit dan

nasabah peminjam dana tersebut. Hanya dapat mengetahui bahwa pemberian

kredit itu adanya berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam

uang antara bank sebagai kreditur dan pihak lain nasabah peminjam dana sebagai

debitur dalam jangka waktu tertentu yang telah disetujui atau disepakati bersama

dan akan melunasi utangnya tersebut dengan sejumlah bunga, imbalan atau

pembagian hasil keuntungan. Timbul pertanyaan apakah dengan sendirinya

perjanjian kredit ini tunduk pada pengaturan pinjam meminjam yang terdapat

dalam kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Bebarapa Pakar Hukum berpendapat demikian, perjanjian kredit pada

hakikatnya adalah perjanjian pinjam meminjam sebagaimana yang diatur di

dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

R. Subekti berpendapat bahwa :

“Dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semua

itu pada hakikatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam meminjam

sebagaimana diatur dalam kitab Undang hukum Perdata Pasal 1754 sampai

(2)

Hal yang sama dikemukan pula oleh Mariam Darus Badrulzaman bahwa:

“Dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-Undang Perbankan mengenai perjanjian kredit, dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam meminjam di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1754. Perjanjian Pinjam meminjam ini juga mengandung makna yang luas yaitu objeknya adalah benda benda yang menghabiskan jika verbriiklening termasuk di dalamnya uang. Berdasarkan perjanjian pinjam meminjam ini, pihak penerima pinjaman menjadi pemilik yang dipinjam dan kemudian harus dikembalikan dengan jenis yang sama kepada pihak yang meminjamkan. Karenanya perjanjian yang bersifat riil, yaitu bahwa terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh “penyerahan” uang oleh bank kepada nasabah”. Akan tetapi pendapat ini disangkal oleh pakar hukum lainnya.

Menurut Hartono Soerja Pratiknyo:

Perjanjian kredit merupakan perjanjian pendahuluan (pactum de

contrahendo). Dengan demikian perjanjian ini mendahului perjanjian hutang

piutang (perjanjian pinjam mengganti). Sedang perjanjian hutang piutang

merupakan pelaksanaan dari perjanjian pendahuluan atau perjanjian kredit. Jadi

arti pendahuluan pada perjanjian kredit dibedakan dengan arti pelaksanaan

perjanjian hutang piutang.32

32

Hartono Soerja Pratiknyo, Hutang Piutang, (Yogyakarta : Mustika, 1989), Hal. 3

Ada beberapa perbedaan yang lain antara perjanjian kredit dan perjanjian

hutang piutang, yaitu terletak pada sifat perjanjian tersebut. Perjanjian kredit

bersifat konsensuil sedand perjanjian hutang piutang bersifat riil. Riil berarti

bahwa perjanjian baru ada setelah uang yang dipinjamkan dalam perjanjian kredit

diserahkan secara nyata pada debitur.

I. Jenis Perjanjian Kredit

Secara Yuridis ada 2 (dua) jenis perjanjian atau pengikatan kredit yang

(3)

1) Perjanjian/pengikatan kredit di bawah tangan atau akta di bawah tangan

Yang dimaksud dengan akta perjanjian kredit di bawah tangan adalah

perjanjian pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya yang dibuat hanya

diantara mereka (kreditur dan debitur) tanpa Notaris.

Lazimnya dalam penandatanganan akta perjanjian kredit, saksi turut serta

membubuhkan tandatangannya karena saksi merupakan salah satu alat

pembuktian dalam perkara perdata.

2) Perjanjian/pengikatan kredit yang dbuat oleh dan di hadapan Notaris (notariil)

atau akta otentik

Yang dimaksud dengan akta perjanjian kredit notariil (otentik) adalah

perjanjian pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya yang hanya dibuat

oleh atau dihadapan Notaris.

Adapun akte otentik adalah suatu akte undang-undang, dibuat oleh atau

di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat mana

akte dibuat.

