Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
7
BAB II
GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI NTT
II.1 Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Perhubungan
II.1.1
Tugas Pokok dan Fungsi
Sejalan penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah sesuai Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10
Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas – Dinas Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Timur, Sesuai Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 10 Tahun
2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas – Dinas Daerah Provinsi Nusa Tenggara
Timur, Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai tugas pokok:
“membantu Gubernur dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga
daerah dalam bidang perhubungan”.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Dinas Perhubungan mempunyai
fungsi, sebagai berikut :
1. Pembinaan umum berdasarkan kebijakan yang ditetapkan Gubernur;
2. Pembinaan teknis di dalam bidang perhubugan sesuai dengan kebijaksanaan yang
ditetapkan oleh Menteri Perhubungan;
3. Pengumpulan dan pengolahan data, penyusunan rencana dan program perhubungan
serta pelaksanaannya;
4. Penyiapan perumusan kebijaksanaan pelaksanaan di bidang perhubungan;
5. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan darat;
6. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan laut;
7. Koordinasi, pembinaan dan evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perhubungan
udara;
8. Pengelolaan unit pelaksana teknis;
9. Pelaksanaan urusan ketata usahaan;
10. Pelaksanaan tugas – tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.
II.1.2
Struktur Organisasi Dinas Perhubungan Provinsi NTT
Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas dan jalannya roda
organisasi dibutuhkan struktur dan sumber daya manusia sebuah organisasi dalam
system formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasi tugas-tugas
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
8
sejumlah orang untuk bekerjasama dalam mencapai sebuah tujuan yang telah
ditetapkan. Struktur organisasi Dinas Perhubungan Provinsi NTT, terdiri dari :
-
Kepala Dinas;
-
Sekretaris;
-
Bidang 5rt Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
-
Bidang Lalu Lintas Angkutan Sungai Dan Penyeberangan;
-
Bidang Perhubungan Laut;
-
Bidang Perhubungan Udara;
- Unit Pelaksana Teknis Dinas Perhubungan Bidang LLAJ.
Pada Sekretaris, Bidang dan UPT masing – masing membawahi 3 (tiga sub bagian/seksi ).
Ada 5 (lima) Unit Pelaksana Teknis Dinas yaitu :
1. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Kupang, TTS dan Rote Ndao.
2. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Belu, TTU, Alor dan Lembata.
3. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sikka, Flotim, Ende dan Nangakeo.
4. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Manggarai, Manggarai Timur, Ngada
dan Manggarai Barat.
5. UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba
Barat dan Sumba Barat Daya.
Total jabatan struktural yang ada pada Dinas Perhubungan Provinsi NTT (termasuk UPT)
sebanyak 41 jabatan struktural dengan rincian eselon adalah :
-
Eselon II :
1 orang
-
Eselon III :
7 orang, yang belum terisi di 2 UPT (Manggarai, Kupang) dan Kabid
LLAJ
-
Eselon IV :
22 orang, yang belum terisi 8 seksi
Dan Jabatan Fungsional 2 orang (arsipharis).
Untuk Pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, maka dibentuk susunan organisasi yang
terstruktur sehingga dalam pelaksanaannya dapat memberikan efektifias dan efesiensi
kegiatan yang optimal dan mampu menghasilkan pelayanan yang berkualitas di bidang
transportasi kepada masyarakat. Struktur organisasi di Dinas Perhubungan Provinsi NTT
adalah sebagai berikut.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
9
Tabel 1
Struktur Organisasi Dinas Perhubungan
SEKRETARIS
Sub Bagian PDE Sub Bgian Umum & Kepeg Sub Bagian Keuangan
Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan Bidang Lalu Lintas Angkutan
Penyeberangan Bidang Perhubungan Laut
Bidang Perhubungan Udara
Seksi Lalu Lintas Angkutan Jalan
Seksi Keselamatan LLAJ
Seksi Pengendalian Operasional
Seksi Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan
Seksi Kepelabuhanan
Seksi Keselamatan Teknik Sarana
Seksi Angkutan Laut
Seksi Kepelabuhanan
Seksi Perkapalan dan SAR
Seksi Lalu Lintas Angkutan Udara
Seksi Teknik Bandara dan FASLETRIK
Seksi KESPEN dan SERLAIKUD
UPT Perijianan & Pengawasan LLAJ – 5 UPT Kelompok Jabatan Fungsional
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
10
II.2
Sumber Daya SKPD (SDM, Fasilitas Penunjang)
II.2.1 Sumber
Daya
Manusia
Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur merupakan faktor penentu utama untuk
melaksanakan roda organisasi yang perlu mendapat perhatian baik aspek kualifikasi maupun
kuantitas dalam rangka upaya peningkatan kualitas dan kinerja organisasi demi terwujudnya Visi,
Misi dan Tujuan organisasi. Dinas Perhubungan Provinsi NTT sebagai instansi teknis yang diberi
tanggungjawab dalam sektor perhubungan tentunya membutuhkan aparatur yang memiliki
pengetahuan dan kemampuan teknis perhubungan (darat, laut dan udara). Sesuai dengan data
yang ada pegawai dinas perhubungan sebagian besar bukan merupakan basic perhubungan
ataupun teknik sehingga ke depannya perlu ditingkatkan pengetahuan dan kemampuan teknisnya
melalui pendidikan dan pelatihan, bimbingan teknis dan khursus-khursus singkat sehingga mampu
mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dinas itu sendiri dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat pengguna jasa transportasi yang berkualitas, selamat, aman, lancar dan terpadu.
Untuk mendukung dan menunjang kegiatan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, Dinas
Perhubungan Provinsi NTT memiliki jumlah staf sebanyak 126 orang termasuk tenaga fungsional
2 orang. Jadi total keseluruhan pegawai Dinas Perhubungan Provinsi NTT sampai 31 Desember
2013 yaitu 156 orang, yang terdiri dari : pejabat struktural 30 orang (belum terisi 11 jabatan),
fungsional 2 orang (fungsional arsipharis) dan staf : 124 orang. Secara terinci sebagaimana
diuraikan dalam tabel berikut di bawah ini :
Tabel 2.1 Jumlah Pegawai Berdasarkan Eselon/Jabatan
NO
Jabatan
Jenis Kelamin
Total
L
P
1
2
3
4
Eselon II
Eselon III
Eselon IV
Staf
1
7
24
84
3
6
26
1
10
30
110
5 Fungsional
9
1
10
Jumlah
120 36 156
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
11
Tabel 2.2 Jumlah Pegawai Bersarkan Golongan
n NO
Golongan
Jenis Kelamin
JumlahPegawai
L
P
1
2
3
4
Golongan IV
Golongan III
Golongan II
Golongan I
8
79
29
3
31
4
8 orang
110 orang
33 orang
3 orang
Jumlah 120
36
156
orang
Secara kualifikasi pendidikan pegawai Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timur
termasuk yang ada di UPTD adalah :
Tabel 2.3 Jumlah Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan
NO
JenjangPendidikan
Jenis Kelamin
JumlahPegawai
L
P
1
2
3
4
5
6
7
S2
S1
D. III
D. II
SMA danSederajat
SMP
SD
7
55
12
1
39
5
1
15
1
19
7 orang
70 orang
13 orang
1 orang
58 orang
5 orang
1 orang
Jumlah 120
36
156
orang
Tabel 2.4 Jumlah Pegawai Berdasarkan Kualifikasi Pendidikan
NO Spesifikasi pendidikan
Jenis Kelamin
Jumlah Pegawai
L
P
1
2
3
4
5
6
7
8
Sosial
Perpajakan
Ekonomi
Hukum
Ilmu Pemerintahan
Peternakan
Ilmu Sains
Filsafat
1
14
7
1
1
4
1
13 orang
1 orang
18 orang
7 orang
1 orang
1 orang
1 Orang
1 Orang
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
12
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
Sarjana Biologi
Teknik Umum
Transportasi Darat
Transportasi Udara
Transportasi Laut
Administrasi Negara
Administrasi
Administrasi Niaga
D.III LLAJ
D.III LLASDP
D.III Tata Laksana
D.III Nautika
D.III Teknik Sipil
D.III Teknik Mesin
SMA
STM
SMEA
SMP
SD
1
13
2
2
1
3
3
6
1
1
30
6
1
5
1
4
1
1
1
14
3
1 Orang
4 Orang
17 Orang
2 Orang
2 Orang
2 Orang
1 Orang
4 Orang
3 Orang
6 Orang
1 Orang
1 Orang
1 Orang
49 Orang
44 Orang
6 Orang
4 Orang
5 Orang
1 Orang
Jumlah 120
36
156
orang
II.2.2
Prasarana & Fasilitas Penunjang
Untuk kelancaran pelaksanaan tugas didukung dengan sarana dan prasarana gedung
kantor, peralatan dan fasilitas seperti kendaraan roda 4 : 7 unit dan roda 2 : 7 unit, memiliki aset
berupa rumah dinas (2 unit) dan tanah 9 (sembilan) bidang tanah senilai : Rp. 36.008.400.000,
gedung kantor dan fasilitas komputer/laptop/ sounsistem kantor. Sarana dan prasarana tersebut
sebagian dalam kondisi yang baik dan sebagian dalam kondisi kurang baik karena umur prasarana
tersebut sudah ada yang diatas 20 tahun, seperti Kantor Dinas yang ada sekarang usianya ± 35
tahun. Pada tahun anggaran 2011 telah dilakukan SID pembangunan gedung kantor baru, setiap
tahun telah diusulkan untuk pembangunan gedung kantor, namun karena keterbatasan dana
APBD sehingga belum dibangun juga. Secara terinci data kondisi prasarana dan fasilitas penunjang
serta data aset/barang kantor sebagaimana terlampir.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
13
Saat ini Dinas Perhubungan Provinsi NTT memiliki 5 (Lima) UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ
yang ada di Kabupaten, yaitu :
1.
UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Kupang (Kupang, TTS dan Rote Ndao).
2.
UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Belu (Belu, TTU, Alor dan Lembata).
3.
UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sikka (Sikka, Flotim, Ende dan Nangakeo).
4.
UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Manggarai (Manggarai, Manggarai Timur,
Ngada dan Manggarai Barat).
5.
UPT Perijinan dan Pengawasan LLAJ Wilayah Sumba Timur(Sumba Timur, Sumba Tengah,
Sumba Barat dan Sumba Barat Daya).
Kondisi 4 UPT selain UPT Wilayah Kupang sangat memprihatinkan, sejak dibentuk sampai
dengan sekarang belum memiliki gedung kantor dinas, rumah dinas dan kendaraan
dinas operasional (mobil operasional) untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas
pengawasan di lapangan. Hal ini sangat menyulitkan upaya pengembangan pelayanan dilapangan
terutama dalam pencapaian target pendapatan setiap tahun.Saat ini Pemerintah Provinsi
NTT memiliki aset tanah yang terdapat di Kabupaten yang dapat digunakan untuk
pembangunan gedung kantor dan rumah dinas.
Diharapkan 4 UPT ini, mendapat dukungan Pemerintah Provinsi NTT untuk
segeramembangun kantor, rumah dinasdan menyediakan fasilitas mobil operasional guna
kelancaran pelaksanaan tugas.Oleh karena wilayah kerja UPT tersebut membawahi beberapa
kabupaten. Berdasarkan Perda Provinsi NTT Nomor 4, 8, 9 tahun 2011 (tentang Obyek Retribusi
Jasa Tertentu, Umum dan Jasa Usaha) kewenangan UPT juga menanganai trayek angkutan
perdesaan yang lintas kabupaten/kota, sesuai aturan ijin trayek angkutan perdesaan yang
wilayahnya melampaui satu kabupaten dalam provinsi merupakan kewenangan Gubernur.
Terkait dengan fungsi pegawasan lalu lintas angkutan jalan di daerah perbatasan antar
negara yang merupakan kewenangan pemerintah pusat (Kementeriaan Perhubungan) sampai
dengan saat ini secara operasional belum terlaksana, sehingga perlu dilakukan pengendalian dan
pengawasan. Untuk itu, perlu penguatan kelembagaan dan peran UPT Perijinan dan Pengawasan
LLAJ Wilayah Belu di daerah perbatasan antar negara melalui :
a. Adanya Kerja sama Angkutan Lintas Batas Negara.
b. Penyediaan fasilitas kendaraan operasional LLAJ dan sarana komunikasi guna
mendukung pelaksanaan tugas UPT di wilayah perbatasan.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
14
II.3
Kinerja Pelayanan SKPD
II.3.1
Kinerja Pencapaian Target Renstra Tahun 2008 – 2013
Dalam Rencana Strategis Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2008 – 2013 tidak
termuat target-target indikator kinerja sasaran Renstra per tahun target pencapaian selama
lima tahunnya baik indikator SPM, Indikator Kinerja Kunci (IKK), Indikator Kinerja Utama (IKU)
dan indikator lainnya. Selanjutnya dalam LAKIP tahunan termuat beberapa Indikator Kinerja
Utama (IKU) berupa target dan realisasi tahunan, sebagaimana terlampir.
II.3.2
Kinerja Pencapaian Target Pendapatan dan Belanja
Sektor perhubungan merupakan salah satu sektor sumber pendapatan daerah yang setiap
tahunnya diberi target pendapatan. Adapun Kinerja Pencapaian Target Pendapatan dan Belanja
Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2009 – 2013 adalah sebagaimana terlampir.
Berdasarkan data yang ada selama periode tahun 2009 – 2013 rata-rata pertumbuhan
realisasi pendapatan kita mencapai 1.073,48 % dan rata-rata realisasi belanja tidak langsung
(gaji pegawai) sebesar 14,09 %, belanja langsung mencapai 62,06 %. Sedangkan untuk tahun
2013 jika dibandingkan dengan tahun 2012, realisasi pendapatan kita meningkat menjadi
82,27% dari tahun 2012 hanya mencapai 70,87%, sedangkan realisasi belanja : belanja tidak
langsung meningkat menjadi 92,44% dari tahun 2012 hanya 87,59% dan belanja langsung
meningkat menjadi 90,45% dari tahun 2012 hanya mencapai 86,83%.
II.3.3 Kinerja
Pelayanan
Pembangunan
Kinerja sektor perhubungan (darat, laut udara) dari tahun 2008 -2013 secara terinci
diuraikan masing-masing sub sektor. Dalam kurun waktu 2008 – 2013 terjadi peningkatan
pelayanan sektor perhubungan dengan berbagai pembangunan maupun pengembangan
sarana dan prasarana perhubungan (darat, laut dan udara) di Nusa Tenggara Timur. Hal ini
terjadi selain adanya dukungan pembiayaan dari APBD Provinsi NTT juga karena besarnya
dukunganperhatian Pemerintah Pusat (Kementerian Perhubungan) terhadap pembangunan
sarana dan prasarana perhubungan di Nusa Tenggara Timur. Baik melalui pembangunan dan
pengembangan sarana dan prasarana perhubungan darat, laut dan udara dengan alokasi
anggaran (APBN) setiap tahun yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
15
II.3.4
Kinerja Sub Sektor Perhubungan Darat
1.
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
a.
