• Tidak ada hasil yang ditemukan

Catatan Perjalanan Industri Perunggasan id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Catatan Perjalanan Industri Perunggasan id"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Catatan Penting Perjalanan Industri Perunggasan Indonesia

Oleh : Dedy Kusmanagandi

Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia

Meskipun tidak berhasil meningkatkan konsumsi daging ayam masyarakat menjadi dua kali lipat, namun perjalanan industri perunggasan Indonesia mencatat pertumbuhan yang mengesankan. Dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta, pemerataan pendapatan masyarakat menjadi persoalan sehingga konsumsi daging ayam penduduk Indonesia belum berhasil mencapai angka dua digit perkapita pertahunnya. Angka 9 kg perkapita pertahun ini tetap berada dibawah konsumsi penduduk Malaysia, Thailand, dan Singapura. Namun demikian pertumbuhan produksi pakan yang mencapai 10,4% per tahunnya dalam lima tahun terakhir, memberikan suatu pertanda bahwa Indonesia memiliki potensi pasar internal yang besar dan menggeliat di kawasan Asia Tenggara. Ditengah meningkatnya biaya produksi perunggasan karena pembatasan impor jagung dan meningkatnya harga bahan baku pakan, pasar dalam negeri Indonesia tumbuh dengan sangat cepat, bahkan merupakan salah satu yang terpesat di dunia. Pertumbuhan ini tentu harus digaris bawahi, karena optimisme yang begitu tinggi dari stake holder perunggasan sehingga menyebabkan produksi unggas dan telur dalam kwartal tertentu, melebihi kemampuan daya serap pasar.

Kenaikan biaya pokok produksi pakan ternyata tidak bisa terhindarkan, meskipun pabrik pakan berproduksi pada kapasitas terpasang optimal ; 90 sampai 95%. Selain menggerus laba perusahaan pakan, situasi ini menorehkan luka cukup dalam bagi usaha peternak mandiri yang mencoba bertahan dengan upaya swakelola pakan (Self Mixing Farm), dimana harga jual telur sempat terpuruk lebih dari satu kwartal. Bila dihitung dengan sektor peternak mandiri, produksi pakan nasional diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta ton, dengan kontribusi jagung lokal cukup signifikan. Peran peternak mandiri dalam usaha peternakan ayam petelur masih cukup dominan meskipun berbagai kesulitan menghadang, termasuk ancaman penyakit Avian Influenza H9N2 yang menyebabkan produksi telur menurun tajam. Diperkirakan penyerapan pakan pabrik oleh sektor ayam petelur ini mencapai sepertiga dari produksi nasional atau sekitar 35 persen. Dari jumlah ini sebagian merupakan pakan jenis konsentrat yang memerlukan tambahan jagung dan dedak yang diperoleh peternak dengan berbagai upaya, sehingga jumlah penggunaan pakan ayam petelur yang sebenarnya bisa dua sampai tiga kali dari jumlah yang diperoleh dari pabrik pakan yang jumlahnya saat ini sekitar 80 pabrik dengan kapasitas produksi 19 juta ton.

(2)

dimana kualitas bahan pakan yang sering kali marginal, infra struktur kandang, peralatan, biosekuriti yang terbatas, demikian pula dengan kualitas bibit ayam yang diperoleh peternak yang terkadang tidak stabil.

