• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN CADANGAN KARBON UNTUK MASYARAKAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUKURAN CADANGAN KARBON UNTUK MASYARAKAT"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN CADANGAN KARBON

UNTUK MASYARAKAT

2

BAHAN

AJAR

Kurniatun Hairiah, Rika Ratna Sari, Sidiq Pambudi dan Subekti Rahayu

(2)
(3)

BAHAN AJAR 2

PENGUKURAN CADANGAN

KARBON UNTUK MASYARAKAT

Kurniatun Hairiah, Rika Ratna Sari, Sidiq Pambudi dan Subekti Rahayu

World Agroforestry Centre (ICRAF)

dan Universitas Brawijaya

(4)

Sitasi

Hairiah K, Sari RR, Pambudi S, Rahayu S. 2016. Pengukuran cadangan karbon untuk

masyarakat. Bahan Ajar 2. Bogor, Indonesia: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast

Asia Regional Program dan Malang, Indonesia: Universitas Brawijaya.

Penerbitan publikasi ini didanai oleh European Union (EU) melalui proyek Participatory Civil Society Monitoring (ParCiMon), namun tanggungjawab mengenai isi naskah berada pada penulis.

Pernyataan Hak Cipta

The World Agroforestry Centre (ICRAF) memegang hak cipta atas publikasi dan halaman webnya, namun memperbanyak untuk tujuan non-komersial dengan tanpa merubah isi yang terkandung di dalamnya diperbolehkan. Pencantuman referensi diharuskan untuk semua pengutipan dan perbanyakan tulisan dari buku ini. Pengutipan informasi yang menjadi hak cipta pihak lain tersebut harus dicantumkan sesuai ketentuan.

Link situs yang ICRAF sediakan memiliki kebijakan tertentu yang harus dihormati. ICRAF menjaga database pengguna meskipun informasi ini tidak disebarluaskan dan hanya digunakan untuk mengukur kegunaan informasi tersebut. Informasi yang diberikan ICRAF, sepengetahuan kami akurat, namun kami tidak memberikan jaminan dan tidak bertanggungjawab apabila timbul kerugian akibat penggunaan informasi tersebut. Tanpa pembatasan, silahkan menambah link ke situs kami www.worldagroforestry.org pada situs anda atau publikasi.

ISBN 918-979-3198-86-6

World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia Regional Program

Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor 16115 [PO Box 161 Bogor 16001] Indonesia

Tel: +(62) 251 8625 415 Fax: +(62) 251 8625416 Email: icraf-indonesia@cgiar.org www.worldagroforestry.org/region/southeast-asia blog.worldagroforestry.org Foto Sampul Kurniatun Hairiah

Desain dan Tata letak

Bobby Haryanto, Riky Mulya Hilmansyah dan Tikah Atikah 2016

(5)

Sinopsis

Perubahan iklim yang terjadi di bumi ini merupakan akibat dari pemanasan global, yang ditunjukkan dengan meningkatnya suhu bumi, meningkatnya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub utara. Akar masalah terjadinya pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) yang berasal dari berbagai sektor kegiatan manusia seperti alih guna lahan hutan, terutama hutan-hutan yang berada di lahan gambut menjadi pertanian atau penggunaan lainnya, industri dan transportasi, penggunaan sumber daya alam dan energi, kegiatan pertanian intensif, dan limbah.

Di Indonesia, 70% dari emisi GRK nasional berasal dari alih guna dan degradasi hutan, terutama pada tanah gambut. Menanggapi hal tersebut, pada tahun 2009 Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono berjanji kepada dunia untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26% dari Bussines as Usual (BAU) di tahun 2020 dengan upaya sendiri, dan akan menambahkan penurunan emisi sebesar 15% apabila mendapatkan bantuan dari Internasional. Dalam upaya untuk menurunkan emisi GRK tersebut, berdasarkan Peraturan Presiden No. 61 tahun 2011, Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) di seluruh provinsi di Indonesia.

Dalam RAD-GRK, masing-masing propinsi dan kabupaten memiliki rencana aksi strategi penurunan emisi melalui konservasi cadangan karbon daratan yang dilakukan dalam bentuk pengendalian konversi dan degradasi hutan, dan peningkatan cadangan karbon dalam bentuk penanaman pohon, baik pada lahan terbuka maupun pada lahan berbasis pohon dan lahan pertanian untuk pengayaan keanekaragaman hayati, dan mengurangi penggunaan pupuk yang berlebihan.

Guna mendukung upaya pemerintah RI dalam RAN/RAD-GRK, maka perlu disusun pula perangkat pemantauan dan evaluasinya untuk menilai keberhasilan program RAN-RAD-GRK tersebut. Cadangan karbon, merupakan salah satu komponen yang perlu dipantau dan dievaluasi dalam RAN/RAD-GRK tersebut.

Pemantauan dan evaluasi cadangan karbon, tidak harus dilakukan oleh akademisi atau tenaga profesional, karena memerlukan waktu dan biaya yang lebih banyak. Masyarakat atau para praktisi di daerah, dimana RAD-GRK diimplementasikan diharapkan dapat melakukan pemantauan dan evaluasi cadangan karbon di daerahnya. Namun demikian, ketersediaan perangkat dalam bentuk bahan ajar dan petunjuk teknis pelaksanaan perlu dikembangkan. Bahan ajar disusun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh berbagai pihak. Selain memberikan petunjuk teknis pelaksanaan pemantauan dan evaluasi, bahan ajar perlu

(6)

dilengkapi dengan pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan karbon dan emisi karbon, dimana karbon itu berada dan dipantau, mengapa melakukan pemantauan cadangan karbon dan bagaimana cara mengevaluasinya.

Petunjuk penggunaan bahan ajar

Kegiatan pemantauan cadangan karbon terdiri dari lima (5) tahap, yaitu: Tahap 1 Memahami manfaat tumbuhan dalam mempertahankan cadangan karbon Tahap 2 Menyusun prinsip kriteria dan indikator Tahap 3 Membentuk tim Menyiapkan peralatan pengukuran di lapangan Membuat petak pengukuran permanen Tahap 4 Memahami manfaat tumbuhan dalam mempertahankan cadangan karbon Tahap 5 Memahami manfaat tumbuhan dalam mempertahankan cadangan karbon

• Tahap 1: Menerangkan manfaat tumbuhan dalam mempertahankan cadangan karbon yang diperlukan fasilitator sebelum melakukan monitoring dan evaluasi cadangan karbon

• Tahap 2: Mengembangkan prinsip, kriteria dan indikator dalam pemantauan dan evaluasi cadangan karbon

• Tahap 3: Menjelaskan aktivitas fasilitator dan anggota masyarakat dalam mempersiapkan kegiatan pengumpulan data

• Tahap 4: Teknik pengukuran diameter batang untuk menghitung berat masa pohon • Tahap 5: Menghitung cadangan karbon per pohon, per plot dan pelaporan

(7)

Kata Pengantar

Bahan ajar 2 mengenai pengukuran cadangan karbon untuk masyarakat disusun dalam rangka mendukung pelaksanaan pematauan dan evalausi RAN/RAD-GRK di Indonesia. Bahan ajar ini berisi pemahaman mengenai karbon, peran vegetasi sebagai penyimpan karbon, dan dampak kehilangan vegetasi terhadap cadangan karbon yang disajikan pada BAB I. Bagaimana cara mengukur karbon dalam kegiatan pemantauan disajikan pada BAB II dan BAB III berisi cara mengevaluasi cadangan karbon.

Bahan ajar ini disajikan dengan bahasa sederhana agar dapat dipahami dan diterapkan oleh berbagai kalangan. Melalui bahan ajar ini, diharapkan para pembaca, baik praktisi di lapangan maupun masyarakat lokal dapat melakukan pemantauan dan evaluasi cadangan karbon di daerahnya.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Proyek Participatory Civil Society Monitoring (ParCiMon) Papua yang telah memberikan kesempatan dan dukungan finansial, sehingga buku ini dapat diterbitkan. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ‘reviewer’ yang telah memberikan masukan untuk kesempurnaan buku ini. Meskipun demikian, penulis mengakui bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan.

Akhir kata, penulis berharap, buku ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai kalangan dan dapat diterapkan hingga tujuan pembangunan berkelanjutan dengan rendah emisi dapat tercapai.

(8)

Perubahan Iklim: Pengantar Aktivitas

Pemantauan dan Evaluasi

Di era perubahan iklim, Pemerintah Indonesia berusaha keras untuk menyusun rancangan pembangunan daerah rendah emisi gas rumah kaca (GRK), dengan jalan mengendalikan deforestasi dan degradasi hutan. Peluang keberhasilan upaya tersebut akan meningkat bila ada keterlibatan dari berbagai lapisan masyarakat, untuk itu tingkat pengetahuan dan ketrampilan masyarakat tentang cara menaksir emisi GRK perlu ditambah melalui pelatihan dan penyediaan bahan ajar.

Tiga macam data utama yang dibutuhkan oleh Pemerintah akhir-akhir ini adalah: (a) Perubahan emisi GRK terkait dengan kebakaran dan alih guna lahan hutan menjadi bentuk penggunaan lahan lainnya, agar perubahan emisi GRK di masa yang akan datang bisa ditaksir; (b) Kondisi keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan yang ada, dan (c) kondisi hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS) di suatu wilayah.

Guna mengetahui perubahan emisi GRK sebagai akibat adanya perubahan managemen baik di lahan maupun di seluruh bentang lahan, maka perlu dilakukan pemantauan

(monitoring) dan evaluasi (P&E), tahapan kegiatan secara skematis disajikan dalam Gambar 1. Pemantauan terhadap perubahan emisi yang terjadi sebagai akibat adanya managemen yang dilakukan di tingkat lahan dan seluruh bentang lahan, selanjutnya dilakukan evaluasi secara analitis terhadap data hasil pengamatan yang diperoleh. Tujuan dari evaluasi tersebut adalah untuk mengetahui tingkat kemajuan akibat usaha menagemen yang telah dilakukan, dibandingkan dengan rencana dan standard yang ada. Jadi, gol terakhir dari

PENURUNAN

EMISI Pelaksanaan Program Tindak-Lanjut Perbaikan Pemantauan Dan Evaluasi Perencanaan Pengembangan Wilayah

Gambar 1. Empat langkah kegiatan sebagai upaya dalam menurunkan emisi GRK di suatu wilayah

(9)

kegiatan P&E adalah perbaikan strategi managemen lahan saat ini dan di masa mendatang untuk mendapatkan hasil dan dampak yang lebih menguntungkan.

Sebagai bagian dari kegiatan ParCiMon (Participatory Civil Society Monitoring) di Papua, Program Kerja (PK) 2 yaitu “Penguatan Kapasitas dalam Perencanaan, Pemantauan dan Evaluasi Berbasis Masyarakat”, ada dua kegiatan utama yang telah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Papua yaitu: (a) Menyelenggarakan pelatihan pemantauan dan evaluasi cadangan karbon, keanekaragaman hayati dan tata air di suatu lanskap (bentang lahan), (b) Penyediaan bahan bacaan yang relevan agar masyarakat dapat belajar lebih mandiri. Bahan ajar yang telah dikembangkan ada lima topik dan satu panduan praktis, serta keterkaitan antar materi dalam kegiatan ParCiMon disajikan secara skematis dalam Gambar 2. PEMBANGUNAN RENDAH EMISI

LUMENS

Pemanasan Global & Perubahan Iklim Perencanaan Implementasi Luaran Bio-Fisik Cadangan

Karbon KeanekaragamanHayati Hidrologi

Panduan Pemantauan Hidrologi Panduan Penyelenggaraan Pelatihan Sosek Pemantauan & Evaluasi 1 PCI 2 3 4 5

Gambar 2. Skema topik bahan ajar yang dikembangkan dan keterkaitan antar bahan ajar dalam menurunkan emisi GRK di Papua (Keterangan: PCI = Principal Criteria and Indicator atau Prinsip Kriteria dan Penanda)

Keterangan

1, 2…5= Bahan ajar yang dikembangkan; 6 = Petunjuk praktis. LUMENS= Land Use Planning for Multiple Environmental Services

(10)

Bahan Ajar Judul

1 Perubahan Iklim: Sebab dan Dampaknya Terhadap Kehidupan 2 Pengukuran Cadangan Karbon untuk Masyarakat

3 Keanekaragaman Hayati Pada Bentang Lahan: Pemahaman, Pemantauan dan Evaluasi oleh masyarakat 4 Fungsi Hidrologi di Daerah Aliran Sungai (DAS): Pemahaman, Pemantauan dan Evaluasi 5 Pedoman Pelatihan untuk Pelatih: Pemantauan dan Evaluasi Fungsi Hidrologi DAS oleh Masyarakat

Bahan ajar 1, penulis memfokuskan pada upaya meningkatkan pemahaman masyarakat

akan pemanasan global dan perubahan iklim, penyebab terjadinya pemanasan global, dan dampaknya terhadap kehidupan serta strategi pengendalian dampak perubahan iklim yang dilengkapi dengan contoh-contoh studi kasus. Materi dari bahan ajar ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat agar dapat membantu Pemerintah Daerah dalam melaksanakan P&E perubahan lingkungan.

Bahan ajar 2, merupakan petunjuk praktis tentang cara menaksir (mengestimasi) jumlah

cadangan karbon yang ada dalam biomasa tanaman, bahan ajar tersebut dilengkapi dengan tabel jumlah karbon yang terkandung dalam biomasa pohon yang dihitung menggunakan persamaan allometri berdasarkan data pengukuran diameter batang.

Bahan Ajar 3, penulis memfokuskan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai

keanekaragaman hayati, peran dan fungsinya dalam ekosistem dan kehidupan manusia serta dampak yang terjadi apabila kehilangan salah satu fungsi dari keanekaragaman hayati. Penulis juga memfokuskan pada peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat melakukan pengumpulan data dan informasi pada pemantauan dan evaluasi keanekaragaman hayati

Bahan Ajar 4. Dalam bahan ajar tersebut banyak dibahas tentang teknik pemantauan dan

evaluasi kondisi hidrologi suatu DAS bagi para pendamping masyarakat, buku ini dilengkapi pula dengan prinsip pemantauan, kriteria dan penandanya.

Bahan Ajar 5. Bahan ajar 5 merupakan materi pendukung dari Bahan Ajar 4 yang

dikembangkan untuk membantu para pendamping masyarakat dalam merancang dan menyelenggarakan Pelatihan untuk Pemantauan dan Evaluasi hidrologi DAS untuk masyarakat.

(11)

Daftar Isi

Sinopsis ... i

Kata Pengantar ... iii

Perubahan Iklim: Pengantar Aktivitas Pemantauan dan Evaluasi... iv

Pemahaman Tentang Karbon ... 1

1.1. Perubahan Iklim dan Penyebabnya ... 1

1.2. Upaya Pemerintah RI dalam Mengendalikan Perubahan Iklim ... 2

1.3. Tumbuhan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon ... 4

Prinsip, Kriteria dan Indikator dalam Pemantauan Cadangan Karbon ...7

2.1. Tujuan ... 7

2.2. Strategi Pembelajaran ... 7

2.3. Uraian Materi... 7

Pemantauan Cadangan Karbon: Persiapan ... 9

3.1. Memahami Konteks Pemantauan Cadangan Karbon ...10

3.2. Mengembangkan Sistem Pemantauan Partisipatif ...11

3.3. Membuat Peta Penggunaan Lahan ...12

3.4. Pembuatan Plot Pengukuran ...14

Mengukur Diameter Batang Pohon di Lapangan ... 19

4.1. Tujuan ...19

4.2. Strategi Pembelajaran ...19

4.3. Uraian Materi...19

4.4. Rangkuman ...23

4.5. Latihan Menaksir Diameter Pohon Berbanir Tinggi ...24

Mengevaluasi Hasil Pemantauan Cadangan Karbon ... 27

5.1. Menghitung Cadangan Karbon Pohon ...27

(12)

Daftar Pustaka ... 36

Daftar Istilah ... 37

Lampiran ... 39

Lampiran 1. Karbon Tersimpan pada Setiap Batang Pohon Berdasarkan Keliling pada Tiga Kondisi Iklim (dalam Kg/Pohon)...39

Lampiran 2. Karbon Tersimpan pada Tanaman Kopi, Kakao, Pisang, Bambu dan Kelapa Sawit Berdasarkan Persamaan Allometrik Khusus Jenis Pohon (dalam Kg/Pohon) ...54

Lampiran 3. Blanko Pengukuran Lapangan...56

Daftar Tabel

Tabel 1. Contoh Prinsip, kriteria dan indikator untuk memantau cadangan karbon lahan ...8

Tabel 2. Contoh daftar mempersiapkan alat ukur dan metode pengukuran yang dipilih ...8

Tabel 3. Sketsa pembuatan plot permanen ...18

Tabel 4. Latihan menghitung diameter pohon berbanir tinggi ...24

Tabel 5. Blanko pengukuran lingkar batang pohon besar ...25

Tabel 6. Blanko pengukuran lingkar batang pohon sedang ...25

Tabel 7. Blanko penaksiran diameter pohon berbanir tinggi ...26

Tabel 8. Cara membaca data pada tabel cadangan karbon (lampiran 1 dan 2) ...28

Daftar Gambar

Gambar 1. Empat langkah kegiatan sebagai upaya dalam menurunkan emisi GRK di suatu wilayah ...iv

Gambar 2. Skema topik bahan ajar yang dikembangkan dan keterkaitan antar bahan ajar dalam menurunkan emisi GRK di Papua (Keterangan: PCI = Principal Criteria and Indicator atau Prinsip Kriteria dan Penanda) ...v

Gambar 3. Pengetahuan lokal masyarakat tentang keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi kehidupan (obatan, sayuran dan spiritual) cukup banyak dan bervariasi, namun demikian pengetahuan tentang manfaat keanekaragaman pohon bagi konservasi karbon masih belum dimengerti ...1

Gambar 4. Upaya mengendalikan emisi karbon dengan jalan mengelola hutan secara Lestari, memperbaiki lahan-lahan terdegradasi dengan menanam pohon dan melindungi hutan alami di lahan gambut ...3

(13)

Gambar 5. Alur penyusunan Reverensi Tingkat Emisi GRK nasional yang dibutuhkan untuk

mendukung NAMA ...3

Gambar 6. Siklus karbon di udara, dalam tanaman dan dalam tanah (Hairiah et al., 2011) ...5

Gambar 7. Seresah gugur yang ada di permukaan tanah, macam dan kualitas seresah yang beranekaragam menandakan bahwa vegetasi yang tumbuh di atasnya juga

beranekaragam ...6

Gambar 8. Diskusi kelompok terfokus, diawali dengan perkenalan dan penjelasan tujuan

kegiatan kepada semua peserta, dan dilanjutkan dengan diskusi ...11

Gambar 9. Contoh penerapan kegiatan di Desa Mulima, Wamena, Kabupaten Jayawijaya ...13

Gambar 10. Skesa penggunaan lahan di Kampung Wambena, Distrik Depapre,

Kabupaten Jayapura ...14

Gambar 11. Skema pembuatan plot pengukuran biomasa pohon untuk perhitungan

cadangan karbon ...16

Gambar 12. Kaidah perubahan atau pemindahan plot; pemindahan dilakukan dengan membagi plot kedalam dua jalur yang berhimpitan (Gambar a; a2); mengubah posisi plot dengan memajukan atau memundurkan posisi plot, tetapi tetap berada di jalur yang sama (Gambar b; b2 atau b3) (dikutip dari IHMB, 2009) ...17

Gambar 13. Kegiatan pembuatan plot permanen di Taman Nasional Wasur, Merauke dan di hutan alami di Wambena, Jayapura. Pembuatan PLOT KECIL: (A dan B) perekaman geposisi titik ikat menggunakan GPS dan menentukan arah utara menggunakan kompas, (C dan D) pengukuran PLOT KECIL 5 m x 40 m dan pembuatan siku PLOT KECIL, (E) tanda titik ikat dari plot permanen ...18

Gambar 14. Pengukuran lingkar/lilit pohon: (A) contoh pengukuran lingkar batang yang salah, (B) pengukuran lingkar batang yang benar ...20

