BAB II TINJAUAN PUSTAKA

20  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan

2.1.1. Definisi pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekadar menjawab pertanyaan “what”, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya. Pengetahuan merupakan hasil tahu dari manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang lain (Notoatmodjo, 2010).

2.1.2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan terbagi atas enam tingkatan yang dicapai dalam domain kognitif, yaitu :

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Hal ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, karena mengukur pengetahuan seseorang dapat dilakkan dengan cara menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan. menyatakan dan sebagainya.

2. Memahami (Comprehention)

Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat melaksanakan materi tersebut secara benar, seseorang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat

(2)

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya atau penggunaan hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menerangkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisa ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, mengelompokkan dan seperti sebagainya. Analisis merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memisahkan dan sebagainya.

5. Sintesa (Syntesis)

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formasi baru dari berbagai informasi yang ada misalnya dapat menyusun, menggunakan, meringkas dan menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. 6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).

2.1.3. Cara Memperoleh Pengetahuan

Cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :

1. Cara tradisional atau non ilmiah terdiri dari: a. Cara coba–salah (Trial and Error)

(3)

Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan. Cara coba coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa kemungkinan dalam memecahkan masalah. Apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.

b. Secara kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan.

c. Cara kekuasaan atau otoritas

Kebiasaan seperti ini bukan hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan ini seolah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal. Para pemuka agama, pemegang pemerintahan dan lain sebagainya.

d. Berdasarkan pengalaman sendiri

Pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.

e. Cara akal sehat (common sense)

Akal sehat atau common sense terkadang dapat menemukan teori atau kebenaran. Misalnya pemberian hadiah dan hukuman merupakan cara yang masih dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak dalam konteks pendidikan.

f. Kebenaran melalui wahyu

Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran ini harus diterima dan diyakini oleh

(4)

pengikut agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut rasional atau tidak.

g. Kebenaran secara intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat melalui proses di luar kesadaran dan tanpa melalui proses penalaran atau berpikir. h. Melalui jalan pikiran

Manusia mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan yang khusus kepada yang umum dinamakan induksi sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan umum ke khusus.

2. Cara ilmiah atau modern

Cara baru dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau metodologi penelitian

(research metodology). Bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasinlangsung dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek yang diamatinya. Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok :

a. Segala sesuatu yang positif yaitu gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan.

b. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan.

c. Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu (Notoatmodjo, 2010).

2.1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003) adalah:

(5)

Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain. 2. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang atau lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi. Pendidikan meliputi peranan penting dalam menentukan kualitas manusia. Dengan pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas karena pendidikan yang tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang berkualitas.

3. Paparan media massa

Melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik maka berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa akan memperoleh informasi yang lebih banyak dan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki.

4. Sosial ekonomi (pendapatan)

Dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun sekunder keluarga, status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding orang dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang semakin mudah dalam mendapatkan pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas. 5. Hubungan sosial

(6)

Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi media. Apabila hubungan sosial seseorang dengan individu baik maka pengetahuan yang dimiliki juga akan bertambah.

6. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal biasanya diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses pengembangan misalnya sering mengikuti organisasi.

2.2. Kehamilan

2.2.1. Pengertian Kehamilan

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi (Wiknjosastro, et al, 2012). Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung dan terdiri dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm (Manuaba, et al, 2010). 2.2.2. Tanda dan Gejala Awal Kehamilan

a. Amenorrhoea

Gejala pertama kehamilan ialah haid tidak datang pada tanggal yang diharapkan. Bila seorang wanita memiliki siklus haid teratur dan mendadak berhenti, ada kemungkinan hamil. Tetapi meskipun demikian sebaiknya ditunggu selama 10 hari sebelum memeriksakan diri ke dokter. Karena sebelum masa itu sulit untuk memastikan adanya kehamilan.

(7)

Haid yang terlambat pada wanita berusia 16-40 tahun, pada umumnya memang akibat adanya kehamilan. Tetapi kehamilan bukanlah satu-satunya penyebab keterlambatan haid. Haid dapat tertunda oleh tekanan emosi, beberapa penyakit tertentu, dan juga akibat makan obat-obatan tertentu.

