KOMERSIALISASI TEKNOLOGI DALAM UPAYA PENINGKATAN
DAYA SAING INDUSTRI INDONESIA
Adawiah
Asdep Iptek IKM, Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia [email protected]
Purno Tri Aji
Asdep Iptek IKM, Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia [email protected]
Ragil Yoga Edi
Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine of the commercialization of R&D in Indonesia starting from the research planning to the commercialization process including the domination obstacles of R&D commercialization as well as searching for policy to overcome these problems.
Mixed methods research was used in this study, which is a combination of quantitative research and qualitative research. The qualitative data obtained through three ways : study of literature, interviews and focus group discussions. Meanwhile, the qualitative data obtained from the questionnaires by respondents.
The results of the study indicate that the commercialization of R & D in Indonesia is yet to be ideal, which various understanding of the terminology of commercialization (types, stages and impact). The problems of R&D commercialization are the lack of funding in the downstream sector for post harvesting, and the weakness of the role of R&D commercialization management unit in R&D institutions and universities. Policies are needed to support the commercialization of R&D in Indonesia: (1) established or reinforced unit that handles the commercialization of the technology. (2) Restructuring of R & D financing mainly focuses on R&D funding schemes for downstream sector. (3) Reconstruction the relation between government – industry-R&D with R&D funding schemes which not only provide facilities for R&D institutions and universities but also provide incentives to industry. (4) coaching and reinforcement capacity of technology transfer and capacity building which focused on the commercialization of R&D management. (5) Coordination among authorities where each commercialization policies issued require the involvement of various authorities.
BAB I PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG STUDI
Daya saing suatu bangsa ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil dari The Global Competitiveness Report dari World Economic Forum (WEF) Tahun 2012-2013 menunjukkan bahwa posisi daya saing Indonesia Tahun 2012 berada diperingkat 50 dari 144 negara. Dan menurut laporan terakhir dari WEF mengalami peningkatan pada tahun 2013-2104 ini menjadi peringkat 38 dari 148 negara.
Peringkat dayasaing bangsa yang ditetapkan oleh WEF tersebut ditentukan oleh 12 pilar. Dan ada dua pilar yang terkait langsung dengan iptek. Kedua Pilar tersebut adalah Kesiapan Teknologi, dimana Indonesia berada di posisi 85 pada tahun 2012-2013 menjadi posisi 75 pada tahun 2013-2014, dan Pilar Inovasi, yang berada di posisi 39 pada tahun 2012-2013 menjadi posisi 33 di tahun 2013-2014.
Dampak kesiapan teknologi dan inovasi ini pada persaingan global semakin nyata dengan kebijakan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak Januari 2010. ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) merupakan salah satu persetujuan multilateral yang disepakati dalam era global di mana bea masuk barang dari luar negeri menjadi nol. Ini menunjukkan kemudian bahwa daya saing bukan hanya aspek perdagangannya saja tetapi juga aspek produksinya. Perjanjian ini memunculkan berbagai tanggapan mulai dari para pembuat kebijakan, pelaku usaha maupun kaum cendekiawan. Dilihat dari sisi positifnya, pelaksanaan kesepakatan perdagangan itu
akan bermakna besar bagi kepentingan geostrategis dan geoekonomis Indonesia maupun Asia Tenggara secara keseluruhan. Sebaliknya, kebijakan tersebut diprediksikan akan memberikan dampak yang signifikan terhadap industri domestik Indonesia karena akan mengalami kesulitan menghadapi tantangan dari membanjirnya impor produk murah dari China.
Menyikapi hal tersebut di atas, untuk dapat meningkatkan dayasaing industri dalam negeri, Indonesia harus terus bekerja keras dengan meeningkatkan kesiapan teknologi dan inovasi. Dua pilar tersebut merupakan syarat mutlak untuk meningkatkan nilai tambah suatu produk sehingga hasil industri dalam negeri mampu bersaing di pasar domestik maupun mancanegara.
dan sumber IPTEK untuk mendukung pembangunan ekonomi termasuk di dalamnya peningkatan kapasitas inovasi dan kemandirian teknologi di Indonesia.
Namun demikian, hingga satu dekade berlalu belum banyak ditemukan informasi ataupun data yang valid mengenai dampak dari implementasi undang-undang tersebut terutama yang berkaitan dengan sejauh mana tujuan dari alih teknologi sebagaimana dikehendaki oleh kebijakan tersebut telah dicapai. Salah satunya informasi/dokumentasi tentang hasil litbang yang prospektif untuk dikomersialisasikan di Indonesia adalah yang terdapat dalam Buku Inovasi Indonesia. Buku Inovasi Indonesia merupakan upaya untuk mengkodifikasi hasil-hasil libang di Indonesia yang diinisiasi oleh Kementerian riset dan teknologi melalui Business Innovation
Center (BIC). Sejak dimulaipada tahun 2007
buku kumpulan Inovasi Indonesia yang telah menghasilkan 5 seri, yaitu kumpulan inovasi Indonesia mulai dari 100 hingga 104. Buku Inovasi Indonesia pada dasarnya adalah kumpulan hasil litbang terpilih yang ditetapkan berdasarkan bidang dan kriteria tertentu. Buku tersebut juga memberikan secarik visualisasi tentang hasil litbang yang telah dihasilkan di Indonesia dengan tujuan utama memberikan informasi kepada masyarakat pengguna untuk memperoleh akses terhadap hasil litbang dan memanfaatkannya.
Diantara data yang menarik dalam buku tersebut adalah dicantumkannya status inovasi hasil litbang. Lebih dari 10% dari hasil-hasil litbang tersebut dinyatakan telah dikomersialisasikan. Data ini selain merupakan kabar yang menggembirakan
atas prestasi hasil litbang juga memunculkan pertanyaan dalam sejauh mana komersialisasi tersebut telah berdampak pada masyarakat. Dengan kata lain, dengan prosentasi yang sedemikian harus dikatakan bahwa proses komersialisasi litbang telah berjalan dengan baik dan seyogyanya telah menampakkan efek pemanfaatan yang dapat terukur. Namun demikian kenyataan dilapangan mengindikasikan adanya kesenjangan antara data tersebut dengan kondisi komersialisasi litbang yang sesungguhnya terjadi.
