Mengapa shalat tidak membawa manfaat? Mengapa banyak sekali orang yang melakukan shalat namun sekaligus juga menjadi koruptor, penjahat dan segala

Teks penuh

(1)

Mengapa shalat tidak membawa manfaat? Mengapa banyak sekali orang yang melakukan shalat namun sekaligus juga menjadi koruptor, penjahat dan segala macam perbuatan tercela lainnya? Mengapa garansi yang Allah swt. berikan hanya tampak sebagai angan-angan, bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar?

Ulasan berikut menggarisbawahi pentingnya tata-tertib mengerjakan shalat sehingga shalat yang kita kerjakan mengikuti apa-apa yang Rasulullah saw. contohkan sehingga garansi Allah swt. dalan surat al-Ankabut: 45 diatas dapat kita nikmati.

Apabila kita perhatikan di sekeliling kita dengan seksama maka tampaklah adanya beraneka ragam praktik pelaksanaan shalat. Dan diantara keragaman tersebut ternyata ada beberapa hal yang tidak ditemu-kan tuntunannya, oleh karena itu sudah sepantasnya-lah kita mencermati sumber kajian fikih tentang shalat dengan niat agar seluruh ujaran dan amalan shalat kita sesuai dengan contoh dari Rasulullah saw. Kalau Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat dengan berbagai macam bacaan, tidak demikian dengan gerakannya kecuali beberapa hal yang tidak mencolok, sehingga dengan adanya beragam praktik pelaksanaan shalat tersebut, tidak tertutup pula akan adanya kemungkinan bahwa di beberapa bagian dari shalat yang sudah biasa kita kerjakan barangkali ada yang tidak benar, karena banyak ditemui kebedaan

(2)

dalam mengerjakan shalat, mulai dari cara meng-hadirkan niat hingga salam.

Menjadi bahan pemikiran kami apakah kita memang diberi keleluasaan yang sedemikian besar dalam me-laksanakan shalat, artinya semua perbedaan itu benar adanya, dan oleh karenanya tidak perlu dirisaukan, atau ini adalah masalah khilafiyah yang tidak perlu dicermati, sedangkan Rasulullah saw. bersabda:

Shalluu kamaa raaytumuunii ushallii. Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. Bukhari dan Ahmad - Hamidy, Mu’ammal, Terje-mahan Nailul Authar 2, h. 483)

Beliau bahkan pernah menegur seseorang dengan keras hanya karena ia tidak menghadirkan

thuma’-ninah (posisi sempurna) dalam shalatnya: “Kembali-lah, ulangi shalatmu karena kamu belum melakukan shalat. (maksudnya dengan thuma’ninah)” (HR. Bukhari)

Perintah Rasulullah saw. ini sangat keras, yang deng-an tegas melardeng-ang kita untuk melaksdeng-anakdeng-an shalat apabila tidak sama dengan yang dicontohkan. Untuk itu Beliau tidak segan-segan memeragakannya dari atas mimbar, tidak lain agar para sahabat dapat melihat dengan jelas tertib shalat yang benar. (Lihat SR. Bukhari Muslim)

Lebih lanjut Beliau mengatakan: “Bilamana ada

urusan agamamu, maka serahkanlah ia kepada-ku, dan bilamana ada urusan duniamu, maka

(3)

Perintah Rasulullah tersebut sangat jelas dan gamblang bahwa dalam urusan agama, kita harus sepenuhnya mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Kita atau siapa pun tidak mempunyai wewenang atau kebebasan untuk menentukan bentuk dan cara-cara peribadatan yang berten-tangan dengan Nabi Muhammad saw., atau yang tidak pernah diajarkan atau disetujui oleh utusan Allah itu. (US. Rafik)

Di dalam al-Qur‘an banyak dijumpai firman Allah swt. untuk beribadah dengan benar. Diantaranya:

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengeta-hui. (QS. Al-Jaatsiyah: 18)

Allah swt. mengatakan bahwa mereka yang tidak mengikuti syariat-Nya adalah orang-orang yang tidak mengerti yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Mereka yang hanya mengikuti hawa nafsunya bila diberi petunjuk biasanya mudah tersinggung. Keter-singgungan muncul akibat dari ketidaktahuan akan kaidah-kaidah peribadatan. Maka di sinilah penting-nya pencerahan itu.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan jangan berbuat syirik dalam ber-ibadah kepada Tuhan-nya. (QS. Al-Kahfi: 110)

(4)

Kemudian bila kita perhatikan QS. Al-Maa’uun: 4-5 dimana dikatakan: “Celakalah orang-orang yang

shalat, yaitu orang yang lalai dari shalatnya.”

‹æƒ›ø;‹f fiπ¿‚F’‹n fiΩ‹ü fiπ›ø ‹Ω≈‚a·Í≥: % ‹ç·‚¥‹o›∏Ï¥‚≥ ‡µfi≈‹ƒÍß

Saahuun atau lalai mencakup kelalaian dalam

mena-ati tata-tertib shalat, tidak mengikuti apa-apa yang Beliau contohkan dalam praktik. Allah katakan:

“Celaka”.