Mengenai akta perjanjian notariil/otentik ini, ada beberapa hal yang perlu

diketahui, yaitu:

a) Kekuatan Pembuktian

Pada suatu akta otentik terdapat 3 (tiga) macam kekuatan pembuktian:

Pertama:

Membuktikan antara para pihak, bahwa mereka sudah

menerangkan apa yang ditulis dalam akta tadi (kekuatan pembuktian

(4)

Kedua:

Membuktikan antara para pihak yang bersangkutan, bahwa

sungguh-sungguh peristiwa yang disebutkan di situ telah terjadi (kekuatan

pembuktian material atau yang kita namakan kekuatan pembuktian

mengikat);

Ketiga:

Membuktikan tidak saja antara para pihak yang bersangkutan tetapi

juga terhadap pihak ketiga bahwa pada tanggal tersebut dalam akta kedua

belah pihak tersebut sudah menghadap di muka pegawai umum (Notaris)

dan menerangkan apa yang ditulis dalam akta tersebut (kekuatan

pembuktian keluar).

b) Grosse Akta Pengakuan Hutang

Kelebihan lain daripada akta perjanjian kredit/pengakuan hutang

yang dibuat secara notariil (otentik) adalah dapat dimintakan Grosse akta

pengakuan Hutang tersebut. Grosse akta pengakuan hutang ini mempunyai

kekuatan eksekutorial, artnya disamakan dengan keputusan hakim yang oleh

bank diharapkan pelaksanaan eksekusinya tidak perlu lagi melalui proses

gugatan yang biasanya menyita waktu lama dan memakan biaya besar.

c) Ketergatungan terhadap Notaris

Ada yang perlu di ingat bahwa Notaris sebagai pejabat umum tetap

juga sebagai seorang manusia biasa sehingga di dalam mengadakan

perjanjian kredit/pengakuan hutang oleh atau di hadapan Notaris, tetap

dituntut berperan aktif guna memeriksa segala aspek hukum dan

(5)

Kemungkinan terjadi kesalahan/kekeliruan atas suatu perjanjian

kredit/pengakuan hutang yang dibuat secara notariil tetaplah ada. Dengan

demikian Account Officer tidak boleh secara mutlak bergantung kepada

Notaris, melainkan Notaris harus dianggap sebagai mitra atau rekanan

dalam pelaksanaan suatu perjanjian kredit/pengakuan hutang. Dalam

hubungan itu bank akan meminta Notaris yang bersangkutan untuk

berpedoman kepada model perjanjian kredit yang telah ditetapkan oleh

bank. Di samping itu, Account Officer tetap mengharapkan legal opinion

Notaris setiap akan mengadakan pelepasan kredit, sehingga Notaris dalam

hal ini dapat berperan sebagai salah satu unsur filterisasi daripada legal

asset suatu pelepasan kredit.

II. Bentuk Perjanjian Kredit dan Permasalahannya

Dilihat dari bentuknya, perjanjian kredit perbankan pada umumnya

menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract). Berkaitan

dengan itu, memang dalam prakteknya bentuk perjanjiannya telah

disediakan oleh pihak bank sebagai kreditur sedangkan debitur hanya

mempelajari dan memahaminya dengan baik. Perjanjian yang demikian

itu biasa disebut perjanjian baku (standard contract), di mana dalam

perjanjian tersebut pihak debitur hanya dalam posisi menerima atau

menolak tanpa ada kemungkinan untuk melakukan negosiasi atau tawar

menawar.

(6)

B. Asas Kesetaraan Dalam Perjanjian Kredit

Sebagaimana dimaknai dalam bahasa sehari-sehari, kata seimbang

(evenwicht) menunjuk pada pengertian suatu keadaan pembagian beban di

kedua sisi berada dalam keadaan seimbang.33

a. Tujuan pertama dari suatu kontrak ialah memaksakan suatu janji dan

melindungi harapan wajar yang muncul darinya.

Kontrak memiliki tiga tujuan dasar, sebagaimana digambarkan dibawah ini

secara singkat:

b. Tujuan kedua dari suatu kontrak ialah mencegah pengayaan (upaya

memperkaya diri) yang dilakukan secara tidak adil atau tidak benar.

c. Tujuan ketiga ialah to prevent certain kinds of harm.

