Vol. 01, No. 1, 2020
Dewan Redaksi
Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar
Jl. Setia Budi, Simpang Selayang, Medan Tuntungan
Medan
https://jurnal.stit
ewan Redaksi
Ketua Penyunting
Rasyidin
Penyunting Pelaksana:
Abdul Aziz Sebayang
Arridha Harahap
Penyunting Ahli:
Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Ahmad Fauzi Ilyas
Zuhair Mubarrak Hazaa
Supriadi
Tarikh Al Hafizh Hasibuan
Hamdan Noor
Fakhrurrazi Ismail
Administrasi
Hesty Asnita Lubis
Ihdina Khairunnisa
Radinal Mukhtar Harahap
Alamat Redaksi
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan
Jl. Setia Budi, Simpang Selayang, Medan Tuntungan
Medan-Sumatera Utara-Indonesia
20135
https://jurnal.stit-rh.ac.id/index.php/bahsunilmi/index
Raudlatul Hasanah, Medan
Jl. Setia Budi, Simpang Selayang, Medan Tuntungan
Vol. 01, No. 1, 2020
Pondok Pesantren:
Simbol Korelasi dan Koneksi Pendidikan dan Peradaban
dalam Narasi Sejarah Islam di Indonesia
Rasyidin
Santri sebagai Remaja:
Kajian Psikologi Pendidikan
Abdul Aziz Sebayang
Dars Naqd:
Strategi Peningkatan Mutu Guru di Pondok Pesantren
Arridha Harahap
Pengembangan Potensi Peserta Didik
Dalam Lembaga Pendiidkan Islam
Studi Manajemen Pondok Pesantren
Supriadi
Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren
Tinjauan Mashlahat
Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Nilai-Nilai Pendidikan Peradaban Pra
Zuhair Mubarrak Hazaa
Al-Suffah Sebagai Embrio Lembaga Pendidikan Islam
Tarikh Al-Hafizh Hasibuan
Daftar Isi
Simbol Korelasi dan Koneksi Pendidikan dan Peradaban
dalam Narasi Sejarah Islam di Indonesia
Kajian Psikologi Pendidikan
Strategi Peningkatan Mutu Guru di Pondok Pesantren
Pengembangan Potensi Peserta Didik
Dalam Lembaga Pendiidkan Islam:
Studi Manajemen Pondok Pesantren
Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren:
Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Peradaban Pra-Islam
Suffah Sebagai Embrio Lembaga Pendidikan Islam
Hafizh Hasibuan
1
13
25
35
43
51
63
Ilmu Fikih: Sejarah, Tokoh dan Mazhab Utama
73
Fakhrurrazi Ismail
Kitab Hadis di Pesantren:
Biografi Kitab al-Bulugh al-Maram
83
WAKAF TUNAI DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN
PESANTREN: TINJAUAN
MASHLAHAT
Mukhlis Mubarrok Dalimunthe [email protected]
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan
Abstrak
Sejak keberadaan Undang-Undang No.41 Tahun 2004, masyarakat mulai mengenai wakaf tunai. Pembahasannya dalam lingkup pendidikan belum terlalu banyak ditemukan. Tulisan ini berusaha melakukannya dengan menelusuri pustaka terkait. Pembahasan terkait dengannya memperlihatkan adanya relevansi yang jelas terkait pelaksanaan wakaf tunai dengan pemberdayaan pendidikan pesantren dalam konteks mashlahat. Relevansi yang jelas tersebut tentunya hanya akan terbatas pada teori jika tidak diaplikasikan di dunia nyata. Sosialisasi mengenainya yang perlu untuk disarankan kepada masyarakat luas agar keberadaan wakaf tunai semakin memberikan keberdayaan pendidikan Pesantren. Meski demikian, garis besar bahwa pendidikan Pesantren adalah pendidikan yang berdaya, patut juga diperhatikan. Keberadaan nazir, adanya saksi dan sertifikat bagi pemberi wakaf tunai, adalah tiga kemashlahatan yang jelas-jelas terlihat dalam hal tersebut.
Kata kunci: Wakaf Tunai, Pendidikan Pesantren, Mashlahat.
A. Pendahuluan
akaf, di samping sebagai ibadah, adalah salah satu instrumen syariah dalam menyejahterakan umat sebagaimana bentuk lainnya, seperti zakat, infaq dan shadaqah. Fuadi secara tegas menyatakannya sebagai instrumen pembangunan Islam.1 Di Indonesia, pemberdayaan terkait dengannya telah
dilaksaksanakan sejak agama Islam masuk ke tanah air.2 Sebagai instrumen yang
memiliki hubungan erat dengan kehidupan ekonomi dan sosial, wakaf telah banyak membantu dalam pembangunan secara menyeluruh di wilayah Indonesia, baik dalam hal pembangungan SDM (sumber daya manusia) maupun dalam sumber daya sosial.3
1 Nasrul Fahmi Zaki Fuadi, “Wakaf sebagai Instrumen Ekonomi Pembangunan Islam” dalam
Economica: Jurnal Ekonomi Islam, Vol.9, No.1, 2018, h.151-177.
2 Itang dan Iik Syakhabyatin, “Sejarah Wakaf di Indonesia” dalam Tazkiya: Jurnal Keislaman,
Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Vol. 18, No.2, (Juli-Desember) 2017, h.220-238.
3 Mengenai itu, dapat ditelusuri di antaranya dari tulisan Baslul Hazami, “Peran dan Aplikasi
Wakaf dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umat di Indonesia” dalam Analisis, Vol.XVI, No.1, Juni 2016, h.173-204.
44 | Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Bahsun Ilmy: Jurnal Pendidikan Islam
Hadis dan praktek kehidupan para sahabat menunjukkan bahwa wakaf adalah produk agama yang terus mengalami perkembangan. Perkembangan yang dimaksud tentunya tidak lepas dari dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang tumbuh beriringan dengan kehidupan umat pada zamannya. Di antara dampak menakjubkan aplikasi wakaf zaman para sahabat adalah yang diriwayatkan Al Mazinin:
لﻮﻘﻳ ﷲ ﺪﺒﻋ ﻦﺑﺮﺑﺎﺟ ﺖﻌﻤﺳ
:
ﺎﻋد ﮫﺘﻓﻼﺧ ﮫﺘﻗﺪﺻ ﮫﻨﻋ ﷲ
ر بﺎﻄ ا ﻦﺑﺮﻤﻋ ﺐﺘﻛ ﺎﳌ
رﺎﺼﻧ و ﻦ ﺮﺟﺎ ﳌا ﻦﻣ اﺮﻔﻧ
,
ﺮﺸ ﻧﺎﻓ ﻚﻟاذ ﻋ ﻢ ﺪ ﺷأو ﻢ ﺮﻀﺣﺄﻓ
ﺎ ﺧ
,
ﺮﺑﺎﺟ لﺎﻗ
:
ﻢﻠﻋأ ﺎﻤﻓ
ﺲ ﺣ ﻻإرﺎﺼﻧ و ﻦ ﺮﺟﺎ ﳌا ﻦﻣ ﻢﻠﺳو ﮫﻴﻠﻋ ﷲ ﺻ ﷲ لﻮﺳر بﺎ
أ ﻦﻣ ةرﺪﻘﻣ اذ اﺪﺣأ
ﺐ ﻮﺗ ﻻو ثرﻮﺗ ﻻو ى ﺸ ﻻ ﺔﻓﻮﻗﻮﻣ ﺔﻗﺪﺻ ﮫﻟﺎﻣ ﻦﻣ ﻻﺎﻣ
.
٤“Saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Tatkala Umar bin Khattab RA mewajibkan untuk dirinya sedekah di masa kepemimpinannya dan Ia juga memanggil beberapa sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk menjadi saksi, dan khabar itu menyebar di kalangan masyarakat. Terkait hal ini Jabir berkata: tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan harta (tanah, bangunan) kecuali mereka mewaqafkanya, tidak bisa dibeli, tidak bisa dijual dan tidak bisa dihibahkan”.
