2.1 Definisi Pemasaran
Pemasaran berasal dari kata pasar yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli. Apa yang dipasarkan itu adalah barang dan jasa. Memasarkan barang tidak berarti hanya menawarkan barang atau menjual, tetapi mengandung makna yang lebih luas. Didalamnya mencangkup berbagai kegiatan seperti membeli, menjual dengan segala macam cara, menyangkut barang, menyimpan dan mensotir dan lain sebagainya. Di dalam pemasaran, usahan ini biasa dikenang sebagai fungsi-fungsi pemasaran. Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, berkembang untuk mendapatkan laba. Kegiatan pemasaran dirancang untuk member arti melayani dan memuaskan kebutuhan konsumen yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang pengertian pemasaran.
Menurut Kurzt (2008), pemasaran adalah fungsi organisasi dan sebuah proses
untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan mengirim nilai untuk konsumen dan mengatur hubungan dengan konsumen sebagai cara menguntungkan perusahaan dan juga pihak berkepentingan.
Menurut Kotler & Lane (2009:13) mendefinisikan pemasaran sebagai
suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan produk lain. Dan dari pemasaran ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk atau jasa itu cocok dengan pelanggan dan selanjutnya menjual dirinya sendiri.
Kegiatan pemasarn dulunya hanya dikenal dengan kegiatan distribusi dan penjualan saja. Tetapi sekarang kegiatan itu menjadi lebih luas dari sekedar distribusi dan penjualan yaitu menyangkut bagaimana cara suatu perusahaan di dalamnya menganalisi perilaku konsumen, menarik konsumen dan meningkatkan efektivitas di dalam kegiatan pemasaran. Karena pemasaran mencakup seluruh kegiatan yang mewujudkan kerja yang baik melalui pasar, yaitu dengan cara mewujudkan kebutuhan dan keinginan manusia (konsumen).
Fakta yang mewujudkan bahwa manusia mempunyai kebutuhan dan keinginan dan dapat memberikan nilai pada produk, tidaklah dapat memberikan definisi tentang pemasaran dengan sempurna. Para ahli memberikan definisi-definisi yang berbeda mengenai pemasaran, walaupun pada dasarnya definisi-definisi yang diberikan itu mengandung prinsip yang sama.
Dari definisi-definisi diatas dijelaskan bahwa pemasaran didefinisikan dengan bahasa yang berbeda-beda tetapi bila kita perhatikan definisi yang diberikan oleh para ahli itu mempunyai prinsip yang sama. Di dalam definisi tersebut terkandung unsure-unsur sebagai berikut:
Unsur pemenuh keinginan dan kebutuhan Unsur pertukaran
Unsur efisien
Unsur pencapaian tujuan
Dapat pula dikatakan bahwa pemasaran dimulai sebelum barang-barang diproduksi, sehingga keputusan-keputusan didalam pemasaran harus dibuat untuk menentukan jenis produk, penetapan harga, distribusi dan promosinya. Pemasaran sebagai salah satu pokok suatu perusahaan untuk dapat bertahan hidup kemudian berkembang serta memperoleh laba, harus pula memperhatikan pelayanan kepada pelanggan atau konsumen. Hal yang perlu disadari juga adalah pemasaran bukan semata-semata untuk menjual barang atau jasa saja. Hal ini disebabkan karena kegiatan yang dilakukan sebelum dan sesudah juga yang merupakan kegiatan pemasaran.
2.2 Produk
2.2.1 Pengertian Produk
Pengertian produk (product) menurut Kotler dan Keller (2009;448) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan kegiatan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar.
Menurut Kotler & Keller (2007;6) produk dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya yaitu:
1. Barang Tidak Tahan Lama
Barang tidak tahan lama yaitu barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari 1 tahun.
2. Barang Tahan Lama
Barang tahan lama merupakan barang yang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah 1 tahu atau lebih).
3. Jasa (Service)
Merupakan produk-produk yang tidak berwujud, tidak terpisahkan, dan mudah habis. Akibatnya produk ini biasanya memerlukan pengendalian mutu, kreadibilitas pemasok dan kemampuan penyesuaian yang lebih tinggi.
Sedangkan jenis produk yang dibeli konsumen menurut Kotler & Keller
(2007;7) sebagai berikut:
1. Barang sehari-hari
Barang-barang yang biasanya sering dibeli pelanggan dengan cepat dan dengan upaya yang sedikit.
2. Barang Toko
Barang-barang yang biasanya dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, gaya dalam proses pembelian dan pemilihan.