d. Tujuan keempat dari kontrak ialah mencapai keseimbangan antara

kepentingan sendiri dan kepentingan terkait dari pihak lawan.34

Bahwa perjanjian adalah suatu proses yang bermula dari suatu janji

menuju kesepakatan (bebas) dari para pihak dan berakhir dengan

pencapaian tujuan yaitu perjanjian yang tercapai dalam semangat atau jiwa

keseimbangan. Dalam lingkup suasana hukum Indonesia tujuan dari

kontrak yakni tercapainya kepatutan sosial (sociale gezindheid) dan suatu

keseimbangan selaras (kemungkinan eksistensi materil (immateriele

zijnsmogelijkheid). Perjanjian yang dari sudut substansi atau maksud dan

tujuannya ternyata bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum

33

Herlien Budiono, Azas keseimbangan bagi hukum Perjanjian Indonesia, (Bandung : Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, 2006), Hal. 304

34

(7)

batal demi hukum (nietig) dan pada prinsipnya hal serupa akan berlaku

berkenaan dengan perjanjian yang bertentangan dengan undang-undang.

Asas keseimbangan dilandaskan pada upaya mencapai suatu

keadaan seimbang yang sebagai akibat darinya harus munculkan

pengalihan kekayaan secara absah. Tidak terpenuhinya keseimbangan,

dalam konteks asas kesimbangan, bukan semata menegaskan fakta dan

keadaan, melainkan lebih dari itu berpengaruh terhadap kekuatan yuridikal

perjanjian dimaksud. Dalam tercipta atau terbentuknya perjanjian,

ketidakseimbangan bisa muncul sebagai akibat perilaku para pihak sendiri

atupun sebagi konsekwensi dari substansi (muatan isi) perjanjian atau

pelaksanaan perjanjian.

Posisi tawar yang setara mengakibatkan para pihak berada dalam

situasi yang kurang lebih seimbang. Bila keadaannya seimbang, tidak ada

seorang pun akan merasa dirugikan. Namun demikian, tentu bisa terjadi

situasi abnormal dan muncul ketidakseimbangan. Hal ini dapat terjadi bila

salah satu pihak yang lebih kuat mengambil keuntungan dari situasi yang

lebih menguntungkannya. Akan tetapi situasi ini akan dapat diterima

sepanjang tidak menguntungkan salah satu pihak, yang oleh pihak lawan,

karena posisi tawar yang rendah, terpaksa diterima. Situasi demikian

merupakan konsekwensi kebebasan yang dapat memuaskan semua pihak

sepanjang pihak lawan tidak mengabaikan hak-hak dan

peluang-peluangnya sendiri.

Menurut Ridwan Khairandy:

(8)

asumsi bahwa para pihak dalam kontrak memiliki posisi tawar (bargaining

position) yang seimbang, tetapi dalam kenyataannya para pihak tidak

selalu memiliki posisi tawar yang seimbang. Akibatnya, pihak yang memiliki posisi tawar yang lebih kuat cenderung menguasai pihak yang yang memiliki posisi tawar yang lebih lemah.35

Kemudian pada abad dua puluh timbul berbagai kritik dan

keberatan terhadap kebebasan berkontrak baik yang berkaitan dngan

akibat negatif yang ditimbulkannya maupun kesalahan berpikir yang

melekat didalamnya. Paradigma kebebasan berkontrak pada akhirnya

bergeser kearah paradigma kepatutan. Dengan demikian, walaupun

kebebasan berkontrak masih menjadi asas penting dalam hukum kontrak

baik dalam civil law maupun common law, tetapi ia tidak lagi muncul

seperti kebebasan berkontrak yang berkembang pada abad sembilan belas.

Sekarang kebebasan berkontrak bukanlah kebebasan kebebasan tanpa

batas. Negara telah melakukan sejumlah pembatasan kebebasan

berkontrak melalui peraturan perundang-undangan dan putusan

pengadilan.

Pembatasan kebebasan berkontrak tersebut setidak-tidaknya

dipengaruhi oleh dua faktor, yakni:

1. Makin berpengaruhnya ajaran itikad baik di mana iktikad baik tidak

hanya ada pada pelaksanaan kontrak, tetapi juga harus ada pada saat

dibuatnya kontrak.

2. Makin berkembangnya ajaran penyalahgunaan keadaan (misbruik van

omstandigheden atau undue inflence).

35

(9)

Kebebasan berkontrak hanya dapat mencapai keadilan jika para

pihak memilki bargaining power yang seimbang. Jika bargaining power

tidak seimbang maka suatu kontrak dapat menjurus atau menjadi

unconscionable.36

Bargaining power yang tidakseimbang terjadi bila pihak yang kuat dapat memaksakan kehendaknya kepada pihak yang lemah, hingga pihak tang lemah mengikuti saja syarat-syarat kontrak yang diajukan kepadanya. Syarat lain adalah kekuasaan tersebut digunakan untuk memaksakan kehendak sehingga membawa keuntungan kepadanya. Akibatnya, kontrak tersebut menjadi tidak masuk akal dan bertentangan dengan aturan-aturan yang adil.

Di samping itu meskipun keseimbangan dan kesesuaian kedudukan

para pihak itu ada, namun dalam pelaksanaan yang tercapai suatu hasil

yang tidak seimbang dan tidak sesuai (tidak patut dan adil,

ongelijkwaardigheid van resultaat).

Dasar bagi keseimbangan dan keserasian dalam perjanjian tersurat

di dalam Pasal 1320 KUH Perdata, hanya dalam keadaan in concreto ada

keseimbangan dan keserasian maka tercapailah kesepakatan/konsensus

yang sah antara para pihak. Kalau syarat ini tidak dipenuhi, maka Pasal

1338 KUH Perdata tidak berlaku mutlak (kebebasan untuk mengambil

putusan tidak ada bagi salah satu pihak).

Selanjutnya Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan:

37

Mengenai bagaimana seharusnya mengukur ada atau tidaknya

bargaining power yang seimbang diantara para pihak dalam suatu

perjanjian, contoh kasus yang lemah terjadi dalam pengadilan Indonesia

adalah antara lain saran Z. Asikin Kusumah Atmadja yang telah

36

Ibid, Hal. 185 37

(10)

menyarankan acuan sebagaimana dikemukakan dalam catatan yang

diberikan olehnya mengenai putusan Mahkamah Agung tanggal 14 Maret

1987 No. 3431 K/Pdt/1985 yang telah disebutkan di muka.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini:

Dari pengalaman saya hampir 30 tahun bekerja sebagai pejabat bank, yang sebagian besar dari waktunya itu berkaitan dengan pemberian, pengamanan dan penagihan kredit bank, serta dari pendengaran terhadap kejadian-kejadian dan pendapat-pendapat di dalam masyarakat, ada kesan bahwa dalam hubungan antara bank dan nasabah debitur, bank selalu berada di posisi yang lebih kuat. Dari pengalaman saya sebagai pejabat bank yang banyak menangani urusan perkreditan bank itu dan dari hasil pembicaraan/diskusi, banyak pejabat-pejabat senior bank-bank Indonesia, bahwa kesan ini sangat keliru. Sering sekali bahwa bank justru berada di posisi lemah bila berhadapan dengan debitur. Posisi bank dapat berbeda pada saat kredit akan diberikan (pada saat para pihak melakukan negosiasi untuk memasuki perjanjian kredit) dibandingkan dengan saat kredit telah digunakan oleh nasabah debitur. Posisi bank juga tergantung kepada golongan nasabah debitur yang menikmati kredit.38

Dari putusan-putusan pengadilan, yaitu mengenai klausul-klausul

dalam perjanjian kredit yang memberatkan nasabah debitur, dapat

diketahui bahwa bank sering dikalahkan oleh pengadilan hanya oleh

karena pengadilan ingin melindungi pihak nasabah debitur yang dianggap

konsumen lemah. Sikap pengadilan tersebut bukan keliru bila hanya

dilihat dari kacamata kepentingan nasabah debitur saja, tetapi tidak

demikian halnya bila pengadilan memperhatikan pula kewajibannya untuk

melindungi kepentingan pihak lainnya didalam perjanjian kredit, yaitu

bank yang terutama bekerja dengan uang simpanan masyarakat, yang pada

umumnya juga merupakan konsumen-konsumen lemah yang perlu

dilindungi. Apabila banyak kredit bank tidak dibayar kembali karena

38

(11)

sarana hukum tidak cukup untuk dapat melindungi kepentingan bank

terhadap nasabah-nasabah debitur yang beritikad baik, maka tidak

mustahil bank-bank akan menjadi tidak likuid, yang pada gilirannya pasti

merugikan nasabah-nasabah penyimpan dana yang perlu dilindungai

kepentingannya. Di samping itu pengadilan berkewajiban pula

memperhatikan penerapan asas yang menetukan bahwa “orang yang

berhutang harus mengembalikan utangnya”. Sering pengadilan tidak

memberikan pemecahan mengenai pengembalian kredit bank yang telah

digunakan oleh nasabah debitur dan macet, yang sering kemacetan itu

justru sebagai akibat penyalahgunaan kredit oleh nasabah debitur.

Menurut KUH Perdata, perjanjian harus dilaksanakan dengan

itikad baik, sedangkan itikad baik itu tidak saja bekerja setelah perjanjian

dibuat tetapi juga telah mulai bekerja sewaktu pihak-pihak akan

memasuki atau menghadapi untuk memasuki perjanjian, maka pembuatan

perjanjian harus dilandasi asas kemitraan. Asas kemitraan mengharuskan

adanya sikap dari para pihak bahwa yang berhadapan dalam membuat dan

melaksanakan perjanjian itu adalah antara dua mitra janji dan bukan dua

lawan janji. Terutama pada pembuatan perjanjian kredit bank, asas

kemitraan itu sangat diperlukan. Landasan asas pada pembuatan perjanjian

kredit bukan saja karena bekerjanya asas itikad baik, tetapi juga karena

bagi bank nasabah debitur adalah sesungguhnya mitra usaha bank. Oleh

karena itu bank dan nasabah debitur harus saling menjadi mitra, maka

dalam perjanjian di antara mereka tidak boleh ada yang lebih kuat

(12)

C. Akta Perjanjian Kredit

Setiap kredit di perbankan yang telah disetujui dan disepakati antara

pihak kreditur dan debitur maka wajib dituangkan dalam perjanjian kredit

(akad kredit), secara tertulis.39

39

Muhammad Djumhana, Op.cit, Hal. 507

Perjanjian Kredit yang dibuat secara Notariil (otentik) adalah perjanjian

pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya yang dibuat oleh atau

dihadapan Notaris. Yang perlu diingat yaitu bahwa Notaris sebagai pejabat

umum tetap juga sebagai seorang manusia biasa sehingga di dalam

mengadakan perjanjian kredit/pengakuan hutang oleh atau di hadapan

Notaris, tetap dituntut berperan aktif guna memeriksa segala aspek dan

kelengkapan yang diperlukan.

Kemungkinan terjadinya kesalahan/kekeliruan atas suatu perjanjian

kredit/pengakuan hutang yang dibuat secara Notariil tetaplah ada. Dengan

demikian Account Officer tidak boleh secara mutlak bergantung kepada

Notaris, melainkan Notaris harus dianggap sebagai mitra atau rekanan dalam

pelaksanaan suatu perjanjian kredit/pengakuan hutang. Dalam hubungan itu

bank akan meminta Notaris yang bersangkutan untuk berpedoman kepada

model perjanjian kredit yang telah ditetapkan oleh bank. Di samping itu,

Account Officer tetap mengharapkan legal opinion dari Notaris setiap akan

mengadakan pelepasan kredit, sehingga Notaris dalam hal ini dapat berperan

sebagai salah satu unsur filterisasi daripada legal asset suatu pelepasan

(13)

Sebagai pembuat akta perjanjian kredit bank maka notaris hanya

mengambil alih saja klausul-klausul yang telah dibakukan oleh satu pihak,

sedangkan pihak yang lain tidak mempunyai peluang untuk merundingkan

atau meminta perubahan atas klausul-klausul itu, maka perjanjian yang dibuat

dengan akta notaris itu pun adalah perjanjian baku.

Peranan notaris untuk mewujudkan kesetaraan terkait pada cara

bagaimana perjanjian terbentuk, dan tidak pada hasil akhir dari prestasi yang

ditawarkan secara timbal balik. Notaris dianggap mitra atau rekanan dalam

pelaksanaan suatu perjanjian kredit/pengakuan hutang dalam hubungan itu

bank akan meminta notaris yang bersangkutan untuk berpedoman kepada

model perjanjian kredit yang telah ditetapkan oleh bank.

Notaris mempunyai kedudukan yang mandiri dan tidak memihak di

dalam menjalankan jabatannya. Selain hal tersebut, notaris sebelum

menjalankan jabatannya, wajib diangkat sumpah Yang mencakup dua bagian

yaitu, bagian yang dinamakan belovende eed dan bagian yang disebut sebagai

de zuiveringseed. Pada bagian yang kedua ini, notaris bersumpah akan

menjalankan tugasnya dengan jujur, seksama, dan tidak berpihak, serta akan

menaati dengan seteliti-telitinya semua peraturan jabatan notaris yang sedang

dan akan berlaku dan merahasiakan serapat-rapatnya isi akta yang dibuatnya

selaras dengan peraturan itu. Notaris menjelaskan kepada para pihak

mengenai hak dan kewajibannya sehubungan dengan perjanjian yang akan

dibuat, dibacakan, dan ditanda tanganinya perjanjian (kredit) dan seyogyanya

perjanjian (kredit) nya tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh

(14)

D. Kesetaraan antara kreditur dan Debitur

Dalam perjanjian timbal balik kualitas dari prestasi yang diperjanjikan

timbal balik ditempatkan dalam konteks penilaian subjektif secara bertimbal

balik akan dijustifikasi oleh tertib hukum. Perjanjian harus segera ditolak,

seketika tampak bahwa kedudukan faktual salah satu pihak terhadap pihak

lainnya adalah lebih kuat dan kedudukan tidak seimbang ini dapat

mempengaruhi cakupan muatan isi maupun maksud dan tujuan perjanjian,

Akibat ketidaksetaraan prestasi dalam perjanjian bertimbal balik ialah

ketidakseimbangan. Jika kedudukan lebih kuat tersebut berpengaruh

terhadap perhubungan prestasi atau dengan lainnya, dan hal mana

mengacaukan keseimbangan dalam perjanjian, hal ini bagi pihak yang

dirugikan akan merupakan alasan untuk mengajukan tuntutan

ketidakabsahan perjanjian.

Sepanjang prestasi yang dijanjikan bertimbal balik mengandaikan

kesetaraan, maka bila terjadi ketidakseimbangan, perhatian akan diberikan

terhadap kesetaraan yang terkait pada cara bagaimana perjanjian terbentuk,

dan tidak pada hasil akhir dari prestasi yang ditawarkan secara timbal

balik.40

Oleh karena pencantuman klausul khusus ini didalam perjanjian kredit

bank-bank di Indonesia bersal atau dipengaruhi oleh perjanjian-perjanjian

kredit yang dibuat oleh bank-bank luar negeri atau bank-bank asing di

Indonesia, mak perlu kiranya diketahui makna dari representation dan

warranty yang dimaksudkan didalam klausul itu.

40

(15)

1. Tidak Dicantumkannya Klausul Conditions Precedent (Syarat-Syarat

Tangguh) Melemahkan Kedudukan Bank

Yang dimaksudkan dengan Conditions precedent pada suatu

perjanjian kredit ialah peristiwa atau kejadian yang harus dipenuhi atau

terjadi terlebih dahulu setelah perjanjian kredit ditandaangani sebelum

nasabah debitur dapat menggunakan kreditnya. Dengan kata lain setelah

perjanjian kredit ditandatangani, nasabah debitur belum seketika itu

mempunyai hak untuk menggunakan kreditnya. Atau sebaliknya pula

setelah ditandatanganinya perjanjian kredit oleh keduabelah pihak, bank

belum berkewajiban untuk menyediakan kredit bagi nasabah debitur

sebagaimana yang diperjanjikan. Hak nasabah debitur untuk dapat menarik

kredit tersebut tergantung kepada terlebih dahulu telah dipenuhinya hal-hal

yang disebutkan didalam klausul tentang conditions precedent tersebut.

Dilihat dari KUH Perdata maka conditions precedent adalah syarat-syarat

tangguh sebagaimana yang dimaksudkan dalam pasal 1253 jo 1263.

Pada waktu yang lalu, yaitu 25 atau 30 tahun yang lampauperjanjia

kredit yang dibuat oleh bank-bank pemerintah maupun bank-bank swasta

nasional yangmencantumkan klausul tentang conditions precedent.

Sebagai pengaruh bank-bank asing, pada sat ini sudah banyak kita jumpai

bank-bank mencantumkan klausul tentang conditions precedent. Sebagai

pengaruh bank asing, pada saat ini sudah banyak kita jumpai

bank-bank mencantumkan klausul tentang conditions precedent didalam

(16)

2. Penutupan Asuransi Dengan Bankers Clause Adalah Untuk Kepentingan

Bank Dan Bankers Clause Tidak Dapat Dicabut Sepihak Oleh

Penanggung

Agunan merupakan source of the last resort bagi pelunasan kredit.

Artinya, apabila pelunasan kredit tidak dapat diharapkan dari hasil usaha

nasabah debitur karena usaha tersebut menjadi macet,maka hasil penjualan

barang agunan akan menjadi tumpuan terakhir bagi bank sebagai sumber

pelunasan kredit tersebut. Berkenaan dengan pentingnya kedudukan atau

peranan agunan terebut, maka bank harus berusaha agar agunan tersebut

tidak hilang atau musnah. Salah satu upaya yang terpenting, bahkan yang

terutama, dalam menjaga agunan itu ialah penutupan asuransi terhadap

barang-barang yang menjadi agunan. Dengan penutupan asuransi tersebut,

mak bila sampai terjadi barang-barang tersebut hilang atau musnah, maka

bank akan dapat memperoleh penggantian kerugian akibat hilang atau

musnahnya barang-barang tersebut sebagai sumber pelunasan kredit.

Untuk menjaga kepentingan bank secara demikian ini, maka bank

memperjanjikan didalam perjanjian kredit bahwa nasabah debitur harus

menutup asuransi kerugian atas barang-barang yang diagunkan.

3. Praktik Nasabah Debitur Untuk Melakukan Under Insurance atau Over

Insurance yang merugikan bank

Nasabah debitur diisyaratkan oleh bank untuk menutup asuransi

pada asuransi yang bonafide agar supaya apabila terjadi kerugian,

perusahaan asuransi yang bersangkutan mampu membayar ganti rugi yang

(17)

sekali, bank pada umumnya mempunyai daftar perusahaan-perusahaan

asuransi yang telah dinilai oleh bank bersangkutan sebagai

perusahaan-perusahan asuransi yang bonafide.

Disamping dikehendaki oleh bank bahwa asuransi ditutup pada

perusahaan asuransi yang bonafide, juga dikehendaki penutupan asuransi

dilakukan untuk jenis asuransi tertentu dan untuk nilai asuransi yang

cukup. Nasabah debitur yang belum insurance minded dan sekedar

menganggap penutupan asuransi hanya untuk memenuhi formalitas bank

saja. Selalu berusaha untuk menutup asuransi terhadap risiko kerugian

yang preminya paling murah. Bila terjadi hal yang demikian ini, bank akan

meminta kepada nasabah debitur untuk menutup asuransi terhadap risiko

kerugian yang dapat menjamin kepentingan bank. Misalnya bila nasabah

debitur menutup asuransi hanya untuk risiko total loss only (t.l.o)

sedangkan dilihat dari segi kepentingan bank seyogianya ditutup untuk

risiko all risk, mak bank akan meminta nasabah debitur untuk mengubah

Referensi

Dokumen terkait

Debt collector adalah pihak ketiga yang menghubungkan antara kreditur dan debitur dalam hal penagihan kredit, Penagihan tersebut hanya dapat dilakukan apabila

Kepercayaan, yaitu keyakinan si pemberi kredit (bank) bahwa prestasi (uang) yang diberikan akan benar-benar diterima kembali dari si penerima kredit pada suatu masa yang akan

Dalam penelitian Puspita (2015:23) mengatakan uang yang telah dikucurkan perbankan melalui kredit harus dilindungi dari resiko kerugian, maka pihak bank dapat membuat pagar

Sistem penerimaan kas dari piutang melalui pos dilaksanakan dengan prosedur berikut ini. 1) Bagian penagihan mengirim faktur penjualan kredit kepada debitur pada

Kredit adalah penyedian uang atau tagihan atau yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain

1) Novasi subyektif aktif adalah suatu perjanjian yang bertujuan menggantikan Kreditur lama dengan seorang Kreditur baru. Misalnya Bank A memberikan kredit atau

Dari segi yuridis, kredit dan pembiayaan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992

Hal ini dapat dilihat mulai dari Undang-undang No 14 Tahun 1967 dalam Pasal 1 menyebutkan Pengertian bank sebagai lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah memberikan kredit