T1__BAB II Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengembangan Modul Bimbingan Kelompok untuk Mencegah Perilaku Seks Bebas pada Peserta Didik di SMA Theresiana T1 BAB II

Teks penuh

(1)

10

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Perilaku Seks Bebas

2.1.1 Pengertian Perilaku Seks

Masa remaja adalah masa peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak- kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003). Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan emosi, dan kehidupan sosial. Perubahan fisik mencakup organ seksual yaitu alat-alat reproduksi sudah mencapai kematangan dan mulai berfungsi dengan baik (Sarwono, 2006).

Menurut Hudson (2003) pengertian seks adalah respon yang diberikan oleh remaja terhadap perilaku dan aktifitas fisik seseorang yang didorong oleh hasrat seksual dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan perasaan erotik yang dilakukan sendiri maupun melibatkan orang lain diluar ikatan pernikan setelah mengetahui informasi dan pemberitaan dalam wujud suatu orientasi atau kecenderungan dalam bertindak.

(2)

11

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seks bebas:

Menurut Sarwono (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi seks bebas adalah :

a. Perilaku hormonal

Perubahan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu.

b. Penyebaran informasi melalui media masa

Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa dan teknologi canggih (internet) menjadi tidak terbendung lagi. Peserta didik yang sedang dalam fase rasa ingin tahu dan ingin mencobanya sangat tinggi, akan meiru apa yang dilihat atau apa yang didengar dari lingkungan sekelilingnya, karena pada umumunya peserta didik belum pernah mengetahui masalah seks secara lengkap dari orangtuanya. c. Norma dimasyarakat

Orang tuanya sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak yang dimana menjadikan anak tidak terbuka bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.

d. Pergaulan yang semakin bebas antara laki-laki dan perempuan

(3)

12 2.1.3 Bentuk-bentuk perilaku seks bebas

Menurut Santrock (2002) bentuk perilaku seks bebas meliputi : 1. Kissing

Saling bersentuhan antara dua bibir atau pasangan yang didorong oleh hasrat seksual.

2. Necking

Mencium bagian leher pasangan sampai menumbulkan nafsu. Leher adalah bagian tubuh yang peka terhadap rangsangan.

3. Petting

Bercumbu sampai menempelken alat kelamin, yaitu dengan menggesek-gesekkan alat kelamin dengan pasangan namun belum bersenggama.

4. Intercaurse

Mengadakan hubungan kelamin atau bersetubuh didalam dan diluar pernikahan. Menurut Mu’tadin (2002) perilaku seks adalah tingkah laku yang didorong

(4)

13 2.1.4 Aspek-aspek perilaku seks bebas:

Aspek-aspek perilaku seks Hudson (2003) aspek yang mempengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks meliputi :

1. Aspek Biologis

Aspek biologis merupakan aspek yang berkaitan dengan berfungsinya organ reproduksi termasuk didalamnya bagaimana menjaga atau merawat kesehatan reproduksi, mengfungsikan secara optimal mengenai pengetahuan bahaya dari seks.

2. Aspek Psikologis

Aspek psikologis berhubungan dengan permasalahan perasaan seseorang yang meliputi :

a. Atas dasar saling mencintai, melakukan hubungan seks bebas sebagai pencurahan rasa kasih sayang.

b. Atas dasar pemuas nafsu dan kebutuhan materi. 3. Aspek Moral

Aspek moral mencangkup anggapan dari seseorang individu terhadap hubungan seks.

4. Aspek Sosial

(5)

14 2.2Bimbingan Kelompok

2.2.1 Pengertian Bimbingan Kelompok

Bimbingan Kelompok menurut Sukardi (2002) merupakan layanan yang dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajaran bagi setiap anggota yang lain.

Bimbingan Kelompok menurut Wibowo (2005) adalah suatu kegiatan kelompok yang dimana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota lainnya untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.

Bimbingan Kelompok menurut Prayitno (1995) adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapatnya, menanggapi, memberi saran yang sesdang dibicarakan atau didskusikan secara bersama-sama.

(6)

15 2.2.2 Tujuan Bimbingan Kelompok

Sukardi (2002) Tujuan diadakannya Bimbingan Kelompok adalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam hal bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi untuk siswa. Selain itu, bimbingan kelompok bertujuan untuk mengembangkan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang bertenggang rasa dalam menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif.