Tidak sampai di situ, perkembangannya juga terjadi melintasi zaman setelahnya yaitu dengan penerimaan Islam di beberapa wilayah bahkan diundang-undangkan secara formal.5 Perubahan-perubahan itu berdampak dalam tujuan-tujuan wakaf yang
variatif. Perkembangan yang dimaksud juga berdampak pada perubahan teori dan pelaksanaan wakaf yang tidak hanya seperti apa yang termaktub dalam karya literatur fikih klasik, yaitu dhiman wakaf dipahami sebagai harta yang tahan lama, atau yang dapat dimanfaatkan tanpa merusak harta itu, akan tetapi lebih dari itu yaitu yang lazim digunakan untuk kebaikan.6
Dampak perkembangan dan perubahan itu juga menyentuh dunia pendidikan, tentunya Islam. Tulisan ini bermaksud melihatnya dalam korpus pendidikan Pesantren sebagai lembaga indigeneous Indonesia. Pelaksanaannya ditinjau dari sisi mashlahat yang menjadi lingkup pembahasan ulama Usul Fiqh. Dengan itu
4 Maulana Zafar Ahmad Usmani, I’la al-Sunan, ( Pakistan: Idarat Al-Qur’an wa al Ulum
Islamiyah, tt) Juz XIII, h. 148
5 Untuk Indonesia, formalitas wakaf dalam Undang telah diatur dalam
Undang-Undang Republik Indonesia No.41, Tahun 2004, tentang Wakaf.
6 Bahkan Naim menyebut bahwa pendapat ulama fiqih dalam literatur klasik mengenai objek
wakaf memperlihatkan bahwa syarat-syarat benda wakaf (harus benda, bermanfaat, tidak sekali pakai, tidak haram zatnya, dan harus milik wakif secara sempurna) tidak didukung hadis secara khusus dan mereka menggunakan ayat-ayat al-quran dan hadis yang bersifat umum. Oleh karena itu, penentuan syarat-syarat objek wakaf termasuk wilayah ijtihadi. Baca selengkapnya dalam Abdul Haris Naim, “Pengembangan Objek Wakaf dalam Fiqih Islam dan Hukum Positif di Indonesia” dalam Jurnal Zakat dan Wakaf, Vol. 4, No. 2, Desember 2017, h.245-262.
Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren | 45
Vol.01, No.01, 2020 diharapkan, baik kajian mengenai wakaf maupun pendidikan Islam, dapat dikembangkan dengan sentuhan sisi-sisi keilmuan di luarnya.
B. Tinjauan Ringkas Mashlahah dalam Usul Fiqh
Dalam tinjauan Ushul Fiqih, terminologi mashlahat biasanya disebut bentuk jamaknya yaitu Al-Masālih dan digandengkan dengan terminologi mursalah.7 Maslahat
berasal dari kata “Salaha” atau “Saluha” yang berarti baik, benar atau bermanfaat.8
Kamus bahasa Indonesia menyebut definisinya sesuatu yang mendatangkan kebaikan, faedah, dan guna.9 Adapun terminologi mursalah merupakan bentuk ism maf’ul dari
“Arsala Yursilu” yang artinya bebas atau lepas.10 Dengan demikian, terminologi
Al-Mashālih Mursalah atau mashlahat mursalah memiliki makna kebaikan yang bebas atau
lepas. Yang dimaksud bebas atau lepas di sini adalah tidak adanya dalil yang mengakui ataupun menolak mashlahat tersebut. Bebas atau terlepas karena tidak ada dalil yang membenarkan atau menyalahkan hal yang memberi manfaat tersebut.11
Abdul Wahab Kholaf dalam kitabnya “Ilmu Ushulil Fiqh” menjelaskan bahwa
mashlahah mursalah adalah kemaslahatan yang tidak disyariatkan hukumnya oleh
Syar’i dalam untuk mewujudkan kemaslahatan, di samping itu tidak ada dalil syar’i yang mengakui atau menolaknya.12
C. Dari Wakaf Kepada Wakaf Tunai
Kata waqaf di dalam Alquran terdapat di empat empat, dalam tiga surat, yaitu QS. Al-An’am: 30, QS. Saba’: 31, dan QS. Al-Saffat: 24. Tiga yang pertama bermakna menghadapkan atau dihadapkan, adapun yang terakhir artinya berhenti dan menahan.13 Meskipun demikian, ayat-ayat tersebut di atas tidak menjadi dasar dari
waqaf sebagaimana maksud tulisan ini. Itu karena, secara keseluruhan; ayat-ayat
tersebut tidak berbicara mengenai harta kekayaan. 14
7 Abdul Karim Zaidan, al-Wajīz fi Usūl Fiqh (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1976), h.217
8 Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasi>th, cet. IV, (Kairo: Maktabah Syuru>q al-Dauliyah, 2004 M/
1425 H) h.5200
9 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional, 2008). h. 923
10 Ibrahim Anis, al-Mu’jam..., h.344 11 Abdul Karim Zaidan, al-Wajīz..., h.217
12 Abdul Wahab Khalaf, Ilmu ushul Fiqh, terj : Faizel Muttaqin, (Jakarta,Pustaka Amani, 2003),
h.85.