Prasarana Lalu Lintas Jalan
Lalu lintas angkutan jalan berhubungan erat dengan kondisi prasarana dan
jaringan jalan (panjang jalan dan geometrik jalan), yang nantinya akan digunakan
oleh kendaraan sebagai sarana angkutan jalan serta untuk pemasangan berbagai
fasilitas keselamatan dan keamanan lalu lintas angkutan jalan. Di Provinsi NTT
memiliki panjang jalan Nasional: 1.407 Km dengan kondisi 90% mantap, Jalan
Strategis Nasional: 1.104 Km, dengan kondisi 40% mantap dan Jalan Provinsi:
1.314 Km dengan kondisi 40% mantap serta Jalan Kabupaten/Kota ± 13.000 Km.
Jumlah ruas jalan Nasional dan Provinsi di NTT adalah 228 ruas jalan. Sedangkan
jumlah penduduk NTT tahun 2013 sebanyak 4.900.652 jiwa.
Terminal sebagai simpul transportasi darat yang berfungsi sebagai tempat
perpindahan orang dan barang, berdasarkan keputusan menteri perhubungan dan
Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor: 169/Kep/HK/2010di NTT
terdapat 20 Terminal, yaitu: Terminal Type A 1 unit, yang terdapat di Mota’ain -
Kabupaten Belu, Type B 15 unit dan Terminal Type C 4 unit yang tersebar di
Kabupaten/Kota se NTT. Dalam tahun 2008-2013 terjadi penambahan terminal
Type A : 1 unit yaitu di Naiola –Kabupaten TTU dan Terminal Type B 1 unit di
Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat) sehingga jumlah keseluruhan Terminal
menjadi 22 unit.
Unit Pelaksanaan Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB)
Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No.
AJ.108/I/16/DRJD/2006 tanggal 6 Maret 2006 di NTT ada 4 (empat) Jembatan
Timbang yaitu : Jembatan Timbang Oesapa – Kota Kupang, Jembatan Timbang
Namosain – Kota Kupang, Jembatan Timbang Watu Alo-Manggarai Timur dan
Jembatan Timbang Nggorang – Manggarai Barat. Kondisinya Jembatan Timbang
Watu Alo sudah rusak dan 3 (tiga) jembatan timbang tidak berfungsi optimal.
Sedang Jumlah Pengujian Kendaraan Bermotor ( PKB ) yang beroperasi di wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 16 unit PKB (Pengujian Mekanik 6 unit,
Pengujian non Mekanik 10 unit dan Pengujian Keliling 1 unit).
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
16
b.
Sarana Lalu Lintas Angkutan Jalan.
Jumlah sarana Lalu Lintas Jalan di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur,
adalah sebagaimana pada Tabel 2.5. Jumlah trayek AKDP/ Angkutan Antar Jemput
sebanyak 108 trayek. Sedangkan jumlah ijin trayek yang dikeluarkan sampai
dengan tahun 2012 sebanyak 473 unit kendaraan AKDP (yang dikelurkan oleh
UPT LLAJ (5 UPT), untuk melayani 37 trayek. Berdasarkan jumlah AKDP yang
mendapat ijin tersebut yang beroperasi yaitu 447 unit, yang tidak beroperasi ada
25 unit.
Tabel 2.4. Jumlah Jaringan Trayek dan Armada/Sarana Angkutan AKDP di Provinsi NTT
No
Uraian Trayek
Jumlah Armada
Jumlah Armada
Terdaftar/Ijin
(Unit)
Beroprasi (Unit)
1
2
3
4
1
KUPANG‐SOE PP
15
13
2
KUPANG‐KEFA
32
28
3
KUPANG‐ATB PP
0
2
4
KPG‐ATB‐BETUN PP
0
3
5
KPG‐AYOTUPAS‐BSKM PP
1
2
6
SOE‐KPG PP
36
30
7
SOE‐KEFA PP
0
2
8
SOE‐ATB PP
0
1
9
KEFA KPG PP
14
11
10
KEFA‐SOE PP
0
1
11
KEFA‐ATB PP
17
13
12
ATB‐KPG PP
73
66
13
ATB‐KEFA PP
3
4
14
ATB‐SOE PP
0
3
15
ATB‐BTN‐KPG PP
3
3
16
BSKM‐AYOTUPAS‐KPG PP
21
18
17
WNGP‐WKBK‐ PP
7
8
18
WNGP‐WKBK‐WKLO PP
10
8
19
WKBK‐WNGP PP
8
7
20
WKLO‐WKBK‐WNGP PP
6
6
21
ENDE‐BJW PP
15
13
22
ENDE‐RUTENG PP
12
11
23
ENDE‐LBJO PP
3
3
24
ENDE‐MME PP
21
18
25
ENDE‐LTK PP
11
9
26
BJW‐RTG PP
53
52
27
BJW‐LBJO PP
3
3
28
BJW‐ENDE PP
25
25
29
BJW‐MME PP
6
6
30
BJW‐LTK PPS
2
2
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
17
No
Uraian Trayek
Jumlah Armada
Jumlah Armada
Terdaftar/Ijin
(Unit)
Beroprasi (Unit)
31
RTG‐LBJO PP
30
30
32
RTG‐BJW PP
17
17
33
RTG‐ENDE PP
13
13
34
RTG‐MME PP
3
3
35
RTG‐LTK PP
4
4
36
LBJO‐RTG PP
6
6
37
LBJ‐BJW PP
3
3
TOTAL NTT
472
447
Prosentase yang beroperasi terhadap jumlah ijin yang dikeluarkan : 97,70%
sedangkan yang tidak beroperasi : 2,30%. Rasio jumlah trayek terhadap jumlah sarana
AKDP : 8,28 %. Rasio jumlah trayek terhadap sarana angkutan umum di NTT tahun
2012 : 0.25%.
Tabel 2.5 Perkembangan Jumlah Kendaraan di Provinsi NTT
NO
Jenis Angkutan
Jumlah Kendaraan Per Tahun
2008
2009
2010
2011
2012
1.
Mobil Pnp Umum
18.565
11.415
11.487
12.309
14.555
2
Mobil Tidak Umum
19.273
16.276
18.873
24.647
27.694
3
Kendaraan Roda 2
217.119
173.535
194.056
233.887
335.081
4 Kendaraan
Khusus
85
42
71
59
104
Jumlah 255.042 201.268 224.487
270.906
378.134
Sumber data : NTT Dalam Angka
Dari data perkembangan jumlah kendaraan di Provinsi NTT tersebut di atas maka
jumlah kendaraan untuk periode 2009 – 2012 mengalami peningkatan yang cukup
signifikan. Rata-rata pertumbuhan kendaraan di NTT selama periode 2008 – 2012
adalah 12,68 %. Sedangkan untuk kendaraan penumpang dan barang umum (Bus,
Mikro Bus, Truk, Pick UP) untuk periode 2009-2012 mengalami peningkatan per
tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 8,68%.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
18
c.
Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas
Jumlah kecelakaan kendaraan bermotor di Provinsi NTT selama periode
2009 -2012 mengalami peningkatan yang cukup signifikan setiap tahunnya total
kejadian sampai dengan tahun 2012 yaitu 4.391 kejadian, Korban mati sebanyak
1.732 orang, luka-luka (berat dan ringan) sebanyak 6.106 orang. Jadi rata-rata
pertumbuhan kejadian kecelakaan lalu lintas dari tahun 2008 – 2012 yaitu
sebesar 26,52 %. Sedangkan untuk tahun 2012 dari total kejadian selama 5
tahun adalah 30%.
Tabel.2.6 Perkembangan Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas & Korban di Provinsi NTT Tahun 2008 - 2012
No
.
Uraian
Jumlah Kejadian Kecelakaan dan Korban
Per Tahun
Jumlah
2008 2009 2010 2011 2012
1.