Untuk mengetahui kondisi komersialisasi hasil litbang yang ada di Indonesia perlu digali informasi yang lebih mendalam tentang komersialisasi litbang mulai dari proses perencanaan hingga proses komersialisasinya dilaksanakan. Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui gambaran yang lebih rinci tentang proses komersialisasi litbang di Indonesia termasuk kendala apa yang mendominasi proses komersialisasi litbang. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tersebut serta mencari solusi kebijakan yang dibutuhkan guna mengatasi kendala tersebut.
2. PERUMUSAN MASALAH DAN
TUJUAN STUDI
Penelitian ini membahas persoalan-persoalan yang terkait komersialisasi atas inovasi hasil litbang di Indonesia yang yang dirumuskan dalam pertanyaan di bawah ini: 1. Sejauh mana proses komersialisasi atas
hasil litbang di Indonesia telah dilaksanakan?
3. Kebijakan apa yang dapat direkomendasikan untuk mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang? Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana komersialisasi hasil litbang telah dilakukan khususnya pada hasil litbang yang telah didokumentasikan pada buku 100+ Inovasi.
Tujuan teoritis dari penelitian adalah:
1. Melihat sejauh mana keterkaitan antara teori dengan objek yang akan diteliti. 2. Menemukan konsep yang dapat
menjelaskan fenomena yang terjadi berkaitan dengan proses alih teknologi di Indonesia, khususnya dalam bentuk komersialisasi litbang.
3. Menelaah dan mengkomparasikan antara teori terkait dengan objek penelitian dengan kenyataan yang ditemukan pada saat penelitian.
BAB II
METODE PENELITIAN
Dalam menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, metodologi penelitian campuran digunakan dalam penelitian ini. Metodologi penelitian campuran digunakan untuk memperjelas atau melengkapi data-data yang tidak diperoleh hanya dengan menggunakan satu metodologi, yaitu kuantitatif saja atau kualitatif saja (Creswell, 2010). Selain itu, metoda penelitian campuran dapat menjembatani kesenjangan makro dan mikro. Sifat penelitian kuantitatif yang dapat menggambarkan karakeristik sosial dalam skala yang besar menjadikan penelitian ini sebagai alat untuk memotret persoalan yang bersifat makro. Sebaliknya, penelitian kualitatif cenderung menyoroti aspek perilaku yang bersifat detil sehingga
penelitian ini ditujukan untuk memperoleh potret dalam skala mikro. Ketika sebuah penelitian bertujuan untuk mengungkapkan potret baik yang bersifat makro maupun mikro maka perpaduan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif mutlak diperlukan (Brannen, 2005).
1.1. PENDEKATAN DAN PENGUMPULAN DATA
Untuk mengetahui sejauh mana komersialisasi litbang telah dilaksanakan penelitian ini menggunakan pendekatan survey, yaitu menyebarkan kuesioner yang berisi pertanyaan kepada responden yang invensinya masuk dalam Buku 100-103 Inovasi Indonesia dengan kategori lembaga litbang atau perguruan tinggi milik Pemerintah serta inovasinya berstatus telah dikomersialisasikan. Pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner diambil berdasarkan praktik-praktik komersialisasi litbang yang ada dalam berbagai literatur. Data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data kuantitatif yang akan dianalisis lebih lanjut.
surveyor juga melakukan penggalian informasi yang lebih mendetail terkait dengan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. Pengumpulan data kualitatif lainnya dilakukan dengan diskusi kelompok terfokus (FGD) yang dilakukan dengan menggali pendapat dari pihak-pihak yang terkait dengan objek penelitian mengenai suatu topik yang ditentukan.
1.2. PROSEDUR DAN ALUR
PENELITIAN
Tahap awal penelitian dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang terkait dengan objek penelitian kemudian merumuskannya menjadi pertanyaan penelitian. Setelah identifikasi permasalahan dilakukan maka tahap selanjutnya adalah penentuan metoda dan pendekatan yang akan digunakan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan penelitian tersebut. Metoda penelitian campuran dipilih dengan beberapa pertimbangan, yaitu:
1. Populasi sudah sangat spesifik, yaitu inovator yang tercantum dalam Buku 100-103 Inovasi Inonesia yang menyatakan bahwa inovasinya telah dikomersialisasikan, namun penelitian ini perlu melihat dari dekat tekstur komersialisasi litbang tersebut secara lebih dekat. Metoda yang memungkinkan adalah kualitatif dengan pendekatan wawancara.
2. Selain melihat tekstur komersialisasi litbang yang telah dilakukan, penelitian ini juga bermaksud mengklarifikasi sejauh mana status komersialisasi litbang tersebut telah dilaksanakan serta memperoleh gambaran tentang kendala apa yang dihadapi dalam proses komersialisasi tersebut. Metoda yang dapat digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survey.
3. Dalam membangun instrumen-instrumen penelitian, perlu dibangun pemahaman mengenai komersialisasi litbang melalui contoh-contoh praktik komersialisasi litbang yang telah dilakukan oleh pihak lain. Informasi tersebut hanya dapat dijangkau oleh pendekatan studi dokumen (penelitian kualitatif).