Lalai terhadap shalat mencakup empat hal: Lalai de-ngan tidak mengerjakannya di awal waktu dan sering menunda hinga akhir waktu, lalai dengan tidak me-laksanakan rukun-rukun dan syarat-syaratnya menu-rut cara yang ditetapkan, lalai dengan tidak menjaga kekhusyu’an dan lalai dengan tidak merenungkan makna bacaan shalat.

Jadi karena di dalam beribadah pun ada unsur-unsur yang dapat membawa kepada kekeliruan bila tidak mengikuti aturan-aturan yang telah disyariatkan yang menjadikannya sia-sia bila tidak berhati-hati dalam mengerjakannya, maka kita wajib berusaha untuk mencermati agar dapat mengamalkannya sesuai pe-tunjuk.

Pokok-pokok penting dari ikhtisar shalat ini mengu-tip Pengajaran Shalat karangan A. Hassan, (Cet 1994), Muhammad Nashiruddin al-Albani (2002) da-lam Sifat Shalat Nabi saw., Dewan Hisbah P.P. Persis (2002) dalam Risalah Shalat, dan Abu Ubaidah Masyhur (2001) dalam Koreksi Total Ritual Shalat.

(5)

A. Hassan, dalam mukaddimahnya di dalam buku

Pengajaran Shalat mengatakan bahwa

keterangan-keterangannya hanya diambil dari hukum-hukum di dalam al-Qur‘an dan Hadits yang shahih sehingga tidak meragukan Beliau walaupun seandainya ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan kita disini. Seperti itu pula saya berpedoman, dengan se-mangat tawaasau bil haqq, demi memenuhi kewajib-an penulis menyampaikkewajib-an sesuatu ykewajib-ang diketahuinya, sebagai sebuah amal baik.

Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dan yang bathil, dan jangalah kamu sembunyi-kan yang hak itu sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 42)

Selanjutnya yang tidak kalah penting untuk dipa-hami dengan baik adalah perbedaan domain

khilaf-iyah dan bid’ah, karena masih rancu dan banyak yang

segan (takut) untuk membicarakan masalah-masalah yang mereka anggap khilafiyah padahal sebenarnya bukan merupakan perbuatan khilafiyah melainkan

bid’ah yang memang tegas dilarang untuk dikerjakan.

Kebedaan memang wajar, namun untuk masalah peribadatan kita tidak mempunyai ruang gerak yang cukup luas untuk itu, dan seyogyanya kita tidak terkecoh dengan ungkapan yang mengatakan bahwa

“perbedaan di antara umatku merupakan rakhmat,”

walaupun kalimat ini sudah terlanjur populer di masyarakat luas:

(6)

“Perselisihan (perbedaan) di antara umatku ada-lah rakhmat.” Hadits ini tidak ada sumbernya. Para pakar hadits telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya namun tidak menemukan. Ibnu Hazem dalam kitab al-Ahkam fii Ushulil Ahkam V/64 menyatakan: “Ini bukan hadits.” (Albani, 2002, Silsilah Hadits Dha‘if & Maudhu’ I, h. 68)

Lebih jauh lagi ungkapan di atas tidak bersesuaian dengan firman Allah swt., berikut:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang me-nyebabkanmu menjadi gentar dan hilang kekuat-anmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah be-serta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal: 46)

Saya memahami bahwa masih sangat banyak

hadits-hadits shahih mengenai shalat yang tidak

dicantum-kan di sini, atau yang dimengerti dengan pemahaman berbeda. Hanya saja apa yang dikemukakan dalam uraian yang sederhana ini telah diusahakan agar dekat dengan pemahaman secara umum dan mempunyai landasan yang berasal dari Rasulullah saw. sebagai satu-satunya sumber pedoman peribadatan, sebagai-mana yang beliau nyatakan sendiri dalam khutbahnya sewaktu haji wada’ yang mengatakan bahwa jika kita ingin selamat di dunia dan akhirat berpedomanlah pada kitabullah dan sunnahnya. Hal mana ditegaskan oleh ayat berikut:

(7)

Dan tidak patut bagi laki-laki mu’min, dan tidak (pula) bagi perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetap-an, akan ada bagi mereka pilihan (lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

Ayat di atas dengan jelas memberi batasan koridor tertib beribadah, yaitu keterbatasan pilihan kita dalam melaksanakan segala bentuk peribadatan kecuali atas apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, bukan selain dari itu. Allah swt. mengatakan tidak patut mencari cara peribadatan lain. Bagi yang me-langgar, maka mereka termasuk golongan orang yang sesat. Ayat ini pula yang menjadi pembeda antara

ibadat dan adat istiadat. Janganlah kita hidup ber-firqah-firqah terkotak-kotak karena

mempertahan-kan salah satu madzhab saja. Koridor kita jelas, Islam yang telah sempurna diturunkan oleh Allah swt. melalui Rasul-Nya Muhammad saw.