13 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 1997), h.481.
14 Dasar mengenai wakaf justru merujuk kepada kata infāq sebagaimana penjelasan Shihab.
Dalam karya fenomenalnya Tafsir Al-Misbah, ia menafsirkan QS. Al-Baqarah yang berbicara mengenai seruan menafkahkan harta pada jalan Allah sebagai perintah Allah kepada manusia agar memberi nafkah kepada yang membutuhkan; karena bukan Allah sejatinya yang memerlukan itu. Pemberian itu, dengan sendirinya, hendaknya dipahami sebagai kebutuhan
46 | Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Bahsun Ilmy: Jurnal Pendidikan Islam
Secara bahasa, kata wakaf berasal dari waqafa, yaqifu, waqfan yang merupakan kata kerja (fi’l), baik transitif (lāzim) atau intransitif (muta’addi).15 Sabiq
menerjemahkannya secara bahasa sebagai habs.16 Dari titik itu, untuk kemudian
melihat keterkaitannya dengan kekayaan ataupun harta benda, dapat dipahami wakaf sebagai upaya pemberhentian, penahanan, ataupun penjagaan terkait kekayaan atau harta benda tertentu, dengan keadaan-keadaan tertentu pula.
Abdurrahman menyatakan bahwa jumhur ulama mengkonsepsinya dalam pemanfaatan barang secara utuh, untuk semata-mata mendekatkan diri kepada Allah. Pengistilahan yang dijadikannya dasar argumentatif untuk menjelaskan masalah perwakafan tanah milik dan kedudukan tanah wakaf di Indonesia tersebut memberi pemahaman bahwa wakaf sebenarnya pemutusan hak penggunaan dari pewakif kepada nazir (pengelola) agar dipergunakan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Harta wakaf, dengan demikian, dibelanjakan atau dikelola dalam lingkup kepentingan itu saja; bukan untuk tujuan pribadi atau kepentingan-kepentingan lainnya.17
Telah dijelaskan dalam pendahuluan bahwa dalam sejarahnya kemudian, wakaf berkembang hingga memperluas tata laksananya maupun teorinya. Terkhusus di Indonesia, sejak keluarnya peraturan perundang-undangan No. 41 tahun 2004 tentang perwakafatan, masyarakat kemudian mengenal wakaf berbentuk uang. Dalam hal ini, memang ada perdebatan antara penggunaan istilah wakaf uang ataukah wakaf tunai dengan merujuk terminologi arabnya yang berbunyi Waqf al-Nuqud.18 Namun merujuk
kepada fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 26 April 2002, wakaf uang dianggap lebih tepat. Fatwa itu bunyinya, “...wakaf uang (cash wakaf/waqf al-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Dalam pengertian tersebut, yang dimaksud dengan uang adalah surat-surat berharga.”19
bagi si pemberi dan kemashlahatannya. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan,
dan Keserasian Alquran, Juz 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2004), h.577.
15 A.W. Munawwir, Kamus al-Munawir; Arab-Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1994),
h.1576.
16 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (Bandung: Al-Ma’arif, 1997), h.148.
17 Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara Kita
(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1994), h.20.
18 Lihat misalnya karya Abu Su’ud Muhammad, Risalah fi jawabi waqf al-Nuqud, (Beirut: Dar Ibn
Hazm, 1997)
19 Fatwa di atas dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI tertanggal 11 Mei 2002, yang ditanda
tangani oleh K.H. Ma‟ruf Amin (sebagai Ketua) dan Drs. Hasanuddin, M.Ag (sebagai Sekretaris).
Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren | 47
Vol.01, No.01, 2020 D. Pemberdayaan Pendidikan Pesantren
Penggunaan istilah pemberdayaan sebenarnya tidak terlalu tepat untuk dikaitkan dengan konteks Pendidikan Pesantren. Hal itu, sebagaimana disebut Azra, karena pesantren secara fakta sejarah merupakan lembaga pendidikan Islam yang mampu bertahan di tengah gempuran tantangan yang terjadi. Kebertahanan tentunya berhubungan erat dan berkelindan dengan keberdayaan. Tanpa daya, pesantren tentunya akan tergerus dengan perubahan-perubahan yang terjadi.20
Sebagai ilustrasi, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menyebut tiga lembaga yang pernah muncul dalam narasi sejarah pendidikan Islam, yaitu medresse, kuttāb dan masjid. Terjadinya pembaruan dan modernisasi pendidikan Islam sejak perempatan terakhir abad ke-19, memberikan dampak besar yang berujung pada tergerusnya –baik penamaan maupun penggunaan, lembaga-lembaga tersebut di atas. Memang, hingga paruh kedua abad tersebut, lembaga-lembaga itu terlihat relatif mampu bertahan. Namun tidak setelahnya. Kata kuncinya adalah keberdayaan. Keberdayaan pesantren yang pada mulanya mengarah kepada pusat transmisi ilmu pengetahuan agama, pemelihara tradisi keislaman, dan kaderisasi ulama, meluas menjadi bahkan melampaui peran tersebut dengan mengembangkan diri sehagai pusat pemberdayaan dan pengembangan masyarakat melalui ekonomi, kopontren, dan usaha kreatif.21 Harian Republika edisi Jum’at, 19 Oktober 2018 menampilkan tulisan
Wahab yang mensinyalir keberdayaan itu juga sebagai imbas dari kenyataan bahwa pesantren hadir bukan semata melayani kepentingannya, melainkan juga membuat masyarakat berdaya dan berbudaya Islami.22
Namun demikian, di sisi lain, harus diakui juga bahwa pemberdayaan Pendidikan Pesantren juga patut untuk diperhatikan. Di antara usaha yang mengarah kepada itu adalah regulasi Pesantren yang telah dimuat dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019. Dalam undang-undang itu, disebutkan bahwa di antara latar belakang perumusannya adalah “... untuk menjamin penyelenggaraan pesantren dalam fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat, diperlukan pengaturan untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi berdasarkan tradisi dan kekhasannya; ... (dan juga) bahwa pengaturan mengenai pesantren belum optimal mengakomodasi perkembangan, aspirasi, dan kebutuhan hukum masyarakat serta belum menempatkan pengaturan hukumnya dalam kerangka peraturan perundang-undangan yang terintegrasi dan komprehensif.23 Namun
demikian, regulasi itu belum menyentuh keberadaan wakaf, meskipun memuat
20 Azyumardi Azra, “Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan,” dalam Bilik-Bilik Pesantren
(Jakarta: Paramadina, 1997).h.4-16.
21 Azyumardi Azra, “Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan,” dalam Bilik-Bilik Pesantren
(Jakarta: Paramadina, 1997).h.4-16.
22 Republika, Jum’at, 19 Oktober 2018.
48 | Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Bahsun Ilmy: Jurnal Pendidikan Islam
pengaturan mengenai dana abadi. Padahal, aspek wakaf telah terbukti dalam sejarah untuk mendukung dunia pendidikan.24
E. Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren
Untuk kepentingan tersebut di atas, perhatian kepada wakaf tunai dapat diajukan. Hal itu dengan mengingat bahwa baik wakaf maupun pendidikan Pesantren memiliki tujuan yang selaras yaitu semata-mata mendekatkan diri kepada Allah. Telah dinukil sebelumnya pernyataan Abdurrahman yang menyebutkan bahwa jumhur ulama mengkonsepsi wakaf sebagai pemanfaatan barang secara utuh, untuk semata-mata mendekatkan diri kepada Allah.25 Juga demikian keberadaannya dengan
pesantren, ataupun lembaga pendidikan Islam secara umum, yang disebut sebagai lembaga yang membentuk pribadi ‘abdullah dan khalifatullah.26
Nuh, dalam laporan Fajar, bahkan menyeru agar konten pembelajaran tentang wakaf perlu dimasukkan dalam pembelajaran di sekolah. Menurutnya, wakaf memiliki nilai lebih dibandingkan dengan infak dan sedekah. Penanaman nilai-nilai wakaf di sekolah akan menumbuhkan pemahaman bagi siswa mengenai cara pengelolaannya dan juga dapat menumbuhkan kebiasan berwakaf dalam kehidupan generasi muda.27
Dalam konteks kemashlahatan, pelaksanaan wakaf tunai dinilai sangat relevan. Bahkan, untuk konteks Undang-Undang No. 41 tahun 2004, Sholihah menyebutnya penuh dengan kemashlahatan.28 Keberadaan Nazhir misalnya, disebut dalam
undang-undang tersebut sebagai pos sentral dalam pengelolaannya. Padahal, tidak ada nash baik dalam Alquran maupun Hadis yang secara eksplisit mengatur hal tersebut. 29
Begitu juga dalam hal keberadaan 2 orang saksi dalam ikrar wakaf dan pencatatannya. Tidak dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh. Namun, hal tersebut juga tidak dilarang. Dalam Undang-Undang Wakaf, diatur mengenainya dengan melihat kemashlahatan berupa antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari yang pada gilirannya dapat merugikan semua pihak yang terkait dengan wakaf tersebut.30
24 Lihat di antaranya hasil penelitian Abd. Mukti yang membahas madrasah Nizhamiyah pada
abad 11 H dalam Abd. Mukti, Kontruksi Pendidikan Islam: Belajar dari Kejayaan Madrasah
Nizhamiyah Dinasti Saljuq (Medan: Perdana Publishing, 2007).
25 Abdurrahman, Masalah Perwakafan.., h.20.
26 Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami: Membangun Kerangka Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Praktik Pendidikan Islami (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008).
27 Republika, Jum’at, 06 Juli 2018.
28 Hadiratush Sholihah, Penerapan Konsep Mashlahah al-Mursalah dalam Wakaf (Tinjauan Terhadap
Undang-Undang No. 41, Tahun 2004, tentang Wakaf, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2010).
29 Hadiratush Sholihah, Penerapan Konsep Mashlahah..., h.88. 30 Hadiratush Sholihah, Penerapan Konsep Mashlahah..., h.89.
Wakaf Tunai dan Pemberdayaan Pendidikan Pesantren | 49
Vol.01, No.01, 2020 Bahkan, dalam hal pencatatan dan pemberian sertifikat atas tanah-tanah wakaf, literatur-literatur klasik tidak membahasnya secara rinci. Kemungkinan besar, hal itu dikarenakan ulama pada saat itu belum menganggap pendaftaran tanah wakaf itu penting dan bermanfaat. Namun demikian, terkait dengannya tidak juga mendapat larangan. Mashlahat administrasi, kepastian hukum dan pencegahan terjadinya pengambilan dan pengalihan hak fungsi adalah landasan berpikirnya.31
Mencermati tiga ilustrasi tersebut saja, dalam hal wakaf tunai dapat dicermati. Perihal adanya nazir yang menjadi penerima yang amanah, kredibel dan bertanggung jawab adalah kemashlahatan pertama dari wakaf tunai yang diberikan. Begitu juga dengan keberadaan dua saksi sebagaimana diatur dalam undang-undang. Begitu juga dengan adanya pemberian sertifikat bagi para pemberi wakaf tunai dengan keterangan jumlah pemberian yang diwakafkan. Adanya keterangan jelas mengenai itu semua akan menjadikan wakaf yang diberikan mendapat kepastian hukum yang jelas dan tidak dapat diselewengkan.
F. Kesimpulan
Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa ada relevansi yang jelas terkait pelaksanaan wakaf tunai dengan pemberdayaan pendidikan pesantren dalam konteks mashlahat. Relevansi yang jelas tersebut tentunya hanya akan terbatas pada teori jika tidak diaplikasikan di dunia nyata. Sosialisasi mengenainya yang perlu untuk disarankan kepada masyarakat luas agar keberadaan wakaf tunai semakin memberikan keberdayaan pendidikan Pesantren. Meski demikian, garis besar bahwa pendidikan Pesantren adalah pendidikan yang berdaya, patut juga diperhatikan. Keberadaan nazir, adanya saksi dan sertifikat bagi pemberi wakaf tunai, adalah tiga kemashlahatan yang jelas-jelas terlihat dalam hal tersebut. Wallahu a’lam.
G. Referensi
Nasrul Fahmi Zaki Fuadi, “Wakaf sebagai Instrumen Ekonomi Pembangunan Islam” dalam Economica: Jurnal Ekonomi Islam, Vol.9, No.1, 2018
Itang dan Iik Syakhabyatin, “Sejarah Wakaf di Indonesia” dalam Tazkiya: Jurnal
Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Vol. 18, No.2, (Juli-Desember) 2017
Baslul Hazami, “Peran dan Aplikasi Wakaf dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umat di Indonesia” dalam Analisis, Vol.XVI, No.1, Juni 2016
Maulana Zafar Ahmad Usmani, I’la al-Sunan, ( Pakistan: Idarat Al-Qur’an wa al Ulum Islamiyah, tt) Juz XIII
Undang-Undang Republik Indonesia No.41, Tahun 2004, tentang Wakaf.
Abdul Haris Naim, “Pengembangan Objek Wakaf dalam Fiqih Islam dan Hukum Positif di Indonesia” dalam Jurnal Zakat dan Wakaf, Vol. 4, No. 2, Desember 2017
50 | Mukhlis Mubarrok Dalimunthe
Bahsun Ilmy: Jurnal Pendidikan Islam
Abdul Karim Zaidan, al-Wajīz fi Usūl Fiqh (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1976)
Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, cet. IV, (Kairo: Maktabah Syuruq al-Dauliyah, 2004 M/ 1425 H)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008).
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu ushul Fiqh, terj : Faizel Muttaqin, (Jakarta,Pustaka Amani, 2003)
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 1997)
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Alquran, Juz 1, (Jakarta: Lentera Hati, 2004)
A.W. Munawwir, Kamus al-Munawir; Arab-Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1994)
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (Bandung: Al-Ma’arif, 1997)
Abdurrahman, Masalah Perwakafan Tanah Milik dan Kedudukan Tanah Wakaf di Negara
Kita (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1994)
Abu Su’ud Muhammad, Risalah fi jawabi waqf al-Nuqud, (Beirut: Dar Ibn Hazm, 1997) Azyumardi Azra, “Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan,” dalam Bilik-Bilik Pesantren
(Jakarta: Paramadina, 1997)
Abd. Mukti, Kontruksi Pendidikan Islam: Belajar dari Kejayaan Madrasah Nizhamiyah
Dinasti Saljuq (Medan: Perdana Publishing, 2007).
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami: Membangun Kerangka Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Praktik Pendidikan Islami (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008).
Hadiratush Sholihah, Penerapan Konsep Mashlahah al-Mursalah dalam Wakaf (Tinjauan
Terhadap Undang-Undang No. 41, Tahun 2004, tentang Wakaf, (Jakarta: UIN Syarif