4. Untuk menghasilkan kesimpulan yang komprehensif diperlukan analisis dari berbagai perspektif sehingga diperoleh gambaran tentang kondisi komersialisasi litbang di Indonesia secara seimbang. Dengan demikian metode penelitian campuran diperlukan.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan instrumen penelitian. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan yang bersifat mengklarifikasi atau pertanyaan yang lebih mendetail tentang praktik komersialisasi litbang. Sebagian pertanyaan diadopsi dari berbagai literatur, terutama yang menyangkut proses-proses kegiatan komersialisasi. Dalam menyusun pertanyaan, terdapat pengelompokan pertanyaan berdasarkan beberapa kategori dan beberapa pertanyaan diberi bobot
(score) sehingga pada akhir pengumpulan
data diperoleh suatu pembobotan terhadap kategori-kategori tersebut.
Setelah instrumen penelitian yang berupa kuesioner selesai, maka survey dilakukan. Peneliti mendatangi para responden untuk memandu peneliti dalam memberikan jawaban. Hasil dari kegiatan ini adalah data kuantitatif yang akan diproses lebih lanjut dalam tahap analisis.
Data Kulaitatif KOMERSIALISASI
LITBANG
KUALITATIF
103 Inovasi
ANALISIS KUANTITATIF
Data Kuantitatif
REKOMENDASI KEBIJAKAN KOMERSIALISASI LITBANG
IDENTIFIKASI MASALAH (PERTANYAAN PENELITIAN)
LITERATUR Wawancara,
Quesioner& FGD
dan mencari jawaban penelitian. Pendekatan FGD dapat dilakukan pada awal penelitian maupun setelah seluruh data, baik kuantitatif maupun kualitatif, diperoleh. Data-data kualitatif yang diperoleh kemudian akan diproses lebih lanjut dalam tahap analisis.
Tahap selanjutnya adalah tahap analisis. Dalam tahap analisis, seluruh data yang diperoleh, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif, diintegrasikan atau dikomparasikan satu sama lain. Teknik analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif yaitu memaparkan secara ekplanatoris hubungan sebab akibat antar data yang diperoleh serta isu-isu signifikan
yang ditemukan ke dalam topik-topik pembahasan. Rangkaian penjelasan atas fakta dan temuan-temuan tersebut disusun menjadi taksonomi komersialisasi litbang yang menjadi jawaban atas pertanyaan penelitian. Tahapan selanjutnya, gambaran (taksonomi) dan pemahaman tentang komersialisasi litbang di Indonesia tersebut dijadikan sebagai sumber informasi lapangan yang diarahkan untuk membangun landasan kebijakan yang tepat dalam rangka mendorong akselerasi alih teknologi di Indonesia. Seluruh proses alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Misi komersialisasi litbang
Komersialisasi di Indonesia yang berlandaskan semangat alih teknologi secara konstitutif tertuang dalam Pasal 4 PP No. 20 Tahun 2005 yang menyatakan bahwa alih teknologi bertujuan untuk menyebarluaskan IPTEK dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengadopsi dan menguasai IPTEK untuk kepentingan bangsa dan negara. Sayangnya, kebijakan tersebut tidak mengatur mekanisme alih teknologi secara komersial yang lebih rinci dan implementatif. Sebagai akibatnya, dalam praktiknya masing-masing lembaga litbang dan perguruan tinggi memiliki pemahaman yang berbeda mengenai mekanisme alih teknologi yang bersifat komersial. Dampak implementatif lainnya adalah praktik alih teknologi dengan mekanisme non-komersial lebih mendominasi karena implementasinya mudah difahami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam praktiknya aktivitas komersialisasi seringkali dirancukan dengan aktivitas diseminasi.
Tabel 1. Perbedaan Komersialisasi vs Diseminasi
Dalam praktiknya pola-pola diseminasi banyak dijumpai dalam komersialisasi litbang, terutama di kalangan peneliti pada perguruan tinggi. Meskipun dalam Buku Inovasi Indonesia dinyatakan bahwa produk litbang yang dihasilkan telah berstatus komersial namun para
penelitimenyatakan bahwa hasil penelitian utamanya lebih ditujukan pada diseminasi teknologi kepada masyarakat, khususnya usaha kecil. Hal ini ada kaitannya dengan misi utama perguruan tinggi yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi dipahami sebagai kewajiban mutlak sehingga logika komersialisasi tidak berlaku ketika berhadapan dengan kepentingan masyarakat. Pandangan ini tidak memberi preseden buruk dalam wacana komersialisasi litbang. Sebaliknya kondisi ini sangat menguntungkan masyarakat, terutama dalam hal diperolehnya akses secara mudah terhadap IPTEK. Namun, pola semacam ini termasuk mekanisme non-komersial sehingga semestinya tidak dapat dikatakan sebagai inovasi yang memiliki status komersial. Meskipun demikian, tidak semua peneliti dari kalangan perguruan tinggi memiliki pandangan demikian.
Dukungan Pemerintah
Anggaran untuk melaksanakan kegiatan litbang masih mengandalkan anggaran negara (DIPA). Akan tetapi, dalam pendistribusiannya terdapat ketimpangan alokasi pendanaan untuk kegiatan penelitian untuk menghasilkan teknologi (pembiayaan hulu) dengan kegiatan komersialisasi litbang (pembiayaan hilir).
Dengan demikian besaran
Gambar 2. Sumber-sumber Pendanaan u Teknologi
Dalam beberapa ka litbang dan perguruan tingg dana dari pihak swasta untuk kegiatan litbang dalam hal tersebut melakukan kerj memberikan dana hibah kep litbang atau perguruan tin Model-model komersialisasi kolaboratif biasanya cenderu skema pendanaan dari swasta.