Dari populasi ayam petelur nasional sekitar 160 juta ekor, hasil produksi telur pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 1,5 juta ton. Dengan populasi penduduk Indonesia 250 juta orang, maka konsumsi telur ayam ras rata-rata penduduk adalah 6,0 kg perkapita pertahun. Berdasarkan hal ini sebenarnya apabila konsumsi telur meningkat maka populasi ayam petelur harus ditingkatkan terutama di luar pulau Jawa yang arealnya masih sangat luas. Sedangkan kawasan padat ternak seperti Blitar – Kediri – Tulung Agung, Jawa Timur, satu daerah terpadat populasi ayam petelur di Indonesia adalah dengan kebiajakan proteksi kawasan. Kawasan strategis perunggasan seperti ini, karena padatnya populasi, jarak kandang yang relative berdekatanan, adanya perbedaan tingkat pengetahuan peternak, memerlukan proteksi khusus berupa kebijakan perlindungan terhadap ancaman wabah, aksi ancaman terorisme bioteknologi, serta penguatan ekonomi kawasan dalam pengadaan input produksi peternakan dan infra struktur pendukung lainnya. Dengan populasi ayam petelur mencapai 30 juta dan puluhan ribu orang terlibat dalam berbagai kegiatan produksi hingga pemasaran, maka sangat beralasan jika kebijakan mengenai Biosekuriti Kawasan juga menjadi prioritas kebijakan pemerintah pusat dengan dukungan penuh pemerintah daerah. Kawasan Blitar juga menjadi penyangga produksi ayam pedaging bagi Surabaya, karena kawasan urban yang tadinya merupakan sentra perunggasan kini tergeser oleh kawasan perumahan, sehingga lokasi peternakan semakin menyebar ke daerah-daerah penyangga ibu kota Jawa Timur.

Kawasan padat perunggasan seperti ini pernah dimiliki Jawa Barat pada rentang waktu 1980 an hingga medio 1990 an, yaitu kawasan Bogor – Tanggerang – Bekasi. Belajar dari pengalaman bahawa ternyata banyak peternak di kawasan ini yang tidak berhasil melewati krisis moneter, maka pemahaman mengenai manajemen resiko beserta penerapannya merupakan salah satu upaya memperkuat basis ketahanan pangan nasional untuk subsektor peternakan unggas. Hal ini juga bercermin dari kejadian yang menimpa peternakan ayam petelur, yaitu munculnya penyakit Flu Burung varian baru pada kwartal akhir 2016 hingga tahun 2017, yang pengendalian dan penyebarannya tidak dapat diantisipasi dengan baik, sehingga menyebabkan kerugian peternak cukup lama.

Kepekaan peternak ayam petelur nasional - yang hingga akhir tahun 2017 masih didominasi oleh peternak mandiri - dalam melihat suatu ancaman terhadap keberlangsungan usaha ternaknya merupakan suatu yang wajar terjadi, mengingat semakin terkikisnya jumlah peternak mandiri di sektor peternakan ayam broiler. Sesungguhnya ancaman tersebut bukan hanya dalam politik peternakan, berupa keberpihakan pemerintah yang dituangkan dalam berbagai kebijakan, tetapi juga dalam keekonomian usaha ternak unggas, dominasi bahan baku pakan oleh pihak-pihak tertentu, wabah penyakit menular, hingga kebijakan mengenai penggunaan Antimikroba dalam bidang peternakan-pun oleh peternak dapat diproyeksikan menjadi suatu ancaman.

(3)

yang biasa mereka lakukan, maka akan timbul masalah dalam sistem budidaya ternaknya. Secara ringkas, ancaman yang timbul dari kebijakan ini adalah bahwa dengan pelarangan penggunaan antimikroba ini budi daya unggas hanya akan berhasil bila peternak melakukan biosekuriti dengan sangat ketat dan seksama. Dan hal itu hanya bisa dilaksanakan bila peternak melakukannya dengan sistem kandang Closed House. Jadi ancaman yang tersembunyinya adalah permodalan, dan peternak menafsirkannya sebagai upaya seleksi terhadap peternak mandiri.

