• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI TERNAK TANAMAN PANGAN BERBASIS KAMBING DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI TERNAK TANAMAN PANGAN BERBASIS KAMBING DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN SISTEM USAHATANI TERNAK

TANAMAN PANGAN BERBASIS KAMBING DI KABUPATEN

LOMBOK TIMUR NUSA TENGGARA BARAT

(Development of Farming “Livestock-Crop” System Based on Goat at East

Lombok District, West Nusa Tenggara)

UKA KUSNADI1,K.DIWYANTO2danS.BAHRI3

1Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002 2Puslitbang Peternakan, Jl. Raya Pajajaran Kav. E-59, Bogor 16151

3Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

ABSTRACT

Sukaraja village-Jerowaru sub district in West Lombok district in West Nusa Tenggara, is one of the some locations for P4MI project activities, Agency of Agricultural Research and Development, Ministry of Agriculture. Most farmers are small holders that depend on dry land farming system with low income. They plant some plantations and crops such as tobacco, coves and depended-rainy rice. Unfortunately, the land are low fertile and the climate is very dry, with low rain fall which have 8 month dry and 4 month rainy. The impact of the condition makes low productivity of farming system and sometime they have nothing from the farm, so they are in poor. To improve farmer’s income, the project introduces 120 head dams, 40 head sires, PE goats distributed to 40 family farmers (FF) included in 4 farmer groups in the village of Wahan, Lingko baru, Embung Dalam and Pejaik which has 10 FF repectively. Every farmer gets 3 dams and 1 sire. Beside livestock, farmers also some elephant grass and seeds of sesbania and leucaena, housing equipments, concentrate and medicine and technical guidance from extensionists. Farmers rear the animals by themselves. Monitoring for 6 months. Data are analyzed by ex-ante analysis. Research results showed that rice, tobacco and goats participated to monthly income Rp. 130.000; Rp 387.143 and Rp 60.000 respectively, but corn is deficit Rp. 75.000. Especially for goat are good showed by their reproductivity and productivity, conception rate ≥90%, birth type 1.57–1.69, herd crop 147% and kid-death <10%. The integration of goat-crops/plantation does not optimize running in the operational. Some improvement from the introducing goat is that farmers used animal fertilization. To anticipate the development of the livestock-integrated system, farmers groups used to improve for creating their own organization to organize rolling goat between farmers and to improve the marketing and their product.

Key Words: Integrated, Farming System, Goat

ABSTRAK

Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu lokasi kegiatan Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Miskin melalui Inovasi (P4MI), Badan Litbang Pertanian, yang sebagian besar petani tersebut hidupnya dari usahatani lahan kering dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Jenis tanaman yang diusahakan adalah tembakau, jagung dan padi sawah tadah hujan. Dengan kondisi tanah yang kurang subur dan beriklim kering terutama curah hujan yang tidak menentu (8 bulan kering dan 4 bulan hujan) produktivitas usahatani menjadi rendah, bahkan sering mengalami kegagalan panen, sehingga petani menjadi miskin. Untuk meningkatkan pendapatan petani di desa Sukaraja Kecamatan Jerowaru Lombok Timur NTB, pada awal Agustus 2004 telah dilakukan introduksi ternak kambing PE sebanyak 120 ekor induk dan 40 ekor pejantan untuk 40 orang petani (KK) di empat kelompok petani masing-masing 10 KK di Dusun Wakan, 10 KK di dusun Lingko Baru, 10 KK di Dusun Embung Dalam dan 10 orang di Dusun Pejaik. Setiap petani (KK) menerima 3 ekor induk dan 1 ekor pejantan. Selain ternak petani juga mendapat bantuan bibit hijauan pakan, bahan dan perlengkapan kandang, pakan konsentrat dan obat-obatan pada awal kegiatan, serta bimbingan teknis dari petugas BPTP, untuk selanjutnya dipelihara petani secara mandiri. Untuk mengetahui perkembangan ternak kambing serta pendapatan petani dari usaha tanaman maupun ternak dilakukan pengumpulan data secara periodik setiap bulan. Hasil pengamatan selama 6 bulan menunjukkan bahwa berdasarkan hasil ex-ante analisis dari sistem usahatani padi, tembakau, jagung dan ternak kambing

(2)

memberikan pendapatan per bulan masing-masing adalah Rp. 130.000 untuk padi Rp. 387.143 untuk tembakau, Rp. 60.000 untuk kambing dan rugi Rp. 75.000 untuk jagung. Perkembangan ternak kambing ditinjau dari tingkat produktivitas dan reproduktivitas menunjukkan angka yang relatif bagus, yaitu laju perkembangan anak 147%, fertilitas lebih dari 90%, tipe kelahiran 1,57–1,69 dan angka kematian kurang dari 10%. Integrasi kambing dengan tanaman jagung dan padi masih belum optimal karena ketersediaan pakan hijauan masih mencukupi, tapi pemanfaatan pupuk kandang untuk tanaman sudah diterapkan. Untuk mengantisipasi berkembangnya usaha agribisnis pola system integrasi tanaman dan ternak. Kambing ini perlu dilakukan pembinaan kelembagaan kelompok tani yang akan mengatur perguliran ternak selanjutnya dan kemitraan pemasaran dengan pedagang ternak.

Kata Kunci: Pengembangan, Usahatani, Kambing

PENDAHULUAN

Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu daerah kering di Propinsi Nusa Tenggara Barat, dengan curah hujan 669 mm/ tahun pada daerah beriklim tipe E, dan 1289– 1640 mm/tahun pada daerah beriklim tipe D. Sebagian besar lahan di Lombok Timur adalah lahan kering (48,1%) sedangkan lahan sawah dan tegalan masing-masing 28,4% dan 16,1% (PF13P, 2003). Kabupaten Lombok Timur identik dengan kekeringan dan kemiskinan. Musim penghujan yang singkat (3–4 bulan) dan kemarau panjang 8 bulan) (BPS Propinsi Nusa Tenggara Barat, 2002), maka masalah air untuk usahatani pertanian tanaman pangan dan hortikultura di daerah ini belum mampu diatasi secara tuntas, sehingga kegagalan panen sering dialami petani.

Kabupaten Lombok Timur, merupakan salah satu lokasi kegiatan Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Miskin Melalui Inovasi (P4MI) Badan Litbang Pertanian, yang sebagian besar penduduknya hidup dari usahatani lahan kering dengan tingkat pendapatan yang relatif rendah. Hasil studi lapang di beberapa desa di Kabupaten Lombok Timur (SUTAMA et al., 2004) menunjukkan bahwa, usahatani lahan kering merupakan usahatani yang paling banyak dilakukan petani, namun hanya dapat dilakukan dalam waktu yang sangat terbatas (4–6 bulan). Padi, jagung dan tembakau merupakan komoditas yang banyak ditanam pada daerah ini dengan skala pemilikan lahan yang sangat terbatas, dan hampir semua petani juga memelihara ternak kambing dengan skala pemilikan yang rendah (1–2 ekor) sebagai bagian dari sistem usahataninya. Dengan demikian secara umum

khususnya ternak ruminansia (kambing dan kerbau) sangat strategis dalam menolong petani dari krisis ekonomi untuk keperluan jangka menengah atau panjang, sedangkan ternak unggas (ayam dan itik) untuk menopang kebutuhan harian. Namun lemahnya modal usaha dan teknologi yang dimiliki petani menjadikan ketidak berdayaan mereka dalam memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Sebagai daerah kering, Lombok Timur masih mempunyai potensi yang cukup besar untuk pengembangan usahatani berbasis ternak dalam sistem integrasi ternak- tanaman. Ternak sebagai komoditas biologis dapat memperbaiki kondisi lahan kritis dari pupuk organik yang dihasilkannya. Untuk Kabupaten Lombok Timur, nampaknya ternak kambing merupakan ternak pilihan. Jenis ternak ini telah umum diperiksa petani di daerah ini, walaupun dalam skala pemilikan yang rendah (SUTAMA et al.,

2004). Disamping siklus produksi yang relatif cepat, ternak ini secara biologis telah teruji kemampuannya untuk beradaptasi dengan daerah kering.

Seperti halnya dengan ternak yang lain, pemeliharaan ternak kambing juga masih sebagai usaha sambilan dengan jumlah pemilikan yang bervariasi namum umumnya rendah 2–5 ekor (SUTAMA et al., 2002).

Namun ternak ini diketahui dapat memberikan sumbangan pendapatan petani hingga 15–48% dari total pendapatan tergantung dari pola tanaman usahatani di daerah bersangkutan (PAAT et al., 1992; SARWONO dan DWIPA, 1993). Ternak kambing mempunyai peran sangat penting dalam mengatasi krisis ekonomi petani karena kegagalan usahatani misalnya pada waktu musim kering yang berkepanjangan (SARWONO dan DWIPA, 1993).

(3)

relatif cepat, dapat beradaptasi baik pada kondisi lahan marjinal, sudah biasa dipelihara petani. Pengembangan kambing memerlukan modal yang relatif kecil, pemeliharaannya mudah, dan dapat dilakukan pada lahan sempit seperti lahan pekarangan (SUWARDIH et al.,

1993), sehingga kemungkinan adopsinya oleh petani adalah cukup besar.

Atas dasar pertimbangan dan kondisi tersebut, maka Puslitbang Peternakan melakukan kegiatan pengembangan sistem usahatani ternak tanaman pangan berbasis kambing di Kabupatern Lombok Timur NTB dengan salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat produksi dan reproduksi ternak kambing di lahan kering sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Dari hasil kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam membuat kebijakan selanjutnya terutama oleh P4MI maupun institusi terkait di Lombok Timur.

MATERI DAN METODE

Kegiatan pengembangan usahatani ternak tanaman berbasis ternak kambing ini merupakan kegiatan lapang yang dilakukan di lahan petani dan melibatkan petani (on farm

research) dalam semua aspek kegiatan

(KNIPSCHEER dan HARDWOOD, 1989) dalam suatu kelompok tani di desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur–NTB. Studi lapang dengan teknik PRA (Partisipative Rural Approisal) telah dilakukan dan telah berhasil dipilih calon petani di Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur sebagai kooperator dalam kegiatan ini.

Pada tahap berikutnya, dilakukan verifikasi dari PRA yang sudah dilakukan di calon lokasi (SUTAMA et al., 2004), dan pengumpulan data

baseline untuk memperoleh gambaran kondisi terkini dari usahatani petani di lokasi pengkajian dan pengembangan serta penentuan 40 orang calon petani kooperator. Dari hasil PRA yang telah dilakukan, telah disepakati oleh semua pihak terutama petani kooperator bahwa kegiatan ini akan menggunakan ternak kambing sebagai bagian dari sistem usahatani

yang ada di lokasi kegiatan. Pada tahap berikutnya, dilakukan verifikasi dari PRA yang sudah dilakukan di calon lokasi (SUTAMA et

al., 2004), dan pengumpulan data baseline

untuk memperoleh gambaran kondisi terkini dari usahatani petani di lokasi pengkajian dan pengembangan.

Data yang dikumpulkan meliputi input-output usaha, produksi tanaman pangan/ perkebunan, data biologis dan pengembangan populasi ternak, mortalitas serta jenis dan jumlah pakan yang diberikan, produksi ternak, pemasaran hasil dan hasil penjualan produk usahatani, serta informasi lain yang berhubungan dengan kegiatan pengembangan usahatani ini. Analisis data dilakukan secara deskriptif, dan untuk melihat kelayakan usaha dilakukan analisis input-output sederhana.

Pada TA 2004 telah diintroduksi suatu model sistem produksi usahatani terpadu antara ternak kambing dan tanaman pangan/ perkebunan di Desa Sukaraja, Kabupaten Lombok Timur. Jenis dan pola tanam dalam usahatani tanaman pangan/perkebunan adalah sesuai dengan kebiasaan petani setempat yaitu padi–palawija/tembakau. Ternak kambing Peranakan Etawah (PE), sebanyak 160 ekor yang terdiri dari 40 ekor pejantan dan 120 ekor induk untuk 40 orang petani (KK), masing-masing 1 ekor pejantan dan 3 ekor induk, sudah dibagikan kepada petani. Di samping itu petani menerima bantuan bibit beberapa jenis tanaman hijauan pakan ternak (HPT) seperti rumput Pennisetum purpureum var. Taiwan,

Sesbania sesban dan lamtoro serta

perlengkapan kandang. Dalam pemeliharaan kambing, setiap petani kooperator harus mengembalikan anak kambing umur 8–10 bulan sebanyak 50% (sistem bagi hasil) dari anak kambing yang lahir selama 6 kali beranak (4 tahun), untuk digulirkan kepada petani kooperator lainnya, kemudian induk kambing awal menjadi milik petani sendiri. Petani kooperator yang dipilih adalah petani yang sudah berpengalaman dalam beternak kambing minimal 12 bulan dan sedang memiliki dan memelihara ternak. Distribusi ternak kambing di Desa Sukaraja, Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur Tabel 1.

(4)

Tabel 1. Distribusi ternak kambing pada petani kooperator pada TA 2004 di Desa Sukaraja, Kecamatan

Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur

Distribusi kambing (ekor) Dusun

Jumlah kooperator Jantan Induk Jumlah

Wakan 10 10 30 40

Embung Dalem 10 10 30 40

Lingkuk Baru 10 10 30 40

Penjaik 10 10 30 40

Jumlah 40 40 120 160

Budidaya ternak kambing

Pemeliharaan kambing dilakukan sepenuhnya oleh petani dengan bimbingan petugas BPTP dan Dinas Peternakan setempat. Teknologi yang diintroduksi berupa perbaikan kandang, pakan dan pembuatan kompos serta peningkatan skala usaha. Setiap petani kooperator ini akan menerima sejumlah ternak kambing PE terseleksi dari proyek sehingga skala usaha pemeliharaan ternak kambing menjadi minimal 5 ekor (4 ekor betina dan 1 ekor jantan = sistem 4 : 1). Pada tahun ke 2–3 diharapkan petani sudah mempunyai 8 ekor induk betina dan 1 ekor jantan (sistem 8 : 1) dan akhirnya nanti di setiap petani akan ada total populasi ternak sebanyak 20–30 ekor dari berbagai tingkatan umur. Dengan sistem 8 : 1, petani akan dapat menjual ternak umur 8–10 bulan sebanyak 1 – 2 ekor/bulan/petani, serta menghasilkan sekitar 200 kg pupuk organik, yang dapat dipergunakan untuk usahatani tanaman pangan (padi dan jagung). Untuk ini disetiap kandang petani dibuat tempat pemrosesan pupuk organik (kompos kambing) dengan teknologi menggunakan probiotik “Bioflona”, yang memerlukan waktu yang relatif singkat 3–4 minggu (RAHARJO et al.,

2003).

Analisa ekonomi

Untuk melihat tingkat kemajuan dari model usaha tani tanaman-ternak berbasis kambing ini dilakukan analisa secara ekonomi per tahun, selain itu juga dapat diketahui keuntungan dan

untuk kebijakan produksi pada tahap berikutnya.

Dalam analisa ekonomi parameter yang diukur meliputi:

1. Input-output produksi setiap kegiatan. 2. Penggunaan tenaga kerja.

3. Penerimaan setiap jenis usahatani. 4. Pendapatan bersih usahatani dan off farm

Dari data tersebut selanjutnya dapat dihitung laba-rugi usahatani, pada setiap kegiatan. Data primer dari masing-masing petani kooperator yang diambil setiap bulan diolah setiap siklus baik tanaman maupun ternak untuk analisa ekonomi.

Untuk melihat atau mengukur tingkat keberhasilan dari model usahatani ini adalah: 1. Tingkat pendapatan petani dan keluarga

tahunan.

2. Kesejahteraan petani dan keluarga ditinjau dari kepemilikan rumah tangga pada akhir proyek.

3. Peningkatan produksi lahan ditinjau dari produksi tanaman setiap tahun.

4. Meningkatnya produktivitas ternak yang diukur dengan kenaikan populasi, produksi dan reproduksi.

Dalam melihat tingkat keberhasilan tahunan perlu didukung oleh analisis ex-ante dari system usahatani yang dilakukan petani dengan cara menghitung pendapatan petani dari setiap jenis kegiatan usaha (padi, tembakau, jagung dan kambing). Aspek yang dianalisa adalah: total biaya, perkiraan nilai produksi, kebutuhan

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat pendapatan petani

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa jenis tanaman yang dominan diusahakan petani adalah padi, tembakau dan jagung, sedangkan jenis ternak yang paling banyak dipelihara adalah kambing.