Ikutilah olehmu apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sung-guh, sedikit sekali engkau belajar darinya. (QS. Al-A’raf: 3)

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada keempat im-am madzhab yang sudah populer, saya ingin meng-garisbawahi ayat 3 dari surat al-A’raf yang sangat tegas dan keras, yang mengandung perintah untuk mengikuti aturan-aturan-Nya, dan melarang untuk

(8)

mengikuti yang selain dari itu, karena pada dasarnya bukan kepada siapa kita hendaknya patuh melainkan kepada sumber yang mereka ambil yaitu al-Qur‘an dan Hadits Shahih, kemudian menyimpulkan bahwa hanya sedikit dari kita yang mematuhi. Semoga kita termasuk salah satu darinya.

Simak wahyu terakhir yang disampaikan Rasulullah saw. di padang Arafah sewaktu haji wada’:

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku untukmu dan Aku ridha Islam sebagai agamamu. (QS. Al-Maidah: 3)

Islam telah diridhai-Nya sebagai agama yang sem-purna, artinya tidak memerlukan modifikasi, akse-sori, atau tambahan apa-apa lagi setelah disampaikan secara lengkap oleh Rasulullah saw. baik dari hal peraturannya, kewajiban dan pantangannya, maupun tata-tertib pelaksanaan dan hukum-hukumnya, se-hingga kewajiban kita hanyalah berittiba’ saja.

Ittiba’ adalah mengikuti rambu-rambu yang telah

ditetapkan Allah swt. melalui Rasulullah saw. Rambu adalah tanda yang mudah dipahami, yang memiliki unsur pemaksaan, perintah, larangan, peringatan atau petunjuk. Di dalam ranah agama, ia merupakan satu set perangkat yang membentuk sebuah koridor di-mana kita bebas melakukan aksifitas syariah.

Bila rambu telah terpasang, maka akal harus dipergunakan untuk membaca rambu, bukan

(9)

berlalu-lintas, bila rambu menunjukkan dilarang belok maka akal tidak lagi boleh mengatakan: “Belok kan lebih dekat.” (Rudy Rianto).

Ini yang masih sering terjadi, dimana banyak orang dalam hal peribadatan mengatakan: “Toh ini

perbuat-an yperbuat-ang baik, mengapa tidak boleh.” Baik belum

tentu benar namun sebaliknya, benar pasti baik. Rambu-rambu bersifat tegas, mengikat dan superior terhadap akal (tidak memerlukan konfirmasi akal). Pertimbangan akal dan rasa akan memainkan peran-nya bilamana penafsiran atas suatu persoalan yang bersumber pada rujukan yang sama, kemudian meng-akibatkan perbedaan pemahaman, sebab sudah men-jadi kewajiban seluruh muslimin untuk mampu me-mahami agama dengan baik karena agama bukan hanya milik para kyai, syech, habaib atau ustadz melainkan milik ummat dimana kita nantinya akan

dihisab secara pribadi atas amaliyah kita sendiri. Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, peng-lihatan dan hati, semua itu akan diminta pertang-gungjawabannya. (QS. Al-Israa’: 36)

Tentunya sambil bertabayyun, mencurahkan segenap pemikiran dan pertimbangan dalam mencari infor-masi hingga mendapat kejelasan, lalu kembalikan segala persoalan, mengacu pada ketetapan Allah swt. dan Rasul-Nya sebagai satu-satu-nya sumber rujukan. Berikut ini adalah pendelegasian wewenang yang diberikan oleh Allah swt. kepada Rasul-Nya

(10)

Muham-mad saw. yaitu pengukuhan atas sunnahnya. Semoga kita tidak ragu untuk berpedoman padanya, dan menjadikannya sebagai rujukan bagi praktik-praktik peribadatan khususnya ibadah shalat.

Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan da-lam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuh-nya. (QS. An-Nisaa’: 65)

Ayat ini perlu digarisbawahi yaitu bahwa Allah swt. tidak mengakui keimanan mereka yang tidak meng-ikuti tata-tertib yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Ironisnya banyak orang enggan mengubah kebiasaan (keliru) mereka dalam beribadah, hanya karena sudah terbiasa melakukannya seperti itu sejak kecil, kemu-dian menganggap wajar dan sah-sah saja tanpa ada keinginan untuk menelisik atau memperbaiki. (Mera-sa nyaman di dalam comfort zone)

Dengan mengatakan: “Persoalan sepele saja kok

diributkan”, mereka telah menganggap ringan sebuah

persoalan besar. Masalahnya mereka tidak menyadari bahwa penyimpangan praktik pelaksanaan shalat merupakan masalah yang mendasar. Bukankah shalat yang baik merupakan prasyarat diterimanya amal-amal yang lain?

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :