• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Pengelolaan Daerah Aliran Sungai"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh pembatas topografi berupa punggung-punggung bukit atau gunung yang menampung air hujan yang jatuh di atasnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama (outlet) ke laut atau ke danau (Sinukaban 1995). Selanjutnya Manan (1979) mengatakan bahwa DAS merupakan suatu ekosistem yang di dalamnya terdiri dari kondisi fisik, biologi dan manusia yang satu sama lain saling berhubungan erat membentuk keseimbangan.

Pengelolaan DAS pada prinsipnya merupakan suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di daerah aliran sungai untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah (Asdak 1995).

Adapun tujuan pengelolaan daerah aliran sungai : (1) mengkonservasi tanah pada lahan pertanian, (2) memanen/menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan me manfaatkannya pada musim kemarau, (3) memacu usahatani berkelanjutan dan menstabilkan hasil panen melalui perbaikan pengelolaan sistem pertanian dan (4) memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir, kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan dan keanekaragaman hayati) (ICRAF 2005).

Menurut Nugroho, Priyono dan Cahyono (2004) pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan.

Terdapat tiga aspek yang selalu menjadi perhatian dalam pengelolaan DAS, yaitu jumlah air (water yield), waktu penyediaan air (water regime) dan sedimen. Ketiga aspek tersebut dapat memberikan gambaran tentang kualitas sistem DAS (Sing 1992).

(2)

Untuk mengetahui kemampuan DAS dalam merespon curah hujan yang jatuh di atasnya adalah dengan mengamati perubahan koefisien alirannya. Besar kecilnya perubahan koefisien aliran (run off coefficient) menunjukkan perubahan kemampuan DAS dalam menerima dan melepaskan air sehingga dapat menjadi gambaran keadaan vegetasi di atasnya. Berdasarkan selang waktu, dikenal tiga macam koefisien aliran yaitu (1) koefisien aliran tahunan (annual yield

coefficient), (2) koefisien aliran sesaat (stromflow response) dan (3) koefisien laju

aliran (Todd 1980 dalam Baco 1997).

Menurut Sinukaban (1995) suatu pengelolaan DAS yang lestari memiliki minimal tiga indikator utama, yaitu (1) pendapatan dan produktifitas masyarakat di dalam DAS yang relatif tinggi, sehingga dapat mendisain kehidupan keluarganya dengan “layak”, (2) erosi yang terjadi harus lebih kecil dari erosi yang dapat ditolerir, serta (3) agroteknologi yang diterapkan dapat diterima dan dikembangkan oleh petani dengan sumberdaya lokal yang tersedia. Selain itu juga, kelestarian suatu ekosistem DAS dicirikan oleh kemapuan DAS untuk mempertahankan produktivitasnya dari berbagai macam gangguan dan tekanan yang masuk ke dalam ekosistem DAS tersebut baik secara alami ataupun dibuat oleh manusia.

Secara garis besar ada tiga sasaran umum yang ingin dicapai dalam pengelolaan DAS, yaitu (1) rehabilitasi lahan terlantar atau lahan yang masih produktif tetapi digarap dengan cara yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, (2) perlindungan terhadap lahan- lahan yang umumnya sensitif terhadap terjadinya erosi dan tanah longsor dan (3) peningkatan atau pengembangan sumber daya air dengan cara manipulasi satu atau lebih komponen penyusun sistem DAS yang diharapkan mempunyai pengaruh terhadap proses-proses hidrologi atau kualitas air (Asdak 1995).

Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan adalah segala macam campur tangan manusia, baik sementara maupun terus menerus terhadap lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penggunaan lahan suatu wilayah bersifat dinamis, mengikuti waktu dan jumlah serta profesi penduduk dalam wilayah tersebut (Arsyad 2000).

(3)

Dengan adanya teknologi tepat guna dan makin langkanya lahan yang sesuai untuk usaha pertanian, maka beberapa faktor penghambat seperti kekedapan air dan drainase, kemasaman dan keracunan alumunium dan ketidak suburan mulai kurang diperha tikan. Pada saat ini orang lebih memperhatikan masalah kemiringan yang erat hubungannya dengan bahaya erosi yang dapat menurunkan kelestarian lahan tersebut (Soepardi 1983). Selanjutnya (Diwiryo et al. 1977

dalam Soepardi 1983) mengemukakan bahwa hal lain yang menjadi perhatian

orang adalah eksesibilitas lahan yaitu apakah pengusahaan lahan dapat menciptakan tumbuhnya perkembangan ekonomi yang sifatnya timbal balik.

