• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL

BELAJAR MATEMATIKA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN

Yeni Arista 091044206 dan Siti Masitoh

(PLB-FIP UNESA, e-mail: [email protected])

Problems faced by mental retardation children causes their low study result. It can be seen from the mathematics subject which demands the students to have abstract thinking. The teacher should understand learning model in order to conduct effective learning process to improve the study result. Based in this background, the researcher applies make a match type as cooperative learning model to find its effect for mild mental retardation children’s study result at second grade of SDLB-C Harmoni Sidoarjo.

This research is quantitative research in the form of pre experiment research. The design used is the one group pre test post test design. The data collecting technique used is test. It is used to get the mathematics study result before and after giving the treatment. The treatment is conducted in eight times and 60 minutes each. The data analysis technique used is nonparametric statistic analysis, sign test.

Based on the analysis by using sign test, it can be concluded that there is a significant effect of make a match type as cooperative learning for the mild mental retardation children’s mathematic study result at

SDLB-C Harmoni Sidoarjo. The critical score of 5% for one side test (1,64) and two sides test (1,96) show

that Z count (2,03) is bigger than Ztable or Zcount > Ztable.

Keywords: make a match, mathematic study result, mild mentalretardationchildren

PENDAHULUAN

Matematika merupakan bahasa simbolis yang memiliki fungsi praktis untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan. Banyak orang memandang matematika sebagai pelajaran yang paling sulit. Matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keterampilan menghitung (Delphie, 2009:1).

Peserta didik berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar matematika umumnya dikategorikan sebagai peserta didik dengan kesulitan belajar secara khusus. Mereka mempunyai hambatan dalam bidang akademik. Walaupun peserta didik yang dikategorikan anak berkebutuhan khusus menemui kesulitan-kesulitan saat mengerjakan soal-soal matematika, tetapi mata pelajaran matematika tetap diajarkan di sekolah. Hal ini disebabkan pemahaman terhadap permasalahan matematika dapat membantu peserta didik untuk dapat hidup mandiri di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam hal menghitung (Delphie, 2009:27).

Dalam kehidupan seseorang, pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalam mengembangkan diri dan melangsungkan kehidupannya. Demikian juga pada anak tunagrahita, pendidikan sangat

penting sebagai bimbingan kepada anak untuk mencapai kedewasaannya, yang kelak anak itu akan mampu berdiri sendiri dalam arti dapat menampilkan individualitasnya, kemampuan sosialitasnya dan moralitasnya (hidup sesuai norma-normanya) (Amin, 1996:1).

Sebagai seorang guru yang menangani anak didiknya khususnya menangani anak tunagrahita dituntut untuk dapat mengembangkan potensi peserta didiknya. Perkembangan kognitif tunagrahita terhambat karena mengalami hambatan mental. Menurut Somantri (2005:103) tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Anak tunagrahita merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan inteligensi, sosial dan fungsi-fungsi mental lainnya sehingga mereka memerlukan pendidikan dan layanan khusus agar potensi yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Keterbatasan yang dimiliki anak tunagrahita tersebut membuat mereka mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran dan berakibat pada hasil belajar yang cenderung rendah, seperti pada bidang studi matematika dalam penjumlahan. Hal tersebut menjadi kendala bagi siswa tunagrahita dalam memahami konsep matematika.

(2)

Dalam pembelajaran matematika yang abstrak, siswa tunagrahita memerlukan alat bantu berupa media yang dapat memperjelas apa yang disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa tunagrahita. Berdasarkan hasil observasi di SDLB-C Harmoni Sidoarjo pembelajaran matematika memiliki beberapa kelemahan. Media pembelajaran yang digunakan kurang variatif sehingga kurang menarik siswa tunagrahita untuk belajar. Metode maupun model pembelajaran yang digunakan masih cenderung pasif dan kurang melibatkan siswa dalam proses belajar. Guru hanya memberikan materi dengan ceramah kemudian memberikan tugas kepada siswa sehingga siswa tunagrahita akan cepat bosan dan mengalami kesulitan untuk memahami konsep matematika yang diajarkan seperti dalam hal penjumlahan bilangan 1 sampai 10. Masih banyak guru yang belum mampu menggunakan metode, model maupun teknik pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan anak serta mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar siswa tunagrahita tertarik untuk belajar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match muncul dari konsep bahwa siswa akan mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling bekerja sama.