Berdasarkan hasil PRA (Partisipative Rural Appraisal) di lokasi penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pemilikan tanah yang diusahakan petani relatif kecil yaitu 0,6 + 1,2 ha. Dari luasan tersebut sebagian besar berupa sawah tadah hujan (83%), sisanya berupa tegalan (kebun) dan pekarangan rumah (17%). Pola tanam yang biasa dilakukan adalah padi– tembakau/palawija bero. Khusus tahun 2004 rata-rata luasan lahan yang digarap adalah 0,5 ha padi, 0,75 ha tembakau dan 0,1 ha jagung. Disamping itu petani rata-rata memelihara 2 ekor kambing.

Dari kegiatan tersebut di atas, secara ex-ante dianalisa sehingga diperoleh gambaran tingkat pendapatan dari setiap kegiatan yang dilakukan petani tertera pada Tabel 2.

Dari Tabel 2 terlihat bahwa dengan melaksanakan seluruh kegiatan tersebut di atas petani memperoleh pendapatan Rp. 3.355.500 per tahun untuk satu keluarga. Disamping itu tidak semua kegiatan usaha dilakukan oleh petani secara penuh dalam satu tahun secara teratur. Hal ini sangat tergantung pada musim, ketersediaan waktu, lahan dan modal sehingga distribusi pendapatan dalam satu tahun tidak dapat dideteksi secara pasti. Oleh karena itu pendapatan riil petani dengan kegiatan usaha seperti itu sulit untuk berkembang. Rata-rata

anggota keluarga petani adalah 4 orang terdiri dari petani, istri dan 2 orang anak. Berarti pendapatan/kapita/tahun adalah Rp. 838.875. Keadaan ini mempunyai arti bahwa petani tersebut masih tergolong miskin, karena menurut ANANTO, 2004 bahwa petani dengan

pendapatan kurang dari Rp. 1.000.000/kapita/ tahun termasuk petani miskin yang perlu ditingkatkan pendapatannya melalui inovasi teknologi pertanian sesuai dengan program P4MI.

Data pada Tabel 2 tersebut juga memperlihatkan bahwa pendapatan yang paling besar diperoleh dari bertanam tembakau. Tetapi tanaman tembakau ini memerlukan waktu pemeliharaan selama 7 bulan, sehingga pendapatan per bulannya Rp. 387.143.

Padahal petani di Wonosobo Jawa Tengah dapat memperoleh pendapatan dari tanaman tembakau sebanyak Rp. 475.000/bulan atau Rp. 5.700.000 /ha/periode produksi (KUSNADI

et al., 2003). Namun dengan pendapatan yang

lebih kecil ini petani tetap melakukan kegiatan usaha tembakau. Hampir setiap petani yang memiliki lahan luas di Desa Sukaraja pernah melakukan usahatani tanaman tembakau. Hal ini disebabkan karena adanya kemudahan dari pihak pengusaha rokok dalam menyediakan modal usaha tani dan pemasaran tembakau. Disamping itu apabila kualitas tembakau baik, dapat dijual dengan harga yang tinggi, sehingga ada petani yang mendadak kaya. Namun belakangan ini banyak petani merasa rugi karena tembakau harganya rendah akibat kualitas yang jelek. Oleh karena itu usahatani tembakau merupakan usaha yang bersifat spekulasi dalam memperoleh keuntungan.

Tabel 2. Tingkat pendapatan dari setiap kegiatan usaha yang dilakukan oleh petani untuk setiap komoditas

per periode produksi

Kegiatan usaha Penerimaan (Rp) Pengeluaran (Rp) Pendapatan (Rp) Padi sawah (0,5 ha)

Tembakau (0,75 ha) Jagung (0,1 ha) Kambing (2 ekor) 1.800.000 11.700.000 180.000 1.480.000 1.410.500 8.990.000 404.000 1.000.000 389.500 2.710.000 - 224.000 480.000 Jumlah 15.160.000 11.804.500 3.355.500

(6)

Pendapatan petani dari usahatani tanaman padi hasil ex-ante analisis dalam luasan 0,5 ha memperoleh pendapatan Rp. 389.500 selama tiga bulan atau Rp. 130.000/bulan. Pendapatan ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian KUSNADI (2005) di lahan kering Kabupaten

Tangerang yang hanya memperoleh pendapatan Rp. 141.600/bulan/0,5 ha. Kecilnya pendapatan dari tanaman padi ini karena produksinya rendah yaitu hanya mencapai 3 ton/ha. Namun demikian pada umumnya padi tidak dijual tapi disimpan sebagai bahan pangan untuk konsumsi sendiri (keluarga), sehingga petani kurang peduli terhadap keuntungan maupun rugi dalam usahatani padi, karena padi sudah menjadi kewajiban untuk ditanam sebagai upaya ketahanan pangan bagi keluarganya.

Jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi. Namun waktu tanam biasanya bersamaan dengan waktu tanam tembakau, sehingga lahan untuk tanaman jagung dialokasikan oleh petani lebih sempit daripada untuk tembakau, bahkan sama sekali tidak menanamnya apabila harga tembakau diperkirakan akan lebih mahal. Pada tahun 2004 rata-rata petani menanam jagung seluas 0,1 ha, dan ternyata mengalami kerugian

sebesar Rp. 224.000 selama 3 bulan atau Rp. 75.000/bulan. Begitu juga di Tangerang dengan luas lahan 0,1 ha petani hanya memperoleh keuntungan Rp. 59.450/bulan, (KUSNADI 2005). Hal ini mungkin yang

menyebabkan banyak petani yang enggan menanam jagung, karena keuntungan yang diperoleh rendah sekali.

Disamping bertanam padi, jagung dan tembakau, petani juga memelihara kambing rata-rata 2 ekor, dengan memperoleh pendapatan Rp. 480.000/tahun atau Rp. 60.000/ bulan. Walaupun pendapatan dari kambing ini relatif kecil nampaknya petani lebih senang, karena tidak memerlukan biaya pemeliharaan, cukup dilepas di lahan kosong atau sawah yang bero. Selain itu kambing merupakan tabungan yang sewaktu-waktu dapat diluangkan untuk keperluan yang sifatnya.mendesak. Bahkan yang utama adalah pertimbangan resiko kegagalannya lebih kecil daripada usaha tanaman. Oleh karena itu apabila memiliki modal cukup cenderung untuk memelihara kambing lebih banyak, karena dengan memelihara 10 ekor kambing saja dapat memperoleh penerimaan usaha Rp. 634.650 (KUSNADI, 2005).

Tabel 3. Tingkat produktivitas dan reproduktivitas serta perkembangan kambing selama 6 bulan di lokasi

kegiatan

Jumlah kambing di masing-masing lokasi (ekor) Uraian

Wakan Lingku Baru Embung Dalam Pejaik

Jumlah awal Induk Pejantan Induk kosong Induk bunting Induk melahirkan Jumlah anak Kematian Induk Pejantan Anak Jumlah akhir Induk Pejantan Anak 30 10 1 4 25 41 1 1 1 29 9 40 30 10 - 1 29 49 - - - 30 10 49 30 10 1 1 28 44 - - 2 30 10 42 30 10 - 2 28 44 - - - 30 10 44

(7)

Dari Tabel 3, bahwa jumlah induk yang bunting dan induk yang melahirkan cukup banyak dibandingkan dengan induk yang kosong (belum/tidak bunting). Berarti tingkat fertilitas kambing tersebut sangat baik untuk setiap lokasi mencapai angka lebih dari 90%. Menurut SETIADI (2002) dengan tingkat fertilitas 80% termasuk kambing yang produktif. Ditinjau dari induk yang melahirkan sebanyak 83–97% ternyata menghasilkan jumlah anak sebanyak 178 ekor (148,3%) dan terbanyak di dusun Lingko Baru, yaitu 49 ekor (163%). Hal ini berarti tipe kelahiran mencapai 1,57–1,69 atau rata-rata 1,62.

Angka kematian baik pada yang dewasa maupun anak masih jauh di bawah 10% yaitu kambing dewasa 1,25% dan anak kambing 1,7%. Rendahnya angka kematian ini karena intensifnya petugas kesehatan hewan dalam mengadakan pembinaan dan penyuluhan terhadap pencegahan dan pengobatan penyakit. Kematian induk dan pejantan terjadi pada petani yang kurang aktif dalam pertemuan kelompok, sehingga waktu pertama kambing terserang penyakit Orf, penyakit berlanjut dengan luka terbuka sehingga terjadi myasis akibatnya banyaknya lalat yang bertelur pada luka tersebut, sehingga ternak menjadi kurus dan akhirnya mati.

Dari angka-angka produksi dan reproduksi kambing tersebut, maka laju pertambahan anak (LPA) selama 6 bulan mencapai angka 135– 164% atau rata-rata 147%. Angka ini cukup baik bila dibandingkan dengan hasil penelitian KUSNADI (2004) di Kabupaten Tangerang yang

hanya mencapai angka LPA 142%.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian selama 6 bulan pelaksanaan kegiatan pengembangan sistem usahatani ternak-tanaman pangan berbasis kambing di Kabupaten Lombok Timur dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Lokasi kegiatan dapat mewakili daerah lahan kering/sawah tadah hujan dengan iklim yang kering sehingga dapat dikategorikan daerah “miskin”, baik ditinjau dari alam dan lingkungannya, maupun tingkat pendapatan petani yang rendah.

2. Berdasarkan hasil ex-ante analisis dari sistim usahatani padi, tembakau, jagung dan ternak masih menunjukkan angka pendapatan petani per bulan masih rendah, yaitu Rp. 130.000 untuk padi, Rp. 387.143 untuk tembakau, Rp. 60.000 untuk kambing dan rugi Rp. 75.000 untuk jagung.

3. Introduksi ternak kambing skala 4 : 1 dalam sistem integrasi ternak dan tanaman kepada petani kooperator memberikan prospek yang baik dalam pengembangan ternak kambing dan meningkatkan pendapatan petani.

4. Integrasi ternak kambing dengan tanaman pangan terutama jagung dan padi masih belum optimal karena ketersediaan pakan masih mencukupi, tetapi pemanfaatan pupuk kandang untuk tanaman sudah diterapkan.

5. Tingkat produktivitas dan reproduktivitas kambing menunjukkan angka yang relatif bagus, yaitu laju perkembangan anak 147%, Fertilitas >90%, tipe kelahiran 1,62; kematian rendah di bawah 10%.

DAFTAR PUSTAKA

ANANTO. 2004. Strategi pencapaian sasaran

pengembangan dan diseminasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah miskin sumber daya alam. Makalah Workshop Pengembangan Pertanian Lahan Marginal P4MI/PFI3P. Badan Litbang Pertanian. BPSPROPINSI NUSA TENGGARA BARAT. 2002. Nusa

Tenggara Barat Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Barat 2002. KNIPSCHEER, H.C. and R.R. HARWOOD. 1989.

On-station versus on-farm research: Allocation of resources. Dalam: SUKMANA et al. (Eds.). Development in Procedures for Farming Systems Research: Proc. Int. Workshop, AARD, Jakarta.

KUSNADI, U.D. PRAMONO dan SAJIMIN. 2003. Integrasi Usahatani Ternak di Dataran Tinggi Wonosobo Jawa Tengah. Laporan Sementara P4MI (PFI3P) Badan Litbang Pertanian.

KUSNADI, U. 2004. Produktivitas dan Reproduktivitas Kambing di lahan marginal Kabupaten Tangerang Propinsi Banten. Seminar Lahan Kering Universitas Gajah Mada dan Puslitbang Peternakan, Yogyakarta 8 Oktober 2004.

(8)

KUSNADI, U. 2005. Produktivitas dan

Reproduktivitas serta usaha ternak kambing terhadap pendapatan petani di lahan kering dataran rendah Kabupaten Tangerang. Pros. Seminar Nasional Pengembangan Usaha Peternakan berdaya saing di lahan kering. Fakultas Peternakan UGM dengan Puslitbang Peternakan DEPTAN. Yogyakarta 18 Juni 2005. hlm. 267–275.

PAAT, P.C., B.SETIADI, B. SUDARYANTO dan M.

SARIUBANG. 1992. Peranan usaha ternak kambing Peranakan Etawah dalam sistem usahatani di Banggae Majene. Pros. Sarasehan Usaha Ternak Kambing dan Domba Menyongsong Era PJPT II. hlm. 162–165. RAHARJO,Y.C.,SAJIMIN,NURHAYATI dan LUGIYO.

2003. Integrasi Sistem Usaha Ternak Sayuran Berbasis Kelinci di Sentra Produksi Sayuran Dataran Tinggi: Pengayaan Kompos Kelinci dan Pemanfaatannya dalam Produksi Sayuran Organik. Laporan Hasil Penelitian Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor 2003. SARWONO, B.D. dan I-B.G. DWIPA. 1993. Sistem

produksi dan reproduktivitas kambing di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Pros. Lokakarya Potensi dan Pengembangan Ternak Kambing di Wilayah Indonesia Bagian Timur. Surabaya, 28–29 Juli 1992. hlm. 55–63.

SETIADI. B. 2002. Pengembangan Peternakan

Kambing di Kabupaten Kampar Propinsi Riau. Laporan Kegiatan. Puslitbang Peternakan, Bogor.

SUTAMA, I-K.,I-G.M.BUDIARSANA,A.R.SIREGAR

dan M.ZULBARDI.2002. Model Pengembangan Ternak Non FH. Direktorat Budidaya Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan dan Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor. SUTAMA, I-K. 2003. Kambing Peranakan Etawah

Kambing Perah Indonesia. Brosur. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor. 2003. SUTAMA, I-K, L.H. PRASETYO SUPRIYATI, I-G.M.

BUDIARSANA dan E. SUTEDI. 2004. Pengembangan “Quick Yield” Komoditas Ternak Sebagai Komponen Agribisnis di Daerah Marginal. Laporan Sementara Hasil Penelitian. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor 2004.

SUWARDIH,J.BOBIHOE dan C.J.S.MOMUAT. 1993. Peranan ternak kambing dalam usahatani pola pekarangan zona alluvial Naibonat. Proyek P3NT, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Gambar

Tabel 1. Distribusi ternak kambing pada petani kooperator pada TA 2004 di Desa Sukaraja, Kecamatan  Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur
Tabel 2.  Tingkat pendapatan dari setiap kegiatan usaha yang dilakukan oleh petani untuk setiap komoditas  per periode produksi
Tabel 3. Tingkat produktivitas dan reproduktivitas serta perkembangan kambing selama 6 bulan di lokasi  kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian hasil perbaikan dimaksud tidak perlu dilakukan apabila pasangan calon yang di dukung oleh partai politik atau gabungan partai politik tidak ada

1. Kesesuaian dengan tujuan, kriteria pemilihan media didasarkan atas keksesuaiannya dengan standard kompetensi, kompetensi dasar dan indicator. Kesesuaian dengan materi

Di dalam proses pengolahan makanan TIDAK terdapat tahap yang dapat membunuh mikroorganisme berbahaya atau mencegah / menghilangkan bahaya kimia / fisik.. Makanan yang mengandung bahan

Unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen kompetensi dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau di

Sedangkan pengertian katalog adalah daftar pustaka (buku dan non buku) milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk mencari dan

Hal-hal apakah yang penting yang harus kita ketahui tentang dunia di sekitar kita, gereja dan kehidupan pribadi setiap orang kristen yang telibat dalam pelayanan untuk berdoa

Beberapa ahli tersebut memiliki definisi yang serupa, maka pengertian asertif dapat disimpulkan sebagai kemampuan untuk mengemukakan perasaan, pikiran, pendapat secara langsung,

Catatan Pemegang Rekod ZULKEFLI B DOLLAH Tahun 1998 Sekolah SK CATOR AVENUE Masa/Jarak 13.2. 3255 MUHAMMAD DANISH AQIL BIN MOHD FAUZI SK