Secara umum tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik apabila persyaratan tumbuhnya seperti faktor tanah, iklim dan pengelolaan yang memadai dipenuhi. Tidak terpenuhinya satu atau lebih persyaratan tersebut secara optimal menyebabkan tanaman tidak mampu memberikan hasil sesuai dengan kemampuan genetisnya.

Menurut Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001) tipe penggunaan lahan (land

utilization type) adalah tipe penggunaan lahan yang diperinci sesuai dengan

syarat-syarat teknis untuk suatu daerah dengan keadaan fisik dan sosial ekonomi tertentu. Tipe penggunaan lahan menurut sistem dan modelnya dibedakan atas 2 macam, yaitu : (1) multiple land utilization type yaitu tipe penggunaan lahan terdiri dari lebih satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama pada sebidang lahan dan (2) compound land

utilization type yaitu tipe penggunaan terdiri lebih dari satu jenis penggunaan

(komoditas) yang diusahakan pada areal-areal dari sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagai unit tunggal.

Pengetahuan tentang penggunaan lahan sangat penting untuk melakukan suatu perencanaan dan pengelolaan DAS. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kapasitas atau kemampuannya dapat menimbulkan masalah, diantaranya exploitasi sumberdaya alam yang tidak efisien, perusakan sumberdaya alam, kemiskinan dan berbagai problem sosial lainnya dan bahkan terjadi destruksi peradaban.

Perubahan penggunaan lahan akan berpengaruh terhadap hasil air yang keluar melalui outlet DAS, dimana hubungan antara perubahan penggunaan lahan

(4)

dan hasil air dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang penggunaan lahan di dalam DAS tersebut.

Pola penggunaan lahan mencerminkan jenis kegiatan manusia yang ada di atasnya, lahan pertanian menunjukkan adanya usaha dibidang pertanian. Makin tinggi tingkat kegiatan manusia, makin tinggi pula kebutuhan manusia akan lahan.

Agar penggunaan lahan dapat dilakukan sesuai dengan potensi yang ada, maka sebelumnya harus dilakukan evaluasi lahan, yaitu suatu proses yang berhubungan dengan penilaian kualitas lahan untuk suatu penggunaan tertentu, termasuk interpretasi dan pelaksanaan survai dasar mengenai iklim, tanah, vegetasi dan aspek-aspek lahan lainnya.

Evaluasi dan Klasifikasi Kemampuan Lahan

Evaluasi kemampuan lahan adalah evaluasi potensi lahan bagi penggunaan berbagai sistem pertanian secara luas dan tidak membicarakan peruntukan jenis tanaman tertentu atau tindakan-tindakan pengelolaannya. Lahan dengan kemampuan yang tinggi diharapkan nantinya berpotensi yang tinggi dalam berbagai penggunaan (Sitorus 1985).

Evaluasi kemampuan lahan merupakan bagian dari proses evaluasi lahan, yang pada dasarnya merupakan evaluasi potensi lahan bagi penggunaan sistem pertanian secara luas, oleh karena itu sifatnya lebih umum dibandingkan dengan evaluasi kesesuaian lahan .

Sistem evaluasi kemampuan lahan mengelompokkan lahan ke dalam sejumlah kecil kategori yang diurut menurut faktor penghambat permanen. Sistem ini dilakukan dengan cara menguji nilai- nilai dari sifat tanah dan lokasi melalui proses penyaringan. N ilai yang pertama diuji terhadap kriteria untuk kelas lahan yang terbaik, dan jika tidak semua kriteria dapat dipenuhi, lahan tersebut secara otomatis jatuh ke dalam kelas yang lebih rendah hingga kelasnya ditemukan dan semua kriteria dipenuhi.

Klasifikasi kemampuan lahan dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian antara penggunaan lahan dengan kemampun tanah, karena bila suatu penggunaan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya maka akan terjadi degradasi lahan. Demikian pula bila penggunaan lahan untuk pertanian tidak disertai dengan

(5)

tindakan pengelolaan lahan yang baik, maka akan menimbulkan permasalahan erosi pada lahan pertanian tersebut (Kahirun 2000).

Sistem klasifikasi kemampuan lahan (land capability) yang dikembangkan oleh USDA (Klingebiel dan Montgomery 1973 dalam Arsyad 2000) me mbagi lahan ke dalam sejumlah kategori-kategori menurut faktor penghambat terhadap pertumbuhan tanaman. Selanjutnya Dent dan Young (1981) mengemukakan bahwa klasifikasi kemampuan lahan merupakan proses pengelompokkan lahan ke dalam kelas-kelas tertentu, terutama didasarkan atas faktor- faktor pembatas permanen. Ada tiga kategori yang digunakan, yaitu kelas, sub kelas dan unit. Penggolongan ke dalam tiga katagori tersebut berdasarkan atas kemampuan lahannya untuk produksi pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang (Arsyad 2000).

Pengelompokan lahan ke dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat dari kekas I sampai dengan kelas VIII, dimana resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah semakin tinggi kelasnya (Hardjowigeno 2003). Tanah kelas I – IV dengan pengelolaan yang baik mampu menghasilkan dan sesuai untuk berbagai penggunaan seperti untuk penanaman tanaman pertanian (tanaman semusim dan tanaman tahunan), rumput untuk makanan ternak, padang rumput dan hutan. Tanah pada kelas V, VI dan VII sesuai untuk padang rumput, tanaman pohon-pohonan atau vegetasi alami. Dalam beberapa hal tanah kelas V dan VI dapat menghasilkan dan menguntungkan untuk beberapa jenis tanaman tertentu seperti buah-buah-buahan, tanaman hias atau bunga-bungaan dan bahkan jenis sayuran bernilai tinggi dengan pengelolaan dan tindakan konservasi tanah dan air yang baik. Tanah dalam kelas VIII sebaiknya dibiarkan dalam keadaan alami (Arsyad 2000).

Kelas

Kelas merupakan tingkat yang tertinggi dan bersifat luas dalam struktur klasifikasi. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat, dimana tanah dikelompokkan ke dalam kelas I sampai kelas VIII. Semakin tinggi kelasnya, kualitas lahannya semakin jelek, resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat semakin besar sehingga pilihan penggunaan lahan yang dapat diterapkan semakin terbatas. Tanah kelas I sampai IV merupakan

(6)

lahan yang sesuai untuk usaha pertanian, sedangkan tanah kelas V sampai VIII tidak sesuai untuk usaha pertanian dan bila diperuntukan untuk usaha pertanian diperlukan biaya yang sangat tinggi dalam pengelolaannya.

Hubungan antara kelas kemampuan lahan dengan intensitas dan macam penggunaan tanah disajikan pada Gambar 1.

Kelas Kemampuan

Lahan

Intensitas dan Pilihan Penggunaan Meningkat

Penggembalaan Garapan

Cagar

Alam Hutan Terbatas Sedang Intensif Terbatas Sedang Intensif Sangat

Intensif I II III IV V VI VII Hambatan meningkat, kesesuaian dan pilihan penggunaan lahan berkurang VIII

Gambar 1. Skema Hubungan antara Kelas Kemampuan Lahan dengan Intensitas dan Macam Penggunaan Lahan (Klingebiel dan Montgomery 1973 dalam Arsyad 2000).

Kelas I

Tanah kelas I sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus. Terletak pada lereng yang datar (0 – 3%), tanahnya dalam, bertekstur agak halus atau sedang, drainase baik, mudah diolah dan responsif terhadap pemupukan. Tanah kelas I tidak memerlukan tindakan konservasi khusus, namun upaya memelihara kesuburan tanah seperti pemupukan dan penambahan bahan organik ke dalam tanah secara teratur diperlukan.

Kelas II

Tanah kelas II sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan sedikit hambatan dan ancaman kerusakan. Terletak pada lereng yang landai sampai berombak (3 – 8%) dan atau telah mengalami erosi ringan (<25 % lapisan atas telah hilang), kedalaman sedang ( > 50 cm – 90 cm), agak peka terhadap erosi dan bertekstur halus sampai agak kasar. Tanah kelas II sesuai untuk berbagai macam keperluan manusia, termasuk untuk tanaman semusim, tanaman tahunan,

(7)

padang rumput, hutan produksi dan sebagainya Bila digarap untuk usaha pertanian semusim diperlukan tindakan pengawetan tanah yang ringan seperti pengolahan menurut kontur, pergiliran tanaman dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau atau guludan, disamping tindakan-tindakan pemupukan seperti pada kelas I.

Kelas III

Tanah kelas III sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari tanah kelas II, sehingga memerlukan tindakan pengawetan khusus. Tanah kelas III terletak pada lereng agak miring atau bergelombang (8 – 15%) berdrainase buruk, kedalaman sedang, atau permeabilitasnya agak cepat. Tindakan pengawetan tanah khusus seperti penanaman dalam strip, pembuatan teras, pergiliran dengan tanaman penutup tanah disamping tindakan-tindakan untuk memelihara atau meningkatkan kesuburan tanah.

Kelas IV

Tanah kelas IV sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari kelas III, sehingga memerlukan tindakan khusus pengawetan tanah yang lebih berat dan lebih terbatas waktu penggunaannya untuk tanaman semusim. Tanah kelas IV terletak pada lereng yang miring atau berbukit (15 – 30%), berdrainase buruk atau kedalaman tanah yang dangkal (< 50 – 25 cm).

Kelas V

Tanah kelas V tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim, tetapi lebih sesuai untuk ditanami tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan. Tanah kelas V terletak pada tempat yang datar atau agak cekung sehingga selalu tergenang air atau terlalu banyak batu di atas permukaannya, atau terdapat liat masam di dekat atau pada daerah perakarannya.

Kelas VI

Tanah kelas VI tidak sesuai untuk digarap bagi usahatani tanaman semusim, dikarenakan terletak pada lereng agak curam (30 – 45%). Tanah ini lebih sesuai

(8)

untuk padang rumput atau dihutankan. Jika profil tanahnya dalam dapat digunakan untuk produksi pertanian (tanaman semusim atau tahunan) dengan metode pencegahan erosi yang berat seperti pembuatan teras bangku dan kombinasi metode vegetatif.

Kelas VII

Tanah kelas VII sama sekali tidak sesuai untuk digarap bagi usaha tani tanaman semusim, tetapi lebih baik untuk ditanami vegetasi permanen. Tanah ini terletak pada lereng yang curam (45 – 65%) dan tanahnya dangkal, atau telah mengalami erosi yang sangat berat. Namun dapat digunakan untuk padang pengembalaan (rumput) terbatas, hutan produksi dengan upaya pencegahan erosi, dan terbaik adalah untuk hutan lindung/suaka alam.

Kelas VIII

Tanah kelas VIII tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian, terletak pada lereng sangat curam (> 65 %) sebaiknya Tanah kelas VIII dibiarkan pada keadaan alami, dan diperuntukkan sebagai hutan lindung atau suaka alam atau areal rekreasi.

Sub Kelas

Pengelompokkan di dalam sub kelas didasarkan atas jenis faktor penghambat. Terdapat delapan jenis faktor penghambat, yaitu (1) tekstur tanah, (2) permeabilitas, (3) kedalaman efektif (4) lereng, (5) drainase, (6) erosi, (7) bahaya banjir/genangan dan (8) batu-batuan.

Satuan Kemampuan (Capability Unit)

Pengelompokkan di dalam satuan kemampuan lahan memberi keterangan yang lebih spesifik dan terinci untuk setiap bidang lahan dari pada sub kelas (Arsyad 2000). Satuan kemampuan merupakan pengelompokkan lahan yang sama atau hampir sama kesesuaiannya bagi tanaman dan memerlukan pengelolaan yang sama. Lahan ini mempunyai sifat yang sama dalam hal (a) kemampuan memproduksi tanaman pertanian atau tanaman rumput untuk makanan ternak, (b) memerlukan tindakan konservasi dan pengelolaan yang sama di bawah vegetasi penutup yang sama, dan (c) untuk jenis tanaman yang sama akan memberi hasil

(9)

kurang lebih sama (produksi rata-rata dengan sistem pengelolaan yang sama tidak akan berbeda lebih dari 25 %) (Suripin 2001).

Secara skematis klasifikasi kemampuan lahan dapat dilihat pada Gambar 2 berikut :

Kelas

Gambar 2. Skematis Klasifikasi Kemampuan Lahan Erosi dan Prediksi erosi

Istilah erosi tanah umumnya diartikan sebagai kerusakan tanah oleh perbuatan air atau angin. Menurut Arsyad (2000), erosi adalah peristiwa terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Menurut media pengangkutannya dikenal dua jenis erosi, yaitu erosi air dan erosi angin.

Pada dasarnya erosi terjadi disebabkan oleh kekuatan jatuh butir-butir hujan dan aliran permukaan atau karena kekuatan angin. Pada sebagian besar daerah tropika basah seperti Indonesia, erosi disebabkan oleh kekuatan jatuh butir hujan dan aliran permukaan (Sinukaban 1989).

Selanjutnya Ellison (1947 dalam Sinukaban 1989) menyatakan bahwa erosi merupakan proses pelepasan (detachment) dan pengangkutan (transportation) bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi, dimana peristiwa pelepasan (detachment) dan pengangkutan (transportation) merupakan komponen-komponen erosi tanah yang penting, dimana di dalam proses terjadinya erosi, peristiwa pelepasan butir tanah mendahului peristiwa pengangkutan. Hal ini menunjukkan bahwa pelepasan merupakan variabel yang penting yang berdiri sendiri, tetapi pengangkutan tergantung dari pelepasan.

I II III IV V VI VII VIII

e w s c g

IVs1 IVs2 IVs3 IVs4

Sub Kelas

(10)

Menurut Arsyad (2000), besarnya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim, topografi, vegetasi, tanah dan manusia. Faktor-faktor tersebut bila dinyatakan dengan persamaan deskripsi sebagai berikut :

A = f ( C, T, V, S, H) dimana : C = iklim T = topografi V = vegetasi S = tanah H = manusia.

Prediksi erosi dari sebidang tanah merupakan cara untuk memperkirakan laju erosi yang akan terjadi dari tanah yang dipergunakan dalam penggunaan lahan dan pengelolaan tertentu.

Erosi sangat menentukan berhasil tidaknya suatu pengelolaan lahan. Oleh karena itu erosi merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan penggunaan lahan dan pengelolaannya, dimana salah satu alat bantu yang dapat digunakan dalam perencanaan penggunaan lahan adalah model prediksi erosi (Arsyad 2000).

Perkembangan persamaan untuk menghitung kehilangan tanah di lapangan dimulai sejak tahun 1936 oleh Cook yang me ngembangkan tiga faktor yang tidak saling berkaitan, tetapi mempengaruhi erosi yaitu erodibilitas, erosivitas dan tanaman penutup tanah.

Sementara itu Wischmeier dan Smith (1978) telah merangkum data dari ribuan plot dan daerah aliran sungai dengan mempertimbangkan persamaan kehilangan tanah karena hujan. Untuk itu mereka sepakat mengemukakan bentuk akhir persamaan kehilangan tanah dengan menggunakan persamaan USLE (universal soil loss equation) yang mengkombinasikan faktor-faktor utama penyebab erosi dan hubungan kuantitatifnya untuk memprediksi besarnya erosi lembar dan alur akibat air hujan dan aliran permukaan pada suatu daerah tertentu.

(11)

Model persamaan yang digunakan adalah :

A = R x K x L x S x C x P dimana :

A = besarnya erosi (ton/ ha/tahun) R = indeks erosivitas hujan K = faktor erodibilitas tanah

L = faktor panjang lereng S = faktor kemiringan lereng C = faktor pengelolaan tanaman P = faktor tindakan konservasi

Penggunaan USLE tidak dibatasi oleh batas-batas geografi tetapi dalam menggunakannya dibutuhkan pengetahuan tentang nilai lokal dari setiap faktor erosi (Sinukaban 1989).

Menurut Vadari, Subagyono dan Sutrisno (2004), model erosi tanah dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu (1) model empiris, (2) model fisik dan (3) model konseptual.

Model empiris didasarkan pada variabel- variabel penting yang didapat dari penelitian dan pengamatan selama proses erosi terjadi. Salah satu contoh model empiris adalah USLE (universal soil loss equation). Model ini sangat luas penggunaannya untuk memprediksi erosi lembar dan alur.

Model fisik merupakan suatu model yang berhubungan dengan hukum kekekalan massa dan energi. Model ini dikenal juga sebagai model input-output dalam kondisi yang homogen, dan tidak berlaku bila kondisinya tidak homogen (Rose et al. 1983 dalam Vadari et al. 2004).

Model konseptual merupakan suatu model yang dirancang untuk mengetahui proses internal dalam sistem dan mekanisme fisik yang selalu berkaitan dengan hukum fisika dalam bentuk sederhana. Umumnya model ini tidak linier, bervariasi dalam waktu dan parameternya mutlak diukur. Menurut Vadari et al. (2004), meskipun model ini mengabaikan aspek spasial dalam proses hujan dan aliran permukaan, tetapi kaitannya dengan proses yang tidak linier menyebabkan model ini layak untuk dipertimbangkan.

Beberapa model erosi yang telah dikembangkan dimulai dengan USLE dan beberapa model empiris lainnya, diantaranya RUSLE (revised universal soil loss

(12)

tetap berpatokan pada USLE (Vadari et al. 2004). Sedangkan model fisik lain yang dikembangkan setelah generasi USLE adalah model GUEST (griffith

university erosion system template) (Rose et al. 1997). Selanjutnya Sinukaban

(1997) mengemukakan bahwa beberapa model erosi untuk DAS yang berkaitan dengan hidrologi dan juga berdasarkan pada konsep USLE adalah ANSWERS (areal non-point sources watershed environment response simulation) yang diperbaiki dengan model AGNPS (agricultural non-point source pollution

model).

Adapun kelebihan dari model USLE adalah : sederhana, nilai- nilai parameter sudah tersedia pada beberapa tempat (Sinukaban 1997). Selanjutnya Schmidtz dan Tameling (2000) mengemuk akan kelebihan dari model USLE adalah mudah dikelola, relatif sederhana dan jumlah masukan atau parameter yang dibutuhkan relatif sedikit. USLE juga berguna untuk menentukan kelayakan tindakan konservasi tanah dalam perencanaan lahan dan untuk memprediksi

non-point sediment losses dalam hubungannya dengan program pengendalian polusi

(Lal 1994 dalam Vadari et al. 2004). Pada tingkat lapangan (field scale) USLE sangat berguna untuk merumuskan rekomendasi atau perencanaan yang berkaitan dengan bidang agronomi karena dapat digunakan sebagai dasar untuk pemilihan land use dan tindakan konservasi tanah yang ditujukan untuk menurunkan on-site

effect dari erosi (ICRAF 2001).

Sedangkan kekurangan dari model USLE adalah (a) tidak akurat untuk prediksi per kejadian hujan (single storm event) karena nilai R merupakan rata-rata tahunan, (b) model erosi untuk agriculture field-scale kurang mengakomodasi deposisi dan produksi sedimen untuk catchment scale, dan (c) tidak memperhitungkan erosi dari hot spots seperti erosi parit, channel erosion, longsor dll (Sinukaban 1997). Adaptasi model tersebut pada lingkungan yang baru memerlukan investasi sumber daya dan waktu untuk mengembangkan database yang dibutuhkan untuk menjalankannya (Nearing et al. 1994 dalam Vadari et al. 2004). Over estimasi yang bisa terjadi dengan penggunaan USLE dapat mencapai 2000%, penyebabnya adalah adanya subjektivitas penggunaan data atau karena penggunaan peta skala kecil (Van der Poel dan Subagyono 1998).

(13)

Hasil prediksi erosi di atas akan dibandingkan dengan erosi yang dapat ditoleransikan (Tolerable Soil Loss) berdasarkan pendekatan (Hammer 1981

dalam Arsyad 2000) dalam jangka waktu yang lama untuk menentukan apakah

tanah yang digunakan tersebut lestari atau tidak. Dalam pendekatan ini turut diperhitungkan ketebalan tanah minimum dan jangka waktu penggunaan tanah yang diinginkan (resource life). Konsep ini menggunakan kedalaman tanah ekivalen dan umur guna tanah untuk menetapkan erosi yang dapat ditoleransikan.

Erosi yang dapat ditoleransikan bukan saja ditujukan untuk mempertahankan produktivitas tanah, tetapi juga bertujuan untuk mengendalikan laju pendangkalan waduk, ataupun untuk mengantisipasi pencemaran kualitas air sungai yang sering digunakan sebagai bahan baku air minum. Besaran erosi yang dapat ditoleransikan untuk keperluan ke dua hal di atas lebih ketat dibandingkan untuk memperbaiki produktivitas tanah pertanian (Vadari et al. 2004).