Hasil penlitian Rafiqasari (2011) menyatakan bahwa salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran matematika adalah cooperative learning. Model ini juga telah terbukti dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (Runtuhaku, 1996:218). Dalam cooperative learning terdapat beberapa variasi model dan teknik, salah satunya adalah make a match (Suprijono, 2009:94). Make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat membantu siswa tunagrahita untuk meningkatkan sikap positif siswa dalam belajar matematika. Penerapan model ini

dikembangkan oleh Lorna Curran dalam Isjoni (2012:77) dengan teknik mencari pasangan antara kartu soal dan kartu jawaban dengan batas waktu yang ditentukan, bila semua siswa telah menemukan pasangannya guru mengambil kembali semua kartu. Kegiatan tersebut dilakukan berulang kali, guru dan siswa bisa bergantian mengacak dan membagikan kartu kepada siswa yang lainnya. Dalam pelaksanaannya, make a match menggunakan kartu sebagai media pembelajaran yang diharapkan dapat menarik minat siswa tunagrahita ringan untuk belajar penjumlahan matematika yang bersifat abstrak. Salah satu keunggulan make a match adalah siswa mencari pasangan sambil belajar bersama-sama mengenai suatu topik atau konsep dalam suasana belajar yang menyenangkan (Isjoni, 2012:77).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka model pembelajaran kooperatif tipe make a match perlu diteliti di SDLB-C Harmoni Sidoarjo karena memiliki siswa yang karakteristiknya sesuai dengan subjek penelitian yaitu tunagrahita ringan yang hasil belajarnya dalam penjumlahan matematika 1-10 msaih kurang. Gagasan ini ditujukan untuk mempermudah anak tunagrahita ringan dalam pembelajaran matematika yaitu penjumlahan bilangan 1 sampai 10 sesuai dengan kurikulum SDLB-C kelas II semester I BSNP 2006, sehingga hasil belajarnya menjadi lebih baik. Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan di SDLB-C Harmoni Sidoarjo.

Berdasarkan kondisi tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Adakah pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a

match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita

ringan kelas II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo?”, dengan tujuan untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan kelas II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo.

(3)

3 Penelitian ini menggunakan rancangan

pre-eksperimental dengan desain “one-group pretest-posttest design”. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa

tunagrahita ringan kelas II SDLB-C Harmoni Sidoarjo, yang berjumlah 6 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode tes untuk mengetahui hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan sebelum dan sesudah dilakukan treatment. Analisis data menggunakan rumus uji tanda (sign test).

Penelitian dilaksanakan di SDLB-C Harmoni Sidoarjo Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2013. Pemberian treatment melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match dilaksanakan selama 8 kali pertemuan, setiap pertemuan dilaksanakan 2x 30 menit.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan di SDLB-C Harmoni Sidoarjo. Kegiatan pretest dilaksanakan sebelum memberikan treatment pada siswa tunagrahita ringan. Sedangkan kegiatan posttest dilaksanakan setelah treatment. Berikut ini paparan hasil pretest dan posttest pada saat penelitian serta hasil kerja perubahan hasil belajar matematika siswa tunagrahita kelas II SDLB-C Harmoni Sidoarjo

Tabel 4.1

Data hasil pre tes (X1) kemampuan penjumlahan bilangan 1-10 siswa tunagrahita ringan di SDLB-C Harmoni

Sidoarjo

No. Nama Nilai

1. DF 56 2. KA 52 3. BL 36 4. RA 68 5. WP 48 6. SY 56 Rata-rata 52,67 Tabel 4.2

Data hasil pos tes (X2) kemampuan penjumlahan bilangan 1-10 siswa tunagrahita ringan di SDLB-C

Harmoni Sidoarjo

No. Nama Nilai

1. DF 76 2. KA 68 3. BL 64 4. RA 88 5. WP 64 6. SY 80 Rata-rata 73,33 Tabel 4.3

Rekapitulasi Nilai Hasil Pre Tes (X1) dan Pos Tes (X2) kemampuan penjumlahan bilangan 1-10 siswa tunagrahita ringan di SDLB-C Harmoni Sidoarjo

No. Nama Pre tes

(X1) Pos tes (X2) 1. DF 56 76 2. KA 52 68 3. BL 36 64 4. RA 68 88 5. WP 48 64 6. SY 56 80 Rata-rata 52,67 73,33

(4)

Tabel 4.4

Tabel kerja perubahan tanda pre tes (X1) dan pos tes (X2) hasil belajar matematika siswa tunagrahita ringan kelas

II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo No. Nama Pre tes

(X1) Pos tes (X2) Perubahan tanda (X2-X1) 1. DF 56 76 + 2. KA 52 68 + 3. BL 36 64 + 4. RA 68 88 + 5. WP 48 64 + 6. SY 56 80 + Rata-rata 52,67 73,33 ∑=6

Berdasarkan analisis data dengan menggunakan rumus uji tanda (sign test) dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan kelas II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo. Dari hasil perhitungan nilai kritis 5% untuk pengujian satu sisi (1,64) dan dua sisi (1,96) menunjukkan bahwa nilai Z yang diperoleh dalam hitungan (2,03) lebih besar dari pada nilai Ztabel 5% satu sisi (1,64) dan dua sisi (1,96) yang berarti hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis kerja (Ha) diterima sehingga ada peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap anak tunagrahita ringan kelas II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo. Hal ini tampak adanya perubahan yang lebih baik dari hasil pre tes yang menunjukkan rata-rata 52,67 dan hasil pos tes yang menunjukkan rata-rata 73,33.

Hambatan mental menyebabkan perkembangan kognitif tunagrahita terhambat. Keterbatasan yang dimiliki anak tunagrahita tersebut membuat mereka mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran dan berakibat pada hasil belajar yang cenderung rendah, seperti pada bidang studi matematika. Konsep matematika banyak memegang peranan penting. Selain itu, konsep matematika memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan anak

berkebutuhan khusus, seperti dalam kemampuan mengadaptasikan diri dengan lingkungannya (Delphie, 2009:80).

Dalam pembelajaran metematika anak tunagrahita membutuhkan model pembelajaran yang efektif, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match muncul dari konsep bahwa siswa akan mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling bekerja sama.

Melalui pemberian treatment dengan menggunakan pembelajaran kooperatif, siswa dapat saling bertukar pikiran dengan siswa yang lainnya sehingga pembelajaran menjadi lebih mudah. Selain itu pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Isjoni (2011:21) bahwa tujuan utama dalam cooperative learning adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama temen-teman dengan cara saling bertukar pikiran satu sama lain.

Dalam penelitian ini, treatment-treatment yang diberikan menggunakan benda-benda disekitar yang sering dijumpai siswa sehingga siswa tunagrahita akan lebih mudah dalam belajar matematika. Dalam pemberian soal-soal kuis maupun diskusi peneliti merancang sedemikian rupa agar materi tersebut dapat dicerna oleh siswa tunagrahita ringan kelas II SDLB-C Harmoni Sidoarjo.

Selama penelitian berlangsung, terdapat beberapa kendala yang dialami yaitu meliputi, kondisi siswa dan lingkungan tempat siswa mengajar yang kurang kondusif. Kondisi siswa saat pemberian pre tes cenderung mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan secara tertulis dan membutuhkan sedikit bantuan. Ketika peneliti memberikan treatment, yaitu pada saat diskusi mencari pasangan kartu penjumlahan siswa mengalami kesulitan mencari pasangannya karena terdapat subjek yang berperilaku agresif sehingga diskusi menjadi sedikit terganggu.

(5)

5 Selain kendala-kendala tersebut di atas, ada juga keberhasilan yang terlihat pada saat penelitian yaitu siswa menunjukkan sikap antusias dalam mengikuti pembelajaran dan siswa aktif dalam diskusi mencari pasangan. Pemberian treatment dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match secara keseuruhan dapat dilaksanakan dengan baik.

PENUTUP Simpulan

Berdasarkan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran tipe make a match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan kelas II di SDLB-C Harmoni Sidoarjo maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika anak tunagrahita ringan di SDLB-C Harmoni Sidoarjo. Hal ini dapat dibuktikan dari data hasil pengujian nilai kritis 5% untuk pengujian satu sisi (1,64) dan dua sisi (1,96) menunjukkan bahwa nilai Z yang diperoleh dalam hitungan (2,03) lebih besar daripada nilai Ztabel atau dapat dikatakan Zhitung > Ztabel

.

Saran

Berdasarkan hasil simpulan di atas, maka disarankan: 1) Bagi guru sebaiknya lebih banyak menggunakan model maupun metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa sehingga hasil belajar siswa bisa ditingkatkan secara optimal, salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. 2) Sekolah lebih banyak membantu guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan menyediakan media penunjang pembelajaran sehingga suasana belajar lebih menyenangkan bagi siswa. 3) Orang tua hendaknya membimbing dan memperhatikan anak serta mengajararkan kembali apa yang telah diberikan guru di sekolah sehingga anak menjadi lebih paham. 4) Peneliti selanjutnya jika mengadakan penelitian serupa, penulis menyarankan untuk lebih memahami karakteristik subjek penelitian yang akan diberi treatment, memahami model

pembelajaran kooperatif tipe make a match, memberikan materi yang lebih bervariasi sehingga siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Moh. 1995. Orthopedagogik Anak Tunagrahita. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Astati. 1995. Terapi Okupasi, Bermain dan Musik untuk

Anak Tunagrahita. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

BNSP. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SDLB-C. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

Delphie, Bandi. 2009. Matematika untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Sleman: PT Intan Klaten. Djamarah dan Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dzaki, Muhammad. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match. (online), (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009

/03/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-make.html, diakses 18 Februari 2013)

Huda, Miftahul. 2012. Cooperative Learning metode, teknik, struktur dan model penerapan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Isjoni. 2012. Cooperative Learning efektifitas pembelajaran kelompok. Bandung: Alfabeta. Mudjiono dan Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran.

Jakarta: Rineka Cipta.

Rafiqasari, Ummu. 2011. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Berkesulitan Belajar Kelas II di SDN Modopuro II Mojosari. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JPLB Unesa.

Runtuhaku, Tombokan. 1996. Pengajaran Matematika bagi Anak Berkesulitan Belajar. Surabaya: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

(6)

Saleh, Samsubar. 1996. Statistik Nonparametrik. Yogyakarta: BPFE.

Somantri, Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.

Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda.

Sugiyono. 2009. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

——— . 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning teori & aplikasi paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Tim. 2006. Panduan Penulisan dan Penilaian Skripsi

Universitas Negeri Surabaya. Surabaya: Unesa University Press.

Trianto. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Wahyudi, Ari. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Luar Biasa. Surabaya: Unesa University Press.

Referensi

Dokumen terkait

Kelompok belajar merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok yang dipandu oleh guru baik melalui pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab ataupun

Pada siklus pertama, dengan menggunakan metode make a match , belajar siswa kurang memuaskan, karena dari observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa belum semua siswa

Disarankan dalam menentukan waktu disesuaikan dengan jumlah peserta didik dan kartu yang digunakan agar seluruh peserta didik dapat terlibat langsung dalam proses

c) Membagi siswa dalam dua kelompok, dimana pembagian ini dilakukan untuk memudahkan siswa mengerjakan soal dengan cara menggabungkan siswa yang dirasa memiliki prestasi baik

Tujuan dari pembelajaran kooperatif dengan tipe Make A Match adalah untuk membantu Siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan saling

Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe make a match terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V

Akan te-tapi setelah kelompok eksperimen I diberi per- lakuan berupa pengajaran menggunakan mo- del pembelajaran Make A Match dan kelom- pok eksperimen II dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik dengan penggunaan model Cooperative Learning Tipe make A match pada mata pelajaran IPS kelas