3. Barang Khusus
Mempunyai ciri-ciri atau identifikasi merek yang unik dan karena itulah cukup banyak pembeli bersedia melakukan upaya pembelian yang khusus.
4. Barang yang tidak dicari
Barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau biasanya tidak terpikir untuk membelinya.
2.3 Kualitas Produk
2.3.1 Pengertian Kualitas Produk
Menurut Kotler and Armstrong (2012:283) arti dari kualitas produk adalah Kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan seorang pelanggan yang membeli atau menggunakan barang atau jasa tersebut. Kualitas produk ini juga merupakan penilaian terhadap suatu produk, kualitas produk berkaitan dengan pengorbanan yang dikeluarkan pelanggan relatif terhadap apa yang akan diterimanya.
Kualitas merupakan totalitas fitur dan karakteristik yang yang mampu memuaskan kebutuhan, yang dinyatakan maupun tidak dinyatakan, kualitas mencakup pula daya tahan produk, kehandalan, ketepatan, kemudahan operasi dan
perbaikan, serta atributatribut nilai lainnya. Beberapa atribut itu dapat diukur secara obyektif. Dari sudut pandangan pemasaran, kualitas harus diukur sehubungan dengan persepsi kualitas para pembeli (Kotler dan Keller, 2007).
Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standarisasi kualitas. Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan. Pemasar yang tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun akan cenderung menurun. Jika pemasar memperhatikan kualitas, bahkan diperkuat dengan periklanan dan harga yang wajar maka konsumen tidak akan berpikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap produk (Kotler dan Amstrong, 2008).
2.3.2 Dimensi Kualitas Produk
Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008) adalah:
a. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik produk.
b. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk
yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk.
c. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
d. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
e. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan
bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
f. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan
produk.
g. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil
dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas cproduk yang bersangkutan.
h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi,
2.4 Harga
2.4.1 Pengertian Harga
Harga merupakan salah satu factor penentu dalam pemilihan merek yang berkaitan dengan keputusan pembelian. Ketika memilih diantara merek-merek yang ada konsumen akan mengevaluasi harga secara tidak absolute dengan membandingkan beberapa standar harga sebagai referensi untuk melakukan transaksi pembelian. Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2009 : 67) Harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Mungkin Harga adalah elemen termudah dalam program pemasaran untuk di sesuaikan: fitur produk, saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan lebih banyak waktu. Harga juga mengkomunikasikan positioning nilai yang dimaksud dari produk atau merek perusahaan ke pasar. Produk yang dirancang dan dipasarkan dengan baik dapat dijual dengan harga tinggi dan menghasilkan laba yang besar.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:314) mengatakan bahwa harga merupakan jumlah uang yang dibebankan untuk produk atau jasa, atau lebih jelasnya adalah jumlah dari semua nilai yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan sebuah manfaat dengan memiliki atau menggunakankan sebuah produk atau jasa.
Dari definisi diatas bahwa harga adalah unsur penting dalam perusahaan dimana dengan adanya harga maka perusahaan akan mendapatkan income bagi keberlangsungan perusahaan. Selain itu, harga juga merupakan alat yang nantinya dijadikan proses pertukaran terhadap suatu barang atau jasa oleh konsumen.
2.4.2 Metode Penetapan Harga
Menurut Kotler dan Keller (2009;83) ada enam metode penetapan harga, berikut penjelasan:
1. Penetapan Harga Markup
Metode penetapan harga yang paling mendasar adalah menambah markup standar ke biaya produk. Sampai saat ini penetapan harga markup masih popular karena penjual dapat menentukan biaya jauh lebih mudah daripada memperkirakan permintaan, kemudian harga cenderung sama dan pesaing harga terminimalisasi ketika perusahaan dalam industri menggunakan metode ini, dan terakhir banyak orang merasa bahwa penetapan harga biaya plus lebih adil bagi pembeli dan penjual.
2. Penetapan harga tingkat pembelian sasaran
Perusahaan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pembelian atas investasi sasarannya.
3. Penetapan harga nilai anggapan.
Nilai anggapan terdiri dari beberapa elemen seperti citra pembeli akan kinerja produk, kemampuan penghantar saluran, kualitas jaminan, dukungan pelanggan, dan atribut yang kurang dominan seperti reputasi pemasok, keterpercayaan dan harga diri.
4. Penetapan harga nilai
Metode yang menciptakan harga murah kepada konsumen untuk menarik perhatian konsumen dengan tidak mengabaikan kualitas produk perusahaan.
5. Penetapan harga going-rate
Perusahaan mendasarkan sebagian besar harganya pada harga pesaing. Mengenakan harga yang sama, lebih mahal atau lebih murah dibandingkan harga pesaing utama.
6. Penetapan harga jenis lelang
Penetapan harga jenis lelang dilakukan untuk membuang persedian lebih atau barang bekas.
2.4.3 Tujuan Penetapan Harga
Tujuan yang ditetapkannya harga menurut Adrian Payne (dalam buku
Rambat & Hamdani , 2008) :
Bertahan
Bertahan merupakan usaha untuk tidak melakukan tindakan yang meningkatkan laba ketika perusahaan sedang mengalami kondisi pasar yang tidak menguntungkan. Usaha ini dilakukan demi kelangsungan hidup perusahaan.
Memaksimalkan Laba
Penentuan harga untuk memaksimalkan laba dalam periode tertentu.
Memaksimalkan Penjualan
Penentuan harga bertujuan untuk membangun pangsa pasar dengan melakukan penjualan pada harga awal yang merugi.
Prestise
Tujuan penetapan harga disini adalah untuk memposisikan jasa perusahaan tersebut sebagai produk yang ekslusif.
Pengembangan atas Investasi
Tujuan penetapan harga disini didasarkan atas pencapaian pengembalian atas investasi yang diinginkan.
2.4.4 Persepsi Harga
Menurut Schifman dan Kanuk dan Radix (2010) harga dikatakan mahal, murah atau biasa-biasa saja dari setiap individu tidaklah harus sama, karena tergantung persepsi individu yang dilatar belakangi oleh lingkungan kehidupan dan kondisi individu.
Dalam memandang suatu harga konsumen mempunyai beberapa pendangan berbeda. Harga yang ditetapkan di atas harga pesaing dipandang
mencerminkan kualitas yang lebih baik atau mungkin juga dipandang sebagai harga yang terlalu mahal. Sementara harga yang ditetapkan di bawah harga produk pesaing akan dipandang sebagai produk yang murah atau dipandang sebagai produk yang berkualitas rendah.
Dari sudut pandang produsen, harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapat bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsure lainnya (produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya pengeluaran.
2.4.5 Perilaku Harga
Menurut Danang Sunyoto (2015;179) ada dua jenis perilaku yang memiliki relevansi khusus dengan variabel harga yaitu akses dana dan transaksi.
1) Akses Dana
Ada beberapa cara konsumen dapat mengakses dana, yaitu:
a. Sebagian konsumen membawa sejumlah uang tunai untuk membayar pembelian dalam jumlah kecil. Pasokan uang tunai tersebut ndapat diisi kembali sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.
b. Sebagai konsumen juga membawa buku cek, jika tiba-tiba mereka membutuhkan jumalh uang yang cukup besar. c. Jutaan orang Amerika membawa kartu kredit untuk
kredit cukup tinggi. Metode mengakses dana ini sangat popular.
2) Transaksi
Pertukaran dana untuk mendapatkan produk atau jasa biasanya hanyalah sebuah transaksi yang relative sederhana. Kegiatan tersebut biasanya meliputi penyerahan uang tunai, mengisi buku cek, menandatangani lembar kredit atau menandatangani lembar kredit atau menandatangani sebuah kontrak kredit dan sejumlahnya diikuti dengan pelaksanaan pembiayaan.
2.4.6 Dimensi Harga
Menurut Kotler dan keller (2009:63) menyatakan bahwa dimensi terdiri dari :
a. Daftar harga (list price)
Data harga adalah informasi mengenai harga produk yang di tawarkan agar konsumen mempertimbangkan untuk membeli. b. Rabat atau Diskon (discount)
Diskon adalah tingkat diskon atau potongan harga yang diberikan penjuual kepada konsumen.
c. Potongan harga khusus (allowance)
Potongan harga khusus oleh potongan harga yang diberikan produsen atau penjual kepada konsumen pada saat even tertentu. d. Priode pembayaran
Periode pembayaran adalah kemudahan pembayaran yang di berikan penjual terhadap konsumennya berupa kelonggaran jangka waktu pembayaran yang dilakukan konsumen dalam transaksi pembelian.
e. Syarat kredit (credit term)
Syarat kredit adalah sistem pembayaran secara kredit yang di berikan produsen/penjual terhadap konsumen dalam jangka waktu yang telah di tentukan dengan tambahan pembayaran berupa bunga yang harus di bayar.
2.5 Keputusan Pembelian
2.5.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Suatu keputusan dapat dibuat hanya jika ada beberapa alternatif yang dipilih. Apabila alternatif pilihan tidak ada maka tindakan yang dilakukan tanpa adanya pilihan tersebut tidak dapat dikatakan membuat keputusan. Menurut
Kotler dan Armstrong (2008:181), keputusan pembelian konsumen adalah
membeli merek yang paling disukai dari berbagai alternatif yang ada, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor yang kedua adalah faktor situasional. Oleh
karena itu, preferensi dan niat pembelian tidak selalu menghasilkan pembelian yang aktual.
Keputusan pembelian adalah suatu alasan tentang bagaimana konsumen menentukan pilihan terhadap pembelian suatu produk yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan serta harapan, sehingga dapat menimbulkan kepuasan atau ketidak puasan terhadap produk tersebut yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya keluarga, harga, pengalaman, dan kualitas produk. (Mustafid &
Gunawan, 2008).
2.5.2 Proses Keputusan Pembelian
Menurut kotler dan Keller (2009) Proses Pengambilan Keputusan yang spesifik terdiri dari urutan kejadian berikut :
Gambar 2.1 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Sumber : Menurut Kotler dan Keller (2009)
Secara rinci proses tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah
Proses membeli dengan pengenalan masalah atau kebutuhan pembelianj menyadari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan yan g diingkanya. Kebutuhan ini dapat di gerakan oleh
Perilaku Pasca Pembelian Keputusan Pembelian Mengenali Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif
b. Pencarian informasi
Konsumen mungkin tidak berusaha secara aktif dalam mencari informasi sehubungan dengan kebutuhanya. Seberapa jauh orang tersebut mencari informasi yang dimiliki, kemudahan informasi, tambahan dan kepuasan yang diperoleh dari kegiatan mencari informasi. Biasanya jumlah kegiatan mencari informasi meningkat ketika konsumen bergerak dari keputusan situasi pemecahan masalah yang terbatas ke pemecahan masalah yang maksimal.
c. Evaluasi Alternatif
Informasi yang di dapat dari calon pembeli digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai masalah-masalah alternative. Produsen harus berusahan memahami cara konsumen mengenal informasi yang diperoleh dan sampai pada sikap tertentu mengenai produk promosi dan keputusan untuk pembeli.
d. Keputusan pembelian
Produsen harus memahami bahwa konsumen mempunyai cara sendiri dalam menangani informasi yang diperolehnya dengan membatasi alternative yang harus dipilih dan di evaluasi untuk menentukan produk nama yang akan dibeli.
e. Perilaku pasca pembelian
Apabila barang yang di beli tidak memberikan kepuasan yang diharapkan, maka pembeli akan merubah sikapnya terhadap merek berang tersebut menjadi sikap negative bahkan mungkin akan menolak dari daftar pilihan. Sebaiknya konsumen mendapat kepuasan dari barang yang dibelinya maka keinginan untuk membeli terhadap merek barang tersebut cenderung menjadi lebih kuat.
2.5.3 Tipe-tipe Keputusan Konsumen
Menurut Danang Sunyoto (2015;86) tipe keputusan konsumen ada 2 yaitu keputusan asortimen dan keputusan yang berkaitan dengan pasar.
1. Keputusan-Keputusan Asortimen
Asortimen barang-barang dan jasa-jasa demikian normal mencakup sejumlah klasifikasi seperti: transportasi, rumah, perlengkapan rumah, pangan, sandangan, rekreasi dan keamanan. Disebabkan oleh karena kebanyakan konsumen memiliki sumber-sumber daya financial terbatas, maka mereka tidak mungkin membeli segala sesuatu yang mereka inginkan. Akibatnya adalah bahwa mereka harus mengambil keputusan-keputusan strategic tentang bagaimana mereka akan berupaya mengalokasi suberdaya mereka dialternatif yang tersedia.
2. Keputusan-Keputusan yang berkaitan dengan Pasar
Keputusan yang berkaitan dengan pasar merupakan keputusan yang dengan produk dan merek yang diperlukan untuk mengimplementasikan sebuah strategi asortimen. Keputusan tentang apa yang akan dibeli merupakan langkah pertama dalam pembentukan asortimen dan hal tersebut membutuhkan tindakan untuk menyisihkan produk-produk tertentu yang akan dibeli. Hal tersebut menyebabkan timbulnya pertimbangan mengenai harga, citra, pelayanan, jaminan dan akhirnya pembelian merek tertentu.
2.5.4 Struktur Keputusan Pembelian
Penjual perlu menyusun struktur keputusan membeli secara keseluruhan untuk membantu konsumen dalam mengambil keputusan tentang pembelian. Setiap keputusan membeli mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh. Dimensi Keputusan Pembelian menurut Danang Sunyoto (2012;278) adalah:
Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembeliannya. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatian kepada orang-orang yang berminat untuk membeli suatu produk serta alternative lain yang mereka pertimbangkan.
Keputusan tentang bentuk produk
Keputusan ini menyangkut ukuran, mutu, corak dan sebagainya. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk bersangkutan agar dapat memaksimalkan daya tarik mereknya.
Keputusan tentang merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
Keputusan tentang penjualan
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk tersebut akan dibeli. Dalam hal ini produsen, pedagang besar dan pengecer baru mengetahui bagaimana memilih penjual tertentu.
Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat.
Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyak produk sesuai dengan keinginan yang berbeda dari para pembeli.
Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. Masalah ini akan menyangkut dengan uang. Oleh karna itu perusahaan harus mengetahui factor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam penentuan waktu pembelian.
Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang akan di beli. Keputusan tersebut akan mempengaruhi keputusan tentang penjual dan jumlah pembeliannya. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui keinginan pembeli terhadap cara pembayarannya
2.6 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Peneliti Tahun Judul
Penelitian
Hasil Penelitian
Heri Setiawan 2012 Pengaruh Harga dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Motor Matic Beat (Studi Kasus pada PT. Nusantara Solar Sakti)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengaruh harga dan kualitas produk terhadap keputusan pelanggan untuk membeli Honda Beat Scootermatic yang
terletak di Jalan MP. Mangkunegara No.91 Palembang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui yang mana diantara variabel harga dan kualitas produk berpengaruh terhadap keputusan pelanggan untuk membeli Honda Beat Scootermatic tersebut yang paling dominan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan kuesioner pada 86 pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien determinasi (adjusted R square) adalah 6,25% dan 21,16% dan sisanya adalah dipengaruhi oleh variabelities lain yang
tidak disebutkan dalam penelitian ini. Nilai uji Ttest menunjukkan bahwa kualitas
produk dominan, dan harga tidak mempengaruhi
Keputusan pelanggan itu. Dengan demikian, hasil analisis ini menunjukkan bahwa PT Nusantara Sakti
harus menjaga stabilitas harga mereka terutama dalam meningkatkan strategi untuk memberikan
harga terjangkau karena bisa mempengaruhi orang untuk membeli Honda Matic.
Aditya Nizar 2014 Pengaruh Kualitas Produk Smartphone Samsung berbasis Android terhadap Kepuasan Konsumen
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penilaian konsumen terhadap kualitas produk smartphone Samsung Galaxy S4, bagaimana kepuasan konsumen terhadap produk smartphone Samsung Galaxy S4 serta untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan smartphone Samsung Galaxy S4 di Bandung. Penelitian ini
dalam menggunakan Produk Samsung Galaxy S4 di Kota Bandung
memiliki satu variabel bebas yaitu kualitas produk yang terdiri dari delapan sub variabel yaitu kinerja, fitur, reliabilitas, kesesuaian dengan spesifikasi, daya tahan, serviceability, estetika, dan persepsi kualitas. Pada variabel terikat yaitu kepuasan konsumen, juga memiliki delapan indikator yaitu kinerja, fitur, keandalan, kesesuaian, daya tahan, serviceability, estetika, dan persepsi kualitas. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kausal. Pengumpulan data diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner kepada 400 responden yang merupakan konsumen smartphone Samsung Galaxy S4 di Bandung. Penelitian ini menggunakan teknik analisis koefisien regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan software statistik yaitu SPSS versi 20.0. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa responden memberikan respon yang baik terhadap kualitas produk Samsung Galaxy S4.
Responden pada penelitian ini merasa puas dalam menggunakan produk Samsung Galaxy S4. Dari hasil pengujian hipotesis, diketahui bahwa terdapat pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan smartphone Samsung Galaxy S4 di Bandung. Hasil dari perhitungan uji R yang telah dilakukan dengan menggunakan SPSS didapatkan nilai Adjusted R Square adalah 0,674, yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari variabel kualitas produk terhadap variabel kepuasan konsumen sebesar 67,4%. Hasil dari pengujian hipotesis secara simultan yang telah dilakukan dengan menggunakan SPSS, dapat diketahui bahwa tingkat signifikansi (Sig) penelitian sebesar 0,000b , dapat disimpulkan bahwa 0,000b < 0,05 sehingga H1 dapat diterima, yang berarti bahwa terdapat pengaruh dari kualitas produk smartphone Samsung Galaxy S4
terhadap kepuasan konsumen di Bandung. Dengan membandingkan nilai Ftabel (1,96) dan Fhitung (103,97) maka Ftabel < Fhitung, dan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk smartphone Samsung Galaxy S4 terhadap kepuasan konsumen di Bandung
Puji Isyanto 2012 Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Handphone Blackberry pada Mahasiswa Ekonomi Universitas Singaperbang sa Karawang
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, menganalisis, dan menjelaskan kualitas produk dan keputusan pembelian handphone blackberry, serta untuk mengetahui apakah kualitas produk berpengaruh positif pada keputusan pembelian. Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriftif dan asosiatif. Data primer diperoleh dengan cara menyebarkan kuisioner kepada 177 responden. Tehnik pengolahan data untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian menggunakan analisis korelasi Product Moment serta analisis koefisien
determinasi. Ferry Wibowo 2012 Pengaruh Iklan Televisi dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Sabun Lux
Analisis yang telah diterapkan di ini studi adalah analisis regresi linier berganda. Studi ini telah dilakukan dengan Teknik convinence sampling 110 konsumen yang mengunjungi mega Bekasi Hypermall, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner yang diolah dengan SPSS 19. Menurut penelitian yang hasil uji t pada variabel iklan televisi adalah 2.965 dengan nilai yang signifikan dari 0.004, yang berarti bahwa iklan televisi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Selain itu, uji t hasil pada variabel harga adalah 3.678 dengan nilai signifikan sebesar 0,000, yang berarti bahwa harga memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Sedangkan, hasil uji F dua variabel iklan televisi dan harga 9087 dengan nilai signifikansi 0000. Angka-angka tersebut descibes bahwa iklan televisi dan harga
simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Selain itu, F uji R2 nilai yang dihasilkan dari penelitian ini adalah 0,145 atau 14,5%. Nilai ini menggambarkan iklan televisi dan pengaruh harga pada keputusan pembelian sebagai
14,5%. Fifyanita Ghanimata 2012 Analisis pengaruh Harga, Kualitas Produk dan Lokasi terhadap Keputusan Pembelian (Study Kasus pada pembeli Produk Bandeng Juwana Elrina Semarang)
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah atau sering datang pada Bandeng Juwana Elrina Semarang. Sampel dalam penelitian ini adalah 80 responden dan teknik digunakan adalah teknik pengambilan sampel non-probabilitas dengan pendekatan accidental sampling (pengambilan sampel berdasarkan kesempatan). Metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif regresi berganda analisis. Analisis ini meliputi: validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, beberapa analisis regresi, pengujian hipotesis dengan uji t dan uji F,
dan analisis koefisien determinasi (R2). Variabel lokasi memiliki pengaruh paling besar terhadap keputusan pembelian untuk 0329, diikuti oleh kualitas variabel produk sebesar 0.323. Sedangkan variabel harga memiliki pengaruh terendah dibandingkan dengan variabel lain untuk 0242. Pengujian hipotesis dengan menggunakan t tes menunjukkan bahwa tiga variabel independen adalah harga (X1), kualitas produk (X2), dan lokasi (X3) yang diselidiki terbukti positif dan signifikan mempengaruhi variabel dependen adalah pembelian Keputusan (Y). Kemudian melalui uji F dapat dilihat bahwa variabel harga, kualitas produk, dan lokasi yang layak untuk menguji keputusan pembelian tergantung. Adjusted R Square menjelaskan angka bahwa 62,3% dari keputusan pembelian variasi dapat dijelaskan oleh ketiga variabel independen dalam beberapa persamaan regresi. Sedangkan sisanya dari 37,7% dijelaskan
oleh variabel lain di luar
tiga variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
2.7 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan mengenai variabel Kualitas Produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian, maka kerangka pemikiran yang diajukan dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
H1
H3
H2
Sumber: yang dikembangkan untuk penelitian ini Kualitas Produk (X1) Harga (X2) Keputusan Pembelian (Y)
2.8 Hipotesis
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka perumusan hipotesis disusun sebagai berikut:
H1 : Terdapat pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian
Hand & Body Lotion Citra
H2 : Terdapat pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian
Hand & Body Lotion Citra
H3 : Terdapat Pengaruh Kualitas Produk dan Harga secara Simultan terhadap