https://doi.org/10.32315/sem.4.009
Prosiding Seminar Struktur Dalam Arsitektur 2020 I 009 Kelompok Keahlian Teknologi Bangunan, SAPPK, Institut Teknologi Bandung
Lemuh
Struktur-Konstruksi Arsitektur Tradisional Bali Menghadapi Bencana
Gempa Bumi
A. A. Ayu Oka Saraswati
Korespondensi :[email protected]
Laboratorium Perancangan, Program Studi Arsitektur,Fakultas Teknik, Universitas Udayana Abstrak
Arsitektur Tradisional Bali (ATB) masih digunakan dan dibangun secara turun temurun oleh masyarakat Bali. Bale-ATB mampu bertahan pada saat terjadi gempa besar terakhir di Bali. Saat ini terjadi perkembangan produksi ATB yang mengubah struktur-konstruksi serta ornamen bale-ATB. Permasalahannya, bila kembali terjadi gempa besar di Bali, bale-ATB yang diproduksi tersebut, besar kemungkinannya akan jatuh. Untuk ini perlu dipelajari struktur-konstruksi ATB sebagai local genius yang tangguh. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan langsung pada sampel yang ditentukan secara acak terhadap bale-ATB yang telah berumur lebih dari 50 tahun serta alat bantu raga yang terdapat di laboratorium. Penelitian ini mengungkap detail-detail struktur-konstruksi ATB. Dengan penelitian ini struktur-konstruksi bale-ATB merupakan struktur-konstruksi yang dinamis/daktil yang pada saat terjadi gempa akan turut bergoyang. Lemuh merupakan gerakan gemulai yang terbayangkan terjadi pada bale-ATB saat terjadi gempa.
Kata-kunci: struktur-konstruksi, Arsitektur Tradisional Bali, gempa, lemuh, gemulai Pendahuluan
Arsitektur Tradisional Bali (ATB) merupakan arsitektur yang dari dahulu hingga kini masih digunakan oleh masyarakat Bali dan dibangun mengikuti aturan yang diturunkan secara turun temurun. Apakah tak ada perkembangan pada arsitektur ini? Tentu ada perkembangan. Arsitektur sebagai hasil budaya artefak masyarakat berkembang sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya. Saat ini terjadi perkembangan produksi bale-ATB yang mengubah struktur-konstruksi serta ornamen bale-ATB. Permasalahannya, bila kembali terjadi gempa besar di Bali, bale-ATB yang diproduksi tersebut, akan jatuh. Oleh sebab itu, ATB sebagai warisan leluhur hendaknya jangan hanya diterima apa adanya namun ketangguhan pengetahuan local genius ini hendaknya dipelajarai sebagai suatu ilmu yang saat ini dibicarakan dalam ilmu struktur konstruksi. Dengan demikian tujuan penelitian untuk mengungkap bahwa ATB merupakan bangunan dengan struktur konstruksi yang dinamis/daktil.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pengamatan langsung baik di lapangan maupun di laboratorium. Sampel ditentukan secara acak terhadap bale-ATB yang telah berumur lebih dari 50 tahun serta alat bantu raga Arsitektur Tradisional Bali yang terdapat di laboratorium. Penelitian berlokasi di Puri Gerenceng, Puri Pemecutan, Pura Payogan Agung serta laboratorium Arsitektur Tradisional Bali Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Data kuantitatif diperoleh dengan cara difoto, digambarkan dan dideskripsikan secara lengkap. Dengan demikian diperoleh pengetahuan tentang keaslian struktur dan konstruksi kayu ATB.
Pemahaman Struktur dan Konstruksi Pada Arsitektur Tradsional Bali.
Arsitektur Tradisional Bali (ATB) memiliki sruktur yang telah mengalami beberapa kali cobaan
Struktur-Konstruksi Arsitektur Tradisional Bali Menghadapi Bencana Gempa Bumi guncangan gempa yang cukup dasyat. Yang
terakhir disadari adalah saat Gempa Seririt 14 Juli 1976 dengan kekuatan 6,2 SR. Saat itu hanya bangunan-bangunan ATB yang bertahan masih berdiri sedangkan bangunan masyarakat lainnya yang dibangun oleh para tukang bangunan rata dengan tanah. Hal ini memberikan suatu fenomena bahwa ATB adalah arsitektur tahan terhadap gempa.
Dengan diketahui kehandalannya maka struktur dan konstruksinya perlu dipelajari. Selain itu, sudah merupakan suatu kebiasaan masyarakat bahwa setelah terjadi gempa atau setelah gempa selesai, ATB kembali diketok atau dikuatkan. Selanjutnya pemahaman tentang ATB diawali dari pondasinya.
Pada ATB dibawah saka/tiang kayu berdiri pondasi setempat yang disebut sebagai jongkok asu (seperti anjing yang jongkok yang siap menerima beban). Untuk penahan tembok dibuatkan pondasi lepas yang berupa pondasi menerus sekeliling bangunan yang menumpu tembok dan tepian lantai serta teritisan air hujan. Di atas jongkok asu diletakkan sendi yang berlubang di atasnya. Pada lubang sendi ini dimasukkan saka yang berpurus. Saka ini tidak direkatkan, namun hanya di letakkan (Gambar 1).
Gambar 1. Sendi yang menumpu saka/tiang kayu.
Saka hanya diletakkan pada sendi tanpa direkatkan. Selanjutnya dibicarakan tentang saka/tiang kayu. ATB memiliki berbagai tipologi bale/bangunan dengan jumlah saka yang bervariasi dan varian nama yang berbeda-beda. Sebagian darinya bernama bale sakapat, sakanem, sakutus, singasari, bale gede, bale gunung rata, bale lantang hingga bale wantilan.
Saka pada umumnya berbentuk segi empat sama sisi, namun untuk beberapa lumbung dan wantilan ditemukan saka kayu berdimensi bulat. Pada sebagian saka dilengkapi dengan canggahwang; papan sebagai pengaku segitiga yang acapkali berukir (Gambar 2). Pada bangunan ATB yang kecil seperti bale sakanem (dengan 6 tiang) antara saka dengan saka dikuatkan oleh sunduk atas.
Gambar 2. Saka sebagai unsur struktur dan
konstruksi yang menyalurkan gaya. Canggahwang di kiri dan kanan saka, selain menyalurkan gaya juga sebagai segitiga pengaku menstabilkan gaya.
Lokasi: Puri Gerenceng–Kota Denpasar Sumber: Saraswati dkk, 2017
Selain canggahwang dan sunduk atas, juga dikenal pemakaian ornamen kapu-kapu untuk menghias kepala tiang. Ornamen daun kapu-kapu juga berfungsi sebagai segi tiga pengaku yang turut menstabilkan struktur. Ornamen hiasan kepala tiang ini mengecilkan kepala tiang, namun hanya sedikit, hanya untuk tempat tumpuannya saja. Berbeda dengan ornamen kencut yang dibicarakan selanjutnya, yang membuat kepala tiang sangat kurus.
Gambar 3. Saka dengan canggahwang serta ornamen kapu-kapu yang juga sebagai segitiga pengaku untuk menstabilkan gaya.
Pada puncak-puncak saka terhubung oleh balok lambang dan terakhir balok sinep. Balok lambang dan sinep yang diposisikan tidur disatukan dengan lait sehingga perletakkan dudukan usuk/kaso ini menjadi lebar yang lebih menjauh dari bangunan (Gambar 4). Puncak saka pinggir-bucu (yang terletak di sekeliling bangunan di daerah bucu/pojok) memiliki 3 cengkraman jari dan saka pinggir-tengah memiliki 2 cengkraman jari (Gambar 5). Berbeda dengan saka tengah-tengah. Saka tengah-tengah dihias dengan sangat indah dan sangat berani. Terdapat kencut yang mengolah kepala saka menjadi berpenampang 2 kali 2 cm persegi. Kencut berbentuk sangat indah. Pada kepala tugeh/saka atas juga terdapat kencut (Gambar 6). Pada beberapa saka tengah-tengah, dilengkapi dengan canggahwang yang menumpu lambang melayang. Disebut lambang melayang karena tidak terdapat saka/tiang di bawahnya (Gambar 7).
Gambar 4. Balok lambang dan balok sinep yang
diposisikan tidur dan disatukan dengan lait. Balok perletakkan dudukan usuk/kaso ini menjadi lebar.
Gambar 5. Bentuk sambungan puncak saka/tiang
pada saka pinggir-pojok/bucu dan saka pinggir-tengah. Sinep Baji
Struktur-Konstruksi Arsitektur Tradisional Bali Menghadapi Bencana Gempa Bumi
Gambar 6. Hiasan kencut yang mengolah bagian
bagian kepala saka menjadi berpenampang 2 kali 2 cm persegi.
Lokasi: Lab Arsitektur Tradisional Bali Prodi Arsitektur Unud (kiri), Puri gerenceng – Kota Denpasar (kanan) Sumber: Saraswati dkk, 2017
Gambar 7. Hiasan kencut dan canggahwang pada
saka tengah-tengah yang menunpu lambang melayang
Berbicara perihal bagian atap, pembicaraan sangat menarik bila diawali dengan pengunci
bernama petaka (Gambar 8, 10) yang berbentuk segi empat sama sisi atau dedeleg yang berbentuk persegi empat panjang (Gambar 11). Dengan pengunci di puncak atap, struktur atap ATB menyerupai payung. Struktur payung memberikan gambaran bahwa gaya/beban disalurkan ke saka pinggir sedangkan di bawah puncak tak ada gaya/beban yang terbentuk. Dengan kondisi ini, undagi sangat berani berakrobat. Terlihat dari tugeh/saka atas yang sangat ramping serta kencut di bagian kepala tugeh ataupun kencut pada kepala saka tengah-tengah.
Gambar 8. Ragam hias/ornamen pada petaka di
puncak atap dilihat dari bawah ke atas. Lokasi: Wantilan Pura Payogan Agung, Gianyar Sumber: Saraswati, 2004
Gambar 9. Perspektif interior Bale Gede/ATB dengan
petaka di puncak atap, kencut dan tugeh di bawahnya serta saka tengah-tengah yang berhiaskan kencut. Balok iga-iga/usuk/kaso, balok pemade dan balok Dimensi saka 2x2 CM2
pemucu dijepit oleh apit-apit sehingga menyatu sebagai bidang.
Gambar 10. Petaka berbentuk segi empat sama sisi,
sebagai konstruksi pengunci pada struktur atap bangunan ATB. Tidak ada gaya yang disalurkan ke tugeh.
Lokasi: Puri Gerenceng – Kota Denpasar Sumber: Saraswati dkk, 2017
Pengunci dipuncak atap baik berupa petaka ataupun dedeleg, merupakan tempat masuk balok pemade (balok tengah) dan balok pemucu (jurai/balok di sudut atap). Diantara balok-balok tersebut dijejerkan balok usuk/kaso. Balok usuk dengan balok pemade dan pemucu dijepit dengan apit-apit sehingga usuk-usuk dan balok menyatu sebagai bidang (Gambar 9). Apabila terjadi gempa bidang yang balok pemade dan pemucu di pucak atap akan turut bergoyang. Selanjutnya balok-balok ini di sisi bawah diberikan baji menusuk hingga ke balok sinep. Baji ini harus dari kayu yang sangat kuat, biasanya dari kulit batang pohon palem, kayu uyung, kayu seseh atau pangkal batang bambu. Sambungan ini mati tidak bergerak saat gempa.
Gambar 11. Dedeleg berbentuk segi empat panjang,
sebagai konstruksi pengunci pemade dan pemucu. Lokasi: Lab Arsitektur Tradisional Bali Prodi Arsitektur Unud Foto: Saraswati
Pada bangunan ATB, setiap terjadi gempa besar, merupakan kebiasaan masyarakat melakukan pemukulan lait untuk merapatkan sambungan-sambungan konstruksi yang melonggar atau bergerak naik pada saat bangunan bergoyang. Masyarakat juga menyebut bangunan “lemuh” bergoyang dengan serasi saat terjadi gempa.
Gambar 12. Lait yang dipukul/diketok bila ditemukan
pelonggaran setelah terjadi gempa besar. Lokasi: Puri Gerenceng – Kota Denpasar Foto: Saraswati
Kesimpulan
Dari penelitian dengan pengamatan langsung di lapangan dan di laboratorium, diperoleh keaslian struktur dan konstruksi kayu Arsitektur Tradisional Bali yang “lemuh” pada saat menghadapi gempa bumi.
Daftar Pustaka
Gelebet, dkk. (1986). Arsitektur Tradisional Daerah Bali, Denpasar, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan
Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons. Inc. Saraswati, A. A. Ayu. (2004). Wantilan. Denpasar,
Penerbit Universitas Udayana.
Saraswati, A. A. Ayu. (2005). Tipologi Bale Daja Dan Bale Dangin Pada Umah Tradisional Bali (dalam Petaka Kencut Tugeh lubang tempat masuk balok pemade lubang tempat masuk balok pemucu/jurai lubang tempat masuk balok pemucu/jurai Canggahwang Lait Canggahwang
Struktur-Konstruksi Arsitektur Tradisional Bali Menghadapi Bencana Gempa Bumi Menuju Harmoni Arsitektur Hunian Di Bali), Ikatan
Arsitek Indonesia - Bali.
Saraswati, A. A. Ayu. (2007). Bale Kulkul. Denpasar, Penerbit Universitas Udayana.
Saraswati, A. A. Ayu. (2008). Transformasi Arsitektur Bale Daja (dalam Jurnal Teknik Arsitektur Dimensi), Surabaya, Universitas Kristen Petra
Saraswati, A. A. Ayu. dan Surata, I Nyoman (2008). Tipologi Lumbung Bali, Laporan Penelitian Universitas Udayana, Tidak diterbitkan
Saraswati, A. A. Ayu. dkk (2017). Kajian Identitas Arsitektur Tradisional Bali di Kota Denpasar. Denpasar, Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Denpasar.
Saraswati, A. A. Ayu. (2017). Bale Tumpang Salu Pada Bangunan Umah Di Desa Sidatapa – Singaraja, Proseding Seminar Arsitektur dan Tata Ruang. Denpasar, Penerbit Universitas Udayana.
Tampilan petaka berbentuk segi empat sama sisi sebagai konstruksi pengunci pada struktur atap bangunan ATB (dilihat dari bawah). Di bawah petaka terdapat kencut dan tugeh yang sangat langsing.