• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI NTT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI NTT"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

7

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI NTT

II.1 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perhubungan

II.1.1

Tugas Pokok dan Fungsi

Sejalan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi

Perangkat Daerah sesuai Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10

Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas – Dinas Daerah Provinsi Nusa

Tenggara Timur, Sesuai Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10 Tahun

2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas – Dinas Daerah Provinsi Nusa Tenggara

Timur, Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai tugas pokok:

“membantu Gubernur dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga

daerah dalam bidang perhubungan”.

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Dinas Perhubungan mempunyai

fungsi, sebagai berikut :

1. Pembinaan umum berdasarkan kebijakan yang ditetapkan Gubernur;

2. Pembinaan teknis di dalam bidang perhubugan sesuai dengan kebijaksanaan yang

ditetapkan oleh Menteri Perhubungan;

3. Pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan rencana dan program perhubungan

serta pelaksanaannya;

4. Penyiapan perumusan kebijaksanaan pelaksanaan di bidang perhubungan;

5. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan darat;

6. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan laut;

7. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan

udara;

8. Pengelolaan unit pelaksana teknis;

9. Pelaksanaan urusan ketata usahaan;

10. Pelaksanaan tugas – tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.

II.1.2

Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Provinsi NTT

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan jalannya roda

organisasi dibutuhkan struktur dan sumber daya manusia sebuah organisasi dalam

system formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasi tugas-tugas

(2)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

8

sejumlah orang untuk bekerjasama dalam mencapai sebuah tujuan yang telah

ditetapkan. Struktur organisasi Dinas Perhubungan Provinsi NTT, terdiri dari :

-

Kepala Dinas;

-

Sekretaris;

-

Bidang 5rt Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

-

Bidang Lalu Lintas Angkutan Sungai Dan Penyeberangan;

-

Bidang Perhubungan Laut;

-

Bidang Perhubungan Udara;

- Unit Pelaksana Teknis Dinas Perhubungan Bidang LLAJ.

Pada Sekretaris, Bidang dan UPT masing – masing membawahi 3 (tiga sub bagian/seksi ).

Ada 5 (lima) Unit Pelaksana Teknis Dinas yaitu :

1. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Kupang, TTS dan Rote Ndao.

2. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Belu, TTU, Alor dan Lembata.

3. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sikka, Flotim, Ende dan Nangakeo.

4. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Manggarai, Manggarai Timur, Ngada

dan Manggarai Barat.

5. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba

Barat dan Sumba Barat Daya.

Total jabatan struktural yang ada pada Dinas Perhubungan Provinsi NTT (termasuk UPT)

sebanyak 41 jabatan struktural dengan rincian eselon adalah :

-

Eselon II :

1 orang

-

Eselon III :

7 orang, yang belum terisi di 2 UPT (Manggarai, Kupang) dan Kabid

LLAJ

-

Eselon IV :

22 orang, yang belum terisi 8 seksi

Dan Jabatan Fungsional 2 orang (arsipharis).

Untuk Pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, maka dibentuk susunan organisasi yang

terstruktur sehingga dalam pelaksanaannya dapat memberikan efektifias dan efesiensi

kegiatan yang optimal dan mampu menghasilkan pelayanan yang berkualitas di bidang

transportasi kepada masyarakat. Struktur organisasi di Dinas Perhubungan Provinsi NTT

adalah sebagai berikut.

(3)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

9

Tabel 1

Struktur Organisasi Dinas Perhubungan

SEKRETARIS

Sub Bagian PDE Sub Bgian Umum & Kepeg Sub Bagian Keuangan

Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan Bidang Lalu Lintas Angkutan

Penyeberangan Bidang Perhubungan Laut

Bidang Perhubungan Udara

Seksi Lalu Lintas Angkutan Jalan

Seksi Keselamatan LLAJ

Seksi Pengendalian Operasional

Seksi Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan

Seksi Kepelabuhanan

Seksi Keselamatan Teknik Sarana

Seksi Angkutan Laut

Seksi Kepelabuhanan

Seksi Perkapalan dan SAR

Seksi Lalu Lintas Angkutan Udara

Seksi Teknik Bandara dan FASLETRIK

Seksi KESPEN dan SERLAIKUD

UPT Perijianan & Pengawasan LLAJ – 5 UPT Kelompok Jabatan Fungsional

(4)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

10

II.2

Sumber Daya SKPD (SDM, Fasilitas Penunjang)

II.2.1 Sumber

Daya

Manusia

Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur merupakan faktor penentu utama untuk

melaksanakan roda organisasi yang perlu mendapat perhatian baik aspek kualifikasi maupun

kuantitas dalam rangka upaya peningkatan kualitas dan kinerja organisasi demi terwujudnya Visi,

Misi dan Tujuan organisasi. Dinas Perhubungan Provinsi NTT sebagai instansi teknis yang diberi

tanggungjawab dalam sektor perhubungan tentunya membutuhkan aparatur yang memiliki

pengetahuan dan kemampuan teknis perhubungan (darat, laut dan udara). Sesuai dengan data

yang ada pegawai dinas perhubungan sebagian besar bukan merupakan basic perhubungan

ataupun teknik sehingga ke depannya perlu ditingkatkan pengetahuan dan kemampuan teknisnya

melalui pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis dan khursus-khursus singkat sehingga mampu

mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dinas itu sendiri dalam memenuhi kebutuhan

masyarakat pengguna jasa transportasi yang berkualitas, selamat, aman, lancar dan terpadu.

Untuk mendukung dan menunjang kegiatan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, Dinas

Perhubungan Provinsi NTT memiliki jumlah staf sebanyak 126 orang termasuk tenaga fungsional

2 orang. Jadi total keseluruhan pegawai Dinas Perhubungan Provinsi NTT sampai 31 Desember

2013 yaitu 156 orang, yang terdiri dari : pejabat struktural 30 orang (belum terisi 11 jabatan),

fungsional 2 orang (fungsional arsipharis) dan staf : 124 orang. Secara terinci sebagaimana

diuraikan dalam tabel berikut di bawah ini :

Tabel 2.1 Jumlah Pegawai Berdasarkan Eselon/Jabatan

NO

Jabatan

Jenis Kelamin

Total

L

P

1

2

3

4

Eselon II

Eselon III

Eselon IV

Staf

1

7

24

84

3

6

26

1

10

30

110

5 Fungsional

9

1

10

Jumlah

120 36 156

(5)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

11

Tabel 2.2 Jumlah Pegawai Bersarkan Golongan

n NO

Golongan

Jenis Kelamin

JumlahPegawai

L

P

1

2

3

4

Golongan IV

Golongan III

Golongan II

Golongan I

8

79

29

3

31

4

8 orang

110 orang

33 orang

3 orang

Jumlah 120

36

156

orang

Secara kualifikasi pendidikan pegawai Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur

termasuk yang ada di UPTD adalah :

Tabel 2.3 Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan

NO

JenjangPendidikan

Jenis Kelamin

JumlahPegawai

L

P

1

2

3

4

5

6

7

S2

S1

D. III

D. II

SMA danSederajat

SMP

SD

7

55

12

1

39

5

1

15

1

19

7 orang

70 orang

13 orang

1 orang

58 orang

5 orang

1 orang

Jumlah 120

36

156

orang

Tabel 2.4 Jumlah Pegawai Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan

NO Spesifikasi pendidikan

Jenis Kelamin

Jumlah Pegawai

L

P

1

2

3

4

5

6

7

8

Sosial

Perpajakan

Ekonomi

Hukum

Ilmu Pemerintahan

Peternakan

Ilmu Sains

Filsafat

1

14

7

1

1

4

1

13 orang

1 orang

18 orang

7 orang

1 orang

1 orang

1 Orang

1 Orang

(6)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

12

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

Sarjana Biologi

Teknik Umum

Transportasi Darat

Transportasi Udara

Transportasi Laut

Administrasi Negara

Administrasi

Administrasi Niaga

D.III LLAJ

D.III LLASDP

D.III Tata Laksana

D.III Nautika

D.III Teknik Sipil

D.III Teknik Mesin

SMA

STM

SMEA

SMP

SD

1

13

2

2

1

3

3

6

1

1

30

6

1

5

1

4

1

1

1

14

3

1 Orang

4 Orang

17 Orang

2 Orang

2 Orang

2 Orang

1 Orang

4 Orang

3 Orang

6 Orang

1 Orang

1 Orang

1 Orang

49 Orang

44 Orang

6 Orang

4 Orang

5 Orang

1 Orang

Jumlah 120

36

156

orang

II.2.2

Prasarana & Fasilitas Penunjang

Untuk kelancaran pelaksanaan tugas didukung dengan sarana dan prasarana gedung

kantor, peralatan dan fasilitas seperti kendaraan roda 4 : 7 unit dan roda 2 : 7 unit, memiliki aset

berupa rumah dinas (2 unit) dan tanah 9 (sembilan) bidang tanah senilai : Rp. 36.008.400.000,

gedung kantor dan fasilitas komputer/laptop/ sounsistem kantor. Sarana dan prasarana tersebut

sebagian dalam kondisi yang baik dan sebagian dalam kondisi kurang baik karena umur prasarana

tersebut sudah ada yang diatas 20 tahun, seperti Kantor Dinas yang ada sekarang usianya ± 35

tahun. Pada tahun anggaran 2011 telah dilakukan SID pembangunan gedung kantor baru, setiap

tahun telah diusulkan untuk pembangunan gedung kantor, namun karena keterbatasan dana

APBD sehingga belum dibangun juga. Secara terinci data kondisi prasarana dan fasilitas penunjang

serta data aset/barang kantor sebagaimana terlampir.