Selain kehamilan, penurunan berat badan dan tekanan emosi juga sering menjadi penyebab keterlambatan haid pada wanita yang semula mempunyai siklus normal.

b. Perubahan pada payudara

Banyak wanita merasakan payudara memadat ketika menjelang haid. Bila terjadi kehamilan, gejala pemadatan bersifat menetap dan semakin bertambah. Payudara menjadi lebih padat, kencang dan lebih lembut, juga dapat disertai rasa berdenyut dan kesemutan pada puting susu.

Perubahan di atas disebabkan oleh tekanan kelamin wanita, estrogen, dan progesterone yang dihasilkan oleh uri (plasenta). Hormon-hormon ini menyebabkan saluran dan kantong kelenjar susu membesar, dan tertimbun lemak di daerah payudara. Rasa kesemutan dan berdenyut disebabkan oleh bertambahnya aliran darah yang mengaliri payudara.

c. Mual dan muntah-muntah

Kira-kira separuh dari wanita yang hamil mengalami mual dan muntah-muntah, dengan tingkat yang berbeda-beda, biasanya cukup ringan dan terjadi dipagi hari (morning sickness). Penyebabnya tidak diketahui, tetapi juga dapat disebabkan oleh karena peningkatan kadar hormon yang diproduksi selama hamil. Sesudah 12 minggu gejala-gejala itu biasanya menghilang, karena tubuh sudah menyesuaikan diri.

d. Sering kencing

Pada awal kehamilan ginjal bekerja dan kantong kencing cepat penuh. e. Perubahan Fisik dan Psikologis yang Terjadi pada Wanita Hamil

(8)

- Berhenti menstruasi

- Letih dan mudah mengantuk - Sering buang air kecil

- Mual dengan atau tanpa muntah

- Rasa panas dalam perut dan menggangu pencernaan - Enggan makan dan mengidam

- Pembesaran pada payudara (Stoppard, 2006)

2.2.3. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin 1. Trimester pertama (0-12 minggu)

Trimester pertama ini ditandai dengan pembelahan sel (hiperplasia) dan pembesaran sel (hipertrofi) untuk proses diferensiasi. Pada minggu ke-12 gestasi, uterus biasanya teraba tepat di atas simfisis pubis, dan panjang kepala-bokong janin adalah 6 hingga 7 cm. Pusat penulangan telah timbul pada sebagian besar tulang janin, jari tangan dan kaki juga telah berdiferensiasi. Kulit dan kuku telah berkembang dan muncul tunas-tunas rambut yang tersebar. Genitalia eksterna mulai memperlihatkan tanda pasti jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Janin mulai melakukan pergerakan spontan (Cunningham, et al, 2009).

Pada akhir trimester pertama, sebagian besar organ telah terbentuk dan janin sudah terasa bergerak. Pada masa ini ibu mungkin kurang nafsu makan atau merasa mual dan ingin muntah, di saat-saat ini mutu gizi makanan lebih penting dari jumlah makanan (Almatsier, et al, 2011).

2. Trimester kedua (12-28 minggu)

Pada awal trimester II berat janin kurang lebih mencapai 30 gram. Pada saat ini, lengan, tangan, kaki, jari, dan telinga telah terbentuk. Janin mulai membentuk

(9)

lekuk-lekuk pada rahang untuk mempersiapkan penempatan gigi. Denyut jantungnya sudah dapat dideteksi dengan stetoskop (Almatsier, et al, 2011).

Pada akhir trimester kedua, panjang kepala-bokong sekitar 25 cm, dan berat janin sekitar 1100 gram. Bentuk tubuh janin saat ini sudah menyerupai bayi dan bayi normal yang dilahirkan pada usia ini memiliki 90% kemungkinan untuk bertahan hidup tanpa hendaya fisik atau neurologis (Cunningham, et al, 2009).

3. Trimester ketiga (28-40 minggu)

Memasuki trimester ketiga, berat janin kurang lebih 1 kg. Pada minggu ke-36 sampai minggu ke-40 gestasi, berat bayi biasanya mencapai 2500-3400 gram dengan panjang sekitar 32-36 cm. Pada akhir trimester ketiga merupakan periode saat janin dianggap aterm menurut usia kehamilan dan janin telah berkembang sempurna (Cunningham, et al, 2009).