Selain pembiayaa menghasilkan teknologi, pene menyoroti sumber pend digunakan untuk membia litbang. Amat kontras dengan untuk menghasilkan tekn mengandalkan anggaran n penelitian menunjukkan bahwa responden (44%) mengaku t pembiayaan untuk melakuk sementara 8 responden (25% menggunakan dana DIPA, responden (22%) yang memproleh dana promosi dar
16%
n untuk Menghasilkan
kasus, lembaga ggi memperoleh uk melaksanakan al pihak swasta erjasama atau kepada lembaga tinggi tersebut. si yang bersifat erung memiliki ta.
yaan untuk enelitian ini juga ndanaan yang biayai promosi an sumber biaya eknologi yang negara, hasil wa mayoritas 14 tidak memiliki kukan promosi, 5%) menyatakan A, terdapat 7 g menyatakan dari sponsor dan
sisanya 3 responden menerima dana dari in untuk melakukan p sumber pendanaan pr dilihat dari Gambar 3 d
Gambar 3. Sumbe Litb
Minimnya du terhadap sektor hilir j hasil penelitian yan kegiatan litbang m membutuhkan pembi hasil penelitian terung 18 responden ( pengembangan proto memerlukan biaya, se (35%) menyatakan kegiatan yang p pembiayaan, promosi paling memerlukan b responden (9%) d responden yang perencanaan penelitian paling memerlukan b prototipe merupakan b dalam proses komersi simpul yang menghubu pasar. Data ini m keberhasilan kom ditentukan oleh dukun kegiatan litbang yang Pribadi instansi pemerintah lain promosi. Komposisi promosi litbang dapat
di bawah ini.
ber Pendanaan untuk Promosi itbang
dukungan pendanaan r juga dapat dilihat dari yang mempertanyakan mana yang paling biayaan. Berdasarkan ngkap bahwa sebanyak (56%) menyatakan ototipe paling benyak sebanyak 11 responden n penelitian sebagai paling memerlukan si sebagai kegiatan yang biaya dijawab oleh 3 dan tidak satupun menyatakan bahwa ian adalah kegiatan yang biaya. Pengembangan n bagian yang signifikan ersialisasi serta menjadi ubungkan litbang dengan menunjukkan bahwa omersialisasi sangat ungan alokasi anggaran ang mempertimbangkan
proporsi ideal antara kebutuha dan hilir.
Gambar 4. Kegiatan Litbang yang pali Biaya
Data tersebut me bahwa sektor hilir menjadi dalam proses kegiata Pengembangan prototipe me yang signifikan dalam proses serta menjadi simpul yang m litbang dengan pasar. Prop setidaknya menggambarkan ke kegiatan litbang yang ideal dim sektor hilir lebih besar dari an hulu, dengan kata lain un postur komersialisasi litbang memerlukan anggaran yang le dana untuk melakukan litban Data ini merupakan penegasan keberhasilan komersialisasi anggaran dalam kegiatan mempertimbangkan kebutuha dan hilir.
Pendanaan sektor diperlukanmengingat bah praktiknya mendorong suatu t kegiatan litbang dari tem teknologi tersebut dihasilka komersialisasi seringkali tahapan dan investasi yang menjadi bagian es komersialisasi menghubungkan roporsi di atas kebutuhan dana dimana anggaran i anggaran sektor untuk mencapai ang yang ideal lebih besar dari bang itu sendiri. san bahwa dalam i maka alokasi tempat dimana ilkan ke ranah membutuhkan g tidak sedikit.
Peluncuran teknologi y prematur hanya akan investasi dan inefisen dkk, 2011). Dalam ko investasi di bidang tek tidak menarik bagi ka hanya karena besarnya dikeluarkan melainka yang ada pada bisnis 2005). Untuk meng beberapa lembaga lit tinggi di Indonesia (B LIPI) membangun inku prinsipnya inkubator melakukan transfor laboratorium ke dal melalui kegiatan ink bisnis.Dengan demik memperoleh paket tekn tanpa harus menge investasi yang mengan
Dekorporatisasi d Komersialisasi Litban
Dalam praktik dunia, pelaksanaan k cenderung diserahkan sehingga komersialis tersentralisasi. Di In komersialisasi j kecenderungan adany terdesentralisasi ke tin bahkan langsung kepad
Gambar 5. Pelaksana K
canaan
gi yang dilakukan secara an mengakibatkan biaya sensi yang tinggi (Stig, kondisi yang demikian teknologi menjadi sangat kalangan industri tidak nya investasi yang akan kan juga faktor risiko nis teknologi (Forsyth, ngatasi hal ini maka litbang dan perguruan (BPPT, IPB, ITB dan nkubator teknologi. Pada tor teknologi adalah formasi dari skala alam skala komersial inkubasi teknologi dan ikian pihak industri eknologi yang telah siap geluarkan biaya-biaya andung resiko.
dan Kapitalisme bang
ik pengelolaan litbang di komersialisasi litbang an pada unit tersendiri lisasi litbang menjadi Indonesia, pelaksanaan justru memiliki nya pengelolaan yang tingkat satuan kerja dan pada peneliti.
Beberapa bentuk kome litbang adalah yang pertam komersialisasi dilakukan ole yang ditunjuk oleh instansi yang dilakukan dalam prakte litbang internasional, atau dilakukan oleh tim lain di satu khusus menangani komersia adalah peneliti bekerjasama de luar instansinya (misalnya pihak lainnya) untuk mem penelitiannya. Dalam hal in berfungsi sebagai pencari or peneliti yang akan membuatka litbang sesuai dengan perminta
Gambar 6. Pengelola Dana Hasil K
Hasil penelitian yang bahwa mayoritas responden (44%) mengelola dana hasil litbang dikelola oleh satuan ke itu 8 responden (25%) pengelolaan dana komersialis secara pribadi, jumlah yang yaitu 7 responden (22%) men komersialisasi dikelola secara bersama mitra, dan sisanya
(9%) menyatakan ba
komersialisasi dikelola oleh in Di Indonesia dimana s hasil-hasil litbang merupakan memerlukan pola pengelolaan secara korporat. Pengelolaan s memungkinkan proses akunta dimana capaian-capaian litbang akan menjadi capa instansi induk. Selain itu u rtama pelaksana oleh unit kerja si induk seperti ktek manajeman tau setidaknya atuan kerja yang sialisasi. Kedua dengan pihak di a koperasi atau emasarkan hasil ini pihak luar order sementara tkan produk hasil intaan.
il Komersialisasi
ang menyatakan n 40 responden il komersialisasi kerja, sementara ) menyatakan alisasi dilakukan ng hampir sama enyatakan dana ara terpisah atau ya 3 responden bahwa dana instansi induk. a sebagian besar
an milik negara an komersialisas n secara korporat ntabilitas publik komersialisasi apaian korporat unit pelaksana
komersialisasi biasany daya manusia yan profesional untu komersialisasi. Denga tidak perlu dibebanka yang menghambat kompetensinya un teknologi. Adanya tu tugas kelitbangan de litbang dikhawatirk menghambat kinerj keseluruhan. Lebih ja lembaga litbang yang tergerus oleh logika sangat mengedepankan Namun demi tersebut tampaknya Indonesia. Hasil obser dilakukan menunjukka memegang kendali ya teknologi yang dihasi juga terjadi pada saa dikomersialisasikan peneliti mengakui b dilakukan secara indiv peneliti membuat p penelitiannya menjad kemudian menjualny keuntungan secara prib
Karenanya mengherankan apabi menunjukkan bahwa menyatakan bahwa pe komersialisasi litban individual oleh penelit bersama dengan pih dilakukan secara tida kerangka PNBP meru pengelolaan yang sem kapitalisme hasil-ha untuk menghindari atu Dikelola secara
anya memiliki sumber ang ditunjuk secara tuk melaksanakan gan demikian, peneliti kan oleh aktivitas lain t produktivitas dan untuk menghasilkan tumpang tindih antara dengan komersialisasi tirkan justru akan erja litbang secara jauh lagi, karakteristik g sangat akademis akan ika-logika bisnis yang kan profit.
mikian, kekhawatiran a sudah terjadi di servasi pada saat survey kan bahwa para peneliti yang sangat kuat atas asilkannya. Kendali ini saat teknologi tersebut dimana sebagian bahwa komersialisasi ividu. Dengan kata lain, produk-produk hasil jadai skala komersial lnya dan mengambil
ribadi.
tidak terlalu abila hasil penelitian a beberapa responden pengelolaan dana hasil ang dikelola secara eliti. Pengelolaan secara pihak mitra sepanjang tidak resmi dan diluar erupakan bentuk-bentuk emangatnya merupakan hasil litbang secara
yang dianggap tidak mengun peneliti. Aturan yang dihindar antara lain keharusan komersialisasi di bawah p dimana dana hasil komers disetorkan terlebih dahulu k Keberatan para peneliti dal PNBP adalah pada pen pembagian hasil yang dia memihak kepada penelit sebenarnya merupakan k peneliti dalam membaca kete undang meskipun sebenarnya batas tertentu peneliti masih untuk memperoleh insentif d komersialisasi litbang. Kebe adalah pada saat pemeriksa (terutama yang dilakukan o selalu mengungkapkan komersialisasi litbang se temuan.Sementara itu, kebi yang belum jelas menyebabka harus dilakukan untuk meng tersebut belum ada h ini.Hambatan-hambatan terseb inisiatif peneliti untuk komersialisasi hasil litbang di
Tampaknya ada harap peneliti atas teknologi dihasilkannya. Dalam penelit setidaknya dua hal yang dih peneliti dari komersialisasi te dihasilkannya. Pertama, kein moral dari pihak peneliti untu pengakuan atas teknologi dihasilkannya. Kedua, keing untuk menikmati hasil yang komersialisasi litbang. Hal i dari hasil penelitian mengen harga teknologi yang d (valuasi). Jawaban respon frekuensi tertinggi adalah responden (56%) menyat penentuan valuasi dilakukan perhitungan biaya modal da Jawaban ini secara implisit
guntungkan bagi dari oleh peneliti n melakukan payung PNBP ersialisasi harus ke kas negara. dalam kerangka pengakuan dan dianggap tidak liti. Hal ini ketidakfahaman etentuan
undang-ya dalam batas-ih dimungkinkan f dari dana hasil eberatan lainnya ksaan keuangan oleh BPK-RI) n persoalan sebagai suatu ebijakan hukum bkan solusi yang engatasi temuan hingga saat sebut mendorong melaksanakan di bawah tangan. rapan besar para i yang telah elitian terungkap diharapkan oleh i teknologi yang einginan secara ntuk memperoleh gi yang telah inginan peneliti g diperoleh dari l ini terindikasi genai penentuan dikomersialkan ponden dengan h sebanyak 18 yatakan bahwa kan berdasarkan dan intelektual. isit menyiratkan
bahwa kontribusi inte tercermin dalam nilai litbang. Selebihnya, s melakukan valuasi ditentukan oleh pasar. dilihat pada Gambar 7
Gambar 7. Me
Dampak Komersialisa Dari sisi pema belum memberikan signifikan terhadap Setidaknya, dari sud kegiatan komersialis memberikan insentif mendorong peneliti u menghasilkan teknolog
Gambar 8. Bentuk Reward
0
ntelektual peneliti harus lai suatu teknologi hasil , sebanyak 8 responden ahwa valuasi ditentukan gkan teknologi sejenis, 2 enyatakan menggunakan melakukan valuasi, dan ) menyatakan tidak i yang berarti harga ar. Metoda valuasi dapat
7 di bawah ini.
Metoda Valuasi
lisasi
manfaatannya komersial an kontribusi yang ap kegiatan litbang. udut pandang peneliti, lisasi litbang belum if yang memadai untuk i untuk lebih produktif
logi yang bermanfaat.
rd yang Diterima Responden
embandingkan eknologi sejenis
Perhitungan pihak profesional
Hasil penelitian menun meskipun komersialisasi telah 13 responden (41%) meny menerima reward apapun dari litbang. Responden lai menyatakan menerima rew royalty hanya berjumlah 6 resp responden yang menyataka reward dalam bentuk kesempa diklat luar negeri dan keter mengelola bisnis masing-ma responden (3%) dan selebihny responden (34%) menyatak reward dalam bentuk lain.