Gambar 15. Pencatatan semua data hasil pengukuran pada blanko yang telah

disediakan sebelumnya ...20

Gambar 16. Cara menentukan ketinggian pengukuran lingkar batang pohon yang tidak

beraturan bentuknya (Weyerhaeuser dan Tennigkeit, 2000) ...21

Gambar 17. Skema estimasi diameter pohon yang berbanir tinggi berdasarkan

pendekatan geometri ...23

Gambar 18. Cadangan karbon dan populasi pohon pada hutan dan kebun campur

di Kabupaten Jayapura...35

Gambar 19. Persentase jenis kayu yang terdapat di Hutan dan Kebun Campur ...35

(14)
(15)

Pemahaman

Tentang Karbon

1.1. Perubahan Iklim dan Penyebabnya

Perubahan iklim terjadi akibat adanya pemanasan global yang berdampak sangat merugikan bagi kehidupan di semua tempat di permukaan bumi ini, sehingga sering digolongkan sebagai bencana karena terjadi dalam skala yang luas. Dimusim penghujan, bencana yang sering terjadi adalah banjir dan longsor; sedang dimusim kemarau terjadi kekeringan panjang dan kebakaran yang menghasilkan banyak asap sehingga mengganggu transportasi udara dan kesehatan masyarakat di sekelilingnya, meningkatkan serangan hama dan penyakit tanaman, dan gagal panen, serta meluasnya wabah penyakit manusia. Masyarakat negara berkembang di daerah tropis akan lebih dirugikan terkena dampak perubahan iklim dari pada masyarakat di negara maju di daerah sub-tropis, karena kondisi infrastruktur untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim di negara berkembang masih lebih terbatas. Dengan demikian, masyarakat akan dihadapkan pada masalah yang lebih besar dengan adanya kondisi lahan, lanskap dan kondisi iklim yang telah berubah. Namun demikian, masyarakat lokal mewarisi pengetahuan dari nenek moyangnya dalam mengelola lingkungan di sekelilingnya, sehingga pengetahuan lokal cukup beragam antar tempat (Gambar 3).

Gambar 3. Pengetahuan lokal masyarakat tentang keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi kehidupan (obatan, sayuran dan spiritual) cukup banyak dan bervariasi, namun demikian pengetahuan tentang manfaat keanekaragaman pohon bagi konservasi karbon masih belum dimengerti

(Foto: Universitas Brawijaya/Kurniatun Hairiah)

(16)

Perubahan iklim terjadi karena adanya peningkatan jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) atau gas buang di atmosfer, salah satunya adalah gas asam arang atau karbon dioksida (CO2) yang jumlahnya diudara sekitar 55% dari total gas buang. Konsentrasi gas CO2 di atmosfer terus meningkat karena adanya pengelolaan lahan yang kurang tepat, antara lain adanya pembakaran tumbuhan hutan dalam skala luas dan pada waktu yang bersamaan, lebih parah lagi oleh adanya pengeringan lahan gambut dan pembakaran sisa panen. Untuk itu, kegiatan tersebut perlu dikendalikan.

1.2. Upaya Pemerintah RI dalam Mengendalikan Perubahan Iklim

Emisi GRK yang terjadi di Indonesia, sebagian terbesar (70%) adalah berasal dari alih guna dan degradasi hutan, terutama bila terjadi pada hutan yang berada di tanah gambut. Oleh karena itu, pada tahun 2009 Presiden RI terdahulu, Susilo Bambang Yudoyono berjanji kepada dunia untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26% dari Bussines as Usual (BAU) di tahun 2020 dengan upaya sendiri, dan akan meningkatkan penurunan emisi menjadi 41% apabila ada bantuan dari pihak Internasional. Namun demikian, perkiraan target penurunan emisi GRK tersebut di atas masih terlalu kasar sehingga perlu diperhitungkan kembali secara akurat menggunakan metoda, data hasil pengukuran dan informasi yang lebih baik. Pengertian emisi GRK adalah emisi (pelepasan) GRK (CO2=gas asam arang, N2O=gas tertawa, CH4=gas metana, dan lain-lain) yang dihasilkan dari berbagai kegiatan pembangunan terutama di bidang kehutanan, limbah, pertanian, transportasi dan energy yang dilepaskan ke udara.

Dalam upaya menurunkan emisi GRK tersebut dengan didasari oleh Peraturan Presiden No. 61 tahun 2011, Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) di seluruh provinsi di Indonesia. Dalam RAD-GRK, masing-masing propinsi dan kabupaten memiliki rencana aksi strategi penurunan emisi melalui konservasi cadangan karbon daratan yang dilakukan dalam bentuk pengendalian konversi dan degradasi hutan, dan melalui peningkatan cadangan karbon dalam bentuk penanaman pohon, baik pada lahan terbuka maupun semak belukar dan di lahan pertanian (Gambar 4) sehingga juga bermanfaat untuk pengayaan keanekaragaman hayati, dan mempertahankan seresah gugur di permukaan tanah untuk melindungi tanah dan menambah pupuk ke dalam tanah.

(17)

Gambar 4. Upaya mengendalikan emisi karbon dengan jalan mengelola hutan secara Lestari, memperbaiki lahan-lahan terdegradasi dengan menanam pohon dan melindungi hutan alami di lahan gambut. (Sumber: Bappenas 2010)

Penyusunan RAN-GRK dan RAD GRK dilakukan berdasarkan informasi data yang

diperoleh dari pengukuran di lapangan, yang diteruskan ke pelaporan dan dapat dibuktikan kembali atau verifikasi (Measurable, Reportable, Verifiable) agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan secara nasional dan sesuai dengan prinsip yang diterapkan oleh

United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) (Gambar 5). Luaran dari

aksi tersebut adalah informasi kuantitatif emisi GRK yang dibutuhkan untuk menyusun Referensi Tingkat Emisi (REL=Reference Emission Level) dan NAMA (Nationally Appropriate

Mitigation Action), yang selanjutnya akan didaftarkan ke UNFCC.

Guna mendukung upaya pemerintah RI dalam menyusun RAN/RAD-GRK, perlu disusun pula perangkat pemantauan dan evaluasinya untuk menilai keberhasilan program RAN-RAD-GRK tersebut. Ada dua macam informasi yang dibutuhkan untuk menperkirakan emisi karbon yaitu: (a) data aktivitas yang ditunjukkan dengan perubahan luasan tutupan

Pengukuran Pelaporan Verifikasi Referensi Tingkat Emisi

NAMA

Rencana Pembangunan

UNFCC

M&E

• Analisis Spasial • Pengukuran C di lahan • Modelling Nationally Appropriate Mitigation Action

Gambar 5. Alur penyusunan Reverensi Tingkat Emisi GRK nasional yang dibutuhkan untuk mendukung NAMA

(18)

lahan yang didasarkan pada hasil analisis citra satelit dari kurun waktu yang berbeda, dan (b) data rata-rata karbon per penggunaan lahan (IPCC 2006) yang dilakukan pada berbagai macam lahan dengan komoditas yang berbeda dan berbeda-beda pula umurnya (Hairiah et al 2011). Pemantauan dan evaluasi jumlah karbon yang tersimpan di suatu wilayah akan berhasil dengan sukses bila pengukurannya melibatkan masyarakat lokal, namun demikian jenis pengukuran yang bisa dilakukan masih terbatas dan masih memerlukan kalibrasi hasil yang dilakukan oleh seorang peneliti agar hasil yang diperoleh lebih akurat. Pemantauan dan evaluasi cadangan karbon dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran hutan atau pemilik lahan berpohon untuk melakukan pengukuran diameter batang pohon untuk memperkirakan berat masa pohon.

Pertanyaan: Terkait dengan penurunan emisi karbon, mengapa kita perlu

melindungi vegetasi/pohon baik di hutan ataupun di luar hutan? Mengapa berat masa tanaman/pohon perlu diukur dan bagaimana cara mengukurnya?

1.3. Tumbuhan Sebagai Penyerap dan Penyimpan Karbon

Karbon di udara berada dalam bentuk gas yang dinamakan gas asam arang (gas CO2) atau dalam kehidupan sehari-hari gas tersebut dikelompokkan sebagai “gas buang”. Karbon di udara bermanfaat bagi tumbuhan yang berdaun hijau untuk melangsungkan proses “fotosinthesis”. Selama berfotosinthesis tumbuhan butuh sinar matahari, gas CO2 yang diserap dari udara, air dan hara yang diserap dari dalam tanah. Sebagai gas buang dari proses fotosintesis dilepaskan O2 (oksigen) yang sangat kita butuhkan untuk bernafas (Gambar 6). Melalui proses fotosintesis, CO2 tersebut diubah menjadi karbohidrat (pati). Pati selanjutnya disebarkan keseluruh tubuh tanaman dan akhirnya ditimbun dalam beberapa organ tanaman seperti daun, batang, ranting, bunga dan buah (Gambar 6), kemudian akan gugur sebagai seresah. Secara teknis seresah disebut pula ‘sampah kebun’, yang selanjutnya akan busuk dan lapuk menjadi bagian dari tanah yang biasanya disebut pula sebagai ‘humus’.

Karbon dalam bentuk pati tertimbun dalam tubuh tumbuhan dalam waktu cukup lama tergantung dari jenis tumbuhannya. Untuk jenis tumbuhan tahunan (pohon), umumnya karbon disimpan paling banyak di bagian berkayu selama tanaman tersebut masih hidup. Sedang pada tumbuhan umur pendek, karbon hanya tersimpan dalam waktu singkat saja, setelah tumbuhan mati/panen maka tidak ada lagi penyerap CO2 di udara, kecuali bila tumbuhan umur pendek hidup berdampingan dengan tumbuhan umur panjang (pohon). Proses penyerapan gas CO2 dari udara dan penimbunan karbon dalam tubuh tanaman hidup dinamakan proses sekuestrasi. Dengan demikian mengukur jumlah karbon yang disimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomasa) dalam suatu lahan dapat menggambarkan

(19)

banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh tanaman. Semakin banyak dan semakin lama karbon disimpan dalam tanaman maka sekuestrasi karbon akan semakin besar. Sedangkan jumlah karbon yang hilang dari lahan kita karena panen dan pembakaran dihitung sebagai

emisi. Keberadaan pohon besar dalam suatu lahan dapat mempertahankan jumlah karbon

yang disimpan, namun demikian keradaan pohon yang berukuran kecil sampai sedang akan membantu menyerap CO2 di atmosfir dan menjadi penyerap karbon dimasa depan.

Berkenaan dengan upaya pengembangan lingkungan bersih, maka jumlah CO2 di udara harus dikendalikan dengan jalan meningkatkan jumlah serapan CO2 oleh tanaman sebanyak mungkin dan menekan pelepasan (emisi) CO2 ke udara serendah mungkin. Jadi, mempertahankan keutuhan hutan alami, menanam pepohonan pada lahan-lahan pertanian dan melindungi lahan gambut sangat penting untuk mengurangi jumlah gas CO2 yang berlebihan di udara. Jumlah penyimpanan karbon antar penggunaan lahan berbeda-beda, tergantung pada keanekaragaman dan jumlah tumbuhan yang ada, jenis tanahnya serta cara pengelolaannya. Untuk itu pengukuran banyaknya karbon yang ditimbun dalam setiap lahan perlu dilakukan bersama-sama masyarakat yang lebih mengetahui kondisi lahannya sehingga hasil prediksi lebih mendekati kebenarannya di lapangan, dengan demikian hasil pengukuran dapat dibandingkan dengan hasil pengukuran pada sistem penggunaan lahan lainnya dari tempat dan waktu pengukuran yang berbeda.

(20)

Buku petunjuk ini disusun secara sederhana yang dapat dipakai untuk memperkirakan secara cepat jumlah karbon per lahan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di pedesaan. Informasi pengukuran cadangan karbon yang lebih lengkap menurut metoda standard RaCSA (Rapid Carbon Appraisal) bisa dibaca di Hairiah et al (2011) atau bisa pula diunduh dari http://www.worldagroforestrycentre.org/sea/publications.

Gambar 7. Seresah gugur yang ada di permukaan tanah, macam dan kualitas seresah yang beranekaragam menandakan bahwa vegetasi yang tumbuh di atasnya juga beranekaragam.

(21)

Prinsip, Kriteria dan Indikator

dalam Pemantauan Cadangan Karbon

2.1. Tujuan

• Mengembangkan prinsip, kriteria, dan indikator untuk memantau cadangan karbon yang disesuaikan dengan kondisi lokal

• Menyiapkan alat ukur yang dibutuhkan

• Menentukan metode pengukuran yang akan digunakan

2.2. Strategi Pembelajaran

Syarat utama adalah berdiskusi dengan narasumber baik dari pemerintah daerah setempat, dan melakukan cek ulang informasi yang diperoleh baik dari peta yang ada maupun cek langsung di lapangan, dan menambahkannya dengan informasi yang relevan lainnya dari sumber pustaka.

2.3. Uraian Materi

Prinsip, kriteria dan indikator dapat disusun berdasarkan informasi yang diperoleh dari kajian pustaka. Selanjutnya, prinsip, kriteria dan indikator tersebut didiskusikan secara langsung dengan kelompok untuk memperoleh masukan sesuai dengan kondisi lokal.

Langkah:

1. Membuat daftar prinsip, kriteria dan indikator berdasarkan kajian pustaka terkait dengan pemantauan cadangan karbon (lihat contoh Tabel 1)

2. Menyesuaikan prinsip, kriteria dan indikator berdasarkan kondisi lokal di lokasi pemantauan

3. Menentukan alat ukur dari masing-masing indikator 4. Menentukan metode pengukurannya

5. Berdasarkan indikator yang telah ditentukan pada tahap sebelumnya, maka dipersiapkan alat ukur yang dibutuhkan sesuai dengan metode pengukuran yang dipilih (Tabel 2)

(22)

Tabel 1. Contoh prinsip, kriteria dan indikator untuk memantau cadangan karbon lahan

Prinsip Kriteria Indikator

1. Hutan alami tetap

Lestari Mempertahankan cadangan karbon pohon tetap tinggi dengan jalan: a. Menjaga populasi dan

keanekaragaman pohon di hutan tetap Lestari

b. Tidak ada perusakan dan penebangan pohon, pembakaran dan pengangkutan kayu keluar hutan

a. Jumlah pohon besar berdiameter lebih dari 30 cm tidak berkurang b. Jumlah jenis pohon dengan

kategori kayu berat tidak berkurang

c. Tidak ada pengangkuatan kayu mati keluar plot

d. Lapisan seresah tebal di permukaan tanah 2. Mempertahankan

lahan pertanian berbasis aneka jenis pohon

Meningkatkan cadangan karbon dengan jalan:

a. Mempertahankan keanekaragaman jenis dan umur pohon dalam satu lahan

b. Menjaga masukan bahan organic ke tanah

c. Menghindari pembakaran di lahan

a. Banyak terdapat beraneka jenis pohon (campuran jenis tumbuh cepat dan tumbuh lambat) b. Banyak terdapat pula pohon muda c. Permukaan tanah tertutup oleh

lapisan seresah yang tebal 3. Mempertahankan

tutupan lahan berpohon

Tidak ada ancaman terhadap

penurunan cadangan karbon di lahan Luas tutupan berpohon tidak berkurang

Tabel 2. Contoh daftar mempersiapkan alat ukur dan metode pengukuran yang dipilih

Indikator Alat Ukur Metode

1.a. Jumlah pohon besar berdiameter lebih dari 30 cm tidak berkurang

1.b. Jumlah jenis pohon dengan kategori kayu berat tidak berkurang

1.c. Tidak ada pengangkuatan kayu mati keluar plot

1.d. Lapisan seresah tebal di permukaan tanah

a. Ada tidaknya pohon besar berdiameter > 30 cm b. Ada tidaknya pohon berkayu

kelas kayu berat

c. Tidak ada sarana jalan raya untuk transportasi kendaraan berat di dalam hutan

d. Lapisan seresah tebal di permukaan tanah a. Pengukuran di lapangan b. Pengukuran di lapangan c. Pengukuran di lapangan d. Pengukuran di lapangan 2.a. Banyak terdapat beraneka jenis

pohon (campuran jenis tumbuh cepat dan tumbuh lambat) 2.b. Banyak terdapat pula pohon

muda

2.c. Permukaan tanah tertutup oleh lapisan seresah yang tebal

a. Ada tidaknya jenis pohon kelas ringan menggantikan kayu kelas berat

b. Ada tidaknya benih aneka pohon yang tumbuh secara alami c. Ada tidaknya lapisan seresah

tebal dengan aneka macam jenis

a. Diskusi kelompok terfokus dan pengamatan langsung di lapangan b. Pengamatan langsung di lapangan c. Pengamatan langsung di lapangan 3.a. Luas tutupan lahan berpohon

tidak berkurang Ada tidaknya rencana perubahan tutupan lahan tersirat dalam rencana pengembangan wilayah

Diskusi kelompok terfokus

(23)

Pemantauan Cadangan Karbon:

Persiapan

Kegiatan pemantauan cadangan karbon merupakan suatu kegiatan pengumpulan data yang dilakukan secara berkala. Pemantauan dapat dilakukan oleh aparat pemerintah dan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang merupakan pihak yang paling mengetahui kegiatan dan pemanfaatan lahan setempat. Hasil pemantauan cadangan karbon berupa kumpulan data cadangan karbon dari waktu kewaktu dapat digunakan sebagai dasar bagi pemerintah lokal didalam mengevaluasi perubahan cadangan karbon terkait dengan rencana pembangunan dan pengembangan wilayah.

Tujuan Umum:

1. Mendukung Pemerintah RI dalam mengimplementasikan pembangunan rendah emisi melalui penyusunan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi GRK (RAN-GRK) dan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi GRK (RAD-GRK)

2. Membangun data dasar cadangan karbon dengan melakukan pengukuran di berbagai macam penggunaan lahan dalam berbagai ekosistem untuk mendukung penyusunan RAN-GRK dan RAD-GRK

Tujuan Khusus:

1. Memberikan informasi pengetahuan sederhana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan cadangan karbon di tingkat lahan

2. Menyediakan petunjuk teknis pelaksanaan dalam melakukan pemantauan cepat dan evaluasi cadangan karbon di tingkat lahan

Sasaran

Bahan ajar ini dipersiapkan untuk dapat digunakan oleh masyarakat luas, baik oleh perangkat pemerintah maupun masyarakat lokal yang terlibat langsung dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi GRK (RAN-GRK) dan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi GRK (RAD-GRK), atau perangkat pemerintah daerah yang merancang pembangunan dan pengembangan wilayah rendah emisi.

(24)

3.1. Memahami Konteks Pemantauan Cadangan Karbon

Tujuan

1. Memahami program-program yang sedang direncanakan pemerintah daerah setempat yang akan berdampak terhadap perubahan cadangan karbon 2. Memahami perubahan jenis tutupan lahan yang akan berdampak terhadap

perubahan cadangan karbon Strategi Pembelajaran

1. Diskusi dengan bagian perencanaan di tingkat kabupaten 2. Mempelajari dokumen perencanaan dan peta penggunaan lahan 3. Survei lapang bersama masyarakat pinggiran hutan

Uraian Materi

Alat dan bahan:

1. Alat tulis

2. Dokumen perencanaan dan peta penggunaan lahan 3. GPS (Geo Positioning System)

4. Kamera untuk ambil foto lahan

Langkah:

1. Menghubungi staf bagian perencanaan di tingkat kabupaten dan mencari informasi mengenai (a) program yang direncanakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan sektor kehutanan dan sektor pertanian berbasis pohon (Agroforestri atau perkebunan) dan pertanian tanaman semusim, (b) jenis kegiatan dan (c) lokasi pelaksanaannya

2. Melakukan survei lapangan ke beberapa lokasi pelaksanaan program untuk

mendapatkan informasi jenis tutupan lahan yang ada saat ini

3. Membuat rangkuman dalam bentuk

dokumen berisi program yang direncanakan, jenis kegiatan, dan lokasi pelaksanaan

Tanaman semusim Perkebunan (bukan pohon) Semak belukar Agroforestry (campuran) Perkebunan Kebun campuran Hutan Alami • Cadangan Karbon besar • Identifikasi kegiatan yang paling besar dalam menurunkan jumlah cadangan karbon

• Identifikasi kegiatan yang paling besar dalam meningkatkan jumlah cadangan karbon • Cadangan Karbon kecil • Identifikasi kegiatan yang paling besar dalam menurunkan jumlah cadangan karbon

• Identifikasi kegiatan yang paling besar dalam meningkatkan jumlah cadangan karbon

(25)

3.2. Mengembangkan Sistem Pemantauan Partisipatif

Tujuan

• Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya memantau cadangan karbon secara berkala

• Membagun sistem pemantauan cadangan karbon yang melibatkan berbagai pihak agar dapat berkelanjutan

Strategi Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan melalui sosialisasi dengan menggunakan media (poster) atau melalui pelatihan.

Gambar 8. Diskusi kelompok terfokus, diawali dengan perkenalan dan penjelasan tujuan kegiatan kepada semua peserta, dan dilanjutkan dengan diskusi. (Foto: Universitas Brawijaya/Kurniatun Hairiah)

Uraian Materi

Dalam pengembangan pemantauan dapat dilakukan dengan jalan memberikan informasi melalui sosialisasi atau pelatihan yang melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan dan tokoh masyarakat. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam sosialisasi:

1. Menginformasikan rencana kegiatan kepada pemerintah daerah setempat dan desa yang akan dijadikan sebagai lokasi pemantauan

2. Menjelaskan mengenai tujuan, pentingnya pemantauan cadangan karbon, metode pelaksanaan dan siapa yang akan melaksanakan pemantauan tersebut

3. Ketika melakukan sosialisasi di desa, dilakukan identifikasi masyarakat yang berpotensi untuk menjadi anggota tim pemantau, agar tim pemantauan dapat segera dibentuk

(26)

Rangkuman

Pemantauan cadangan karbon dilakukan secara berkala dan dalam jangka waktu minimal lima (5) tahun, sehingga dukungan pemerintah daerah dan masyarakat sangat diperlukan agar pelaksanaan pemantauan dapat berkelanjutan.

3.3. Membuat Peta Penggunaan Lahan

Tujuan

Mendapatkan gambaran tipe penggunaan dan posisinya di desa yang dipilih menjadi fokus pemantauan cadangan karbon

Strategi Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan melalui proses diskusi terfokus dengan para pihak yaitu dari pemerintah daerah setempat, tokoh masyarakat dan pihak perkebunan bila ada. Uraian Materi

Alat dan bahan:

1. Kertas plano 2. Spidol aneka warna 3. Selotipe kertas 4. Kertas A4

Waktu pelaksanaan: 60 menit, setahun sekali

Langkah:

1. Tim pemantau memperkenalkan diri dengan peserta diskusi di tingkat desa

2. Ketua tim atau salah satu anggota tim pemantau bertindak sebagai fasilitator dalam diskusi kelompok

3. Kepala desa/kampung atau tokoh masyarakat diminta membuka acara diskusi kelompok

4. Fasilitator menyampaikan tujuan diskusi dan informasi yang diharapkan dalam diskusi

5. Semua peserta diskusi diminta untuk mengisi daftar hadir seperti Tabel 5 6. Fasilitator menyediakan kertas plano

7. Peserta diskusi wanita dan pria bergabung dalam satu kelompok

8. Fasilitator minta kepada peserta diskusi untuk membuat peta desa dengan menggambarkan (Gambar 9):

(27)

a. Jalan utama/jalan desa/kampung, jalan dusun, jalan setapak, sungai

b. Tempat-tempat umum: perkampungan, pasar, kantor-kantor pemerintahan, tempat ibadah

c. Tipe-tipe penggunaan lahan yang ada, misalnya: hutan, kebun sagu, kebun campur, ladang, sawah dan sebagainya

9. Apabila peta telah selesai dibuat, fasilitator memeriksa kembali dan menerangkan kepada peserta diskusi mengenai gambar yang telah mereka buat untuk

mengkonfirmasi kembali apakah tidak ada informasi yang belum dituangkan dalam gambar

Rangkuman

Peta desa yang merupakan gambaran miniatur yang dapat mencerminkan kondisi desa. Pembuatan peta secara partisipatif merupakan cara untuk mengajak masyarakat memahami dan merasa memiliki apa yang ada di desanya, sehingga dapat ikut menjaga.

Gambar 9. Contoh penerapan kegiatan di Desa Mulima, Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

(28)

Contoh penerapan materi

Peta ini menunjukkan tipe penggunaan lahan dan jenis tumbuhan yang dominan, misalnya: kebun kaspi, alang-alang, kebun kopi, hutan primer, hutan sekunder

Peta ini dapat digunakan untuk memilih tipe penggunaan lahan yang akan diambil sebagai petak contoh dalam pengumpulan data di lapangan.

Gambar 10. Skesa penggunaan lahan di Kampung Wambena, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura

3.4. Pembuatan Plot Pengukuran

Penentuan lokasi dan desain plot pengukuran cadangan karbon pada skala plot sangat penting didalam meningkatkan akurasi data.

Tujuan

• Peserta mampu membuat plot permanen untuk mengukur cadangan karbon dan memantaunya secara berkala

Strategi Pembelajaran

Pembelajaran dilakukan secara langsung di lapangan untuk mempraktekkan pembuatan plot permanen pengukuran cadangan karbon

Uraian Materi

Penentuan lokasi dan jumlah plot yang akan diukur sangat dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan yang umum dijumpai dan variasinya. Ukuran luas plot permanen

pengukuran cadangan karbon ditentukan mengkuti standard yang ada supaya seragam dan mudah dalam pelaksanaan pemantauan (monitoring). Ada dua standar ukuran untuk plot pengukuran cadangan karbon:

(29)

• PLOT KECIL, berukuran 40 m x 5 m

Plot kecil ini digunakan untuk mengukur karbon di hutan alami, semak belukar, dan agroforestri dengan tingkat populasi pohon tinggi. Apabila suatu lahan memiliki jarak tanam yang cukup lebar (misalnya antar pohon 3 m x 3 m) maka plot ini dapat dimodifikasi ukurannya menjadi 20 m x 20 m. Pohon yang diukur pada plot kecil ini adalah pohon dengan lingkar lilit batang antara 15 cm sampai 95 cm (diameter = 5 cm sampai 30 cm).

• PLOT BESAR, berukuran 100 m x 20 m

Plot ini dibuat jika dalam plot tersebut ditemukan pohon besar dengan lingkar lilit batang lebih dari 95 cm (diameter batang

lebih dari 30 cm). Plot ini merupakan perluasan dari plot kecil menjadi ukuran 100 m x 20 m (Lihat gambar 11). Pengukuran lingkar lilit batang pada plot ini hanya dilakukan pada pohon besar saja dengan lingkar batang lebih dari 95 cm (diameter lebih dari 30 cm). Bila kondisi tidak memungkinkan untuk membuat plot besar, misalnya karena terhambat oleh faktor alami seperti jurang, sungai, batu besar, atau parit dengan lebar lebih dari 3 m, maka potongan plot yang tersisa bisa dibuat di tempat lain yang berada didekatnya (Lihat Gambar 12).

Cara Menentukan dan Membuat Plot Pengukuran Cadangan Karbon:

1. Pilih lokasi dengan kondisi tanaman yang cukup seragam dan dapat mewakili kondisi lahan

2. Membuat PLOT KECIL pada lahan yang dipilih searah dengan mata angin (Gambar 11), dengan langkah sebagai berikut:

• Lemparkan sebatang ranting secara acak untuk menentukan titik ikat dari plot pengukuran

• Pasang patok kayu pada lokasi titik ikat yang telah ditentukan sebelumnya dan rekam posisi tersebut menggunakan GPS (Gambar 11)

Box 1. Alat-alat yang digunakan untuk pengukuran:

1. Pita ukur (meteran) dengan panjang 50 m untuk mengukur petak 2. Pita ukur (meteran) dengan panjang

5 m untuk mengukur lilit batang pohon

Panjang tali (m) Jumlah

100 2

40 2

20 2

5 2

3. Tali plastik berbagai ukuran:

4. Patok kayu (paralon) sepanjang 1 m untuk penanda titik awal pada plot permanen

5. Kompas 6. GPS

(30)

Gambar 11. Skema pembuatan plot pengukuran biomasa pohon untuk perhitungan cadangan karbon Pohon besar dbh>30 cm (kllg 95 cm) di dalam atau di luar sub-plot utama

Pohon dengan dbh antara 5 - 30 cm di dalam atau di luar sub-plot utama Pohon dengan dbh < 5 cm (kllg < 15 cm) adalah bagian dr tumbuhan bawah Sub-sub-sub plot pengambilan contoh tumbuhan bawah dan seresah

Titik ikat 60 m UTARA TIMUR 40 m 5 m 15 m

• Ikatkan tali plastik 40 m kemudian tariklah ke arah utara. Gunakan kompas untuk membantu sebagai penunjuk arah agar tali tidak keluar jalur.

• Ikatkan tali lain sepanjang 5 m, tarik tegak lurus ke arah timur.

• Lanjutkan pemasangan patok di 3 sudut yang lain dan ikat tali-tali yang lain hingga plot pengukuran membentuk persegi panjang dengan ukuran 40 m x 5 m (Luas plot = 200 m2)

• Catat dan buat sketsa plot yang telah dibuat dari titik ikat dengan keterangan arah mata angin (contoh: 40 m ke arah utara dan 5 m ke arah timur dari titik ikat).

3. Membuat PLOT BESAR. Apabila dalam PLOT KECIL ditemukan satu atau lebih pohon besar (lilit batang lebih dari 95 cm atau diameter lebih dari 30 cm), maka buatlah PLOT BESAR (ukuran 20 m x 100 m). Lihat skema di Gambar 11.

(31)

Rangkuman

• Pembuatan peta lokal secara partisipatif

• Ukuran standar plot permanen untuk pengukuran cadangan adalah plot berukuran 40 m x 5 m (plot KECIL) untuk pohon dengan lingkar lilit batang antara 15 cm sampai 95 cm. Apabila didalam plot tersebut ditemukan 1 atau lebih pohon dengan lingkar lilit batang lebih dari 95 cm, maka plot harus di perluas menjadi 100 m x 20 m. Contoh Penerapan di Papua

Gambar 13 merupakan contoh proses pembuatan plot pengukuran cadangan karbon yang telah dilakukan di Taman Nasional Wasur, Merauke dan Wambena, Jayapura. Kegiatan diawali dengan menentukan titik ikat dan perekaman posisi geografis menggunakan GPS, dilanjutkan dengan menarik tali kearah utara dengan bantuan kompas. Setelah plot pengukuran telah terbentuk, perlu dilakukan pengecekan ulang dengan jalan mengukur kembali batas plot yang telah dibuat dengan tali menggunakan meteran 100 m.

Gambar 12. Kaidah perubahan atau pemindahan plot; pemindahan dilakukan dengan membagi plot kedalam dua jalur yang berhimpitan (Gambar a; a2); mengubah posisi plot dengan memajukan atau memundurkan posisi plot, tetapi tetap berada di jalur yang sama (Gambar b; b2 atau b3) (dikutip dari IHMB, 2009)

Sungai ≥ 3 m atau jalan utama

Sungai 1 m ≤ lebar ≤ 3 m atau jalan cabang

a b a2 b2 b3 atau

(32)

Gambar 13. Kegiatan pembuatan plot permanen di Taman Nasional Wasur, Merauke dan di hutan alami di Wambena, Jayapura. Pembuatan PLOT KECIL: (A dan B) perekaman geposisi titik ikat menggunakan GPS dan menentukan arah utara menggunakan kompas, (C dan D) pengukuran PLOT KECIL 5 m x 40 m dan pembuatan siku PLOT KECIL, (E) tanda titik ikat dari plot permanen

(Foto: Isak Ormuseray dan Universitas Brawijaya/Kurniatun Hairiah)

Lembar Kerja

Tabel 3. Sketsa pembuatan plot permanen

PLOT KECIL

PLOT BESAR TITIK IKAT

SKETSA PEMBUATAN PLOT PERMANEN

Lokasi Desa Kabupaten : ... : ... Posisi Geografi x= ...y= ... Taggal : ... Pengukur : ... ... ...

(33)

Mengukur Diameter

Batang Pohon di Lapangan

4.1. Tujuan

Peserta pelatihan mampu mengukur biomasa pohon secara mandiri dengan jalan mengukur lingkar batang pohon pada plot permanen yang telah dibuat sebelumnya.

4.2. Strategi Pembelajaran

Pembelajaran yang diberikan didalam pelatihan dilakukan secara langsung dilapangan. Semua pohon yang terdapat didalam plot permanen diukur dan dicatat dalam blanko yang telah disediakan.

4.3. Uraian Materi

Cadangan karbon suatu lahan sangat dipengaruhi oleh populasi pohon, ukuran diameter, dan kekerasan kayu. Semakin besar ukuran diameter pohon maka semakin besar jumlah karbon yang disimpan. Dalam rangka memantauan cadangan karbon pada suatu lahan, perlu dilakukan pengukuran beberapa indikator yang dilakukan secara berkala untuk memonitor perubahan yang mungkin terjadi pada beberapa tahun kedepan. Indikator yang dapat digunakan untuk memonitor cadangan karbon adalah dengan melakukan pengukuran biomasa pohon dengan jalan engukuran semua lilit batang pohon yang terdapat didalam plot permanen dan mengidentifikasi jenis kayunya. Kegiatan pemantauan cadangan karbon melalui pengukuran biomasa pohon dapat dilakukan setiap 5 tahun.

Pengukuran biomasa pohon dilakukan dengan mengukur lingkar/lilit batang atau diameter pohon setinggi dada, yakni setinggi 1,3 m diatas permukaan tanah. Peralatan yang

dibutuhkan untuk mengukur biomasa pohon disajikan dalam box 2. Berikut cara pengukuran biomasa pohon:

1. Bagilah PLOT KECIL menjadi 2 bagian, dengan memasang tali di bagian tengah sehingga ada 2 bagian PLOT KECIL, masing-masing berukuran 40 m x 2,5 m 2. Pasang plat nomor pada setiap pohon yang dijumpai dan catat nama lokal pohon

yang akan diukur pada blanko pengukuran

04

(34)

Gambar 15. Pencatatan semua data hasil pengukuran pada blanko yang telah disediakan sebelumnya (Foto: BPKH Jayapura)

3. Ukurlah lingkar/lilit batang setinggi dada (setinggi 1,3 m dari permukaan tanah), untuk mempermudah pergunakan tongkat kayu ukuran panjang 1,3 m, letakkan tegak lurus permukaan tanah di dekat pohon yang akan diukur

4. Bersihkan semua lumut yang ada di permukaan batang

5. Lilitkan pita pengukur pada batang pohon, dengan posisi pita harus sejajar untuk semua arah (Gambar 14). Ukurlah lingkar batang semua pohon yang masuk dalam PLOT KECIL dan catat semua data yang diperoleh (Gambar 15) pada lembar blanko yang tersedia

6. Identifikasi jenis kayu setiap pohon yang diukur apakah termasuk dalam kategori kayu berat, sedang, dan ringan

A

B

BENAR

Gambar 14. Pengukuran lingkar/lilit pohon: (A) contoh pengukuran lingkar batang yang salah, (B) pengukuran lingkar batang yang benar

(Foto: Universitas Brawijaya/Kurniatun Hairiah)

SALAH

7. Lakukan pengukuran lingkar/lilit batang hanya pada pohon yang memiliki lingkar batang antara 15 cm hingga 95 cm (diameter 5 cm hingga 30 cm). Bila permukaan tanah di lapangan dan bentuk pohon tidak rata, maka berikut adalah penentuan titik pengukuran lingkar pohon:

(35)

A

B

C

D

E

1,3 m 1,3 m 1,3 m 0,5 m 0,5 m 0,5 m 1,3 m

Gambar 16. Cara menentukan ketinggian pengukuran lingkar batang pohon yang tidak beraturan bentuknya (Weyerhaeuser dan Tennigkeit, 2000)

Keterangan:

a. Pohon pada lahan berlereng, letakkan ujung tongkat 1,3 m pada lereng bagian atas. b. Pohon bercabang sebelum

ketinggian 1,3 m, maka ukurlah lingkar semua cabang yang ada. c. Bila pada ketinggian 1,3 m

terdapat benjolan, maka lakukanlah pengukuran lingkar pohon pada 0,5 m setelah benjolan.

d. Bila pada ketinggian 1,3 m terdapat akar-akar tunjang, maka lakukan pengukuran pada 0,5 m setelah perakaran.

e. Bila pada ketinggian 1,3 m

terdapat banir (batas akar papan) maka lakukan pengukuran lingkar pohon pada 0,5 m setelah banir. Namun bila banir tersebut mencapai ketinggian > 3 m, maka pengukuran keliling batang pohon memerlukan tangga yang cukup panjang, JANGAN PANJAT POHON, cara tersebut berbahaya. Untuk itu lakukan dengan cara lain (Lihat box menaksir diameter pohon berbanir tinggi)

Box 2. Alat-alat yang dibutuhkan untuk pengukuran biomasa

1. Pita ukur (meteran) berukuran minimal 5 m untuk mengukur lilit batang

2. Tongkat kayu/bambu sepanjang 1.3 m untuk memberi tanda pada pohon yang akan diukur diameternya 3. Jangka sorong untuk

mengukur diameter pohon ukuran kecil

(36)

8. Catatlah lingkar lilit batang dari setiap pohon besar yang diamati di plot BESAR pada blanko pengamatan yang telah disiapkan

9. Khusus untuk pohon-pohon yang batangnya rendah dan bercabang banyak, misalnya pohon kopi yang dipangkas secara berkala, maka ukurlah lingkar batang semua cabang. Bila pada plot KECIL terdapat tanaman jenis tidak bercabang seperti bambu dan pisang, maka ukurlah lingkar batang dan tinggi tiap pohon dalam setiap rumpun tanaman. Demikian pula bila terdapat pohon tidak bercabang seperti kelapa, pinang atau tanaman jenis palem lainnya.

Box 3. Menaksir diameter pohon berbanir tinggi

• Ukurlah panjang lengan anda (L1, m), lihat Gambar 17

• Berdirilah di depan pohon yang akan diukur, pandangan mata lurus ke batang pohon di atas banir

• Ukurlah jarak tempat anda berdiri dengan batang pohon (L2, m), biasanya sekitar 10 m

• Pegang jangka sorong atau penggaris, acungkan lengan lurus ke depan dan batang pohon harus terlihat jelas (Gambar 11)

• Ukurlah diameter batang pohon (D, m) dengan menggeserkan jangka sorong, catatlah diameter bacaan yang diperoleh (Db)

• Hitunglah diameter batang menggunakan rumus di bawah ini:

D(m) =

D

b

x L

2

L

1

D = diameter batang, m

Db = diameter bacaan pada jangka sorong L1 = panjang lengan pengukur, m

(37)

Gambar 17. Skema estimasi diameter pohon yang berbanir tinggi berdasarkan pendekatan geometri

4.4. Rangkuman

• Pengukuran biomasa pohon dilakukan dengan mengukur lingkar/lilit batang atau diameter pohon setinggi dada, yakni setinggi 1,3 m diatas permukaan tanah • Untuk pohon yang memiliki banir tinggi lebih dari 3 m diatas permukaan tanah,

pengukurn diameter pohon dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan geometri

D

b

Jangka

sorong

Batas banir

Pohon berbanir

tinggi

L

1

L

2

D

SALAH SALAH BENAR

(38)

4.5. Latihan Menaksir Diameter Pohon Berbanir Tinggi

Berikut merupakan data hasil pengukuran diameter bacaan pohon berbanir tinggi yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan dengan menggunakan jangka sorong:

Tabel 4. Latihan menghitung diameter pohon berbanir tinggi

No

Panjang lengan pengukur (cm)

L1

Jarak pengukur terhadap pohon (cm)

L2

Diameter bacaan pada jangka sorong (cm) Db 1 60 480 4.8 2 68 400 4 3 65 210 5.8 4 60 390 2.2 5 60 300 4.5 6 65 320 3.1 7 68 280 3.5 8 68 250 4.2 9 65 310 3.7 10 65 300 3.3 Pertanyaan:

Hitung data diameter pohon dengan menggunakan rumus untuk mengestimasi diameter pohon dengan berbanir tinggi!

KUNCI JAWAB LATIHAN

No Panjang lengan pengukur (cm) L1 Jarak pengukur terhadap pohon (cm) L2

Diameter bacaan pada jangka sorong(Cm) Db Diameter Batang (cm) D 1 60 480 4.8 38.4 2 68 400 4 23.5 3 65 210 5.8 18.7 4 60 390 2.2 14.3 5 60 300 4.5 22.5 6 65 320 3.1 15.3 7 68 280 3.5 14.4 8 68 250 4.2 15.4 9 65 310 3.7 17.6 10 65 300 3.3 15.2

(39)

Lembar kerja

Tabel 5. Blanko pengukuran lingkar batang pohon besar

BLANKO PENGUKURAN LINGKAR BATANG POHON: Pohon Berukuran Besar (Lingkar batang > 95 cm)

Lokasi (Dusun/Desa/Kabupaten) : ... Umur lahan : ... Penggunaan lahan : ... Nama pengukur : ... Tanggal/bulan/tahun : ... Ukuran plot : 100 m x 20 m

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon)Karbon Keras Sedang Lunak

1 2 3 4 ....

TOTAL KARBON POHON (kg/2000 m2) Tabel 6. Blanko pengukuran lingkar batang pohon sedang

BLANKO PENGUKURAN LINGKAR BATANG POHON: Pohon Berukuran Sedang (Lingkar batang 15 - 95 cm)

Lokasi (Dusun/Desa/Kabupaten) : ... Umur lahan : ... Penggunaan lahan : ... Nama pengukur : ... Tanggal/bulan/tahun : ... Ukuran plot : 40 m x 5 m

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon)Karbon Keras Sedang Lunak

1 2 3 4 ....

(40)

Tabel 7. Blanko penaksiran diameter pohon berbanir tinggi

BLANKO PENAKSIRAN DIAMETER POHON BERBANIR TINGGI

Lokasi (Dusun/Desa/Kabupaten) : ... Umur lahan : ... Penggunaan lahan : ... Nama pengukur : ... Tanggal/bulan/tahun : ... Ukuran plot : ... No Panjang lengan pengukur (cm) L1 Jarak pengukur terhadap pohon (cm) L2

Diameter bacaan pada jangka sorong (cm) Db Diameter Batang (cm) D 1 2 3 4 ...

(41)

Mengevaluasi Hasil

Pemantauan Cadangan Karbon

5.1. Menghitung Cadangan Karbon Pohon

Tujuan

• Peserta pelatihan mampu menghitung cadangan karbon dengan cara sederhana menggunakan tabel cadangan karbon yang telah tersedia

• Peserta pelatihan mampu mengintepretasikan dan menganalisis data hasil perhitungan cadangan karbon

Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran didalam pelatihan dilakukan didalam ruang kelas. Semua data yang diperoleh dari lapangan akan dihitung dan dianalisis.

Uraian materi

Cadangan karbon pohon dapat diketahui dengan jalan melihat tabel cadangan karbon pada lampiran 1 dan 2 berdasarkan data lingkar lilit batang yang telah diukur sebelumnya. Tabel cadangan karbon tiap pohon dibagi menjadi tiga daerah berdasarkan curah hujannya yakni daerah kering (curah hujan kurang dari 1500 mm/th), daerah lembab (curah hujan 1500-4000 mm/th) dan daerah basah (curah hujan >1500-4000 mm/th). Cara menghitung cadangan karbon adalah sebagai berikut:

1. Lihat kembali blanko pengukuran biomasa pohon (lingkar lilit batang pohon)

2. Carilah data lingkar batang pohon dan jenis kayu yang diperoleh, lihat nilai cadangan karbon pohon di kolom berikutnya sesuai dengan zona iklim dan berat kayunya 3. Tuliskan nilai cadangan karbon pohon pada blanko pengukuran, lakukan hal yang

sama pada seluruh data yang telah diukur di lapangan

4. Jumlahkan cadangan karbon dari semua pohon, sehingga diperoleh cadangan karbon (kg/plot)

5. Hitung cadangan karbon ke dalam luasan metrik dengan membagi hasil penjumlahan pada nomor 4 dengan luasan plot sehingga diperoleh cadangan karbon (kg/m2)

(42)

Contoh Penggunaan Look Up Table untuk Menaksir Cadangan Karbon Pohon:

Pengukuran cadangan karbon pohon dilakukan pada kawasan hutan di Papua yang termasuk dalam klasifikasi lembab terdapat pohon sengon berukuran 22 cm dimana jenis tersebut termasuk dalam kayu lunak, maka lihatlah daftar cadangan karbon. Cari ukuran lingkar lilit yang diperoleh, kemudian carilah cadangan karbon dari pohon tersebut di kolom sebelah kanan sesuai dengan kelompok iklim dan tingkat kekerasan kayu, maka diperolehlah cadangan karbon pohon tersebut sebesar 7,2 kg/pohon (Tabel 8).

Tabel 8. Cara membaca data pada tabel cadangan karbon (lampiran 1 dan 2)

Nama Pohon Lingkar Lilit

(cm) Diameter (cm) Kayu KerasCadangan karbon (kg/pohon) Daerah lembabKayu Sedang Kayu Lunak

Sengon 15,5 5 3

Sengon 18,5 6 4,8

Sengon 22,0 7 8.1 7.3 7,2

Pulai 25,0 8 10.4

Nangka 28,5 9 14.2

Contoh Perhitungan Cadangan Karbon Pohon dalam Kegiatan Pelatihan Bersama Masyarakat di Merauke

Berikut adalah contoh data hasil latihan pengukuran cadangan karbon pohon di Taman Nasional Wasur, Merauke yang dilakukan pada bulan Oktober 2014. Berdasarkan informasi dari peserta pelatihan, TN. Wasur terletak pada daerah lembab dengan curah hujan 1500-4000 mm/th.

(43)

BLANKO PENGUKURAN LINGKAR BATANG POHON: Pohon Berukuran Besar (Lingkar batang > 95 cm)

Lokasi (Dusun/Desa/Kabupaten) : TN. Wasur, Merauke

Umur lahan :

-Penggunaan lahan : Hutan

Nama pengukur : Tim 1

Tanggal/bulan/tahun : 16 Oktober 2014

Ukuran plot : 100 m x 20 m

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon)Karbon Keras Sedang Lunak

1 Bush 103 √ 2 Bush 114 √ 3 Mangga hutan 111 √ 4 Mani 113 √ 5 Bush putih 110 √ 6 Bush putih 113 √ 7 Bush 113 √ 8 Bush 114 √ 9 Bush 108 √ 10 Bush 116 √ 11 Bush 98 √ 12 Bush 113 √ 13 Bush 119 √ 14 Bush 113 √ 15 Bush 119 √

(44)

BLANKO PENGUKURAN LINGKAR BATANG POHON: Pohon Berukuran Sedang (Lingkar batang 15 - 95 cm)

Lokasi (Dusun/Desa/Kabupaten) : TN. Wasur, Merauke

Umur lahan :

-Penggunaan lahan : Hutan

Nama pengukur : Tim 2

Tanggal/bulan/tahun : 16 Oktober 2014

Ukuran plot : 40 m x 5 m

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu Karbon (kg/pohon)

Keras Sedang Lunak

1 Taah 41 √ 2 Zabiz 27 √ 3 Seringga 51 √ 4 Taah 38 √ 5 Taah 52 √ 6 Mabum 26 √ 7 Mabum 16 √ 8 Taah 19 √ 9 Bitanggur 18 √ 10 Kander 25 √ 11 Bitanggur 18 √ 12 Mabum 59 √ 13 Zerok 18 √ 14 Bitanggur 53 √ 15 Kander 22 √ 16 Seil 53 √ 17 Mabum 33 √ 18 Mabum 17 √ 19 Wanab 27 √ 20 Mabum 21 √ 21 Wanab 31 √ 22 Mabum 15 √ 23 Botok 24 √ 24 Mabum 32 √ 25 Taah 17 √ 26 Bitanggur 31 √ 27 Zerok 15 √ 28 Mabum 25 √ 29 Wanab 44 √ 30 Zerok 15 √ 31 Bitanggur 20 √ 32 Zerok 15 √ 33 Mabum 18 √

(45)

Dengan menggunakan tabel cadangan karbon pohon pada lampiran 1, data diameter dan cadangan pohon diisi dengan cara yang telah dijelaskan diatas menjadi sebagai berikut:

Pohon Berukuran Besar (Lingkar batang > 95 cm)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon) Karbon Keras Sedang Lunak

1 Bush 103 32.8 √ 419.2 2 Bush 114 36.3 √ 543.3 3 Mangga hutan 111 35.4 √ 507.6 4 Mani 113 36.0 √ 531.3 5 Bush putih 110 35.0 √ 496.0 6 Bush putih 113 36.0 √ 531.3 7 Bush 113 36.0 √ 531.3 8 Bush 114 36.3 √ 543.3 9 Bush 108 34.4 √ 473.3 10 Bush 116 36.9 √ 567.9 11 Bush 98 31.2 √ 368.8 12 Bush 113 36.0 √ 531.3 13 Bush 119 37.9 √ 606.0 14 Bush 113 36.0 √ 531.3 15 Bush 119 37.9 √ 606.0

TOTAL KARBON POHON (kg/2000 m2) 7787.7 Pohon Berukuran Sedang (Lingkar batang 15 - 95 cm)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon) Karbon Keras Sedang Lunak

1 Taah 41 13.1 √ 37.4 2 Zabiz 27 8.6 √ 12.4 3 Seringga 51 16.2 √ 66.8 4 Taah 38 12.1 √ 30.6 5 Taah 52 16.6 √ 70.3 6 Mabum 26 8.3 √ 11.2 7 Mabum 16 5.1 √ 3.1 8 Taah 19 6.1 √ 4.9 9 Bitanggur 18 5.7 √ 4.2 10 Kander 25 8.0 √ 10.1 11 Bitanggur 18 5.7 √ 4.2 12 Mabum 59 18.8 √ 98.1