2.2.4. Perubahan Fisiologis Selama Kehamilan yang Berhubungan Dengan Nutrisi

1. Perubahan metabolik

Sebagai akibat dari peningkatan sekresi dari berbagai macam hormon selama masa kehamilan, termasuk tiroksin, adrenokortikal dan hormon seks, maka laju metabolisme basal pada wanita hamil meningkat sekitar 15 % selama mendekati masa akhir dari kehamilan. Sebagai hasil dari peningkatan laju metabolisme basal tersebut, maka wanita hamil sering mengalami sensasi rasa panas yang berlebihan. Selain itu, karena adanya beban tambahan, maka pengeluaran energi untuk aktivitas otot lebih besar daripada normal (Guyton, 2006). Diperkirakan selama kehamilan berat badan akan bertambah 12,5 kg. Kenaikan berat badan ini terjadi terutama dalam kehamilan 20 minggu terakhir. Kenaikan berat badan disebabkan oleh: 1) hasil konsepsi: fetus, plasenta, dan likuor amnii; dan 2) dari ibu sendiri: uterus dan mamma yang membesar, volume darah yang meningkat, lemak dan protein lebih banyak, dan akhirnya adanya retensi air (Wiknjosastro, et al, 2012).

(10)

Asupan nutrisi pada ibu hamil harus adekuat agar peningkatan berat badan pada ibu hamil juga adekuat. Peningkatan berat badan yang kurang selama kehamilan dapat menyebabkan luaran bayi BBLR yang dapat menyebabkan kematian. Di sisi lain, obesitas ibu atau asupan nutrisi yang terlalu banyak selama kehamilan dapat menyebabkan IUGR (Intrauterine Growth Retardation). Oleh karena itu, pemenuhan nutrisi yang tepat sangat penting selama kehamilan.

Tabel 2.1 Rekomendasi penambahan berat badan berdasarkan IMT

Kategori IMT Rekomendasi (kg)

Rendah <19,8 12,5-18

Normal 19,8-26 11,5-16

Tinggi 26-29 7-11,5

Obesitas >29 ≥7

Gemeli 16-20,5

Sumber : Ilmu Kebidanan, 2012

2. Volume dan Komposisi Darah

Peningkatan volume darah pada kehamilan dinyatakan dalam persentase terhadap wanita yang tidak hamil, yaitu sekitar 35-40%, peningkatan volume plasma sekitar 45-50%, volume sel darah merah sekitar 15-20% pada trimester ketiga. Karena pembesaran sel darah merah secara proporsional kurang dari peningkatan plasma, maka kadar hemoglobin dan hematokrit terlihat sangat menurun. Kadar Hb dan Ht ini menurun pada trimester kedua kehamilan kemudian meningkat lagi pada trimester ketiga oleh karena itu, penurunan kadar Hb dan Ht memungkinkan untuk tes penyaringan wanita hamil terhadap anemia. Kadar dalam plasma dari kebanyakan fraksi lemak, termasuk trigliserol, VLDL, LDL, dan HDL meningkat selama kehamilan (As’ad, 2002).

3. Fungsi Ginjal

Pada kehamilan terjadi peningkatan penyaringan glomerulus (glomerulus filtration rate) sampai 69%. Hal ini disebabkan oleh peningkatan sirkulasi darah di

(11)

ginjal selama kehamilan (Wiknjosastro, et al, 2012). Selain itu, peningkatan penyaringan glomerulus ginjal mungkin juga disebabkan karena menurunnya tekanan osmotik. Penurunan tekanan osmotik terjadi karena adanya penurunan albumin serum selama kehamilan (Almatsier, et al, 2011). Peningkatan penyaringan glomerulus ini memperberat kerja tubulus ginjal dalam penyerapan nutrisi, sehingga pada kehamilan normal dapat terjadi kehilangan glukosa dan protein dalam urin. Oleh karena itu, asupan nutrisi pada ibu hamil harus adekuat sehingga tidak terjadi kekurangan energi dan protein.

4. Sistem Pencernaan

Pada bulan-bulan pertama akan terdapat perasaan mual. Hal ini mungkin disebabkan peningkatan kadar estrogen. Tonus-tonus otot sistem pencernaan menurun, sehingga motilitasnya pun berkurang (Wiknjosastro, et al, 2012). Hal ini baik untuk resorpsi, namun lebih lamanya makanan dicerna dan diserap dapat menimbulkan beberapa keluhan. Berkurangnya gerak saluran cerna dapat meningkatkan resiko arus balik ke esofagus. Pola makan selama kehamilan harus diperhatikan agar meskipun motilitas saluan cerna berkurang, refluks ke esofagus tidak terjadi. Di samping itu, absorpsi air di usus besar meningkat, sehingga feses lebih keras yang menimbulkan konstipasi (Almatsier, et al, 2011). Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengkonsumsi serat yang cukup untuk mengatasi konstipasi.

2.3.Gizi Ibu Hamil 2.3.1. Pengertian Gizi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses pencernaan, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. (Supariasa, et al, 2002). Gizi meliputi pengertian yang luas, tak hanya mengenai jenis-jenis pangan dan gunanya bagi badan melainkan juga mengenai

(12)

cara-cara memperoleh serta mengolah dan mempertimbangkan agar kita tetap sehat (Werner, et al, 2010).

Zat gizi juga dapat dibagi dalam zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro terdiri dari karbohidrat, lemak, dan protein. Satu gram karbohidrat atau protein menghasilkan 4,1 kkal energi, sedangkan satu gram lemak menghasilkan 9,3 kkal energi (Almatsier, et al, 2011). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII 2004 menganjurkan perbandingan komposisi energi berasal dari karbohidrat, protein, dan lemak secara berurutan adalah 50-60%, 10-20%, dan 20-30%.

Zat gizi mikro terdiri dari vitamin, mineral, dan air. Vitamin dan mineral berperan dalam berbagai reaksi biokimia dalam tubuh. Air berperan sebagai pelarut dan pelumas dalam tubuh, dan sebagai alat transport zat-zat gizi serta sisa-sisa pencernaan dan metabolisme (Almatsier, et al, 2011).

2.3.2. Kebutuhan Nutrisi Selama Kehamilan a. Energi

Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang meningkat. Energi ini digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan plasenta, pembuluh darah, dan jaringan yang baru (Almatsier, 2009). Total kumulatif kebutuhan energi jaringan dan perkiraan kebutuhan energi selama masa kehamilan dapat berasal dari tinggi rendahnya perkiraan cadangan lemak ibu, perubahan pola aktivitas dan efisiensi energi selama kehamilan (As’ad, 2002). Kebutuhan energi yang tinggi paling banyak diperoleh dari bahan makanan sumber lemak, seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Setelah itu bahan makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umbi-umbian, dan gula murni (Almatsier, 2009). b. Protein

Pertambahan protein dibutuhkan pada masa kehamilan untuk menutupi perkiraan 925 gr protein yang dideposit dalam janin, plasenta dan jaringan maternal (As’ad, 2002). Widyakarya Pangan dan Gizi VIII 2004 menganjurkan penambahan sebanyak 17 gram untuk kehamilan pada trimester ketiga atau sekitar 1,3 g/kg/hr.

(13)

Dengan demikian, dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 67-100 gr. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik dalam hal jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, dan kerang. Selain sumber hewani, ada juga yang berasal dari nabati seperti tempe, tahu, serta kacang-kacangan (Almatsier, 2009).

c. Zat Besi

Selama hamil, zat besi banyak dibutuhkan untuk mensuplai pertumbuhan janin dan plasenta serta meningkatkan jumlah sel darah merah ibu. Zat besi merupakan senyawa yang digunakan untuk memproduksi hemoglobin yang berfungsi untuk :

1. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh 2. Sintesis enzim yang terkait besi

3. Penggunaan oksigen untuk produksi energi sel (Aritonang, 2010).

Total besi yang diperlukan selama hamil adalah 1040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg ditransfer ke janin dengan rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan (Arisman, 2004). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan penambahan sebanyak 13 mg untuk kehamilan pada trimester ketiga. Dengan demikian, angka kecukupan gizi yang dianjurkan bagi ibu hamil trimester ketiga adalah 39 mg/hari.

Ada dua bentuk besi yang terdapat dalam pangan, yaitu besi heme yang terdapat dalam produk-produk hewani dan besi nonheme yang terdapat dalam produk-produk nabati (Aritonang, 2010). Makanan dari produk hewani seperti hati, ikan dan daging yang harganya relatif mahal dan belum sepenuhnya terjangkau oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Selain sumber hewani, ada juga makanan nabati yang kaya akan zat besi seperti singkong, kangkung, dan sayuran berwarna hijau lainnya. Namun, zat besi dalam makanan tersebut lebih sulit penyerapannya. Dibutuhkan porsi besar sumber nabati untuk mencukupi kebutuhan besi sehari (Almatsier, 2009).

(14)

Makanan-makanan yang dapat meningkatkan absorpsi besi selama hamil diantaranya sebagai berikut :

1. Konsumsi makanan yang dapat meningkatkan absorpsi besi, yaitu daging, sayur, dan buah yang kaya vitamin C.

2. Menghindari penghambat (inhibitor) absorpsi besi seperti teh dan kopi (Aritonang, 2010).

Kebutuhan akan zat besi yang besar terutama pada kehamilan yangmenginjak usia trimester ketiga tidak akan mungkin tercukupi hanya melalui diet. Oleh karena itu, suplementasi zat besi sangat penting sekali, bahkan kepada ibu hamil status gizinya sudah baik.

d. Asam Folat

Asam folat berperan dalam berbagai proses metabolik seperti metabolisme beberapa asam amino, sintesis purin, dan timidilat sebagai senyawa penting dalam sintesis asam nukleat (Aritonang, 2010). Selain itu asam folat juga dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam sum-sum tulang belakang dan untuk pendewasaannya (Almatsier, 2009). Sekitar 24-60% wanita baik di negara berkembang maupun yang telah maju mengalami kekurangan asam folat karena kandungan asam folat di dalam makanan mereka sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka disaat hamil. Kekurangan asam folat berkaitan dengan tingginya insiden komplikasi kehamilan seperti aborsi spontan, toxemia, prematur, pendeknya usia kehamilan dan hemorrhage (pendarahan), (Aritonang, 2010).

Widyakarya Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan penambahan sebanyak 200 μg untuk ibu hamil, yang dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi suplemen. Suplementasi sebaiknya diberikan sekitar 28 hari setelah ovulasi atau pada 28 hari pertama kehamilan. Besarnya suplementasi adalah 280, 660, dan 470 μg per hari, masing-masing pada trimester I, II, dan III (Arisman, 2004). Jenis makanan yang banyak mengandung asam folat antara lain ragi, hati, brokoli, sayuran hijau, kacang-kacangan, ikan, daging, jeruk, dan telur.

(15)

Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menunjang pertumbuhan tulang dan gigi serta persendian janin. Selain itu kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontraksi dan berdilatasi. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, kalsium yang dibutuhkan bayi akan diambil dari tulang ibu yang mengakibatkan tulang ibu menjadi keropos atau osteoporosis. Kadar vitamin D haruslah adekuat, dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen vitamin D untuk mencapai asupan sebesar 10 µr/hari (Barasi, 2009).

Widya Karya Pangan dan Gizi 2004 menganjurkan penambahan sebesar 150 mg kalsium untuk ibu hamil trimester ketiga. Dengan demikian kebutuhan kalsium yang harus dipenuhi oleh ibu hamil adalah 950 mg/hari. Makanan yang menjadi sumber kalsium diantaranya ikan teri, udang, sayuran hijau, dan berbagai produk olahan susu seperti keju dan yoghurt. Kekurangan kalsium selama hamil akan menyebabkan tekanan darah ibu menjadi meningkat.

f. Zat gizi lain

Kebutuhan vitamin A, vitamin C, yodium, selenium, dan mangan meningkat selama kehamilan. Vitamin A berperan dalam penglihatan, sistem imun, dan diferensiasi sel. Sumber vitamin A adalah makanan hewani berupa hati, lemak hewan, susu, mentega, kuning telur, serta makanan nabati dalam bentuk pro vitamin A (karoten) berupa sayuran serta buah-buahan. Kebutuhan vitamin C meningkat selama kehamilan. Fungsi utama vitamin C dalam tubuh adalah membantu penyerapan zat besi, menjaga kondisi tulang, gigi, dan darah, serta bekerja sama dengan vitamin E dan beta karoten untuk melawan radikal bebas. Sumber vitamin C adalah sayuran hijau dan buah-buahan seperti jeruk, nenas, mangga, dan lain-lain. Kekurangan vitamin C merupakan salah satu faktor resiko kelahiran prematur.

Yodium merupakan bagian penting dari hormon tiroid. Hormon tiroid berperan dalam pembentukan myelin sistem saraf sentral. Kekurangan yodium dapat menyebabkan hipotiroidisme. Dampak setelah lahir dapat berupa gangguan mental, pendek atau kretinisme, tuli, dan kejang-kejang. Pencegahan kekurang yodium dengan memakai garam yang difortifikasi dengan yodium. Selain itu, yodium banyak

(16)

terdapat pada ikan, udang, kerang, ganggang laut, dan lain-lain. Kekurangan yodium dapat berakibat keguguran, retardasi mental dan kretinisme.

Selenium dalam tubuh bekerja sama dengan enzim glutation peroksidase sebagai antioksidan yang mencegah pembentukan radikal bebas. Selain itu, selenium juga bekerja sama dengan enzim yang merubah hormon tiroid menjadi bentuk aktifnya. Selenium terdapat pada makanan hasil laut, daging, hati, dan lain-lain. Mangan berfungsi sebagai kofaktor enzim dalam metabolisme karbohidrat, metabolisme lipid, membantu sintesis ureum, dan pembetukan jaringan ikat dan tulang. Sumber mangan adalah makanan nabati, seperti kacang-kacangan, sayuran, serealia, dan lain-lain (Almatsier, et al, 2011).

2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Asupan Zat Gizi Pada Ibu Hamil Masalah gizi pada masyarakat Indonesia sangat berkaitan erat dengan pangan, karena gizi seseorang sangat terpengaruh pada kondisi pangan yang dikonsumsinya. Masalah pangan antara lain menyangkut ketersediaan pangan dan kerawanan konsumsi pangan yang disebabkan kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan adat kepercayaan yang terkait dengan tabu makanan (Baliwati, et al, 2004).

1. Tabu Makanan (Pantangan)

Pantangan atau tabu adalah suatu larangan untuk mengkonsumsi jenis makanan tertentu karena terdapat ancaman bahaya terhadap barang siapa yang melanggarnya. Beberapa alasan tabu diantaranya khawatir terjadi keracunan, tidak biasa, takut mandul, kebiasaan yang bersifat pribadi, khawatir menimbulkan penyakit, larangan agama, pembatasan makanan hewani karena disucikan oleh adat/budaya.

Di beberapa negara berkembang umumnya masih ditemukan larangan, pantangan atau tabu tertentu bagi makanan ibu hamil, tidak terkecuali di Indonesia. Walaupun demikian, harus diakui bahwa tidak semua tabu itu berakibat negatif terhadap kondisi gizi dan kesehatan. Tabu yang tidak jelas pengaruhnya bagi kesehatan dibiarkan saja, sambil terus dipelajari pengaruhnya untuk jangka panjang (Sediaoetama, 1999).

(17)

2. Penghasilan dan Pendidikan

Pendidikan kurang merupakan salah satu faktor yang mendasari penyebab gizi kurang. Pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini akan menyebabkan rendahnya penghasilan seseorang yang akan berakibat pula terhadap rendahnya seseorang dalamenyiapkan makanan baik secara kualitas maupun kuantitasnya (Supariasa, et al, 2002).

3. Status gizi ibu hamil

Ibu hamil yang sakit memerlukan perhatian gizi yang lebih dibandingkan ibu hamil yang sehat. Stres dan kecemasan yang dialami wanita 6 bulan sebelum kehamilan atau saat kehamilan dapat meningkatkan resiko berbagai komplikasi, salah satunya adalah BBLR. Hal ini diduga karena stres dan cemas meningkatkan pelepasan hormon yang merangsang metabolisme, sehingga kebutuhan energi meningkat (As’ad, 2002).

4. Pengetahuan ibu hamil mengenai gizi berserta makanannya

Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan tentang gizi akan lebih memperhatikan makanannya dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak berpengetahuan gizi. Perilaku sadar gizi ibu hamil juga lebih bertahan lama bila didasari pengetahuan dibandingkan yang tidak. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan ini adalah umur, pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi yang diterima oleh seseorang (Notoadmodjo, 2003).