Sekitar 80 persen peternak di daerah padat ternak ayam petelur Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan menyatakan tidak mampu jika harus memiliki kandang Close House. Usaha mereka sesungguhnya merupakan mata pencaharian sehari-hari, dan bukan merupakan aktivitas korporasi yang bertujuan mengumpulkan keuntungan sebesar-besarnya. Dengan populasi ayam sekitar 20 ribu ekor yang mereka pelihara, dan beternak selama 20 tahun mungkin mereka dapat mempunyai kandang Close House, tetapi mereka harus mengorbankan biaya sekolah anak-anak, mengurangi biaya harian, menurunkan gizi makanan, dan yang lebih tragis lagi bila mereka juga harus berhenti berderma, bersedekah, atau membantu orang-orang yang kesulitan. Jadi jika ada kebijakan yang ditafsirkan hanya menguntungkan kelompok kuat modal, kita dapat memaklumi bahwa para peternak ayam petelur khawatir jika hal ini merupakan titik awal yang akan mereka alami seperti saudara-saudaranya di sektor ayam broiler.

Jadi bagaimana peternakan ayam broiler di Indonesia saat ini ? Sektor ayam broiler mengkonsumsi sekitar 52 persen produksi pakan nasional. Kalau produksi pakan tahun 2016 sekitar 13.5 juta ton, maka ayam broiler menyerap sekitar 7 juta ton pakan. Dengan produksi pakan sebesar ini, maka dengan rata-rata FCR 1,65 sebetulnya pabrik pakan sanggup untuk menyiapkan pakan untuk kebutuhan ayam broiler hingga jumlah populasi 4 milyar ekor setiap tahunnya. Pakan unggas merupakan lokomotif industri perunggasan. Ia juga merupakan cash cow bagi industri pembibitan, pengolahan, budi daya, serta industri pendukung lain yang berada dalam satu atap sebuah perusahaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Industri komersial ayam pedaging adalah industri hilir seleksi genetik dengan mengoptimalkan kemampuan tubuh ayam dalam mengkonversi bahan baku nabati menjadi protein hewani. Oleh karena itu bisnis sebenarnya dari ayam broiler adalah bisnis pakan. Bisnis yang sangat dominan dipengaruhi oleh harga, kualitas, teknologi, dan benefit pakan ternak.

(4)

Harga pakan merupakan faktor utama daya saing perunggasan suatu Negara, dan harga pakan sangat bergantung kepada ketersediaan dan harga bahan baku yang juga kompetitif di tingkat dunia. Untuk menyediakan bahan baku seperti ini rasanya tidak mungkin terjadi apabila hanya didukung oleh satu kementerian. Peluang turunnya harga pakan memang dimungkinkan apabila uji coba jenis bibit ungggul jagung hibrida baru berhasil yang dikabarkan dapat menghasilkan lebih dari 15 ton perhektar. Namun untuk menghasilkan produksi jagung yang memadai diperlukan lahan yang luas, yang hanya dapat tersedia dan terlaksana apabila ada kerjasama lintas sektoral, keberpihakan pemerintah yang tegas, serta komitmen kenegarawanan untuk meningkatkan dan mengembangkan pertanian terpadu.

Meningkatnya konsumsi daging ayam, akan menyebabkan total pasar pakan ayam nasional semakin besar. Upaya ini harus dilakukan secara sistematis dan menjangkau masyarakat luas, bukan sekedar seremonial – berkerumunnya stake holder peternakan dalam suatu acara. Meningkatnya konsumsi tentu harus diimbangi oleh meningkatnya produksi. Peningkatan produksi ini diharapkan tumbuh bukan hanya dari industri besar, tetapi juga akan terbentuk segmen budidaya baru, yang merupakan kerjasama antara industri dengan masyarakat. Konsep Kemitraan Syariah Perunggasan (KSP) yang pernah digagas di Jawa Barat, dinilai para pengamat cukup realistis dan merupakan suatu keniscayaan untuk dilaksanakan misalnya dengan menggandeng kelompok pesantren, lembaga sosial kemasyarakatan, atau organisasi masa yang memiliki basis masa yang tersebar di berbagai daerah. Kedepan, apabila ada keberpihakan dan ketertarikan dari berbagai usaha korporasi agribisnis dan agroindustri, sistem budi daya kemitraan juga dapat dilakukan di badan usaha yang memiliki lahan luas baik yang dimiliki BUMN ataupun kelompok perkebunan besar swasta nasional.

