2.1 Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
Sistem informasi kesehatan adalah sistem informasi yang didapat secara selektif menjaring data daari tingkat paling bawah dan mengolahnya untuk mendukung pengambilan keputusan di tingkat atas pada bidang kedokteran (Depkes RI, 2001). Menurut Hartono (2002), SIK adalah suatu sistem yang menyediakan dukungan informasi bagi proses pengambila keputusandi setiap jenjang administrasi kesehatan, baik di tingkat kabupaten/kota,provinsi, maupun pusat.
Sistem informasi kesehatan pada pelaksanaannya meliputi tiga rangkaian kegiatan poko, yaitu:
1. Pengumpulan dan Pengolahan Informasi
Pengumpulan data di tingkat kabupaten/kota biasanya diorganisir sebagai bagian dari SIKNAS, dibanyak negara merupakan satu-satunya sistem untuk upaya penyediaan data yang komprehensif. Pelaksana program dapat menjadi salah satu sumber informasi di tingkat kabupaten/kota. Biasanya melakukan pengumpulan data sendiri secara terpisah dan sering kali lebih action oriented, tepat waktu dan dipakai umum daripada sistem rutin yang berjalan.
Pendekatan yang dilakukan, antara lain:
1) Untuk pengumpulan informasi kesehatan yang resmi adalah survey sederhana yang baku
2) Metode yang dikembangkan sosial-sains
3) Sumber informasi lain: sistem registrasi penduduk, surveilensi umum, laporan laboratorium dan penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB)
mempercepat pengolahan, tapi tidak menjamin dari teratasinya kelemahan-kelemahan dari sistem informasi. Terdapat 5 jenis cara pengumpulan data:
1) Surveilans
2) Pencatatan dan pelaporan rutin dari UPT kabupaten/kota ke Dinkes kabupaten/kota
3) Pencatatan dan pelaporan program-program kesehatan khusus yang ada (misal: pemberantasan malaria)
4) Pencatatan dan pelaporan sumber daya serta administrasi kesehatan ynang sudah berjalan seperti tenaga kesehatan
5) Survey dan penelitian untuk melengkapi data dan informasi dari pegumpulan data rutin yang meliputi baik yang berskala nasional maupun provinsi serta kabupaten/kota
2. Analisa, Penyajian dan Pelaporan Informasi Kesehatan
Kabupaten/kota seharusnya mempunyai peranan yang lebih besar dalam menganalisadata yang dikumpulkan secara rutin. Namun, yang terjadi adalah data yang dikumpulkan sedikit, sehingga penganalisaan data tidak berjalan baik. Informasi kesehatan pemanfaatannya akan lebih luas jika disajikan dengan jelas dan komperhensif, misalnya penyajian dengan menggunakan histogram, grafik, charts dll lebih mudah dimengerti dibanding dengan tabel.
Setelah dianalisa dan disajikan, informasi kesehatan harus dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan, masyarakat umum, dan organisasi lokal. Diman tujuannya untuk memperluas pemanfaatan informasi.
3. Pemanfaatan atau Penggunan Infornasi Kesehatan
Informasi kesehatan dimanfaatkan dalam hal perencanaan dan pemantauan kegiatan program. Pemanfaatan informasi di tingkat kab./kota sering rendah, oleh akaren itu perlu dikembangkan cara-cara baru untuk mendorong penggunaan informasi tersebut Faktor yg perlu mendapat perhatian penyebab rendahnya pemanfaatan informasi:
4) Kurang sumber daya
SIK pada hakikatnya harus dapat mengupayakan dihasilkannya informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan di berbagai tingkat sistem kesehatan:
1) Tingkat kecamatan: terdapat puskesmas dan pelayanan kesehatan dasar lain
2) Tingkat kabupaten/kota: Dinkes kab./kota, rumah sakit kab./kota, dan rujukan primer lain
3) Tingkat provinsi: Dinkes provisinsi, rumah sakit provinsi dan rujukan sekunder lain
4) Tingkat pusat: Departemen Kesehatan, rumah sakit puat, pelayanan rujukan tersier lain.
Hartono (2002), menyatakan bahwa SIK mempunyai unsur yang saling berkait & terorganisasi, dikelompokkan menjadi 2 kategori:
1) Proses informasi, unsur-unsurnya
Mengidentifikasi kebutuhan informasi dan data Pengumpulan data & pengiriman / pelaporan
Pengolahan data, analisis, penyajian dan penggunaan data dan info
2) Struktur manajemen sistem informasi, unsur-unsurnya
Sumber daya informasi (manusia, software, hardware, dana) Perangkat peraturan (struktur organisasi, standar, prosedur, dll) 2.2 Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Sistem informasi manajemen dalah suatu sistem yang menyediakan kepada pengelola organisasi, data maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas organisasi. Sebuah SIM, berhubungan dengan organisasi dan dengan manusia pengolahnya. Oleh karena itu, pemahaman utuh terhadap sistem informasi, keorganisasian berdasarkan komputer, sangat diperlukan.
Sebuah SIM yang berbasis komputer mengandung elemen-elemen fisik, yaitu:
1) Manusia (petugas pengoperasian)
4) Database 5) Prosedur
Sistem informasi juga menambah nilai suatu informasi. Konsep-konsep pokok yang berhubungan dengan informasi dan nilai informasi:
1) Informasi
2) Manusia sebagai pengolah info 3) Konsep sistem
4) Konsep organisasi dan manajemen 5) Konsep pengambilan keputusan 6) Nilai informasi
Karena semakin berkembangnya zaman, sistem komputerisasi sangat diperlukan, oleh karena itu kebijakan penting yang dilakukan untuk mengahadapi semakin luasnya pekerjaan dan beban tugas administrasi negara, dapat dilakukan dengan pengembangan organisasi melalui komputerisasi di dalam organisasi pemerintah Keunggulan penggunan komputer:
1) Proses pengolahan yang cepat
2) Tingkat akurasi informasi yang dihasilkan cukup tinggi 3) Efisiensi SDM
4) Kemudahan berinteraksi degan penggunanya
2.3 Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)
Menurut Depkes RI (1997), sistem informasi manajemen puskemas merupakan sistem informasi kesehatan integrasi tingkat puskesmas kecamatan dan kelurahan. Dapat juga didefinisikan sebagai suatu tatanan manusia atau peralatan yang menyediakan info untuk membantu proses manajemen puskesmas mencapai sasaran kegiatannya.
Tujuan umumnya adalah meningkatkan kualitas manajemen puskesmas secara lebih berhasil guna dan berdaya guna, melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yang menunjang.Sedangkan tujuan khusus, sebagai:
- Dasar penyusunan perencanaan tingkat puskesmas
- Dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas - Dasar pemantauan dan evaluasi kegiatan pokok puskesmas