2.2.3 Fungsi Bimbingan Kelompok

Menurut Sukardi (2002) layanan bimbingan kelompok mempunyai tigafungsi yaitu fungsi informatif, fungsi pengembangan, pencegahan (preventif.) Penjelasan dari ketiga fungsi tersebut adalah sebagai berikut

a. Fungsi informatif, memberikan informasi yang luas tentang berbagai hal yangterjadi di lingkungan sekitar.

b. Fungsi pengembangan, bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktifdari fungsi-fungsi lainnya. Konselor atau pemimpin kelompok senantiasa berupaya untuk menciptakanlingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.Teknikbimbingan yang dapat digunakan disini adalah pemberian informasi, diskusi kelompok, organisasi siswa, sosiodrama, psikodrama, pengajaran remidial, home room, dankaryawisata. c. Fungsi preventive (pencegahan) dan kreatif, artinya usaha pencegahanterhadap

(7)

16

para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yangdapat menghambat perkembangannya.

2.2.4 Keuntungan menggunakan metode bimbingan kelompok

Sitti Hartinah DS (2009), dengan pendekatan bimbingan kelompok yang dimaksud, diperoleh beberapa keuntungan yaitu :

1. Peserta didik yang memiliki masalah dapat mengenal dirinya melalui teman-teman kelompok. Peserta didik dapat membandingkan potensi dirinya dengan yang lain. Peseta didik dibantu oleh anggota yang lain dalam menemukan dirinya dan sebaliknya, peserta didik dapat membantu anggota yang lain untuk menemukan drinya. Kecenderungan tersebut akan didorong dengan dasar bahwa peserta didik pada hakikatnya adalah makhluk individu dan sebagai makhluk sosial.

2. Melalui kelompok, sikap-sikap positif peserta didik dapat dikembangkan seperti toletansi, saling menghargai, kerjasama, tanggung jawab, disiplin, kreativitas, dan sikap-sikap kelompok lainnya.

3. Melalui kelompok dapat menghilangkan beban-beban moril sepert malu, penakut, dan sifat-sifat egoistis, manja, dan sebagainya.

4. Melalui kelompok, dapat dihilangkan ketegangan-ketegangan emosi, konflik-konflik, kekecewaan, sling curiga, dan sebagainya.

(8)

17 2.2.5 Teknik Bimbingan Kelompok

Damayanti (2012) menyatakan bahwa teknik bukan merupakan tujuan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Beberapa teknik yang bisa digunakan dalam pelakasanaan bimbingan kelompok antara lain :

a. Pemberian Informasi, teknik pemberian informasi disebut juga dengan metode ceramah, yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar.

b. Diskusi Kelompok merupakan suatu cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan suatu masalahnya. Melalui kegiatan kelompok dapat mengembangkan bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan tertentu dan siswa dapat menyumbangkan pemikirannya, dengan demikian muncul tanggung jawab dan rasa percaya diri.

c. Organisasi siswa, melalui organisasi siswa banyak masalah-masalah siswa, baik masalah individual maupun kelompok yang dapat dipecahkan. Melalui organisasi siswa, para siswa memperoleh kesempatan mengenal berbagai aspek kehidupan sosial.

(9)

18

e. Psikodrama, merupakan upaya pemecahan masalah melalui drama. Dalam psikodrama masalah yang diangkat adalah masalah sosial, akan tetapi pada psikodrama yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami individu. f. Pengajaran remidial, merupakan suatu bentuk pembelajaran yang diberikan

kepada seseorang atau beberapa orang siswa untuk membantu kesulitan belajar yang dihadapinya.

g. Home room, merupakan program di luar jam pelajaran dengan menciptakan kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah, sehingga tercipta kondisi yang bebas dan menyenangkan.

h. Karyawisata, merupakan program yang dilaksanakan dengan mengunjungi dan mengadakan peninjauan pada objek-objek yang menarik yang berkaitan dengan pelajaran tertentu. Peserta didik mendapatkan informasi yang dibutuhkan, hal ini akan mendorong aktivitas penyesuaian diri, kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri serta mengembangkan bakat dan cita-cita.

2.2.6 Sosiodrama

(10)

19

kata lain, dilihat dari sudut pandang pribadi, model ini berupaya membantu individu dengan proses kelompok sosial.

Menurut Nursalim (2002) sosiodarama merupakan teknik dalam bimbingan kelompok untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan bermain peran. Sosiodarama merupakan teknik dalam bimbingan kelompok untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan bermain peran. Dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peran tertentu dari suatu situasi masalah sosial. Sehingga individu akan dapat menghayati secara langsung seperti betul-betul terjadi dalam situasi yang sebenarnya.