(46)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu (kg/pohon) Karbon Keras Sedang Lunak

13 Zerok 18 5.7 √ 4.2 14 Bitanggur 53 16.9 √ 73.9 15 Kander 22 7.0 √ 7.2 16 Seil 53 16.9 √ 73.9 17 Mabum 33 10.5 √ 21.0 18 Mabum 17 5.4 √ 3.7 19 Wanab 27 8.6 √ 12.4 20 Mabum 21 6.7 √ 6.4 21 Wanab 31 9.9 √ 17.8 22 Mabum 15 4.8 √ 2.6 23 Botok 24 7.6 √ 9.0 24 Mabum 32 10.2 √ 19.4 25 Taah 17 5.4 √ 3.7 26 Bitanggur 31 9.9 √ 17.8 27 Zerok 15 4.8 √ 2.6 28 Mabum 25 8.0 √ 10.1 29 Wanab 44 14.0 √ 45.1 30 Zerok 15 4.8 √ 2.6 31 Bitanggur 20 6.4 √ 5.6 32 Zerok 15 4.8 √ 2.6 33 Mabum 18 5.7 √ 4.2

TOTAL KARBON POHON (kg/200 m2) Kesimpulan:

1. Total karbon pohon besar = 7787.7 kg / 2000 m2 = 3.89 kg/m2 = 38.9 ton/ha

2. Total karbon pohon sedang = 699.3 kg / 200 m2 = 3.49 kg/m2 = 34.9 ton/ha

Maka cadangan karbon pohon pada plot tersebut adalah total karbon pohon besar ditambah dengan total karbon pohon sedang = 38.9 ton/ha + 34.9 ton/ha = 73.8 ton/ha.

Rangkuman

• Cadangan karbon pohon dihitung dengan jalan melihat tabel cadangan karbon pada lampiran 1 dan 2 berdasarkan data lingkar lilit batang yang telah diukur sebelumnya. • Tabel cadangan karbon pohon dibagi berdasarkan jumlah curah hujan daerah dan

(47)

Latihan Penghitungan Cadangan Karbon

Berikut adalah data hasil pengukuran lingkar/lilit batang yang didapatkan dari plot permanen pada plot kecil dan plot besar yang berada pada kawasan dengan curah hujan 3000 mm/th:

Pohon Berukuran Besar (Lingkar batang > 95 cm)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu Karbon (kg/pohon) Keras Sedang Lunak

1 Linggua 293 √ 2 Nona 125 √ 3 Eke 119 √ 4 Emeneke (Matoa) 118 √ 5 Nawdau (Damar) 150 √ 6 Nona 121 √ 7 Saung (Damar) 195 √ 8 Eke 127 √ 9 Siva 114 √

10 Nun dwa (Lolang) 200 √

11 Eke 109 √

12 Siva 167 √

TOTAL KARBON POHON (kg/2000 m2) Pohon Berukuran Sedang (Lingkar batang 15 - 95 cm)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu Karbon (kg/pohon) Keras Sedang Lunak

1 Sisi 75 √ 2 Linggua 55 √ 3 Mra Nyang 34 √ 4 Siva 24 √ 5 No name 19 √ 6 Siva 44 √ 7 Wakri 15 √ 8 Eke 21 √ 9 Kre 77 √ 10 Kre 54 √ 11 Sisi 21 √ 12 Dro 37 √ 13 Wakri 19 √

(48)

No Nama Pohon Lingkar (cm) Diameter (cm) Tingkat kekerasan kayu Karbon (kg/pohon) Keras Sedang Lunak

14 Sisi 20 √ 15 Naswang 33 √ 16 Mra Nyang 43 √ 17 Nari-nari 40 √ 18 Sapo-sapo 20 √ 19 Naswang 16 √ 20 Eke 94 √ 21 Nari-nari 34 √ 22 Nawdau (Damar) 22 √ 23 Mra Nyang 18 √ 24 Mra Nyang 23 √

TOTAL KARBON POHON (kg/200 m2) Pertanyaan:

1. Berdasarkan data lapangan yang diperoleh, berapakah cadangan karbon (ton/ha) pada plot besar dan plot kecil!

2. Berapakah total cadangan karbon (ton/ha) yang tersimpan pada pohon! 3. Isi dan lengkapilah beberapa tabel dibawah ini!

No Plot Jumlah pohon

Kayu Keras Kayu Sedang Kayu Lunak

1 Plot Besar (2000 m2)

2 Plot Kecil (200 m2) KUNCI JAWAB LATIHAN

Pertanyaan nomor:

4. Total karbon pohon besar = 16417.1 kg / 2000 m2 = 8.21 kg/m2 = 82.1 ton/ha

5. Total karbon pohon sedang = 1157.9 kg / 200 m2 = 5.79 kg/m2 = 57.9 ton/ha

6. Total cadangan karbon pohon = pohon besar + pohon kecil = 82.1 + 57.9 = 140 ton/ha

7. Isi dan lengkapilah beberapa tabel dibawah ini

No Plot Jumlah pohon

Kayu Keras Kayu Sedang Kayu Lunak

1 Plot Besar (2000 m2) 12

(49)

5.2. Contoh Hasil Pengukuran Cadangan Karbon di Kabupaten

Jayapura

Berikut adalah contoh hasil pengukuran cadangan karbon pohon pada hutan dan kebun campur di Kabupaten Jayapura yang telah diukur pada bulan September tahun 2013. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa cadangan karbon pohon pada sistem hutan adalah 196 ton/ha dengan populasi 545 pohon/ha, sedangkan pada kebun campur adalah 62 ton/ha dengan populasi 2550 pohon/ha (Gambar 18). Hutan memiliki jumlah karbon yang lebih tinggi daripada kebun campur karena jumlah pohon besar di Hutan dua kali lebih banyak. Selain itu jenis kayu yang ditemukan di Hutan separuhnya termasuk kedalam jenis kayu berat (Berat jenis kayu > 0.75 g/cm3) (Gambar 19).

Hutan Hutan Hutan Cadang an Karbon P ohon, t on/ha Populasi, pohon/ha

Kebun campur Kebun campur

Kebun campur 250 3000 2500 200 2000 150 1500 100 1000 50 500 0 0 100% 90% 80% 70% 50% 40% 30% 20% 10% 60% 0

Cadangan karbon Kayu Berat

Pohon Besar

Kayu Sedang Kayu Lunak

Pohon Sedang Populasi

Cadangan karbon di Hutan yang tersimpan pada pohon besar (diameter lebih dari 30 cm) sekitar 30% dari total, sedangkan pada sistem kebun campur sekitar 60% cadangan karbon tersimpan pada pohon besar. Apabila dilihat populasi pohonnya, 60% cadangan karbon yang tersimpan di kebun campur hanya berasal dari 7 pohon besar saja (Gambar 20). Hal ini menunjukkan bahwa peran pohon besar dengan ukuran diameter lebih dari 30 cm sangat bermanfaat didalam menyimpan karbon. Menjaga keberadaan pohon besar dengan jenis kayu berat didalam sistem dapat membantu mempertahankan jumlah karbon dalam lahan.

Gambar 18. Cadangan karbon dan populasi pohon pada hutan dan kebun campur di Kabupaten Jayapura

Gambar 19. Persentase jenis kayu yang terdapat di Hutan dan Kebun Campur

Gambar 20. Kontribusi pohon besar dan sedang dalam menyimpan karbon

160 140 100 80 60 40 20 120 0 Cadang an Karbon P ohon, t on/ha 15 Pohon 94 Pohon 7 Pohon 44Pohon

(50)

Daftar Pustaka

Hairiah K, Ekadinata A, Sari RR, Rahayu S. 2011. Petunjuk praktis Pengukuran cadangan karbon dari tingkat plot ke tingkat bentang lahan. Edisi ke 2. World Agroforestry Centre, ICRAF Southeast Asia and University of Brawijaya (UB), Malang, Indonesia. Bappenas. 2010. Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca. 162 hal.

Gambar

Gambar 1. Empat langkah kegiatan sebagai upaya  dalam menurunkan emisi GRK di suatu wilayah
Gambar 2. Skema topik bahan ajar  yang dikembangkan dan keterkaitan  antar bahan ajar dalam menurunkan  emisi GRK di Papua (Keterangan: PCI
Gambar 3. Pengetahuan lokal masyarakat tentang keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi  kehidupan (obatan, sayuran dan spiritual) cukup banyak dan bervariasi, namun demikian pengetahuan  tentang manfaat keanekaragaman pohon bagi konservasi karbon masih b
Gambar 4. Upaya  mengendalikan  emisi karbon dengan  jalan mengelola  hutan secara Lestari,  memperbaiki  lahan-lahan terdegradasi  dengan menanam  pohon dan  melindungi hutan  alami di lahan  gambut
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Syukron (2012) mengatakan bahwa peraturan Bank Indonesia dengan Malaysia tidak ada perbedaan termasuk peraturan tentang jumlah rapat DPS hanya saja Dewan

Bagi wanita yang berperan sebagai orangtua tunggal karena meninggal pasangan, dapat mengurangi kesepiannya dengan tidak mengingat benda-benda fisik milik pasangannya,

2008 , ‘Pengaruh pemberian ekstrak daun Salam ( Eugenia polyantha) terhadap kadar kolesterol total serum tikus jantan Galur. Wistar hiperlipidemia’, Tesis, Sarjana

Apabila kurangnya pemantauan dan penguatkuasaan juga adalah lemah, maka guru – guru menjadi lebih berani untuk menggelapkan wang kerana mereka tidak perlu risau

Rawat inap merupakan salah satu bentuk proses pengobatan atau rehabilitasi oleh tenaga  pelayanan pasien kesehatan professional pada pasien yang menderita penyakit

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode Two Stage Least Square (2SLS) sedangkan pengolahan data menggunakan software e-views 4. Hasil penelitian ini

Sampel pada penelitian ini ialah 46 perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2016 yang diambil dengan mengunakan

Budaya membaca yang akhir-akhir ini disosialisasikan baik oleh pemerintah maupun beberapa kalangan dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa,telah memicu semangat beberapa