Arah Komersialisasi Litbang Meskipun dampak litbang dinilai belum membe sebagaimana diharapkan komersialisasi litbang d membuka peluang menguatn terhadap daya saing indust hingga saat ini tingkat kepe industri terhadap hasil litbang masih relatih rendah, namun h menunjukkan kecenderungan kemitraan dengan pihak indust
Gambar 9. Mitra Penerima Te
Data yang diperoleh bahwa pihak bisnis/IKM mer
0 enyatakan tidak ari komersialisasi lainnya yang reward berupa esponden (19%), akan menerima patan mengikuti terlibatan dalam masing hanya 1 nya sebanyak 11 takan menerima
ng
komersialisasi berikan dampak an, praktik di Indonesia atnya dukungan ustri. Meskipun percayaan pihak ng dalam negeri n hasil penelitian an terbangunnya ustri.
Teknologi
eh menunjukkan erupakan pihak
yang paling banyak d sebagai mitra pe Kecenderungan
komersialisasi litb tumbuhnya unit usaha peneliti.
Kendala Komersialisa Kendala yan responden, kebijakan lemah dirasakan oleh 28 responden (87,5%) sedikit diatas inte Berdasarkan keter kebijakan komersialis tidak hanya kebijaka umum melainkan juga di tingkat instansi in kerja.
Gambar 10.Spektrum Kend
Beberapa menyatakan bahwa ke dihentikan karena ad pimpinan baru di sa tersebut dikeluarkan dari kebijakan pim menghendaki fokus k lain. Hal ini menunjuk yang bersifat mikro keberlangsungan kom kebijakan mikro terseb satuan kerja atau pada Bisnis/IKM
dipilih oleh responden penerima teknologi. lainnya adalah litbang mendorong aha yang didirikan oleh
lisasi Litbang
ang dirasakan oleh an komersialisasi yang leh mayoritas responden %), namun intensitasnya ntensitas pembiayaan. terangan responden, alisasi yang dimaksud an pemerintah secara uga kebijakan pimpinan induk maupun satuan
endala Komersialisasi litbang
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
Simpulan
Kegiatan kajian ini telah menjawab permasalahan yang ada, yaitu menjawab kondisi real proses komersialisasi, permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan komersialisasi dan kebijakan yang diperlukan untuk mendorong komersialisasi hasil litbang nasional. Komersialisasi litbang di Indonesia diwarnai dengan berbagai proses-proses yang belum berjalan secara ideal dimana terminologi komersialisasi dipahami secara berbeda oleh para peneliti. Pemahaman berbeda tersebut terutama menyangkut pengertian tentang status, tahapan-tahapan serta dampak komersialisasi yang dikehendaki. Pada
umumnya menganggap bahwa
komersialisasi telah terjadi sepanjang telah ada pihak yang memanfaatkan hasil kegiatan litbang yang dihasilkannya meskipun secara kuantitas jumlahnya belum signifikan. Dengan demikian, perlu diciptakan pemahaman baru mengenai komersialisasi yang meliputi proses perencanaan hingga dampak yang dikehendaki dari komersialisasi tersebut.
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan komersialisasi di Indonesia adalah minimnya pendanaan kegiatan litbang, terutama pendanaan di sektor hilir untuk keperluan post harvesting. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan lemahnya peran unit pelaksana komersialisasi di lembaga litbang dan perguruan tinggi di Indonesia. Dengan demikian agenda penguatan peran unit pelaksana komersialisasi menjadi sangat mendesak. Lemahnya pembiayaan serta kebijakan komersialisasi yang lemah telah menyebabkan penguasaan hasil kegiatan litbang oleh peneliti sehingga kontra produktif dengan korporasi dan
profesionalisme yang menjadi semangat komersialisasi litbang di Indonesia.
Dengan demikian, meskipun telah dinyatakan berstatus komersial, namun dalam prosesnya terdapat berbagai faktor dan kendala yang berpengaruh terhadap keberhasilan komersialisasi. Komersialisasi yang terjadi belum mencerminkan proses yang memadai sehingga postur komersialisasi litbang di Indonesia belum dapat dikatakan berada dalam kondisi yang ideal. Adalah tugas Pemerintah untuk mendorong trasnformasi komersialisasi litbang terutama memfokuskan diri pada pengelolaan peluang-peluang yang dapat meningkatkan akselerasi pencapaian.
Usulan Rekomendasi Kebijakan
sebagai prioritas. Perlu dicatat bahwa faktor-faktor yang menyebebkan pelemahan manajemen komersialisasi litbang tersebut di atas merupakan kondisi yang terjadi pada level satuan kerja.
Manajemen komersialisasi litbang yang lemah telah menyebabkan terjadinya dominasi kontrol yang sangat kuat atas kegiatan litbang oleh peneliti. Kontrol tersebut biasanya mengarah pada tindakan-tindakan illegal licensing ataupun illegal
spin off. Illegal Licensing adalah pemberian
izin kepada pihak lain untuk menggunakan teknologi hasil litbang tanpa memperoleh izin yang sah dari instansi induk sebagai pemegang hak atas kekayaan intelektual milik negara. Sementara illegal spin-off adalah penggunaan teknologi hasil litbang dengan cara melakukan kegiatan bisnis yang dijalankan sendiri oleh peneliti tanpa memperoleh izin yang sah dari instansi induk sebagai pemegang hak atas kekayaan intelektual milik negara. Tindakan-tindakan tersebut di atas memunculkan adanya isu dekorporatisasi komersialisasi litbang yang dicirikan dengan pengalihan pengelolaan litbang dari domain negara (instansi induk) menuju domain privat (peneliti). Praktik semacam ini menyebabkan benefit yang diperoleh dari hasil komersialisasi litbang berpotensi untuk dikuasai secara perseorangann sehingga justru kontraproduktif dengan semangat alih teknologi.
Penyebab lainnya yaitu lemahnya dukungan terhadap kegiatan komersialisasi litbang terjadi pada level Pemerintah. Beberapa bentuk lemahnya dukungan Pemerintah tersebut terjadi antara lain berupa pembiayaan sektor hilir yang kurang
memadai. Harus diakui bahwa selama ini alokasi pembiayaan litbang masih dititikberatkan pada pembiayaan penelitian sementara pembiayaan pasca penelitian dirasakan belum cukup memadai. Bentuk-bentuk lainnya adalah kebijakan komersialisasi litbang yang oleh sebagian pelaku litbang dianggap belum jelas sehingga menimbulkan keraguan dan keengganan untuk melaksanakan komersialisasi litbang. Selain itu, dari perspektif industri diperoleh informasi bahwa kebijakan litbang tidak cukup menarik bagi industri untuk memanfaatkan teknologi dari lembaga litbang. Di samping bentuk-bentuk tersebut di atas, kebijakan antar kewenangan yang belum harmonis turut berkontribusi terhadap pelemahan dukungan terhadap komersialisasi litbang. Dalam beberapa kasus ditemukan bahwa beberapa lembaga litbang menghindari kegiatan komersialisasi litbang karena khawatir bahwa proses komersialisasi akan membawa memperolah penilaian negatif dalam pemeriksaan keuangan.
kinerja lembaga litbang atau perguruan tinggi. Meskipun sebenarnya praktik alih teknologi telah terjadi, dalam kondisi dukungan yang rendah dapat dipastikan bahwa alih teknologi dilakukan melalui komersialisasi di bawah tangan dengan
modus illegal licensing atau illegal spin-off. Roadmap mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan komersialisasi litbang tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
Gambar 11. Roadmap Faktor-faktor Pelemahan Komersialisasi Litbang dan Solusi Kebijakan
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan komersialisasi litbang tersebut di atas memunculkan beberapa isu kebijakan antara lain kebijakan pada level praktis berupa upaya penguatan manajemen dan dalam level Pemerintah dengan membangun insentif yang mendorong alih teknologi. Untuk menuju proses komersialisasi litbang yang dapat mencapai
tujuan alih teknologi perlu adanya arsitektur kebijakan yang kuat pada level praktis berupa upaya penguatan manajemen dan dalam level pemerintah dengan membangun insentif yang mendorong alih teknologi. Setidaknya ada empat hal pilar kebijakan yang diperlukan untuk mendukung komersialisasi litbang di Indonesia.
!
"
# $
%
%
& #'&( '(& # # ) ' *
& + #'&( # & # ' *$ & ' ,$ (#'&
'
' &
'
'
'
-(
* '
++& # ' &
Pertama, restrukturisasi pembiayaan litbang terutama yang berfokus pada skema-skema pendanaan litbang di sektor hilir. Hal ini dilakukan sejalan dengan penguatan kebijakan exit strategy, yaitu mengupayakan program-program yang mempercepat proses transformasi hasil-hasil litbang ke ranah pemanfaatan yang berdampak secara langsung bagi kegiatan ekonomi.
Kedua, perlu adanya rekonstruksi relasi litbang-pemerintah-industri dengan skema-skema pendanaan litbang yang tidak hanya memberikan fasilitas kepada lembaga litbang dan perguruan tinggi melainkan juga yang memberikan insentif bagi dunia industri.
Ketiga, pembinaan dan penguatan kapasitas alih teknologi yang difokuskan pada peningkatan kapasitas manajemen
komersialisasi litbang. Program-program pembinaan dalam bentuk pendidikan, pelatihan dan peningkatan kapasitas menjadi alternatif yang efektif untuk melakukan pembinaan manajemen komersialisasi litbang, dan intensifikasi temu bisnis/bisnis forum.
DAFTAR PUSTAKA
Aimana, Syahrul., Erman Aminullah and Manaek Simamora. 2007. Commercialization of Public
R&D in Indonesia. National Workshop on ‘Sub-national Innovation Systems and
Technology Capacity Building Policies to Enhance Competitiveness of SMEs’ April 3-4. Jakarta
Agnani, Betty., dkk. 2007. R&D Policy in Economies with Endogenous Growth and
Non-Renewable Resources. Journal of Economic Literature. Bilbao
Aoyama, Mikio. Co-Evolutionary Service-Oriented Modelof Technology Transfer in Software
Engineering.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2012. Panduan Pengukuran Tingkat Kesiapan
Teknologi : TEKNO-METER. Gerbang Indah Nusantara. Jakarta
Barton, John H., 2007. New Trends in Technology Transfer : Implications for National and
International Policy. International Centre for Trade and Sustainable Development
(ICTSD). Switzerland
Carayannis, Elias G., 1998. Achieving Success and Managing Failure in Technology Transfer
and Commersialization : Lesson Learned from US Government R&D Laboratories.
International Journal of Technology Management. Vol.17, Number ¾.
Dhewanto, Wawan dan KK Umam. 2009. Technology Commercialisation in Indonesia: Current
Condition and Its Challenges. The Asian Journal of Technology Management : Volume
2, Number 1
Economic Policy Unit. A Practical Guide to Policy Making in Northern Ireland. Policy First Minister and Deputy First Minister. Belfast
Edi, Ragil Yoga dan Bambang Subiyanto. Analisi Kasus Terhambatnya Pemberian Royalti
Kepada Inventor Atas Hasil Alih Teknologi Kegiatan Litbang.
Etro, Federico., Global innovation and R&D Policy Coordination. Journal of Economic Literature
Geisler, Eliezer. THE METRICS OF TECHNOLOGY EVALUATION: WHERE WE STAND AND
WHERE WE SHOULD GO FROM HERE. Annual Technology Transfer Society Meeting,
July 15-17, 1999 STUART WORKING PAPER 99-03
Glass, Amy Jocelyn and Kamal Sagi. International technology transfer and the technology gap. Journal of Development Economic, Vol. 55 1998. 369–398
Gurbiel, roman. 2002. IMPACT OF INNOVATION AND TECHNOLOGY TRANSFER ON
ECONOMIC GROWTH: THE CENTRAL AND EASTERN EUROPE EXPERIENCE.
Warsaw School of Economics. Poland
Harmon, Brian and Members. 1997. Mapping The University Technology Transfer Process. Journal of Business Venturing 12. 423-434
Hu, lbert G.Z., Gary H. Jefferson and Qian Jinchang. R&D and Technology Transfer:
Khalozadeh, Farhad and members. 2011. Reengineering University–Industry Interactions:Knowledge-Based Technology Transfer Model. European Journal of
Economics, Finance and Administrative Sciences ISSN 1450-2275 Issue 40
Klette, Tor Jakob., Jarle Moen., Zvi Griliches. 2000. Do subsidies to commercial R&D reduce
market failures? Microeconometric evaluation studies. JEL classification: O30; O40; L10
Lach, Saul and Mark Schankerman. 2003. Royalty Sharing and Technology Licensing in
Universities. JEL No. 031, 034, L3, LOl
Lee, Kleinman Daniel. 2000. Scince, Technology and Democracy. State University of New York. United State of America
Lee, Thealzel and member. 2004. Commercialization Success in Early Stage Technology
Companies. ROCKET BUILDERS. Canada
Magnusson, Mats., Maureen McKelvey, Matteo Versiglioni. The Forgotten Individuals : Attitude
and Skills in Academic Commercialization in Sweden. Institute for Management of
Innovation and Technology. Sweden
Martey, Edward., Ramatu M. Al Hassan., and John K. M. Kuwornu. Commercialization of
smallholder agriculture in Ghana: A Tobit regression analysis. African Journal of
Agricultural Research Vol. 7(14), pp. 2131-2141
Meridian Institute. 2011. Post-Harvest Technology Commercialization Initiative Concept Note :
Innovations for Agricultural Value Chains in Africa. Meridian Institute. Washington DC
MIT TLO. 2005. An Inventor’s Guide to Technology Transfer at the Massachusetts Institute of
Technology. MIT. Cambridge
Mojaveri HS, Nosratabadi HE, Farzad Hossein, 2011, A New Model for Overcoming
Technology Transfer Barriers in Iranian Health System. International Journal of Trade,
Economics and Finance : Vol. 2, No. 4
Paun, Florin., Demand Readiness Level" (DRL), a new tool to hybridize Market Pull and
Technology Push approaches : Introspective analysis of the new trends in Technology Transfer practices. JEL Code : O14, O3, O44
OECD., 2004. Science and Innovation Policy : Key Challenges and Opportunities. OECD observer
OECD. 1996. INTELLECTUAL PROPERTY,TECHNOLOGY TRANSFER AND GENETIC
RESOURCES. Head of Publication Service OECD. France
Office of Inspector General. 2012. AUDIT OF NASA’S PROCESS FOR TRANSFERRING
TECHNOLOGY TO THE GOVERNMENT AND PRIVATE SECTOR. NASA
Perry , Thomas D., 2010. Ampulse Corporation: A Case Study on Technology Transfer in U.S.
Department of Energy Laboratories. National Renewable Energy Laboratory. Colorado,
US.
Samimi , Ahmad Jafari and Seyede Monireh Alerasoul. 2009. R&D and Economic Growth: New
Evidence from Some Developing Countries. Australian Journal of Basic and Applied
Schacht , Wendy H., 2011. The Bayh-Dole Act: Selected Issues in Patent Policy and the
Commercialization of Technology. Congressional Research Service. US
Seres, Sthephen. 2008. Analysis of Technology Transfer in CDM Projects. Canada
Shibata, Naoki., Yuya Kajikawa and Ichiro Sakata. 2010. Technological Forecasting & Social
Change. Technological Forecasting & Social Change 77 (2010) 1147–1155.
Stig, Daniel Corin., Ulf Hogman, Dag Bergsjo. 2011. Assesment of Readiness for Internal
Technology Transfer-A case Study. INCOSE
Stone, Vathsala I., members 2010. Beyon Technology Transfer : Quality of Life Impacts from
R&D Outcomes. Volume 6, No. 1
Tim Forsyth Chatam House. 2005. Partnerships for Technology Transfer : How can investors
and communities build renewable energy in Asia? The Royal Institute of International
Affairs
Tomlinson, Shane., Pelin Zorl and Claire Langley. 2008. Innovation and Technology Transfer :
Framework for a Global Climate Deal. E3G & Chatam House. London
UNCTAD, 2011, Transfer of Technology. United Nation Publication, Switzerland. UNESCO. 2005. Towards Knowledge Societies. UNESCO Publishing. France
UNIDO and the World Summit on Sustainable Development. 2002. Innovative Technology
Transfer Framework Linked to Trade for UNIDO Action. UNIDO. Vienna
United Nations Framework Convention on Climate Change. 2010. THE CONTRIBUTION of the
Clean Development Mechanism under the Kyoto Protocol TO TECHNOLOGY TRANSFER. UNFCCC. Bonn, Germany
US. Departement of Energy. 2007. Stage-Gate Innovation Management Guidelines. Version 1.3. United State
Wahab, SA., Rose, RC., Uli, Jegak., Abdullah, Haslinda., 2009, A Review on the Technology
Transfer Models, Knowledge-Based and Organizational Learning Models on
Technology Transfer, European Journal of Social Sciences : Volume 10, Number 4 Zerfass, Ansgar., 2005. Innovation Readiness A Framework for Enhancing Corporations and