• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Negara Sebagai Kreditur Preferen dalam Piutang Pajak dalam Kasus Kepailitan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kedudukan Negara Sebagai Kreditur Preferen dalam Piutang Pajak dalam Kasus Kepailitan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

Referensi

Dokumen terkait

Selama penangguhan tersebut dapat saja terjadi dimana kurator menjual harta pailit, sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan., secara

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam hukum Islam pemegang hak preferen (istimewa) dalam kepailitan ialah seorang pedagang (kreditur) yang mendapati barangnya masih

Menimbang, bahwa dengan berakhirnya kepailitan sebagaimana ketentuan Pasal 202 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

UU Kepailitan tidak memberikan batasan siapa yang dimaksud dengan kreditur separatis, kecuali sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 55 ayat (1) UU Kepailitan yang

Sehingga apabila dikaitkan dengan ketentuan Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, maka meskipun mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan perekonomian

Apabila Pengadilan Niaga mengabulkan permohonan pernyataan pailit, maka ketentuan Pasal 61 Undang- undang Nomor 30 Tahun 1999 tidak akan bisa dilaksanakan oleh pihak

30 dan lihat pula ketentuan Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran

Jerry Hoff, 2000 Prosedur Penyelesaian Kepailitan Syarat pernyataan pailit pertama kali dimuat dalam Faillissement Veroderning FV yang me- nyatakan : “Setiap berutang yang berada