2.3.4. Asupan yang Perlu Dihindari Selama Kehamilan 1. Alkohol

Bayi yang lahir dari ibu pecandu alkohol menunjukkan lingkar kepala berukuran kecil (microcephal), kelainan-kelainan pada wajah berupa pipi kurang

(18)

melengkung, retak-retak kecil pada kelopak mata, lipatan-lipatan pada sudut mata, hidung pesek, bibir tipis hingga sumbing, kelainan bentuk telinga, rahang bawah kecil, serta gangguan jantung dan sistem saraf sentral yang disertai gangguan pertumbuhan dan mental. Kondisi ini disebut fetal alcohol syndrome (FAS). Mekanismenya mungkin karena alkohol masuk ke dalam plasenta dan menumpul dalam jumlah tinggi dalam janin. Pendapat lain mengatakan peminum alkohol sering tidak mempunyai nafsu makan sehingga kekurangan gizi selama kehamilannya (Almatsier, et al, 2011).

2. Merokok

Ibu hamil yang merokok sering menghasilkan janin yang mengalami hambatan pertumbuhan. Resiko BBLR pada ibu hamil yang merokok hampir dua kali lipat daripada ibu hamil yang tidak merokok. Selain itu, pengaruh lainnya dapat berupa lahir prematur dan keguguran (Almatsier, et al, 2011). Wanita yang merokok beresiko berat badan sebelum hamil rendah, pertambahan berat badan selama hamil rendah, dan BBLR. Hal ini mungkin karena merokok merangsang simpatis, sehingga meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, metabolisme dan lipolisis, sehingga menyebabkan kebutuhan energi wanita yang merokok lebih besar dari wanita yang tidak merokok.

3. Kafein

Anjuran untuk mengurangi atau tidak mengkonsumsi kafein selama hamil masih merupakan hal yang kontroversial. Penelitian epidemiologis pada ibu hamil yang banyak mengkonsumsi kafein menunjukkan kemungkinan bayi lahir dengan BBLR dan keguguran. Dianjurkan agar ibu hamil membatasi minuman yang mengandung kafein seperti kopi, teh, cola, dan minuman ringan lainnya (Almatsier, et al, 2011).

4. Junk food dan makanan tinggi kalori lainnya

Ibu hamil lebih baik mengkonsumsi makanan yang tidak hanya tinggi kalori namun juga padat gizi. Makanan yang hanya tinggi kalori dapat meningkatkan

(19)

kenaikan berat badan yang lebih besar dari yang seharusnya (Siswosuharjo, et al, 2010).

5. Makanan mentah atau setengah matang

Makanan seperti ini dapat mengandung bakteri, diantaranya E. coli, salmonella, dan toksoplasma. (Siswosuharjo, et al, 2010)

6. Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan dalam kehamilan didasari oleh penggolongan obat berdasarkan FDA (Food and Drug Administration), beserta kontraindikasi obat. Penggolongan obat berdasarkan FDA yaitu:

a. Kategori A

Studi terkontrol pada wanita tidak memperlihatkan adanya resiko pada janin pada kehamilan trimester pertama (dan tidak ada bukti mengenai resiko terhadap trimester berikutnya), dan sangat kecil kemungkinan obat ini untuk membahayakan janin.

b. Kategori B

Studi terhadap reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin tetapi belum ada studi terkontrol yang diperoleh pada ibu hamil. Studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak didapati pada studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan ditemukan bukti adanya pada kehamilan trimester berikutnya).

c. Kategori C

Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin (teratogenik), dan studi terkontrol pada wanita dan binatang percobaan tidak tersedia atau tidak dilakukan. Obat yang masuk kategori ini hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat terapeutik melebihi besarnya resiko yang terjadi pada janin.

(20)

d. Kategori D

Terdapat bukti adanya resiko pada janin, tetapi manfaat terapeutik yang diharapkan mungkin melebihi besarnya resiko (misalnya jika obat perlu digunakan untuk mengatasi kondisi yang mengancam jiwa atau penyakit serius bilamana obat yang lebih aman tidak digunakan atau tidak efektif. e. Kategori X

Studi pada manusia atau binatang percobaan memperlihatkan adanya abnormalitas pada janin, atau terdapat bukti adanya resiko pada janin. Besarnya resiko jika obat ini digunakan pada ibu hamil jelas-jelas melebihi manfaat terapeutiknya. Obat yang masuk dalam kategori ini dikontraindikasikan pada wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan hamil.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di