Selanjutnya Vadari et al. (2004) mengemukakan di Indonesia ada beberapa cara penetapan batas laju erosi yang dapat ditoleransikan yang umum digunakan, diantaranya Thompson (1957), Wood dan Dent (1983) dan Hammer (1981). Thompson (1957) menyarankan agar laju erosi yang dapat ditoleransikan didasarkan pada kedalaman solum tanah, permeabilitas tanah lapisan bawah dan kondisi substratum. Sedangkan Hammer (1981) dan Hammer dalam Wood dan Dent (1983) mengatakan turut memperhitungkan ketebalan tanah minimum dan jangka waktu penggunaan tanah yang diinginkan (resource life), dimana konsep ini menggunakan kedalaman tanah ekivalen dan umur guna tanah untuk menetapkan erosi yang dapat ditoleransikan.

Adapun persamaan yang digunakan Hammer (1981) untuk penentuan erosi yang dapat ditoleransikan (Tolerable Soil Loss) adalah :

DE - Dmin

ETol = + LPT UGT

(14)

dimana :

ETol = erosi yang dapat ditoleransikan (mm/thn)

DE = kedalaman ekivalen (equivalent depth) = De x fd De = kedalaman efektif tanah (mm)

fd = faktor kedalaman tanah menurut Sub Ordo Tanah Dmin = kedalaman tanah minimum yang sesuai untuk tanaman (mm)

UGT = umur guna tanah (tahun)

LPT = laju pembentukan tanah (mm/thn) Pembangunan dan Pertanian Berkelanjutan

Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan strategi pembangunan pertanian jangka panjang yang dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam yang menjadi daya dukung proses produksi pertanian sekaligus mempertahankan kapasitas produksi/daya dukung dari sumberdaya itu sendiri (Pakpahan et al. 1992).

Di Indonesia, pembangunan berwawasan lingkungan merupakan implementasi dari konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable

development) yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

masyarakat tani secara luas, melalui peningkatan produksi pertanian, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan (Salikin 2003).

Selanjutnya Salikin (2003) mengatakan sistem pertanian berkelanjutan juga berisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikan pada lingkungan sumber daya alam dengan mempertimbangkan 3 (tiga) aspek berikut :

(1) Kesadaran lingkungan

Sistem budi daya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam. Misalnya, perburuan ular sawah untuk diambil kulitnya akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan dan ketegangan ekologis berupa timbulnya ledakan populasi tikus sawah, sehingga berubah menjadi hama yang sangat merugikan.

(15)

(2) Bernilai ekonomis

Sistem budi daya pertanian harus mengacu pada pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka pendek dan jangka panjang serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi.

Misalnya, kasus penyewaan lahan dataran tinggi oleh para petani berdasi yang datang dari luar daerah untuk bercocok tanam kentang dengan teknik yang menyimpang dari kaidah ekologis yaitu memotong kontur gunung. Dalam jangka pendek, teknik tersebut memang mampu mendongkrak produktivitas kentang sehingga secara ekonomis sangat menguntungkan. Namun dalam jangka panjang dampak ekonomis dan ekologis yang ditimbulkan sangat merugikan terutama bagi generasi yang akan datang, yaitu proses pemiskinan hara tanah, tingkat erosi yang relatif tinggi dan pendangkalan sungai serta waduk menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sistem usaha pertanian dimasa depan.

(3) Berwatak sosial atau kemasyarakatan

Sistem pertanian harus selaras dengan norma-norma sosial dan budaya yang dianut dan dijunjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya.

Misalnya, seorang petani akan mengusahakan peternakan ayam dipekarangan milik sendiri. Mungkin secara ekonomis dan ekologis menjanjikan keuntungan yang layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat memberikan dampak yang kurang baik seperti pencemaran udara. Kajian tentang pertanian berkelanjutan di Indonesia lebih banyak berkonsentrasi pada masalah- masalah spesifik kajian, yaitu pada sistem pertanian dataran tinggi yang rawan terhadap perusakan sumber daya lingkungan, misalnya daerah aliran sungai (DAS), daerah tangkapan air dan kawasan usaha tani di dataran tinggi. Untuk itu dimasa mendatang kajian tersebut perlu diperluas dan diperdalam. Secara umum pertanian berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan (quality of life) (Manguiat 1995).

(16)

Analisis Finansial Usahatani dan Standar Hidup Layak

Menurut Soekartawi (2002), ada tiga variabel yang perlu diperhatikan dalam analisis finansial usahatani dan standar hidup layak, yaitu (1) penerimaan usahatani, (2) biaya usahatani dan (3) pendapatan usahatani.

• Penerimaan Usahatani, merupakan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, persamaannya sebagai berikut :

TR = Yi.Pyi

dimana : TR = total penerimaan ; Yi = produksi yang diperoleh dalam satu musim tanam ke- i (kg) ; Pyi = harga komoditas ke i (Rp)

• Biaya Usahatani, merupakan nilai semua masukan atau keluaran yang dipakai dalam satu musim tanam selama proses produksi, baik langsung maupun tidak, dengan persamaan sebagai berikut :

TC = S Xi.Pxi

dimana : TC = biaya tetap ; Xi = jumlah fisik dari input yang membentuk biaya tetap ; Pxi = harga input ke- i (Rp) dan i = macam komoditas yang dikembangkan dalam suatu usaha tani

• Pendapatan Usahatani, merupakan selisih dari total penerimaan terhadap total pengeluaran.

PU= TR – TC

dimana : PU = pendapatan usahatani ; TR = total penerimaan ; dan TC = total biaya

Standar kebutuhan fisik minimum dan hidup layak ditentukan berdasarkan kebutuhan beras per kepala keluarga (KK) dan harga beras yang berlaku disuatu daerah. Menurut Sajogyo dan Sajogyo (1990), nilai ambang kecukupan pangan (beras) untuk tingkat pengeluaran rumah tangga di pedesaan berkisar antara 240 – 320 kg/orang/tahun. Sedangkan untuk di perkotaan berkisar antara 360 – 480 kg/orang/tahun.

Adapun perhitungan untuk kebutuhan fisik minimum dan kebutuhan hidup layak dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut :

(17)

1. Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) = kebutuhan beras satu rumah tangga x 100% x jumlah anggota keluarga x harga beras.

2. Kebutuhan Hidup Tambahan (KHT) = pendidikan dan sosial + kesehatan dan rekreasi + asuransi dan tabungan.

- Kebutuhan untuk pendidikan dan kegiatan sosial = 50% KFM; - Kebutuhan untuk kesehatan dan rekreasi = 50% KFM; dan - Kebutuhan untuk asuransi dan tabungan = 50% KFM.

3. Kebutuhan Hidup Layak (KHL) = KFM + KHT = kebutuhan equivalen beras satu rumah tangga x 250% x jumlah anggota keluarga x harga beras.

Jika setiap rumah tangga diasumsikan terdiri dari 5 orang, dengan harga beras Rp 2.400/kg (harga di lokasi), maka kebutuhan hidup layak (KHL) = 320 kg/orang/tahun x 250% x 5 orang/kk x Rp 2.400 = Rp 9.600.000/kk/tahun. Agar usahatani tersebut dapat berlangsung terus, maka pendapatan bersih petani harus > Rp 9.600.000/kk/thn.

Gambar

Gambar 1. Skema Hubungan antara Kelas Kemampuan Lahan dengan  Intensitas  dan Macam Penggunaan Lahan  (Klingebiel dan  Montgomery 1973 dalam Arsyad 2000)
Gambar 2.  Skematis Klasifikasi Kemampuan Lahan                                              Erosi dan Prediksi erosi

Referensi

Dokumen terkait

Memperhatikan semakin kompleksnya pemanfaatan lahan di DAS Ayung serta adanya upaya pelestarian dalam rangka meminimalisasi kerusakan sumber daya alam khususnya sumber daya lahan

Kuliah ini akan membahas hal-hal berikut: perspektif, konsep, prinsip &amp; metoda pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu, pertimbangan aspek iklim

Pengelolaan DAS digunakan untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, hal ini dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS,

Pola pengelolaan hutan, lahan dan air dalam Pengelolaan DAS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf c diarahkan khusus pada kawasan budidaya dan kawasan

Kehut anan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang w ilayah kerjanya seluruh.. Indonesia unt uk melakukan penelit ian pengelolaan DAS yang salah

Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dampak perubahan tata guna lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin terhadap debit banjir yang ada..

Selain itu pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara

Selama kurun waktu dua tahun terakhir, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Ake Malamo telah melakukan kegiatan – kegiatan dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan