JALINAN ESTETIKA, IDEOLOGI, DAN EKONOMI
DALAM LIBERALISME, SOSIALISME, DAN ISLAM
Oleh: Deni Junaedi 2013
Artikel ini disampaikan dalam Seminar Akademik Estetika dan Pasar yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta tanggal 28 Agustus 2013, dan dimuat dalam Prosiding Seminar Akademik Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Estetika dan Pasar, Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta,
19-42.
A. PROLOG: KASUS BENTURAN ESTETIS
Beberapa karya seni mampu memicu benturan atau kontroversi, di satu sisi dihujat penentang di sisi lain dipuja pendukung. Karya seperti itu muncul di sejumlah tempat dan saat, melibatkan massa dari berbagai kalangan. Karya kontroversial dapat berupa apa pun, baik lukisan, patung, poster, fotografi, instalasi, musik, sastra, film, maupun lainnya.
Kartun ciptaan Kurt Westergaard yang menggambarkan Nabi Muhammad dengan bom dalam sorban, misalnya, sejak dimuat di harian Denmark Jyllands-Posten 30 September 2005 diprotes masyarakat Muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebaliknya, masyarakat liberal Eropa memuja kartunis kelahiran 1935 itu sebagai pejuang kebebasan pers. Kanselir Jerman Angela Merkel memberinya penghargaan dalam acara M100 Media 2010.1
Sementara itu, awal 2001, patung Tugu Tani di Jakarta digugat Aliansi Anti Komunis (AAK). Aliansi yang antara lain terdiri dari Gerakan Pemuda Islam dan Front Hizbullah itu berencana membongkar karena menilainya sebagai simbol komunisme. Patung perunggu yang berujud lelaki gagah bercaping dan bersenjata di samping wanita berkebaya itu merupakan pemberian Uni Soviet terkait dengan tuntutan PKI untuk mempersenjatai buruh dan tani saat Indonesia akan menyerbu Irian Barat. Namun demikian, patung ciptaan Matvei Manizer dan Otto Manizer yang diresmikan Presiden Soekarno tahun 1963 itu hingga kini tetap berdiri megah.2
Pertentangan juga terjadi dalam menanggapi lukisan abstrak di Indonesia tahun 1960-an. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), onderbow PKI, menentang perwujudan seni abstrak karena tidak dapat digunakan sebagai alat perjuangan politik. Sebaliknya, seniman dan budayawan Manifesto Kebudayaan (Manikebu) membela karya abstrak dan segala bentuk kebebasan ekspresi lainnya.3 Keadaan seperti itu menyerupai situasi di Uni Soviet tahun 1940-an.4
culas;5 dan film Fitna buatan Geert Wilders yang mengkaitkan ayat al-Quran dengan tindak kekerasan.6 Perseteruan antara Islam dengan Sosialisme tercermin saat pengrusakan arsitektur masjid Kanigoro tahun 1965.7 Perseteruan antara Liberaliseme dengan Sosialisme tampak pada perobohan patung Stalin di Rusia untuk menandai keruntuhan Komunisme.8
Jika pola benturan diperluas, maka daftar kasus akan semakin panjang, baik benturan yang melibatkan masyarakat Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, maupun lainnya. Berikut ini adalah sederet contoh: lukisan The Holy Virgin Mary ciptaan Chris Ofili yang menggambarkan Maria dengan kotoran gajah pada payudaranya;9 fotografi Piss Christ bidikan Andres Serrano yang mencitrakan Yesus dalam genangan air kencing;10 iklan es krim Antonio Federici yang berupa suster hamil;11 lagu Lady Gaga, Judas, yang bercerita tentang cinta segitiga Maria Magdalena, Yesus, dan Yudas;12 novel dan film The Da Vinci Code yang mengatakan bahwa Yesus memiliki istri seorang pelacur;13 album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa yang dianggap menggambarkan Dewa Wisnu yang setengah-setengah;14 lukisan Maqdool Fida Husein tentang ketelanjangan Dewi Saraswati dan Dewi Durga;15 patung Buddha pada Buddha Bar di Menteng, patung Buddha di tengah kenikmatan duniawi;16 film The Passion of the Christ tentang kekejaman Yahudi;17 ikonoklasme atau pengrusakan ikon di gereja Bizantium oleh Kaisar Leo III tahun 726;18 pelumatan patung dan gereja Katolik oleh umat Protestan Skotlandia setelah mendengarkan khotbah John Knox abad ke-16;19 maupun perobohan patung Saddam Hussein oleh tentara AS.20
Tulisan ini lebih terkonsentrasi pada benturan nilai estetis antara peradaban Liberalisme, Sosialisme, dan Islam. Ketiga peradaban itu memiliki akar ideologi yang berbeda, bahkan bertolak belakang, baik
Gambar 3. Lukisan abstrak Pround
99, karya El Lissitzky, 1925, memicu benturan Liberalisme –
Sosialisme (Sumber: www.wikipaintings.org,
6/6/2013) Gambar 1.
Film Fitna rekaan Geert Wilders 2008, memicu benturan Liberalisme -Islam (Sumber: Film Fitna,
2008)
Gambar 2. Patung Tugu Tani buatan Matvei Manizer dan Otto Manizer 1963, memicu
benturan Islam – Sosialisme (Foto: Deni Junaedi,
perbedaan pada tataran worldview maupun implementasinya, seperti ekonomi. Ideologi yang berbeda menghasilkan nilai estetis yang berbeda pula, hingga benturannya menjadi suatu keniscayaan. Ideologi juga menentukan bentuk negara, dan negara yang mengemban ideologi tertentu akan melestarikan dan mengembangkan nilai estetis yang sesuai dengan ideologi itu.
B. IDEOLOGI, EKONOMI, DAN BENTURAN NILAI ESTETIS
Ideologi kerap dimaknai sebagai seperangkat nilai, aturan, atau hukum yang dipercayai dapat membantu manusia untuk menjalani hidupnya.21 Pada 1797, istilah ini mulai digunakan oleh Antoine Destutt de Tracy. Filsuf Perancis yang ikut menyebarkan gagasan Pencerahan ini mengusulkan sebuah ilmu pengetahuan baru tentang pikiran, idea-logy. Ia menjelaskan bahwa semua pikiran didasari pada sensasi fisik; dan menurutnya, pikiran yang terbebas dari prasangka agama dan metafisika akan menjadi landasan bagi masyarakat yang adil dan damai.22
Berbeda dengan de Tracy yang menyingkirkan agama dalam ideologi, Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan bahwa Islam, selain Kapitalisme dan Sosialisme, adalah ideologi. Ideologi (mabda), menurut pemikir dari Palestina ini, memiliki dua aspek, yaitu akidah atau kepercayaan yang diperoleh berdasarkan akal (aqidah aqliyah) dan peraturan yang terlahir darinya; dengan demikian ideologi meliputi aspek pemikiran (fikrah) dan metode (thariqah). Akidah didefinisikan sebagai pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan; serta tentang keberadaan dan hubungannya dengan sebelum dan setelah kehidupan.23 Dengan kata lain, akidah adalah worldview atau pandangan hidup, pandangan seseorang tentang dunia dan atau kehidupan.24 Selaras dengan an-Nabhani, Inu Kencana Syafiie dan Andi Azikin menyatakan bahwa di dunia ini hanya ada tiga kutub paradigma, yaitu Sosialis Komunis, Liberalis Kapitalis, dan Islam.25
Salah satu aspek metode dari ideologi adalah ekonomi. Dalam pandangan Dwi Condro Triono, persoalan ekonomi dibagi dalam dua bagian, yaitu ilmu ekonomi dan sistem ekonomi. Ilmu ekonomi adalah perangkat untuk menghitung proses, biaya, efisiensi, dan berbagai hal yang terkait dengan produksi; tujuan utamanya ialah untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh atau biaya yang dikeluarkan. Adapun sistem ekonomi terkait dengan pandangan, keyakinan, kepercayaan, atau ideologi tertentu, khususnya terhadap alokasi sumber daya ekonomi; sistem ekonomi berhubungan dengan kepemilikan, pemanfaatan, maupun distribusi sumber daya ekonomi.26 Berdasarkan klasifikasi ini, hubungan antara estetika dengan ekonomi paling mungkin berada pada tataran sistem ekonomi.
individu yang berinteraksi terus menerus dalam satu kesatuan perasaan dan pemikiran karena terdapat peraturan yang menjaga.28
Aspek perasaan dalam masyarakat inilah yang bersinggungan dengan estetika, khususnya estetika sosiologis. Berbeda dengan ekonomi yang menjadi aspek metode dari ideologi, estetika ada pada ranah perasaan yang terpancar dari ideologi. Kaitan antara individu dengan masyarakat, dalam perspektif estetika sosiologis, oleh Pierre Bourdieu dinyatakan, “Karya seni memiliki makna dan interes hanya untuk seseorang yang mempunyai kompetensi kultural.”29
Salah satu aspek penting dalam estetika adalah nilai estetis. Menurut Marcia Muelder Eaton, nilai estetis adalah nilai yang dimiliki objek terkait dengan kapasitasnya untuk membangkitkan kesenangan, yang muncul dari ciri objek yang secara tradisional dianggap berharga untuk diperhatikan dan direfleksikan.30 Bertolak dari pengertian itu, dalam tulisan ini nilai estetis dipandang sebagai tolok ukur yang digunakan subjek untuk menimbang keindahan atau kejelekan objek, atau untuk menyukai maupun tidak menyukai suatu objek estetis. Secara umum nilai estetis dapat dibagi dua, yaitu nilai estetis eksklusif dan nilai estetis inklusif. Nilai estetis eksklusif terkait dengan worldview suatu masyarakat tertentu; nilai estetis jenis ini tidak sesuai jika diterapkan pada masyarakat atau peradaban lain. Sebaliknya, nilai estetis inklusif dapat diterapkan pada semua masyarakat, kebudayaan, atau ideologi manapun karena tidak terkait dengan pandangan hidup tertentu; nilai estetis ini lebih bersifat saintifik, seperti golden section.
Benturan nilai estetis antara Liberalisme, Sosialime, dan Islam terjadi pada tataran nilai estetis eksklusif. Untuk memahaminya, telisik mengenai ketiga ideologi itu tidak dapat terhindarkan; dan ideologi tersebut akan kurang terpahami jika persoalan ekonomi yang menjadi pengejawantahannya tidak disinggung.
Kendati tidak seluruhnya sama, konsep benturan estetis ini terkait dengan konsep benturan peradaban yang disampaikan Samuel P. Huntington, yaitu konflik antara orang-orang yang memiliki entitas budaya yang berbeda.31 Meskipun teori Huntington sering disangkal,32 benturan tersebut merupakan sebuah keniscayaan dan terus berlangsung sepanjang sejarah;33 estetika, dalam konteks nilai estetis, berada dalam bingkai peradaban.
C. IDEOLOGI LIBERALISME
Liberalisme, Kapitalisme, maupun Demokrasi ada di satu paket ideologi.34 Ketiganya bermula di Inggris, sebagai negara demokrasi yang politiknya liberal dan ekonominya kapitalis.35
Sekarang, ideologi inilah yang tengah merajai dunia, hingga Francis Fukuyama silau melihat fenomena ini. Dalam The End of History? ia tergesa-gesa menyatakan bahwa setelah Barat menahlukkan rival ideologisnya dalam Perang Dingin, dunia menuju kemenangan pamungkas Demokrasi Liberal.38
1. Worldview Liberalisme: Deisme, Pragmatisme, Pluralisme
Keberadaan Tuhan dalam ideologi Kapitalisme masih dipercayai, tetapi Tuhan hanya dianggap sebagai pencipta alam; setelah penciptaan, Ia tidak lagi terlibat dalam urusan dunia, karena hukum alam telah mengaturnya.39 Dunia adalah mesin yang berjalan di bawah hukum mekanika, seperti arloji, tidak perlu campur tangan Tuhan.40 Kepercayaan seperti ini biasa disebut Deisme, tokoh besarnya adalah Isaac Newton.41
Dalam fase kehidupan, karena Tuhan dianggap tidak memiliki campur tangan terhadap kehidupan manusia, maka manusia bebas mengatur kehidupannya.42 Kebebasan terumuskan ketika John Locke mencetuskan konsep hak-hak alam, yaitu hak atas hidup, kebebasan, dan kepemilikan.43 Pria Inggris kelahiran 1632 ini adalah filsuf liberal pertama yang lengkap, dan filsuf paling berpengaruh kendati bukan paling masyhur.44 Dalam kehidupan liberal kini, asas manfaat paling banyak diterapkan; sesuatu dikerjakan jika memiliki manfaat bagi diri dan orang lain. Asas ini terangkum dalam etika pragmatisme, hal yang baik adalah yang dapat dipraktekkan dan bermanfaat.45
Setelah kehidupan ini, karena Tuhan Maha Pengasih, semua manusia akan memiliki surganya masing-masing.46 Keyakinan ini tidak terlepas dari paham pluralisme yang menganggap ragam agama adalah jalan berbeda untuk menuju pada keparipurnaan (the ultimate) yang sama.47 Yasraf Amir Piliang mencatat, pluralisme, yang berdasarkan keanekaragaman, yang mencerminkan kebebasan memilih, adalah ciri khas mayarakat demokrasi liberal.48
2. Negara Liberal: Demokrasi, Sekularisme, Nasionalisme, HAM
Bentuk negara liberal adalah Demokrasi. Greg Russell menyatakan, Demokrasi yang tidak liberal bukan hanya tidak memadai melainkan juga berbahaya.49 Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16, dalam pidatonya menyatakan, “Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”50 Ciri khas Demokrasi bukan pada pemilihan pemimpin atau wakil rakyat dengan suara terbanyak, tetapi pada pemberian kedaulatan di tangan rakyat untuk membuat hukum, “Vox populi vox Dei”. Adapun implementasinya diatur dengan konsep trias politica yang dirancang Montesquieu.51
Karena Demokrasi liberal masih mengenal Tuhan namun menyingkirkan peran-Nya dalam kehidupan, maka konsep yang dikembangkan dalam bernegara adalah Sekulerisme. Sekulerisme berarti pemisahan nilai-nilai agama dari tatanan negara.52
budaya sepadan dengan tapal batas politik, artinya, negara harus mencakup hanya orang “berjenis sama”.53 Benedict Anderson54 dalam Imagined Communities mendifinisikan bangsa (nation) sebagai komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang berbatas dan berdaulat. Adapun nasionalisme merupakan konstruk ideologis diskursif yang dengannya bangsa itu dibayangkan. Singkat kata, nasionalisme adalah komunitas terbayang (imagined communities). Daniel Dhakidae55 berkomentar bahwa nasionalisme telah menjadi “agama baru”. Negara bangsa di Barat memang relatif dapat merangkum orang yang “berjenis sama”, tetapi di luar Barat, di tanah koloni, konsep “berjenis sama” tidak dihiraukan penjajah. Jika konsisten dengan gagasan itu, semestinya Timor bersatu dengan Timor Timur.
Untuk menjaga nilai-nilai liberal, negara Demokrasi menciptakan parameter yang dirumuskan dalam Human Right atau Hak Asasi Manusia (HAM). Agar mengakar, HAM dijadikan sebagai proyek resmi PBB lewat Komisi HAM tahun 1946. Pada Preambule, HAM didefinisikan sebagai, “Hak-hak yang menyatu pada diri kita secara natural dan tanpanya kita tidak dapat hidup sebagai manusia.”56 Di antara berbagai rumusan hak asasi, pasal 19 menjamin hak untuk berpendapat.57
3. Sistem Ekonomi Liberal: Kapitalisme, Pasar Bebas, Kepemilikan Individu
Sistem ekonomi liberal yang dijalankan oleh Demokrasi adalah Kapitalisme. Paham ini muncul untuk mengkritisi sistem ekonomi merkantilisme yang berpendapat bahwa pengaturan ekonomi harus ada di tangan negara, karena jika pengurusan ekonomi diserahkan individu yang memiliki sifat serakah akan terjadi penindasan sesama manusia.58
Merkantilisme, pada 1776, digoncang Adam Smith. Sikap serakah menurutnya bukanlah sifat negatif, tetapi justru sangat positif bagi pertumbuhan ekonomi, sejauh terjamin kondisi persaingan bebas. Keserakahan untuk merengkuh laba setinggi mungkin tidak akan terjadi di atas tingkat harga pasar. Di pasar bebas, negara tidak perlu melakukan campur tangan dalam urusan ekonomi. Dengan demikian, kepemilikan dalam Kapitalisme mesti ada di tangan individu, kaum kapitalis.59
Mekanisme pasar bebas semakin diperluas dalam tataran global. Model ekonomi yang biasa disebut neoliberalisme ini senantiasa mencari kondisi di setiap negara bagi mobilitas dan kebebasan operasi modal.60 Dalam konteks ini, Coen Husain Pontoh menyebut globalisasi sebagai anak kandung Kapitalisme.61
4. Nilai Estetis Liberal: Kebebasan Berekspresi, Disinterest, Seni untuk Seni
kebudayaan masyarakat.”62 Sejalan dengan pernyataan John Stuart Mill,63 seniman liberal bebas menciptakan apapun, tidak ada batasan, sejauh kebebasannya tidak melanggar kebebasan orang lain, meskipun demikian pada prakteknya kebebasan berekspresi kerap melukai perasaan orang lain.
Benih Liberalisme menyertai kajian estetika sejak masa-masa awal. Elizabeth Prettejohn mencatat, pada abad ke-18 estetika dipandang sebagai pemikiran yang radikal dan oposisional, terkait dengan kebebasan (liberty) dan kesamaan (equality) yang menjadi issue politik Pencerahan (Enlightenment). Hal ini bertentangan dengan kultur tradisional aristrokatik yang berfungsi sebagai penentu aturan berkesenian. Atmosfir kebebasan pada estetika tumbuh subur di berbagai universitas Jerman.64
Cikal Liberalisme dalam estetika tampak pada disinterest yang disampaikan Immanuel Kant tahun 1790. Teori ini mensyaratkan bahwa ketika subjek mengalami keindahan pada sebuah objek berarti ia tidak sedang berharap keuntungan atau pamrih apapun dari objek tersebut.65 Dengan kata lain, objek yang dapat membangkitkan kondisi disinterest adalah objek yang indah.66
Konsekuensi penerimaan teori disinterest, kata Prettejohn, berarti pengabaian kaidah atau norma yang ada dalam karya seni; padahal sebelum teori itu ditelorkan, parameter tersebut telah lama digunakan sebagai tolok ukur.67 Matius Ali menulis, disinterest tidak tergantung pada moralitas, manfaat, atau keuntungan pribadi.68
Bahkan sebelum Kant, sejak pertama kali digunakan sebagai terminologi ilmiah oleh Alexander Gottlieb Baumgarten tahun 1735, estetika telah menimbulkan efek liberalistik. Dosen filsafat di University of Halle Jerman itu menempatkan estetika sebagai sains tentang pengamatan sensoris atau
inderawi.69 Penghargaan
Baumgarten pada tangkapan indera, bukan pada moral, dipakai para mahasiswanya untuk merayakan kenikmatan inderawi (senses).
Mereka cenderung tidak
bertanggungjawab, immoral, dan hedonis.70
Gambar 4. Edouard Manet, Le Déjeuner sur L’Herbe; pengemban estetika liberal
a. Aktivitas Penciptaan Seni Liberalisme
Semangat kebebasan atau pelepasan moral dalam penciptaan karya seni diejawantahkan Edouard Manet dalam lukisan-lukisannya.71 Sebagai seniman liberal, Manet tidak tertarik pada masalah “what to paint”, tetapi “how to paint”. Apa yang dilukis adalah tidak penting, yang penting adalah garis, bentuk, dan warna.72
Paham tersebut semakin mengukuhkan konsep l’art pour l’art, atau art for art’s sake, atau seni untuk seni, yang juga sering disebut aestheticism. Dalam nada sekuler filsuf Victor Cousin menyatakan, “Kita mesti memiliki agama untuk agama, moral untuk moral, sebagaimana seni untuk seni itu sendiri.” 73 Gagasan seni untuk seni tidak dapat dilepaskan dari teori disinterest.74 Gustave Flaubert, novelis Perancis, memandang Art for Art’s sake sebagai sebuah agama.75
Kemunculan L’art pour l’art dikaitkan dengan penulis Théophile Gautier.76 Lalu spirit itu menyebar ke seluruh pelosok planet bumi. Hingga Arahmaiani, perupa Indonesia, berkata, “Saya adalah pendukung kebebasan berekspresi yang menjadi hak semua orang.”77
b. Karya Seni Liberalisme
Seni untuk seni menjadi nafas karya seni liberal. Paham ini memandang nilai estetis hanya terdapat pada properti internal karya seni yang dihargai pada dirinya sendiri, tidak tergantung pada hal lain semacam agama, moral, atau etika.
Karena penuh kebebasan, karya seni seni liberal dapat berupa apapun. Wujudnya dapat merepresentasikan soal seks tanpa mengenal tabu, benda sehari-hari yang tidak dikaitkan dengan issu apapun, masalah sosial seperti layaknya karya sosialisme, bentuk abstrak, kisah dalam Bibel, atau bahkan kaligrafi Arab asalkan bermanfaat bagi sang seniman.
Karya Edouard Manet, contohnya, meliputi tema berbagai hal. Masterpiecenya adalah Le Déjeuner sur L’Herbe (Santap Siang di Rerumputan) yang menggambarkan wanita bugil di acara makan siang; lukisan ini sempat menggemparkan masyarakat Perancis ketika
Gambar 5. Edouard Manet, Still Life with Melon and Peaches, alam benda (Sumber:
en.wikipedia.org, 27/7/2013)
dipamerkan tahun 1863 karena dianggap mengganggu moralitas, mengusung pornografi.78 Seniman Perancis itu juga tidak sungkan melukis gambar bentuk, misalnya pada karya Still Life with Melon and Peaches tahun 1866. Ia juga tidak gentar mengangkat persoalan sosial, seperti hukuman tembak mati dalam karya The Execution of Emperor Maximilian tahun 1867.
D. IDEOLOGI SOSIALISME
Setelah Uni Soviet berkuasa sejak tahun 1922 hingga 1991, Sosialisme Komunisme tidak lagi mendominasi dunia.79 Negara China yang masih menerapkan Komunisme hingga kini pun telah menjalankan ekonomi Kapitalisme.80 Korea Utara yang berpaham Komunisme, kendati sering mencuri perhatian dunia Internasional,81 pengaruhnya secara global tidak terlalu terasa.
Namun demikian, paham Sosialisme Komunisme tidak begitu saja berakhir. Bahkan, pustaka bernuasa ideologi ini kini mudah diperoleh di etalase toko. Buku Waktunya Tan Malaka Memimpin terbitan Resist Book tahun 2012, amsalnya, tidak sungkan menebar gambar palu arit.82 Sementara itu dalam dunia akademis, pemikiran Karl Marx, pelopor Komunisme, nyaris tidak terelakkan untuk dipelajari. Malah, gagasan Marx menjadi landasan teori kritis yang kini tengah menawan.83
1. Worldview Sosialisme: Atheisme, Dialektik Materialisme
Keberadaan Tuhan tidak lagi diakui dalam ideologi Sosialisme Komunisme. Materi tidak memerlukan sebab. Alam semesta adalah kekal, tidak berawal.84 Adapun Tuhan, menurut Ludwig Feuerbach, hanyalah hasil proyeksi manusia.85 Gagasan ateisme seperti ini didukung beberapa filsuf: Nietzsche menyatakan, “tuhan-tuhan telah mati”;86 Marx memandang, Tuhan tidak menciptakan manusia, tetapi justru manusialah yang menciptakan Tuhan.87 Dalam pandangan Materialisme Feuerbach, materi bukanlah hasil dari pemikiran, tetapi pemikiran merupakan hasil tertinggi dari materi.88 Jauh sebelum gagasan seperti itu dilahirkan pada abad ke-19, materialisme atau pandangan bahwa alam semesta tidak terbatas dan tanpa permulaan telah ada sejak zaman Yunani Kuno.89
Dalam pandangan materialisme, setelah kematian, manusia tidak akan mengalami kehidupan lagi. Kematian adalah bagian dari seleksi alam. Alam ini, sebagai materi, akan tetap ada.94 Kehidupan setelah kematian yang diajarkan oleh agama dianggap omong kosong, karena perilaku orang beragama, sebagaimana dikatakan Sigmund Freud, mirip dengan tingkah laku pasien neurotis;95 menurutnya agama adalah aktivitas perempuan, sementara ateisme mewakili manusia maskulin pascaagama yang sehat.96 Adapun untuk Marx, agama adalah candu masyarakat.97
2. Negara Sosialisme: Komunisme
Konsep dalektika materialisme digunakan Marx untuk menganalisa masyarakat sejak zaman nomaden hingga zamannya, maka teorinya disebut materialisme historis.98 Menurut teori ini, karena terjadi pertentangan kelas antara kaum kapitalis dengan proletar, masyarakat kapitalis akan berubah secara dialektis ke arah komunis. Lenin mengintrodusir istilah Sosialisme untuk tahap pertama masyarakat komunis; dan Komunisme merupakan tahap lanjut.99 Secara umum, sosialisme berarti kepercayaan untuk melenyapkan segala penderitaan dan kemelaratan yang dihadapi masyarakat.100
Istilah Komunisme menunjukkan kepemilikan bersama, atau sebuah masyarakat yang sama rasa sama rata. Komunisme merupakan pemecahan masalah alienasi manusia yang diciptakan Kapitalisme; harapannya adalah tiada pertentangan kelas dalam Komunisme.101 Negara, kata Marx, akhirnya akan lenyap saat Komunisme tercapai, karena tidak ada lagi manusia yang tertindas.102
Istilah Demokrasi dalam paham Marxisme-Leninisme, seperti Demokrasi Proletar atau Demokrasi Soviet, bukan Demokrasi dalam arti sesungguhnya. Pendukung Demokrasi Konstitusional, dalam International Commition of Jurist, tidak mengakui kedemokrasiannya.103
3. Sistem Ekonomi Sosialis: Kepemilikan Bersama
Dalam sistem ekonomi Sosialisme, kepemilikan individu dihapuskan; sebagai pengganti, sumber daya ekonomi atau faktor produksi dikuasai negara. Imbalan yang diberikan pada perseorangan didasarkan pada kebutuhan, bukan berdasarkan jasanya. Pemerintah berkuasa penuh untuk menentukan apa yang harus diproduksi, bagaimana cara memroduksi, dan untuk siapa hasil produksi didistribusikan.104
Namun demikian, niatan Sosialisme untuk menghapuskan kelas proletar dan kelas borjuis dalam sistem Kapitalisme telah menimbulkan kelas baru. Kelas pemerintah menjelma sebagai majikan baru dan kelas rakyat menjadi buruh.105
4. Nilai Estetis Sosialisme: Realisme Sosialis, Seni untuk Rakyat
sehat atas sarana produksi, yaitu ekonomi yang diatur secara bersama, bukan pribadi per pribadi; aspek seni yang berfungsi untuk memperkaya kehidupan masyarakat akan hadir dengan sendirinya.106 Dengan sinis filsuf Jerman kelahiran 5 Mei 1818 ini mengomentari keindahan dalam nafas Kapitalisme, “Kendati buruk rupa, dengan uang aku dapat membeli wanita tercantik; dengan demikian, kejelekan yang mengecilkan hati dapat dihilangkan oleh uang.”107
Sebagaimana ekonomi yang ingin dikuasai negara, ekspresi seni dalam ideologi Sosialisme juga dikontrol penuh oleh pemerintah. Stalin memutuskan satu-satunya aliran seni yang diizinkan adalah Realisme Sosialis.108 Istilah ini agak berbeda dengan realisme sosial (social realism) yang secara umum berarti karya seni yang diciptkan untuk menyampaikan keadaan sesungguhnya dalam kehidupan; sedangkan Realisme Sosialis (Socialist Realism) adalah tendensi eksplisit atas makna dan tujuan politis karya seni sebagai propaganda aktivitas dan nilai-nilai Komunisme.109 Di Uni Soviet, terminologi yang pernah digunakan sebagai senjata dalam Perang Dingin ini110 pertama kali muncul dalam jurnal sastra dan jurnal seni rupa tahun 1932.111
a. Aktivitas Penciptaan Seni Sosialisme
Seniman-seniman sosialis berupaya memperjuangkan paham politiknya dalam karya seni. Di Meksiko, David Alvaro Siqueiros mengumandangkan Deklarasi Prinsip-Prinsip Sosial, Politik, dan Estetis tahun 1922, “Tujuan fundamental estetis kita adalah menjadi ekspresi artistik sosial dan memusnahkan individualisme borjuis.”112 Mural raksasa karya Diego Rivera di tembok-tembok Meksiko pun menjadi representasi ide Realisme Sosialistik.113
Republik Rakyat China (RRC), yang terlahir dari Revolusi Proletar 1 Oktober 1948, mengimpor parameter Realisme Sosialis dari Uni Soviet, mendatangkan pelukis Konstantin Maksimov ke Beijing, dan mengirim banyak pelukis China ke Leningrat. Karya yang terhasilkan berbentuk retorika politik, bombastik, berbau propaganda, memuja peran buruh, dan mendewakan Mao. Di antara nama besar terdapat Chen Danqing, Chen Yifei, dan Chen Yanning.114
Di Indonesia, di bawah PKI, Lekra mengadaptasi Realisme Sosialis dalam doktrin “Poros Satu Lima Satu (151)”. Satu berarti politik sebagai panglima; lima berisi: meluas dan meninggi (luas diterima masyarakat dan tinggi dalam mutu ideologi artistik), tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitet individuil dan kearifan massa, realisme sosialis, dan romantik revolusioner; dan satu terakhir adalah turun ke bawah sebagai metode kerja.115 Lembaga ini memiliki cabang realis dinamo yang memproduksi pertunjukan populer yang disulam dengan propaganda.116 Dalam terminologi Indonesia, Realisme Sosialis yang diterapkan Lekra sering disebut dengan “Realisme Kerakyatan”.117
Yogyakarta diselenggarakan sekaligus untuk memperingati hari wafat Karl Marx yang ke-70. Kala itu, Marx disebut sebagai ulama agung. “Bukan kebetulan,” kata S. Sudjojono, “Memang, Lekra sengaja memulai konferensinya pada hari peringatan wafatnya Marx.” Konferensi yang menetapkan Sudjojono sebagai ketua dan Hendra Gunawan sebagai wakil ketua pengurus daerah Lekra Yogyakarta itu dimulai dengan orasi Muid Chandra, wartawan muda, yang menerangkan dialektika materialisme, materialisme historis, ekonomi Marxisme, maupun perjuangan kelas.119
Kini, di Indonesia, kendati Komunisme telah dibubarkan, paham seni kerakyatan tetap dipertahankan oleh Lembaga Budaya Kerakyatan “Taring Padi” yang didirikan tahun 1988. Sebagaimana tercermin dalam Mukadimahnya, Taring Padi berlatar belakang kegelisahan pada pemerintah yang hanya mengutamakan kepentingan ekonomi yang mengakibatkan seni hanya menjadi produk budaya penghasil devisa. Kondisi itu, menurut Lembaga yang didirikan di Yogyakarta ini, mengakibatkan alienasi atau penjauhan pemahaman seni antara pekerja seni dengan rakyat.120
E. H. Gombrich mengingatkan, penerapan Realisme Sosialis sebagai satu-satunya kaidah mengakibatkan seniman tidak dapat mengeksplorasi alternatif. Kontrol dari atas, dari negara, kata penulis buku The Story of Art itu, menghilangkan kebebasan seniman.121
b. Karya Seni Sosialisme
Isi (content) sangat dipentingkan dalam lukisan Realisme Sosialis. Theodor W. Adorno, salah satu anggota Sekolah Frankfurt, menyatakan bahwa apa yang membuat karya seni penting secara sosial adalah isi yang mengartikulasikan diri melalui struktur bentuk.122 Dengan demikian paham Realisme Sosialis, atau kontekstualisme secara umum, berseberangan dengan formalisme yang sangat berpengaruh pada seni abstrak.123 Formalisme, dengan tokoh utama Clive Bell dan Roger Fry, meyakini bahwa aspek yang secara estetis penting adalah bentuk, bukan isi, karena dua karya dengan isi yang sama dapat berbeda secara estetis.124 Maka tidak aneh jika perupa abstrak, konstruktivisme, atau bentuk seni modern yang lain terpaksa menyingkir dari Uni Soviet; El Lissiyzky pun melarikan diri ke Jerman.125
Estetika Marxis atau estetika Sosialisme, menurut Henri Arvon, mensyaratkan peran yang harus dimainkan seni dalam masyarakat sosialis, atau paling tidak pada masyarakat yang berusaha membentuk Sosialisme. Dengan kata lain, estetika Sosialisme meminta seni untuk mengemban tugas politik Komunisme.126 Singkat kata, nilai estetis Sosialisme adalah seni untuk rakyat.
Sebelum Sosialisme berkuasa, karya seninya terasa keras memberontak sebagaimana semangat Manifest der Kommunistichen Partei bahwa, “tujuan hanya berhasil dengan merobohkan susunan masyarakat dengan kekerasan.”127 Kumpulan orang berwajah garang yang tengah berjuang menegakkan kekuasaan menjadi tema seni rupa yang diagungkan. Ketika ideologi itu berjaya, karyanya menjadi corong penguasa agar rakyat selalu menjaga Sosialisme. Dalam poster, misalnya, muncul kanon-kanon visual; tangan bergandengan berarti persatuan,
Gambar 7. Konstantin Maksimov, On the Front Road;
dari Uni Soviet mengajarkan Realisme Sosialis ke China (Sumber: www.artforum.ru,
kepalan tangan berotot bermakna tekat kuat, cerobong asap pabrik melambangkan
produktivitas, matahari terbit
menggambarkan masa depan gemilang, lokomotif menandakan kemajuan industri, serta palu maupun besi tempa menjadi penanda perjuangan buruh dan efisiensi.128
E. IDEOLOGI ISLAM
Kini ideologi Islam tidak sedang diterapkan di dunia. Akan tetapi eksistensinya pernah berjalan lebih dari 13 abad, sejak Nabi Muhammad saw membentuk Negara Islam di Madinah pada tahun 622,129 hingga Kekhilafahan Islam berakhir tanggal 3 Maret 1924 saat Musthafa Kamal yang disokong Inggris menggulingkannya.130
Ke depan, kebangkitan ulang negara Khilafah diprediksi dalam berbagai kajian. Penelitian Mapping Global Future yang digarap National Intellegence Council (NIC) dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa salah satu dari empat kemungkinan yang bakal terjadi pada tahun 2020 adalah kemunculan Khilafah Islam (a New Calipate).131 Demikian pula, Huntington menyatakan bahwa Islam adalah salah satu peradaban besar yang berpotensi bangkit dan mesti diwaspadai Barat.132
Gambar 8. Chen Yifei, The Destruction of The Royal Court of the Chiang Kaishek Family, 1978; semangat Realisme Sosialis di China (Sumber: chineseposters.net,
29/7/2013)
Gambar 10. Amrus Natalsya, Kawan-kawanku; Reaisme Kerakyatan (Sumber: koleksi
Perpustakaan IVAA) Gambar 9. Gustav Klutsis,The
USSR is the Stakhanovite brigade of the world’s proletariat,
1931, lithografi; membakar semangat (Sumber: www.blockmuseum.northwestern
1. Worldview Islam: Allah, Ibadah, Hisab
Keimanan yang membentuk pandangan hidup Islam diperoleh berdasarkan akal (dalil aqli) maupun berlandaskan kutipan al-Quran dan hadis (dalil naqli). Keimanan berdasarkan akal meliputi keimanan pada keberadaan Pencipta, kemukjizatan al-Quran, dan kenabian Muhammad saw; keimanan berdasarkan kutipan (naqli) diterapkan pada hal gaib lainnya.133 Penggunaan dalil aqli selaras dengan al-Quran surat Ali Imran ayat 190, al-Ghasyiyah ayat 17-20, at-Tariq ayat 5-7, dan beberapa ayat lain.
Cara untuk membuktikan keberadaan Pencipta adalah dengan memperhatikan alam. Komponen alam memiliki sifat terbatas dan tiap komponen tergantung dengan komponen lain. Sesuatu yang bersifat terbatas dan tergantung membutuhkan hal yang tidak terbatas dan tidak tergantung, yaitu Pencipta (al-Khaliq). Dengan demikian, keberadaan Pencipta adalah keniscayaan (wajibul wujud). Karena tidak terbatas, Pencipta tidak diciptakan oleh pencipta lain atau menciptakan dirinya sendiri, tapi bersifat azali atau tidak berawal dan tidak berakhir.134 Maka, sebelum keberadaan alam, kehidupan, maupun manusia terdapat penciptaan oleh Sang Pencipta, Allah swt.
Selanjutnya, berdasarkan naluri beragama yang perwujudannya dapat berupa pengagungan terhadap sesuatu, manusia akan berusaha beribadah kepada Sang Pencipta. Untuk beribadah, manusia memerlukan pedoman yang berasal dari-Nya; al-Quran merupakan pedoman yang berasal dari-Nya. Ini dibuktikan dengan ayat yang berisi tantangan bagi orang yang meragukannya. Para peragu diminta untuk membuat surat yang semisal dengan al-Quran.135 Tantangan semacam itu, antara lain, terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 23, “Dan jika kamu dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat yang semisal dengannya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”136 Hingga kini tantangan tersebut tidak terjawab. Ayat selanjutnya, al-Baqarah 24, mempertegas, “Maka jika kamu tidak dapat membuat, dan pasti kamu tidak akan dapat membuat, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”137 Adapun Muhammad saw yang membawa al-Quran, sebagai mukjizatnya, mengindikasikan kedudukannya sebagai seorang nabi.138
Sesuai dengan al-Quran surat az-Zariyat ayat 56, kehidupan manusia mesti digunakan untuk beribadah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”139 Dengan demikian, bagi umat Islam, beribadah adalah suatu kewajiban dalam menjalani kehidupan.
kandungan surat ar-Ra’d ayat 18.141 Singkat kata, setelah kehidupan dunia ini, manusia akan berada di surga atau neraka.
2. Negara Islam: Khilafah, al-Quran dan Hadis sebagai Sumber Hukum
Berbeda dengan Kapitalisme atau Sosialisme yang menggunakan akal sebagai dasar hukum, hukum Islam berlandaskan al-Quran dan hadis. Secara umum, peraturan Islam dapat diklasifikasikan dalam tiga aspek, yaitu: hubungan manusia dengan Pencipta, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan manusia lain. Aspek pertama meliputi perkara akidah dan ibadah; aspek kedua terkait dengan akhlak, makanan, dan pakaian; aspek terakhir antara lain meliputi ekonomi, sosial, pendidikan, pemerintahan, politik luar negeri, maupun uqubat (sanksi).142 Dengan demikian Islam merupakan ideologi (mabda), yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, yang dibangaun berdasarkan suatu akidah (worldview).
Ideologi Islam hanya dapat diemban dalam sistem pemerintahan Khilafah. Khilafah adalah negara yang berdasarkan syariat Islam; kekuasaanya menyatukan seluruh dunia; Khilafah hanya ada satu, tidak terbagi-bagi.143 Ciri negara ini terletak pada cara pengangkatan pimpinan negaranya, khalifah, yaitu melalui baiat.144 Baiat adalah sumpah setia dan taat yang disampaikan masyarakat kepada khalifah.
Struktur negara Khilafah terdiri dari delapan bagian, yaitu: Khalifah sebagai kepala negara, Mu’awin Tafwidl sebagai pembantu Khalifah yang berkuasa penuh, Mu’awin Tanfidl sebagai pembantu Khalifah dalam urusan administrasi, Amirul Jihad sebagai pengurus militer, Wali atau gubernur, Qadhi atau pengadilan, aparatus administrasi negara, dan Majelis Umah sebagai dewan musyawarah maupun kontrol.145
3. Ekonomi Islam: Al-Quran dan Hadis sebagai Landasan Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi Islam juga dibangun di atas hukum yang tertera dalam al-Quran maupun hadis. Dengan cara itu, an-Nabhani merumuskan bahwa pilar-pilar ekonomi Islam meliputi: kepemilikan, pemanfaatan kepemilikan, dan distribusi kekayaan.146 Secara sistematis Triono menyatakan bahwa: kepemilikan meliputi kepemilikan individu, umum, dan negara; pemanfaatan kepemilikan terbagi dalam penggunaan dan pengembangan kepemilikan; sedangkan distribusi kekayaan terdiri dari distribusi ekonomis dan nonekonomis.147
dan api;” sedangakan kepemilikan negara, antara lain, terdapat pada al-Quran surat al-Hasyr ayat 7 tentang harta rampasan perang.148
4. Nilai Estetis Islam: Seni untuk Ibadah
Karena manusia diciptakan untuk beribadah, sebagaimana isi surat az-Zariyat ayat 56, maka segala kegiatan manusia, dalam perspektif Islam, akan dikonstruksi dalam konteks ibadah. Kata “ibadah” dalam ayat itu dimaknai secara luas oleh Ibnu Katsir, yaitu menaati perintah Allah karena akan menghasilkan pahala dan menjauhi larangan-Nya karena akan mendatangkan siksa pedih.149 Makna ibadah secara luas, yaitu ketundukan dan kecintaan kepada Allah, juga digunakan Yusuf al-Qardhawy; bahkan, karena ibadah mencakup semua aspek kehidupan, pelampiasan hasrat seksual pun, sejauh dilakukan sesuai dengan syariat Islam, termasuk ibadah. Secara harfiah, ibadah (al-ibadah) berarti ‘ketaatan’.150
Beribadah merupakan aktivitas yang disertai ruh Islam. Ruh di sini ada dalam pengertian kesadaran manusia bahwa ia berhubungan dengan Allah.151 Untuk itu, dalam Islam, aktivitas berkesenian, jika dilakukan berdasarkan ruh Islam, juga termasuk ibadah. Ini berarti menjalankan penciptaan karya seni sesuai dengan syariat yang tertera dalam al-Quran maupun hadis. Makna ibadah tersebut dibedakan dengan makna ibadah secara khusus (khassah/mahdah) yang berarti penyembahan kepada Allah yang oleh al-Quran maupun hadis telah ditentukan secara pasti cara pelaksanaannya, seperti solat dan puasa; ibadah dalam tulisan ini berarti ibadah secara umum (ammah).152
Ringkas kata, seni Islam adalah seni yang sesuai dengan syariat. Berkesenian adalah aktivitas ibadah. Nilai estetis Islam adalah nilai yang sesuai dengan al-Quran dan hadis. Lebih ringkas lagi, seni Islam adalah seni untuk ibadah.
a. Aktivitas Penciptaan Seni secara Islami
Penciptaan karya seni adalah suatu bentuk aktivitas. Sementara itu, menurut fiqih (hukum) Islam, aktivitas manusia dapat dihukumi: wajib, sunah, haram, makruh, atau mubah. Ini berkesesuaian dengan kaidah fiqh yang menyatakan bahwa, “Hukum asal perbuatan hamba terkait dengan hukum syara.”153 Umat Islam: diharuskan melakukan aktivitas yang wajib dan dianjurkan melaksankan hal yang sunah; dilarang melakukan apapun yang haram dan dianjurkan menjauhi sesuatu yang makruh; dan diperbolehkan memilih kegiatan yang mubah. Oleh karena itu, kegiatan berkesenian dalam Islam memungkinkan untuk tersemat kelima kategori tersebut. Aktivitas berkesenian yang tergolong haram, tentu saja, akan dilarang.
wayang agar menghilangkan wujud gambar (mahluk hidup)… wajah wayang dibuat miring, tangan dibuat panjang …”155 Agus Dermawan T. bercerita, sepulang dari Tanah Suci pada 1994, Dede Eri Supria menghilangkan figur manusia pada kanvasnya; kendati kemudian ia melukisnya lagi.156
Kesimpulan atas fiqih seni Islam bukan berarti tidak ada perbedaan. Hukum tentang pembuatan figur mahluk hidup, misalnya, berbeda antara satu mujtahid (penggali hukum) dengan mujtahid lain. Muqbil bin Hadi al-Wadi’i menyatakan, segala penciptaan bentuk mahluk hidup, baik lukisan, patung, maupun fotografi adalah haram.157 An-Nabhani menyimpulkan, pembuatan lukisan dan patung mahluk hidup adalah haram, sedangkan fotografi berhukum mubah.158 Adapun al-Qardhawi menulis, lukisan yang disembah atau diagung-agungkan adalah haram; lukisan untuk gaya hidup mewah berhukum makruh; figur dalam karya fungsional berstatus mubah; bentuk tiga dimensi dihukumi haram kecuali untuk mainan anak-anak; dan fotografi adalah mubah.159 Majilis Tarjih Muhammadiyah memutuskan, lukisan untuk sesembahan berhukum haram, untuk pengajaran berstatus mubah, dan untuk perhiasan adalah mubah jika tidak dikhawatirkan mendatangkan fitnah.160
Perbedaan pendapat merupakan hal biasa dalam Islam, bahkan telah terjadi di kalangan sahabat Nabi.161 Semua pendapat adalah Islami sejauh berdasarkan al-Quran atau hadis, bukan semata berdasarkan akal. Adapun kewajiban seorang Muslim adalah melaksanakan hukum syara yang dipahami paling kuat.162 Dengan demikian, seniman Muslim ketika berkarya akan menggunakan hukum yang menurut pemahamannya adalah yang paling kuat secara syar’i.
b. Karya Seni Islam
Karya seni, terutama karya seni rupa, tergolong sebagai benda atau artefak. Dalam Islam, kaidah fiqh tentang benda berbunyi, “Hukum asal atas benda adalah ibahah (halal) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”163 Dengan kata lain, hukum benda hanya meliputi halal dan haram.
Konsep madaniyah dan hadlarah dapat digunakan sebagai patokan dalam menyikapi karya seni rupa. Madaniyah adalah benda atau artefak yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, sedangkan hadlarah adalah mafahim atau ide yang diimplementasikan ke dalam kehidupan. Berbeda dengan hadlarah yang selalu bersifat khas karena terkait dengan worldview tertentu; madaniyah dapat bersifat khas dan dapat pula bersifat umum. Madaniyah yang bersifat khas adalah benda yang oleh masyarakat dipersepsikan memiliki hadlarah tertentu; adapun madaniyah yang bersifat umum tidak terkait dengan hadlarah tertentu atau merupakan hasil produksi sains maupun teknologi.164
satu contoh pemanfaatan madaniyah umum pada masa Nabi Muhammad saw adalah penggunaan baju besi untuk pasukan Islam; padahal baju besi itu tidak dibuat oleh umat Islam, bahkan Rasulullah pernah menyewanya dari orang musyrik. Adapun amsal tentang madaniyah khusus terlihat dalam peristiwa penolakan Nabi Muhammad saw terhadap penggunaan terompet dan lonceng sebagai panggilan sholat, karena terompet identik dengan Yahudi dan lonceng telah digunakan Nasrani.165 Dengan konsep madaniyah dan hadlarah umat Islam tidak akan secara membabi-buta menutup diri maupun tergopoh-gopoh menerima semua benda yang datang dari luar Islam, termasuk dari Barat.
Sementara itu, karya seni yang berupa aktivitas, sebagaimana seni pertunjukan, berada dalam kaidah hukum perbuatan manusia. Dengan demikian hukumnya berkisar antara wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram.
Karya seni yang berupa konsep, seperti seni sastra, dapat mempertimbangkan perbedaan ilmu dan tsaqafah. Tsaqofah merupakan pemahaman yang bersifat khusus, dinisbahkan kepada masyarakat yang memunculkannya, berbeda dengan pemahaman masyarakat lain; worldview di atas menjadi contoh. Adapun ilmu bersifat universal bagi seluruh manusia; ilmu merupakan simpulan dari fakta terindera.166 Umat Muslim dapat mengambil ilmu (science) yang berasal dari manapun – berarti mubah, sunah, atau wajib; dan wajib mengambil tsaqafah yang datang dari Islam; atau haram mengambil tsaqafah yang datang dari luar Islam kecuali untuk ditunjukkan kelemahannya.
F. EPILOG: KENISCAYAAN BENTURAN, PASAR SENI, TREND KE DEPAN
Perbedaan worldview meniscayakan benturan antara ideologi Liberalisme, Sosialisme, dan Islam; hingga pada gilirannya menjadi benturan nilai estetis antara ketiganya. Memang, terdapat berbagai upaya pemaduan ketiga kutub tersebut, seperti dalam fenomena Islam Liberal,168 Islam Sosialis,169 Kapitalis Sosialis,170 atau bahkan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis).171 Akan tetapi, alih-alih mengalihkan benturan, keberadaannya berpotensi untuk memunculkan varian benturan baru. Ini adalah mirip warna oplosan yang terbentuk dari warna dasar kuning, merah, dan biru.
Keterkaitan antara ekonomi dengan seni pada masing-masing ideologi juga memiliki karakter berbeda. Berikut ini adalah contoh dalam kasus Hak Cipta. Dalam Liberalisme, Hak Cipta diberdayakan sebagai instrumen ekonomi, untuk mengeruk kapital sebesar-besarnya.172 Dalam perspektif Sosialisme, atau paling tidak dalam teori kritis, konsep Hak Cipta ditolak karena akan menghalangi perkembangan sosial dan budaya rakyat.173 Dalam Islam, Hak Cipta dilihat dari hukum syara. MUI menyatakan bahwa pelanggaran Hak Cipta adalah haram;174 sedangkan Hizbut Tahrir menolak hukum Hak Cipta, karena dalam akad jual-beli,
Gambar 11. Kaligrafi di menara Qutub Minar Delhi India; karya seni Islam
(Sumber: simple.m.wikipedia.org, 28/7/2013)
Gambar 12. Karya abstrak Amir Hamzah, karya seni inklusif yang
dibuat berdasarkan aktivitas berkesenian yang Islami (Foto: Amir Hamzah, 2008)
Gambar 13. Arabesque dari peradaban Islam Kordoba Spanyol
tahun 940; seni inklusif
(Sumber: en.wikipedia.org, 28/7/2013)
seorang pembeli mendapat hak kepemilikan dan hak pengelolaan.175 Dalam sejarah peradaban Islam juga tidak dikenal konsep Hak Cipta; Imam Syafi’I rasanya akan senang jika kitab-kitabnya digandakan, karena akan menjadi amal pahala yang tidak terputus kendati dia telah meninggal.
Kini, nilai estetis Islam terkesan kuno, tidak keren, ndeso, dan ketinggalan zaman. Umat Muslim tidak mampu berbuat banyak terhadap karya seni yang tidak sesuai dengan Islam, atau bahkan terhadap karya seni yang menyerang Islam. Ini terjadi karena ideologi yang tengah berjaya di muka bumi adalah ideologi Liberalisme, bukan ideologi Islam. Keadaan berbeda ditemui ketika ideologi Islam masih diterapkan, misalnya, Khalifah Abdul Hamid II melarang pemerintah Perancis dan Inggris saat akan mementaskan Le fanatisme, ou Mahomet le Prophete karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad saw;176 atau paling tidak, ketika kekhilafahan Islam masih tegak, langgam visual yang berasal darinya juga diikuti budaya lain, misalnya, kursi pualam St. Pietro di Castello Venezia yang meniru genre khat kufi. 177
Rasanya, trend perkembangan global akan menuju a New Calipate sebagaimana hasil penelitian NIC. Hasil survei Pew Research Center (PRC) yang dilansir tanggal 30 April 2013, The World’s Muslims: Religion, Politics and Society, menguatkan hal itu. Lembaga yang berbasis di Washington itu menghitung jumlah pendukung syariah Islam di berbagai negara, antara lain: Rusia 42%, Afganistan 99%, Pakistan 84%, Irak 91%, Palestina 89%, Mesir 74%, Malaysia 86%, Indonesia 72%.178 Revolusi Arab Spring, khususnya dalam kasus Suriah, juga mengarah ke sana. Awal Desember 2012, para Mujahidin Suriah yang semakin menguasai medan bertekat menegakkan Khilafah.179 Selain itu, di samping beberapa orang Islam yang skeptis tentang kemunculan ulang Khilafah, opini penegakan Khilafah terus digemakan di berbagai kota dunia. Hadis dalam Musnad Ahmad tentang Khilafah dengan metode Nabi (Khilafah 'ala minhajin nubuwwah) yang bakal kembali tertegakkan semakin menyemangati gerakan ini.180
Sementara itu, sistem ekonomi Kapitalisme yang kini berkuasa tengah mendapat tantangan. Krisis ekonomi terjadi di berbagai negeri yang menerapkan sistem itu. Amerika Serikat, sebagi pusat Kapitalisme, menghadapi gerakan Occupy Wall Street. Semboyan utama para pendemo adalah, “We are 99%.” Slogan ini sebagai bentuk protes atas kekayaan dan pendapatan yang terkonsentrasi hanya pada 1% penduduk AS.181 Hal seperti itu telah lama disadari para pengamat, salah satunya oleh Emmanuel Todd dari Perancis yang menyatakan, “Amerika sangat lemah baik secara ekonomi, militer, dan bahkan ideologi.”182
Peradaban Liberalisme Sosialisme Islam
kehidupan Kebahagiaansurga Meteri surga - nerakaHisab:
Dasar Hukum Akal manusia Akal manusia Al-Quran dan hadis
Karya
Seni Bebas
Alat propaganda
Kaidah fiqh karya seni yang berupa: artefak (halal,
haram); aktivitas (wajib, sunah,
mubah, makruh, haram); pemanfaatan konsep (wajib, sunah, mubah,
makruh, haram).
CATATAN:
Gambar 15.
Tabel komparasi nilai estetis dalam ideologi Liberalisme, Sosialisme, dan Islam
3 Mikluho-Maklai, 1998: 19-22; Burhan, 2003: 32. 4 Honour & Fleming, 1984: 766; Sp., 2000: 136.
5 Mujiyanto, 2012: 4. 6 Junaedi, 2010: 30. 7 Suryanegara, 2010: 421.
8 Beers, 1983: xvi & 824-831.
9 Plate, ed., 2002: 1.
10 Takndare, 2009: 34; www.bbc.co.uk, 18/4/2011. 11 www.bbc.co.uk, 18/4/2011.
12 www.music.okezone.com, 6/6/2011.
13 Ridyasmara, 2006: xv-xvii; Rogak, 2006: xvi. 14 www.majalah.tempointeraktif.com, 4/6/2004.
15 Smiers, 2009: 9.
16www.kompas.com, 2/3/2009.
17 www.bbc.co.uk, 18/9/2009.
18 Sherrad, 1983: 97.
19 Asselt, et al., ed., 2007: 300; Simon, 1986: 62.
20 Junaedi, 2010b: 42-44; Asselt, et al., ed., 2007: 28.
21 Takwin, 2003: 10. 22 Lelland, 2005: 8-9. 23 An-Nabhani, 2001: 24-37.
24 Purwanto, 2007: 1. 25 Syafiie & Azikin, 2008: 1. 26 Triono, 2011: 19-20. 27 Soekanto, 2001: 26-27. 28 An-Nabhani, 2001: 33. 29 Bourdieu, 1984: 4.
30 Eaton, 2010: 181.
31 Huntington, 2010: 9; Huntington, 2005: 53. 32 Bustam-Ahmad, 2003: 49-90.
33 Hizbut Tahrir, 2002: 159. 34 Russell, 2007: 646. 35 Syam, 2010: 249.
36 Armstrong, 2011: 301-310; Russell, 2007: 646. 37 Armstrong, 2011, 281-282.
38 Fukuyama, 2005: 1-2.
39 Purwanto, 2007, 45-46. 40 Kattsoff, 1992: 270. 41 Armstrong, 2011, 350-351.
42 Purwanto, 2007: 45-46. 43 Budiardjo, 2008: 214. 44 Russell, 2007: 787.
45 Mangunhardjana, 2005: 189-192.
46 Purwanto, 2007: 45-46. 47 Husaini, 2005: 335
48 Piliang, 2006: 406. 49 Russell, tanpa tahun: 9. 50 Cincotta, 2001: 4. 51 Budiardjo, 2008: 214. 52 Adian 2005: 29. 53 Eriksen, 2009: 466. 54 2008: 8.
55 2008: xvi
56 Setiawati, 2002: 95. 57 Budiardjo, 2008: 218-224. 58 Triono, 2011: 170-171.
64 Prettejohn, 2005: 40-41.
65 Prettejohn, 2005: 43-44; Townsend, 2006: 100; Sahman, 1993: 172. 66 Kant, 1979: 501-502.
67 Prettejohn, 2005: 47-49. 68 Ali, 2011: 103.
69 Ali, 2011: 17.
70 Prettejohn, 2005: 40-41. 71 Sp., 2000: 49-52. 72 Sp., 2000: 51.
73 Whewell, 2009: 129.
74 Cooper, 2009: 111. 75 Eco, ed., 2002: 339. 76 Harris, 2006: 22-23.
77 Redaksi Visaul Art, 2006: 59
78Farthing, 2006: 436. 79 Beers, 1983: 824-831.
80 Irhamsyah, 2013; Taniputra, 2008: 558-603. 81 Tava, 2010: 76-82.
82 Prasetuo & Permana, 2012: passim. 83 Sim & Loon, 2008: passim.
84 Purwanto, 2007: 45. 85 Armstrong, 2007: 455. 86 Sunardi, 2006: 43. 87 Ramly, 2007: 166. 88 Ramly, 2007: 67. 89 Yahya, 2003: 5-6.
90 Purwanto, 2007: 45. 91 Armstrong, 2011: 400. 92 Santoso, 2009: 40-41. 93 Ramly, 2007: 110.
94 Purwanto, 2007: 45. 95 Pals, 2012: 98.
96 Armstrong, 2011: 419. 97 Ritzer & Goodman, 2010: 74.
98 Budiardjo, 2008: 143; Ebendtein, 1961: 7-8. 99 Budiardjo, 2008: 146; Syafiie & Azikin, 2008: 2. 100 Noer, 1998: 188.
101 Syam, 2010: 172-173. 102 Budiardjo, 2008: 153. 103 Budiardjo, 2008: 139. 104 Subandi, 2011: 7. 105 Triono, 2011: 215. 106 Soetomo, 2003: 32-33.
107 Eco, 2007: 10.
108 Pudjomartono, 2006: 14. 109 Harris, 2006: 293-294. 110 Gombrich, 1995: 616. 111 Taylor, 2007: 142.
112 Honour & Fleming, 1984: 755. 113 Sp. 2000: 136-137.
114 Soetriyono, 2006: 59-60. 115 Burhan, 2003: 32. 116 Holt, 2000: 366. 117 T., 2004: 13-15. 118 T, 2008: 96.
124 Eaton, 2010: 181; Carroll, 2001: 109. 125 Honour & Fleming, 1984: 766. 126 Arvon, 2010, passim.
127 Ramly, 2007: 42.
128 Pudjomartono, 2006: 11.
129 Armstrong, 2004: 16; Marshall G.S. Hodgson menyatakan tahun 625: Hodgson, 2002: 271.
130 An-Nabhani, 2009: 262; Colton 1985: 114. 131 National Intelligence Council, 2004: 16. 132 Huntington, 2010: passim.
133 An-Nabhani, 2001:, 14; salah satu anjuran untuk menggunakan akal dalam keimanan terdapat dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 190,
“Bagi orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”
142 An-Nabhani, 2001: 79. 143 Hizbut Tahrir, 2009: 3. 144 Hizbut Tahrir, 2005: 10.
145 An-Nabhani, 2001: 67; Hizbut Tahrir, 2005: passim. 146 An-Nabhani, 2004: passim.
147 Triono, 2011: 312.
148 مأكأاتبآ امبوب ملكأنمب ءايبنبغلأبللا نبيلبب ةالبودأ نبوكأيب الب يلكب لبيببسلبلا نببلاوب نبيكباسبمبللاوب ىمباتبيبللاوب ىببرلقأللا يذبلبوب لبوسأرلبللبوب هبللبلبفب ىربقأللا لبهلأب نلمب هبلبوسأرب ىلبعب هأللبلا ءافبأب املب
بباقبعبللا دأيدبشب هبللبلا نلبإب هبللبلا اوقأتلباوب اوهأتبنافب هأنلعب ملكأاهبنب امبوب هأوذأخأفب لأوسأرلبلا
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
149 Katsir, 2004: 394-395. 150 Al-Qardhawy, 1997: 81-110 151 An-Nabhani, 2001: 101-102.
152 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1997, 143-146. 153 Khalil, 2010: 10-34; Zahrah, 2008: 30.
154 Hitti, 2010: 337.
155 “… wayang lan gamelan mau ing kitab Pekih kasebut padha karam. Para Wali sabiyantu nganggit wayang supaya ilang wujude gambar… raine wayang ginawe miring, tangane dawa irasan…”:
160 Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tanpa tahun: 281. 161 Ad-Dahlawi, 2010: passim.
162 An-Nabhani, 2001: 108-111. 163 Khalil, 2010: 10-13.
Seni Murni FSR ISI Yogyakarta tahun 2008.
168 Qodir, 2007: passim; Husaini & Hidayat, 2002: passim. 169 Adnan, 2003: passim.
170 Ebendtein, 1961: 168-171. 171 Soejadi & Kaelan, 2000: passim. 172 Soelistyo, 2011: passim.
173 Smiers, 2009: passim.
174 Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, 2005. 175 Hizbut Tahrir Malaysia, 2011.
176 Junaedi, 2010: 119.
177 Safadi, 1986: 130.
178 Pew Research Center, 2013: 15.
179 Mujiyanto, 2013: 4. 180 Junadi, 2013: passim. 181 Mujiyanto, 2011: 5.
182 Todd, 2002: 242.
DAFTAR PUSTAKA
Ad-Dahlawi. Beda Pendapat di Tengah Umat: Sejak Zaman Sahabat hingga Abad Keempat, terj. A. Aziz Masyhuri. Yogyakarta: LKiS, 2010.
Adnan. Islam Sosialis: Pemikiran Sistem Ekonomi Sosialis Religiuss Sjafruddin Prawiranegara. Yogyakarta: Menara Kudus Jogja, 2003.
Adorno, Theodor. Aesthetic Theory. London dan New York: Routledge & Kegan Paul, 1986. Ali, Matius. Estetika Pengantara Filsafat Seni. Tanpa kota: Sanggar Luxor, cetakan ke-3, 2011.
Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Jilid 1, Terj. Fadhli Bahri. Jakarta: Darul Falah, cetakan ke-7, 2009.
Al-Qardhawy, Yusuf. Islam Bicara Seni, terj. Wahid Ahmadi, et al., Solo: Intermedia, 1998.
Al-Qardhawy, Yusuf. Pengantar Kajian Islam: Studi Analitik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik, Tujuan, dan Sumber Acuan Islam, terj. Setiawan Budi Utomo. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997.
Al-Wadi’i, Muqbil bin Hadi. Hukum Menggambar Makhluk Bernyawa, terj. Abu Kuhammad Qasim. Yogyakarta: Pustaka al-Haura’, 2012.
Anderson, Benedict. Imagined Communities Komunitas-komunitas Terbayang, terj. Omi Intan Naomi, dari Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Yogyakarta: Insist, cetakan ke-3, 2008.
An-Nabhani, Taqiyuddin. Kepribadian Islam (Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah), Jilid II, terj. Agung Wijayanto, et al. Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, cetakan ke-5, 2003.
__________. Peraturan Hidup dalam Islam, terj. Abu Amin, et al. Bogor: Pustaka Thariqul ‘Izzah, cetakan ke-3, 2001.
__________. Sistem Ekonomi Islam, terj. Hafidz Abd. Rahman, Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, cetakan ke-6, 2004.
Arbuckle,.Heidi Leanne. “Taring PAdi and the Politics of Radical Cultural Practice in Contemporary
Indonesia”, disetasi. School od Social Sciences, Curtin University of Technology, 2000.
Armstrong, Karen. Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Atheisme, terj. Yuliani Liputo, Bandung: Mizan, cetakan ke-3, 2011.
Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, terj. Zaimul Am, Bandung: Misan Pustaka, cetakan ke-11, 2007.
Armstrong,.Karen. Islam A Short History: Sepintas Sejarah Islam, terj. Ira Puspito Rini. Surabaya: Ikon
Teralitera, cetakan ke-4, 2004.
Arvon, Henri. Estetika Marxis. Yogyakarta: Resist Book, 2010.
Asselt, Willem van, et al., ed., Iconoclasm and Iconoclash Struggle for Religious Identity. Leiden & Boston: Brill, 2007.
Beers, Burton F. World History Patterns of Civilitation. New Jersey: Prentice Hall, 1983.
Bourdieu, Pierre. Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, terj. Ricard Nice. Cambridge: Harvard University Press, 1984.
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Burhan, M. Agus. “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris”, dalam Adi Wicaksono et al., ed., Aspek-Aspek Seni Visual Indonesia: Politik & Gender. Yogyakarta, Yayasan Seni Cemeti, 2003. Bustam-Ahmad, Kamaruzzam, Satu Dasawarsa The Clash of Civilizations: Membongkar Politik Amerika di
Colton, Joel & Para Editor Pustaka Time-Life. Abad Keduapuluh, terj. Roekmini M. Noor. Jakarta: Tira Pustaka, 1985.
Cooper, David E. “Aesthetic Attitude”, dalam Stephen Davies, et al., ed., A Companion to Aesthetics. West Sussex: Blackwell Publishing, edisi ke-2, 2009.
Dhakidae, Daniel. “Memahami Rasa Kebangsaan dan Menyimak Bangsa sebagai Komunitas-komunitas Terbayang”, dalam Benedict Anderson, Imagined Communities Komunitas-komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist, cetakan ke-3, 2008.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997).
Eaton, Marcia Muelder. Persoalan-persoalan Dasar Estetika, terj. Embun Kenyowati Ekosiwi. Jakarta: Salemba Humanika, 2010.
Ebendtein, William. Isme-Isme Dewasa Ini. Jakarta: Gita Karya, 1961.
Eco, Umberto ed., On Beauty: A History of Western Idea. London: Secker & Warburg, 2002. Eco, Umberto. On Ugliness, terj. Alastair McEwen. London: Harvill Secker, 2007.
Eriksen, Thomas Hylland, Antropologi Sosial dan Budaya Sebuah Pengantar, terj. Yosef Maria Florisan. Yogyakarta: Titian Galang Printika, 2009.
Farthing, Stephen. 1001 Paintings You Must See Before You Die. London: A Quintessence Book, 2006. Fukuyama, Francis. “Akhir Sejarah”, dalam Amerika dan Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. Gombrich, E. H. The Story of Art. London: Phaidon, edisi ke-16, cetakan ke-7, 1995.
Harris, Jonathan. Art History: The Key Concept. Oxon: Routledge, 2006.
Hitti, Philip K. History of the Arabs, terj. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, cetakan ke-2, 2010.
Hizbut Tahrir Malaysia. “Hukum Hak Cipta Menurut Islam”, dalam Nasyrah Mingguan Suara Kebangkitan. 30 Desember2011.
Hizbut Tahrir. Benturan Peradaban Sebuah Keniscayaan, terj. Abu Faiz. Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, 2002.
Hodgson, Marshall G.S. The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Masa Klasik Islam, Buku Pertama Lahirnya Sebuah Tatanan Baru, terj. Mulyadhi Kartanegara. Jakarta: PAramadina, cetakan ke-2, 2002.
Holt, Claire. Melacak Jejak Seni Perkembangan di Indonesia, terj. R.M. Soedarsono. Bandung: Arti.line, 2000.
Honour, Hugh & John Fleming, A World History of Art. London: Laurence King, Cetakan ke-4, 1984.
Huntington, Samuel P. “Benturan Peradaban?”, dalam Amerika dan Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
__________. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia, Terj. M. Sadat Ismail. Yogyakarta: Qalam, cetakan ke-11, 2010.
Husaini, Adian & Nuim Hidayat. Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Jakarta: Gema Insani, 2002.
Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal. Jakarta: Gema Insani, 2005.
Irhamsyah, Fahmi. “China: Negara Komunis dengan ekonomi Kapitalis (1949-1969)”. www.sejarah.kompasiana.com, diunggah 15/4/2013, diakses 27/5/2013.
Junaedi, Deni. “Bendera Khilafah: Representasi Budaya Visual dalam Perubahan Global”, makalah Seminar Budaya Visual dan Perubahan Global. KMI ISI Yogyakarta: FSR ISI Yogyakarta, 11 Maret 2013. __________. “Pesan Kekuasaan Lewat Seni Rupa”, dalam Majalah Seni Rupa Visual Arts. Jakarta: November
2010.
__________. Freemasonry Pelatuk Pluralisme. Yogyakarta: Bendera Hitam, 2010.
Kant, Immanuel. “Critique of the Aesthetical Judgment”, dalam W.E. Kennick, Art and Philosophy Reading in Aesthetic. New York: St. Martin’s Press, cetakan ke-2, 1979.
Katsir, Ibnu. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 7, terj. Salim Bahreisy & Said Bahreisy. Surabaya: Bina Ilmu, 2004.
Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargo. Yogyakarta: Tiara Wacana, cetakan ke-5, 1992.
Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. “Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)”. Nomor: 1/Munas Vii/Mui/5/2005.
Khalil, Atha bin. Ushul Fiqih: Kajian Ushul Fiqh Mudah dan Praktis, terj. Yasin as-Siba’i. Bogor:Pustaka Thariqul Izzah, cetakan ke-3, 2010.
Lelland, David Mc. Ideologi Tanpa Akhir, terj. Muhammad Syukri. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005. Mangunhardjana, A. Isme-Isme dalam Etika: dari A sampai Z. Yogyakarta: Kanisius, cetakan ke-7, 2005. Mikluho-Maklai, Brita L. Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Kontemporer Indonesia
Sejak 1966. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998.
Mill, John Stuart. On Liberty. Pennsylvania: Pennsylvania State University, 1998.
Mujiyanto, “Barat Hina Nabi, Tantang Islam Penguasa Muslim Kok Diam?”, dalam Media Umat. Jakarta: Edisi 90, 5 – 18 Oktober 2012.
__________. “2013: Tahun Berdirinya Khilafah?”, dalam Media Umat. Jakarta, Edisi 96, 4 – 17 Januari 2013. __________. “Anti Kapitalisme Mendunia”, dalam Media Umat. Jakarta, Edisi 69, 4 – 17 2011.
2012.
Pew Research Center. The World’s Muslims: Religion, Politics and Society. Washington: Pew Research Center’s Forum on Religion & Public Life, 2013.
Piliang, Yasraf Amir. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebdayaan. Yogyakarta: Jalasutra, 2004, cetakan kedua 2006.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Himpunan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Tarjih, cetakan ke-3, tanpa tahun.
Plate, S. Brente, ed., Religion, Art, and Visual Cultur: a Cross-Cultural Reader. New York: Palgrave, 2002. Pontoh, Coen Husain. Akhir Globalisasi: Dari Perdebatan Teori Menuju Gerakan Massa. Jakarta: C-Books,
2003.
Prasetuo, Eko & Aditya Permana. Waktunya Tan Malaka Memimpin. Yogyakarta: Resist Book, 2012. Prettejohn, Elizabeth. Beauty and art 1750‒2000. New York: Oxford University Press, 2005.
Pudjomartono, Susanto. “Mengapa Poster Rusia”, dalam katalog Pameran Poster Rusia. Yogyakarta: Bentara Budaya Yogyakarta, 22 – 29 November 2006.
Purwanto, Yadi. Epistemologi Psikologi Islami: Dialektika Pendahuluan Psikologi Barat dan Psikologi Islam. Bandung: Refika Aditama, 2007.
Qodir, Zuly. Islam Liberal: Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cetakan ke-2, 2007.
Ramly, Andi Muawiyah. Peta Pemikiran Karl Marx: Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, cetakan ke-5, 2007.
Redaksi Visaul Art. “Galeri Wawancara”, dalam Majalah Seni Rupa Visual Arts. Jakarta, April – Mei 2006. Ridyasmara, Rizki. Knights Templar Knights of Christ. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
Ritzer, George & Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhis Teori Sosiologi Postmodern, terj. Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana, cetakan ke-5, 2010.
Robinson, et al., William I. Hantu Neoliberalisme, terj. Irvan, et al. Jakarta: C-Books, 2003
Rogak, Lisa. Dan Brown: Sebuah Biografi The Manusia Behind The Da Vinci Code. Jakarta: Ufuk Press, 2006.
Russell, Bertarnd. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang, terj. Sigit Jatmiko, et al. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cetakan ke-3, 2007.
Russell, Greg. “Bentuk Pemerintahan Berdasarkan Konstitusi: Amerika dan Negara-Negara Lain”, dalam Demokrasi. Tanpa kota: Office of International Information Programs U.S. Departement of State, tanpa tahun.
Safadi, Hamin Yasin. Kaligrafi Islam, terj. Abdul Hadi W.M. Jakarta: Pantja Simpati, 1986. Sahman, Humar. Estetika Telaah Sistemik dan Historik. Semarang: IKIP Semarang Press, 1993.
Santoso, Listiyono. “Paradigma Materialisme Dialektis dalam Epistemologi Karl Marx”, dalam Listiyono Santoso, et al., ed. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, cetakan ke-6, 2009.
Setiawati, Trias. “Perempuan dan HAM: Peta Permasalahan dan Agenda Aksi”, dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Unisia. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, No. 44/XXV/I/2002.
Sherrad, Philip & Para Editor Pustaka Time-Life, Bizantium, terj. Th. Sumarsono. Jakarta: Tira Pustaka 1983.
Sim, Stuart & Borin van Loon. Memahami Teori Kritis, terj. Tim Resist. Yogyakarta: Resist Book, 2008. Simon, Edith & Para Editor Pustaka Time-Life. Zaman Reformasi, terj. Sutarno, et al. Jakarta: Tira Pustaka,
1986.
Smiers, Joost. Arts Under Pressure: Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di era Globalisasi, terj. Umi Haryati. Yogyakarta: INSIST Press, 2009.
Soejadi & Kaelan. Reformasi, Kebebasan Ideologi dan Kemungkinan Bangkitnya Masyarakat NASAKOM Baru. Yogyakarta: Paradigma, 2000.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persanda, cetakan ke-32, 2001. Soelarto, B. & S. Ilmi, Wayang Beber di Gelaran. Jakarta: Proyek Media Kebudayaan Jakarta Direktorat
Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981-1982. Soelistyo, Henry. Hak Cipta Tanpa Hak Moral. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Soetomo, Greg. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Soetriyono, Eddi. “Menunggu Ikan Lewat”, dalam majalah Visual Art. Jakarta, No. 14, Agustus-September 2006.
Sp., Soedarso. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta, 2000.
Subandi. Sistem Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta, 2011.
Sumatono. “Seni Rupa dalam Perspektif Sains”, dalam Jurnal Seni Rupa Ars. Yogyakarta: FSR ISI Yogyakarta, No. 08, Mei –Agustus 2008.
Sunardi, St. Nietzsche. Yogyakarta: LKiS, cetakan ke-5, 2006.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 2. Bandung: Salamadani, 2010.
Syafiie, Inu Kencana & Andi Azikin. Perbandingan Pemerintahan. Bandung Refika Aditama, cetakan ke-2, 2008.
T., Agus Dermawan. “Samar-samar Latar Politik Lekra dan Bumi Tarung”, dalam majalah Visual Art. Jakarta, No. 27, Oktober-November 2008.
__________. Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu sampai Kosmologi Seni Bung Karno. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Takndare, Ign. Dicky. “Seni dan Kebebasan”, Majalah Makna. Yogyakarta: Tahun ke-5, Edisi Mei-Juni, 2009. Takwin, Bagus. Akar-akar Ideologi Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu.
Yogyakarta: Jalasutra, cetakan ke-2, 2003.
Taniputra, Ivan. History of China. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2008.
Tava, Sarvani. Perang Dunia III dan Musnahnya 4 Milyar Manusia. Yogyakarta: Grafindo Litera Media, 2010.
Taylor, Brandon. “Socialist Realism: “To Depict Reality in Its Revolutionary Development””, dalam Matthew Beaumont, ed., Adventures in Realism. Malden: Blackwell Publishing, 2007.
Todd, Emmanuel. Menjelang Keruntuhan Amerika. Surabaya: Bone Pustaka, 2002. Townsend, Dabney. Historical Dictionary of Aesthetics. Toronto: Oxford, 2006. Triono, Dwi Condro. Ekonomi Islam Madshab Hamfara. Tanpa kota: Irtikaz, 2011.
Whewell, David. “Aestheticism”, dalam Stephen Davies, et al., ed., A Companion to Aesthetics. West Sussex: Blackwell Publishing, edisi ke-2, 2009.
www.bbc.co.uk, 18/4/2011. www.bbc.co.uk, 18/4/2011. www.bbc.co.uk, 18/9/2009.
www.kompas.com, 2/3/2009.
www.majalah.tempointeraktif.com, 4/6/2004. www.music.okezone.com, 6/6/2011.
Yahya, Harun. Keajaiban pada Atom, terj. Ary Nilandari. Bandung: Zikra, 2003.
Zahrah, Muhammad Abu. Ushul Fiqih, terj. Saefullah Ma’shum, et al. Jakarta: Pustaka Firdaus, cetakan ke-12, 2008.
PENULIS