• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TERAPI KELOMPOK TERHADAP PENURUNAN STRES PENDAMPING UTAMA SKIZOFRENIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH TERAPI KELOMPOK TERHADAP PENURUNAN STRES PENDAMPING UTAMA SKIZOFRENIA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Skizofrenia adalah gangguan jiwa 2002).

berat. Gangguan ini ditandai dengan gejala- Menurut American Psychological gejala positif seperti pembicaraan yang Assosiation (APA), sekitar 1% dari populasi

kacau, delusi, halusinasi, gangguan orang dewasa di Amerika Serikat terkena kognitif dan persepsi. Selain itu juga skizofenia, dengan jumlah keseluruhan terdapat gejala negatif seperti menurunnya lebih dari dua juta orang, sedangkan hasil minat dan dorongan, berkurangnya penelitian multinasional World Health keinginan untuk bicara dan miskin isi Organization (WHO) memperkirakan pembicaraan serta menurunnya minat jumlah penderita skizofrenia di seluruh untuk berinteraksi dengan lingkungan dunia sekitar 24 juta orang (Olson dalam sosial. Hal ini menyebabkan kurang adanya Nevid, 2002). Di Indonesia prevalensi kesesuaian antara pemikiran dan emosi, penderita skizofrenia adalah 0,3-1% dan atau antara persepsi seseorang tentang biasanya timbul pada usia sekitar 18-45 realitas dan apa yang benar-benar terjadi. tahun. Pada saat ini diperkirakan sekitar dua Pasien-pasien skizofrenia juga mengalami juta jiwa penduduk Indonesia menderita penurunan fungsi atau ketidakmampuan skizofrenia. Skizofrenia adalah gangguan dalam menjalani hidupnya. Mereka gagal mental yang cukup banyak dialami orang untuk berfungsi sesuai peran yang Indonesia. Fakta menunjukkan bahwa diharapkan sebagai pelajar, pekerja atau sekitar 99% pasien di rumah sakit jiwa di pasangan, dan keluarga serta komunitas Indonesia adalah penderita skizofrenia mereka menjadi kurang toleran terhadap (Arif, 2006).

perilaku mereka yang menyimpang (Nevid, Berdasarkan wawancara dengan Abstract

This study is aimed to reveal the influence of group therapy to reduce stress a primary caregiver of people with schizophrenia. The group therapy in this study uses interactive approach. The subjects in this study are 7 primary caregiver of people with schizophrenia. The measurement tool in this study is stress scale. This research is a quasi experiment (pretest-posttest control group design with follow up). The data analysis used U Mann Whitney Test to determine whether there was an effect of group therapy to reduce stress in primary caregiver with people of schizophrenia and qualitative analysis. The result of study shows there was significant stress difference in the experiment group and control group after group threapy session. In addition, the data analysis used Mann Whitney to define whether there was an effect of group therapy to reduce stress primary caregiver of people with schizophrenia. The result shows that the value of p= 0.032 which means the value of p<0,05. The value of p shows that there isi significant stress difference between the experiment group and control group after the group therapy.

Keywords: group therapy, stress, primary caregiver of people with schizophrenia

PENGARUH TERAPI KELOMPOK TERHADAP

PENURUNAN STRES PENDAMPING UTAMA SKIZOFRENIA

Rizkia Purnamasari H. Fuad Nashori

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta

(2)

dokter jiwa RSUD Sleman (11/12/2012) personal dengan pasien paling sedikit dapat diketahui bahwa penderita skizofrenia seminggu sekali. Pendamping utama di setiap tahunnya bertambah. Usia penderita antaranya adalah ayah atau ibu. Sreeja juga bervariasi dari remaja hingga dewasa. (2009) menambahkan bahwa yang Tingkat kekambuhan pasien juga masih termasuk pendamping utama adalah terus terjadi. Hal ini dikarenakan kurangnya pasangan, orangtua, anak atau saudara pengetahuan keluarga tentang penanganan pasien. Hal ini sejalan dengan Meijer dkk skizofrenia. Keluarga juga menanggung ( 2 0 0 4 ) y a n g m e n y e b u t k a n b a h w a beban biaya pengobatan pasien skizofrenia, pendamping utama pasien skizofrenia padahal pengobatan tersebut membutuhkan adalah ayah, ibu, anak perempuan atau anak banyak biaya dan jangka waktu yang cukup laki, kakak perempuan atau kakak laki-panjang. Selain beban biaya keluarga juga laki, saudara, suami atau istri, dan teman. merasa lelah dengan perilaku penderita B e r d a s a r k a n o b s e r v a s i y a n g skizofrenia. Apabila penderita sedang dilakukan oleh peneliti selama praktek kambuh, keluarga merasa bingung apa yang profesi psikologi (Desember 2011 - Januari harus dilakukan. Jika sedang kambuh ada 2012) di poli jiwa RSUD Sleman, diketahui yang berbicara terlalu banyak, ada yang bahwa kebanyakan pasien diantar oleh salah lebih menyendiri, mengamuk, berteriak- satu keluarganya. Pasien diantar oleh ibu, teriak dan merusak barang-barang di rumah. ayah, anak kandung, saudara kandung atau Dokter jiwa RSUD Sleman juga saudara pasien itu sendiri. Bahkan di antara mengatakan bahwa selama ini belum ada pasien kontrol tidak hanya salah satu intervensi untuk membantu penanganan keluarganya saja yang mengantar kontrol, pasien skizofrenia selain penanganan saudara-saudara yang lain kadang ikut medis. Bagi keluarga yang merawat pasien mendampingi. Para pendamping utama juga belum pernah dilakukan intervensi mengeluhkan perilaku dari pasien yang formal, seperti pemberian terapi, pelatihan mudah curiga, berbicara terlalu banyak dan atau konseling kepada keluarga pasien. mengamuk. Ada pendamping yang hanya Selama ini dari pihak rumah sakit terutama diam saja ketika pasien berbicara dengan dokter jiwa hanya memberikan informasi dokter dan memalingkan muka terhadap secara informal dan terbatas mengenai pasien. Hal ini tentunya akan berdampak gangguan jiwa berat atau skizofrenia. pada kondisi pasien dan keluarga.

Menurut dokter jiwa RSUD Sleman, Dampak yang ditimbulkan oleh sebenarnya penanganan untuk pendamping pasien akan memengaruhi kondisi baik skizofrenia sangat diperlukan. Hal ini pasien maupun keluarganya (Schene, 1998). dikarenakan para pendamping memerlukan Dampak bagi penderita sendiri yaitu rawat informasi dan dukungan dari oranglain. diri mereka sehari-hari akan terhambat, Syah, Wadoo dan Latoo (2010) berkurangnya kapasitas dalam menjalin mengungkapkan bahwa adanya anggota hubungan sosial dan berkurangnya keluarga yang mengalami gangguan jiwa kesempatan untuk bekerja, sedangkan bagi akan memengaruhi kondisi keluarga pendamping akan merasa kehilangan dan tersebut. Gangguan jiwa yang diderita oleh sedih (Miller, 1990; Schene 1998). Selain salah satu anggota keluarga menimbulkan itu keluarga juga merasakan emosi-emosi dampak yang negatif bagi penderita maupun yang bertentangan, seperti malu, merasa keluarganya. Dalam hal ini adalah keluarga bersalah, dan marah. Situasi tersebut utama yang selanjutnya disebut sebagai menimbulkan stres dan berpengaruh pada pendamping utama. Dorian dkk (2008) kesejahteraan pendamping utama antara menyatakan bahwa yang dimaksud lain pekerjaan, interaksi sosial dan pendamping utama adalah sesorang yang hubungan dengan lingkungan sekitar. Hal mempunyai tanggung jawab besar untuk ini dikarenakan pendamping utama merawat pasien dan memiliki kontak membantu menyiapkan kebutuhan

(3)

sehari-hari pasien dan memberikan dukungan pendamping mempunyai tugas untuk emosional. Stres pendamping utama menyediakan materi yang dapat membantu disebabkan oleh faktor resiko yang dimiliki pasien secara langsung, seperti memberikan oleh pasien antara lain ketidakmampuan informasi atau saran mengenai situasi dan yang tinggi terhadap rawat diri dan simtom- kondisi pasien, memberikan afeksi seperti simtom yang mengganggu. Hal ini rasa nyaman dan dihargai serta membuat menyebabkan adanya perasaan bersalah, pasien merasa dibutuhkan oleh keluarga. k e h i l a n g a n , k u r a n g n y a b a n t u a n , Keluarga juga menghargai sikap positif dari kerentanan, kecemasan, kekesalan, pasien dan memberikan semangat dengan k e b e n c i a n a t a u k e m a r a h a n p a d a memberikan penilaian yang positif kepada pendamping skizofrenia (Syah dkk, 2010). pasien sehingga pasien merasa menjadi Dampak dari stres yang dialami oleh anggota dari suatu kelompok yang saling pendamping utama terhadap kondisi membutuhkan. Hal ini menunjukkan keluarga mereka yang mengalami gangguan beratnya beban seorang pendamping utama jiwa adalah mereka merasa tidak skizofrenia yang harus memenuhi diperhatikan, marah-marah, keluar rumah, kebutuhan baik fisik maupun psikologis dari

dan tidak mau minum obat. pasien.

Dalam sejarah gangguan jiwa sering Penderita skizofrenia memerlukan dikonotasikan negatif dalam masyarakat. penyembuhan secara holistik baik itu dari G a n g g u a n j i w a j u g a m e n g a l a m i penderita maupun dari pihak keluarga. diskriminasi dari masyarakat. Mereka Keluarga atau pendamping merupakan mempersepsikan pasien dengan “orang faktor penting dalam upaya pencegahan gila” dan diidentikkan dengan kekerasan, k e k a m b u h a n p a s i e n s k i z o f r e n i a . orang yang berbahaya, perilaku yang tidak Pendamping utama mempunyai beban yang dapat diprediksi bahkan moral yang buruk. berat karena harus merawat pasien. Menurut Skizofrenia adalah jenis gangguan jiwa Syah dkk (2010) beban keluarga yang y a n g p a l i n g b e r p o t e n s i m e n d a p a t mempunyai pasien gangguan jiwa terdiri pandangan negatif dari masyarakat (Torres, dari beban objektif dan beban subjektif. 2 0 0 6 ) . K e l u a rg a j u g a m e n g a l a m i Beban objektif antara lain kekacauan dalam stigmatisasi dan isolasi sosial sama seperti hubungan keluarga, dibatasi dalam penderita. Hal ini terjadi karena secara lingkungan sosial, kehilangan waktu langsung mereka adalah keluarga yang senggang dan aktivitas kerja, kesulitan tinggal bersama orang yang menderita keuangan, dan dampak negatif pada gangguan jiwa (Torres dkk, 2006). Philips kesehatan fisik. Beban subjektif berupa rasa dkk (2012) juga menyatakan bahwa orang kehilangan, kesedihan, kecemasan, merasa dengan gangguan jiwa dan keluarganya malu di lingkungan sosial, stres, frustrasi berpotensi untuk mengalami stigmatisasi yang disebabkan adanya perubahan pada dari masyarakat. Oleh karena itu keluarga hubungan kekeluargaan. Young (2001) memiliki peran yang sangat penting bagi mengatakan bahwa beban subjektif adalah perawatan penderita yang akan memberikan perasaan emosional termasuk perasaan dukungan besar bagi penderita dalam c e m a s , s t r e s , p e r a s a a n b e r s a l a h , kehidupan sehari-hari (Meijer dkk, 2004). menyalahkan diri sendiri, depresi, Barrowlough dan Tarrier (1990) ketakutan dan marah. Hal ini sejalan dengan menyatakan bahwa pasien skizofrenia yang dikatakan oleh Sreeja, Rakesh dan membutuhkan dukungan dari keluarga. Singh (2009) bahwa keluarga menanggung Pasien membutuhkan keterlibatan langsung beban diantaranya adalah beban keuangan, dalam pendampingan sehari-hari, seperti terganggunya aktivitas rutin, kehilangan menjauhi tindakan bermusuhan, Expression waktu luang, dan penggunaan coping stres

Emotion yang rendah, kehangatan dan yang tidak tepat.

(4)

tantangan untuk menghadapi anggota N juga memeriksakan diri ke dokter jiwa keluarga mereka yang mengalami karena merasa putus asa dan kehilangan skizofrenia. Berdasarkan hasil wawancara semangat.

dengan beberapa keluarga yang mempunyai Berdasarkan hasil wawancara pasien skizofrenia diketahui bahwa t e r s e b u t , d i a t a s d a p a t d i k e t a h u i keluarga merasa malu dengan adanya pendamping menanggung beban yang berat stigma dari masyarakat yang masih dalam menangani salah satu anggota memandang negatif seorang pasien keluarga mereka yang mengalami skizofrenia. Keluarga juga kadang merasa s k i z o f r e n i a . P e n d a m p i n g h a r u s lelah dengan perilaku yang ditunjukkan oleh menanggung biaya pengobatan yang cukup pasien. Selain itu keluarga juga merasa mahal serta tenaga yang banyak untuk sedih dan khawatir ketika mengetahui ada merawat seorang pasien skizofrenia. anggota keluarga mereka yang mengalami Kondisi ini memengaruhi kondisi pikiran, gangguan jiwa. Keluarga berusaha mencari perasaan, dan fisik pendamping utama yang bantuan kepada orang-orang tertentu seperti menjadi cenderung negatif sehingga dukun, kyai, orang pintar akan tetapi menyebabkan stres. Menurut Urizar dkk penyakitnya tidak sembuh. Keluarga (2006), keluarga skizofrenia menanggung kadang menjadi putus asa karena salah satu beban yang tinggi dalam merawat pasien anggota keluarga yang mereka sayangi s e h i n g g a m e m b u t u h k a n d u k u n g a n m e n g a l a m i s k i z o f e n i a . S e o r a n g psikososial dari masyarakat.

pendamping skizofrenia diharapkan Menurut Lazarus dan Folkman mempunyai ketrampilan koping yang (Sarafino, 2008), stres adalah keadaan di efektif sehingga dapat mengatasi masalah mana transaksi yang ada membuat orang yang muncul dalam menghadapi pasien mengalami kesenjangan antara tuntutan skizofrenia. fisik atau fisiologis dari situasi dan sumber Hasil wawancara dengan Ibu N dari sistem biologis, psikologis, dan (13/12/2011) yang salah satu anggota sosialnya. Sumber stres dapat berupa keluarganya, yaitu suaminya mengalami peristiwa-peristiwa hidup yang mengancam skizofrenia, menunjukkan bahwa sejak kesehatan fisik, psikologis seseorang suaminya mengalami skizofrenia, Ibu N dengan karakteristik sebagai suatu bingung dan tidak mengetahui apa yang perubahan, konflik, frustrasi, kebosanan seharusnya dilakukan. Atas saran tetangga dan trauma. Dalam berbagai kasus Ibu N membawa suaminya ke dukun, tetapi penelitian didapat hasil bahwa sebagian suaminya tidak sembuh. Setelah itu Ibu N besar tanda dan simtom dari stres pada mendapatkan saran yang berbeda, yaitu pendamping adalah masalah psikologis, diminta untuk membawa suaminya ke kecemasan umum, depresi, khawatir dan dokter jiwa. Ibu N merasa sedikit lega kesepian (Bevans & Stenberg, 2012). karena dengan pengobatan dari dokter Menurut Sarafino (2008), stres kondisi suaminya mengalami sedikit adalah suatu kondisi di sebabkan oleh kemajuan. Akan tetapi, Ibu N mengeluhkan t r a n s a k s i a n t a r a i n d i v i d u d e n g a n besarnya biaya yang harus dikeluarkan lingkungan yang menimbulkan persepsi untuk membeli obat sedangkan mereka jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal berasal dari keluarga tidak mampu. Suami dari situasi dengan sumber-sumber daya Ibu N yang menjadi tulang punggung sistem biologis, psikologis dan sosial dari keluarga sekarang tidak dapat memberinya seseorang. Stres muncul sebagai akibat dari nafkah. Hal ini menimbulkan masalah bagi adanya tuntutan yang melebihi kemampuan keluarga Ibu N, yaitu masalah dalam individu untuk memenuhinya. Seseorang keuangan dan merawat suaminya. Ibu N yang tidak bisa memenuhi tuntutan menjadi sering sakit dan tidak bisa tidur kebutuhan akan merasakan suatu kondisi karena memikirkan suaminya. Bahkan, Ibu ketegangan dalam diri. Ketegangan yang

(5)

b e r l a n g s u n g l a m a d a n t i d a k a d a yang berbahaya dan mengancam. Hal itu penyelesaian, akan berkembang menjadi disebut sebagai penilaian kognitif individu

stres. terhadap stres.

Berdasarkan hasil kunjungan rumah Terdapat dua macam penilaian pada sebuah keluarga yang memiliki anak terhadap stress, yaitu penilaian primer dan skizofrenia dapat diketahui bahwa keluarga penilaian sekunder. Penilaian primer adalah tidak mengetahui tentang sakitnya pasien. ketika menghadapi situasi yang berpotensi Keluarga tidak mengetahui penyebab pasien untuk menjadikan stres, maka seseorang sakit. Pada saat salah satu anggota keluarga mencoba untuk mengartikan peristiwa mereka di rawat di rumah sakit jiwa, t e r s e b u t s e b a g a i s e s u a t u y a n g keluarga jarang mengunjungi pasien karena membahayakan, menimbulkan ancaman di merasa takut dan tidak memahami apa yang masa yang akan datang atau sebagai dibicarakan oleh pasien. Setelah dirawat peristiwa yang harus dihadapi. Penilaian selama tiga bulan dan kembali ke rumah, sekunder mengevaluasi potensi atau keluarga mendapat stigma dari masyarakat. kemampuan dan menentukan seberapa H a l i n i m e m b u a t k e l u a rg a t i d a k efektif potensi atau kemampuan yang dapat memperbolehkan anaknya keluar rumah. digunakan untuk menghadapi suatu Pengetahuan masyarakat tentang gangguan kejadian.

jiwa yang kurang, dapat menimbulkan Stressor yang didapat pendamping stigma pada keluarga yang mempunyai berasal dari salah satu anggota keluarga pasien skizofrenia. Hal ini sejalan dengan mereka yang mengalami skizofrenia. pernyataan Torres (2006) bahwa gangguan Stressor tersebut termasuk simtom-jiwa berat sering dikonotasikan negatif oleh simptom yang muncul pada diri pasien, masyarakat dan skizofrenia adalah jenis peristiwa yang merugikan seperti rawat inap gangguan jiwa yang berpotensi mendapat di rumah sakit, dan lamanya pasien sakit pandangan negatif dari masyarakat yang (Hazel dkk, 2004). Menurut Lazarus dan akhirnya menimbulkan diskriminasi Folkman (Sarafino, 2008), ada dua faktor terhadap keluarga pasien. yang dapat menyebabkan stres yaitu faktor B e b e r a p a h a l y a n g d i a l a m i dalam diri (internal) dan faktor situasi pendamping utama tersebut menimbulkan (eksternal). Faktor internal termasuk tekanan atau stres pada pendamping. Stres kemampuan intelektual, motivasi, dan merupakan suatu istilah yang digunakan karakter pribadi. Faktor situasi misalnya untuk menunjukkan adanya suatu tekanan sebuah situasi yang melibatkan tuntutan atau tuntutan yang dialami individu atau yang sangat kuat dan dekat dianggap organisme yang menyebabkan individu sebagai stres. Faktor stres yang muncul pada t e r s e b u t h a r u s b e r a d a p t a s i a t a u keluarga skizofrenia adalah termasuk dalam menyesuaikan diri (Nevid, 2002). Lazarus dua faktor tersebut. Selain dari faktor mengungkapkan bahwa stres adalah internal seperti kemampuan memahami hubungan antara suatu tuntutan dengan pasien skizofrenia, juga terdapat faktor kekuatan atau sumber daya yang dimiliki eksternal seperti situasi yang mengharuskan individu untuk mengatasi tuntutan tersebut. mereka memberikan bantuan aktivitas Lazarus juga menjelaskan bahwa stres yang sehari-hari, dukungan emosi kepada pasien, terjadi merupakan hasil dari suatu penilaian menghadapi dan tinggal bersama pasien terhadap suatu situasi yaitu sebagai suatu (Syah, Wadoo & Latoo, 2010).

hal yang berbahaya atau membahayakan, Reaksi yang diberikan terhadap stres mengancam maupun hal yang menantang akan berbeda antara satu orang dengan (Sarafino, 2008). Stressor yang sama dapat orang yang lainnya. Perbedaan ini dapat dipersepsi secara berbeda, yaitu dapat disebabkan oleh faktor psikologis dan sosial dinilai sebagai peristiwa yang positif dan yang dapat mengubah dampak stressor bagi tidak berbahaya atau menjadi peristiwa seseorang. Dukungan sosial adalah satu

(6)

faktor yang dapat merubah stres seperti Brown (2005) menggunakan terapi adanya keluarga dan perkawinan. Hal ini kognitif perilakuan untuk mengatasi sejalan dengan yang disampaikan Gottlieb masalah psikologis seorang pendamping. (Smet, 1994) bahwa dukungan sosial terdiri Terapi diberikan sebanyak 12-14 sesi. Hasil dari informasi atau nasehat verbal dan non dari penelitian ini didapat bahwa terapi verbal, bantuan nyata, atau tindakan yang kognitif perilakuan dapat memberikan diberikan oleh keakraban sosial atau didapat dukungan awal seorang pendamping. karena kehadiran mereka dan mempunyai Brown menyatakan bahwa terapi kognitif manfaat emosional atau efek perilaku bagi perlakuan ini lebih efektif jika dilakukan pihak yang menerima. Jika keluarga yang secara kelompok.

salah satu anggotanya mengalami Corey (2010) menyatakan bahwa skizofrenia dan mendapatkan dukungan terapi kelompok behavioral menekankan sosial yang tinggi maka kemungkinan pada perubahan perilaku, adanya laporan mereka tidak mengalami stres. yang teliti mengenai pra perilaku dan pasca D a l a m u p a y a m e r a w a t d a n perilaku di dalam dan di luar kelompok. menyesuaikan diri dengan kehadiran Adanya imbalan untuk memperkuat skizofrenia dalam keluarga, tentunya perilaku yang diinginkan muncul. Anggota keluarga memerlukan intervensi untuk kelompok harus menentukan target mengatasi stres selama mendampingi p e r u b a h a n p e r i l a k u m e r e k a , pasien anggota keluarga mereka yang mempertahankan serta menerapkan teknik mengalami skizofrenia. Arif (2006) yang telah mereka dapat dalam terapi. menyatakan beberapa alternatif intervensi Te r a p i k e l o m p o k b e h a v i o r a l i n i yang dapat dilakukan terhadap keluarga membutuhkan prosedur dan teknik. yang memiliki pasien skizofrenia seperti Pendamping utama akan mengalami adanya informasi atau psikoedukasi tentang kesulitan untuk menentukan dengan tepat skizofrenia (gejala-gejala, perjalanan target mereka. Adanya pemantauan perilaku penyakit, berbagai bantuan medis dan dan pencacatan perubahan perilaku akan psikologis), sikap yang tepat seperti memberatkan pendamping karena tugas mempunyai rasa humor, menerima anggota mereka mendampingi pasien juga telah mereka yang sakit, keseimbangan dalam menghabiskan waktu. Pendamping keluarga, dan realistis, adanya support d i h a d a p k a n p a d a k o n d i s i y a n g

group. Alternatif yang lain adalah terapi mengharuskan mereka membagi waktu

keluarga. antara mendampingi pasien, bekerja dan

Penelitian mengenai penanganan mengerjakan kegiatan sehari-hari.

stres pada pendamping telah banyak Hasil penelitian tentang Program dilakukan. Beberapa intervensi yang telah Dukungan Keluarga (Medven & Krans, terbukti efektif dapat menangani stres pada dalam Chien, 2008) menujukkan program pendamping antara lain psikoedukasi untuk dukungan beberapa keluarga dapat k e l u a rg a y a n g m e m p u n y a i p a s i e n meningkatkan inisiatif dan kenyamanan skizofrenia (Maldonado & Urizar, 2007). saat berbicara masalah psikis dan sosial Dalam penelitiannya, Maldonado dan ketika merawat pasien skizofrenia. Hal ini U r i z a r ( 2 0 0 7 ) m e n g g u n a k a n 4 5 sejalan dengan penelitian yang dilakukan pendamping skizofrenia untuk diberikan oleh Wyman dkk (2008) tentang program intervensi berupa psikoedukasi. Partisipan dukungan beberapa keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, saudara, istri, dan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan orang di luar keluarga yang peduli terhadap hidup pendamping skizofrenia. Young pasien. Hasil dari penelitian ini diketahui (2001) menggunakan kelompok dukungan bahwa psikoedukasi hanya efektif untuk untuk mengurangi beban pendamping i b u - i b u y a n g m e m p u n y a i t i n g k a t ketika merawat pasien skizofrenia dan pendidikan yang rendah. menghadapi situasi yang sulit saat merawat

(7)

keluarga mereka yang mengalami Swastiningsih (2009) yang memberikan skizofrenia. Intervensi yang dilakukan intervensi kelompok dukungan untuk Young memberikan pemahaman pada menurunkan stres orangtua pasien kanker pendamping bahwa ada beberapa orang anak. Hasil penelitiannya menunjukkan yang mengalami situasi yang sama sehingga b a h w a k e l o m p o k d u k u n g a n d a p a t mereka merasa terdukung. menurunkan stres orangtua pasien kanker

Program kelompok dukungan anak.

keluarga (McFarlane, dalam Chien, 2008) Berdasarkan alternatif terapi di atas D u k u n g a n s o s i a l ( C h i e n , 2 0 0 4 ) , peneliti memilih terapi kelompok dengan Psikoedukasi dengan pendekatan kognitif p e n d e k a t a n i n t e r a k s i o n a l u n t u k perilakuan (Baum dkk, 2006; Maldonado, menurunkan stres pada pendamping 2007; Nasr dan Kausar, 2009) adalah skizofrenia. Pendekatan interaksional ini beberapa program yang sudah digunakan dikembangkan oleh Yalom (2005). Terapi untuk menurunkan beban pendamping kelompok interaksional ini dipilih karena

skizofrenia. memiliki beberapa kelebihan yaitu anggota

Hazel (2004) dalam penelitiannya dapat belajar perilaku baru, kesempatan mengatakan bahwa adanya terapi kelompok untuk menggali masalah, kesempatan untuk dapat menurunkan distres dan menggali mempelajari ketrampilan sosial, saling potensi yang dimiliki pendamping sehingga mendukung dan saling memberi serta pendamping dapat berfungsi dengan baik. menerima.

Dengan adanya terapi kelompok, keluarga Shapiro (Rice, 1999) menjelaskan dapat saling berbagi pengalaman mereka bahwa dukungan sangat penting ketika dalam merawat pasien skizofrenia dan dapat seseorang menghadapi stressor yang saling mengungkapkan perasaan. Selain itu muncul karena ada anggota keluarganya mereka juga akan mendapatkan informasi yang memiliki sakit kronis atau suatu m e n g e n a i s k i z o f r e n i a d a n c a r a keterbatasan kondisi. Manfaat dari terapi

menanganinya. kelompok pada suatu keluarga yang

Terapi kelompok dengan pendekatan memiliki anggota keluarga dengan kognitif perilakuan terbukti efektif terhadap keterbatasan kondisi adalah kesempatan kondisi pasien. Penelitian yang dilakukan untuk bertukar informasi mengenai cara-oleh Bradley dkk (2007) menemukan cara perawatan dan juga permasalahan bahwa keluarga yang diberikan intervensi e m o s i o n a l y a n g m u n c u l s e b a g a i terapi kelompok dengan pendekatan pendamping.

kognitif perilakuan menunjukkan hasil yang Menurut Yalom (2005), terapi signifikan di antaranya adalah faktor kelompok terdiri dari minimal 3 orang kekambuhan pasien menurun, mengurangi sampai dengan 10 orang individu yang simtom-simtom positif seperti curiga dan bertemu dengan terapis dalam satu halusinasi, beban subjektif berkurang kelompok. Anggota kelompok didorong karena adanya dukungan dalam kelompok. untuk memberikan umpan balik terhadap Wa i - To n g d a n C h a n ( 2 0 0 6 ) anggota kelompok lainnya. Umpan balik ini merekomendasikan adanya pengembangan terdiri dari mengekspresikan perasaan dalam bentuk kelompok dukungan orangtua terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan sebagai bentuk intervensi pada orangtua oleh anggota kelompok lainnya. Interaksi pasien kanker anak. Kelompok dukungan antara anggota kelompok terjadi dalam i n i d i b e r i k a n a g a r p a r a o r a n g t u a bentuk memberikan memberikan dorongan memperoleh dukungan melalui berbagi dan kesempatan pada masing-masing dengan sesama, menawarkan kesempatan anggota untuk mencoba cara-cara pada orangtua untuk saling membantu, berinteraksi dengan orang lain. Proses ini media pemberian informasi, dan diskusi terjadi dalam suatu kondisi yang aman, yaitu kelompok. Hal ini sejalan dengan a n g g o t a k e l o m p o k b e r u s a h a

(8)

mempertahankan rasa saling percaya yang Metode pengumpulan data

memungkinkan mereka bicara secara Pengumpulan data dalam penelitian ini pribadi dan jujur. diperoleh melalui wawancara awal dan Terapi kelompok interaksional observasi. Selain itu penelitian ini juga merupakan salah satu bentuk intervensi bagi menggunakan pengukuran dengan skala para pendamping utama yang salah satu stres yang disusun berdasarkan empat aspek keluarganya mengalami skizofrenia. stres dari Sarafino (2008) yaitu: (1) aspek Pendamping utama pasien skizofrenia fisiologis, (2) aspek kognitif (3) aspek mengalami berbagai permasalahan selama emosi, (4) aspek perilaku. Skala tersebut mendampingi pasien. Hal tersebut akan menggunakan empat alternatif pilihan menimbulkan tekanan bagi pendamping respon, yaitu HTP (Hampir Tidak Pernah), J yang mengalaminya. Bentuk intervensi (Jarang), S (Sering), dan HS (Hampir yang akan diberikan adalah dengan Selalu). Jumlah aitem pada skala stres memberikan terapi kelompok, yang adalah 36 butir. Rentang skor yang didalamnya berisi program-program yang diberikan untuk masing-masing jawaban bertujuan untuk memberikan dukungan bergerak dari 1-4. Skor 1 yaitu untuk pilihan kepada pendamping sehingga dapat jawaban HTP, 2 untuk pilihan jawaban J, 3 menurunkan tingkat stres pendamping untuk jawaban S, dan 4 untuk jawaban HS. skizofrenia tersebut. Skor terendah yang mungkin didapat subjek Berdasarkan penjelasan di atas, adalah 36 dan tertinggi adala 144. Semakin hipotesis yang diajukan dalam penelitian tinggi skor yang didapat maka semakin ini adalah ada perbedaan tingkat stres tinggi tingkat stresnya, sedangkan semakin antara pendamping utama yang mendapat rendah skor yang didapat subjek maka terapi kelompok dengan pendamping s e m a k i n r e n d a h t i n g k a t s t r e s n y a . utama yang tidak mendapat terapi S e l a n j u t n y a p e n e l i t i m e l a k u k a n

kelompok. kategorisasi skor menjadi tiga yaitu rendah,

sedang, tinggi (Azwar, 2000).

METODE PENELITIAN Hasil analisis aitem skala kesepian Rancangan eksperimen menunjukkan bahwa dari 36 aitem yang Penelitian ini merupakan penelitian diujicobakan, terdapat 2 aitem yang gugur, kuasi-eksperimen dengan model rancangan yaitu aitem dengan nomor 1 dan 18. Aitem penelitian pretest-posttest control group yang dianggap valid sebanyak 24, dengan

design (Shadish dkk, 2002). Desain ini koefisien korelasi bergerak antara

0,379-bertujuan untuk melihat efek suatu 0,821, dan koefisien reliabilitas alpha perlakuan terhadap kelompok yang diberi sebesar 0,952.

perlakuan dan kelompok kontrol. Pemilihan

subjek ditetapkan dengan cara tidak random Prosedur pemberian perlakuan

yaitu dengan cara matching. Penelitian ini dilakukan dengan b e b e r a p a t a h a p a n , y a i t u t a h a p a n Subjek penelitian penyusunan modul, pemilihan trainer dan Subjek penelitian ini adalah sebagai staf penelitian, dan pelaksanaan. Pertama:

berikut: Penyusunan modul terapi. Penyusunan

a. Pendamping merupakan salah satu modul penelitian ini dilakukan oleh peneliti. a n g g o t a k e l u a rg a d a r i p a s i e n Modul terapi kelompok ini mengacu pada

skizofrenia. pendekatan interpersonal dari Yalom

b. Usia pendamping berada pada usia di (2011). Bentuk ini lebih menekankan atas 17 tahun. interaksi antar anggota. Fokus ada pada di c. Mempunyai skor stres sedang sampai sini dan saat ini. Budaya di dalam kelompok

tinggi lebih menekankan pada saling membantu,

(9)

model perilaku yang sehat. Pemimpin Penyusunan modul menggunakan kelompok dapat bertindak sebagai tahap-tahap persiapan dalam terapi pengamat luar yang dapat memberikan kelompok dan menggunakan faktor-faktor komentar proses berdasarkan kejadian kuratif dalam kelompok. Penyusunan disini dan saat ini yang terjadi di dalam modul menggunakan tahap-tahap persiapan

kelompok. dalam terapi kelompok dan menggunakan

faktor-faktor kuratif dalam kelompok.

Pertemuan Waktu Kegiatan Tujuan

I 185’

5’ Pembukaan Membuka sesi terapi

10’ Perkenalan - Saling mengenal antara partisipan dan tim fasilitator

- Menumbuhkan suasana akrab dalam kelompok

10’ Penjelasan maksud dan tujuan terapi

- Partisipan mengerti mengenai maksud, tujuan dan manfaat terapi

- Penjelasan mengenai norma kelompok 30’ Skizofrenia: definisi,

penyebab dan simtom dan kekambuhan

Memberikan informasi mengenai skizofrenia

110’ Masalah Ku Partisipan mengetahui dan mengenali

tentang apa yang dirasakan nya

sehubungan dengan merawat pasien Memberikan kesempatan pada anggota kelompok untuk mengungkapkan ide dan perasaannya

10’ Menutup pertemuan

pertama

- Mengingatkan anggota untuk

kehadirannya dipertemuan berikutnya II

190’

90’ Masalah Ku - Anggota kelompok saling terbuka dan

saling percaya untuk mengungkapkan permasalahannya

- Mengungkapkan perasaan baik positif maupun negatif

- Belajar mendengarkan, saling memberi dukungan antar anggota kelompok

90’ SolusiKu - Partisipan dapat belajar mengatasi konflik

yang dihadapi

- Partisipan dapat memecahkan masalah

(10)

Kedua: Seleksi fasilitator, ko-fasilitator. (SPSS) for windows. Pengujian hipotesis Persiapan diawali dengan menentukan dalam penelitian ini dengan dilakukan fasilitator terapi kelompok. Seorang dengan analisis nonparametrik U Mann fasilitator dalam terapi ini harus memiliki Whitney Test. Hal ini dikarenakan jumlah

kualifikasi (a) Psikolog yang memiliki surat sampelnya kecil. Selain itu untuk izin praktek psikolog, (b) Mampu dan mengetahui signifikansi perbedaan antara pernah menjadi terapis kelompok, dan (c) kelompok eksperimen dan kelompok Bersedia terlibat selama proses terapi. kontrol setelah diberikan terapi kelompok. Selain itu terapis kelompok juga Analisis data kualitatif dilakukan untuk harus mempunyai beberapa ketrampilan mengetahui proses yang terjadi pada yang membuat terapi kelompok ini menjadi masing-masing subjek. Analisis kuantitatif efektif. Menurut George dan Christiani akan digunakan untuk menjabarkan data (Prawitasari, 2011), perilaku efektif kualitatif yang diperoleh selama intervensi pemimpin kelompok adalah sebagai berikut berlangsung.

(a) Mampu mendengarkan dengan aktif, (b) Mampu mengamati proses kelompok

dengan seksama, (c) Dapat memberikan HASIL PENELITIAN umpan balik, (d) Dapat menghubungkan

antara satu pernyataan dengan pernyataan Deskripsi data penelitian

yang lain, (e) Dapat menghubungkan Tabel 2. Deskripsi data subjek peristiwa yang satu dengan peristiwa lain, penelitian kelompok eksperimen (f) Mempunyai kemampuan untuk

melakukan konfrontasi, (g) Mempunyai kemampuan untuk memahami proses kelompok, (h) Dapat meringkas apa yang terjadi di sini dan saat ini.

Untuk ko-fasilitator dalam terapi ini harus memiliki kualifikasi sebagai berikut:

Tabel 3. Deskripsi data subjek penelitian (a) Mahasiswa Magister Profesi Psikolog

kelompok Kontrol bidang klinis dan telah berpengalaman

menjalankan praktek kerja profesi sebelumnya dan (b) Pernah mengikuti dan menerapkan terapi kelompok.

Ketiga: pelaksanaan. Terapi yang diberikan dalam penelitian ini, yaitu terapi kelompok interaksional dapat dilaksanakan sesuai rencana. Terapi pada kelompok eksperimen dilakukan di ruang komite

Tabel 4. Deskripsi Data Penelitian medik RSUD Sleman pada tanggal 8 Juni

2013, 12 Juni 2013 dan 15 Juni 2013. Fasilitator terapi kelompok ini merupakan psikolog yang telah berpengalaman menangani berbagai kasus termasuk kasus keluarga penderita gangguan jiwa.

Hasil uji hipotesis Metode analisis data

Hipotesis dalam penelitian ini adalah Metode analisis data menggunakan

ada perbedaan tingkat stres antara kelompok analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis

eksperimen yang diberikan terapi kelompok data kuantitatif menggunakan paket

dan kelompok kontrol yang tidak

Statistical Product and Service Solution

Subjek Jenis kelamin

Usia Pengukuran

Prates Pascates Tindak lanjut G-score (pra-pasca) Gained score(pasca-tindaklanjut) Gained score(pra-tindaklanjut) Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 P P P 50 49 50 170 112 71 66 49 49 74 54 45 104 63 22 -8 -5 4 96 58 26 Subjek Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek Jenis kelamin Usia Pengukuran

Prates Pascates Tindak lanjut Gained score(pra-pasca) Gained score(pasca-tindaklanjut) Gained score(pra-tindaklanjut) S1 S2 S3 S4 L P P P 55 43 60 59 68 115 104 79 68 118 104 80 70 110 96 79 0 -3 0 -2 -2 8 8 1 -2 5 8 0

Klasifikasi Kelompok eksperimen Kelompok kontrol

Min Maks Rerata SD Min Maks Rerata SD

Prates Pascates Tindaklanjut 71 49 45 170 66 74 117,67 54,67 57,67 49,743 9,815 14,844 68 68 70 115 118 110 91,50 92,50 88,75 21,733 22,650 17,802

(11)

mendapatkan terapi kelompok. Pengujian Whitney menunjukkan skor Z=-2,141 dan

hipotesis dilakukan dengan uji statistic, nilai p= 0,032 (p<0,05). Hal ini yaitu U Mann Whitney. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat dengan uji U Mann Whitney terdapat pada stres pendamping yang signifikan antara tabel di bawah ini: k e l o m p o k k o n t r o l d a n k e l o m p o k eksperimen setelah diberi terapi kelompok. Tabel 5. Rangkuman uji Mann Whitney Kelompok eksperimen tingkat stresnya k e l o m p o k e k s p e r i m e n d a n lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol kelompok kontrol. Hal ini menandakan bahwa terapi kelompok mempunyai pengaruh terhadap penurunan stres pendamping skizofrenia setelah diberi terapi kelompok. Setelah dua minggu dilakukan tindak lanjut untuk melihat pengaruh terapi kelompok terhadap penurunan stres pendamping skizofrenia. Berdasarkan analisis Mann Whitney menunjukkan skor Z= -2,141 dan p=0,034 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada Pada tabel 5 menunjukkan ada perbedaaan tingkat stres pendamping perbedaan tingkat stres pendamping yang skizofrenia antara kelompok eksperimen signifikan antara kelompok eksperimen dan dan kelompok kontrol setelah diberi terapi kelompok kontrol pada saat pasca tes, hal dan pada saat tindak lanjut.

ini ditunjukkan dengan skor Z=-2,141 dan Hasil penelitian ini mendukung p=0,032 (p<0,05). Hal ini menunjukkan penelitian terdahulu yang telah dilakukan bahwa setelah diberikan terapi kelompok oleh Young (2001) yang menggunakan interaksional kelompok eksperimen terapi kelompok untuk menurunkan beban mengalami penurunan stres daripada p e n d a m p i n g s k i z o f r e n i a . Yo u n g kelompok kontrol yang tidak diberi terapi memberikan pemahaman kepada para kelompok. Pada saat tindak lanjut tidak ada pendamping bahwa ada beberapa orang perbedaan tingkat stres pendamping antara yang mengalami situasi yang sama sehingga kelompok eksperimen dan kelompok mereka merasa terdukung. Hasil penelitian kontrol. Hal ini ditunjukkan dengan skor menunjukkan bahwa terapi kelompok Z=-1,768 dan p=0,077(p>0,05). efektif dalam menurunkan beban psikologis

pendamping skizofrenia.

PEMBAHASAN Hasil ini juga sesuai dengan

Penelitian ini bertujuan untuk penelitian yang telah dilakukan oleh Hazel mengetahui pengaruh terapi kelompok (2004) yang menunjukkan bahwa terapi terhadap penurunan stres pendamping kelompok dapat menurunkan distres dan utama skizofrenia pada kelompok menggali potensi yang dimiliki oleh eksperimen dan kelompok kontrol. Selain pendamping sehingga pendamping dapat itu juga untuk mengetahui perbedaan berfungsi dengan baik. Adanya terapi tingkat stres sebelum dan sesudah diberikan kelompok, keluarga dapat saling berbagi t e r a p i k e l o m p o k p a d a k e l o m p o k pengalaman mereka dalam merawat eksperimen dan kelompok kontrol. keluarga mereka yang mengalami Berdasarkan analisis data yang telah s k i z o f r e n i a d a n d a p a t s a l i n g dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat mengungkapkan perasaan. Selain itu perbedaan tingkat stres antara kelompok mereka juga mendapatkan informasi kontrol dan kelompok eksperimen setelah m e n g e n a i s k i z o f r e n i a d a n c a r a diberi terapi kelompok. Hasil analisis Mann menanganinya.

prates pascates tindaklanjut Mann-Whitney U 4.000 .000 1.000 Wilcoxon W 14.000 6.000 7.000 Z -.707 -2.141 -1.768 Asymp. Sig. (2-tailed) .480 .032 .077 Exact Sig. [2*(1-tailed

Sig.)] .629

a

(12)

Hasil ini juga sejalan dengan sebelas faktor penyembuh dalam terapi penelitian yang dilakukan oleh McFarlane kelompok juga mendukung keberhasilan dkk (2001) tentang terapi kelompok terapi kelompok ini. Sebelas faktor tersebut keluarga dan psikoedukasi serta penelitian a d a l a h m e m b a n g k i t k a n h a r a p a n , terapi kelompok dari Chien (2008). Hasil universalitas, penyampaian informasi, penelitian mereka menunjukkan bahwa altruisme, pengulangan korektif keluarga terapi kelompok untuk pendamping asal, pengembangan teknik sosialisasi, skizofrenia merupakan proses berbagi peniruan tingkah laku, belajar berhubungan tentang situasi umum dan pengalaman dengan pribadi lain, rasa kebersamaan, tentang perhatian umum dalam sesi katarsis dan faktor-faktor eksistensial kelompok terapi. Kekuatan pada kelompok (Yalom,2005).

ini adalah adanya pengetahuan tentang cara

mengatur sakitnya pasien dan berusaha SIMPULAN DAN SARAN untuk mengubah hidupnya senormal Simpulan

mungkin. Hal ini sejalan dengan penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang yang dilakukan oleh Hence (Chien, 2001) telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa psikoedukasi dan kelompok bahwa terapi kelompok mempunyai dukungan caregiver skizofrenia dapat pengaruh terhadap penurunan stres m e n u r u n k a n d i s t r e s s a t a u b e b a n pendamping skizofrenia. Hal ini terlihat dari pendamping dan meningkatkan interaksi skor Z=-2,141 dan p=0,032 (p<0,05), yang hubungan antara keluarga dengan pasien. artinya ada perbedaan tingkat stres Faktor penting yang menunjang pendamping kelompok eksperimen setelah keberhasilan sebuah penelitian adalah diberi terapi kelompok dan kelompok modul terapi kelompok, fasilitator dan kontrol yang tidak diberi terapi kelompok. karekteristik partisipan. Modul terapi Kelompok eksperimen memiliki tingkat kelompok untuk pendamping skizofrenia stres yang lebih rendah dibandingkan mengacu pada beberapa sumber dengan dengan kelompok kontrol.

mempertimbangkan masukan dari dosen

pembimbing (psikolog), psikolog klinis Saran

rumah sakit jiwa dan dokter jiwa (psikiater). Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa Terapi kelompok interaksional rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, disusun sebagai bentuk intervensi bagi para yaitu (a) Kepada peneliti selanjutnya, pendamping utama yang salah satu diharapkan dapat lebih memperhatikan keluarganya mengalami skizofrenia. kriteria subjek untuk terapi kelompok, (b) Metode yang ada pada terapi kelompok Peneliti selanjutnya menyusun aitem dalam adalah pemberian informasi tentang alat ukur sesuai dengan karakteristik subjek skizofrenia dan stres pendamping sehingga dapat dipahami oleh subjek, (c) skizofrenia, penggalian masalah dan Peneliti selanjutnya sebaiknya memastikan pengungkapan ide dan perasaan, saling untuk kehadiran peserta dalam terapi berbagi pengalaman dan adanya problem kelompok, (d) Mengembangkan terapi

solving dari anggota kelompok dan terapis. kelompok yang telah diterapkan oleh

Pada setiap pertemuan peserta diajak untuk peneliti, dan (e) Menjadikan hasil penelitian saling berbagi, saling mendukung dan ini sebagai data awal yang dapat saling memberikan masukan atas masalah dimanfaatkan untuk mengatasi kasus lain yang dialami masing-masing anggota yang berhubungan dengan pendampingan kelompok. Adanya norma kelompok dalam keluarga yang mempunyai anggota keluarga terapi kelompok dapat membangun saling yang mengalami gangguan jiwa berat. percaya antar anggota kelompok sehingga

mereka saling terbuka terhadap masalahnya (Prawitasari, 2011). Selain itu adanya

(13)

DAFTAR PUSTAKA Schizophrenia. Community Mental

Health Journal, 40 (5), 423-435.

Arif, I.S, (2006). Skizofrenia: Memahami

Dinamika Keluarga Pasien. Effectiveness of

Bandung: PT.Refika Aditama Psychoeducation and Mutual Support Group Program for Family Azwar, S. (2000). Penyusunan Skala Caregivers of Chinese People with

Psikologi. Yogyakarta: Pustaka S c h i z o p h r e n i a . T h e O p e n

pelajar. Noursing Journal. 2, 28-29.

Barrowlough, C., dan Tarrier, N., (1990). Corey, G. (2010). Teori dan Praktek S o c i a l F u n c t i o n i n g i n Konseling dan Psikoterapi. Schizophrenia. Journal of Social Bandung: PT Refika Aditama.

and Psychiatric Epidemology, 25,

130-131. Dorian, M., Gracia, J.R., Lopez, S.R., H e r n a n d e z , M . B . ( 2 0 0 8 ) . Baum, J., Frobose, T., Kraemer, S., Rentrop, Acceptance and Express Emotion

M., dan Pitschel-Walts, G., (2006). in Mexican American Caregivers P s y c h o e d u c a t i o n : A B a s i c of Relative With Schizophrenia. Psychotherapeutic Intervention for Proquest Journal, 47 (2), 215-228. Patient With Schizophrenia and

Families. Schizophrenia Bulletin, Hazel, N.A, McDonell, M.G, Short, R.A,

32 (1), 1-9. Berry, C.M, Voss, W.D, Rodgers,

M.L, dan Dyck, D.G. (2004). Bevans, M., dan Sternberg, E.M., (2012).

Caregiving Burden, Stress and Helath Among Family Caregivers o f A d u l t C a n c e r P a t i e n t s .

American Medical Association,

307(4), 398-403.

Bradley, G.M, Couchman, G.M, Parlesz, A, Nguyen, A.T, Singh, B, dan Ries, C. (2006). Multiple Family Group Treatment for Engslish and Vietnamese-Speaking Families Living With Schizophrenia.

Psychiatricservices.org, 57(4).

Brown, R.G dan Secker, D.L.(2005). Cognitive behavioural therapy (CBT) for carers of patients with Parkinson's disease: a preliminary randomised controlled trial.

J o u r n a l N e u ro l N e u ro s u rg

Psychiatry,76,491-497. McFarlane, W.R., Lukens, E., Link B.

(2001). Multiple-family groups and psychoeducation in the Chien, F.P., Greenberg J.S. (2004). A

treatment of schizophrenia. Positive Aspect of Caregiving: The

Archives of General Psychiatry,

Influence of Social Support on

52, 679–687. Caregiving Gains for Family

Members of Relatives with

Chien, W. (2008).

Impact of Multiple-Family Groups f o r O u t p a t i e n t s W i t h Schizophrenia on Caregivers' D i s t r e s s a n d R e s o u r c e s . http//Psychiatryonline.org

Maldonado. J.G, (2006). Burden of Care in F a m i l i e s o f P a t i e n t s w i t h Schizophrenia. Departemen of p e r s o n a l i t y, P s y c h o l o g i c a l t r e a t m e n t , U n i v e r s i t a s d e Barcelona, Spain

Maldonado, J.G., Urizar, A.C., (2007). Effectiveness of a Psycho-educational Intervention for Reducing Burden in Latin Families with Schizophrenia. Springer Science Bussiness Media, 16, 739-747.

(14)

Meijer, K., Schene, A., Martin, K., Knudsen, C., Becker, T., Thornicroft, G., Vasquez, J.L, dan Tansela, M. (2004). Need for Care of Patient with Schizophrenia and The Consequences for Their Informal Caregivers. Soc Psychiatry Epidemiol, 39, 251-258.

N a s h r , T. , K a u s a r , R . ( 2 0 0 9 ) . Psychoeducation and The Family Burden in Schizophrenia: A

Randomized Controlled Trial. Syah, A.J, Wadoo, O.V, dan Latoo, J.

Annals of General Psychiatry, 8 (2010). Psychological Distress in

(17), 1-6. Careers of People With Mental

Disorder. British Journal of

Nevid, J.F., Rathus, S.A., Greene, B. (2002). Medical Praticioners, 5 (5),

327-Psikologi Abnormal Jilid I. 334.

Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Swastiningsih, N. (2009). Kelompok Dukungan Untuk Menurunkan Stres Orangtua Pasien Kanker Anak. Tesis tidak diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Torres, M.A., Gonzales., Oraa Rodrigo., Aristegui, M., Rivas, M.A., Guimon,J. (2006). Stigma and discriminination towards people with schizophrenia and their family members. Social Psychiatry Psychiatr Epidemol. 42, 14-23. Urizar., A.C., Maldonado, J.G. (2006).

Burden of Care in Families with Schizophrenia. Quality of Life of Research. 15, 719-724.

Generalized Causal Inference.

NewYork: Houghton Mufflin Company.

Sreeja,I., Sandhiya, I., Rakesh, MB, Singh. (2009). Comparison Of Burden Between Family Caregivers Of Patients Having Schizophrenia And Epilepsy. The Internet

Journal of Epidemology. 6(2),

1540-2614.

Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Gramedia Widisarana Prawitasari, J.E. (2011). Psikologi Klinis Indonesia.

Pengantar Terapan Mikro dan Makro. Jakarta: Penerbit Erlangga

Philips, M.R., Pearson, V., Feifei, L., Xu, M., Yang, S. (2012). Stigma and Expressed Emotion: A Study Of People With Schizophrenia and Their Familiy Members in China.

The Britihs Journal Of Psychiatry,

181, 488-493.

Rice, P.L. (1998). Stress and Health. Third E d i t i o n . M o o r h e a d S t a t e U n i v e r s i t y : B r o o k s / C o l e Publishing Company

Sarafino, E. P. (2008). Health Psychology

Biopsychosocial Interaction Sixth Edition. United States of America:

New Jersey.

Schene, A.H, Wijngaarden, B.V, dan Koeter, Wai-Tong, C, Sally, W.C, Chan dan M.W. (1998). Family Caregiving Thompson, D.R. (2006). Effect of in Schizophrenia: Domain and a Mutual Support Group for Stress. Bulletin Schizophrenia, 24 Families of Chinese People With

(4), 609-618. Schizophrenia: 18 month follow

up. The British Journal of Shadish, W.R, Cook, T.D, Campbell, D.T. Psychiatry. 189, 421-49.

(2002). Experimental and Quasi

(15)

Wyman, K., Clarke, S., McKenzie, Young, B. (2001). Support Groups for

P.,Gilbert, M. (2008). The Impact Relatives of People Living With a

of Participation in A Support S e r i o u s M e n t a l I l l n e s s .

Group for Carers of A Person with I n t e r n a t i o n a l J o u r n a l o f

Schizophrenia: A Qualitative Psychososial Rehabilitation.

147-Study. International Journal of 168.

Psychosocial Rahabilitation, 12 (2), 97-109.

Yalom, I. (2005). The Theory and Practice

th

of Group Psychotherapy 5 . New York: Basic Books.

Gambar

Tabel 4. Deskripsi Data Penelitian medik  RSUD  Sleman  pada  tanggal  8  Juni
Tabel 5.   Rangkuman uji Mann Whitney  Kelompok  eksperimen  tingkat  stresnya  k e l o m p o k   e k s p e r i m e n   d a n   lebih  rendah  dibandingkan  dengan  kelompok kontrol kelompok  kontrol

Referensi

Dokumen terkait

Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik dan murotal terhadap penurunan tingkat stress mahasiswa S1 semester akhir Universitas

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien

Hasil penelitian yang didapat menunjukkan kemampuan mengontrol halusinasi sebagian besar dalam katagori kurang sebelum dilakukan terapi aktivitas kelompok stimulasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Terapi Musik Mozart terhadap Penurunan Derajat Nyeri Menstruasi pada Remaja Putri di MAN Padang Jopang

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok sebagian besar responden mengalami depresi ringan yaitu 5 orang (71,4%) dan yang paling

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan: Tingkat stres kerja karyawan sebelum diberikan terapi ROP berada pada kategori

Pengaruh Terapi Mozart terhadap Penurunan Tingkat Stres Mahasiswa Uji wilcoxon penelitian ini menunjukkan p= 0.008 dimana p < α 0,05 yang berarti pemberian terapi musik Mozart

Proposal terapi aktivitas kelompok sosialisasi untuk meningkatkan sosialisasi pada klien