Jumlah Kecelakaan Lalulintas
642
561
615
1.253
1.320
4.391
2 Mati
272
309
317
401
433 1.732
3 Luka
Berat
368
289
332
503
524 2.016
4 Luka
Ringan
410
439
444
1.216
1.581 4.090
Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat akan sarana angkutan,
berdasarkan PERDA No. 4 Tahun 2011 ttg Retribusi Jasa Umum & Peraturan Gubernur
No. 2 Tahun 2012 ttg Jaringan Trayek Jaringan trayek AKDP/Angkutan Antar Jemput
sebanyak 108 trayek terdiri dari: Pulau Timur : 29 trayek, Pulau Flores : 63 trayek dan
Pulau Sumba : 16 trayek.
Untuk membuka isolasi wilayah/daerah di perdesaan serta mendukung Program
Pemerintah Provinsi NTT : Program Desa Mandiri Anggur Merah, yaitu melalui jaringan
trayek keperintisan transportasi jalan yang pengelolaannya dilakukan oleh Perum
Damri Kupang. Stasiun Kupang, 10 trayek, Stasiun Kefamenanu, 8 trayek,
Stasiun Waingapu, 7 trayek, dan Stasiun Ende 7 trayek. Dalam tahun 2013
terjadi penambahan 8 (delapan) unit bus DAMRI Subsidi Perintis yaitu untuk
masing-masing Stasiun 2 (dua) unit DAMRI.
Untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan para pengguna jalan setiap tahunnya
dilakukan pembangunan/peningkatan/pemeliharaan fasilitas keselamatan dan
keamanan lalu lintas jalan : Marka jalan, Guardrail, rambu lalu lintas, Trafik Laik dan
RPPJ dan lain-lain melalui alokasi dana APBN (Kementerian Perhubungan) dan APBD
Provinsi NTT. Untuk APBD Provinsi NTT pada Tahun 2009 dilakukan pemasangan
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
19
rambu 300 buah, 2010 : 100 buah dan tahun 2013 : 275 buah. Marka jalan : tahun
2010 dilakukan pemasangan marka jalan : 1.500 meter, tahun 2011 : 10.000 meter
dan tahun 2013 : 10.000 meter, guard rail ; 72 meter dan paku marka : 623 buah.
Arus penumpang (naik dan turun) melalui terminal (21 terminal) yang tersebar di 21
Kabupaten/Kota pada tahun 2012, sebanyak 2.892.578 orang dan tahun 2013
sebanyak 3.037.207 orang.
2.
Lalu Lintas Angkutan Penyeberangan.
a. Prasarana Angkutan Penyeberangan.
Provinsi NTT sebagai salah satu Provinsi Kepulauan, sehingga keberadaan
transportasi penyeberangan sangat strategis dalam rangka aksesibilitas ke
wilayah/daerah terpencil di Nusa Tenggara Timur serta mendukung pelaksanaan
Program Desa Mandiri Anggur Merah.
Berkaitan dengan itu dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2014 (6 tahun) ada 8
(delapan) pelabuhan penyeberangan yang dibangun baru. Dari 8 (delapan) pelabuhan
tersebut ada 2 (dua) pelabuhan penyeberangan yang sudah beroperasi yaitu Pelabuhan
Penyeberangan Marapokot (Nagekeo) dan Pelabuhan Penyeberangan
Waijarang (Lembata) dan 2 (dua) pelabuhan dalam proses serah terima untuk
dioperasikan yaitu Pelabuhan Waiwerang (Deri-Adonara) dan Hansisi. Ada 4
(empat) yang dalam tahap penyelesaian pembangunan yaitu: Pelabuhan penyeberangan
Sabu-Seba (Sabu Raijua), Waewerang (Flores Timur), Baranusa (Alor), dan Pelabuhan
Penyeberangan Ndao (Rote Ndao). Jadi Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini memiliki
20 (dua puluh) Pelabuhan Penyebrangan yaitu ada 14 (empat belas) pelabuhan yang
sudah dibangun yaitu Pelabuhan Bolok (I dan II)-Kupang, Kalabahi-Alor,
Waingapu-Sumba Timur, Aimere-Ngada, Labuan Bajo-Manggarai Barat, Marapokot-Nagekeo,
Waikelo-Sumba Barat Daya, Nangakeo (Ende), Teluk Gurita (Belu), Waibalun-Flotim,
Sabu Seba-Sabu Raijua, Waejarang-Lembata, dan Pantai Baru-Rote Ndao; serta
Pelabuhan Hansisi-Kupang (menunggu serah terima untuk dioperasikan). Pelabuhan
yang sementara dibangun/dikembangkan yaitu Pelabuhan Baranusa (Alor),
Waiwerang (Flores Timur), Solor (Flores Timur), Ndao (Rote Ndao), Sabu Seba
(Sabu Raijua) dan Kewapante (Sikka), Pemana (Sikka). Kapasitas pelabuhan yang
ada mampu disandari kapal bertonase sampai dengan 1000 GT.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
20
b. Sarana Angkutan Penyeberangan
Dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2013 (5 tahun) terjadi penambahan 3 (tiga) unit
Kapal Baru, untuk pelayanan angkutan perintis Penyebrangan di Provinsi NTT yaitu KMP.
Ile Boleng (2009), KMP. Sirung (2013) dan KMP. Ranaka (2013). Ada 1 (satu) kapal
penyebrangan bertonage 750 GT, sementara dalam proses penyelesaian
pembangunannya (Tahap II) yang akan melayani lintasan pelayanan : Waingapu –
Aimere. Saat ini Provinsi Nusa Tenggara Timur sudah memiliki 14 (empat belas)
armada angkutan penyebrangan, dengan rincian : Ada 3 unit Kapal Perintis
Penyebrangan yang dikelola oleh BUMD : PT. Flobamor Kupang yaitu : KMP. Pulau Sabu,
KMP. Ile Boleng dan KMP Sirung. Sedangkan milik PT.ASDP Indonesia Ferry Cabang
Kupang, ada 11 (sebelas) unit Kapal, yaitu : KMP. Ile Mandiri, Rokatenda, Cucut,
Namparnos, Balibo, Ile Ape, Uma Kalada, KMP Cakalang I & II, KMP.Marine Primera dan
KMP. Ranaka yang melayani wilayah/daerah antar Kabupaten/Kota di NTT dengan
lintasan pelayanannya masing-masing. Berdasarkan Kemenhub Republik Indonesi,
lintasan penyebrangan di NTT ada 27 lintasan, meliputi : Lintasan Penyebrangan Antar
Kota Dalam Provinsi (AKDP) ada 22 Lintasan (Kewenangan Gubernur Untuk Menetapkan
Lintasan dan Tarif) dan Lintasan Antar Provinsi ada 5 lintasan yaitu : Sape – Labuan
Bajo, Sape – Waikelo, Teluk Gurita – Kiser, Teluk Gurita – Ilwaki dan Teluk Gurita –
Wonneli (Kewenangan Menteri Perhubungan)dan lintasan dalam wilayah kabupaten/kota
(kewenangan Bupati/Walikota), dengan rincian Lintasan Komersil 16 (enam belas)
lintasan dan sisanya 11 (sebelas) Lintasan Perintis Penyebrangan. Lintasan yang
beroperasi 24 lintasa, yang dilayani oleh kapal penyebrangan.
Dalam Tahun 2010 – 2013, Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan,
untuk membiayai program/kegiatan pembangunan / peningkatan sarana & prasarana
transportasi darat (penyebrangan dan LLAJ) , setiap tahunnya cenderung mengalami
peningkatan pada Tahun 2010, sebesar : Rp. 53,45 Milyard, meningkat menjadi sebesar
: Rp. 82,46 Milyard pada Tahun 2011, pada tahun 2012 meningkat menjadi sebesar Rp.
79,66 Milyard dan Tahun 2013 meningkat menjadi sebesar : Rp. 180,43 Milyard.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
21
Tabel 2.8 : Pembangunan Prasarana Pelabuhan Penyebrangan dan Sarana Angkutan
Penyebrangan (Kapal Penyebrangan) di Provinsi NTT pada Tahun 2009 - 2013
N
O
Tahun
Anggaran
Uraian Kegiatan
Kabupaten
/
Kota
Keterangan
I.
Tahun
2009
1. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Marapokot
2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Waijarang
3. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Sabu-Seba
4. Pembangunan Kapal Motor
Penyebrangan 600 GT (Lintasan Kupang
– Lewoleba)
Nagekeo
Lembata
Sabu Raijua
Tahap VII
Tahap II
Tahap I
Tahap II-Selesai
II. Tahun
2010
• Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Marapokot
• Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Waijarang
• Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Sabu-Seba
• Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Waewerang
Nagekeo
Lembata
Sabu Raijua
Flotim
Tahap
VIII-Selesai
Tahap III-Selesai
Tahap II
Tahap I
III
.
Tahun
2011
1. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Sabu-Seba
2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Waewerang
3. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Hansisi
4. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Baranusa
5. Pembangunan Kapal Motor
Penyebrangan 750 GT, Lintasan Kupang
– Ende
Sabu Raijua
Flores Timur
Kab. Kupang
Alor
Tahap III
Tahap II
Tahap I
Tahap I
Tahap I
IV
.
Tahun
2012
a. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Sabu-Seba
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
22
b. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Waiwerang
c. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Hansisi
d. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Baranusa
e. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Ndao
f. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Solor
g. Pembangunan Kapal Motor
Penyebrangan 750 GT Lintas Kupang –
Ende
h. Pembangunan Kapal Motor
Penyebrangan 750 GT, Lintasan
Waingapu-Aimere
i. Subsidi Angkutan Perintis pada Lintas
Kupang-Lewoleba & Teluk Gurita - Kiser
Flores Timur
Kab. Kupang
Alor
Rote-P. Ndao
Flores Timur
Tahap III
Tahap II
Tahap II
Tahap I
Tahap I
Tahap II
Tahap I
V
Tahun
2013
1. Lanjutan Pembangunan Dermaga
Penyebrangan Solor
2. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Sabu-Seba
3. Lanjutan Pembangunan Dermaga
Penyebrangan Waiwerang
4. Lanjutan Pembangunan Dermaga
Penyebrangan Baranusa
5. Lanjutan Pembangunan Dermaga
Hansisi
6. Lanjutan Pembangunan Dermaga
Penyebrangan Ndao
7. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Kewapante
8. Pembangunan Dermaga Penyebrangan
Palu’e
9. Pembangunan Kapal Penyebrangan 750
Flores Timur
Sabu Raijua
Flores Timur
Alor
Kab. Kupang
Rote Ndao
Sikka
Sikka
-
Tahap II
Tahap V
Tahap IV
Tahap III
Tahap III
Tahap I
Tahap I
Tahap I
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
23
GT Lintas Kupang – Hansisi
10. Rehabilitasi Dermaga Penyebrangan
Bolok, Teluk Gurita, Nangakeo, Aimere &
Waingapu
5. Pembangunan Lampu Pelabuhan
Adonara 12,50 M
6. Lanjutan Subsidi Perintis pada Lintas :
Kupang – Lewoleba & Teluk Gurita -
Kiser
Arus penumpang (naik dan turun) melalui pelabuhan penyebrangan (15 pelabuhan
penyebrangan) pada tahun 2012, sebanyak 334.034 dan tahun 2013 sebanyak 367.437
orang.
3.
Kinerja Sub Sektor Perhubungan Laut
a. Prasarana Transportasi Laut
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KP. 414 Tahun 2013 tentang
Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional, di Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini sudah
memiliki 74 (tujuh puluh empat), dimana sebelumnya hanya 42 (empat puluh dua) Pelabuhan
Laut berdasarkan Keputusan Menhub Nomor : KM.53 Tahun 2002 tentang Kepelabuhan
Nasional. Terjadi penambahan 32 (tiga puluh dua) pelabuhan. Berdasarkan hirarki dan
fungsinya Pelabuhan Laut di Nusa Tenggara Timur terdiri atas : 1 (satu) Pelabuhan Utama, 9
(sembilan) Pelabuhan Pengumpul dan 64 (enam puluh empat) Pelabuhan Pengumpul
(Regional & Lokal), adapun pelabuhan-pelabuhan tersebut yaitu :
Pelabuhan Utama
(Pelabuhan Internasional) dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih
muat dalam negeri dan internasional dalam jumlah besar, yaitu Pelabuhan Laut
Tenau Kupang. Pelabuhan laut Tenau Kupang merupakan pelabuhan peti kemas
untuk kegiatan ekspor dan impor di Nusa Tenggara Timur. Selama 5 (lima) tahun
terakhir secara bertahap terus dilakukan pengembangan dalam rangka
peningkatan kinerja pelayanan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa.
Saat ini (sejak Bulan Januari 2012) Pelabuhan Laut Tenau Kupang sudah
dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat dengan System Computeries yaitu 1 unit
Container Crane dan 2 unit Ruber Tyre Gantry (RTG). Keberadaan alat ini dapat
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
24
mempercepat kegiatan bongkar/muat, yang semula dengan menggunakan Mobile
Crane (Crane Darat) produksinya 7 – 8 box per jam sekarang produksinya
meningkat hingga mencapai 20 box per jam. Sebagai pelabuhan utama yang
melayani kegiatan ekspor dan impor, saat ini sedang dilakukan Review Rencana
Induk (Master Plan) Pelabuhan Tenau Kupang dalam mendukung MP3EI serta
pertumbuhan produksi bongkar/muat, arus kunjungan kapal dan naik/turun
penumpang yang setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Pelabuhan Pengumpul
(Pelabuhan Nasional) dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih muat
dalam negeri dalam jumlah menengah antar Provinsi, ada 9 (sembilan) yaitu :
Pelabuhan Laut Ippi, Larantuka, Labuan Bajo, Balauring, Lorens Say-Maumere,
Maritaing, Waingapu, Waiwadan dan Wini.
Pelabuhan Pengumpan (Regional dan Lokal)
Dengan skala pelayanan melayani angkutan dan alih muat dalam negeri dalam
jumlah terbatas antar Provinsi dan dalam Provinsi (antar kabupaten), ada 64
(enam puluh empat) yaitu : Pengumpan Regional, ada 13 (tiga belas), yaitu :
Pelabuhan Laut Baranusa, Kalabahi, Atapupu, Ende, Paitoko, Lembata, Reo,
Komodo, Marapokot, Seba, Wuring, Waikelo, dan Mamboro. Pengumpan Lokal,
ada 50 (lima puluh) yaitu : Pelabuhan Laut Dulionong, Kabir, Kolana, Moru,
Maurole, Pulau Ende, Lamakera, Menanga, Terong, Waiwerang, Tabilota,
Nunbaun Sabu, Batubao, Naikliu, Lewoleba, Wulandoni, Pulau Mules, Robek, Bari,
Rinca, Nangalili, Mborong, Nanga Baras, Waiwole, Pota, Riung, Aimere,
Maumbawa, Waebela, Ba’a, Batutua, Ndao, Oelaba, Papela, Biu, Raijua, Hepang,
Paga, Palue, Pemana, Sukun, Binanatu, Rua, Pero, Baing, Gonggi, Pelra
Waingapu, Pulau Salura, Boking dan Kolbano.
Pelabuhan-Pelabuhan tersebut setiap tahunnya terus dikembangkan melalui program dan
kegiatan pembangunan / peningkatan / rehabilitasi / pemeliharaan fasilitas pelabuhan laut
dengan dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan untuk peningkatan pelayanan
kepada masyarakat.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
25
Dalam kurun waktu Tahun 2008 – 2013 (5 tahun) terjadi peningkatan pembangunan
fasilitas, sarana & prasarana pelabuhan laut yaitu Pembangunan Baru, ada 19
(sembilan belas) Pelabuhan, yang sudah dapat dioperasikan ada 6 (enam) yaitu :
Pelabuhan Laut Naikliu-Kabupaten Kupang , Waiwerang-Kabupaten Flores Timur,
Lamakera – Kabupaten Flores Timur, Waiwole-Kabupaten Manggarai Timur, Pulau
Ende-Kabupaten Ende dan Komodo-Ende-Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan Pengembangan,
ada 27 (dua puluh enam) Pelabuhan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat,
serta kelancaran aktivitas embarkasi dan demarkasi.
Tabel 2.9 : Data Pembangunan Pelabuhan Laut Baru di Provinsi NTT Tahun 2008 – 2013
No
Pembangunan Pelabuhan Laut
Baru
Pembangunan Pelabuhan Laut
Baru
1.
Pelra Nunbaun Sabu (Kupang)
11. Pulau Ende (Ende)
2.
Naikliu (Kupang)
12. Ippi II (Ende)
3.
Binanatu (Sumba Barat)
13. Maurole (Ende)
4.
Mbaing (Sumba Timur)
14. Pulau Palue (Sikka)
5.
Mamboro (Sumba Tengah)
15. Waiwerang (Flores Timur)
6.
Batutua (Rote Ndao)
16. Lamakera (Flores Timur)
7.
Kolbano (TTS)
17. Tobilota (Flores Timur)
8.
Komodo (Manggarai Barat)
18. Dulionong (Alor)
9.
Reo II (Manggarai)
19. Moru (Alor)
10
.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
26
Tabel 2 :
Data Pelaksanaan Pengembangan Pelabuhan Laut di Provinsi NTT
Tahun 2008 – 2013
No
Pengembangan Pelabuhan
Laut
Pengembangan Pelabuhan
Laut
1.
Tenau Kupang (Kota Kupang)
14. Waikelo (Sumba Barat Daya)
2.
Laurens Say –Maumere (Sikka)
15. Baranusa (Alor)
3.
Waingapu Nusantara (Sumba Timur)
16. Ndao (Rote Ndao)
4.
Ende I (Ende)
17. Papela (Rote Ndao)
5.
Kalabahi (Alor)
18. Ba’a (Rote Ndao)
6.
Larantuka (Flores Timur)
19.Seba (Sabu Raijua)
7.
Wini (TTU)
20. Biu (Sabu Raijua)
8.
Atapupu (Belu)
21. Raijua (Sabu Raijua)
9.
Reo I (Manggarai)
22. Terong (Flores Timur)
10. Marapokot (Nagekeo)
23. Mananga (Flores Timur)
11. Labuan Bajo (Manggarai Barat)
24. Ippi I (Ende)
12. Wuring (Sikka)
25. Lembata I (Lembata)
13. Pelra Waingapu (Sumba Timur)
26. Maumbawa
Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan, untuk membiayai
program/kegiatan pembangunan / peningkatan sarana & prasarana transportasi laut ,
setiap tahunnya cendrung mengalami peningkatan pada Tahun 2010, sebesar : Rp. 138,
29 Milyard, meningkat menjadi sebesar : Rp. 441,03 Milyard pada Tahun 2011, pada
tahun 2012 meningkat menjadi sebesar Rp. 705,96 Milyard dan Tahun 2013 sebesar : Rp.
327,60 Milyard.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
27
b.
Sarana Angkutan Laut
Untuk menghubungan wilayah/daerah tertinggal/terpencil dan daerah
perbatasan di Nusa Tenggara Timur sudah dilayani dengan rute pelayanan
angkutan Perintis Laut. Dalam kurun waktu 2008 – 2013 5 (lima) tahun, terjadi
peningkatan pelayanan keperintisan laut melalui penambahan 4 (empat)
armada Kapal Perintis serta penambahan lokasi pangkalan dari satu
pangkalan menjadi dua pangkalan yaitu Pangkalan Kupang dan
Maumere, sehingga jarak tempuh dan lama hari suatu trayek/lintasan semakin
pendek. Dimana sebelumnya lama hari perjalanannya hingga mencapai 21 (dua
puluh satu) hari sekarang menjadi 12 hari bahkan ada yang 7 hari. Di Provinsi NTT
saat ini memiliki 6 (enam) unit Kapal Angkutan Laut Perintis yaitu Pangkalan
Kupang : R-15 (KM. Nembrala), R-16 (KM. Maumere I), R-17 (KM. Nangalala)
dan R-18 (KM. Berguna) serta Mulai Tahun Anggaran 2013 dibuka Pangkalan
Maumere : untuk melayani Lintasan Utara Flores yaitu : R-19 (KMP. Surya
Terang Dan R-20 (KMP. Nuansa Abadi). Kedepannya Sarana Angkutan Laut
Perintis di Nusa Tenggara Timur terus dikembangkan dan telah diusulkan
penambahan armada angkutan perintis laut untuk Pangkalan Sumba Timur,
melayani Wilayah Sumba dan daerah sekitarnya dan Pangkalan Atapupu untuk
melayani antar Negara khususnya dengan Timor Leste dan Provinsi Maluku
(khususnya Kiser).
Tabel 2. 10. Jaringan Sarana Angkutan Perintis Laut di Nusa Tenggara Timur tahun 2013
Pangkalan,
Kode
Trayek
Nama Kapal/
Ukuran
Jaringan Trayek dan Jarak (Mil)
Kupang : R –
15
KM. Nemberala/
350 DWT
Kupang – 72 – Ndao – 64 – Sabu – 24 – Raijua – Mbaing
– 116 – Ende – 38 – Maumbawa 26 – Waiwole – 21 –
Mborong – 112 – Waingapu – 84 – Waikelo – 84 –
Waingapu – 112 – Mborong – 21 – Waiwole – 26 –
Maumbawa – 38 – Pulau Ende – 6 – Ende – 116 – Mbaing
– 69 – Raijua – 24 – Sabu – 64 – Ndao – 72 – Kupang.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
28
Kupang : R –
16
750 DWT/GT. 480 Kupang – 64 – Naikliu – 51 – Wini – 105 Lirang – 82 –
Kisar – 15 – Romang – 26 – Leti – 10 – Moa – 28 – Lakor
– 41 – Luang P. Kelapa – 13 Sermata (Elo) – 42 – Tepa –
42 – Sermata (Elo) – 13 – Luang P. Kelapa – 41 – Lakor –
28 – Moa – 10 – Leti – 26 – Romang – 15 – Kisar – 82 –
Lirang – 105 – Wini – 51 – Naikliu – 64 – Kupang.
Kupang : R –
17
KM. Nangalala/
350 DWT
Kupang – 131 – Mananga – 24 – Lewoleba – 40 –
Balauring – 68 – Baranusa – 45 – Kalabahi – 64 – Atapupu
– 64 – Kalabahi – 45 – Baranusa – 68 – Balauring – 40 –
Lewoleba – 24 – Mananga – 131 – Kupang.
Kupang : R –
18
500 DWT/GT. 325 Kupang – 131 – Mananga – 63 – Maumere – 54 –
Marapokot – 57 – Reo – 52 – Labuan Bajo – 76 – Bima –
76 – Labuan Bajo – 52 – Reo – 57 – Marapokot – 54 –
Maumere – 63 – Mananga – 131 – Kupang.
Maumere : R
– 19
KM. Surya Terang/
750 DWT/GT. 480
Maumere – 123 – Larantuka – 12 – Waiwerang – 20
Lewoleba – 40 – Balauring – 68 – Baranusa – 45 –
Kalabahi – 72 – Maritaing – 56 – Atapupu – 132 – Kupang
(PP).
Maumere: R
– 20
KM. Nuansa Abadi/
750 DWT/GT. 480
Maumere – 39 – Palue – 54 – Maurole – 50 – Reo – 57 –
Labuan Bajo – 57 – Reo – 50 – Maurole – 54 – Palue – 39
– Maumere.
Selain di layani oleh 6 (enam) rute pelayanan angkutan perintis laut, juga dilayani oleh
Kapal-Kapal PELNI, di NTT telah dilayani oleh 7 (tujuh) Kapal PELNI (6 Lintasan Komersil dan
1 Lintasan Perintis) yaitu KM. Bukit Siguntang, KM. Sirimau, KM. Awu, KM. Willis, KM.
Pangrango, KM. Tilong Kabila dan KM. Sabuk Nusantara 31(Perintis) dengan lintasan pelayanan
masing-masing.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
29
Tabel 2.11 Sarana Angkutan (PT. PELNI) dan Lintasan Pelayanan
NO.
Armada
Trayek/Lintasan Pelayanan
1.
KM. Bukit Siguntang
Kupang – Lewoleba – Maumere – Makasar – ParePare
-Balik Papan -Tarakan - Nunukan (PP) ; Tg.Priok-
Surabaya- Makassar- Baubau- Ambon- Banda- Tual-
Fakfak- Sorong- Fakfak- Tual- Banda-Ambon-Kupang-
Surabaya- Tg.Priok.
2.
KM. Sirimau
Kijang- Blinyu- Tg.Priok- Semarang- Batulicin-
Makassar-Larantuka- Kalabahi- Kupang- Makassar-Larantuka- Makassar-
Batulicin- Semarang- Tg.Priok- Blinyu- Kijang.
3.
KM. Awu
Denpasar- Lembar - Waingapu- Ende- Kupang-
Kalabahi-Lewoleba- Maumere- Makassar- Pare-Pare- Tarakan-
Nunukan- Pare-Pare- Makassar- Maumere- Larantuka-
Lewoleba- Kupang- Ende- Waingapu-Denpasar.
4. KM.
Wilis
Kupang-Ende-Waingapu-Labuan
Bajo
– Bima-Makassar
(PP) dan Kupang – Larantuka – Maumere - Marapokot–
Makassar (PP).
4.
KM. Pangrango
Surabaya- Bima- Waingapu- Ende-Sabu-Kupang (PP)
; Ilwaki – Kisar – Leti – Tepa – Samlaki – Ambon –
Namlea – Ambon, PP.
5. KM.
Tilongkabila Denpasar- Lembar- Bima- Labuanbajo- Makassar-
Bau-Bau- Raha- Kendari- Kolonedale- Luwuk- Gorontalo-
Bitung (PP).
6. KM.
Sabuk
Nusantara
31 (Lintasan Perintis)
Kupang-Upisera-Ilwaki-Kiser-Leti-Moa-Lakor-Lelang-Tepa-Wulur-Bebar-Ambon (PP).
Arus penumpang (naik dan turun) beberapa pelabuhan laut di NTT, yaitu Tahun
2011 sebanyak 859.832 orang dan Tahun 2012 menjadi sebanyak 971.426 orang. Khusus
yang melakukan perjalanan melalui Pelabuhan Laut Tenau Kupang, arus penumpang (naik
dan turun) pada tahun 2011 sebanyak 136.973 orang meningkat menjadi 184.723 orang
pada tahun 2013. Arus Peti Kemas Tahun 2011 sebesar 56.985 Teu’s (54.751 Box)
meningkat menjadi 74.074 Teu’s (72.768 Box) pada tahun 2013.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
30
4.
Kinerja Sub Sektor Perhubungan Udara.
a. Prasarana Transportasi Udara
Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 11 Tahun 2010
tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional yang telah diubah menjadi
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 69 tahun 2013 tentang Tatanan
Kebandarudaraan Nasional. Saat ini di Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki 14
(empat belas) Bandar Udara yang terdiri dari :
Bandar Udara Internasional Regional (Kelas I) dengan tingkat pelayanan
pengumpul skala sekunder , yaitu Bandar Udara El Tari Kupang.
Bandara ini merupakan Bandara yang diusahakan yang dikelola oleh PT.
Angkasa Pura I Kupang. Selama 5 (lima) tahun terakhir Bandara ini terus
dikembangkan dan dibenahi fasilitas, sarana dan prasarananya untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Saat ini Bandar Udara El Tari
Kupang memiliki panjang landasan 2.500 meter dan lebar 45 meter sudah
didaratai pesawat berukuran besar seperti B 737-900, BOING-900 ER dan
AIRBUS A.320, yang melayani rute penerbangan dalam wilayah di Nusa
Tenggara Timur dan luar wilayah Nusa Tenggara Timur bahkan siap untuk
melayani rute penerbangan internasional Kupang – Dili – Darwin (Australia).
Bandar Udara Domestik dengan tingkat pelayanan pengumpul skala
tersier, ada 4 (empat) yaitu Bandar Udara Frans Seda (Maumere),dengan
panjang landasan sudah mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah
dilayani pesawat berukuran B 737-300; Bandara Umbu Mehang Kunda
(Waingapu), dengan panjang landasan sudah mencapai mencapai 1.850
meter dan lebar 30 meter sudah dilayani pesawat berukuran B 737-300;
Bandara H. Hasan Aroeboesman (Ende), dengan panjang landasan sudah
mencapai mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah bisa dilayani
pesawat berukuran B 737-300; dan Bandara Haliwen (Atambua); dengan
panjang landasan sudah mencapai mencapai 1.400 meter dan lebar 30
meter sudah dilayani pesawat berukuran F-50.
Bandar Udara Domestik dengan tingkat pelayanan skala pengumpan, ada
9 (sembilan) yaitu Bandar Udara Komodo (Labuan Bajo), Frans Sales Lega
(Ruteng), Tambolaka (Waikabubak), Gewayantana (Larantuka), Mali (Alor),
DC. Saudale (Rote Ndao), Tardamu (Sabu), Soa (Ngada), dan Bandar
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
31
Udara Wunopito (Lembata). Bandar Udara Komodo Labuan Bajo, dalam
rangka mendukung pelaksanaan Sail Komodo 2013, saat ini panjang
landasan sudah mencapai 1.850 meter dan lebar 30 meter sudah bisa
dilayani pesawat berukuran B 737-300, Tahun 2013 ini landasan pacu
diperpanjang 300 meter sehingga panjangnya menjadi 2.150 meter
diharapkan pada puncak pelaksanaan Sail Komodo tanggal 14 September
sudah bias digunakan dan didarati pesawat : Garuda Seri 800 serta dalam
Tahun 2014 akan diperpanjang lagi 350 meter. Sehingga nantinya panjang
landasan Bandara Komodo Labuan Bajo menjadi 2.500 meter.
Alokasi dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan, untuk membiayai
program/kegiatan pembangunan / peningkatan/rehabilitasi sarana & prasarana
transportasi udara , setiap tahunnya cendrung mengalami peningkatan pada
Tahun 2010, sebesar : Rp. 173,30 Milyard, meningkat menjadi sebesar : Rp.
226,96 Milyard pada Tahun 2011, pada tahun 2012 meningkat menjadi sebesar
Rp. 368,88 Milyard dan Tahun 2013 meningkat menjadi sebesar : Rp. 520,77
Milyard.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
32
Tabel 2.12 Data Prasarana Bandar Udara di Provinsi Nusa Tenggara Timur
No Bandar Udara Panjang Lebar Kemampuan Taxi Way
Parkir Pesawat Terminal (M²) (M) (M) (M²) (M²) 1 EL TARI / KUPANG I 2,500 45 B 737 - 900 202,5 X 23 405 X 105 2985 BOING - 900 ER AIRBUS A.320
2 FRANSEDA / MAUMERE III 1,850 30 B - 737 - 300 96 X 23 150 X 80 588 3
UMBU MEHANG KUNDA /
WAINGAPU III 1,850 30 B - 737 - 300 102 X 23 150 X 80 648 4 FRANS SALES LEGA / RUTENG III 1,500 30 F - 100 75 X 15 91 X 15 420 5 TAMBOLAKA / WAIKABUBAK III 2,010 30 B - 737 - 300 100 X 18 80 X 80 200 6 H.H. AROEBOESMAN / ENDE III 1,850 30 B - 737 - 300 75 X 15 100 X 40 370 7 KOMODO / LABUAN BAJO III 2,150 30 B - 737 - 300 100 X 18 120 X 60 540
8 TURE LELO / BAJAWA IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 60 X 40 100
9 MALI / ALOR IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 120 X 60 120
10 A.A. BERE TALLO / ATAMBUA IV 1,400 30 F - 50 75 X 15 60 X 40 120 11 GEWAYANTANA / LARANTUKA IV 1,200 30 F - 50 18 X 14 80 X 40 100 12 D.C. SAUDALE / ROTE IV 1,200 30 F - 50 75 X 15 40 X 60 120
13 TARDAMU / SABU IV 900 23 Cassa 212 75 X 15 40 X 60 120
14 WUNOPITO / LEWOLEBA IV 1,200 30 F - 50 5 X 15 57 X 40 200
Pada tahun 2008 - 2013 beberapa kegiatan pada subsektor transportasi udara yang
telah dan sedang dilakukan meliputi: perpanjangan landasan,pengembangan bandar udara,
pembangunan terminal, rehabilitasi/peningkatan fasilitas bandarudara yang melayani
penerbangan perintis dan peningkatan keandalan operasional keselamatan penerbangan
berupa peralatan telekomunikasi, navigasi dan kelistrikan terutama di bandara-bandara
kecil.
b. Sarana Angkutan Udara
Untuk melayani kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan jasa angkutan
udara, di NTT telah dilayani oleh 8 (delapan) Maskapi Penerbangan yaitu Garuda
Indoensia Airline, Merpati Nusantara Airline, Lion Airlines, Sriwijaya Airline , Trans
Nusa Air Service, SKY Aviation, City Ling, Batik Air dan Susi Air yang melayani
wilayah Kabupaten/Kota di NTT dan luar wilayah NTT sesuai dengan rute
penerbangan masing-masing.
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
33
Untuk membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil/terisolir kebijakan Kementerian
Perhubungan melalui dana APBN (DIPA) Kementerian Perhubungan memberikan
dukungan dengan Subsidi Angkutan Udara Perintis. Pada Tahun 2013 di Nusa Tenggara
Timur ada 7 (tujuh) rute penerbangan perintis angkutan udara, jumlahnya bertambah
dari tahun sebelumnya hanya 5 (lima) rute penerbangan perintis, yaitu :
Kupang – Terdamu Sabu (PP);
Kupang – Haliwen (PP);
Terdamu Sabu – Udara Umbu Mehang Kunda (PP);
Terdamu Sabu – Haji H. Areoboesman-Ende (PP);
Haliwen – Kiser (PP)
Rute tambahan TA. 2013 yaitu Kupang – Rote Ndao (PP) dan Atambua – Alor
(PP).
Tabel 2.13 Maskapai Penerbangan dan Jaringan Pelayanan di Provinsi NTT
MASKAPAI / OPERATOR RUTE FREKWENSI GARUDA : BOING 737 SERI 400, BOM BARDIR CRJ.1000 KUPANG – DENPASAR-JAKARTA; JAKARTA – DENPASAR – KUPANG JAKARTA – KUPANG KUPANG - JAKARTA SURABAYA – KUPANG (PP) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) GARUDA ATR 72 DENPASAR – TAMBOLAKA – KUPANG (PP)DENPASAR – LABUAN BAJO – ENDE – KUPANG (PP)
DENPASAR – MAUMERE – KUPANG (PP)
SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) LION AIRLINES :
BOING 900 ER
KUPANG – SURABAYA – JAKARTA JAKARTA – SURABAYA – KUPANG
SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) WINGS AIR : ATR 72 KUPANG – MAUMERE – DENPASAR (PP)
KUPANG – ENDE – LABUAN BAJO (PP) KUPANG – TAMBOLAKA – DENPASAR (PP)
SEMINGGU ( 3 X) SEMINGGU ( 3 X) SEMINGGU ( 3 X) SRIWIJAYA AIRLINES: BOING 737 SERI 300
KUPANG – SURABAYA – JAKARTA JAKARTA – SURABAYA - KUPANG
Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perhubungan Provinsi NTT Tahun 2013-2018
34
MERPATINUSANTARA
AIRLINES: BOING 737 SERI 300
JAKARTA – DENPASAR - KUPANG KUPANG – DENPASAR – JAKARTA
SETIAP HARI (1 X)
MERPATI MA. 60 KUPANG – MAUMERE (PP) KUPANG – TAMBOLAKA (PP) KUPANG – ENDE (PP) KUPANG – RUTENG (PP) KUPANG - WAINGAPU (PP) KUPANG – ALOR (PP) KUPANG – BAJAWA (PP) KUPANG - LABUAN BAJO (PP)
SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (5 X) SEMINGGU (5 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (4 X) SEMINGGU (2 X) MERPATI CASSA 212 (SUBSIDI PERINTIS)
KUPANG – SABU RAIJUA (PP) SABU RAIJUA – WAINGAPU (PP) KUPANG – ATAMBUA (PP) SABU RAIJUA – ENDE (PP) ATAMBUA – KISER (PP) ATAMBUA – ALOR (PP) KUPANG – ROTE (PP) SEMINGGU (3 X) SEMINGGU ( 1 X) SEMINGGU ( 1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SEMINGGU (1 X) SUSI AIR CESNA
CARAVAN KUPANG – SABU (PP) KUPANG – ROTE (PP) KUPANG – LARANTUKA (PP) KUPANG – ATAMBUA (PP) KUPANG – LEWOLEBA (PP) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) TRANS NUSA Bae 146
dan FOKKER 50 SERI 200 KUPANG-MAKASSAR (PP) KUPANG – MAUMERE (PP) KUPANG – ENDE (PP) KUPANG – ALOR (PP) KUPANG – BAJAWA (PP) KUPANG – RUTENG
KUPANG – LABUAN BAJO (PP) KUPANG – TAMBOLAKA (PP) KUPANG – WAINGAPU (PP) KUPANG – LARANTUKA (PP) KUPANG – LEWOLEBA (PP) SEMINGGU (3 X) SEMINGGU ( 3 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (4 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (2 X) SETIAP HARI (1 X) SEMINGGU (3 X) SETIAP HARI (1 X) SETIAP HARI (1 X) SKY AVIATION LABUAN BAJO-ENDE-KUPANG (PP)
LABUAN BAJO – DENPASAR (PP)
SEMINGGU (2 X) SETIAP HARI (1 X) CITYLINK JAKARTA – SURABAYA - KUPANG (PP) SETIAP HARI (1 X)