Dengan adanya pengembangan model bimbingan kelompok teknik sosiodrama ini dapat memberikan sesuatu yang baru untuk siswa dalam memahami dampak dari perilaku seks bebas, karena ketika siswa dihadapkan dengan sesuatu hal yang baru atau belum pernah dilakukan, siswa cenderung mampu memahaminya. Teknik sosiodrama ini juga melibatkan diri dari peserta didik tersebut dalam bermain peran tentang dampak dari perilaku seks bebas. 2.3 Modul

2.3.1 Pengertian Modul

Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (2008) modul merupakan suatu paket program yang disusun dan didesain sedemikian rupa untuk kepentingan belajar siswa. Pendekatan dalam pembelajaran modul menggunakan pengalaman siswa.

(11)

20

dimiliki agar peserta didik dapat belajar secara mandiri dengan bimbingan minimal dari pendidik (Andi Prastowo, 2012). Penggunaan modul dalam pembelajaran bertujuan agar siswa dapat belajar mandiri tanpa atau dengan minimal dari guru.

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik (Daryanto, 2013).

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli, terdapat hal-hal penting dalam mendefinisikan modul yaitu membantu peserta didik dalam mengusai belajarnya, peserta didik dapat belajar secara mandiri, dan didesain secara sistematis agar mudah dipahami oleh peserta didik. Jadi dapat disimpulkan bahwa modul merupakan sebuah program yang didesain semenarik dan sistematis sebagai bahan belajar mandiri ranpa atau dengan minimal dari guru.

2.3.2 Tujuan Modul

Menurut Prastowo (2012) penyusunan atau pembuatan modul memiliki tujuan sebagai berikut :

a. Agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik (yang minimal).

b. Agar peran pendidik tidak terlalu dominan dan otoriter dalam kegiatan pembelajaran.

(12)

21

d. Mengakomodasi berbagai tingkat dan kecepatan belajar peserta didik. Bagi peserta didik yang kecepatan belajarnya tinggi, maka mereka dapat belajar lebih cepat serta menyelesaikan moodul dengan lebih cepat pula. Sebaliknya bagi yang lambat, maka mereka dipersilahkan mengulanginya kembali.

e. Agar peserta didik mampu mengukur sendiri tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari.

2.3.3 Karakteristik Modul

Modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik yang diperlukan agar mampu menghasilkan modul yang dapat meningkatkan motivasi penggunanya. Menurut Daryanto(2013) modul yang dikembangkan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Self Instruction.

(13)

22

materi; terdapat informasi tentang rujukan/referensi yang mendukung materi pembelajaran.

2. Self Contained.

Modul dikatakan self contained apabila didalam modul memuat seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan. Tujuan dari konsep ini adalah agar peserta didik mempelajari materi yang termuat secara tuntas karena materi belajar dikemas dalam satu kesatuan yang utuh.

3. Stand Alone.

Modul tidak bergantung pada bahan ajar lain, selama meggunakan modul peserta didik tidak perlu menggunakan bahan ajar lain untuk mempelajari atau mengerjakan tugas yang terdapat dalam modul tersebut.

4. Adaptif.

Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

5. User Friendly.

Modul hendaknya bersahabat/akrab dengan setiap penggunanya. Setiap petunjuk dan informasi yang termuat dapat bersifat membantu dan bersahabat dengan penggunanya. Pemakaian bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum merupakan salah satu bentuk user friendly.

2.3.4 Struktur Modul

(14)

23

Berisi antara lain; label kode modul, label milik negara, bidang/progam studi keahlian dan kompetensi keahlian, judul modul, gambar ilustrasi (mewakili kegiatan yang dilaksanakan pada pembahasan modul), tulisan lembaga seperti Departemen Pendidikan Nasional, Ditjen Pendidikan Menengah, tahun modul disusun.

Kata Pengantar

Memuat informasi tentang peran modul dalam proses pembelajaran. Daftar Isi

Memuat kerangka (outline) modul dan dilengkapi dengan nomer halaman. Peta Kedudukan Modul

Diagram yang menunjang kedudukan modul dalam keseluruhan progam pembelajaran (sesuai dengan diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam kurikulum).

I. PENDAHULUAN

A.Standar Kompetensi

Standar kompetensi yang akan dipelajari pada modul B.Deskripsi

(15)

24 C.Waktu

Jumlah waktu yang akan dibutuhkan untuk menguasai kompetensi yang menjadi target belajar.

D.Prasyarat

Kemampuan awal yang dipersyaratkan Untuk mempelajari modul tersebut, baik berdasarkan bukti penguasaan modul lain maupun dengan menyebut kemampuan spesifik yang diperlukan.

E.Petunjuk Penggunaan Modul

Memuat panduan tatacara menggunakan modul yaitu :

1. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mempelajari modul secara benar.

2. Perlengkapan, seperti sarana/ prasarana/ fasilitas yang harus dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan belajar,

F. Tujuan Akhir

Pernyataan tujuan akhir (performance objective) yang hendak dicapai peserta didik setelah menyelesaikan suatu modul. Rumusan tujuan akhir tersebut harus memuat:

a. Kinerja (perilaku) yang diharapkan b. Kriteria keberhasilan

c. Kondisi atau variabel yang diberikan G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi

(16)

25

ini. Apabila peserta didik telah menguasai standar kompetensi / kompetensi dasar yang akan dicapai, maka peserta didik dapat mengajukan uji kompetensi kepada penilai.

II. PEMBELAJARAN

A.Kegiatan Belajar 1

Kompetensi dasar yang hendak dipelajari 1. Tujuan

Memuat kemampuan yang harus dikuasai untuk satu kesatuan kegiatan belajar. Rumusan tujuan kegiatan belajar relatif tidak terikat dan tidak terlalu rinci.

2. Proses Bimbingan Kelompok

Memuat proses berjalannya Bimbingan Kelompok. 3. Uraian Materi

Berisi uraian pengetahuan/ konsep/ prinsip tentang kompetensi yang sedang dipelajari.

4. Rangkuman

Berisi ringkasan pengetahuan/ konsep/ prinsip yang terdapat pada uraian materi. 5. Tugas

(17)

26 6. Tes

Berisi tes tertulis sebagai bahan pengecekan bagi peserta didik dan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hasil belajar yang telah dicapai, sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan berikut.

B.Kegiatan Belajar 2

Kegiatan belajar 2 sampai dengan (tata cara sama dengan kegiatan pembelajaran namun berbeda topik dan fokus bahasan)

1) Tujuan Uraian Materi

2) Proses Bimbingan Kelompok 3) Rangkuman

4) Tugas 5) Tes

6) Lembar Kerja Praktik III. EVALUASI

Teknik atau metode evaluasi harus disesuaikan dengan ranah yang dinilai, serta indikator keberhasilan yang diacu.

A.Tes Kognitif

(18)

27 B.Tes Psikomotor

Instrumen penilaian psikomotor dirancang untuk mengukur dan

menetapkan tingkat pencapaian kemampuan psikomotorik dan perubahan perilaku (sesuai standar kompetensi / kompetensi dasar). Soal dikembangkan sesuai dengan karakteristik aspek yang akan dinilai.

C.Tes Sikap

Instrumen penilaian sikap dilakukan berdasarkan hasil observasi dari pihak guru mengenai perkembangan peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Semua referensi / pustaka yang digunakan sebagai acuan pada saat menyusun modul.

2.3.5 Prosedur Pembuatan Modul

Menurut Daryanto (2013) modul pembelajaran harus disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut ;

a. Analisis Kebutuhan.

Tujuan analisis kebutuhan modul adalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan dalam satu satuan. Analisis kebutuhan modul mengacu pada progam atau kurikulum yang sudah ditetapkan. Serta melakukan tinjauan terhadap prioritas kebutuhan peserta didik.

b. Pengembangan Desain Modul.

(19)

28 c. Implementasi.

Implementasi modul dalam kegiatan layanan dilaksanakan sesuai dengan alur yang telah ditetapkan dalam modul. Termasuk dalam penggunaan bahan, alat, media dan lingkungan belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran juga harus terpenuhi. Strategi dalam layanandilaksanakan secara konsistensesuai dengan skenario yang telah ditetapkan.

d. Penilaian.

Penilaian hasil layanan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik setelah mempelajari seluruh materi yang ada dalam modul. Pelaksanaan penilaian mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam modul. Penilaian hasil dilakukan menggunakan instrument yang telah dirancang atau dipersiapkan pada saat penulisan modul.

e. Evaluasi dan Validasi.

Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur apakah implementasi pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembanganya. Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian modul dengan kompetensi yang menjadi target belajar peserta didik. Apabila isi modul sesuai dengan kompetensi yang menjadi target belajar maka modul tersebut efektif dan dinyatakan valid.

f. Jaminan Kualitas.

(20)

29

pembuatan perlu dipantau untuk meyakinkan bahwa modul telah disusun sesuai dengan desain yang ditetapkan.

2.4 Penelitian yang relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Sherly Diansari Ayuning Sasmito (2013) di SMA Negeri 1 Nganjuk bahwa bimbingan kelompok topik tugas dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap dampak seks bebas yang ditunjukan adanya perbedaan skor pemahaman yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...