Upaya meningkatkan konsumsi unggas per kapita sangat berkaitan dengan pendapatan personal dan konsumsi dari masyarakat yang pada beberapa sektor berfluktuasi. Selera masyarakat sangat berpengaruh terhadap jumlah dan frekuensi dalam mengkonsumsi.makanan ayam. Minat untuk mengkonsumsi ayam ini tidak tinggi karena keterbatasan dalam mengolah daging ayam yang secara umum hanya dikenal dengan dua cara yaitu digoreng dan dibakar. Keterbatasan pengolahan ini seringkali menyebabkan kebosanan, apalagi jika rasanya tidak banyak berbeda.

Produktifitas perunggasan Indonesia adalah kunci agar produk unggas kompetitif. Namun untuk memiliki kemampuan ekspor, hal itu saja tidak cukup. Strategi pengendalian penyakit menular justru sangat diuatamakan oleh beberapa negara yang mengimpor produk unggas. Surveyllance, Kompartementalisasi, Vaksinasi, Biosekuriti, dan Sertifikasi adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh Otoritas Veteriner agar tidak ada hambatan bagi produk unggas Indonesia ketika diekspor ke mancanegara. Standarisasi seperti ini dapat dilajutkan secara bertahap kepada semua sektor budidaya unggas termasuk Contract Farming. Contract farm harus terstandarisasi dan memiliki penanggung jawab teknis kesehatan unggas sebagai karyawan tetap. Program medikasi yang melibatkan penggunaan obat keras, vaksin, dan obat injeksi hanya boleh dibuat oleh tenaga kesehatan Hewan professional yang bersertifikat.

Catatan penting dalam perjalanan Industri perunggasan adalah Amerika Serikat meluncurkan

(5)

telah menjalankan administrasi yang bersifat sangat protektif , dimana administrasi ini memaksa negara-negara lain untuk memperbolehkan eksport daging Amerika atau sebaliknya akan dilarang memasuki pasar Amerika yang besar dan menguntungkan. Jika Indonesia dipaksa untuk membuka jalan masuk impor daging ayam dari Amerika Serikat, maka Indonesia harus memilih: Apakah akan terus melindungi petani jagung dan membiarkan harga jagung menjadi berlipat dibandingkan harga di pasar dunia dan berujung pada hilangnya kemampuan dari sektor perunggasan untuk menghasilkan keuntungan.

Referensi

Dokumen terkait

UPTD PENDIDIKAN KE?AMATAN PARAKANSALAK  SEKOLAH DASAR NEGERI I BALANDONGAN. NPSN

Menurut Martina (2010) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi diantaranya 1) faktor personal dengan indikator berupa sikap, motivasi, kepercayaan, pengalaman dan pengharapan

struktur bawah permukaan lebih dalam, maka spasi masing-masing elektroda arus dan elektroda potensial ditambah secara bertahap. Semakin besar spasi elektroda, maka

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan observer adalah semua tahap pembelajaran pada model ARIAS sudah optimal dan berjalan dengan baik sehingga kemampuan

Aktivitas yang terkait dalam membangun sistem traceability antara lain pemeriksaan level stock dan produk minuman sari buah, penerimaan material dari pemasok, pembongkaran

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kinerja Pusat Kerjasama Luar Negeri tahun 2012 sangat efisien dan efektif, Walaupun serapan anggaran yang dihasilkan belum

17. Kerajaan Mongol yang kasar dan tidak beradab telah menakluk Baghdad pada 656H. Dengan mempamerkan ajaran Islam yang mulia, masyarakat Islam pada ketika itu telah

Pengolahan secara fisik ini dilakukan yaitu untuk mengurangi safat fisik air buangan seperti zat padat, baik pasir atau zat padat kasar terapung maupun terlarut, dalam pengolahan