(7)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

13

Saat ini Dinas Perhubungan Provinsi NTT memiliki 5 (Lima) UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ

yang ada di Kabupaten, yaitu :

1.

UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Kupang (Kupang, TTS dan Rote Ndao).

2.

UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Belu (Belu, TTU, Alor dan Lembata).

3.

UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sikka (Sikka, Flotim, Ende dan Nangakeo).

4.

UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Manggarai (Manggarai, Manggarai Timur,

Ngada dan Manggarai Barat).

5.

UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sumba Timur(Sumba Timur, Sumba Tengah,

Sumba Barat dan Sumba Barat Daya).

Kondisi 4 UPT selain UPT Wilayah Kupang sangat memprihatinkan, sejak dibentuk sampai

dengan sekarang belum memiliki gedung kantor dinas, rumah dinas dan kendaraan

dinas operasional (mobil operasional) untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas

pengawasan di lapangan. Hal ini sangat menyulitkan upaya pengembangan pelayanan dilapangan

terutama dalam pencapaian target pendapatan setiap tahun.Saat ini Pemerintah Provinsi

NTT memiliki aset tanah yang terdapat di Kabupaten yang dapat digunakan untuk

pembangunan gedung kantor dan rumah dinas.

Diharapkan 4 UPT ini, mendapat dukungan Pemerintah Provinsi NTT untuk

segeramembangun kantor, rumah dinasdan menyediakan fasilitas mobil operasional guna

kelancaran pelaksanaan tugas.Oleh karena wilayah kerja UPT tersebut membawahi beberapa

kabupaten. Berdasarkan Perda Provinsi NTT Nomor 4, 8, 9 tahun 2011 (tentang Obyek Retribusi

Jasa Tertentu, Umum dan Jasa Usaha) kewenangan UPT juga menanganai trayek angkutan

perdesaan yang lintas kabupaten/kota, sesuai aturan ijin trayek angkutan perdesaan yang

wilayahnya melampaui satu kabupaten dalam provinsi merupakan kewenangan Gubernur.

Terkait dengan fungsi pegawasan lalu lintas angkutan jalan di daerah perbatasan antar

negara yang merupakan kewenangan pemerintah pusat (Kementeriaan Perhubungan) sampai

dengan saat ini secara operasional belum terlaksana, sehingga perlu dilakukan pengendalian dan

pengawasan. Untuk itu, perlu penguatan kelembagaan dan peran UPT Perijinan dan Pengawasan

LLAJ Wilayah Belu di daerah perbatasan antar negara melalui :

a. Adanya Kerja sama Angkutan Lintas Batas Negara.

b. Penyediaan fasilitas kendaraan operasional LLAJ dan sarana komunikasi guna

mendukung pelaksanaan tugas UPT di wilayah perbatasan.

(8)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

14

II.3

Kinerja Pelayanan SKPD

II.3.1

Kinerja Pencapaian Target Renstra Tahun 2008 – 2013

Dalam Rencana Strategis Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2008 – 2013 tidak

termuat target-target indikator kinerja sasaran Renstra per tahun target pencapaian selama

lima tahunnya baik indikator SPM, Indikator Kinerja Kunci (IKK), Indikator Kinerja Utama (IKU)

dan indikator lainnya. Selanjutnya dalam LAKIP tahunan termuat beberapa Indikator Kinerja

Utama (IKU) berupa target dan realisasi tahunan, sebagaimana terlampir.

II.3.2

Kinerja Pencapaian Target Pendapatan dan Belanja

Sektor perhubungan merupakan salah satu sektor sumber pendapatan daerah yang setiap

tahunnya diberi target pendapatan. Adapun Kinerja Pencapaian Target Pendapatan dan Belanja

Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2009 – 2013 adalah sebagaimana terlampir.

Berdasarkan data yang ada selama periode tahun 2009 – 2013 rata-rata pertumbuhan

realisasi pendapatan kita mencapai 1.073,48 % dan rata-rata realisasi belanja tidak langsung

(gaji pegawai) sebesar 14,09 %, belanja langsung mencapai 62,06 %. Sedangkan untuk tahun

2013 jika dibandingkan dengan tahun 2012, realisasi pendapatan kita meningkat menjadi

82,27% dari tahun 2012 hanya mencapai 70,87%, sedangkan realisasi belanja : belanja tidak

langsung meningkat menjadi 92,44% dari tahun 2012 hanya 87,59% dan belanja langsung

meningkat menjadi 90,45% dari tahun 2012 hanya mencapai 86,83%.

II.3.3 Kinerja

Pelayanan

Pembangunan

Kinerja sektor perhubungan (darat, laut udara) dari tahun 2008 -2013 secara terinci

diuraikan masing-masing sub sektor. Dalam kurun waktu 2008 – 2013 terjadi peningkatan

pelayanan sektor perhubungan dengan berbagai pembangunan maupun pengembangan

sarana dan prasarana perhubungan (darat, laut dan udara) di Nusa Tenggara Timur. Hal ini

terjadi selain adanya dukungan pembiayaan dari APBD Provinsi NTT juga karena besarnya

dukunganperhatian Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan) terhadap pembangunan

sarana dan prasarana perhubungan di Nusa Tenggara Timur. Baik melalui pembangunan dan

pengembangan sarana dan prasarana perhubungan darat, laut dan udara dengan alokasi

anggaran (APBN) setiap tahun yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

(9)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

15

II.3.4

Kinerja Sub Sektor Perhubungan Darat

1.

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

a.

Prasarana Lalu Lintas Jalan

Lalu lintas angkutan jalan berhubungan erat dengan kondisi prasarana dan

jaringan jalan (panjang jalan dan geometrik jalan), yang nantinya akan digunakan

oleh kendaraan sebagai sarana angkutan jalan serta untuk pemasangan berbagai

fasilitas keselamatan dan keamanan lalu lintas angkutan jalan. Di Provinsi NTT

memiliki panjang jalan Nasional: 1.407 Km dengan kondisi 90% mantap, Jalan

Strategis Nasional: 1.104 Km, dengan kondisi 40% mantap dan Jalan Provinsi:

1.314 Km dengan kondisi 40% mantap serta Jalan Kabupaten/Kota ± 13.000 Km.

Jumlah ruas jalan Nasional dan Provinsi di NTT adalah 228 ruas jalan. Sedangkan

jumlah penduduk NTT tahun 2013 sebanyak 4.900.652 jiwa.

Terminal sebagai simpul transportasi darat yang berfungsi sebagai tempat

perpindahan orang dan barang, berdasarkan keputusan menteri perhubungan dan

Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor: 169/Kep/HK/2010di NTT

terdapat 20 Terminal, yaitu: Terminal Type A 1 unit, yang terdapat di Mota’ain -

Kabupaten Belu, Type B 15 unit dan Terminal Type C 4 unit yang tersebar di

Kabupaten/Kota se NTT. Dalam tahun 2008-2013 terjadi penambahan terminal

Type A : 1 unit yaitu di Naiola –Kabupaten TTU dan Terminal Type B 1 unit di

Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat) sehingga jumlah keseluruhan Terminal

menjadi 22 unit.

Unit Pelaksanaan Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB)

Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No.

AJ.108/I/16/DRJD/2006 tanggal 6 Maret 2006 di NTT ada 4 (empat) Jembatan

Timbang yaitu : Jembatan Timbang Oesapa – Kota Kupang, Jembatan Timbang

Namosain – Kota Kupang, Jembatan Timbang Watu Alo-Manggarai Timur dan

Jembatan Timbang Nggorang – Manggarai Barat. Kondisinya Jembatan Timbang

Watu Alo sudah rusak dan 3 (tiga) jembatan timbang tidak berfungsi optimal.

Sedang Jumlah Pengujian Kendaraan Bermotor ( PKB ) yang beroperasi di wilayah

Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 16 unit PKB (Pengujian Mekanik 6 unit,

Pengujian non Mekanik 10 unit dan Pengujian Keliling 1 unit).

(10)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

16

b.

Sarana Lalu Lintas Angkutan Jalan.

Jumlah sarana Lalu Lintas Jalan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur,

adalah sebagaimana pada Tabel 2.5. Jumlah trayek AKDP/ Angkutan Antar Jemput

sebanyak 108 trayek. Sedangkan jumlah ijin trayek yang dikeluarkan sampai

dengan tahun 2012 sebanyak 473 unit kendaraan AKDP (yang dikelurkan oleh

UPT LLAJ (5 UPT), untuk melayani 37 trayek. Berdasarkan jumlah AKDP yang

mendapat ijin tersebut yang beroperasi yaitu 447 unit, yang tidak beroperasi ada

25 unit.

Tabel 2.4. Jumlah Jaringan Trayek dan Armada/Sarana Angkutan AKDP di Provinsi NTT

No 

Uraian Trayek 

Jumlah Armada 

Jumlah Armada 

Terdaftar/Ijin 

(Unit) 

Beroprasi (Unit) 

2

3

4

KUPANG‐SOE PP

15

13

KUPANG‐KEFA

32

28

KUPANG‐ATB PP

0

2

KPG‐ATB‐BETUN PP

0

3

KPG‐AYOTUPAS‐BSKM PP

1

2

SOE‐KPG PP 

36 

30 

SOE‐KEFA PP 

SOE‐ATB PP 

KEFA KPG PP 

14 

11 

10 

KEFA‐SOE PP 

0

1

11 

KEFA‐ATB PP 

17 

13 

12 

ATB‐KPG PP 

73 

66 

13 

ATB‐KEFA PP 

3

4

14 

ATB‐SOE PP 

15 

ATB‐BTN‐KPG PP

3

3

16 

BSKM‐AYOTUPAS‐KPG PP 

21 

18 

17 

WNGP‐WKBK‐ PP 

18 

WNGP‐WKBK‐WKLO PP 

10 

19 

WKBK‐WNGP PP 

20 

WKLO‐WKBK‐WNGP PP 

21 

ENDE‐BJW PP 

15 

13 

22 

ENDE‐RUTENG PP 

12 

11 

23 

ENDE‐LBJO PP 

24 

ENDE‐MME PP 

21 

18 

25 

ENDE‐LTK PP 

11 

26 

BJW‐RTG PP 

53 

52 

27 

BJW‐LBJO PP 

3

3

28 

BJW‐ENDE PP 

25 

25 

29 

BJW‐MME PP 

30 

BJW‐LTK PPS 

(11)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

17

No 

Uraian Trayek

Jumlah Armada 

Jumlah Armada

Terdaftar/Ijin 

(Unit) 

Beroprasi (Unit) 

31 

RTG‐LBJO PP 

30 

30 

32 

RTG‐BJW PP 

17

17

33 

RTG‐ENDE PP 

13 

13 

34 

RTG‐MME PP

3

3

35 

RTG‐LTK PP 

36 

LBJO‐RTG PP 

37 

LBJ‐BJW PP 

 

TOTAL NTT 

472

447

Prosentase yang beroperasi terhadap jumlah ijin yang dikeluarkan : 97,70%

sedangkan yang tidak beroperasi : 2,30%. Rasio jumlah trayek terhadap jumlah sarana

AKDP : 8,28 %. Rasio jumlah trayek terhadap sarana angkutan umum di NTT tahun

2012 : 0.25%.

Tabel 2.5 Perkembangan Jumlah Kendaraan di Provinsi NTT

NO

Jenis Angkutan

Jumlah Kendaraan Per Tahun

2008

2009

2010

2011

2012

1.

Mobil Pnp Umum

18.565

11.415

11.487

12.309

14.555

2

Mobil Tidak Umum

19.273

16.276

18.873

24.647

27.694

3

Kendaraan Roda 2

217.119

173.535

194.056

233.887

335.081

4 Kendaraan

Khusus

85

42

71

59

104

Jumlah 255.042 201.268 224.487

270.906

378.134

Sumber data : NTT Dalam Angka

Dari data perkembangan jumlah kendaraan di Provinsi NTT tersebut di atas maka

jumlah kendaraan untuk periode 2009 – 2012 mengalami peningkatan yang cukup

signifikan. Rata-rata pertumbuhan kendaraan di NTT selama periode 2008 – 2012

adalah 12,68 %. Sedangkan untuk kendaraan penumpang dan barang umum (Bus,

Mikro Bus, Truk, Pick UP) untuk periode 2009-2012 mengalami peningkatan per

tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,68%.

(12)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

18

c.

Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas

Jumlah kecelakaan kendaraan bermotor di Provinsi NTT selama periode

2009 -2012 mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya total

kejadian sampai dengan tahun 2012 yaitu 4.391 kejadian, Korban mati sebanyak

1.732 orang, luka-luka (berat dan ringan) sebanyak 6.106 orang. Jadi rata-rata

pertumbuhan kejadian kecelakaan lalu lintas dari tahun 2008 – 2012 yaitu

sebesar 26,52 %. Sedangkan untuk tahun 2012 dari total kejadian selama 5

tahun adalah 30%.

Tabel.2.6 Perkembangan Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas & Korban di Provinsi NTT Tahun 2008 - 2012

No

.

Uraian

Jumlah Kejadian Kecelakaan dan Korban

Per Tahun

Jumlah

2008 2009 2010 2011 2012

1.

Jumlah Kecelakaan Lalulintas

642

561

615

1.253

1.320

4.391

2 Mati

272

309

317

401

433 1.732

3 Luka

Berat

368

289

332

503

524 2.016

4 Luka

Ringan

410

439

444

1.216

1.581 4.090

™

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akan sarana angkutan,

berdasarkan PERDA No. 4 Tahun 2011 ttg Retribusi Jasa Umum & Peraturan Gubernur

No. 2 Tahun 2012 ttg Jaringan Trayek Jaringan trayek AKDP/Angkutan Antar Jemput

sebanyak 108 trayek terdiri dari: Pulau Timur : 29 trayek, Pulau Flores : 63 trayek dan

Pulau Sumba : 16 trayek.

™

Untuk membuka isolasi wilayah/daerah di perdesaan serta mendukung Program

Pemerintah Provinsi NTT : Program Desa Mandiri Anggur Merah, yaitu melalui jaringan

trayek keperintisan transportasi jalan yang pengelolaannya dilakukan oleh Perum

Damri Kupang. Stasiun Kupang, 10 trayek, Stasiun Kefamenanu, 8 trayek,

Stasiun Waingapu, 7 trayek, dan Stasiun Ende 7 trayek. Dalam tahun 2013

terjadi penambahan 8 (delapan) unit bus DAMRI Subsidi Perintis yaitu untuk

masing-masing Stasiun 2 (dua) unit DAMRI.

™

Untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan para pengguna jalan setiap tahunnya

dilakukan pembangunan/peningkatan/pemeliharaan fasilitas keselamatan dan

keamanan lalu lintas jalan : Marka jalan, Guardrail, rambu lalu lintas, Trafik Laik dan

RPPJ dan lain-lain melalui alokasi dana APBN (Kementerian Perhubungan) dan APBD

Provinsi NTT. Untuk APBD Provinsi NTT pada Tahun 2009 dilakukan pemasangan

(13)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

19

rambu 300 buah, 2010 : 100 buah dan tahun 2013 : 275 buah. Marka jalan : tahun

2010 dilakukan pemasangan marka jalan : 1.500 meter, tahun 2011 : 10.000 meter

dan tahun 2013 : 10.000 meter, guard rail ; 72 meter dan paku marka : 623 buah.

™

Arus penumpang (naik dan turun) melalui terminal (21 terminal) yang tersebar di 21

Kabupaten/Kota pada tahun 2012, sebanyak 2.892.578 orang dan tahun 2013

sebanyak 3.037.207 orang.

2.

Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan.

a. Prasarana Angkutan Penyeberangan.

Provinsi NTT sebagai salah satu Provinsi Kepulauan, sehingga keberadaan

transportasi penyeberangan sangat strategis dalam rangka aksesibilitas ke

wilayah/daerah terpencil di Nusa Tenggara Timur serta mendukung pelaksanaan

Program Desa Mandiri Anggur Merah.

Berkaitan dengan itu dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2014 (6 tahun) ada 8

(delapan) pelabuhan penyeberangan yang dibangun baru. Dari 8 (delapan) pelabuhan

tersebut ada 2 (dua) pelabuhan penyeberangan yang sudah beroperasi yaitu Pelabuhan

Penyeberangan Marapokot (Nagekeo) dan Pelabuhan Penyeberangan

Waijarang (Lembata) dan 2 (dua) pelabuhan dalam proses serah terima untuk

dioperasikan yaitu Pelabuhan Waiwerang (Deri-Adonara) dan Hansisi. Ada 4

(empat) yang dalam tahap penyelesaian pembangunan yaitu: Pelabuhan penyeberangan

Sabu-Seba (Sabu Raijua), Waewerang (Flores Timur), Baranusa (Alor), dan Pelabuhan

Penyeberangan Ndao (Rote Ndao). Jadi Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini memiliki

20 (dua puluh) Pelabuhan Penyebrangan yaitu ada 14 (empat belas) pelabuhan yang

sudah dibangun yaitu Pelabuhan Bolok (I dan II)-Kupang, Kalabahi-Alor,

Waingapu-Sumba Timur, Aimere-Ngada, Labuan Bajo-Manggarai Barat, Marapokot-Nagekeo,

Waikelo-Sumba Barat Daya, Nangakeo (Ende), Teluk Gurita (Belu), Waibalun-Flotim,

Sabu Seba-Sabu Raijua, Waejarang-Lembata, dan Pantai Baru-Rote Ndao; serta

Pelabuhan Hansisi-Kupang (menunggu serah terima untuk dioperasikan). Pelabuhan

yang sementara dibangun/dikembangkan yaitu Pelabuhan Baranusa (Alor),

Waiwerang (Flores Timur), Solor (Flores Timur), Ndao (Rote Ndao), Sabu Seba

(Sabu Raijua) dan Kewapante (Sikka), Pemana (Sikka). Kapasitas pelabuhan yang

ada mampu disandari kapal bertonase sampai dengan 1000 GT.

(14)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

20

b. Sarana Angkutan Penyeberangan

Dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2013 (5 tahun) terjadi penambahan 3 (tiga) unit

Kapal Baru, untuk pelayanan angkutan perintis Penyebrangan di Provinsi NTT yaitu KMP.

Ile Boleng (2009), KMP. Sirung (2013) dan KMP. Ranaka (2013). Ada 1 (satu) kapal

penyebrangan bertonage 750 GT, sementara dalam proses penyelesaian

pembangunannya (Tahap II) yang akan melayani lintasan pelayanan : Waingapu –

Aimere. Saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur sudah memiliki 14 (empat belas)

armada angkutan penyebrangan, dengan rincian : Ada 3 unit Kapal Perintis

Penyebrangan yang dikelola oleh BUMD : PT. Flobamor Kupang yaitu : KMP. Pulau Sabu,

KMP. Ile Boleng dan KMP Sirung. Sedangkan milik PT.ASDP Indonesia Ferry Cabang

Kupang, ada 11 (sebelas) unit Kapal, yaitu : KMP. Ile Mandiri, Rokatenda, Cucut,

Namparnos, Balibo, Ile Ape, Uma Kalada, KMP Cakalang I & II, KMP.Marine Primera dan

KMP. Ranaka yang melayani wilayah/daerah antar Kabupaten/Kota di NTT dengan

lintasan pelayanannya masing-masing. Berdasarkan Kemenhub Republik Indonesi,

lintasan penyebrangan di NTT ada 27 lintasan, meliputi : Lintasan Penyebrangan Antar

Kota Dalam Provinsi (AKDP) ada 22 Lintasan (Kewenangan Gubernur Untuk Menetapkan

Lintasan dan Tarif) dan Lintasan Antar Provinsi ada 5 lintasan yaitu : Sape – Labuan

Bajo, Sape – Waikelo, Teluk Gurita – Kiser, Teluk Gurita – Ilwaki dan Teluk Gurita –

Wonneli (Kewenangan Menteri Perhubungan)dan lintasan dalam wilayah kabupaten/kota

(kewenangan Bupati/Walikota), dengan rincian Lintasan Komersil 16 (enam belas)

lintasan dan sisanya 11 (sebelas) Lintasan Perintis Penyebrangan. Lintasan yang

beroperasi 24 lintasa, yang dilayani oleh kapal penyebrangan.

Dalam Tahun 2010 – 2013, Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan,

untuk membiayai program/kegiatan pembangunan / peningkatan sarana & prasarana

transportasi darat (penyebrangan dan LLAJ) , setiap tahunnya cenderung mengalami

peningkatan pada Tahun 2010, sebesar : Rp. 53,45 Milyard, meningkat menjadi sebesar

: Rp. 82,46 Milyard pada Tahun 2011, pada tahun 2012 meningkat menjadi sebesar Rp.

79,66 Milyard dan Tahun 2013 meningkat menjadi sebesar : Rp. 180,43 Milyard.

(15)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

21

Tabel 2.8 : Pembangunan Prasarana Pelabuhan Penyebrangan dan Sarana Angkutan

Penyebrangan (Kapal Penyebrangan) di Provinsi NTT pada Tahun 2009 - 2013

N

O

Tahun

Anggaran

Uraian Kegiatan

Kabupaten

/

Kota

Keterangan

I.

Tahun

2009

1. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Marapokot

2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Waijarang

3. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Sabu-Seba

4. Pembangunan Kapal Motor

Penyebrangan 600 GT (Lintasan Kupang

– Lewoleba)

Nagekeo

Lembata

Sabu Raijua

Tahap VII

Tahap II

Tahap I

Tahap II-Selesai

II. Tahun

2010

• Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Marapokot

• Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Waijarang

• Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Sabu-Seba

• Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Waewerang

Nagekeo

Lembata

Sabu Raijua

Flotim

Tahap

VIII-Selesai

Tahap III-Selesai

Tahap II

Tahap I

III

.

Tahun

2011

1. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Sabu-Seba

2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Waewerang

3. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Hansisi

4. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Baranusa

5. Pembangunan Kapal Motor

Penyebrangan 750 GT, Lintasan Kupang

– Ende

Sabu Raijua

Flores Timur

Kab. Kupang

Alor

Tahap III

Tahap II

Tahap I

Tahap I

Tahap I

IV

.

Tahun

2012

a. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Sabu-Seba

(16)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

22

b. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Waiwerang

c. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Hansisi

d. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Baranusa

e. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Ndao

f. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Solor

g. Pembangunan Kapal Motor

Penyebrangan 750 GT Lintas Kupang –

Ende

h. Pembangunan Kapal Motor

Penyebrangan 750 GT, Lintasan

Waingapu-Aimere

i. Subsidi Angkutan Perintis pada Lintas

Kupang-Lewoleba & Teluk Gurita - Kiser

Flores Timur

Kab. Kupang

Alor

Rote-P. Ndao

Flores Timur

Tahap III

Tahap II

Tahap II

Tahap I

Tahap I

Tahap II

Tahap I

V

Tahun

2013

1. Lanjutan Pembangunan Dermaga

Penyebrangan Solor

2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Sabu-Seba

3. Lanjutan Pembangunan Dermaga

Penyebrangan Waiwerang

4. Lanjutan Pembangunan Dermaga

Penyebrangan Baranusa

5. Lanjutan Pembangunan Dermaga

Hansisi

6. Lanjutan Pembangunan Dermaga

Penyebrangan Ndao

7. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Kewapante

8. Pembangunan Dermaga Penyebrangan

Palu’e

9. Pembangunan Kapal Penyebrangan 750

Flores Timur

Sabu Raijua

Flores Timur

Alor

Kab. Kupang

Rote Ndao

Sikka

Sikka

-

Tahap II

Tahap V

Tahap IV

Tahap III

Tahap III

Tahap I

Tahap I

Tahap I

(17)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

23

GT Lintas Kupang – Hansisi

10. Rehabilitasi Dermaga Penyebrangan

Bolok, Teluk Gurita, Nangakeo, Aimere &

Waingapu

5. Pembangunan Lampu Pelabuhan

Adonara 12,50 M

6. Lanjutan Subsidi Perintis pada Lintas :

Kupang – Lewoleba & Teluk Gurita -

Kiser

Arus penumpang (naik dan turun) melalui pelabuhan penyebrangan (15 pelabuhan

penyebrangan) pada tahun 2012, sebanyak 334.034 dan tahun 2013 sebanyak 367.437

orang.

3.

Kinerja Sub Sektor Perhubungan Laut

a. Prasarana Transportasi Laut

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KP. 414 Tahun 2013 tentang

Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional, di Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini sudah

memiliki 74 (tujuh puluh empat), dimana sebelumnya hanya 42 (empat puluh dua) Pelabuhan

Laut berdasarkan Keputusan Menhub Nomor : KM.53 Tahun 2002 tentang Kepelabuhan

Nasional. Terjadi penambahan 32 (tiga puluh dua) pelabuhan. Berdasarkan hirarki dan

fungsinya Pelabuhan Laut di Nusa Tenggara Timur terdiri atas : 1 (satu) Pelabuhan Utama, 9

(sembilan) Pelabuhan Pengumpul dan 64 (enam puluh empat) Pelabuhan Pengumpul

(Regional & Lokal), adapun pelabuhan-pelabuhan tersebut yaitu :

™

Pelabuhan Utama

(Pelabuhan Internasional) dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih

muat dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, yaitu Pelabuhan Laut

Tenau Kupang. Pelabuhan laut Tenau Kupang merupakan pelabuhan peti kemas

untuk kegiatan ekspor dan impor di Nusa Tenggara Timur. Selama 5 (lima) tahun

terakhir secara bertahap terus dilakukan pengembangan dalam rangka

peningkatan kinerja pelayanan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa.

Saat ini (sejak Bulan Januari 2012) Pelabuhan Laut Tenau Kupang sudah

dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat dengan System Computeries yaitu 1 unit

Container Crane dan 2 unit Ruber Tyre Gantry (RTG). Keberadaan alat ini dapat

(18)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

24

mempercepat kegiatan bongkar/muat, yang semula dengan menggunakan Mobile

Crane (Crane Darat) produksinya 7 – 8 box per jam sekarang produksinya

meningkat hingga mencapai 20 box per jam. Sebagai pelabuhan utama yang

melayani kegiatan ekspor dan impor, saat ini sedang dilakukan Review Rencana

Induk (Master Plan) Pelabuhan Tenau Kupang dalam mendukung MP3EI serta

pertumbuhan produksi bongkar/muat, arus kunjungan kapal dan naik/turun

penumpang yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

™

Pelabuhan Pengumpul

(Pelabuhan Nasional) dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih muat

dalam negeri dalam jumlah menengah antar Provinsi, ada 9 (sembilan) yaitu :

Pelabuhan Laut Ippi, Larantuka, Labuan Bajo, Balauring, Lorens Say-Maumere,

Maritaing, Waingapu, Waiwadan dan Wini.

™

Pelabuhan Pengumpan (Regional dan Lokal)

Dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih muat dalam negeri dalam

jumlah terbatas antar Provinsi dan dalam Provinsi (antar kabupaten), ada 64

(enam puluh empat) yaitu : Pengumpan Regional, ada 13 (tiga belas), yaitu :

Pelabuhan Laut Baranusa, Kalabahi, Atapupu, Ende, Paitoko, Lembata, Reo,

Komodo, Marapokot, Seba, Wuring, Waikelo, dan Mamboro. Pengumpan Lokal,

ada 50 (lima puluh) yaitu : Pelabuhan Laut Dulionong, Kabir, Kolana, Moru,

Maurole, Pulau Ende, Lamakera, Menanga, Terong, Waiwerang, Tabilota,

Nunbaun Sabu, Batubao, Naikliu, Lewoleba, Wulandoni, Pulau Mules, Robek, Bari,

Rinca, Nangalili, Mborong, Nanga Baras, Waiwole, Pota, Riung, Aimere,

Maumbawa, Waebela, Ba’a, Batutua, Ndao, Oelaba, Papela, Biu, Raijua, Hepang,

Paga, Palue, Pemana, Sukun, Binanatu, Rua, Pero, Baing, Gonggi, Pelra

Waingapu, Pulau Salura, Boking dan Kolbano.

Pelabuhan-Pelabuhan tersebut setiap tahunnya terus dikembangkan melalui program dan

kegiatan pembangunan / peningkatan / rehabilitasi / pemeliharaan fasilitas pelabuhan laut

dengan dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan untuk peningkatan pelayanan

kepada masyarakat.

(19)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

25

Dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2013 (5 tahun) terjadi peningkatan pembangunan

fasilitas, sarana & prasarana pelabuhan laut yaitu Pembangunan Baru, ada 19

(sembilan belas) Pelabuhan, yang sudah dapat dioperasikan ada 6 (enam) yaitu :

Pelabuhan Laut Naikliu-Kabupaten Kupang , Waiwerang-Kabupaten Flores Timur,

Lamakera – Kabupaten Flores Timur, Waiwole-Kabupaten Manggarai Timur, Pulau

Ende-Kabupaten Ende dan Komodo-Ende-Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan Pengembangan,

ada 27 (dua puluh enam) Pelabuhan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat,

serta kelancaran aktivitas embarkasi dan demarkasi.

Tabel 2.9 : Data Pembangunan Pelabuhan Laut Baru di Provinsi NTT Tahun 2008 – 2013

No

Pembangunan Pelabuhan Laut

Baru

Pembangunan Pelabuhan Laut

Baru

1.

Pelra Nunbaun Sabu (Kupang)

11. Pulau Ende (Ende)

2.

Naikliu (Kupang)

12. Ippi II (Ende)

3.

Binanatu (Sumba Barat)

13. Maurole (Ende)

4.

Mbaing (Sumba Timur)

14. Pulau Palue (Sikka)

5.

Mamboro (Sumba Tengah)

15. Waiwerang (Flores Timur)

6.

Batutua (Rote Ndao)

16. Lamakera (Flores Timur)

7.

Kolbano (TTS)

17. Tobilota (Flores Timur)

8.

Komodo (Manggarai Barat)

18. Dulionong (Alor)

9.

Reo II (Manggarai)

19. Moru (Alor)

10

.

(20)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

26

Tabel 2 :

Data Pelaksanaan Pengembangan Pelabuhan Laut di Provinsi NTT

Tahun 2008 – 2013

No

Pengembangan Pelabuhan

Laut

Pengembangan Pelabuhan

Laut

1.

Tenau Kupang (Kota Kupang)

14. Waikelo (Sumba Barat Daya)

2.

Laurens Say –Maumere (Sikka)

15. Baranusa (Alor)

3.

Waingapu Nusantara (Sumba Timur)

16. Ndao (Rote Ndao)

4.

Ende I (Ende)

17. Papela (Rote Ndao)

5.

Kalabahi (Alor)

18. Ba’a (Rote Ndao)

6.

Larantuka (Flores Timur)

19.Seba (Sabu Raijua)

7.

Wini (TTU)

20. Biu (Sabu Raijua)

8.

Atapupu (Belu)

21. Raijua (Sabu Raijua)

9.

Reo I (Manggarai)

22. Terong (Flores Timur)

10. Marapokot (Nagekeo)

23. Mananga (Flores Timur)

11. Labuan Bajo (Manggarai Barat)

24. Ippi I (Ende)

12. Wuring (Sikka)

25. Lembata I (Lembata)

13. Pelra Waingapu (Sumba Timur)

26. Maumbawa

Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan, untuk membiayai

program/kegiatan pembangunan / peningkatan sarana & prasarana transportasi laut ,

setiap tahunnya cendrung mengalami peningkatan pada Tahun 2010, sebesar : Rp. 138,

29 Milyard, meningkat menjadi sebesar : Rp. 441,03 Milyard pada Tahun 2011, pada

tahun 2012 meningkat menjadi sebesar Rp. 705,96 Milyard dan Tahun 2013 sebesar : Rp.

327,60 Milyard.

(21)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

27

b.

Sarana Angkutan Laut

Untuk menghubungan wilayah/daerah tertinggal/terpencil dan daerah

perbatasan di Nusa Tenggara Timur sudah dilayani dengan rute pelayanan

angkutan Perintis Laut. Dalam kurun waktu 2008 – 2013 5 (lima) tahun, terjadi

peningkatan pelayanan keperintisan laut melalui penambahan 4 (empat)

armada Kapal Perintis serta penambahan lokasi pangkalan dari satu

pangkalan menjadi dua pangkalan yaitu Pangkalan Kupang dan

Maumere, sehingga jarak tempuh dan lama hari suatu trayek/lintasan semakin

pendek. Dimana sebelumnya lama hari perjalanannya hingga mencapai 21 (dua

puluh satu) hari sekarang menjadi 12 hari bahkan ada yang 7 hari. Di Provinsi NTT

saat ini memiliki 6 (enam) unit Kapal Angkutan Laut Perintis yaitu Pangkalan

Kupang : R-15 (KM. Nembrala), R-16 (KM. Maumere I), R-17 (KM. Nangalala)

dan R-18 (KM. Berguna) serta Mulai Tahun Anggaran 2013 dibuka Pangkalan

Maumere : untuk melayani Lintasan Utara Flores yaitu : R-19 (KMP. Surya

Terang Dan R-20 (KMP. Nuansa Abadi). Kedepannya Sarana Angkutan Laut

Perintis di Nusa Tenggara Timur terus dikembangkan dan telah diusulkan

penambahan armada angkutan perintis laut untuk Pangkalan Sumba Timur,

melayani Wilayah Sumba dan daerah sekitarnya dan Pangkalan Atapupu untuk

melayani antar Negara khususnya dengan Timor Leste dan Provinsi Maluku

(khususnya Kiser).

Tabel 2. 10. Jaringan Sarana Angkutan Perintis Laut di Nusa Tenggara Timur tahun 2013

Pangkalan,

Kode

Trayek

Nama Kapal/

Ukuran

Jaringan Trayek dan Jarak (Mil)

Kupang : R –

15

KM. Nemberala/

350 DWT

Kupang – 72 – Ndao – 64 – Sabu – 24 – Raijua – Mbaing

– 116 – Ende – 38 – Maumbawa 26 – Waiwole – 21 –

Mborong – 112 – Waingapu – 84 – Waikelo – 84 –

Waingapu – 112 – Mborong – 21 – Waiwole – 26 –

Maumbawa – 38 – Pulau Ende – 6 – Ende – 116 – Mbaing

– 69 – Raijua – 24 – Sabu – 64 – Ndao – 72 – Kupang.

(22)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

28

Kupang : R –

16

750 DWT/GT. 480 Kupang – 64 – Naikliu – 51 – Wini – 105 Lirang – 82 –

Kisar – 15 – Romang – 26 – Leti – 10 – Moa – 28 – Lakor

– 41 – Luang P. Kelapa – 13 Sermata (Elo) – 42 – Tepa –

42 – Sermata (Elo) – 13 – Luang P. Kelapa – 41 – Lakor –

28 – Moa – 10 – Leti – 26 – Romang – 15 – Kisar – 82 –

Lirang – 105 – Wini – 51 – Naikliu – 64 – Kupang.

Kupang : R –

17

KM. Nangalala/

350 DWT

Kupang – 131 – Mananga – 24 – Lewoleba – 40 –

Balauring – 68 – Baranusa – 45 – Kalabahi – 64 – Atapupu

– 64 – Kalabahi – 45 – Baranusa – 68 – Balauring – 40 –

Lewoleba – 24 – Mananga – 131 – Kupang.

Kupang : R –

18

500 DWT/GT. 325 Kupang – 131 – Mananga – 63 – Maumere – 54 –

Marapokot – 57 – Reo – 52 – Labuan Bajo – 76 – Bima –

76 – Labuan Bajo – 52 – Reo – 57 – Marapokot – 54 –

Maumere – 63 – Mananga – 131 – Kupang.

Maumere : R

– 19

KM. Surya Terang/

750 DWT/GT. 480

Maumere – 123 – Larantuka – 12 – Waiwerang – 20

Lewoleba – 40 – Balauring – 68 – Baranusa – 45 –

Kalabahi – 72 – Maritaing – 56 – Atapupu – 132 – Kupang

(PP).

Maumere: R

– 20

KM. Nuansa Abadi/

750 DWT/GT. 480

Maumere – 39 – Palue – 54 – Maurole – 50 – Reo – 57 –

Labuan Bajo – 57 – Reo – 50 – Maurole – 54 – Palue – 39

– Maumere.

Selain di layani oleh 6 (enam) rute pelayanan angkutan perintis laut, juga dilayani oleh

Kapal-Kapal PELNI, di NTT telah dilayani oleh 7 (tujuh) Kapal PELNI (6 Lintasan Komersil dan

1 Lintasan Perintis) yaitu KM. Bukit Siguntang, KM. Sirimau, KM. Awu, KM. Willis, KM.

Pangrango, KM. Tilong Kabila dan KM. Sabuk Nusantara 31(Perintis) dengan lintasan pelayanan

masing-masing.

(23)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

29

Tabel 2.11 Sarana Angkutan (PT. PELNI) dan Lintasan Pelayanan

NO.

Armada

Trayek/Lintasan Pelayanan

1.

KM. Bukit Siguntang

Kupang – Lewoleba – Maumere – Makasar – ParePare

-Balik Papan -Tarakan - Nunukan (PP) ; Tg.Priok-

Surabaya- Makassar- Baubau- Ambon- Banda- Tual-

Fakfak- Sorong- Fakfak- Tual- Banda-Ambon-Kupang-

Surabaya- Tg.Priok.

2.

KM. Sirimau

Kijang- Blinyu- Tg.Priok- Semarang- Batulicin-

Makassar-Larantuka- Kalabahi- Kupang- Makassar-Larantuka- Makassar-

Batulicin- Semarang- Tg.Priok- Blinyu- Kijang.

3.

KM. Awu

Denpasar- Lembar - Waingapu- Ende- Kupang-

Kalabahi-Lewoleba- Maumere- Makassar- Pare-Pare- Tarakan-

Nunukan- Pare-Pare- Makassar- Maumere- Larantuka-

Lewoleba- Kupang- Ende- Waingapu-Denpasar.

4. KM.

Wilis

Kupang-Ende-Waingapu-Labuan

Bajo

– Bima-Makassar

(PP) dan Kupang – Larantuka – Maumere - Marapokot–

Makassar (PP).

4.

KM. Pangrango

Surabaya- Bima- Waingapu- Ende-Sabu-Kupang (PP)

; Ilwaki – Kisar – Leti – Tepa – Samlaki – Ambon –

Namlea – Ambon, PP.

5. KM.

Tilongkabila Denpasar- Lembar- Bima- Labuanbajo- Makassar-

Bau-Bau- Raha- Kendari- Kolonedale- Luwuk- Gorontalo-

Bitung (PP).

6. KM.

Sabuk

Nusantara

31 (Lintasan Perintis)

Kupang-Upisera-Ilwaki-Kiser-Leti-Moa-Lakor-Lelang-Tepa-Wulur-Bebar-Ambon (PP).

Arus penumpang (naik dan turun) beberapa pelabuhan laut di NTT, yaitu Tahun

2011 sebanyak 859.832 orang dan Tahun 2012 menjadi sebanyak 971.426 orang. Khusus

yang melakukan perjalanan melalui Pelabuhan Laut Tenau Kupang, arus penumpang (naik

dan turun) pada tahun 2011 sebanyak 136.973 orang meningkat menjadi 184.723 orang

pada tahun 2013. Arus Peti Kemas Tahun 2011 sebesar 56.985 Teu’s (54.751 Box)

meningkat menjadi 74.074 Teu’s (72.768 Box) pada tahun 2013.

(24)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

30

4.

Kinerja Sub Sektor Perhubungan Udara.

a. Prasarana Transportasi Udara

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 11 Tahun 2010

tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang telah diubah menjadi

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 69 tahun 2013 tentang Tatanan

Kebandarudaraan Nasional. Saat ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki 14

(empat belas) Bandar Udara yang terdiri dari :

™ Bandar Udara Internasional Regional (Kelas I) dengan tingkat pelayanan

pengumpul skala sekunder , yaitu Bandar Udara El Tari Kupang.

Bandara ini merupakan Bandara yang diusahakan yang dikelola oleh PT.

Angkasa Pura I Kupang. Selama 5 (lima) tahun terakhir Bandara ini terus

dikembangkan dan dibenahi fasilitas, sarana dan prasarananya untuk

meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Saat ini Bandar Udara El Tari

Kupang memiliki panjang landasan 2.500 meter dan lebar 45 meter sudah

didaratai pesawat berukuran besar seperti B 737-900, BOING-900 ER dan

AIRBUS A.320, yang melayani rute penerbangan dalam wilayah di Nusa

Tenggara Timur dan luar wilayah Nusa Tenggara Timur bahkan siap untuk

melayani rute penerbangan internasional Kupang – Dili – Darwin (Australia).

™ Bandar Udara Domestik dengan tingkat pelayanan pengumpul skala

tersier, ada 4 (empat) yaitu Bandar Udara Frans Seda (Maumere),dengan

panjang landasan sudah mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah

dilayani pesawat berukuran B 737-300; Bandara Umbu Mehang Kunda

(Waingapu), dengan panjang landasan sudah mencapai mencapai 1.850

meter dan lebar 30 meter sudah dilayani pesawat berukuran B 737-300;

Bandara H. Hasan Aroeboesman (Ende), dengan panjang landasan sudah

mencapai mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah bisa dilayani

pesawat berukuran B 737-300; dan Bandara Haliwen (Atambua); dengan

panjang landasan sudah mencapai mencapai 1.400 meter dan lebar 30

meter sudah dilayani pesawat berukuran F-50.

™ Bandar Udara Domestik dengan tingkat pelayanan skala pengumpan, ada

9 (sembilan) yaitu Bandar Udara Komodo (Labuan Bajo), Frans Sales Lega

(Ruteng), Tambolaka (Waikabubak), Gewayantana (Larantuka), Mali (Alor),

DC. Saudale (Rote Ndao), Tardamu (Sabu), Soa (Ngada), dan Bandar

(25)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

31

Udara Wunopito (Lembata). Bandar Udara Komodo Labuan Bajo, dalam

rangka mendukung pelaksanaan Sail Komodo 2013, saat ini panjang

landasan sudah mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah bisa

dilayani pesawat berukuran B 737-300, Tahun 2013 ini landasan pacu

diperpanjang 300 meter sehingga panjangnya menjadi 2.150 meter

diharapkan pada puncak pelaksanaan Sail Komodo tanggal 14 September

sudah bias digunakan dan didarati pesawat : Garuda Seri 800 serta dalam

Tahun 2014 akan diperpanjang lagi 350 meter. Sehingga nantinya panjang

landasan Bandara Komodo Labuan Bajo menjadi 2.500 meter.

Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan, untuk membiayai

program/kegiatan pembangunan / peningkatan/rehabilitasi sarana & prasarana

transportasi udara , setiap tahunnya cendrung mengalami peningkatan pada

Tahun 2010, sebesar : Rp. 173,30 Milyard, meningkat menjadi sebesar : Rp.

226,96 Milyard pada Tahun 2011, pada tahun 2012 meningkat menjadi sebesar

Rp. 368,88 Milyard dan Tahun 2013 meningkat menjadi sebesar : Rp. 520,77

Milyard.

(26)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

32

Tabel 2.12 Data Prasarana Bandar Udara di Provinsi Nusa Tenggara Timur

No Bandar Udara Panjang Lebar Kemampuan Taxi Way

Parkir Pesawat Terminal (M²) (M) (M) (M²) (M²) 1 EL TARI / KUPANG I 2,500 45 B 737 - 900 202,5 X 23 405 X 105 2985 BOING - 900 ER AIRBUS A.320

2 FRANSEDA / MAUMERE III 1,850 30 B - 737 - 300 96 X 23 150 X 80 588 3

UMBU MEHANG KUNDA /

WAINGAPU III 1,850 30 B - 737 - 300 102 X 23 150 X 80 648 4 FRANS SALES LEGA / RUTENG III 1,500 30 F - 100 75 X 15 91 X 15 420 5 TAMBOLAKA / WAIKABUBAK III 2,010 30 B - 737 - 300 100 X 18 80 X 80 200 6 H.H. AROEBOESMAN / ENDE III 1,850 30 B - 737 - 300 75 X 15 100 X 40 370 7 KOMODO / LABUAN BAJO III 2,150 30 B - 737 - 300 100 X 18 120 X 60 540

8 TURE LELO / BAJAWA IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 60 X 40 100

9 MALI / ALOR IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 120 X 60 120

10 A.A. BERE TALLO / ATAMBUA IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 60 X 40 120 11 GEWAYANTANA / LARANTUKA IV 1,200 30 F - 50 18 X 14 80 X 40 100 12 D.C. SAUDALE / ROTE IV 1,200 30 F - 50 75 X 15 40 X 60 120

13 TARDAMU / SABU IV 900 23 Cassa 212 75 X 15 40 X 60 120

14 WUNOPITO / LEWOLEBA IV 1,200 30 F - 50 5 X 15 57 X 40 200

Pada tahun 2008 - 2013 beberapa kegiatan pada subsektor transportasi udara yang

telah dan sedang dilakukan meliputi: perpanjangan landasan,pengembangan bandar udara,

pembangunan terminal, rehabilitasi/peningkatan fasilitas bandarudara yang melayani

penerbangan perintis dan peningkatan keandalan operasional keselamatan penerbangan

berupa peralatan telekomunikasi, navigasi dan kelistrikan terutama di bandara-bandara

kecil.

b. Sarana Angkutan Udara

Untuk melayani kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan jasa angkutan

udara, di NTT telah dilayani oleh 8 (delapan) Maskapi Penerbangan yaitu Garuda

Indoensia Airline, Merpati Nusantara Airline, Lion Airlines, Sriwijaya Airline , Trans

Nusa Air Service, SKY Aviation, City Ling, Batik Air dan Susi Air yang melayani

wilayah Kabupaten/Kota di NTT dan luar wilayah NTT sesuai dengan rute

penerbangan masing-masing.

(27)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

33

Untuk membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil/terisolir kebijakan Kementerian

Perhubungan melalui dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan memberikan

dukungan dengan Subsidi Angkutan Udara Perintis. Pada Tahun 2013 di Nusa Tenggara

Timur ada 7 (tujuh) rute penerbangan perintis angkutan udara, jumlahnya bertambah

dari tahun sebelumnya hanya 5 (lima) rute penerbangan perintis, yaitu :

™ Kupang – Terdamu Sabu (PP);

™ Kupang – Haliwen (PP);

™ Terdamu Sabu – Udara Umbu Mehang Kunda (PP);

™ Terdamu Sabu – Haji H. Areoboesman-Ende (PP);

™ Haliwen – Kiser (PP)

™ Rute tambahan TA. 2013 yaitu Kupang – Rote Ndao (PP) dan Atambua – Alor

(PP).

Tabel 2.13 Maskapai Penerbangan dan Jaringan Pelayanan di Provinsi NTT

MASKAPAI / OPERATOR RUTE FREKWENSI GARUDA : BOING 737 SERI 400, BOM BARDIR CRJ.1000 KUPANG – DENPASAR-JAKARTA; JAKARTA – DENPASAR – KUPANG JAKARTA – KUPANG KUPANG - JAKARTA SURABAYA – KUPANG (PP) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) GARUDA ATR 72 DENPASAR – TAMBOLAKA – KUPANG (PP)

DENPASAR – LABUAN BAJO – ENDE – KUPANG (PP)

DENPASAR – MAUMERE – KUPANG (PP)

SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) LION AIRLINES :

BOING 900 ER

KUPANG – SURABAYA – JAKARTA JAKARTA – SURABAYA – KUPANG

SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) WINGS AIR : ATR 72 KUPANG – MAUMERE – DENPASAR (PP)

KUPANG – ENDE – LABUAN BAJO (PP) KUPANG – TAMBOLAKA – DENPASAR (PP)

SEMINGGU ( 3 X) SEMINGGU ( 3 X) SEMINGGU ( 3 X) SRIWIJAYA AIRLINES: BOING 737 SERI 300

KUPANG – SURABAYA – JAKARTA JAKARTA – SURABAYA - KUPANG

(28)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

34

MERPATI

NUSANTARA

AIRLINES: BOING 737 SERI 300

JAKARTA – DENPASAR - KUPANG KUPANG – DENPASAR – JAKARTA

SETIAP HARI (1 X)

MERPATI MA. 60 KUPANG – MAUMERE (PP) KUPANG – TAMBOLAKA (PP) KUPANG – ENDE (PP) KUPANG – RUTENG (PP) KUPANG - WAINGAPU (PP) KUPANG – ALOR (PP) KUPANG – BAJAWA (PP) KUPANG - LABUAN BAJO (PP)

SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (5 X) SEMINGGU (5 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (4 X) SEMINGGU (2 X) MERPATI CASSA 212 (SUBSIDI PERINTIS)

KUPANG – SABU RAIJUA (PP) SABU RAIJUA – WAINGAPU (PP) KUPANG – ATAMBUA (PP) SABU RAIJUA – ENDE (PP) ATAMBUA – KISER (PP) ATAMBUA – ALOR (PP) KUPANG – ROTE (PP) SEMINGGU (3 X) SEMINGGU ( 1 X) SEMINGGU ( 1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SUSI AIR CESNA

CARAVAN KUPANG – SABU (PP) KUPANG – ROTE (PP) KUPANG – LARANTUKA (PP) KUPANG – ATAMBUA (PP) KUPANG – LEWOLEBA (PP) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) TRANS NUSA Bae 146

dan FOKKER 50 SERI 200 KUPANG-MAKASSAR (PP) KUPANG – MAUMERE (PP) KUPANG – ENDE (PP) KUPANG – ALOR (PP) KUPANG – BAJAWA (PP) KUPANG – RUTENG

KUPANG – LABUAN BAJO (PP) KUPANG – TAMBOLAKA (PP) KUPANG – WAINGAPU (PP) KUPANG – LARANTUKA (PP) KUPANG – LEWOLEBA (PP) SEMINGGU (3 X) SEMINGGU ( 3 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (4 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (2 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (3 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SKY AVIATION LABUAN BAJO-ENDE-KUPANG (PP)

LABUAN BAJO – DENPASAR (PP)

SEMINGGU (2 X) SETIAP HARI (1 X) CITYLINK JAKARTA – SURABAYA - KUPANG (PP) SETIAP HARI (1 X)

(29)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

35

Arus penumpang (datang dan berangkat) melalui 14 Bandar Udara se Provinsi NTT

dari tahun ke tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan, rerata

pertumbuhannya dari tahun 2008 s/d 2012 sebesar 31,48 %. Tahun 2008 jumlah

penumpang yang datang dan berangkat sebanyak : 703.755 orang meningkat menjadi

1.219.426 orang (kenaikannya 73,27%) pada tahun 2009, pada tahun 2010

mengalami peningkatan menjadi 1.467.810 orang (kenaikannya 20,37%), tahun 2011

meningkat menjadi 1.853.420 orang (kenaikannya 26,27%) dan tahun 2012

meningkat menjadi 1.964.453 orang (kenaikannya 5,99 %). Diproyeksikan dengan

pertumbuhan 10 % per tahun maka 10 (tahun) ke depannya yaitu tahun 2022 jumlah

arus penumpang menjadi 5.095.285 orang.

II.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan SKPD

1.

Tantangan Pengembangan Sektor Transportasi

Sub Sektor Darat (LLAP & LLAJ):

™

Jumlah penduduk Provinsi NTT yang setiap tahun cendrung mengalami

peningkatan yang tidak sebanding dengan jumlah sarana angkutan umum dan

jumlah prasarana jalan yang ada.

™

Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan transportasi, baik untuk

jarak dekat, menengah maupun jarak jauh yang membutuhkan peningkatan

pelayanan.

™

Keterpaduan antar moda transportasi yang menghubungkan antar

simpul-simpul-simpul transportasi.

™

Pertumbuhan jumlah sarana angkutan pribadi yang meningkat, mengakibatkan

terjadinya kemacetan di daerah perkotaan.

™

Belum optimalnya pengelolaan jembatan timbang serta pergeseran fungsi

jembatan timbang yang cendrung untuk menambah PAD bukan alat

pengawasan muatan lebih.

™

Peningkatan kelancaran dan keselamatan mobilitas angkutan jalan serta

aksebiltas pelayanan terutama pada pelayanan jasa transportasi di wilayah

terpencil dan perbatasan yang belum seluruhnya dapat dijangkau secara

memadai.

™

Terbatasnya pendanaan pemerintah daerah untuk pengadaan fasilitas baru,

serta pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana dan sarana transportasi yang

telah ada ;

(30)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

36

Sub Sektor Laut:

™

Jumlah penduduk Provinsi NTT yang setiap tahun cendrung mengalami peningkatan

yang tidak sebanding dengan jumlah sarana dan prasarana transportasi laut yang

ada.

™

Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan sarana angkutan laut khususnya

pelayanan keperintisan.

Sub Sektor Udara:

™

Jumlah penduduk Provinsi NTT yang setiap tahun cendrung mengalami peningkatan

yang tidak sebanding dengan jumlah dan kapasitas sarana dan prasarana

transportasi udara yang ada.

™

Pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan transportasi udara.

™

Peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan sesuai standar internasional.

2. Peluang Pengembangan Sektor Transportasi

Peluang dan faktor-faktor pendorong untuk pengembangan layanan sektor

transportasi, yaitu :

™

Adanya sejumlah kewenangan Pemerintah Provinsi NTT pada Urusan Perhubungan

(sub sektor darat, laut dan udara) ;

™

Provinsi NTT sebagai Provinsi kepulauan, untuk menghubungkan satu pulau dengan

pulau lainnya menggunakan sarana transportasi laut dan penyebrangan, yang

didukung oleh keberadaan sarana angkutan jalan dan udara.

™

Nusa Tenggara Timur berada di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III dan pintu

gerbang selatan indonesia, juga sebagai pintu gerbang wisata dunia, dengan ikon

Binatang Komodo dan obyek wisata lainnya di NTT.

™

Kebijakan Pemerintah Pusat terkait dengan Percepatan Pembangunan Provinsi NTT ;

™

Kebijakan Pemerintah terkait Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan

Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang mana Provinsi NTT berada dalam Koridor V

bersama NTB dan Bali ;

™

Dukungan Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan) terhadap pembangunan

sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara di Nusa Tenggara Timur,

melalui berbagai program / kegiatan pembangunan / pengembangan / peningkatan

/ pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi di NTT dengan alokasi pembiyaan

(APBN) yang cendrung meningkat setiap tahunnya ;

(31)

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018

37

™

Kebijakan Pemerintah terkait pemberian subsidi angkutan perintis darat, laut dan

udara untuk membuka akses dan isolasi pada daerah/wilayah terpencil dan

tertinggal dan perbatasan antar negara.

3. Rencana pengembangan Sektor Perhubungan Tahun 2013 – 2018, yaitu :

Sub Sektor Darat (LLAP & LLAJ):

™

Dalam rangka membangun konektivitas internasional ke depannya akan

dikembangkan lintasan penyebrangan Kupang – Darwin (Australia); Kupang – Dili

(RDTL) ;

™

Merevitalisasi angkutan penyeberangan, pelabuhan lokal serta optimalisasi pelayaran

perintis dan mekanisme PSO;

™

Melakukan Koordinasi dan Komunikasi dengan pemerintah pusat (Kementerian

Perhubungan untuk penambahan armada kapal angkutan penyebrangan dengan

kapasitas di atas 1000 GT dari yang ada sekarang, mengingat kondisi cuaca di NTT

yang sangat ekstrim pada bulan-bulan tertentu ;

™

Pembangunan Pelabuhan Penyebrangan Baru pada wilayah/daerah yang strategis

dan potensial serta daerah perbatasan negara.

™

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan jasa angkutan

penyebrangan ke depannya terus diupayakan untuk Pengadaan/Pembangunan Kapal

Penyebrangan Baru agar bisa menjangkau semua lintasan yang ada di wilayah

Provinsi NTT;

™

Meningkatkan jalan akses lokal antara pusat-pusat pertumbuhan dengan fasilitas

pendukung (pelabuhan) dan dengan wilayah belakangnya, termasuk

wilayah-wilayah non koridor ekonomi;

™

Untuk membuka askes pada wilayah perdesaan termasuk pada Desa Mandiri Anggur

Merah Pemerintah Provinsi NTT (Dinas Perhubungan) terus melakukan koordinasi

dan komunikasi dengan pemerintah pusat (Kementerian Perhubungan) untuk

penambahan armada angkutan perintis DAMRI, sehingga setiap kabupaten/kota

nantinya ada Stasiun DAMRI;

™

Pengembangan Terminal Type A (Labuan Bajo, Maumere, Sumba Barat Daya) dan

Type B pada daerah-daerah strategis dan potensial ;

™

Rehabilitasi dan pengembangan Jembatan Timbang.

™

Penambahan trayek/lintasan dan frekuensi angkutan penyebrangan untuk

peningkatan aksesibilitas, dan kelancaran arus barang dan penumpang pada

daerah-daerah tertinggal dan terpencil melalui pelayanan keperintisan.

Gambar

Tabel 2.1 Jumlah Pegawai Berdasarkan Eselon/Jabatan
Tabel 2.3  Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 2.4. Jumlah Jaringan Trayek dan Armada/Sarana Angkutan  AKDP di Provinsi NTT  No  Uraian Trayek  Jumlah Armada  Jumlah Armada 
Tabel 2.5 Perkembangan Jumlah Kendaraan di Provinsi NTT
+5

Referensi

Dokumen terkait

umum aparatur pemerintah selaku personil pelayanan harus profesional, disiplin dan terbuka terhadap kritik dari pelanggan atau masyarakat. Sarana dan Prasarana, dalam pelayanan

Sasaran pembangunan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Tahun 2010 –.. Meningkatnya keselamatan, keamanan, dan pelayanan sarana dan prasarana transportasi laut

Tujuan disusunnya Rencana kerja Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai dokumen perencanaan pembangunan dalam rangka penyusunan APBD Provinsi Sumatera Utara

Data Jumlah penumpang di Bandara ABD Saleh Malang dan Blimbingsari Banyuwangi Bidang Perhubungan Udara 5 Meningkatnya Pemenuhan Kebutuhan Prasarana Transportasi Prosentase

pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga dan instansi lain di bidang kelembagaan, sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan

Hal-hal yang belum jelas dapat menghubungi Panitia Pelaksana Seleksi/Pemilihan Pelayanan Angkutan Pemadu Moda di Provinsi Riau di Bidang Perhubungan Darat

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) ESS IV TAHUN 2020 KEPALA SEKSI KESELAMATAN SARANA DAN PRASARANA JALAN. DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI

Kabupaten Kupang dapat dijangkau dari berbagai arah baik melalui udara, laut maupun darat, karena berada bersama dengan Kota Kupang dan Kota Propinsi Nusa Tenggara Timur.. Dari